Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

PENGENDALIAN VEKTOR
“DIKLORVOS”

Oleh:
AGNES APRIA SIMANJUNTAK
25010116120053

PEMINATAN EPIDEMIOLOGI DAN PENYAKIT TROPIK


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
DAFTAR ISI

COVER……………………………………………………………………………………………1
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………2

BAB I .............................................................................................................................................. 3

PENDAHULUAN .......................................................................................................................... 3

1. Latar Belakang ..................................................................................................................... 3

2. Tujuan .................................................................................................................................. 5

3. Manfaat ................................................................................................................................ 5

BAB II............................................................................................................................................. 5

TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................................................. 5

2. Insektisida Diklorvos ........................................................................................................... 6

3. Formulasi Diklorvos ............................................................................................................ 8

4. Cara kerja ............................................................................................................................. 9

5. Susunan kimia .................................................................................................................... 10

6. Dosis .................................................................................................................................. 11

7. Serangga sasaran ................................................................................................................ 11

8. Efektifitas ........................................................................................................................... 11

9. Efek samping ..................................................................................................................... 12

BAB III ......................................................................................................................................... 14

PENUTUP..................................................................................................................................... 14

1. Kesimpulan ........................................................................................................................ 14

2. Saran .................................................................................................................................. 14

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 15


BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Serangga merupakan hewan yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
manusia. Serangga mempunyai peranan positif terhadap manusia, namun tidak sedikit juga
serangga yang merugikan manusia, termasuk dalam bidang pertanian dan kesehatan. Dalam
pertanian untuk memberantas serangga para petani menggunakan pestisida. Pestisida telah
secara luas digunakan untuk tujuan memberantas serangga dan penyakit tanaman dalam
bidang pertanian. Dan di bidang kesehatan pestisida digunakan untuk memberantas serangga
yang menjadi vektor penularan penyakit. Penggunaan pestisida di rumah tangga digunakan
untuk memberantas nyamuk, kepinding, kecoa dan berbagai serangga pengganggu lainnya.
Pestisida (sida, cide = racun) sampai kini masih merupakan salah satu cara utama yang
digunakan dalam pengendalian hama. Yang dimaksud hama di sini adalah sangat luas, yaitu
serangga, tungau, tumbuhan pengganggu, penyakit tanaman yang disebabkan oleh fungi
(jamur), bakteria dan virus, kemudian nematoda (bentuknya seperti cacing dengan ukuran
mikroskopis), siput, tikus, burung dan hewan lain yang dianggap merugikan.

Di Indonesia pestisida banyak digunakan baik dalam bidang pertanian maupun kesehatan.
Di bidang pertanian pemakaian pestisida dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pangan.
Banyaknya frekuensi serta intensitas hama dan penyakit mendorong petani semakin tidak
bisa menghindari pestisida. Di bidang kesehatan, penggunaan pestisida merupakan salah satu
cara dalam pengendalian vektor penyakit. Pengguaan pestisida dalam pengendalian vektor
penyakit sangat efektif diterapkan terutama jika populasi vektor penyakit sangat tinggi atau
untuk menangani kasus yang sangat menghawatirkan penyebarannya.

Pengendalian serangga vektor penyakit yang paling efektif dan populer adalah
penggunaan insektisida. Survei dilakukan di masyarakat dan supermarket untuk mengetahui
jenis-jenis insektisida yang digunakan oleh masyarakat. Berdasarkan hasil survei, insektisida
rumah tangga terkemas dalam berbagai formulasi antara lain liquid, mosquito coil, aerosol,
mat & liquid vaporizer, kapur serangga dan kertas bakar. Disamping formulasi, bahan aktif
dan konsentrasi yang digunakan juga bermacam-macam. Hampir semua produk insektisida
rumah tangga di pasaran menggunakan bahan aktif golongan piretroid sintetik. Pemilihan
insektisida rumah tangga hendaknya disesuaikan dengan jenis serangga sasaran karena tiap
jenis bahan aktif dan formulasi memiliki kelebihan dan kekurangan. Efikasi berbagai bahan
aktif dalam berbagai formulasi telah banyak diteliti dan hasilnya sangat bervariasi. Efikasi
insektisida dipengaruhi oleh jenis bahan aktif, dosis, konsentrasi, formulasi, dan kepekaan
spesies serangga, suhu, sinar matahari, angin, serta cara pengaplikasian.

Insektisida (racun serangga) dalam kehidupan sehari-hari dibagi menjadi 3 golongan,


yaitu organofosfat, carbamat dan organoklorin . Organofosfat adalah insektisida yang berada
pada level pertama sebagai insektisida paling toksik diantara jenis pestisida lainnya dan
memiliki banyak kasus keracunan pada manusia.

Pestisida organofosfat masuk ke dalam tubuh, melalui alat pencernaan atau digesti,
saluran pernafasan atau inhalasi dan melalui permukaan kulit yang tidak terlindungi atau
penetrasi. Pengukuran tingkat keracunan berdasarkan aktifitas enzim kholinesterase dalam
darah, penentuan tingkat keracunan adalah sebagai berikut ; 75% - 100% katagori normal;
50% - < 75% katagori keracunan ringan; 25% - <50% katagori keracunan sedang; 0% -
<25% katagori keracunan berat.

Salah satu jenis pestisida organofosfat adalah diklorvos. Diklorvos merupakan


organofosfat sangat mudah menguap, banyak digunakan sebagai insektisida untuk
mengendalikan hama rumah tangga, dalam kesehatan masyarakat, dan melindungi produk
yang disimpan dari serangga. Pestisida ini adalah zat yang berbahaya yang dapat membunuh
nyamuk. Zat diklorvos termasuk salah satu pestisida handalan dalam membasmi hama,
karena itu diklorvos digunakan dalam produk-produk pembasmi nyamuk dan serangga yang
sering berkeliaran dalam rumah. Daya kerjanya cukup mengagumkan, sekali semprot
puluhan nyamuk dan serangga tewas, namun Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
(YLKI) menyatakan bahwa pestisida adalah racun pembasmi hama, jadi sudah pasti termasuk
kelompok B3 yakni Bahan Beracun dan Berbahaya. Berhubung diklorvos termasuk jenis
pestisida, maka obat anti nyamuk yang mengandung diklorvos tentu beracun dan berbahaya.
Sekarang pestisida ini sudah dilarang digunakan untuk peptisida rumah tangga. (Permentan
No 24/Permetan/SR.140/4/2011 tentang Syarat dan Tata Cara Pendaftaran Pestisida).
Mengingat bahayanya penggunaan organofosfat golongan diklorvos di masyarakat dan
cukup banyaknya kejadian keracunan baik karena salah penggunaan, oleh karena itu, penulis
tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai insektisida diklorvos dan aplikasinya dalam
pengendalian vektor.

2. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah

1. Mengetahui secara mendalam mengenai diklorvos sebagai salah satu insektisida jenis
organofosfat yang digunakan dalam pengendalian vector dan aplikasinya.
2. Mengetahui efektifitas diklorvos dalam upaya pengendalian vektor.
3. Mengetahui efek yang ditimbulkan dari insektisida berbahan aktif diklorvos.

3. Manfaat
1. Memberikan informasi mengenai insektisida diklorvos serta pengaplikasiannya dalam
pengendalian vektor.
2. Memberikan informasi mengenai efektivitas diklorvos terhadap serangga dan hama.
3. Memberikan informasi mengenai efek yang ditimbulkan dari insektisida berbahan
sipemetrin.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengendalian Vektor
Pengendalian vektor berdasarkan permenkes nomor 374 tahun 2010 diartikan sebagai
semua kegiatan atau tindakan yang ditujukan untuk menurunkan populasi vektor serendah
mungkin sehingga keberadaannya tidak lagi berisiko untuk terjadinya penularan penyakit
tular vektor di suatu wilayah atau menghindari kontak masyarakat dengan vektor sehingga
penularan penyakit tular vektor dapat dicegah.

Pestisida adalah subtansi yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai
hama. Pestisida berasal dari kata pest, yang berarti hama dan sida yang berasal dari kata
caedo berarti pembunuh. Pestisida dapat diartikan secara sederhana sebagai pembunuh hama.
USEPA dalam Soemirat menyatakan pestisida sebagai zat atau campuran zat yang digunakan
untuk mencegah memusnahkan, menolak, atau memusuhi hama dalam bentuk hewan,
tanaman, dan mikroorganisme pengganggu. Pestisida adalah racun yang sengaja dibuat oleh
manusia untuk membunuh organisme pengganggu tanaman dan insekta penyebar penyakit
(Soemirat, 2003).

Salah satu pestisida yang dapat digunakan untuk pengendalian vektor adalah diklorvos.
Diklorvos sangat baik dalam penggunaan thermal fogging out door dan dapat membunuh
100% nyamuk Aedes aegypti di daerah pinggiran kota Bangkok. Dengan dosis 343 gram
a.i./ha. Namun di beberapa Negara, termasuk Indonesia, bahan aktif ini sudah dilarang
penggunaannya, terutama dalalm rumah tangga. Penggunaan pestisida ini efektif terhadap
jamur lalat, kutu daun, tungau laba-laba, ulat, thrips, dan lalat putih dalam rumah kaca, buah
luar, dan tanaman sayuran.

2. Insektisida Diklorvos

Diklorvos atau 2,2-dichlorovinyl dimethyl phosphate (DDVP) adalah organofosfat sangat


mudah menguap yang banyak digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan hama
rumah tangga, dalam kesehatan masyarakat, dan melindungi produk yang disimpan dari
serangga. Diklorvos adalah salah satu jenis insektisida organophosphate (OP) yang secara
luas digunakan di negara-negara berkembang, namun diketahui sangat toksik dengan
konsekuensi bahaya yang sangat tinggi pada aplikator/pengguna langsung.
Diklorvos telah digunakan sejak tahun 1955, untuk aplikasi pada bidang pertanian dan
hortikultur, peternakan, kedokteran hewan (kontrol kutu anjing, kutu kucing dan kutu ikan
salmon/salmon lice). Juga digunakan sebagai aerosol penyemprot serangga. Di Negara-
negara berkembang selain sebagai insektisida pada tanaman sayuran, buah-buahan, padi, juga
pada tanaman kapas, kopi, teh, kakao, pisang, tembakau dan tanaman rempah-rempah karena
penggunaan pestisida ini juga efektif terhadap jamur lalat, kutu daun, tungau laba-laba, ulat,
thrips, dan lalat putih dalam rumah kaca, buah luar, dan tanaman sayuran.

Diklorvos juga digunakan dalam industri penggilingan penanganan dan biji-bijian dan
untuk mengobati berbagai infeksi cacing parasit pada anjing, ternak, dan manusia. Ini diberi
makan kepada ternak untuk mengontrol bot larva lalat di pupuk kandang. DDVP dilarang
pertama kali pada tahun 1981 oleh Amerika Serikat Environmental Protection Agency. Sejak
saat itu meskipun telah dilarang beberapa kali, tetapi tetap saja diklorvos dapat diakses.

Dulu diklorvos merupakan salah satu pestisida handalan dalam membasmi hama. Karena
itu diklorvos digunakan dalam produk-produk pembasmi nyamuk dan serangga dalam
rumah. Daya kerjanya cukup mengagumkan. Sekali semprot puluhan nyamuk dan serangga
tewas. Namun Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyatakan bahwa pestisida
ini merupakan pestisida kelompok B3 yakni Bahan Beracun dan Berbahaya. Berhubung
diklorvos termasuk jenis pestisida, maka obat anti nyamuk yang mengandung diklorvos tentu
beracun dan berbahaya pula. Kekhawatiran YLKI ini sejalan dengan hasil telaah WHO,
Badan Kesehatan Dunia ini menyatakan diklorvos (dichlorvos) termasuk bahan berbahaya
racun tinggi. Jenis bahan aktif ini dapat merusak sistem saraf, mengganggu sistem pernapasa
dan jantung.

Penelitian lebih lanjut mengungkapkan diklorvos sangat berpotensi menyebabkan kanker,


menghambat pertumbuhan organ, serta kematin janin. Diklorvos juga merusak kemampuan
reproduksi dan merusak produksi dan kualitas ASI. Tidak hanya berdampak buruk bagi
manusi tetapi pada lingkungan juga. Bahan aktif jenis diklorvos menimbulkan gangguan
yang cukup serius pada hewan maupun tumbuhan, sebab bahan ini memerlukan waktu yang
lama untuk dapat terurai baik di udara, air maupun tanah. Atas dasar fakta-fakta inilah sejak
April 2004 pestisida diklorvos dilarang beredar di pasaran. Produsen obat antinyamuk yang
sudah telanjur menggunakan diklorvos diharuskan menarik produknya dan boleh beredar
kembali setelah mengganti komposisi kandungannya dengan formula baru tanpa diklorvos.
Beberapa produsen mematuhinya, namun ada juga yang tetap menggunakan diklorvos,
seperti PT Megasari Makmur (MM) yang merupakan produsen HIT. Diam-diam selama 2
tahun perusahaan ini tetap memproduksi obat antinyamuk dengan diklorvos.

Diklorvos sebagai insektisida dengan aksi pada kontak, pernafasan/inhalasi maupun pada
lambung dapat menghambat produksi enzim cholinesterase, yang mengganggu system syaraf
dan otot. Diklorvos telah dibatasi penggunaannya di Korea Selatan, Vietnam dan Indonesia
karena seringnya menimbulkan dampak keracunan bagi penggunanya. Diklorvos juga
diketahui dapat menjadi toksik bagi ikan dan arthropoda laut, juga pada burung laut.

3. Formulasi Diklorvos

Formulasi adalah bentuk akhir hasil olahan bahan teknis suatu insektisida (Dirjen P2PL,
2012). Menurut Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia (Permentan RI) No.35 tahun
2015, formulasi adalah campuran bahan aktif dengan bahan tambahan dengan kadar dan
bentuk tertentu yang mempunyai daya kerja sebagai pestisida sesuai dengan tujuan yang
direncanakan. Baik bahan aktif maupun bahan tambahan lainnya merupakan jenis komponen
formulasi yang aman baik terhadap lingkungan maupun penggunanya.

Dalam formulasi insektisida yang dapat membunuh serangga disebut active agent. Bahan
ini dicampur sehingga dapat dikemas dan kemudian diencerkan dengan bahan carrier atau
pembawa. Nama komersial disesuaikan dengan perusahaan yang memproduksinya.
Sedangkan mengenai toksisitas insektisida dikenal dua istilah LC50 dan LD50. LC50 (lethal
concentration) adalah konsentrasi yang diperlukan untuk membunuh 50% populasi serangga
atau binatang lain. Sedangkan LD50 adalah jumlah insektisida yang diperlukan untuk
membunuh 50% populasi suatu hewan target, yang diekspresikan dalam mg/ kg berat badan
hewan tersebut.

Dichlorvos adalah insektisida yang merupakan cairan tidak berwarna yang pekat. Baunya
harum dan bercampur dengan air. Dichlorvos digunakan dalam pengendalian hama
diencerkan dengan bahan kimia dan digunakan dengan penyemprotan.
Tingkat diklorovos di udara berbahaya bagi kehidupan dan kesehatan (IDLH) adalah 200
mg / m3. OSHA PEL dan ACGIH keduanya diatur pada 1 mg / cu m, dengan indikasi bahwa
kontak kulit dihindari. Dichlorvos tidak akan mudah menyala (titik nyala> 175 derajat C cup
terbuka), tetapi akan terbakar dengan kemungkinan pelepasan gas dan uap beracun seperti
hidrogen klorida, kabut asam fosfat, dan karbon monoksida. Untuk kebakaran kecil yang
melibatkan dichlorvos, padam dengan bahan kimia kering, CO2, semprotan air, busa, dan
untuk kebakaran besar, gunakan semprotan air, kabut, atau busa. Limpasan dari pengendalian
air kebakaran dapat menyebabkan keracunan atau menyebabkan polusi air dan karenanya,
harus digunakan untuk pembuangan selanjutnya. Dichlorvos harus disimpan di tempat yang
dingin (<80 derajat F) dan kering (untuk menghindari hidrolisis); jauh dari asam kuat dan
alkali. Fakta bahwa Dichlorvos bersifat Korosif terhadap Besi dan Baja Ringan harus
dipertimbangkan.

4. Cara kerja

Pekerja yang memproduksi atau menggunakan diklorvos dapat bernafas dalam kabut atau
kontak langsung dengan kulit. Populasi umum dapat terpapar oleh residu pada makanan yang
diolah, uap di udara dekat lokasi aplikasi, dan paparan kulit dengan produk yang digunakan
di rumah. Jika diklorvos dilepaskan ke lingkungan, ia akan dipecah di udara melalui reaksi
dengan radikal hidroksil dan nitrat. Itu bisa rusak di udara oleh sinar matahari. Ini akan
menguap perlahan ke udara dari permukaan tanah dan air yang lembab. Diharapkan untuk
bergerak cukup mudah melalui tanah. Ini akan dipecah oleh mikroorganisme, dan tidak
diperkirakan menumpuk pada ikan.

Insektisida mengalami proses biotransformation di dalam darah dan hati. Cara kerja dan
pengaruh insektisida datam tubuh serangga dibagi dalam 5 (lima) kelompok, yaitu:

l) mempengaruhi sistem saraf


2) menghambat produksi energi,
3) mempengaruhi sistem endokrin,
4) menghambat produksi kutikula, dan
5) menghambat keseimbangan air (Tanjung, 2009).
Diklorvos termasuk golongan organofosfat parasimpatomimetik, yang berarti
berikatan irreversibel dengan enzim kolinesterase pada sistem saraf serangga.
Akibatnya, otot tubuh serangga mengalami kejang, kemudian lumpuh, dan akhirnya
mati.

5. Susunan kimia

Diklorvos merupakan insektisida yang digunakan dengan cara penyemprotan


dalam bentuk aerosol, dengan penyemprotan memungkinkan insektisida berada lama di
udara, sehingga cukup waktu untuk mengadakan kontak dengan sejumlah besar
serangga yang dituju. Diklorvos atau 2,2-dichlorovinyl dimethyl phosphate (DDVP).
Mempunyai rumus molekul C4H7Cl2O4P. Beberapa sifat-sifat kimia lain adalah sebagai
berikut:
Titik didih: 74,1°C
Massa molar: 220,98 g/mol
Struktur kimia :
6. Dosis

Dichlorvos adalah senyawa yang sangat beracun dengan kemungkinan dosis oral
mematikan pada manusia antara 50-500 mg / kg, atau antara 1 sendok the-1 ons. untuk
orang yang punya berat badan 70 kg (150 lb.). Namun, paparan singkat (30-60 menit)
pada konsentrasi uap setinggi 6,9 mg / liter tidak menghasilkan tanda-tanda klinis atau
tingkat serum cholinesterase yang tertekan. Perubahan toksik adalah tipikal keracunan
insektisida organofosfat yang berkembang menjadi gangguan pernapasan, kelumpuhan
pernapasan, dan kematian jika tidak ada intervensi klinis. (EPA, 1998).

Insektisida ini digunakan dengan cara penyemprotan pada tanaman atau pada
target serangga yang ingin disemprot. Tingkat diklorovos di udara berbahaya bagi
kehidupan dan kesehatan (IDLH) adalah 200 mg / m3. OSHA PEL dan ACGIH keduanya
diatur pada 1 mg / cu m, dengan indikasi bahwa kontak kulit dihindari. Diklorvos
memiliki efek knockdown yang sangat cepat dan digunakan di bidang-bidang pertanian,
kesehatan masyarakat, serta insektisida rumah tangga.LD50 (tikus) sekitar 50 mg/kg;
LD50 dermal (tikus) 90 mg/kg.

7. Serangga sasaran

Diklorvos digunakan untuk pengendalian serangga di area penyimpanan


makanan, rumah hijau, dan lumbung, dan kontrol serangga pada ternak. Ini umumnya
tidak digunakan pada tanaman outdoor. Dichlorvos kadang-kadang digunakan untuk
pengendalian serangga di tempat kerja dan di rumah. Dokter hewan menggunakannya
untuk mengendalikan parasit pada hewan peliharaan. dari Portal Zat Beracun CDC-
ATSDR Bahaya utama ditemukan dalam penggunaan dan penanganan batang diklorvos
dari sifat toksikologiknya sebagai pestisida organofosfat.

8. Efektifitas

Penggunaan diklorvos sangat efektif karena:

1. Hasilnya langsung terlihat. Semua serangga mati setelah kontak langsung


dengan zat aktif;
2. Bahkan setelah diproses, efisiensinya tidak menurun. Obat meninggalkan film
tak terlihat di permukaan, saat kontak dengan serangga yang tersisa mati;

3. Setelah memproses tempat di furnitur, dinding dan benda-benda interior, tidak


ada jejak;

4. Dichlorvos tersedia untuk hampir semua orang, karena harganya relatif


rendah;

5. Dalam satu tabung ada banyak cairan. Ini memungkinkan untuk menghemat
obat;

6. Dapat menghancurkan banyak hama domestic, contohnya kecoa

7. Efektif tidak hanya untuk bangunan tempat tinggal, namun juga efektif
digunakan untuk desinfeksi tempat industri;

8. Alat penyemprot dapat mencegah pemborosan dana yang berlebihan.

Namun ada terdapat kelemahan pestisida ini, yaitu toksisitasnya. Pengguna tidak
dapat melakukan penyemprotan di hadapan hewan dan manusia karena dapat menimbulkan
kesakitan bahkan kematian jika terhirup ataupun terjadi kontak langsung dengan kulita dan
mata. Dan produk juga dapat membahayakan tanaman rumah, sehingga mereka juga perlu
dibawa keluar ruangan.

9. Efek samping
Insektisida jenis diklorvos memiliki beberapa efek samping terhadap kesehatan
yaitu racun insektisida ini akan menyasar sistem saraf pusat, sistem imun, kelenjar
adrenalin, hati, darah, mata, kulit, sistem pernapasan. Jika terhirup, dapat menyebabkan
keracunan organofosfat dengan gejala sakit kepala, mual, muntah, penglihatan buram,
sesak pada dada, salivasi, mulut berbusa, konvulsi, koma, dan kematian. Kontak langsung
dengan diklorvos dapat menyebabkan luka bakar pada kulit dan mata. Apabila terkontak
dengan mata Diklorvos dapat diabsorbsi dengan cepat melalui permukaan mata. Kontak
langsung dengan mata dapat menimbulkan iritasi. Miosis awal dan penglihatan dapat
menjadi buram. Jika bahan yang terkena mata dalam konsentrasi pekat, maka dapat pula
menimbulkan efek kolinergik sistemik. Jika insektisida ini tertelan maka dapat
mengakibatkan Salivasi, mual, muntah, diare, nyeri perut, kram perut (BPOM, 2014).

Sedangkan efek paparan jangka panjang diklorvos, jika terhirup paparan jangka
panjang atau berulang dapat menyebabkan perubahan tingkah laku serta menimbulkan
gangguan pada hati. Sedangkan apabila terkontak dengan kulit, paparan berulang atau
jangka panjang dapat menyebabkan sensitisasi kulit, kulit kering dan pecah-pecah
(BPOM, 2014).

Untuk menghindari paparan kulit, kenakan baju yang terbuat dari kain ketat atau
polivinil klorida, sarung tangan, sepatu bot karet (beberapa bentuk karet diserang oleh
diklorvos), dan pelindung wajah atau kacamata anti percikan. Untuk menghindari
penghirupan, gunakan respirator udara yang disediakan oleh facepiece atau alat bantu
pernapasan mandiri. Pakaian yang menjadi terkontaminasi dengan dichlorvos harus
segera dihapus dan segera terkontaminasi dengan sabun dan air. Lindungi dari paparan
orang di bawah 18 tahun, ekspektasi, pecandu alkohol, mereka yang memiliki penyakit
SSP, sistem pernapasan, hati, ginjal, atau mata.
BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan

Diklorvos temasuk kelompok insektisida organofosfat yang dipergunakan secara luas


untuk membasmi serangga dalam bidang kesehatan, pertanian, peternakan dan rumah tangga,
dan mempunyai daya racun yang tinggi. Diklorvos memiliki rumus molekul C4H7Cl2O4P.
Insektisida ini disukai para petani karena memiliki efek knockdown yang sangat cepat. Bahkan
dulu dapat membunuh nyamuk hanya dengan sekali semprot. Namun, penggunaannya sudah
dilarang penggunaannya terutama dalam rumah tangga karena termasuk dalam golongan
pestisida yang berbahaya sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian pada
penggunanya.

2. Saran

Penggunaan pestisida tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Dalam menggunakannya


harus memperhatikan prosedur dan dosis yang seharusnya. Dan perlu diperhatikan bagi para
pengguna diklorvos agar memahami risiko atau efek samping dari penggunaan pestisida ini.
DAFTAR PUSTAKA

1. "Dichlorvos". Immediately Dangerous to Life and Health Concentrations


(IDLH). National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH).
2. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/dichlorvos#section=Information-Sources
3. http://eprints.undip.ac.id/43729/3/ARWIN_ARDIYANTO_G2A009002_BAB2KTI.pdf
4. https://nj.gov/health/eoh/rtkweb/documents/fs/0674.pdf
5. https://toxnet.nlm.nih.gov/cgi-bin/sis/search2/r?dbs+hsdb:@term+@rn+@rel+62-73-7
6. https://docplayer.info/43418993-Pengenalan-keracunan-pestisida-golongan-organofosfat-
pada-ruminansia.html
7. https://id.bestinsectkiller.com/dichlorvos-an-effective-remedy-against-cockroaches-and-other-
insects-845244#menu-3