Anda di halaman 1dari 10

SKENARIO 4 : RUBBERDAM

Isolasi Daerah Kerja Pasien anak laki-laki usia 6 tahun datang diantar ayahnya ke bagian klinik
Pedodonsia RSGM Unej dengan keluhan giginya sakit tiba-tiba ketika sedang belajar. Kondisi ketika
datang periksa, gigi tersebut tidak sakit. Pemeriksaan intra oral didapatkan gigi 74 karies profunda, tes
vitalitas (+), tes perkusi (+), tes tekanan (-). Diagnosa pada kasus tersebut berdasarkan ICD X adalah
karies mencapai pulpa vital pada 74. Gigi 74 direncanakan akan dilakukan pulpektomi. Pasien
mempunyai kecenderungan hipersalivasi sehingga mempersulit dokter dalam melakukan perawatan.
Sehingga dokter memutuskan untuk melakukan isolasi daerah kerja dengan menggunakan rubber dam.

a. Rubber dam :
 Alat untuk isolasi pada daerah kerja dari saliva, darah, larutan irigasi, bahan kimia dan
instrumen kedokteran gigi
 Terbuat dari latex / non latex. Memiliki berbagai macam ketebalan dan warna
b. Isolasi daerah kerja :
 Kegiatan memisahkan daerah yang akan dilakukan perawatan dengan benda-benda lain
disekitarnya, untuk mempermudah prosedur kerja
 Tindakan yang mengusahakan agar daerah kerja tetap bersih dari bahan pengganggu, seperti
saliva dan alat
 Alat yang mengatasi gangguan pada perawatan restoratif dan endodonti pada waktu kita
bekerja. Contoh : saliva dan lidah.

Apa tujuan dilakukan pemasangan rubber dam?

 Mencegah kontaminasi saliva dan darah pada daerah kerja


 Lapang pandang lebih jelas
 Daerah kerja menjadi kering
 Mencegah tertelannya alat dan memproteksi mukosa
 Mempermudah perawatan, kerja operator tidak terganggu

Keuntungan dan kerugian pemakaian rubber dam?

Kelebihan :
 Memberikan isolasi pada gigi yang sempurna dari saliva maupun darah
 Mencegah tertelannya instrumen endodontik yang digunakan
 Daerah kerja jadi kering dan jelas dapat terlihat
 Memproteksi pasien dan operator selam perawatna
 Mencegah adanya infeksi silang
 Dapat dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama
 Meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja
 Mencegah berkabutnya kaca mulut

Kerugian :

 Pasien merasakan nyeri setelah pemakaian rubber dam


 Lebih mahal, karena harga rubber dam cukup mahal dan aplikasinya cukup lama
 Mempersulit foto rontgen
 Pasien sulit berbicara
 Dapat terjadi trauma pada papilla gingiva
a. Indikasi dan kontraindikasi pemakaian rubber dam?
Indikasi
 Pasien yang menjalani perawatan endodontik dan restoratif
 Pasien yang mengalami hipersalivasi
 Pasien yang “waterproof”
Kontraindikasi
 Pasien alergi terhadap latex
 Pasien yang tidak kooperatif
b. Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan? Dan bagaimana prosedur pemakaiannya?
Alat
 Rubber dam sheet
 Punch : ada 2 tipe
- Anshworth : memiliki roda dengan berbagai ukuran lubang
- Ash : hanya memiliki satu jenis ukuran lubang
 Clamps banyak ukurannya. Berguna sebagai retentif dan sebagai isolasi
- Wing
- Wingless
- Pada anak :
DW untuk molar pertama dan kedua decidui.
BW molar 1 tetap.
K yang bersayap untuk M 1 tetap.
L bersayap untuk M 1 sulung yang baru erupsi dan berukuran kecil
 Tang Clamps
 Frame
 Floss
 Retensi tambahan dapat diperoleh dari wedge
 Saliva ejector

Bahan
Prosedur :
a) Setelah mengidentifikasi keadan RM, melubangi RD Sheet kemudian memasang frame.
Setelah itu memasang clamp pada gigi yang akan di rawat. Untuk melebarkan clamps
menggunakan forcep clamp setelah itu dipasang ke mulut pasien. Diapilkasikan ke mulut
dengan dental floss. Ada juga clamps nya yang dipasang dulu, sesuai dengan gigi mana yang
mau dirawat setelah it RD Sheet di pasang dan yang terakhir frame
b) Teknik karet dulu  rubber first method
c) Clamps dulu baru RD nya  wingless technic indikasi untuk pasien yang rahangnya kecil
d) Winged technique  Ada yang memasangkan RD dan clamps secara bersamaan dan
dirapikan dengan dental floss.
e) Pemasangan RD tidak menggunakan clamps  langsung dipasang. Ada custom RD 
menandari RD di dalam RM
f) Metode multiple technique diinidkasikan pada pasien yang mengalami gigi hilang.
g) Kapan pake metode itu?  indikasi gigi hilang metodenya salsa
c. Alternatif lain selain menggunakan rubber dam?
 Jangka pendek

- Cotton roll
- Tampon
a. Mahasiswa mampu menganalisa alat dan bahan rubber dam
 Rubber dam sheet : lembaran tipis, tahan robekan, melekat erat di gigi dan dapat meretraksi
jaringan gingiva dengan baik. Tersedia berbagai warna dari gelap sampai terang. Terdiri dari
berbagai macam ukuran, ukuran yang tebal lebih dipilih.

 Rubber dam puncher : untuk membuat lubang pada rubber dam sheet dan menentukan
ukuran lubang pada gigi. Syarat : tajam dan dapat menghasilkan lubang dengan permukaan
yang halus.
Lingkaran merah : plat lubang
Lingkarang kuning : handle

 Dam stamp : menghasilkan serangkaian titik sesuai dengan lengkung gigi


 Clamps : sebagai menstabilkan dan meretraksi gingiva selama prosedur
 Forceps : meletakkan, mengatur dan melepas clamps
 Lubricant : gel dengan bahan dasar air yang memudahkan isolator rubber dam untuk
mencegah iritasi di rongga mulut
 Dental dam holder
- Ostby : untuk endodontik
- Young Frame
- Wood bury : ada tali yang melekat pada 2 klip nya
 Dental dam napkin
b. Mahasiswa mampu menganalisa prosedur penggunaan rubber dam
Ada di line dan ppt
c. Mahasiswa mampu menganalisa macam-macam isolasi daerah kerja

 Tang holder : isolator rongga mulut penahan lidah untuk mempermudah operator dalam
perawatan. Terdiri dari :
- Penahan lidah
- Penahan dagu
- Tangkai klep
- Klep penjepit
- Klep pengatur penahan dagu
Pemasangan :
- Tentukan sisi yang akan dipasang tang holder
- Pasang penahan lidah pada tangkai dan klep
- Pasang kapas pada lidah
- Tang hoder siap dipakai
- Atur klep pada penahan dagu

Pemilihan Bahan

a. Isolator Karet ( Rubber Dam )

Bahan ini harus yang baru.setelah dalam 2-3 tahun dalam rak, isolator mudah berubah dan mudah
koyak bila tertarik di atas gigi. Karena warnanya kontras dengan warna gigi yang putih, di pilih warna yang
gelap karena lebih efektif. Ukuran standar untuk anak-anak adalah 5x5 inci dan untuk dewasa adalah 6x6
inci.

Isolator karet tersedia dalam berbagai ketebalan : tipis (0,15 mm), sedang (0,20 mm), tebal (0,25
mm), ekstra tebal (0,30 mm), khusus ekstra tebal (0,35 mm). Juga tersedia dalam berbagai warna : hijau dan
biru. Keuntungan isolator karet yang tipis adalah mudah di pasang dan memberikan rasa nyaman pada
pasien.sedangkan keuntungan isolator karet tebal adalah kemampuannya menarik jaringan lunak dan daya
tahannya terhadap goresan bur gigi.

Walaupun kesukaan individu berbeda sesuai dengan lokasi dan pemakaian tiap tipe,ketebalan
medium dianjurkan untuk gigi molar,tebal (atau ekstra tebal)untuk gigi-gigi anterior dan premolar

b.Klem (Helsi Yuliastri, 11-052)

Penjangkaran karet pada ujung distalnya dilakukan dengan klem.Bahan dasar untuk klem adalah dua
jaw,dan 4prong,busur,lubang-lubang dan sayap,klem berbeda mengenai prong mesial dan distalnya
tergantung pada keliling eksternal dan bentuk gigi.keempat prong harus memegang gigi dengan tepat pada
keempat sudutnya.Bila prong mesial dan distal ditutup,maka menggenggam hanya permukaan bukal dan
lingual gigi bila berjauhan akan tergantung bebs,membuat logam penghubung mencekeram gigi melalui
kontak tangensial.keadaan terakhir ini lebih buruk disbanding yang sebelumnya karena klem cenderung
terdorong kebelakang dan kedepan,mengikis sementum lunak dariakar dan mengenai jaringan lunak gingiva.

Rasio dan proporsi ditentukan oleh mata hati operator ketika ia memilih klem untuk gigi
anterior,premolar atau molar.diikuti dengan mencoba mengepaskan klem kegigi.dengan melalui percobaan
ini klem yang diinginkan kemudian dipilih .Busur dari klem karena terbuat dari baja pegas yang
dipanaskan,lebih berat dan lebih kasar untuk klem molar,sedangkan busur dari klem untuk gigi anterior dan
premolar yang lebih kecil adalah lebih halus.

Gigi yang erupsi sebagian sering kali sulit dipegang ,sehingga membutuhkan klem dengan prong
inverted .Lubang-lubang dalam suatu klem harus sesuai dengan paruh dari tang klem.seringkali lubang-
lubang tidak sesuai dengan paruh tang tersebut.paruh dari beberapa tang mungkin cukup kecil sehingga bisa
masuk kelubang klem tetapi terlalu besar untuk mengeluarkan klem sesudah dipasang kegigi,pabrik klem da
tang tidak terlalu teliti dalam control kualitas mengenai hal ini,dan modifikasi oleh dokter gigi mungkin
diprlukan untuk membuatnya dapat digunakan.

Suatu klem dapat memiliki 4sayap proyeksi,2di lateral dan 2 dianterior ,karena ditunjukan untk
menahan karet agar tidak menutupi daerah kerja ,sayap-sayap ini seringkali menghalangi penempatan
penempatan retainer matriks dan instrument-instrumen lainnya ketika bekerja.pda tiap tingkatan,mahasiswa
didorong untuk mengunakan isolator karet sesering mungkin,tiap pemakaian memiliki pengetahuan
menyeluruh mengenai pemakaiannya,dapat dipilih klem yang tepat an dipasang karet dengan
terampil.latihan adalah penting keterampilan sebagaidokter gigi operatif,pertama kali haruslah berupa
terampil dalam memasang isolator karet.

c. Pelumas

Isolator karet lebih mudah dipasang bila digunakan pelumas.bila pelumasnya dapat larut dalam
minyak dan dapat larut dalam air,akan berpenetrasi dan dengan cepat menyebabkan karet menjadi
rusak.sabun cukur adalah pilihan pertama sebagai pelumas.gosok permukaan batangan abun yang
basah,ambil yang hacur dengan jari dan oleskan ke lubang-lubang pada prmukaan dalam isolator karet
tersebut.

d.Handuk (Reza Andika Putra, 11-054)

Handuk digunakan untuk kenyamanan pasien.Keringat dan saliva yang keluar mudah di blok oleh
handuk untuk memisahkan isolator dari kulit.

e. Pemegang Isolator Karet

Isolator katet harus di tarik umtuk mendapatkan akses yang luas ke rongga mulut. Ada berbagai type
dan desain pemegang isolator karet. Pada dasarnya meliputi, (a).traksi servikal, dengan strap di sekeliling
kepala atau leher atau (b).rangka fasialn yang menghasilkan tarikan sirkumferensial di sekeliling mulut itu
sendiri.

Yang pertama lebih menguntungkan dari sudut pandang operator karena bisa menarik karet ke
belakang dan memnjaganya tetap setinggi wajah.Traksi servikal memberikan akses yang lebih besar dan
memperbaiki tumpuan jari,karena tangan operator dapat di letakan lebih dekat ke daerah kerja.Strap
kadang\-kadang menggangu pasien karena potongan rambutnya menjadi rusak.Juga jika metode ini fiksasi
strap di gunakan,lebih sulit menempatkan penyedot kecepatan tinggi dan menggontrol aliran air selama
prosedur pengeboran.

Rangka fasial lebih mudah serta lebih cepat di pasang dan lebih cepat di tolerir oleh pasien.Meskipun
demikian,rangka memang menghambat pergeraakan operator dan tidak memberikan keamanan dan
pengjangkaran sebanyak type servikal.

Pemakaian salah satu type tersebut dapat memenuhi kebutuhan operator,dan keduanya harus di
kuasai-rangka untuk kegiatan rutin dan type servikal untuk pemakaian yg sulit atau kompleks.

II.4 Pembuatan Lubang (Fitriyani, 11-056)

Lubang-lubang dibuat untuk mempertegas kurvatur rahang dan diberi jarak sesuai dengan jarak di
antara gigi-gigi. Untuk memastikan keseragaman batas-batas karet setelah pemasangan, 2 tanda utama harus
selalu diingat. Pertama, untuk pemasangan rahang atas, gigi-gigi insisivus harus terletak 1 ici dari batas atas.
Kedua, untuk pemasangan rahang bawah, lubang yang paling posterior sedikit ke kanan atau ke kiri dari
pusat karet.

Keliling dari rahang juga menentukan lokasi lubang. Tujuan menjarakkan lubang agar karet dengan
mudah menempati tiap gigi tanpa mengkerut. Bila terlalu rapat atau tidak tepat gigi bisa dimasukkan dalam
lubang tetapi karet akan ditarik ke samping, sehingga memungkinkan saliva keluar.

Buat lubang gigi dalam jumlah cukup banyak pada pemasangan isolator karet untuk prosedur-
prosedur operatif. Misalnya, pemasangan di anterior harus meliputi sedikitnya 7 gigi. Gigi yang menonjol
keluar melalui karet memberikan akses pada operator, emnarik bibir, dan memberikan sejumlah gigi anterior
kering yang berfungsi sebagai tempat tumpuan jari. Pemasangan posterior harus mencakup dari M1 atau M2
ke kaninus di seberangnya. Klem diletakkan satu gigi lebih distal dari gigi yang sedang dikerjakan.

Pemakaian dan pemeliharaan yang cermat dari pembuatan lubang tidak boleh diabaikan. Pembuatan
lubang harus diberi minyak, tidak boleh di autoklaf, dan harus disimpan di tempat yang kering. Di atas
segalanya, operator harus yakin bahwa kon pembuat lubang sebelum ditekan untuk melubangi karet.
Kecerobohan dalam hal ini akan merusak instrument yang mahal ini. Lubang-lubang harus jelas dan rapi.
Lubang dengan sisi yang bergeruntul akan menyebabkan robeknya karet bila ditarik kuat-kuat.

Dalam memasang isolator karet, ada tiga langkah yang harus dilakukan : persiapan, pemasangan, dan
stabilisasi.

II.5 Persiapan (Evy Christiana, 11-058)

Penyiapan bahan-bahan dan inspeksi gigi-gigi adalah hal yang penting.

Peralatan:

1. Peralatan dasar: kaca mulut, sonde, penjepit kapas, instrument plastic.


2. Pelubang isolator karet
3. Tang klem isolator karet
4. Isolator karet yang telah ditandai untuk dilobangi
5. Pemegang isolator karet
6. Handuk isolator karet
7. Dua potong pita gigi (dental tape) panjang 18 inci
8. Pelumas karet
9. Saliva ejector
10. Gunting
11. Klem R-D

Kalkulus dan debris lainyya dibersihkan, titik kontak diperiksa dengan meewatkan pita gigi, dan
sudu-sudut tajam dari email yang dapat mengoyakkan isolator karet dibuang. Nklem yanb akan digunakan
telah dicoba ke gigi dan telah diuji untuk memastikan agar klem tidak lepas. Pita gigi harus dikaitkan ke
busur sebagai jaminan agar klem tidak lepas. Pasien juga diberi ppelumas seperti Borofax ke bibir, terutama
pada sudut bibir.

II.6 Pemasangan (Dina Aulya Amli, 11-060)

Urutan yang dianjurkan :

1. Pemasangan klem
2. Pemberian pelumas pada karet
3. Pemasangan karet ke gigi distal dan klem termasuk semua sayap.
4. Pemasangan handuk isolator karet.
5. Pemasangan pemegang. Suatu tanda identifikasi dalam bentuk lubang dibuat pada sudut kanan
bawah darv karet untuk patokan dalam mengorientasikan karet sebelum pemasangan pemegang.
6. Karet kemudian di tarik ke gigi seberangnya. Biasanya gigi caninus atau premolar
7. Bekerja dari gigi ini kebelakang klem, karet ditarik dengan ibu jari pada permukaan labial dan jari
telunjuk pada permukaan lingual. Untuk membantunya, kuku ibu jari dari tangan lain dapat
digunakan.
8. Pita gigi sekarang digunakan untuk melewatkan karet melalui satu atau dua titik kontak yang tersisa.

II.7 Stabilisasi Karet (Dwiky Zulya, 11-062)

1) Gunakan klem isolator karet,tentu saja untuk memegang ujung distal dari karet sekng paeliling gigi
yaling posterior.kadang perlu menggunakan klem lain untuk menahan karet sekeliling kaninus atau
premolar pertama pada sisi rahang yang berlawanan.ini dapat dicegah dengan menggunakan sepotong
“ pipa karet” yang lebar yang di ambil dari sudut karet.menahan dan menariknya untuk mendapat
sepotong pita gigi dan melewatkannya melalui titik kontak kaninus dn premolar pertama.tegangan
yang dilepaskan akan memungkinkan karet mengikat kembali dan dengan kuat memeluk gigi pada
embrasure ginggiva untuk mencegah isolator karet lepas dari antara gigi- gigi ( gambar 8-27)
2) Pemeriksaan pada karet yang mengelilingi gigi yang di klem dapat menunjukan suatu sayap yang tidak
di lingkari oleh karet atau beberapa jaringan gigi distal yang dimasukan bersama gigi.manipulasi karet
dengan jari atau instrumen plastic dapat dengan mudah membetulkan posisi karet untuk memblokir
masuk nya cairan mulut.
3) Invaginasi karet di sekeliling leher gigi hanya diperlukan pada daerah yang akan dirawat.tetapi
memasukan karet kedalam sulkus disekeliling semua gigi akan menghasilkan suatu lapangan kerja
yang sangat rapi dan bersih.
4) Pemegang diperiksa untuk kenyaman pasien dan karet dibawah hidung diperiksa untuk memastikan
pasien dapat bernapas dengan bebas.
5) Dengan adanya lipatan pada karet,kerutan berlebihan pada isolator yang menutupi dagu dapat
dihilangkan.
6) Banyak pasien tidak membutuhkan saliva ejektor tetapi bila diperlukan harus diletakan tanpa
menggangu kenyaman pasien sebaik nya melalui lubang didalam isolator karet (gambar 8-29)lubang
tersebut harus dibuat berlawanan dengan daerah kerja agar tidak mengganggu pemakaian
henpis.sebagai suatu pilihan,ejektor dapat dilewatkan dibawah isolator karet dan masker muka.
7) Daerah tersebut harus disiram,difakum,dikeringkan.

II.8 Membuka Isolator (Diang Fitri, 11-064)


Membuka isolator karet relatif sederhana. Caranya sebagai berikut:

1. Pertama-tama klem dibuka dan dikesampingkan


2. Dengan menarik karet ke bukal atau lingual, operator memotong karet pada tiap septum dengan
gunting.
3. Masker karet sekarang dibuka diikuti dengan penempatan handuk dingin untuk melap bibir dan
menyegarkan pasien kembali.

Walaupun pembukaannya mudah, pemotongannya septal dari karet dapat tertinggal tanpa diketahui.
Secara rutin, operator harus memengang penutupnya ke atas ke arah cahaya untuk membuka apakah ada
fragmem-fragmen karet yang tertinggal yang mungkin masih terdapat di sulkus ginggiva.

II.9 Membuat Klem

Walaupun bentuk dan ukurannya sesuai dengan hampir semua gigi, perubahan-perubahan pada jaw,
sayap dan prongnya harus dilakukan sebagai hal yang rutin. Bur fisur yang kasar dengan cepat mengubah
klem stok menjadi yamg siap pakai. Walaupun suatu klem telah di modifikasi, tidak perlu di buang karena
bisa di simpan untuk pemakaian di lain waktu.

II.10 Pemasangan Klem Klas V (Silvia Desrianita, 11-066)

Tujuan pemasangan klem adalah untuk menstabilkan isolator karet dan mengisolasi daerah kerja
pada atau dekat akar.Pemasangan sangat penting untuk klem tipe 212.Mamfaat terbesarnya adalah
kesderhanaan dan busurnya yang rapuh, yang memungkinkan akses ke daerah kerja.

Salah satu persyaratan dari klem ini yang berbeda dari yang lain adalah kepasifannya. Semua klem
baik yang terdapat dari baja tahan karat atau baja berlapis kromium, tidak dapat dibengkokkan. Klem ini
akan membuka kembali bila dibengkokkan dan tekanan yang melewati batas elastisitasnya akan
menyebabkan fraktur.hal ini tidak dijumpai pada klem 212. Walaupun pun kuat dan kaku klem ini bias
dibengkokkan dan diubah bentuknya. Begitu telah selsesai dibuat, klem baja tahan karat sulit dilunakkan dan
diubah lagi. Klem dari baja yang tinggi kadar karbonnya, dapat dilebur dengan memanaskannya sampai
merah dan membiarkannya mendingin.

Pada umumnya suatu klem pasif yang belum dibentuk tidak memeluk gigi seketat klem yang telah
terbentuk, dan harus ditangani dengan baik hati-hati dan teliti sementara meretraksi ginggiva. Bila paruh dari
klem sudah terlalu terbuka, dapat dirapatkan kembali dengan jari dan dipasang krmbalike gigi. Pemasangan
klem ke gigi dilakukan sebelum pemasangan isolator karet. Akan merupakan keadaan yang ideal bila lokasi
batas ginggiva dari lesi di bukal sama tingginya dengan tepi ginggiva di lingual. Tang dapat
membengkokkan paruh k eats atau ke bawah agar mendapatkan keadaan pas yang di inginkan ( gambar(8-38
dan gambar 8-39).

Efeksivitas sebernya dari klem No. 212 klas V tidak diberikan oleh logam itu sendiri, tetapi oleh
bahan cetak kompoun yang melekatkannya dengan kuat ke gigi. Gigi-gigi dapat sedikit dgosok dengan
peroksida atau dilapisi dengan vernis kavitas untuk menjamin perlekatan yang lebih baik dari kompoun
tersebut.

Pemberian kompoun tidak sulit. Petunjuk-petunjuk berikut sangat membantu dalam pemasangan
klem 212.
1. Jari-jari diolesi sedikit dengan pelumas (Borofax atau Petroleum jelly)untuk mencegah kompoun
melekat ke jari (Beberapa operator lebih menyukai air untuk tujuan ini dan juga untuk membentuk
kompoun).
2. Klem distabilisasi memegang paruh bukal menggunakan ibu jari sampai kompoun tersebut telah
dilekatkan seluruhnya, dibentuk, dan didinginkan.
3. Pemberian kompoun yang pertama adalah di bawah busur distal. Setelah dibentuk, ulangi untuk
busur mesial.
4. Setelah kompoun tersebut dilekatkan dan dibentuk, pendinginan dapat dipercepat dengan meletakkan
gulungan kapas yang basah ke kompoun tersebut. Aksi penguapan mendinginkan kompoun tersebut
ketika udara disemprotkan ke permukaannya.

II.11 Isolasi Jembatan Cekat (Dinda Rosmaulisa, 11-068)

Isolasi gigi yang telah diberi jembatan cekat yang terletak di sebelah bagian yang di solder, perlu di
isolasi. Selain bahan-bahan standarn jarum jahit melingkar nomor 4 (ujung tumpul) dan pemegang jarum
juga di gunakanm. Lubang-lubang dibuat dengan cara yang sama, termasuk lubang-lubang yang lebih besar
ukurannya untuk tiap unit jembatan. Isolator karet diletakkan diatas semua gigi kecuali untuk geligi tiruan
sebagian cekat.

Jarum diberi benang dengan pita gigi dan dilewatkan melalui sisi bukal dari lubang nomor 1 (pilar
(abutment) anterior di bawah pertemuan solder anterior dan keluar dari sisi lingual lubang no1 juga. Dengan
mengubah arah jarum tersebut sekarang ditarik ke belakang melalui sisi lingual dari lubang nomor2 (pontik),
tetapi masih di bawah penyatuan solder medial, dan keluar dari sisi fasial lubang nomor2. Kedua ujung pita
tersebut disatukan dan diikat kuat dengan satu simpul persegi dan dipotong. Dengan cara yang sama, pita
ditarik di bawah penyatuan solder posterior melalui lubang nomor3 (pilar posterior) dalam arah lingual dan
kembali melalui lubang nomor 2 dalam arah fasial. Pita tersebut ditarik kuat, diikat, dan dipotong (gambar
8-50 sampai 8-54). Setelah kerja tersebut selesai dilakukan, pembukaan isolator dapat dengan mudah
dilakukan dengan memotong daerah intersepsial karet di atas penyatuan solder menggunakan instrumen
yang tajam. Potongan-potongan pita yang kecil dibuang dan mulut diperiksa untuk melihat ada tidaknya
fragmen-fragmen karet yang tersisa.

II.12 Isolasi dengan Cara Bedah (Nadya Pratiwi, 11-070)

Dua metode lain dapat dilakukan oleh dokter gigi bila ingin mendapatkan dareah kerja yang kering dan
akses dalam melakukan pelayanan klinis.Dua metode ini melibatkan invasi bedah jaringan lunak di
sebelahnya dan kedua metode ini digunakan untuk mendapatkan akses kepermukaan akar yang biasanya
berada di bawah jarngan gingiva.

a. Metode 1
Retraksi bedah adalah salah satu cara untuk mendapatkan akses ini.Hal ini dilakukan dengan cara
membebaskan jaringan dari perlekatannya,yang sering melibatkan insisi,dan membuka flap ke atas
(atau kebawah) sehingga tidak menutupi dareah kerja .Isolator karet dangan klem,di pasang untuk
mengontrol cairan dan menahan gingival selam proses operatif dilakukan.Bila telah selesai,klem dan
karet dibuka dan jaringan direposisi kembali dan di tahan di tempatnya,biasanya dengan jahitan atau
pak periodontal.
b. Metode 2
Menghilangkan jaringan yang tidak diinginkan dengan bedah elektro.Pendarahan pada bedah elektro
biasnya bukan karena ujung –ujung arteri di kauterisasi dengan aksi memotong.Pemakaian utama
dari bedah elektro adalah untuk preparasi mahkota; tetapi sering digunakan untuk membuka
permukaan fasial gigi.Karena itu metode ini dapat digunakan dengan atau tanpa isolator karet
,tergantung keadaan pada saat tersebut.

Semua prosedur operativ sebaiknya dilakukan di permukaan yang kering dan tidak terkontaminasi sehingga
bahan yang di gunakan dapat memberikan sifat-sifat fisisnya yang optimal pada dokter gigi.Pada sisi
lain,mata operator dapat melihat dengan jelas dan tak terganggu bila daerah kering dan tidak di tutupi debris.