Anda di halaman 1dari 25

PENDAHULUAN

Company Profile
PT Ungaran Sari Garment berdiri sejak tahun 1978, lokasi pabrik pertama
terletak di ungaran. Pabrik pertama diisi dengan 200 karyawan dan pada di tahun
pertama perusahaan ini sudah bisa melakukan export ke luar negeri. Pada dasarnya
perusahaan ini menjadi perusahaan yang bekerja dibawah naungan Busana Apparel
group. Ungaran Sari Garments dipimpin oleh bapak Natesan dan Ungaran Sari
Garment terbagi menjadi 3 daerah produksi yaitu di USG 1 Ungaran (Dress1, Dress
2, Shirt), USG 2 Congol (women’s shirt), USG 3 Pringapus (Man’s Shirt).
Perusahaan ini melakukan orientasi 100% export ke luar negeri, wilayah pengiriman
PT USG adalah di USA, Europa, dan daerah Asia. Partner brands PT USG antara
lain : Liz Claiborne, Jones Apparel Group, International Limited, Ann Inc, Talbots,
Philips-Van Heusen, Macy’s, Nygard, Polo Ralp Lauren, Perry Ellis, Calvin
Klein, Express, Donna Karan, Tommy Hilfiger, JC Penney, Khol’s, Hermes,
blacbery, Hugo Bross, Esprit, Uniqlo, etc. Sejauh ini pekerja yang sudah tergabung
di perusahaan ini mencapi angka sekitar 12 ribu orang dan saat ini USG 3 Unit
Pringapus ada project untuk pembuatan factory baru dengan menerapkan green
building dimana energi yang digunakan pada factory tersebut di desain ramah
lingkungan.

Program Training
Pengelolaan aset pada program penerimaan karyawan baru di Ungaran Sari
Garment yang meliputi kemampuan (Skills), pengetahuan (Knowledge),dan
perilaku (Behavior) sangat penting karena proses pengembangan sumber daya
manusia untuk mendapatkan karyawan baru dengan pengetahuan yang memadai
sehingga diharapkan ke depan akan dapat menganalisa permasalahan yang terjadi,
memberikan arahan yang tepat kepada anak buah serta menjadi karyawan yang
memiliki attitude, dedikasi serta integritas yang baik sehingga mampu memberikan
kontribusi optimal untuk perusahaan dalam jangka panjang. Adapun pengetahuan,
pengertian, dan pemahaman yang diharapkan adalah :
1. Company profile yang berisi tentang gambaran umum perusahaan.
2. Mengetahui Struktur Organisasi di PT Ungaran Sari garments
3. Flow Proses di industry garments.
4. Penjelasan masing-masing departemen atau section baik produksi maupun
departemen pendukung lainnya.
5. Karyawan memiliki kepercayaan diri karena telah memahami keseluruhan flow
proses dan dinamikanya.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 1 | P a g e


6. Pemahaman yang menyeluruh pada proses di industry garments sehingga
menghasilkan keputusan yang komrehensif.
7. Pemahaman akan tahapan yang benar sehingga mengerti tugas dan
tanggung jawabnya.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 2 | P a g e


PPMC DEPARTMENT

(Plan, Production, and Material Control)

1.1. Definisi PPMC


PPMC adalah departemen yang bertugas merencanakan jalannya produksi dari
konfirmasi order dari Buyer, pengadaan material, proses perencanaan produksi, dan
shipment sesuai dengan keinginan buyer.
Buyer merupakan pihak yang memberikan order kepada factory dimana jenisnya
sendiri bermacam-macam, diantaranya Wholesale, Retailers, Department Store, dan
Licenses. Berdasarkan kuantitasnya, buyer dapat diklasifikasikan menjadi
3, yaitu:
o Bulk Buyer dengan jumlah order lebih dari 5000 pcs.
o Retail dengan jumlah order antara 3000 – 5000 pcs.
o Designer dengan jumlah order kurang dari 1000 pcs.
Dalam melakukan order biasanya buyer menggunakan jasa buying agent yang
merupakan perantara buyer dengan factory. Hampir semua order di USG menggunakan
jasa Buying Agent.
1.2.Tugas-tugas PPMC
Fungsi, tugas, dan tanggung jawab dari Departemen PPMC adalah sebagai
berikut:
o Melakukan komunikasi antara Factory dengan Buyer maupun Marketing.
o Melakukan follow up mulai dari development sampai dengan konfirmasi order
sampai ke factory.
o Mengeluarkan Detail Order (DO) untuk departemen lain seperti GGT, Cutting,
Sample room, IE, QC, Sewing, dan Finishing.
o Melakukan approval untuk Material Requesition (MR).
o Memonitor stock dan membuat rencana serta kalkulasi pemakaian material
yang digunakan.
o Membuat rencana dan memonitor jalannya produksi sesuai rencana yang telah
ditetapkan.
o Membuat rencana shipment.
o Membuat analisa mengenai material sisa dan langkah efisiensinya.
1.3. Aktivitas Inti PPMC
a. Pre Order Activity (POA)
PPMC menerima tech pack dari buyer yang berisi style dan spec,
kemudian melakukan development sample dengan memberikan tech pack tersebut
ke sample room untuk dibuatkan sample sesuai dengan permintaan

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 3 | P a g e


buyer.
o Pembuatan proto sample, sample awal yang dikirim ke buyer sesuai
dengan tech pack yang diberikan.
o Pembuatan salesman sample, sample untuk penjualan untuk melihat
seberapa besar daya beli masyarakat terhadap suatu produk.
o Pembuatan fit sample, sample yang dibuat untuk menghitung fitting
sample (detail)
o PPS (Pre Production Sample), yaitu sample yang dibuat untuk guideline
di produksi.
b. Order Confirm Activity (OA)/Bulk Production
Isi DO: style, color, qty order, fabric details, stitching, accecories, packing
method.
o Pilot Stage
o Bulk Production
o Top Sample
1. Buyer meminta untuk mengirimkan top sample yang diambil dari bulk
production.
2. Buyer tidak memperbolehkan shipment tanpa top approval dari buyer.
3. Top sample dikirm paling tidak 2 minggu sebelum shipment.
4. Garment bisa dikirim dengan menggunakan dokumen yang sudah diatur oleh
shipping department.
o Order Confirmation
o Pilot Stage
o Original sample PPS
o Pattern
o Fabric
c. After Production Activity
o Analysis remaining stock, mengapa masih ada stock sisa.
o Analysis dead stock, apakah ada repeat order atau tidak.
1.4. Hubungan Department PPMC dengan IE
Hubungan department PPMC dengan Department Industrial Engineering (IE)
adalah sebagai berikut:
a. Department IE menghitung kalkulasi kebutuhan benang dalam sebuah produk
garment kemudian PPMC akan mengalokasi order.
b. PPMC dan IE sample bekerja sama mengerjakan tahapan sample.
c. Monitoring Pre Production Sample.
1.5.Flow Order

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 4 | P a g e


Alur konfirmasi order yang dilakukan PPMC adalah melakukan development
mengenai costing, sample, dan analisa, kemudian melakukan pertemuan dengan buyer
untuk membahas sample review dan menentukan harga. Konfirmasi order dilakukan
setelah meeting dengan buyer dengan menerima buy plan dan finalisasi.

Buyer

Marketing

PPMC

Line Planner

Prepare
Material

Bulk Executive

Final Inspection

Shipment

Gambar 1. FlowOrder

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 5 | P a g e


Industrial Engineering Department
3.1. Definisi
Industrial Engineering merupakan ilmu yang mempelajari dalam bidang perancangan,
perbaikan dan penerapan sistem integrasi berdasarkan prinsip analisis rekayasa serta
menentukan, meramalkan dan mengevaluasi hasil yang akan dicapai.
3.2. Industrial Engineering Department
1. Jangkauan Department Industrial Engineering di Industri Garment
 Bagian Cutting : Spreading, Cutting, Numbering, Bundling, Panel Inspection, fusing,
Collation, Band Knife, Loading, dan aktifitas lainnya.
 Bagian Sewing : Sorting, Operasi Sewing, QC di akhir Line, dan Aktifitas lainnya.
 Bagian Finishing : Aktifitas Proses, Aktifitas Pengepakan (Packing), QC,
Penyimpanan dan pemuatan (Storage and Loading), dan Aktifitas lainnya.
2. Bidang Industrial Engineering di Industri Garment
 Pre Production : Estimasi beban kerja (SMV) & perencanaan kerja
o Estimasi beban kerja (SMV) : dengan memberikan advice untuk style baru yang
akan datang, memberikan work content (SMV) dari garment dan sebagai
penghubung antara Factory Manager, pimpinan line dan kepala teknikal untuk
menentukan metode pengerjaan yang paling efisien (SMV, Breakdown Proses).
o Line Balancing : Menggunakan Standard Minute Value (SMV) dan merekayasa
sebagaimana yang telah disarankan oleh Factory Manager, mempersiapkan line
balancing untuk output yang diinginkan (style sheet)
o Membantu persiapan sebelum produksi
- Menghitung kebutuhan manpower
- Menghitung kebutuhan mesin
- Menghitung kebutuhan alat bantu kerja
- Mempertimbangkan pegging yang tepat dan sistem perpindahan material
(material handling) untuk style khusus pada sistem rail
o Waktu standar yang tetap : menarik kesimpulan & mengeluarkan SMV (Standard
Minute Value) untuk seluruh aktifitas di produksi
o Mengembangkan metode standar : mengembangkan metode standar kerja di
produksi dimanapun yang membutuhkan
o Menyediakan record data produksi pendukung : menentukan jumlah operasi yang
dialokasikan untuk penentuan dalam needle card, bundle ticket, dan LKH
(Laporan Kerja Harian)
 Production : Analisis bottleneck & follow up untuk meningkatkan produktifitas
(melalui perbaikan, mengeliminasi pekerjaan yang tidak efektif, dll)
 Post Production : Analisa data produksi & memberikan feedback untuk tindakan

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 6 | P a g e


perbaikan/koreksi dan improvement
 Lain – lain : Analisis terstruktur, pengembangan sistem & fungsi teknik pendukung.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 7 | P a g e


STORE DEPARTEMENT

3.1. Definisi Store


Store department merupakan departement support yang bekerja dalam proses
semua penerimaan, penyimpanan, dan pendistribusian material ke produksi serta
administrasi guna membantu proses kelancaran produksi dan akuntabilitas dalam
pencapaian target.
 Berdasarkan Fungsinya
Store memiliki fungsi sebagai berikut:
o Tempat Penerimaan Material
Hal utama yang harus diperhatikan adalah material yang diterima dalam
kondisi baik. Style, color, dan kuantiti harus sesuai dengan surat jalan (SJ).
o Tempat Penyimpanan Material
Material harus tersimpan dengan baik, rapi, dan teridentifikasi dengan jelas
agar material mudah ditemukan pada saat dibutuhkan.
o Tempat Pendistribusian Material
Kuantiti material yang dikeluarkan harus sesuai dengan kuantiti
permintaan dan juga memenuhi standar kuantiti yang sudah ditentukan QC.
o Tempat Pengaturan Sisa Material
Pengelolaan sisa material harus memperhatikan kejelasan data.
Penempatan material yang harus dipisahkan dari material current dapat
dibukukan sebagai acuan dalam memaksimalkan sisa material untuk stock
lot program.
 Berdasarkan Jenisnya
o Fabric store, menyimpan material kain dan interlining. Lokasi di PA3 dan
PA5.
o Accessoris store, menyimpan aksesoris-aksesoris yang dibutuhkan selama
proses produksi, seperti thread, button, polybag, dll. Lokasi di PA1, PA2, dan
PA3.
o Store Finish Good/Warehouse, menyimpan finish goods yang sudah siap
shipment dan juga karton serta hanger. Lokasi di PA4.
Status material sendiri dapat dikatagorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
o Current Stock, merupakan material yang masih aktif digunakan.
o Dead Stock, merupakan material yang sudah selesai shipment.
o Debit Stock, merupakan material yang disimpan berdasarkan konfirmasi
claim, baik dari supplier maupun dari buyer.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 8 | P a g e


Sementara itu, jenis material dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
o Consumable Material (material yang habis dipakai), misalnya jarum,
bobbin, kertas marker, pisau, dsb.
o Non Consumable Material (Material yang tidak habis dipakai), misalnya
maintenance, tools, mesin, sparepart.
3.2.Tugas dan Tanggung Jawab Departement Store
1. Receiving
o Merupakan bagian penerimaan, mempunyai tanggung jawab atas
pembongkaran dan pengecekan.
o Penerimaan material yang menggunakan jasa angkut container diperlukan
pengecekan nomor segel dengan dokumen. Bila terdapat perbedaan maka
container tidak dapat dibuka tanpa persetujuan pihak manajemen.
2. Issued
o Bertugas mengatur pengeluaran material yang diminta oleh produksi
berdasarkan MR. Untuk bagian sewing berdasarkan loading ship dari
cutting. Bagian finishing berdasarkan quantity order dan allowance.
o Setiap MR harus ditulis dengan menggunakan sistem yang berlaku dan
ditandatangani oleh dept head dan planning sebagai bukti pesetujuan atas
permintaan pengeluaran material.
o Pada saat pengeluaran material harus selalu berpedoman dengan detail
order, cutting approval, dan trims chart.
3. Administrasi
o Berhubungan dengan pembuatan laporan untuk kepentingan pihak
accounting. Jenis laporan yang dibuat adalah GRN (Good Received
Note), LPMK, dan LPML.

3.3. Store Fabric


Departemen support sebagai penerima, menyimpan, dan bertanggung jawab
untuk mengontrol masuknya fabric ke central cutting serta melakukan inspeksi
terhadap fabric dan interlining, melakukan checking material yang masuk untuk
memastikan kualitas dari material yang diterima dan mengeluarkan material kepada
cutting.
3.4. Store Accecories
Store accecories berada di PA 1, PA 2, dan PA 3, yang menyuplai departmen
sewing masing-masing unit. Store accecories merupakan departenent yang bertugas
menerima, menyimpan, sekaligus mendistribusikan accecories dan material
general non produksi pada departemen terkait yang membutuhkan support material.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 9 | P a g e


o Sewing Accecories
Accecories yang digunakan pada proses sewing seperti contain label, care
label, streamer label, button, thread, interlining dll.
o Finishing Accecories
Accecories yang digunakan pada departement finishing seperti collar stay,
hang tag, price ticket, pins, neck card board, polybag dll.
o Material general atau non produksi
Segala perlengkapan yang disimpan yang bersifat umum seperti tool, alat
tulis, jarum, dll.

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 10 | P a g e


Info dr MC, dan pastikan ada
Sample
stempel dr PA

Cek Dok, Invoice, NO


Detail Packing List, Bill Info ke MC
of loading

YES

Info ke
P4BM,
NO Cek Segel & No.
Planning,
Supp, Jgn Dbuka Container = NO Bill of
Surveyor Loading

YES

Foto Container &


Cek Fisik
Buka Container

Info ke
P4BM, Stop Pembongkaran
Planning, Pembongkaran Material
MC

Kondisi
Container Quantity Material Buat
Berita Acara
Rusak = Quantity Invoice LPMK/LPME

Lanjutkan
Pembongkaran Approval Book Next Proces

Gambar 2. Flow Chart Activity Penerimaan Material dari Container

Laporan Hasil Orientasi | Afid Agita Praja | 201610135 | 11 | P a g e


SAMPLE DEPARTMENT

5.1. Definisi
Department sample merupakan departemen yang bertanggung jawab menangani
produksi garment sample yang diminta oleh buyer. Lingkup kerjanya meliputi
pembuatan pattern, pembuatan sampel mulai dari cutting sampai finishing sesuai
permintaan buyer.
5.2. Ordering Sample
Setiap buyer yang ingin memberikan order ke PT. USG tidak langsung
berhubungan dengan factory. Akan tetapi semua order akan melalui head office yang
berada di Jakarta. Dari Head office marketing akan memberikan informasi kepada
PPMC yang ada di factory. PPMC kemudian akan melakukan request sampel kepada
sample room untuk pembuatan sample garment. Proses pembuatan sample garment di
sample room merupakan miniatur dari proses bulk produksi. Dimana dalam sample
room terdapat proses pembuatan pattern, cutting, sewing, dan finishing, check QC,
dan kemudian kirim sample.
5.3.Tahapan Sample
1. Proto Sample
Yaitu sample yang dibuat pertama kali sesuai dengan order dari buyer.
Pembuatannya berdasarkan techpack. Quantity dari proto sample biasanya 3
pcs. 2 pcs untuk dikirim ke buyer dan yang 1 pcs untuk disimpan di factory
yang nantinya akan digunakan sebagai analisa dari koment buyer. Jika di
approve maka akan dilanjutkan ke tahap sample selanjutnya.
2. Salesman sample
Yaitu sample yang dibuat untuk digunakan oleh buyer guna
mempromosikan style yang diorder ke counter-counter customer mereka
sehingga buyer dapat menentukan keputusan akan order atau tidak.
3. Fit/counter Sample
Yaitu sample yang dibuat berdasarkan comment buyer atas salesmen
sample yang sudah di approve buyer. Quantity yang dibuat adalah 3 pcs untuk
dikirm ke buyer dan 2 pcs untuk disimpan di factory.
4. PPS
Sample yang dibuat berdasarkan koment dari counter sample. PPS dibuat
sebanyak 4 pcs, 3 pcs untuk dikirim ke buyer, dan 1 pcs disimpan di factory.
Tujuan dibuat PPS adalah untuk mendapatkan approval bulk production.
5. Top Sample
Saat produksi berjalan di line sewing, QC buyer akan meminta 3 pcs
sampel sebagai representative produksi. Proses pengecekan dilakukan secara
menyeluruh, yaitu: workmanship, size spec, material, dan styling garment.
5.4. Hubungan Sample dengan IE
a. Menganalisa styling yang akan dikerjakan, analisa SMV pembuatan garment,
kalkulasi man power, kapasitas mesin, dan cost production.
b. Mempersiapkan mesin-mesin yang akan digunakan, cost man power, dan time
production.

Buyer

Head Office
Marketing

Factory
PPMC

Sample Room
Pattern Maker

Supervisor
Sample

Proses Cutting

NO Proses Sewing NO

Checking QC

Finishing

Sending Sampel

Approved

Next Process

Gambar 3. Alur Proses Order Sample


CUTTING DEPARTEMENT
CUTTING DEPARTEMENT

5.1. Gambaran Umum Departemen Cutting


Departemen cutting merupakan salah satu departemen produksi selain
departemen sewing dan finishing. Departemen cutting tugasnya yaitu mengerjakan
proses potong fabric sesuai dengan pola dan jumlah yang diminta oleh buyer. Secara
garis besar, alur proses pada department cutting meliputi:
a. Pre Production
b. Before Cutting c.
After Cutting
5.2. Pre Production
Sebelum memulai proses produksi, departement cutting mempersiapkan segala
kebutuhan untuk produksi. Nantinya, proses produksi yang berhubungan dengan hal
ini dikerjakan oleh cutting planner. Tugas dari cutting planner yaitu mengkoordinasi
dan mempersiapkan segala kebutuhan sebelum produksi seperti request pilot plotter,
analisa dan perhitungan konsumsi material.
o PPS Apoval
Pembuatan PPS dilakukan oleh department sample dan menjadi acuan
dalam proses cutting selanjutnya.
o DO Release
Setelah PPS mendapat approval dari buyer, maka PPMC akan
membuat Detail Order untuk semua departemen. Fungsinya sebagai acuan saat
jalan bulk production.
o Pilot Plotter
Merupakan pattern yang digunakan pada saat pembuatan pilot sebelum
produksi berjalan. Departemen cutting akan request pilot plotter ke GGT.
Tujuan pilot plotter adalah untuk guidance atau pola untuk membuat garment.
o Cutting Pilot
Setelah pilot plotter maka langkah selanjutnya adalah potong pilot
dengan menggunakan fabric yang digunakan untuk bulk production.
o Sewing Pilot
Proses ini dilakukan di department sewing. Pembuatan pilot tujuannya
adalah untuk mengetahui dan menganalisa kesulitan yang mungkin terjadi saat
running dalam bulk production.
o PP Meeting
Fungsi dari PP meeting yaitu membahas hal-hal yang terjadi saat
pembuatan pilot di line dengan memperhatikan critical process.
o Final Pattern
Merupakan pattern yang digunakan untuk pembuatan garment pada
saat bulk production.
o Mini Marker
Merupakan miniatur marker yang dikirim GGT, dan digunakan untuk
menghitung konsumsi material yang akan digunakan.

o Mini Marker Calculation


Final pattern yang sudah jadi akan dikalkulasi kebutuhan fabric dan
interlining yang harus ada serta dicek dan dibandingkan dengan kebutuhan
yang telah dibuat oleh PPMC.
5.3. Before Cutting
o Spreading
Ada dua jenis metode yaitu auto spreading dan manual spreading.
o Cutting
Dalam proses pemotongan terdapat 2 macam proses potong, yaitu manual
cutter dan auto cutter.
5.4. After Cutting
o Pinning
Proses penelusuran motif fabric dari tiap layer dalam satu lot. Proses
ini untuk mendapatkan center line dari panel terutama front, back, dan yoke.
o Cut after pinning
Merupakan proses pemotongan dengan menggunakan mesin push knife
untuk masing-masing komponen sesuai pola.
o Numbering dan bundling
Pemberian sticker number yang bertujuan untuk memberikan identitas
untuk setiap panel per bundle sehingga memudahkan operator sewing untuk
melakukan proses jahit secara urut.
o Band knife
proses lanjutan dari potong dimana proses ini membutuhkan potongan
yang lebih akurat.
o Prefuse dan fuse
Fuse adalah proses penempelan interlining ke panel dengan
menggunakan lem, tujuannya agar interlining tidak bergeser.
o Loading
Loading order dibuat untuk menentukan style, warna, lot yang akan
diloading ke sewing line.
5.5.Peranan IE dengan Cutting Department
a. Melakukan improvisasi sistem di area cutting.
b. Monitoring sistem di cutting agar sesuai SOP.
c. Melakukan analisis dan improvement untuk efisienssi waktu serta
mengurangi wasting time.
d. Monitoring PCD.
e. Membuat daily, weekly, dan monthly balancing man power.
SEWING DEPARTEMENT

6.1. Definisi
Departement sewing merupakan departmen produksi yang berhubungan dengan
proses menjahit komponen menjadi 1 unit garment utuh. Proses sewing terbagi
menjadi 2, yaitu:
o Preparation
Merupakan area untuk mempersiapkan dan memproses komponen-
komponen garment sebelum digabungkan. Komponen-komponen yang
diproses dalam area preparation adalah collar, cuff, front, back, dan sleeve.
o Assembly
Merupakan proses penggabungan komponen-komponen garment
yang sudah disiapkan di proses preparation tadi menjadi satu produk garment
utuh.

6.2. Hubungan Kerja IE dengan Sewing Department

a. Monitoring jalannya produksi sewing.


b. Bekerja sama mendapatkan target produksi serta menganalisa kesulitas- kesulitan
dalam proses produksi.
c. Alokasi target, start next style, line produksi.
d. Menganalisa bottle neck yang terjadi, serta melakukan line balancing.

6.3.Flow Process Sewing

Loading From Cutting

Prep. Front Prep. Back Prep. Sleeve Prep. Cuff Prep. Collar

Transfer ke Assembling

Proses Assembling

Transfer ke Finishing

Gambar 4. Flow Process Sewing


FINISHING DEPARTMENT

7.1. Definisi
Departement finishing merupakan department produksi dimana proses
pengerjaan finishing dilakukan setelah garment selesai dari sewing assembly line dan
lolos dari cek quality. Tujuan dilakukan proses finishing adalah sentuhan akhir
setelah proses sewing dan untuk memberikan nilai tambah.

7.2.Flow Process
o Blower
Setelan garment di transfer dari sewing, garment dibersihkan dari
benang-benang yang menempel atau debu dengan menggunakan mesin
blower.
o Ironing Yoke and Collar
Bagian yoke dan collar diproses gosok untuk mendapatkan hasil yang
lebih rapi.
o Collar Creasing
Setelah collar digosok, kemudian disisipi NCB (Neck Collar Board),
kemudian collar dipress dengan menggunakan collar creasing machine
untuk membuat collar stand up.
o Ironing Body
Ironing body garment diawali dari dari gosok bagian cuff dan sleeve
dari proses belakang, kemudian bagian body front. Setelah digosok,
kancingkan kemudian hanging.
o Folding
Operator akan mengambil garment dari hanging di konveyor,
kemudian melakukan proses folding/melipat.
o Polybag
Setelah selesai proses folding, garment akan dimasukkan ke polybag
yang sebelumnya telah dipasang aksesoris sesuai order dari buyer.
o Packing
Setelah garment di polybag, garment tersebut akan dimasukkan
menjadi satu ke dalam box karton yang nantinya akan di shipment.
Metode packing ada 2, yaitu:
a. Solid Methode, yaitu metode packing yang isi dalam box karton
berisi yang sama semua baik itu dari PO, style, size, dan color. Apabila
ada broken (sisa) maka akan dipacking secara campur.
b. Prepack Methode, yaitu metode packing dalam box karton yang berisi
garment dengan PO, style, color yang sama namun berbeda sizenya.
Blower

Ironing Yoke & Collar

Creasing Collar

Ironing Body

Folding

Polybag

Packing

Gambar 5. Flow Process Finishing

7.3. Hubungan kerja IE dengan Finishing Department

o IE mensupport department finishing untuk mengefisien dan mengefektifkan


produksi di finishing dengan cara melakukan study kerja.
o IE mempersiapkan man power, kebutuhan mesin, pengaturan rencana kerja,
mengkoordinasikan output produk, mengoptimalkan sumberdaya yang ada pada
lini produksi.
QUALITY CONTROL DEPARTMENT
9.1. Definisi

Department QC adalah department support yang bertugas menjaga kualitas


produk dengan cara memonitoring, mengawasi, dan mengecek dari awal penerimaan
fabric hingga nantinya garment akan dishipment. Checking QC pada garment jadi di
line assembly dilakukan dengan tiga tahapan, yaitu checking in first output, in
line, dan end line.

9.2.Tugas QC di Line Sewing


o Checking First Output
Pada saat line sewing memulai bulk production untuk style baru, QC
akan melakukan checking pada garment pertama yang dihasilkan oleh line
sewing. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memastikan
garment yang dihasilkan di line sewing sesuai dengan permintaan buyer dan
menghindari defect berkelanjutan pada saat start style baru.
o Checking in line
Merupakan proses checking QC secara random pada garment yang
dihasilkan pada setiap proses. Tujuan dari pengecakan in line adalah
untuk memastikan tidak terdapat defect pada garment mulai dari awal proses.
Apabiala terjadi defect dapat diidentifikasi lebih awal untuk selanjutnya
dilakukan perbaikan.
o Checking End Line
Pengecekan 100% garment yang diproduksi oleh line sewing. Adapun
tujuan dari checking end line adalah untuk memastikan garment yang akan
di transfer ke finishing merupakan good garment, sehingga tidak ada
defect garment yang terbawa sampai shipment ke buyer.
9.3.Flow Proses Departement QC

Lingkup pekerjaan QC dimulai dari fabric in house sampai dengan


garment akan di shipment ke buyer. Alur proses checking fabric dapat dilihat sebagai
berikut:

Fabric in House

PPMC Release
NO
Compare Bulk w/ Highlight to
Fabric Approval
PPMC
Swatch from PPMC

Fabric inspection

Identify defect

Shading Test

NO
Bowing Test

Fabric Quality Inspec


Report

Review FIR

Point Defect ≤12


2
per 100 yard

App Fabric for


Bulk Cutting

Gambar 9. Diagram Alir Proses Fabric Inspection QC


9.4. Jenis Defect Fabric

Dalam bidang industri garment akan ditemukan berbagai macam


defect. Defect yang terjadi akan berbeda-beda dan sangat beraneka ragam.

No Defect Deskripsi
1 Coarse Yarn Serat kain kasar
2 Stains/Fleck Noda pada kain (kotor)
3 Thick Pick Serat kain melebar tebal (Kecil)
4 Slub Serat/benang timbul pada kain
5 Knots Tonjolan benang pada kain
6 Bowing Serat kain arah lebar tidak lurus
7 Shade Bars Efek garis melebar yang timbul karena yarn berbeda
8 Smash Lubang besar
9 Neps Timbul simpul benang kecil, biasanya banyak
10 Skewing Serat waft (arah lebar)
11 White Spot Noda Putih
12 Skewing Serat waft (Arah Lebar) tidak bisa siku
13 Baggy Cloth Kain yang tidak flat ketika digelar

9.5. Jenis Defect Sewing

No Defect Deskripsi
1 Skip Stitch Jahitan Loncat
2 Run Off Jahitan Meleset
3 Row Edge Jahitan Jebol
4 Loose Stitch Jahitan Kendor
5 Slanting Jahitan Miring
6 Puckering Jahitan Berkerut
7 Shading Beda Warna
8 Over Stitch Kelebihan Jahitan
9 Unmatch Tidak Matching
10 High Low Jahitan Jonjang
11 Fullness Melembung
12 Twisting Jahitan Melintir
13 Poor Shape Bentuk Jelek
MECHANIC DEPARTMENT

9.1. Definisi
Departemen mekanik merupakan departmen pendukung produksi yang
bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yeng berhubungan dengan mesin produksi
meliputi pengalokasian, penyediaan, perawatan, dan perbaikan peralatan atau
mesindalam rangka menunjang kegiatan produksi sehingga berjalan lancar sesuai
dengan kualitas, kuantitas, serta waktu yang diharapkan.

9.2.Fungsi dan Tugas Department Mekanik


Fungsi department mekanik adalah mendukung produksi dengan menyediakan
mesin dan peralatan yang mempermudah proses produksi baik pada proses cutting,
sewing, maupun finishing. Tugas departement mekanik antara lain:
o Pemeliharaan mesin, meliputi membersihkan dan merawat mesin secara rutin.
o Perbaikan mesin jika ada mesin yang rusak (breakdown).
o Pengembangan peralatan dan mesin untuk sampel-sampel yang membutuhkan
proses, pelaralatan atau perlengkapan mesin khusus.
o Penataan letak mesin pada line assembly untuk style baru yang akan jalan.
o Penyediaan alat bantu sewing seperti folder.
o Pengadaan kebutuhan consumable seperti jarum, pisau, amplas, mika, dll.
o Pengadaan kebutuhan sparepart mesin setiap 4 bulan sekali.
o Proses development sample.
o Persiapan mesin produksi ketika akan jalan style baru.
9.3.Tipe Mesin
a. Mesin Sewing
o Mesin Single Needle DBx1
o Mesin Double Needle
o Mesin Lock Stitch DPx5
o Mesin Chain Stitch TVx7
o Mesin Over Lock DCx27
o Mesin Button Hole DPx5
o Mesin Button Stitch DPx17
o Mesin Bartack DPx5
o Mesin Threefold
o Mesin Press Arm Hole
o Mesin Press Side Seam
o Mesin Press Shoulder & Yoke
o Mesin Press Collar
o Mesin Press Pocket
o Mesin Press Cuff
o Mesin Front Placket
b. Mesin Finishing
o Vacuum Table
o Folding Table
o Steam Iron
o Collar Creasing
o Thread Cleaning/Blower
o Conveyor
o Stain Removal
o Steam Fabric Machine
o Strappin Machine
o Mini Boiler
9.4. Hubungan Kerja Department Mekanik dengan Departement IE
o Kebutuhan mesin dan peralatan yang dibutuhkan pada lini produksi akan dianalisa
oleh IE, dilakukan perhitungan melalui SMV untuk konsumsinya dan
pengalokasiannya.
o IE melakukan perhitungan untuk planning production dan layout, sedangkan
mekanik sebagai pelaksananya.
o IE melakukan perhitungan kebutuhan mesin dengan mempertimbangkan
avaliable mesin yang ada.
UTILITY DEPARTEMENT

10.1. Tugas & Tanggung Jawab Utility Departement


Ruang lingkup pekerjaan pada department utility adalah sebagai berikut:
1. Operasional dan perawatan pada electric lighting dan power untuk kebutuhan
produksi.
2. Operasional dan perawatan pada mesin boiler.
3. Operasional dan perawatan pada mesin kompresor.
4. Operasional dan perawatan pada mesin genset.
5. Operasional dan perawatan pada kebutuhan air (water treatment).
6. Fabrikasi dan perawatan untuk furniture.
7. Perawatan bangunan dan perencanaan ekspansi gedung.
8. Operasional dan perawatan pada forklift.
9. Operasional dan perawatan pada baking mesin.
10. Monitoring dan maintenance house keeping.
11. Perawatan taman di area pabrik.