Bab Ii PDF
Bab Ii PDF
TEORI DASAR
2.1 Pesawat Rontgen Konvensional
2.1.1 Wiring diagram pesawat rontgen konvensional
Keterangan gambar :
4
2.1.2 Cara kerja rangkaian pesawat rontgen konvensional
N1 : E1 = N2 : E2 (2.1)
Sehingga nilai tegangan sekunder pada tiap lilitan diketahui dengan jelas
nominalnya. Dengan demikian, pendistribusian tegangan ke rangkaian lain pada
pesawat dapat dilakukan dengan mudah. Pengaturan nilai KV dilakukan dengan
memutar KV selector sesuai dengan nilai KV yang diinginkan. Pada sekunder
auto trafo terdapat taptap yang memiliki jangkauan tegangan yang dibutuhkan.
Besarnya nilai tegangan pada setiap lilitan didapatkan dari perbandingan
transformasi yang telah dijelaskan diatas. Teganan ini yang akan menjadi
tegangan primer pada HTT. Nilai mA dipilih dengan memilih serangkaian
tahanan pada mA control. mA control ini dihubung seri dengan trafo filamen
sehingga besarnya arus pemanasan dapat diatur. Tahanan mA control
mengakibatkan terjadinya Voltage Drop sehingga tegangan primer trafo Filament
akan lebih rendah dan sekundernya akan turun. Dengan merubah-rubah atau
mengatur tahanan atur maka besarnya arus yang akan mengalir akan berubah.
Tahanan ini mempunyai tap-tap harga mA tertentu. Lalu arus akan diteruskan
menuju stand by resistor, yang berfungsi sebagai pembatas arus filament sebelum
terjadi ekspos, agar pada filament terjadi pemanasan awal dengan temperature
5
rendah, kemudian Filament Limiter akan membatasi arus yang mengalir ke
filament.
READY
Pada saat tombol ditekan ½, maka yang terjadi adalah pemanasan filamen
berpindah dari pre heating ke pemanasan setting, motor anoda putar berputar dan
rem magnet listrik bekerja. Pada filament tabung rontgen akan terjadi peningkatan
panas sesuai dengan besar mA yang di atur sehingga akan menghasilkan elektron
bebas dan akan membentuk awan elektron.
EXSPOSE
Timer bekerja menghubungkan antara rangkaian Power Supply dan primer
HTT. HTT mendapatkan tegangan, sehingga terjadi tegangan tinggi pada
sekundernya. maka Anoda dan Katoda akan mendapatkan beda potensial.
Kemudian elektron akan ditarik target, pada target ini terdapat partikel-partikel
atom. Partikel-partikel tersebut akan ditabrak oleh elektron yang bergerak cepat
sehingga akan terjadi kekurangan elektron yang akan meninggalkan hole. Hole-
hole tersebut akan diisi oleh elektron dibelakangnya sehingga seperti lari estapet.
Apabila elektron menumbuk target sampai ke inti atom maka akan terjadi
Breamstahlung. Bila interaksi elektron terhadap partikel target hanya sampai di
kulit K, maka akan terjadi peristiwa K-characteristic. Dan menghasilkan sinar-X.
6
fluoroskopi, radiografi, dan angiografi. Sinar-X dapat digunakan untuk terapi
maupun diagnostik karena sinar-X mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
a. Penetrating Effect
Bila sinar-X mengenai bahan maka sinar tersebut akan diserap oleh bahan
tersebut. Banyak sinar yang terserap tergantung dari tebal tipisnya bahan
dan kerapatannya.
b. Biologi Effect
Bila sinar-X mengenai tubuh maka akan merusak, mematikan sel-sel yang
hidup dengan dosis radiasi tertentu. Akibat radiasi tersebut maka akan
menyebabkan kemandulan/metabolism tidak linear.
c. Ionisation Effect
Bila sinar-X dikenakan pada bahan,maka pada bahan tersebut akan terjadi
ionisasi yaitu peristiwa di mana ion-ion negatif akan terlepas dari ikatan
atomnya.
d. Flourocent Effect
e. Fotografi Effect
Bila sinar-X mengenai film, maka pada film akan terjadi bayangan laten,
bila kemudian film tersebut diproses di kamar gelap maka akan terjadi
bayangan bisa dilihat.
2.3 Radiografi
Radiografi konvensional adalah proses pemproduksian gambar sinar-X
pada film dengan teknik langsung. Teknik radiografi konvensional ini merupakan
aplikasi sinar-X yang paling pertama kali dilakukan sejak sinar-X ditemukan oleh
Wilhelm Conrad Rontgen dan merupakan teknik pencitraan medis yang paling
sering digunakan dalam beberapa keperluan diagnosa dan dokumentasi. Diagnosa
7
yang biasa menggunakan teknik radiografi konvensional adalah pemeriksaan
thorax dan ortopediks untuk pemeriksaan tulang atau persendian yang mengalami
fraktur ataupun arthrosis.
8
Gambar 2.4 Hasil radiografi pada bagian yang berbeda
Karena sinar-X bergerak pada garis lurus, maka gambar yang akan
tertangkap di belakang tubuh pasien akan selalu ditampilkan pada bentuk yang
diperbesar. Derajat pembesaran gambar tergantung pada jarak antara sumber
radiasi dengan tubuh pasien, di lain pihak, dapat dipengaruhi juga dari jarak
antara tubuh pasien dengan film radiografi.
9
Ada beberapa macam pengaturan yang harus diatur sedemikian rupa agar
dapat menghasilkan hasil gambar radiografi yang berkualitas tinggi, yaitu :
tegangan tinggi tabung (KV), arus tabung (mA), dan waktu periode ekspose
berlangsung (ms). Adapun pengaturan besaran-besaran ini berbeda-beda
berdasarkan jenis jaringan yang akan diekspose, umur dari pasien, dan ketebalan
tubuh pasien (gemuk atau kurus).
Ketiga parameter ekspose (kV, mA, dan ms) diatur secara manual oleh
operator/radiografer. Tapi generator dapat memblok beberapa
kombinasi dari pengaturan parameter yang diatur oleh
operator/radiografer untuk mencegah beban yang terlalu tinggi dari
tabung rontgen. Proses ekspose akan terhenti secara otomatis ketika
mencapai mAs yang telah dihitung dari pengaturan parameter tadi.
10
d. Teknik pengaturan 0 poin
Pada teknik pengaturan ini, tidak parameter yang perlu diatur oleh
operator/radiografer. Seluruh parameter akan dihitung secara otomatis,
dimana kV akan dihitung oleh detektor pengukur ketebalan pasien dan
mAs akan diatur oleh Iontomat. Proses ekspose akan terhenti secara
otomatis oleh Iontomat pada saat dosis yang diperlukan telah tercapai.
Teknik ini hanya dapat di pakai di peralatan yang bisa berfungsi
sebagai fluoroskopi sistem.
Semua parameter ekspose ini dapat diatur secara manual ataupun otomatis.
Nilai dari arus tabung dan waktu penyinaran radiasi dinyatakan dalam
milliampere-seconds, atau yang sering disingkat dengan mAs merupakan suatu
parameter yang sangat penting. Nilai ini dan tegangan tabung (biasa dinyatakan
dengan kV) membentuk suatu faktor elektrik yang sangat menentukan proses
eksposure dari foto radiografi.
11
Kuantitas/jumlah radiasi yang diberikan sangat mempengaruhi film untuk
mendapatkan gambar radiografi dengan densitas yang baik. Jelasnya, kuantitas
dari radiasi seharusnya hampir selalu sama, terlepas dari objek yang diperiksa, hal
diwakili oleh radiasi primer yang keluar melalui objek. Radiasi yang keluar ini
terdiri dari apa yang tersisa pada radiasi input primer, lalu semakin kuat dengan
radiasi sekunder yang terbentuk pada objek. Untuk mendapatkan kuantitas yang
pasti dari radiasi yang keluar dari objek, kuantitas yang jauh lebih besar akan
banyak terserap pada objek yang lebih tebal dibandingkan pada objek yang tipis.
Dari objek ke objek, kuantitas dari energi sinar-X yang meninggalkan tabung,
akan berbeda untuk menghasilkan gambar radiografi yang baik. Kuantitas ini
dapat dinyatakan dengan tegangan tinggi, arus, dan waktu ekpos; sebuah
kombinasi yang tepat dari besar-besaran ini dinamakan dengan parameter ekspos.
12
semua kisaran tegangan tabung, maka nilai eksposure (E) dipengaruhi oleh 2
faktor, yaitu : daya (P) dan nilai mAs, yang harus sesuai dengan rumus :
dimana P = 5 untuk tegangan di bawah 100 kV, p = 3 untuk kisaran tegangan 100
– 125 kV, dan p = 3 untuk tegangan di atas 125 kV.
Nilai eksposuere ini harus selalu konstant pada seluruh kondisi eksposure
apapun, hasil tegangan dan mAs harus benar-benar dipilih dengan baik agar
perbandingan kedua nilai ini dapat menghasilkan sebuah nilai ekspos yang
konstan sesuai dengan rumus di atas tadi.
13
(kVp) dengan menggunakan supply tiga phase (6-valve unit) kVeff =
0.95kVp, sedangkan jika menggunakan supply setengah gelombang
atau 4-valve unit kVeff = 0.7kVp . Jadi artinya jumlah rata-rata dari
radiasi bergantung pada nilai paling kecil saat menggunakan setengah
gelombang atau 4-valve unit.
Jika seseorang ingin menggunakan 4-valve unit dengan data eksposur
yang sesuai dengan sebuah unit 3 phase, maka nilai tegangan yang
digunakan harus 10% lebih besar dan nilai mAs harus 20% lebih besar.
Contoh jika pada unit 3 phase menggunakan 80kV dan 60mAs maka,
pada 4-valve unit nilainya berubah menjadi 88kV dan 72mAs.
Perubahan ini diperlukan karena pada 4-valve unit menggunakan
tegangan yang rata-ratanya kecil.
d. Nilai Filter Radiasi
Nilai total radiasi difilter sebelum sampai ke pasien, hal ini
dipengaruhi oleh benda-benda yang berada diantara fokus dan pasien.
Filter ini dapat dibagi dalam :
1) Filter inheren yang berasal dari tabung (~1.5mm Al)
2) Filer tambahan (~1.0-2.0 mm Al)
3) Jumlah dari nilai filter dan benda lain yang memfilter radiasi
e. Efek Space Charge (“Durchgriff”)
14
a. Gambar plat phospor b. Gambar holder kaset
Gambar 2.6 Kaset CR (Imaging Plate)
Tabel 2.1 Nilai Perubahan Nilai KV Terhadap Ketebalan Dari Objek Untuk
Pemeriksaan Thorax AP Dewasa dengan menggunakan CR.
15 68 4
16 69 4
17 70 4
18 71 4
19 72 4
20 73 5
21 74 5
22 75 5
23 76 5
24 77 5
25 78 5
26 79 5
27 80 5
15
28 81 5
29 82 5
30 83 6
31 84 6
32 85 6
33 86 6
34 87 6
35 88 6
36 89 7
37 90 7
38 91 7
39 92 7
40 93 7
16
Panel informasi
Kaset tray
Data
pasien
17
Gambar 2.9 Printer CR (merupakan laser printer)
Transduser
Objek
pemancar
Transmitter
pulsa
Transduser
penerima
Rangkaian
Recivier
kontrol
Jarak = L
pulsa
Waktu Pantulan = T
Rangkaian
counter T
Oscilator sc
frekuensi 2
c = cepat rambat gelombang
18
Dari diagram blok diatas dapat dideskripsikan prinsip kerja rangkaian
sebagai berikut, bahwa pada rangkaian kontrol memberikan pulsa basis waktu
pada rangkaian pemancar (transmitter). Pulsa–pulsa pemancar dikirimkan melalui
transduser pemancar menuju objek. Pulsa-pulsa tersebut akan dipantukan oleh
objek dan diterima oleh transduser penerima (recivier). Selain itu, bersamaan
tingginya pulsa pada basis waktu, rangkaian pencacah (counter) mulai
menghitung pulsa–pulsa referensi dari rangkaian oscilator referensi dan berhenti
menghitung saat adanya pulsa yang diterima (pulsa pantulan) oleh transduser
penerima. Pulsa- pulsa referensi yang terhitung akan ditampilkan pada display
dalam digit-digit dan hasil ini adalah konversi dari waktu tempuh menjadi jarak
yang terukur oleh gelombang ultrasonik yang dipantulkan.
1
David halliday, Robert desnik. FISIKA.jilid ketiga. Penerbit erlangga.1978
19
Satu siklus Satu siklus
gelombang penuh gelombang penuh
Tinggi Tinggi
Waktu
Waktu
Rendah Rendah
(a) (b)
Satuan frekuensi adalah hertz. Satu hertz berarti dalam satu detik terdapat satu
siklus gelombang penuh yang terjadi. Periode adalah waktu yang diperlukan oleh satu
siklus gelombang penuh tersebut, satuan periode adalah detik. Hubungan antara frekuensi
dan periode dapat dituliskan sebagai berikut :
1 1
Periode(T ) (2.3)
frekuensi ( f ) f
1
f (2.4)
T
c
(2.5)
f
c T (2.6)
20
(a) satu
Tinggi
Waktu
(a) Frekuensi = 5 Hertz; (b) Periode = 0,2 detik; (c) Panjang Gelombang (misal) = 2
meter
2
dr.J.F. Gabrid. Fisika kedokteran. Departemen fisika UUD. Bali. 1995. hal 66
21
Glas 2.500 5.600 -
Medium I Medium II
Ao
T Keterangan
Ao : gelombang US mula-mula
Dalam Karya Tulis Ilmiah ini penulis memanfaatkan sifat gelombang ultrasonik
yang dapat memantul apabila mengenai sebuah benda seperti diperlihatkan pada gambar
3
dr.J.F. Gabrid. Fisika kedokteran. Departemen fisika UUD. Bali. 1995. hal 70
22
2.6. Jarak yang didapat adalah konversi dari waktu tempuh yang diperlukan oleh
gelombang ultrasonik antara pemancar (Transmitter) dan penerima (recivier). Jadi waktu
tersebut dihitung dan ditampilkan dalam besaran jarak. Rumus matematis yang
digunakan untuk menghitung jarak tersebut adalah :
T
S c (2.7)
2
Medium I
Medium II
Transmitter t1
Ao
T (t1 t 2)
R
Recivier
t2 Keterangan :
S
T : Waktu tempuh (t1 t 2)
T
S c. L : Jarak tempuh
2
4
www.google.com/ Apilikasi Note AN73. hal 1-6
23
PING ))) ======================== |BENDA|
t
Pada sensor ping hanya memiliki tiga buah kaki, yaitu Groud, VCC, dan
SIGNAL. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.10. SIGNAL ini
berfungsi sebagai pengatur serta penerima sensor yang akan ditangkap oleh PIR.
Mengirim sinyal kasih tegangan kotak. 0 1 0 menerima sinyal pantul maka ping
akan jadi 0 .
Dari grafik diatas kita dapat meliht prinsip kerja dari sensor ping. Host
(avr) merupakan sinyal bergaris lebih tebal,
24
algoritmanya
aktifkan PING
||
Delay t brust (PING siap-siap send signal)
||
aktifkan timer pada host. SIGNAL akan high
||
tunggu sinyal pantul.
||
matikan timer, pantulan diterima SIGNAL = 0
344m / s T
S (2.19)
2
25
Gambar 2.17 Ilustrasi Kerja Sensor Ping5
Sensor ping ini hanya membutuhkan satu pin port mikrokontroller dan
tidak memerlukan komponen tambahan. Karena satu pin digunakan sebagai input
dan output, maka harus menentukan saat yang tepat untuk mengatur port
mikrokontroller sebagai input (high) setelah mengeluarkan pulsa trigger ke ping.
Bila terlalu cepat atau terlalu lambat mengatur port sebagai input maka akan
menyebabkan kesalahan pengukuran jarak.
5
www.google.com / Aplikation Note AN-07. hal 2
26
10. Ukuran : 22 mm H x 46 mm W x 16 mm
6
Lingga wardana. Mikrokontroler AVR seri ATMega8535.penerbit Andi Yogyakarta.2006.hal 2
27
Gambar 2.19 Blok diagram fungsional ATMega8535
2. Kapabilitas memori flash 8kb, SRAM sebesar 512 byte dan EEPROM
(Elektrical Eraseble Programmble Read Only memory) sebesar 512 byte.
28
2.9.2 Konfigurasi pin ATMega8535
Adapun konfigurasi pin mikrokontroller ATMega8535 dapat dilihat pada
gambar 2.14 dibawah ini :
1. Pin 1-8 merupakan pin I/O port B (PB0..PB7) dua arah dan pin fungsi
khusus, yaitu timer/counter, komparator analog, dan SPI.
2. Pin 9 RESET merupakan pin yang digunakan untuk mereset
mikrokontroller.
3. Pin 10 merupakan pin yang berfungsi sebagai pin masukan VCC.
4. Pin 11 merupakan pin ground.
5. Pin 12 dan 13 XTAL1 dan XTAL2 merupakan pin masukan clock
eksternal.
6. Pin 14-21 merupakan pin I/O port D (PD0..PD7) dua arah dan pin
fungsi khusus yaitu comparator analog, interupsi eksternal, dan
komunikasi serial.
7. Pin 22-29 merupakan pin I/O port C (PC0..PC7) dua arah dan pin
fungsi khusus yaitu TWI, comparator analog, dan timer oscilator.
8. Pin 30 AVCC merupakan pin masukan tegangan untuk ADC.
9. Pin 31 merupakan pin ground.
10. Pin 32 AREF merupakan pin masukan tegangan referensi ADC.
29
11. Pin 33-40 merupakan pin I/O port A (PA0..PA7) dua arah dan pin
masukan ADC.
Alamat memori berikutnya digunakan untuk SRAM 512 byte yaitu pada
lokasi $60 sampai dengan $25F. Konfigurasi memori data ditunjukkan pada tabel
2.4 diawah ini :
R0 $0000 $0060
R1 $0001 $0061
… … …
$00 $0020
$01 $0021
… …
$3E $005E
$3F $005F
30
2.10 Liquid Cristal Display (LCD)7
LCD adalah sebuah display dot-matrix yang difungsikan untuk
menampilkan tulisan berupa angka atau huruf sesuai dengan yang diinginkan
(sesuai dengan program yang digunakan untuk mengontrolnya). Pada tugas akhir
ini penulis menggunkan LCD dengan karakter 2 x 16. untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.15 dibawah ini :
Tampilan LCD terdiri dari dua bagian, yakni bagian panel LCD yang terdiri dari
banyak ”titik”. LCD dan sebuah mikrokontroller yang menempel di panel dan berfungsi
mengatur ”titik-titik” tadi menjadi huruf atau angka yang terbaca.
Huruf atau angka yang akan ditampilkan dikirim ke LCD dalam bentuk kode
ASCII, kode ASCII ini diterima dan diolah oleh mikrokontroller di dalam LCD menjadi
”titik-titik” LCD yang terbaca sebagai huruf atau angka. Dengan demikian tugas
mikrokontroller pemakai tampilan LCD hanyalah mengirimkan kode-kode ASCII untuk
tampilan.
7
HITACHI. HD44780U(LCD-II). Hal 162
8
www.datasheet4U.com
31
Spesifikasi LCD secara umum :
1. Jumlah baris
2. Jumlah karakter per baris
3. Tegangan kerja
1 VSS Ground
2 VDD +5V
6 E H/L Enable
16 K PS untuk BKL (0 V)
9
www.datasheet 4U.com
32
Cara menjalankan LCD :
2.11 Dioda10
Dioda adalah piranti elektronik yang terbuat dari bahan semikonduktor
dimana dioda diartikan ”di” adalah dua dan ”oda” berasal dari elektroda. Jadi
dioda adalah gabungan dari dua elektroda yaitu tipe ”P” (anoda) dan elektroda
”N” (katoda) sedangkan anak panah menunjukan arah arus listrik dioda. Unuk
lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar 2.22 dibawah ini :
10
Albert paul malvino, Ph.D, Prof, M. Barmawi, Ph.D., M.O.Tjia, Ph.D., prinsip-prinsip
elektronika dasar, penerbit erlangga, edisi ketiga, jilid 1, 1996. hal 19
33
besar. Tegangan dimana arus bariernya mulai bertambah secara cepat disebut
tegangan offset. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.23 dibawah ini:
. .
DIODE DIODE
a BATTERY b BATTERY
Tegangan
34