Anda di halaman 1dari 9

5

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Letak Geografis Kota Kendari

Secara geografis daerah Kota Kendari terletak di bagian selatan garis

khatulistiwa, berada di antara 3º54’30” - 4º3’11” Lintang Selatan dan 122º23’ -

122º39’ Bujur Timur. Sebagian besar daerah Kota Kendari terletak di sebelah

tenggara dataran Pulau Sulawesi. Kota Kendari memiliki luas ± 295,89 km² atau

0,70 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara,

Berdasarkan peta administrasi Kota Kendari pada Gambar 1, daerah Kota

Kendari berbatasan dengan:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe

2. Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Kendari

3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan

Konda, Kabupaten Konawe Selatan

4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe

Selatan dan Kecamatan Sampara, Kabupaten Konawe.

5
65

Gambar 1. Peta administrasi Kota Kendari


7

B. Geologi Regional Kota Kendari

Pulau Sulawesi merupakan salah satu pulau besar yang ada di kawasan

Perairan Indonesia. Kajian geologi telah banyak dilakukan dan telah dilakukan

sejak Tahun 1969/1970 (Sukamto dan Ratman, 2013) dalam Surono, dkk, 2013.

Surono (2010) dengan mengacu dari beberapa literatur membagi Pulau Sulawesi

ke dalam beberapa mandala diantaranya: Lajur Vulkanik Sulawesi Barat, Lajur

malihan Sulawesi Tengah, Lajur Ofiolit Sulawesi Timur, dan Kepingan Benua.

Berdasarkan peta geologi Lembar Lasusua-Kendari (Rusmana, dkk., 1987)

dan peta geologi Lembar Kolaka (Simandjuntak, dkk., 1987) menunjukkan bahwa

kondisi Geologi Regional daerah penelitian terdiri dari dua jenis batuanya itu

batuan sedimen dan Batuan Metamorf. Formasi Meluhu merupakan batuan tertua

Berumur Trias hingga Jura, sedangkan Formasi lainnya seperti Formasi Alangga,

Formasi Langkowala dan Formasi Buara merupakan Formasi yang lebih muda

dan terbentuk di zaman Plistosen hingga Holosen. Kelompok batuan sedimen

sangat mendominasi kawasan daerah penelitian. Sementara berdasarkan Peta

Geologi Lembar Lasusua, Jenis sedimen klastik sangat melimpah di daerah

penelitian, dan ditemukan pada beberapa Formasi.

1. Morfologi

Menurut Rusmana, dkk., 1993 secara regional daerah penelitian termasuk

dalam peta geologi Lembar Lasusua-Kendari dan peta geologi Lembar Kolaka

yang terletak pada lengan tenggara Pulau Sulawesi. Morfologi daerah penelitian

dapat dibedakan menjadi empat satuan morfologi, yaitu:

a. Morfologi pegunungan; pegunungan menempati bagian tengah dan barat.


8

b. Morfologi perbukitan; perbukitan terdapat pada bagian barat dan timur.

Satuan perbukitan umumnya tersusun oleh batuan sedimen dengan ketinggian

berkisar 75 sampai 750 meter diatas permukaan laut puncak yang terdapat

pada satuan perbukitan adalah Gunung Meluhu (517 meter).

c. Morfologi karst; morfologi karst terdapat di Pegunungan Matarombeo dan

dibagian hulu Sungai Waimenda serta Pulau Labengke.

d. Morfologi dataran rendah; dataran rendah meliputi daerah-daerah sekitar

Teluk Kendari.

2. Stratigrafi

Berdasarkan peta geologi Lembar Kolaka dan peta geologi Lembar

Lasusua-Kendari, secara regional Kota Kendari terdiri dari beberapa formasi

batuan. Kelompok batuan ini yang sebelumnya di masukkan ke dalam mandala

Sulawesi Timur dan anjungan Tukang Besi-Buton. Mendala Geologi Sulawesi

Timur yang dicirikan oleh batuan ultramafik, mafik dan malih (Surono, 2010).

Sementara untuk daerah penelitian banyak didominasi oleh kelompok batuan

malihan dan batuan sedimen kelompok Formasi Meluhu (TRJt), Formasi

Alangga (QPa), endapan Aluvium (Qa), dan setempat batugamping Quarter

(Formasi Buara) serta Formasi Laonti (TRJt) (Simandjuntak, dkk., 1987).

a. Aluvium (Qa): Lumpur, Lempung, Pasir, Kerikil dan Kerakal

Endapan ini terdapat di beberapa titik di sekitar Kota Kendari, Utamanya di

sekitar DAS sungai Kendari (sungai Wanggu) yang bermuara di Teluk

Kendari. Lumpur yang berwarna kelabu tua hingga coklat kemerahan.

Sementara lempung berwarna kecoklatan hingga coklat kemerahan atau


9

kelabu muda, berlapis berselingan dengan batupasir tidak kompak kerikil, dan

kerakal.

b. Formasi Alangga (Qpa): Batupasir dan konglomerat.

Anggota formasi ini menurut surono (2010) menerangkan bahwa kelompok

batuan ini merupakan kelompok molasa Sulawesi yang terendapkan pada

massa akhir tumbukan. Akibatnya berbagai fragmen pada formasi ini

ditemukan mulai dari silika, lempung, batupasir, hingga keterdapatan oksida

besi. Keberadaan oksida besi menjadi salah satu penciri dari formasi ini, selain

itu, kelompok fragmen silika seringkali dijumpai pada formasi ini. Penyebaran

formasi ini, terletak di sekitar morfologi peradataran miring bergelombang.

c. Formasi Buara (Ql): Terumbu koral kuarter

Kelompok formasi ini merupakan jenis endapan batuan karbonat. Dalam peta

geologi Lembar Lasusua-Kendari dan Lembar Kolaka, terdapat beberapa

tempat yang menjadi lokasi formasi ini, diantaranya sekitar kecamatan

mandonga dan kecamatan abeli.

d. Formasi Meluhu (TRjt): Batupasir, Serpih, sekis, kuarsit dan lempung.

Kelompok formasi ini merupakan batuan tertua yang ada disekitar lokasi

penelitian. Berumur trias hingga jura (surono, 2010) menjadikan batuan ini

hanya tersingkap di beberapa tempat dan dari Peta Geologi Lembar Kolaka

dan Lembar Lasusua-Kendari, hanya terdapat di sekitar perbukitan Nipa-nipa

dan perbukitan Abeli.


10

e. Formasi Laonti (TRJt): Batugamping dan kuarsit

Terdiri atas batugamping malih, pualam dan kuarsit. Kuarsit, putih sampai

coklat muda; pejal dan keras; berbutir (granular), terdiri atas mineral

granoblas, senoblas, dengan butiran dan halus sampai sedang. Batuan sebagian

besar terdini dari kuarsa, jumlahnya sekitar 97%. Oksida besi bercelah

diantara kuarsa, jumlahnya sekitar 3%. Umur dari formasi ini adalah Trias.
11

Gambar 2. Peta geologi Kota Kendari


12

3. Struktur Geologi

Kondisi struktur geologi daerah penelitian tidak lepas dari aktivitas tektonik

sesar-sesar yang ada di sekitar daerah penelitian. Menurut Surono (2013) sesar-sesar

yang masih mengindikasikan adanya aktivitas tektonik hingga sekarang diantaranya

yaitu, Sesar Kolaka, Sesar Lawanopo, dan Sesar Kolono. Beberapa sesar tersebut

mengarah tenggara-barat laut dengan jenis sesar adalah sesar geser (slip fault).

Adapun peta sesar sekitar pulau Sulawesi dapat dilihat pada Gambar 3.
13

Gambar 3. Peta Struktur Regional Lengan Tenggara (Surono, 2012)

Keberadaan lempeng Eurasia yang cenderung diam, lempeng Pasifik yang

bergerak kearah barat dan lempeng Australia yang bergerak kearah utara. Sehingga

kondisi struktur geologi daerah ini sangatlah kompleks. (Surono, 2013). Hasil

aktivitas ketiga lempeng tersebut, menjadikan Lengan Tenggara mengalami

pensesaran sebagaimana terlihat pada Gambar 3.