2019
PANDUAN
PELAYANAN TB DOTS
DAN MTPTRO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKAYU
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKAYU
Jl. Kol.Wahid Udin Lk.1 Kayuara Kec. Sekayu MUBA 30711
Telp/Fax. 0714 – 321 855 . Email. sekayursud@gmail.com
Website : www.rsudsekayu@mubakab.go.id
i Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
PEDOMAN PELAYANAN KEMOTERAPI
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKAYU
Disusun Oleh :
UNIT KEMOTERAPI RSUD SEKAYU
PEMERINTAH KABUPATEN MUSI BANYUASIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SEKAYU
ii Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Rumah Sakit salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakatmemiliki peran yang sangat pentingdalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Oleh karena itu Rumah Sakit di
tuntut untuk memberikan pelayanan yang bermutu sesuai dengan standar yang
sudah di tentukan. Dengan peningkatan sumber daya manusia terutama tenaga
medis yang handal dan di dukung dengan perkembangan tehnologi kedokteran
yang dapat membantu dalam mendiagnosa serta melakukan terapi lanjutan,
sangat di perlukan dukungan sarana dan prasarana dari Rumah Sakit.
Rumah Sakit Umum Daerah Sekayu salah satu pelayanan tingkat dua
yang berada di wialayah Propinsi Sumatera Selatan tepatnya di wilayah
Kabupaten Musi Banyuasin dengan jumlah penduduk ±700.000 jiwa dan terletak
di perbatasan Propinsi Jambi dan juga di batasi dengan tiga kabupaten tetangga
di wilayah propinsi sumatera selatan. Oleh karena itu dalam memberikan
pelayanan yang bermutu RSUD sekayu harus meningkatkan SDM dan sarana
dan prasarana guna mengurangi angka kematian pada pasien kanker. Salah
satu upaya yang dilakukan adalah dengan mendirikan unit kemoterapi di RSUD
Sekayu.
Kanker adalah suatu keganasan yang terjadi karena adanya sel dalam
tubuh yang berkembang secara tidak terkendali, sehingga pertumbuhannya
menyebabkan kerusakan bentuk dan fungsi dari organ tempat sel tersebut
tumbuh (sjamsuhidajat & De Jong, 2004)
Dalam pelaksanaannya kemoterapi yang di recomendasikan oleh ASCO/
ONS Chemotherapy Administration Safety standards (2009), secara umum
menjelaskan pelaksanaan pemberian kemoterapi meliputi persiapan (tenaga
medis, pasien, obat), peksanaan atau pengelolaan monitoring dan evaluasi.
Salah satu upaya yang di lakukan untuk penanganan pasien kanker yang
memerlukan kemoterapi RSUD sekayu mendirikan Ruang Kemoterapi/ Unit
Kemoterapi. Penetapan Unit pelayanan Kemoterapi di bentuk sesuai dengan
surat Keputusan Direktur No.195/ SK/ RS/ VI/ 2018 tanggal 26 juni 2018. Unit
Pelayanan ini di maksudkan karena terdapatnya beberapa kasus penderita
kanker yang memerlukan pelayanan kemoterapi. Baik itu penderita yang berasal
dari poliklinik RSUD Sekayu maupun rujukan dari luar rumah sakit.
1 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Pencampuran sediaan sitostatika harus dilakukan secara terpusat di
instalasi farmasi rumah sakit untuk menghindari infeksi nosokomial, kontaminasi
sediaan, paparan terhadap petugas dan lingkungan, untuk mencegah kesalahan
dalam pemberian obat, serta untuk menjamin kualitas mutu sediaan.
Pencampuran sediaan steril merupakan rangkaian perubahan bentuk
obat dari kondisi semula menjadi produk baru dengan proses pelarutan atau
penambahan bahan lain yang dilakukan secara aseptis oleh apoteker di sarana
pelayanan kesehatan (ASHP, 1985).Aseptis berarti bebas mikroorganisme.
Teknik aseptis didefinisikan sebagai prosedur kerja yang meminimalisir
kontaminan mikroorganisme dan dapat mengurangi risiko paparan terhadap
petugas. Kontaminan kemungkinan terbawa ke dalam daerah aseptis dari alat
kesehatan, sediaan obat, atau petugas jadi penting untuk mengontrol faktor-
faktor ini selama proses pengerjaan produk aseptis.
Penanganan sediaan sitostatika selain kontaminasi juga memperhatikan
perlindungan terhadap petugas, produk dan lingkungan. Penanganan sediaan
sitostatika yang aman perlu dilakukan secara disiplin dan hati-hati untuk
mencegah risiko yang tidak diinginkan, karena sebagian besar sediaan
sitostatika bersifat:
1. Karsinogenik yang berarti dapat menyebabkan kanker.
2. Mutagenik yang berarti dapat menyebabkan mutasi genetik.
3. Teratogenik yang berarti dapat membahayakan janin.
Kemungkinan pemaparan yang berulang terhadap sejumlah kecil obat-obat
kanker akan mempunyai efek karsinogenik, mutagenik dan teratogenik yang
tertunda lama di terhadap petugas yang menyiapkan dan memberikan obat-obat
ini. Adapun mekanisme cara terpaparnya obat kanker ke dalam tubuh adalah :
1. Inhalasi yang artinya terhirup pada saat rekostitusi
2. Absorpsi yang artinya masuk dalam kulit jika tertumpah
3. Ingesti yang artinya kemungkinan masuk jika tertelan
Untuk meningkatkan mutu pelayanan ruang kemoterapi/Unit kemoterapi,
di perlukan SDM yang terlatih dan kompeten. Ada pun SDM ruang kemoterapi
terdiri dari dokter, perawat dan apoteker. Upaya peningkatan kualitas SDM yaitu
dengan pendidikan berkelanjutan/ pelatihan kemoterapi dan penyusunan
pedoman pelayanan ruang Kemoterapi RSUD Sekayu tahun 2018.
1.2 TUJUAN PEDOMAN
1. Tujuan umum
Meningkatkan kualitas pelayanan kemoterapi di ruang unit kemoterapi
sehingga kepuasan pasien meningkat.
2. Tujuan khusus
2 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
a. Melakukan pengawasan ketat pada pasien kemoterapi dengan teknologi
yang paling tepat berdasarkan standart profesi yang paling tinggi.
b. Meningkatkan ilmu dan keterampilan SDM dengan pendidikan
berkelanjutan/pelatihan
c. Sebagai acuan dalam memberikan pelayanan kemoterapi pada pasien
kanker di ruang unit kemoterapi.
d. Pemanfaatan sarana dan prasarana yang tersedia secara optimal.
1.3 RUANG LINGKUP PELAYANAN
Ruang kemoterapi adalah ruangan perawatan untuk memberikan/
memasukan obat yang bersifat sitostatika pada pasien kanker. Pelayanan
kemoterapi di RSUD Sekayu adalah bagian dari poliklinik bedah yang melayani
pemberian kemoterapi bagi pasien rawat jalan dan rawat inap. Jumlah bed yang
tersedia di ruangan ini untuk pelayanan kemoterapi sebanyak 4 bed.
1.4 BATASAN OPERASIAONAL
Ruang kemoterapi adalah ruangan perawatan untuk pasien kanker yang
memerlukan obat-obatan sitostatika sebagai pengobatan. Karena obat sitostatika
adalah termasuk dalam obat berbahaya. Karena itu tindakan yang di lakukan
memerlukan pengawasan dan pemantauan ketat. Setelah pemberian obat
kemoterapi selesai pasien di perbolehkan pulang untuk pasien rawat jalan,
sedangkan pasien rawat inap di kembalikan keruangan asal perawatan.
1.5 LANDASAN HUKUM
1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2017
tentang Akreditasi Rumah Sakit
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2014
Tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2013
tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017
tentang Keselamatan pasien
7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2018
tentang Kewajiban RS dan kewajiban pasien
3 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
8. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 72 Tahun 2016 tentang Standar
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit,
9. Surat Keputusan Direktur RSUD Sekayu Nomor 445/424/RS/2014 tentang
Kebijakan Pelayanan Farmasi, Pedoman Percampuran Obat Suntik dan
Penanganan Sediaan Sitostatika oleh Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik Departemen Kesehatan RI Tahun 2012.
BAB II
STANDAR KETENAGAAN
2.1 KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA
Dalam upaya mempersiapkan tenaga ruang kemoterapi yang handal,
perlu kiranya melakukan kegiatan penyediaan, mempertahankan sumber daya
manusia yang tepat bagi organisasi.
Atas dasar tersebut perlu adanya perencanaan sumber daya manusia
yaitu proses mengantisipasi dan menyiapkan perputaran orang ke dalam, di
dalam dan keluar organisasi. Tujuannya adalah mendaya gunakan sumber-
sumber tersebut seefektif mungkin sehingga pada waktu yang tepat dapat di
sediakan sejumlah orang sesuai dengan persyaratan jabatan.
Perencanaan bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan
kemampuan organisasi dalam mencapai sasarannya melalui strategi
pengembangan kontribusi.
Adapun pola ketenagaan dan kualifikasi sumberdaya manusia di unit kemoterapi
RSUD Sekayu adalah sebagai berikut:
N Nama Kualifikasi Pengalaman Dan Jumlah Yang
o Jabatan Kualifikasi Di Perlukan
Formal Sertifikasi
4 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
1. Kepala Dokter 1. Sebagai 1 Orang
Unit Umum/ Karyawan Tetap
Dokter Di Rumah
Spesialis Sakit/PNS
2. Memiliki
Bedah
Pengalaman
Kerja Di RSUD
Sekayu Minimal 2
Tahun
3. Bersedia
Mematuhi
Peraturan Rumah
Sakit
4. Sehat Jasmani
Dan Rohani
5. Disiplin Tinggi
Dan Mampu
Mengkoordinasi
Staf
6. Berwawasan
Tentang
Organisasi
Manajemen
Rumah Sakit.
2. Perawat D III Pelatihan 1. Bekerja sebagai 3 orang
pelaksana keperawat kemoterapi, pegawai RS
an BTCLS, minimal 3 tahun/
PNS
2. Memiliki
pengalaman kerja
sebagai perawat
pelaksana minimal
2 tahun
3. Pendidikan :
minimal DIII
keperawatan
4. Memiliki surat
5 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
tanda registrasi/
STR
5. Bersedia
mematuhi segala
peraturan dan
ketentuan rumah
sakit
6. Memiliki kondite
pribadi yang baik
7. Sehat jasmani dan
rohani.
Kualifikasi ketenagaan ruang kemoterapi sebanyak 2 orang dengan rincian sebagai berikut:
PENDIDIKAN PNS KONTRAK JUMLAH KETERANGAN
D III keperawatan 1 1 2
2.2 DISTRIBUSI KETENAGAAN RUANG KEMOTERAPI
Kualifikasi Jumlah
Nama
No Yang
Jabatan Formal Masa Kerja Sertifikat Ada
1. Ka. Unit Dokter 2 Tahun 1 Orang
Kemoterapi Umum/Dokter
Spesialis
2. Perawat D III 3 Tahun Pelatihan 2 Orang
Pelaksana Keperawatan Kemoterapi,BTCLS,
Perawatan luka
3. Apoteker Apoteker 1 tahun. pelatihan 1 orang
Penanggun dispensing
g Jawab sediaan
Dispensing sitostatika
Sediaan
Sitostatika
4. Tenaga D III 1 tahun pelatihan 2 orang
Teknis Farmasi dispensing
Kefarmasia sediaan
6 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
n sitostatika.
2.3 PENGATURAN JAGA
No Pengaturan Jaga Jabatan Keterangan
1. Dinas Pagi 2 Orang Perawat Pelaksana
Dinas Pagi 1 orang apoteker dan 2 orang
2.
DIII Farmasi
7 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB III
STANDAR FASILITAS
3.1 DENAH RUANGAN KEMOTERAPI
8 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
3.2 STANDAR FASILITAS RUANGAN PASIEN
Peningkatan mutu pelayanan perlu di dukung oleh sumber daya manusia
yang profesional. Peralatan teknologi kedokteran terkini di tambah dengan
fasilitas dan sarana yang baik. Fasilitas dan sarana di harapkan memberikan
keamanan dan kenyamanan pelayanan pasien di ruangan kemoterapi. Untuk
memberikan fasilitas dan sarana yang baik harus mempertimbangkan beberapa
faktor seperti ruangan yang bersih dan terintegrasi dengan ruangan lain, ventilasi
dan pencahayaan serta di dukung dengan udara yang dapat di sesuaikan
dengan kebutuhan pasien.
Fasilitas juga di berikan tidak hanya kepada kepuasan pasien. Perawat
juga sebagai pemberi asuhan keperawatan juga di berikan fasilitas dalam
menggunakan proteksi diri. Khususnya dalam pemberian obat sitostatika di
tuntut untuk menjaga keselamatan diri dari bahaya serta dampak yang di
timbulkan dari pemberian obat-obat sitostatika. Yang merupakan suatu
pencegahan untuk menghindarkan atau meminimalkan bahaya yang di
timbulkan oleh zat sitotastik yang terdapat pada obat-obat tersebut.
Nasional Institute For Occupational Safety and Health (NIOSH, 2004),
mengemukakan bahwa bekerja dengan atau dekat dengan obat-obat berbahaya
di tatanan kesehatan dapat menyebabkan ruam kulit, kemandulan, keguguran,
kecacatan bayi, dan kemungkinan terjadi leukimia dan kanker lain. Sekitar 8 juta
petugas kesehatan di Amerika berpotensi terpapar obat-obatan berbahaya,
termasuk tenaga farmasi, perawat, dokter bahkan personil transformasi.
Ruangan Pencampuran sediaan steril memerlukan ruangan
khusus dan terkontrol. Ruangan ini terdiri dari :
1. Ruang persiapan yang digunakan untuk administrasi dan penyiapan
alat kesehatan dan bahan obat (etiket, pelabelan, penghitungan
dosis dan volume cairan),
2. Ruang cuci tangan dan ruang ganti pakaian , Sebelum masuk ke
ruang antara, petugas harus mencuci tangan, ganti pakaian kerja
dan memakai alat pelindung diri (APD).
3. Ruang antara (Ante room)
Petugas yang akan masuk ke ruang steril melalui suatu ruang
antara.
4. Ruang steril (Clean room)
Ruangan steril harus memenuhi syarat sebagai berikut :
9 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
a. Jumlah partikel berukuran 0,5 mikron tidak lebih dari 350.000
partikel
b. Jumlah jasad renik tidak lebih dari 100 per meter kubik udara.
c. Suhu 18 – 22°C
d. Kelembaban 35 – 50%
e. Di lengkapi High Efficiency Particulate Air (HEPA) Filter
5. Tekanan udara di dalam ruang lebih positif dari pada tekanan udara
di luar ruangan.
6. Pass box adalah tempat masuk dan keluarnya alat kesehatan dan
bahan obat sebelum dan sesudah dilakukan pencampuran. Pass box
ini terletak di antara ruang persiapan dan ruang steril.
Peralatan yang harus dimiliki untuk melakukan pencampuran sediaan
steril meliputi :
1. Baju Pelindung
Baju Pelindung ini sebaiknya terbuat dari bahan yang impermeable
(tidak tembus cairan), tidak melepaskan serat kain, dengan lengan
panjang, bermanset dan tertutup di bagian depan.
2. Sarung Tangan
Sarung tangan yang dipilih harus memiliki permeabilitas yang
minimal sehingga dapat memaksimalkan perlindungan bagi
petugas dan cukup panjang untuk menutup pergelangan tangan.
Sarung tangan terbuat dari latex dan tidak berbedak (powder free).
Khusus untuk penanganan sediaan sitostatika harus menggunakan
dua lapis.
3. Kacamata Pelindung
Hanya digunakan pada saat penanganan sediaan sitostatika.
4. Masker disposable
Baju perlengkapa APD petugas dispensing sediaan sitostatika
sebagai berikut :
10 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
5. Laminar Air Flow (LAF)
Laminar Air flow (LAF) mempunyai sistem penyaringan ganda yang
memiliki efisiensi tingkat tinggi, sehingga dapat berfungsi sebagai
penyaring bakteri dan bahan-bahan eksogen di udara, menjaga
aliran udara yang konstan diluar lingkungan, dan mencegah
masuknya kontaminan ke dalam LAF. Terdapat dua tipe LAF yang
digunakan pada pencampuran sediaan steril :
a. Aliran Udara Horizontal (Horizontal Air Flow)
Aliran udara langsung menuju ke depan, sehingga petugas tidak
terlindungi dari partikel ataupun uap yang berasal dari ampul
atau vial. Alat ini digunakan untuk pencampuran obat steril non
sitostatika.
b. Aliran Udara Vertikal (Vertical Air Flow)
Aliran udara langsung mengalir kebawah dan jauh dari petugas
sehingga memberikan lingkungan kerja yang lebih aman. Untuk
penanganan sediaan sitostatika menggunakan LAF vertikal
Biological Safety Cabinet (BSC) kelas II dengan syarat tekanan
udara di dalam BSC harus lebih negatif dari pada tekanan udara
di ruangan.
11 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB IV
TATA LAKSANA PELAYANAN UNIT KEMOTERAPI
4.1 DEFENISI
Kemoterapi adalah pemberian obat anti kanker (sitostatika) yang bertujuan untuk
membunuh sel kanker.
12 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Tujuan pemberian kemoterapi :
a. Kuratif : sebagai pengobatan
b. Mengurangi massa tumor selain pembedahan dan radiasi
c. Meningkatkan kelangsungan hidup dan kwalitashidup penderita.
d. Mengurangi komplikasi akibat metastase.
Cara pemberian :
a. Intra vena
Pemberian intra vena untuk terapi sistemik, dimana obat setelah
melalui jantung dan hati baru sampai ke tumor primer.cara intra vena ini
yang banyak di gunakan untuk kemoterapi. Dalam pemberian intra vena
usahakan jangan ada ekstravasasi obat.
b. Intra arterial
Pemberian intra arterial adalah terapi regional melalui arteri yang
memasok darahke daerah tumor dengan cara INFUSI INTRA ARTERI
menggunakan cateter dan pompa arteri di gunakan untuk memberikan
obat selama beberapa jam atau hari.
c. Intra oral
d. Intra cavitas/intra peritoneal
Obat di suntikan ke dalam rongga tubuh, sepertiintra pleura,
peritoneum, pericardial, vesikal atau tekal
e. Sub kutan
f. Topikal
4.2 INDIKASI KEMOTERAPI
1. Ajuvan: kanker stadium awal atau stadium lanjut lokal setelah pembedahan.
2. Neoajuvan (induction chemotherapy): kanker stadium lanjut lokal.
3. Paliatif : kanker stadium lanjut jauh.
4. Sensitisizer: kemoterapi yang dilakukan bersama- sama radioterapi.
4.3 KONTRA INDIKASI
1. Kontra indikasi absolut
a. Penyakit stadium terminal.
b. Hamil trimester pertama, kecualiakan digugurkan.
c. Septokemia
d. Koma
2. Kontra indikasi relatif
a. Usia lanjut , terutama untuk tumor yang pertumbuhannya lambat dan
sensitivitasnya rendah.
b. Status performance yang jelek.
c. Ganggauan fungsi organ vital yang berat, seperti: hati, ginjal, jantung,
sumsum tulang, dll.
d. Dementia
e. Pnderita tidak dapat datang ke klinik secara teratur.
13 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
f. Pasien tidak kooperatif.
g. Tumor resisten terhadap obat.
4.4 SYARAT PASIEN KEMOTERAPI PERTAMA
Pasien dengan keganasan memilikikondisi dan kelemahan, yang apabila di
berikan kemoterapi dapat terjadi untolerable side effect. Sebelum memberikan
kemoterapi perlu pertimbangan sebagai berikut;
1. Menggunakan kriteria Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG) yaitu
status penampilan ≤2 atau karnoffsky ≥60.
2. Jumlah lekosit ≥4000/ ml.
3. Jumlah trombosit ≥100.000/ ul
4. Cadangan sumsum tulang masih adekuat,misal Hb≥10 ml/ dl.
5. Creatinin Clearence diatas 60 ml/ mnit (dalam 24 jam)→test faal ginjal.
6. Bilirubin <2mg/dl, SGOT/ SGPT dalam batas normal
7. Elektrolit dalam batas normal.
8. Tidak di beriakan pada usia diatas 70
Skla Karnofsky
Kemampuan Fungsional Derajat Aktifitas
Mampu melaksanakan aktifitas 100% normal tampa keluhan tidak ada
normal kelainan
Tidak perlu perawatan khusus 90% keluhan gejala minimal
80% normal dengan beberapa
keluhan gejala
Tidak mampu bekerja 70% mampu merawat diri tak
Bisa tinggal di rumah mampu melakukan aktvitas normal
Perlu bantuan dalam banyak hal atau bekerja
60% kadang-kadang perlu bantuan
tetapi umumnya dapat melakukan
untuk keperluan sendiri
50% perlu bantuan dan umumnya
perlu obat-obatan
Tak mampu merawat diri 40% perlu bantuan dan perawatan
Perlu perawatan di rumah perawatan khusus.
Rumah sakit atau lembaga lain
30% perlu pertimbangan-
pertimbangan masuk rumah sakit
20% sakit berat,perawatanrumah
sakit, pengobatan aktif supportif
14 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
sangat perlu.
10% mendeteksi ajal
0% meninggal
4.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Diagnosis dan stadium
a. Diagnosis keganasan harus sudah konfirmed (triple diagnostik) yang
terdiri dari: pemeriksaan fisik, imaging, dan patologi atau sitologi.
b. Penentuan stadium : foto thorax, USG abdomen, mamografikontra
lateral, bone scan dan lain-lain sesuai dengan jenis kankernya.
c. Laboratorium dasar : darah lengkap (DL), SGOT, SGPT, BUN.
d. Tinggi badan dan berat badan; mengukurluas permuakaan tubuh untuk
menentukan dosis obat.
2. Pemeriksaan tambahan
Creatinin Clearence, EKG ataupun Echocardiografi, asam urat, serum
elektrolit, tumor marker.
4.6 PROSEDUR RUANGAN KEMOTERAPI
STANDAR KETENAGAAN:
1. Syarat petugas
a. Staf sudah mendapatkan pendidikan kemoterapi
b. Staf harus mengetahui cara persiapan, pemberian dan pencegahan
resiko obat.
c. Staf harus mengikuti perkembangan onkologi.
2. Staf yang tidak boleh menangani obat sitotatika
a. Wanita hamil
b. Wanita/ ibu yang sedang menyusui.
c. Wanita yang sedang merencanakan kehamilan.
d. Staf yang belum terlatih.
e. Staf yang belum dewasa.
f. Siswa perawat yang sedang praktek
g. Pegawai/ staff yang tidak memakai APD.
3. Hak petugas
a. Dilakukan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap dan fungsi ginjal.
b. Gejala-gejala yang di rasakan staf harus di ketahui oleh penanggung
jawab ruangan dan medis
c. Rotasi petugas minimal dua tahun sekali untuk meminimalkan resiko.
4.7 STANDAR RUANGAN PENANGANA OBAT SITOSTATIKA;
a. Persyaratan ruang aseptik
15 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
1). Permukaan dinding dilapisi dari bahan yang mudah di bersihkan,
licin (lapisan epoksi/ vinyl) dan sudut melengkung.
2). Permukaan lantai dilapisi dari bahan yang mudahdibersihkan, tidak boleh
pakai nat.
3). Ruang pencampuran obat sitostatika di usahakan dekat dengan ruangan
kemoterapi.
4). Kondisi ruangan terkontrol: suhu 18-22 C, kelembaban 35-50%, tekanan
udara (negativ pressure), suplai udara ke dalam clean room melalui
hepa filter.
5). Desinfeksi clean room dilakukan 1x/minggu dengan membersikan
dinding dan lantai dengan lap yang dibasahi clorin 0,5% tablet 2,5 gram
di encerkan dengan 1000cc air hangat
b. Ruang antara/ Antee Room
Ruang ini terletak antara ruang cuci tangan dan ruang aseptik
c. Ruang cuci tangan
Ruangan ini di gunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah
melakukan penanganan obat sitostatika.
d. Ruang transfer
Ruang di pakai untuk persiapan sebelum pencampuran sitostatika.
Kegiatan yang di lakukan meliputi;
1). Pencatatan jenis dan volume pelarut
2). Pencatat etiket dan tanggal kadaluarsa
3). Di masukkan dalam transfer box
e. Ruang produksi
Ruangan yang di gunakan untuk tempat penyimpanan obat-obat sitostatika.
Usahakan ruang produksi dekat dengan ruang kemoterapi.
4.8 STANDAR ALAT PENANGANAN OBAT SITOSTATIKA
a. LAF (Laminary Air Flow)
LAF yang di gunakan untuk pencampuran obat sitostatika adalah tipe BSC
(Biological Safety Cabinet). Validasi hepafilter di lakukan setiap 6 bulan
dengan melakukan kalibrasi. Hepafilter di gantisetiap 4 tahun sekali. Aliran
udara yang masuk ke dalam LAF harus konstan.
b. BSC (Biological Safety Cabinet)
Alat yang di gunakan untuk pencampuran sitostatika yang berfungsi untuk
melindungi petugas, materi yang di kerjakan dan lingkungan sekitar.
Prinsip kerja alat ini adalah tekanan udara di dalam lebih negatif dari
tekanan di luar sehingga aliran udara bergerak dari luar ke dalam BSC. Di
dalam BSC udara bergerak vertikal membentuk barier, sehingga jika ada
percikan obat sitostatika tidak terkena petugas. Untuk validasi alat ini harus
di kalibarasi setiap 6 bulan. BSC di bersihkan setiap hari dengan alkohol
70%.
16 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
c. Kelengkapan APD
APD yang di gunakan untuk menangani obat sitostatika meliputi:
1) Topi
Tutup kepala harus menutupi rambut sekeliling agar tidak ada partikel
yang dapat mengkontaminasi sediaan. Tutup kepala harus menutupi
kepala dan leher.
2) Kacamata plastik/ goole (untuk melindungi dari percikan atau pelindung
muka)
3) Pakaian pelindung di buat lengan panjangyang terbuat dari bahan
kain,dengan bagian dalam disposible bagian luar steril.
4) Sepatu
Sepatu terbuat dari bahan yang tidak tembus benda tajam, petugas
farmasiyang bertugas dalam pencampuran obat sitostatika
menggunakan sepatu boot.
4.9 RUANG PERAWATAN KEMOTERAPI
Ruangan kemoterapi di lakukan di unit kemoterapi tersendiri. Bila pasien
muntah, BAB, BAK di haruskan ke toilet karena ekskresi yang keluar dari tubuh
pasien baik keringat, urine, tinja muntahan selama 2x24 jam masih mengandung
obat sitostatika. Karena itu linen bekas pasienharus di pisahkan untuk mencegah
terjadinya paparan.
4.10 ALAT DAN BAHAN DI RUANG PERAWATAN KEMOTERAPI
a. Box tertutup, terkunci yang diberi lebel sitostatika (untuk tempat sediaan obat
kemoterapi yang di kemas dalamkantong hitam/ parafilm) yang siap di beriakan
kepada pasien.
b. Papan kecil yang bertuliskan “chemotherapy drug spill“ mengisolasi daerah
tumpahan obat kemoterapi.
c. Spill kit/ kit tumpahan kemoterapi
Tempat berisi alat-alat yang di gunakan bila terjadi tumpahan obat kemoterapi,
yang berisi gaun 1 set, tali rapia, tissue, celemek plastik, kain bekas disposible,
sarung tangan hand seal dan sarung tangan disposible, masker N95, plastik
kuning, plastik ungu, skop kecil, pinset, air detergen, air bersih.
d. Sampah
Sampah kemoterapi di masukkan ke dalam plastik warna ungu, dan di beri label
sampah kemoterapi, untuk spuit dan jarum di masukan pada box khusus yang
tidak tembus benda tajam.
e. Troli linen tertutup
Tempat yang di gunakan untuk mengangkut linen kotor yang di masukkan pada
plastik warna hitamyang di beri tanda “linen kemoterapi“ di ikat dengan tai rafia,
17 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
di laundry di rendam dengan deterjen 0,5 - 1 jam lalu di bilas denagan air
bersih.
f. Label
Digunakan untuk memberi tanda yang di tempelkan pada obat sitostatika yang
sudah dicampur yang meliputi tanggal, nama pasien, nomor rekam medis,
ruangan, sediaan obat mg dalam ml, volume akhir penyimpanan, suhu kamar/
lemari es, tanggal kadaluarsa obat sitostatika.
g. Dokumentasi
Ada format pelayanan pencampuran sitostatika, format kecelakaan kerja obat
sitostatika, format penanganan ekstravasasi, format asesmen nyeri kanker.
18 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB V
KEBIJAKAN DAN PROSEDUR PELAYANAN RUANG KEMOTERAPI
5.1 KEBIJAKAN DAN PROSEDUR PELAYANAN RUANG KEMOTERAPI
Alur pasien masuk ruang kemoterapi
IGD POLI BEDAH
TRIASE
INDIKASI
FARMASI
KEMOTERAPI
OBAT TERSEDIA OBAT TIDAK
TERSEDIA
RAWAT INAP
PASIEN PULANG
UNTUK
RUANG MENUNGGU
KEMOTERAPI JADWAL
SELANJUTNYA
SELESAI
KEMOTERAPI
5.2 PROSEDUR PENERIMAAN PASIEN RUANG KEMOTERAPI
1. Pasien masuk melalui poliklinik
2. DPJP melakukan asesmen pasien, membuat protokol kemoterapi (untuk
pasien baru) dan evaluasi protokol terhadap kondisi pasien saat ini (pasien
lama). Dan melakukan pemesanan obat menggunakan resep.
3. Perawat poliklinik mengirimkan protokol dan resep obat ke depo farmasi.
4. Petugas farmasi memberikan konfirmasi ketersediaan obat.
5. Perawat poliklinik mendaftarkan pasien ke ruang kemoterapi.
Menginformasikan jadwal kemoterapi kepada pasien.
5.3 PEMULANGAN PASIEN RUANGAN KEMOTERAPI
19 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
1. DPJP melakukan assesmen pasca kemoterapi.
2. DPJP Memberikan instruksi perawatan lanjutan di lembar harian pasien. Bila
menurut DPJP pasien masih memerlukan pengawasan selama 2 jam di
lakukan di ruang kemoterapi. Bila pengawasan lebih dari 2 jam selanjutnya
maka di lakukan di ruangan perawatan.
3. Perawat ruang kemoterapi menginformasikan kepada pasien bahwa program
kemoterapi selesai.
4. Perawat ruang kemoterapi memberikan edukasi pada pasien tentang:
a. Jadwal siklus kemoterapi berikutnya
b. Pencegahan komplikasi kemoterapi
c. Deteksi komplikasi dan penanganan awal.
5. Perawat ruang kemoterapi menginformasikan kepada perawat ruangan rawat
inap bahwa kemoterapi selesai. Pasien sudah bisa di jemput.
4.11 Penyiapan
Sebelum menjalankan proses pencampuran obat sitostatika, perlu dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Memeriksa kelengkapan dokumen (formulir) permintaan dengan prinsip 5
BENAR (benar pasien, obat, dosis, rute dan waktu pemberian).
2) Memeriksa kondisi obat-obatan yang diterima (nama obat, jumlah, nomor batch,
tgl kadaluarsa), serta melengkapi form permintaan.
3) Melakukan konfirmasi ulang kepada pengguna jika ada yang tidak jelas/tidak
lengkap.
4) Menghitung kesesuaian dosis.
5) Memilih jenis pelarut yang sesuai.
6) Menghitung volume pelarut yang digunakan.
7) Membuat label obat berdasarkan: nama pasien, nomer rekam medis, ruang
perawatan, dosis, cara pemberian, kondisi penyimpanan, tanggal pembuatan,
dan tanggal kadaluarsa campuran.
8) Membuat label pengiriman terdiri dari : nama pasien, nomer rekam medis, ruang
perawatan, jumlah paket.
9) Melengkapi dokumen pencampuran.
10) Memasukkan alat kesehatan, label, dan obat-obatan yang akan dilakukan
pencampuran kedalam ruang steril melalui pass box.
A. Percampuran
Proses pencampuran sediaan sitostatika sebagai berikut :
1. Memakai APD sesuai SPO.
2. Mencuci tangan sesuai SPO.
3. Menghidupkan biological safety cabinet (BSC) 5 menit sebelum digunakan.
4. Melakukan dekontaminasi dan desinfeksi BSC sesuai prosedur tetap.
5. Menyiapkan meja BSC dengan memberi alas sediaan sitostatika.
6. Menyiapkan tempat buangan sampah khusus bekas sediaan sitostatika.
7. Melakukan desinfeksi sarung tangan dengan menyemprot alkohol 70%.
20 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
8. Mengambil alat kesehatan dan bahan obat dari pass box.
9. Meletakkan alat kesehatan dan bahan obat yang akan dilarutkan di atas meja BSC.
10. Melakukan pencampuran sediaan sitostatika secara aseptis.
11. Memberi label yang sesuai pada setiap infus dan spuit yang sudah berisi sediaan
sitostatika.
12. Membungkus dengan kantong hitam atau aluminium foil untuk obat-obat yang harus
terlindung cahaya.
13. Membuang semua bekas pencampuran obat ke dalam wadah pembuangan khusus.
14. Memasukan infus untuk spuit yang telah berisi sediaan sitostatika ke dalam wadah
untuk pengiriman.
15. Mengeluarkan wadah untuk pengiriman yang telah berisi sediaan jadi melalui pass
box.
16. Menanggalkan APD sesuai SPO.
Teknik Memindahkan Obat dari Ampul
1) Membuka ampul larutan obat
(a) Pindahkan semua larutan obat dari leher ampul dengan mengetuk-ngetuk
bagian atas ampul atau dengan melakukan gerakan J-motion.
(b) Seka bagian leher ampul dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
(c) Lilitkan kassa sekitar ampul.
(d) Pegang ampul dengan posisi 45º, patahkan bagian atas ampul dengan arah
menjauhi petugas. Pegang ampul dengan posisi ini sekitar 5 detik.
(e) Berdirikan ampul.
(f) Bungkus patahan ampul dengan kassa dan buang ke dalam kantong
buangan.
2) Pegang ampul dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam ampul, tarik seluruh
larutan dari ampul, tutup needle.
3) Pegang ampul dengan posisi 45º, sesuaikan volume larutan dalam syringe
sesuai yang diinginkan dengan menyuntikkan kembali larutan obat yang berlebih
kembali ke ampul.
4) Tutup kembali needle.
5) Untuk permintaan infus Intravena , suntikkan larutan obat ke dalam botol infus
dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding agar tidak berbuih dan
tercampur sempurna.
6) Untuk permintaan Intravena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai
untuk penyuntikan.
7) Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam
kantong buangan tertutup.
Teknik Memindahkan Sediaan Obat dari Vial
1) Membuka vial larutan obat
21 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
(a) Buka penutup vial.
(b) Seka bagian karet vial dengan alkohol 70 %, biarkan mengering.
(c) Berdirikan vial.
(d) Bungkus penutup vial dengan kassa dan buang ke dalam kantong
buangan tertutup.
2) Pegang vial dengan posisi 45º, masukkan spuit ke dalam vial.
3) Masukan pelarut yang sesuai ke dalam vial, gerakan perlahan-lahan memutar
untuk melarutkan obat.
4) Ganti needle dengan needle yang baru.
5) Beri tekanan negatif dengan cara menarik udara ke dalam spuit kosong sesuai
volume yang diinginkan.
6) Pegang vial dengan posisi 45º, tarik larutan ke dalam spuit tersebut.
7) Untuk permintaan infus intra vena (iv) , suntikkan larutan obat ke dalam botol
infus dengan posisi 45º perlahan-lahan melalui dinding agar tidak berbuih dan
tercampur sempurna.
8) Untuk permintaan intra vena bolus ganti needle dengan ukuran yang sesuai
untuk penyuntikan.
9) Bila spuit dikirim tanpa needle, pegang spuit dengan posisi jarum ke atas angkat
jarum dan buang ke kantong buangan tertutup.
10) Pegang spuit dengan bagian terbuka ke atas, tutup dengan ”luer lock cap”.
11) Seka cap dan syringe dengan alkohol.
12) Setelah selesai, buang seluruh bahan yang telah terkontaminasi ke dalam
kantong buangan tertutup.
17) Memberi label yang sesuai untuk setiap spuit dan infus yang sudah berisi obat hasil
pencampuran.
18) Membungkus dengan kantong hitam atau alumunium foil untuk obat-obat yang
harus terlindung dari cahaya.
19) Memasukkan spuit atau infus ke dalam wadah untuk pengiriman.
20) Mengeluarkan wadah yang telah berisi spuit atau infus melalui pass box.
21) Membuang semua bekas pencampuran obat ke dalam wadah pembuangan khusus
B. Cara Pemberian
Cara pemberiaan sediaan sitostatika sama dengan cara pemberiaan obat
suntik kecuali intramuskular.
C. Penanganan Tumpahan dan Kecelakaan Kerja
1. Penanganan tumpahan
22 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Membersihkan tumpahan dalam ruangan steril dapat dilakukan petugas tersebut
atau meminta pertolongan orang lain dengan menggunakan chemotherapy spill kit
yang terdiri dari:
1) Membersihkan tumpahan di luar BSC dalam ruang steril
a. Meminta pertolongan, jangan tinggalkan area sebelum diizinkan.Beri tanda
peringatan di sekitar area.
b. Beri tanda peringatan di sekitar area.
c. Petugas penolong menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
d. Angkat partikel kaca dan pecahan-pecahan dengan menggunakan alat
seperti sendok dan tempatkan dalam kantong buangan.
e. Serap tumpahan cair dengan kassa penyerap dan buang dalam kantong
tersebut.
f. Serap tumpahan serbuk dengan handuk basah dan buang dalam kantong
tersebut.
g. Cuci seluruh area dengan larutan detergent.
h. Bilas dengan aquadest.
i. Ulangi pencucian dan pembilasan sampai seluruh obat terangkat.
j. Tanggalkan glove luar dan tutup kaki, tempatkan dalam kantong pertama.
k. Tutup kantong dan tempatkan pada kantong kedua.
l. Tanggalkan pakaian pelindung lainnya dan sarung tangan dalam, tempatkan
dalam kantong kedua.
m. Ikat kantong secara aman dan masukan dalam tempat penampung khusus
untuk dimusnahkan dengan incenerator.
n. Cuci tangan.
2) Membersihkan tumpahan di dalam BSC
a. Serap tumpahan dengan kassa untuk tumpahan cair atau handuk basah
untuk tumpahan serbuk.
b. Tanggalkan sarung tangan dan buang, lalu pakai 2 pasang sarung tangan
baru.
c. Angkat hati-hati pecahan tajam dan serpihan kaca sekaligus dengan alas
kerja/meja/penyerap dan tempatkan dalam wadah buangan.
d. Cuci permukaan, dinding bagian dalam BSC dengan detergent, bilas dengan
aquadestilata menggunakan kassa. Buang kassa dalam wadah pada
buangan.
e. Ulangi pencucian 3 x.
f. Keringkan dengan kassa baru, buang dalam wadah buangan.
g. Tutup wadah dan buang dalam wadah buangan akhir.
h. Tanggalkan APD dan buang sarung tangan, masker, dalam wadah buangan
akhir untuk dimusnahkan dengan inscenerator.
i. Cuci tangan.
23 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
2. Penanganan Kecelakaan Kerja
a. Dekontaminasi akibat kontak dengan bagian tubuh:
1) Kontak dengan kulit:
a) Tanggalkan sarung tangan.
b) Bilas kulit dengan air hangat.
c) Cuci dengan sabun, bilas dengan air hangat.
d) Jika kulit tidak sobek, seka area dengan kassa yang dibasahi dengan
larutan Chlorin 5 % dan bilas dengan air hangat.
e) Jika kulit sobek pakai H2O2 3 %.
f) Catat jenis obatnya dan siapkan antidot khusus.
g) Tanggalkan seluruh pakaian alat pelindung diri (APD)
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan.
2) Kontak dengan mata
a) Minta pertolongan.
b) Tanggalkan sarung tangan.
c) Bilas mata dengan air mengalir dan rendam dengan air hangat selama 5
menit.
d) Letakkan tangan di sekitar mata dan cuci mata terbuka dengan larutan
NaCl 0,9%.
e) Aliri mata dengan larutan pencuci mata.
f) Tanggalkan seluruh pakaian pelindung.
g) Catat jenis obat yang tumpah.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
3) Tertusuk jarum
a) Jangan segera mengangkat jarum. Tarik kembali plunger untuk
menghisap obat yang mungkin terinjeksi.
b) Angkat jarum dari kulit dan tutup jarum, kemudian buang.
c) Jika perlu gunakan spuit baru dan jarum bersih untuk mengambil obat
dalam jaringan yang tertusuk.
d) Tanggalkan sarung tangan, bilas bagian yang tertusuk dengan air hangat.
e) Cuci bersih dengan sabun, bilas dengan air hangat.
f) Tanggalkan semua APD.
g) Catat jenis obat dan perkirakan berapa banyak yang terinjeksi.
h) Laporkan ke supervisor.
i) Lengkapi format kecelakaan kerja.
j) Segera konsultasikan ke dokter.
D. Pengelolaan Limbah Sitostatika
Pengelolaan limbah dari sisa buangan pencampuran sediaan sitoatatika (seperti:
bekas ampul,vial, spuit, needle,dll) harus dilakukan sedemikian rupa hingga tidak
24 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
menimbulkan bahaya pencemaran terhadap lingkungan. Langkah – langkah yang perlu
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Gunakan Alat Pelindung Diri (APD).
b. Tempatkan limbah pada wadah buangan tertutup. Untuk benda-benda tajam seperti
spuit vial, ampul, tempatkan di dalam wadah yang tidak tembus benda tajam, untuk
limbah lain tempatkan dalam kantong berwarna (standar internasional warna ungu)
dan berlogo sitostatika
c. Beri label peringatan pada bagian luar wadah.
d. Bawa limbah ke tempat pembuangan menggunakan troli tertutup.
e. Musnahkan limbah dengan incenerator 1000ºC.
f. Cuci tangan.
BAB VI
LOGISTIK RUANG KEMOTERAPI
6.1 SARANA DAN PRASARANA RUANG KEMOTERAPI
Daftar inventaris ruang kemoterapi
No Nama Barang/ Alat Jumlah Keterangan
1. Tempat Tidur 4 unit
2. Kasur 4 buah
3. Tiang infus roda tiga 1 buah
4. Tiang infus bed 4 unit
5.Tabung oksigen besar 2 unit
6. Regulator oksigen tabung 1 unit
7. Tensi meter digital 1 unit
8. Trombol kassa Besar 1 unit
9. Bak instrumen besar bertutup 1 unit
10. Bengkok 1 unit
11. Pispot 2 unit
12. Timbangan dewasa 1 unit
13. Box es 1 unit
14. Troli emergency 1 unit
25 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
15. Medicine Cabinet 1 unit
16. Ambubag dewasa 1 unit
17. Ambubag anak 1 unit
18. Gunting Aj 1 buah
19. Gunting verban 1 buah
20. Klem pean bengkok 1 buah
21. Pincet Anatomi 1 buah
22. Komputer set 1 unit
23. Aipon 1 unit
24 Kursi perawat jaga merah 3 unit
6.2 Seleksi Perbekalan Farmasi
Seleksi Perbekalan farmasi untuk dispensing sediaan sitostatika di IFRS
berdasarkan buku panduan. Buku panduan yang di gunakan adalah Formularium
Nasional, Formularium Rumah Sakit, dan Harga Obat e-Katalog.
6.3 Perencaan Perbekalan Farmasi
Merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah, dan harga perbekalan
farmasi untuk dispensing sediaan sitostatika yang sesuai dengan kebutuhan dan
anggaran yang tersedia. Untuk menghindari kekosongan obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggung jawabkan dan dasar-dasar
perencanaan yang telah ditentukan antara lain yaitu :
1. Konsumsi
Rencana kebutuhan obat tahun ini adalah :Jumlah pemakaian tahun lalu +
stok kosong + kebutuhan lead time + safety stok – sisa stok tahun lalu
2. Epidemiologi
3. Kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi.
Pedoman Perencanaan :
1. DOEN, Formularium Rumah Sakit, Formularium Nasional, e-Katalog,
2. Anggaran yang tersedia
3. Penetapan prioritas
4. Siklus penyakit
5. Sisa persediaan
6. Data pemakaian periode yang lalu
7. Rencana pengembangan
6.4 Pengadaan
26 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Merupakan kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan yang telah
direncanakan dan disetujui, melalui pembelian secara tender (oleh Panitia / Unit
Layanan Pengadaan dan secara langsung dari pabrik/distributor/pedagang besar
farmasi/rekanan, serta produksi/pembuatan sediaan farmasi.
Pengadaan perbekalan farmasi untuk dispensing sediaan sitostatika sebagai
berikut:
1. Perbekalan Farmasi yang diadakan sesuai SPO perencanaan.
2. Pengadaan perbekalan farmasi dan harga berpedoman kepada peraturan yang
berlaku yaitu Harga e-Katalog/Formularium Nasional / Harga Price List Nasional
masing-masing pabrik perbekalan farmasi / Peraturan Pemerintah tentang
Pengadaan Barang dan Jasa di Instansi Pemerintah. Pengadaan perbekalan
farmasi di ajukan oleh Ka IFRS dan disetujui oleh Direktur/ Kabid. Penunjang
Medik.
3. Permintaan Perbekalan Farmasi Dispensing Sediaan Sitostatika ke Gudang
Farmasi
4. Permintaan perbekalan farmasi untuk kegiatan dispensing sediaan sitostatika ke
gudang farmasi sebagai berikut:
a. Perbekalan farmasi hanya dapat dikeluarkan dari gudang ke unit dispensing
sediaan sitostatika berdasarkan permintaan apoteker penanggung jawab
dispensing sediaan sitostatika melalui SIM-RS.
b. Jumlah perbekalan farmasi yang diberikan sesuai dengan permintaan dan stok
yang ada di gudang. Setiap pengeluaran perbekalan farmasi harus dilakukan
serah terima dengan menandatangani serah terima / formulir yang ada. Jika
serah terima telah dilakukan, tidak ada lagi complain.
6.5 Pengemasan/Produksi
Merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan pengemasan kembali
sediaan farmasi steril atau nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan di rumah sakit. Kriteria obat yang diproduksi :
1. Sediaan farmasi dengan formula sesuai resep dokter
2. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil
6.6 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam form
serah terima amprahan dari gudang ke dari unit dispensing sediaan sitostatika
dengan kondisi fisik yang diterima.
6.7 Penyimpanan
27 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Penyimpanan sediaan steril non sitostatika setelah dilakukan pencampuran
tergantung pada stabilitas masing masing obat. Kondisi khusus penyimpanan:
1. Terlindung dari cahaya langsung, dengan menggunakan kertas karbon/kantong
plastik warna hitam atau aluminium foil.
2. Suhu penyimpanan 2 – 8°C disimpan di dalam lemari pendingin (bukan
freezer).
6.8 Distribusi
Proses distribusi dilakukan sesuai SOP (lampiran 6) Pengiriman sedíaan
steril yang telah dilakukan pencampuran harus terjamin sterilitas dan stabilitasnya
dengan persyaratan :
1. Wadah
- Tertutup rapat dan terlindung cahaya.
- Untuk obat yang harus dipertahankan stabilitasnya pada suhu tertentu,
ditempatkan dalam wadah yang mampu menjaga konsistensi suhunya.
2. Waktu Pengiriman
Prioritas pengiriman untuk obat obat yang waktu stabilitasnya pendek.
3. Rute pengiriman
Pengiriman sediaan sitostatika sebaiknya tidak melalui jalur umum/ramai
untuk menghindari terjadinya tumpahan obat yang akan membahayakan
petugas dan lingkungannya.
6.9 Penanganan Limbah
Limbah sediaan steril harus dimasukkan dalam wadah tertentu, khusus
penanganan limbah sediaan sitostatika dilakukan sesuai dengan SPO.
BAB VII
KESELAMATAN PASIEN
7.1 PENGERTIAN
Keselamatan Pasien (pasien Safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih lama. Sistem tersebut meliputi:
Asesmen resiko
Identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien
Pelaporan dan analisis insiden
Kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
Implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko
28 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Sistem ini mencegah terjadinya cedera yang di sebabkan oleh:
Kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
Tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil
7.2 TUJUAN
Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit
Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat
Menurunkan kejadiaan tidak di harapkan (KTD) di rumah sakit
Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian tidak di harapkan
7.3 STANDAR KESELAMATAN PASIEN
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarga
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerjauntuk melakukan evaluasi dan
program peningkatan keselamatan pasien.
5. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
6. Peran kepemimpinandalam meningkatkan keselamatan pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi stafuntuk mencapai keselamatan pasien.
7.4 KEJADIAN TIDAK DIHARAPKAN (KTD)
ADVERSE EVENT (Kejadian Tidak Diharapkan):
Adverse event adalah suatu kejadian yang tidak diharapkan yang
mengakibatkan cedera pasien akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil, dan bukan karena penyakit
dasarnya atau kondisi pasien. Cidera dapat di akibatkan oleh kesalahan medis
atau bukan kesalahan medis karena tidak dapat di cegah.
KTD yang tidak dapat dicegah (Unpreventable Adverse Event):
Suatu KTD yang terjadi akibat komplikasi yang tidak dapat dicegah dengan
pengetahuan mutakhir.
7.5 KEJADIAN NYARIS CIDERA (KNC)
Near miss :
Near miss adalah suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu seharusnya diambil
(omission), yang dapat menciderai pasien, tetapi cidera serius tidak terjadi:
Karena “keberuntungan”
Karena ” pencegahan”
Karena “peringanan”
7.6 KESALAHAN MEDIS
Medical Errors:
Medical errors adalah kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien.
7.7 KEJADIAN SENTINEL
29 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
Sentinel Event:
Kejadian sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cidera
yang serius, biasanya dipakai untuk kejadian yang sangat tidak diharapkan atau
tidak dapat di terima. Seperti: operasi pada bagian tubuh yang salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan keseriusan cedera yang terjadi (seperti:
amputasi pada kaki yang salah) sehingga pencarian fakta terhadap kejadian ini
menggungkapkan adanya masalah yang serius pada kebijakan dan prosedur yang
berlaku.
7.8 TATA LAKSANA
1. Memberikan pertolongan pertama sesuai dengan kondisi yang terjadi pada
pasien
2. Melaporkan pada dokter jaga bangsal/ DPJP
3. Memberikan tindakan sesuai dengan instruksi dokter jaga
4. Mengobservasi keadaan umum pasien
5. Mendokumentasikan kejadian tersebut pada formulir “Pelaporan insiden
keselamatan“.
7.9 TINDAKAN/ UPAYA KESELAMATAN PASIEN (PATIEN SAFETY)
1. Pemasangan peneng/gelang identitas pasien (nama, nomor register, usia)
2. Meningkatkan komunikasi efektif
3. Meningkatkan keamanan penggunaan obat (obat, dosis, nama pasien, cara
pemberian, waktu, dan dokumentasi).
30 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB VIII
KESELAMATAN KERJA
8.1 PENDAHULUAN
Menurut data WHO, kanker merupakan salah satu penyebab kematian
utama di dunia yaitu sebesar 7,6 juta pada tahun 2008. Kasusnya
diperkirakan terus meningkat hingga 45% di tahun 2030. Sedangkan di
Indonesia, 13% dari total kematian diakibatkan oleh kanker. Penanganan
kanker meliputi beberapa metode yaitu bedah, kemoterapi dan radioterapi
yang dapat di lakukan secara mandiri atau kombinasi.
National Institute for Occupation Safety and Health (NIOSH, 2004)
mengemukakan bahwa bekerja dengan atau dekat dengan obat-abatan
berbahaya ditatanan kesehatan dapat menyebabkan ruam kulit, kemandulan,
keguguran, kecacatan bayi, dan kemungkinan terjadi leukimia dan kanker
lainnya. Sekitar 8 juta petugas kesehatan di Amerika berpotensi terpapar
obat-obatan berbahaya, termasuk tenaga farmasi, perawat, dokter bahkan
personil transportasi.
Perawat dalam menjalankan peran sebagai pemberi asuhan
keperawatan khususnya dalam pemberian sitostatika di tuntut untuk menjaga
keselamatan diri dari bahaya serta dampak yang di timbulkan dari pemberian
obat-abat sitostatika yakni dengan menggunakan proteksi diri, dimana
proteksi diri merupakan suatu pencegahan untuk menghindarkan atau
meminimalkan bahaya yang dapat di timbulkan oleh zat sitostatikayang
terdapat pada obat-obatan sitostaika. Pada dosis terapi zat sitotoksis di
temukan bersifat mutagenik, karsiogenik, teratogenik.
Berikut beberapa efek samping kemoterapi pada petugas kesehatan
yang telah di buktikan dalam banyak riset :
1. Akut
Mual, ruam kulit, hair loss, kerusakan hati dan ginjal, gangguan
pendengaran, dsb.
2. Kronis
Gangguan fertilitas, kanker (payudara, nasofaring, leukimia) yang
dapat berujung kematian .
Adapun kontaminasi obat sitostatika dapat melalui beberapa
mekanisme, antara lain:
31 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
a. Absorsi spill (tumpahan/ cipratan)
Cipratan bisa terjadi saat penusukan botol infus dan langsung
mengenai kulit petugas. Karena itu perawat harus selalu dapat
kemoterapi kepada pasien.
b. Aerosol (terhirup)
Udara di dalam ruangan sangat memungkinkan mengandung zat-
zat sitostatik yang tidak terlihat karena ukurannya yang hanya
beberapa mikron. Perawat dan penunggu pasien harus memakai
masker selama di dalam ruangan kemoterapi.
3. Ingesti (tertelan)
zat sitostatika yang menguap dalam udara bisa saja menempel pada
makanan dan minuman yang kemudian di konsumsi. Karena itu
petugas di larang untuk membawa makanan dan minuman di dalam
ruangan kemoterapi.
4. Sharp injuries (jarum)
Kontaminasi bisa juga terjadi karena tertusuk jarum yang habis
dipakai untuk pencampuran obat sitostatika. Pencampuran obat
biasanya di lakukan oleh petugas farmasi di ruanagan khusus dengan
menggunakan Biological Safety Cabinetatau Laminary Airflow
sehingga terjadinya cidera dapat di cegah.
8.2 TUJUAN
Agar perawat pelaksana kemoterapi dalam menjalankan tugas dan
kewajibannya yang mempunyai resiko tinggi untuk terpapar oleh obat-obatan
di tempat kerja. Untuk menghindari dari paparan tersebut agar setiap
petugas dapat melindungi diri sendiri dengan menggunakan Alat pelindung
diri (APD) dan menerapkan prinsip “universal precausion”.
8.3 TINDAKAN YANG BERESIKO TERPAJAN
1. Cuci tangan yang kurang benar.
2. Penggunaan APD yang tidak disiplin.
3. Penutupan kembali jarum suntik secara tidak aman.
4. Pembungan limbah obat secara tidak aman.
5. Penanganan baju khusus secara tidak aman.
6. Tehnik dekontaminasi dan sterilisasi peralatan kurang tepat.
7. Praktek kebersihan ruangan yang belum memadai.
8.4 PRINSIP KESELAMATAN KERJA
Prinsip utama prosedur Universal Precaution dalam kaitan keselamatan
kerja adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan
sterilisasi ruangan. Ketiga prinsip tersebut di jabarkan menjadi 5 (lima)
kegiatan pokok yaitu :
32 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
1. Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2. Pemakaian alat pelindung (APD) diantaranya pemakaian sarung tangan
dan masker guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksi
yang lain dan terhirup dari zat-zat yang terkandung di dalam obat-obatan.
3. Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
4. Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan
5. Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
BAB IX
PENGENDALIAN MUTU
Berbagai upaya pengendalian mutu pelayanan di ruangan kemoterapi.
Standar pelayanan minimal ruangan kemoterapi mengacu pada standar akreditasi
RS versi 2012dan standar pelayanan minimal rumah sakit. Target dari mutu
pelayanan di RSUD Sekayu adalah keselamatan pasien (Patient safety) dan
pencegahan infeksi.
Indikator kinerja klinis pelayanan ruangan kemoterapi berdasarkan standar
pelayanan minimal meliputi:
A. Indikator Mutu Pelayanan Ruangan Kemoterapi
Indikator kinerja klinis pelayanan Ruangan Kemoterapi antara lain:
1. Meningkatnya jumlah pasien kemoterapi tiap bulannya.
2. Belum adanya kejadiaan ekstravasasi.
33 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
3. Kepuasan pasien.
Indikator kinerja manajemen di Unit Kemoterapi antara lain:
1. Jam buka pelayanan 5 hari kerja mulai jam 08.00 – 16.00 WIB
2. Pemberi pelayanan bersertifikat pelatihan Kemoterapi
B. Proses Pengendalian Mutu
1. Melaksanakan pemantauan mutu dengan menggunakan instrumen yang
berstandar.
2. Melaksanakan upaya keselamatan pasien.
3. Mendokumentasikan upaya keselamatan pasien dan pengendalian mutu.
4. Menyusun program perbaikan kendali mutu pelayanan ruang Kemoterapi.
C. Kriteria Hasil
1. Dokumen hasil pelaksanaan keselamatan pasien dan perawat.
2. Dokumen hasil evaluasi pelaksanaan keselamatan pasien.
3. Kemampuan menangani Live Saving 100%.
4. Kepuasan pelanggan 80%
Dalam pelaksanaan pengendalian mutu, survey indikator mutu
menggunakan dalam format tersendiri dan dievaluasi serta dilaporkan setiap bulan
pada panitia mutu Bidang pelayanan Medik dan Non Medik
34 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
BAB X
PENUTUP
10.1 KESIMPULAN
1. Ruang Kemoterapi adalah ruangan khusus di rumah sakit untuk merawat
dan memberikan/ memasukan obat sitostatika yang khusus di berikan untuk
penderita kanker.
2. Dengan sarana dan prasarana medis yang lengkap dan canggih serta di
dukung dengan SDM yang terlatih, ruang kemoterapi di harapkan mampu
menyembuhkan, mencegah penyebaran dan mengecilkan ukuran massa
kanker serta meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi penderiataan
pasien yang menderita kanker.
3. Dengan penggunaan APD yang lengkap dan kedisiplinan petugas dalam
menggunakan APD di harapkan dapat meningkatkan keselamatan dan
keaman kerja petugas.
4. Pencampuran sediaan sitostatika harus dilakukan secara aseptis
oleh tenaga yang terlatih, karena ada beberapa hal yang harus
diperhatikan seperti kontaminasi terhadap produk, paparan
sediaan terhadap petugas serta lingkungan.
10.2 SARAN
1. Semoga dengan adanya Pedoman Pelayanan Ruang Kemoterapi menjadi
acuan dalam peningkatan mutu pelayanan ruang Kemoterapi.
2. Kepuasan pasien meningkat
3. Standar pelayana Kemoterapi dapat tercapai
35 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
4. Standar Patient safety dan Keselamatan Kerja RS sesuai dengan standar
akreditasi RS.
36 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
DAFTAR PUSTAKA
Dr.Bahar Azwar Sp.B (K) Onk. (2017). Buku Panduan Pasien Kemoterapi-Bahar Azwar:
Dian Rakyat
Anonim (2011). Definisi Penyakit Kanker [Online].
Available:http://www.neosavata-.com/tag/arti-kanker
Anonim. (2012). Kemoterapi. Available: http://cancerhelps.co.id
B. Azwar (2010). Kemoterapi untuk kanker payudara. Available: www.suara-dokter.com
37 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi
38 Pedoman Pelayanan Unit Kemoterapi