Anda di halaman 1dari 35

JURNAL READING

The Study of Rigor Mortis for Estimation of Time since


Death

Dokter Pembimbing : dr. Gatot

Residen Pembimbing : dr. Dadan Rusmanjaya

Disusun Oleh :
Albert 112015 (FK UKRIDA)
Fransiska 112015 (FK UKRIDA)
Priscilla 112015 (FK UKRIDA)
Yudha 112016 (FK UKRIDA)
Juniati 112016 (FK UKRIDA)
Flapiana 112016 (FK UKRIDA)

KEPANITERAAN KLINIK

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL

RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. KARIADI SEMARANG

PERIODE 17 JULI 2017 12 AGUSTUS 2017


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,karena atas segala rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan jurnal reading yang berjudul The Study of Rigor
Mortis for Estimation of Time since Death yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr
Kariadi Semarang sebagai syarat Kepaniteraan di Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran periode Juli 2017-Agustus 2017.
Penulisan jurnal reading ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan, dorongan, semangat,
dan petunjuk dari berbagai pihak yang telah senantiasa membantu. Oleh sebab itu, pada
kesempatan ini kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. dr. Gatot, sebagai Dokter penguji yang telah memberikan masukan serta petunjuk dalam
menyelesaikan jurnal reading ini.
2. dr. Dadan Rusmanjaya sebagai Residen pembimbing yang telah meluangkan waktunya serta
membantu dalam penyusunan jurnal reading ini.
3. Teman-teman yang telah membantu dalam penyusunan jurnal reading ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan di dalam penulisan jurnal reading ini,
Oleh karena itu kritik dan saran demi kesempurnaan referat ini sangat penulis harapkan. Akhir
kata, penulis berharap semoga jurnal reading ini dapat dipahami dan berguna bagi siapapun yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata baik yang
disengaja maupun yang tidak disengaja dalam pengejaan kalimat serta penyebutan nama tempat,
istilah serta nama orang.

Semarang, 1 Agustus 2017

Hormat kami,

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................................... i


KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................... 1
1.3 Tujuan Masalah ..................................................................................................... 1
1.3 Manfaat .................................................................................................................... 1
BAB II JURNAL READING .......................................................................................... 2
2.1 Jurnal Asli ............................................................................................................... 2
2.2 Jurnal Terjemahan .................................................................................................. 2
2.3 Kelebihan dan Kekurangan Jurnal ............................................................................11
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................. 12
3.1 Definisi Thanatologi ................................................................................................. 12
3.2 Jenis Kematian ......................................................................................................... 13
3.3 Kegunaan Thanatologi ................................. .............................................................15
3.4 Perubahan-Perubahan Post Mortem ......................................................................... 16
BAB IV JURNAL PEMBANDING .............................................................................. 33
4.1 Jurnal Pembanding ................................................................................................... 33
BAB V Penutup .............................................................................................................. 34
5.1 Kesimpulan .............................................................................................................. 34
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 35

BAB 1
PENDAHULUAN
3
1.1 Latar belakang
Tanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari segala macam
aspek yang berkaitan dengan mati, meliputi pengertian, tipe kematian, cara-cara melakukan
diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Tanatologi
merupakan ilmu paling dasar dan paling penting dalam ilmu kedokteran kehakiman terutama
dalam hal pemeriksaan jenazah (visum et repertum).
Pada tanatologi dipelajari perubahan-perubahan pada manusia setelah meninggal dunia.
Perubahan perubahan yang terjadi setelah kematian dibedakan menjadi dua yaitu perubahan
yang terjadi secara cepat (early) dan perubahan yang terjadi secara lambat (late). Perubahan
yang terjadi secara cepat antara lain henti jantung, henti nafas, perubahan pada mata, suhu dan
kulit. Sedangkan perubahan yang terjadi secara lanjut antara lain kaku mayat, pembusukan,
penyabunan dan mummifikasi.
Kepentingan mempelajari tanatologi adalah untuk menentukan apakah seseorang benar
benar sudah meningal atau belum, menetapkan waktu kematian, sebab kematian, cara
kematian, dan mengangkat atau mengambil organ untuk kepentingan donor atau transplantasi
dan untuk membedakan perubahan-perubahan yang terjadi post mortal dengan kelainan-
kelainan yang terjadi pada waktu korban masih hidup.

1.2 Perumusan masalah


Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi waktu kematian pada kaku mayat ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mempelajari kelayakan kaku mayat sebagai perkiraan waktu kematian.
1.3.2 Untuk mempelajari berbagai faktor yang mempengaruhinya.

1.4 Manfaat
1.4.1 Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal terutama tentang waktu kematian berdasarkan kaku mayat.

BAB II
JURNAL READING

4
2.1. Jurnal Asli
Terlampir

2.2 Jurnal Terjemahan

Penelitian Tentang Kaku Mayat untuk Memperkirakan Waktu Kematian

Maroti Dake1*, Pawan Tekade2, Ashesh Wankhede3, Manish Shrigiriwar4

1*
Asst. Prof. Forensic Medicine and Toxicology, Dr.S. C. Government Medical College, Nanded (MH)
2
Asso. Prof. Forensic Medicine and Toxicology, SBKM Government Medical College, Jagdalur (CG)
3
Prof. Forensic Medicine and Toxicology, SBKM Government Medical College, Jagdalur (CG)
4
Prof. Forensic Medicine and Toxicology, Dr. V. N. Government Medical College, Yevatmal (MH)

Abstrak

Latar Belakang:

Waktu terjadinya kematian sangat penting dalam memecahkan misteri medikolegal. Pertanyaan
yang terkait dengan waktu kematian hampir tidak dapat dihindari dan selalu dijawab dengan
tingkat akurasi yang wajar. Sebanyak 204 kasus dipelajari dengan memperhatikan penampilan,
perkembangan kaku mayat dari muncul, hilang, sampai tidak ada sama sekali. Dalam mengamati
kaku mayat, dikaitkan dengan usia, jenis kelamin dan pakaian dari jenazah, kemudian diketahui
juga dari kelompok otot dan perkembangan secara kranio-kaudal. Pada usia lanjut, kaku mayat
muncul dan hilang lebih cepat dari usia muda. Jenis kelamin jenazah tidak berpengaruh signifikan
terhadap muncul dan hilangnya kaku mayat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari
kemungkinan estimasi waktu terjadinya kematian dari kaku mayat dan mempelajari berbagai
faktor yang mempengaruhi.

Kata kunci: Kaku mayat, Waktu sejak kematian, usia, jenis kelamin.

Pendahuluan

Filusuf besar pada bagian pengobatan telah mencatat perubahan yang berbeda pada tubuh
manusia setelah kematian selama ribuan tahun. Peran utama ahli forensik adalah mentafsirkan
tanda terakhir dari jenazah. Tidak hanya dalam kasus kriminal atau dugaan tapi juga dalam kasus
perdata dan salah satu cara melakukannya adalah dengan menentukan waktu pastinya kematian.

5
Perkiraan waktu kematian merupakan salah satu yang paling sulit dan teknik yang tidak
akurat dalam patologi forensik serta berbagai bukti harus saling berhubungan sampai ada
kesimpulan yang masuk akal. Sejak dulu, berbagai faktor dipertimbangkan untuk penentuan waktu
sejak kematian dan trias Livor mortis, Algor Mortis dan Rigor mortis adalah dasar untuk itu.

Kriteria lain untuk estimasi selang waktu sejak kematian adalah studi tentang perubahan
mata, pembusukan, entomologi jenazah dan banyak metode lainnya yang telah dikembangkan
untuk penentuan waktu terjadinya seperti investigasi biokimia dari CSF, Vitreous humor, cairan
sinovial, spektroskopi yang tidak diragukan. Perlu penyelidikan lebih lanjut dalam memastikan
estimasi waktu kematian. Ada banyak informasi dan literatur yang tersedia untuk memperkirakan
waktu sejak kematian meskipun kaku mayat digunakan sebagai parameter konvensional.

Waktu sejak kematian belum banyak diteliti secara khusus dalam hal ini dari negara kita
Oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kaku mayat sebagai alat parameter
untuk memperkirakan interval waktu dari kematian.

Tujuan

1. Untuk mempelajari kelayakan kaku mayat sebagai perkiraan waktu kematian.


2. Untuk mempelajari berbagai faktor yang mempengaruhinya.

Materi dan Metode

Penelitian diambil di Indira Gandhi Goverment Collage, Nagpur dari bulan desember 2006
sampai november 2008. Kasus-kasus yang diambil untuk otopsi medikolegal di kamar jenazah,
hal tersebut juga masuk di dalam penelitian. Hanya beberapa kasus dimana waktu pasti kematian
yang didokumentasikan sebagai objek penelitian. Total 204 kasus yang masuk dalam tujuan
penelitian. Data-data awal dari setiap kasus yang diteliti diambil dari pemeriksaan polisi dan data-
data yang sudah terlampir.

Penelitian yang berhubungan dengan kaku mayat dimulai segera setelah saat tubuh mulai
memasuki kamar jenazah sampai beberapa jam setelah di kamar jenazah. Waktu dari munculnya
kaku mayat, sampai ia menetap , sampai hilang dan urutan dari munculnya daan hilangnya pada
beberapa bagian otot sudah diketahui. Level dari kaku mayat sudah diteliti baik itu kaku ringan,

6
sedang, sampai kaku penuh pada beberapa bagian otot. Pemeriksaan dari kaku mayat dari bagian-
bagian tubuh yang berbeda sudah dilakukan sesuai instruksi.

Pada kedua mata, secara perlahan kedua kelopak mata dibuka deengan ujung buku jari.
Pada wajah, dengan perlahan menekan rahang bawah ke arah bawah.
Pada leher, dengan menggerakkan leher ke arah depan belakang dan ke sammping.
Pada beberapa sendi, dengan menggerakkan secara pasif.

semua data-data sudah dikompilasi ditandai dan dianalisis secara statistik.

Hasil
Tabel 1. Kaku Mayat pada Berbagai kelompok Otot (N=204)

Kaku mayat pada jenazah diamati menurut kelompok otot yang bekerja pada berbagai
sendi.. (Tabel 1) Diamati bahwa waktu rata-rata muncul kaku mayat pada otot kelopak mata adalah
2,5 jam 1,1. Waktu muncul kaku dimulai secara bertahap dari otot-otot kelopak mata hingga otot-
otot jari kaki berurutan secara kranio-kaudal, jari tangan memiliki waktu rata-rata 6,3 jam 2,3.
Paling lambat muncul pada otot-otot jari kaki yaitu 6,7 jam 2,3. Kaku menyeluruh, mulai hilang
dan hilang lengkap kaku mayat dari berbagai kelompok otot juga memiliki pola dan urutan yang
sama seperti saat munculnya kaku mayat. Hal terakhir menghilang pada jari tangan dan kaki
memiliki rata-rata waktu 26,2 jam 6,4 dan 27,2 jam 6,8 masing-masing. Uji ANOVA
menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam semua parameter dipelajari dalam
kelompok. Nilai p kurang dari 0,05 untuk semua kelompok.

7
Tabel 2. Distribusi Menurut Usia dan Jenis Kelamin pada Berbagai Usia

Sementara mempertimbangkan usia jenaza dalam kaitannya dengan kaku mayat ( Tabel
2), diamati bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk muncul, kaku keseluruhan, mulai hilang
dan hilang lengkap ditemukan meningkat secara bertahap dengan bertambahnya usia hingga
dekade kelima dan kemudian menurun. Waktu minimum rata-rata timbulnya kaku 2,6 jam 1,3,
kaku keseluruhan 5.2 jam 1,6, mulai hilang dari 15.2 jam 2,5 dan hilangnya lengkap 18 jam
1,1 diamati pada kelompok usia sampai 10 tahun, sedangkan rata-rata waktu maksimum muncul
kaku mayat 5.7 jam 2,4, kaku mayat penuh 9,5 jam 2,8, mulai hilangnya 22.5 jam 7, hilang
lengkap 26,3 jam 7,7 diamati pada kelompok usia 41-50 tahun. Analisis statistik dengan
menerapkan uji ANOVA menunjukkan nilai p signifikan (< 0,05) untuk berbagai kelompok umur.
Tabel 3. Efek Jenis Kelamin pada Kaku Mayat (N=204)

Tabel 3 menggambarkan pengaruh jenis kelamin pada kaku mayat. Pada wanita, rata-rata
waktu muncul kaku mayat 4,2 jam 2,3 dan kaku keseluruhan 7,3 jam 2.8. Kaku mayat mulai
menghilang dalam waktu rata-rata 18,5 jam 6.1, hilang lengkap 22,8 jam 7.4. Munculnya kaku
mayat pada laki-laki terjadi dengan waktu rata-rata 4,8 jam 2,2 kaku penuh 8,3 jam 2,7 dan
mulai hilang 19 jam 6, dan hilang lengkap 22,6 jam 6,1. Hal ini diuji secara statistik dengan
menerapkan uji 't' yang menunjukkan bahwa nilai p dari perbandingan kaku mayat pada pria dan
wanita > 0,05, tidak signifikan
Tabel 4. Efek Pakaian pada Kaku mayat (N=204)

8
Tabel 4 menunjukkan efek penggunaan pakaian terhadap munculnya kaku mayat. Dalam hal
diamati dari mulai munculnya kaku, kaku keseluruhan, mulai hilangnya kaku, dan akhirnya
kekakuannya hilang keseluruhan, dan didapatkan tidak terlalu banyak perbedaan baik pada mayat
yang berpakaian ataupun yang hanya ditutupi saja.

Hal tersebut kemudian dibuktikan secara statistic dengan menggunakan metode tes
ANOVA, dimana bila nilai p lebih dari 0,05 hal tersebut tidak signifikan.

Tabel 5. Efek Sebab Kematian pada Kaku Mayat (N=204)

Selain itu juga dipertimbangkan hubungan penyebab kematian dengan munculnya kaku
mayat (Tabel 5), hal tersebut menunjukkan bahwa kaku mayat muncul lebih awal pada kasus
kematian akibat gigitan ular (rata-rata 4 jam 2.2), trauma tumpul dada (rata-rata 3.7 jam 2.1),
trauma tulang belakang (rata-rata 4.7 jam 2), keracunan (rata-rata 4.7 jam 2.3), konsolidasi paru
(rata-rata 4.3 jam 1.8), dan TB paru (rata-rata 4.6 jam 2.7). Sedangkan pada kasus kematian
karena trauma kepala (rata-rata 24 jam 5.6), perdarahan intrakranial (rata-rata 26 jam 6.7),
kerusakan pada organ vital (rata-rata 26.6 jam 4.7), kondisi syok akibat trauma (rata-rata 22.8
jam 3.5), dan trauma tumpul abdomen (rata-rata 29.2 jam 3.5) waktu hilangnya kaku mayat
lebih lambat. Apabila diaplikasikan pada tes ANOVA, nilai p untuk hilangnya kaku mayat pada
beberapa kelompok adalah kurang dari 0.05 yang menunjukkan bahwa hal tersebut signifikan. Tes
9
ANOVA menunjukkan secara statistic tidak ada perbedaan bermakna antara mulai munculnya
kaku mayat, kaku mayat keseluruhan, dan mulai menghilangnya kaku mayat berdasarkan pada
nilai p yang didapatkan yakni lebih dari 0.05.

DISKUSI/PEMBAHASAN

Penerapan pengetahuan medis untuk pencarian keadilan merupakan salah satu metode
dalam penyelidikan zaman modern ini. Dalam autopsi medikolegal, terlepas dari pendapat
penyebab kematian dan cara kematian, salah satu pertanyaan penting yang harus dijawab adalah
waktu yang telah dilewati antara waktu kematian dengan pemeriksaan usai kematian. Pada
beberapa kasus, hal tersebut merupakan salah satu faktor untuk menyelesaikan misteri kematian
pada kasus kriminal yang kurang jelas.

Dalam pengamatan diketahui bahwa kaku mayat pertama kali muncul pada otot kelopak
mata kemudian otot wajah seperti pada rahang bawah, selanjutnya muncul pada otot leher, pundak,
siku, pergelangan tangan, badan, panggul, kaki, dan pergelangan kaki. Dan pada akhirnya jari
tangan dan jari kaki juga terlibat dalam proses ini. Hal yang terjadi juga sama pada kekakuan penuh
dan mulai hilangnya kaku mayat yakni dengan indikator dari proksimal menuju distal pada proses
kaku mayat. Urutan pada muncul dan hilangnya kaku mayat pada studi saat ini sama dengan
literature dari pengarang lainnya.

Alasan munculnya kaku mayat secara kranio-kaudal karena kaku mayat jauh lebih mudah
terdeteksi lebih awal pada massa otot yang lebih kecil dibandingkan pada massa otot yang besar.
Kemunculan terakhir berdasarkan penelitian yaitu pada jari tangan dan jari kaki, mungkin
disebabkan karena jari-jari tangan dan jari-jari kaki melekat pada anggota badan melalui tendon
dan ligamen yang membentang dari lengan bawah pada kedua kaki masing-masing. Fitur
morfologis dan dinamis antara sendi sangat mempengaruhi kecepatan majunya kaku mayat.
Dengan demikian jari-jari tangan dan jari-jari kaki menjadi perhatian khusus pada saat terjadinya
kaku mayat. Begitu juga pada bagian tubuh yang relatif lebih kecil dan terbuka yang terpapar oleh
suhu dingin lebih awal menyebabkan kekakuan terjadi lebih lambat.

Dalam penelitian ini, durasi waktu rata-rata dimulainya kaku mayat sesuai dengan
pendapat dengan penulis lainnya. Tetapi ini tidak konsisten dengan apa yang di temukan oleh Dalal
J.S dkk. Dalam penelitian ini, waktu yang dibutuhkan untuk munculnya kekakuan,

10
perkembangannya serta hilangnya kaku mayat lebih awal daripada yang di temukan oleh Dalal JS
et al. Hal ini bisa terjadi karena di negara bagian ini suhu rata-rata pada tahun ini lebih tetap
dibandingkan dengan India yang merupakan tempat dimana Dalal J. S et al melakukan penelitian.
Suhu lingkungan memiliki efek langsung pada perkembangan kaku mayat karena suhu yang dingin
dapat menunda proses kaku mayat dan kenaikan suhu dapat mempercepat terjadinya kaku mayat
tersebut. Dalam penelitian ini diamati bahwa kaku mayat dini terjadi pada mayat yang berusia
lanjut dan durasinya juga lebih pendek. Temuan ini konsisten dengan temuan penulis lain.
Alasannya mungkin karena kurangnya massa otot pada usia lanjut dan perkembangan kaku mayat
juga dipengaruhi oleh massa tubuh tanpa lemak.

Dalam penelitian ini diamati bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan sehubungan
dengan munculnya kaku mayat, perkembangannya dan menghilangnya kaku mayat antara jenis
kelamin laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian ini, kaku mayat ditemukan muncul, terjadi
kaku keseluruhan, mulai menghilang dan benar-benar hilang kurang lebih terjadi secara bersamaan
pada tubuh mayat yang menggunakan pakaian dengan tubuh yang hanya ditutupi.

Dari hasil penelitian yang berkolerasi dengan temuan Dalal J. S. dkk, Kamps F.
E.,karmakar R. N, Dikshit P. C. Didapatkan bahwa pakaian secara tidak langsung mempengaruhi
onset dan proses kaku mayat, dikatakan pengaruh suhu tubuh yang tertutup dari pada tanpa
pakaian. Dalam penelitian ini semua kasus yang termasuk adalah rumah sakit yang dirawat dan
sehat alasan mengapa pakaian tidak menunjukkan banyak efek pada jalurnya dari kaku mayat
dalam penelitian ini.

Dalam penelitian ini juga diamati bahwa kaku mayat dimana kematian itu karena gigitan
ular, trauma tumpul ke dada, luka pada tulang belakang, keracunan, paru konsolidasi dan
tuberkulosis paru muncul lebih awal. Sedangkan dalam kasus dimana kematian disebabkan oleh
cedera kepala, perdarahan intrakranial, cedera vital organ, syok karena trauma dan trauma tumpul
perut saat lenyapnya kaku mayat di dapatkan lambat. Sampel penelitian saat ini terdiri sebagian
besar kasus trauma dan keracunan yang dalam kombinasi merupakan jumlah maksimum kasus
dalam penelitian ini dari penampilan, perkembangan penuh dan permulaan dari hilangnya kaku
mayat dalam berbagai sebab kematian mungkin tidak signifikan secara statistik.

KESIMPULAN

11
1. Waktu kematian dapat diperkirakan dengan mengamati pemunculan, pengembangan dan
hilangnya kaku mayat dalam berbagai kelompok otot
2. Perkembangan rigor mortis di berbagai kelompok otot memiliki urutan cranio-caudal
3. Jenis kelamin mayat tersebut tidak mempengaruhi secara signifikan jalannya kaku mayat
4. Penampilan dan hilangnya kaku mayat lebih cepat pada usia tua
5. Kaku mayatm tidak banyak terpengaruh oleh pakaian dari mayat

DAFTAR PUSTAKA

1. Burton J F. fallacies in the signs of death. Journal of Forensic Sciences. Nov 1973; 529-534.
2. Gorea R. K. Study of postmortem interval from rigor mortis. Journal of Punjab Academy of
Forensic Medicine and Toxicology. 2002; 2: 25 30.
3. Reddy K. S. N. The Essentials of Forensic Medicine and Toxicology. 27th edition. K.
Sugandevi Publication; 2008. Post-mortem changes; p. 135 144.
4. Parikh C.K. Parikhs Textbook Medical Jurisprudence and Toxicology. 6th edition reprint.
CBS publisher and distributors; 2007. Medico legal aspects of death investigation; p. 3.7
3.19.
5. Nandy A. Principles of Forensic Medicine. 2nd reprint edition. New Central Book Agency (P)
Ltd Publication; 2007. Death and postmortem Changes. P. 148 - 159.
6. Dalal J. S, Tejpal H. R, Chanana A and Kaur N. Medico legal study of rigor mortis to estimate
postmortem interval. Journal of Indian Academy of Forensic Medicine. 2006; 28: 49 51.
7. Mathiharan K and Patnaik A. K. Modis Medical Jurisprudence and Toxicology. 23rd edition.
Lexis-Nexis Butterworths Publication; 2005. Post-mortem changes and time since death; p.
424 435.
8. Singh D and Dewan I. J. Estimation of the time since death by rigor mortis in subjects of
Chandigarh Zone. Journal of Indian Academy of ForensicMedicine. 1996; 18(1-4): 42 - 46.
9. Spitz U Werner. Spitz and Fishers Medicolegal Investigation of Death. 3rd Edition. Charles
C Thomas Publisher; 1993. Time of death and changes after death; p. 21 - 28.
10. Simpson K. and Knight B. Forensic Medicine. 9th edition reprint. ELBS with Edward Arnold
Publication; 1988. Changes after death. The time of death; p. 6 11.

12
11. Knight B, Henssge C, Krompecher T, Madea B and Nokes L. The Estimation of Time since
Death in Early Postmortem Period. Edited by Bernard Knight. Edward Arnold Publication,
London; 1995. p. 148 167.
12. Mant A. K. Taylors Principles and Practice of Medical Jurisprudence. 13th Edition,
Churchill Livingstone Publication; 1984. Post mortem changes; p. 131 145.
13. Shapiro H. A. Rigor mortis. British Medical Journal. 1950; 304 305.
14. Basu R. Fundamentals of Forensic Medicine & toxicology. 1st reprint edition. Books and
allied (P) Ltd. Publication; 2004. Death; p 61 - 68.
15. Camps F.E, Robinson A. E, Lucas B. G. B and Thomas F. C. Gradwohls Legal Medicine. 3rd
edition. A John Wright & Sons Ltd Publication; 1976. Changes after death; p. 81 - 88.
16. Kobayashi M. Why does rigor mortis progress downwards Anil Aggrawals Internet Journal
of Forensic Medicine and Toxicology. 2002; 3(2).
17. Kobayashi M, Takemori S and Yamaguchi M. Differential rigor development in red and white
muscle revealed by simultaneous measurement of tension and stiffness. Journal of Forensic
Science International. 2004; 140: 79 84.
18. Kobayashi M, Takatori T, Nakajima M et al. Onset of rigor mortis is earlier in red muscles
than in white muscles.Int J Legal Med.2000; 113: 240-243.
19. Gordon I, Shapiro H .A, Berson S. D. Forensic Medicine a Guide to Principles. 3rd edition.
Churchill Livingstone Publication; 1988. Diagnosis and the early signs of death; p. 12 - 38.
20. PoIson C.J, Gee D.J. and Knight B. The Essentials of Forensic Medicine. 4th edition.
Pergamon Press Publication; 1985; p. 8 - 19.
21. Karmakar R. N. J. B. Mukherjees Forensic Medicine and Toxicology. 3rd edition. Academic
publishers; 2007. Death and its medico legal aspects; p. 267 290.
22. Subrahmanyam B.V. Forensic Medicine Toxicology and Medical Jurisprudence. 1st Edition.
modern Publishers; 2004. Death and its medico legal aspects; p. 30 - 36.
23. Sengupta B. K. Medical Jurisprudence and Toxicology. Academic Publisher; 1978. Death; p.
127 134.
24. Dikshit P. C. Textbook of Forensic Medicine and Toxicology. 1st edition. PEEPEE
Publication; 2007. Changes after death; p. 90 100.
25. Svensson A, Wendel O. and Fisher B. A. J. Techniques of Crime Scene Investigation. 3rd
Edition. Elsevier-Newyork Publication; 1981. Estimating the time of death; p. 408 - 410.

13
26. Vij K. Text Book of Forensic Medicine and Toxicology. 4th edition. Elsevier Publication;
2007. Death and its medico legal aspects (Forensic Thanatology); p. 111 121.

Tabel 6. Kelebihan dan Kekurangan Jurnal

Kelebihan Kekurangan

Dijelaskan mengenai cara pemeriksaan. Tidak semua kasus digunakan sebagai


objek pasti penelitian.

Pemantauan yang dilakukan mulai dari Kebimbangan antara mengaitkan pengaruh


mulai muncul hingga kaku hilang pakaian terhadap kekakuan mayat dengan
sempurna. suhu yang meempengaruhi kekakuan.

Menggunakan banyak klasifikasi untuk


menentukan waktu kematian

14
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi Thanatologi

Istilah Thanatologi berasal dari Bahasa Yunani, terdiri dari kata thanatos (berhubungan
dengan kematian) dan logos (ilmu). Thanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik
yang mempelajari segala macam aspek yang berkaitan dengan mati, meliputi pengertian, tipe
kematian, cara-cara melakukan diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta
kegunaannya. Kegunaannya yaitu untuk memastikan kematian klinis, memperkirakan sebab
kematian, memperkirakan saat kematian dan memperkirakan cara kematian.1-4

Mati menurut ilmu kedokteran didefinisikan sebagai berhentinya fungsi saraf pusat,
sirkulasi dan respirasi secara permanen (mati klinis). Dengan adanya perkembangan teknologi ada
alat yang bisa menggantikan fungsi sirkulasi dan respirasi secara buatan. Oleh karena itu, definisi
kematian berkembang menjadi kematian batang otak. Brain death is death (mati adalah kematian
batang otak).1,3

Menurut ilmu kedokteran, kematian manusia dapat dilihat dalam dua dimensi yaitu
kematian sel (cellular death) akibat ketiadaan oksigen baru akan terjadi setelah kematian manusia
sebagai individu (somatic death). Selain kematian individu dan kematian sel, terdapat jenis
kematian lain yaitu mati suri (apparent death), mati somatic, mati seluler, mati serebral dan mati
otak. 1-3

Penentuan fungsi paru-paru telah berhenti bernapas perlu dilakukan pemeriksaan :1

1. Auskultasi
Auskultasi dilakukan secara hati-hati dan lama, jika perlu dilakukan pada laring juga.
2. Tes Winslow
Dengan meletakkan gelas berisi air di atas perut atau dadanya. Bila permukaan air bergoyang
berarti masih ada gerakan nafas.
3. Tes Cermin
Dengan meletakkan kaca cermin di depan mulut dan hidung. Bila basah berarti masih
bernapas.
4. Tes Bulu Burung

15
Dengan meletakkan bulu burung di depan hidung. Bila bergetar berarti masih bernapas.

Penentuan fungsi jantung perlu dilakukan pemeriksaan :1


1. Auskultasi
Auskultasi dilakukan di daerah prekardial selama 10 menit terus-menerus.
2. Tes Magnus
Dengan mengikat jari tangan sedemikian rupa sehingga hanya aliran dara vena saja yang
terhenti. Bila terjadi bendungan berwarna sianotik berarti masih ada sirkulasi.
3. Tes Icard
Dengan cara menyuntikkan larutan dari campuran 1 gram zat fluoroscen dan 1 gram natrium
bicarbonate di dalam 8 ml air secara subkutan. Bila terjadi perubahan warna kuning
kehijauan berarti masih ada sirkulasi darah.
4. Incisi arteri radialis

Bila terpaksa dapat dilakukan pengirisan pada arteri radialis. Bila keluar darah secra pulsasif
berarti masih ada sirkulasi darah.

3.2 Jenis Kematian

Agar suatu kehidupan seseorang dapat berlangsung, terdapat tiga sistem yang
mempengaruhinya. Ketiga sistem utama tersebut antara lain sistem pernafasan, sistem
kardiovaskuler dan sistem pernapasan. Ketiga sistem itu sangat mempengaruhi satu sama lainnya,
ketika terjadi gangguan pada satu sistem, maka sistem-sistem yang lainnya juga akan ikut
terpengaruh. Dalam tanatologi dikenal beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati
klinis), mati suri, mati seluler, mati serebral dan mati otak (mati batang otak).1-5

3.2.1 Mati Somatis

Mati somatis (mati klinis) adalah suatu keadaan dimana oleh karena sesuatu sebab terjadi
gangguan atau penghentian permanen pada ketiga sistem utama tersebut yang mengakibatkan
kehilangan sensibilitas dan kemampuan menggerakkan tubuh secara komplit, namun beberapa
bagian tubuh seperti otot masih dapat memberi respon terhadap stimulus elektrik, thermal atau
kimia. Kematian somatik dapat dilihat dari adanya penghentian detak jantung, penghentian
pernafasan, dan penghentian aktivitas otak.1,4

16
3.2.2 Mati Suri

Mati suri (apparent death) adalah merupakan suatu keadaan dimana proses vital turun ke
tingkat yang paling minimal untuk mempertahankan kehidupan sehingga tanda-tanda kliniknya
tampak seperti sudah mati. Dengan pertolongan yang cepat dan tepat atau kadang-kadang secara
spontan kondisinya dapat pulih kembali seperti sebelumnya.. Kasus seperti ini sering ditemukan
pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik dan tenggelam.1,5

3.2.3 Mati Seluler

Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian seluruh elemen seluler, dimana cadangan
oksigen pada sel mengalami deplesi, kematian sel atau kematian molekuler terjadi. Kematian
timbul beberapa saat setelah kematian somatis. Kematian seluler dapat dilihat dengan
ketidakadaan segala respon terhadap stimulus elektrik, thermal, maupun kimia pada jaringan. Daya
tahan hidup masing-masing organ atau jaringan berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian
seluler pada tiap organ tidak bersamaan.1,4

3.2.4 Mati Serebral

Mati serebral adalah suatu kematian akibat kerusakan kedua hemisfer otak yang
irreversible kecuali batang otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem
pernapasan dan kardiovaskuler masih berfungsi debfab bantuan alat.

3.2.5 Mati Otak

Mati otak (mati batang otak) adalah kematian dimana bila telah terjadi kerusakan seluruh
isi neuronal intracranial yang irreversible, termasuk batang otak dan serebelum. Dangan
diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara keseluruhan
tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.1,5

17
3.3 Kegunaan Thanatologi

Kegunaan Thanatologi dalam bidang forensik adalah sebagai penentu diagnosis kematian,
penentu saat kematian, perkiraan sebab kematian dan perkiraan cara kematian. 1

3.3.1 Penentu Diagnosis Kematian1-2


Menentukan kematian seseorang tidaklah sulit sehingga orang awam (termasuk penegak
hukum) dapat melakukannya, tetapi juga tidak selalu mudah sehingga kadang-kadang dokter pun
dapat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, ilmu ini perlu dipahami sungguh-sungguh agar tidak
terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis kematian.
Thanatologi juga perlu dipelajari oleh penegak hukum sebab dalam pemeriksaan tempat
kejadian perkara (TKP) tidak tertutup kemungkinan menemukan korban yang ada masih dalam
keadaan hidup meskipun terlihat tidak bergerak seperti mati.
Dalam situasi seperti ini penentuan kematian dapat dilakukan dengan menggunakan tanda-
tanda pasti kematian, antara lain :
Lebam mayat
Kaku mayat
Pembusukan

Jika tanda-tanda pasti kematian tidak ditemukan maka korban harus dianggap masih dalam
keadaan hidup sehingga perlu mendapatkan pertolongan (misalnya dengan melakukan pernafasan
bantuan) sampai menunjukkan tanda-tanda kehidupan atau sampai munculnya tanda pasti
kematian yang paling awal, yaitu lebam mayat.

3.3.2 Perkiraan Sebab Kematian1-2


Perubahan tidak lazim yang ditemukan pada tubuh mayat sering dapat memberi petunjuk
tentang sebab kematiannya.
- Perubahan warna lebam mayat menjadi :
o Merah cerah (cherry-red) memberi petunjuk keracunan Carbo Monoksida (CO).
o Coklat memberi petunjuk keracunan Potasium Chlorate.
o Lebih gelap, memberi petunjuk kekurangan oksigen.

Keluarnya urine, faeces atau vomitus memberi petunjuk adanya relaksasi sphincter akibat
kerusakan otak, anoksia atau kejang-kejang.

18
3.3.3 Perkiraan Cara Kematian1-2

Perubahan yang terjadi pada tubuh mayat juga dapat memberi petunjuk cara kematiaannya
seperti distribusi lebam mayat dapat memberi petunjuk apakah yang bersangkutan mati bunuh diri
atau karena pembunuhan.

Pada mayat dari orang yang mati akibat gantung diri (bunuh diri dengan cara menggantung)
biasanya didapati lebam mayat pada ujung kaki, ujung tangan atau alat kelamin laki-laki. Jika
disamping itu juga ditemukan lebam mayat di tempat lain maka hal itu dapat dipakai sebagai
petunjuk cara kematiannya karena akibat pembunuhan

3.4 Perubahan perubahan Postmortem3,6-7


Perubahan yang terjadi setelah kematian dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan waktu
terjadinya.yaitu early (immediete), early (non immediete) dan late changes. Berikut adalah
perubahan yang terjadi paska kematian :
Early changes (immediete) of death : Berhentinya system pernapasan, berhentinya
system sirkulasi, relaksasi muskulus, menghilangnya reflex, kulit pucat, pupil dilatasi
Early changes (not immediate) of death : Livor mortis, rigor mortis, algor mortis.
Late changes of death : Pembusukan dan modifikasinya, skeletonisasi
3.4.1 Lebam Mayat

Lebab mayat disebut juga Post Mortem Lividity, Post Mortem Suggilation, Hypostasis,
Livor Mortis, Stainning. Lebam mayat terbentuk bila terjadi kegagalan sirkulasi darah dalam
mempertahankan tekanan hidrostatik yang menggerakan dara mencapai capillary bed di mana
pembuluh-pembuluh darah kecil afferent dan efferent saling berhubungan. Maka secara bertahap
darah yang mengalami stagnasi di dalam pembuluh vena besar dan cabang-cabangnya akan
dipengaruhi gravitasi dan mengalir ke bawah, ke tempat-tempat yang terendah yang dapat dicapai.
Dikatakan bahwa gravitasi lebih banyak mempengaruhi sel darah merah tetapi plasma akhirnya
juga mengalir ke bagian terendah yang memberikan kontribusi pada pembentukan gelembung-
gelembung di kulit pada awal proses pembusukan.1-3
Adanya eritrosit di daerah yang lebih rendah akan terlihat di kulit sebagai perubahan warna
biru kemerahan. Oleh karena pengumpulan darah terjadi secara pasif maka tempat-tempat di mana
mendapatkan tekanan local akan menyebabkan tertekannya pembuluh darah di daerah tersebut

19
sehingga meniadakan terjadinya lebam mayat yang mengakibatkan kulit di daerah tersebut
berwarna lebih pucat.6
Lebam mayat ini biasanya timbul setengah jam sampai dua jam setelah kematian, di mana
setelah terbentuk hypostasis yang menetap dalam waktu 10-12 jam ternyata akan memberikan
lebam mayat pada sisi yang berlawanan setelah dilakukan reposisi pada tubuh dari pronasi ke
supinasi (interpostmorchange).6
Lebam mayat ini biasanya berkembang secara bertahap dan dimulai dengan timbulnya
bercak-bercak yang berwarna keunguan dalam waktu kurang dari setengah jam sesudah kematian
di manana bercak-bercak ini intensitasnya menjadi meningkat dan kemudian bergabung menjadi
satu dalam beberapa jam kemudian, di mana fenomena ini menjadi komplet dalam waktu kurang
lebih 8-12 jam, pada waktu ini dapat dikatakan lebam mayat terjadi secara menetap. Menetapnya
lebam mayat ini disebabkan oleh karena terjadinya perembesan darah ke dalam jaringan sekitar
akibat rusaknya pembuluh darah akibat tertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah yang banyak,
adanya proses hemolisa sel-sel darah dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah. Dengan
demikian penekanan pada daerah lebam yang dilakukan setelah 8-12 jam tidak akan menghilang.
Hilangnya lebam pada penekanan dengan ibu jari dapat memberikan indikasi bahwa suatu lebam
belum terfiksasi secara sempurna. Setelah 4 jam, kapirer-kapiler akan mengalami kerusakan dan
butir-butir darah merah juga akan rusak. Pigmen-pigmen dari pecahan darah merah akan keluar
dari kapiler yang rusak dan mewarnai jaringan di sekitarnya sehingga menyebabkan warna lebam
mayat akan menetap serta tidak hilang jika ditekan dengan ujung atau jika posisi mayat dibalik.
Jika pembalikan posisi dilakukan setelah 12 jam dari kematiannya maka lebam mayat baru tidak
akan timbul pada posisi terendah, karena darah sudah mengalami koagulasi.1-5
Tabel 1. Perbedaan Lebam Mayat dengan Memar1-3,6
Sifat Lebam mayat Memar
Letak Epidermal, karena pelebaran Subepidermal, karena rupture pembuluh
pembuluh darah yang tampak darah yang letaknya bisa superficial atau
sampai ke permukaan kulit lebih dalam
Kutikula Tidak rusak Rusak
Lokasi Terdapat pada daerah yang luas, Terdapat di sekitar, bisa tampak di mana
terutama luka pada bagian tubuh saja pada bagian tubuh dan tidak meluas
letak rendah

20
Gambaran Tidak ada elevasi dari kulit Biasanya membengkak, karena ada
resapan darah dan edema

Pinggiran jelas Tidak jelas


Warna sama Memar yang lama warnanya bervariasi,
memar yang baru warna lebih tegas
daripada warnal lebam mayat disekitarnya

Pada Darah tampak pembuluh darah dan Menunjukkan resapan darah ke jaringan
pemotongan mudah dibersihkan, jaringan sekitar, susah dibersihkanjika hanya
subkutan tampak pucat dengan air mengalir, jaringan subkutan
berwarna merah kehitaman

Dampak Akan hilang walaupun hanya Warnanya berubah sedikit saja bila diberi
setelah diberi penekanan yang ringan penekanan
penekanan

Fenomena lebam mayat yang menetap ini sifatnya lebih bersifat relative. Perubahan lebam
ini lebih mudah terjadi pada 6 jam pertama sesudah kematian, bila telah terbentuk lebam primer
kemudian dilakukan perubahan posisi maka akan terjadi lebam sekunder pada posisi yang
berlawanan. Distribusi dari lebam mayat yang ganda ini adalah penting untuk menunjukan terlah
terjadi manipulasi posisi pada tubuh. Akan tetapi waktu yang pasti untuk terjadinya pergeseran
lebam ini adalah tidak pasti, Polson mengatakan untuk menunjukan tubuh sudah diubah dalam
waktu 8 sampai 12 jam, sedangkan Camps memberikan patokan kurang lebih 10 jam.1-3,6
Akan tetapi pada kematian wajar pun darah dapat menjadi permanen incoagulable oleh
karena adanya aktifitas fibrinolisin yang dilepas ke dalam aliran darah selama proses kematian.
Sumber dari fibrinolisin ini tidak diketahui tetapi kemungkinan berasal dari endothelium pembuluh
darah, dan permukaan serosa dari pleura. Aktifitas fibrinolosin ini nyata sekali pada kapiler-kapiler
yang berisi darah. Darah selalu ditemukan cair dalam venule dan kapiler, dan ini yang bertanggung
jawab terhadap lebam mayat.3
Akumulasi darah pada daerah yang tidak tertekan akan menyebabkan pengendapan darah
pada pembuluh darah kecil yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah kecil tersebut
dan berkembang menjadi petechie (tardieu`s spot) dan purpura yang kadang-kadang berwarna

21
gelap yang mempunyai diameter dari satu sampai beberapa millimeter, biasanya memerlukan
waktu 18 sampai 24 jam untuk terbentuknya dan sering diartikan bahwa pembusukan sudah mulai
terjadi. Fenomena ini sering terjadi pada asphyxia atau kematian yang terjadinya lambat.1,3

3.4.2 Kaku Mayat

Kaku mayat atau rigor mortis adalah kekakuan yang terjadi pada otot yang kadang-kadang
disertai dengan sedikit pemendekan serabut otot, yang terjadi setelah periode pelemasan atau
relaksasi primer. Hal ini disebabkan karena terjadinya perubahan kimiawi pada protein yang
terdapat pada serabut-serabut otot. Menurut Szen-Gyorgyi di dalam pembentukan kaku mayat
peranan ATP adalah sangat penting. Seperti diketahui bahwa serabut otot dibentuk oleh dua jenis
protein, yaitu aktin dan myosin, di mana kedua jenis protein ini bersama dengan ATP membentuk
suatu massa yang lentur dan dapat berkontraksi. Bila kadar ATP menurun, maka akan terjadi
perubahan pada akto-myosin, di mana sifat lentur dan kemampuan untuk berkontraksi menghilang
sehingga otot yang bersangkutan akan menjadi kaku dan tidak dapat berkontraksi.9

Oleh karena kadar glikogen yang terdapat pada setiap otot itu berbeda-beda, sehingga
waktu terjadinya pemecahan glikogen menjadi asam laktat dan energi sat terjadinya kematian
somatic, dimana energi tersebut untuk resintesa ATP, akan menyebabkan adanya perbedaan kadar
ATP dalam setiap otot. Keadaan tersebut dapat menerangkan mengapa kaku mayat akan mulai
nampak pada jaringan otot yang jumlah serabut ototnya sedikit. Atas dasar itulah mengapa pada
kematian karena infeksi, konvulsi kelelahan fisik serta keadaan suhu keliling yang tinggi akan
dapat mempercepat terbentuknya kaku mayat, demikian pula pada mereka yang keadaan gizinya
jelek akan lebuh cepat terjadi kaku mayat bila dibandingkan korban yang mempunyai tubuh yang
baik6,9
Secara biokimiawi saat relaksasi primer, pH protoplasma sel otot masih alkalis. Perubahan
alkalis menjadi asam terjadi 2-6 jam kemuadian karena adanya perubahan biokimia, yaitu glikogen
menjadi asam sarkolaktik/fosfor. Perubahan protoplasma menjadi asam menyebabkan otot

22
menjadi kaku (rigor). Relaksasi sekunder terjadi setelah ada perubahan biokimia, yaitu asam
berubah menjadi alkalis kembali saat terjadi pembusukan. 6
Kaku mayat terjadi pada seluruh otot, baik otot lurik maupun otot polos dan bila terjadi
pada oto rangka, maka akan didapatkan suatu kekakuan yang mirip atau menyeruoai papan
sehingga dibutuhkan cukup tenaga untuk dapat melawan kekakuan tersebut, bila hal ini terjadi otot
dapat putus sehingga daerah tersebut tidak mungkin lagi terjadi kaku mayat. 8-11
Kaku mayat mulai terdapat sekitar 2 jam post mortem dan mencapai puncaknya setelah 10-
12 jam post mortem, keadaan ini akan menetap selama 24 jam dan setelah 24 jam kaku mayat akan
mulai menghilang sesuai dengan urutan terjadinya yaitu dimulai dari otot-otot wajah, leher, lengan,
dada, perut, dan tungkai. 9

Adanya kejanggalan dari postur pada mayat dimana kaku mayat telah terbentuk dengan
posisi sewaktu mayat ditemukan, dapat menjadi petunjuk bahwa pada tubuh korban telah
dipindahkan setelah mati. Ini mungkin dimaksudkan untuk menutupu sebab kematian atau cara
kematian yang sebenarnya.3,6,9

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kaku mayat: 1,3,6

a. Kondisi otot
- Persediaan glikogen

Cepat lambat kaku mayat tergantung persediaan glikogen otot. Pada kondisi tubuh sehat
sebelum meninggal, kaku mayat akan lambat dan lama, juga pada orang yang sebelum
mati banyak makan karbohidrat, makan kaku mayat akan lambat.

- Gizi

Pada mayat dengan kondisi gizi jelek saat mati, kaku mayat akan cepat terjadi.

- Kegiatan Otot

Pada orang yang melakukan kegiatan otot sebelum meninggal maka kaku mayat akan
terajadi lebih cepat.3,17

b. Usia
- Pada orang tua dan anak-anak lebih cepat dan tidak berlangsung lama.

23
- Pada bayi premature tidak terjadi kaku mayat, kaku mayat terjadi pada bayi cukup bulan.
c. Keadaan lingkunan
- Keadaan kering lebih lambat daripada panas dan lembab
- Pada mayat dalam air dingin, kaku mayat akan cepat terjadi dan berlangsung lama
- Pada udara suhu tinggi, kaku mayat akan terjadi lebih cepat dan singkat, tetapi pada suhu
rendah kaku mayat lebih lambat dan lama.
- Kaku mayat tidak terjadi pada suhu dibawah 10 derajat celcius kekakuan yang terjadi
pembekuan atau cold stiffening.
d. Cara kematian
- Pada mayat dengan penyakit kronis dan kurus, kaku mayat lebih cepat terjadi dan
berlangsung tidak lama.
- Pada mati mendadak, kaku mayat terjadi lebih lambat dan berlangsung lebih lama.
-

Terdapat kekakuan pada mayat yang menyerupai kaku mayat:

- Cadaveric spasme (instantaneous rigor), adalah bentuk kekakuan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasme sesungguhnya merupakan kaku mayat yang timbul
dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya adalah
akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis
karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Kepentingan
medikolegalnya adalah menunjukan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang
menggeggam erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tamgam yang menggenggam
pada kasus bunuh diri.3,6,9
Tabel 2. Perbedaan Antara Kaku Mayat dengan Spasme Kadaver6
Sifat Kaku mayat Spasme cadaver

Mulai timbul 1-2 jam setelah kematian Segera

Factor predisposisi negatif Kematian mendadak, aktivitas


berlebih, ketakutan, terlalu lelah

24
Otot yang tertekan Semua otot, termasuk volunteer Biasanya terbatas pada satu
dan involunter kelompok volunter

Kaku otot Tidak jelas, dapat dilawan Sangat jelas, perlu tenaga yang
dengan sedikit tenaga kuat untuk melawan kekakuannya

Kepentingan Untuk perkiraan waktu Menunjukkan cara kematian, yaitu


medikolegal kematian bunuh diri, pembunuhan, atau
kecelakaan

Suhu mayat dingin Hangat

Kematian sel ada Tidak ada

Rangsangan listrik Tidak ada respon otot Ada respon otot

- Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda, kaku, tepi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada
korban mati terbakar. Pada saat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga
menimbulkan fleksi leher, siku, paha, dan lutut, membentuk sikap petinju atau (pugilistic
attitude). Perubahan sikap ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup,
itravitalitas, penyebab atau cara kematian.
- Clod stiffening, yaitu kekakuan tubuh akibat lingkungan dingin (dibawah 3,5 C atau 40 F),
sehingga terjadi pembekuan cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak
subkutan dan otot, bila cairan sendi yang membeku menyebabkan sendi tidak dapat digerakan.
Bila sendi dibengkokkan secara paksa maka akan terdengar suara es pecah dan mayat yang
kaku ini akan menjadi lemas kembali bila diletakan ditempat yang hangat, kemudian rigor
mortis akan terjadi dalam waktu yang sangat singkat.3,6

Waktu terjadinya rigor mortis (kaku mayat) :1-6

o Kurang dari 3-4 jam post mortem: belum terjadi rigor mortis
o Lebih dari 3-4 ja post mortem: mulai terjadi rigor mortis
o Rigor mortis maksimal terjadi 12 jam setelah kematian
o Rogor mortis di pertahankan selama 12 jam

25
o Rigor mortis menghilang 24-36 jam post mortem
3.4.3 Pembusukan atau Modifikasinya

Pembusukan mayat nama lainnya dekomposisi dan putrefection. Pembusukan adalah


proses degradasi jaringan pada tubuh mayat yang terjadi sebagai akibat proses autolisis dan
aktivitas mikroorganisme, terutama Clostridium welchii yang banyak terdapat di kolon.3

Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril
melalui proses kimia yang disebabkan oleh enzim-enzim intraseluler, sehingga organ-organ yang
kaya dengan enzim-enzim akan mengalami proses autolisis lebih cepat daripada organ-organ yang
tidak memiliki enzim, dengan demikian pancreas akan mengalami autolisis lebih cepat daripada
organ-organ yang tidak memiliki enzim, dengan demikian pankreas akan mengalami autolisis
lebih cepat dari pada jantung. Proses autolisis ini tidak dipengaruhi oleh mikroorganisme oleh
karena itu pada mayat yang steril misalnya mayat bayi dalam kandungan proses autolisis ini tetap
terjadi. Proses autolisis terjadi sebagai akibat dari pengaruh enzim yang dilepaskan pasca mati.
Mula-mula yang terkena adalah nukleoprotein yang terdapat pada kromatin dan sesudah itu
sitoplasmanya, kemudian dinding sel akan mengalami kehancuran sebagai akibatnya jaringan akan
menjadi lunak dan mencair. Pada mayat yang dibekukan pelepasan enzim akan terhambat oleh
pengaruh suhu yang rendah maka proses autolisis ini akan dihambat demikian juga pada suhu
tinggi enzim-enzim yang terdapat pada sel akan mengalami kerusakan sehingga proses ini akan
terhambat.1-3,6,11

Fase pembusukan pada manusia terbagi menjadi 5 fase yaitu fase fresh, bloating, decay,
postdecay, dan skeletal atau remain stage. Beberapa ahli membagi fase decay menjadi active dan
advance decay. Fase fresh dimulai segera setelah meninggal duni sampai terjadinya bloating.
Perubahan yang terjadi pada fase fresh adalah munculnya warna kehijauan di perut kanan bawah,
terjadinya livor mortis, munculnya retak pada kulit, taches noires sclerotiques pada sclera mata,
dan hinggapnya lalat dan serangga pada lubang-lubang tubuh dan luka pada tubuh. Fase bloating
mulai proses dekomposisi dan puterifikasi tubuh oleh mikroorganisme. Bakteri anaerob di
intestinal mencerna jaringan yang mengakibatnya terbentuknya gas H2S. gas tersebut menekan
rongga abdomen sehingga menggembung dan tubuh berubah menjadi balloon-like appearance.
Pada fase ini juga mulai terjadi metabolism oleh maggot yang menimbulkan peningkatan suhu
internl tubuh hingga jauh di atas suhu lingkungan. Pada fase ini tercium bau amoniak yang kuat.

26
Selain itu gas dalam tubuh juga mendorong isi tubuh keluar seperti urin, feses, cairan pembusukan
yang bercampur darah dan hasil konsepsi melaui lubang-lubang tubuh. Pada fase decay terjadi
perubahan berupa skin slippage atau mengelupasmya lapisan terluar kulit, keluarnya gas dari
abdomen, tubuh mayat juga berbau pembusukan yang sangat menyengat, mulai terinvasi larva
dipteral. Pada fase ini semua jaringan lunak terdekomposisi oleh larva hingga menyisakan kulit,
kartilago dan tulang. Proses dekomposisi selanjutnya oleh larva diptera hingga hanya menyisakan
tulang yang bersih terjadi pada fase postdecay. Pada fase ini mulai investasi larva calliphoride dan
sacnophagidae. Sedangkan yang terakhir fase skeletal tersisa tulang, gigi, dan rambut yang dapat
terdekomposisi setelah bertahun-tahun lamanya tergantung faktor lingkungan tempat mayat
berada.11,13

Setelah seseorang meninggal, maka semua sistem pertahanan tubuh akan hilang, bakteri
yang secara normal dihambat oleh jaringan tubuh akan segera masuk ke jaringan tubuh melalui
pembuluh darah, dimana darah merupakan media yang terbaik bagi bakteri untuk berkembang
biak. Bakteri ini menyebabkan hemolisa, pencairan bekuan darah yang terjadi sebelum dan
sesudah mati, pencairan thrombus atau emboli, perusakan jaringan-jaringan dan pembentukan gas
pembusukan. Bakteri yang sering menyebabkan destruktif ini sebgaian besar berasal dari usus dan
yang paling utama adalah Clostridium welchii. Bakteri ini berkembang biak dengan cepat sekali
menuju ke jaringan ikat dinding perut yang menyebabkan perubahan warna. Perubahan warna ini
terjadi oleh karena reaksi antara H2S (gas pembusukan yang terjadi dalam usus besar) dengan Hb
dan Sulf-Meth-Hb. Tanda pertama pembusukan baru dapat dilihat kira-kira 24 - 48 jam pasca mati
berupa warna kehijauan pada dinding abdomen bagian bawah, lebih sering pada fosa iliaka kanan
dimana isinya lebih cair, mengandung lebih banyak bakteri dan letaknya yang lebih superfisial.
Perubahan warna ini secara bertahap akan meluas keseluruh dinding abdomen sampai ke dada dan
bau busuknya mulai tercium. Perubahan warna ini juga dapat dilihat pada permukaan organ dalam
seperti hepar, dimana hepar merupakan organ uang langsung kontak dengan kolon transversum.
Pada saat Clostridium welchii mulai tumbuh pada satu organ parenkim, maka sitoplsama dari
organ sel itu akan mengalami disintergrasi dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis
atau rhexis. Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya.3,11,12

Bakteri ini kemudian masuk kedalam pembuluh darah dan berkembang biak didalamnya
yang menyebabkan hemolisa yang kemudian mewarnai dinding pembuluh darah dan jaringan

27
sekitarnya. Bakteri ini memproduksi gas-gas pembusukan yang mengisi pembuluh darah yang
menyebabkan pelebaran pembuluh darah bserta cabang-cabangnya tampak lebih jelas seperti
pohon gundul (arborescent pattern atau arborescent mark) yang sering disebut marbling. Bakteri
pembusukan ini banyak terdapat dalam intestinal dan paru, maka gambaran marbling ini jelas
terlihat pada bahu, dada bagian atas, abdomen bagian bawah dan paha.3,6,11

Secara mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga jaringan


dimana bakteri tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang
tadinya kecil dapat cepat membesar menyerupai honey combed appearance. Lesi ini dapat dilihat
pertama kali pada hati. Kemudian permukaan lapisan atas epidermis dapat dengan mudah
dilepaskan dengan jaringan yang ada dibawahnya dan ini disebut skin slippage. Skin slippage ini
meneyebabkan identifikasi melalui sidik jari sulit dilakukan. Pembentukan gas yang terjadi antara
epidermis dan dermis mengakibatkan timbulnya bula-bula yang bening, fragil, yang dapatr berisi
cairan coklat kemerahan yang berbau busuk. Cairan ini kadang-kadang tidak mengisi secara penuh
di dalam bula. Bula dapat menjadi sedemikian besarnya menyerupai pendulum yang berukuran 5-
7,5 cm dan bila pecah meninggalkan daerah yang berminyak, berkilat dan berwarna kemerahan,
ini disebabkan oleh karena pecahnya sel-sel lemak subkutan sehingga cairan lemak keluar ke
lapisan dermis oleh karena tekanan gas pembusukan dari dalam. Selain itu epitel kulit, kuku,
rambut kepala, aksila dan pubis mudah dicabut dan dilepaskan oleh karena adanya disintegrasi
pada akar rambut. 11,12

Selama terjadi pembentukan gas-gas pembusukan, gelembung-gelembung udara mengisi


hampir seluruh jaringan subkutan. Gas yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan
menyebabkan terabanya krepitasi udara. Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang
menyeluruh, dan tubuh berada dalam sikap pugilistic attitude atau balon-like appearance.11,13

Scrotum dan penis dapat membesar dan membengkak, leher dan muka dapat
menggembung, bibir menonjol seperti frog-like-fashion kedua bola mata keluar, lidah terjulur
diantara dua gigi, ini menyebabkan mayat sulit dikenali kembali oleh keluarganya. Pembengkakan
yang terjadi pada seluruh tubuh mengakibatkan berat bdan mayat yang tadinya 57-63 kg sebelum
mati menjadi 95-114 kg sesudah mati.1,3,6

28
Tekanan yang meningkat didalam rongga dada oleh karena gas pembusukan yang terjadi
didalam cavum abdominal menyebabkan pengeluaran udara dan cairan pembusukan yang berasal
dari trakea dan bronkus yang terdorong keluar bersama-sama dengan cairan darah yang keluar
melalui mulut dan hidung yang disebut dengan blood purge. Cairan pembusukan dapat ditemukan
di dalam rongga dada, ini harus dibedakan dengan hematotorak dan biasanya caiaran pembusukan
ini tidak lebih dari 200 cc.1,6,11

Pengeluaran urine dan feses dapat terjadi oleh karena tekanan intra abdominal yang
meningkat pada uterus wanita dapat menjadi prolaps dan fetus dapat lahir dari uterus yang sedang
hamil sedangkan pada anak-anak adanya gas pembusukan dalam tengkorak dan otak menyebabkan
sutura-sutura kepala menjadi muda terlepas.11

Organ-organ dalam mempunyai kecepatan pembusukan yang berbeda-beda. Jaringan


intestinal, medulla adrenal dan pankreas akan mengalami autolisis dalam beberapa jam setelah
kematian. Organ-organ dalam lain seperti hati, ginjal dan limpa merupakan organ yang cepat
mengalami pembusukan. Perubahan warna pada dinding lambung terutama di fundus dapat dilihat
dalam 24 jam pertama setelah kematian. Difusi cairan kandung empedu kejaringan sekitarnya
menyebabkan perubahan warna pada jaringan sekitarnya menjadi cokelat kehijuan. Pada hati dapat
dilihat gambaran honey combs appearance, limpa menjadi sangat lunak dan mudah robek dan otak
menjadi lunak.6,11

Pembusukan lanjut dari organ dalam ini adalah pembentukan granula-granula milliary atau
milliary plaques yang berukuran kecil dengan diameter 1-3 mm yang terdapat pada pemukaan
serosa yang terletak pada endothelial dari tubuh seperti pleura, peritoneum, pericardium dan
endocardium.11

Golongan organ berdasarkan kecepatan pembusukannya, yaitu:1,3,6

1. Early: Organ dalam yang cepat membusuk antara lain jaringan intestinal, medulla adrenal,
pancreas, otak, lien, usus, uterus gravidarum, uterus post partum dan darah
2. Moderate: Organ dalam yang lamabat membusuk antara lain paru-paru, jantung, ginjal,
diafrgma, lambung, otot polos dan otot lurik.
3. Late: Uterus non gravidarum dan prostas merupakan organ yang lebih tahan terhadap
pembusukan karena memiliki strukstur yang berbeda dengan jaringan yang lain yaitu fibrous.

29
Pada orang yang mengalami obesitas, lemak-lemak tubuh terutama perianal, omentum dan
mesenterium dapat mencair menjadi cairan kuning yang transluscent yang mengisi rongga badan
diantara organ yang dapat menyebabkan autopsy lebih suliti dilakukan. Pada mayat dari orang tua,
proses pembusukannya lebih lambat disebabkan lemak tubuhnya relative lebih sedikit.
Pembusukkan yang lambat juga terjadi pada mayat bayi yang baru lahir dan belum pernah diberi
makan sebab pada mayat tersebut kemasukan bakteri pembusuk3,6

Mayat dari orang yang keracunan kronis dari zat asam karbol, arsen, dan zink klorida
mengalami pembusukan lebih lambat. Mayat dari orang yang mati mendadak lebih lambat
mengalami pembusukan disbanding mayat dari orang yang meninggal karena penyakit kronis.
Badan berbaring di permukaan tanah cenderung membusuk jauh lebih cepat dibandng mayat yang
dikuburkan.3

Disamping bakteri pembusukan insekta juga memegang peranan penting dalam proses
pembusukan sesudah mati. Beberapa jam setelah kematian lalat akan hinggap di badan dan
meletakan telur-telurnya pada lubang-lubang mata, mulut dan telinga. Biasanya jarang pada daerah
genianal. Bila ada luka ditubuh mayat lalat lebih sering melatakan telur-telurnya pada luka
tersebut, sehingga bila ada telur atau larva lalat di daerah genitoanal ini maka dapat dicurigai
adalanya kekerasan seksual sebelum kematian. Telur-telur lalat ini akan berubah menjadi larva
dalam waktu 24 jam. Larva ini mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat mempercepat
penghancuran jaringan pada tubuh. Larva lalat dapat kita temukan pada mayat kira-kira 36-48 jam
pasca kematian. Berguna untuk memperkirakan saat kematian dan penyebab kematian karena
keracunan. Saat kematian dapat kita perkirakan dengan cara mengukur panjang larva lalat.
Penyebab kematian karena racun dapat kita ketahui dengan cara mengidentifikasi racun dalam
larva lalat.1,3,6,11,12

Insekta tidak hanya penting dalam proses pembusukan tetapi mereka juga memberi
informasi penting yang berhubungan dengan kematian. Insekta dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat kematian, memberi petunjuk bahwa tubuh mayat telah dipindahkan dari satu
lokasi ke lokasi lainnya, memberi tanda pada badan bagian mana yang mengalami trauma, dan
dapat dipergunakan dalam pemeriksaan toksikologi bila jaringan untuk spesimen standart juga
sudah mengalami pembusukan.11,12

30
Aktifitas pembusukan sangat optimal pada temperatur berkisar antara 70 100F (21,1-
37,8C ) aktifitas ini dihambat bila suhu berada dibawah 50F(10C) atau pada suhu diatas 100F
(lebih dari 37,8C). Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka proses pembusukan
akan berlangsung lebih cepat. Bila mayat diletakkan pada suhu hangat dan lembab maka proses
pembusukan akan berlangsung lebih cepat. Sebaliknya bila mayat diletakkan pada suhu dingin
maka proses pembusukan akan berlangsung lebih lambat. Pada mayat yang gemuk proses
pembusukan berlangsung lebih cepat dari pada mayat yang kurus. Pembusukan berlangsung lebih
cepat karena kelebihan lemak akan menghambat hilangnya panas tubuh dan pada mayat yang
gemuk memiliki darah yang lebih banyak, yang merupakan media yang baik untuk
perkembangbiakkan organisme pembusukan.6,11

Pada bayi yang baru lahir hilangnya panas tubuh yang cepat menghambat pertumbuhan
bakteri disamping pada tubuh bayi yang baru lahir memang terdapat sedikit bakteri sehingga
proses pembusukan berlangsung lebih lambat. Proses pembusukan juga dapat dipercepat dengan
adanya septikemia yang terjadi sebelum kematian seperti peritonitis fekalis, aborsi septik, dan
infeksi paru. Disini gas pembusukan dapat terjadi walaupun kulit masih terasa hangat.6,11

Pembusukan dipengaruhi oleh beberapa faktor intrinsik diatas, selain itu juga dipengaruhi
oleh faktor ekstrinsik antara lain kelembaban udara dan medium di mana mayat berada. Semakin
lembab udara disekeliling mayat maka pembusukan lebih cepat berlangsung, sedangkan
pembusukan pada medium udara lebih cepat dibandingkan pada medium tanah. Mayat yang
tercelup dalam air akan lebih lambat proses pembusukkannya. Berdasarkan hukum atau rasio
Caspers apabila semua faktor sama dan akses ke udara bebas sama, tubuh terdekomposisi dua kali
lebih cepat dari pada mayat yang tercelup di air dan delapan kali lebih cepat dari pada yang
terpendam atau terkubur.3,6,11

Pada keadaan tertentu tanda-tanda pembusukan tersebut tidak dijumpai, namun yang
ditemui adalah modifikasi pembusukan. Jenis-jenis modifiksi pembusukan antara lain :11

a. Mumifikasi
Mumifikasi dapat terjadi karena proses dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi
pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Proses mumifikasi
terjadi bila keadaan disekitar mayat kering, kelembaban rendah, suhunya tinggi dan tidak ada

31
kontaminasi dengan bakteri. Terjadinya beberapa bulan sesudah mati tanda-tanda sebagai
berikut mayat menjadi kecil, kering, mengkerut atau melisut, warna coklat kehitaman, kulit
melekat erat dengan tulang dibawahnya, tidak berbau, dan keadaan anatominya masih
utuh.3,6,11
b. Saponifikasi (Adipocere)6,11,12

Saponifikasi dapat terjadi pada mayat yang berada didalam suasana hangat, lembab atau
basah. Terjadi karena proses hidrolisis dari lemak menjadi asam lemak. Selanjutnya asam
lemak yang tak jenuh akan mengalami dehidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh dan
kemudian bereaksi dengan alkali menjadi sabun yang tak larut. Terbentuk pertama kali pada
letak superfisial bentuk bercak, di pipi, di payudara, bokong bagian tubuh atau ekstremitas.
Terjadinya saponifikasi memerlukan waktu beberapa bulan dan dapat terjadi pada setiap
jaringan tubuh yang berlemak dengan tanda-tanda berwarna keputihan dan berbau seperti
minyak kelapa.

32
BAB IV
JURNAL PEMBANDING

33
BAB V
KESIMPULAN

Thanatologi adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari segala macam
aspek yang berkaitan dengan mati, meliputi pengertian, tipe kematian, cara-cara melakukan
diagnosis, perubahan-perubahan yang terjadi sesudah mati serta kegunaannya. Kegunaannya yaitu
untuk memastikan kematian klinis, memperkirakan sebab kematian, memperkirakan saat kematian
dan memperkirakan cara kematian.

Setelah terjadinya kematian, tubuh akan mengalami perubahan perubahan, antara lain
perubahan kulit muka sebagai akibat dari berhentinya sirkulasi darah, relaksasi otot, perubahan
pada mata, penurunan suhu tubuh, timbulnya lebam mayat karena adanya gaya gravitasi, kaku
mayat karena penumpukkan ADP pada otot - otot, pembusukan, perubahan pada darah yang
dilanjutkan dengan kematian sel.

Pada jurnal yang kami bahas ini, lebih meneliti kepada kaku mayat, berdasarkan kelompok
otot, usia, jenis kelamin, pakaian, sebab kematian.

34
DAFTAR PUSTAKA

1. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik.pedoman Bagi Dokter dan Penegak hukum.
Cetakan V. Semarang : Badan Penerbut Universitas Diponegoro, 2007; p.47-65.
2. NN. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta : Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, 1997; p.25-35.
3. Vij, Krishan. Forensic Medicine and Toxicology.5th Ed. Death and Its Medicolegal
(Forensic Thanatology). New Delhi : Elsevier, 2011; p.74-99.
4. Idris, MA Dr. Saat Kematian. Edisi Pertama. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta
: Bina Rupa Aksara, 1997; p.53-77.
5. Yu X, Wang H, Feng L, Zhu J. Quantitative Research in Modern Forensic Analysis of
Death Cause : New Classification of Death Cause, Degree of Contribution, and
Determination of Manner of Death. J Forensic Res 5:221. Shantou : Departemen of
Forensic Medicine of Shntou University College, 2014
6. Bate-Smith EC, Bendall JR. Rigor Motis and Adenosinetriphosphate. J Physiol 106, 1947;
p.177-185
7. Poposka V, Gutevska A, Stankov A, Pavlovski G, Jakovski Z, Janeska B. Estimation of
Time Since Death by using Algorithm in Early Postmortem Period. Global Journal of
Medical Research. USA ; Global Journals Inc, 2013; Volume 13 Issue 3 Version 1.0
8. Abraham dkk. Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi II. Semarang : Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, 2010; p.43-50.
9. Prasad BK. Postmortem Ocular Changes : A Study on Autopsy Cases in Bharatpur
Hospital. Nepal : Kathmandu University Medical Journal, 2003; Vol.1 No.4 Issue 4 p. 276-
277
10. Lee, GM. Early Post Mortem Changes and Stage of Decomposition in Exposed Cadavers.
USA : Springer, 2009; Volume 49 p. 21-36.
11. Pounder, Derrick. Post Mortem Changes and Time of Death. Departemen of Forensic
Medicine University of Dundee, 1995.
12. Hau TC, Hamzah NH, Lian HH, Hamzah SPAA. Decomposition Proccess and Postmortem
Changes. Kuala Lumpur : Sains Malaysiana, 2014; volume 43 Issue 12 p. 1873-1882.
13. Cox, William A. Early Postmortem Changes and Time of Death. Forensic Pathologist,
2009.

35