Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS PADA PASIEN


DENGAN BRONKHITIS
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. Definisi

Bronkitis berasal dari bronchus (saluran napas) dan itis artinya menunjukkan
adanya suatu peradangan.“Bisa disimpulkan bronkitis merupakan suatu gejala
penyakit pernapasan.”
Bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan adanya inflamasi pada
pembuluh bronkus, trakea dan bronkioli.Inflamasi menyebabkan bengkak pada
permukaannya, mempersempit ruang pembuluh dan menimbulkan sekresi dari cairan
inflamasi (Ngastiyah, 2010).
Bronkitis berarti infeksi bronkus.Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri,
tetapi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau
bersamaan dengan penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis,
Laringotrakeobronkitis, Bronkitis pada asma dan sebagainya (Santoso, 2009).
Bronkitis pada anak berbeda dengan bronkitis yang terdapat pada orang
dewasa. Pada anak bronkitis merupakan bagian dari berbagai penyakit saluran napas
lain, namun ia dapat juga merupakan penyakit tersendiri (Ngastisyah, 2010).
Secara harfiah bronkitis adalah suatu penyakit yang ditandai oleh adanya
inflamasi bronkus.Secara klinis para ahli mengartikan bronkitis sebagai suatu
penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang utama dan
dominan. Ini berarti bahwa bronkitis merupakan penyakit yang berdiri sendiri
melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkus ikut memegang peran (Ngastisyah,
2010).
Pada gambar terlihat bronkus normal dan bronkus pada klien dengan bronkitis.
Pada gambar sebelah kiri merupakan gambar bronkus klien yang mengalami bronkitis
yang ditandai dengan dinding bronkus terjadi peradangan dan penumpukan sekret
dibandingkan dengan gambar pada sebelah kanan yang merupakan bronkus normal.
Jadi bronkitis adalah suatu peradangan pada bronkus (saluran udara ke paru-
paru). Peradangan ini menyebabkan penghasilan mukus yang banyak dan beberapa
perubahan pada saluran pernafsan.

2. Klasifikasi
Bronkitis dapat diklasifikasikan sebagai bronkitis akut dan bronkitis kronik :
1) Bronkitis Akut
Bronkitis akut adalah radang membran bronki yang penyebab utamanya
adalah infeksi virus, namun juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri atau akibat
iritasi benda – benda asing (Soedarto, 2010).
Bronkitis akut adalah kondisi umum yang disebabkan oleh infeksi dan inhalasi
yang mengakibatkan inflamasi lapisan mukosa percabangan
trakeobronkial.Penyebab infeksi paling umum dari bronkitis akut mencakup virus
influenza, adenovirus, rinovirus, dan organisme Mycoplasma
pneumoniae.Bronkitis menyebabkan sekret mukus berlebihan, bronki
membengkak, disfungsi silia yang menghambat aliran udara ekspirasi.Gejala
bronkitis akut adalah batuk, dengan banyak mukus purulen.Mungkin ada rongki
kering (mengi) (Jan Tambayong, 2009).
Bronkitis akut pada bayi dan anak yang biasanya bersama juga dengan
trakeitis, merupakan penyakit infeksi saluran napas akut (ISNA) bawah yang
sering dijumpai.Penyebab utama penyakit ini adalah virus.Batuk merupakan
gejala yang menonjol dan karena batuk berhubungan dengan ISNA atas, berarti
bahwa peradangan tersebut meliputi laring, trakea dan bronkus. Gangguan ini
sering juga disebut laringotrakeobronkitis akut atau croup dan sering mengenai
anak sampai umur 3 tahun dengan gejala suara serak, stridor dan napas berbunyi
(Ngastisyah, 2010).
2) Bronkitis Kronik
Bronkitis kronik didefinisikan sebagai adanya mukus yang berlebihan pada
saluran pernapasan (bronchial tree) secara terus – menerus (kronik) dengan
disertai batuk.Pengertian terus – menerus (kronik) adalah terjadi sepanjang hari
selama tidak kurang dari tiga bulan dalam setahun dan telah berlangsung selama
dua tahun berturut – turut. Batasan ini tidak mencakup sekresi mukus berlebihan
yang disebabkan oleh kanker paru, tuberkulosis dan penyakit gagal jantung
kongestif.Batasan yang digunakan adalah tiga bulan dalam setahun karena yang
menyusun batasan ini adalah para ahli yang menangani pasien di daerah empat
musim.Diagnosis bronkitis kronik merupakan diagnosis klinis (Darmanto, 2009).
Bronkitis kronik di definisikan sebagai adanya batuk produktif yang
berlangsung 3 bulan dalam satu satu selama 2 tahun berturut – turut.Sekresi yang
menumpuk dalam bronkioles mengganggu pernapasan yang efektif.Merokok atau
pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama bronkitis kronik.Pasien
dengan bronkitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi saluran
pernapasan bawah.Kisaran infeksi virus, bakteri, dan mikoplasma yang luas dapat
menyebabkab episode bronkitis akut.Eksaserbasi bronkitis kronik hampir pasti
terjadi selama musim dingin dapat menyebabkan bronkospasme bagi mereka
yang rentan (Brunner &Suddarth, 2010).
Belum ada persesuaian pendapat mengenai bronkitis kronik, yang ada ialah
mengenai batuk kronik dan atau berulang yang disingkat (BKB). BKB ialah
keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai penyebab dengan gejala batuk yang
berlangsung sekurang – kurangnya 2 minggu berturut – turut dan atau berulang
paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan, dengan atau tanpa disertai gejala respiratorik
dan non – repiratorik lainnya. Dengan memakai batasan ini secara klinis jelas
bahwa bronkitis kronik pada anak adalah batuk kronik dan atau berulang (BKB)
yang telah disingkirkan penyebab – penyebab BKB itu misalnya asam atau
infeksi kronik saluran napas dan sebagainya, walaupun belum ada keseragaman
mengenai patologi dan patofisiologis bronkitis kronik, tetapi kesimpulan akibat
jangka panjang umumnya sama. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa bayi
sampai anak umur 5 tahun yang menderita bronkitis kronik akan mempunyai
resiko lebih besar untuk menderita gangguan pada saluran napas kronik setelah
umur 20 tahun, terutama jika pasien tersebut merokok akan mempercepat
menurunnya fungsi paru (Ngastisyah, 2010).
Bronkitis kronis dewasa didefinisikan sebagai batuk produktif selama 3 bulan
atau lebih dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut atau lebih dalam satu
tahun selama 2 tahun berturut-turut atau lebih, namun tidak ada standardemikian
yang dapat diterima pada anak-anak. Keberadaannya sebagai wujud penyakit
yang tersendiri telah dipertanyakan, yang menekankan pentingnya mencari
kelainan imunologis atau mukosa yang mendasarinya. Batuk produktif kronis
atau sering kumat biasanya menunjukkan penyakit paru atau sistemik yang
mendasari :penderita yang terkena harus dievaluasi untuk defisiensi imun,
kelainan anatomi, asma, penyakit lingkungan, infeksi saluran pernapasan
pernapasan atas dengan cairan postnassal, kistik fibrosis, diskinesis silia, dan
bronkiektasia. Batuk dan mengi lazim ditemukan, dan pada sebuah penelitian, 22
penderita yang dilaporkan menderita bronkitis kronis semuanya mempunyai bukti
adanya penyakit alergi. Kadang-kadang, iritasi bronkus dapat terjadi akibat
inhalasi kronis debu atau asap beracun. Merokok tembakau atau marijuana
dengan jelas berhubungan dengan informasi anamnesis. Anak belasan tahun harus
ditanyai juga tentang pemajanan terhadap asap industri atau gas mobil disekolah
atau di tempat kerja (Ngastisyah, 2010).

3. Etiologi
Bronkitis berhubungan dengan infeksi virus, bakteri sekunder, polusi udara,
alergi, aspirasi kronis, refluks gastroesophageal, dan infeksi jamur.Virus merupakan
penyebab tersering bronkitis (90%), sedangkan sisanya (10%) oleh bakteri.Virus
penyebab yang sering yaitu yaitu virus Influenza A dan B, Parainfluenza, Respiratory
Syncitial Virus (RSV), Rinovirus, adenovirus dan corona virus.
Menurut Davey, Patrick (2002) dan Soeria&Anna(2003), berikut merupakan
beberapa etiologi dari bronkitis akut dan kronis yang menyebabkan Penyakit Paru
Obstruksi Kronis (PPOK) :
1. Faktor Usia : Dan angka kejadian akan terus meningkat seiring dengan
bertambahnya usia. Usia juga dapat sebagai faktor resiko timbulnya
PPOK. Adanya peningkatan usia rata-rata penduduk dari 54 tahun pada tahun
1960-an menjadi 63 tahun pada tahun 1990-an dapat menjadi penyebab
peningkatan pasien Bronkitis Akut.
2. Faktor Rokok : Anak yang terlalu sering menghirup asap rokok dari orang dewasa
atau anak tersebut menjadi perokok pasif juga mempunyai resiko besar timbulnya
gangguan pada sistem pernapasan berupa bronkitis. Menurut buku Report of the
WHO expert Commite on smoking control, rokok adalah penyebab utama
timbulnya bronkitis kronik dan emfisema. Terdapat hubungan yang erat antara
merokok dan penurunan VEP (Volume Ekspirasi Paksa) 1 detik. Secara patologis
rokok berhubungan dengan hyperplasia kelenjar mucus bronkus dan metaphlasia
epitel skuamus saluran pernapasan. Juga dapat menyebabkan bronkokontruksi
akut. Menurut Crofton dan Douglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas
sel rambut getar, makrofag alveolar dan surfaktan.
3. Faktor lingkungan : Resiko tambahan akibat polutan udara di tempat kerja atau di
dalam kota merupakan salah satu faktor penyebab Bronkitis Keonis. Bronkitis
kronik lebih sering terjadi pada pekerja yang terpajan zat inorganic, debu organic,
atau gas yang berbahaya. Pekerja yang terpajan zat tersebut mempunyai
kemungkinan bronkitis kronik 2-4 kali daripada pekerja yang tidak terpajan.
4. Faktor Genetik : Faktor genetik mempunyai peran pada penyakit paru kronik,
terbukti pada survey terakhir didapatkan bahwa anak – anak dari orang tua
merokok mempunyai kecenderungan mengalami penyakit paru kronik lebih
sering dan lebih berat, serta insidensi penyakit paru kronik pada grup tersebut
lebih tinggi. Faktor genetik tersebut diantaranya adalah atopi yang ditandai
dengan adanya eosinifilia atau peningkatan kadar imunoglibulin E (IgE) serum,
adanya hiperresponsif bronkus, riwayat penyakit obstruksi paru pada keluarga,
dan defisiensi protein α-1 antitrypsin.
5. Faktor Sosial Ekonomi : Bronkitis kronik lebih banyak terdapat pada golongan
social ekonomi rendah, mungkin karena perbedaan pola merokok, dan lebih
banyak terpajan faktor resiko lain. Kematian pada pasien bronkitis kronik ternyata
lebih banyak pada golongan social ekonomi rendah. Mungkin disebabkan faktor
lingkungan dan ekonomi yang lebih jelek.

4. Epidemiologi
Bronkitis kronik terjadi pada 20 - 25% laki - laki 40 - 65 tahun. Dinegara
barat, kejadian bronchitis diperkirakan sebanyak 1,3% diantara populasi. Di Inggris
dan Amerika penyakit paru kronik merupakan salah satu penyebab kematian dan
ketidakmampuan pasien untuk bekerja. Kejadian setinggi itu ternyata mengalami
penurunan yang berarti dengan pengobatan memakai antibiotik. Di Indonesia belum
ada laporan tentang angka-angka yang pasti mengenai penyakit ini. Kenyataannya
penyakit ini sering ditemukan di klinik-klinik dan diderita oleh laki-laki dan wanita.
Penyakit ini dapat diderita mulai dari anak bahkan dapat merupakan kelainan
congenital. Penyakit dan gangguan saluran napas khususnya bronkitis kronik ini
masih menjadi masalah terbesar di Indonesia pada saat ini. Angka kematian akibat
penyakit saluran napas dan paru seperti infeksi saluran napas akut, tuberkulosis asma
khususnya bronkitis kronik masih menduduki peringkat tertinggi. Infeksi virus dan
bakteri merupakan penyebab yang sering terjadi.

5. Manifestasi klinis
Gejala utama bronkitis adalah timbulnya batuk produktif (berdahak) yang
mengeluarkan dahak berwarna putih kekuningan atau hijau. Batuk terus –menerus
yang disertai dahak dalam jumlah banyak, dan batuk terbanyak terjadi pada pada pagi
hari. Sebagian besar penderita bronkitis kronik tidak mengalami obstruksi aliran
pernapasan, namun 10 – 15 % perokok merupakan golongan yang mengalami
penurunan aliran napas normal disebut penderita bronkitis kronik simpleks (simplex
chronic bronkitis), sedangkan yang disertai dengan penurunan akiran napas yang
ringan sampai sedang, tetapi pada penderita yang mengalami obstruksi napas,
gejalanya telah tampak pada saat inspeksi , yaitu digunakannya otot pernapasan
tambahan (accessory respiratory muscle) (Darmanto, 2009).
Biasanya penyakit dimulai dengan tanda – tanda infeksi saluran napas (ISNA)
atas yang disebabkan oleh virus.Batuk mula – mula kering, setelah 2 atau 3 hari
batuk mulai berdahak dan menimbulkan suara lendir. Pada anak dahak yang mukoid
(kental) susah ditemukan karena sering ditelan. Mungkin dahak berwarna kuning dan
kental tetapi tidak selalu berarti telah terjadi infeksi bakteri sekunder.anak besar
sering mengeluh rasa sakit retrosternal dan pada anak kecil dapat terjadi sesak
napas.Pada beberapa hari pertama tidak terjadi kelainan pada pemeriksaan dada
tetapi kemudian dapat timbul ronki basah kasar dan suara napas kasar. Baatuk
biasanya akan menghilang setelah 2 – 3 minggu. Bila setelah 2 minggu batuk masih
tetap ada mungkin telah terjadi kolpas paru segmental atau terjadi infeksiparu
sekunder.Mengi (wheezing) mungkin saja terdapat pada pasien bronkitis.Mengi dapat
murni merupakan tanda bronkitis akut, tetapi juga kemungkinan merupakan
manifestasi asma pada anak tersebut, lebih – lebih bila keadaan ini sudah terjadi
berulang kali.Istilah bronktis asmatika sebaiknya tidak digunakan (Ngastisyah,
2005).
Menurut Ngastiyah (2005), yang perlu diperhatikan adalah akibat batuk yang lama,
yaitu:
a. Batuk siang dan malam terutama pada dini hari yang menyebabkan seseorang
kurang istirahat.
b. Daya tahan tubuh yang menurun.
c. Anoreksia sehingga berat badan sukar naik.
d. Kesenangan anak untuk bermain terganggu dan Konsentrasi belajar anak
menurun.

6. Prognosis
Bila tidak ada komplikasi prognosis bronkitis akut pada anak umumnya baik. Pada
bronkitis akut yang berulang dan bila anak merokok (aktif atau pasif) maka dapat
terjadi kecenderungan untuk menjadi bronkitis kronik kelak pada usia dewasa
(Ngastiyah, 2010).

7. Komplikasi
Ada beberapa komplikasi bronkitis yang dapat dijumpai pada pasien, antara lain :
1) Bronkitis kronik
2) Pneumonia dengan atau tanpa atelektaksis, bronkitis sering mengalami infeksi
berulang biasanya sekunder terhadap infeksi pada saluran nafas bagian atas. Hal
ini sering terjadi pada mereka drainase sputumnya kurang baik.
3) Pleuritis.
Komplikasi ini dapat timbul bersama dengan timbulnya pneumonia. Umumnya
pleuritis sicca pada daerah yang terkena.
4) Efusi pleura atau empisema
5) Abses metastasis diotak, akibat septikemi oleh kuman penyebab infeksi supuratif
pada bronkus. Sering menjadi penyebab kematian.
6) Haemaptoe terjadi karena pecahnya pembuluh darah cabang vena (arteri
pulmonalis), cabang arteri (arteri bronchialis) atau anastomisis pembuluh darah.
Komplikasi haemaptoe hebat dan tidak terkendali merupakan tindakan beah
gawat darurat.
7) Sinusitis merupakan bagian dari komplikasi bronkitis pada saluran nafas.
8) Kor pulmonal kronik pada kasus ini bila terjadi anastomisis cabang-cabang arteri
dan vena pulmonalis pada dinding bronkus akan terjadi arterio-venous shunt,
terjadi gangguan oksigenasi darah, timbul sianosis sentral, selanjutnya terjadi
hipoksemia. Pada keadaan lanjut akan terjadi hipertensi pulmonal, kor pulmoner
kronik,. Selanjutnya akan terjadi gagal jantung kanan.
9) Kegagalan pernafasan merupakan komplikasi paling akhir pada bronkitis yang
berat da luas.
10) Amiloidosis keadaan ini merupakan perubahan degeneratif, sebagai komplikasi
klasik dan jarang terjadi. Pada pasien yang mengalami komplikasi ini dapat
ditemukan pembesaran hati dan limpa serta proteinurea.

8. Patofisiologi
Bronkitis terjadi karena virus, bakteri, merokok, polusi udara yang terhirup
dalam waktu yang lama sehingga menimbulkan kondisi inflamasi pada bronkus.
Bronkitis dapat menyebabkan pembekakan pada mukosa dimana menimbulkan
inflamasi percabangan trakeabronkial yang mengakibatkan terjadinya hipersekresi
pada mukus sehingga mengakibatkan peningkatan produksi sekret yang dibarengi
dengan batuk efektif yang mengalami bersihan pada paru-paru. Sehingga
menyebabkan saluran nafas yang mengalami gangguan pembersihan pada paru-paru
yang mengakibatkan radang pada bronkial. Peradangan/inflamasi pada bronkus dapat
menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Peradangan/inflamasi bronkus dapat
mengakibatkan akumulasi mukus yang menimbulkan reaksi balik yaitu pengeluarkan
energi yang berlebihan yang mengakibatkan kelelahan yang akan mengakibatkan
intoleransi aktivitas. Kontriksi berlebihan yang disebabkan oleh radang/inflamasi
pada bronkus juga mengakibatkan kontriksi berlebihan sehingga terjadi hiperventilasi
ateletic yang dapat mengakibatkan hipoksemia yaitu kompensasi frekuensi nafas dan
mengakibatkan ketidakefektifan pola nafas karena kontriksi yang berlebihan dapat
mengakibatkan hipoksia dimana metabolisme anaerob menurun sehingga asam laktat
akan meningkat dimana akan mengakibatkan nyeri pada dada.

9. Pathway
Virus, merokok, polusi udara dan
bakteri

Terhirup dalam waktu yang lama

Inflamasi pada bronkus

Bronchitis
Edema Radang bronkial Radang/inflamasi bronkus
mukosa

Hipersekresi Radang / inflamasi Kontriksi


mukus
berlebihan
Suhu meningkat
Hiperventilasi
Produksi sputum
paru ateletic
meningkat Hipertermi

Hipoksemia
Batuk efektif

Kompensasi
Bersihan Jalan frekuensi nafas
Nafas Tidak Efektif

Pola Nafas Tidak


Efektif
Alveolus rusak Akumulasi mukus

Hipoksia Reaksi balik

Perubahan fungsi paru Pengeluaran energi


berlebihan

Kerusakan
Pertukaran Gas Kelelahan

Intoleransi Aktifitas

10. Pencegahan Bronkitis


Menurut Ngastiyah (2005), untuk mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan
agar batuk tidak bertambah parah.
1) Membatasi aktivitas anak
2) Tidak tidur di kamar yang ber AC atau gunakan baju dingin, bila ada yang
tertutup lehernya.
3) Hindari makanan yang merangsang
4) Jangan memandikan anak terlalu pagi atau terlalu sore, dan mandikan anak
dengan air hangat
5) Jaga kebersihan makanan dan biasakan cuci tangan sebelum makan
6) Menciptakan lingkungan udara yang bebas polusi
7) Jangan mengkonsumsi makanan seperti telur ayam, karena bisa menambah
produksi lendirnya. Begitu juga minuman bersoda bisa jadi pencetus karena saat
diminum maka sodanya akan naik ke hidung dan merangsang daerah saluran
pernapasan.

11. Pemeriksaan Diagnostik Bronkitis


Diagnosis dari bronkitis dapat ditegakkan bila pada anamnesa pasien
mempunyai gejala batuk yang timbul tiba-tiba dengan atau tanpa sputum dan tanpa
adanya bukti pasien menderita pneumonia, common cold, asma akut, eksaserbasi
akut bronkitis kronik dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Pada pemeriksaan
fisik pada stadium awal biasanya tidak khas. Dapat ditemukan adanya demam, gejala
rinitis sebagai manifestasi pengiring, atau faring hiperemis. Sejalan dengan
perkembangan serta progresivitas batuk, pada auskultasi dada dapat terdengar ronki,
wheezing, ekspirium diperpanjang atau tanda obstruksi lainnya. Bila lendir banyak
dan tidak terlalu lengket akan terdengar ronki basah. Dalam suatu penelitian terdapat
metode untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia pada pasien dengan batuk
disertai dengan produksi sputum yang dicurigai menderita bronkitis akut, yang antara
lain bila tidak ditemukan keadaan sebagai berikut:
1. Denyut jantung > 100 kali per menit
2. Frekuensi napas > 24 kali per menit
3. Suhu > 38°C
4. Pada pemeriksaan fisik paru tidak terdapat focal konsolidasi dan peningkatan
suara napas
5. Keadaan tersebut tidak ditemukan, kemungkinan pneumonia dapat disingkirkan
dan dapat mengurangi kebutuhan untuk foto thorax.
Tidak ada pemeriksaan penunjang yang memberikan hasil definitif untuk diagnosis
bronkitis. Pemeriksaan kultur dahak diperlukan bila etiologi bronkitis harus
ditemukan untuk kepentingan terapi. Hal ini biasanya diperlukan pada bronkitis
kronis. Pada bronkitis akut pemeriksaan ini tidak berarti banyak karena sebagian
besar penyebabnya adalah virus. Pemeriksaan radiologis biasanya normal atau
tampak corakan bronkial meningkat. Pada beberapa penderita menunjukkan
penurunan ringan uji fungsi paru. Akan tetapi uji ini tidak diperlukan pada penderita
yang sebelumnya sehat.
Menurut Soemantri dan Anna (2010),ada beberapa cara pemeriksaan diagnostic
untuk penderit bronkitis, yakni :
1) Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan foto dada sangat membantu dalam menegakkan atau menyokong
diagnosis dan menyingkirkan penyakit – penyakit lain. Bronkitis kronik bukan
suatu diagnosis radiologis.Menurut Fraser dan Pare lebih dari 50% pasien
bronkitis kronik mempunyai foto dada yang normal, sedangkan Hadiarto
mendapatkan data 26% pasien. Tetapi secara radiologis ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan :
a) Tubular shadows atau tram lines terlihat bayangan garis – garis yang parallel,
keluar dari hilus menuju apeks paru. Bayangan tersebut adalah bayangan
bronkus yang menebal. Dari 300 pasien yang diperiksa Fraser dan Pare,
ternyata 80% mempunyai kelainan tersebut.
b) Corak paru yang bertambah

Terlihat pada foto thorax diatas pada bagian bronkus terlihat berwarna lebih putih
dibandingkan foto thorax normal dikarenakan adanya penumpukan sekret dan
edema pada penderita bronkitis.
2) Pemeriksaan Faal Paru
Pemeriksaan faal paru adalah mengukur berapa banyak udara yang dapat
masuk kedalam paru – paru dan seberapa cepat udara dapat keluar dari paru –
paru.
Pada pasien bronkitis kronik terdapat VEP1 dan KV yang menurun, VR yang
bertambah dan KTP yang normal.Pada emfisema paru terdapat penurunan VEP1,
KV, dan KAEM (kecepatan arus ekspirasi maksimal), kenaikan KRF dan VR,
sedangkan KTP bertambah atau normal. Kelainan di atas lebih jelas pada stadium
lanjut, sedang pada stadium dini perubahan hanya pada saluran nafas kecil yang
dapat dibuktikan dengan pemeriksaan KAEM, closing volume, flow volume curve
dengan O2 dan gas helium N2 wash out curve.
3) Analisis Gas Darah
Pada umumnya pasien bronkitis tidak dapat mempertahankan ventilasi dengan
baik, sehingga PaCO2 naik.Saturasi hemoglobin menurun, dan timbul
sianosis.Terjadi juga vasokonstriksi pembuluh darah paru dan penambahan
eritropoeisis.
4) Pemeriksaan EKG
Kelainan EKG yang paling dini adalah rotasi clock wise jantung. Bila sudah
terdapat kor pulmonal terdapat deviasi aksis ke kanan dan P-pulmonal pada
hantaran II,III dan aVF. Voltase QRS rendah.Di V1 rasio R/S lebih dari 1 dan di
V6 rasi R/S kurang dari 1.Seiring terdapat RBBB inkomplet.

12. Penatalaksanaan Symptom Bronkitis


Pasien dengan bronkitis tidak dirawat di rumah sakit kecuali ada komplikasi
yang menurut dokter perlu perawatan di rumah sakit, oleh karenanya perawatan lebih
ditujukan sebagai petunjuk kepada orang tua. Masalah yang perlu diperhatikan
adalah akibat batuk yang lama dan risiko terjadi komplikasi.
Pada bronkitis gejala batuk sangat menonjol, dan sering terjadi siang dan
malam terutama pagi-pagi sekali yang menyebabkan pasien kurang istirahat atau
tidur; pasien akan terganggu rasa aman dan nyamannya. Akibat lain adalah terjadinya
daya tahan tubuh pasien yang menurun, anoreksia, sehingga berat badannya sukar
naik. Pada anak yang lebih besar batuk-batuk yang terus-menerus akan mengganggu
kesenangannya bermain, dan bagi anak yang sudah sekolah batuk mengganggu
konsentrasi belajar bagi dirinya sendiri, saudara, maupun teman-temannya. Untuk
mengurangi gangguan tersebut perlu diusahakan agar batuk tidak bertambah banyak
dengan memberikan obat secara benar dan membatasi aktivitas anak untuk mencegah
keluar banyak keringat, karena jika baju basah juga akan menyebabkan batuk-batuk
(karena dingin). Untuk mengurangi batuk pada malam hari berikan obat batuk yang
terakhir sebelum tidur. Anak yang batuk apalagi yang bronkitis lebih baik tidak tidur
di kamar yang ber-AC atau memakai kipas angin. Jika suhu udara dingin pakaikan
baju yang hangat, bila ada yang tertutup lehernya. Obat gosok membuat anak merasa
hangat dan dapat tidur tenang. Bila batuk tidak segera berhenti berikan minum hangat
tidak manis.
Pada anak yang sudah lebih besar jika ada dahak di dalam tenggoroknya
beritahu supaya dibuang karena adanya dahak tersebut juga merangsang batuk.
Usahakan mengurangi batuk dengan menghindari makanan yang merangsang seperti
goreng-gorengan, permen, atau minum es. Jangan memandikan anak terlalu pagi atau
terlalu sore, dan mandikan dengan air hangat (Ngastiyah, 2005).

B. KONSEP ASUHAN KEPERWATAN


1. Pengkajian
a. Riwayat Keperawatan
a) Biodata pasien (nama; tempat, tanggal lahir; usia; jenis kelamin; nama
ayah/ibu; pendidikan ayah/ibu; agama; suku bangsa; alamat; nomor register;
tanggal MRS; tanggal pengkajian; sumber informasi; diagnosa medis).
b) Keluhan utama.
Keluhan utama yang biasa klien rasakan adalah batuk dan mengeluarkan
dahak.
c) Riwayat penyakit dahulu.
Infeksi saluran pernapasan sebelumnya/batuk, pilek, takipnea, demam.
d) Riwayat tumbuh kembang.
e) Orang tua menceritakan tentang bagaimana dia bersekolah, tentang
prestasinya.
f) Lingkungan, kopping stress.
Yang klien lakukan untuk mengatasi tuntutan – tuntutan yang penuh tekanan
atau yang membangkitkan emosi.
g) Orang tua menceritakan tentang bagaimana lingkungan sekitar anak tersebut
tinggal. Dan orang tua juga menjelaskan bagaimana anak tersebut dapat
mengatasi permasalahan.
b. Pemeriksaan Fisik
a) B1 – B6
1. B1 (Breathing)
Adanya retraksi dan pernapasan cuping hidung, warna kulit dan membrane
mukosa pucat dan cyanosis, adanya suara serak, stridor dan batuk. Pada
anak yang menderita bronchitis biasanya disertai dengan demam ringan,
secara bertahap mengalami peningkatan distress pernapasan, dispnea, batuk
non produktif paroksimal, takipnea dengan pernapasan cuping hidung dan
retraksi, emfisema.
Gejala:
 Takipnea (berat saat aktivitas)
 Batuk menetap dengan sputum terutama pagi hari
 Warna sputum dapat hijau, putih, atau kuning dan dapat banyak sekali.
 Riwayat infeksi saluran nafas berulang
 Riwayat terpajan polusi (rokok dll)
Tanda:
 Lebih memilih posisi fowler/semi fowler untuk bernafas
 Penggunaan otot bantu nafas
 Cuping hidung
 Bunyi nafas krekel (kasar)
 Perkusi redup (pekak)
 Kesulitan bicara kalimat (umumnya hanya kata-kata yang terputus-
putus)
 Warna kulit pucat,normal atau sianosis
2. B2 (Blood)
Gejala :
Pembengkakan pada ekstremitas bawah
Tanda :
Peningkatan TD, Takikardi, Distensi vena jugularis, Bunyi jantung redup
(karena cairan di paru-paru), Warna kulit normal atau sianosis.
3. B3 (Brain)
Klien tampak gelisah, peka terhadap rangsang, ketakutan, nyeri dada.
4. B4 (Bladder)
Tidak ditemukan masalah, tidak ditemukan adanya kelainan.
5. B5 (Bowel)
Gejala:
 Mual/muntah
 Nafsu makan menurun
 Ketidakmampuan makan karena distres pernafasan
 Penurunan berat badan.
 Nyeri abdomen
Tanda:
 Turgor kulit buruk
 Edema
 Berkeringat
 Palpitasi abdomial dapat menunjukkan hepatomegaly
6. B6 (Bone)
Gejala:
 Keletihan, kelelahan
 Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas karena sulit bernafas
 Ketidakmampuan untuk tidur, perlu dalam posisi duduk tinggi
 Dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap aktivitas atau latihan
Tanda:
 Keletihan
 Gelisah
 Insomnia
b) Head to toe
1. Inspeksi
 Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
 Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
 Penggunaan otot bantu napas
 Hipertropi otot bantu napas
 Pelebaran sela iga
 Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher
dan edema tungkai
 Penampilan pink puffer (Gambaran yang khas pada emfisema,penderita
kurus, kulit kemerahan dan pernapasan pursed - lipsbreathing) atau blue
bloater (Gambaran khas pada bronkitis kronik,penderita gemuk sianosis,
terdapat edema tungkai dan ronki basah dibasal paru, sianosis sentral dan
perifer)
2. Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar
3. Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak diafragma
rendah, hepar terdorong ke bawah
4. Auskultasi
 Suara napas vesikuler normal, atau melemah
 terdapat ronki dan atau mengi pada waktu bernapas biasa atau
padaekspirasi paksa
 ekspirasi memanjang
 bunyi jantung terdengar jauh
c) Pemeriksaan Penunjang
 Roentgen dada abnormal (bercak konsolidasi yang tersebar pada kedua
paru).
 Sputum : Kultur untuk menentukan adanya infeksi,identifikasi pathogen.
 GDA : Memperkirakan progresi penyakit(Pa O2 menurun dan PaCO2
meningkat atau normal).

2. Diagnosa Keperawatan
1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan napas pendek, mucus,
bronkokontriksi dan iritan jalan napas
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkokontriksi,
peningkatan produksi sputum/lendir, batuk tidak efektif, kelelahan/berkurangnya
tenaga dan infeksi bronkopulmonal.
3. Gangguan pertukaran gas ketidakseimbangan ventilasi perfusi
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, hipoksemia dan pola
pernafasan tidak efektif

3. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
SIKI
Hasil SLKI
1. Pola napas tidak Pola Nafas Manajemen Jalan Nafas
Setelah dilakukan Observasi
efektif
1. Monitor posisi selang ETT
tindakan selama .....x 24
berhubungan
terutama setelah merubah
jam diharapkan
dengan napas
1. Dispnea menurun posisi
pendek, mucus, 2. Penggunaan otot 2. Monitor tekanan balok ETT
bronkokontriksi bantu nafas menurun setiap 4-8 jam
3. Orthopnea menurun 3. Monitor kulit area stoma
dan iritan jalan
4. Pernafasan pursed lip
trakheostomi
napas
menurun
Terapeutik
5. Pernafasan cuping
1. Pasang OPA untuk mencegah
hidung menurun
6. Frekuensi nafas ETT tergigit
2. Cegah ETT terlipat
membaik
7. Kedalaman nafas 3. Berikan pre oksigen 100 %
membaik selama 30 detik (3-6kali
8. Ventilasi semenit
ventilasi) sebelum dan
membaik
setelah penghisapan
9. Diameter rhorax
4. Lakukan penghisapan lendir
anterior – posterior
kurang dari 15 detik jika
membaik
diperlukan (bukan secara
10. Tekanan ekspirasi
berkala atau rutin)
membaik
5. Ganti fiksasi ETT setiap 24
11. Tekanan inspiras
jam
membaik
6. Ubah posisi ETT secara
bergantian kiri dan kanan
setiap 24 jam
7. Lakukan perawatan mulut
Edukasi
1. Jelaskan pasien dan/atau
keluarga tujuan dan prosedur
pemasangan jalan nafas
buatan
Kolaborasi
1. Kolaborasi intubasi ulang
jika terbentuk mucous plug
yang tidak dapat dilakukan
penghisapan
2. Bersihan jalan Setelah dilakukan Penghisapan Jalan Nafas
Observasi
napas tidak efektif tindakan selama ......x 24
1. Identifikasi kebutuhan
berhubungan jam diharapkan batuk
dilakukan penghisapan
dengan efektif dengan kriteria 2. Auskultasi suara nafas
bronkokontriksi, hasil sebelum dan sesusah
1. Batuk efektif
peningkatan dilakukan penghisapan
meningkat 3. Monitor status oksigenasi,
produksi
2. Produksi sputum
status neurologis dan status
sputum/lendir,
menurun
hemodinamik sebelum dan
batuk tidak efektif, 3. Whezzing menrun
4. Dispnea menurun setelah tindakan
kelelahan/berkuran
5. Orthopnea menurun 4. Monitor warna, jumlah dan
gnya tenaga dan 6. Sianosis menurun
konsistensi sekret
infeksi 7. Gelisan menurun Terapeutik
8. Frekuensi nafas
bronkopulmonal. 1. Gunakan teknik aseptik
membaik 2. Gunakan prosedural steril
9. Pola nafas membaik
dan disposibel
3. Gunakan teknik penghisapan
tertutup sesuai indikasi
4. Pilih ukuran cateter suction
yang menutupi tidak lebih
dari setengah diameter ETT,
lakukan penghisapan mulut,
nasofaring, trakhea dan/atau
ETT
5. Berikan oksigen dengan
konsentrasi tinggi (100%)
paling sedikit 30 detik
sebelum dan setelah tindakan
6. Lakukan penghisapan 15
detik
7. Lakukan penghidapan ETT
dengan tekanan rendah (80-
120mmHg)
8. Lakukan penghisapan hanya
di sepanjang ETT untuk
meminimalkan invasif
9. Hentikan penghisapan dan
berikan terapi oksigen jika
mengalami kondisi kondisi
seperti bradikardi, penrunan
saturasi
10. Lakukan kultur dan uji
sensitivitas sekret jila perlu
Edukasi
1. Anjurkan melakukan teknik
nafas dalam sebelum
melakukan penghisapan di
nasotracheal
2. Anjurkan bernafas dalam dan
pelan selama inserasi caterer
suction
3. Gangguan Setelah dilakukan asuhan Dukungan Ventilasi
pertukaran gas keperawatan Observasi
ketidakseimbangan selama........x 24 jam di 1. Identivikasi adanya kelelahan
ventilasi perfusi harapkan otot bantu nafas
1. Tingkat kesadaran 2. Identifikasi efek perubahan
meningkat posisi terhadap status
2. Bunyi nafas
pernafasan
tambahan menurun 3. Monitor status respirasi dan
3. Pusing menurun
oksigenasi
4. Gelisah menurun
5. Nafas cuping hidung Terapeutik
menurun 1. Pertahankan kepatenan jalan
6. PCO2 membaik
nafas
7. PO2 membaik
2. Berikan posisi semi fowler
8. pH arteri membaik
9. sianosis membaik atau fowler
10. Pola nafas membaik 3. Fasilitasi merubah posisi
senyaman mungkin
4. Berikan oksigen sesuai
kebutuhan
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator jika perlu

Manajemen Asam Basa


Observasi
1. Identifikasi penyebab
ketidakseimbangan asam-
basa
2. Monitor frekuensi dan
kedalaman nafas
3. Monitor status neurologis
(mis tingkat kesadaran atau
status mental )
4. Monitor irama dan frekuensi
jantung
5. Monitor perubahan pH,
PCO2 dan HCO3
Terapeutik
1. Ambil spesimen darah arteri
untuk pemeriksaan AGD
2. Berikan oksigen sesuai
indikasi
Edukasi
1. Jelaskan penyebab dan
mekanisme terjadinya
gangguan asam basa
Kolaborasi
1. Kolaborasi pemberian
ventilasi mekanik jika perlu
4. Intoleransi aktivitas Setelah dilakukan Terapi Aktivitas
1. Identifikasi tingkat
berhubungan tindalakan keperawatan
aktivitas
dengan keletihan, selama ...........x 24 jam
2. Identifikasi kemampuasn
hipoksemia dan diharapkan
berpartisipasi dalam
1. Kemudahan
pola pernafasan
aktivitas tertentu
melakukan aktivitas
tidak efektif 3. Identifikasi sumber daya
meningkat
untuk aktivitas yang
2. Kekuatan tubuh
diinginkan
bagian atas
4. Identifikasi strategi
meningkat
meningkatkan partisipasi
3. Kekuatan tubuh
dalam aktivitas
bagian bawah
5. Identifikasi makna
meningkat
aktivitas rutin (mis.
4. Keluhan lelah
bekerja) dan waktu luang
menurun
6. Monitor respons
5. Dispnea saat aktivitas
emosional, fisik, sosial,
menurun
6. Dispnea setelah dan spiritual terhadap
aktivitas menurun aktivitas
7. Frekuensi nadi 7. Fasilitasi focus pada
mebaik kemampuan, bukan deficit
8. Tekanan darah
yang dialami
membaik 8. Sepakati komitmen untuk
9. Saturasi oksigen
meningkatkan frekuensi
mambaik dan rentang aktivitas
10. Frekuensi nafas 9. Fasilitasi memilih
membaik aktivitas dan tetapkan
11. EKG iskemia
tujuan aktivitas yang
kosisnten sesuai
kemampuan fisik,
psikologis, dan sosial.
10. Koordinasikan pemilihan
aktivitas sesuai usia
11. Fasilitasi makna aktivitas
yang dipilih
12. Fasilitasi pasien dan
keluarga dalam
menyesuaikan lingkungan
untuk mengakomodasikan
aktivitas yang dipilih
13. Fasilitiasi aktivitas
pengganti saat mengalami
keterbatasan waktu,
energy, atau gerak
14. Fasilitasi aktivitas motorik
kasar untuk pasien
hiperaktif
15. Fasilitasi aktivitas motoric
untuk merelaksasikan otot
16. Libatkan keluarga dalam
aktivitas
17. Fasilitasi mengembangkan
motivasi dan penguatan
diri
18. Fasilitasi pasien dan
keluarga memantau
kemajuannya sendiri
untuk mencapai tujuan
19. Jadwalkan aktivitas dalam
rutinitas sehari-hari
20. Anjurkan melakukan
aktivitas fisik, sosial,
spiritual, dan kognitif
dalam menjaga fungsi dan
kesehatan
Manajemen Energi
1. Identifikasi gangguan
fungsi tubuh yang
mengakibatkan kelelahan
2. Monitor kelelahan fisik
dan emosional
3. Monitor pola dan jam
tidur
4. Monitor lokasi dan
ketidaknyamanan selama
melakukan aktivitas
5. Sediakan lingkungan
nyaman dan rendah
stimulus (mis. cahaya,
suara, kunjungan)
6. Lakukan latihan rentang
gerak pasif dan/atau aktif
7. Berikan aktivitas distraksi
yang menenangkan
8. Fasilitasi duduk di sisi
tempat tidur, jika tidak
daoat berpindah atau
berjalan
9. Anjurkan tirah baring
10. Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
11. Anjurkan menghubungi
perawat jika tanda dan
gejala kelelahan tidak
berkurang
12. Aajarkan strategi koping
untuk mengurangi
kelelahan
13. Delegasi dengan ahli gizi
tentang cara meningkatkan
asupan makanan

4. Implementasi
Tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan intervensi keperawatan sesuai
dengan tagar asuhan keperawatan dapat menyelesaikan masalah-masalah keperawatan
pada pasien dengan masalah system pernafasan dengan penyakit Bronkitis.

5. Evaluasi
Evaluasi tentang semua tindakan atau terapi yang telah dilakukan oleh perawat
kepada pasien, apakah pasien mengalami kemajuan tentang kesehatannya atau justru
mengalami kemunduran. Selain iu evaluasi juga diperlukan untuk mengetahui rencana
keperawatan selanjutnnya.

DAFTAR PUSTAKA
Behrman, Kliegman & Arvin. 2011. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol. 2 Ed. 15.Jakarta: EGC.
Brunner & Suddarth.2010.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 1 Ed.8.Jakarta: EGC.
Djojodibroto, Darmanto.2009.Respirologi (respiratory medicine).Jakarta: EGC.
Doenges, Marilynn E, 2012, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, ; alih bahasa, I Made Kariasa; editor,
Monica Ester, Edisi 3, Jakarta : EGC
Ngastisyah.2010.Perawatan Anak Sakit edisi Kedua.Jakarta: EGC.
Soedarto.2010.Virologi Klinik.Jakarta:Sagung Seto.
Williams, Lippincott & Wilkins.2008.Kapita selekta penyakit : dengan implikasi keperawtan
ed2.Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan
Indikator Diagnostik. Jakarta: DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Definisi dan
Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Definisi
dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP Persatuan Perawat Nasional Indonesia