Anda di halaman 1dari 2

Kista folikel, dimana kadar FSH cukup untuk memacu perkembangan folikel tetapi kadar LH tidak

cukup untuk terjadinya ovulasi.

 Kista luteal, terjadi bila pada saat terjadi kista folikel secara bersamaan terjadi peningkatan kadar
LTH (pada sapi perah dengan produksi susu tinggi) sehingga pada permukaan folikel akan terbentuk
sel luteal

 Kista korpus luteum, terbentuk dari folikel yang telah berovulasi namun dalam perkembangan
selanjutnya terdapat rongga yang berisi cairan dalam korpus luteum yang terbentuk\

Kista Folikuler Kista Luteal


Single / Multiple Single
Dinding tipis Dinding tebal
Undulasi Keras
Cairan lebih kuning (?) Cairan lebih bening
Lebih banyak estrogen Lebih banyak progesteron
ukuran > 2,5 cm (lbh besar dari Ukuran > 2,5 cm (lbh besar dari
normal) normal)
Punuk kemajran (sterility hump) -
Diam dinaiki (nymfomania) anestrus

kista luteal, terjadi leutinasi, terjadi oada folikel dominan saja. Kista ini memiliki dinding
yang tebal, karena sel teka (yg memang dr dulu sudah peka LH) terleutinasi dan terkadang
sel granulosa juga ikut terlutinasi. Oleh karena itu, sel luteal yang terbentuk mampu
menghasilkan progesteon. Namun, level progesteron yang dihasilkan tidak konsisten,
terkadang bisa hampir mencapai normal, kadang juga hanya sedikit.  Kista luteal juga
dapat berkembang dari kista folikuler.

Treatment Pengobatan
1.      Manual rupture tidak dianjurkan karena menyebabkan perdarahan dan perlekatan.
2.      GnRH atau PMSH
3.      LH atau LH like product (HCG)
4.      Dexametason

GnRH, LH, dan HCG bekerja utk meleutenisasi kista tersebut secara keseluruhan.
Setelah diberikan GnRH, maka Lh puls akan turun, dan kista tsbt akan
menghasilkan progesteron yang bertahan selama 12-18 hari dan sapi akan estrus 21
hari setelah pemberian GnRH. Nantinya, uterus yang sudah tumbuh sempurna akan
menghasilkan PGF agar sel lutein regresi. Untuk mempercepat, boleh diberikan
PGF pada waktu 10 hari setelah pemberian.
Kista luteal adalah kista yang terjadi karena pada saat terbentuk kista folikel dimana kadar
LH rendah tetapi pada saat yang bersamaan terjadi pelepasan LTH (Lactogenic Hormone
( LTH ) -> membantu kelahiran dan keluarnya air susu ) yang cukup banyak
menyebabkan pada permukaan folikel akan terjadi proses luteinisasi ( proses pembentukan
korpus luteum oleh sel” granulosa dan sel theca)sehingga terbentuk sel luteal pada
permukaan folikel. Kista luteal sering terjadi pada sapi perah dengan produksi susu tinggi
pasca melahirkan.
            Pada pemeriksaan per rektal akan sulit dibedakan antara kista folikel dengan kista
luteal walaupun kista luteal mempunyai dinding yang lebih tebal karena dinding kista luteal
terdiri dari sel yang telah mengalami lutenisasi. Karena dinding kista luteal terdiri dari sel
luteal maka kista luteal mampu menghasilkan progesteron dalam jumlah yang cukup
tinggi sehingga gejala klinis pada kasus kista luteal adalah terjadinya anestrus pada
penderita. Kista luteal dapat ditemukan secara bersamaan dengan adanya korpus luteum yang
normal baik pada ovarium yang sama atau pada ovarium yang berbeda.
            Penangan pada kasus kista luteal dapat dilakukan dengan cara pemijatan kista secara
manual melalui palpasi rektal atau pemberian preparat PGF2α untuk melisiskan sel luteal
diikuti dengan pemberian LH atau HCG untuk merangsang ovulasi. Pemberian preparat
GnRH dapat dilakukan pada kasus kista folikel atau kista luteal.

KELEBIHAN PROTEIN - “sistik ovari “


sumber :- biji2an-limbah biji (ampas, bungkil)- leguminosa- urea-rumput segar dr tanah yg
dipupuk dgn ureaVITAMIN :- sebagian vit. Dpt dibuat oleh tubuh hewan yg disintesa oleh rumen
(B,C,K) hwn ruminantia