TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI ANKLE JOINT
DENGAN DIAGNOSA DISLOKASI
KLINIK RADIOLOGI PRODITA GARUT
Artikel Ilmiah
Disusun dalam rangka memenuhi tugas
Prakter Kerja lapangan Osteologi
Disusun oleh :
Nesya Rivansyah Hilmi
1910505018
PROGRAM STUDI DIPLOMA III RADIOLOGI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2020
1
Ankle joint inspection technique radiography with a diagnosis of
dislocation
TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI ANKLE JOINT
DENGAN DIAGNOSA DISLOCATION
KLINIK RADIOLOGI PRODITA GARUT
Nesya Rivansyah Hilmi¹, Widya Mufida²
D3 Radiolodi Univeritas Aisyiyah Yogyakarta
Email: nesyarivansyahhilmi@gmail.com
Abstract: Ankle joint examination is one of radiographic examination to see the
structure of the condition and bones and ligaments in the ankle joint space. This study
aims to analyze the projections used in the ankle joint examination with dislocation,
and then analyze and look for advantages in additional AP Ankle Mortise View
projections with dislocation. This research was conducted at the emergency
department of RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta from January to April 2018,
using qualitative description methods, observations, questions and answers, and
literature from books contained in the library majoring in radiodiagnostic engineering
and radiotherapy. The results of observations and questiond and answers were found
that additional AP Ankle Mortise view projections with dislocation could produce both
lateral and medial joint space compared to other examination techniques. So it is
concluded that the AP ankle mortise view projection is very good in helping doctors to
diagnose an abnormality in the ankle joint area.
Keyword : Sinusitis Maksilaris, Submentovertex, Teknik Radiograf SPN
Abstrak: Pada pemeriksaan Sinus Paranasal, secara teori ada tiga proyeksi dasar yang
digunakan yaitu, proyeksi Water’s,Caldwell, dan Lateral. Penulisan Artikel Ilmiah ini
bertujuan untuk menambah wawasan dan sebagai referensi untuk yang lainnya. Metode
penelitian dalam penulisan ini adalah dengan melakukan Eksperimen langsung terhadap
pasien dengan Klinis Dari Dokter Sinusitis Maksilaris dan didampingi oleh Radiografer
lainnya. Setelah mengamati tatacara pemeriksaan bahwa penulis menemukan kesalahan
pada Methode Caldwell yang dimana seharusnya menggunakan Proyeksi PA dan pada
Kasus ini menggunakan Proyeksi AP. Saran dari penulis agar digunakan Proyeksi PA yang
sesuai dengan Teori dan untuk menambahkan Proyeksi Submentovertex, Yang bertujuan
untuk melihat ketinggian cairan pada klinis sinusitis Maksilaris.
Kata Kunci : Sinusitis Maksilaris, Submentovertex, Teknik Radiograf SPN
2
PENDAHULUAN
Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit
dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Ada empat
pasang sinus paranasal, mulai dari yang terbesar yaitu sinus maksila, sinus frontal,
sinus etmoid dan sinus spenoid kanan dan kiri (Mehra dan Murad, 2004).
Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala,
sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara
(ostium) ke dalam rongga hidung (Soetjipto dan Mangunkusomo,2007). Semua
sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan bersilia yang mengalami modifikasi
dan mampu menghasilkan mukus serta sekret yang disalurkan ke dalam rongga
hidung. Pada orang sehat, sinus terutamanya berisi udara (Hilger,1997).
Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga
hidung dan perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus
frontal dan sinus sfenoid. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada saat bayi lahir,
sedangkan sinus frontal berkembang dari sinus etmoid anterior pada anak yang
berusia kurang lebih delapan tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia
8-10 tahun dan berasal dari bagian posterosuperior rongga hidung. Sinus-sinus ini
umumnya mencapai besar maksimal pada usia antara 15-18 tahun (Soetjipto dan
Mangunkusomo, 2007; Lee, 2008).
Pada pemeriksaan Sinus Paranasal, secara teori ada tiga proyeksi dasar
yang digunakan yaitu, proyeksi Posteior Anterior (PA) Axial Methode Caldwell,
Lateral dan proyeki Pariethoacanthial (Water’s methode Open Mouth dan Close
Mouth).(Bontrager, 2010). Dan terdapat proyeksi khusus untuk pemeriksaan Sinus
Paranasal untuk lebih menegakkan hasil diagnosa yaitu Proyeksi Submentovertex
(SMV).
Dari pengamatan penulis selama melakukan praktek di Instalasi Radiologi
RST dr.Soedjono Magelang permintaan pemeriksaan foto SPN cukup banyak
sehingga penulis tertarik untuk membuat Artikel ilmiah tentang Teknik
pemeriksaan SPN di RST dr.Soedjono Magelang.
3
DASAR TEORI
1. Methode Waters (Open Mouth)
Posisi pasien : Pasien Berdiri Menghadap Bucky
Posisi obyek :
−MSP tubuh pada pertengahan bidang kaset
−Ekstensikan leher pasien dan dagu menempel kaset
−Pasien diminta untuk membuka mulut
Central ray : Horisontal tegak lurus terhadap bidang kaset
Central point : Pada pertengahan kaset menuju acantion
FFD : 100 cm
Kaset dan film : 35x43 cm
Faktor eksposi : kV =73, mA =100, s = 0,16
2. Waters Close Mouth sama dengan Waters Open Mouth hanya saja pasien
disuruh menutup mulut.
3. Lateral
Posisi pasien : Pasien Supine diatas meja pemeriksaan
Posisi obyek :
− MSP tubuh pada pertengahan bidang kaset
− Kepala pasien miring ke kanan 90 derajat
Central ray : Horisontal tegak lurus terhadap bidang kaset
Central point : 2 cm dibawah telinga
FFD : 100 cm
Kaset dan film : 35x43 cm + grid (membujur)
Faktor eksposi : kV =75, mA =250, s = 0,16
4
4. AP Caldwell
Posisi pasien : Pasien Supine diatas meja pemeriksaan
Posisi obyek : MSP tubuh pada pertengahan bidang kaset
Central ray :
− Horisontal tegak lurus terhadap bidang kaset
− Arah sinar 15° caudad.
Central point : Pertengahan Glabella
FFD : 100 cm
Kaset dan film : 35x43 cm
Faktor eksposi : kV = 72, mA =250, s=0,16
5. Proyeksi (SMV) Submentovertex
Posisi Pasien : Pasien Erect/Berdiri
Posisi Obyek :
− Tengadahkan dagu, Hyperekstensikan leher jika
memungkinkan hingga IOML pararel kaset. Puncak
Kepala Menempel pada kaset.
− MSP kepala tegak lurus film pada pertengahan kaset.
Pengaturan Sinar :
− Arah sinar Tegak lurus IOML
− Titik bidik Jatuh dipertengahan Sudut Mandibular
FFD : 100 cm
Faktor Eksposi : kV : 70-75, mA : 250 , s : 0,14
Kriteria : Tampak Sinus Sphenoid, ethmoid, maxilaris dan fossa nasal
5
Gambar 1 Proyeksi Submentovertex (Brontager 2010)
Hasil Radiograf
Gambar 2 Hasil Radiograf Proyeksi Submentovertex (Brontager 2010)
Adapun tujuan dari penulisan Artikel Ilmiah ini adalah :
a. Mengetahui prosedur pemeriksaan SPN pada kasus sinusitis maxillaris di
Instalasi Radiologi RST dr.Soedjono Magelang.
b. Menambah wawasan dan Referensi bagi penulis khususnya, mahasiswa
radiologi, Instansi Akademik maupun Rumah Sakit serta pihak-pihak lain
yang memerlukan.
METODE PENELITIAN
6
1. Metode ini dilaksanakan pada saat penulis melakukan Praktek kerja
lapangan Osteologi (Kualitatif dengan pendekatan Studi Kasus) di RST
dr.Soedjono Magelang, dari tgl 9 Juli sampai dengan 4 Agustus 2018.
2. Metode ini dilakukan dengan melihat, mengamati dan wawancara secara
langsung Prosedur pemeriksaan SPN dengan klinis sinusitis maksilaris.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Identitas Pasien
Nama : Meisiyati
Umur : 21TH
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Magelang
No. Rm : 169962
Tanggal Pemeriksaan : 10 Juli 2018
Jenis Pemeriksaan : Sinus Paranasal
Diagnosa : Sinusitis Maxillaris
Dokter Pengirim : dr. Budi W, Sp.THT
Dokter Radiologi : dr. Sulis, Sp.Rad
Surat Pengantar Pasien
Gambar 3 Surat Pengantar Pasien
2. Persiapan Alat dan Bahan
7
a. Mesin Pesawat X ray Konvensional
1) Merk/type : Toshiba/LTH-25 M
2) No. Seri : 6J0129
b. Bucky ( dengan Grid)
c. Meja Pemeriksaan ( dengan Grid)
d. Marker R atau L
e. Plester
f. Computed Radiografi (CR)
g. Kaset CR 35x43 cm
Dalam pemeriksaan radiografi sinus paranasal tidak diperlukan persiapan
khusus, hanya pasien diminta melepas benda-benda yang dapat menimbulkan
bayangan opaque dari daerah kepala, yaitu benda-benda logam misalnya :
anting, jepit rambut, kalung dan lain-lain yang dapat mengganggu gambaran
serta pasien diberi penjelasan tentang prosedur pemeriksaan sinus paranasal.
Teknik pemeriksaan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis maxillars di
Instalasi Radiologi RST dr.Soedjono Magelang menggunakan 3 proyeksi yaitu
proyeksi Water’s (Open Mouth), Lateral dan AP Caldwell.
3. Processing Film
Pengolahan film pada Instalasi radiologi RST dr.Soedjono Magelang
menggunakan Computer Radiography dengan klasifikasi :
a. Monitor : HP
b. Scanner : CR 10-X AGFA
c. Printer : TRIMAX TX55 LASER IMAGER
4. Hasil Radiograf
8
Gambar 4 Hasil Radiograf Pasien
5. Hasil Bacaan Dokter
Gambar 5 Hasil Bacaan Dokter Spesialis Radiograf
Kesan :
a. TAK TAMPAK GAMBARAN SINUSITIS
b. PENEBALAN MUCOSA CAVUM NASI SUGGESTIVE RHINNITIS
c. TAK TAMPAK DEVIASI SEPTI NASI
d. SITEMA TULANG CRANIUM TAK TAMPAK KELAINAN
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan diatas penulis dapat menarik kesimpulan :
1. Teknik pemeriksaan Sinus Paranasal dengan indikasi sinusitis maxillaris di
Instalasi Radiolgi RST dr.Soedjono Magelang menggunakan tiga proyeksi
yaitu Water’s Method (Open Mouth), Lateral dan AP Caldwell. Hal ini sesuai
dengan teori.(Brontager, 2010)
2. Dengan menggunakan 3 Proyeksi tersebut diatas sudah mampu menegakkan
diagnosa.
9
SARAN
1. Untuk pemeriksaan Sinus Paranasal pada kasus sinusitis maxillaris
sebaiknya ditambah dengan proyeksi Submentovertex (SMV) dikarenakan
Proyeksi Submentovertex dapat memperlihatkan ketinggian cairan pada
sinus maksilaris. (Brontager 2010).
2. Untuk Methode Caldwell seharusnya menggunakan Proyeksi PA dan
Bukan Proyeksi AP.
DAFTAR PUSTAKA
Bontranger K.L., 20010, Textbook of Radiographic Positioning and Related
Anatomi, Fifth Edition, Mosby, Instalasied State Of America.
Ballinger, P.W.1995. Atlas of Radiographic Positioning and Radiologic Procedurs Eight
edition. St. Louis : The CV. Mosby Company
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31193/Chapter%20II.pdf?
sequence=4
10
11