Anda di halaman 1dari 11

PERBENIHAN DAN BUDIDAYA BAWANG MERAH

Erythrina Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Jl. Tentara Pelajar No. 10 Cimanggu Bogor

ABSTRAK
Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang mempunyai peran cukup penting dan perlu dibudidayakan dengan intensif. Potensi pengembangan areal pertanaman bawang merah seluas 90.000 ha. Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi adalah merupakan tumpuan utama untuk mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya bawang merah. Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi adalah merupakan tumpuan utama untuk mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya bawang merah. Varietas unggul bawang merah yang sudah dilepas dan disertifikasi sebanyak 21 varietas. Permasalahan pada kegiatan sertifikasi benih yang diperbanyak dengan cara vegetatif adalah keterbatasan benih sumber, baik dalam segi jumlah maupun varietas. Dalam rangka mengembalikan kemurnian varietas dilakukan proses pemurnian varietas melalui kegiatan seleksi negatif, yaitu membersihkan populasi varietas yang dimaksud dari campuran varietas lain. Pasar perbenihan bawang merah masih sangat berpeluang karena dibatasinya benih impor oleh pemerintah. Permasalahan dalam produksi benih bawang merah bersertifikat adalah sulitnya memenuhi standar mutu benih yang mengharuskan adanya intensitas serangan OPT utama hanya 0-0,5 %, karena produksi benih bawang merah dilakukan di lapang. Untuk itu, budidaya bawang merah diarahkan untuk memenuhi standar (GAP), agar petani/pelaku usaha bisa bersaing dalam pasar global. GAP adalah cara budidaya yang benar melalui penerapan teknologi maju.

Kata kunci: bawang merah, benih, budidaya

PENDAHULUAN
Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang perlu dibudidayakan secara intensif. Provinsi penghasil utama bawang merah (luas panen > 1.000 ha/tahun) diantaranya adalah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, NTB, dan Sulawesi Selatan. Selama periode 1989-2003, pertumbuhan produksi rata-rata bawang merah adalah sebesar 3,9%/tahun, dengan kecenderungan pola pertumbuhan yang konstan. Komponen pertumbuhan areal panen (3,5%) ternyata lebih banyak memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan produksi bawang merah dibandingkan dengan komponen produktiitas (0,4%). Estimasi permintaan domestik tahun 2010 mencapai 976.284 t yang terdiri dari konsumsi 824.284 t, benih 97.000 t, industri 20.000 t dan ekspor 35.000 t. Analisis data ekspor-impor 2006-2010 mengindikasikan bahwa selama periode tersebut Indonesia adalah bawang merah, karena volume

74

ekspor untuk komoditas tersebut secara konsisten selalu lebih rendah dibandingkan volume impornya (Tabel 1). Ekspor Indonesia dalam bentuk bawang segar/beku, bawang goreng, vinegar dan acetic acid. Impor bawang merah disamping dalam bentuk bawang segar/beku, lebih dominan dalam bentuk bibit. Dari segi volume, jumlah impor 10 kali lebih tinggi sedangkan nilai devisa 100 kali lebih tinggi dibandingkan ekspor.
Tabel 1. Ekspor impor bawang merah 2006-2011 Tahun 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Ekspor Volume (kg) Nilai (US$) 2.969.134 823.619 314.916 2.495 85.025 31.201 21.263 91.994 11.478 68.915 39.899 30.482 Impor Volume (kg) Nilai (US$) 24.244.765 14.556.230 28.240.334 42.787.259 33.861.715 52.699.078 53.046.297 234,879,448 ) 16.824.780 23.387.928 12.826.154 22.919.472 23.083.169 113,597,733

Jumlah 3,424,034.000 1,066,387 Sumber: BPS (2011), Data statistika ekspor impor,

Salah satu unsur penunjang keberhasilan usaha produksi bawang merah adalah penggunaan benih bermutu. Petani bawang merah menggunakan bermacam-macam varietas baik yang lokal (70-90%) maupun impor (10-30%). Beberapa varietas lokal yang dominan ditanam adalah Kuning Tablet, Bima Curut, Bima Curut, Bima Juna, Batu, Bima Karet, Tuk-tuk dan Sumenep. Benih impor didatangkan dari Filipina, Vietnam dan Thailand. Benih merupakan komponen teknologi yang signifikan meningkatkan produksi bawang merah, karena itu penciptaan varietas diprioritaskan pada perbaikan hasil, daya tahan terhadap hama dan penyakit, dan memiliki adaptasi tinggi terhadap agroekosistem wilayah setempat. Terkait dalam hal ini selain Balitsa sebagai instansi pemerintah, penciptaan varietas bisa dilakukan oleh pemulia perorangan, maupun swasta. Sampai tahun 2011 telah dilepas 21 varietas bawang merah berdaya produksi tinggi dan mempunyai ketahahan terhadap hama dan penyakit tertentu (Dirjen Hortikultura, 2011). Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi, mutu dan daya saing bawang merah adalah dengan penerapan budidaya pertanian yang baik ( /GAP) dan Standar Operasional Prosedur/SOP. Penerapan GAP buah dan sayuran diatur oleh Peraturan Menteri Pertanian No. 48/Permentan/OT.160/10/2009, tentang Harmonisasi GAP buah dan sayuran. Bawang merah selain dikonsumsi sendiri juga di ekspor ke beberapa negara antara lain Thailand, Malaysia, Vietnam, Singapura, Taiwan, Filipina dan Timor Leste. PERBENIHAN BAWANG MERAH Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi bawang merah, peran benih sebagai input produksi merupakan tumpuan utama untuk mencapai keberhasilan dalam usaha budidaya bawang merah (Dirjen 75

Hortikultura, 2011). Mengingat pentingnya peran benih maka diperlukan upaya untuk meningkatkan produksi benih bersertifikat dalam kegiatan agribisnis bawang merah. Kebutuhan benih untuk bawang merah adalah 1200 kg benih asal umbi per ha. Sedangkan sasaran produksi benih bawang merah menggambarkan target produksi benih bersertifikat pada setiap tahunnya. Sasaran luas tanam, kebutuhan benih dan produksi sejak tahun 2004 sampai tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Sasaran luas tanam, kebutuhan dan produksi benih bawang merah, 2005-2009 Uraian Tahun 2005 2006 2007 2008 2009 103.349 109.498 115.647 121.796 127.945 Sasaran luas tanam (ha) 124.018.800 131.397.600 138.776.400 146.155.200 153.534.000 Sasaran kebutuhan benih (Kg) 2.702.465 3.051.158 3.268.637 3.882.533 4.378.124 Sasaran produksi benih (kg) Sumber: Dirjen Hortikultura, 2006

Di Indonesia pengembangan bawang merah melalui pemuliaan konvensional dengan mudah dapat dilakukan, karena sebagian besar kultivar tersebut umumnya dapat berbunga, kecuali varietas Sumenep (Sarto dan Permadi, 1994). Perbanyakan benih bawang merah pada umumnya menggunakan umbi sebagai organ vegetatif yang tidak akan mengalami perubahan genetik. Untuk memenuhi kebutuhan bawang merah dengan mutu terjamin, jumlah yang cukup dan berkesinambungan, perbanyakan harus dilakukan melalui sistem sertifikasi. Permasalahan pada kegiatan sertifikasi benih yang diperbanyak dengan cara vegetatif adalah keterbatasan benih sumber, baik dalam segi jumlah maupun varietas. Sementara itu varietas bawang merah yang sudah dilepas sebanyak 21 varietas (Tabel 3). Beberapa diantaranya menyebar sebagai benih non sertifikat yang kemurnian dan tingkat generasinya tidak dapat ditelusuri sehingga mutu benih yang dihasilkan rendah. Dalam rangka mengembalikan kemurnian varietas, dilakukan proses pemurnian varietas melalui kegiatan seleksi negatif, yaitu membersihkan populasi varietas yang dimaksud dari campuran varietas lain. Pemurnian varietas dilakukan dengan seleksi negatif yaitu mencabut dan membuang tanaman dari suatu populasi pemurnian yang secara visual karakter morfologinya tidak sesuai dengan varetas yang ditanam (Soedomo, 2006). Populasi tanaman menjadi murni sesuai karakternya dalam deskripsi varietas dan sehat, sehingga mutu benih hasil pemurnian dapat disetarakan untuk menjadi kelas benih tertentu.

76

Tabel 3. Varietas unggul bawang merah yang sudah dilepas dan disertifikasi No. Varietas No.Kepmentan Asal Lokasi/ Pengusul Materi 1. Bima Brebes 594/Kpts/TP.240/8/1984 Lokal Brebes Balitsa Lembang 2. Medan 595/Kpts/TP.240/8/1984 Lokal Samosir Balitsa Lembang 3. Keling 596/Kpts/TP.240/8/1984 Lokal Maja Balitsa Lembang 4. Bima Maja 597/Kpts/TP.240/8/1984 Lokal Cipanas Balitsa Lembang Cipanas 5. Super Philip 65/Kpts/TP.240/2/2000 Lokal Nganjuk BPTP Jawa Timur 6. Bauji 66/Kpts/TP.240/2/2000 Introduksi dari BPTP Jawa Timur Philipina 7. Kramat-1 225/Kpts/TP.240/4/2001 Maja Cipanas x B. Balitsa Lembang Bombay 8. Karamat-2 226/Kpts/TP.240/4/2001 Maja Cipanas x B. Balitsa Lembang Bombay 9. Kuning 227/Kpts/TP.240/4/2002 Lokal Brebes Balitsa Lembang 10. Tiron 498/Kpts/TP.240/8/2003 Kab. Bantul BPSBTPH Yogyakarta Yogyakarta 11. Keta Monca 529/Kpts/PD.210/10/2004 Kab. Bima NTB BPSBTPH NTB 12. Batu Ijo 368/Kpts/LB.240/6/2004 Batu Malang, BPTP Jawa Timur Jatim 13. Palasa 480/Kpts/LB.240/6/2004 Parigi Moutg, BalaiPerbenihan, Sulteng Diperta, BPTP, Untad 14. Tinombo 481/Kpts/LB.240/6/2004 Parigi Moutg, BalaiPerbenihan, Sulteng Diperta, BPTP, Untad 15. Tuk-Tuk 361/Kpts/SR.120/5/2006 PT.East West PT.East West Seed Philipina Seed Philipina 16 Sembrani 304/Kpts/SR.120/5/2007 Balitsa Lembang Balitsa Lembang 17. Katumi 305/Kpts/SR.120/5/2007 Balitsa Lembang Balitsa Lembang 18. Manjung 703/Kpts/SR.120/5/2007 Pamekasan, Jawa Diperta Provinsi Timur Jatim 19. Biru Lancor 2830/Kpts/SR.120/7/2009 Ds. Cabean, Kec. Dinas Pertanian dan Dringu, Kab. BPSBTPH Jatim Probolinggo, Jawa Timur 20. Lembah Palu 11843/Kpts/SR.120/4/2011 Lembah Palu, DinasPertanian, Kota Palu, Kab Kehutanan dan Sigi dan Kab. Kelautan Kota Palu Donggala 21. Rubaru 2525/Kpts/SR.120/5/2011 Lokal Sumenep Pemkab,Dinas Pertanian TP Kab Sumenep, BPTP dan UPT UPTPSBTPH Prop Jawa Timur Sumber : Dirjen Hortikultura (2011)

Tujuan pemurnian varietas bawang merah adalah untuk menyediakan benih sumber bawang merah dari varietas-varietas yang sudah dilepas atau

77

didaftar yang beredar di masyarakat dengan karakter varietas sesuai deskripsinya dan memenuhi persyaratan standar mutu sesuai kelas. Syarat pemurnian varietas antara lain: (a) benih yang akan ditanam jelas varietasnya, (b) varietas telah dilepas oleh menteri pertanian atau telah terdaftar untuk peredarannya, (c) benih telah di seleksi dengan karakternya sesuai deskripsi dan sehat, (d) lahan yang digunakan bukan bekas tanaman bawang merah, (e) luas pertanaman pada satu unit pemurnian maksimal 0,1 ha, dan (f) satu unit pertanaman harus satu hamparan dan dapat terdiri dari beberapa petak. Apabila dalam waktu bersamaan ada beberapa unit pemurnian, maka antar unit harus ada batas yang jelas. Prosedur pemurnian varietas harus melalui tahapan sebagai berikut: (a) mengajukan permohonan tertulis ke BPSBTPH, (b) seleksi benih sumber, (c) seleksi tanaman di lapangan pada saat tanaman berumur 20-25 hari setelah tanam (HST), 30-40 HST, dan pada saat panen, (d) pemeriksaan umbi gudang, yaitu menyisihkan umbi yang dicurigai sebagai varietas lain dan umbi yang terserang organisme pengganggu tanaman, (e) pengeluaran rekomendasi, (f) penerbitan sertifikat, dan (g) pengeluaran label. Label warna kuning untuk kelas penjenis (BS), warna putih benih dasar (BD), warna ungu untuk benih pokok (BP) dan warna biru untuk benih sebar (BR), Saat ini kondisi perbenihan bawang merah di Indonesia perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Hal ini karena petani masih menggunakan benih asal-asalan dan tidak bersertifikat sehingga benih yang digunakan kurang bermutu (Santoso, 2008). Padahal benih merupakan salah satu faktor utama yang menjadi penentu keberhasilan dalam budidaya tanaman. Menurut FAO, peningkatan campuran varietas lain dan kemerosotan produksi sekitar 2,6 % tiap generasi pertanaman merupakan akibat dari penggunaan benih yang kurang terkontrol mutunya (Kuswanto, 2000). Penggunaan benih bermutu dapat mengurangi resiko kegagalan budidaya karena bebas dari serangan hama dan penyakit dan mampu tumbuh baik pada kondisi lahan yang kurang menguntungkan (Dirjen Hortikultura, 2005). Dengan adanya benih bawang merah bersertifikat, maka akan berkontribusi terhadap pergerakan ekonomi usahatani karena benih merupakan dari suatu usahatani. Pasar perbenihan bawang merah masih sangat berpeluang karena dibatasinya benih impor oleh pemerintah. Sehingga dengan tersedianya benih bersertifikat diharapkan akan meningkatkan 25 % PAD daerah maupun PAD di propinsi serta meningkatnya keuntungan dari petani/penangkar benih atau mitra. Di Jawa Timur terdapat 30.000 ha usahatani bawang merah dan membutuhkan benih sebanyak 37.500 t per tahun. Sementara ketersediaan benih bersertifikat di Jawa Timur sampai Desember 2008 hanya 65 t (Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, 2008; BPSBTPH, 2008). BPTP Jawa Timur pada tahun 2009 telah menghasilkan benih bawang merah kelas BS untuk varietas unggul Super Philip dan Bauji sebanyak 2.500 kg. Permasalahan dalam produksi benih bawang merah bersertifikat adalah sulitnya memenuhi standar mutu benih yang mengharuskan adanya intensitas serangan OPT utama hanya 0-0,5 %, karena produksi benih bawang merah dilakukan di lapang (Baswarsiati ., 2009).

78

BUDIDAYA BAWANG MERAH Bawang merah merupakan sayuran unggulan nasional yang mempunyai peran cukup penting dan perlu dibudidayakan dengan intensif. Terdapat 32 kabupaten sentra produksi bawang merah yang tersebar di 19 provinsi di Indonesia (Tabel 4) dengan potensi pengembangan areal pertanaman bawang merah lebih dari 90.000 ha.
Tabel 4. Sentra Pengembangan Bawang Merah di Indonesia No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Propinsi Jawa Tengah DIY Jawa Timur Jawa Barat Sumatera Utara Sumatera Barat NTB Bali Kalimantan Timur Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Utara Lampung Papua Maluku Kabupaten Jumlah kabupaten 4 2 4 4 3 1 4 1 1 2 1 1 2 1 1 32

Brebes, Tegal, Demak, Pemalang Bantul, Kulonprogo Nganjuk, Mojokerto, Pamekasan, Probolinggo Cirebon, Majalengka, Kuningan, Bandung Taput, Tobasa, Padansidempuan Solok Bima, Dompu, Lombok Timur Bangli Nunukan Donggala, Kota Palu Engrekang Minahasa Lampung Selatan Merauke Seram Bagian Timur Jumlah: Sumber: Dirjen Hortikultura, 2010

Dalam memasuki persaingan pasar global tersebut, petani dan pelaku usaha agribisnis sayuran (bawang merah) dituntut untuk terus memperbaiki cara-cara budidaya melalui penerapan teknologi maju dan cara budidaya yang benar atau dalam istilahnya GAP ( ). Adapun beberapa inovasi teknologi bawang merah yang berkaitan dengan penerapan teknologi maju dan cara budidaya yang benar meliputi : (1) manajemen usaha produksi, (b) kesesuaian lokasi, (c) benih, (d) pengolahan tanah, (e) penanaman, f) pengairan, (g) pemupukan, (h) pengendalian gulma, (h) pengendalian hama dan penyakit, dan (i) peningkatan mutu dan hasil panen (Baswarsiati 2009). Kesesuaian lokasi ditunjukkan oleh areal penyebaran varietas yang berbeda-beda sesuai agroekosistem spesifik, terutama ketahanan terhadap hama dan penyakit (Tabel 5)

79

Tabel 5. Penyebaran varietas bawang merah komersial di Indonesia, 2009 No Propinsi Jenis varietas komersial 1. Lampung Bima Brebes, Super Philip 2. Jabar Batu Ijo, Super philip, Sumenep, Maja 3. Jateng Bauji, Kuning, Bima Brebes 4. DIY Tiron, Super Philip, Bima Brebes 5. Jatim Super Philip, Bauji, Batu Ijo 6. Kaltim Bauji, Tutk-Tuk 7. NTB Kete Monca, Super Philip 8. Sulteng Palasa, Tinombo, Palu 9. Sulsel Super Philip, Sumenep Sumber: Dirjen Hortikultura, 2010

Menurut Supriatna (2011) beberapa kendala agronomis yang dihadapi petani dalam budidaya bawang merah, yaitu: (a) pemeliharaan VUB lebih intensif dibandingkan lokal; dan (b) VUB lebih disukai hama tertentu apalagi dengan perubahan iklim (hujan terus menerus pada tahun 2010) menyebabkan dan becak sehingga tahun 2010 (MK I dan MK II) mengalami penurunan hasil antara 20 sampai 40 persen dari normal. Kendala dari aspek ekonomis meliputi: (a) harga benih sumber mahal sedangkan produksinya tidak menunjukan perbedaan serta (b) fluktuasi harga jual tinggi. Karena adanya musim hujan yang panjang, petani banyak beralih ke varietas yang lebih tahan hujan yaitu Varietas Bauji. Sementara petani lainnya karena keterbatasan modal untuk membeli benih tetap menggunakan benih Super Philip hasil dari panenan sebelumnya. Untuk memperkecil kerugian petani, budidaya bawang merah harus diarahkan untuk memenuhi standar (GAP), agar petani/pelaku usaha bisa bersaing dalam pasar global. GAP adalah cara budidaya yang benar melalui penerapan teknologi maju yang meliputi: Kesesuaian Lahan. Tanaman bawang merah secara umum memerlukan bulan kering 4-5 bulan, curah hujan 1000-1500 mm/th, suhu sekitar 25-32 oC, pH tanah 5,5-6,5, lahan tidak ternaungi, drainase dan kesuburan baik, tekstur lempung berpasir dan struktur tanah remah Benih. Benih bermutu merupakan salah satu kunci utama dalam keberhasilan suatu usahatani. Persyaratan benih bawang merah yang baik antara lain: umur simpan benih telah memenuhi, yaitu sekitar 3-4 bulan, umur panen 70-85 hari, ukuran benih 10-15 gram. Kebutuhan benih setiap hektar 1000-1200 kg. Umbi benih berwarna merah cerah, padat, tidak keropos, tidak lunak, tidak terserang dari hama dan penyakit. Sebelum ditanam, umbi dibersihkan, dan bila belum kelihatan pertunasan, maka ujung umbi dipotg 1/3 untuk mempercepat tumbuh tunas. Selain benih umbi, juga bisa menggunakan biji botani (TSS = ). Keuntungan dari penggunaan TSS antara lain penyimpanan dan biaya pengangkutan lebih murah, kebutuhan benih lebih sedikit sekitar 2 kg per ha, dibandingkan benih umbi, dan dapat menghasilkan benih bebas virus (Permadi, 1993). Rosliani .

80

(2005) menyatakan bahwa waktu tanam berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan, pembungaan dan pembijian bawang merah, penanaman bulan September menghasilkan biji 27,5 g/9 m persegi atau setara dengan 22,92 kg/ha. Pengolahan Tanah. Tanah diolah dengan cara dibajak 4 kali hingga tanah gembur, dikeringkan selama seminggu, lalu tanah dihaluskan lagi dan dibuat bedengan. Setelah itu bedengan ditaburi dengan pupuk dasar berupa pupuk SP 36 dengan dosis 200 kg/ha yang diberikan satu minggu sebelum tanam. Selanjutnya tanah diairi. Penanaman. Musim tanam optimal bawang merah yaitu pada akhir musim hujan bulan Maret-April dan musim kemarau Mei-Juni, tetapi di beberapa sentral produksi, bawang merah ditanam tanpa mengenal musim. Untuk penanaman diluar musim perlu memperhatikan pengendalian hama dan penyakit. Sebelum tanam, tanah harus diairi, benih dibersihkan dan diseleksi. Pembersihan benih dilakukan 1-2 hari sebelum tanam serta ujung benih sudah dipotg 1/3 bagian. Jarak tanam yang dianjurkan yaitu 20 cm x 15 cm untuk umbi benih sedang dan 20 x 20 cm untuk umbi benih besar. Sedangkan jarak tanam pada penanaman yang ditujukan untuk benih yaitu 15 x 15 cm. Penanaman dilakukan dengan cara membenamkan 2/3 bagian umbi kedalam tanah, sedangkan 1/3 bagiannya muncul diatas tanah. Pengairan. Bawang merah membutuhkan air dalam kondisi yang cukup sejak pertumbuhan awal hingga menjelang panen. Pembuatan bedengan sangat diperlukan sehingga tanaman tidak tergenang oleh air, karena dapat menyebabkan umbi menjadi busuk. Pada musim kemarau tanaman diairi setiap hari sedangkan pada musim hujan pengairan selang dua hari sekali. Setelah hujan turun, sebaiknya tanaman disiram dengan air bersih untuk menghilangkan inokulum dari penyakit yang kemungkinan menempel di daun. Cara pengairan dapat dilakukan dengan pengenangan/leb maupun dengan cara disiram/disirat. Untuk cara leb sebaiknya dilakukan pada tanah yang porous, sehingga air yang tergenang cepat habis. Sedangkan cara siram membutuhkan tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama. Pemupukan. Takaran pupuk optimal per hektar untuk bawang merah adalah pupuk dasar 10 t pupuk kandang dan 200 kg SP 36 diberikan 7 hari sebelum tanam. Pupuk susulan menggunakan urea 200 kg/ha, ZA 450 kg/ha dan KCl 250 kg/ha yang diberikan pada saat tanaman berumur 15 hari dan 30 hari setelah tanam. Pemupukan juga dapat menggunakan NPK sebanyak 75 kg/ha dan ZA 100 kg/ha diberikan 15 hari sebelum tanam. Pemupukan kedua dengan KCl 100 kg/ha dan urea 300 kg/ha. Cara pemupukan dengan meletakkan pupuk pada larikan di sekitar tanaman, kemudian ditutup dengan tanah. Pengendalian Gulma. Pembersihan gulma dilakukan dengan cara menyiang dengan intensif sesuai kondisi gulma yang ada dengan cara mencabut gulma sampai terangkat ke akar-akarnya atau menggunakan herbisida pratumbuh dengan dosis sesuai anjuran. Cara membersihkan dan mencabut gulma harus hati-hati supaya tidak mengganggu tanaman bawang merah apalagi bila sudah berumbi. Bila umbi sudah besar sebaiknya tidak dilakukan lagi penyiangan. Saat membersihkan dilakukan pembumbunan atau pendangiran.

81

Pengendalian Hama dan Penyakit. Beberapa komponen pengendalian hama ulat bawang yaitu: penerapan budidaya tanaman sehat, pergiliran tanaman, penanaman serentak, pengendalian secara mekanis, penggunaan seks feromon, penggunaan alat semprot yang tepat dan pengendalian secara hayati. Apabila populasi hama meningkat dengan sangat cepat dalam waktu 1-2 hari, diperlukan alternatif komponen yang lain yaitu penggunaan kerodong kasa. Kerodong kasa dapat diterapkan pada luasan pertanaman yang sempit maupun yang luas, namun ukuran kerodong kasa yang biasa diterapkan petani berkisar antara 500 m2 sampai 2000 m2. Keberhasilan pengendalian dengan kerodong kasa ini dapat mencapai 100% dan bawang merah dapat dipanen dengan hasil optimal. Penggunaan kerodong kasa dapat mengurangi bahkan meniadakan penggunaan insektisida kimia, sehingga efek negatif penggunaan insektisida dapat ditiadakan. Pengendalian hama ulat bawang juga dapat dilakukan dengan menggunakan lampu perangkap. Perangkap hama menggunakan lampu neon (TL 5 watt) dengan waktu nyala jam 18.00 sampai jam 24.00, paling efektif untuk menangkap imago dan menekan serangan pada bawang merah. Penggunaan lampu perangkap dapat mengurangi biaya pestisida hingga 80 %. Pengendalian serangan hama dengan gejala daun penuh korokan, kering dan berwarna coklat seperti terbakar serta masuk ke dalam umbi bawang, yaitu dengan pemasangan perangkap kuning berperekat (oli) ukuran 16 cm x 16 cm, kemudian ditempelkan pada triplek atau kaleng, dipasang pada tiang bambu tinggi maksimum 60 cm. Jumlah perangkap yang digunakan untuk setiap hektar bawang merah adalah 80-100 buah. Penyakit Layu Fusarium dengan gejala tanaman kurus kekuningan dan busuk bagian pangkal. Pencegahan penyakit ini dengan menaburkan fungisida dengan dosis 100 g/100 kg benih tiga hari sebelum tanam. Penyakit Becak ungu/trotol ( ) dengan gejala bercak kecil pada daun, berwarna putih dengan pusat berwarna ungu dikendalikan dengan menggunakan fungisida selektif dengan dosis anjuran, bila serangan mencapai 5 %. Panen dan Pasca Panen. Umur panen tergantung varietas. Panen untuk konsumsi pada umumnya umur 55-60 hari di dataran rendah; 70-75 hari di dataran tinggi, kerebahan daun 80 %. Panen untuk calon benih umur 70-75 hari di dataran rendah; 80-90 hari di dataran tinggi, kerebahan daun 90 %. Waktu panen udara cerah, keseluruhan daun tampak menguning, sebagian umbi nampak tersembul keluar. Cara panen dengan mencabut tanaman dengan hatihati. Umbi bawang merah hasil panen diikat 1-1,5 setiap ikatan, dijemur dibawah sinar matahari 2-3 hari. Pengeringan di rak penjemuran dilakukan 7-14 hari, hinggga mencapai susut bobot 25-40 % atau sampai kering askip (apabila disimpan dalam kantg plastik putih selama 24 jam tidak ada lagi titik air dalam kantg). Bawang merah disimpan diatas perapian, mengunakan para-para bambu dan dibawahnya diberi pengasapan. Sortasi dilakukan untuk memisahkan umbi yang sehat, utuh dan menarik dengan umbi yang telah rusak

82

KESIMPULAN (1) Salah satu unsur penunjang keberhasilan usaha produksi bawang merah adalah penggunaan benih bermutu. Pasar perbenihan bawang merah masih sangat berpeluang karena dibatasinya benih impor oleh pemerintah. Pembinaan terhadap penangkar benih bawang merah akan meningkatkan produksi dan mengurangi devisa yang dikeluarkan karena harus mengimpor benih dari luar negeri. Budidaya bawang merah perlu diarahkan untuk memenuhi standar (GAP), agar petani/pelaku usaha bisa bersaing dalam pasar global. GAP adalah cara budidaya yang benar melalui penerapan teknologi maju. Untuk itu diperlukan dukungan pemerintah terutama aspek penyuluhan dan pendampingan teknologi secara berkesinambungan

(2)

DAFTAR PUSTAKA Baswarsiati, E, Korlina., Abu, dan T, Siniati, 2009. Teknologi bawang merah berbasis Good Agriculture Practises (GAP). Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa Timur, 2008. Pemurnian Benih dan Sertifikasi Benih Bawang Merah. Makalah Pertemuan Apresiasi Penangkar Benih Bawang Merah se Indonesia Bagian Timur di Malang. Departemen Pertanian, 2006. Departemen Pertanian. Profil Perbenihan Hortikultura Indonesia.

Direktorat Jenderal Hortikultura, 2009. Profil Kawasan Hortikultura Bawang Merah. Direktorat Jenderal Hortikultura Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi, 2008. Alur dan Distribusi Benih Bawang merah di Indonesia. Makalah Pertemuan Apresiasi Penangkar Benih Bawang Merah se Indonesia Bagian Timur di Malang. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. Jakarta. Direktorat Perbenihan, 2011. Pedoman pemurnian varietas bawang merah. Direktorat Perbenihan, Direktorat Jenderal Hortikultura. Kementerian Pertanian, Pertanian. 2011. Daftar varietas hortikultura, Kementerian

Kuswanto. 2000. Produksi dan Distribusi Benih. Forum Komunikasi Antar Peminat Benih dan Ahli Benih. Balittas. Malang. Permadi, A.H., 1991. problems. . Research results and July 1993.3:35-38.

Rosliani, R., Suwandi, dan N. Sumarni. 2005. Pengaruh waktu tanam dan ZPT Mepiquat Klorida terhadap pembungaan dan pembijian bawang merah (TSS). Jurnal. Horti. Vol.15. No.3:192-197.

83

Santoso, A.P., 2008. Sertifikasi benih bawang merah. Makalah Pertemuan Apresiasi Penangkar Benih Bawang Merah se Indonesia Bagian Timur. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura. Jakarta. Sarto dan A.H. Permadi., 1994. Pembungaan beberapa kultivar bawang merah untuk musim penghujan di Brebes. Bul. Penel. Hort. XXVI (4):145-150 Soedomo, R. P., 2006. Seleksi induk tanaman bawang merah. J. Hort. 16(4):269282. Supriatna, A., Erythrina, R. Indrasti., dan A. Yulianti, 2011. Laporan Akhir: Analisis Dampak Teknologi Unggulan Sayuran Mendukung Program Pengembangan Kawasan Agribisnis Hortikultura. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian.

84