0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan15 halaman

Refleksi Kasus Folikulitis Kulit

Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut atau folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Folikulitis dapat mengenai semua umur tetapi lebih sering dijumpai pada anak-anak dan tidak dipengaruhi jenis kelamin. Penyebabnya antara lain gesekan saat bercukur, keringat berlebihan, inflamasi kulit, dan cidera pada kulit."

Diunggah oleh

nadia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan15 halaman

Refleksi Kasus Folikulitis Kulit

Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut atau folikel rambut yang umumnya disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Folikulitis dapat mengenai semua umur tetapi lebih sering dijumpai pada anak-anak dan tidak dipengaruhi jenis kelamin. Penyebabnya antara lain gesekan saat bercukur, keringat berlebihan, inflamasi kulit, dan cidera pada kulit."

Diunggah oleh

nadia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFLEKSI KASUS STASE KULIT KELAMIN

“FOLIKULITIS”

Dosen Pembimbing :
dr. Trijanto Agoeng Noegroho, M.Kes, Sp. KK (K)

Disusun Oleh :

Nadia Eka Damayanti (42180236)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH WONOSARI
PERIODE 28 JANUARI – 2 FEBRUARI 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA
YOGYAKARTA
2019
BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Folikulitis adalah infeksi folikel rambut, biasanya oleh bakteri staphylococcus aureus.
Peradangan terjadi di folikel. Faktor resiko terjadi trauma pada kulit dan higien buruk.
Insidensi folikulitis pada masyarakat luas sulit ditentukan karena banyak individu yang
terkena infeksi ini tidak pernah berobat ke dokter. Dengan penanganan yang tepat, pasien
folikulitis memiliki prognosis yang baik. Gangguan ini biasanya menghilang dalam dua
hingga tiga minggu. Prognosis pasien folikulitis tergantung pada intensitas infeksi dan
kondisi fisik pasien serta kemampuan tubuhnya untuk menahan infeksi.
Folikulitis dapat menyebabkan beberapa komplikasi antara lain : selulitis, furunkulosis,
skar, kerusakan folikel rambut, dan kebotakan permanen.
Folikulitis dapat sembuh sendiri setelah dua atau tiga hari, tetapi pada beberapa kasus
yang persisten dan rekurens perlu penanganan lebih lanjut.

II. RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana menegakkan diagnosis folikulitis ?
2. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada folikulitis ?

III. TUJUAN
1. Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis folikulitis.
2. Untuk mengetahui komplikasi apa saja yang dapat terjadi pada folikulitis.
BAB II
STATUS PASIEN KULIT

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. SW
No. RM : 004899XX
Usia : 79 tahun 0 bulan 4 hari
Jenis kelamin : Laki - laki
Pekerjaan : Petani
Alamat : Grogol 5 4/5, Bejiharjo, Karangmojo
Kunjungan ke klinik : Senin, 28 Januari 2019

II. ANAMNESA
A. Keluhan Utama
Gatal-gatal pada bagian kepala sudah sejak dua bulan yang lalu.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin dengan keluhan gatal-gatal
pada kepala di bagian depan, sudah sejak dua bulan yang lalu akan tetapi tidak
merasakan nyeri (-). Nampak telihat adanya pustulasi dengan permukaan yang
sedikit basah. Pada awalnya 3 bulan yang lalu lesi berwarna kehitaman dengan
tekstur kering mengelupas yang keras seperti batu. Pasien mengatakan bahwa
dirinya mempunyai kebiasaan sering menggaruk kepalanya yang terdapat lesi
tersebut terutama pada malam hari karena terasa sangat gatal, sehingga pasien
terkadang menjadi sering kesulitan untuk tidur pada malam hari.

C. Riwayat penyakit Dahulu


Keluhan serupa : 1 tahun yang lalu kemudian kambuh 3 bulan
kemudian.
Riwayat asma : (-)
Riwayat lainnya : (-)
D. Riwayat Operasi : (+)

E. Riwayat Alergi : Pasien menyangkal adanya riwayat alergi obat


maupun makanan.

F. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki
keluhan yang sama.

G. Riwayat Pengobatan : Pasien sebelumnya sudah menggunakan minyak


tawon dan obat salep 88 dan menyatakan keluhan gatalnya berkurang tetapi
lesinya tetap ada.

H. Gaya Hidup : Aktivitas pasien sehari-hari adalah sebagai petani,


sering bekerja pada siang hari dengan tidak
mengenakan penutup kepala. Pasien mandi
teratur 2x dalam sehari, dan pasien biasa
menggaruk bagian kulit yang gatal.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis, E4V5M6
Berat Badan : Tidak dilakukan
Gizi : Cukup
Tekanan darah : 176/86 mmHg
HR : 66 x / menit
Kepala : Sesuai status lokalis
Leher : Ditemukan lesi UKK
Thorak : Tidak ditemukan adanya lesi
Aksilla : Tidak ditemukan adanya lesi
Abdomen : Tidak ditemukan adanya lesi
Ektremitas : Tidak ditemukan adanya lesi

Status Dermatologis-Venereologis :

Lesi : Pada kepala bagian depan, ditemukan adanya pustule yang menggerombol,
multiple tidak tersebar dan di tengah pustule terdapat rambut, berbatas tegas, dengan
dasar non-eritema. Nampak adanya eksudasi pada permukaan lesi. Tidak nampak
adanya skuama halus pada lesi.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Tidak dilakukan

V. DIAGNOSIS BANDING
1. Folikulitis
2. Dermatitis seboroik dengan infeksi sekunder
3. Furunkulosis

VI. DIAGNOSIS
Folikulitis

VII. TATALAKSANA
Topikal
Antibiotik
R/ Povidone iodine 7,5% lag I
Dilarutkan 10x (di kompres pada lesi yang terdapat pada bagian kepala)

Sistemik
Antibiotik
R/ Klindamisin tab 150 mg no VII
S2dd tab 1

VIII. EDUKASI
 Cara penggunaan obat agar digunakan secara teratur.
 Menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala.
 Tidak menggaruk-garuk lesi / area yang gatal.
 Makan makanan bergizi dan istirahat yang cukup guna membantu proses
penyembuhan.

IX. PROGNOSIS
 Quo ad Vitam : dubia ad bonam
 Quo ad Sanam : dubia ad bonam
 Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam
 Quo ad Cosmeticam : dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

FOLIKULITIS

2.1. Definisi Folikulitis


Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut atau folikel rambut, yang
umumnya di sebabkan oleh bakteri gram positif staphylococcus aureus.
Berdasarkan lokasinya dalam jaringan, kulit folikulitis folikulitis terbagi atas 2 jenis
yaitu :
1. Folikulitis superfisialis
Folikulitis Superfisialis adalah radang folikel rambut dengan pustul berdinding tipis
pada orifisium folikel yang terbatas pada epidermis.

2. Folikulitis Profunda
Folikulitis Profunda adalah radang folikel rambut dengan pustul perifolikular kronik
yang di tandai dengan adanya papul, pustul dan sering terjadi rekurensi, merupakan
folikulitis piogenik dengn infeksi yang meluas kedalam folikel rambut sampai
subkutan.

2.2. Epidemiologi

Folikulitis dapat mengenai semua umur, tetapi lebih sering di jumpai pada anak - anak dan
folikulitis juga tidak di pengaruhi oleh jenis kelamin. Jadi pria dan wanita memiliki angka
resiko yang sama untuk terkena folikulitis, dan folkulitis lebih sering timbul pada daerah
panas atau beriklim tropis.
2.3. Etiologi

Setiap rambut tubuh tumbuh dari folikel, yang merupakan suatu kantong kecil di bawah
kulit. Selain menutupi seluruh kulit kepala, folikel juga terdapat pada seluruh tubuh kecuali
telapak tangan, telapak kaki dan membran mukosa seperti bibir. Penyebab paling sering
folikulitis adalah :

Gesekan pada saat bercukur atau gesekan pakaian

Keringat berlebihan yang dapat menyumbat folikel

Inflamasi kulit, termasuk diantaranya dermatitis dan akne

Cidera pada kulit, termasuk abrasi, luka bedah ataupun abses

2.4. Patofisiologi
Setiap rambut tumbuh dari folikel, yang merupakan suatu kantung kecil di bawah
kulit. Selain menutupi seluruh kulit kepala, folikel juga terdapat pada seluruh tubuh kecuali
pada telapak tangan, telapak kaki dan membrane mukosa bibir. Folikulitis bisa di sebabkan
oleh karena minyak ataupun pelumas dan keringat berlebihan yang menutupi dan
menyumbat saluran folikel rambut. Bisa juga di sebabkan oleh gesekan saat bercukur atau
gesekan pakaian pada folikel rambut maupun trauma atau luka pada kulit. Hal ini
merupakan port de entry dari berbagai mikroorganisme terutama staphylococcus aureus
sebagai penyebab folikulitis. Kebersihan yang kurang dan higiene yang buruk menjadi
faktor pemicu dari timbulnya folikulitis, sedangkan keadaan lelah, kurang gizi dan
Diabetes melitus merupan faktor yang mempercepat atau memperberat folikulitis ini.3,4

2.5. Klasifikasi
1. Bentuk folikulitis superfisial, diantaranya :
Pseudomonas Folikulitis
Sekitar 12 sampai 48 jam terpajan, akan timbul papul kemerahan sampai dengan
adanya pustul. Ruam akan bertambah berat pada bagian tubuh yang tertutup
pakaian renang dengan air yang terkontaminasi dengan pseudomonas.
Tinea Barbae
Lebih sering disebabkan oleh jamur Trychopyton verrucosum atau Trychopyton
mentagrophytes daripada bakteri. Folikulitis tipe ini juga terjadi di daerah dagu pria
( jenggot ). Tinea barbae menyebabkan timbulnya bintik-bintik putih yang gatal.
Pseudofolikulitis Barbae
inflamasi folikel rambut di daerah jenggot, pseudofolikulitis barbae menyebabkan
jenggot menjadi keriting.
Pityrosporum Folikulitis
Lebih sering terjadi pada dewasa muda. Folikulitis tipe ini menimbulkan gejala
kemerahan, pustul dan gatal pada daerah punggung, dada dan kadang-kadang
daerah bahu, lengan atas dan wajah. Disebabkan oleh infeksi ragi, seperti
Malassezia furfur, sama halnya seperti jamur yang menyebabkan ketombe.
2. Bentuk Folikulitis Profunda, diantaranya :
Folikulitis Gram negative
Lebih sering berkembang pada seseorang dengan terapi antibiotik jangka panjang
dengan pengobatan akne. Antibiotik mengganggu keseimbangan normal bakteri
pada hidung, yang akan mempermudah berkembangnya bakteri yang berbahaya (
Bakteri Gram-negatif ). Pada umumnya hal ini tidak membahayakan, karena flora
di hidung akan kembali normal apabila pemakaian antibiotik dihentikan.
Karbunkel
Karbunkel terjadi apabila folikel rambut terinfeksi oleh bakteri stafilokokus sampai
ke bagian yang lebih dalam. Karbunkel terjadi secara tiba-tiba disertai benjolan
merah yang terasa sakit dengan diameter sekitar ½ inch. Dalam waktu 24 jam,
benjolan akan terisi dengan pus. Kemudian, dalam waktu lima sampai tujuh hari,
benjolan akan membesar dan semakin sakit, kadang dapat mencapai ukuran sebesar
bola golf baru kemudian ruptur dan pus akan mengalir keluar.
Folikulitis Eosinofilik
Terutama terjadi pada penderita dengan HIV positif. Folikulitis tipe ini memiliki
gejala khas yaitu inflamasi yang berulang, luka yang bernanah (pus), terutama
terjadi pada wajah tetapi dapat juga terjadi pada punggung dan lengan atas. Luka
biasanya menyebar, sangat gatal dan seringkali menimbulkan hipopigmentasi.

2.6. Gambaran klinis


Secara umum folikulitis menimbulkan rasa gatal seperti terbakar pada daerah rambut.
Gejala konstitusional yang sedang juga dapat muncul pada folikulitis seperti badan panas,
malaise dan mual. Pada folikulitis superfisialis gambaran klinisnya di tandai dengan
timbulnya rasa gatal dan agak nyeri, tetapi biasanya tidak terlalu menyakitkan hanya
seperti gigitan serangga, tergores atau akibat garukan dan trauma kulit lainnya. Kelainan di
kulitnya dapat berupa papul atau pustul yang erimatosa yang dan di tengahnya terdapat
rambut dan biasanya multiple serta adanya krusta di sekitar daerah inflamasi. Tempat
predileksi biasanya pada tungkai bawah. Folikulitis superfisialis ini dapat sembuh sendiri
setelah beberapa hari tanpa meninggalkan jaringan parut. Pada folikulitis profunda
gambaran klinisnya hampir sama seperti folikulitis superfisialis. Folikulitis profunda ini
terasa sangat gatal yang di sertai rasa terbakar serta teraba infiltrat di subkutan yang
akhirnya dapat meninggalkan jaringan parut apabila telah sembuh.5

2.7. Histopatologi

Pada pemeriksaan histopatologi pada folikel rambut tampak edematosa dengan sebukan sel
radang.

2.8. Diagnosis

Diagnosa di tegakkan berdasarkan anamnesa, gambaran klinis, pemeriksaan bakteriologis


dari sekret lesi dan kalau mendukung bisa dilakukan pemeriksaan histopatologi.

2.9 Diagnosa Banding

1. Furunkel

2. Furunkulosis
3. Tinea barbe

2.10 Komplikasi

Pada beberapa kasus folikulitis ringan, tidak menimbulkan komplikasi meskipun infeksi
dapat rekurens atau menyebar serta menimbulkan plak.
Komplikasi pada folikulitis yang berat, yaitu :
a. Selulitis

Sering terjadi pada kaki, lengan atau wajah. Meskipun infeksi awal hanya superfisial,
akhirnya akan mengenai jaringan dibawah kulit atau menyebar ke nodus limfatikus dan
aliran darah.
b. Furunkulosis
Kondisi ini terjadi ketika furunkel berkembang ke jaringan dibawah kulit (subkutan).
Furunkel biasanya berawal sebagai papul berwarna kemerahan. Tetapi beberapa hari
kemudian dapat berisi pus, sehingga akan membesar dan lebih sakit.
c. Skar
Folikulitis yang berat akan meninggalkan skar atau jaringan ikat ( hipertropik / skar
keloid ) atau hipopigmentasi
d. Kerusakan folikel rambut
Hal ini akan mempermudah terjadinya kebotakan permanen

2.9. Penatalaksanaan

Folikulitis kadang dapat sembuh sendiri setelah dua atau tiga hari, tetapi pada beberapa
kasus yang persisten dan rekuren perlu penanganan.
1. Umum
Cukup dengan menjaga kebersihan diri terutama kulit, menghindari garukan dan
faktor pencetus seperti gesekan pakaian atau mencukur dan luka atau trauma.
2. Khusus, terbagi 2 yaitu secara tropikal dan secara sistemik :
 Topikal, dapat di berikan antibiotik misalnya :
1. Kemicetin salap 2 %
2. Kompres PK 1/ 5000 solusio sodium chloride 0,9 %( jika ada
eksudasi)
3. Salep natrium fusidat.

 Sistemik, dapat diberikan : (1)


Antibiotik (umumnya di berikan 7 – 10 hari) misalnya :
1. Penisilin dan semisintetiknya.
a. Penisilin G prokain injeksi 0,6 – 1,2 juta IU, IM selama 7 – 14
hari, 1 – 2 kali/ hari.
b. Ampisilin 250 – 500 mg/ dosis, 4 kali/ hari
c. Amoksisilin, 250 – 500 mg/ dosis, 3 kali/ hari
d. Kloksasilin ( untuk staphylococcus yang kebal penisilin), dosis
250 – 500 mg, 4 kali / hari.
e. Dikloksasilin ( untuk staphylococcus yang kebal penisilin),
dosis 125 – 250 mg, 3 -4 kali/ hari.
2. Eritromisin 250 – 500 mg 3 – 4 kali/ hari(dewasa) dan 12, 5 – 25
mg/kbBB/ dosis 3 – 4 kali/ hari(anak).
3. Klindamisin 150 – 300 mg 3 – 4 kali/ hari (dewasa) dan 8 – 20 mg/
kgBB/ dosis 3- 4 ksli/ hsri(anak).
Penggunaan antiseptik dapat di berikan sebagai terapi tambahan ( misalnya :
Chlorhexidine) tetapi jangan di gunakan tanpa pemberian antibiotik sistemik. Dianjurkan
pemberian antibiotik sistemik dengan harapan dapat mencegah terjadinya infeksi kronik.

2.10. Prognosa

Prognosa penyakit folikulitis ini adalah Baik.


BAB IV

PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Folikulitis adalah infeksi folikel rambut, biasanya oleh bakteri staphylococcus aureus.
Peradangan terjadi di folikel. Faktor resiko terjadi trauma pada kulit dan higien buruk.
Gejala klinis folikulitis berbeda beda tergantung jenis infeksinya. Pada bentuk kelainan
superfisial, bintik-bintik kecil (papul) berkembang di sekeliling satu atau beberapa folikel.
Folikulitis dapat menyebabkan beberapa komplikasi antara lain : selulitis, furunkulosis,
skar, kerusakan folikel rambut, dan kebotakan permanen. Kadang folikulitis dapat sembuh
sendiri setelah dua atau tiga hari, tetapi pada beberapa kasus yang persisten dan rekurens
perlu penanganan lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda A. Hamzah M. Aisah S. 2011. Imu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi keenam

cetakan kedua. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Siregar R. S. Atlas Berwarna, Saripati Penyakit Kuli, Edisi 2, EGC, Jakarta, 2005, hal 50

– 51.

3. Malik R, 2011. Folikulitis. Fakultas Kedokteran Baiturrahmah, Padang.

4. Budimulja U. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi Kelima, Cetakan ketiga,

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Anda mungkin juga menyukai