A.
Farmakokinetik
Farmakokinetik atau kinetika obat adalah nasib obat dalam tubuh atau efek tubuh
terhadap obat. Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi (A), distribusi (D),
metabolisme (M), dan ekskresi (E). Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk
utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat (Gunawan, 2009).
B. Farmakodinamik
Farmakodinamik adalah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan
fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari farmakodinamik adalah untuk
meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan
peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi (Gunawan, 2009).
B. MACAM-MACAM OBAT PRE DAN EKLAMPSIA
1. Magnesium sulfat
Merupakan antikonvulsan yang efektif dan membantu mencegah kejang kambuhan
dan mempertahankan aliran darah ke uterus dan aliran darah ke fetus. Magnesium
sulfat berhasil mengontrol kejang eklamptik pada >95% kasus. Selain itu zat ini
memberikan keuntungan fisiologis untuk fetus dengan meningkatkan aliran darah ke
uterus.
a. Farmakodinamik
Mengahambat atau menurunkan asetikolin pada rangsangan serat saraf dengan
menghambat transmisi neuromuskular. Transmisi neuromuscular membutuhkan
kalsium pada sinaps. Pada pemberian magnesium sulaft, magnesium akan menggeser
kalsium, sehingga aliran rangsangan tidak terjadi (terjadi kompetitif inhibition antara
ion kalsium dan ion magnesium) kadar kalsium yang tinggi dalam darah dapat
menghambat kerja magnesium sulfat.
b. Farmakokinetik
onset antikonvulsan : i.m. 1 jam. Durasi antikonvulsan : i.m 3-4 jam iv 30 menit.
Distribusi : tulang ( 50 – 60 %) cairan ektrasel 1-2 %, ikatan protein : 30 % dengan
albumin. Ekresi : urin
Dosis : Pre eklamsi berat : dewasa ; i.v 4- 5 gram infuse diikuti dengan 1 – 2 gram/jam
infuse atau dapat diikuti 4 – 5 gram i.m. setiap 4 jam , maksimum 40 gram/24 jam.
2. Fenitoin
Fenitoin telah berhasil digunakan untuk mengatasi kejang eklamptik. Fenitoin
bekerja menstabilkan aktivitas neuron dengan menurunkan flux ion di seberang
membran depolarisasi. Keuntungan fenitoin adalah dapat dilanjutkan secara oral
untuk beberapa hari sampai risiko kejang eklamtik berkurang.
a. Farmakodinamik
Pada korteks motoris yaitu menghambat penyebaran aktivitas kejang.
Kemungkinan hal ini disebabkan peningkatan pengeluaran natrium dari neuron dan
fenitoin cenderung menstabilkan ambang rangsang terhadap hipereksitabilitas yang
disebabkan perangsangan berlebihan atau kemampuan perubahan lingkungan di
mana terjadi penurunan bertahap ion natrium melalui membran. Ini termasuk
penurunan potensiasi paska tetanik pada sinaps. Fenitoin menurunkan aktivitas
maksimal pusat batang otak yang berhubungan dengan fase tonik dari kejang tonik-
klonik
b. Farmakokinetik
Fenitoin adalah asam lemah dengan pKa 8.3 (Evans, 1990). Literatur lain
menyatakan pKa nya 9. Fenitoin sangat sukar larut dalam air, hanya kira-kira 4 mg
fenitoin larut dalam 10 ml air pada 37o C, tapi larutannya bersifat alkali. Fenitoin-Na
lebih larut dalam air panas dan berubah cepat menjadi asam fenitoin dalam asam
lambung dengan menghasilkan presipitat (Gibaldi, 1983). Fenitoin diserap terutama
dari bagian proksimal saluran intestinal, tapi absorpsinya agak lambat dan bervariasi
tergantung konsentrasi. Absorpsi hampir sempurna setelah diberikan dosis oral 400,
800, 1600 mg dari fenitoin-Na dalam bentuk kapsul, tapi waktu mencapai
konsentrasi serum maksimum memerlukan waktu 8.4 jam untuk dosis 400 mg, 13.2
jam untuk dosis 800 mg, dan 31.5 jam untuk dosis 1600 mg (Gibaldi, 1983).
Pemberian fenitoin secara IM, menyebabkan fenitoin mengendap di tempat
suntikan kira-kira 5 hari dan absorpsi berlangsung lambat. Fenitoin didistribusikan ke
berbagai jaringan tubuh dalam kadar yang berbeda-beda (Ganiswara, 1995; Katzung,
1995). Setelah suntikan IV, kadar yang terdapat dalam otak, otot skelet dan jaringan
lemak lebih rendah daripada dalam hati, ginjal dan kelenjar ludah (Gibaldi,
1983;Ganiswara, 1995).
Sebagian metabolit fenitoin diekresikan bersama empedu, kemudian mengalami
reabsorpsi dan biotransformasi lanjutan dan diekresikan melalui ginjal.Di ginjal
metabolit utamanya mengalami sekresi oleh tubuli, sedangkan bentuk utuhnya
mengalami reabsorpsi (Ganiswara, 1995).Eliminasi fenitoin mengikuti kinetika
tergantung dosis pada konsentrasi mencapai rentang terapetik.Kinetika eliminasi
seperti ini menyebabkan masalah bioavailabilitas pada fenitoin (Gibaldi, 1983;
Evans, 1990).Fenitoin mempunyai waktu paruh 12-36 jam (Katzung, 1995).Waktu
untuk mencapai konsentrasi yang tetap dalam serum (steady-state) dibutuhkan waktu
5-10 hari (Watts, 1984).
Fenitoin tersedia dalam bentuk garam natrium yaitu berupa kapsul 100 mg dan
tablet kunyah 30 mg untuk pemberian oral, sedangkan sediaan suntik 100 mg/ 2 ml.
Di samping itu juga tersedia bentuk sirup dengan takaran 125 mg/5 ml.
3. Diazepam
Telah lama digunakan untuk menanggulangi kegawatdaruratan pada kejang
eklamptik. Mempunyai waktu paruh yang pendek dan efek depresi SSP yang
signifikan.
a. Farmakodinamik
Diazepam melewati barier plasenta dan dapat menyebabkan depresi pernapasan
pada neonatus, hipotensi dan hipotermi hingga 36 jam setelah pemberiannya. Depresi
neonatal ini hanya terjadi bila dosisnya lebih dari 30 mg pada 15 jam sebelum
kelahiran.
b. Farmakokinetik
Absorbsi
Benzodiazepin dapat diadministrasi lewat injeksi intravena, intramuskular, oral, dan
rektal. Penyerapan diazepam lewat rute oral >90% dan mencapai peak plasma
concentration dalam waktu 30-90 menit. Absorbsi menurun dan diperlambat dengan
konsumsi makanan berlemak, penyerapan umumnya terjadi pada 15 menit pada keadaan
puasa sedangkan pada keadaan dikombinasi dengan makanan berlemak penyerapan
tertunda 45 menit. Sehingga peak plasma yang harusnya dicapai 1.25 jam pada keadaan
puasa, pada keadaan dikombinasi dengan makanan berlemak menjadi 2.5 jam. [9]
Bioavailabilitas dari Diazepam gel rektal mencapai hingga 90%. Peak plasma level dicapai
dalam waktu 10-45 menit. [9]
Absorbsi melalui intramuskular hanya mencapai 60% jika dibandingkan dengan dosis yang
sama jika diberikan lewat rute oral. Peak plasma level dicapai dalam waktu 30-60 menit
setelah injeksi. Maka administrasi dari rute intramuskular hanya terbatas jika obat tidak
dapat diberikan lewat rute lain. [9]
Absorbsi melalui intravena setelah pemberian bolus 15 menit dosis 10 dan 20 mg
konsentrasi dalam darah berturut-turut adalah 400 ng/ml dan 1200 ng/ml. Pemberian dalam
jangka waktu yang lama akan menurunkan konsentrasi diazepam, pemberian 20 mg
menjadi 1,010 ng/ml. [9]
Distribusi
Volume distribusi diazepam pada laki-laki sehat berkisar antara 0.8-1.0 L/kg. Diazepam
berikatan dengan plasma protein hingga 98%. Konsentrasi diazepam dalam plasma
memiliki waktu paruh 1 jam hingga 3 jam. Penurunan konsentrasi dalam plasma
membentuk kurva bifasik, di mana penurunan secara cepat pertama kali menggambarkan
distribusi ke jaringan, dan penurunan kurva kedua kali menggambarkan eliminasi waktu
paruh terminal.[10,11]
Diazepam memiliki solubilitas lipid yang tinggi sehingga diazepam dapat dengan cepat
masuk ke otak, dan organ lain yang kemudian diredistribusikan ke otot dan jaringan
adiposa. Sirkulasi enterohepatik minimal. Diazepam bersifat transplasental pada fetus dan
disekresikan dalam ASI (sebesar sepersepuluh yang ada di maternal plasma pada hari ke-3
– 9 post partum). [7]
Metabolisme
Diazepam dimetabolisme oleh enzim hepatik (hepatic cytochrome enzyme
isozyme/CYP450) menjadi bentuk metabolit aktif yaitu oxazepam, temazepam, dan
desmethyldiazepam. Temazepam dan oxazepam dieliminasi dengan cepat oleh proses
glukuronidasi. Eliminasi waktu paruh pada dewasa 20-50 jam, meningkat pada pasien
geriatri (di atas 40 tahun bertambah 1 jam untuk setiap usianya; misal eliminasi waktu
paruh pada pasien usia 75 tahun adalah 75 jam), neonatal, dan penyakit hepar (sirosis,
hepatitis) dan gangguan renal. Waktu paruh menurun (lebih cepat dimetabolisme) pada
pasien dengan konsumsi medikasi yang mengandung enzim hepatik.
Ekskresi
Waktu paruh diazepam inisial (1-3 jam) diikuti oleh waktu paruh terminal (20-50
jam atau ~48 jam). Untuk eliminasi waktu paruh terminal metabolit aktif dari
desmethyldiazepam membutuhkan waktu hingga 100 jam. Diazepam dan metabolit
aktifnya diekskresikan lewat urin dalam bentuk sulfat dan konjugat glukuronida.
Rata-rata kecepatan waktu pembersihan diazepam dalam tubuh manusia dewasa
adalah 20-30 mL/menit. Dengan dosis multipel diazepam akan menumpuk sehingga
mengakibatkan semakin panjangnya waktu eliminasi.
4. Nifedipin
Merupakan Calcium Channel Blocker yang mempunyai efek vasodilatasi kuat
arteriolar. Hanya tersedia dalam bentuk preparat oral.
a. Farmakodinamik
Nifedipin bekerja sebagai antagonis kalsium dengan menghambat arus ion kalsium
masuk ke dalam otot jantung dari luar sel. Karena kontraksi otot polos tergantung
pada ion kalsium ekstra seluler, maka dengan adanya antagonis kalsium dapat
menimbulkan efek inotropik negatif. Demikian juga dengan Nodus Sino Atrial (SA)
dan Atrio Ventrikuler (AV) akan menimbulkan kronotropik negatif dan perlambatan
konduksi AV.
b. Farmakokinetik
Setelah pemberian oral dari kapsul konvensional, sekitar 90% dari dosis yang diserap
dengan konsentrasi serum puncak biasanya dicapai dalam waktu 0,5-2 jam.
Bioavailabilitas oral tablet extended-release adalah sekitar 75-89% dari yang dicapai
dengan dosis yang sama pada kapsul konvensional, Konsentrasi Puncak plasma untuk
tablet extended-release tercapai dalam waktu sekitar 2,5 - 6 jam.
imetabolisme Ekstensif di hati oleh CYP isoenzim, termasuk CYP3A, menjadi sangat larut
dalam air, metabolit tidak aktif.
Metabolit diekskresikan dalam urin (60-80%) dan feses (mungkin melalui eliminasi
bilier).2 jam (kapsul konvensional); 7 jam (Tablet extended-release / Tablet lepas lambat).
Eliminasi dapat berubah pada pasien dengan kerusakan hati. Waktu paruh eliminasi 7
jam pada pasien dengan sirosis. Setelah pemberian IV, penurunan total klirens tubuh
pada geriatric (usia lanjut) dibandingkan dengan dewasa muda.
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, Gan Sulistia. 2009. Farmakologi dan Terapi edisi 5. Jakarta: Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jordan,Sue.2002. Farmakologi Kebidanan . Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Katzung G Betram.2002. Farmokologi dasar dan klinik edisi 3. Jakarta: Salemba medika