0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
376 tayangan8 halaman

Waduk Jatiluhur: Energi Air Indonesia

Teks tersebut merangkum informasi tentang beberapa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Indonesia seperti PLTA Jatiluhur, Maninjau, Sutami, Sigura-Gura, dan Musi. Informasi mencakup lokasi, kapasitas, dan sejarah pembangunan PLTA-PLTA tersebut.

Diunggah oleh

ulan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
376 tayangan8 halaman

Waduk Jatiluhur: Energi Air Indonesia

Teks tersebut merangkum informasi tentang beberapa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Indonesia seperti PLTA Jatiluhur, Maninjau, Sutami, Sigura-Gura, dan Musi. Informasi mencakup lokasi, kapasitas, dan sejarah pembangunan PLTA-PLTA tersebut.

Diunggah oleh

ulan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS KLIPING

AIR ADALAH SUMBER ENERGI

DISUSUN OLEH :

NAMA : MUHAMMAD KEVIN ATTAYA


KELAS : III C

SDN DEPOK 04
TUGAS KLIPING
AIR ADALAH SUMBER ENERGI

DISUSUN OLEH :

NAMA : GATHAN KHALIF IRWANTO


KELAS : III C

SDN DEPOK 04
Nama Waduk Jatiluhur
Lokasi Jatiluhur, Kabupaten
Purwakarta, Jawa Barat
Kegunaan Irigasi, PLTA
Status Digunakan
Konstruksi dimulai 1957
Mulai beroperasi 1967
Dam dan saluran air
Tipe bendungan Rockfill
Tinggi 96 meter
Panjang 1,22 Kilometer

Waduk Jatiluhur adalah sebuah waduk yang terletak di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten
Purwakarta, Provinsi Jawa Barat (±9 km dari pusat Kota Purwakarta). Waduk yang dinamakan
oleh pemerintah Waduk Ir. H. Juanda ini merupakan waduk terbesar di Indonesia. Bendungan
Waduk Jatiluhur mulai dibangun sejak tahun 1957 oleh kontraktor asal Prancis Compagnie
française d'entreprise, dengan potensi air yang tersedia sebesar 12,9 miliar m 3 / tahun dan
merupakan waduk serbaguna pertama di Indonesia. Waduk Jatiluhur dapat dikunjungi melalui
Jalan Tol Purbaleunyi (Purwakarta-Bandung-Cileunyi), keluar di Gerbang Tol Jatiluhur.
Pembangunan
Waduk Jatiluhur dibangun dengan membendung Sungai Citarum dengan luas daerah aliran sungai
seluas 4.500 km2. Bendungan ini dibangun mulai tahun 1957 dengan peletakan batu pertama oleh
Presiden RI pertama Ir Soekarno dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Agustus 1967.
Pembangunan bendungan Waduk Jatiluhur menelan dana US$ 230 juta. Nama bendungan waduk
dinamakan Ir. H. Juanda karena untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan pembiayaan
pembangunan Bendungan Jatiluhur. Ia yang merupakan Perdana Menteri RI terakhir dan
memimpin kabinet Karya (1957 – 1959) bersama-sama dengan Ir. Sedijatmo dengan gigih
memperjuangkan terwujudnya proyek Jatiluhur di Pemerintah Indonesia dan forum internasional.
Genangan yang terjadi akibat pembangunan Bendungan Waduk Jatiluhur menenggelamkan 14
Desa dengan penduduk berjumlah 5.002 orang. Penduduk tersebut kemudian sebagian
dipindahkan ke daerah sekitar bendungan dan sebagian lainnya pindah ke Kabupaten Karawang.
Sebagian besar penduduk waktu itu bekerja sebagai petani[1].
Pemanfaatan
Di dalam Waduk Jatiluhur, terpasang 6 unit turbin dengan daya terpasang 187 MW dengan
produksi tenaga listrik rata-rata 1.000 juta kwh setiap tahun, dikelola oleh Perum Jasa Tirta II.
Selain dari itu Waduk Jatiluhur memiliki fungsi penyediaan air irigasi untuk 242.000 ha sawah (dua
kali tanam setahun), air baku air minum, budi daya perikanan dan pengendali banjir yang dikelola
oleh Perum Jasa Trita II.
Selain berfungsi sebagai PLTA dengan sistem limpasan terbesar di dunia, kawasan Jatiluhur
memiliki banyak fasilitas rekreasi yang memadai, seperi hotel dan bungalow, bar dan restaurant,
lapangan tenis, bilyard, perkemahan, kolam renang dengan water slide, ruang pertemuan, sarana
rekreasi dan olahraga air, playground dan fasilitas lainnya. Sarana olahraga dan rekreasi air
misalnya mendayung, selancar angin, kapal pesiar, ski air, boating dan lainnya.
Di perairan Danau Jatiluhur ini juga terdapat budidaya ikan keramba jaring apung, yang menjadi
daya tarik tersendiri. Di waktu siang atau dalam keheningan malam kita dapat memancing penuh
ketenangan sambil menikmati ikan bakar. Dikawasan ini pula kita dapat melihat Stasiun Satelit
Bumi yang dikelola oleh PT. Indosat Tbk. (±7 km dari pusat Kota Purwakarta), sebagai alat
komunikasi internasional. Jenis layanan yang disediakan antara lain international toll free service
(ITFS), Indosat Calling Card (ICC), international direct dan lainnya.
PLTA Maninjau atau Pembangkit Listrik Tenaga Air Maninjau, merupakan
salah satu pembangkit listrik bertenaga air, yang berada di kabupaten Agam,
Sumatra Barat. PLTA ini menggunakan air Danau Maninjau sebagai sumber
penggerak turbinnya, saluran masuk In-take dam PLTA ini berada di daerah
Muko-muko.
PLTA Maninjau diresmikan penggunaannya oleh presiden Suharto pada
tanggal 28 Desember 1983,[1] dengan kapasitas terpasang 4 x 17 megawatt
(68 MW),[2] daya mampu PLTA Maninjau sebesar 68 MW, hanya saja
kadang-kadang tidak dapat dioperasikan mencapai beban penuh (full load),
hal ini disebabkan adanya regulasi yang mengatur (water management)
tingkat perubahan air permukaan Danau Maninjau.
Pada 30 September 2009, PLTA Maninjau tidak dapat melayani kebutuhan
listrik akibat rusaknya jaringan transmisi dan distribusi setelah gempa bumi
yang berkekuatan 7,6 skala Richter.[3]
PLTA Sutami atau PLTA Karangkates? Bendungan Sutami atau Bendungan
Karangkates? Sama saja. Semula, bendungan yang melayani pembangkit listrik tenaga air
(PLTA) itu memang bernama Bendungan dan PLTA Karangkates. Keduanya, yang
merupakan satu paket, diresmikan mendiang Presiden Soeharto pada 4 April 1973.
Namun oleh Soeharto pula, saat meresmikan Bendungan Gunungsari Baru, Surabaya, 16
April 1981, nama Bendungan dan PLTA Karangkates resmi diganti menjadi Bendungan
dan PLTA Sutami. Yang tak berubah adalah lokasinya: Desa Karangkates, Kecamatan
Sumperpucung, Kabupaten Malang.
Penyematan nama baru itu tak lain wujud penghormatan bagi Prof Dr Ir Sutami,
tokoh yang dikenal sebagai pakar konstruksi, menteri Pekerjaan Umum, dan penggagas
berbagai proyek konstruksi raksasa di era Soeharto. Pak profesor ini sudah mengabdi di
jagad ke-PU-an sejak era Soekarno dan berlanjut terus hingga ke era Soeharto.
Pengabdiannya tercatat berlangsung selama 12 tahun, sejak 1964 hingga 1978, dan
berganti-ganti sebanyak 6 kabinet. Meski kabinetnya berganti, nama kementerian yang
ditangani masih beraroma Pekerjaan Umum.
Dalam kesehariannya, kedua fasilitas negara ini dikelola dua perusahaan pelat
merah yang berbeda. Bendungan Sutami dikelola oleh Perum Jasa Tirta 1. PLTA Sutami
dikelola PT Pembangkitan Jawa-Bali (PJB), lewat Unit Pembangkitan Brantas. Sebagai
pengelola bendungan, Perum Jasa Tirta 1 bertanggung jawab memastikan kelangsungan
pasokan air bagi PLTA Sutami yang berada di sisi bawah bendungan, di sebelah barat
bendungan. Dari 3 pembangkit 35 MW yang ada di PLTA Sutami, hanya 2 pembangkit
yang mendayagunakan air Sungai Brantas yang ditampung di Bendungan Sutami. Satu
pembangkit lagi diguyur oleh air Sungai Lahor, yang lebih dulu ditampung di Bendungan
Lahor, yang berada di seberang jalan, yang kebetulan hanya terpisahkan oleh jalan
nasional lintas Malang-Blitar, di sisi utara Bendungan Sutami. Bendungan Lahor --dan
juga kawasan wisatanya-- dikelola Perum Jasa Tirta 1.
PT PJB Unit Pembangkitan Brantas sendiri tak cuma mengelola PLTA Sutami.
Totalnya ada 12 PLTA yang berada di bawah kendalinya, yang mendayagunakan aliran
Sungai Brantas dan Sungai Konto. Khusus PLTA Sutami, setelah sekian lama bertahan
dengan 3 pembangkit, pada 2015 ini rencananya akan ketambahan 2 pembangkit lagi: 2 x
50 MW. Satu PLTA lain di Kabupaten Blitar yang juga di bawah kendalinya, PLTA Lodoyo
(1x4,5MW), juga akan ditambahi satu pembangkit 1x9 MW. Di Blitar pula, akan dibangun
satu PLTA baru: PLTA Kesamben, 2x18 MW.
Waduk /PLTA Sigura-Gura
Pintu Pohan Meranti,
Lokasi
Sumatra Utara
Jenis tubuh air Beton Gravity
Aliran masuk
Sungai Asahan
utama
Aliran keluar
Air Terjun Sigura-Gura
utama
Terletak di negara Indonesia
Panjang maks. 173 m
Lebar maksimal 9,5 m
Kedalaman maks. 46 m
Volume air 6.140.000 m3
Kepulauan Sumatra

Waduk Sigura-Gura atau disebut Bendungan Sigura-Gura adalah bendungan yang


terletak 23,3 km dari hulu Sungai Asahan (Danau Toba), atau 8,8 km dari Bendungan
Siruar atau 1 km di hilir Air Terjun Sigura-Gura. Bendungan ini merupakan bendungan
terbesar di Indonesia setelah Bendungan Sutami. Bendungan ini berfungsi untuk
menjamin ketersediaan volume air dan besarnya energi air yang diperlukan bagi
pembangkit tenaga listrik di PLTA Sigura-Gura.

Sejarah
Mulai dibangun pada bulan Mei 1978 dan selesai bulan Desember 1981, Bendungan
Sigura-Gura berjenis struktur Beton Gravity dengan tinggi bendungan 46 meter dari dasar
Sungai Asahan, dengan volume 6.140.000 m 3. Bendungan ini digunakan sebagai
pembangkit tenaga listrik untuk Pabrik Aluminium (INALUM).

Rumah pengendali
Semua pengendalian seperti membuka dan menutup pintu air, menjalankan atau
menghentikan putaran turbin, menurunkan atau menaikkan pembangkit tenaga listrik oleh
generator dan lain-lainnya diatur melalui rumah pengendali.
Listrik yang dibangkitkan di Stasiun Pembangkit Listrik Siguragura selanjutnya dialirkan ke
Kuala Tanjung. Sebelum dialirkan ke Kuala Tanjung, arus listrik diatur di Rumah
Pengendali. Pengendalian ini dilaksanakan dengan bantuan komputer di rumah
pengendali PLTA Sigura-Gura, dengan sistem kendali jarak jaur. Rumah pengendali
dipersiapkan untuk mengendalikan pengoperasian semua PLTA yang akan dibangun di
sepanjang Sungai Asahan.
Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-Gura
Stasiun Pembangkit Listrik Sigura-Gura dibangun 200 m dibawah permukaan tanah,
terdiri dari dua ruangan besar, yaitu ruang pembangkit listrik dan ruang transformator
utama. Dengan 4 perangkat pembangkit tenaga listrik (turbin), Sigura-Gura dapat
menyediakan tenaga listrik sebesar 206 MW
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR MUSI
Pembangkit Listrik Tenaga Air Musi merupakan pembangkit listrik dengan tipe Run of River,
dengan gedung pembangkit berada 400 m di bawah tanah yang memanfaatkan aliran Sungai
Musi. Daya terpasang sebesar 3 x 70 MW (210 MW), akan mampu membangkitkan energi listrik
sebesar 1,140 GWh/tahun dan merupakan PLTA besar pertama yang dibangun di provinsi
Bengkulu.
Daya listrik yang dibangkitkan PLTA Musi memenuhi dan mensuplai kebutuhan listrik hampir
seluruh wilayah Sumatra melalui interkoneksi jaringan transmisi 150 kv/275 kv untuk wilayah
bagian selatan maupun utara.

Sejarah
Rekomendasi pembangunan berdasarkan hasil studi pendahuluan tentang pembangunan sumber-
sumber tenaga air suatu daerah pada tahun 1965, sehingga pekerjaan lebih lanjut terhadap
rencana pembangunannya dan studi hidro potensial pada tahun 1981-1983. Implementasi
pelaksanaan pembangunan dikoordinasi oleh PT PLN (Persero) Pikitring Sumbangsel, Babel,
Sumbar dan Riau dan perkembangannya diawali langsung oleh PT PLN (Persero) proyek PLTA
Musi yang berkedudukan di Desa Ujan Mas Atas, Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang
Provinsi Bengkulu.
Data operasi
Elevasi Air
Elevasi air standar di waduk pengambilan: FSL EL.579,1 m - MOL EL,578,0m
Buangan air di tailrace outlet: 62,0 m3/detik
Tinggi terjun kotor: 409,3 m
Tinggi terjun bersih: 396,8 m
Debit
Debit rata-rata untuk pembangkit: 35,7m3/detik
Debit pasti 95%: 15,5 m3/detik,untuk oprasi 3 unit
Debit tetap yang di lepas ke hilir dam musi: 1,1 m3/detik
Pembangkit listrik dan energi yang dihasilkan
Kapasitas terpasang: 210MW (3X70), Sebagai pembangkit beban puncak
Energi tahunan, primer: 460 GWh,sekunder: 680 Gwh
Total: 1.140 GWh
Lahan
Luas lahan yang digunakan ± 219.3 Ha, digunakan untuk bangunan terbuka, yaitu:

Jalan hantar permanen ± 60 Ha.


Intake Dam area dan daerah genangan 115 Ha.
Switchyard& Gedung Kontrol Utama ± 1.2 Ha.
Surge Tank (Tangki Pendataran) 0.1 Ha.
Regulating DAM area dan daerah genangan 43 Ha.
Waduk Gajah Mungkur
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Untuk kecamatan di kota Semarang, lihat Gajahmungkur, Semarang.
Nama Waduk Wonogiri
Kabupaten Wonogiri, Jawa
Lokasi
Tengah
Kegunaan Irigasi, Air Baku dan PLTA
Status Digunakan
Konstruksi dimulai 1976
Mulai beroperasi 1982
Biaya konstruksi Rp 41,053 Milyar
Dam dan saluran air
Tipe bendungan Rockfill Earth Dam
Tinggi 40 meter
Panjang 830 meter
Waduk Gajah Mungkur Wadhuk Gajah Mungkur) adalah sebuah waduk yang terletak 6 km di
selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Perairan danau buatan ini dibuat dengan
membendung sungai terpanjang di pulau Jawa yaitu sungai Bengawan Solo. Dinamakan Gajah
Mungkur, karena lokasinya yang tak jauh dari Pegunungan Gajah Mungkur disebelah barat waduk.
Luas Daerah Tangkapan Air (DTA) waduk ini mencapai 1.350 Km dengan pintu masuk melalui
beberapa sungai besar yaitu Bengawan Solo, Sungai Kaduang, Sungai Tirtomoyo, Sungai
Parangjoho, Sungai Temon, dan Sungai Posong. Luas genangan maksimum Waduk Gajah
Mungkur adalah 8.800 Hektar mencangkup 7 kecamatan yaitu Kecamatan Wonogiri, Ngadirojo,
Nguntoronadi, Baturetno, Giriwoyo, Eromoko, Kecamatan Wuryantoro. Sedangkan bangunan
bendungan berada di Desa Pokohkidul, Kecamatan Wonogiri.

Anda mungkin juga menyukai