Anda di halaman 1dari 6

Nama :Agnes Apria Simanjuntak

N I M : 25010116120053
Epidemiologi dan Penyakit Tropik 2019

TUGAS RODENTOLOGI
Pak Sopian, SP., MSc

1. Apakah tikus melakukan grooming? Berikan Alasan


Ya, tikus melakukan grooming. Grooming merupakan suatu kegiatan
membersihkan tubuh sendiri atau tubuh individu lainnya, kadang-kadang grooming
dilakukan untuk memberi perhatian dan kasih sayang. Berdasarkan pengamatan yang
dilakukan oleh peneliti, tikus melakukan grooming ketika selesai melakukan beberapa
aktivitas, seperti setelah bangun tidur, saat tubuh tikus basah, selesai makan, buang air,
selesai menyusui, dan bermain. Kegiatan grooming dilakukan dengan menjilat kedua kaki
depan lalu mengusap muka dengan kedua kaki depan, menjilati perut, putting, tubuh,
kaki, alat kelamin, ekor dan seluruh tubuh. Pada organ tubuh yang sulit dijangkau,
grooming dilakukan dengan menjilat kaki depan hingga basah, kemudian diusapkan ke
tubuh yang akan dibersihkan (yang akan dilakukan grooming). Total waktu yang
digunakan untuk grooming adalah 90 menit (23,94%) pada malam, hari dan 105 menit
(14%) pada siang hari.

Kegiatan grooming dengan tius lain


Kegiatan grooming dengan menjilat kaki depan

2. Data terkait penyebaran vektor penyakit yang disebabkan oleh tikus (daerah mana saja di
Indonesia) dan penyakit yang terbesar itu apa?
Beberapa penyakit di Indonesia yang disebabkan oleh tikus diantaranya adalah Pes,
Leptospirosis, dan hantavirus. Penyakit ini pernah menjadi wabah di Indonesia, wilayah
persebarannya antara lain:
a. Pes
Pada tahun 1910an penyakit pes pernah menjadi wabah di Indonesia tepatnya di
Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kemudian penyakit ini menewaskan ribuan orang di
wilayah Jawa Timur. Kemudian pada tahun 2007 wabah pes kembali terjadi di
Indonesia yaitu pada daerah Pasuruan, Jawa Timur sebanyak 82 kasus. Selain di
Pasuruan, kasus ini juga terjadi di Boyolali, Jawa Tengah; Sleman, Yogyakarta; dan
Ciwidey, Jawa Barat. Keempat wilayah ini menjadi daerah pengawasan pes di
Indonesia dan masih tetap melakukan surveilans pes. (Adong I,1989)
b. Leptospirosis
Leptospirosis merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah di dunia
karena angka kejadian yang dilaporkan cukup rendah di sebagian besar negara,
sehingga kejadiannya tidak dapat diketahui secara pasti, walaupun demikian didaerah
tropis yang lembab diperkirakan terdapat kasus leptospirosis sebesar 10–30 per
100.000 penduduk per tahun (WHO 2003). Indonesia merupakan salah satu negara
tropis dengan kasus kematian penyakit leptospirosis yang cukup tinggi, yaitu sekitar
2,5% - 16,45% atau rata-rata 7,1% dan menduduki peringkat tiga di dunia
(International Leptospirosis Society, 2005 dalam Rusmini, 2011).
Pada tahun 2011 telah terjadi 690 kasus leptospirosis dengan 62 orang meninggal.
Hal ini jika dibandingkan tujuh tahun sebelumnya Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta yaitu sekitar 539 kasus dengan 40 kematian dan di Provinsi Jawa Tengah
dengan 143 Kasus dengan 20 kematian. Untuk di Provinsi Yogyakarta khususnya di
Kabupaten Bantul telah dinyatakan KLB (Kasus Luar Biasa) leptospirosis sejak
tanggal 24 Januari 2011 hal ini berdasarkan Surat Bupati Bantul Nomor 31/ Tahun
2011. KLB ini ditetapkan karena Wabah penyakit ini dalam beberapa tahun telah
menyerang warga dikabupaten Bantul. Kurun waktu tahun 2010 hingga awal bulan
November 2014 sudah ada 466 kasus, 38 diantaranya meninggal dunia karena
terjangkit leptospirosis. Jumlah penderita penyakit leptospirosis di Indonesia dari
tahun 2004 sampai tahun 2011 cenderung meningkat.
Leptospirosis di Indonesia tersebar antara lain di Propinsi Jawa Barat, Jawa
Tengah, DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Riau, Sumatera
Barat, Sumatera Utara, Bali, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan
Timur dan Kalimantan Barat.
c. Hantavirus
Laporan hantavirus pada manusia di Indonesia belum banyak dilaporkan, namun
diketahui bahwa kasus hantavirus pertama di Indonesia dilaporkan pada tahun 2002,
dengan 11 kasus yang mulanya dikira Demam Berdarah Dengue (DBD). Di Semarang
kejadian infeksi virus Hanta pada manusia dilaporkan oleh Suharti dkk (2002), dari
94 sediaan darah kasus yang suspek demam berdarah dengue (DBD), terdapat 10
kasus hasilnya bukan DBD melainkan Demam Berdarah Hanta, dengan pemeriksaan
serologik virus Hanta yang spesifik. Milanti dkk (2005) di Bandung melaporkan dua
penderita demam berdarah yang disangka Demam Berdarah Dengue, ternyata
pemeriksaan antibodi anti-HTV (HantaVirus) menunjukkan hasil yang positif.
Hantavirus di Indonesia tersebar antara lain di wilayah Jawa Timur dan DI
Yogyakarta.
Dari ketiga penyakit yang tersebar di wilayah Indonesia, penyakit yang terbesar
adalah penyakit leptospirosis karena kasusnya masih tinggi dan penyebarannya meliputi
banyak wilayah di Indonesia.

3. Penyakit yang disebabkan oleh tikus itu apa saja?


Tikus berperan sebagai tuan rumah perantara untuk beberapa jenis penyakit yang
dikenal Rodent Borne Disease. Penyakit-penyakit yang tergolong Rodent Borne Disease
antara lain:
a. Penyakit pes (Plague)
Penyakit pes disebabkan oleh Pasteurella pestis/Yersinia pestis yang terdapat
pada pinjal dimana pinjal tersebut berasal dari tikus yang mati. Pinjal dalam
hidupnya memerlukan darah sehingga memungkinkan untuk dapat berpindah ke
tubuh manusia dan jika menggigit manusia maka dapat tertular penyakit pes.
b. Leptospirosis
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira pada tubuh tikus
yang berkembang biak pada ginjal tikus dan kemudian dikeluarkan melalui urine.
Bakteri Leptospira dapat hidup untuk beberapa waktu lama pada tanah lembab,
basah atau air. Penularan kepada manusia terjadi melalui selaput lendir atau luka di
kulit.
c. Scrub typhus
Sama halnya pada pes, Scrub typus tidak hanya melibatkan tikus. Penyakit scrub
typhus disebabkan oleh Rickettsia yang hidup pada salah satu vektor tungau (Mite)
yang bernama Trombiculla akamishi atau Trombiculla deliensis. Pada stadium
dewasa hidupnya bebas di tanah tetapi stadium larva hidup dari darah tikus. Jika
Trombiculla akamishi terkena Rickettsia maka akan berkembangbiak. Larva yang
keluar akan mencari host baru dan larva yang membawa Rickettsia akan menghisap
darah manusia karena tidak menemukan.
d. Murine typhus
Penyebab penyakit ini adalah Rickettsia mooseri, merupakan penyakit yang dekat
hubungannya dengan penyakit pes sehingga kemungkinan infeksinya dapat terjadi
secara bersamaan, karena vektor maupun hostnya juga sama dengan penyakit pes
yaitu Xenopshylla cheopis dan Rattus tanezumi.
e. Rat Bite Fever
Termasuk jenis demam yang disebabkan oleh Spirillum minus yang masuk
melalui gigitan tikus. Penyakit demam tikus lainnya yang disebut sebagai Haverhill
fever yaitu disebabkan oleh Streptobacillus moniliformis. Sumber infeksi berasal dari
air ludah atau cairan hidung tikus yang terinfeksi.
f. Salmononellosis
Penyakit infeksi pada manusia/binatang yang disebabkan oleh bakteri Salmonella
typhimurium, dan dikenal dengan infeksi keracunan makanan. Salmonellosis pada
manusia adalah khas dengan gastroenteritis yang akut, sakit perut, diare, pusing,
muntah-muntah dan demam serta dehidrasi terutama pada bayi. Tikus dapat
menyebabkan infeksi pada manusia melalui kotoran/urine yang mengkontaminasi
makanan.
g. Lymphocytic choriomeningitis
Penyakit virus pada binatang terutama tikus yang dapat ditularkan pada manusia.
Penyakit ini sering dimulai dengan serangan seperti influenza. Penderita dengan
meningo-encephalitis menjadi mengantuk, reflek, terganggu, paralisis dan kulit
sensitive.
h. Hantavirus
Infeksi Hantavirus merupakan salah satu zoonosis yang ditularkan oleh hewan
rodensia (hewan pengerat) ke manusia yang mengakibatkan gangguan bagi kesehatan
masyarakat, terutama di negara berkembang. Gangguan kesehatan pada manusia
dapat berupa kelainan ginjal dan paru-paru, dimulai dengan demam, bintik
perdarahan pada muka, sakit kepala, kemudian hipotensi, oliguria (sedikit buang air
kecil), lalu diuretik (sering buang air kecil). Angka kematian dapat mencapai 12%.
Penyakit ini diketahui setelah ditemukannya kasus infeksi Hantavirus pada lebih dari
3.000 tentara Amerika di Korea pada tahun 1951-1954 dan kemudian menyebar ke
Amerika, yang menyebabkan banyak kematian akibat gagal jantung. Sejak saat itu
infeksi Hantavirus menarik perhatian dunia. Hantavirus pertama kali diisolasi pada
tahun 1976, yang kemudian dapat diidentifikasi beberapa strain/galur/serotype
Hantavirus lainnya. Sebanyak 22 Hantavirus bersifat patogen bagi manusia, serta
terdiri dari dua tipe penyakit, yaitu tipe Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome
(HFRS) dan tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS).

Referensi:
1. Ristiyanto, Wibawa T, Budiharta S, Supargiono. PREVALENSI TIKUS TERINFEKSI
Leptospira interogans DI KOTA SEMARANG, JAWA TENGAH PREVALENCE OF
INFECTED RATS WITH Leptospira interrogans IN SEMARANG CITY, CENTRAL
JAVA. Vektora [Internet]. 2015;7(2):85–92. Available from: ejournal.litbang.depkes.go.id
2. Adong I. Pemberantasan Serangga Dan Binatang Pengganggu. Jakarta: Departemen
Kesehatan; 1989.
3. Priyambodo Swastiko, 2003, Pengendalian Hama Tikus Terpadu, Jakarta: Swadaya.
4. Armando R. 2016. Pengaruh kondisi habitat kelapa sawit (Elaeis guineensis JACQ)
terhadap artropoda dan hama tikus [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
5. http://eprints.ums.ac.id/37635/2/4.%20BAB%20I_E100130091.pdf
6. Anonim. Penyakit Pes, Salah Satu Penyakit Akibat Tikus. [internet] 2012. Diakses pada
25 Desember 2013. Ditelusuri dari http://www.pengusir Tikuextro.com//penyakit-pes-
salahsatu-penyakit-akibat-tikus/.
7. Sendow I, Dharmayanti. Infeksi Hantavirus: Penyakit Zoonosis yang Perlu Diantisipasi
Keberadaannya di Indonesia.2016. Bogor: Balai Besar Penelitian Veteriner