Anda di halaman 1dari 7

BAB 2

PEMBAHASAN

A. Pengertian Olah TKP


Definisi Pengolahan Tempat Kejadian Perkara (Olah TKP) terdapat pada Petunjuk
Pelaksanaan dan Petunjuk Tekhnis (JUKLAK dan JUKNIS) No.Pol:Skep/1205/IX/2000 tentang
Penanganan Tempat Kejadian Perkara, yang menyebutkan : “Pengolahan tempat kejadian perkara
adalah tindakan penyidik/penyidik pembantu untuk memasuki tempat kejadian perkara dalam
rangka melakukan pemeriksaan TKP, mencari informasi tentang terjadinya tindak pidana,
mengumpulkan mengambil/membawa barang-barang bukti yang diduga ada hubungannya dengan
tindak pidana yang terjadi untuk diambil alih penguasaannya atau menyimpan barang bukti
tersebut guna kepentingan pembuktian”. Jadi Olah TKP adalah segala tindakan dan upaya penyidik
di tempat kejadian perkara guna menemukan bukti segitiga (triangle crime scene) yaitu tersangka,
barang bukti, dan korban atau saksi.” Tindakan-tindakan yang dilakukan tersebut dimaksudkan
untuk mencari hubungan antara tiga unsur yang saling timbal balik yaitu antara pelaku tindak
pidana, korban tindak pidana, dan alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana yang
nantinya dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana tindak pidana bisa terjadi.
Definisi Pengolahan Tempat Kejadian Perkara ( Olah TKP ) Aspek Medik adalah olah TKP
yang dilakukan oleh unsur Kedokteran Forensik khusus pada kasus yg menyangkut tubuh manusia
dan kesehatan.
B. Teori Bukti Segi Tiga

Barang bukti

TKP

Korban Pelaku

Dasar pemikiran dari Teori Bukti Segi Tiga ini, adalah Teori Edmond Lockart ahli
kriminalistik ( 1877 -1916 ) yang menyatakan bahwa dua benda atau lebih yang saling
bersentuhan akan memberikan ciri pada masing masing benda tersebut , dan ini bila
diterapakan pada TKP adalah sebagai berikut :
Pada suatu tempat Kejadian Perkara (TKP), unsur korban, pelaku, alat yang
dipakai melakukan kejahatan, bertemu dan terjadi kontak antara satu dengan yang
lainnya yang mengakibatkan adanya perpindahan material dari unsur yang satu terhadap
unsur yang lain serta dari dan ke TKP-nya sendiri.

Dengan pengetahuan yang bersumber pada “ BUKTI SEGI TIGA “ tersebut diatas, maka
petugas akan :
- Mempunyai arah dalam melaksanakan pengolahan TKP artinya
mengetahui barang-barang bukti dan jejak apa saja yang harus dicari dan
ditemukan di TKP.
- Mampu menjajagi/menentukan pelaku, korban, saksi-saksi, barang bukti
jejak-jejak, modus operandi, alat yang dipakai dalam melakukan kejahatan,
dalam upaya mengungkap suatu tindakan.
- Mampu menjawab pertanyaan “ 7 KAH “ yaitu :

(1) Benarkah suatu tindak pidana telah terjadi dan tindak pidana apa
(2) Bagaimana tindak pidana dilakukan
(3) Siapakah yang melakukan tindak pidana
(4) Dengan apa tindak pidana dilakukan
(5) Mengapa tindak pidana dilakukan
(6) Dimana tindak pidana dilakukan
(7) Bilamana tindak pidana dilakukan.

Yang kesemuanya sangat penting bagi usaha kegiatan penyidikan selanjutnya.

C. PENANGANAN KORBAN DI TEMPAT KEJADIAN PERKARA.

Penaganan korban khususnya yang belum jelas mati/diragukan kematiannya atau hidup
merupakan kewajiban setiap anggota POLRI dan Tim Kesehatan dalam setiap Tindakan Pertama
di TKP. Bila pertolongan pertama segera diberikan dan nyawa korban dapat diselamatkan, ia akan
menjadi saksi hidup yang penting dan lebih berguna dari bukti mti lainnya.

a. TINDAKAN PERTAMA DI TKP TERHADAP KORBAN YANG BELUM JELAS


MATI/DIRAGUKAN KEMATIANNYA ATAU HIDUP.

1) Berikan pertolongan pertama sesuai kebutuhan dan keadaan korban .


2) Bila korban perlu segera dibawa ke Rumah Sakit jangan lupa berikan tanda
pada tempat korban tergeletak
3) Minta bantuan masyarakat untuk melapor segera pada POLiSI terdekat
tentang dugaan telah terjadinya tindak pidana, tindakan pertolongan yang
sedang dilakukan dan menuju ke Rumah Sakit mana
4) Catat indentitas pelaku dan korban sesuai dengan penjelasan korban
5) Bila korban meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit, teruskan
perjalanan menuju Rumah Sakit serahkan korban pada petugas Rumah
Sakit, jelaskan sedikit tentang peristiwa yang telah terjadi dan pertolongan
yang telah diberikan
6) Tunggu kedatangan petugas dari pos POLISI yang dilapori hubungi lagi pos
polisi yang telah dilapori
7) Bila petugas pos POLISI telah sampai di Rumah Sakit laporkan tetang
peristiwa yang telah terjadi dan tindakan apa saja yang telah dilakukan,
selanjutnya korban dan tugas diserah terimakan.
b. TINDAKAN PERTAMA DI TKP TERHADAP KORBAN YANG
HIDUP
1) -Identifikasi umum : nama, umur / perkiraan umur, alamat tempat tinggal
korban
2) -Lakukan pemeriksaan kedokteran : vital sign, status generalis, status lokalis
3) -Beri pertolongan PPPK
4) - Rujuk ke RS terdekat

c. TINDAKAN PERTAMA DI TKP TERHADAP KORBAN YANG


MATI

1) Bila korban mati, tidak perlu terburu-buru


2) Catat ciri – ciri khas korban
3) Nilai tanda – tanda post mortal : lebam mayat, kaku mayat, suhu rektal,
tanda pembusukan dan tanda lain disekitar korban
4) Periksa perlukaan
5) Yang utama adalah : Amankan TKP seluas mungkin sesuai situasi dan
kondisi, letak korban dan barang-barang bukti lain yang berhubungan
dengan tali, berikade/penghalang, menutup pintu halaman rumah agar tidak
terjadi kontaminasi, penambahan pada keaslian TKP
6) Jangan merokok, membuang putung rokok, kencing di toilet, kamar mandi,
WC, meninggalkan sesuatu apapun di TKP
7) Jangan menyentuh benda-benda apapun di TKP apalagi memegang korban
8) Setelah TKP sudah cukup aman, minta bantuan masyarakat untuk segera
melaporkan dugaan tindak pidana yang telah terjadi ke pos terdekat
9) Bila petugas penyidik tiba di TKP, laporkan tentang segala sesuatu yang
telah dilakukan dalam Tindakan Pertama dan selanjutnya tugas diserah
terimakan.

D. PENGOLAHAN TEMPAT KEJADIAN PERKARA.

Dalam pengolahan TKP penyidik lebih sering berhadapan dengan korban mati.

a. PENANGANAN TERHADAP KORBAN.

Tidak perlu cepat – cepat untuk mengangkat korban dari TKP, berilah
tanda sekeliling korban sebelum dinagkat ke Rumah sakit.
Bila tidak ada/perlu mendatangkan dokter untuk memeriksa korban di TKP,
buat sketsa dan foto, baru kemudian melakukan pemeriksaan pada tubuh
korban serta mencatat setiap tanda-tanda pasca kematian yang ditemukan.

1) Buat sketasa tentang keadaan korban di TKP

a) Catat jam berapa tiba di TKP


b) Catat dan jelaskan tentang jenis kelamin,
perkiraan
umur, tinggi, berat badan, suku bangsa,
warna dan bentuk rambut
c) Sikap korban, terlentang telungkup, miring
d) Keadaan pakaian, rapi, kusut, robek terbuka
e) Tanda-tanda perlukaan dari luar
f) Keterangan lain dari kepala sampai ke kaki
yang dianggap perlu
g) Catat adanya genangan/bercak, cairan tubuh,
muntahan, darah yang ditemukan dekat pada
korban; mengering/basah
h) Benda-benda lain yang ditemukan dekat
korban dan dianggap perlu.

2) Buat foto; pandangan umum, sisi kanan, sisi kiri dan tegak
lurus terhadap korban serta beberapa foto jarak dekat dari
perlukaan dan obyek pada tubuh korban yang dianggap
perlu

3) Pemeriksaan tubuh korban. Pada tahap ini periksaan tubuh


diarahkan kepada tanda-tanda pasca kematian.

a) Penurunan suhu tubuh

Raba tubuh mayat apakah masih terasa panas/hangat atau


dingin. Dianjurkan untuk meraba bagian tubuh yang tertutup
seperti daerah ketiak. Apabila masih hanat berarti kematian
belum lama terjadi. Sebaliknya bila tubuh teraba dingin dan
lembab maka saat terjadinya kematian sudah jauh lebih lama.

b) Perhatikan apakah sudah terjadi kaku mayat. Periksa


dan coba gerakan sendi rahang, sendi leher, lengan atas,
lengan bawah, sendi pinggul, lutut dan sendi kaki. Catat apa
yang diperoleh dari pemeriksaan ini.

c) Apakah lebam mayat sudah ada, kalau ada catat :


(a) Warna lebam
(b) Letak lebam
( c ) tekan dengan jari, apakah lebam
menetap atau menghilang pada waktu
ditekan.
d) Periksa perlukaan yang dialami korban, catat lokasi,
jenis dan ukurannya. Untuk memudahkan buatlah gambar
umum tubuh manusia kemudian beri tanda tempat
perlukaan, apabila mempunyai kamera segera ambil foto
umum dan close up.

D. PENGGUMPULAN BARANG BUKTI

Barang bukti yang dikumpulkan oleh tenaga kesehatan adalah barang bukti
berupa bagian tubuh manusia atau cairan / darah tubuh, khususnya yang melekat
pada tubuh korban atau disekitar tubuh korban, diluar kondisi tersebut barang bukti
akan dikumpulkan oleh petugas Labfor atau penyidik.

1. BERCAK DARAH PADA PAKAIAN,TEKSTIL


a) Pakaian dikeringkan, tidak dengan dipanaskan
b) Bercak yg kering ditutup dengan kertas bersih
c) Jangan melipat atau menggunting pd bercak
d) Catat keadaan bercak waktu ditemukan
2. BERCAK AIR MANI :
a) Pakaian dianginkan di udara, jangan dipanaskan
b) Pada bercak yg kering, bercak ditutup dengan kertas bersih
c) Jangan melipat atau menggunting pada daerah bercak
d) Catat keadaan waktu ditemukan
3. URINE, BILASAN LAMBUNG, MUNTAHAN :
a) Botol bersih
b) Semua yang dikeluarkan
c) Simpan dalam lemari pendingin sampai dibawa ke laboratorium
4. RAMBUT :
a) Disimpan dalam druggist fold , jangan di amplop
b) Harus utuh, dicabut dari beberapa tempat
c) Kemasan terpisah untuk masing – masing asal rambut tersebut
d) Beri label untuk menyatakan asal rambut
5. ORGAN TUBUH :
a) Ditaruh dalam kemasan kantong plastik, baru dan bersih
b) Disimpan dalam lemari pendingin sampai dikirim ke laboratorium
c) Pro : otak & hati diambil sebanyak 300 gr
6. GORESAN KUKU :
a) Botol plastik atau druggist fold
b) Semua yang ada diambil dengan pisau bersih utk mengorek kulit yang tergores dibawah
kuku
c) Satu tempat untuk satu kuku
d) Beri label pada setiap kemasan dari jari yang mana
7. OBAT-OBATAN, RACUN ATAU NARKOTIKA :
a) Botol, tabung, kertas amplop, druggist fold dll
b) Diambil semua
c) Setiap obat satu kemasan
d) Diberi label tiap kemasan

E. Pengakhiran Penanganan TKP

Pengolahan TKP dianggap cukup dan dapat diakhiri penyidik apabila :


1. Telah mengumpulkan semua macam barang bukti yang telah ditemukan
2. pembungkusan barang bukti telah sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang ada
3. pemotretan-pemotretan yang dilakukan dan sketsa yang dibuat telah cukup untuk
menggambarkan keadaan yang sebenarnya (rekonstruksi)
4. keterangan-keterangan saksi dan tersangka sudah memperhatikan jawaban-jawaban atas
pertanyaan 7 KAH
Pengakhiran penanganan TKP ditandai dengan adanya perintah penyidik untuk melakukan
pembukaan dan pembebasan TKP. Selanjutnya tindak lanjut pengolahan TKP ini adalah
administrasi penyidikan yang diperlukan.
Dapus :
1. Djaja Surya Atmadja : Persamaan regresi tinggi badan terhadap panjang tulang
tungkai bawah. Tesis Program Studi Ilmu Kedokteran Forensik. Dokter Spesialis
I-FKUI. Jakarta 1990.

2. Ladokpol : Bahan presentasi Olah TKP aspek medik Dikjur Padokpol


Disdokkes Polri . Jakarta 1998
3. Ladokpol : Buku pengangan Ilmu Kedokteran Forensik. Ed IV. Disdokkes
1996.
4. Slamet Poernomo : Criminal personality profiling. Warta Kedokteran
Kepolisian dan Kesehatan Thn. VI (24). Maret 1990
5. Peraturan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Nomor 14 Tahun
2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak Pidana.