Arsitektur Jengki
Arsitektur Jengki
Awal Perjalanan
Ciri-ciri
( permainan bentuk, elemen dekoratif, interior )
Dinding
Dapat dikatakan bahwa dinding jadi salah satu aspek yang
menonjol dari rumah jengki, karena dindingnya banyak yang
miring (tidak mengarah horizontal ataupun vertikal), yang
sebenarnya bukan bagian dari struktur namun kreativitas
perancang bangunan. Banyak rumah jengki yang bentuk
dindingnya seperti trapesium terbalik. Olahan ini hanya pada
dinding depan saja, sehingga ruang yang ada tetap persegi
bukan trapesium.
Selain itu, banyak bangunan jengki yang separuh sisi
tembok yang menghadap ke jalan lebih maju dari sisi separuh
lainnya yang diikuti oleh atap yang menjorok ke depan dan
tidak rata pula.
Kolom
Permainan kolom dan tiang juga menjadi salah satu elemen
yang unik pada arsitektur jengki, karena kolom dan tiang
cenderung menggunakan bentuk diluar persegi seperti kolom
pada umumnya. Selain itu, pilar bagian atas juga lebih besar
dibandingkan bawah yang dimana keunikannya itu
menambah faktor estetika pada arsitektur jengki.
Kusen
Bentuk kusen yang terkesan “menyimpang” karena tidak
sesuai dengan garis vertikal dan horizontal juga menjadi salah
satu ciri-ciri yang menonjol dari rumah jengki ini. Biasanya,
sisi kusen akan dimiringkan pada derajat tertentu atau bisa
juga membentuk lengkungan. Para perancang juga bebas
membentuk kusen berupa jajaran genjang, trapesium, oval,
atau bentuk-bentuk geometris lainnya.
Atap
Atap pelana juga merupakan salah satu keunikan yang
menjadi ciri khas dari arsitektur jengki. Bentuknya yang
sangat menyesuaikan dengan iklim tropis ini dapat dibentuk
menjadi :
o Atap pelana biasa
o Atap pelana dengan salah satu sisi bidang lebih panjang
o Atap jambul dimana bidang panjang tidak penuh
o Atap pelana berulang
o Atap pelana bergeser, dan terdapat celah
Rooster
Rooster juga merupakan salah satu ornamen yang bisa di
highlight pada arsitektur jengki. Rooster yang sangat sesuai
untuk digunakan pada bangunan beriklim tropis ini berbentuk
beraneka ragam mulai dari segi lima, persegi, segitiga,
lingkaran, trapesium, dan bentuk geometris lainnya. Selain
untuk faktor estetika, rooster juga berfungsi untuk sirkulasi
udara dari luar kedalam bangunan sehingga didalam
bangunan dapat mencapai kenyamanan thermal. Tidak selalu
horizontal atau vertikal, rooster juga dapat diletakkan sesuai
dengan kemiringan atap dari bangunan tersebut.
Teras
Untuk teras depan biasanya menggunakan penutup sosoran
atau kanopi yang terbuat dari material beton yang
bergelombang yang kemudia disangga tiang yang miring. Hal
ini selain berfungsi sebagai menyeimbangkan bangunan (ada
unsur horizontal) juga berfungsi sebagai shading device agar
silau matahari tidak langsung masuk kedalam bangunan.
Interior
Dikarenakan bentuk bangunan luar yang unik, hal ini juga
berpengaruh pada interior bangunan. Misalnya karena kusen
yang berbentuk asimetris menambah estetika ruang
didalamnya. Selain itu, tidak ada pembatas yang begitu
signifikan antara satu ruang dengan yang lain, namun tetap
ada aksen-aksen tertentu yang menjadi pembeda antar
ruang. Hal ini dirancang dengan tujuan agar ruangan terkesan
lebih luas dan nyaman, serta memaksimalkan pergerakan
angin yang ada.
Elemen Pembentuk
ATAP
JENDELA ASIMETRIS
1. Sebagai bentuk ekspresi penolakan (anti-
simetris) dari arstitektur kolonial yang
diterapkan sebelumnya.
2. Penyesuain desain kusen dan jendela yang lebar
dan besar juga menunjukkan bahwa arsitektur
jengki tanggap terhadap iklim tropis.
3. Merupakan elemen pembentuk yang menonjol
dari arsitektur jengki.
DINDING
1. Sebagai bentuk media ekspresi anti-geometri
dan anti-tegak lurus, sehingga dinding dibawah
atap dibuat miring agar bentuk pentagonal
terlihat utuh.
2. Finishing dapat berupa cat putih atau dihias
dengan motif batu alam yang disusun secara
teratur maupun tidak.
3. Tampak permukaan dinding biasanya
menggunakan pola permainan komposisi dengan
bentuk yang sangat ekspresif.
TERAS
1. Berperan sebagai aksentuasi pintu masuk ke
dalam bangunan (portico).
2. Memiliki kanopi atau sosoran dengan bentuk
datar atau lengkung yang menggunakan tiang
penyangga.
3. Berfungsi sebagai ruang peneduh dan ruang
penerima.
4. Memiliki kesan yang luas dan selaras dengan
pekarangan.
KOMBINASI BAHAN
• Kombinasi bahan yang digunakan untuk
pelapisan yaitu bahan lempengan batu belah,
pasangan batu serit, kubistis batu paras dan
susunan batu telor. Untuk finishing materialnya
sendiri sebagian besar masih kasar, yaitu semen
yang dilemparkan ke dinding.
• Finishing pada arsitektur jengki juga dapat
menggunakan cat dengan warna pastel dan
untuk furniture menggunakan finishing pelitur.
• Kanopi pada teras menggunakan material beton
bergelombang.
• Kusen pada jendela dan pintu menggunakan
material kayu atau aluminium dengan finishing
cat.
• Dinding, menggunakan material beton dan
dapat dihias dengan batu alam untuk tembok
eksterior.
• Rooster, menggunakan material beton.
ESTETIKA
Estetika atau aestheton dalam bahasa asli nya memiliki arti
“kemampuan melihat melalui pengindraan”. Dengan kata lain
istilah estetika secara umum dapat di kaitkan dengan hal-hal
yang mempelajari keindahan. Dalam konteks sekarang ialah
keindahan arsitektur. Estetika dalam arsitektur terbentuk dari
unsur dan prinsip desain. Bentuk bangunan bergaya arsitektur
jengki lebih menekankan desain untuk kepentingan fungsi atau
utilitas. seperti bentukan atap yang di buat curam agar air hujan
dapat mengalir lebih cepat dan tidak membebani atap, atau
seperti bentuk dinding yang berbentuk segi lima agar dapat
menjadi shading device langsung bangunan. Bentukan bentukan
itu terbentuk dari keperluan utilitas (tanggap iklim) pada daerah
beriklim tropis seperti di indonesia yang memiliki curah hujan
tinggi dan matahari bersinar 12 jam sehari.
Arsitektur jengki sering di identikan dengan bentukan atap
pelana nya yang tidak umum. Ruas kanan dan kiri atap pelana
memiliki ketinggian yang berbeda lalu membentuk dinding sisa
di antara atap yang biasa di gunakan sebagai ventilasi dan
tempat udara ber sirkulasi. Penggunaan rooster (lubang-lubang
pada dinding) yang juga sering di gunakan pada arsitektur
jengki juga berfungsi demikian.
Detail-detail bangunan yang lain pun di buat berbeda.
Peletakan kusen jendela dan pintu di buat asimetris dan tidak
sejajar menjadikan nya nilai estetika tersendiri. Banyak nya
jumlah bukaan jendela pun di buat agar bangunan tanggap
terhadap iklim tropis.
Perbedaan perbedaan bentuk arsitektur jengki dengan
arsitektur kolonial tidak hanya di buat semata untuk
menjunjukan perlawanan terhadap kolonialisme. Para arsitek
Indonesia pada saat itu juga mempertimbangkan bahkan
menekankan fungsi bangunan tersebut untuk membuat
perbedaan itu sendiri.
Perbedaan arsitektur kolonial dengan jengki dapat di lihat
secara fisik. Arsitektur kolonial pada saat itu masih banyak
mengandung unsur-unsur gaya neo klasik, gaya yang masih
mengadopsi beberapa unsur bangunan dari era klasik yunani
seperti penggunaan kolom dan berbagai ornamen. Sedangkan
pada arsitektur jengki, tidak ada penggunaan ornamen dan
bentuk bangunan lebih sederhana.
“hiasan atau ornamen dapat meningkatkan martabat
bangunan dalam proporsi nya serta ornamen juga dapat
mempertinggi kualitas bangunan, sebenarnya tanpa harus
memerlukan ornamenjuga dapat suatu bentuk bangunanyang
indah bila berkonsentrasi dan kembali kepada kemurnian serta
kesederhanaan yang dapat menghasilkan bentuk bangunan
yang cantik dan indah dalam ketelanjangan serta mwmiliki nilai
tinggi tanpa harus menggunakan hiasan” demikian pendapat
Sullivan yang di kutip oleh sumalyo (1997).
Menurut Sullivan, sebuah bangunan sederhana bisa tampak
lebih ber estetika dengan mengutamakan kemurnian dan
kesederhanaan bentuk tanpa menggunakan ornamen. Demikian
pula dengan arsitektur jengki, dengan hanya menggunakan
bentuk bentuk sederhana. Keindahan dalam kemurnian pun
dapat di eksplorasi lebih tanpa adanya ornamen. Bentuk
geometri sederhana seperti segitiga, persegi dan segi lima
sering di gunakan dalam desain bangunan jengki.selain bentuk
geometri, arsitek jengki juga menggunakan bentuk bentuk
sederhana lain nya seperti lingkaran, kurva dan garis garis
lengkung. Karena bentuk bentuk tersebut ialah bentuk dasar,
maka unsur estetika arsitektur jengki sangat mudah untuk di
padukan dengan bangunan bangunan lain.
Beberapa arsitek berpendapat bahwa bentuk dasar segi
lima pada bangunan jengki di dasarkan pada bentuk lambang
lembaga tertentu yang dapat di kait kan dengan lima sila dalam
pancasila. Bentuk tersebut kemudian di kembangkan dan
menjadi estetika tersendiri untuk arsitektur jengki. Situasi pada
saat itu, yaitu setelah era kemerdekaan di mana rasa
nasionalisme sangat kuat, menjadi dasar para arsitek
berpendapat demikian.
MAKNA
Menurut KBBI kata “makna” memiliki arti; maksud
pembicara atau penulis; pengertian yang diberikan kepada
suatu bentuk kebahasaan;. Dalam konteks arsitektural, makna
disampaikan dalam bentuk yang dapat di terima oleh panca
indra. Dengan kata lain pemaknaan dalam arsitektur dapat di
tinjau secara empirik melalui reseptor indra-indra yang di miliki
pelaku arsitektur. Setelah diterima input emprik tersebut di
cerna oleh otak dan kemudian akan menimbulkan reaksi
tanggapan. Dalam penyampaian makna, arsitektur jengki pun
juga demikian. Secara empirik atau kasat mata, arsitektur jengki
termasuk dalam gaya arsitektur kreatif dan tidak mengikuti
pakem yang sudah ada.dengan bentuk dan tekstur nya yang
tidak lazim. Serta penekanan penekanan pada fungsi dan sistem
tanggap iklim tropis. Arsitektur jengki memiliki makna yang
mendalam pada sejarah arsitektural indonesia.
Arsitektur jengki dari sejarah nya ialah bentuk dari
pengekspresian kenosanan terhadap apa yang sudah ada
dengan mengasah kreatifitas dalam meng eksplorasi bentuk dan
ruang. Tetapi hal ini masih sebagian dari keseluruhan makna
arsitektur jengki. Masih banyak lagi makna di balik karya-karya
arsitektur jengki. Makna karya tersebut juga dapat berbeda
tergantung dari kemampuan pengamat atau pelaku arsitektur
dalam memahami dan memaknai arsitektur jengki. Pemaknaan
pun dapat bertambah jika ada pemaknaan pemaknaan lain yang
lebih luas dan mendalam. Pemaknaan arsitektur jengki pun
dapat di maknai dari beberapa konteks. Yaitu konteks jaman
dahulu, kebutuhan masa kini dan konteks nasionalisme.
Jika di tinjau dari konteks zaman dahulu, arsitek tur jengki
dapat menjelaskan pola hidup dan gaya hidup masyarakat pada
masa lampau. Pada saat itu arsitektur jengki sudah menjadi
trend gaya arsitektur di masyarakat. Sifat atau budaya
masyarakat yang adaptif atau cenderung mengikuti trend yang
ada pun turut berkontribusi menambah kepopuleran arsitektur
jengki pada masa itu. Arsitektur jengki pada saat itu juga di
pandang sebagai parameter status sosial. Orang-orang pada
masa itu sangat ingin memiliki rumah dengan gaya arsitektur
jengki. Rumah dengan gaya jengki ini sangat di minati oleh
kalangan masyarakat kaya atau terpandang pada masa itu.
Seperti hanya tren-tren lain yang hanya populer pada satu
masa. Arsitektur jengki jika di tinjau dalam konteks masa kini
sangat memprihatinkan. Jumlah bangunan dan peminat nya
semakin sedikit seiring dengan muncul nya tren gaya yang lain.
Hal ini juga di sebabkan oleh budaya masyarakat indonesia yang
adaptif. Hal ini dapat berakibat fatal terhadap pelestarian nilai-
nilai sejarah di indonesia. Berganti nya model rumah-rumah
pada masyarakat masa kini dapat menghilangkan jejak-jejak
arsitektur jengki yang pernah terjadi di indonesia. Pandangan
masyarakat masa kini terhadap arsitektur jengki adalah gaya
arsitektur yang kuno dan ketinggalan jaman dapat
mempengaruhi pemilik rumah jengki untuk berpikir demikian
juga. Oleh karena itu, pemilik-pemilik properti bergaya jengki
perlu sadar bahwa ada esensi yang mendalam pada arsitektur
jengki yang perlu untuk di lestarikan. Arsitektur jengki juga
pernah menjadi tren dan menjadi tolak ukur keadaan sosial
pemilik pada masa nya. Arsitek pada masa kini pun perlu sadar
bahwa arsitektur jengki adalah warisan budaya dan arsitektur
jengki juga mudah untuk di interpretasikan sebagai ide baru
yang menyesuaikan kebutuhan masa kini.
Selaiin itu, arsitektur jengki juga dapat di tinjau dari konteks
nasionalisme. Arsitektur jengki pada masa mula nya ialah hasil
perjuangan para ahli bangunan di indonesia untuk menciptakan
gaya arsitejtural yang baru dan asli dari indonesia. Walaupun
karya para ahli tersebut belum sebanding dengan karya-karya
ahli bangunan belanda. Semangat perjuangan para ahli
bangunan indonesia tertuang di dalam karya-karya arsitektur
jengki. Dalam hal ini, makna arsitektur jengki tidak sekedar tren
yang ada di masa itu. Di dalam nya juga teruang nilai-nilai
semangat perjuangan dan nasionalisme. Arsitektur jengki dapat
di maknai sebagai perlawanan rakyat terhadap kolonialisme di
bidang arsitektur. Itu juga merupakan alasan mengapa
arsitektur jengki ini perlu di lestarikan.
Dari ketiga konteks tersebut dapat disimpulkan bahwa
arsitektur jengki adalah warisan budaya dalam sejarah
arsitektrur di indonesia. Arsitektur jengki dapat di maknai
sebagai cermin status sosial sosial pemiliknya, serta penciptaan
nya dapat dimaknai sebagai perjuangan-perjuangan
masyarakat indonesia pada masa tersebut dan rasa
nasionalisme yang ada pada rakyat masa itu. Keberadaan
arsitektur jengki di indonesia perlu kita lestarikan sebagai
warisan budaya arsitektur.
(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
Ini adalah gambar deretan Blockplan yang menampilkan deretan
rumah berarsitektur jengki
Denah Lantai 1
(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
(sumber :
https://issuu.com/ekskursinomaden/docs/site_analysis_-
_submitblog)
CIRI-CIRI ARSITEKTUR
JENGKI PADA RUMAH DI
JALAN PAKUBUWONO VI
(Sumber:http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
Berikut adalah tampak bangunan BPI ITB
Tampak Depan :
Tampak Belakang :
dd
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-C070.pdf
)
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
Bagian Kolom :
Pada bagian
kolom dapat
dipisahkan
menjadi
beberapa
bagian
karena perbedaan bentuk, namun tetap memiliki kesamaan
yaitu tampilan yang simple tanpa tambahan elemen
tertentu.
Kolom yang digunakan dilantai 1 dan 2 : kolom
yang digunakan dilantai 3 dan 4 :
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-
IJRERD-C070.pdf )
Kolom yang digunakan pada aspek eksterior
bangunan :
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-IJRERD-
C070.pdf )
Detail Dinding :
Berdasarkan informasi, dapat diketahui bahwa bentuk
dinding bangunan untuk interior maupun ekterior terlihat
berbeda. Kebanyakan dari dinding interior digunakan
material batu bata, multiplex
sebagai dinding partisi, elemen-
elemen kayu, terlebih di bagian
ruangan meeting. Sedangkan di
bagian eksterior terdapat banyak
penggunaan bata dan finishing
acian yang halus, kamprot, dan
juga batu alam. Untuk warna
yang digunakan adalah warna-warna natural seperti putih,
cream dan abu-abu.
(Sumber : http://www.ijrerd.com/papers/v3-i3/11-
IJRERD-C070.pdf )
Detail
Bangunan
Rumah
jendral
soebandi
Bingkai
Jendela :
(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dapat dilihat bahwa bangunan ini memiliki bentuk frame jendela
yang lebih menonjol pada bagian atas bingkai, sehingga bila
dilihat dari samping akan menimbulkan efek estetika yang unik
bahwa jendela tersebut berbentuk miring.
Detail tembok eskterior :
(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dalam aspek material, penggunaan material batu alam
digunakan pada bangunan ini dibagian eksterior dengan warna
coklat yang berbentuk kotak-kotak, selaras dengan bentuk
jendela dan juga pintu rumah.
Detail Rooster :
(sumber : http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-
di-surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Dapat dilihat bahwa terdapat rooster berbentuk kotak-kotak yang
ada dibawah kantilever
Detail Interior :
(sumber :
http://ayorek.org/2014/09/menelusur-
arsitektur-jengki-di-
surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
(sumber :
http://ayorek.org/2014/09/menelusur-arsitektur-jengki-di-
surabaya/#sthash.pVSvTviY.dpbs)
Apotek Sputnik
Jl. Pandanaran, Mugassari, Kec. Semarang Sel., Kota
Semarang, Jawa
Tengah 50249
Sumber :
https://dokumen.tips/documents/apotik-sputnik-semarang.html