Anda di halaman 1dari 23

ACUTE CORONARY SSYNDROM Commented [AWJ1]: Penulisan?

Diajukan sebagai tugas mata kuliah:

Kegawat Daruratan Sistem 1

Disusun oleh:

Kelas Tutor B

S1.KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UPN”VETERAN” JAKARTA

2018/2019
ACS

(Acute Coronary Syndrom)

1. Pengertian ACS
ACS (Acute Coronary Syndrome) adalah manifestasi akut dari plak ateroma Commented [AWJ2]: Lihat lagi arti dari sindrome

pembuluh darah koroner yang koyak/pecah, terjadi karena adanya disrupsi dari plak
aterosklerotik yang diikuti agregasi trombosit sehingga terbentuk trombus pada
pembuluh darah koroner.

2. Klasifikasi ACS Commented [AWJ3]: Sebelum ke klasifikasi harunya ke


penyebab, manifestasi baru klasifikasi
Klasifikasi ACS berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
elektrokardiogram (EKG), dan pemeriksaan marka jantung
1) Infark miokard dengan elevasi segmen ST (STEMI: ST segment elevation
myocardial infarction)
Infark miokard dengan elevasi segmen ST akut (STEMI) merupakan
indikator kejadian oklusi total pembuluh darah arteri koroner. Keadaan ini
memerlukan tindakan revaskularisasi untuk mengembalikan aliran darah dan
reperfusi miokard secepatnya. Diagnosis STEMI ditegakkan jika terdapat
keluhan angina pektoris akut disertai elevasi segmen ST yang persisten di dua
sadapan yang bersebelahan.

2) Infark miokard dengan non elevasi segmen ST (NSTEMI: non ST segment


elevation myocardial infarction)
Diagnosis NSTEMI dan angina pektoris tidak stabil ditegakkan jika
terdapat keluhan angina pektoris akut tanpa elevasi segmen ST yang persisten
di dua sadapan yang bersebelahan. Rekaman EKG saat presentasi dapat berupa
depresi segmen ST, inversi gelombang T, gelombang T yang datar, gelombang
T pseudo-normalization, atau bahkan tanpa perubahan.

3) Angina Pektoris tidak stabil (UAP: unstable angina pectoris)


Pada Angina Pektoris tidak stabil marka jantung (Troponin I/T atau CK-
MB) tidak meningkat secara bermakna. Angina Pektoris tidak stabil dan
NSTEMI dibedakan berdasarkan kejadian infark miokard yang ditandai dengan
peningkatan marka jantung.

3. Pengkajian Acute Coronary Syndrom


1) Pengkajian Primer
Prioritas yang dilakukan pada primary survey antara lain (Fulde, 2009)
a) Airway maintenance dengan cervical spine protection
b) Breathing dan oxygenation
c) Circulation dan kontrol perdarahan eksternal
d) Disability-pemeriksaan neurologis singkat
e) Exposure dengan kontrol lingkungan
2) Primary Survey
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain
(Gilbert., D’Souza., & Pletz, 2009) :
a. General Impressions
 Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum. Commented [AWJ4]: Jngan pakai symbol dalam penulisan
karya ilmiah
 Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera
 Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
b. Pengkajian Airway
Memeriksa responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara
untuk memastikan ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Yang perlu
diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
 Kaji kepatenan jalan nafas pasien
 Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
 Adanya snoring atau gurgling
 Stridor atau suara napas tidak normal
 Agitasi (hipoksia)
 Penggunaan otot bantu pernafasan
 Sianosis
 Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan
potensial penyebab obstruksi :
- Muntahan
- Perdarahan
- Gigi lepas atau hilang
- Gigi palsu
- Trauma wajah
c. Pengkajian Breathing (Pernafasan)
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien
antara lain :
 Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi
pasien.
- Inspeksi adanya cyanosis dan penggunaan otot bantu pernafasan.
- frekuensi pernapasan
- Gerakan respirasi
- Palpasi toraks
- auskultasi dan dengarkan bunyi napas
d. Pengkajian Circulation
 Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien,
antara lain :
- Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
- CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
- Tekanan darah
- Pulse oxymetri
- Vena leher dan denyut nadi
 Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia
(capillary refill).
 Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
e. Pengkajian Disabilities
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU
:

A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi


perintah yang diberikan

V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak


bisa dimengerti
P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)

U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri


maupun stimulus verbal.

f. Expose, Examine dan Evaluate


Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien.
Jika pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi
in-line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien.
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang
mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera
dilakukan:
- Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
- Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa
pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang
berpotensi tidak stabil atau kritis

Survey sekunder merupakan pemeriksaan secara lengkap yang


dilakukan secara head to toe, dari depan hingga belakang. Secondary survey
hanya dilakukan setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam artian tidak
mengalami syok atau tanda-tanda syok

 Anamnesis
Pemeriksaan data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat pasien
yang merupakan bagian penting dari pengkajian pasien. Riwayat pasien
meliputi keluhan utama, riwayat masalah kesehatan sekarang, riwayat medis,
riwayat keluarga, sosial, dan system Commented [AWJ5]: Ini Namanya secondary survey

Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat dari
pasien dan keluarga (Emergency Nursing Association, 2007):
 A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester,
makanan)
 M : Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti
sedang menjalani pengobatan atau penyalahgunaan obat )
 P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti
penyakit yang pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya, penggunaan
obat-obatan herbal)
 L : Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi,
dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian, selain itu juga periode
menstruasi termasuk dalam komponen ini)
 E : Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera
(kejadian yang menyebabkan adanya keluhan utama)
PQRST ini digunakan untuk mengkaji keluhan nyeri pada pasien yang
meliputi :
 Provokes/palliates : apa yang menyebabkan nyeri? Apa
yang membuat nyerinya lebih baik? apa yang menyebabkan nyerinya
lebih buruk? apa yang anda lakukan saat nyeri? apakah rasa nyeri itu
membuat anda terbangun saat tidur?
 Quality : bisakah anda menggambarkan rasa
nyerinya?apakah seperti diiris, tajam, ditekan, ditusuk tusuk, rasa
terbakar, kram, kolik, diremas? (biarkan pasien mengatakan dengan
kata-katanya sendiri.
 Radiates : apakah nyerinya menyebar? Menyebar
kemana? Apakah nyeri terlokalisasi di satu titik atau bergerak?
 Severity : seberapa parah nyerinya? Dari rentang
skala 0-10 dengan 0 tidak ada nyeri dan 10 adalah nyeri hebat
 Time : kapan nyeri itu timbul?, apakah
onsetnya cepat atau lambat? Berapa lama nyeri itu timbul? Apakah
terus menerus atau hilang timbul?apakah pernah merasakan nyeri ini
sebelumnya?apakah nyerinya sama dengan nyeri sebelumnya atau
berbeda?

Setelah dilakukan anamnesis, maka langkah berikutnya adalah


pemeriksaan tanda-tanda vital. Tanda tanda vital meliputi suhu, nadi, frekuensi
nafas, saturasi oksigen, tekanan darah, berat badan, dan skala nyeri dan lakukan
pemeriksaan fisik.
 Jelaskan apa saja yang harus dikaji beserta interpreasinya terkait kondisi
kegawatan yang terjadi ?

1. Kaji Nyeri Dada

Anamnesis. Keluhan pasien dengan iskemia miokard dapat berupa nyeri


dada yang tipikal (angina tipikal) atau atipikal (angina ekuivalen).

Keluhan angina tipikal berupa rasa tertekan/berat daerah retrosternal,


menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, area interskapular, bahu, atau
epigastrium. Keluhan ini dapat berlangsung intermiten/beberapa menit atau
persisten (>20 menit). Keluhan angina tipikal sering disertai keluhan
penyerta seperti diaphoresis, mual/muntah, nyeri abdominal, sesak napas,
dan sinkop.

Presentasi angina atipikal yang sering dijumpai antara lain nyeri di


daerah penjalaran angina tipikal, rasa gangguan pencernaan (indigestion),
sesak napas yang tidak dapat diterangkan, atau rasa lemah mendadak yang
sulit diuraikan.

Nyeri dengan gambaran di bawah ini bukan karakteristik iskemia


miokard (nyeri dada nonkardiak) :

a) Nyeri pleuritik (nyeri tajam yang berhubungan dengan respirasi atau


batuk)
b) Nyeri abdomen tengah atau bawah
c) Nyeri dada yang dapat ditunjuk dengan satu jari, terutama di daerah
apeks ventrikel kiri atau pertemuan kostokondral.
d) Nyeri dada yang diakibatkan oleh gerakan tubuh atau palpasi
e) Nyeri dada dengan durasi beberapa detik
f) Nyeri dada yang menjalar ke ekstremitas bawah
2. Pemeriksaan fisik
Regurgitasi katup mitral akut, suara jantung tiga (S3), ronkhi basah
halus dan hipotensi hendaknya selalu diperiksa untuk mengidentifikasi
komplikasi iskemia.
Pericardial friction rub karena perikarditis, kekuatan nadi tidak
seimbang dan regurgitasi katup aorta akibat diseksi aorta, pneumotoraks,
nyeri pleuritik disertai suara napas yang tidak seimbang perlu
dipertimbangkan dalam memikirkan diagnosis banding SKA.
3. Pemeriksaan elektrokardiogram
Sedapat mungkin, rekaman EKG dibuat dalam 10 menit sejak
kedatangan pasien di ruang gawat darurat. Pemeriksaan EKG sebaiknya
diulang setiap keluhan angina timbul kembali.
Gambaran EKG yang dijumpai pada pasien dengan keluhan angina
cukup bervariasi, yaitu: normal, nondiagnostik, LBBB (Left Bundle Branch
Block) baru/ persangkaan baru, elevasi segmen ST yang persisten (≥20
menit) maupun tidak persisten, atau depresi segmen ST dengan atau tanpa
inversi gelombang T.
4. Pemeriksaan marka jantung
Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka Commented [AWJ6]: Merupakan protein yang terdapat dmana
dan akan meningkat jika apa?
nekrosis miosit jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark miokard.
Peningkatan marka jantung hanya menunjukkan adanya nekrosis miosit,
namun tidak dapat dipakai untuk menentukan penyebab nekrosis miosit
tersebut (penyebab koroner/nonkoroner).

4. Pemeriksaan Penunjang Acute Coronary Syndrome


1) Elektrokardiogram
Semua pasien dengan keluhan nyeri dada atau keluhan lain yang
mengarah kepada iskemia harus menjalani pemeriksaan EKG 12 sadapan
sesegera mungkin sesampainya di ruang gawat darurat. Sedapat mungkin,
rekaman EKG dibuat dalam 10 menit sejak kedatangan pasien di ruang gawat
darurat.
2) Pemeriksaan Marka Jantung
Kreatinin kinase-MB (CK-MB) atau troponin I/T merupakan marka
nekrosis miosit jantung dan menjadi marka untuk diagnosis infark miokard.
Dalam keadaan nekrosis miokard, pemeriksaan CK-MB atau troponin
I/T menunjukkan kadar yang normal dalam 4-6 jam setelah awitan SKA,
pemeriksaan hendaknya diulang 8-12 jam setelah awitan angina. Jika awitan Commented [AWJ7]: Good. Di bold ya yang sekiranya penting.

SKA tidak dapat ditentukan dengan jelas, maka pemeriksaan hendaknya diulang
6-12 jam setelah pemeriksaan pertama.
Kadar CKMB normal adalah ≤ 24 U/L dan ketika terjadi miokardial
infark maka kadar CKMB akan meningkat >24 U/L. CKMB terdeteksi dimulai
pada 4-6 jam setelah adanya cedera dan mencapai puncak pada 12-24 jam,
kemudian akan kembali normal setelah 48-72 jam. Kecepatan kembali ke
normal pada CKMB dimanfaatkan untuk mendeteksi adanya infark berulang.
Troponin T (nilai normal 0,1 ng/mL) suatu kompleks protein yang
terdapat pada flamen tipis otot jantung. Troponin T akan terdeteksi dalam darah
beberapa jam sampai dengan 14 hari setelah nekrosis miokard. Selain troponin
T pemerikasaan lain yang lebih spesifik adalah troponin I, karena troponin I
merupakan penanda adanya kerusakan otot miokard dengan nilai normal 0,04
ng/L
Pemeriksaan di ruang darurat atau ruang rawat intensif jantung (point of
care testing) pada umumnya berupa tes kualitatif atau semikuantitatif, lebih
cepat (15-20 menit) tetapi kurang sensitif. Point of care testing sebagai alat
diagnostik rutin SKA hanya dianjurkan jika waktu pemeriksaan di laboratorium
sentral memerlukan waktu >1 jam. Jika marka jantung secara point of care
testing menunjukkan hasil negatif maka pemeriksaan harus diulang di
laboratorium sentral.
3) Pemeriksaan Laboratorium
Data laboratorium, di samping marka jantung, yang harus dikumpulkan
di ruang gawat darurat adalah tes darah rutin, gula darah sewaktu, status
elektrolit, koagulasi darah, tes fungsi ginjal, dan panel lipid. Pemeriksaan
laboratorium tidak boleh menunda terapi SKA
4) Pemeriksaan Foto Polos Dada
Mengingat bahwa pasien tidak diperkenankan meninggalkan ruang
gawat darurat untuk tujuan pemeriksaan, maka foto polos dada harus dilakukan
di ruang gawat darurat dengan alat portabel. Tujuan pemeriksaan adalah untuk
membuat diagnosis banding, identifikasi komplikasi dan penyakit penyerta.

5. Penatalaksanaan Farmakologi ACS


Terapi awal :
a) Tirah baring Commented [AWJ8]: Farmkologi?

b) Suplemen oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan saturasi O2


arteri <95% atau yang mengalami distres respirasi
c) Suplemen oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6 jam
pertama
1) Anti Iskemia
a) Nitrat
Keuntungan terapi nitrat terletak pada efek dilatasi pembuluh
darah koroner baik yang normal maupun yang mengalami
aterosklerosis.

 Pasien dengan UAP/NSTEMI yang mengalami nyeri dada berlanjut


sebaiknya mendapat nitrat sublingual

 Tablet sublingual tersedia dalam dosis rata-rata yang diresepkan


adalah 0,4 mg atau 1/150 gram setelah mengalami nyeri jantung,
diulang setiap 5 menit sampai 3 dosis.

Klien dapat mengalami pusing, ingin pingsan, atau sakit kepala


akibat vasodilatasi perifer. Jika nyeri menetap, klien harus segera
memanggil bantuan medis. Nitrogliserin juga tersedia dalam bentuk
tropical (oistment, patch transdermal) dan bentuk intravena.

Nitrat intravena diindikasikan pada iskemia yang persisten,


gagal jantung, atau hipertensi dalam 48 jam pertama UAP/NSTEMI.
Keputusan menggunakan nitrat intravena tidak boleh menghalangi
pengobatan yang terbukti menurunkan mortalitas seperti penyekat beta
atau angiotensin converting enzymes inhibitor (ACE-I)

Nitrat Dosis

Isosorbid dinitrate (ISDN) Sublingual 2,5–15 mg (onset 5 menit)

Oral 15-80 mg/hari dibagi 2-3 dosis

Intravena 1,25-5 mg/jam

Isosorbid 5 mononitrate Oral 2x20 mg/hari

Oral (slow release) 120-240 mg/hari

Nitroglicerin Sublingual tablet 0,3-0,6 mg–1,5 mg


(trinitrin, TNT, glyceryl trinitrate) Intravena 5-200 mcg/menit

b) Morfin
Morfin sulfat, suatu analgetik narkotik, biasanya digunakan
untuk mengobati angina yang berkaitan dengan infark miokardium akut.
Morfin dapat memperlebar pembuluh vena, dan mengurangi beban
jantung.
Dosis standar morfin sulfat adalah 2-5 mg intravena (IV),
diulang setiap 5-30 menit sampai sakit dada hilang.
Perawat harus waspada terhadap depresi pernapasan dan
hipotensi yang merupakan reaksi merugikan yang sering timbul.
Pemantauan yang ketat perlu dijalankan. Bisa diberikan antagonis
narkotik naloxon (narcan) untuk melawan kerja morfin jika reaksi
merugikan yang timbul membahayakan klien. Dosisnya 0,1- 0,2 mg
setiap 2-3 menit sesuai indikasi.
c) Penyekat Beta (Beta blocker)
Keuntungan utama terapi penyekat beta terletak pada efeknya
terhadap reseptor beta-1 yang mengakibatkan dapat mengurangi denyut
jantung dan kontraktilitas miokardium
Obat-obat ini digunakan sebagai antiangina, antiaritmia, dan
antihipertensi.
Penyekat beta direkomendasikan bagi pasien UAP atau
NSTEMI, terutama jika terdapat hipertensi dan/atau takikardia, dan
selama tidak terdapat indikasi kontra
Terapi hendaknya tidak diberikan pada pasien dengan gangguan
konduksi atrio-ventrikler yang signifikan,asma bronkiale, dan disfungsi
akut ventrikel kiri. Pada kebanyakan kasus, preparat oral cukup
memadai dibandingkan injeksi.

• penyekat beta oral hendaknya diberikan dalam 24 jam pertama .

• Indikasi : untuk semua pasien dengan disfungsi ventrikel kiri selama


tidak ada indikasi kontra
Penyekat Beta Dosis untuk Angina

Atenolol 50-200 mg/hari

Bisoprolol 10 mg/hari

Carvedilol 2x6,25 mg/hari titrasi sampai

maksimum 2x25

mg/hari

Metoprolol 50-200 mg/hari

Propanolol 2x20-80 mg/hari

2) Antiplatelet
a) Aspirin
Fungsi aspirin adalah efek anti trombotik (menghambat aktivasi
trombosit) yang merupakan efek yang sangat berguna pencegah
serangan berulang pada pasien dengan nyeri dada akibat sumbatan pada
arteri coroner jantung dan juga pada pasien yang sedang mengalami
kejadian nyeri dada akibat sumbatan pada arteri coroner jantung.
Dosis untuk penyakit jantung kororner :
 Akut : 160 -325 mg saat serangan
 Dosis pemeliharaan : 81 mg per hari
Efek samping : iritasi pada lambung, gangguan pencernaan, mual
Kontra indikasi :
b) Penghambat reseptor ADP
Penghambat reseptor ADP perlu diberikan bersama aspirin
sesegera mungkin dan dipertahankan selama 12 bulan kecuali ada
indikasi kontra seperti risiko perdarahan berlebih
Dosis awal ticagrelor yang dianjurkan adalah 180 mg dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan 2 x 90 mg/hari kecuali pada pasien STEMI yang
direncanakan untuk reperfusi menggunakan agen fibrinolitik
Dosis awal clopidogrel adalah 300 mg dilanjutkan dengan dosis
pemeliharaan 75 mg/hari (pada pasien yang direncanakan untuk terapi
reperfusi menggunakan agen fibrinolitik, penghambat reseptor ADP
yang dianjurkan adalah clopidogrel)
3) Fibrinolitik
Fibrinolitik bekerja sebagai trombolitik dengan cara mengaktifkan
plasminogen untuk membentuk plasmin , yang mendegradasi fibrin untuk
kemudian memecah trombus.
Fibrinolisis merupakan strategi reperfusi yang penting, terutama pada
tempat-tempat yang tidak dapat melakukan IKP pada pasien STEMI dalam
waktu yang disarankan. Terapi fibrinolitik direkomendasikan diberikan dalam
12 jam sejak awitan gejala pada pasien-pasien tanpa kontra indikasi
Indikasi Fibrinolitik:
 Sakit dada khas IMA ≤ 12 jam
 EKG : ≥ 1 mm elevasi seg ST pada ≥ 2 sandapan yang ektremitas yang
berhubungan ≥ 2mm elevasi seg ST pada ≥ 2 sandapan precordial
 Syok kardiogenik pd IMA ( bila kateterisasi dan revaskularisasi tdk dapat
dilakukan )

Kontra indikasi fibrinolitik:

 Riwayat stroke hemoragik,kapanpun terjadinya


 Riwayat stroke iskemik dalam 3 bulan kecuali stroke iskemik dengan onset
< 3 jam
 Neoplasma intrakranial
 Perdarahan internal aktif(tidak termasuk menstruasi)
 Kecurigaan suatu diseksi aorta
 Luka kepala tertutup yg signifikan atau trauma facial dalam 3 bulan
 Kelainan struktural atau pembuluh darah cerebral
 Hipertensi berat saat datang ke UGD yaitu BP> 180 / 110 mmHg
 Pungsi vaskuler yg tak dapat dikompresi
Cara pemberian fibrinolitik:
 Streptokinase ( Streptase )
1.5 million Unit in 100 ml D5W or 0.9% saline selama 30-60 mnt
without heparin : Inferior MCI
with heparin : anterior MCI
 tPA Commented [AWJ9]: Apa aja?

15 mg IV bolus kemudian 0.75 mg/Kg selama 30 mnt,dilanjutkan 0.5


mg/Kg selama 60 mnt berikutnya

6. Penetalakasanaan Non farmakologi


Tindakan non-farmakologi
 Tirah baring
 Tambahan oksigen
 PCI primer
 CABG
 IABP (Intra aortic balloon counterpulsation)

1) PCI Commented [AWJ10]: Kasih gambar agar mudah untuk


dipahami
Intervensi koroner perkutan (percutaneous coronary intervension-disingkat
PCI atau IKP) adalah terminologi yang digunakan untuk menerangkan berbagai
prosedur yang secara mekanik berfungsi untuk meningkatkan perfusi (aliran) miokard
tanpa melakukan tindakan pembedahan. Prosedur yang paling umum dilakukan adalah
Percutaneous Coronary Angioplasty (PTCA-Balonisasi). Balonisasi biasanya diikuti
dengan implantasi stent (gorong-gorong) pada pembuluh darah koroner untuk
mencegah restenosis (penyumbatan kembali)

PCI PRIMER PADA ACS

PCI primer didefinisikan sebagai tindakan intervensi pada culprit vessel


(pembuluh darah yang terlibat serangan) dalam 12 jam setelah onset nyeri dada, tanpa
sebelumnya diberi trombolitik atau terapi lain untuk menghancurkan penyumbatan
tersebut. Tindakan IKP primer sangat efektif mengembalikan patensi pembuluh darah
koroner, mengurangi iskemik miokard berulanga, pengurangan reoklusi koroner,
pengurangan kejadian infark miokard berulang, memperbaiki fungsi ventrikel kiri, dan
pengurangan kejadian stroke.

Indikasi Klinik PCI

 Iskemia yang diinduksi pada stress testing


 Angina refractory terhadap terapi medis
 Iskemia berulang setelah infark miokar
 Acute myocardial infarction (AMI) dengan obstruksi infarct-related coronary
artery (IRA)
 Pasien dengan AMI yang tidak termasuk kandidat untuk fibrinolysis atau
pembedahan
 Gagal trombolitik

Kontraindikasi PCI

 Mutlak: peralatan dan fasilitas yang kurang memadai Commented [AWJ11]: Jangan pakai symbol dalam penulisan
ilmiah
 Relatif:
 CHF yang tidak terkontrol, BP tinggi, aritmia
 Gagal ginjal
 Perdarahan saluran cerna akut/anemia
 Stroke baru (<1 bulan)
 Intoksikasi obat-obatan (seperti:kontras)
 Pasien yang tidak kooperatif
 Usia kehamilan kurang dari 3 bulan

PCI dilakukan di lab kateterisasi, yang dilengkapi berbagai macam perangkat


monitor, monitor video, dan peralatan radiografi. Persiapannya sama dengan tindakan
angiografi

2) CABG
CABG adalah kependekan dari Coronary Artery Bypass Graft yang merupakan
prosedur operasi untuk mengobati penyakit jantung koroner. Prosedur ini dilakukan
khusus bagi mereka yang mengalami penyumbatan atau penyempitan arteri serius.
Secara sederhana bisa digambarkan bahwa prosedur CABG adalah membuat rute baru
di sekitar arteri yang menyempit atau tersumbat. Rute baru ini dibutuhkan agar aliran
darah tetap lancar sehingga otot jantung tetap mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi.
CABG adalah konstruksi jalur baru antara aorta (atau arteri mayor lainnya) dan bagian
arteri lain yang mengalami iobstruksi atau stenosis
Indikasi CABG
 Angina dengan oklusi lebih dari 50% pada cabang utama arteri
 Unstable angina dengan gangguan 2 pembuluh darah
 Iskemik dengan gagal jantung
 Myocardiac infark acute
 Tanda-tanda iskemik setelah PCI

7. Intrepretasi EKG ST elevasi gambar EKG yang akan muncul


Irama jantung yang normal akan tergambar sebagai pola EKG yang normal.
Pola hasil rekaman EKG menggambarkan setiap gelombang jantung yang dimulai
dengan gelombang P dan diikuti QRST, sesuai dengan perjalanan impuls
elektrofisiologi jantung. Aliran impuls elektrofisiologi yang terjadi pada kontraksi
relaksasi otot jantung yang dimulai di SA node, AV node, berkas his, dan serabut
Purkinje kemudian akan menyebar keventrikel jantung.
Jika oklusi terjadi dalam waktu lama dan derajatnya signifikan(menyumbat
90% lumen arteri koroner), gelombang T prominen akan diikuti dengan deviasi segmen
ST.
Elevasi segmen ST menggambarkan adanya daerah miokardium yang beresiko
mengalami kerusakan ireversibel menuju kematian sel (dapat dikur berdasarkan
peningkatan kadar troponin)dan lokasinya melibatkan epikardial

Perubahan-perubahan elektrokardiografi
STEMI didiagnosis dengan munculnya karakteristik nyeri dada yang lebih dari
30 menit dan elevasi segmen-ST ≥ 2mV (2mm) pada dua atau lebih lead perikordial
atau > 1mV (1mm) pada dua atau lebih lead adjacent limb atau blok berkas cabang
baru. Pada pasien dengan tipe infark miokard yang berkembang:
 Elevasi ST berkembang cepat (30 sampai 60 detik) setelah oklusi koroner, dan
biasanya berkaitan dengan oklusi total yang panjang dari arteri koroner.
 Elevasi ST selesai selama beberapa jam dalam merespon reperfusi koroner
spontan atau terapeutik. ST elevasi yang bertahan merupakan tanda dari gagalnya
reperfusi, dan berkaitan dengan infark yang besar dan prognosis yang parah.
Inversi gelombang-T, patologi gelombang Q dan hilangnya gelombang R sering
berkembang dalam zona infark ketika reperfusi terlambat atau tidak lengkap,
mengindikasi munculnya nekrosis miokard luas. Ketika reperfusi berhasil muncul
dengan cepat, dalam perjalanan waktu infark miokard elevasi ST berkembang,
akan ada sedikit nekrosis miokard, preservasi gelombang R dan tanpa formasi
gelombang Q. Kadang, terapi reperfusi bisa diberikan sangat cepat dimana infark
dibatalkan.

8. Analisa Label/Triase Pasien Commented [AWJ12]: Masukkan algorithmnya START Triase

Sesuai dengan kondisi dan tanda gejala yang muncul , pasien dikategorikan
kedalam label merah, karena pasien yang berlabel merah adalah semua pasien yang
mengalami gangguan Airway, Breathing, Circulation, Disability dan Exposure. Pasien
mengalami gangguan Breathing karena sensasi dada seperti tertindih dan peningkatan
RR selain itu peningkatan TD Nadi, dan terdapatnya ST Elevasi menandakan gangguan
pada circulation.
Pada kasus keluhan utama yang dikatakan keluarga pasien adalah mengeluh
nyeri dada sebelah kiri, menjalar ke tangan kiri ke leher kiri, menembus ke punggung
kiri, dan sensasinya seperti tertindih beban berat, pasien tampak mudah lelah,
diaphoresis dan mengatakan mual. Hasil TTV menunjukkan TD: 185/110 mmHg, Nadi:
115x/menit, RR: 28x/menit. Terdapat peningkatan troponin dan CKMB, ditemukan
hasil EKG ST Elevasi.

9. Jelaskan persiapan apa saja yang harus dilakukan dalam menerima pasien gawat
darurat dengan ACS
 Pada saat dirumah sakit dilakukan evaluasi primer cepat dan resusitasi fungsi vital,
survey sekunder yang lebih detail dan pemberian perawatan pasti.
 Persiapan alat :
- Alat pelindung diri (masker, handscoon, scort)
- Saturasi oksigen
- Pemeriksaan EKG
- Pemeriksaan Marka Jantung (cardiac biomarkers) / Pemeriksaan Troponin
- Oksigen set
- Insuf set & monitor
- Terapi preparat nitrat
- Terapi Trombolik

10. Ruangan yang Digunakan untuk Menempatkan Pasien


Ruangan apakah yang selanjutnya harus dipersiapkan untuk pasien ACS setelah
tindakan intervensi kegawatdaruratan dilakukan di IGD?Setelah dilakukan tindakan
resusitasi di ruang IGD, pasien dipindahkan ke ruang rawat inap untuk pemantauan
kondisi pasien selama menjalani pengobatan. Commented [AWJ13]: Ruang resusitasi sudah? Kalua sudah
ruang yang disiapkan adalah cathlab

11. Jelaskan Interpretasi Yang Kalian Dapatkan Dari Kondisi Kesadaran & Respon
Pasien Terkait Dengan Proses Patologis Yang Sedang Terjadi ?
Berdasarkan kondisi pasien, pasien datang dengan keluhan nyeri di bagian dada
sebelah kiri menjalar ke tangan, leher dan menembus punggung kiri. Pasien tampak
mudah lelah dan diaphoresis. Hasil pemeriksaan TTV didapatkan TD : 185/110 mmhg,
Nadi : 115 x/menit, RR : 28X/menit, Suhu : 37 C.
ACS diawali dengan rusaknya plak aterosklerosis di dalam arteri koroner, yang
menstimulasi agergasi platelet dan pembentukan trombus. Trombus menyebabkan
penyumbatan arteri koroner dan menurunkan perfusi miokardium. Sel otot jantung
(miokardium) memerlukan oksigen dan ATP untuk mempertahankan kontraktilitas dan
stabilitas kelistrikan untuk kondisi listrik jantung yang normal. Ketika sel miokardium
kekurangan oksigen, metabolisme anaerob terjadi sehingga produksi ATP lebih sedikit,
yang menyebabkan pompa natrium-kalium dan pompa kalsium serta terjadinya
penumpukan ion hidrogen dan laktat yang mengakibatkan asidosis.
Pada tahap ini akan terjadi kematian sel (infark). Jika perfusi miokard tidak
dikembalikan dalam waktu 20 menit, maka akan terjadi nekrosis dan kerusakan otot
jantung menjadi ireversibel. Kondisi ini menyebabkan terganggu nya kontraktilitas
miokardium, penurunan curah jantung, penurunan perfusi ke organ vital dan perifer,
yang ujungnya menyebabkan timbul tanda dan gejala syok.
12. Jelaskan Tindakan Utama Yang Harus Dilakukan Untuk Menangani Masalah
ACS Pasien!
Tahap Awal Pengobatan ACS
Terapi Awal:
MONA (Morfin, Oksigen, Nitrat, Aspirin)
Pemberiannya tidak harus dilakukan secara bersamaan. Dengan anamnesis dan
pemeriksaan fisik yang terarah, MONA dapat diberikan pada kemungkinan atau
definitf ACS sesegera mungkin di layanan primer sebelum dirujuk
O2
Diberikan pada pasien dengan:
- Hipoksemia (Sa O2 < 90% atau Pa O2 < 60 mmHg)
- Sesak
- Tanda distress pernapasan (+)

Aspirin (160- 320 mg sublingual)

Fungsi:

- Menurunkan rasa Nyeri


- (anti-trombotik): menghambat aktivasi trombosit sehingga dapat mencegah
sumbatan baru

Morfin Sulfat (1-5 mg IV)

Intravena : Untuk pasien yang tidak responsif setelah diberikan 3x NTG. Dapat diulang
setiap 10 – 30 menit

13. Monitoring Keberhasilan Terapi ACS


- Pasien tanpa keluhan nyeri dada berulang dalam periode observasi
- Evolusi atau perubahan EKG berupa kembalinya elevasi segmen ST ke garis isoelektrik
atau menurunya elevasi ST >50% pada sadapan yang paling jelas terlihat setelah 90
menit dimulainya terapi fibrinolitik.
- Pasien tanpa peningkatan kadar troponin atau petanda lain dari kerusakan jantung
ALGORITMA ACS