0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
292 tayangan18 halaman

Sejarah dan Fungsi Bendung Katulampa

Teks tersebut membahas tentang Bendung Katulampa dan bagian-bagiannya. Secara singkat, teks tersebut menjelaskan bahwa Bendung Katulampa berfungsi untuk mengatur aliran air Sungai Ciliwung untuk kepentingan irigasi. Teks tersebut juga menjelaskan berbagai bagian penting dari bendung seperti tubuh bendung, pintu air, dan kolam peredam energi.

Diunggah oleh

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
292 tayangan18 halaman

Sejarah dan Fungsi Bendung Katulampa

Teks tersebut membahas tentang Bendung Katulampa dan bagian-bagiannya. Secara singkat, teks tersebut menjelaskan bahwa Bendung Katulampa berfungsi untuk mengatur aliran air Sungai Ciliwung untuk kepentingan irigasi. Teks tersebut juga menjelaskan berbagai bagian penting dari bendung seperti tubuh bendung, pintu air, dan kolam peredam energi.

Diunggah oleh

Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan kota Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) menyebabkan peningkatan
jumlah penduduk yang pesat. Peningkatan penduduk ini mengakibatkan peningkatan
kebutuhan air. Sungai Ciliwung saat ini menjadi pemasok air bagi wilayah Jabodetabek.
Sedangkan air Ciliwung pada saat musim kemarau jumlahnya relatif tetap. Di bagian hulu,
Sungai Ciliwung banyak dimanfaatkan untuk irigasi. Hal ini tampak dengan adanya beberapa
bendung seperti Bendung Katulampa, Bendung Cibanon, dan Bendung Gadok. Dari beragam
jenis pemanfaatan air, pemanfaatan air untuk irigasi merupakan pemakaian air terbanyak.
Permasalahan terbesar Sungai Ciliwung adalah banjir ketika musim penghujan dan
debit air yang kecil saat musim kemarau. Permasalahan di musim kemarau menjadi kendala
yang cukup serius dalam pemenuhan kebutuhan air baku. Lebih dari itu, air Sungai Ciliwung
juga sebagai pemasok air di bagian hilir dalam cakupan wilayah yang cukup luas, termasuk
ibu kota negara, Jakarta. Oleh karena itu, kajian terhadap ketersediaan air dan prediksi
kebutuhan air menjadi penting untuk dilakukan.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui gambaran tentang kondisi bending
katulampa serta bagian-bagiannya dan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.

1.3 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis: memberikan informasi keilmuan dalam bidang teknik sipil
khususnya mengenai hidrologi, yaitu prediksi kebutuhan da ketersediaan air pada
DAS Ciliwung ruas hulu Bendung Katulampa.
2. Manfaat praktis: memberikan informasi mengenai alokasi air terhadap
kebutuhan air di ruas hulu Bendung Katulampa.

1.4 Tempat dan waktu pelaksanaan


Tempat dan waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu di Jl. Pemuda 2 No.32
Sindangrasa Bogor Tim. Kota Bogor, Jawa Barat pada hari Rabu, 13 November 2019
pukul 11.00 WIB.

1.5 Metoda Penyusunan Laporan


Metode yang digunakan dalam penyusunan laporan ini adalah dengan
mengumpulkan beberapa data di lapangan dengan metode observasi dan wawancara
yang dilakukan secara langsung dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pengoperasian
Bendung Katulampa, serta dengan bantuan data yang diperoleh pustaka yaitu literatur,
jurnal yang memuat informasi mengenai Bendung Katulampa. Metode penyusunan
laporan adalah metoda ilmiah karena berdasarkan fakta, bebas dari prasangka, dan
objektif.
BAB II
Landasan Teori
2.1 Pengertian Bendung
Bendung adalah suatu bangunan yang dibuat dari pasangan batu kali, bronjong atau
beton, yang terletak melintang pada sebuah sungai yang tentu saja bangunan ini dapat
digunakan pula untuk kepentingan lain selain irigasi, seperti untuk keperluan air minum,
pembangkit listrik atau untuk pengendalian banjir (Mangore et al 2013). Bendung berfungsi
untuk meninggikan taraf muka air, agar air sungai dapat disadap sesuai dengan kebutuhan
sehingga air dapat dimanfaatkan secara aman, efektif, efisien dan optimal (Putri HR et al
2017)
2.2 Klasifikasi Bendung
Menurut macamnya bendung dibagi dua, yaitu bendung tetap dan bendung sementara,
bendung tetap adalah bangunan yang sebagian besar konstruksi terdiri dari pintu yang dapat
digerakkan untuk mengatur ketinggian muka air sungai sedangkan bendung tidak tetap adalah
bangunan yang dipergunakan untuk menaikkan muka air di sungai, sampai pada ketinggian
yang diperlukan agar air dapat dialirkan ke saluran irigasi dan petak tersier (Mangore et al
2013).
Klasifikasi Bendung
1. 1. Bendung berdasarkan fungsinya dapat diklasifikasikan menjadi :
1. Bendung penyadap
2. Bendung pembagi banjir
3. Bendung penahan pasang

2. Berdasarkan tipe strukturnya bendung dibagi atas :


1. Bendung tetap,
2. Bendung gerak,
3. Bendung kombinasi,
4. Bendung kembang-kempis,
5. Bendung bottom intake.

3. Ditinjau dari segi sifatnya bendung dapat pula dibedakan :

1. Bendung permanen.
2. Bendung semi permanen.
3. Bendung darurat
2.3 Tata Letak dan Bagian-Bagian Bendung
Secara umum, bendung terdiri dari yang pertama adalah tubuh bendung. Tubuh
bendung merupakan struktur utama dari sebuah bendung dimana bagian ini berfungsi untuk
menahan aliran air dan menaikkan level muka air dari elevasi awal. Bagian ini biasanya
dibangun menggunakan bahan seperti urugan tanah, pasangan batu kali dan beton yang
dibuat dengan melintangi sungai. Karena bagian ini merupakan bagian utamanya dan
berfungsi menahan laju air maka bagian ini harus dipastikan kokoh dan kuat. Biasanya beton
bangunan pada bagian ini akan diuji kekuatannya menggunakan Alat Uji NDT yang dapat
mengukur tingkat kekerasannya. Tubuh bendungan sendiri terdiri dari ambang dasar, mercu
bendung, serta peredam energi yang tentunya semuanya harus memiliki kekuatan yang baik.
Kedua adalah Pintu Air. Pintu air merupakan struktur bendungan yang berguna untuk
mengatur aliran air baik masuk maupun keluar yang terdiri dari daun pintu, rangka pengatur
arah gerakan, angker dan hoist. Daun pintu yang berguna untuk menahan tekanan air,
sedangkan rangka pengatur gerakan berguna untuk menjaga agar daun pintu bergerak sesuai
dengan perencanaan. Bagian angker sendiri berfungsi untuk menopang rangka pengatur arah
gerakan. Hal ini berguna untuk memindahkan muatan dari pintu air ke dalam konstruksi
beton. Dan untuk bagian hoist berguna untuk mengatur daun pintu agar mudah untuk dibuka
maupun ditutup.
Ketiga adalah pintu pengambilan. Pintu pengambilan merupakan bagian bendungan
yang berfungsi untuk mengatur laju debit air serta manahan benda padat seperti sampah dan
lainnya masuk ke dalam bendungan. Keempat adalah Kolam Peredam energi. Kolam
peredam energi merupakan bagian bendungan yang dibuat untuk menahan laju air yang
cukup deras pada palung dan sodetan. Bangunan ini dibuat untuk mengurangi potensi gerusan
setempat yang dibuat dengan bentuk hidrolis dari kolam peredam energi. Bangunan ini
merupakan perpaduan antara penampang miring, penampang lengkung dan penampang lurus.
Terakhir adalah Pintu Penguras. Pintu penguras adalah bagian yang berfngsi untuk menguras
endapan yang ada pada bagian udik pintu tersebut dimana pintu ini berada di antara dinding
tegak sebelah kiri atau kanan bendung dengan pilar atau pilar dengan pilar.
Syarat-Syarat Penentuan Lokasi Bendung :
1. Pertimbangan Topografi
Lembah sungai yang sempit berbentuk huruf V dan tidak terlalu dalam adalah lokasi
yang ideal untuk lokasi bendung karena pada lokasi ini volume tubuh bendung dapat menjadi
minimal. Lokasi seperti ini mudah didapatkan pada daerah pegunungan, tetapi di daerah datar
dekat pantai tentu tidak mudah mendapatkan bentuk lembah seperti ini.
2. Kemantapan Geoteknik
Keadaan geoteknik pondasi bendung harus terdiri dari formasi batuan yang baik dan
kuat. Tanah aluvial memiliki kemantapan pondasi ditunjukkan dengan angka standar
penetration test (SPT)>40. Bila angka SPT<40 sedang batuan keras jauh dibawah
permukaan, dalam batas-batas tertentu dapat dibangun bendung dengan tiang pancang.
Namun jika tiang pancang terlalu dalam dan mahal sebaiknya dipertimbangkan pindah lokasi.
3. Pengaruh Hidrolik
Keadaan hidrolik yang paling ideal bila ditemukan lokasi bendung pada sungai yang
lurus. Pada lokasi ini arah aliran sejajar, sedikit arus turbulen, dan kecenderungan gerusan
dan endapan tebing kiri kanan relatif sedikit. Keadaan terpaksa, bila tidak ditemukan bagian
yang lurus, dapat ditolerir lokasi bendung tidak pada bagian sungai yang lurus betul.
Perhatian khusus harus diberikan pada posisi bangunan pengambilan yang harus terletak pada
tikungan luar sungai. Hal ini dimaksudkan agar pengambilan air irigasi bisa lancar masuk ke
intake dengan mencegah adanya endapan didepan pintu pengambilan. Maksud ini akan lebih
ditunjang apabila terdapat bagian sungai yang lurus pada hulu lokasi bendung. Kadang-
kadang dijumpai keadaan yang dilematis. Semua syarat-syarat pemilihan lokasi bendung
sudah terpenuhi, tetapi syarat hidrolik yang kurang menguntungkan. Keadaan demikian dapat
diatasi dengan membangun bendung pada kopur atau melakukan perbaikan hidrolik dengan
cara perbaikan sungai (river training). Alternatif kopur yang dipilih maka bagian hulu
bendung pada kopur harus lurus dan cukup panjang untuk mendapatkan keadaan hidraulis
yang cukup baik.
4. Pengaruh Regime Sungai
Regime sungai mempunyai pengaruh yang cukup dominan dalam pemilihan lokasi
bendung. Salah satu gambaran karakter rejim sungai yaitu adanya perubahan geometri sungai
baik secara horisontal ke kiri dan ke kanan atau secara vertikal akibat gerusan dan endapan
sungai. Hal yang perlu dihindari adalah lokasi dimana terjadi perubahan kemiringan sungai
yang mendadak karena ditempat ini akan terjadi endapan atau gerusan yang tinggi. Perubahan
kemiringan dari besar menjadi kecil akan mengurangi gaya seret air dan akan terjadi
pelepasan sedimen yang dibawa air dari hulu. Sebaliknya, perubahan kemiringan dari kecil ke
besar akan mengkibatkan gerusan pada hilir bendung. Meskipun keduanya dapat diatasi
dengan rekayasa hidrolik, tetapi hal yang demikian tidak disukai mengingatmemerlukan
biaya yang tinggi. Oleh karena itu, disarankan memilih lokasi yang relatif tidak ada
perubahan kemiringan sungai.
6. Ruang untuk Bangunan Pelengkap Bendung
Dijelaskan dalam butir 1 bahwa lembah sempit adalah pertimbangan topografis yang
paling ideal, tetapi juga harus dipertimbangkan tentang perlunya ruangan untuk keperluan
bangunan pelengkap bendung. Kolam pengendap dan saluran penguras biasanya memerlukan
panjang 300 – 500 m dengan lebar 40 – 60 m, diluar tubuh bendung. Lahan tambahan
diperlukan untuk satu kantor, satu gudang dan 2-3 rumah penjaga bendung. Pengalaman
selama ini sebuah rumah penjaga bendung tidak memadai, karena penghuni tunggal akan
terasa jenuh dancenderung meninggalkan lokasi.
7. Luas Layanan Irigasi
Lokasi bendung harus dipilih sedemikian sehingga luas layanan irigasi agar
pengembangan irigasi dapat layak. Lokasi bendung ke arah hulu akan mendapatkan luas
layanan lebih besar bendung cenderung dihilirnya.
8. Luas Daerah Tangkapan Air
Sungai bercabang, lokasi bendung harus dipilih sebelah hulu atau hilir cabang anak
sungai. Pemilihan sebelah hilir akan mendapatkan daerah tangkapan air yang lebih besar, dan
tentunya akan mendapatkan debit andalan lebih besar, yang muaranya akan mendapatkan
potensi irigasi lebih besar. Lokasi di hulu anak cabang sungai akan mendapatkan debit
andalan dan debit banjir relatif kecil, namun harus membuat bangunan silang sungai untuk
membawa air di hilirnya. Kajian teknis, ekonomis, dan sosial harus' dilakukan dalam memilih
lokasi bendung terkait dengan luas daerah tangkapan air.
9. Tingkat Kemudahan Pencapaian
Lokasi bendung ditetapkan secara definitif, dilanjutkan tahap perencanaan detail,
sebagai dokumen untuk pelaksanaan implementasinya. Tahap pelaksanaan inilah
dipertimbangkan tingkat kemudahan pencapaian dalam rangka mobilisasi alat dan bahan serta
demobilisasi setelah selesai pelaksanaan fisik. Memasuki tahap operasi dan pemeliharaan
bendung, tingkat kemudahan pencapaian juga amat penting. Kegiatan pemeliharaan,
rehabilitasi, dan inspeksi terhadap kerusakan bendung memerlukan jalan masuk yang
memadai untuk kelancaran pekerjaan.
10. Biaya Pembangunan
Pemilihan lokasi bendung, perlu adanya pertimbangan pemilihan beberapa alternatif,
dengan memperhatikan adanya faktor dominan. Faktor dominan ada yang saling memperkuat
dan ada yang saling melemahkan. Selanjutnya dipertimbangkan metode pelaksanaannya serta
pertimbangan lainnya antara lain dari segi O & P. Hal ini antara lain akan menentukan
besarnya biaya pembangunan. Biasanya biaya pembangunan ini adalah pertimbangan terakhir
untuk dapat memastikan lokasi bendung dan layak dilaksanakan.
11. Kesepakatan Pemangku Kepentingan
Sesuai amanat dalam UU No. 11/1974 tentang Sumberdaya Air dan Peraturan
Pemerintah No. 20/2006 tentang Irigasi serta PP No. 22/1982 tentang Tata Pengaturan air,
bahwa keputusan penting dalam pengembangan sumberdaya air atau irigasi harus didasarkan
kesepakatan pemangku kepentingan lewat konsultasi publik. Keputusan mengenai lokasi
bendungpun harus dilakukan lewat konsultasi publik, dengan menyampaikan seluas-luasnya
mengenai alternatif-alternatif lokasi, tinjauan dari aspek teknis, ekonomis, dan sosial.
Keuntungan dan kerugiannya, dampak terhadap para pemakai air di hilir bendung,
keterpaduan antar sektor dan lain sebagainya (Sukrasno S 2015)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Letak Bendung Katulampa

Gambar 1. Peta Lokasi Bendung Katulampa


Sumber : Google Earth 2019

Gambar 2. Satelit Lokasi Bendung Katulampa


Sumber : Google Earth 2019

Bendung Katulampa berlokasi di Jalan Pemuda 2 No. 32 Sindangrasa Bogor Timur,


Kota Bogor, Jawa Barat 16720, RT 02/RW 12, Sindangrasa, Kecamatan Bogor Timur, Kota
Bogor, Jawa Barat 16720. Bendung Katulampa disekitarnya terdapat rumah warga dan juga
terdapat Pos Pantau Bendung Katulampa yang digunakan sebagai tempat para Pengelola
Sumber Daya Air memantau debit air yang melewati Bendung Katulampa. Bendung
Katulampa ini dialiri 13 anak Sungai, yaitu Ciesek, Cijulang, Cibongas, Ciliwung, Cisarua,
Cibogo, Cisukabirus, Cijambe, Cisampai, Citamiang, Cimegabendung, Cimandala,
Cipassesan.
Bangunan yang melintang sepanjang 74 meter ini adalah karya Ir Hendrik van Breen,
insinyur sipil yang ahli dalam bidang pengairan dan kesehatan lingkungan. Hendrik adalah
guru besar Teknik Sipil Bidang Bangunan Air Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang
kini menjadi Institut Teknologi Bandung. Pembangunan bendungan ini menghabiskan biaya
80 ribu gulden. Bendung Katulampa diresmikan penggunaannya pada 11 Oktober 1912 oleh
Gubernur Jenderal Hindia Belanda Alexander Willem Frederik Idenburg, didampingi para
pejabat penting masa itu.
Aksesibilitas menuju Bendung Katulampa dapat diakses menggunakan kendaraan
umum, yaitu angkot dan bus. Berangkat dari Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB)
dengan naik angkot No. 9 dan berhenti di tugu kujang lalu naik bus 01-21 tujuan Ciawi dan
turun di Jalan Babadak lalu jalan kaki sejauh 1 km menuju Bendung Katulampa. Akses
menuju Bendung Katulampa juga dapat menggunakan kendaraan pribadi contohnnya motor.
3.2 Kondisi Bendung Katulampa
Bendung Katulampa masih memiliki bangunan yang kokoh karena dibangun pada
masa penjajahan Belanda yang berkualitas baja dan merupakan kayu jati. Jembatan pada
Bendung Katulampa awalnya terbuat dari kayu dan diganti dengan beton (betonisasi) dan
dinaikkan setinggi 1 m juga ditambahkan tiang penyangga jembatan. Penambahan 1 m
menggunakan bahan-bahan dari Indonesai yang mana sudah 2 kali mengalami perbaikan dan
dicor kembali. Bangunan yang dibangun pada masa Belanda masih kokoh karena tidak
menggunakan semen tetapi menggunakan bata merah dan getah yang ditumbuk hasilnya
lebih keras dan kuat. Pemeliharaan setiap 1 minggu sekali dengan memberi pelumas oli dan
solar. Pelumas oli harus yang baru untuk menjaga kondisi bangunan tetap baik.
3.3 Bagian-bagian Bendung Katulampa
 Tubuh bendung (mercu bendung)
Tubuh bending terdiri dari ambang tetap daan mercu bending sebagai terjunan air dan
pemecah arus, tubuh bending tersebut berfungsi untuk menampung sementara air
yang mengalir, terdapat pula skala yang berupa warna-warna sebagai tingkat siaga
dimana terdiri dari 4 warna, yaitu warna hijau untuk Siaga IV (80-100 cm), biru Siaga
III (100-150 CM), kuning untuk Siaga II (150-200 cm), dan merah Siaga I ( lebih dari
200 cm), debit air maksimal yang dapat terukur oleh Bendung Katulampa adalah 250
cm. Mercu atau terjunan air tidak bisa rata yang terbuat dari batu seperti bata yang
berfungsi sebagai pemecah arus.
 Bangunan Intake
Bangunan intake atau saluran irigasi (primer) yang berkapasitas 5000 l – 6000
l. Saluran irigasi ini walanya mengaliri 2442 ha sawah, namu karena banyak sawah
yang ditutup luas sawah yang kini dialiri Bendung Katulampa hanya seluas 333 ha.
Saluran irigasi ini memiliki batas maksimal muka air yang dialirkan yaitu setinggi 50
cm. Pintu saluran irigasi dibuka secara manual . Bangunan ini terdiri dari 5 daun pintu
dan pilar-pilarnya.
 Bangunan Pelimpas
Bagian pelimpas yang teapt berada di bawah bangunan utama terdapat balok
beton yang cukup banyak dan tersusun dipinggiran dan tengah, hal ini dimaksudkan
untukk arus air yang mengalir dapat dipecah oleh balok beton tersebut. Bagian
pengelak bangunan ini diperlukan untuk memungkinkan dibelokkannya air sungai ke
jaringan irigasi, dengan jalan menaikkan muka air sungai atau dengan memperlebar
pengambilan di dasar sungai. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan
antisipasi agar aliran air Sungai Ciliwung tidak menyebabkan banjir. Caranya adalah
dengan membagi aliran air melalui empat pintu air di Manggarai. Tiga pintu air
mengarah ke Kanal Banjir Barat (KBB) dan satu pintu air mengarah ke Ciliwung
Lama. Aliran pertama lalu dipecah di Masjid Istiqlal, ke barat menuju Jalan Gajah
Mada, sampai masuk ke Waduk Pluit. Sedangkan untuk aliran kedua, masuk ke
Gunung Sahari hingga Pintu Air Marina. Di lokasi tersebut, pintu air akan dibuka jika
laut sedang surut dan tetap ditutup saat saat pasang. Sejak diberlakukan sistem
tersebut, debit air di Pintu Air Manggarai tidak pernah mencapai siaga 1.
 Bangunan penguras
Penguras mercu bendung atau yang digunakan sebagai peringatan banjir.
Debit air yang termonior 600.000 liter/detik sampai batas maksimal tinggi muka air
2,5 m. Sodetan dibuat secara manual oleh PSDA UP untuk menguras tumpukan
sedimen. Sodetan dibuat dengan lebar 3 m dan kedalaman 1 m. Lumpur yang terletak
di atas bangunan penguras. Waktu pengurasan yang dilakukan tidak sembarangan
melainkan ada ketentuannya, begitu juga sistemm perawatannya. Bangunan penguras
berfungsi untuk mencegah masuknya bahan sedimen kasar ke dalam jaringan saluran
irigasi.
 Bangunan pelindung
Bangunan pelindung terdiri dari Bangunan krib, matras batu, pasangan batu
kosong, dan tau dinding pengarah, bangunan tanggul banjir, bangunan saringan
bongkah, bangunan tanggul penutup. Bangunan perlengkapan lain, yaitu pemecah
arus yang berjumlah 800 buah dan saling mengikat bersusun membentuk tangga
selama 1 tahun bertahan, namun saat banjir besar tahun 2017 pemecah arus banyak
yang terbawa oleh derasnya air dan tidak lagi berikatan. Automatic Water Level
Recorder (AWLR) sebagai telemetri untuk monitor tinggi muka air yang dihubungkan
ke Jakarta menggunakan infra merah. Sisi samping Bendung Katulampa terdapat
beberapa tangga yang digunakan untuk akses turun ke Bendung Katulampa. Tangga
yang digunakan sebagai akses turun ke bawah menuju Bendung ditutup dengan
karung saat hujan.

3.4 Fungsi Bendung Katulampa


Gambar 3. Peringatan Banjir
Sumber : Badan Penanggulangan Bencana Daerah
Fungsi Bendung Katulampa ini salah satunya sebagai peringatan banjir ke Jakarta.
Jika bendungan dibangun untuk menahan laju air dan umumnya memiliki bagian yang
disebut pintu air untuk membuang air secara bertahap atau terjadwal, maka bendung adalah
struktur bendungan berkepala rendah (lowhead dam) yang berfungsi menaikkan permukaan
air sehingga dapat digunakan untuk memantau aliran air di sungai. Peringatan banjir dapat
didasari dengan tinggi muka air. Siaga IV atau ditandai dengan warna hijau jika tinggi muka
air < 80 cm, siaga IV berarti masih dalam kondisi aman. Siaga III atau ditandai dengan warna
biru jika tinggi muka air 81 cm – 150 cm, artinya waspada. Siaga II atau ditandai dengan
warna oranye jika tinggi muka air 151 – 200 cm, artinya sudah dalam tahap kritis. Siaga I
atau ditandai dengan warna merah jika tinggi muka air ≥ 201 cm, artinya bencana atau terjadi
banjir.
Bendung Katulampa juga memonitor tinggi muka air dan berkomunikasi dengan
relawan yang ada di setiap 13 anak sungai yang dialiri Bendung Katulampa. Komunikasi
yang dilakukan bertujuan untuk mengetahuin kondisi sungai yang dilairi Bendung Katulampa
sehingga PSDA UP Katulampa mampu mengatur jumlah debit air yang dialiri. Bendung
Katulampa juga berfungsi sebagai sarana irigasi, namun karena hilangnya area persawahan
dari 2449 ha menjadi 333 ha sawah funsi irigasi ini menjadi tidak maksimal. Saluran irigasi
ini dialiri melalui Kanal Oosterslokkan. Kanal Oosterslokkan ini sebelumnya telah dibangun
pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Saluran air ini mengalir
dari sini melintasi Weltevreden (Menteng). Sebelumnya kanal ini dimaksudkan untuk lalu
lintas pelayaran ke pedalaman (ke arah Bogor).
Bendungan Katulampa memiliki banyak manfaat, selain sebagai pengendali tinggi
muka air, bendungan ini juga memiliki jalur kecil yang berada diatasnya (jembatan). Jalur
tersebut hanya bisa dilintasi oleh sepeda motor dan pejalan kaki. Setiap hari selalu sibuk oleh
lalu lalang warga yang melintas karena satu-satunya akses penting yang menghubungkan
antar wilayah. Manfaat Bendungan Katulampa juga sangat dirasakan oleh warga sekitar.
Masyarakat memanfaatkan saluran irigasi yang mengalir ke tengah pemukiman dengan
berbagai aktifitas diantaranya seperti memancing, mencuci pakaian dan perabotan bahkan
berubah menjadi arena bermain air yang seru untuk anak-anak. Masyarakat disana juga
ramai-ramai berjualan di sepanjang jalan, mereka ikut terlibat dalam mengembangkan
Bendungan Katulampa sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Bogor. Pasir hasil
pengerukan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

3.5 Kegiatan-kegiatan PSDA UP Katulampa dalam Upaya Menjaga Lingkungan


Pengerukan sedimen secara bertahap sepanjang 3 meter sampai kedalaman 1 meter.
Pengerukan ini dikarenakan banyak tumpukan tanah dan pasir, jika sedimen ini tidak
diangkut maka muka air akan meningkat karena penumpukan sedimen dan kondisi sungai
pun harus bersih. Pintu penguras pun dibuka setelah pengerukan agar air mengalir. Pintu
irigasi akan dibuka secara manual oleh PSDA untuk mengaliri air ke sawah-sawah di Jakarta,
Depok dan Bogor. Pintu irigasi yang berkapastias 5000 liter/detik – 6000 liter/detik dibuka
(secara manual) 100% saat air surut untuk mengurangi jumlah sedimen, saat musim hujan
pintu irigasi dibuka dengan batas maksimal saat muka air mencapai tinggi 50 cm sesuai
dengan Operasi dan Pemeliharaan (OP) bendung, jika dibuka terlalu besar sungai yang dialiri
oleh Bendung Katulampa seperti Kramat Jati dan Cililitan akan menerima debit air yang
terlalu tinggi. Pintu penguras dibuka dengan bantuan hidrolik saat air mengalir dan
sebelumnya dibuat sodetan dengan lebar 3 meter dan kedalaman 1 meter yang diukur dengan
menggunakan benang sedemikian rupa untuk menaikkan tinggi muka air. Pemeliharaan juga
dilakukan untuk menjaga kondisi bangunan tetap kokoh yang dilakukan setiap 1 minggu
sekali.
Musim hujan yang biasanya terjadi pada bulan Desember – Maret menyebabkan
aliran air yang deras di Bendung Katulampa saat itulah PSDA UP Katulampa memantau
tinggi muka air dengan cermat. Musim hujan adalah saat yang krusial bagi Bendung
Katulampa karena hujan merata yang terjadi di puncak dapat menyebabka banjir di Jakarta.
Pembberitahuan dini banjir dibutuhkan bagi Jakarta, perkiraan perjalanan lajur air sampai ke
Jakarta adalah 13 – 14 jam. PSDA UP Katulampa juga mengatur dibuka tutupnya pintu untuk
mengontrol aliran sungai yang mengalir menuju Jakarta. Penguras dibuka saat banjir untuk
menyelamatkan warga walaupun secara OP Bendung harusnya ditutup.
Pemeliharaan menggunakan solar dan oli. Pemungutan sampah juga dilakukan dan
dipisahkan sesuai jennisnya, yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah anorganik
diberikan kepada pengepul sedangkan sampah organik ditimbun, selain itu sampah kayu
dibakar meskipun sebenarnya tidak baik karena akan menyebabkan polusi udara.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bendung Katulampa merupakan bendung yang dibangun sejak masa penjajahan
Belanda dan berfungsi sebagai irigasi serta pusat pemantauan sistem informasi dini banjir
selain itu juga sebagai tempat rekreasi dan habtat hewan laut, sebagai pengendali banjir
dengan mengatur debit air yang mengalir. Bendung katulampa masih kokoh dan dilakukan
pemeliharaan setiap 1 minggu sekali. Petugas di Bendung Katulampa rutin membersihkan
sedimen yang tertumpuk dan memantau serta mengontrol muka air sungai.
4.2 Saran
Saran yang diberikan adalah sebagai masayrakat dan juga mahasiswa harus menjaga
kondisi lingkungan di sekitar Bendung Katulampa aagr tetap terjaga kebersihannya dan
menghimbau kepada warga sekitar untuk tidak melakukan kegiatan MCK di Bendung
katulampa.
DAFTAR PUSTAKA
Mangroe V R. 2013. Perencanaan Bendung untuk Daerah Irigasi Sulu. Manado.
Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal Sipil Statik. 1 (7): 533-541. ISSN: 2337-6732.
Soekrasno S. 2015. Sebelas Syarat Penentuan Lokasi Bendung Irigasi.. Jurnal Irigasi.
10 (1) : 56-58.
Lampiran
Gambar 4. Monitor di Posko
Gambar 5. Aliran Air Bendung Katulampa

Gambar 6 . Bangunan Intake


Gambar 7. Jembatan Bendung Katulampa
Gambar 8. AWLR

Gambar 9. Bendung Katulampa saat Musim Kemarau


Gambar 10. Batu Pemecah Arus yang Sudah Terbawa Arus

Gambar 11. Hidrolik untuk Buka Tutup Pintu Penguras


Gambar 12. Tubuh Bendung
Jobdesk
Adira : Pembahasan dan editing
Yunita : Pendahuluan dan editing
Ruth : Landasan teori

Anda mungkin juga menyukai