0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
579 tayangan34 halaman

Arsitektur Jengki

Dokumen tersebut membahas tentang arsitektur Jengki di Indonesia, mulai dari latar belakang, awal munculnya, ciri-ciri, dan perkembangannya. Arsitektur Jengki muncul pada tahun 1950-an setelah kemerdekaan untuk memberikan identitas baru yang berbeda dari zaman kolonial. Ciri-ciri utamanya adalah permainan bentuk yang tidak simetris, garis lengkung, serta minimnya hiasan.

Diunggah oleh

Prasasti Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
579 tayangan34 halaman

Arsitektur Jengki

Dokumen tersebut membahas tentang arsitektur Jengki di Indonesia, mulai dari latar belakang, awal munculnya, ciri-ciri, dan perkembangannya. Arsitektur Jengki muncul pada tahun 1950-an setelah kemerdekaan untuk memberikan identitas baru yang berbeda dari zaman kolonial. Ciri-ciri utamanya adalah permainan bentuk yang tidak simetris, garis lengkung, serta minimnya hiasan.

Diunggah oleh

Prasasti Putri
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Daftar Pustaka

Widayat, R., 2006. Spirit Dari Rumah Gaya Jengki Ulasan


Tentang Bentuk,Estetika, dan Makna. Jurnal Desain Interior.
IV(2): 80-82
Sudikno, A.,Setyabudi.I.,Nugroho, A.M., 2012. Tipologi dan
Morfologi Arsitektur Rumah Jengki di Kota Malang dan
Lawang. Jurnal Arsitektur. VI(1): 32-34
Aditya, F., 2018. Arsitektur Jengki: Simbol Kebebasan dan
Kemewahan di Indonesia Era 1950-an. Vice Indonesia: Vice
Press, https://www.vice.com/id_id/article/mbx7mx/arsitektur-
jengki-simbol-kebebasan-dan-kemewahan-di-indonesia-era-
1950-an (diakses 12 September 2019)
Majalah Y-ITS., 2013. Jengki, Langgam Arsitektur Anak
Negeri. ITS: Majalah Youth ITS,
https://issuu.com/majalahits/docs/y-its-1/10 (diakses 12
September 2019)
Latar Belakang

Arsitektur Jengki merupakan salah satu peninggalan


sejarah yang masih terkenang hingga saat ini. Perjalanan
sejarah yang dilalui arsitektur jengki merupakan awal dari
perkembangan arsitektur di Indonesia. Arsitektur yang
melambangkan kemerdekaan dan kebebasan ini merupakan
gaya arsitektur yang berkembang pasca kemerdekaan. Pada
masanya, arsitektur jengki sangat diminati oleh masyarakat
Indonesia karena para arsitek ingin memberikan kesan yang
bertolak belakang dengan arsitektur kolonial. Jika pada
umumnya arsitektur kolonial didominasi oleh bidang-bidang
horizontal dan vertikal, serta bentuk yang geometris, maka
arsitektur jengki secara umum memiliki ciri yang bertolak
belakang dengan gaya kolonialisme. Permainan bidang yang
diangkat oleh arsitektur jengki tidak simetris, garis-garis
lengkung, serta jauh dari kesan kaku.

Awal munculnya arsitektur jengki di Indonesia adalah sekitar


tahun 1950 hingga 1960-an. Karena gayanya yang sangat
khas dan berbeda, arsitektur jengki dapat dikatakan sebagai
identitas dari arsitektur Indonesia pada masanya.
Berdasarkan Encarta Dictionary (2003), kata Jengki berasal
dari kata Yankee, sebuah sebutan untuk orang New England
yang ketika itu tinggal di bagian Utara Amerika Serikat atau
seseorang yang lahir dan tinggal di bagian Utara Amerika
Serikat, khususnya tentara yang berperang untuk penyatuan
dalam Perang Sipil di Amerika. Istilah Yankee memiliki arti
yang negatif (Sukada, 2004). Perbedaan karakter yang
berlaku secara umum tersebut dapat dikatakan sebagai
pelopor inspirasi nama dari arsitektur yang lahir di Indonesia
dengan ciri khas yang berbeda, dan bertolak belakang
dengan arsitektur sebelumnya. Istilah kata jengki tak hanya
digunakan dalam bidang arsitektur. Penyebutan kata jengki
juga digunakan pada sepeda (sepeda jengki), model busana
celana jengki (celana yang ketat dan sangat kecil pada bagian
bawahnya), serta pada perabot yang muncul di tahun 1970-
an.

Awal Perjalanan

Arsitektur Jengki muncul di Indonesia sejak tahun 1950-an,


tepatnya ketika para arsitek Belanda dipulangkan kembali ke
negerinya. Arsitek yang menyebarkan gaya arsitektur jengki
dapat dikatakan, sebelumnya adalah asisten para arsitek
Belanda. Setelah tuannya dipulangkan, merekalah yang
memelopori gaya arsitektur jengki. Tidak ingin ada jejak
peninggalan Belanda yang tertinggal, masyarakat pribumi
ingin Indonesia menjadi negara yang mandiri dalam bidang
arsitektur dan tata kota. Sayangnya pada saat itu para arsitek
tak banyak berbekal ilmu tentang arsitektur. Penyebaran
arsitektur jengki tak hanya di kota-kota besar, namun juga di
kota-kota kecil. Peran tukang bangunan sangat banyak dalam
menyebarkan gaya arsitektur ini. Dari penyebaran yang
menyeluruh ini, sejarah menunjukkan betapa kreatifnya
arsitek muda di Indonesia pada masa itu.

Sejak kemunculan arsitektur jengki di Indonesia, pada


sekitar tahun 1970-an, hampir seluruh bangunan di kota
besar Indonesia menggunakan gaya arsitektur ini. Hingga
pada tahun 1980-an mulai berkurang gaya arsitektur jengki
ini. Pada tahun 1990-an pun semakin sedikit ditemukan
bangunan dengan gaya arsitektur jengki, hanya ditemukan
satu-dua rumah saja. Hingga pada tahun 2000-an, bangunan
dengan gaya jengki perlahan hilang dari sejarah kota di
Indonesia karena bidang arsitektur telah berkembang ke gaya
yang lebih modern.

Ciri-ciri
( permainan bentuk, elemen dekoratif, interior )

Disaat melihat bangunan jengki, sangatlah nampak


bahwa bangunan ini dirancang dengan metode form follow
function, dimana fungsi dari bangunan menjadi faktor utama
dari pembentukan bangunan ini. Hal ini dapat dilihat dari
bentuk-bentuk yang menyesuaikan dengan iklim tropis seperti
atap yang dibuat miring agar air hujan dapat langsung turun
dikarenakan Indonesia curah hujannya cukup tinggi.
Kemudian bentuk bangunan yang dibuat miring (bagian
bawah lebih pendek) untuk menjadi pelindung dari sinar
matahari agar ruangan didalamnya tetap nyaman. Selain itu,
kerap juga ditemukan adanya lubang angin pada atap pelana
yang ada yang berfungsi untuk sirkulasi udara. Lubang-lubang
ventilasi pada bangunan juga memudahkan udara masuk ke
dalam ruangan.

Jikalau dilihat dari elemen-elemen yang ada, rumah


jengki sangatlah berbeda dengan bangunan kolonial.
Arsitektur kolonial Belanda banyak mengambil referensi dari
neo-klasik, yaitu gaya yang mengarah pada arsitektur klasik
Yunani dan Romawi dengan ciri-ciri yang menonjol seperti trap
tangga naik dan juga kolom dengan berbagai bentuk ornamen
yang cukup kompleks.

Perbedaan ini dapat dikatakan begitu signifikan dan


dapat terlihat dari ornamen pada rumah jengki sangatlah
minim bahkan nyaris tidak ada, sedangkan bangunan kolonial
memiliki banyak ornamen. Seringkali arsitektur jengki ini
disalah artikan sebagai arsitektur kolonial Belanda, padahal
arsitektur ini lahir para perancang Indonesia yang ingin
menciptakan gaya arsitektur khas Indonesia yang menentang
kolonialisme melalui media arsitektur setelah Belanda pergi
dari Indonesia.

Beberapa pendapat para ahli mengenai ornamen adalah


sebagai berikut :

 Menurut Sullivan yang dikutip Sumalyo (1997), ”Hiasan atau


ornamen dapat meningkatkan martabat bangunan dalam
proporsinya dan bahwa ornamen dapat mempertinggi kualitas
bangunan, itu bagi saya adalah hal yang tidak jelas. Lalu
mengapa kita memerlukan ornamen? bila kita berkonsentrasi
dan kembali kepada kemurniandan kesederhanaan maka kita
akan menghasilkan suatu bentuk bangunan yang cantik
dalam (ketelanjangan) dan mendapatkan nilai tinggi tanpa
hiasan”.
 Adolf Loos (1870-1933), arsitek kelahiran Brno Moravia sebuah
kota di perbatasan antara Austria dan Cekoslovakia yang
mengatakan ”ornament adalah kejahatan”. Pendapat itu
merupakan dukungan Loos terhadap arsitektur modern dan
menganggap bahwa ornament merupakan naluri dasar
manusia yang belum modern peradapannya. Bagi Loos,
manusia modern adalah manusia yang sadar akan ke
sezamanan baru, bukan orang yang selalu merindukan
pengulangan kebesaran masalalu dengan mencintai karya-
karya lama untuk ditiru dalam bangunan maupun
perlengkapan kehidupan (Wiryomartono, 1993)
 Frank Lloyd Wright bersama Dankmar Adler mengataka bahwa
fungsi dan bentuk merupaka satu kesatuan.
 Ludwig Mies van der Rohe memiliki pemikiran bahwa
kesederhanaan merupakan hal yang lebih baik atau dikenal
dengan jargon ”less is more”.

Jika dilihat dari pendapat-pendapat diatas, dapat dikatakan


bahwa arsitektur jengki dengan kesederhanaannya
merupakan bangunan yang menarik dan berani dibandingkan
dengan bangunan kolonial, karena walaupun hanya
menampilkan bentuk bangunan tanpa ada ornamen sudah
dapat menghasilkan karya yang memanjakan mata. Hal ini
pun merupakan salah satu ciri-ciri dari arsitektur modern,
yaitu mengutamakan fungsi dibandingkan dengan bentuk
ornamen semata.

Namun tidak menutup kemungkinan untuk menambahkan


variasi-variasi pada rumah jengki, walaupun tetap dalam
bentuk-bentuk geometri, seperti pada:

 Dinding
Dapat dikatakan bahwa dinding jadi salah satu aspek yang
menonjol dari rumah jengki, karena dindingnya banyak yang
miring (tidak mengarah horizontal ataupun vertikal), yang
sebenarnya bukan bagian dari struktur namun kreativitas
perancang bangunan. Banyak rumah jengki yang bentuk
dindingnya seperti trapesium terbalik. Olahan ini hanya pada
dinding depan saja, sehingga ruang yang ada tetap persegi
bukan trapesium.
Selain itu, banyak bangunan jengki yang separuh sisi
tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh
lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan dan
tidak rata pula.
 Kolom
Permainan kolom dan tiang juga menjadi salah satu elemen
yang unik pada arsitektur jengki, karena kolom dan tiang
cenderung menggunakan bentuk diluar persegi seperti kolom
pada umumnya. Selain itu, pilar bagian atas juga lebih besar
dibandingkan bawah yang dimana keunikannya itu
menambah faktor estetika pada arsitektur jengki.
 Kusen
Bentuk kusen yang terkesan “menyimpang” karena tidak
sesuai dengan garis vertikal dan horizontal juga menjadi salah
satu ciri-ciri yang menonjol dari rumah jengki ini. Biasanya,
sisi kusen akan dimiringkan pada derajat tertentu atau bisa
juga membentuk lengkungan. Para perancang juga bebas
membentuk kusen berupa jajaran genjang, trapesium, oval,
atau bentuk-bentuk geometris lainnya.

 Atap
Atap pelana juga merupakan salah satu keunikan yang
menjadi ciri khas dari arsitektur jengki. Bentuknya yang
sangat menyesuaikan dengan iklim tropis ini dapat dibentuk
menjadi :
o Atap pelana biasa
o Atap pelana dengan salah satu sisi bidang lebih panjang
o Atap jambul dimana bidang panjang tidak penuh
o Atap pelana berulang
o Atap pelana bergeser, dan terdapat celah
 Rooster
Rooster juga merupakan salah satu ornamen yang bisa di
highlight pada arsitektur jengki. Rooster yang sangat sesuai
untuk digunakan pada bangunan beriklim tropis ini berbentuk
beraneka ragam mulai dari segi lima, persegi, segitiga,
lingkaran, trapesium, dan bentuk geometris lainnya. Selain
untuk faktor estetika, rooster juga berfungsi untuk sirkulasi
udara dari luar kedalam bangunan sehingga didalam
bangunan dapat mencapai kenyamanan thermal. Tidak selalu
horizontal atau vertikal, rooster juga dapat diletakkan sesuai
dengan kemiringan atap dari bangunan tersebut.
 Teras
Untuk teras depan biasanya menggunakan penutup sosoran
atau kanopi yang terbuat dari material beton yang
bergelombang yang kemudia disangga tiang yang miring. Hal
ini selain berfungsi sebagai menyeimbangkan bangunan (ada
unsur horizontal) juga berfungsi sebagai shading device agar
silau matahari tidak langsung masuk kedalam bangunan.
 Interior
Dikarenakan bentuk bangunan luar yang unik, hal ini juga
berpengaruh pada interior bangunan. Misalnya karena kusen
yang berbentuk asimetris menambah estetika ruang
didalamnya. Selain itu, tidak ada pembatas yang begitu
signifikan antara satu ruang dengan yang lain, namun tetap
ada aksen-aksen tertentu yang menjadi pembeda antar
ruang. Hal ini dirancang dengan tujuan agar ruangan terkesan
lebih luas dan nyaman, serta memaksimalkan pergerakan
angin yang ada.

CIRI ELEMEN PEMBANTUK


Bentuk Dasar
• Istilah Jengki tidak hanya digunakan untuk arsitektur,
namun juga dalam bidang lain seperti fashion, kendaraan
dan furniture contohnya adalah sepeda jengki, celana
jengki dan mebel jengki yang populer pada era 70-an.
• Menurut Widayat (2006), terdapat korelasi antara bentuk
segilima pada tampak bangunan dengan lambang TNI-AU.
Pendapat ini diperkuat dengan kondisi waktu lalu yang
diliputi semangat nasionalisme. Inspirasi dari bentuk dasar
arsitektur jengki juga diambil dari posisi kuda-kuda miring
koboi saat berduel.

Menurut Widayat (2006), arsitektur yang berkembang


pada era 1950-1960 menganut prinsip form follow function
termasuk salah satunya arsitektur jengki. Hal ini dibuktikan
dengan adanya kemiringan atap agak curam untuk
memudahkan aliran air hujan, bentuk segilima yang melebar
ke atas pada dinding sebagai shading, dan penggunaan
rooster untuk memudahkan sirkulasi udara.

Elemen Pembentuk

ATAP

1. Atap Pelana, dengan sudut 35⁰


2. Bidang atap tidak bertemu dan tidak terdapat bubungan.
3. Terdapat bidang tegak di antara atap (gewel) yang
digunakan menjadi ventilasi udara.
4. Atap rumah jengki memiliki kemiringan yang curam
sebagai bentuk tanggap iklim tropis yang curah hujannya
tinggi.
5. Terdapat beberapa rumah dengan atap yang memiliki
garis lengkung
ROOSTER

1. Memiliki beragam bentuk, segitiga,


segilima maupun tidak beraturan
2. Berfungsi sebagai lubang ventilasi
sirkulasi udara.
3. Merupakan bentuk adaptasi
terhadap iklim tropis Indonesia.
4. Berperan sebagai media
mengekspresikan nilai estetika
baru di Indonesia.

JENDELA ASIMETRIS
1. Sebagai bentuk ekspresi penolakan (anti-
simetris) dari arstitektur kolonial yang
diterapkan sebelumnya.
2. Penyesuain desain kusen dan jendela yang lebar
dan besar juga menunjukkan bahwa arsitektur
jengki tanggap terhadap iklim tropis.
3. Merupakan elemen pembentuk yang menonjol
dari arsitektur jengki.

DINDING
1. Sebagai bentuk media ekspresi anti-geometri
dan anti-tegak lurus, sehingga dinding dibawah
atap dibuat miring agar bentuk pentagonal
terlihat utuh.
2. Finishing dapat berupa cat putih atau dihias
dengan motif batu alam yang disusun secara
teratur maupun tidak.
3. Tampak permukaan dinding biasanya
menggunakan pola permainan komposisi dengan
bentuk yang sangat ekspresif.

TERAS
1. Berperan sebagai aksentuasi pintu masuk ke
dalam bangunan (portico).
2. Memiliki kanopi atau sosoran dengan bentuk
datar atau lengkung yang menggunakan tiang
penyangga.
3. Berfungsi sebagai ruang peneduh dan ruang
penerima.
4. Memiliki kesan yang luas dan selaras dengan
pekarangan.

KOMBINASI BAHAN
• Kombinasi bahan yang digunakan untuk
pelapisan yaitu bahan lempengan batu belah,
pasangan batu serit, kubistis batu paras dan
susunan batu telor. Untuk finishing materialnya
sendiri sebagian besar masih kasar, yaitu semen
yang dilemparkan ke dinding.
• Finishing pada arsitektur jengki juga dapat
menggunakan cat dengan warna pastel dan
untuk furniture menggunakan finishing pelitur.
• Kanopi pada teras menggunakan material beton
bergelombang.
• Kusen pada jendela dan pintu menggunakan
material kayu atau aluminium dengan finishing
cat.
• Dinding, menggunakan material beton dan
dapat dihias dengan batu alam untuk tembok
eksterior.
• Rooster, menggunakan material beton.

ESTETIKA
Estetika atau aestheton dalam bahasa asli nya memiliki arti
“kemampuan melihat melalui pengindraan”. Dengan kata lain
istilah estetika secara umum dapat di kaitkan dengan hal-hal
yang mempelajari keindahan. Dalam konteks sekarang ialah
keindahan arsitektur. Estetika dalam arsitektur terbentuk dari
unsur dan prinsip desain. Bentuk bangunan bergaya arsitektur
jengki lebih menekankan desain untuk kepentingan fungsi atau
utilitas. seperti bentukan atap yang di buat curam agar air hujan
dapat mengalir lebih cepat dan tidak membebani atap, atau
seperti bentuk dinding yang berbentuk segi lima agar dapat
menjadi shading device langsung bangunan. Bentukan bentukan
itu terbentuk dari keperluan utilitas (tanggap iklim) pada daerah
beriklim tropis seperti di indonesia yang memiliki curah hujan
tinggi dan matahari bersinar 12 jam sehari.
Arsitektur jengki sering di identikan dengan bentukan atap
pelana nya yang tidak umum. Ruas kanan dan kiri atap pelana
memiliki ketinggian yang berbeda lalu membentuk dinding sisa
di antara atap yang biasa di gunakan sebagai ventilasi dan
tempat udara ber sirkulasi. Penggunaan rooster (lubang-lubang
pada dinding) yang juga sering di gunakan pada arsitektur
jengki juga berfungsi demikian.
Detail-detail bangunan yang lain pun di buat berbeda.
Peletakan kusen jendela dan pintu di buat asimetris dan tidak
sejajar menjadikan nya nilai estetika tersendiri. Banyak nya
jumlah bukaan jendela pun di buat agar bangunan tanggap
terhadap iklim tropis.
Perbedaan perbedaan bentuk arsitektur jengki dengan
arsitektur kolonial tidak hanya di buat semata untuk
menjunjukan perlawanan terhadap kolonialisme. Para arsitek
Indonesia pada saat itu juga mempertimbangkan bahkan
menekankan fungsi bangunan tersebut untuk membuat
perbedaan itu sendiri.
Perbedaan arsitektur kolonial dengan jengki dapat di lihat
secara fisik. Arsitektur kolonial pada saat itu masih banyak
mengandung unsur-unsur gaya neo klasik, gaya yang masih
mengadopsi beberapa unsur bangunan dari era klasik yunani
seperti penggunaan kolom dan berbagai ornamen. Sedangkan
pada arsitektur jengki, tidak ada penggunaan ornamen dan
bentuk bangunan lebih sederhana.
“hiasan atau ornamen dapat meningkatkan martabat
bangunan dalam proporsi nya serta ornamen juga dapat
mempertinggi kualitas bangunan, sebenarnya tanpa harus
memerlukan ornamenjuga dapat suatu bentuk bangunanyang
indah bila berkonsentrasi dan kembali kepada kemurnian serta
kesederhanaan yang dapat menghasilkan bentuk bangunan
yang cantik dan indah dalam ketelanjangan serta mwmiliki nilai
tinggi tanpa harus menggunakan hiasan” demikian pendapat
Sullivan yang di kutip oleh sumalyo (1997).
Menurut Sullivan, sebuah bangunan sederhana bisa tampak
lebih ber estetika dengan mengutamakan kemurnian dan
kesederhanaan bentuk tanpa menggunakan ornamen. Demikian
pula dengan arsitektur jengki, dengan hanya menggunakan
bentuk bentuk sederhana. Keindahan dalam kemurnian pun
dapat di eksplorasi lebih tanpa adanya ornamen. Bentuk
geometri sederhana seperti segitiga, persegi dan segi lima
sering di gunakan dalam desain bangunan jengki.selain bentuk
geometri, arsitek jengki juga menggunakan bentuk bentuk
sederhana lain nya seperti lingkaran, kurva dan garis garis
lengkung. Karena bentuk bentuk tersebut ialah bentuk dasar,
maka unsur estetika arsitektur jengki sangat mudah untuk di
padukan dengan bangunan bangunan lain.
Beberapa arsitek berpendapat bahwa bentuk dasar segi
lima pada bangunan jengki di dasarkan pada bentuk lambang
lembaga tertentu yang dapat di kait kan dengan lima sila dalam
pancasila. Bentuk tersebut kemudian di kembangkan dan
menjadi estetika tersendiri untuk arsitektur jengki. Situasi pada
saat itu, yaitu setelah era kemerdekaan di mana rasa
nasionalisme sangat kuat, menjadi dasar para arsitek
berpendapat demikian.

MAKNA
Menurut KBBI kata “makna” memiliki arti; maksud
pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada
suatu bentuk kebahasaan;. Dalam konteks arsitektural, makna
disampaikan dalam bentuk yang dapat di terima oleh panca
indra. Dengan kata lain pemaknaan dalam arsitektur dapat di
tinjau secara empirik melalui reseptor indra-indra yang di miliki
pelaku arsitektur. Setelah diterima input emprik tersebut di
cerna oleh otak dan kemudian akan menimbulkan reaksi
tanggapan. Dalam penyampaian makna, arsitektur jengki pun
juga demikian. Secara empirik atau kasat mata, arsitektur jengki
termasuk dalam gaya arsitektur kreatif dan tidak mengikuti
pakem yang sudah ada.dengan bentuk dan tekstur nya yang
tidak lazim. Serta penekanan penekanan pada fungsi dan sistem
tanggap iklim tropis. Arsitektur jengki memiliki makna yang
mendalam pada sejarah arsitektural indonesia.
Arsitektur jengki dari sejarah nya ialah bentuk dari
pengekspresian kenosanan terhadap apa yang sudah ada
dengan mengasah kreatifitas dalam meng eksplorasi bentuk dan
ruang. Tetapi hal ini masih sebagian dari keseluruhan makna
arsitektur jengki. Masih banyak lagi makna di balik karya-karya
arsitektur jengki. Makna karya tersebut juga dapat berbeda
tergantung dari kemampuan pengamat atau pelaku arsitektur
dalam memahami dan memaknai arsitektur jengki. Pemaknaan
pun dapat bertambah jika ada pemaknaan pemaknaan lain yang
lebih luas dan mendalam. Pemaknaan arsitektur jengki pun
dapat di maknai dari beberapa konteks. Yaitu konteks jaman
dahulu, kebutuhan masa kini dan konteks nasionalisme.
Jika di tinjau dari konteks zaman dahulu, arsitek tur jengki
dapat menjelaskan pola hidup dan gaya hidup masyarakat pada
masa lampau. Pada saat itu arsitektur jengki sudah menjadi
trend gaya arsitektur di masyarakat. Sifat atau budaya
masyarakat yang adaptif atau cenderung mengikuti trend yang
ada pun turut berkontribusi menambah kepopuleran arsitektur
jengki pada masa itu. Arsitektur jengki pada saat itu juga di
pandang sebagai parameter status sosial. Orang-orang pada
masa itu sangat ingin memiliki rumah dengan gaya arsitektur
jengki. Rumah dengan gaya jengki ini sangat di minati oleh
kalangan masyarakat kaya atau terpandang pada masa itu.
Seperti hanya tren-tren lain yang hanya populer pada satu
masa. Arsitektur jengki jika di tinjau dalam konteks masa kini
sangat memprihatinkan. Jumlah bangunan dan peminat nya
semakin sedikit seiring dengan muncul nya tren gaya yang lain.
Hal ini juga di sebabkan oleh budaya masyarakat indonesia yang
adaptif. Hal ini dapat berakibat fatal terhadap pelestarian nilai-
nilai sejarah di indonesia. Berganti nya model rumah-rumah
pada masyarakat masa kini dapat menghilangkan jejak-jejak
arsitektur jengki yang pernah terjadi di indonesia. Pandangan
masyarakat masa kini terhadap arsitektur jengki adalah gaya
arsitektur yang kuno dan ketinggalan jaman dapat
mempengaruhi pemilik rumah jengki untuk berpikir demikian
juga. Oleh karena itu, pemilik-pemilik properti bergaya jengki
perlu sadar bahwa ada esensi yang mendalam pada arsitektur
jengki yang perlu untuk di lestarikan. Arsitektur jengki juga
pernah menjadi tren dan menjadi tolak ukur keadaan sosial
pemilik pada masa nya. Arsitek pada masa kini pun perlu sadar
bahwa arsitektur jengki adalah warisan budaya dan arsitektur
jengki juga mudah untuk di interpretasikan sebagai ide baru
yang menyesuaikan kebutuhan masa kini.
Selaiin itu, arsitektur jengki juga dapat di tinjau dari konteks
nasionalisme. Arsitektur jengki pada masa mula nya ialah hasil
perjuangan para ahli bangunan di indonesia untuk menciptakan
gaya arsitejtural yang baru dan asli dari indonesia. Walaupun
karya para ahli tersebut belum sebanding dengan karya-karya
ahli bangunan belanda. Semangat perjuangan para ahli
bangunan indonesia tertuang di dalam karya-karya arsitektur
jengki. Dalam hal ini, makna arsitektur jengki tidak sekedar tren
yang ada di masa itu. Di dalam nya juga teruang nilai-nilai
semangat perjuangan dan nasionalisme. Arsitektur jengki dapat
di maknai sebagai perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di
bidang arsitektur. Itu juga merupakan alasan mengapa
arsitektur jengki ini perlu di lestarikan.
Dari ketiga konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa
arsitektur jengki adalah warisan budaya dalam sejarah
arsitektrur di indonesia. Arsitektur jengki dapat di maknai
sebagai cermin status sosial sosial pemiliknya, serta penciptaan
nya dapat dimaknai sebagai perjuangan-perjuangan
masyarakat indonesia pada masa tersebut dan rasa
nasionalisme yang ada pada rakyat masa itu. Keberadaan
arsitektur jengki di indonesia perlu kita lestarikan sebagai
warisan budaya arsitektur.

PERSEBARAN ARSITEKTUR JENKI DI INDONESIA

Persebaran Arsitektur jenki di Jakarta


Di Jakarta selatan tepatnya di daerah kebayoran baru, di
jalankannya perencanaan kota satelit rancangan seorang
planolog pertama Indonesia yaitu, H. Moh. Soesilo. Kota satelit
itu sendiria adalah kota taman pertama yang sejuk, asri, dan
hijau. Pembangunan kota taman ini pun dimulai pada tahun
1984 dengan luas 730 Ha. Alasan dibangunnya kota taman
tersebut ialah demi memenuhi kebutuhan aspek pemukiman
warga Jakarta karena pada tahun itu populasi nya telah melebihi
dari 1 juta jiwa.
Pada awal tahun 1960-an di daerah kebayoran baru tersebut
didirikan perumahan karyawan BPM (Bataafsche Petroleum
Maatschappij) yang kemudian dianggap sebagai daerah yang
menerapkan gaya arsitektur jenki pertama kali di Indonesia,
tepatnya berada di jalan Pakubuono .

Berikut adalah penjelasan detail mengenai perumahan


BPM di jalan pakubuwonoVI :

(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
Ini adalah gambar deretan Blockplan yang menampilkan deretan
rumah berarsitektur jengki

Denah Lantai 1
(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)

Area Service- Area Private 1- Area private 2(lantai2) terpisah


oleh sekat sekat (dinding) yang saling terhubung, melalui :
1. Bukaan (pintu) yang menghubungkan area service dengan
area private 1
2. Akses (tangga) yang digunakan untuk menghubungkan area
private 1 dengan area private 2 (lantai2)
3. Bukaan (Pintu) dan akses (tangga) menghubungkan area
service dengan area private 2 (lantai2)
Denah Lantai 2

(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)

Balkon utama (area private sharing berwarna abu-abu)


digunakan sebagai area social untuk anak-anak. Terdapaat
bukaan agar masa pertumbuhan anak anak dapat melihat
berbagai hal, sehingga tidak hanya terpaku pada satu sudut
pandang atau pendapat.
Lalu terdapat keistimewaan pada kamar diujung kanan (area
hijau) yang diperuntukkan pada anak pertama. Letaknya yang
jauh dari akses tangga membuat ia harus melewati koridor
sehingga ia dapat memantau keaadaan anak kedua dan anak
ketiga.
Gambar Potongan Rumah di jalan pakubuwono VI

(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
CIRI-CIRI ARSITEKTUR
JENGKI PADA RUMAH DI
JALAN PAKUBUWONO VI

1. Dinding tampak depan yang


miring, dan jika dilihat dari
samping tampak bangunan
berbentuk segilima
2. Berbentuk atap pelana
yang memiliki sudut
kemiringan 35 derajat, dan
bahan penutup atap
genteng diataranya
genteng tanah liat, genteng
beton pres, genteng sirap,
genteng beton.
3. Terdapat bukaan sirkulasi
udara (rooster)
4. ntuk finishing dinding
menggunakan plester-aci + cat
5. Memakai bukaan bermaterial kaca dan elemen dekoratif
besi pada fasad.
Persebaran arsitektur di Bandung

Salah satu bentuk arsitektur yang menganut aliran jengki di


bandung ialah gedung Balai pertemuan Ilmiah di Institut
teknologi bandung (ITB) yang terletak di jalan surapati no.1
bandung. Gedung ini dibangung pada November 1953
sampai februari 1955, dan diresmikan pada 7 april 1956.
Gedung ini di rancang oleh arsitek bernama Ir. Albertus
Wilhelm Gmelig Meyling,
dang menggandeng Boen
Kwet Liem sebagai
kontraktor.

Detail Bangunan BPI ITB :

Letak dan Fasad :

(Sumber:http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )

Bangunan BPI ITB adalah massa 1 yang berwarna merah,


dapat dilihat bahwa gedung ini memiliki bentuk fasad yang
merespon bentuk tapak yaitu bentuk yang cekung
menghadap kearah simpang lima jalan\\

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
Berikut adalah tampak bangunan BPI ITB

Tampak Depan :
Tampak Belakang :

dd

Tampak Kiri : Tampak Kanan :


(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )

Berdasarkan informasi diatas dapat kita ketahui bahwa


orientasi dari bangunan BPI ITB ini menghadap Barat, yang
dimana menghadap ke jalan surapati dan Ir. H. Juanda.
Tampak depan bangunan ini memiliki 2 bentuk ekspresi
yaitu bentuk Masif di bagian atas dan bentuk transparan di
bagian bawah bangunan.
Untuk bagian Samping, memiliki orientasi yang menghadap
utara dan selatan. Memiliki bentuk ekspresi yaitu transparan
dibagian depan bangunan (yang besar) dan campuran
dibagian bangunan yang lebih rendah.
Bagian belakang bangunan memiliki struktur yang berbeda
dari bangunan depan dan samping karena terpotong oleh
bangunan 2 dan 3 (hijau dan biru)
Bagian Atap :

Atap pada Gedung BPI ITB yang berbentuk datar merupakan


hasil dari variasi Arsitektur Jengki.

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )

Bagian Kanopi depan :

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-C070.pdf
)

Di bagian depan bangunan ini terdapat sebuah kanopi yang


memiliki bentuk simple dan datar dengan bentuk
lengkungan yang searah seperti bangunan bagian depan
menghadap ke arah barat.untuk material yang digunakan
adalah dak beton.
Bagian Kanopi samping :

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )

Pada bagian kanopi di sisi kanan dan kiri bangunan ini di


topang oleh kolom yang unik karena volume kolom ini
menyusut ataupun semakin kecil kearah bawah kolom.
Untuk penggunaan material sama seperti kanopi di bagian
depan yaitu menggunakan dak beton.

Bagian Kolom :
Pada bagian
kolom dapat
dipisahkan
menjadi
beberapa
bagian
karena perbedaan bentuk, namun tetap memiliki kesamaan
yaitu tampilan yang simple tanpa tambahan elemen
tertentu.
Kolom yang digunakan dilantai 1 dan 2 : kolom
yang digunakan dilantai 3 dan 4 :

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-
IJRERD-C070.pdf )
Kolom yang digunakan pada aspek eksterior
bangunan :
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )

Detail Dinding :
Berdasarkan informasi, dapat diketahui bahwa bentuk
dinding bangunan untuk interior maupun ekterior terlihat
berbeda. Kebanyakan dari dinding interior digunakan
material batu bata, multiplex
sebagai dinding partisi, elemen-
elemen kayu, terlebih di bagian
ruangan meeting. Sedangkan di
bagian eksterior terdapat banyak
penggunaan bata dan finishing
acian yang halus, kamprot, dan
juga batu alam. Untuk warna
yang digunakan adalah warna-warna natural seperti putih,
cream dan abu-abu.

(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-
IJRERD-C070.pdf )

Digunakan diruang meeting Detail material di


bangunan utama
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
Detail material pada fasad belakang Detail material eksterior
Persebaran arsitektur jengki di Surabaya
Masa arsitektur jengki bisa dibilang sangat singkat untuk
menunjukkan dirinya, karena itu tidak semua kota di Indonesia
mendapati aliran tersebut, namun surabaya menjadi salah satu
kota yang memiliki koleksi arsitektur jengki. Salah satu nya
rumah kediaman bapak Jendral Soebandi di jalan dr soetomo 73.
Rumah ini awalnya peninggalan colonial namun oada tahun 1960
para pengrajin dari madiun yang dikepalai oleh bapak Sudrajat
merenovasi bagian ruang tamu hingga teras dengan gaya jengki,
yang tentunya atas keinginan dari almarhum colonel Soebandi.

Detail
Bangunan
Rumah
jendral
soebandi
Bingkai
Jendela :

(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dapat dilihat bahwa bangunan ini memiliki bentuk frame jendela
yang lebih menonjol pada bagian atas bingkai, sehingga bila
dilihat dari samping akan menimbulkan efek estetika yang unik
bahwa jendela tersebut berbentuk miring.
Detail tembok eskterior :

(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dalam aspek material, penggunaan material batu alam
digunakan pada bangunan ini dibagian eksterior dengan warna
coklat yang berbentuk kotak-kotak, selaras dengan bentuk
jendela dan juga pintu rumah.

Detail Rooster :

(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dapat dilihat bahwa terdapat rooster berbentuk kotak-kotak yang
ada dibawah kantilever
Detail Interior :

(sumber :
http://ayorek.org/2014/09/menelusur-
arsitektur-jengki-di-
surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)

Dari sisi interior terdapat desain peletakan lampu disudut-sudut


ruangan dengan model penerangan cahaya tidak langsung
(indirect light)

(sumber :
http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-di-
surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)

Lalu pada bagian dalam terdapat dinding indoor yang


berbentuk”miring-lengkung” yang digunakan sebagai
penghubung antar ruang. Sehingga bukan hanya fasad luar saja
yang menerapkan gaya arsitektur jengki namun interior nya pun
juga menganut gaya arsitektur yang sama.
Persebaran Arsitektur Jenki di Semarang

Apotek Sputnik
Jl. Pandanaran, Mugassari, Kec. Semarang Sel., Kota
Semarang, Jawa
Tengah 50249

Sumber :
https://dokumen.tips/documents/apotik-sputnik-semarang.html

Dapat dilihat dari desainnya, detail pada bangunan yang unik,


terutama pada penampilan bentuk melekngkung di fasad-nya
tentunya dengan keunikan tambahan dengan model patung
roket yang bertuliskan sputnik pada hidungnya. Bentuk
lengkungan mirip amuba ini juga dapat dilihat di setiap jendela,
pintu yang ada didalam. Juga ubinnya yang berpola checker
menambah keunikan dari bangunan ini
KESIMPULAN
Arsitektur Jengki adalah salah satu peninggalan sejarah
yang masih terkenang hingga saat ini. Perjalanan sejarah yang
dilalui arsitektur jengki merupakan awal dari perkembangan
arsitektur di Indonesia. Arsitektur yang melambangkan
kemerdekaan dan kebebasan ini merupakan gaya arsitektur
yang berkembang pasca kemerdekaan.
Berdasarkan Encarta Dictionary (2003), kata Jengki berasal
dari kata Yankee, sebuah sebutan untuk orang New England
yang ketika itu tinggal di bagian Utara Amerika Serikat atau
seseorang yang lahir dan tinggal di bagian Utara Amerika
Serikat, khususnya tentara yang berperang untuk penyatuan
dalam Perang Sipil di Amerika. Istilah Yankee memiliki arti yang
negatif (Sukada, 2004). Perbedaan karakter yang berlaku secara
umum tersebut dapat dikatakan sebagai pelopor inspirasi nama
dari arsitektur yang lahir di Indonesia dengan ciri khas yang
berbeda, dan bertolak belakang dengan arsitektur sebelumnya.
Jikalau dilihat dari elemen-elemen yang ada, rumah jengki
sangatlah berbeda dengan bangunan kolonial. Arsitektur
kolonial Belanda banyak mengambil referensi dari neo-klasik,
yaitu gaya yang mengarah pada arsitektur klasik Yunani dan
Romawi dengan ciri-ciri yang menonjol seperti trap tangga naik
dan juga kolom dengan berbagai bentuk ornamen yang cukup
kompleks.
arsitektur jengki dengan kesederhanaannya merupakan
bangunan yang menarik dan berani dibandingkan dengan
bangunan kolonial, karena walaupun hanya menampilkan
bentuk bangunan tanpa ada ornamen sudah dapat
menghasilkan karya yang memanjakan mata.
Bentuk dasar segi lima pada bangunan jengki di dasarkan
pada bentuk lambang lembaga tertentu yang dapat di kait kan
dengan lima sila dalam pancasila. Bentuk tersebut kemudian di
kembangkan dan menjadi estetika tersendiri untuk arsitektur
jengki. arsitektur jengki juga merupakan warisan budaya dalam
sejarah arsitektrur di indonesia. Arsitektur jengki dapat di
maknai sebagai cermin status sosial sosial pemiliknya, serta
penciptaan nya dapat dimaknai sebagai perjuangan-perjuangan
masyarakat indonesia pada masa tersebut dan rasa
nasionalisme yang ada pada rakyat masa itu. Keberadaan
arsitektur jengki di indonesia perlu kita lestarikan sebagai
warisan budaya arsitektur.
Karena gayanya yang sangat khas dan berbeda, arsitektur
jengki dapat dikatakan sebagai identitas dari arsitektur
Indonesia pada masanya. Hingga pada tahun 1980-an mulai
berkurang gaya arsitektur jengki ini. Pada tahun 1990-an pun
semakin sedikit ditemukan bangunan dengan gaya arsitektur
jengki, hanya ditemukan satu-dua rumah saja. Hingga pada
tahun 2000-an, bangunan dengan gaya jengki perlahan hilang
dari sejarah kota di Indonesia karena bidang arsitektur telah
berkembang ke gaya yang lebih modern.

Anda mungkin juga menyukai