Bab I
Pendahuluan
A. Deskriptif
Modul pengidentifikasian diagnosa kerusakan dan perbaikan transmisi otomatis sepeda
motor dengan berisi materi dan informasi tentang nama pengenalan komponen transmisi
otomatis sepeda motor, kontruksi transmisi otomatis dan diagnose kerusakan transmisi
otomatis sepeda motor dan cara perbaikannya secara umum. Materi diuraikan dengan
pendekatan praktis disertai ilustrai yang cukup agar siswa mudah memahami bahasan
yang disampaikan.
Diakhir modul terdapat evaluasi sebagai uji kompetensi siswa yang dilakukan secara
teoritis. Uji ini dilakukan dengan menjaawab pertanyaan yang ada pada lembar evaluasi.
Melalui evaluasi tersebut dapat diketahui penguasaan materi oleh siswa tentang trasmisi
otomatis dngan sub kompetensi sebagai berikut :
1. Menyebutkan poeran dan kegunaan CVT sepeda motor
2. Mengetahui letak dan kedudukan CVT pada sepeda motor
3. Mengidentifikasi komponen CVT sepeda motor
4. Mengetahui dan memahami prinsip dan cara kerja CVT sepeda motor
5. Meneybutkan trouble shooting kerusakan pada CVT
B. Tujuan Umum dan Khusus
Umum : sestelah mempelajari modul ini siswa dapat mengetahui dan memahami system
transmisi otomatis pada sepeda motor
Khusus :
1. Siswa dapat mengenali komponen transmisi otomatis pada sepeda motor
2. Siswa dapat mnediagnosa kerusakan transmisi otomatis sepeda motor
3. Memperbaiki kerusakan transmisi otomatis sepeda motor
C. Petunjuk Penggunaan Modul
Untuk memudahkan menggunakan modul ini diharapkan siswa membaca petunjuk
penggunaan modul ini baik secara umum maupun secara khusus.
Petunjuk akan dijelaskan di bawah ini :
1. Sebelum menggunakan modul ini pelajari prasyarat terlebih dahulu. Untuk mencapai
keberhasilan modul ini diperlukan dalam bidang yang terkait dengan materi kegiatan.
2. Untuk membantu proses belajar, siswa dapat belajar dengan guru maupun tutor.
Proses hasil belajar modul ini sepenuhnya menjadi tanggungjawab siswa yang
bersangkutan. Informasi tambahan juga dapat diperoleh dari berbagai sumber.
Namun yang masuk ke buku kerja siswa adalah tugas mandiri siswa dan siap
dilakukan evaluasi sebagai bentuk penampilan yang dikuasai.
3. Jika modul ini telah selesai dipelajari dan hasil evaluasi di atas stanndar ketuntatasan,
maka siswa dapat melanjutkan ke modul berikutnya.
D. Alokasi Waktu
Untuk mempelajari modul ini diberikan alokasi waktu 4 x 45 menit baik di kelas maupun
pribadi.
E. Peralatan Penggunaan Modul
Dalam penggunaan modul ini diperlukan peralatan seperti pena, penghapus, buku,
penggaris dan spidol warna.
BAB II
Continous Variable Transmission
A. Uraian CVT
Continous Variable Transmission adalah transmisi otomatis yang bekerja berdasarkan
gaya sentrifugal dan gaya gesek yang terjadi pada komponen CVT. Perpindahan
kecepatan secara full otomatis sesuai dengan putaran engine. Pada system CVT ini
tidak lagi menggunakan transmisi akan tetapi sebagai penggantinya digunakan dua
buah pulley yang dihubungkan menggunakan sabuk v-belt. Dengan system ini
pengendara tidak perlu lagi mengoperasikan perpindahan gigi. Hanya dengan
memutar handle gas untuk menambah dan mengurangi kecepatan sepeda motor.
Mekanisme CVT ini terletak di sebuah ruangan yang tertutup dan dilengkapi dengan
system pendinginan untuk mengurangi panas yang timbul karena gesekan. Tujuan
diletakkan di ruang tertutup agar tidak terkena kotoran sehingga CVT tetap terjaga
dari kotoran baik itu debu, minyak maupun air.
Gambar 1. Continous variable transmission
Primary pulley berhubungan langsung dengan crank shaft, sedangkan secondary
pulley berhubungan langsung dengan final gear dan langsung ke roda belakang.
Diameter kedua pulley ini dapat berubah-ubah. Perubahan primary pulley sesuai
dengan putaran engine berdasarkan gaya sentrifugal. Semakin tinggi putaran engine
maka gaya sentrifugal pada roller semakin besar dan menyebabkan diameter primary
pulley semakin mengecil. Sedangkan perubahan secondary pulley berdasarkan tarikan
primary pulley. Apabila primary pulley memiliki diameter yang kecil maka diameter
secondary pulley akan semakin besar dan sebaliknya semakin besar diameter primary
pulley maka secondary pulley akan semakin mengecil. Berubahnya diameter pada
secondary pulley berdasarkan tarikan v-belt dari primary pulley. Adapun kelebihan
dan kekurangan CVT adalah sebagai berikut :
1. Kelebihan CVT :
a. CVT memberikan perubahan torsi tanpa adanya hentakan
b. CVT memberikan kenyamanan lebih dibandingkan dengan system manual,
karena CVT tidak ada lagi proses pemindahan gigi. Kecepatannya bergantung
pada putaran engine.
c. CVT memiliki konstruksi yang lebih sederhana daripada system manual.
d. CVT memberikan perubahan kecepatan dengan lembut.
2. Kekurangan CVT :
a. Putaran awal membutuhkan putaran yang tinggi.
b. Bukaan gas cenderung lebih besar karena dibutuhkan putaran tinggi untuk
bisa bergerak dan merubah rasio.
c. Penggunaan bahan bakar yang tidak efisien.
d. Komponen engine lebih cepat aus karena karakteristik engine bekerja pada
putaran tinggi.
e. Engine brake sangat kecil sehingga penggunaan rem lebih dominan dan
kemungkina rem terbakar atau rem cepat aus.
f. Saat melewati jalan yang menurun akan sulit dikendalikan karena engine
brake kecil.
B. Komponen CVT
System CVT memiliki komponen yang jauh berbeda dengan transmisi manual.
Beberapa komponen CVT adalah sebagai berikut :
Gambar 2. Komponen CVT
Secar keseluruhan komponen CVT adalah :
1. O-ring 13. Kick starter one way clutch
2. Clutch housing 14. Claw washer
3. Clutch carrier 15. Primary fixed sheave
4. Spring 16. Washer
5. Spring seat 17. Spacer
6. Oil seal 18. Oil seal
7. O-ring 19. Primary sliding sheave
8. Secondary sliding sheave 20. Primary sheave weight/roller
9. Secondary fixed sheave 21. Slider
10. Pin guide 22. Plastic slider guide
11. V-belt 23. Gasket/ packing
12. Conical Spring Washer
System CVT terbagi atas dua bagian besar yaitu :
1. Primary pulley
Pada bagian primary pulley ini terdapat komponen lainnya yaitu :
a. Primary fixed sheave
Primary fixed sheave merupakan salah satu bagian dari pulley yang berkaitan
langsung dengan crankshaft dan cam secar fix. Pada primary fixed sheave
terdapat sirip pendingin, sehingga pada saat primary fixed sheave berputar
akan menghasilkan tiupan udara layaknya kipas angin. Hal ini bertujuan untuk
menjaga temperature ruang CVT agar tidak terlalu panas. Apabila terlalu
panas maka komponen CVT lebih cepat mengalami aus terutama komponen
yang bergesekan seperti v-belt dan pulley serta roller.
Gambar 3. Primary fixed sheave dengan sirip pendingin
b. Primary sliding sheave
Primary sliding sheave merupakan salah satu bagian dari pulley yang dapat
bergeser-geser melalui collar/ spacer. Bergeraknya primary sliding sheave ini
akan mengakibatkan v-belt terdesak ke arah luar pulley saat putaran tinggi
maupun bergeser ke arah dalam pulley.
c. Collar/ spacer
Coller/ spacer merupakan lintasan primary sliding sheave sehingga sliding
sheave dapat bergerak dengan mudah.
d. Primary sheave weight
Primary sheave weight merupakan bagian dari dari primary pulley yang
mendorong sliding sheave karena adanya gaya sentrifugal yang bekerja. Saat
weight terlempar karena adanya gaya sentrifugal diameter primary pulley
akan berubah membesar. Semakin tinggi putaran engine akan menghasilkan
gaya sentrifugal yang besar maka roller juga akan semakin menekan primary
sliding sheave.
Gambar 4. Primary sheave weight
e. Cam plate/ slider
Cam plate merupakan bagian dari primary pulley yang terpasang fix pada
poros, sehingga pada saat weight bekerja, cam plate ini menjadi tempat
tumpuan untuk mendorong sliding sheave. Permukaan cam plate/ slider ini
membentuk tirus, sehingga saat roller bergerak ke arah luar roller akan
mendesak primary slider sheave. Dengan begitu primary sliding sheave akan
mendesak v-belt ke arah luar dan meneyebabkan diameter pulley membesar.
f. Plastic slider guide
Plastic slider guide berfungsi untuk menuntun jalannya pergerakan antara cam
plate/ slider dan primary sliding sheave sehingga pergerakan sliding sheave
tidak keluar dari alurnya.
Gambar 5. Plastic slider guide
Gambar 6. Komponen primary pulley
2. Secondary Pulley
Pada secondary pulley ini terdapat beberapa komponen antara lain :
a. Secondary fixed sheave
Secondary fixed sheave ini berada pada poros primary drive gear melalui
bearing dan clutch carrier yang terpasang di fixed sheave. Secondary fixed
sheave ini tidak memiliki sirip pemdingin layaknya primary fixed sheave.
b. Secondary sliding sheave
Secondary sliding sheave adalah bagian dari secondary pulley yang berubah-
ubah posisinya untuk mengatur diameter secondary pulley.
Gambar 7. Secondary sliding sheave
c. Clutch carrier
Clutch carrier yaitu komponen secondary pulley yang memutus dan
menghubungkan putaran dari engine ke roda berdasarkan putaran engine.
Semakin tinggi putaran engine maka clutch carrier akan terhubung dengan
clutch housing.
Gambar 8. Clutch carrier
d. Clutch housing
Clutch housing merupakan komponen yang terhubung langsung dengan poros
input final gear. Jika clutch carrier mengembanh dan menekan dinding clutch
housing maka putaran dari engine akan diteruskan ke final gear dan roda.
Gambar 9. Clutch housing
e. Spring
Spring/ pegas ini berfungsi untuk menekan secondary pulley agar diameter
secondary pulley tetap berada dalam keadaan besar.
Gambar 10. Spring
f. Pin guide / torque cam
Pin guide ini berfungsi saat putaran beban. Putaran yang tinggi dan beban
berat maka pin guide ini akan mengunci posisi secondary pulley dan menjaga
diameter secondary pulley tetap dalam diameter besar.
Gambar 11. Komponen secondary pulley
3. V-Belt
v-belt merupakan penghubung dan penerus putaran dari primary pulley dan
secondary pulley. Terbuat dari bahan Kevlar yang tahan gesek dan tahan panas.V-
belt ini ini harus diperiksa secara berkala dan apabila telah aus yang ditandai
dengan retak-retak maka v-belt harus diganti dengan yang baru. Pada buku
manual v-belt diganti setiap 20.000 km.
Gambar 12. V-belt
4. Final gear / reduction gear
Final gear berfungsi untuk menaikkan torsi dan mereduksi putaran. Sehingga torsi
pada final gear akan dinaikkan kemabali setelah torsi dinaikkan oleh
perbandingan diameter pulley. Pada akhirnya dapat diperoleh torsi yang besar
untuk menggerakkan kendaraan.
Gambar 13. Final gear/ reduction gear
C. Cara Kerja Sistem CVT
1. Skema perpindahan tenaga pada system CVT
Gambar 14. Proses pemindahan tenaga pada CVT
2. Pada saat putaran idle
Putaran dari crankshaft akan diteruskan ke primary pulley dan diteruskan ke
secondary pulley melalui v-belt. Karena putaran belum mampu untuk
menegmbangkan kopling sentrifugal maka putaran hanya sampai clutch carrier.
Gambar 15. Putaran idle
3. Saat putaran rendah
Putaran dari crankshaft akan diteruskan ke primary pulley dan diteruskan ke
secondary pulley melalui v-belt. Karena putaran telah mampu mengembangkan
kopling sentrifugal maka putaran akan diteruskan dari clutch carrier ke clutch
housing sehingga putaran dapat diteruskan ke final gear dan berakhir ke roda.
Keadaan pulley saat putaran rendah adalah sebagia berikut ini :
Gambar 16. Pulley saat putaran rendah
4. Saat putaran menegah
Putaran dari crankshaft akan diteruskan ke primary pulley dan diteruskan ke
secondary pulley melalui v-belt. Karena putaran telah mampu mengembangkan
kopling sentrifugal maka putaran akan diteruskan dari clutch carrier ke clutch
housing sehingga putaran dapat diteruskan ke final gear dan berakhir ke roda.
Keadaan pulley saat putaran menegah ini sedikit berbeda dengan saat putaran
rendah. Pada saat putaran menengah keadaan pulley dapat ditunjukkan seperti
gambar berikut ini :
Gambar 17. Pulley saat putaran menegah
5. Pada saat putaran tinggi
Putaran dari crankshaft akan diteruskan ke primary pulley dan diteruskan ke
secondary pulley melalui v-belt. Karena putaran telah mampu mengembangkan
kopling sentrifugal maka putaran akan diteruskan dari clutch carrier ke clutch
housing sehingga putaran dapat diteruskan ke final gear dan berakhir ke roda.
Pada saat putaran tinggi keadaan pulley kebalikan dari putaran rendah. Keadaan
pulley saat putaran tinggi dapat ditunjukkan seperti gambar berikut ini :
Gambar 18. Pulley saat putaran tinggi
Keadaan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar saat putaran
tinggi.
6. Pada saat putaran beban
Putaran dari crankshaft akan diteruskan ke primary pulley dan diteruskan ke
secondary pulley melalui v-belt. Karena putaran telah mampu mengembangkan
kopling sentrifugal maka putaran akan diteruskan dari clutch carrier ke clutch
housing sehingga putaran dapat diteruskan ke final gear dan berakhir ke roda.
Karena pada saat putaran beban membutuhkan torsi yang besar maka keadaan
pulley seperti pada saat putaran rendah. Setinggi apapun putaran engine keadaan
pulley tetap akan seperti gambar berikut ini :
Gambar 19. Pada ssat putaran bean penuh
Hal ini terjadi karena adanya pin guide yang terdapat pada poros secondary fixed
sheave mengunci fixed sheave dan sliding sheave untuk tetap menjaga diameter
pulley dalam keadaan besar. Dengan begitu torsi yang dihasilkan akan menjadi
besar.