Anda di halaman 1dari 5

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Fransiska Oktaviani Moeslichang


102012103
B2
Universitas Kristen Krida Wacana, Jalan Arjuna Utara 6, Jakarta 11510
okta.lala@yahoo.com

Pendahuluan
Di dalam kehidupan sehari-hari kita tentu mengenal apa itu sampah, karena setiap hari
setidaknya dalam suatu rumah tangga dapat menghasilkan tiga buah kantong sampah per
harinya. Sampah tersebut baik dalam bentuk sampah organik maupun sampah anorganik.
Tidak semua bagian dari sampah itu akan terurai nantinya, hanya beberapa jenis sampah yang
dapat terurai dengan mudah, ada yang membutuhkan waktu jauh lebih lama sekitar 10-15
tahun kemudian, atau bahkan ada pula sampah yang tidak dapat didaur ulang. Pada saat
sekarang ini dapat kita lihat di sungai-sungai, bantaran kali, dan pinggir jalan hampir seluruh
bagian itu dipenuhi sampah, belum pula sampah yang berserakan di sekitar lingkungan
tempat kita berada. Keterhadiran sampah yang menumpuk itu nantinya akan dapat
menimbulkan bahaya seperti penyakit gatal-gatal, diare, dan lain-lain karena kotornya
lingkungan yang disebabkan oleh penumpukan sampah. Karena menurut beberapa penelitian
sampah merupakan sarang atau sumber penyakit dan ternyata sampah juga menjadi salah satu
masalah besar bagi pemerintah dalam menanggulanginya. Bisa diketahui ada berbagai
macam cara untuk memusnahkan sampah, misalkan dengan pembakaran sampah, tetapi
dengan menghilangnya sampah akan timbul polusi udara yang juga bisa disebut sampah
udara. Oleh karena itu, dari penjelasan-penjelasan di dalam makalah ini diharapkan agar
pembaca dan peserta penyuluhan dapat mengerti dan bisa melaksanakan tindakan-tindakan
yang dianjurkan pada penyuluhan dengan baik sehingga bisa hidup dalam lingkungan yang
bersih dengan kondisi yang terbebas dari berbagai penyakit.

Isi
Sebenarnya apakah sampah itu? Sampah adalah suatu atau banyak bahan yang
terbuang atau memang sengaja dibuang dari hasil aktivitas manusia sehari-hari. Yang kita
lihat sampah tidak hanya dalam bentuk kotoran, sampah bisa juga dalam bentuk gas maupun
cair.1 Sampah itu sendiri seperti yang telah kita ketahui terbagi menjadi dua jenis, yakni :
sampah organik (atau biasa disebut sampah basah) adalah sampah yang sangat mudah terurai,
seperti contohnya dedaunan kering, atau sampah dapur, dan yang kedua adalah sampah
anorganik (atau sampah kering) adalah sampah yang tidak mudah terurai atau membutuhkan
waktu yang lebih lama, seperti contohnya plastik, kaleng, logam, karet, dan sampah kering
lainnya.
Sampah memiliki banyak sumber seperti berasal dari daerah pemukiman,
perdagangan, industri, dari jalan, dan bahkan dari kegitan rumah tangga. Sampah rumah
tangga, memiliki arti yang sama dengan arti sampah pada umumnya hanya berbeda pada
sumber sampah itu berasal. Dan menurut salah satu buku yang membahas mengenai
pengelolaan sampah menuturkan bahwa sampah yang menempati TPA (tempat pembuangan
akhir) lebih dari 60% adalah sampah rumah tangga.2 Karena tingginya sampah yang
dihasilkan diperlukan juga peran aktif dalam mengelola dan menangani sampah akan tidak
menimbulkan bahaya seperti kebanjiran, dan penyakit seperti diare dan lain-lain. Maka itu
perlu diupayakan kegiatan pelaksanaan pengelolaaan sampah agar sampah tidak terbuang sia-
sia.
Tingginya masalah sampah menjadi salah satu masalah di ibu kota, banjir yang
melanda semua karena sampah yang dibuang secara sembarangan. Dapat ditemui di bantaran
kali maupun sungai besar sudah menjadi bak sampah. Seperti yang baru diketahui kemarin di
salah satu majalah harian bahwa telah berhasil diangkut 90 truk sampah yang menyumbat
Sungai Ciliwung. Yang diharapkan setelah pengangkutan ini dapat berhasil membebaskan
kebanjiran.
Sudah nampak beberapa rumah tangga yang sudah mulai berhasil melalui pengelolaan
sampahnya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengolah sampah menjadi lebih
bermanfaat. Seperti contohnya mengendapkan sampah organik agar menjadi pupuk, atau cara
yang termudah adalah dengan pemisahan sampah organik dengan sampah anorganik, kita
bisa mempergunakan sampah anorganik tersebut untuk menuangkan kreatifitas. Tidak hanya
dengan pemisahan sampah saja, pembersihan lingkungan rumah juga berperan dalam
pengelolaan sampah, karena yang dibersihkan saat itu pun adalah sampah.
Pengelolaan sampah menjadi pupuk tidaklah susah, dan benda-benda yang dibutuhkan
tidaklah membutuhkan biaya yang besar. Hanya dengan ember plastik dengan ukuran tertentu
atau bahkan bisa menguburnya di tanah. Waktu yang diperlukan juga tidak lama hanya
sekitar 1 sampai 2 bulan, pupuk tersebut sudah dapat dipergunakan. Pertama, lakukan
pemilahan antara sampah organik dengan yang tidak, pilahlah sampah yang mudah hancur
seperti sayuran, daun-daunan, makanan, dan lain-lain. Hancurkan bahan-bahan tersebut,
tetapi jangan sampai halus, lalu langkah terakhir adalah tutup tempat tersebut dan endapkan
selama kurang lebih satu sampai dua bulan lamanya.
Pembentukan menjadi pupuk hanya berlaku untuk sampah yang bersifat organik, dan
tentu tidak akan berhasil pada sampah anorganik. Ada perlakuan atau cara pengelolaan lain
terhadap sampah bersifat anorganik, yakni dengan cara memanfaatkan kembali. Pemanfaatan
yang baik dan benar akan membantu mengurangi penumpukan sampah dan tidak mencemari
lingkungan, tetapi tidak semua sampah anorganik dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan dapat
berupa membuat kerajinan dengan menggunakan botol, kaleng, plastik, kertas dan lain
sebagainya yang nantinya akan dapat bermanfaat. Bermanfaat baik dalam bidang ekonomi
(menambah pendapatan melalui penjualan kerajinan), sosial (membantu mereka yang tidak
bisa mendapatkan benda keinginanya dengan mudah dan terjangkau), dan juga pada bidang
lainnya. Memang menurut pandangan beberapa orang mungkin hal ini tidak baik bagi
kesehatan dan lainnya, tetapi tentu ada cara lain dalam menangani kekhawatiran tersebut.
Bisa dilihat pada contoh gambar di bawah ini.

Gambar 1. Kerajinan dari botol minuman bekas


Sumber : google

Tidak hanya untuk keperluan kerajinan dan materiil, pemanfaatan sampah bisa dalam bentuk
lain seperti menggunakan botol untuk penyimpanan alat tulis, atau lain sebagainya.
Tetapi tidak hanya pemanfaatan saja yang harus dikembangkan dengan baik tetapi
juga dengan pembatasan pemakaian benda-benda yang khusunya bersifat anorganik, seperti
botol minuman, kaleng, kantong plastik. Seperti yang selalu diingatkan kepada kita
bagaimana cara mengatur sampah, yakni :
1. Reduce (mengurangi pemakaian atau bahkan jangan sama sekali menggunakan kalau
tidak dibutuhkan)
2. Reuse (memanfaatkan kembali barang-barang bekas pakai)
3. Recycling (mendaur ulang barang yang sudah tidak dapat dipakai lagi)
Reduce, kurangi pemakaian benda-benda yang tidak terlalu diperlukan seperti
meminum minuman menggunaka sedotan atau tidak menggunakan botol minum kemasan
untuk mengurangi pemakaian plastik karena plastik adalah bahan yang susah mengurai
(tergolong sampak anorganik) dan lain sebagainya. Reuse, seperti yang telah dijelaskan di
atas yakni memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak dapat dipergunakan
menjadi suatu kerajinkan atau penggunaan lainnya). Recycling, mendaur ulang barang-
barang yang sudah tidak layak pakai lagi, seperti kertas-kertas hasil tulisan yang kemudian
dihancurkan dan akan menjadi kertas lagi nantinya, memang hasil yang diberikan tidak
sebaik awalnya tetapi setidaknya hal ini bisa dapat mengurangi penumpukan sampah.
“SAMPAH? SIAPA TAKUT!” slogan yang menurut saya pantas digunakan untuk
penyuluhan saat ini mengenai pengelolaan sampah. Untuk apa kita harus takut atau bersifat
jijik kepada sampah, karena benda tersebut sampai saat sudah menjadi sampah masih
memiliki manfaat yang bisa dinilai cukup besar. Maka dari itu untuk apa kita takut akan
sampah, karena yang menghasilkan sampah itu sendiri adalah kita. Jadi tidak ada salahnya
untuk berani mulai mengolah sampah mulai dari sampah rumah tangga, dalam rangka
pengurangan persentase sampah, kita juga dapat meningkatkan kreatifitas kita melalui
kerajinan-kerajinan dari barang bekas yang ternyata lebih menarik perhatian masyarakat
dibandingkan dengan barang-barang yang biasanya. Tidak hanya itu, karena ketertarikan
itulah yang nantinya akan membantu kita di dalam beberapa sektor seperti yang telah
disebutkan sebelumnya. Jadi, tentu sudah kita ketahui bahwa sampah itu tidak sepenuhnya
kotor dan menjijikkan, melainkan sesuatu yang ternyata bernilai.

Penutup
Dari paparan di atas diharapkan agar peserta penyuluhan dan pembaca mampu memahami
dan melaksanakan kegiatan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dengan baik
sehingga dapat terhindar dari sumber penyakit. Yang terpenting adalah keberanian dari
peserta sendiri untuk berhadapan langsung dengan sampah menggunakan metode-metode
yang sudah diberikan.

Daftar Pustaka
1.