Anda di halaman 1dari 2

Oleh : Muhammad Badrushshalih

GCS (Glasgow Coma Scale) merupakan suatu skala yang digunakan untuk menilai tingkat kesadaran

pasien dengan menilai respon pasien terhadap rangsangan yang diberikan. Rangsangan yang

diberikan berbagai hal dengan memperhatikan 3 reaksi yang terdiri dari reaksi membuka mata (Eye

(E)), respon verbal (V) bicara dan gerakan motorik.

Eye (respon membuka mata) :

Respon membuka mata ini merupakan respon awal ketika kita bertemu dengan klien. Respon yang

diharapkan ada pada pasien ialah bagaimana reflek membuka mata klien. Apakah ia akan spontan

membuka mata tanpa harus dipanggil namanya, disentuh atau diberikan cubitan. Untuk nilai dari

respon ini kita nilai (4) atau respon spontan. Apabila mata terbuka dengan rangsang suara, seperti

kita memanggil nama klien, maka kita kasih nilai respon E nilai (3). Apabila klien dapat membuka

mata ketika kita beri rangsang nyeri, (misalkan dengan menekan kuku jari) maka nilai E klien (2).

Ketika tidak ada respon sama sekali, maka kita beri nilai E (1), tidak ada respon.

Verbal (respon verbal)

Setelah reflek membuka mata kita kaji, maka penilaian selanjutnya ialah bagaimana kita menilai

respon verbal klien. Ketika klien dapat mengetahui dimana dia berada, siapa dirinya, kjalimat yang

diucapkan baik, orientasi baik, maka kita nilai respon verbal dengan angka (5) . Apabila klien bingung,

berbicara mengacau (sering bertanya berulang-ulang) disorientasi tempat dan waktu, maka nilai

respon verbal kita beri nilai (4) . Untuk nilai (3) kita beri ketika klien berbicara tidak jelas (tapi kata-

kata masih jelas, namun tidak dalam satu kalimat) dan hanya mengungkapkan kata singkat seperti

“aduh…, bapak…”. Apabila klien lebih banyak mengerang atau mengeluarkan suara tanpa arti, maka

kita nilai respon verbal klien (2). Ketika masih saja tidak ada respon, maka kita beri nilai verbal klien

1.

Motor (respon motorik)

Respon motorik ini harap dibedakan dengan penilaian kekuatan otot ya. Pemeriksaan ini kembali lagi
saya ingatkan hanya digunakan untuk mengetahui tingkat kesadaran klien dengan memantau respon

motorik klien. Ketika klien diperintahkan untuk melakukan apa yang kita inginkan, seperti

memintanya untuk mengangkat tangan, atau ketika kita datang kemudian kita memberikan tangan

kita untuk berjabat tangan dengnnya. Kita bisa melihat adakah atau tidak respon klien untuk

melakukan hal tersebut (menjabat tangan kita). Apabila ada atau mengikuti perintah yang kita

berikan, maka kita nilai respon motorik klien (6).

Kita bisa memberikan sebuah stimulus berupa rangsangan nyeri. Ketika klien mampu untuk

melokalisir nyeri dengan cara menjauhkan stimulus saat diberi rangsang nyeri, maka kita memberikan

nilai (5) . Apabila klien menghindar/menarik extremitas atau tubuh yang diberikan stimulus dengan

menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri) kita dapat memberi nilai M (4).

Untuk pemberian nilai M (3), kita dapat melihatnya ketika klien menghindar/menarik extremitas atau

tubuh menjauhi stimulus saat diberi rangsang nyeri dengan adanya respon flexi abnormal (tangan

satu atau keduanya posisi kaku di atas dada & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri). sedangkan

untuk memberikan nilai M (2) didapakan respon klien berupa adanya extensi abnormal (tangan satu

atau keduanya extensi di sisi tubuh, dengan jari mengepal & kaki extensi saat diberi rangsang nyeri).

Ketika klien tidak ada respon, maka kita nilai M (1).

Penilaian GCS

1. Hasil pemeriksaan kesadaran berdasarkan GCS disajikan dalam simbol E…M…V…

2. Selanjutnya nilai-nilai dijumlahkan. Nilai GCS yang tertinggi adalah 15 yaitu E4M6V5 dan terendah

adalah 3 yaitu E1M1V1.

3. Menilai status kesadaran klien

GCS : 14 – 15 = CKR (cidera kepala ringan)

GCS : 9 – 13 = CKS (cidera kepala sedang)

GCS : 3 – 8 = CKB (cidera kepala berat)

< 3 = koma

http://ahmadalfikri.blogspot.com/2009/10/penilaian-gcs.html