Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI


DI BANJAR KAWAN, BONBIU, BLAHBATUH, GIANYAR

NI WAYAN MIRAYANTI

NIM: 199012270

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES WIRA MEDIKA BALI

2020
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI


DI BANJAR KAWAN, BONBIU, BLAHBATUH, GIANYAR

Mengetahui,

Clinical Instructure (CI) Mahasiswa

(Ns. Ni Nyoman Ariani., Skep., M. Kes) (Ni Wayan Mirayanti)


NIP :196805271988032006 NIM : 19.901.2253

Mengetahui,
Clinical Teacher (CT)

(Ns. Nurul Faidah, S.Kep., M. Kes)


NIK : 2.04.10.401
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

PADA LANSIA DENGAN HIPERTENSI


DI BANJAR KAWAN, BONBIU, BLAHBATUH, GIANYAR

A. Konsep Dasar Lansia


1. Pengertian Lansia
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan
manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No. 13 Tahun 1998 tentang
kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah mencapai usia lebih
dari 60 tahun (Maryam dkk, 2008). Berdasarkan defenisi secara umum, seseorang
dikatakan lanjut usia (lansia) apabila usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu
penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang ditandai
dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengan stres lingkungan. Lansia
adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk mempertahankan
keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini berkaitan dengan
penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan kepekaan secara individual
(Efendi, 2009).

2. Batasan Lansia
Menurut pendapat berbagai ahli dalam Efendi (2009) batasan-batasan umur yang
mencakup batasan umur lansia adalah sebagai berikut:
a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1 ayat 2 yang
berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 (enam puluh) tahun
ke atas”.
b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi menjadi empat
kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah 45-59 tahun, lanjut usia
(elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua
(very old) ialah di atas 90 tahun.
c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu : pertama (fase
inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah 40-55 tahun, ketiga (fase
presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase senium) ialah 65 hingga tutup usia. d.
Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia (geriatric age): > 65
tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatric age) itu sendiri dibagi menjadi tiga
batasan umur, yaitu young old (70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80
tahun) (Efendi, 2009).

3. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


Menurut Mubarak et all (2006), perubahan yang terjadi pada lansia meliputi:
a. Perubahan kondisi fisik meliputi perubahan tingkat sel sampai ke semua organ
tubuh, diantaranya sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler,
sistem pengaturan tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genitourinaria, endokrin
dan integumen.
1) Keseluruhan
Berkurangnya tinggi badan dan berat badan, bertambahnya fat-to-lean body
mass ratio dan berkuranya cairan tubuh.
b. Sistem integumen
Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, kulit kering dan kurang elastis
karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa, kulit pucat dan terdapat
bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya sel-sel
yang memproduksi pigmen, kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan
rapuh, pada wanita usia > 60 tahun rambut wajah meningkat, rambut menipis atau
botak dan warna rambut kelabu, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.
Fungsi kulit sebagai proteksi sudah menurun
1) Temperatur tubuh
Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun,
keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang
banyak diakibatkan oleh rendahnya aktifitas otot.
2) Sistem muskular
Kecepatan dan kekuatan kontraksi otot skeletal berkurang, pengecilan otot
akibat menurunnya serabut otot, pada otot polos tidak begitu terpengaruh.
3) Sistem kardiovaskuler
Katup jantung menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa
darah menurun 1% per tahun. Berkurangnya cardiac output, berkurangnya
heart rate terhadap respon stres, kehilangan elastisitas pembuluh darah, tekanan
darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer,
bertaTn.

4) Sistem perkemiha
Ginjal mengecil, nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50 %, filtrasi glomerulus menurun sampai 50%, fungsi tubulus
berkurang akibatnya kurang mampu mempekatkan urin, BJ urin menurun,
proteinuria, BUN meningkat, ambang ginjal terhadap glukosa meningkat,
kapasitas kandung kemih menurun 200 ml karena otot-otot yang melemah,
frekuensi berkemih meningkat, kandung kemih sulit dikosongkan pada pria
akibatnya retensi urin meningkat, pembesaran prostat (75% usia di atas 65
tahun), bertambahnya glomeruli yang abnormal, berkurangnya renal blood
flow, berat ginjal menurun 39-50% dan jumlah nephron menurun, kemampuan
memekatkan atau mengencerkan oleh ginjal menurun.
5) Sistem pernafasan
Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku, menurunnya
aktifitas cilia, berkurangnya elastisitas paru, alveoli ukurannya melebar dari
biasa dan jumlah berkurang, oksigen arteri menurun menjadi 75 mmHg,
berkurangnya maximal oxygen uptake, berkurangnya reflek batuk.
6) Sistem gastrointestinal
Kehilangan gigi, indera pengecap menurun, esofagus melebar, rasa lapar
menurun, asam lambung menurun, waktu pengosongan lambung menurun,
peristaltik melemah sehingga dapat mengakibatkan konstipasi, kemampuan
absorbsi menurun, produksi saliva menurun, produksi HCL dan pepsin
menurun pada lambung.
7) Rangka tubuh
Osteoartritis, hilangnya bone substance.
8) Sistem penglihatan
Korne lebih berbentuk sferis, sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya
respon terhadap sinar, lensa menjadi keruh, meningkatnya ambang pengamatan
sinar (daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat cahaya
gelap), berkurangnya atau hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapang
pandang (berkurangnya luas pandangan, berkurangnya sensitivitas terhadap
warna yaitu menurunnya daya membedakan warna hijau atau biru pada skala
dan depth perception).

9) Sistem pendengaran
Presbiakusis atau penurunan pendengaran pada lansia, membran timpani
menjadi atropi menyebabkan otoklerosis, penumpukan serumen sehingga
mengeras karena meningkatnya keratin, perubahan degeneratif osikel,
bertambahnya obstruksi tuba eustachii, berkurangnya persepsi nada tinggi.
10) Sistem syaraf
Berkurangnya berat otak sekitar 10-20%, berkurangnya sel kortikol, reaksi
menjadi lambat, kurang sensitiv terhadap sentuhan, berkurangnya aktifitas
sel T, hantaran neuron motorik melemah, kemunduran fungsi saraf otonom.
11) Sistem endokrin
Produksi hampir semua hormon menurun, berkurangnya ATCH, TSH, FSH
dan LH, menurunnya aktivitas tiroid akibatnya basal metabolisme menurun,
menurunnya produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon gonads yaitu
progesteron, estrogen dan aldosteron. Bertambahnya insulin, norefinefrin,
parathormon.
12) Sistem reproduksi
Selaput lendir vagina menurun atau kering, menciutnya ovarie dan uterus,
atropi payudara, testis masih dapat memproduksi, meskipun adanya penurunan
berangsur-angsur dan dorongan seks menetap sampai di atas usia 70 tahun,
asal kondisi kesehatan baik, penghentian produksi ovum pada saat menopause.
13) Daya pengecap dan pembauan
Menurunnya kemampuan untuk melakukan pengecapan dan pembauan,
sensitivitas terhadap empat rasa menurun yaitu gula, garam, mentega, asam,
setelah usia 50 tahun.
c. Perubahan kondisi mental
Faktor yang mempengaruhi perubahan kondisi mental yaitu:
1) Perubahan fisik, terutama organ perasa
2) Kesehatan umum
3) Tingkat pendidikan
4) Keturunan (hereditas)
5) Lingkungan
6) Gangguan syaraf panca indera
7) Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
8) Kehilangan hubungan dengan teman dan famili
9) Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri,
perubahan konsep diri.
d. Perubahan psikososial
Pada saat ini orang yang telah menjalani kehidupannya dengan bekerja mendadak
diharapkan untuk menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Bila ia cukup
beruntung dan bijaksana, mempersiapkan diri untuk pensiun dengan menciptakan
minat untuk memanfaatkan waktu, sehingga masa pensiun memberikan kesempatan
untuk menikmati sisa hidupnya. Tetapi banyak pekerja pensiun berarti terputus dari
lingkungan dan teman-teman yang akrab dan disingkirkan untuk duduk-duduk di
rumah. Perubahan psikososial yang lain adalah merasakan atau sadar akan
kematian, kesepian akibat pengasingan diri lingkungan sosial, kehilangan hubungan
dengan teman dan keluarga, hilangnya kekuatan dan ketegangan fisik, perubahan
konsep diri dan kematian pasangan hidup.
e. Perubahan kognitif
Perubahan fungsi kognitif di antaranya adalah:
1) Kemunduran umumnya terjadi pada tugas-tugas yang membutuhkan kecepatan
dan tugas tugas yang memerlukan memori jangka pendek.
2) Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran.
3) Kemampuan verbal dalam bidang vokabular (kosakata) akan menetap bila tidak
ada penyakit.
f. Perubahan spiritual
1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam kehidupannya.
2) Lanjut usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam
berfikir dan bertindak dalam sehari-hari.

4. Proses Menua
Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang
telahmelalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua
(Nugroho, 2016). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis.
Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih, penurunan
pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai fungsi organ
vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah. Meskipun secara alamiah
terjadi penurunan fungsi berbagai organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh
karenanya usia lanjut harus sehat. Sehat dalam hal ini diartikan:
1) Bebas dari penyakit fisik, mental dan sosial
2) Mampu melakukan aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat
B. Konsep Dasar Penyakit Hipertensi
1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau
tekanan diastolic sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak hanya beresiko tinggi menderita
penyakit jantung, tetapi juga menderita penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal dan
pembuluh darah dan makin tinggi tekanan darah, makin besar resikonya (NANDA,2015).
Definisi Tekanan Darah yang disebut hipertensi sulit ditentukan karena tersebar di
populasi sebagai distribusi normal dan meningkat seiring bertambahnya usia. Pada
dewasa muda TD > 140/90 mmHg bisa dianggap hipertensi dan terapi mungkin bisa
bermanfaat ( Gleadle, 2015 ).

2. Klasifikasi Hipertensi
WHO (World Health Organization) dan ISH (International Society of Hypertension)
mengelompokan hipertensi sebagai berikut:
Tabel 1.1. Klasifikasi Hipertensi Menurut WHO – ISH
Kategori Tekanan darah Tekanan darah
sistol (mmHg) diastol (mmHg)
Optimal <120 <80
Normal <130 <85
Normal-tinggi 130-139 85-89
Grade 1 (hipertensi ringan) 140-149 90-99
Sub group (perbatasan) 150-159 90-94
Grade 2 (hipertensi sedang) 160-179 100-109
Grade 3 (hipertensi berat) >180 >110
Hipertensi sistolik terisolasi ≥140 <90
Sub-group (perbatasan) 140-149 <90
Sumber: (Suparto, 2010)

3. Etiologi Hipertensi
Menurut Herbert Benson, dkk, berdasarkan etiologinya hipertensi dibedakan menjadi
dua, yaitu:
a. Hipertensi esensial (hipertensi primer atau idiopatik) adalah hipertensi yang tidak
jelas penyebabnya. Hal ini ditandai dengan terjadinya peningkatan kerja jantung
akibat penyempitan pembuluh darah tepi. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk
dalam kelompok ini. Penyebabnya adalah multifaktor, terdiri dari faktor genetik, gaya
hidup, dan lingkungan.
b. Hipertensi sekunder, merupakan hipertensi yang disebabkan oleh penyakit sistemik
yaitu, seperti renal arteri stenosis, hyperldosteronism, hyperthyroidism,
pheochromocytoma, gangguan hormon dan penyakit sistemik lainnya (Herbert
Benson, dkk, 2012).
Faktor risiko hipertensi secara umum terbagi menjadi dua, yakni faktor yang tidak
dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah
umur serta genetik, sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi adalah pola makan,
aktivitas dan sebagainya. Berikut ini akan dijelaskan terlebih dahulu faktor risiko yang
tidak dapat dimodifikasi:
1) Umur
Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli menunjukkan bahwa semakin
tua seseorang maka risiko mengalami hipertensi akan semakin tinggi. Hal tersebut
diakibatkan oleh penurunan elastisitas pembuluh darah arteri seiring dengan
pertambahan umur. Hipertensi bisa dijumpai pada semua usia, namun paling sering
ditemukan pada usia 35 tahun atau lebih dan meningkat ketika menginjak usia 50 dan
60 tahun. Selain itu pada wanita menopause akan lebih berisiko mengalami hipertensi.
Walaupun belum dapat dibuktikan dalam penelitian, namun hormon estrogen
diperkirakan dapat meningkatkan konsentrasi HDL dan menurunkan LDL yang dapat
menurunkan risiko terjadi hipertensi.
2) Genetik
Riwayat keluarga merupakan salah satu faktor resiko hipertensi yang tidak dapat
dimodifikasi dan telah terbukti dari banyak penelitian-penelitian oleh beberapa ahli.
Hipertensi cenderung merupakan penyakit keturunan. Jika salah satu dari orang tua
kita mempunyai hipertensi, sepanjang hidup kita mempunyai 25% kemungkinan
terkena pula. Jika kedua orang tua kita mempunyai hipertensi, kemungkinan terkena
penyakit tersebut 60% (Sheps, 2005). Selain itu peran faktor genetic juga dapat
dibuktikan dengan ditemukannya kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada kembar
monozigot daripada heterezigot.
Selain dua faktor risiko di atas terdapat pula beberapa faktor risiko lain yang
dapat dimodifikasi, antara lain:

1) Merokok
Sampai sekarang merokok merupakan satu-satunya faktor risiko paling penting yang
dapat menyebabkan hipertensi pada lansia. Kandungan-kandungan berbahaya yang
terdapat dalam rokok dapat menyebabkan banyak sekali kerugian pada tubuh,
diantaranya adalah; menurunkan kadar HDL, meningkatkan adhesivtas trombosit dan
kadar fibrinogen, mengganti oksigen dengan karbon dioksida pada molekul
hemoglobin, serta meningkatkan konsumsi oksigen di miokardium. Oleh karena itu
sangatlah penting untuk memberikan penjelasan kepada lansia tentang keuntungan
yang dapat diperoleh dengan berhenti merokok serta kerugian-kerugian yang akan di
dapat apabila tetap mengkonsumsi rokok tersebut.
2) Hiperlipidemia
Kadar kolesterol pada lansia akan secara alami meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Selain itu hiperlipidemia juga berkaitan dengan konsumsi lemak
jenuh yang erat kaitannya dengan peningatan berat badan dan nantinya akan menjadi
faktor risiko terjadinya hipertensi. Peningkatan LDL dan penurunan HDL adalah tanda
yang penting untuk penyakit arteri koroner atau aterosklerosis berkaitan dengan
kenaikan tekanan darah baik pada pria maupun wanita.
3) Diabetes melitus dan Obestitas
Diabetes merupakan penyakit kronik yang menjadi faktor risiko independen untuk
hipertensi. Ketika viskositas darah meningkat maka tekanan darahpun akan ikut
meningkat. Lansia yang mengalami diabetes biasanya diikuti dengan obesitas.
Penurunan berat badan pada lansia akan sangat bukan hanya untuk diabetes namun
untuk hipertensi dan hiperlipidemia yang menyertainya.
4) Gaya hidup
Aktivitas fisik yang menurun pada lansia dapat pula menjadi faktor risiko terjadinya
hipertensi. Dengan penurunan aktivitas fisik ini maka tonus otot akan mengalami
kehilangan masa otot tak berlemak yang akan digantikan dengan jaringan lemak yang
akan mengakibatkan penigkatan risiko penyakit kardiovaskular. Aktivitas fisik yang
cukup juga akan menjaga berat badan yang ideal. Selain itu stress dapat pula
berpengaruh pada hipertensi maka gaya hidup sehat sangat dianjurkan untuk
mengurangi risiko hipertensi
5) Diet tinggi garam
Berdasarkan penelitian Radecki Thomas E J.D. Orang yang memiliki kebiasaan
konsumsi tinggi garam akan memiliki risiko hipertensi sebesar 4.35. Garam yang
memiliki sifat menarik air, akan menyebabkan peningkatan volume plasma dan
tekanan darah. Lansia dan ras Afrika Amerika mungkin memiliki sensitivitas tinggi
terhadap intak sodium terhadap perkembangan hipertensi (Miller, 2015 ).

4. Manifestasi Klinis Hipertensi


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan
darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti
hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri
kepala dan kelelahan. Dalam kenyataanya ini merupakan gejala terlazim yang
mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu :
1) Mengeluh sakit kepala, pusing
2) Lemas, kelelahan
3) Sesak nafas
4) Gelisah
5) Mual
6) Muntah
7) Epistaksis
8) Kesadaran menurun
9) Kesemutan
10) Telinga berdenging
11) Penglihatan kabur

5. Patofisiologi Hipertensi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis,
yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis
ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia
simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan
merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan
dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap
rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitif terhadap
norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah
sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya,
yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin. Renin
merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II,
suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh
korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal,
menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung
mencetuskan keadaan hipertensi.
Sedangkan bagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah, yang
pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah.
Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi
volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan
curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu” disebabkan
kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer.

PATHWAY
Umur Jenis Kelamin Gaya Hidup Obesitas

Hipertensi

Kerusakan Vaskuler Pembuluh


Darah

Penyumbatan Pembuluh
Darah

Vasokontriksi

Gangguan Sirkulasi

Otak Pembuluh indera


Darah
Resistensi Pembuluh Retina
Nyeri
Darah Ke Otak Ginjal
Rangsangan Penurunan
Sistemik Intolerasi Resiko
Blood flow Spasme
Kepala
Meningkat Respon RAA
Aldesteron CurahVasokontriksi
Jantung Aktivitas Diptopia
Jatuh
menurun Arteroik
Gangguan Afterload
Pola Tidur Meningkat

Retensi Na
meningkat

Kelebihan Volume
Cairan

6. Komplikasi Hipertensi
a. Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak atau akibat embolus
yang terlepas dari pembuluh non otak yang terkena tekanan darah.
b. Dapat terjadi infrak miokardium apabila arteri koroner yang aterosklerotik tidak
menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang
menghambat aliran darah melalui pembuluh tersebut.
c. Dapat terjadi gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada
kapiler-kapiler ginjal, glomelurus. Dengan rusaknya glomelurus, darah akan
mengalir ke unit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut
menjadi hipoksik dan kematian.
d. Ensefalopati (kerusakan otak) dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna.
Tekanan yang sangat tinggi pada kelainan ini menyebabkan peningkatan tekanan
kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang interstisium di seluruh susunan saraf
pusat (Huda Nurarif & Kusuma H, 2015).

7. Cara Pencegahan Hipertensi


a. Penurunan berat badan
b. Mengurangi tingkat stress
c. Olahraga
d. Mengontrolkan diri rutin jika mempunyai riwayat hipertensi keturunan(Huda
Nurarif & Kusuma H, 2015).

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Hb/Ht: untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viscositas)
dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti hipokoagulabilitas, anemia.
2) BUN/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi/ fungsi ginjal.
3) Glukosa: hiperglikemi ( DM adalah pencetus hipertensi) dapat di akibatkan oleh
pengeluaran kadar ketokolamin.
4) Urinalisa: darah, protein, glucosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan adanya
DM.
b. CT Scan: mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
c. RKG: dapat menunjukan pola regangan dimana luas, peninggian gelombang P adalah
salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.
d. IUP: mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti batu ginjal, perbaikan ginjal.
e. Photo dada: menunjukan destruksi klasifikasi pada area katup, pembesaran
jantung(Huda Nurarif & Kusuma H, 2015).

9. Penatalaksanaan Hipertensi
Penanganan hipertensi dibagi menjadi dua yaitu:
a. Penanganan secara farmakologi
Pemberian obat deuretik, betabloker, antagonis kalsium, golongan penghambat
konversi rennin angiotensi(Huda Nurarif & Kusuma H, 2015).
b. Penanganan secara non-farmakologi
1) Pemijatan untuk pelepasan ketegangan otot, meningkatkan sirkulasi darah, dan
inisiasi respon relaksasi. Pelepasan otot tegang akan meningkatkan keseimbangan
dan koordinasisehingga tidur bisa lebih nyenyak dan sebagai pengobat nyeri secara
non-farmakologi.
2) Menurunkan berat badan apabila terjadi gizi berlebih (obesitas).
3) Meningkatkan kegiatan atau aktifitas fisik.
4) Mengurangi asupan natrium.
5) Mengurangi konsumsi kafein dan alkohol (Widyastuti, 2015).
C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Pemeriksaan Fisik
1) Aktifitas/ istirahat
Gejala : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2) Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner aterosklerosis.
Tanda : Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disrythmia, denyutan nadi jelas, bunyi
jantung murmur, distensi vena jugularis
3) Integritas Ego
Gejala : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah, faktor
stress multiple (hubungan, keuangan, pekerjaan)
Tanda : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan
yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), peningkatan pola bicara
4) Eliminasi
Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat
penyakit ginjal ), obstruksi.
5) Makanan/ cairan
Gejala : Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol),
mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun), riwayat penggunaan diuretik.
Tanda : Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.
6) Neurosensori
Gejala : Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan
penglihatan.
Tanda : Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori, perubahan
retina optik. Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman tangan.
7) Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala : Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.
8) Pernafasan
Gejala : Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk dengan/
tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda : Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat bantu
pernafasan.

9) Keamanan
Gejala : Gangguan koordinasi, cara brejalan

b) Pengkajian Fungsional
 Indeks Katz
Pada pasien lansia dengan hipertensi akan mengalami ketergantungan terhadap Activity
Daily Living karena pasien dengan hipertensi akan disetrasi berbagi macam komplikasi
yang dapat menghambat pasien dalam memenuhi ADL seperti pusing saat melakukan
aktifitas yang ringan, kelemahan, dan intoleransi aktifitas.
 Barthel Indeks
Barthel Indeks hamper sama dengan pengkajian Indeks Katz yang membedakan adalah
penilaiyan dari setiap aitem untuk mengetahui tingkat kemandirian pasien lansia dalam
pemenuhan ADL. pada pasien lansia dengan hipertensi akan mengalami ketergantungan
terhadap Activity Daily Living karena pasien dengan hipertensi akan disetrasi berbagi
macam komplikasi yang dapat menghambat pasien dalam memenuhi ADL seperti pusing
saat melakukan aktifitas yang ringan, dan intoleransi aktifitas.
 SPMSQ (Short Protable Mental Questioner)
Pengkajian fungsi mental pada pasien lansia dengan hipertensi cendrung tidak memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan intelektual lansia. Gejalanya adalah
pasien mengungkapkan kalau dirinya saat ini sedang sakit parah. Pasien juga
mengungkapkan telah menghindari larangan dari dokter. Tandanya adalah pasien terlihat
lesu dan khawatir, pasien terlihat bingung kenapa kondisinya seperti ini meski segala hal
yang telah dilarang telah dihindari.
 MMSE (Mini Status Exam)
Merupakan instrument pengkajian sederhana yang digunakan untuk mengetahui
kemampuan seseorang dalam berfir atau menguji aspek aspek kognitif apakah ada
perbaikan atau semakin memburuk.
 Pengkajian status emosional
Gejalanya emosi pasien labil. Tandanya tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat,
mudah terpancing emosi.

 GDS (Geriatric Depression Scale)


Gangguan depresi pada orang lanjut usia memiliki prevelansi yang bervariasi, baik di
rumah sakit maupun panti jompo. Depresi sendiri terkait dengan tingginya prevelansi dan
risiko gangguan disabilitas. Lebih lanjut diketahui bahawa outcome penyakit seperti
penyakit jantung, stroke, parkinson, akan menjadi lebih buruk apabila terkait dengan
adanya depresi. Depresi juga terkait dengan peningkatan penggunaan pelayanan medis..
Gejalanya konsep diri pasien tidak terpenuhi. Tandanya kaki menjadi edema, citra diri
jauh dari keinginan, terjadinya perubahan fisik, perubahan peran, dan percaya diri.
 Sekala Morse
Pasien lansia biyasanya sangat beresiko jatuh dari tempat tidur maupun ke kamar mandi.
Pada pasien hipertensi pasien akan mengalami kelemahan seperti pusing, sakit kepala
sehingga sangat beresiko untuk jatuh.
 TUG (The Time Up And Go)
Mengethui bagaimana kemampuan lansia dalam beraktifitas seperi duduk dikursi, jalan
lebih kurang 3 – 10 meter.
 Apgar Keluarga
Pasie dengan hipertensi sangat memerlukan dukungan dari kelouarga agar semangat
menjalani pengebatan medis pasien.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi,
hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
b. Nyeri akut berhubungan dengan ketunadayaan fisik atau psikososial kronis (misalnya,
kanker metastasis, cedera neurologis dan artritis)Penurunan curah jantung
berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas
ventrikuler, iskemia miokard
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.
d. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi
e. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kegelisahan dan sering bangun malam
f. Resiko jatuh berhubungan dengan proses penyakit

3. Intervensi
No Diagnosa Keperawatan Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi
Noc Nic
1 Penurunan curah NOC : NIC :
jantung berhubungan  Cardiac Pump effectiveness Cardiac Care
dengan peningkatan  Circulation Status  Evaluasi adanya nyeri dada
afterload,  Vital Sign Status ( intensitas,lokasi, durasi)
vasokonstriksi, Kriteria Hasil:  Catat adanya disritmia jantung
hipertrofi/rigiditas  Tanda Vital dalam rentang normal  Catat adanya tanda dan gejala
ventrikuler, iskemia (Tekanan darah, Nadi, respirasi) penurunan cardiac putput
miokard  Dapat mentoleransi aktivitas, tidak  Monitor status kardiovaskuler
ada kelelahan  Monitor status pernafasan yang
 Tidak ada edema paru, perifer, dan menandakan gagal jantung
tidak ada asites  Monitor abdomen sebagai indicator
 Tidak ada penurunan kesadaran penurunan perfusi
 Monitor balance cairan
 Monitor adanya perubahan tekanan
darah
 Monitor respon pasien terhadap
efek pengobatan antiaritmia
 Atur periode latihan dan istirahat
untuk menghindari kelelahan
 Monitor toleransi aktivitas pasien
 Monitor adanya dyspneu, fatigue,
tekipneu dan ortopneu
 Anjurkan untuk menurunkan stress

Vital Sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
 Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
 Monitor VS saat pasien berbaring,
duduk, atau berdiri
 Auskultasi TD pada kedua lengan
dan bandingkan
 Monitor TD, nadi, RR, sebelum,
selama, dan setelah aktivitas
 Monitor kualitas dari nadi
 Monitor adanya pulsus paradoksus
 Monitor adanya pulsus alterans
 Monitor jumlah dan irama jantung
 Monitor bunyi jantung
 Monitor frekuensi dan irama
pernapasan
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernapasan abnormal
 Monitor suhu, warna, dan
kelembaban kulit
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
 Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
2 Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan ketunadayaan  Pain Level, Pain Management
fisik atau psikososial  Pain control,  Lakukan pengkajian nyeri secara
kronis (misalnya,  Comfort level komprehensif termasuk lokasi,
kanker metastasis, Kriteria Hasil : karakteristik, durasi, frekuensi,
cedera neurologis dan Mampu mengontrol nyeri (tahu kualitas dan faktor presipitasi
artritis) penyebab nyeri, mampu  Observasi reaksi nonverbal dari
menggunakan tehnik ketidaknyamanan
nonfarmakologi untuk mengurangi  Gunakan teknik komunikasi
nyeri, mencari bantuan) terapeutik untuk mengetahui
Melaporkan bahwa nyeri berkurang pengalaman nyeri pasien
dengan menggunakan manajemen  Kaji kultur yang mempengaruhi
nyeri respon nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala,  Evaluasi pengalaman nyeri masa
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) lampau
 Menyatakan rasa nyaman setelah  Evaluasi bersama pasien dan tim
nyeri berkurang kesehatan lain tentang
 Tanda vital dalam rentang normal ketidakefektifan kontrol nyeri masa
lampau
 Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
 Kontrol lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
 Kurangi faktor presipitasi nyeri
 Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, non farmakologi dan
inter personal)
 Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
 Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
 Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri
 Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
 Tingkatkan istirahat
 Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
 Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

Analgesic Administration
 Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
 Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis, dan frekuensi
 Cek riwayat alergi
 Pilih analgesik yang diperlukan atau
kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
 Tentukan pilihan analgesik
tergantung tipe dan beratnya nyeri
 Tentukan analgesik pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
 Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara teratur
 Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama
kali
 Berikan analgesik tepat waktu
terutama saat nyeri hebat
 Evaluasi efektivitas analgesik, tanda
dan gejala (efek samping)
3 Intoleransi aktivitas NOC : NIC :
berhubungan dengan  Energy conservation Energy Management
kelemahan,  Self Care : ADLs  Observasi adanya pembatasan klien
ketidakseimbangan Kriteria Hasil : dalam melakukan aktivitas
suplai dan kebutuhan  Berpartisipasi dalam aktivitas  Dorong anal untuk mengungkapkan
oksigen. fisik tanpa disertai peningkatan perasaan terhadap keterbatasan
tekanan darah, nadi dan RR  Kaji adanya factor yang
 Mampu melakukan aktivitas menyebabkan kelelahan
sehari hari (ADLs) secara mandiri  Monitor nutrisi dan sumber energi
tangadekuat
 Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi secara
berlebihan
 Monitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas
 Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
Activity Therapy
 Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik
dalammerencanakan progran terapi
yang tepat.
 Bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang mampu dilakukan
 Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yangsesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
social
 Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang diperlukan
untuk aktivitas yang diinginkan
 Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi roda,
krek
 Bantu untu mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
 Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
 Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan dalam
beraktivitas
 Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
 Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
 Monitor respon fisik, emoi, social
dan spiritual

4 Kelebihan volume NOC : NIC :


cairan berhubungan  Elektrolit and acid base balance Fluid management
dengan gangguan  Fluide balance  Pertahankan catatan intake dan
mekanisme regulasi  Hydration output yang akurat
 Monitor vital sign
Kriteria Hasil :  Kaji lokasi dan luas edema
Terbebas dari edema, efusi  Monitor masukan makanan atau
 Bunyi nafas bersih, tidak ada cairan dan hitung intake kalori
dypsneu  Monitor status nutrisi
 Memelihara tekanan vena sentral,  Kolaborasi dokter jika ada tanda
tekanan kapiler paru, autput cairan berlebihan muncul
jantung dan vital sign dalam
batas normal Fluid Monitoring
 Tentukan riwayat jumlah dan tipe
intake cairan dan eliminasi
 Monitor berat badan
 Monitor serum dan elektrolit urine
 Monitor serum dan osmilalitas urine
 Monitor tekanan darah orthostatic
dan perubahan irama jantung
 Monitor parameter hemodinamik
infasif
 Catat secara akurat intake dan output
 Monitor adanya distensi leher
Monitor tanda dan gejala dari odema
5 Gangguan Pola Tidur NOC : NIC :
berhubungan dengan  Anxiety Reduction Sleep Enhancement
kegelisahan dan sering  Comfort level  Determinasi efek-efek medikasi
bangun malam  Pain Level terhadap pola tidur
 Rest : Extent and Pattern  Jelaskan pentingnya tidur yang
 Sleep : Extent and Pattern adekuat
Kriteria Hasil :  Ciptakan lingkungan yang nyaman
o Jumlah jam tidur dalam batas  Hindari suara keras dan penggunaan
normal 6-8jam/hari lampu malam hari
o Pola tidur, kuantitas tidur batas  Diskusikan dengan pasien dan
normal keluarga tentang teknik tidur pasien
o Mampu mengidentifikasi hal-hal Instruksikan untuk memonitor tidur
yang meningkatkan tidur pasien
6 Resiko jatuh NOC : NIC :
berhubungan dengan  Trauma Risk For Fall Prevention
proses penyakit  Injury Risk For  Monitor langkah, keseimbangan, dan
Kriteria Hasil : level kelelahan dengan
o Keseimbangan : Kemampuan ambulasi/pergerakan
untuk mempertahankan  Kaji factor resiko pasien jatuh
ekuilibrium  Bantu pasien dalam berjalan atau
o Tidak adanya resiko jatuh mobilisasi
o Pasien terbebas dari jatuh,  Ciptakan lingkungan yang aman bagi

meminimalkan terjadinya jatuh pasien


 Berikan alat bantu jika diperlukan
 Gunakan alat-alat pelindung jatuh
seperti : sepatu yang alasnya tidak
licin dan tongkat
 Hindari permukaan lantai yang tidak
rata pada saat berpindah/berjalan
 Berikan penerangan yang adekuat
terutama di malam hari untuk
meningkatkan ketajaman
pengelihatan
 Libatkan keluarga dalam membantu
pasien mobilisasi
Instruksikan untuk memonitor tidur
pasien

4. Implementasi
Tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi keperawatan sesuai dengan
tagar asuhan keperawatan dapat menyelesaikan masalah- masalah keperawatan pada
pasien lansia penyakit hipertensi

5. Evaluasi
a) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload,
vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard
1) Tidak ada penurunan kesadaran

2) Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi)


3) Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan

4) Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites

b) Nyeri akut berhubungan dengan ketunadayaan fisik atau psikososial kronis (misalnya,
kanker metastasis, cedera neurologis dan artritis)Penurunan curah jantung
berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas
ventrikuler, iskemia miokard

1) Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik


nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
2) Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri
3) Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
4) Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
5) Tanda vital dalam rentang normal
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen.

1) Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah,


nadi dan RR
2) Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri
d) Kelebihan volume cairan berhubungan dengan gangguan mekanisme regulasi

1) Terbebas dari edema, efusi

1) Bunyi nafas bersih, tidak ada dypsneu

2) Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, autput jantung dan
vital sign dalam batas normal

e) Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kegelisahan dan sering bangun malam

1) Jumlah jam tidur dalam batas normal 6-8jam/hari

2) Pola tidur, kuantitas tidur batas normal

3) Mampu mengidentifikasi hal-hal yang meningkatkan tidur


f) Resiko jatuh berhubungan dengan proses penyakit

1) Keseimbangan : Kemampuan untuk mempertahankan ekuilibrium

2) Tidak adanya resiko jatuh

3) Pasien terbebas dari jatuh, meminimalkan terjadinya jatuh

DAFTAR PUSTAKA

Delta Agustin. 2015. Pemberian Massage Punggung Terhadap Kualitas Tidur Pada
Asuhan Keperawatan Ny.U dengan Stroke Non Haemorogik di Ruang
Anggrek II RSUD dr. Muwardi Surakarta. Surakarta : Karya Tulis Stikes
Kusuma Husada.
Depkes. 2009. Pedoman Nasional Penanggulangan Hipertensi. Jakarta.
Dinas Kesehatan Sleman. 2013. Kesehatan Usia Lanjut. http://dinkes.slemankab.
go.id/kesehatan-usia-lanjut. Dikutip pada tanggal 27 April 2016.
Herbert Benson, dkk. 2012. Menurunkan Tekanan Darah. Jakarta: Gramedia.
Huda Nurarif & Kusuma H,. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2. Jogja: Medi
Action.
Kaplan N, M. 2010. Primary Hypertension: Patogenesis, Kaplan Clinical
Hypertension. 10th Edition: Lippincot Williams & Wilkins, USA.

Gleadle, J. (2015). Anamesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta: Erlangga.

Nugroho, Wahyudi. (2016). Keperawatan Gerontik. Edisi: 2. Jakarta: EGC

Herdman, Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2009-


2011.Jakarta : EGC

Hidayat. 2009. Konsep Personal Hygiene diakses dalam http://hidayat2.wordpress.com


diakses tanggal 18 Juli 2013
PPNP-SIK STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta. 2012. Buku Evaluasi Mahasiswa

KeperawatanGerontik. Yogyakarta: STIKES ‘Aisyiyah

Wilkinson, Judith M. 2007,Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan
Kriteria Hasil NOC, Jakarta: EGC