Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH MATA KULIAH BAHASA INDONESIA

EJAAN BAHASA INDONESIA


(PEMAKAIAN HURUF, PENULISAN HURUF, PENULISAN KATA,
SINGKATAN, AKRONIM, PARTIKEL DAN ANGKA BILANGAN)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia


Tahun Ajaran 2017/2018 Universitas Widyatama

Disusun Oleh:

Dicka Ardiansyah (0517104069)


Siti Amalia Destiani (0517104072)
Eko Abdul Aziz (0517104079)
Ari Ahmad Faizal (0517104070)
Jaami Banda Riksa (0517104074)

UNIVERSITAS WIDYATAMA
FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK INDUSTRI S1
Jl. Cikutra No. 204 A Bandung Jawa Barat 40124
Telp: 022-7219517 Fax: 022-7219517

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang mana atas berkat dan
pertolongan-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kami
haturkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, kepada para keluarganya, kepada para
sahabatnya dan kepada para ummatnya hingga akhir zaman.
Penyusunan makalah dengan judul “Ejaan Bahasa Indonesia” ini merupakan pe-
menuhan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia tahun ajaran 2017/2018 Universitas Widyatama
Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri yang diberikan oleh dosen pembimbing kami, yaitu
Bapak Idi Jahidi OR SPd. MSi.
Makalah ini berisi tentang penjelasan mengenai pengertian ejaan, sejarah perkembang-
an ejaan Bahasa Indonesia, materi ejaan Bahasa Indonesia, ruang lingkup serta kesimpulan dan
saran.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT, atas karunia-Nya yang telah memberikan jalan yang terbaik bagi
kami dalam pelaksanaan kuliah dalam pembuatan makalah ini.
2. Kedua orang tua kami, serta keluarga yang senantiasa mendo’akan dan
memberikan dukungan moril maupun materil, motivasi, saran, kritik serta
nasihat kepada kami.
3. Bapak Idi Jahidi OR SPd. MSi. selaku dosen pembimbing mata kuliah Bahasa
Indonesia yang senantiasa memberikan arahan, saran serta kritik dalam
pembuatan makalah ini.
4. Seluruh rekan-rekan kelas C Reguler B2 Teknik Industri Universitas
Widyatama yang telah berbagi suka duka dan senantiasa memberikan dukungan
dan motivasi bagi kami.
Tiada gading yang tak retak, kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik membangun
untuk makalah ini. AKhir kata, semoga makalah ini bermanfaat untuk para pembaca.

Bandung, September 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..…………………………………………………………............. 2


DAFTAR ISI..…………………...…………………………………………………...….. 3
BAB I PENDAHULUAN …..………………………………………………………….. 4
1.1 Latar Belakang Masalah…………………………………………………………….. 4
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………….………... 4
1.3 Maksud dan Tujuan .………………………………………………………………… 4
BAB II MATERI EJAAN BAHASA INDONESIA………………………………….…. 5
2.1 Pengertian Ejaan……………………………………………………………………… 5
2.2 Perkembangan Ejaan…………………………………………………………………. 5
2.3 Ruang Lingkup ……………………….……………………………………………… 6
BAB III PENUTUP ……………………….…………………………………………….. 25
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………………………... 25
3.2 Saran …………………………………………………………………………………. 25
DAFTAR PUSTAKA…………………….……………………………………………… 26

3
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan karena selain digunakan sebagai
alat komunikasi secara langsung, bahasa juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi secara
tulisan, di zaman era globalisasi dan pembangunan reformasi demokrasi ini, masyarakat
dituntut secara aktif untuk dapat mengawasi dan memahami informasi di segala aspek
kehidupan sosial secara baik dan benar, sebagai bahan pendukung kelengkapan tersebut,
bahasa berfungsi sebagai media penyampaian informasi secara baik dan tepat, dengan
penyampaian berita atau materi secara tertulis, diharapkan masyarakat dapat menggunakan
media tersebut secara baik dan benar.
Selama ini belum semua orang mematuhi kaidah yang tercantum dalam Ejaan yang
Disempurnakan (EYD), baik karena belum tahu, enggan mematuhi atau karena ada pedoman
yang mereka pegang selama ini yang mereka anggap pedoman itu sudah tepat. Tindakan seperti
ini jelas dapat mengacaukan perkembangan bahasa Indonesia. Padahal dengan
diberlakukannya EYD, seharusnya setiap warga negara Indonesia, termasuk warga pengadilan
sebagai pemakai bahasa Indonesia wajib mengikuti dan mematuhi kaidah-kaidah yang
tercantum di dalamnya.
Dalam rangka menyebarluaskan dan memasyarakatkan EYD itulah makalah ini terbit.
Diharapkan tulisan ini dapat memberikan manfaat dan petunjuk praktis bagi masyarakat di
semua lingkungan dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tentu saja
tulisan ini tidak luput dari kekurangan dan diperlukan sumbangan pemikiran dari para
pembaca.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarakan latar belakang masalah ini, permasalahan yang akan kami bahas dalam makalah
ini adalah:
1 Apa pengertian dari ejaan Bahasa Indonesia?
2 Bagaimana sejarah perkembangan ejaan Bahasa Indonesia?
3 Apa saja ruang lingkup ejaan Bahasa Indonesia?

1.3 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian ejaan dan mampu menggunakan huruf-huruf serta


kata-kata secara tepat.
2. Untuk mengetahui sejarah perkembangan ejaan Bahasa Indonesia secara menyeluruh
3. Untuk dapat mengetahui ruang lingkup ejaan Bahasa Indonesia

4
BAB II MATERI EJAAN BAHASA INDONESIA

2.1 Pengertian Ejaan Bahasa Indonesia


Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek fonologis yang
menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad aspek morfologi yang
menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut
penanda ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7).
Keraf (1988:51) mengatakan bahwa ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana
menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara lambang-
lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu bahasa.
Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara menggambarkan
bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta
penggunaan tanda baca. Dengan demikian, secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan
adalah seperangkat kaidah tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.
EYD (Ejaan yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam Bahasa Indonesia yang
mengatur penggunaan bahasa Indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan
huruf capital dan huruf miring, serta penulisan unsur serapan. EYD disini diartikan sebagai tata
bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa
yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan
tingkat kesempurnaan yang mendetail. Singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan
dengan cara yang baik dan benar. Justru itu untuk memahami EYD sangatlah penting untuk
mengetahui pembahasan berikut ini.
Kaedah ejaan bahasa indonesia yaitu pemakaian Huruf Abjad yang dipakai dalam
bahasa Indonesia terdiri dari 26 huruf, yaitu: 21 huruf konsonan dan 5 huruf vokal. Semua
huruf dapat digunakan secara umum dalam kata, kecuali huruf q dan x. Keduanya khusus
diperlukan untuk nama dan keperluan ilmu. Di dalam bahasa Indonesia terdapat
pengombinasian dua huruf vokal yang disebut dengan huruf diftong. Pengucapan bunyinya
dilakukan secara luncur dan tingginya tidak sama. Dengan kata lain, huruf vokal pertama
pembunyiannya tinggi sedangkan huruf vokal kedua rendah. Huruf diftong dilambangkan
dengan ai, au, dan oi.

2.2 Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia


Ejaan Bahasa Indonesia pada dasarnya merupakan ejaan bahasa Indonesia hasil
dari penyempurnaan terakhir atas ejaan-ejaan yang pernah berlaku di Indonesia. Sejak
peraturan ejaan Bahasa Melayu dengan huruf latin ditetapkan tahun 1901 berdasarkan
rancangan Ch. A. Van Ophuysen dengan bantuan Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan
Moehammad Taib Soetan Ibrahim, penyempurnaan berkali-kali di sempurnakan.

5
Pada tahun 1947, Soewandi, Menteri Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan pada
masa itu, menetapkan dalam surat keputusannya tanggal 19 Maret 1947, No. 264/Bhg. A
bahwa perubahan ejaan bahasa Indonesia dengan maksud membuat ejaan yang berlaku
menjadi lebih sederhana. Ejaan baru itu oleh masyarakat diberi julukan Ejaan Republik.
Beberapa usul penyerdehanaan dan penyelarasan ejaan dengan perkembangan Bahasa, belum
dapat diterima karena masih harus ditinjau lebih jauh lagi. Namun, keputusan Soewandi pada
masa pergolakan revolusi itu mendapat sambutan baik.
Pada tahun 1959, perjanjian persahabatan antara Republik Indonesia dan Persekutuan
Tanah Melayu berupaya mempersamakan ejaan Bahasa kedua negara. Maka pada akhir tahun
1959, sidang perutusan Indonesia dan Melayu yang diketuai Slamet Muljana dan Syed Nasir
bin Ismail, menghasilkan konsep ejaan bersama yang dikenal sebagai ejaan Melindo (Melayu-
Indonesia).
Sesuai dengan laju pengembangan nasional, Lembaga Bahasa dan Kesusastraan yang
pada tahun 1968 menjadi Lembaga Bahasa Nasional, dan akhirnya pada tahun 1975 menjadi
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, menyusun program pembakuan bahasa
Indonesia secara menyeluruh. Di dalam hubungan ini, panitia Ejaan Bahasa Indonesia
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (A.M. Moeliono, ketua) yang disahkan oleh Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, Sarino Mangunpranoto, sejak tahun 1966 dalam surat
keputusannya tanggal 19 September 1967, No. 062/1967, menyusun konsep yang merangkum
segala usaha penyempurnaan yang terdahulu. Konsep itu ditanggapi dan dikaji oleh kalangan
luas di seluruh tanah air selama beberapa tahun.
Setelah itu akhirnya dilengkapi di dalam Seminar Bahasa Indonesia di Puncak pada
tahun 1972, dan diperkenalkan secara luas oleh sebuah panitia antar departemen (Ida Bagus
Mantra, Ketua dan Lukman Ali, Ketua Kelompok Teknis Bahasa). Maka pada hari Proklamasi
Kemerdekaan tahun itu juga diresmikanlah aturan ejaan yang baru itu berdasarkan keputusan
Presiden No. 57, tahun 1972, dengan nama Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan menyebar buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokan pemakaian ejaan itu.

2.3 Ruang Lingkup


Secara garis besar, ruang lingkup ejaan terdiri dari hal-hal berikut:
1. Pemakaian Huruf
Nama huruf bahasa Indonesia seperti yang kita kenal dengan huruf abjad dan ada juga
penggabungan untuk melambangkan diftong seperti: Au (harimau), atau penggabungan
khusus, seperti: ng (lambang). Ejaan Indonesia menggunakan ejaan fonemis dimana hanya ada
satu bunyi utuk satu lambang, lain dengan bahasa Inggris yang satu lambang memiliki beberapa
bunyi.
Karena bahasa Indonesia menggunakan satu sistem ejaan, pada dasarnya lafal singkatan
dan kata mengikuti bunyi nama huruf secara konsisten, seperti: bus (dibaca:bus)
Yang harus diperhatikan dalam persukuan (pemenggalan kata), (1) menggunakan tanda
hubung, (2) tidak memenggal kata dengan garis bawah, (3) hindari penggalan satu huruf.

6
Begitupun dengan nama orang, hanya dibenarkan dengan memisahkan nama pertama dan nama
kedua. Penulisan nama diri ditulis sesuai dengan ejaan yang berlaku.
2. Penulisan Huruf
Huruf terdiri dari: huruf kecil, huruf kapital, dan huruf miring.
Huruf kapital digunakan sebagai:
1) Huruf pertama awal kalimat.
2) Huruf pertama petikan langsung.
3) Huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan.
4) Huruf pertama gelar kehormatan atau keturunan yang diikuti nama orang.
5) Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang..
6) Huruf pertama nama orang.
7) Huruf pertama hubungan kekerabatan seperti: bapak, ibu, saudara yang dipakai
sebagai kata ganti.
Huruf miring digunakan untuk:
1) Menulis nama buku, majalah yang dikutip dari karangan
2) Istilah-istilah khusus mengenai ilmu pasti
3) Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata atau kelompok kata
4) Menuliskan ungkapan ilmiah atau istilah dan ungkapan asing

3. Pemakaian Huruf

1) Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam Bahasa Indonesia terdapat 26 huruf, yaitu:

Huruf Huruf
Dibaca Dibaca
Abjad Abjad
Aa a Nn en
Bb be Oo o
Cc ce Pp pe
Dd de Qq ki
Ee e Rr er
Ff ef Ss es
Gg ge Tt te
Hh ha Uu u
Ii i Vv ve
Jj je Ww we
Kk ka Xx eks

7
Ll el Yy ye
Mm em Zz zet

2) Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, e, i, o,
dan u.

Huruf Contoh pemakaian dalam kata


Vokal Di Awal Di Tengan Di Akhir
Aa Azrar hani Ifa
Ee enak petak sore
emas kena tipe
Ii itu simpan murni
Oo oleh kota radio
Uu ulang bumi wahyu

3) Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf,
yaitu:

Huruf Contoh pemakaian dalam kata


Konsonan Di Awal Di Tengan Di Akhir
Bb bahasa sebut Adab
Cc cakap kaca -
Dd dua ada abad
Ff fakir kafir maaf
Gg guna tiga balig
Hh hari saham tuah
Jj jalan manja mikraj
Kk kami paksa sesak
- rakyat* bapak*
Ll lekas alas kesal
Mm maka kami diam
Nn nama anak daun

8
Pp pasang apa siap
Qq** Quran furqan -
Rr raih bara putar
Ss sampai asli lemas
Tt tali mata rapat
Yv varia lava -
Ww wanita hawa -
X x** xenon - -
Yy yakin payung -
Zz zeni lazim Juz
* Huruf k di sini melambangkan bunyi hamzah
** Huruf q dan x digunakan khusus untuk nama dan keperluan ilmu
4) Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, dan oi.

Huruf Contoh pemakaian dalam kata


Diftong Di Awal Di Tengan Di Akhir
Ai ain syaitan Pandai
Au aula saudara harimau
Oi - boikot amboi

5) Gabungan huruf konsonan


Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan
konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy.

Gabungan Contoh pemakaian dalam kata


Huruf
Di Awal Di Tengan Di Akhir
Konsonan
Kh khusus akhir Tarikh
Ng ngilu bangun senang
Ny nyata hanyut -
Sy syarat isyarat Arasy

9
Singkatan kata (termasuk singkatan kata asing) yang dibaca huruf demi huruf
dilafalkan menurut cara bahasa Indonesia, seperti:

Singkatan Dibaca Bukan Dibaca

ABC a-be-ce ei-bi-si


BBC be-be-ce bi-bi-si
ICCU i-ce-ce-u ai-si-si-yu
LCD el-ce-de el-si-di
IUD i-u-de ai-yu-di
LCC el-ce-ce el-si-si
LPG el-pe-ge el-pi-ji
YMCA ye-em-ce-a wai-em-si-ei
MTQ em-te-ki em-te-kyu
TV te-ve ti-vi

6) Pemenggalan Kata pada Kata Dasar

Hal yang terpenting dalam pemenggalan kata pada kata dasar sebagai berikut:

a. Jika di tengah kata ada huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya dilakukan di
antara kedua huruf vokal itu.
Contoh:
Ma-in Sa-at
b. Jika di tengah kata ada dua buah huruf konsonan yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua konsonan itu.
Contoh:
Pan-dai Cap-lok
Swas-ta Ap-ril
c. Jika di tengah kata ada tiga buah huruf konsonan atau lebih, pemenggalannya
dilakukan di antara konsonan yang pertama (termasuk ng) dengan huruf konsonan
yang kedua.
Contoh:
In-stru-men in-tra
Bang-krut ben-trok

10
d. Imbuhan, termasuk awalan yang mengalami perubahan bentuk, serta partikel yang
biasanya ditulis serangkai dengan kata dasarnya, dapat dipenggal pada pergantian
baris.
Contoh:
Lapa-ngan beri-kan
Mem-bangun pergi-lah
e. Jika suatu kata terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat
bergabung dengan unsur lain, pemenggalan dapat dilakukan (1) di antara unsur-
unsur itu atau (2) pada unsur gabungan itu sesuai dengan kaidah a, b, c, dan d diatas.
Contoh:
Biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
Kilogram kilo-gram ki-lo-gram
Pascapanen pasca-panen pas-ca-pa-nen

7) Penulisan Nama Diri


Penulisan nama diri (nama sungai, gunung, jalan dan sebagainya) disesuaikan
dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, kecuali jika ada pertimbangan
khusus. Pertimbangan khusus itu menyangkut segi adat, hukum atau sejarah.
a. Penulisan nama diri
Contoh:
Sungai Walanae, Gunung Bawakaraeng, Jalan Sultan Alauddin
b. Penulisan nama diri dengan pertimbangan khusus
Contoh:
Universitas Widyatama, Husni Djamaluddin, NV Hadji Kalla, Dji Sam Soe
4. Penulisan Huruf
1) Huruf Kapital dan Huruf Besar

Dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan terdapat lima
belas kaidah penulisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang perlu
diperhatikan:

a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang
berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata
ganti untuk Tuhan.

11
Contoh:
Alloh SWT atas rahmat-Ku
Nabi Muhammad SAW dengan kuasa-Nya
Al Qur’an dengan izin-Mu

Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata,
seperti imam, makmum, doa, puasa, dan misa.

Contoh:
Ia diangkat menjadi imam masjid dikampungnya.
Saya akan mengikuti misa digereja itu.
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan
keagamaan yang diikuti nama orang.
Contoh:
Sultan Hasanuddin
Andi Pangeran Pettarani
Imam Hambali
Nabi Ibrahim

Akan tetapi, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan,
keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.

Benar Salah
Ayahnya menunaikan Ayahnya menunaikan
ibadah haji Ibadah Haji
sebagai seorang sultan Sebagai seorang Sultan
c. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti
nama orang , nama instansi, atau nama tempat.
Contoh:
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Gubernur Syahrul Yasin Limpo
Rektor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti
nama orang, nama instansi, atau nama tempat.

12
Contoh:
Sebagai seorang gubernur yang baru, ia berkeliling di daerahnya untuk
berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
(bukan)
Sebagai seorang Gubernur yang baru, ia berkeliling di daerahnya untuk
berkenalan dengan masyarakat yang dipimpinnya.
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Contoh:
bangsa Indonesia
suku Jawa
bahasa Mandar

Perhatikan penulisan berikut:

mengindonesiakan kata-kata asing


keinggris-inggrisan
e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan
peristiwa sejarah.
Contoh:
Benar Salah
tahun Hijriah Tahun Hijriah
tahun Masehi Tahun Masehi
bulan Agustus Bulan Agustus
Perang Diponegoro perang Diponegoro
Proklamasi Kemerdekaan proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia republik Indonesia

f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas dalam geografi.
Contoh:
Benar Salah
Teluk Bone teluk Bone
Gunung Bawakaraeng gunung Bawakaraeng
Danau Tempe danau Tempe
Selat Selayar selat Selayar

13
Sungai Jeneberang sungai Jeneberang
Asia Tenggara asia tenggara

Akan tetapi, perhatikan penulisan berikut:

Ia berlayar sampai ke teluk.


Jangan mandi di danau yang kotor.
Mereka menyeberangi selat yang dangkal.
g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga
pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Contoh:
Departemen Pendidikan Nasional
Dewan Perwakilan Rakyat
Undang-Undang Dasar

Perhatikan penulisan berikut:

Benar
Dia menjadi pegawai di salah satu departemen.
Menurut undang-undang, perbuatan itu dapat.
Salah
Dia menjadi pegawai di salah satu Departemen.
Menurut Undang-Undang, perbuatan itu dapat.
h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penghubung kekerabatan, seperti
bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau
sapaan.
Contoh:
Kapan Bapak berangkat?
Apakah itu, Bu?
Surat Saudara sudah saya terima.
Saya akan disuntik, Dok?
Di mana rumah Bu Hanifah?

14
Perhatikan penulisan berikut:

Benar
Kami sedang menunggu Bu Guru.
Rumah Pak Guru terlekat di tengah-tengah kota.
Menurut keterangan Bu Dokter penyakit saya tidak parah.
Salah
Dia menjadi pegawai di salah satu Departemen.
Menurut Undang-Undang, perbuatan itu dapat.
i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Contoh:
Benar
Tahukah Anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Apakah kegemaran Anda?
Salah
Tahukah anda bahwa gaji pegawai negeri dinaikkan?
Apakah kegemaran anda?
2) Huruf Miring

Huruf miring dalam cetakan, yang dalam tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan
tanda garis bawah, dinyatakan untuk (1) menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang
dikutip dalam karangan (2) menegaskan atau mengkhususkan huruf , bagian kata, atau
kelompok kata, dan (3) menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata
yang telah disesuaika ejaannya.

Contoh:
Sudahkah Anda membaca buku I La Galigo?
Majalah Dunia Pendidikan sangat digemari oleh guru.
Harian Fajar dapat merebut hati pembacanya.
Nama Latin untuk buah manggis adalah Carcinia Mangostana
5. Penulisan Kata

Penulisan kata yang masih perlu diperhatikan sebagai berikut:

15
1) Kata Dasar

Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.

Contoh:
Ibu percaya bahwa engkau bisa
Kantor pajak penuh sesak
Buku itu sangat tebal
2) Kata Turunan
a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Contoh:
Dikelola Penetapan
Menengok Mempermainkan
b. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai
dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Contoh:
Bertepuk tangan Garis bawahi
Sebar luaskan
c. Jika bentuk dasar yang berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran
sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Menggarisbawahi Menyebarluaskan
Dilipatgandakan Penghancurleburan
d. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasa, gabungan
kata itu ditulis serangkai.
Contoh:
Adipati Mahasiswa
Aerodinamika Mancanegara
Antarkota Narapidana
Audiogram Nonkolaborasi
Pancasila Bikarbonat
Biokimia Paripurna
Dasawarsa Poligami
Pramugari Dekameter
Prasangka Reinkarnasi

16
3) Bentuk Kata Ulang

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung (-).

Contoh:
Anak-anak buku-buku
Hati-hati huru-hara
Biri-biri lauk-pauk
Mondar-mandir porak-poranda
Kuda-kuda sayur-mayur
Ramah-tamah tukar-menukar
Kupu-kupu tukar-menukar
Laba-laba terus-menerus
Mata-mata sia-sia
4) Gabungan Kata
a. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-
unsurnya ditulis terpisah.
Contoh:
Duta besar mata pelajaran
Orang tua simpang empat
Kambing hitam meja tulis
Persegi panjang rumah sakit umum
b. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan
pengertian, dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara
unsur yang bersangkutan.
Contoh:
Ibu-bapak kami anak-istri saya
c. Gabungan kata berikut ditulis serangkai
Contoh:
Acapkali manakala
Adakalanya manasuka
Akhirulkalam mangkubumi
Alhamdulillah astagfirullah
Olahraga bagaimana
Padahal barangkali

17
Beasiswa peribahasa
Belasungkawa bismillah
Radioaktif saputangan
Daripada saripati
Kacamata sukarela
5) Kata Ganti ku, kau, mu, dan nya

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, sedangkan kata
-ku, -mu, dan –nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Contoh:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
6) Kata depan di, ke, dan dari

Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam
gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.

Contoh:
Kain itu terletak di dalam lemari.
Bermalam semalam di sini.
Di mana Siti sekarang.
Mereka ada di rumah.
Mari kita berangkat ke pasar.
Catatan: kata-kata yang dicetak miring dibawah ini ditulis serangkai.
Contoh:
Si Amin lebih tua daripada Si Ahmad.
Ia masuk, lalu keluar lagi.
Bawa kemari gambar itu.
7) Kata si dan sang

Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.

Contoh:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim.

18
8) Partikel
a. Partikel –lah dan –kah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Bacalah buku itu baik-baik.
Makassar adalah tempat yang indah.
Siapakah gerangan dia?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata dari kata yang mendahuluinya.
Contoh:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Jika ibu pergi, adik pun ingin pergi.
Catatan: kelompok yang lazim dianggap padu, misalnya adapun, andaipun, ataupun,
bagaimanapun, biarpun, kendatipun, maupun, meskipun, seklipun, sungguhpun, dan
walaupun ditulis serangkai.
Contoh:
Adapun sebab-sebabnya belum diketahui.
Bagaimanapun juga akan dicobanya menyelesaikan tugas itu.
c. Partikel per yang berarti ‘mulai’, ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari bagian
kalimat yang mendahului atau mengikutinya.
Contoh:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 April.
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000.00 per helai.
9) Singkatan dan Akronim
a. Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau
lebih.
a) Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat,
atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Contoh:
A.S. Kramawijaya
Suman Hs.
M. Rais
Sukanto S.A.
M.B.A. master of business administration
M.Sc. master of science

19
S.E. sarjana ekonomi
Bpk. bapak
b) Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan,
badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas
huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan
tanda titik.
Contoh:
DPR Dewan Perwakilan Rakyat
PGRI Persatuan Guru Rakyat Indonesia
GBHN Garis-Garis Besar Haluan Negara
KTP Kartu Tanda Penduduk
c) Singkatan umum yang terdiri atas tiga kata atau lebih diikuti satu
tanda titik.
Contoh:
dll. Dan lain-lain
dsb. Dan sebagainya
dst. Dan seterusnya
hlm. Halaman
sda. Sama dengan atas
Yth. Yang terhormat
Tetapi:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
d) Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan
mata uang tidak diikuti tanda titik.
Contoh:
Cu kuprum
TNT trinitrotoluen
kVA kilovolt-ampere
kg kilogram
Rp rupiah

20
b. Akronim ialah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan
sebagai kata.
a) Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata
ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Contoh:
ABRI Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
LAN Lembaga Administrasi Negara
SIM Surat Izin Mengemudi
b) Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan
huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf
kapital
Contoh:
Akabri Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
Kowani Kongres Wanita Indonesia
c) Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku
kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata
seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh:
pemilu pemilihan umum
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
10) Angka dan Lambang Bilangan
a. Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam
tulisan lazim digunakan angka Arab atau angka Romawi.
Contoh :
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX
b. Angka digunakan untuk menyatakan (1) ukuran panjang, berat, luas, dan isi, (2)
satuan waktu, (3) nilai uang, dan (4) kuantitas.
Contoh:
0,5 sentimeter 1 jam 20 menit
5 kilogram pukul 15.00

21
10 iter tahun 1928
c. Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen,
atau kamar pada alamat.
Contoh:
Jalan Sultan Alauddin II No.3
Hotel Indonesia, Kamar 23
d. Angka digunakan juga untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Contoh:
Bab I, Pasal 2, halaman 23
Surah Yasin: 9
e. Penulisan lambang bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
Contoh:
a) Bilangan utuh
Contoh:
Dua belas 12
Dua puluh dua 22
b) Bilangan pecahan
Contoh:
Setengah ½
Tiga perempat ¾
Satu persen 1%
f) Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara yang
berikut.
Contoh:
Paku Buwono X
Paku Buwono ke-10
Paku Buwono kesepuluh

Bab II
Bab ke-2
Bab kedua
g) Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara
berikut (lihat juga keterangan tentang tanda hubung, Bab V, Pasal E, Ayat
5).

22
Contoh:
Tahun ’50-an atau tahun lima puluhan
Uang 5000-an atau uang lima ribuan
h) Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara
berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
Contoh:
Amir menonton drama itu sampai tiga kali.
Ayah memesan tiga ratus ekor ayam.
i) Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu,
susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan
dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Contoh:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.
Pak Darmo mengundang 250 orang tamu.
Bukan:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
j) Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian
supaya lebih mudah dibaca.
Contoh:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250 juta rupiah.
Penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 120 juta orang.
k) Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks
kecuali di dalam dokumen resmi seperti akta dan kuitansi.
Contoh:
Kantor kami mempunyai dua puluh orang pegawai
Di lemari itu tersimpan 805 buku dan majalah.
Bukan:
Kantor kami mempunyai 20 (dua puluh) orang pegawai.
Di lemari itu tersimpan 805 (delapan ratus lima) buku dan majalah.
l) Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus
tepat.

23
Contoh:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp 999,75 (sembilan ratus
sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).

Saya lampirkan tanda terima uang sebesar 999,75 (sembilan ratus sembilan
puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus) rupiah.

24
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Pemakaian huruf sesuai dengan pedoman EYD diantaranya yaitu huruf abjad, huruf
vokal, huruf konsonan, huruf diftong, dan pemenggalan kata.
2. Penulisan huruf sesuai dengan pedoman EYD meliputi huruf kapital dan huruf miring.
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menuliskan ungkapan yang
berhubungan dengan hal-hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata
ganti untuk Tuhan dan lain sebagainya. Huruf miring dalam cetakan, yang dalam
tulisan tangan atau ketikan dinyatakan dengan tanda garis bawah, dinyatakan untuk (1)
menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam karangan (2)
menegaskan atau mengkhususkan huruf , bagian kata, atau kelompok kata, dan (3)
menuliskan kata nama-nama ilmiah, atau ungkapan asing, kecuali kata yang telah
disesuaika ejaannya
3. Penulisan kata sesuai dengan pedoman EYD meliputi kata dasar, kata turunan, bentuk
ulang, kata ganti, kata depan, partikel, singkatan, angka dan lambang bilangan.

B. Saran

Tentunya dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangan dan kesalahan olehnya itu :

1. Diharapkan kepada para pembaca agar memberikan perbaikan yang semestinya demi
kesempuranaan makalah ini.
2. Diharapkan agar pembaca memberikan koreksi terhadap materi-materi EYD yang
sekiranya ada tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
3. Diharapkan kepada para pembaca untuk mencari referensi lain agar dapat menambah
wawasan.

25
DAFTAR PUSTAKA
Rijal, Syamsul dkk. 2008. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia di Provinsi Sulawesi
Selatan. Makassar: Departemen Pendidikan Nasional Pusat Bahasa Balai Bahasa Ujung
Pandang.

Mustakim. 1996. Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum . Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 2003. Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

luk.tsipil.ugm.ac.id/ta/suwardjono/eyd.pdf diakses tanggal Senin, 25 September 2017


pukul 18:30 WIB

26