0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
712 tayangan31 halaman

Bab Ii PDF

Teks ini membahas tentang teori dasar pesawat rontgen konvensional dan radiografi konvensional. Dijelaskan cara kerja pesawat rontgen konvensional dan sifat-sifat sinar X. Proses radiografi konvensional melibatkan pemosisian pasien di antara tabung sinar-X dan detektor gambar untuk memperoleh citra struktur internal tubuh."

Diunggah oleh

Decky Syafputra Kjm
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
712 tayangan31 halaman

Bab Ii PDF

Teks ini membahas tentang teori dasar pesawat rontgen konvensional dan radiografi konvensional. Dijelaskan cara kerja pesawat rontgen konvensional dan sifat-sifat sinar X. Proses radiografi konvensional melibatkan pemosisian pasien di antara tabung sinar-X dan detektor gambar untuk memperoleh citra struktur internal tubuh."

Diunggah oleh

Decky Syafputra Kjm
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TEORI DASAR
2.1 Pesawat Rontgen Konvensional
2.1.1 Wiring diagram pesawat rontgen konvensional

Gambar 2.1 Wiring Diagram Pesawat Rontgen Konvensional

Keterangan gambar :

1. Sumber tegangan AC 220 V 14. High tension transformator


2. Fuse 15. mA meter
3. Main switch 16. Penyearah gelombang penuh
4. R line 17. Tabung Sinar-X
5. Autotrafo 18. Filamen (Katoda)
6. Voltage compensator 19. Target (Anoda)
7. Voltage indicator 20. Voltage stabilisator
8. Voltage regulator 21. Space charge compensator
9. kV selector mayor 22. mA selector
10. kV selector minor 23. Standby resistant
11. Timer 24. Filament limiter
12. Exposure switch 25. Transformator filament
13. kV meter

4
2.1.2 Cara kerja rangkaian pesawat rontgen konvensional

Tegangan PLN AC 220 V 50 Hz masuk melewati fuse. Fuse berfungsi


sebagai pengaman dari kelebihan beban atau bila terjadi hubung singkat. Saat
main switch on, tegangan PLN masuk ke pesawat rontgen melalui rangkaian
Power Supply. Setelah autotransformator mendapatkan tegangan maka voltage
indicator akan bekerja dan menunjuk pada suatu nilai tertentu. Untuk
menunjukkan apakah tegangan yang masuk ke rangkaian power supply sudah
sesuai. Bila sudah sesuai, voltage indicator akan menunjuk pada titik hitam,yang
menandakan tegangan yang masuk sudah sesuai. Apabila tegangan yang masuk
belum sesuai, maka pengaturan pada voltage compensator diperlukan. Apabila
tegangan yang masuk berlebihan maka gulungan primer pada autotrafo
diperbanyak dan apabila tegangan yang masuk kurang dari nilai yang semestinya
maka gulungan primer autotrafo dikurangi. Hasil akhir dari pengaturan Voltage
Compensator akan didapat perbandingan transformasi:

N1 : E1 = N2 : E2 (2.1)

Sehingga nilai tegangan sekunder pada tiap lilitan diketahui dengan jelas
nominalnya. Dengan demikian, pendistribusian tegangan ke rangkaian lain pada
pesawat dapat dilakukan dengan mudah. Pengaturan nilai KV dilakukan dengan
memutar KV selector sesuai dengan nilai KV yang diinginkan. Pada sekunder
auto trafo terdapat taptap yang memiliki jangkauan tegangan yang dibutuhkan.
Besarnya nilai tegangan pada setiap lilitan didapatkan dari perbandingan
transformasi yang telah dijelaskan diatas. Teganan ini yang akan menjadi
tegangan primer pada HTT. Nilai mA dipilih dengan memilih serangkaian
tahanan pada mA control. mA control ini dihubung seri dengan trafo filamen
sehingga besarnya arus pemanasan dapat diatur. Tahanan mA control
mengakibatkan terjadinya Voltage Drop sehingga tegangan primer trafo Filament
akan lebih rendah dan sekundernya akan turun. Dengan merubah-rubah atau
mengatur tahanan atur maka besarnya arus yang akan mengalir akan berubah.
Tahanan ini mempunyai tap-tap harga mA tertentu. Lalu arus akan diteruskan
menuju stand by resistor, yang berfungsi sebagai pembatas arus filament sebelum
terjadi ekspos, agar pada filament terjadi pemanasan awal dengan temperature

5
rendah, kemudian Filament Limiter akan membatasi arus yang mengalir ke
filament.
READY
Pada saat tombol ditekan ½, maka yang terjadi adalah pemanasan filamen
berpindah dari pre heating ke pemanasan setting, motor anoda putar berputar dan
rem magnet listrik bekerja. Pada filament tabung rontgen akan terjadi peningkatan
panas sesuai dengan besar mA yang di atur sehingga akan menghasilkan elektron
bebas dan akan membentuk awan elektron.
EXSPOSE
Timer bekerja menghubungkan antara rangkaian Power Supply dan primer
HTT. HTT mendapatkan tegangan, sehingga terjadi tegangan tinggi pada
sekundernya. maka Anoda dan Katoda akan mendapatkan beda potensial.
Kemudian elektron akan ditarik target, pada target ini terdapat partikel-partikel
atom. Partikel-partikel tersebut akan ditabrak oleh elektron yang bergerak cepat
sehingga akan terjadi kekurangan elektron yang akan meninggalkan hole. Hole-
hole tersebut akan diisi oleh elektron dibelakangnya sehingga seperti lari estapet.
Apabila elektron menumbuk target sampai ke inti atom maka akan terjadi
Breamstahlung. Bila interaksi elektron terhadap partikel target hanya sampai di
kulit K, maka akan terjadi peristiwa K-characteristic. Dan menghasilkan sinar-X.

Gambar 2.2 Breamstrahlung

2.2 Sifat-Sifat Sinar-X


Pesawat radiologi adalah alat medik yang bekerja dengan menggunakan
radiasi pengion baik itu sinar nuklir, sinar gamma, sinar-X dan lain-lain. Pesawat
rontgen bekerja untuk menghasilkan radiasi sinar-X baik untuk keperluan

6
fluoroskopi, radiografi, dan angiografi. Sinar-X dapat digunakan untuk terapi
maupun diagnostik karena sinar-X mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

a. Penetrating Effect

Bila sinar-X mengenai bahan maka sinar tersebut akan diserap oleh bahan
tersebut. Banyak sinar yang terserap tergantung dari tebal tipisnya bahan
dan kerapatannya.

b. Biologi Effect

Bila sinar-X mengenai tubuh maka akan merusak, mematikan sel-sel yang
hidup dengan dosis radiasi tertentu. Akibat radiasi tersebut maka akan
menyebabkan kemandulan/metabolism tidak linear.

c. Ionisation Effect

Bila sinar-X dikenakan pada bahan,maka pada bahan tersebut akan terjadi
ionisasi yaitu peristiwa di mana ion-ion negatif akan terlepas dari ikatan
atomnya.

d. Flourocent Effect

Bila sinar-X mengenai layer yang dilapisi dengan bahan flourocent


misalnya : NHI maka pada layer tersebut akan terjadi kilatan
cahaya/cahaya tampak.

e. Fotografi Effect
Bila sinar-X mengenai film, maka pada film akan terjadi bayangan laten,
bila kemudian film tersebut diproses di kamar gelap maka akan terjadi
bayangan bisa dilihat.

2.3 Radiografi
Radiografi konvensional adalah proses pemproduksian gambar sinar-X
pada film dengan teknik langsung. Teknik radiografi konvensional ini merupakan
aplikasi sinar-X yang paling pertama kali dilakukan sejak sinar-X ditemukan oleh
Wilhelm Conrad Rontgen dan merupakan teknik pencitraan medis yang paling
sering digunakan dalam beberapa keperluan diagnosa dan dokumentasi. Diagnosa

7
yang biasa menggunakan teknik radiografi konvensional adalah pemeriksaan
thorax dan ortopediks untuk pemeriksaan tulang atau persendian yang mengalami
fraktur ataupun arthrosis.

Pada pemeriksaan radiografi konvensional, pasien diposisikan diantar


tabung sinar-X dengan detektor gambar. Selama proses ekspose, pasien diminta
untuk tidak bergerak, karena jika pasien bergerak maka kualitas dari hasil akhir
gambar yang digunakan akan menjadi buruk dan gambar rontgennya akan
menjadi tampak kabur.

Gambar 2.3 Pemeriksaan Radiografi Konvensional.

Setelah pasien diposisikan dengan benar, maka ekspose dapat dilakukan.


Sinar-X yang terbentuk dari tabung rontgen akan mengenai tubuh pasien dan
menembus tubuh pasien. Setelah itu, sinar-X yang telah menembus pasien akan
mengenai film radiografi, serta menghitamkannya berdasarkan intensitas sinar-X
yang tersisa.

Jaringan-jaringan lunak seperti lemak, otot, dan kulit hanya menyerap


sedikit radiasi. Sedangkan jaringan keras seperti tulang akan menyerap sinar-X
dalam jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan jairngan lunak, sehingga
menghasilkan sebuah gambar hitam putih pada film radiografi. Semakin sedikit
penyerapan sinar-X akan memberikan efek penghitaman pada film yang semakin
tinggi, sedangkan semakin banyak penyerapan sinar-X akan memberikan efek
penghitaman pada film yang semakin rendah.

8
Gambar 2.4 Hasil radiografi pada bagian yang berbeda

Pemeriksaan radiografi konvensional ini juga dilakukan dalam periode


waktu yang sangat singkat (dalam ordo ms), tapi dengan menggunakan beban
tabung rontgen yang besar.

Berdasarkan pada perbedaan-perbedaan yang kecil dari daya serap sinar-


X, pembuluh darah, kapiler atau organ yang berisi udara seringkali terlihat seperti
garis yang samar-samar pada gambar sinar-X. Dalam keperluan untuk
memvisualisasikan bentuk dan jalur dari pembuluh darah pada gambar radiografi,
medium kontras biasa digunakan yang seperti tulang-tulang menyerap sinar-X.

Gambar 2.5 Hasil Radiografi dengan Bahan Kontras.

Karena sinar-X bergerak pada garis lurus, maka gambar yang akan
tertangkap di belakang tubuh pasien akan selalu ditampilkan pada bentuk yang
diperbesar. Derajat pembesaran gambar tergantung pada jarak antara sumber
radiasi dengan tubuh pasien, di lain pihak, dapat dipengaruhi juga dari jarak
antara tubuh pasien dengan film radiografi.

9
Ada beberapa macam pengaturan yang harus diatur sedemikian rupa agar
dapat menghasilkan hasil gambar radiografi yang berkualitas tinggi, yaitu :
tegangan tinggi tabung (KV), arus tabung (mA), dan waktu periode ekspose
berlangsung (ms). Adapun pengaturan besaran-besaran ini berbeda-beda
berdasarkan jenis jaringan yang akan diekspose, umur dari pasien, dan ketebalan
tubuh pasien (gemuk atau kurus).

Pada setiap pesawat rontgen radiografi konvensional mempunyai teknik


pengaturan yang berbeda-beda pula. Teknik-teknik pengaturan parameter
radiografi adalah :

a. Teknik pengaturan 3 poin

Ketiga parameter ekspose (kV, mA, dan ms) diatur secara manual oleh
operator/radiografer. Tapi generator dapat memblok beberapa
kombinasi dari pengaturan parameter yang diatur oleh
operator/radiografer untuk mencegah beban yang terlalu tinggi dari
tabung rontgen. Proses ekspose akan terhenti secara otomatis ketika
mencapai mAs yang telah dihitung dari pengaturan parameter tadi.

b. Teknik pengaturan 2 poin

Parameter yang perlu diatur oleh operator/radiografer hanyalah kV dan


mAs, sementara itu generator akan menghitung secara otomatis
kombinasi mA/ms sesuai dengan kemampuan tabung rontgen. Proses
ekspose akan terhenti secara otomatis pada saat mAs yang telah diatur
tercapai.

c. Teknik pengaturan 1 poin

Parameter yang perlu diatur hanyalah kV. Panas berlebih (Over-


heating) pada tabung dicegah dengan mengurangi arus tabung secara
kontinu selama proses ekspose dilakukan (falling load). Proses ekspose
akan terhenti secara otomatis oleh Iontomat ketika dosis yang telah
diatur tercapai.

10
d. Teknik pengaturan 0 poin

Pada teknik pengaturan ini, tidak parameter yang perlu diatur oleh
operator/radiografer. Seluruh parameter akan dihitung secara otomatis,
dimana kV akan dihitung oleh detektor pengukur ketebalan pasien dan
mAs akan diatur oleh Iontomat. Proses ekspose akan terhenti secara
otomatis oleh Iontomat pada saat dosis yang diperlukan telah tercapai.
Teknik ini hanya dapat di pakai di peralatan yang bisa berfungsi
sebagai fluoroskopi sistem.

Semua parameter ekspose ini dapat diatur secara manual ataupun otomatis.

2.4 Faktor Eksposi


Hal-hal yang mempengaruhi faktor eksposi pada proses radiografi :
1. Kilo Voltage
2. Mili Ampere
3. Waktu penyinaran
4. Ketebalan objek
5. Jarak pemotretan
6. Jenis focus
7. Pengaruh Film dan Apparatus

Untuk mendapatkan sebuah gambar radiografi yang baik, haruslah


memiliki densitas yang optimum, untuk mencapai hal ini sangat diperlukan bagi
seorang radiographer untuk mengatur tegangan tabung dengan nilai tertentu (kV)
dan arus tabung dengan nilai yang tertentu pula (mA) dari tabung Sinar-X selama
beberapa waktu (s). Radiasi yang dihasilkan akan menembus objek dan bereaksi
pada emulsi film fotografi.

Nilai dari arus tabung dan waktu penyinaran radiasi dinyatakan dalam
milliampere-seconds, atau yang sering disingkat dengan mAs merupakan suatu
parameter yang sangat penting. Nilai ini dan tegangan tabung (biasa dinyatakan
dengan kV) membentuk suatu faktor elektrik yang sangat menentukan proses
eksposure dari foto radiografi.

11
Kuantitas/jumlah radiasi yang diberikan sangat mempengaruhi film untuk
mendapatkan gambar radiografi dengan densitas yang baik. Jelasnya, kuantitas
dari radiasi seharusnya hampir selalu sama, terlepas dari objek yang diperiksa, hal
diwakili oleh radiasi primer yang keluar melalui objek. Radiasi yang keluar ini
terdiri dari apa yang tersisa pada radiasi input primer, lalu semakin kuat dengan
radiasi sekunder yang terbentuk pada objek. Untuk mendapatkan kuantitas yang
pasti dari radiasi yang keluar dari objek, kuantitas yang jauh lebih besar akan
banyak terserap pada objek yang lebih tebal dibandingkan pada objek yang tipis.
Dari objek ke objek, kuantitas dari energi sinar-X yang meninggalkan tabung,
akan berbeda untuk menghasilkan gambar radiografi yang baik. Kuantitas ini
dapat dinyatakan dengan tegangan tinggi, arus, dan waktu ekpos; sebuah
kombinasi yang tepat dari besar-besaran ini dinamakan dengan parameter ekspos.

Setiap objek membutuhkan parameter ekspos tertentu, tetapi pada


beberapa kasus, parameter ini dapat ditetapkan dan dibuat standarisasinya. Sama
seperti jumlah radiasi yang keluar dari tabung dipengaruhi oleh miliampere dan
waktu, daya tembus dari sebuah radiasi yang keluar dari tabungpun dipengaruhi
oleh kilovolt dari tabung itu sendiri.

2.4.1 Hubungan kV dengan mAs


Sungguh penting untuk mengetahui bahwa nilai eksposure sangat
dipengaruhi oleh perubahan dari kilovolt. Harus dicatat bahwa dari sudut pandang
fotografi, puncak tegangan tertentu memiliki peranan penting.
Pada sebuah percobaan didapat bahwa terjadi over-exposure jika tegangan
tinggi dinaikkan, walaupun kita menunrunkan nilai mAs pada jumlah nilai yang
sama, misal 10%. Perubahan nilai kilovolt mempunyai efek produksi radiasi yang
jauh lebih besar dibandingkan dengan perubahan mAs.
Dari hubungan yang tidak linier ini diketahui bahwa ada suatu aturan
pengkonversian nilai parameter ekspos. Hitungan yang paling sederhana,
walaupun kurang akurat, pada setiap peningkatan kilovolt sebesar 10 kV maka
produksi mAs harus berkurang sebesar 50%. Perhitungan ini tidak dapat
diaplikasikan pada seluruh range tegangan diagnostik, tetapi dapat diaplikasikan
secara kasar pada kisaran 60 – 80 kV.
Adapun untuk perubahan nilai eksposure yang dapat diaplikasikan untuk

12
semua kisaran tegangan tabung, maka nilai eksposure (E) dipengaruhi oleh 2
faktor, yaitu : daya (P) dan nilai mAs, yang harus sesuai dengan rumus :

E = kVP X mAs (2.2)

dimana P = 5 untuk tegangan di bawah 100 kV, p = 3 untuk kisaran tegangan 100
– 125 kV, dan p = 3 untuk tegangan di atas 125 kV.

Nilai eksposuere ini harus selalu konstant pada seluruh kondisi eksposure
apapun, hasil tegangan dan mAs harus benar-benar dipilih dengan baik agar
perbandingan kedua nilai ini dapat menghasilkan sebuah nilai ekspos yang
konstan sesuai dengan rumus di atas tadi.

2.4.2 Pengaruh film dan apparatus


Pengaruh apparatus dan film dalam nilai eksposur atau nilai mAs pada
tabel dan diagram ukuran eksposur tidak bisa sama dan tidak dapat digunakan
pada macam-macam apparatus dan macam-macam tipe film.
a. Tipe Film
Sangat jelas sekali jika sensitifitas dari film memiliki pengaruh dalam
nilai mAs. Pada hubungannya ketebalan dari lapisan emulsi sangat
penting untuk diperhitungkan, seperti perhitungan apakah film tersebut
memiliki lapisan pada kedua sisi. Ketika menggunakan screen film
kombinasi harus dipastikan film dan screen adalah satu unit.
Contohnya, sensitifitas film yang sama akan berbeda bergantung pada
cahaya flourosensi yang dihasilkan oleh screen yang berbeda-beda,
jadi setiap screen yang berbeda memiliki hasil yang berbeda.
b. Materi Anoda
Kuantitas dan kualitas dari emisi radiasi bergantung pada materi focal
spot anoda. Karena tungsten yang digunakan sebagai focal spot pada
setiap tabung diagnosis (tabung sinar-X) data eksposur diagnostic akan
selalu berdasarkan pada materi tungsten tersebut.
c. Bentuk Gelombang Kilovolt
Pada kasus supply yang konstan, tegangan efektif (kVeff) sama dengan

13
(kVp) dengan menggunakan supply tiga phase (6-valve unit) kVeff =
0.95kVp, sedangkan jika menggunakan supply setengah gelombang
atau 4-valve unit kVeff = 0.7kVp . Jadi artinya jumlah rata-rata dari
radiasi bergantung pada nilai paling kecil saat menggunakan setengah
gelombang atau 4-valve unit.
Jika seseorang ingin menggunakan 4-valve unit dengan data eksposur
yang sesuai dengan sebuah unit 3 phase, maka nilai tegangan yang
digunakan harus 10% lebih besar dan nilai mAs harus 20% lebih besar.
Contoh jika pada unit 3 phase menggunakan 80kV dan 60mAs maka,
pada 4-valve unit nilainya berubah menjadi 88kV dan 72mAs.
Perubahan ini diperlukan karena pada 4-valve unit menggunakan
tegangan yang rata-ratanya kecil.
d. Nilai Filter Radiasi
Nilai total radiasi difilter sebelum sampai ke pasien, hal ini
dipengaruhi oleh benda-benda yang berada diantara fokus dan pasien.
Filter ini dapat dibagi dalam :
1) Filter inheren yang berasal dari tabung (~1.5mm Al)
2) Filer tambahan (~1.0-2.0 mm Al)
3) Jumlah dari nilai filter dan benda lain yang memfilter radiasi
e. Efek Space Charge (“Durchgriff”)

2.5 Computed Radiograph


Computed Radiograph atau (CR) yaitu sebuah sistem yang digunakan
untuk mendapatkan gambar pada proses radiografi yang terdiri dari :
1) Kaset (Photostimulable Storage Phospor), yang digunakan untuk
menghasilkan proyeksi gambar (bayangan laten) yang berupa sinyal-
sinyal elektron.

14
a. Gambar plat phospor b. Gambar holder kaset
Gambar 2.6 Kaset CR (Imaging Plate)
Tabel 2.1 Nilai Perubahan Nilai KV Terhadap Ketebalan Dari Objek Untuk
Pemeriksaan Thorax AP Dewasa dengan menggunakan CR.

Ketebalan Thorax Nilai kV Nilai mAs


(cm)

15 68 4

16 69 4

17 70 4

18 71 4

19 72 4

20 73 5

21 74 5

22 75 5

23 76 5

24 77 5

25 78 5

26 79 5

27 80 5

15
28 81 5

29 82 5

30 83 6

31 84 6

32 85 6

33 86 6

34 87 6

35 88 6

36 89 7

37 90 7

38 91 7

39 92 7

40 93 7

Source : BiMC (Bidakara Medical Center) 2009


Pesawat Shimadzu Ezy Rad, output 16kW, 60kHz frequency, 20kVA, 200mA, input
100 V atau 200V
Untuk umur pesawat 1-3 tahun

2) Reader (CR Reader), yang digunakan untuk membaca sinyal-sinyal


elektron yang dihasilkan kaset untuk dijadikan sinyal-sinyal gambar
untuk diolah pada CPU.

16
Panel informasi

Kaset tray

Gambar 2.7 Reader CR

3) CPU (Digital Electronics), yang digunakan untuk memproses sinyal-


sinyal yang dihasilkan reader menjadi bentuk digital.

Data
pasien

Gambar 2.8 CPU CR dan Bar Code Reader

4) Printer, printer dihubungkan pada CPU. Sinyal digital yang


sampai pada CPU disampaikan ke printer lalu printer
memprint film.

17
Gambar 2.9 Printer CR (merupakan laser printer)

2.6 Prinsip Dasar Rangkaian Pengukur Jarak


Sebuah rangkaian pengukur jarak yang memanfaatkan gelombang
ultrasonik secara umum mempunyai diagram blok seperti disajikan pada gambar
2.3. Jarak yang dihasilkan adalah berdasarkan pengiriman pulsa-pulsa gelombang
ultrasonik, yaitu mengukur atau menghitung waktu tempuh yang diperlukan
antara pengiriman pulsa dengan penerimaan pulsa gelombang ultrasonik pantulan
yang kemudian di konversi menjadi jarak.

Transduser
Objek
pemancar

Transmitter

pulsa
Transduser
penerima

Rangkaian
Recivier
kontrol
Jarak = L
pulsa
Waktu Pantulan = T

Rangkaian
counter T
Oscilator sc
frekuensi 2
c = cepat rambat gelombang

Gambar 2.10 Diagram blok sebuah rangkaian pengukur jarak

18
Dari diagram blok diatas dapat dideskripsikan prinsip kerja rangkaian
sebagai berikut, bahwa pada rangkaian kontrol memberikan pulsa basis waktu
pada rangkaian pemancar (transmitter). Pulsa–pulsa pemancar dikirimkan melalui
transduser pemancar menuju objek. Pulsa-pulsa tersebut akan dipantukan oleh
objek dan diterima oleh transduser penerima (recivier). Selain itu, bersamaan
tingginya pulsa pada basis waktu, rangkaian pencacah (counter) mulai
menghitung pulsa–pulsa referensi dari rangkaian oscilator referensi dan berhenti
menghitung saat adanya pulsa yang diterima (pulsa pantulan) oleh transduser
penerima. Pulsa- pulsa referensi yang terhitung akan ditampilkan pada display
dalam digit-digit dan hasil ini adalah konversi dari waktu tempuh menjadi jarak
yang terukur oleh gelombang ultrasonik yang dipantulkan.

2.7 Gelombang ultrasonik1


2.7.1 Ultrasonik sebagai penghasil gelombang
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang suara yang mempunyai
frekuensi 20.000 Hertz dan merupakan gelombang longitudinal. Gelombang suara
dapat timbul akibat terjadinya perubahan mekanik pada gas, zat cair, atau zat
padat yang merambat ke depan dengan kecepatan tertentu.

Seperti semua gelombang, ultrasonik pun mempunyai beberapa parameter


berikut : frekuensi, periode, panjang gelombang, cepat rambat, amplitudo dan
intensitas. Frekuensi, periode, amplitudo dan intensitas merupakan parameter
yang berhubungan dengan sumber gelombang. Sedangkan cepat rambat
gelombang berhubungan dengan zat antara (medium) yang dilaluinya dan panjang
gelombang merupakan yang berhubungan dengan sumber gelombang dan
medium yang dilaluinya.

Frekuensinya dapat didefinisikan sebagai jumlah siklus gelombang penuh


yang terjadi dalam satu detik. Satu siklus gelombang penuh adalah satu
gelombang menuju tinggi dan satu gelombang menuju rendah. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.4 berikut :

1
David halliday, Robert desnik. FISIKA.jilid ketiga. Penerbit erlangga.1978

19
Satu siklus Satu siklus
gelombang penuh gelombang penuh

Tinggi Tinggi

Waktu
Waktu

Rendah Rendah

(a) (b)

Gambar 2.11 Satu siklus gelombang penuh

a) Dalam bentuk sinusoida ;

b) Dalam bentuk persegi

Satuan frekuensi adalah hertz. Satu hertz berarti dalam satu detik terdapat satu
siklus gelombang penuh yang terjadi. Periode adalah waktu yang diperlukan oleh satu
siklus gelombang penuh tersebut, satuan periode adalah detik. Hubungan antara frekuensi
dan periode dapat dituliskan sebagai berikut :

1 1
Periode(T )   (2.3)
frekuensi ( f ) f

1
f  (2.4)
T

Panjang gelombang adalah jarak (panjang spasi) pada satu siklus


gelombang penuh. Satuan yang digunakan adalah meter (m) atau centimeter (cm).
Cepat rambat gelombang adalah kecepatan perambatan gelombang pada suatu
medium. Antara panjang gelombang (λ) dan cepat rambat (c) didapat hubungan
bahwa panjang gelombang adalah cepat rambat dibagi dengan frekuensi (f).

c
 (2.5)
f

  c T (2.6)

dimana : C = 344 m/second

20
(a) satu
Tinggi
Waktu

Periode 0,2 second


(b)
Tinggi Waktu

Panjang gelombang 2 meter

(c) Tinggi Waktu

Gambar 2.12 Parameter Gelombang

(a) Frekuensi = 5 Hertz; (b) Periode = 0,2 detik; (c) Panjang Gelombang (misal) = 2
meter

Gelombang ultrasonik yang melewati berbagai medium zat mempunyai


kecepatan yang berbeda, seperti diperlihatkan pada tabel 2.3 di bawah ini.

Tabel 2.3 Cepat rambat gelombang suara dalam berbagai Zat2

Material (Zat) Masa Jenis Kecepatan / rambat rambat(c) Z (ρ.c)


3
(ρ) Kg/m
Pada 20oC m/second Kg/m2
second

Udara 1,29 331 340

CO2 (0o C) 1,98 258 -

H2 (0o C) 8,99.10-2 1.270 -

Alkohol 791 1.210 -

Benzine 810 1.166 -

Air 1.000 1.480 -

Aluminium 2.700 5.100 -

Tembaga 8.200 3.560 -

2
dr.J.F. Gabrid. Fisika kedokteran. Departemen fisika UUD. Bali. 1995. hal 66

21
Glas 2.500 5.600 -

Besi 7.900 5.130 -

Darah (37o C) 1.056 1.570 -

Otak 1.020 1.530 1,56. 106

Otot 1.040 1.580 1,64. 106

Lemak 920 1.450 1,33. 106

Tulang 1.900 4.040 7,68.106

2.7.2 Sifat-sifat gelombang ultrasonik3


Sama seperti gelombnag suara lainnya, gelombang ultrasonik mempunyai
sifat dipantulkann, diteruskan ataupun diserap oleh benda yang dikenainya. Bila
mengenai permukaan benda yang keras, gelombang ultrasonik akan dipantulkan.
Bila permukaanya lunak maka gelombang ultrasonik akan diserap (lihat gambar
2.7). Suara memerlukan zat antara (medium) untuk merambat. Zat tersebut dapat
berupa zat padat, zat cair maupun gas. Suara juga mempunyai kecepatan yang
berbeda dalam perambatan tersebut.

Medium I Medium II

Ao
T Keterangan

Ao : gelombang US mula-mula

R R : gelombnag US yang dipantulkan

Gambar 2.13 Sifat Gelombang Suara

Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis memanfaatkan sifat gelombang ultrasonik
yang dapat memantul apabila mengenai sebuah benda seperti diperlihatkan pada gambar
3
dr.J.F. Gabrid. Fisika kedokteran. Departemen fisika UUD. Bali. 1995. hal 70

22
2.6. Jarak yang didapat adalah konversi dari waktu tempuh yang diperlukan oleh
gelombang ultrasonik antara pemancar (Transmitter) dan penerima (recivier). Jadi waktu
tersebut dihitung dan ditampilkan dalam besaran jarak. Rumus matematis yang
digunakan untuk menghitung jarak tersebut adalah :

T
S c (2.7)
2

S adalah jarak dalam centimeter (cm), c cepat rambat gelombang suara


dalam udara (m/second) dan T adalah waktu tempuh gelombang suara dalam detik
(Second). Pembagi dua digunakan karena bila kita meletakkan pemancar dan
penerima pada satu tempat yang sejajar, maka jarak adalah waktu yang ditempuh
dibagi dua. Hal ini karena waktu pengiriman dan waktu pantulan adalah sama.

Medium I
Medium II
Transmitter t1

Ao
T  (t1  t 2)
R

Recivier
t2 Keterangan :
S
T : Waktu tempuh (t1  t 2)
T
S  c. L : Jarak tempuh
2

Gambar 2.14 Konversi waktu menjadi jarak

2.8 Sensor Ping 4


Sensor ping merupakan sensor pengukur jarak sebuah benda yang cukup
presisi. Pengukurannya dilakukan dengan pengiriman gelombang ultrasonik
dengan frekuensi 40KHz dan kecepatan 334 m/s kemudian sensor ping akan
menerima pantulan kembali. Kemampuan pengukuran jarak pada sensor ping
adalah 3cm - 300 cm dengan waktu maksimum 18,5 ms.

4
www.google.com/ Apilikasi Note AN73. hal 1-6

23
PING ))) ======================== |BENDA|
t

sesuai rumus fisika


S  Vxt (2.17)
namun waktu yang dihitung adalah waktu saat gelombang ultrasonik memancarkan pulsa
dan menerima pulsa sehingga jarak yang ditempuh adalah dua kali. sehingga untuk
menghitung jarak adalah :
S  Vx(0,5T ) (2.18)

Gambar 2.15 Sensor Ping

Pada sensor ping hanya memiliki tiga buah kaki, yaitu Groud, VCC, dan
SIGNAL. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.10. SIGNAL ini
berfungsi sebagai pengatur serta penerima sensor yang akan ditangkap oleh PIR.
Mengirim sinyal kasih tegangan kotak. 0 1 0 menerima sinyal pantul maka ping
akan jadi 0 .

Gambar 2.16 Diagram waktu sensor ping

Dari grafik diatas kita dapat meliht prinsip kerja dari sensor ping. Host
(avr) merupakan sinyal bergaris lebih tebal,

24
algoritmanya
aktifkan PING
||
Delay t brust (PING siap-siap send signal)
||
aktifkan timer pada host. SIGNAL akan high
||
tunggu sinyal pantul.
||
matikan timer, pantulan diterima SIGNAL = 0

2.8.1 Pengoperasian sensor ping


Sensor ping mendeteksi jarak objek dengan cara memancarkan gelombang
ultrasonik (40 KHz) selama 200µs kemudian mendeteksi pantulannya. Sensor
ping memancarkan gelombang ultrasonik sesuai dengan kontrol dari
mikrokontroller pengendali. Gelombang ultrasonik ini melalui udara dengan
kecepatan 344 m/s. Mengenai objek dan memantul kembali ke sensor. Sensor
ping mengeluarkan pulsa output high pada pin SIG setelah memancarkan
gelombang ultrasonik dan setelah gelombang pantulan terdeteksi sensor ping akan
membuat output low pada pin SIG. Lebar pulsa high akan sesuai dengan lama
waktu tempuh gelombang ultrasonik untuk 2x ukur dengan objek. Maka jarak
yang diukur adalah :

344m / s  T
S (2.19)
2

344m / s  Tres  Counter


S
2

S  172m / s  Tres  Counter

25
Gambar 2.17 Ilustrasi Kerja Sensor Ping5

Sensor ping ini hanya membutuhkan satu pin port mikrokontroller dan
tidak memerlukan komponen tambahan. Karena satu pin digunakan sebagai input
dan output, maka harus menentukan saat yang tepat untuk mengatur port
mikrokontroller sebagai input (high) setelah mengeluarkan pulsa trigger ke ping.
Bila terlalu cepat atau terlalu lambat mengatur port sebagai input maka akan
menyebabkan kesalahan pengukuran jarak.

2.8.2 Sepesifikasi sensor ping)

Spesifikasi modul ping, Gambar 2.17

1. Tegangan suplai : 5 vdc

2. Konsumsi arus : 30mA typ 35 mA max

3. Jarak : 2 cm sampai 3 m (0.8 in to 3.3 yrds)

4. Input trigger : Positif TTL pulse, 2 μs min, 5 μs typ

5. Echo pulse : Positif TTL pulse, 115 μs to 18.5 mS

6. Echo Hold-off : 750 μs from fall of trigger pulse

7. Burst Frequency : 40 kHz for 200 μs

8. Burst Indikator LED shows sensor activity

9. Delay before next measurement -200 μs

5
www.google.com / Aplikation Note AN-07. hal 2

26
10. Ukuran : 22 mm H x 46 mm W x 16 mm

D (0.84 in x 1.8 in x 0.6 in )

Gambar 2.18 Sepesifikasi sensor ping

2.9 Mikrokontroller ATMega85356


Mikrokontroller,secara harfiah berarti pengendali berukuran mikro.
Sekilas mikrokontroller hampir sama dengan mikroprosesor, namun
mikrocontroller memiliki banyak komponen yang terintregrasi didalamnya,
misalnya timer/counter atau ADC, sedangkan pada mikroprosesor komponen
tersebut tidak terintregrasi dan pada umumnya mikrokontroller banyak kita
jumpai pada komputer dimana tugasnya adalah memproses data dari berbagai
sumber. Mikrokontroller lebih sesuai untuk mngerjakan tugas-tugas yang spesifik.

Banyak produsen yang mengembangkan mikrokontroller diantaranya


adalah ATMEL dengan mikrokontroller generasi AVR (Alf and Vegard’s Risc
Processor).

6
Lingga wardana. Mikrokontroler AVR seri ATMega8535.penerbit Andi Yogyakarta.2006.hal 2

27
Gambar 2.19 Blok diagram fungsional ATMega8535

2.9.1 Fitur ATMega8535


Kapabilitas detail dari ATMega8535 adalah sebagai berikut :

1. Sistem mikrokontroller 8 bit berbasis RISC dengan kecepatan maksimal


16 Mhz.

2. Kapabilitas memori flash 8kb, SRAM sebesar 512 byte dan EEPROM
(Elektrical Eraseble Programmble Read Only memory) sebesar 512 byte.

3. ADC internal dengan fidelitas 10 bit sebanyak 8 channel.

4. portal komunikasi serial (USART) dengan kecepatan maksimal 2,5


Mbps.

5. Enam pilihan mode sleep menghemat penggunaan daya listrik.

28
2.9.2 Konfigurasi pin ATMega8535
Adapun konfigurasi pin mikrokontroller ATMega8535 dapat dilihat pada
gambar 2.14 dibawah ini :

Gambar 2.20 Gambar konfigurasi pin ATMega8535

Konfigurasi pin ATMega8535 dari gambar diatas dapat dijelaskan secara


fungsional sebagai berikut :

1. Pin 1-8 merupakan pin I/O port B (PB0..PB7) dua arah dan pin fungsi
khusus, yaitu timer/counter, komparator analog, dan SPI.
2. Pin 9 RESET merupakan pin yang digunakan untuk mereset
mikrokontroller.
3. Pin 10 merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan VCC.
4. Pin 11 merupakan pin ground.
5. Pin 12 dan 13 XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock
eksternal.
6. Pin 14-21 merupakan pin I/O port D (PD0..PD7) dua arah dan pin
fungsi khusus yaitu comparator analog, interupsi eksternal, dan
komunikasi serial.
7. Pin 22-29 merupakan pin I/O port C (PC0..PC7) dua arah dan pin
fungsi khusus yaitu TWI, comparator analog, dan timer oscilator.
8. Pin 30 AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC.
9. Pin 31 merupakan pin ground.
10. Pin 32 AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.

29
11. Pin 33-40 merupakan pin I/O port A (PA0..PA7) dua arah dan pin
masukan ADC.

2.9.3 Peta memori ATMega8535


AVR ATMega8535 memiliki ruang pengalamatan memori data dan
memori program yang terpisah.Memori data terbagi menjadi 3 bagian yaitu 32
register umum, 64 buah register I/O dan 512. Memori data terbagi menjadi 3
bagian yaitu 32 register umum, 64 buah register I/O dan 512 byte SRAM internal.

Register keperluan umum menempati space data pada alamat terbawah


yatiu $00 sampai $1F. Sementara itu, register khusus untuk menangani I/O dan
kontrol terhadap mikrokontroler menempati 64 alamat berikutnya yaitu mulai dari
$20 sampai $5F. Register tersebut merupakan register yang khusus digunakan
untuk mengatur fungsi terhadap berbagai peripheral mikrokontroler seperti
kontrol register, timer/counter, fungsi – fungsi I/O dan sebagainya.

Alamat memori berikutnya digunakan untuk SRAM 512 byte yaitu pada
lokasi $60 sampai dengan $25F. Konfigurasi memori data ditunjukkan pada tabel
2.4 diawah ini :

Tabel 2.4 Konfigurasi Memori Data AVR ATMega8535

Register Umum Alamat SRAM Internal

R0 $0000 $0060

R1 $0001 $0061

… … …

R30 $001E $025E

R31 $001F $025F

Register I/O Alamat

$00 $0020

$01 $0021

… …

$3E $005E

$3F $005F

30
2.10 Liquid Cristal Display (LCD)7
LCD adalah sebuah display dot-matrix yang difungsikan untuk
menampilkan tulisan berupa angka atau huruf sesuai dengan yang diinginkan
(sesuai dengan program yang digunakan untuk mengontrolnya). Pada tugas akhir
ini penulis menggunkan LCD dengan karakter 2 x 16. untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.15 dibawah ini :

Gambar 2.21 Konfigurasi Pin LCD8

LCD sebagaimana output yang dapat menampilkan tulisan sehingga lebih


mudah mengerti, dibanding jika digunakan LED saja. Dalam modul ini
menggunakan LCD karakter untuk menampilkan tulisan atau karakter saja.

Tampilan LCD terdiri dari dua bagian, yakni bagian panel LCD yang terdiri dari
banyak ”titik”. LCD dan sebuah mikrokontroller yang menempel di panel dan berfungsi
mengatur ”titik-titik” tadi menjadi huruf atau angka yang terbaca.

Huruf atau angka yang akan ditampilkan dikirim ke LCD dalam bentuk kode
ASCII, kode ASCII ini diterima dan diolah oleh mikrokontroller di dalam LCD menjadi
”titik-titik” LCD yang terbaca sebagai huruf atau angka. Dengan demikian tugas
mikrokontroller pemakai tampilan LCD hanyalah mengirimkan kode-kode ASCII untuk
tampilan.

7
HITACHI. HD44780U(LCD-II). Hal 162
8
www.datasheet4U.com

31
Spesifikasi LCD secara umum :

1. Jumlah baris
2. Jumlah karakter per baris
3. Tegangan kerja

Tabel 2.5 Pin pada fungsi LCD9

pin simbol fungsi

1 VSS Ground

2 VDD +5V

3 V0 Pengaturan kontras layer

4 RS H/L register select

5 R/W H/L Read/write

6 E H/L Enable

7 DB0 Data bus line

8 DB1 Data bus line

9 DB2 Data bus line

10 DB3 Data bus line

11 DB4 Data bus line

12 DB5 Data bus line

13 DB6 Data bus line

14 DB7 Data bus line

15 A +4,2 V untuk BKL

16 K PS untuk BKL (0 V)

9
www.datasheet 4U.com

32
Cara menjalankan LCD :

Langkah 1 : Inisialisasi LCD

Langkah 2 : Tentukan jumlah karakter pada baris dan kolom

Langkah 3 : Tuliskan teks atau variable dan tentukan lokasi tampilannya


pada LCD, sesuai dengan perintah penulisannya pada program.

2.11 Dioda10
Dioda adalah piranti elektronik yang terbuat dari bahan semikonduktor
dimana dioda diartikan ”di” adalah dua dan ”oda” berasal dari elektroda. Jadi
dioda adalah gabungan dari dua elektroda yaitu tipe ”P” (anoda) dan elektroda
”N” (katoda) sedangkan anak panah menunjukan arah arus listrik dioda. Unuk
lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar 2.22 dibawah ini :

Gambar 2.22 Simbol Dioda

Apabila dioda diberikan tegangan DC dengan polaritas tegangan positif


pada posisi sebelah anoda (P) dan polaritas tegangan negatif pada posisi sebelah
katoda (N). Hubungan ini disebut bias maju (forward bias) .
Apabila polaritas itu dibalik yaitu tegangan positif dihubungkan kesisi
katoda (N) dan polaritas negatif pada posisi anoda (P), hubungan ini biasa disebut
bias mundur (reverse bias) seperti terlihat pada gambar 2.23b.
Pada dioda diberikan tegangan positif atau bias maju, dioda baru bekerja
apabila tegangan ini melampaui potensial bariernya. Jika tegangan melampaui
tegangan bariernya maka akan terjadi penambahan arus. Diatas potensial
bariernya penambahan tegangan yang kecil menghasilkan penambahan arus yang

10
Albert paul malvino, Ph.D, Prof, M. Barmawi, Ph.D., M.O.Tjia, Ph.D., prinsip-prinsip
elektronika dasar, penerbit erlangga, edisi ketiga, jilid 1, 1996. hal 19

33
besar. Tegangan dimana arus bariernya mulai bertambah secara cepat disebut
tegangan offset. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.23 dibawah ini:

. .

DIODE DIODE

a BATTERY b BATTERY

Gambar 2.23 Dioda Bias Maju Dan Bias Mundur


a. Dioda Dibias Maju b. Dioda Dibias Mundur

Tegangan

Arus bocor Daerah forward


-BV

Tegangan lutut = 0,7 V


Daerah reverse

Gambar 2.23 Karakteristik Dioda


Pada suhu kamar potensial barier untuk dioda silikon adalah sebesar 0,7
volt sedangkan untuk dioda germanium adalah sebesar 0,3 Volt. Jika dioda
diberikan tegangan mundur diperoleh arus balik atau arus bocor yang sangat kecil.
Apabila tegangan diperbesar, suatu saat tegangan dioda akan mencapai tegangan
break down. Tegangan break down akan menyebabkan pertambahan arus balik
yang bisa merusak dioda. Dimana tegangan break down dari dioda yang
digunakan pada rangkaian sebesar 100 V.

34

Anda mungkin juga menyukai