Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN PADA TN “S” DENGAN


DIAGNOSA BENIGNA PROSTATIC HYPERPLASIA (BPH)
DI RUANG OK RSUD HAJI MAKASSAR

Oleh :
Meysie Priskila Pajula S.Kep
NS0619098

CI Lahan CI Institusi

(..……………………………) (……………………………...)

PROGRAM STUDI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN MAKASSAR
2020
1.1. Laporan Pendahuluan
1.1.1. Konsep Penyakit/Kasus
1.1.2. Definisi Kasus
Benigna Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah penyakit yang sangat sering
mengakibatkan masalah pada pria. BPH mempunyai karakteristik berupa hiperplasia
pada stroma dan epitel prostat.(Amadea, 2019)
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) adalah penyakit yang sering terjadi sebagai hasil
dari pertumbuhan dan pengendalian hormone prostat.(Nurarif & Hardhi, 2015)
1.1.3. Patofisiologi (Patoflow)
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genetalia pria yang terletak di sebelah
inferior buli-buli, dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa ± 20 gram. Sjamsuhidajat (2005),
menyebutkan bahwa pada usia lanjut akan terjadi perubahan keseimbangan
testosteron estrogen karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
tertosteron menjadi estrogen pada jaringan adipose di perifer. Purnomo (2000)
menjelaskan bahwa pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon
tertosteron, yang di dalam sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi
dehidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim alfa reduktase. Dehidrotestosteron
inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-sel kelenjar prostat untuk
mensintesis protein sehingga terjadi pertumbuhan kelenjar prostat.
Oleh karena pembesaran prostat terjadi perlahan, maka efek terjadinya perubahan
pada traktus urinarius juga terjadi perlahan-lahan. Perubahan patofisiologi yang
disebabkan pembesaran prostat sebenarnya disebabkan oleh kombinasi resistensi
uretra daerah prostat, tonus trigonum dan leher vesika dan kekuatan kontraksi
detrusor. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat akan terjadi resistensi
yang bertambah pada leher vesika dan daerah prostat. Kemudian detrusor akan
mencoba mengatasi keadaan ini dengan jalan kontraksi lebih kuat dan detrusor
menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung kemih dengan
sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trahekulasi (buli-buli balok).
Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat aetrisor. Tonjolan mukosa yang kecil
dinamakan sakula sedangkan yang besar disebut divertikel. Fase penebalan detrusor
ini disebut Fase kompensasi otot dinding kandung kemih. Apabila keadaan berlanjut
maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak
mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin.
1.1.4. Pemeriksaan Penunjang
1.1.4.1. Laboratorium : Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elektrolit, tes sensivitas dan
biakan urine
1.1.4.2. Radiologis : Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG,Ct Scanning,
cystoscopy, foto polos abdomen. indikasi sistgram retrogras dilakukan apabila
fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau
trans rectal (TRUS=Trans Rectal Sonografi), selain untuk mengetahui
pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli,
mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumpr dan batu
1.1.4.3. Prostatektomi Retro Pubis : Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi
kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematos prostat
diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat. (Nurarif & Hardhi, 2015)
1.1.5. Penatalaksanaan Medis
penatalaksanaan pasien dengan BPH tergantung pada stadium-stadium dari gambaran
klinis
1.1.5.1. Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti
alfazosin dan terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera
terhadap keluhan, tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat.
Sedikitpun kekurangannya adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian
lama.
1.1.5.2. Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya
dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
1.1.5.3. Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan
prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.
Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat
dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

1.1.5.4. Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan lebih lanjut amok melengkapi diagnosis, kemudian
terapi definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan
pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan
obat penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan
memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.(Nurarif &
Hardhi, 2015)
1.1.6. Discharge Planning
1.1.6.1. Berhenti merokok
1.1.6.2. Biasakan hidup bersih
1.1.6.3. Makan makanan yang banyak mengandung vitamin dan hindari minuman
beralkohol
1.1.6.4. Berolahraga secara rutin dan berusaha untuk mengendalikan stress
(Nurarif & Hardhi, 2015)
DAFTAR PUSTAKA

Amadea. (2019). Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) palu.

Nurarif, amin huda, & Hardhi, K. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis dan Nanda NIC-NOC Edisi Revisi Jilid 3. Yogyakarta: MediAcion.