Anda di halaman 1dari 8

Penerapan Metode Gauss Seidel dan Metode Jacobi dalam

Rangkaian Arus Listrik

Nurul Ardhiyah1, Risalatul Jannah2

Matematika FMIPA Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya1,


nurulardhiyah@gmail.com1

Matematika FMIPA Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya2,


risalatul.jannah7@gmail.com2

Abstrak

Rangkaian listrik dapat diselesaikan menggunakan banyak cara, salah satunya yaitu
menggunakan sistem persamaan linear. Metode penyelesaian sistem persamaan linear
telah banyak berkembang pada bidang komputer digital. Pada saat ini menggunakan
aplikasi dalam komputer memudahkan menyelesaikan sistem persamaan linear, salah
satunya menggunakan Matlab. Salah satu metode penyelesaian sistem persamaan linear
yang didasarkan pada metode titik tetap dengan menggunakan pendekatan Deret Taylor
yaitu metode Gauss Seidel dan metode Jacobi. Dalam jurnal ini akan ditunjukkan metode
eliminasi Gauss Seidel dan metode Jacobi untuk menyelesaikan persamaan rangkaian
listrik yang memiliki banyak persamaan.

Kata kunci : Rangkaian Listrik, Metode Gauss Seidel, Metode Jacobi

Abstract

Electric circuit can be solved using a lot of ways, one of them is using linear system. The
linear system method has been increasing in digital computer. In this time, using app in
the computer can solved the linear system easily. One of them is using Matlab. One
method of solving systems of linear equations which is based on the fixed point method
using the Taylor Dereck approach is the Gauss Seidel Method and Jacobi Method. In this
journal will be shown a Gauss Seidel elimination method and Jacobi method to solved
electric circuit system which has a lot of equation.

Keywords : Electric Circuit, Gauss Seidel Method, Jacobi Method


1. Pendahuluan

Metode numerik adalah metode persamaan linear, jika terdapat


efektif untuk menyelesaikan persoalan- banyak loop, maka persamaan linear yang
persoalan matematika. Beberapa metode dibentuk sama seperti jumlah loop.
yang sudah ada maupun yang sedang Dengan banyaknya persamaan linear,
dikembangkan, proses pengerjaan untuk maka terbentuklah sistem persamaan
mendapatkan nilai sejatinya memerlukan linear (SPL).
iterasi cukup panjang, sehingga tidak
Cara menyelesaikan SPL adalah
efisien jika dikerjakan secara manual.
dengan mencari nilai variabel yang
Oleh karena itu, dengan berkembangnya
memenuhi sistem persamaan linear
teknologi komputer saat ini dapat
tersebut yang dalam hal ini yaitu variabel
membantu proses iterasi dengan hasil
I1, I2,...,In. Metode yang akan dipakai
yang akurat.
yaitu metode tak langsung (iterasi) yang
Dalam bidang fisika, seperti tenaga digunakan untuk menyelesaikan SPL
listrik, rangkaian listrik sederhana adalah yang banyak dengan proporsi koefisien
dasar dari pembelajarannya. Rangkaian- nolnya besar. Metode ini diawali dengan
rangkaian listrik tersebut menggunakan suatu hampiran awal dan kemudian
prinsip-prinsip yang ada pada hukum memperbaiki hampiran dalam tak hingga
Kirchoff. Hukum Kirchoff dibagi dengan langkah konvergen.
menjadi dua, yaitu hukum Kirchoff
Jenis metode iterasi yang akan
pertama tentang arus listrik yang masuk
diunakan, yaitu metode iterasi Jacobi dan
dan keluar, sedangkan hukum Kirchoff
metode iterasi Gauss Seidel. pada metode
kedua tentang kekekalan energi.
Jacobi nilai hampiran berdasarkan pada
Dengan menerapkan kedua hukum nilai hampiran sebelumnya, sedangkan
Kirchoff tersebut maka diperoleh sebuah pada Gauss Seidel nilai hampiran
persamaan linear. Sistem persamaan berdasarkan nilai hampiran terbaru
linear dapat digunakan untuk
Tulisan ini merupakan hasil kajian
menyelesaaikan masalah-masalah yang
dari beberapa metode penyelesaian
berhubungan dengan rangkaian listrik.
sistem persamaan lanjar, yaitu metode
Jika pada rangkaian listrik terdapat Gauss Seidel dan Jacobi yang dipakai
sebuah loop, maka hanya terdapat satu untuk masalah rangkaian listrik.
2. Kajian Teori sehingga belaku :

2.1. Sistem Persamaan Linear ∑ Ԑ + ∑ I.R = 0


Sistem persamaan Linear adalah
Hukum Kirchoff II digunakan pada
kumpulan persamaan linear berjumlah
rangkaian yang memuat loop tertutup
2 atau lebih. Bentuk persamaan linear
yang memiliki hambatan dan GGL
dengan n buah persamaaan linear dan
lebih dari satu. Atau lebih
n buah peubah adalah sebagai berikut
sederhananya jumlah hasil kali

⋮ hambatan dan arus pada loop tertutup


𝑎11 𝑥1 + 𝑎12 𝑥2 + … + 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 = 𝑐1 sama dengan total GGL yang ada pada

𝑎21 𝑥1 + 𝑎22 𝑥2 + … + 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 = 𝑐2 loop tersebut.Aturan tanda Ԑ dan I : Ԑ


⋮ bernilai (+) jika gerak mengikuti arah
𝑎11 𝑥1 + 𝑎12 𝑥2 + … + 𝑎1𝑛 𝑥𝑛 = 𝑐1
loop bertemu dengan kutub (+) sumber
tegangan terlebih dahulu. Ԑ bernilai
Dengan 𝑎1 , 𝑎2 , … , 𝑎𝑛 adalah koefisien (-) jika gerak mengikuti arah loop
dan c adalah konstanta rill yang sudah bertemu dengan kutub (-) sumber
diketahui pada setiap persamaan. tegangan terlebih dahulu. I bernilai (+)

2.2. Hukum Kirchoff jika arah loop searah dengan arus


listrik. I bernilai (-) jika arah loop
Hukum Kirchoff I (KCL) berbunyi :
berlawanan arah dengan arus listrik.
“Jumlah kuat arus listrik yang melalui
2.3. Metode Jacobi
titik cabang sama dengan nol”
Metode Jacobi merupakan salah satu
sehingga berlaku :
metode penyelesaian sistem
∑ Imasuk = ∑ Ikeluar persamaan linear yang berdasar
dengan metode iterasi. Metode ini
Hukum Kirchoff II (KVL) berbunyi :
biasanya digumakan pada sistem
persamaan dengan banyak elemen
“Jumlah GGL dan penurunan matriks yang bernilai nol. Metode
potensial yang mengelilingi lintasan jacobi juga biasa disebut dengan
tertutup pada suatu rangkain harus lelaran jacobi yang mempunyai rumus
sama dengan nol” umum sebagai berikut :
𝑛
∑𝑗=1,𝑗≠𝑖 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 (𝑘) Dengan menggunakan hukum
(𝑘+1)
𝑥𝑖 = , 𝑘 = 0, 1, 2, …
𝑎𝑖𝑖

2.4. Metode Gauss Seidel

Metode gauss seidel merupakan


metode lelaran dimana kecepetan
konvergen pada lelaran jacobi dapat
dipercepat bila setiap harga 𝑥𝑖 yang
baru dihasilkan segera dipakai pada Kirchoff didapat persamaan lanjar
persamaan berikutnya untuk sebagai berikut :
menentukan harga 𝑥𝑖+1 yang lainnya. 76𝐼1 − 25𝐼2 − 50𝐼3 + 0𝐼4 + 0𝐼5 + 0𝐼6 =
Metode gauss seidel juga biasa disebut 0 .........(P1)
dengan lelaran gauss seidel dengan −25𝐼1 + 56𝐼2 − 𝐼3 − 30𝐼4 + 0𝐼5 + 0𝐼6 = 0

rumus umum sebagai berikut : .........(P2)


−50𝐼1 − 𝐼2 + 106𝐼3 − 55𝐼4 + 0𝐼5 + 0𝐼6 =
𝑥𝑖 (𝑘+1) 0 .........(P3)
𝑏𝑖 − ∑𝑛𝑗=1 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 (𝑘+1) − ∑𝑛𝑗=𝑖+1 𝑎𝑖𝑗 𝑥𝑗 (𝑘)
= 0𝐼1 − 30𝐼2 − 55𝐼3 + 160𝐼4 − 25𝐼5 −
𝑎𝑖𝑖
50𝐼6 = 0 .........(P4)
𝑘 = 0, 1, 2, …
0𝐼1 + 0𝐼2 + 0𝐼3 − 25𝐼4 + 56𝐼5 − 𝐼6 =0
3. Hasil dan Pembahasan .........(P5)
Dalam pembahasan ini akan 0𝐼1 + 0𝐼2 + 0𝐼3 − 50𝐼4 − 0𝐼5 + 106𝐼6 =0
diberikan sebuah contoh masalah .........(P6)
yang berbentuk sistem persamaan
lanjar beserta cara penyelesaian Langkah pertama yang dilakukan
masalah tersebut menggunakan untuk menyelesaikan SPL tersebut
iterasi Gauss Seidel dan iterasi menggunakan metode Jacobi dan
Jacobi. Untuk hasil dari pengerjaan Gauss Seidel adalah dengan
secara manual langkah-langkahnya menyatakan setiap variabel (I) dalam
tidak dituliskan secara lengkap ke-enam variabel lainnya :
karena memerlukan banyak iterasi, 1. Bentuk persamaan I1 dari
sehingga penulis menggunakan persamaan (P1) dalam I2, I3, I4,
aplikasi Matlab. I5, dan I6.
2. Bentuk persamaan I2 dari
persamaan (P2) dalam I1, I3, I4,
I5, dan I6. Lakukan hal yang sama 0.23907, I5 = 0.10876, dan I6 =
sampai pada bentuk persamaan 0.11380 yang konvergen (dengan
I6. batas toleransi 0,000001).
Hasilnya adalah SPL sebagai 4. Kesimpulan dan Saran
berikut : 4.1. Kesimpulan
Menyelesaikan persamaan arus
25𝐼2 + 50𝐼3 + 10 listrik menggunakan metode Gauss-
I1 =
76 Seidel maupun menggunakan
25𝐼1 + 𝐼3 + 30𝐼4
I2 = metode Jacobi mendapatkan hasil
56
yang sama. Perbedaan hasil hanya
50𝐼1 + 𝐼2 + 55𝐼4
I3 = terletak pada jumlah iterasi. Pada
106
30𝐼2 + 55 𝐼3 + 25 𝐼5 + 50𝐼6 metode Jacobi diperoleh jumlah
I4 = iterasi sebanyak 47, sedangkan pada
160
25𝐼4 + 𝐼6 metode Gauss-Seidel jumlah
I5 =
56 iterasinya 77 yang didapatkan hasil I1
50𝐼4 + 𝐼5 = 0.47815 , I2 = 0.34783, I3 =
I6 =
106
0.35287, I4 = 0.23907, I5 = 0.10876,
Misalkan kita pilih tebakan awal
dan I6 = 0.11380 dengan nilai error
(hampiran penyelesaian awal) yaitu,
0.00001.
I1, I2, I3, I4, I5, dan I6 masing-masing
4.2. Saran
adalah 0.5, 0.3, 0.4, 0.2, 0.1, dan 0.1
Penelitian pada jurnal ini dapat
dengan memakai batas eror yaitu
dikembangkan menggunakan
0,000001. Pada metode Jacobi
metode-metode yang lainnya agar
setelah iterasi ke-47 diperoleh
penyelesaian sistem persamaan arus
hampiran penyelesaian I1 = 0.47815 ,
listrik dapat lebih singkat.
I2 = 0.34783, I3 = 0.35287, I4 =
0.23907, I5 = 0.10876, dan I6 =
Daftar Pustaka
0.11380 yang konvergen (dengan
Utomo, A. B. Setio. 2018. Pengantar
batas toleransi 0,000001).
Metode Komputasi. Yogyakarta.
Sedangkan pada metode Gauss
Gajah Mada University Press
Seidel setelah iterasi ke-77 diperoleh
hampiran penyelesaian I1 = 0.47815 ,
I2 = 0.34784, I3 = 0.35287, I4 =
Sasongko, Setia Budi. 2010. Metode
Numerik dengan Scilab. Yogyakarta.
ANDI

Lampiran

Metode Gauss-Seidel

% Program Metode Gauss Seidel


clc
clear all

% Input nilai batas eror dan arus listrik


fprintf('\t\t\t\t\t\t"PROGRAM PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DALAM
RANGKAIN ARUS LISTRIK MENGGUNAKAN METODE GAUSS SEIDEL"\n\n');
fprintf('=====================================================================
==============================================================================
===========\n');
eror=input('>> Masukkan nilai batas eror : ');
i=1;
x(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-1 : ');
y(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-2 : ');
z(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-3 : ');
xw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-4 : ');
yw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-5 : ');
zw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-6 : ');

% Perulangan untuk menghitung iterasi pada metode Gauss Seidel


while i<inf
x(i+1)=((25*y(i))+(50*z(i))+10)/76;
y(i+1)=((25*x(i+1))+z(i)+(30*xw(i)))/56;
z(i+1)=((50*x(i+1))+y(i+1)+(55*xw(i)))/106;
xw(i+1)=((30*y(i+1))+(55*z(i+1))+(25*yw(i))+(50*zw(i)))/160;
yw(i+1)=((25*xw(i+1))+zw(i))/56;
zw(i+1)=((50*xw(i+1))+yw(i+1))/106;
error_x(i)=abs(x(i+1)-x(i));
error_y(i)=abs(y(i+1)-y(i));
error_z(i)=abs(z(i+1)-z(i));
error_xw(i)=abs(xw(i+1)-xw(i));
error_yw(i)=abs(yw(i+1)-yw(i));
error_zw(i)=abs(zw(i+1)-zw(i));
if error_x(i) < eror && error_y(i) < eror && error_z(i) < eror && error_xw(i)
< eror && error_yw(i) < eror && error_zw(i) < eror
break
end
i=i+1;
end

% Output berupa iterasi pada metode Gauss Seidel beserta hasil dari nilai arus
listrik
fprintf('\n===================================================================
==============================================================================
=============\n');
fprintf('\t\t\t\t\t\t\t\t\tHASIL NILAI SEJATI ARUS LISTRIK PADA ITERASI METODE
Gauss Seidel\n\n');
fprintf('\t\t\tI-1\t\tI-2\t\t\tI-3\t\t\tI-4\t\t\tI-5\t\t\tI-6\t\t\teror I-
1\terror I-2\teror I-3\terror I-4\terror I-5\teror I-6\n');
fprintf('\t\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t\t\t- |\t\t\t-
|\t\t\t- |\t\t\t- |\t\t\t- |\t\t\t\n',x(1),y(1),z(1),xw(1),yw(1),zw(1));
for n=1:i
fprintf('\t\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f
|\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f
|\t%.7f\n',x(n+1),y(n+1),z(n+1),xw(n+1),yw(n+1),zw(n+1),error_x(n),error_y(n),
error_z(n),error_xw(n),error_yw(n),error_zw(n));
end
fprintf('# Sehingga nilai sejati dari :\n\t\t-> I-1 = %.7f\t\t-> I-2 =
%.7f\t\t-> I-3 = %.7f\t\t-> I-4 = %.7f\t\t-> I-5 = %.7f\t\t-> I-6 =
%.7f\n',x(i),y(i),z(i),xw(i),yw(i),zw(i));

Metode Jacobi

% Program Metode Jacobi


clc
clear all

% Input nilai batas eror dan arus listrik


fprintf('\t\t\t\t\t\t\t"PROGRAM PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DALAM
RANGKAIN ARUS LISTRIK MENGGUNAKAN METODE JACOBI"\n\n');
fprintf('=====================================================================
==============================================================================
===========\n');
eror=input('>> Masukkan nilai batas eror : ');
i=1;
x(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-1 : ');
y(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-2 : ');
z(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-3 : ');
xw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-4 : ');
yw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-5 : ');
zw(i)=input('** Masukkan tebakan awal I-6 : ');

% Perulangan untuk menghitung iterasi pada metode Jacobi


while i<inf
x(i+1)=((25*y(i))+(50*z(i))+10)/76;
y(i+1)=((25*x(i))+z(i)+(30*xw(i)))/56;
z(i+1)=((50*x(i))+y(i)+(55*xw(i)))/106;
xw(i+1)=((30*y(i))+(55*z(i))+(25*yw(i))+(50*zw(i)))/160;
yw(i+1)=((25*xw(i))+zw(i))/56;
zw(i+1)=((50*xw(i))+yw(i))/106;
error_x(i)=abs(x(i+1)-x(i));
error_y(i)=abs(y(i+1)-y(i));
error_z(i)=abs(z(i+1)-z(i));
error_xw(i)=abs(xw(i+1)-xw(i));
error_yw(i)=abs(yw(i+1)-yw(i));
error_zw(i)=abs(zw(i+1)-zw(i));
if error_x(i) < eror && error_y(i) < eror && error_z(i) < eror && error_xw(i)
< eror && error_yw(i) < eror && error_zw(i) < eror
break
end
i=i+1;
end

% Output berupa iterasi pada metode Jacobi beserta hasil dari nilai arus
listrik
fprintf('\n===================================================================
==============================================================================
=============\n');
fprintf('\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\tHASIL NILAI SEJATI ARUS LISTRIK PADA ITERASI
METODE JACOBI\n\n');
fprintf('\t\t\tI-1\t\tI-2\t\t\tI-3\t\t\tI-4\t\t\tI-5\t\t\tI-6\t\t\teror I-
1\terror I-2\teror I-3\terror I-4\terror I-5\teror I-6\n');
fprintf('\t\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t\t\t- |\t\t\t-
|\t\t\t- |\t\t\t- |\t\t\t- |\t\t\t\n',x(1),y(1),z(1),xw(1),yw(1),zw(1));
for n=1:i
fprintf('\t\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f
|\t%.7f |\t%.7f |\t%.7f
|\t%.7f\n',x(n+1),y(n+1),z(n+1),xw(n+1),yw(n+1),zw(n+1),error_x(n),error_y(n),
error_z(n),error_xw(n),error_yw(n),error_zw(n));
end
fprintf('# Sehingga nilai sejati dari :\n\t\t-> I-1 = %.7f\t\t-> I-2 =
%.7f\t\t-> I-3 = %.7f\t\t-> I-4 = %.7f\t\t-> I-5 = %.7f\t\t-> I-6 =
%.7f\n',x(i),y(i),z(i),xw(i),yw(i),zw(i));