Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No.

1February 2017

ANALISA SITUASI TUBERKULOSIS (TB) DI KABUPATEN KEBUMEN

Isma Yuniar1 Kanthi Pamungkas Sari 2, Hendry Tamara Yudha3


¹²³ STIKES Muhammadiyah Gombong

ABSTRACT
Tuberkulosis (TB) merupakan penyebab kematian utama di banyak
negara-negara berkembang. Diperkirakan sekitar 2,7 juta jiwa meninggal
karena TB setiap tahunnya di seluruh dunia. Salah satu isu strategis
yang dihadapi oleh Dinas Kesehatan maupun masyarakat Kabupaten
Kebumen adalah angka kesakitan dan kematian penyakit menular dan
tidak menular masih tinggi. Penyakit-penyakit menular/infeksi sampai
saat ini belum semua dapat diatasi, disisi lain angka kesakitan dan
kematian beberapa penyakit tidak menular dan degeratif cenderung
meningkat. Hal tersebut juga diperparah dengan kondisi rendahnya
kualitas dan cakupan kesehatan lingkungan masyarakat. Cakupan
sanitasi dasar seperti cakupan jamban keluarga, cakupan sarana
pembuangan air limbah rendah, serta proporsi rumah sehat masih
rendah.
Analisa Situasi TB di Kabupaten Kebumen bertujuan untuk
melakukan kajian terhadap kondisi penanggulangan penyakit TB secara
komprehensif dengan menghubungkan berbagai aspek yang terkait
lainnya. Berdasarkan hasil analisa situasi tersebut dapat dijadikan
rekomendasi agar upaya mengatasi permasalahan TB secara optimal.
Jumlah kasus dan angka penemuan kasus TB Paru BTA + masih di
bawah standar. Penyebab langsungnya: sumber daya tenaga kesehatan
yang terbatas dan kesadaran pasien untuk periksa rendah. Succes rate
masih di bawah standar Penyebab langsungnya: terlambat mengambil
keputusan untuk berobat dan terlambat mendapatkan pelayanan
kesehatan. Angka kematian akibat TB menunjukan tren meningkat
Penyebab langsungnya: kekebalan tubuh menurun dan pengobatanya
terhenti.
Rekomendasi terdiri dari tiga hal yaitu Penanggulangan TB di
daerah merupakan tanggungjawab bersaama, mengembangkan jaringan
kemitraan berdasarkan skema prioritas.Program disusun secara
implementatif dan realistis dilakukan secara berencana, terus menerus
dan berkesinambungan.

PENDAHULUAN Jumlah wanita usia reproduktif


Tuberkulosis (TB) merupakan yang meninggal karena TB lebih
penyebab kematian utama di banyak dari sebab-sebab yang
banyak negara-negara berkaitan dengan kehamilan dan
berkembang. Diperkirakan sekitar persalinan. Oleh karena TB
2,7 juta jiwa meninggal karena TB banyak dijumpai pada golongan
setiap tahunnya di seluruh dunia. usia produktif (15-59 tahun)

42
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

penyakit ini bertanggungjawab dan kematian penyakit menular


atas 2 hingga 4 dari beban dan tidak menular masih tinggi.
penyakit nasional di banyak Penyakit-penyakit menular/infeksi
negara berkembang. Di negara sampai saat ini belum semua
maju, kecenderungan kesakitan dapat diatasi, disisi lain angka
dan kematian karena TB yang kesakitan dan kematian beberapa
selama ini menurun, mulai tahun penyakit tidak menular dan
1980 an menunjukan kenaikan degeratif cenderung meningkat.
terutama di negara dengan banyak Hal tersebut juga diperparah
kasus infeksi HIV/AIDS. Sejak dengan kondisi rendahnya
tahun 1989 muncul wabah “multi- kualitas dan cakupan kesehatan
drug resistant” pada penderita TB lingkungan masyarakat. Cakupan
yang banyak dikaitkan dengan sanitasi dasar seperti cakupan
tingkat kematian tinggi. Hampir jamban keluarga, cakupan sarana
dua dekade terakhir pembuangan air limbah rendah,
penanggulangan TB seolah-olah serta proporsi rumah sehat masih
dilalaikan masyarakat rendah.
internasional karena tidak Permasalahan pencegahan
termasuk dalam program prioritas dan penanggulangan penyakit
Indonesia merupakan negara menular khusus TB pada
dengan percepatan peningkatan umumnya berkaitan dengan isu
epidemi HIV yang tertinggi di utama antara lain pengetahuan
antara negara-negara di Asia. dan sikap masyarakat terhadap TB
Secara nasional, angka estimasi masih rendah, terbatasnya
prevalensi HIV pada populasi kualitas fasilitas maupun
dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 pelayanan yang memadai bagi
provinsi telah dinyatakan sebagai masyarakat, pemberdayaan
daerah prioritas untuk intervensi masyarakat dalam bidang
HIV dan estimasi jumlah orang kesehatan belum digarap dengan
dengan HIV/AIDS di Indonesia optimal, terbatasnya kemampuan
sekitar 190.000-400.000. Estimasi manajemen kesehatan, meliputi
nasional prevalensi HIV pada pengelolaan administrasi dan
pasien TB baru adalah 2.8%. hukum kesehatan.
Visi Pembangunan Analisa Situasi TB di
Kesehatan Kabupaten Kebumen Kabupaten Kebumen bertujuan
sebagaimana yang termaktub untuk melakukan kajian terhadap
dalam Rencana Pembangunan kondisi penanggulangan penyakit
Jangka Menengah Daerah TB secara komprehensif dengan
(RPJMD) Kabupaten Kebumen menghubungkan berbagai aspek
tahun 2010–2015 adalah: yang terkait lainnya. Berdasarkan
“Mewujudkan Kebumen Sehat hasil analisa situasi tersebut dapat
2015 melalui pelayanan yang dijadikan rekomendasi agar upaya
terjangkau dan berkualitas, mengatasi permasalahan TB
didukung lingkungan sehat dan secara optimal. langsung dan
kemandirian masyarakat”. penyebab mendasar.
Salah satu isu strategis yang
dihadapi oleh Dinas Kesehatan HASIL ANALISA SITUASI
maupun masyarakat Kabupaten Tinjauan Situasi
Kebumen adalah angka kesakitan

43
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

Penilaian situasi dilakukan sebagai Penggambaran Besarnya


dasar menemukan rumusan Permasalahan
permasalahanberdasarkan data Berdasarkan beberapa
sekunder dan primer yang permasalahan di atas maka dapat
terkumpul sebagai ber ikut: ditentukan prioritas masalah
Perumusan Masalah situasi. Dari analisis prioritas
a. Jumlah kasus dan angka masalah di atas, maka diambil
penemuan kasus TB Paru BTA skala prioritas untuk analisa
+ Kabupaten Kebumen pada situasi TB Kabupaten Kebumen
tahun 2013 masih rendah adalah sebagai berikut:
yaitu sebesar 51,88%. Jika a. Jumlah kasus dan angka
dibandingkan dengan standar penemuan kasus TB Paru BTA
MDGs yaitu sebesar 85% maka + pada tahun 2013 masih
angka tersebut masih jauh. Di rendah yaitu sebesar 51,88%
beberapa kecamatan angka b. Succes rate di berdasarkan
penemuan kasus TB Paru BTA+ data yang diperoleh masih di
masih sangat rendah. bawah standar yaitu sebesar
b. Succes rate di Kabupaten 84,54%.
Kebumen berdasarkan data c. Angka kematian akibat TB
yang diperoleh pada tiga tahun menunjukan tren meningkat.
terakhir masih di bawah d. Succes rate di berdasarkan
standar yang ditetapkan yaitu data yang diperoleh masih di
sebesar 87%. Pada tahun 2013 bawah standar yaitu sebesar
sebesar 84,54%. Tiga peringkat 84,54%. Pengobatan yang
succes rate terendah, adalah: belum maksimal dapat
Kecamatan Mirit (60%); mendatangkan masalah yang
Kecamatan Petanahan lebih besar lagi atau lebih
(77,78%); Kecamatan Buayan kompleks. Bila pasien penderita
dan Kecamatan Alian (80%). TB berhenti berobat atau DO
Sedangkan untuk Rumah Sakit maka akibatnya adalah MDR.
yang succes ratenya terendah Faktor yang menyebab succes
adalah RS Purwogondo sebesar rate di bawah standar
36,36% ; PKU M Sruweng diantaranya pengambilan
sebesar 56,6% dan RS keputusan, fasilitas pelayanan
Purbowangi sebesar 60%. kesehatan, sosialisasi,
c. Angka kematian akibat TB di transportasi, kondisi sosial
Kabupaten Kebumen ekonomi masyarakat, budaya
menunjukan tren meningkat. masyarakat, peran tokoh
Pada tahun 2011 sebesar masyarakat dan tokoh agama,
1,43/ 100.000 penduduk, pada kerjasama lintas sektoral, SOP
tahun 2012 sebesar pencegahan dan penanganan
2,06/100.000 penduduk dan TB dan regulasi dari
pada tahun 2013 sebesar pemerintah daerah.
2,63/100.000 penduduk. Tren e. Angka kematian akibat TB
yang terus meningkat ini akan menunjukan tren meningkat.
sangat mungkin menjadi Faktor yang menjadi indikator
masalah yang serius bagi dari permasalahan ini adalah
masyarakat Kabupaten pengobatan, peran PMO, gizi,
Kebumen. pola hidup, nilai-nilai budaya,

44
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

kemiskinan, peran tokoh Keterbatasan jumlah petugas


agama dan masyarakat, SOP yang melaksanakan fungsinya
dan regulasi pemerintah daerah tersebut disebabkan karena :
Analisa Situasi a) Pendanaan yang terbatas,
Analisa RCA b) Kerjasama lintas sektoral
Berdasarkan penentuan prioritas masih minimal
masalah di atas dan hasil yang 2) Kesadaran pasien untuk periksa
ditemukan di lapangan terkait a) Kurangnya pengetahuan tentang
penanganan TB di Kabupaten TB
Kebumen dapat dianalisis sebagai b) Jarak dengan fasilitas pelayanan
berikut: kesehatan yang tidak terjangkau
a. Penemuan Kasus TB di bawah c) Nilai-nilai budaya setempat
Standar Nilai-nilai budaya setempat yang
menjadi kendala dalam penemuan
kasus TB diantaranya adalah:
Berdasarkan data yang diperoleh (1) Batuk yang tak kunjung
angka penemuan kasus TB di sembuh dan sampai
Kabupaten Kebumen pada tiga mengeluarkan darah
tahun terakhir tidak mengalami merupakan akibat “santet”
peningkatan mendekati standar (2) Keyakinan atas agama yang
MDGs namun menunjukan angka dianut memunculkan persepsi
penurunan yang cukup berarti. bahwa segala macam penyakit
Pada tahun 2011 penemuan kasus itu obatnya semata-mata dari
sebesar 60,44%,; tahun 2012 Tuhan. Sehingga kalau dengan
sebesar 59,95% dan tahun 2013 penyakit TB sampai meninggal
sebesar 51,88%. Pada gambar 6 itu merupakan takdir yang juga
terlihat bahwa terdapat dua faktor datangnya dari Tuhan
utama yang dominan menyebabkan (3) Memandang penderita TB
secara langsung penemuan kasus jangan sampai diketahui oleh
TB masih di bawah standar MDGs banyak pihak karena anggapan
(85%). Faktor tersebut adalah: TB merupakan penyakit yang
tenaga kesehatan yang terbatas memalukan
dan kesadaran pasien untuk Selain itu pada tempat-tempat
periksa rendah. Penjelasannya komunitas seperti pesantren, panti
adalah sebagai berikut: asuhan, asrama dan lembaga
1) Tenaga kesehatan terbatas pemasyarakatan hanya memiliki
Secara operasional yang memiliki petugas kesehatan yang sangat
fungsi untuk melakukan minimal atau bahkan tidak
penanganan secara langsung baik memiliki sama sekali. Ketika
secara promotif, preventif maupun penghuni tempat-tempat
kuratif adalah Puskesmas. Masing- komunitas tersebut tidak terjamah
masing puskesmas hanya memiliki oleh sosialisasi masalah kesehatan
satu orang petugas kesehatan yang maka akan sangat potensial
khusus menangani TB. Sehingga menjadi tempat penyebaran TB.
bisa dirata-rata setiap petugas Dan hal tersebut akan semakin
memiliki tanggung jawab parah jika penghuninya padat dan
menangani masalah TB di 17 atau memiliki lingkungan yang kurang
18 desa/kelurahan. Dari segi sehat.Selama ini banyak anggapan
kuantitas, setiap petugas memiliki bahwa masalah kesehatan
tugas yang cukup berat.

45
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

khususnya TB merupakan urusan a) Kurangnya pengetahuan


petugas kesehatan, terlebih jika pasien tentang TB;
tokoh-tokoh agama dan b) Nutrisi atau gizi buruk;
masyarakat kurang dilibatkan c) Nilai budaya setempat
maka permasalahan di atas akan
terus tetap terjadi. 2) Terlambat mendapatkan
pelayanan kesehatan
Dari dua penyebab langsung di a) Jarak dengan fasilitas
atas apabila di tarik akar pelayanan kesehatan yang
permasalahannya adalah sebagai tidak terjangkau
berikut: (1) peraturan daerah Sebagaimana permasalahan
(perda) atau regulasi tertulis dari yang disampaikan di atas
pemerintah daerah terkait bahwa jarak dengan fasilitas
penanganan dan atau pengendalian pelayanan kesehatan akan
TB belum ada. Jika perda atau mempengaruhi berbagai
regulasi dari pemerintah daerah aspek kehidupan
ada maka komitmen politik, sosial masyarakat. Permasalahan
dan ekonomi dari berbagai pihak tentang jarak dan fasilitas
akan dapat terbangun dengan baik. pelayanan kesehatan
(2) standar operating procedure terutama untuk desa-desa
(SOP) terkait penanganan TB di yang jauh dari ibukota
Kabupaten Kebumen yang kecamatan dan transportasi
ditetapkan oleh pemerintah daerah umum yang tersedia adalah
belum ada. Manakala SOP belum ojek. Angkutan pedesaan
ada maka mekanisme, jejaring memang tersedia tetapi
kemitraan akan berjalan apa jumlahnya tidak banyak dan
adanya. Sehingga hasil yang di hanya beroperasi pada
capai belum optimal. waktu tertentu. Penggunaan
a. Succes rate di bawah standar ojek akan mengakibatkan
Succes rate di Kabupaten Kebumen biaya transportasi mahal.
berdasarkan data yang diperoleh Ketika pertimbangan biaya
pada tiga tahun terakhir masih di transportasi mahal maka
bawah standar yang ditetapkan masyarakat terutama bagi
yaitu sebesar 87%. Pada tahun penderita TB yang akan pergi
2011 penemuan kasus sebesar berobat harus menyisihkan
85,64%,; tahun 2012 sebesar uang yang cukup. Bagi
81,54% dan tahun 2013 sebesar pasien yang ada pada
84,54%. Pada gambar 7 terlihat kategori miskin atau hampir
bahwa terdapat dua faktor utama miskin maka uang yang
yang dominan menyebabkan secara mereka miliki akan lebih
langsung penemuan kasus TB digunakan untuk memenuhi
masih di bawah standar MDGs. kebutuhan pokok atau
Faktor-faktor tersebut adalah: kebutuhan primer.
1) Pasien terlambat mengambil b) Peran kader yang kurang
keputusan optimal
Keterlambatan pasien TB di Peran kader yang kurang
dalam mengambil keputusan optimal karena keterbatasan
untuk berobat disebabkan sumber daya yang ada baik
oleh 3 (tiga) hal yaitu : secara kualitas maupun

46
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

kuantitas. Selama ini kader a) Peran PMO kurang optimal.


yang telah bekerjasama Hampir semua PMO berasal
dengan pemerintah dalam dari orang yang terdekat
penanganan TB di daerah dengan pasien, yaitu isteri atau
adalah SSR dari Pimpinan suami atau anak atau anggota
Daerah Aisyiyah Kabupaten keluarga terdekat dari pasien.
Kebumen dan kader Namun karena informasi yang
posyandu. Saat ini kader terbatas dan tidak ada
(relawan) aktif dari SSR pelatihan atau pembekalan
memiliki 72 orang, 2.087 untuk PMO, maka peran PMO
posyandu aktif. Secara menjadi kurang optimal.
operasional bersama-sama Diantara kasus yang muncul
petugas kesehatan dari adalah karena aktivitas yang
puskesmas mereka berbeda dengan pasien maka
melakukan penanganan PMO jarang mengontrol apakah
secara langsung baik secara pasien sudah minum obat atau
promotif, preventif maupun belum. Jika yang mengantar
kuratif adalah Puskesmas. berobat adalah anaknya, anak
Kabupaten Kebumen tersebut yang beda rumah
memiliki 35 puskesmas yang dengan pasien TB dan hanya
tersebar di 26 kecamatan. pasrah obat kepada anggota
Dari 26 kecamatan tersebut keluarga lain yang serumah
memiliki sejumlah 460 dengan pasien. Fungsi
desa/kelurahan. Relawan pengawasanpun menjadi
yang berasal dari SSR kurang optimal.
masing-masing membawahi Selama ini pembekalan untuk
atau beroperasi rata-rata PMO dari petugas kesehatan
pada 6 sampai dengan 7 hanya dilakukan pada saat
desa/kelurahan. Mereka anggota keluarga
berkomitmen untuk terlibat mengantarkan obat ke
mulai dari proses puskesmas. Sebagaimana yang
penanganan TB secara telah dijelaskan di atas rata-
promotif dan preventif rata petugas kesehatan harus
(bekerjasama dengan kader membawahi 17 sampai 18
posyandu atau pemerintah desa/kelurahan. Meskipun
desa dan petugas kesehatan demikian secara periodik yaitu
setempat), maupun kuratif 3 atau 4 bulan sekali SR
sampai sembuh mengadakan pembekalan bagi
(bekerjasama dengan PMO. Hal ini dimaksudkan
petugas yankes). untuk mengurangi munculnya
Memberikan pelatihan PMO kasus DO sehingga akan lebih
pasien TB. Dari segi memberikan kontribusi positif
kuantitas dan kualitas, terhadap succes rate di
setiap petugas maupun Kabupaten Kebumen.
relawan memiliki tugas yang Dari permasalahan dapat di
cukup berat. Selama ini tarik akar permasalahannya
tokoh-tokoh agama dan adalah perlu adanya peraturan
tokoh masyarakat belum daerah (perda) atau regulasi
terlibat secara aktif. tertulis dari pemerintah daerah

47
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

terkait penanganan dan atau angka kematian akibat TB.


pengendalian TB belum ada. Potensi tersebut bisa jadi akan
Jika perda atau regulasi dari terus berlanjut dan angka yang
pemerintah daerah ada maka terus meningkat jika tidak ada
komitmen politik, sosial dan tindakan yang berarti sesuai
ekonomi dari berbagai pihak dengan kondisi riil di lapangan.
akan dapat terbangun dengan Pada gambar 8 terlihat bahwa
baik. Selama ini di Kabupaten terdapat dua faktor utama yang
Kebumen belum ada regulasi dominan menyebabkan secara
tentang hal tersebut. Dari langsung seseorang tertular
regulasi pemerintah Mycobacterium Tubercolusis.
selanjutnya akan menjadi dasar Faktor tersebut adalah:
penyusunan a) standar kekebalan tubuh menurun dan
operating procedure (SOP) pengobatan terhenti.
terkait penanganan TB , b) 1) Kekebalan tubuh menurun
kerjasama lintas sektoral dan Kekebalan tubuh pasien TB
perluasan jejaring kemitraan disebabkan oleh beberapa
dalam penanganan dan faktor yang mempengaruhi
pengendalian TB yang lebih yaitu: gizi atau nutrisi
fungsional, c) pendanaan buruk; lingkungan tempat
penanganan TB yang lebih tinggal dan atau lingkungan
memadai kerja yang tidak sehat; pola
hidup yang tidak sehat; dan
b. Kematian akibat TB aktifitas fisik yang tidak
menunjukan tren meningkat sehat pula.
Faktor-faktor tersebut
Pada gambar 8 terlihat bahwa disebabkan oleh kemiskinan
kematian akibat TB yang tingkat pendidikan yang
menunjukan tren meningkat rendah dan nilai-nilai
disebabkan oleh satu faktor budaya yang kurang
utama yang berkontribusi mendukung kesehatan
secara langsung terhadap masyarakat.
terjadinya kasus kematian 2) Pengobatan terhenti
akibat TB yaitu tertular Pengobatan terhenti tersebut
Mycobacterium Tubercolusis. disebabkan oleh: 1)
Berdasarkan data yang Kurangnya pengetahuan
diperoleh dari Dinas Kesehatan pasien TB tentang proses
Kabupaten Kebumen angka pengobatan. Proses
pada tiga tahun terakhir adalah pengobatan yang lama
1,43/100.000 penduduk (2011), kadang membuat lelah atau
2,06/100.000 penduduk (2012) bosan pasien sehingga
dan 2,63/100.000 penduduk kurangnya pengetahuan
(2013). Angka tersebut memang pasien mengakibatkan
masih di bawah standar MDGs berhenti di tengah proses
(39) namun tren yang pengobatan, 2) Peran PMO
meningkat menunjukan bahwa yang kurang optimal, 3)
upaya-upaya yang telah Jarak yang jauh dan kondisi
dilakukan oleh berbagai pihak geografis yang sulit bagi
belum berhasil menurunkan pasien TB.

48
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

Dari permasalahan dapat di kesadaran pasien untuk periksa


tarik akar permasalahannya rendah. Penyebab tidak
adalah perlu adanya langsungnya adalah: pendanaan
peraturan daerah (perda) terbatas, kerjasama lintas sektoral
atau regulasi tertulis dari masih minim, kurangnya
pemerintah daerah terkait pengetahuan masyarakat tentang
penanganan dan atau TB Paru, jarak fasilitas kesehatan
pengendalian TB belum ada. cukup jauh, nilai-nilai budaya
Jika perda atau regulasi dari setempat, tingkat pendidikan
pemerintah daerah ada rendah, transportasi
maka komitmen politik, mahalterbatas, peran kader belum
sosial dan ekonomi dari optimal, kemiskinan, tokoh agama
berbagai pihak akan dapat dan masyarakat kurang terlibat,
terbangun dengan baik. SOP penanganan TB belum ada
Selama ini di Kabupaten atau yang ada tingkat
Kebumen belum ada regulasi kepatuhannya belum sesuai yang
tentang hal tersebut. Dari diharapkan. Penyebab yang
regulasi pemerintah mendasar adalah regulasi atau
selanjutnya akan menjadi peraturan daerah dan kebijakan
dasar penyusunan a) dasar penanggulangan penyakit
standar operating procedure menular secara komprehensif di
(SOP) terkait penanganan TB Kabupaten Kebumen belum ada
, b) kerjasama lintas sektoral Succes rate masih di bawah
dan perluasan jejaring standar Penyebab langsungnya:
kemitraan dalam terlambat mengambil keputusan
penanganan dan untuk berobat dan terlambat
pengendalian TB yang lebih mendapatkan pelayanan
fungsional, c) pendanaan kesehatan. Penyebab tidak
penanganan TB yang lebih langsungnya adalah: kurang
memadai pengetahuan tentang TB, gizi
buruk, nilai-nilai budaya setempat,
SIMPULAN jarak jauh dari fasilitas pelayanan
Analisa Profil kesehatan, kondisi geografis yang
Angka penemuan kasus TB Paru sulit, peran kader kurang optimal,
BTA + pada tahun 2013 masih peran PMO kurang optimal, SOP
rendah yaitu sebesar 51,88% . penanganan TB belum ada atau
Berdasarkan data yang diperoleh yang ada tingkat kepatuhannya
succes rate masih di bawah belum sesuai yang diharapkan.
standar yaitu sebesar 84,54%. Penyebab yang mendasar adalah
Angka kematian akibat TB dalam 3 regulasi atau peraturan daerah dan
tahun terakhir di Kabupaten kebijakan dasar penanggulangan
Kebumen menunjukan tren penyakit menular secara
meningkat komprehensif di Kabupaten
Analisa RCA Kebumen belum ada
Jumlah kasus dan angka Angka kematian akibat TB
penemuan kasus TB Paru BTA + menunjukan tren meningkat
masih di bawah standar. Penyebab Penyebab langsungnya: kekebalan
langsungnya: sumber daya tenaga tubuh menurun dan pengobatanya
kesehatan yang terbatas dan terhenti. Penyebab tidak

49
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

langsungnya adalah: kurangnya program TB, Mantan pasien TB,


pengetahuan tentang TB, peran keluarga dan PMO. Prioritas
PMO kurang optimal, jarak jauh keempat adalah pasien TB.
dari fasilitas pelayanan kesehatan, Rancangan program
kondisi geografis yang sulit, gizi diwujudkan dengan aktivitas di
buruk, lingkungan tempat tinggal tingkat daerah dan di tingkat
dan/lingkungan kerja tidak sehat, kecamatan. Program disusun
pola hidup yang tidak sehat, secara implementatif dan realistis
aktifitas fisik yang tidak sehat, dilakukan secara berencana, terus
kerjasama lintas sektoral menerus dan berkesinambungan.
penanganan TB belum
dilaksanakan, anggaran DAFTAR PUSTAKA
penanganan TB masih sangat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
terbatas, SOP penanganan TB Tengah, 2013. Buku Saku
belum ada atau yang ada tingkat Kesehatan Triwulan 3 Tahun
kepatuhannya belum sesuai yang 2013.
diharapkan. Penyebab yang Dinas Kesehatan Kabupaten
mendasar adalah regulasi atau Kebumen 2011. Profil
peraturan daerah dan kebijakan Kesehatan Kabupaten
dasar penanggulangan penyakit Kebumen Tahun 2012.
menular secara komprehensif di Dinas Kesehatan Kabupaten
Kabupaten Kebumen belum ada Kebumen 2012. Profil
Rekomendasi Rekomendasi terdiri Kesehatan Kabupaten
dari tiga hal yaitu : Kebumen Tahun 2013.
Penanggulangan TB di Dinas Kesehatan Kabupaten
daerah merupakan tanggungjawab Kebumen 2013. Profil
bersamasama maka diupayakan Kesehatan Kabupaten
adanya rencana aksi utama yang Kebumen Tahun 2014.
dilakukan secara koprehensif oleh Harry Budiman. 2011. Analisis
penderita TB Paru, Keluarga dan Pelaksanaan Advokasi,
PMO, Stakeholders, Petugas Komunikasi dan Mobilisasi
Kesehatan dan Sosial dalam Pengendalian
Dinkes/Bappeda/Bupati/DPRD. Tuberkulosis di Dinas
Dalam melaksanakan Kesehatan Kota Padang
program penanganan dan tahun 2011.
pengendalian TB di Kabupaten http://www.pasca.unand.ac.
Kebumen hendaknya id
mengembangkan jaringan Kemenkes RI, 2011. Rencana Aksi
kemitraan berdasarkan skema Nasional Strategi Nasional
prioritas. Prioritas pertama yaitu Pengendalian Tuberkulosis
pemerintah daerah, DPRD 2011-2014. Jakarta:
terutama dalam memberikan Direktorat Jenderal
dukungan politik untuk Pengendalian Penyakit dan
meningkatkan komitmen semua Penyehatan Lingkungan.
pihak. Prioritas kedua adalah Kemenkes RI, 2011. Rencana Aksi
masyarakat peduli TB paru melalui Nasional Publik Private Mix
berbagai upaya pemberdayaan Pengendalian Tuberkulosis
masyarakat dalam semua bidang. 2011-2014. Jakarta:
Prioritas ketiga adalah pengelola Direktorat Jenderal

50
Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan, Volume13, No. 1February 2017

Pengendalian Penyakit dan Sosial dalam Pengendalian


Penyehatan Lingkungan. Tuberkulosis di Dinas
Makalah pelatihan Analisa Situasi, Kesehatan Kota Padang
2013, Bappenas-Pimpinan tahun 2011.
Pusat Muhammadiyah http://www.pasca.unand.ac.
Moleong, 2010. Metode Penelitian id
Kualitatif. Jakarta: PT Raja Kemenkes RI, 2011. Rencana Aksi
Grafindo Persada Nasional Strategi Nasional
Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Pengendalian Tuberkulosis
Kesehatan – Teori dan 2011-2014. Jakarta:
Aplikasi. Jakarta: Rineka Direktorat Jenderal
Cipta Pengendalian Penyakit dan
Rikesdas. 2010. Tuberkulosis. Penyehatan Lingkungan.
http://www.tbcindonesia.or.i Kemenkes RI, 2011. Rencana Aksi
d Nasional Publik Private Mix
Rencana Pembangunan Jangka Pengendalian Tuberkulosis
Menengah Daerah 2011-2014. Jakarta:
Kabupaten Kebumen Direktorat Jenderal
Rencana Pembangunan Jangka Pengendalian Penyakit dan
Panjang Daerah Kabupaten Penyehatan Lingkungan.
Kebumen Makalah pelatihan Analisa Situasi,
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa 2013, Bappenas-Pimpinan
Tengah, 2013. Buku Saku Pusat Muhammadiyah
Kesehatan Triwulan 3 Tahun Moleong, 2010. Metode Penelitian
2013. Kualitatif. Jakarta: PT Raja
Dinas Kesehatan Kabupaten Grafindo Persada
Kebumen 2011. Profil Notoatmodjo, S. 2005. Promosi
Kesehatan Kabupaten Kesehatan – Teori dan
Kebumen Tahun 2012. Aplikasi. Jakarta: Rineka
Dinas Kesehatan Kabupaten Cipta
Kebumen 2012. Profil Rikesdas. 2010. Tuberkulosis.
Kesehatan Kabupaten http://www.tbcindonesia.or.i
Kebumen Tahun 2013. d
Dinas Kesehatan Kabupaten Rencana Pembangunan Jangka
Kebumen 2013. Profil Menengah Daerah
Kesehatan Kabupaten Kabupaten Kebumen
Kebumen Tahun 2014. Rencana Pembangunan Jangka
Harry Budiman. 2011. Analisis Panjang Daerah Kabupaten
Pelaksanaan Advokasi, Kebumen
Komunikasi dan Mobilisasi

51