Anda di halaman 1dari 145

LAPORAN STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. S


DENGAN KOMPRES DINGIN PADA NYERI LUKA JAHITAN
PERINEUM GRADE II DI PUSKESMAS KECAMATAN
GROGOL PETAMBURAN JAKARTA BARAT
TAHUN 2018

Disusun Oleh :
Cindy Della Sari
NIM. P3.73.24.2.16.056

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA III
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
TAHUN 201
LAPORAN STUDI KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. S


DENGAN KOMPRES DINGIN PADA NYERI LUKA JAHITAN
PERINEUM GRADE II DI PUSKESMAS KECAMATAN
GROGOL PETAMBURAN JAKARTA BARAT
TAHUN 2018
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah praktik klinik
kebidanan II

Disusun Oleh :
Cindy Della Sari
NIM. P3.73.24.2.16.056

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA III
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
TAHUN 2018
LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. S


DENGAN KOMPRES DINGIN PADA NYERI LUKA JAHITAN
PERINEUM GRADE II DI PUSKESMAS KECAMATAN
GROGOL PETAMBURAN JAKARTA BARAT
TAHUN 2018

Laporan kasus ini telah diperiksa dan telah disetujui oleh pembimbing untuk
dipertahankan dihadapan penguji

PEMBIMBING

Sri Mulyati, SPd. M.Kes

NIP. 199001 2001


LEMBARAN PENGESAHAN

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. S


DENGAN KOMPRES DINGIN PADA NYERI LUKA JAHITAN
PERINEUM GRADE II DI PUSKESMAS KECAMATAN
GROGOL PETAMBURAN JAKARTA BARAT
TAHUN 2018
Laporan kasus ini telah diujikan pada tanggal 11 Desember 2018

PENGUJI

Nessi Meilan, SST, M.Kes

NIP. 19820502 200604 2035

Mengesahkan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Politeknik Kesehatan Jakarta III
Jurusan Kebidanan
Program Studi D-III Kebidanan
Ketua

Hamidah, AMKeb, SPd. MKes


NIP. 19591009 1982012001
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA III
JURUSAN KEBIDANAN
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN

Nama Penulis : Cindy Della Sari


Judul : ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.
S DENGAN KOMPRES DINGIN PADA NYERI LUKA JAHITAN
PERINEUM GRADE II DI PUSKESMAS KECAMATAN GROGOL
PETAMBURAN JAKARTA BARAT
TAHUN 2018

Jumlah BAB
dan halaman : V dan 135 Halaman

GAMBARAN KASUS
Kasus diambil di Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan dari tanggal 23

Oktober 2018 sampai dengan 18 November 2018.

Ny. S umur 29 tahun, dengan HPHT 01 Januari 2018 dan TP sesuai USG yang

dilakukan pada tanggal 23 maret 2018 adalah 29 Oktober 2018. Ny. S G3P2A0

mulai memeriksakan kehamilannya dari usia 9 minggu di Puskesmas Kecamatan

Grogol Petamburan. Selama kehamilannya Ny. S sudah melakukan pemeriksaan

kehamilan sebanyak 13 kali, 2 kali pada trimester I, 4 kali pada trimester II, dan 7

kali pada trimester III. Trimester I pada umur kehamilan 9 minggu, 12 minggu.

Trimester II pada umur kehamilan 16 minggu, 20 minggu, 24 minggu, dan 28

minggu. Trimester III pada umur kehamilan 30 minggu, 33 minggu, 34 minggu,

dan 36 minggu, 37 minggu, 38 minggu, 39 minggu.


Pada tanggal 5 Maret 2018 Ny. S dilakukan pemeriksaan laboraturium dengan

hasil HB 13,1 gr/dl, protein urine (-), protein reduksi (-), Gula Darah Sewaktu =

105, HIV/AIDS (-), Sifilis (-), HbsAg (-), dan golongan darah A+. Pada

kehamilan ini Ny. N mendapatkan suntik TT sebanyak 1 kali dan status TT Ny. N

sekarang adalah TT4, TT1 dilakukan pada saat Sekolah Dasar, TT2 dilakukan

pada saat sebelum nikah, dan TT3 dilakukan pada saat ibu hamil anak pertama.

Penulis melakukan ANC(Antenatal Care) pertama kali dimulai pada usia

kehamilan 37-38 Minggu, pada pemeriksaan tanggal 3 oktober 2018 dan

melakukan ANC kedua dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2018.

Tanggal 6 november 2018 pukul 07.05 WIB Ny. S dating ke Puskesmas Grogo

ldengan keluhan mulas semakin sering sejak pukul 00.00 WIB dan hasil

pemeriksaan TD : 120/80 mmHg, DJJ : 128x/menit, teratur, di punctun

maksimum 3 jari dibawah pusat bagian kanan ibu. TFU : 28cm, HIS satu kali

dalam sepuluh menit lamanya sepuluh detik, VT : Portio kuncup (belum ada

pembukaan). Setelah dilakukan pemeriksaan, ibu diperbolehkan untuk pulang

karena belum ada pembukaan dan semua hasil pemeriksaan dalam batas normal.

Tanggal 10 Oktober 2018 penulis melakukan ANC kedua, dengan usia kehamilan

37-38 Minggu didapatkan hasil pemeriksaan TD : 100/70 mmHg, DJJ :

137x/menit teratur, di punctun maksimum, dibawah pusat bagian kanan, TFU :

29cm, dan ibu dianjurkan melakukan pemeriksaan ANC kembali pada tanggal 17

Oktober 2018.

Pada tanggal 17 Oktober 2018 penulis melakukan ANC ketiga dengan usia

kehamilan 38-39 Minggu dan ibu mengeluh perut sudah semakin sering terasa
kencang-kencang, didapatkan hasil pemeriksaan TD : 100/70 mmHg, DJJ :

137x/menit teratur, di punctun maksimum 3 jari dibawah pusat bagian kanan ibu,

TFU : 30cm. ibu dianjurkan pemeriksaan ANC ulang pada tanggal 24 Oktober

2018.

Tanggal 23 Oktober 2018 pukul 02.00 WIB Ny.S datang ke Puskesmas Grogol

dengan keluhan mulas semakin sering sejak pukul 23.00 WIB dan sudah keluar

lender darah. Dilakukan pemeriksaan Hb dan didapatkan hasil 10,9% gr/dl. Hasil

pemeriksaan TD : 90/60 mmHg, Nadi : 83x/menit, Pernafasan : 22x/menit, Suhu :

37,30C. Palpasi; TFU : 30cm, HIS 2x10’20” DJJ : 134x/menit. Pemeriksaan

dalam, portio tebal lunak, pembukaan 2 cm, ketuban (+), presentasi kepala UUK

Hodge II. Setelah dilakukan pemeriksaan, ibu diobservasi di Ruang Bersalin

Puskesmas Grogol dan menganjurkan ibu untuk istirahat dan memenuhi

kebutuhan nutrisi dan hidrasi karena tekanan darah dan Hb ibu rendah.

Pukul 03.00 WIB didapatkan ketuban pecah berwarna putih jernih.Dilakukan

pemeriksaan dalam, portio tipis lunak, pembukaan 4cm, ketuban negatif,

banyaknya kurang lebih 30cc, presentasi kepala UUK Hodge II.

Pada pukul 05.40 WIB pembukaan 10cm, Ny. S partus kala II keadaan umum

bayi baik, jenis kelamin perempuan, langsung menangis, warna kulit kemerahan,

tonus otot baik dan aktif, meko (+) miksi (-) Antropometri : Suhu 36,5°C, denyut

jantung 136 x/mnt, pernafasan 46 x/mnt. Kulit kemerahan, bergerak aktif. BB

2835 gram, PB 46 cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 34 cm, A/S 9/10. Ibu

langsung dilakukan pemasangan IUD pasca plasenta dan ibu mengalami rupture

perineum grade II karena cara mengejan yang salah. Selama masa nifas ibu dalam
keadaan baik, namun pada nifas 2 jam, 6 jam dan 6 hari ibu sempat merasakan

nyeri pada luka jahitan perineum dan penulis memberikan asuhan untuk kompres

dingin pada luka jahitan yang nyeri. Dan, pada kunjungan 2 minggu Ny. S sudah

tidak merasakan nyeri kembali pada jahitannya.


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Asuhan Kebidanan

Komprehensif Pada Ny. S di Puskesmas Kecamatan Grogol

Petamburan, Jakarta Barat Tahun 2018”. Maksud dan tujuan laporan

ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktek Klinik

Kebidanan II.

Dalam menyelesaikan laporan kasus ini penulis banyak sekali

mendapatkan bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak,

untuk itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih

kepada yang terhomat:

1. Ibu Erika Yulita Ichwan, SST, M.Keb, selaku Ketua Jurusan

Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta III

yang telah mencurahkan pemikirannya demi kemajuan Program Studi

DIII Kebidanan ini.

2. Ibu Hamidah, SPd, M.Kes., selaku ketua program studi DIII

Kebidanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta III

3. Ibu Sri Mulyati, SPd, M.Kes, selaku pembimbing dalam pembuatan

laporan studi kasus komprehensif ini, yang penuh perhatian dan selalu

memberi masukan- masukan dan saran yang membangun bagi penulis

dimana pun berada. Semoga Allah SWT senantiasa membalas amal


baiknya dengan balasan yang berlipat ganda yang telah mencurahkan

pemikirannya demi kemajuan Program Studi DIII Kebidanan ini.

4. Puskesmas Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat yang telah

mengizinkan dan membantu penulis dalam pelaksanaan studi kasus

ini.

5. Pembimbing lahan praktik di Puskesmas Kecamtan Grogol

Petamburan, Jakarta Barat.

6. Kepala Ruang/Koor RB dan seluruh staff Puskesmas Kecamatan

Grogol Petamburan, Jakarta Barat yang telah mengizinkan dan

membantu penulis dalam pelaksanaan studi kasus ini.

7. Ny. S dan Keluarga yang senantiasa sudah menerima dijadikan pasien

komprehensif dan menjalin komunikasi dengan baik.

8. Keluarga yang selalu mendoakan serta memberikan dukungan selama

proses tugas ini.

9. Teman-teman seperjuangan Kelas 3A serta Angkatan 19 ( Ansembel )

Poltekkes Kemenkes Jakarta III Jurusan Kebidanan yang tidak henti-

hentinya saling mendukung satu sama lain.

10. Sahabat-sahabat tercinta saya selama saya menjalani perkuliahan yaitu

Indira Hari Windari, Mutia Maulidina, Nur Pegy Oktafiani, Dienda

Khairunnisa, Amelia Pratiwi dan Kanya Prasidha Anindita yang tiada

hentinya memberikan dukungan dan semangat serta masukan-


masukan yang bermanfaat terhadap saya selama menjalankan serta

membuat laporan ini.

11. Rara Octavianasa, Ahlurani Zulfa dan Mutia Safitri Sebagai kakak

asuh saya yang selalu membimbing saya selama menjalani

perkuliahan yang selalu memberikan dukunga serta semangat terhadap

saya dalam menjalankan dan membuat laporan ini.

12. Teman dan sahabat tercinta yang tidak bisa disebutkan namanya satu

per satu namun tidak mengurangi rasa cinta dan terima kasih atas

dukungan yang diberikan selama ini.

Penulis sadar sepenuhnya bahwa laporan kasus ini masih jauh dari

sempurna, untuk itu penulis menerima kritik dan saran dari pembaca

yang bersifat membangun. Harapan penulis semoga kasus ini berguna

bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Bekasi, 11 Desember 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Luka perineum didefinisikan sebagai adanya robekan pada jalan

lahir maupun karena episotomi pada saat melahirkan janin. Robekan

perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang

juga terjadi pada persalinan berikutnya. Perineum adalah merupakan

bagian permukaan pintu bawah panggul, yang terletak antara vulva dan

anus. Perineumterdiri dari otot dan fascia urogenitalis serta diafragma

pelvis (Wiknjosastro, 2007). Di seluruh dunia pada tahun 2009 terjadi

2,7 juta kasus robekan (ruptur) perineum pada ibu bersalin. Angka ini

diperkirakan mencapai 6,3 juta pada tahun 2020, seiring dengan bidan

yang tidak mengetahui asuhan kebidanan dengan baik dan kurang

pengetahuan ibu tentang perawatan mandiri ibu di rumah (Hilmi dalam

Bascom, 2010). Di Amerika dari 26 juta ibu bersalin, terdapat 40%

mengalami ruptur perineum (Heimburger dalam Bascom, 2011).

Di Asia masalah robekan perineum cukup banyak dalam

masyarakat, 50% dari kejadian robekan perineum di dunia terjadi di

Asia. Prevalensi ibu bersalin yang mengalami robekan perineum di

Indonesia pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24%, dan pada ibu

umur 32-39 tahun sebesar 62% (Campion dalam Bascom, 2011).


Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama kematian ibu di

Indonesia. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan

setelah atonia uteri yang terjadi pada hampir setiap persalinan pertama

dan tidak jarang juga pada persalinan berikutnya. Sebagai akibat

persalinan terutama pada seorang primipara, biasa timbul luka pada

vulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam, akan tetapi

kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak (Prawirohardjo, 2009).

Hasil studi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang)

Bandung, yang melakukan penelitian dari tahun 2009-2010 pada

beberapa Propinsi di Indonesia didapatkan bahwa satu dari lima ibu

bersalin yang mengalami ruptur perineum akan meninggal dunia dengan

proporsi 21,74% (Siswono dalam Bascom, 2011 ). Perdarahan

Postpartum merupakan penyebab kematian ibu, kematian ibu ini

disebabkan oleh perdarahan postpartum (plasenta previa, solusio

plasenta, kehamilan ektopik, rupture perineum). Salah satu penyebab

perdarahan adalah robekan jalan lahir (Rupture perineum), robekan ini

dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pasca persalinan

dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan karena

serviks atau vagina. Ruptur perineum adalah perlukaan jalan lahir yang

terjadi pada saat kelahiran bayi baik menggunakan alat maupun tidak

menggunakan alat. Ruptur perineum disebabkan paritas, jarak

kehamilan, berat badan bayi, pimpinan persalinan tidak sebagaimana

mestinya, ekstraksi cunam, ekstraksi fakum, trauma alat dan episiotomi.


Perdarahan postpartum menjadi penyebab utama 40% kematian ibu

di Indonesia. Ruptur perineum dapat terjadi karena adanya robekan

spontan maupun episiotomi. Ruptur perineum yang dilakukan dengan

episiotomi itu sendiri harus dilakukan atas indikasi antara lain, bayi

besar, perineum kaku, persalinan yang kelainan letak, persalinan dengan

menggunakan alat baik forceps maupun vacuum.

Penyebab kematian ibu di Indonesia yang berhubungan langsung

dengan kebidanan adalah perdarahan (28%), infeksi (24%), eklamsi

(11%), abortus (5%), partus lama atau macet (5%), emboli obat (3%),

komplikasi masa nifas (8%), dan lain-lain (11%) (Depkes, 2012).

Pelayanan kesehatan ibu dan anak memerlukan pergeseran fokus

pada kualitas, termasuk persalinan di fasilitas kesehatan yang dilengkapi

dengan pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED).

Pergeseran pada kualitas tersebut memerlukan aksi di beberapa tingkat.

Salah satunya adalah Pemerintah Pusat harus mengembangkan dan

melaksanakan standar dan pedoman fasilitas pelayanan kesehatan

(Depkes, 2012). Asuhan kebidanan secara komprehensif (Continuity Of

Care) merupakan upaya pendekatan yang dapat dilakukan untuk

meningkatkan pelayanan kesehatan yang bersifat menyeluruh dan

bermutu kepada ibu, bayi, balita, remaja, usia kerja dan lanjut dalam

lingkup kebidanan. Penulis tertarik untuk melakukan Asuhan kebidanan

yang berkelanjutan (Continuity Of Care) yang dimulai dari masa

kehamilan, bersalin, bayi baru lahir, nifas, serta keluarga berencana


(Kementrian Kesehatan RI, 2015) dan kasus yang ditemukan dilapangan,

penulis akan memfokuskan pada pelaksanaan pelayanan “Asuhan

Kebidanan Komprehensif pada Ny. S di Puskesmas Kecamatan Grogol

Petamburan, Jakarta Barat Tahun 2018”.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mampu menerapkan asuhan kebidanan secara komprehensif dan

berkesinambungan dengan menggunakan manajemen asuhan

kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir secara

menyeluruh dan sesuai dengan kebutuhan untuk pengurangan rasa

nyeri pada luka ruptur perineum grade II dengan kompres dingin.

2. Tujuan Khusus

a. Dapat melakukan pengkajian pada ibu hamil, bersalin, bayi baru

lahir dan nifas.

b.Dapat merencanakan tindakan pada ibu hamil, bersalin, bayi baru

lahir dan nifas.

c. Dapat melaksanakan rencana pada ibu hamil, bersalin, bayi baru

lahir dan nifas.

d.Dapat melaksanakan evaluasi pada ibu hamil, bersalin, bayi baru

lahir dan nifas.

e. Dapat melakukan pendokumentasian dengan metode SOAP.

C. Metode yang digunakan


Pendektan yang digunakan adalah tujuh langkah Varney sebagai alur pikir

yang diterapkan dalam memberikan asuhan kebidanan dengan

menggunakan metode pendokumentasian “SOAP”

D. Waktu Dan Tempat Pengambilan Kasus

Asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S dilakukan di Ruang Bersalin

Puskesmas Kecamatan Grogol dengan melakukan asuhan kebidanan yang

di mulai tanggal :

1. Tanggal 03 Oktober 2018 : Pemeriksaan Kehamilan Pertama

2. Tanggal 10 Oktober 2018 : Pemeriksaan Kehamilan Kedua

3. Tanggal 17 Oktober 2018 : Pemeriksaan Kehamilan Ketiga

4. Tanggal 23 Oktober 2018 : Pertolongan Persalinan

5. Tanggal 23 Oktober 2018 : Kunjungan nifas 6 jam

6. Tanggal 30 Oktober 2018 : Kunjungan nifas hari ke 6

7. Tanggal 8 November 2018 : Kunjungan nifas hari ke 14

8. Tanggal 16 November2018 : Kunjungan nifas hari ke 42


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Antenatal Care

1. Kehamilan

Menurut Reece dan Hobbins kehamilan terjadi ketika seorang wanita

melakukan hubungan seksual dengan seorang pria yang mengakibatkan

bertemunya sel telur dengan sel mani (sperma) yang disebut pembuahan

atau fertilisasi (Mandriwati, dkk, 2017).

Menurut Bobak, Lowdermilk dan Jensen dalam Asuhan Keperawatan

Antenatal, Intranatal dan Bayi Baru Lahir Fisiologis dan Patologis (2016)

kehamilan adalah peristiwa yang didahului bertemunya sel telur atau ovum

dengan sel sperma dan akan berlangsung selama kira-kira 10 bulan lunar

atau 9 bulan kalender atau 40 minggu atau 280 hari yang dihitung dari hari

pertama periode menstruasi terakhir/Last Menstrual Period (LMP).

2. Adaptasi Perubahan Fisik

Saminem (2009) menyatakan bahwa perubahan psikologis pada

kehamilan dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Perubahan pada kulit

Terjadi hiperpigmentasi yaitu kelebihan pigmen di tempat tertentu

seperti wajah, pipi dan hidung, pada areola mamae dan puting susu,

daerah yang berwarna hitam di sekitar puting susu akan menghitam.


Area supra pubis terdapat garis hitam yang memanjang dari atas

simfisis sampai pusat.

2. Perubahan kelenjar

Kelenjar gondok membesar sehingga leher ibu berbentuk seperti leher

pria. Perubahan ini tidak selalu terjadi pada wanita hamil.

3. Perubahan payudara

Perubahan ini pasti terjadi pada wanita hamil karena semakin

dekatnya persalinan, payudara menyiapkan diri untuk memproduksi

makanan pokok untuk bayi setelah lahir. Perubahan payudara akan

membesar, tegang, sakit, vena di bawah payudara membesar dan

terlihat, hiperpigmentasi pada areola mamae dan puting susu, payudara

ibu mengeluarkan cairan apabila dipijat.

4. Perubahan perut

Perut semakin membesar saat mendekati persalinan, perut semakin

membesar, menjadi tegang dan pusat menonjol ke luar. Timbul stria

gravidarum dan hiperpigmentasi pada linea alba serta linea nigra.

5. Perubahan alat kelamin luar

Alat kelamin luar tampak hitam kebiruan karena adanya kongesti pada

peredaran darah.

6. Perubahan pada sikap tubuh

Sikap tubuh ibu menjadi lordorsis karena perut membesar.


3. Adaptasi Psikologis Kehamilan

Menurut Nirwana (2011) Pergerakan bayi akan semakin sering

dirasakan oleh calon ibu pada trimester ketiga. Perasaan tersebut

menimbulkan kecemasan tersendiri bagi seorang ibu seperti takut kalau

sewaktu-waktu bayinya lahir, apakah bayinya akan terlahir normal, dan

hal-hal lain terkait kondisi bayinya. Seorang ibu juga akan memikirkan

tentang proses persalinan yang akan dialami dan bahaya fisik yang akan

timbul pada saat persalinan. Trimester ketiga inilah ibu memerlukan

ketenangan dan dukungan dari suami, keluarga serta tenaga kesehatan.

Penelitian dari Aprianawati (2007) tentang hubungan antara dukungan

keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu primigravida menjelang

persalinan. Hasil dari penelitian menyatakan bahwa ada hubungan yang

signifikan antara dukungan keluarga dengan kecemasan ibu hamil, dimana

ibu hamil yang mendapat dukungan yang besar dari keluarganya, akan

mengalami kecemasan yang rendah dalam menghadapi persalinannya.

4. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan

1) Antenatal Care

a) Pengertian Antenatal Care (ANC)

Antenatal Care (ANC) Adalah pemeriksaan kehamilan untuk

menyiapkan diri sebaik-baiknya fisik dan mental, serta

menyelamatkan ibu dan anak dalam kehamilan, persalinan dan masa


nifas, sehingga keadaan mereka masa postpartum sehat dan normal,

tidak hanya fisik akan tetapi juga mental (Prawirohardjo, 2010).

b) Tujuan Antenatal Care (ANC)

Untuk mengetahui data kesehatan ibu hamil dan perkembangan bayi

intrauterin sehingga kesehatan yang optimal dapat dicapai dalam

menghadari persalinan, puerperium dan laktasi, serta mempunyai

pengetahuan yang cukup tentang pemeliharaan bayinya.

c) Kunjungan Pemeriksaan ANC (Antenatal Care)

Menurut Saifuddin (2010), setiap wanita hamil menghadapi resiko

komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap

wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan

Sumber: Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu Di Fasilitas

Kesehatan Dasar Dan Rujukan

d) Standar Pelayanan Antenatal Care

a. Kunjungan ANC

Menurut Manuaba (2010) dan Depkes RI (2009) dalam

asuhan kehamilan harus dilakukan minimal 4 kali kunjungan saat

trimester 1 melakukan kunjungan 1 kali, trimester 2 melakukan 1

kali kunjungan, dan trimester 3 melakukan 2 kali kunjungan, yaitu :


1. Kunjungan ANC

Dilakukan minimal 4 kali selama kehamilan.

2. Pemberian suplemen mikronutrien.

Tablet yang mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam

folat 500 µg sebanyak 1 tablet/hari segera setelah rsa mual hilang.

Pemberian selama 90 hari (3 bulan). Ibu harus dinasihati agar tidak

meminumnya bersama teh/kopi agar tidak mengganggu penyerapan.

3. Imunisasi TT 0,5 cc.

4. Perkiraan tinggi fundus uteri (TFU).

a. Terdapat variasi yang lebar antroporator yang melakukan

pengukuran TFU dengan cara tradisional.

b. Menggunakan pita ukur untuk mengukur jarak antara tepi atau

simpisis pubis dan fundus uteri dalam cm. Hal ini merupakan

metode yang dapat diandalkan untuk memperkirakan TFU.

c. Ukuran dalam cm sesuai dengan umur kehamilan (dalam minggu)

setelah umur kehamilan 24 minggu.

b. Pelayanan/asuhan standar minimal termasuk “10T” :

1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan.

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal

dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.

Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama

kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya

menunjukkan adanya gangguan pertumbuhan janin. Pengukuran


tinggi badan pada pertama kali kunjungan dilakukan untuk

menapis adanya factor risiko pada ibu hamil. Tinggi badan kurang

dari 145 cm meningkatkan risiko untuk terjadinya CPD (Cephalo

Pelvic Diproportion) (Midwifery Update, 2016)

2. Ukur tekanan darah.

Pengukuran tekanan darah pada setiap kali kunjungan antenatal

dilakukan untuk mendeteksi adanya hipertensi (tekanan darah ≥

140/90 mmHg) pada kehamilan dan preeclampsia (hipertensi

disertai edema wajah dan tungkai bawah dan atau proteinuria)

(Midwifery Update, 2016).

3. Nilai status gizi (Ukur lingkar lengan atas).

Pengukuran LiLA hanya dilakukan pada kontak pertama oleh

tenaga kesehatan di trimester I untuk skrining ibu hamil beresiko

KEK. Kurang energy kronis disini maksudnya ibu hamil yang

mengalami kekurangan gizi dan telah berlangsung lama dimana

LiLA kurang dari 23,5 cm. ibu hamil dengan KEK akan dapat

melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) (Midwifery Update,

2016).

4. Ukur tinggi fundus uteri.

Pengukuran tinggi fundus pada setiap kali kunjungan antenatal

dilakukan untuk mendeteksi pertumbuhan janin sesuai dengan

umur kehamilan, kemungkinann ada gangguan pertumbuhan janin.


Standar pengukuran menggunakan pita pengukur setelah

kehamilan 24 minggu. (Midwifery Update, 2016)

Usia Tinggi fundus


kehamilan
Dalam cm Menggunakan petunjuk-
petunjuk badan
12 minggu - Teraba diatas simpisis
pubis

16 minggu - Di tengah, antara simpisis


pubis dan umbilicus

20 minggu 20 cm ( 2 cm) Pada umbilicus

22-27 minggu Usia kehamilan -


dalam minggu = cm
( 2 cm)

28 minggu 28 cm ( 2 cm) Di tengah, antara


umbilikus dan prosesus
sifoideus
29-35 minggu Usia kehamilan -
dalam minggu = cm
( 2 cm)
(Saifuddin,2006 dalam buku Asuhan Kebidanan I)

Manuaba (2007), berdasarkan rumus Johnson Toshack untuk

menghitung tafsiran berat janin (TBJ) yaitu,

TBJ = [TFU (dalam cm) – N] x 155

N = 13 (bila kepala belum melewati PAP)

N = 12 (bila kepala berada di atas spina ischiadica)

N = 11 (bila kepala berada di bawah spina ischiadica)


5. Tentukan denyut jantung janin dan persentasi janin

Menentukan presentasi janin dilakukan pada akhir trimester II dan

selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Pemeriksaan ini

dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika, pada trimester III

bagian bawah janin bukan kepala atau kepala janin belum masuk

ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit, atau ada

masalah lain. Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan

selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. DJJ lambat kurang dari

120 kali/menit atau DJJ cepat lebih dari 160 kali/menit

menunjukkan adanya gawat janin (Midwifery Update, 2016).

6. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT).

Jadwal pemberian imunisasi TT pada wanita, yaitu:

TT 1 : Pada kunjungan antenatal pertama

TT 2 : Pada 4 minggu setelah TT 1, lama perlindungan 3 bulan

TT 3 : Pada 6 bulan setelah TT 2, lama perlindungan 5 tahun

TT 4 : Pada 1 tahun setelah TT 3, lama perlindungan 10 tahun

TT 5 : Pada 1 tahun setelah TT 4, lama perlindungan 25 tahun

(Saifuddin, 2009)

7. Pemberian tablet besi minimal 90 tablet selama kehamilan.

Untuk mencegah anemia gizi besi, setiap ibu hamil harus mendapat

tablet tambah darah (tablet zat besi) dan asam folat minimal 90

tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama.


8. Test laboratorium (rutin dan khusus).

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada ibu hamil adalah

pemeriksaan laboratorium rutin dan khusus. Pemeriksaan laboratorium

yang harus dilakukan pada setiap ibu hamil yaitu golongan darah,

hemoglobin darah, protein urine, dan pemeriksaan spesifik daerah

endemis/ epidemic (malaria, IMS, HIV, dll) (Midwifery Update,

2016).

9. Talaksana kasus

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal di atas dan hasil

pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu

hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan bidan

(Midwifery Update, 2016).

10. Temu wicara (konseling)

a. Kesehatan Ibu

b. Perilaku hidup bersih dan sehat

c. Peran suami/keluarga dalam kehamilan dan perencanaan persalinan

d. Tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas serta kesiapan

menghadapi komplikasi

e. Asupan gizi seimbang

f. Gejala penyakit menular dan tidak menular

g. Penawaran untuk melakukan test HIV dan konseling di daerah

Epidemi meluas dan terkonsentrasi atau ibu hamil dengan IMS dan TB

di daerah epidemic rendah


h. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif

i. KB pasca persalinan

j. Imunisasi

k. Peningkatan kesehatan intelegensia pada kehamilan.

c. 14 T dalam pemeriksaan kehamilan dan 4 terlalu.

Pada pemeriksaan kehamilan bidan wajib memeriksa dan memberikan 14

T (Depkes RI, 2009). Bidan juga harus melakukan konseling pada saat

kehamilan atau mengadakan penyuluhan kepada masyarakat tentang

bahaya 4 terlalu. 4 terlalu dapat mengakibatkan komplikasi pada

kehamilan, seperti cacat pada janin, perdarahan, bahkan sampai kematian

ibu dan janin.

1. Timbang berat badan dan Ukur Tinggi Badan

Penimbangan berat badan pada setiap kali kunjungan antenatal

dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pertumbuhan janin.

Penambahan berat badan yang kurang dari 9 kilogram selama

kehamilan atau kurang dari 1 kilogram setiap bulannya menunjukkan

adanya gangguan pertumbuhan janin.

Pengukuran tinggi badan pada pertama kali kunjungan dilakukan

untuk menapis adanya factor resiko pada ibu hamil. Tinggi badan ibu

kurang dari 145 cm meningkatkan resiko untuk terjadinya CPD (

Cephalo Pelvic Disproportion ) . ( IBI, 2016 )


2. Ukur tekanan darah

Selama hamil tekanan darah dikatakan tinggi bila lebih dari 140/90

mmHg.Kelainan ini dapat berlanjut menjadi pre eklamsia dan

eklamsia jika tidak ditangani dengan tepat (Depkes, 2010).

3. Ukur tinggi fundus uteri

Menurut Manuaba (2010) dan Saifudin (2009) mengatakan untuk

menetapkan usia kehamilan adalah dengan mengukur tingginya

fundus uteri. Beda tinggi fundus uteri dalam centimeter dengan usia

kehamilan adalah kurang lebih 2 cm atau juga dapat menggunakan

jari dan petunjuk-petunjuk badan. Tinggi fundus uteri dipantau setiap

pemeriksaan kehamilan, hal ini dilakukan untuk melihat kesesuaian

antara tinggi fundus uteri dengan usia kehamilan. Dalam menentukan

taksiran berat janin dalam uterus menggunakan rumus Lohnson

yangrumusnya yaitu: TBJ = (TFU – 11/12/13) x 155 gram

(Manuaba, 2010).

4. Pemberian imunisasi TT

Untuk mencegah terjadinya tetanus neonatrum, ibu hamil harus

mendapat imunisasi TT. Pada saat kontak pertama , ibu hamil harus

diskrining status imunisasi T-nya. Pemberian imunisasi TT pada ibu

hamil , disesuai dengan status imunisasi TT ibu saat ini. Ibu hamil

minimal memiliki status imunisasi T2 agar mendapatkan


perlindungan terhadap infeksi tetanus . Ibu hamil dengan status

imunisasi T5 ( TT Long Life ) tidak perlu diberikan imunisasi TT

lagi. ( IBI, 2016 )

5. Pemberian tablet zat besi

Untuk mencegah anemia gizi besi , setiap ibu hamil harus mendapat

tablet tambah darah ( Tablet zat besi ) dan Asam Folat minimal 90

tablet selama kehamilan yang diberikan sejak kontak pertama . ( IBI,

2016 )

6. Temu wicara (konseling)

Memberikan konseling sesuai dengan kebutuhan seperti perawatan

diri selama hamil, perawatan payudara, gizi ibu hamil, tanda-tanda

bahaya kehamilan dan janin sehingga ibu dan keluarga dapat segera

mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya dan

mendengarkan keluhan yang disampaikan, Gejala penyakit menular

dan tidak menular, Penawaran tes HIV, IMD dan pemberian ASI

Ekslusif, KB paska persalinan,Imunisasi dan peningkatan kesehatan

intelegensia pada kehamilan ( Brain Booster ) ( IBI, 2016 )

7. Teknik Senam Hamil

Senam hamil prenatal merupakan bertujuan untuk menjaga otot-otot

dan persendian yang berperan dalam mekanisme persalinan.

Mempertinggi kesehatan fisik dan psikis serta kepercayaan pada diri

sendiri dan penolong dalam menghadapi persalinan, serta


membimbing wanita menuju persalinan yang fisiologis (

Rukiyah,2009 ).

8. Tentukan Presentasi Janin dan DJJ

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui letak janin. Jika

Trimester III bagian bawah janin bukan kepala, atau kepala janin

belum masuk ke panggul berarti ada kelainan letak, panggul sempit

atau ada masalah lain. DJJ lambat kurang dari 120x/ menit atau DJJ

cepat lebih dari 160x/ menit menunjukkan adanya gawat janin( IBI,

2016 )

9. Tatalaksana/ penangan kasus.

Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal dan hasil pemeriksaan

laboratorium, setiap kelainan pada ibu hamil harus ditangani sesuai

standar dan kewenangan bidan. Kasus-kasus yang tidak dapat

ditangani dirujuk sesuai dengan sistem rujukan. ( IBI, 2016 )

10. Tes Protein Urine dan Test Urine Reduksi

Pemeriksaan protein dalam urine pada ibu hamil dilakukan pada

trimester kedua dan ketiga atau atas indikasi. Pemeriksaan

ditunjukan untuk mengetahui adanya proteinuria pada ibu hamil.

Proteinuria merupakan salah satu indicator terjadinya pre-eklamsi

pada ibu hamil( IBI, 2016 )

11. Test Hb

Pemeriksaan Hb dilakukan pada kunjungan ibu hamil sekali

dilakukan pada trimester pertama dan sekali pada trimester ketiga .


Pemeriksaan ini untuk mengetahui ibu hamil tersebut menderita

anemia atau tidak selama kehamilannya karena kondisi anemia dapat

mempengaruhi proses tumbuh kembang janin dalam kandungan.

Pemeriksaan Hb ibu hamil trimester kedua dilakukan atas indikasi. (

IBI, 2016 )

Menurut Tarwoto (2007: 64) kadar Hb dapat dilihat dari tabel

sebagai berikut :

Tabel 2.3 Kadar Hb

Jenis Kelamin Hb Normal

Lahir (aterm) 13.5-18.5

Perempuan dewasa tidak hamil 12.0-15.0

Perempuan dewasa hamil:

Trimester Pertama : 0-12 minggu 11.0-14.0

Trimester Kedua : 13-28 minggu 10.5-14.5

Trimester ketiga : 29 minggu-


11.0-14.0
persalinan

Sumber : Tarwoto (2007: 64)

12. Tes TPHA

Treponema Pallidium Him Aglutinasi.Tes ini adalah tes darah yang

dilakukan untuk penyakit kelamin “sifilis”. ( IBI , 2016 )


13. Pemberian Terapi Kapsul Yoodium

Diberikan pada gangguan akibat kekurangan yodium di daerah

endemis yang dapat berefek buruk terhadap tumbuh kembang

manusia . ( IBI , 2016 )

14. Pemberian Anti Malaria

Diberikan kepada ibu hamil dengan gejala malaria yakni panas

tinggi disertai menggigil. ( IBI , 2016 )

2) Persalinan

Pengertian Persalinan

Persalinan normal menurut WHO (2010) adalah persalinan yang

dimulai secara spontan, berisisko rendahpada awal persalinan dan

tetap demikian selama proses persalinan, bayi lahir secara spontan

dalam presentasi belakang kepala pada usia 37-42 minggu lengkap

dan setelah persalinan ibu dan bayi dalam kondisi sehat.

Persalinan adalah suatu proses yang dimulai dengan adanya

kontraksi uterus yang menyebabkan dilatasi progresif dari serviks,

kelahiran bayi, jkelahiran plasenta,dan proses tersebut merupakan

proses alamiah. (Rohani, 2011).

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan

janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin

dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir (Sarwono, 2006).


3) Jenis-Jenis Persalinan

Persalinan berdasarkan umur kehamilan yaitu:

1) Abortus : pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup

diluar kandungan, berat janin <500 gram atau usia kehamilan

kurang dari 20 minggu (Fadlun, 2012).

2) Partus Immaturus : partus dari hasil konsepsi pada kehamilan

dibawah 28 minggu dengan berat janin kurang dari 1000 gram

3) Partus Prematurus : kelahiran hidup bayi dengan berat antara

1000 gram sampai 2500 gram sebelum usia 37 minggu

4) Partus Maturus atau Aterm : persalinan pada kehamilan 37-42

minggu, berat janin diatas 2500 gram.

5) Partus Postmaturus atau Postterm : persalinan yang terjadi 2

minggu atau lebih dari hari perkiraan lahir (Saifuddin, 2014)

Bentuk-bentuk persalinan menurut Manuaba (2010) yaitu:

1) Persalinan spontan : bila proses persalinan seluruhnya

berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri.

2) Persalinan buatan : bila proses persalinan dibantu oleh tenaga dari

luar

3) Persalinan anjuran (partus presipitatus)

4) Faktor –Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

Menurut Manuaba (2007), faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan

yaitu :
a) Power

His (kontraksi ritmis otot polos uterus) adalah kekuatan

mengejan ibu keadaan kardiovaskuler respirasi metabolik ibu.

Kontraksi uterus berirama teratur dan involunter serta

mengikuti pola yang berulang. Setiap kontraksi uterus memiliki

tiga fase yaitu: increment (ketika intensitasnya terbentuk), acme

(puncak atau maksimum), decement (ketika relaksasi).

b) Passage

Passage adalah keadaan jalan lahir, jalan lahir mempunyai

kedudukan penting dalam proses persalinan untuk mencapai

kelahiran bayi. Dengan demikian evaluasi jalan lahir merupakan

salah satu faktor yang menentukan apakah persalinan dapat

berlangsung pervaginam atau sectio sesaria.

c) Passanger

Passager adalah janinnya sendiri, bagian yang paling besar dan

keras pada janin adalah kepala janin, posisi dan besar kepala dapat

mempengaruhi jalan persalinan, kepala janin ini pula yang paling

banyak mengalami cedera pada persalinan, sehingga dapat

membahayakan hidup dan kehidupan janin kelak, hidup sempurna,

cacat atau akhirnya meninggal. Biasanya apabila kepala janin sudah

lahir, maka bagian-bagian lain dengan mudah menyusul kemudian.


d) Psikologis

Respon Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah

pada saat itulah benar-benar terjadi realitas “kewanitaan sejati”

yaitu munculnya rasa bangga biasa melahirkan atau

memproduksi anaknya. Mereka seolah-olah mendapatkan

kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu

“keadaan yang belum pasti“ sekarang menjadi hal yang nyata.

Psikologis meliputi : Melibatkan psikologis ibu, emosi dan

persiapan intelektual, pengalaman bayi sebelumnya, kebiasaan

adat, dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu.

e) Penolong

Peran dari penolong persalinan dalam hal ini adalah

mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi

pada ibu dan janin. Proses tergantung dari kemampuan skill dan

kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan.

5) Tanda-Tanda Persalinan

1.Terjadinya his persalinan

a) Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan

b) Sifatnya terartur, interval makin pendek, dan kekuatan

makin besar

c) Makin beraktifitas (jalan), kekuatan akan makin bertambah


2. Pengeluaran lendir dengan darah

 Pendataran dan pembukaan

 Pembukaan menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis

servikalis lepas

 Terjadi perdarahan karena papile pembuluh darah pecah

3.Pengeluaran cairan

Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban.

Sebagian besar, keadaan ini terjadi menjelang pembukaan

lengkap. Setelah adana pecah ketuban, diharapkan proses

persalinan akan berlangsung kurang dari 24 jam.

4.Hasil-hasil yang didapatkan pada pemeriksaan dalam

 Perlunakan serviks

 Pendataran serviks

 Pembukaan serviks (Sondakh, 2013)

6) 60 Langkah Asuhan Persalinan Normal

1. Melihat tanda dan gejala persalinan kala dua

 Ibu mempunyai keinginan untuk meneran

 Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan

vagina

 Perineum menonjol
 Vulva vagina dan sfingter ani membuka

2. Memastikan perlengkapan, bahan, dan obat-obatan esensial siap

digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan

menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus set.

3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.

4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci

kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan

mengeringkan tangan dengan handuk satu kali pakai/pribadi

yang bersih.

5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua

pemeriksaan dalam.

6. Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan

memakai sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan

meletakkan kembali di partus set/wadah desinfeksi tingkat tinggi

atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik).

7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati

dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa

yang sudah dibasahi air desinfeksi tingkat tinggi. Jika mulut

vagina, perieneum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,

membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari

depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang

terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung


tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangsn

tersebut dengan benar di dalam larutan terkontaminasi)

8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan

dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah

lengkap. Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan

sudah lengkap, lakukan amniotomi.

9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan

tangan yang masih memakai sarung tangan yang kotor ke dalam

larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan

terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin 0,5% selama

10 menit. Mencuci kedua tangan

10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) Setelah kontraksi berakhir

untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120 - 160

×/menit).

11. Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai

dengan keinginannya.

 Menunggu hingga ibumempunyai keinginan untuk meneran.

Melanjutkan pemantauan kesehatan dan kenyamanan ibu serta

janin sesuai dengan pedoman persalinan aktif dan

dekontaminasikan temuan-temuan.
 Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana mereka

dapat mendukung dan memberi semangat kepada ibu saat ibu

mulai meneran.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk

meneran.

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang

kuat untuk meneran.

 Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai

keinginan untuk meneran.

 Mendukung dan memberi semangan atas usaha ibu untuk

meneran.

 Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai dengan

pilihannya

 Manganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi

 Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi

semangat pada ibu.

 Menilai DJJ setiap lima menit

 Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu

primipara atau 60 menit (1 jam ) untuk ibu multipara, merujuk

segera. Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk meneran

 Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok, atau

mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran


dalam 60 menit, anjurkan ibu untuk mulai meneran pada

puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat di antara

kontraksi.

 Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi

segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan segera.

14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 -6 cm,

letakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk mengeringkan bayi.

15. Meletakkan kain yang bersih yang dilipat 1/3 bagian, di bawah

bokong ibu

16. Membuka partus set.

17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,

lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi,

letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekana yang

lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, mwmbiarkan

kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu unutk meneran

perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala lahir.

19. Dengan lembut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan

kain atau kasa yang bersih

20. Memeriksa lilitan talu pusat dan mengambil tindakan yang sesuai

jika hal itu terjadi, kemuadian meneruskan segera proses kelahiran

bayi.
 Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan

lewat bagian atas kepala bayi.

 Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya di

dua tempat dan memotongnya.

21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan outaran paksi luar

secara spontan.

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua

tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk

meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut menariknya ke

arah bawah dan ke arah luar hungga bahu anterior muncul di

bawah arcus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah

atas dan ke arah luar untuk melahirkan bahu posterior.

23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala

bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan

bahu dan lengan posterior lahir ke tangam tersebut.

Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati

perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk menyangga tubuh

bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan anterior untuk

mengendalikan siku dan tangan anterior bayi saat keduanya lahir.

24. Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangannyang ada di

atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi dengan hati-hati

membantu kelahiran kaki.


25. Menilai bayi dengan cepat (dalam 30 detik), kemudian meletakkan

bayi di atas perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih

rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan

bayi di tempat yang memungkinkan) Bila bayi mengalami

asfiksia, lakukan resusitasi

26. Segera membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan

biarkan kontak kulit ibu -bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin IM

27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat

bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah

ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama

28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari

gunting dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.

29. Mengeringkan bayi, mengganti handuk yang basah dan

menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan

kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat terbuka.

Jika bayi mengalami kesulitan bernapas, ambil tindakan yang

sesuai.

30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkna ibu untuk

memeluk bayinya dengan memulai pemberian ASI jika ibu

menghendakinya.

31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi

abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.

32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntuk.


33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, berikan suntukan

oksitosin 10 unit i.m di gluteus atau 1/3 atas paha kanan ibu

bagian luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu.

34. Memindahkan klem pada tali pusat.

35. Meletakkan satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di

atas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan

palpasi kontraksi dan menstabilakn uterus. Memegang tali pusat

dan klem dengan tangan yang lain

36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan

penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.

Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah uterus

dengan cara menekan uterus ke atas dan belakang (dorsokranial)

dengan hati-hati untuk membantu mencegah terjadinya inversio

uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 -40 detik, hentikan

penegangan tali pusat dan menunggu hingga kontraksi berikut

mulai.

 Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seotang

anggota keluarga untuk melakukan rangsangan puting susu.

37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk menetan sambil

menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas,

mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan

berlawanan arah pada uterus.


 Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga

berjarak sekitar 5 -10 c, dari vulva.

 Jika plasenya tidak lepas setelah melakukan penegangan tali

pusat selama 15 menit :

- Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit i.m

- Menilai kandung kemih dan dilakukan kateterisasi

kanding kemih dengan menggunakan teknik aseptik jika

perlu

- Meminta keluarga untuk menyiapkan rujukan.

- Mengulangi penegangan tali pusat selama 15 menit

berikutnya

- Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir dalam wakti 30 menit

sejak kelahiran bayi.

38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran

plaenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang plasenta

dengan dua tangan dan dengan hati-hati memutar plasenta hingga

selaput ketuban terpilin. Dengan lembut perlahah melahirkan

selaput ketuban tersebut.

39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase

uterus, melakukan telapak tangan di fundus dan melakukan

masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus

berkontraksi.
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu

maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa

plasenta dan selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan

plasenta di dalam kantung plastik atau tempat khusus.

41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan sgera

menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan

baik

43. Mencelupkan kedua tangannyang memakai sarung tangan ke

larutan klorin 0,5 % membilas kedua tangan yang masih bersarung

tangan tersebut dengan air desinfeksi tingkat tinggi dan

mengeringkan dengan kain yang bersih dan kering.

44. Menempatkan klem tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril

atau mengikatkan tali desinfeksi tingkat tinggi dengan simpul mati

sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.

45. Mengikatkan satu lagi simpul mati di bagian pusat yang

berseberangan dengan simpul mati yang pertama.

46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan

klorin 0,5%.

47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanha.

Memastikan handuk atau kainnya bersih atau kerinh.

48. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI.


49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan

pervaginam.

 2-3 kali dalam 15 menit pertama pascapersalinan

 Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pascapersalinan

 Setiap 20-30 menit pada jam kedua pascapersalinan.

 Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, laksanakan

perawatan yang sesuai untuk menatalaksana atonia uteri

 Jika ditemukannlaserasi yang memerlukan penjahitan, lakukan

penjahitan dengan anastesi lokal dan menggunakan teknik

yang sesuai.

50. Mengajarkan pada ibu/keluarga bagaimana melakukan masase

uterus dan memeriksa kontraksi uterus.

51. Mengevaluasi kehilangan darah

52. Memeriksa tekanan darah, nadi, dan keadaan kandung kemih

setiap 15 menit selamam satu jam pertama pascapersalinan dan

setiap 30 menit selama jam kedua pascapersalinan

 Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama dua

jam pertama pascapersalinan.

 Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak

normal.

53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5% untuk

dekontaminasi selama 10 menit. Mencuci dan membilas peralatan

setelah dekontaminasi.
54. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat

sampah yang sesuai

55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air desinfeksi tingkat

tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir,ndan darah.

Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.

56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan ASI.

Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan

makanan yang diinginkan.

57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan

dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.

58. Mencelupkan sarung tanganbkotor ke dalam larutan klorin 0,5%,

membalikkan bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam

larutan klorin 0,5% selama 10 menit

59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir

60. Melengkapi partograf

7) Proses Persalinan Normal

a. Kala I

Pada kala I persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi

uterus dan pembukaan serviks hingga mencapai pembukaan

lengkap (10 cm), lamanya kala I untuk primigravida berlangsung 13

jam sedangkan multigravida berlangsung 6 sampai 7 jam. Persalinan

kala I dibagi menjadi dua fase yaitu :


1). Fase Laten: Berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi

sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.

2). Fase Aktif : Dibagi dalam tiga fase yaitu :

a). Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm

menjadi 4 cm.

2). Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan

terjadi sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.

3). Fase deselerasi, pembukaan menjadi lambat kembali, dari

pemukaan 9 cm menjadi 10 cm (Sarwono, 2006).

Pemantauan pada Persalinan

Parameter Frekuensi pada fase Frekuensi pada fase


laten aktif

TD Setiap 4 jam Setiap 4 jam

SUHU Setiap 4 jam Setiap 4 jam

NADI Setiap 30-60 menit Setiap 30-60 menit

DJJ Setiap 1 jam Setiap 30 menit

KONTRAKSI Setiap 1 jam Setiap 30 menit

PEMBUKAAN Setiap 4 jam* Setiap 4 jam*

PENURUNAN Setiap 4 jam* Setiap 4 jam*

*Dinilai pada saat pemeriksaan dalam

His (kontraksi) adalah serangkaian kontraksi rahim yang

teratur, yang secara bertahap akan mendorong janin menuju serviks


(rahim bagian bawah) dan vagina (jalan lahir), sehingga janin keluar

dari rahim ibu. Kontraksi menyebabkan serviks secara bertahap

membuka (mengalami dilatasi), menipis, dan tertarik sampai hampir

menatu dengan rahim. Perubahan ini memungkinkan janin bisa

melewati jalan lahir.

Menurut Wiknjosastro (2005) menyatakan bahwa pada

multigravida lama kala I sekitar 7 jam dan pada primigravida

berlangsung kira-kira 13 jam.

IBI (2005) menyatakan bahwa kehadiran seorang pendamping

pada saat persalinan dapat menimbulkan efek positif terhadap hasil

persalinan dalam arti dapat menururnkan morbiditas, mengurangi

rasa sakit, persalinan yang lebih singkat, dan menurunnya persalinan

dengan operasi. Selain itu, kehadiran seorang pendamping juga dapat

memberikan rasa nyaman, aman, semangat, dukungan emosional,

dan dapat membesarkan hati ibu.

Asuhan sayang ibu terdiri dari memberikan dukungan

emosional, membantu pengaturan posisi, memberikan cairan nutrisi,

keleluasaan ibu untuk ke kamar mandi dan pencegahan infeksi

(DEPKES RI, 2007)


b. Kala II

Kala dua persalinan dimulai ketika pembukaan serviks sudah

lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga

disebut dengan kala pengeluaran uri (JNPK, 2008).

Proses persalinan kala dua biasanya berlangsung 2 jam pada

primigravida, sedangkan pada multigravida berlangsung selama 1

jam (Saifuddin, 2009). Diagnosis kala II ditegakkan dengan

melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan

sudah lengkap dan kepala janin sudah tampak di vulva dengan

diameter 5-6 cm.

Gejala dan tanda kala II persalinan (JNPK, 2008):

a. Ibu merasakan ingin meneran bersamaan dengan terjadinya

kontraksi.

b. Ibu merasakan adanya peningkatan tekanan pada rectum dan/atau

vaginanya.

c. Perineum menonjol.

d. Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.

e. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah.

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi

obyektif) yang hasilnya adalah:

a. Pembukaan serviks telah lengkap, atau

b. Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.


Asuhan yang dapat diberikan kepada ibu bersalin pada kala II (Saifuddin,

2009):

1. Memberikan dukungan terus menerus kepada ibu

Kehadiran seseorang untuk:

1) Mendampingi ibu agar merasa nyaman.

2) Menawari minum, mengipasi dan memijat ibu.

2. Menjaga kebersihan diri

1) Ibu tetap dijaga kebersihannya agar terhindar dari infeksi.

2) Bila ada darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan.

3. Mengipasi dan masase.

Menambah kenyamanan bagi ibu.

4. Memberikan dukungan mental.

Untuk mengurangi kecemasan dan ketakutan ibu, dengan cara:

1) Menjaga privasi ibu.

2) Penjelasan tentang proses dan kemajuan persalinan.

3) Penjelasan tentang prosedur ayang akan dilakukan dan

keterlibatan ibu.

5. Mengatur posisi ibu.

Dalam memimpin mengedan dapat dipilih posisi: jongkok,

menungging, tidur miring, setengah duduk.

Posisi tegak ada kaitannya dengan berkurangnya rasa nyeri, mudah

mengedan, kurangnya trauma vagina dan perineum dan infeksi.

6. Menjaga kandung kemih tetap kosong.


Ibu dianjurkan untuk berkemih sesering mungkin. Kandung kemih

yang penuh dapat menghalangi turunnya kepala ke dalam rongga

panggul.

7. Memberikan cukup minum.

Memberi tenaga dan mencegah dehidrasi

8. Memimpin mengedan.

Ibu memimpin mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk

mengambil nafas. Mengedan tanpa diselingi bernafas, kemungkinan

dapat menurunkan pH pada arteri umbilicus yang dapat

menyebabkan denyut jantung tidak normal dan nilai apgar rendah.

9. Bernafas selama persalinan.

Minta ibu untuk bernafas selagi kontraksi ketika kepala akan lahir.

Hal ini menjaga agar perineum meregang pelan dan mengontrol

lahirnya kepala serta mencegah robekan.

10. Pemantauan denyut jantung janin.

Periksa DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak

mengalami bradikardi (<120). Selama mengedan yang lama, akan

terjadi pengurangan aliran darah dan oksigen ke janin.

11. Melahirkan bayi.

1) Menolong kelahiran kepala:

a) Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak

terlalu cepat.
b) Menahan perineum dengan satu tangan lainnya bila

diperlukan.

c) Mengusap muka bayi untuk membersihkan dari kotoran

lendir/darah

2) Periksa tali pusat.

Bila lilitan tali pusat terlalu ketat, diklem pada dua tempat

kemudian digunting diantara dua klem tersebut, sambil melindungi

leher bayi

3) Melahirkan bahu dan anggota badan seluruhnya:

i. Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi.

ii. Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu

depan.

iii. Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu

belakang.

a) Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian

belakang bayi sambil menyangga kepala dan

selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk

mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya.

b) Pegang erat bayi agar jangan sampai jatuh.

4) Bayi dikeringkan dan dihangatkan dari kepala sampai seluruh

tubuh.
Setelah bayi lahir segera dikeringkan dan diselimuti dengan

menggunakan handuk atau sejenisnya, letakkan pada perut

ibu dan berikan bayi untuk IMD.

5) Merangsang bayi.

a) Biasanya dengan melakukan pengeringan cukup

memberikan rangsangan pada bayi.

b) Dilakukan dengan cara mengusap-usap pada bagian

punggung atau menepuk telapak kaki bayi

a. Kala III

Kala III persalinan dimulaI sejak lahirnya bayi sampai lahirnya

plasenta dan selaput ketuban. Lama persalinan kala III pada

primigravida 15 menit.

Penanganan kala III :

1). Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus yang

berkontraksi yang juga mempercepat pengeluaran plasenta.

2). Lakukan Peregangan Talipusat Terkendali (PTT) selama uterus

berkontraksi.

3). Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan

tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta. Keluarkan

plasenta dengan cara menggerakkan ke bawah dan ke atas sesuai

jalan lahir. Setelah itu memutar searah jarum jam untuk

mengeluarkan selaput ketuban.


4). Massase fundus uteri ibu.

5). Jika plasenta tidak lahir dalam 15 menit, berikan suntikan

oksitosin 10 IU/IM dosis kedua.

6). Jika plasenta belum lahir juga dalam waktu 30 menit:

a). Periksa kandung kemih dan lakukan katerisasi jika kandung

kemih penuh.

b). Periksa adanya tanda pelepasan plasenta.

c). Berikan oksitosin 10 IU/IM dosis ke tiga.

d). Siapkan rujukan jika tidak ada tanda-tanda pelepasan

plasenta

Tanda-tanda pelepasan plasenta :

1. Perubahan bentuk dan tinggi fundus

2. Tali pusat bertambah panjang.

3. Adanya semburan darah secara tiba-tiba dan singkat

(Asuhan Persalinan Normal, 2007).

Manajemen Aktif Kala III :

1. Pemberian oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir.

2. Melakukan penegangan tali pusat terkendali.

3. Massase fundus uteri (Asuhan Persalinan Normal, 2007).

7). Periksa robekan jalan lahir.


b. Kala IV

Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena

perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama

setelah kelahiran bayi.

Penanganan kala IV (Saifuddin, 2006):

1). Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap

20-30 menit pada jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat

massase fundus uterus sampai fundus teraba keras.

2). Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih serta perdarahan

setiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam

kedua.

3). Anjurkan ibu untuk minum.

4). Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih

dan kering.

5). Biarkan ibu istirahat dan biarkan bayi berada pada ibu untuk

diberikan ASI.

6). Jika ibu ingin ke kamar mandi, ibu boleh bangun. Pastikan ibu

dibantu karena dalam keadaan lemah. Pastikan ibu sudah BAK

dalam 3 jam pascapersalinan.

7). Ajari ibu atau anggota keluarga tentang :

a). Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan

kontraksi.

b). Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.


7. Definisi Ruptur Perineum

Ruptur adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh

rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala

janin atau bahu pada saat persalinan. Bentuk ruptur biasanya tidak

teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan penjahitan

(Sukrisno, Adi 2010). Robekan perineum terjadi hampir pada

semua persalinan pertama dan tidak jarang pada persalinan

berikutnya. Namun hal ini dapat dihindarkan atau dikurangi

dengan menjaga sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin

dengan cepat (Soepardiman dalam Nurasiah, 2012).

Menurut Prawirohardjo 12 (2011), tempat yang paling sering

mengalami perlukaan akibat persalinan adalah perineum. Ruptur

perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik

secara spontan maupun dengan menggunakan alat atau tindakan.

8. Faktor yang Mempengaruhi Ruptur Perineum

Ruptur perineum disebabkan oleh faktor yang mencakup

paritas, jarak kelahiran, berat badan lahir, dan riwayat persalinan

yang mencakup ekstraksi cuman, ekstraksi vakum dan episiotomi.

Berikut adalah faktor yang mempengaruhi:


1) Paritas

Jumlah janin dengan berat badan lebih dari 500 gram

yang pernah dilahirkan hidup maupun mati bila berat badan

tidak diketahui maka dipakai umur kehamilan lebih dari 24

minggu. Robekan perineum hampir terjadi pada semua

persalinan pertama (primipara) dan tidak jarang pada

persalinan berikutnya (multipara) (Sumarah, 2008).

2) Berat lahir bayi

Semakin besar berat bayi yang dilahirkan meningkatkan

risiko terjadinya ruptur perineum. Bayi besar adalah bayi

yang begitu lahir memiliki berat lebih dari 4000 gram. Hal

ini terjadi karena semakin besar berat badan bayi yang

dilahirkan akan meningkatkan risiko terjadinya ruptur

perineum karena perineum tidak cukup kuat menahan

regangan kepala bayi dengan berat badan bayi yang besar,

sehingga pada proses kelahiran bayi dengan berat badan bayi

lahir yang besar sering terjadi ruptur perineum. Kelebihan

berat badan dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya

ibu menderita diabetes mellitus, ibu yang memiliki riwayat

melahirkan bayi besar, faktor genetik, dan pengaruh

kecukupan gizi. Berat bayi lahir normal adalah sekitar 2500

sampai 4000 gram (Saifuddin, 2008).


3) Cara mengejan

Kelahiran kepala harus dilakukan cara-cara yang telah

direncanakan untuk memungkinkan lahirnya kepala dengan

pelan-pelan. Lahirnya kepala dengan pelan-pelan dan sedikit

demi sedikit mengurangi terjadinya laserasi. Penolong harus

mencegah terjadinya pengeluaran kepala yang tiba-tiba oleh

karena ini akan mengakibatkan laserasi yang hebat dan tidak

teratur, bahkan dapat meluas sampai 14 sphincter ani dan

rektum. Pimpinan mengejan yang benar sangat penting, dua

kekuatan yang bertanggung jawab untuk lahirnya bayi

adalah kontraksi uterus dan kekuatan mengejan (Oxorn,

2010).

4) Elastisitas perineum

Perineum yang kaku dan tidak elastis akan menghambat

persalinan kala II dan dapat meningkatkan resiko terhadap

janin. Juga menyebabkan robekan perineum yang luas

sampai tingkat 3. Hal ini sering ditemui pada primigravida

berumur diatas 35 tahun (Mochtar, 2011).

5) Umur ibu <20 tahun dan > 35 tahun

Berdasarkan penelitian responden yang tidak mengalami

kejadian ruptur perineum cenderung berumur tidak beresiko


(20-35 tahun), sedangkan responden yang mengalami ruptur

perineum adalah responden yang berumur resiko tinggi

sebanyak 11 orang. Hasil uji statistik diperoleh nilai korelasi

chi square dengan ρ value 0,022 < α 0,05 yang artinya Ho

ditolak, menunjukan ada hubungan antara umur ibu dengan

kejadian ruptur perineum. Pada umur <20 tahun organ-organ

reproduksi belum berfungsi dengan sempurna, sehingga bila

terjadi kehamilan dan persalinan akan lebih mudah

mengalami komplikasi. Selain itu, kekuatan otot-otot

perineum dan 15 otot-otot perut belum bekerja secara

optimal, sehingga sering terjadi persalinan lama atau macet

yang memerlukan tindakan. Faktor resiko untuk persalinan

sulit pada ibu yang belum pernah melahirkan pada kelompok

umur ibu dibawah 20 tahun dan pada kelompok umur di atas

35 tahun adalah 3 kali lebih tinggi dari kelompok umur

reproduksi sehat (20-35 tahun) (Mustika & Suryani, 2010)

9. Klasifikasi Ruptur Perineum

1) Ruptur Perineum Spontan

Derajat 1 : mukosa vagina dan kulit perineum

Derajat 2 : mukosa vagina, kulit perineum, dan otot perineum.

Derajat 3 : mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, dan

otot sfingter anni


Derajat 4 : mukosa vagina, kulit perineum, otot perineum, otot

sfingter anni, dan dinding rectum (pada laserasi derajat III dan

IV memerlukan teknik dan prosedur khusus maka pada derajat

tersebut segera dirujuk) (Asuhan Persalinan Normal, 2007).

2) Ruptur Perineum Disengaja (Episiotomi)

Episiotomi adalah insisi bedah yang dibuat di perineum untuk

memudahkan proses kelahiran (Norwitz & Schorge, 2008). Pada

persalinan spontan sering terjadi robekan perineum yang

merupakan luka dengan pinggir yang tidak teratur. Hal ini akan

menghambat penyembuhan sesudah luka dijahit. Oleh karena itu,

dan juga untuk melancarkan jalannya persalinan, dapat dilakukan

insisi pada perineum saat kepala janin tampak dari luar dan mulai

meregangkan perineum. Insisi tersebut dilakukan pada garis tengah

(episiotomi medialis) atau ke jurusan lateral (episiotomi

mediolateralis) (Wiknjosastro, 2008). Perlu diketahui bahwa

episiotomi medial dan mediolateral dengan sudut 60 derajat akan

sangat berkaitan dengan OASI (Obstetric Anal Spinchter Injury).

Studi 17 menyatakan bahwa dokter dan bidan pada umumnya tidak

bisa menempatkan sudut yang aman dan benar, oleh sebab itu lah

dalam melakukan episiotomi harus dilakukan dengan hati-hati

(Freeman, et al., 2014). Sedangkan penelitian lain menyatakan

bahwa tidak ada manfaat yang signifikan dari prosedur episiotomi.

Faktanya, episiotomi akan menyebabkan morbiditas dibandingkan


persalinan tanpa episiotomi. Hal ini ditunjukkan dalam bentuk

nyeri dan dispareunia yang signifikan pada kelompok penelitian

(Islam, et al., 2013). Indikasi dilakukan episiotomi adalah sebagai

persiapan persalinan operatif dimana hal ini biasanya dilakukan

untuk mempermudah kelahiran dengan komplikasi distosia bahu.

Tujuan episiotomi adalah untuk mengurangi komplikasi trauma

dasar panggul saat kelahiran, yang mencakup perdarahan, infeksi,

prolaps genital, dan inkontinensia akibat OASI. Meskipun

demikian kadang tak terlihat manfaat ibu yang menjalani proses

episiotomi (Norwitz & Schorge, 2008).

 Evidence Based

Menurut Depkes RI (2010) dalam asuhan persalinan, yaitu :

1. Asuhan sayang ibu dan bayi harus dimasukan dalam

sebagai bagian dari persalinan bersih dan aman, termasuk

hadirnya keluarga atau orang-orang yang member

dukungan bagi ibu.

2. Menggunakan partograf untuk memantau persalinan dan

berfungsi sebagai suatu catatan rekam medis.

3. Manajemen aktif kala III, termasuk penjepitan dan

pemotongan tali pusat secara dini, member suntika oktitosin

secara IM, melakukan penegangan tali pusat terkendali atau

PTT dan segera melakukan massase fundus, dilakukan pada

semua persalinan normal.


4. Penolong persalinan harus tetap tinggal pada ibu dan bayi

setidaknya 2 jam pasca melahirkan atau jika keadaaan ibu

telah stabil. Fundus harus diperiksa setiap 15 menit selama

1 jam dan 30 menit pada jam kedua. Massase fundus harus

sering diperiksa untuk memastikan tonus uterus tetap baik,

perdarahan minimal dan pencegahan perdarahan.

Setelah 24 jam pasca persalinan, fundus harus sering diperiksa

dan di massase sampai tonus baik. Ibu dan anggota keluarga dapat

diajarkan melakukannya.

C) Bayi Baru Lahir Umur 1 Jam

1. Pengertian Bayi Baru Lahir

Menurut M. Sholeh Kosim (2007), bayi baru lahir normal

adalah berat lahir antara 2500-4000 gram, cukup bulan, lahir

langsung menangis, dan tidak ada kelainan congenital (cacat

bawaan) yang berat.

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan

37 minggu sampai 42 minggu dengan berat badan 2500-4000

gram. Pada periode pascapartum, bayi baru lahir mengalami

perubahan biofisiologis dan perilaku yang kompleks akibat transisi

kehidupan ekstrauterin. Beberapa jam setelah lahir, menampilkan

suatu periode penyesuaian kritis bagi bayi baru lahir. Pada


sebagian besar lingkungan, perawat memberikan perawatan segera

kepada bayi baru lahir (Pusdiknakes, 2006).

2. Ciri-ciri Bayi Baru Lahir

a. Berat badan 2500-4000 gram

b. Panjang badan 48-52 cm

c. Lingkar kepala 33-35 cm

d. Lingkar dada 33-38 cm

e. Frekuensi jantu 120-160 x/menit

f. Pernafasan ± 40-60 x/menit

g. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutran

cukup

h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah

sempurna

i. Kuku agak panjang dan lemas

j. Genetalia : peremuan labia mayora sudah menutupi labia

minora, laki-laki tertis sudah turun, skortum sudah ada.

k. Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik

l. Refleks morroro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah

baik

m. Refleks grap atau menggenggam erat sudah baik

n. Refleks rooting mencari puting susu dengan rangsangan taktil

pada pipi dan daerah mulut terbentuk dengan baik


o. Eliminasi baik, mekonium akan keluar dalam 24 jam

pertama, mekonium bewarna hitam kecoklatan (Yulviana,

2014)

3. Refleks pada bayi Baru Lahir

Refleks adalah gerakan naluriah untuk melindungi bayi.

Dalam beberapa minggu pertama kehidupannya bayi akan

mempertahankan posisinya seperti posisi tubuh di dalam

kandungan (posisi janin) yaitu fleksi penuh pada sendi lengan,

siku, panggul dan lutut dan memposisikan anggota gerak untuk

dekat dengan bagian depan tubuh bayi. Posisi ini akan berubah

bila bayi sudah dapat mengontrol gerakannya. BBL memiliki

berbagai macam refleks alamiah. Memakai refleks ini akan sangat

membantu untuk memahami penyebab beberapa perilaku bayi.

Adapaun macam-macam refleks meliputi :

a) Refleks glabella

b) Refleks menghisap (sucking)

c) Refleks mencari (rooting)

d) Refleks menggenggam (palmar grasping)

e) Refleks babinski

f) Reflek moro

g) Refleks tonic neck / fencing

h) Refleks labirin (tonic labyrinthine)


i) Refleks bernapas (breathing)

j) Refleks menelan (swallowing)

4. Asuhan Pada Bayi Usia 6 Hari

Rencana asuhan pada bayi hari ke 2 sampai hari ke 6 setelah

lahir harus dibuat secara menyeluruh dan rasional sesuai dengan

temuan pada langkah sebelumnya atau sesuai dengan keadaan bayi

saat itu (normal/sehat atau mengalami gangguan/sakit). Secara

umum asuhan yang diberikan pada bayi usia 2 – 6 hari meliputi :

1. Air Susu Ibu (ASI)

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan yang terbaik bagi

bayi. ASI diketahui mengandung zat gizi yang sesuai untuk

pertumbuhan dan perkembangan bayi, baik kualitas

maupun kuantitasnya. Berikan ASI sesering mungkin

dengan keinginan ibu (jika payudara sudah penuh) atau

sesuai dengan kebutuhan bayi, yaitu setiap 2 – 3 jam

(paling sedikit 4 jam sekali) dan secara bergantian

diberikan antara payudara kiri dan kanan. Berikan ASI

ekslusif sampaia bayi berusia 6 bulan. Selanjutnya ASI

diberikan sampai berusia 2 tahun dengan penambahan

makanan lunak atau padat yang disebut Makanan

Pendaming ASI (MPASI).


1. Buang Air Besar (BAB)

Kotoran yang dikeluarkan bayi baru lahir pada hari-hari pertama

disebut mekonium. Mekonium adalah aksresi gastrointestinal bayi

yang diakumulasi dalam usus sejak masa janin, yaitu pada usia

kehamilan 16 minggu. warna mekonium adalah hijau kehitaman,

lengket dan bertekstur lembut, terdiri atas mukus, sel epitel, cairan

amnion yang tertelan, asam lemak dan pigmen empedu. Mekonium

dikeluarkan seluruhnya 2 – 3 hari setelah lahir. Kemudian feses bayi

yang diberi ASI akan berubah warnanya menjadi hijau emas dan

terlihat seperti bibit. Bayi akan diberi susu formula memiliki feses

berwarna coklat gelap, seperti pasta atau padat. Bayi akan

berdefekasi 5 – 6 kali tiap hari dan akan berkurang pada minggu

ke 2. Apabila bayi tidak defekasi selama lebih dari 2 hari segera

hubungi tenaga kesehatan.

2. Buang Air Kecil (BAK)

Bayi berkemih sebanyak 4 – 8 kali perhari. Pada awalnya volume

urine sebanyak 20 – 30 ml/hari, meningkatt menjadi 100 – 200 ml/

hari pada akhir minggu pertama. Warna urine keruh / merah muda

dan berangsur-angsur jernih karena intak cairan meningkat.

3. Tidur

Memasuki bulan pertama kehidupan, bayi baru lahir menghabiskan

waktunya untuk tidur. Sediakan lingkungan yang nyaman, atur


posisi dan minimalkan gangguan agar bayi dapat tidur saat ibu

ingin tidur. Lama tidur BBL antara 16-20 jam sehari dengan

masing-masing periode antara 1,5 jam-5/ 6 jam (Doenges, M, E,

2001)

4. Kebersihan kulit

Kulit bayi masih sangat sensitif terhdap kemungkinan tejadinya

infeksi. Verniks kaseosa bermanfaat untuk melindungi kulit bayi

sehingga jangan dibersihkan saat memandikan bayi. Pastikan

semua alat yang digunakan oleh bayi selalu dalam keadaan bersih

dan kering.

5. Keamanan

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjaga keamanan bayi

adalah dengan tetap menjaga, jangan sekalipun mennggalkan bayi

tanpa ada yang menunggu. Selain itu juga jangan memberikan

apapun ke mulut bayi selain ASI, karena bayi bisa tersedak dan

jangan menggunakan alat penghangat di tempat tidur bayi.

5. Tanda – tanda bahaya bayi baru lahir

 Pernapasan sulit / > 60 x/menit

 Suhu terlalu panas (> 38 0C) atau terlalu dingin (< 36 0C)
 Isapan saat menyusu lemah, rewel, sering muntah dan

menantuk berlebihan

 Tali pusat merah, bengkak, keluar cairan, berbau busuk dan

berdarah

 Tidak BAB dalam 2 hari, tidak BAK dalam 24jam, feses

lembek atau cair, sering berwarna hijau tua dan terdapat lendir

atau darah

 Menggigil, rewel, lemas, mengantuk, kejang, tidak bisa tenang

dan menangs terus menerus

 Bagian putih mata menjadi kuning atau warna kulit tampak

kuning, coklat atau persik.

6. Penyuluhan sebelum bayi pulang

a. Perawatan BBL sehari-hari

Meliputi perawatan tali pusat. Bidan hendaknya menasehati

ibu agar tidak membubuhkan papun pada daerah sekitar tali

pusat karena dapat mengakibatkan infeksi. Hal ini

disebabkan kelembapan badan bayi sehingga menciptakan

kondisi yang ideal bagi tumbuhnya bakteri.

b. Imunisasi

Imunisasi adalah suatu cara memproduksi imunitas aktif

buatan untuk melindungi diri melawan penyakit tertentu


dengan cara memasukkan suatu zat ke dalam tubuh melalui

penyuntikkan atau secara oral.

D) Nifas

1. Pengertian Masa Nifas

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,

plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali

organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6

minggu (Walyani & Purwoastuti, 2015).

Masa nifas (puerperium) adalah maasa pamulihan kembali, mulai

dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti

sebelum hamil, lama masa nifas yaitu 6-8 minggu (Amru, 2012).

Periode post partum atau puerperium adalah masa dari kelahiran

plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intrapartum)

hingga kembalinya traktur reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil

(Varney, 2008).

2. Tahapan Masa Nifas

Adapun tahapan masa nifas (postpartum puerperium) menurut

(Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, p.2) adalah:

1. Puerperium Dini : Masa kepulihan, yakni saat ibu diperbolehkan

berdiri dan berjalanjalan.


2. Puerperium Intermedial : Masa kepulihan menyeluruh dari organ-

organ genetal kira-kira 6-8 minggu.

3. Remot Puerperium : Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna terutama apabila ibu selama hamil (persalinan

mempunyai komplikasi).

3. Perubahan-Perubahan Fisiologis Masa Nifas

a. Perubahan uterus

Ukuran uterus mengecil kembali (setelah 2 hari pasca persalinan,

setinggi umbilicus, setelah 4 minggu masuk panggul, setelah minggu

kembali pada ukuran sebelum hamil) (Suherni, Hesty Widyasih,

Anita Rahmawati, 2009, p.77). 10 Tinggi fundus uterus dan berat

uterus menurut masa involusi (Suherni, Hesty Widyasih, Anita

Rahmawati, 2009, p.78).

b. Lochea

Lochea adalah istilah untuk sekret dari uterus yang keluar melalui

vagina selama puerperium (Varney, 2007, p.960). Ada beberapa jenis


lochea, yakni (Suherni, Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009,

pp.78-79) :

a. Lochea Rubra ( Cruenta)

b. Lochea Sanguinolenta

c. Lochea Serosa

d. Lochea Alba

e. Lochea Purulenta

f. Locheohosis

c. Perubahan-perubahan psikis ibu nifas

Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus

dijalani. Tanggung jawab bertambah dengan hadirnya bayi yang baru

lahir. Dorongan serta perhatian anggota keluarga lainnya merupakan

dukungan positif untuk ibu. Dalam menjalani adaptasi setelah

melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut (Suherni,

Hesty Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, pp.87-88):

1. Fase taking in

2. Fase taking hold

3. Fase letting go

4. Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan asuhan masa nifas diantaranya sebagai berikut:

- Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologi.


- Melaksanakan skrining yang komperhensif, mendeteksi masalah,

mengobati/merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun

bayinya.

- Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri,

nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada

bayinya dan perawatan bayi sehat.

- Memberikan pelayanan keluarga berencana (Suherni, Hesty

Widyasih, Anita Rahmawati, 2009, pp.1-2).

5. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas

Kebutuhan dasar masa nifas antara lain sebagai berikut:

a. Gizi

Ibu nifas dianjurkan untuk:

a. Makan dengan diit berimbang, cukup karbohidrat, protein,

lemak, vitamin dan mineral.

b. Mengkomsumsi makanan tambahan, nutrisi 800 kalori/hari pada

6 bulan pertama, 6 bulan selanjutnya 500kalori/hari dan tahun

kedua 400 kalori. Jadi jumlah kalori tersebut adalah tambahan

dari kalori per harinya.

c. Mengkomsumsi vitamin A 200.000 iu. Pemberian vitamin A

dalam bentuk suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI,

meningkatkan daya tahan tubuh dan meningkatkan


kelangsungan hidup anak. (Suherni, Hesty Widyasih, Anita

Rahmawati, 2009,p.101)

b. Ambulasi

Ambulasi sedini mungkin sangat dianjurkan, kecuali ada

kontraindikasi. Ambulasi ini akan meningkatkan sirkulasi dan

mencegah risiko tromboflebitis, meningkatkan fungsi kerja

peristaltik dan kandung kemih, sehingga mencegah distensi

abdominal dan konstipasi.

c. Hygiene Personal Ibu

- Penggantian pembalut hendaknya sering dilakukan, setidaknya

setelah membersihkan perineum atau setelah berkemih atau

defekasi.

- Payudara juga harus diperhatikan kebersihannya. Jika puting

terbenam, lakukan masase payudara secara perlahan dan tarik

keluar secara hati – hati.

- Anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan tubuh, pakaian, tempat

tidur, dan lingkungannya.

d. Senam Nifas

Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan

fisik seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang

senggama, dan otot dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada


keadaan normal dan menjaga kesehatan agar tetap prima, senam

nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah melahirkan.

e. Keluarga Berencana

Keluarga berencana adalah salah satu usaha untuk mencapai

kesejahteraan dengan jalan memberi nasihat perkawinan, pengobatan

kemandulan, dan penjarangan kehamilan. KB merupakan salah satu

usaha membantu keluarga / individu merencanakan kehidupan

berkeluarganya dengan baik, sehingga dapat mencapai keluarga

berkualitas.

5. Asuhan Kunjungan Masa Nifas Normal

Menurut Eny Retna Ambarwati, Diah Wulandari, 2009, asuhan

kunjungan nifas normal yang harus dilakukan adalah

a. Kunjungan I : Asuhan 6-8 jam setelah melahirkan

- Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.

- Pemantauan keadaan umum ibu.

- Melakukan hubungan antara bayi dengan ibu (Bounding

Attachment).

- Asi ekslusif.

b. Kunjungan II : Asuhan 6 hari setelah melahirkan


- Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus

berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, dan tidak ada

tandatanda perdarahan abnormal.

Berat Diameter
Involusi Uteri Tinggi Fundus Uteri
Uterus Uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm

Plasenta lahir 2 jari bawah pusat 750 gram

Pertengahan pusat dan


7 hari (minggu 1) 500 gram 7,5 cm
simpisis

Tidak teraba diatas


14 hari (minggu 2) 350 gram 5 cm
simpisis

6 minggu Bertambah kecil 50 gram 2,5 cm

8 minggu Normal 30 gram

(Buku Ajar Sinopsis Obstetri)

- Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan

abnormal.

- Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.

- Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi.

- Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.


c. Kunjungan III : Asuhan 2 minggu setelah persalinan

- Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus

berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, dan tidak ada

tandatanda perdarahan abnormal.

- Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan

abnormal.

- Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.

- Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi.

- Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit.

d. Kunjungan IV : Asuhan 6 minggu setelah persalinan

- Menanyakan kepada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia

alami.

- Memberi konseling untuk KB secara dini, imunisasi, senam

nifas, dan tanda-tanda bahaya yang dialami ibu dan bayi

6. Nyeri luka perineum

a. Pengertian Nyeri

Nyeri sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan baik

sensori maupun emosional yang berhubungan dengan resiko

dan aktualnya kerusakan jaringan tubuh. Secara umum nyeri

digambarkan sebagai keadaaan yang tidak nyaman, akibat dari


rudapaksa pada jaringan terdapat puka yang menggambarkan

nyeri sebagai suatu pengalaman sensori dan emosional yang

tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan

aktual atau potensi alat atau menggambarkan suatu istilah

kerusakan. Nyeri adalah suatu sensasi tunggal yang disebabkan

oleh stimulus spesifik bersifat subyektif dan berbeda antara

masing-masing individu karena dipengaruhi oleh faktor

psikososial dan kultur bendorphin seseorang sehingga orang

tersebut lebih merasakan nyeri (Potter dan Perry, 2005 : 1).

Menurut Andarmoyo (2013 : 45) mendefinisikan nyeri sebagai

suatu sensori subjektif dan pengalaman emosional yang tidak

menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual,

potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian saat

terjadi kerusakan (International Association for the study of

pain). Prasetyo (2010 : 16) mengatakan bahwa nyeri

merupakan suatu mekanisme proteksi bagi tubuh, timbul ketika

jaringan sedang rusak, dan menyebabkan individu tersebut

bereaksi untuk menghilangkan rasa nyeri.

Nyeri persalinan adalah manifestasi dari adanya

kontraksi (pemendekan) otot Rahim. Kontraksi inilah yang

menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut dan

menjalar kearah paha. Kontraksi ini menyebabkan adanya

pembukaan mulut Rahim ( serviks) dengan adanya pemukaan


servik ini maka akan terjadi persalinan (Judha dkk, 2012 : 32).

a. Klasifikasi Nyeri

Klasifikasi nyeri menurut Andarmoyo (2013:123) yaitu

 Klasifikasi nyeri berdasarkan durasi

1) Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang terjadi setelah cedera akut,

penyakit, atau intervensi bedah dan memiliki awitan

yang cepat, dengan intensitas yang bervariasi (ringan

sampai berat) dan berlangsung untuk waktu singkat.

Untuk tujuan definisi, nyeri akut dapat dijelaskan

sebagai nyeri yang berlangsung dari beberapa detik

hingga enam bulan. Fungsi nyeri akut ialah memberi

peringatan akan suatu cidera atau penyakit yang akan

datang.

Nyeri akut akan berhenti dengan sendirinya (self

limting) dan akhirnya menghilang dengan atau tanpa

pengobatan setelah keadaan pulih pada area yang terjadi

kerusakan. Nyeri akut berdurasi singkat (kurang dari

enema bulan), memiliki omset yang tiba-tiba, dan

terlokasi. Nyeri ini biasanya disebabkan trauma bedah

atau inflamasi. Kebanyakan orang pernah mengalami

nyeri jenis ini, seperti pada saat sakit kepala, sakit gigi,

terbakar, tertusuk duri, pasca persalinan, pasca


pembedahan, dan lain sebagainya.

Nyeri akut terkadang disertai oleh aktivasi system

saraf simpatis yang akan memperlihatkan gejala-gejala

seperti peningkatan respirasi, peningkatan tekanan

darah, peningkatan denyut jantung, diaphoresis, dan

dilatasi pupil. Secara verbal klien yang mengalami nyeri

akan melaporkan adanya ketidaknyamanan berkaitan

dengan nyeri yang dirasakannya. Klien yang mengalami

nyeri akut biasanya juga akan memperlihatkan respons

emosi dan perilaku seperti menangis, mengarang

kesakitan, mengerutkan wajah, atau menyerigai.

2) Nyeri kronik

Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang

menetap sepanjang suatu periode waktu. Nyeri kronik

berlangsung lama, intensitas yang bervariasi, dan biasanya

berlangsung lebih dari enam. Nyeri kronik dapat tidak

mempunyai awitan yang ditetapkan dengan tepat dan sering

sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak

memberikan respons terhadap pengobatan yang

diarahkanpada penyebabnya.
7. Perawatan Luka Perineum

Perawatan perineum pada masa nifas adalah pemenuhan

kebutuhan untuk meyehatkan daerah antara paha yang dibatasi

vulva dan anus pada ibu yang dalam masa antara kelahiran

placenta sampai dengan kembalinya organ genetik seperti waktu

sebelum hamil. Bila daerah vulva dan perineum tidak bersih,

mudah terjadi infeksi pada jahitan perineum saluran vagina dan

uterus. Perawatan luka bekas jahitan sangatlah penting karena

luka bekas jahitan jalan lahir ini dapat menjadi pintu masuk

kuman dan menimbulkan infeksi, ibu menjadi demam, luka

basah dan jahitan terbuka, bahkan ada yang mengeluarkan bau

busuk dari jalan lahir (vagina). Perawatan luka jalan lahir ini

dimulai sesegera mungkin setelah 6 jam dari persalinan normal.

Ibu akan dilatih dan dianjurkan untuk mulai bergerak duduk dan

latihan berjalan. Tentu saja bila keadaan ibu cukup stabil dan

tidak mengalami komplikasi misalnya tekanan darah tinggi atau

pendarahan.

a. Tujuan Perawatan Luka Perineum adalah:

1.Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum,

maupun di dalam uterus.

2. Untuk penyembuhan luka perineum (jahitan perineum).

3. Untuk menjaga kebersihan perineum dan vulva


b. Waktu perawatan luka perineum adalah:

1. Saat Mandi Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas

pembalut. Setelah terbuka maka akan kemungkinan terjadi

kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada

pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian

pembalut.

2. Setelah Buang Air Kecil (BAK) Pada saat buang air kecil

kemungkin besar terjadi kontaminasi air seni pada rektum

akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum

untuk itu diperlukan pembersihan perineum.

3. Setelah Buang Air Besar (BAK) Pada saat buang air besar,

dilakukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk

mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum.

(Refni, 2011)

8. Kompres Air Dingin ( Cold Therapy )

a. Pengertian

Menurut Haroen (2008 : 22) Kompres adalah metode

pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat

yang dapat menimbulkan dingin pada bagian tubuh yang

memerlukan. Pemberian kompres dingin dapat menurunkan

prostaglandin yang memperkuat sensitivitas reseptor nyeri dan

subkutan lain pada tempat cedera dengan menghambat proses


inflamasi. Agar efektif kompres dingin dapat diletakkan pada

tempat cedera segera setelah cedera terjadi (Andarmoyo,

2013).

Kompres dingin dapat menurunkan suhu tubuh, mencegah

terjadinya peradangan meluas, mengurangi meluas,

mengurangi kongesti, mengurangi perdarahan setempat,

mengurangi rasa sakit pada suatu daerah setempat (Rukiyah

dan Yulianti, 2010 : 357).

Secara umum nyeri diartikan sebagai suatu keadaan yang

tidak menyenangkan akibat terjadinya rangsangan fisik

maupun dari serabut syaraf dalam tubuh ke otak dan diikuti

oleh reaksi fisik, fisiologis, maupun emosional.

Menurut jurnal Rahmawati (2011) setiap ibu yang telah

menjalani proses persalinan dengan mendapatkan luka

perineum akan merasakan nyeri, nyeri yang dirasakan pada

setiap ibu dengan luka perineum menimbulkan dampak yang

tidak menyenangkan seperti kesakitan dan rasa takut untuk

bergerak sehingga banyak ibu dengan luka perineum jarang

mau bergerak pasca persalinan sehingga dapat mengakibatkan

banyak masalah diantaranya sub involusi uterus, pengeluaran

lockea yang tidak lancar, dan perdarahan pascapartum. Ibu

bersalin dengan luka perineum akan mengalami nyeri dan

ketidaknyamanan. Adapun definisi dari Kozier dan Erb, nyeri


diperkenalkan sebagai suatu pengalaman emosional yang

penatalaksanaannya tidak hanya pada pengelolaan fisik semata,

namun penting juga untuk melakukan manipulasi (tindakan)

psikologis untuk mengatasi nyeri.

Pemberian kompres dingin dapat mengurangi nyeri sesuai

dengan jurnal Rahmawati (2011) yaitu Metode sederhana yang

dapat digunakan untuk mengurangi nyeri yang secara alamiah

yaitu dengan memberikan kompres dingin pada luka, ini

merupakan alternatif pilihan yang alamiah yaitu dengan

memberikan kompres dingin pada luka,ini merupakan alternatif

pilihan yang alamiah dan sederhana yang dengan cepat

mengurangi rasa nyeri selain dengan memakai obat-obatan.

Terapi dingin menimbulkan efek analgetik dengan

memperlambat kecepatan hantaran saraf sehingga impuls nyeri

yang mencapai otak lebih sedikit.

Rasa nyeri dan tidak nyaman di area perineum dapat

diatasi dengan menggunakan kompres dingin pada area

perineum setiap 2 jam sekali selama 24 jam pertama sesudah

melahirkan (Murkoff, 2006).


 Tujuan Kompres dingin

Menurut Haroen (2008), tujuan kompres dingin sebagai berikut

1) Menurunkan suhu tubuh

2) Mencegah peradangan meluas

3) Mengurangi kongesti

4) Mengurangi perdarahan setempat

5) Mengurangi rasa sakit pada suatu daerah setempat


BAB III

PERKEMBANGAN KASUS

A. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL

Kunjungan pertama: Tanggal 3 Oktober 2018, jam 09.00 wib

Identitas

Nama Ibu : Ny. S Nama Suami : Tn. J

Umur : 29 Th Umur : 28 Th

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Perkerjaan : IRT Perkerjaan : Buruh

Alamat : Kp. Gusti RT004/005 No.08 Kelurahan Wijaya Kusuma

No. Telp : 0895333314725

Data Subjektif

Alasan datang

Ibu datang ke puskesmas kecamatan Grogol untuk kunjungan ulang

Riwayat haid

Haid Pertama Haid Terakhir ( HPHT ) 01 Januari 2018, lama haid 7 hari,

banyaknya 3-4 kali ganti pembalut, siklus 28 hari, teratur, konsistensi cair

bercampur stolsel. Tafsiran persalinan( Hasil USG tanggal 29 Oktober

2018).
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu

Anak 1. Lahir tanggal 28 April 2009 lahir spontan di rumah sakit,

penolong bidan, dengan berat 2500 gr, jenis kelamin laki-laki, lama

menyusui ASI Eksklusif 2 tahun.

Anak 2. Lahir tanggal 13 Januari 2014 lahir spontan di rumah sakit,

penolong bidan, dengan berat 2600gr, jenis kelamin perempuan, lama

menyusui ASI Eksklusif 2 tahun.

Riwayat keluarga berencana

Alat kontrasepsi suntik 3 bulan ( Depo Progestin ) Medroxy Progesterone

Acetate. Berhenti KB 10 November 2017

Riwayat penyakit yang dan sedang di derita

Ibu tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, asma, DM, TBC, ginjal,

hipertensi, kelainan darah, HIV/AIDS, dan PMS.

Riwayat dan kebiasaan sehari hari : makan, personal higiene, dan

eliminasi

Ibu makan teratur 3 kali sehari. Minum air putih kurang lebih 3L sehari.

Mandi 2 kali sehari dan mengganti celana dalam 2-3 kai sehari, BAK 8-9

kali sehari , BAB 1 kali sehari. Tidur malam pukul 22.00 WIB dan

bangun pukul 05.00 WIB. Dan tidur siang 1-2 jam.


Riwayat psikososial (keluarga inti, perkawinan, kehamilan)

Ini perkawinan yang pertama dan sah menurut agama yang dianut, usia

pada saat menikah 19 tahun, lama pernikahan 10 tahun. Dalam

pengambilan keputusan yaitu suami. Merupakaan kehamilan yang

diharapkan, tidak mempunyai kepercayaan tertentu yang berhubungan

dengan kehamilan.

Riwayat kehamilan ini trimester I, II dan III

Pertama kali melakukan pemeriksaan kehamilan tanggal 5 Maret 2018

dengan usia kehamilan 9 minggu di Puskesmas Kecamatan Grogol.

Mengaku sudah diberikan suntik TT4 pada saat hamil anak pertama

sebanyak 1 kali tetapi lupa tanggal diberikannya suntik TT. Pada

trimester ke II sudah tidak merasakan mual dan muntah, pergerakan janin

terasakan pada umur kehamilan 4 bulan dan lebih dari 10 kali dalam

sehari, kehamilan trimester III tidak ada masalah dalam kehamilannya

gerakan janin masih terasa aktif dan nafsu makan menjadi

bertambah dan untuk kesiapan sudah lebih siap dibandingkan dengan

kehamilan yang lalu.

P4K, terdiri dari :

Untuk P4K sudah direncanakan untuk tempat persalinan yaitu di

Puskesmas Kecamatan Grogol, ditolong oleh bidan, biaya persalinan

sudah di siapkan dari pertama kehamilan ibu sudah menabung dan telah
memiliki BPJS, donor darah sudah di rencanakan yaitu keluarga yang

bergolongan darah sama dengan ibu yaitu golongan darah A/+.

Data Objektif

Pemerikasaan Umum

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emotional

stabil, TTV : TD 120/70 mmHg, nadi 83 kali/ menit, suhu 36,60 C,

pernapasan 20 kali/menit, tinggi badan 146 cm, berat badan sebelum

hamil 54 kg, berat badan sekarang 60 kg, LILA 27 cm. Bentuk kepala

bulat, rambut hitam, tidak mudah rontok, dan tidak ada ketombe. Muka

tidak terdapat oedema. Kedua mata berfungsi dengan baik, kelopak mata

tidak bengkak, konjungtiva merah muda, sclera tidak ikterik Telinga

simetris, berlubang, bersih, pendengaran baik. Pernapasan lewat hidung

baik, hidung berlubang, bersih, tidak ada pernapasan cuping hidung.

Mulut dan gigi bersih, tidak ada stomatitis, gigi tidak karies. Leher tidak

ada pembesaran kelenjar toroid dan vena jungularis. Payudara simetris,

puting susu menonjol, areola berwarna kecoklatan, pengeluaran ASI -/-,

benjolan (-), nyeri tekan (-). Abdomen terjadi pembesaran sesuai usia

kehamilan, tidak ada bekas luka operasi, striae (+), linea (-). Ektermitas

atas dan bawah tidak ada dan varises.

Pemeriksaan Obstetrik

Leopold I : Teraba bulat ,lunak tidak melenting (bokong) TFU 28 cm,

Leopold II : Disebelah kanan teraba keras panjang seperti papan


(Punggung), disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas),

Leopold III : Teraba bulat, keras ,melenting (kepala), Leopold IV :

Kepala sudah masuk PAP, bagian terendah teraba 4/5 bagian. TBJ (28-

11) x155 = 2635 gram). Djj (+) Frekuensi : 138 kali/menit, teratur,

punctum maximum terdengar di satu tempat, sebelah kanan bawah pusat.

Pada vulva tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada kondiloma, tidak

ada pengeluaran pervaginam, tidak ada hemoroid.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium tanggal : 5 Maret 2018

- Golongan darah : A/+

- Hb : 13,1 gr/dL

- HIV : Non Reaktif

- HBSAg : Non Reaktif

- Gula Darah : 105

- Protein Urine : Negatif

Pemeriksaan laboratorium : tanggal 29 Juli 2018

- Darah : Hb : 10,1 gr/dL

Pemeriksaan laboratorium tanggal : 18 September 2018

- Darah : Hb : 11,8 gr/dL

Pemeriksaan laboratorium tanggal : 23 September 2018

- Darah : Hb : 10,9 gr/dL


Analisa

Diagnosa Kebidanan:

Ibu : G3P2A0 hamil 37 minggu

Janin : Tunggal, hidup, presentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Melakukan informed consent kepada ibu untuk menjadi pasien

komprehensif sejak usia kehamilan 37 minggu hingga nifas 40 hari.

Ibu bersedia menjadi pasien komprehensif.

2. Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa sampai saat

ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik. Usia kehamilan ibu

saat ini 37 minggu dan posisi janin dalam keadaan normal yaitu

dengan bagian terendah kepala. Ibu mengerti dengan penjelasan yang

diberikan.

3. Menjelaskan kepada ibu mengenai hasil pemeriksaan laboratorium

bahwa Hb ibu cukup meningkat dari sebelumnya 10,1 gr/dL dan saat

ini 11,8 gram % , agar stabil dan lebih ditingkatkan ibu dianjurkan

untuk memperbanyak asupan sayuran hijau dan buah-buahan seperti

bayam, kangkung, buah bit, buah naga, kacang-kacangan. Ibu

mengerti dan dapat mengulang kembali penjelasan yang sudah

diberikan

4. Menjelaskan kepada ibu dan keluarga tanda bahaya kehamilan

seperti sakit kepala yang hebat, penglihatan yang berkunang-kunang,


bengkak pada muka dan tangan, nyeri perut yang hebat, gerakan

janin berkurang, dan perdarahan pervaginam. Ibu dan keluarga

mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan menganjurkan ibu

untuk datang ke fasilitas kesehatan apabila merasakan salah satu

tanda-tanda persalinan. Ibu mengerti dan akan datang ke fasilitas

kesehatan apabila merasakan hal tersebut.

5. Memberitahu edukasi tentang perawatan masa nifas, seperti menjaga

kebersihan diri dengan membersihkan daerah vulva dari depan ke

belakang setelah buang air kecil, mengganti pembalut setidaknya dua

kali sehari, mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelamin. Ibu mengerti dengan

penjelasan yang telah diberikan

6. Menganjurkan ibu untuk menghabiskan obat yang di berikan, seperti

penambah darah 2x1 tablet fe, asam folat 25 mg 1x1 tablet, vit c 2x1

tablet, dan B2 2x1 tablet. Ibu mengerti dan akan mengkonsumsinya

Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali penjelasan yang sudah

diberikan

7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang satu minggu lagi pada

tanggal 10 Oktober 2018. Ibu berjanji akan datang untuk periksa

kehamilan.
Kunjungan kedua: Tanggal 10 Oktober 2018, jam 09.00 wib

Data Subjektif

Ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah dan sudah merasakan mulas

tetapi masih jarang. Ibu mengatakan sudah makan makanan yang

dianjurkan seperti buah dan sayur

Data Objektif

Pemeriksaan umum

Keadaan umum : Baik, Kesadaran : Compos mentis, Keadaan emosional :

Stabil. TD 120/80 mmHg, Nadi 80 kali/menit, Suhu 36,7 C, Pernapasan

20 kali/menit

Pemeriksaan Obstetrik

Leopold I : Teraba bulat, lunak tidak melenting (bokong) TFU 29 cm,

Leopold II : Disebelah kanan teraba keras panjang seperti papan

(Punggung), disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas),

Leopold III : Teraba bulat, keras ,melenting (kepala), Leopold IV :

Kepala sudah masuk PAP, bagian terendah teraba 4/5 bagian. TBJ 29 –

11 = 18 x 155 = 2790 gr, Djj (+) Frekuensi : 142 kali/menit, teratur,

punctum maximum terdengar di satu tempat, sebelah kanan bawah pusat.


Analisa

Diagnosa Kebidanan

Ibu : G3P2A0, hamil 38 minggu

Janin : Tunggal, hidup, presentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa sampai saat

ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik. Usia kehamilan ibu

saat ini 38 minggu. Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang berprotein

tinggi seperti ikan, tempe ,telur, susu dan menganjurkan untuk

sering mengemil guna meningkatkan pertumbuhan janin dan

peningkatan berat badan janin. Ibu mengerti dan dapat mengulang

kembali penjelasan yang sudah diberikan.

3. Memberitahu ibu tanda-tanda persalinan yaitu mulas-mulas yang

teratur timbul semakin sering dan semakin lama, keluar lendir

bercampur darah dari jalan lahir, dan kekuar cairan ketuban dari

jalan lahir akibat pecahnya selaput ketuban. Ibu mengerti penjelasan

yang diberikan.

4. Menganjurkan ibu untuk memperhatikan pergerakan janinnya

minimal 10 kali dalam sehari. Ibu mengerti dan akan lebih

memperhatikan pergerakan janinnya.


5. Memberitahu edukasi tentang perawatan masa nifas, seperti menjaga

kebersihan diri dengan membersihkan daerah vulva dari depan ke

belakang setelah buang air kecil, mengganti pembalut setidaknya dua

kali sehari, mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelamin. Ibu mengerti dengan

penjelasan yang telah diberikan

6. Memberitahu ibu untuk datang kembali pada tanggal 17 oktober

2018. Ibu mengerti dan akan datang kembali.

Kunjungan ketiga: Tanggal 17 Oktober 2018, jam 08.30 wib

Data Subjektif

Ibu mengeluh perut sudah sering kencang,dan gerakan bayi aktif. Ibu

mengatakan setelah makan ibu sering meminum teh.

Data Objektif

Pemeriksaan Umum

Keadaan umum : Baik, Kesadaran : Compos mentis, Keadaan emosional :

Stabil. TD 100/70 mmHg, Nadi 82 kali/menit, Suhu 36,6 C, Pernapasan

20 kali/menit.

Pemeriksaan Obstetrik

Leopold I : Teraba bulat, lunak tidak melenting (bokong) TFU 30 cm,

Leopold II : Disebelah kanan teraba keras panjang seperti papan


(Punggung), disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas),

Leopold III : Teraba bulat, keras ,melenting (kepala),Leopold IV : Kepala

sudah masuk PAP, bagian terendah teraba 4/5 bagian. TBJ (30 – 11 = 19

x 155 = 29450gr) Djj (+) Frekuensi : 130 kali/menit, teratur, punctum

maximum terdengar di satu tempat, sebelah kanan bawah pusat.

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium tanggal : 17 Oktober 2018

Darah : Hb : 10,9 gram %

Analisa

Diagnosa Kebidanan

Ibu : G3P2A0, hamil 39 minggu dengan anemia ringan

Janin : Tunggal, hidup, presentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Memberitahukan ibu tentang hasil pemeriksaan bahwa sampai saat

ini keadaan ibu dan janin dalam keadaan baik. Ibu mengerti dengan

penjelasan yang diberikan.

2. Menganjurkan ibu untuk konsultasi ke poli gizi karena Hb ibu

cukup rendah. Ibu diberikan konseling mengenai gizi seimbang

yakni menyarankan ibu untuk memperbanyak mengonsumsi

makanan yang berprotein tinggi serta menganjurkan ibu untuk


mengurangi minum teh agar tidak menghambat proses penyerapan

makanan dan untuk menghindari anemia (kurang darah). Ibu

mengerti dan akan mengonsumsi makanan yang tinggi protein dan

mengurangi minum teh.

3. Mengingatkan kembali mengenai tanda-tanda bahaya persalinan

dalam kehamilan seperti keluar darah dari vagina, keluar cairan

ketuban dari vagina, sakit kepala yang hebat dan terus menerus,

penglihatan kabur, gerakan janin berkurang, nyeri ulu hati. Bila

teradapat tanda-tanda tersebut, menganjurkan ibu untuk datang ke

fasilitas kesehatan apabila merasakan tanda-tanda persalinan. Ibu

mengerti dan akan datang ke fasilitas kesehatan.

4. Menganjurkan ibu untuk menghabiskan obat yang diberikan

yaitu : SF 1x1 (10) , Kalk 1x1 (10), B12 1x1 (10). Ibu mengerti

dan dapat mengulang kembali penjelasan yang sudah diberikan

5. Menganjurkan ibu untuk melakukan kunjungan ulang 1 minggu

kemudian pada tanggal 24 Oktober 2018 atau bila ada keluhan. Ibu

mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan bersedia untuk

melakukan kunjungan ulang


B. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

Kala I : Tanggal 23 Oktober 2018, jam 02.00 wib

Data Subjektif

Ibu mengeluh mulas sejak pukul 23.00 WIB , sudah keluar lender darah,

belum keluar air-air dan gerakan janin aktif, 10 menit sudah ada mules 2-

3 kali. Ibu mengatakan sudah BAB terakhir pada jam 17.00 WIB dan

makan terakhir pukul 19.30 WIB.

Data Objektif

Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum: baik, kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosional:

stabil.

TD 90/60mmHg, nadi 78 x/mnt, pernafasan 20 x/mnt, suhu 36,3˚C.

Pemeriksaan Obstetrik

Leopold I : Teraba bulat ,lunak tidak melenting (bokong) TFU 30 cm,

Leopold II: Disebelah kanan teraba keras panjang seperti papan

(Punggung), disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas),

Leopold III : Teraba bulat, keras ,tidak melenting (kepala), Leopold IV :

Kepala sudah masuk PAP, bagian terendah teraba 4/5 bagian. TBJ (30-

11) x 155 = 2945 gr. Djj 134 x/mnt, teratur, punctum maksimum 1 tempat

sebelah kanan dibawah pusat. His 2 kali selama 10 menit, lamanya 20

detik, kekuatan sedang, relaksasi ada. Periksa dalam vulva vagina tidak
ada kelainan, portio teraba tebal lunak, pembukaan 2 cm, selaput ketuban

(+), Presentasi kepala, penurunan di Hodge I, molase 0.

Analisa

Diagnosa kebidanan

Ibu : G3P2A0, hamil 39 minggu, partus kala I fase laten

Janin : Tunggal, hidup, persentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Menjelaskan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa keadaan ibu dan

janin saat ini dalam keadaan baik. TD: 90/60 mmHg, N: 78x/menit,

S: 36,3°C, RR: 20x/menit, pembukaan 2cm, DJJ: 134x/m. Ibu

mengerti dengan penjelasan yang sudah diberikan

2. Mengobservasi his, djj dan nadi ibu 1 jam. Hasil tercatat dalam

lembar observasi dan hasil dalam batas normal.

3. Menanyakan pendamping persalinan sesuai dengan keinginan ibu.

Ibu memilih didampingi oleh suami.

4. Menganjurkan keluarga untuk memberi dukungan kepada ibu

bahwa ibu dapat melakukan persalinan pervaginam dengan lancar

tanpa adanya penyulit. Keluarga sangat berpartisipasi untuk

memberikan dukungan dan semangat kepada ibu.

5. Menganjurkan ibu untuk berjalan disekitar ruang bersalin agar

mempercepat penurunan kepala janin,apabila ibu sudah merasa


lelah ,ibu diizinkan untuk beristirahat terlebih dahulu. Ibu bersedia

untuk berjalan di sekitar ruang bersalin

6. Mengajarkan ibu teknik relaksasi pernapasan yang baik dan benar

untuk mengurangi mulas. Ibu dapat melakukannya dengan benar

7. Menganjurkan ibu untuk tetap menjaga kebutuhan hidrasi dan

nutrisi. Hidrasi dan nutrisi terpenuhi.

Kala I : Tanggal 23 Oktober 2018, jam 03.00 WIB

Data Subjektif

Ibu megngatakan keluar air-air yang tidak dapat ditahan

Data Objektif

Pemeriksaan Umum

Keadaan Umum: baik, kesadaran: Compos Mentis, Keadaan Emosional:

stabil. TD 100/80mmHg, nadi 80 x/mnt, pernafasan 21 x/mnt, suhu

36,5˚C.

Pemeriksaan Obstetrik

Leopold I : Teraba bulat ,lunak tidak melenting (bokong) TFU 30 cm,

Leopold II: Disebelah kanan teraba keras panjang seperti papan

(Punggung), disebelah kiri teraba bagian-bagian kecil janin (ekstremitas),

Leopold III : Teraba bulat, keras ,tidak melenting (kepala), Leopold IV :

Kepala kepala sudah masuk PAP. TBJ (30-11) x 155 = 2945 gr. Djj 136
x/mnt, teratur, punctum maksimum 1 tempat sebelah kanan dibawah

pusat. His 3 kali dalam 10 menit lama 35 detik, kekuatan kuat, relaksasi

ada. Periksa dalam vulva vagina tidak ada kelainan, portio teraba tipis

lunak, pembukaan 4 cm, selaput ketuban (-) warna putih jernih (±30cc),

Presentasi kepala, penurunan di Hodge II, molase 0. Pengeluaran

pervaginan lendir bercampur darah.

Analisa

Diagnosa Kebidanan

Ibu : G3P2A0, hamil 39 minggu inpartu kala I fase aktif

Janin : Tunggal, hidup, presentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Menjelaskan pada ibu hasil pemeriksaan, bahwa ibu masih dalam

pembukaan 4cm. Ibu dan janin dalam keadaan baik. Ibu mengerti

2. Memberikan semangat dan motivasi untuk ibu agar tetap berpikir

hal yang positif dan tidak stress,karena akan mempengaruhi

keadaan janin. Ibu mengerti dan akan berpikiran positif pada

kehamilannya

3. Menganjurkan keluarga untuk tetap memberikan semangat untuk

ibu dalam menjelang proses persalinan. Keluarga bersedia untuk

memberikan semangat.
4. Menganjurkan ibu untuk miring kiri agar peredaran darah kejanin

lancar dan kepala janin cepat turun. Ibu mengerti dan dapat

melakukannya

5. Memberitahu ibu untuk memenuhi nutrisi dan hidrasi. Ibu mau

makan dan minum

6. Memberitahu ibu untuk tidak mengeran dulu dan mengajarkan cara

relaksasi saat terjadi kontraksi. Ibu mengerti dan dapat

melakukannya.

7. Melakukan observasi tekanan darah tiap 1 jam, dan DJJ serta HIS

tiap 30 menit dan menilai kemajuan persalinan. Sudah dilakukan

8. Melakukan persiapan alat-alat dan bahan persalinan. Sudah

disiapkan

Kala II : Tanggal 23 Oktober 2018, jam 05.40 WIB

Data Subjektif

Mules semakin sering dan kuat, dan ingin meneran seperti ingin BAB

Data Objektif

Tampak ibu meneran, Vulva membuka, perineum menonjol. KU ibu baik.

Djj 133 x/mnt, teratur, punctum maksimum 1 tempat disebelah kanan

bawah pusat. His 4 kali dalam 10 menit lama 45 detik, Kuat, relaksasi

ada. Periksa dalam: vulva dan vagina tidak oedema, portio tidak teraba,

pembukaan lengkap, selaput ketuban (-), presentasi kepala, penurunan


H3+, posisi UUK kanan depan, molase 0. Pengeluaran pervaginam darah

dan lender.

Analisa

Diagnosa Kebidanan

Ibu : G3P2A0, hamil 39 minggu partus kala II

Janin : Tunggal, hidup, persentasi kepala

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa pembukaan sudah

lengkap. Ibu mengerti

2. Menganjurkan ibu untuk menentukan posisi yang nyaman saat

persalinan. Ibu mengerti dan memilih posisi litotomi.

3. Menggunakan APD dan mendekatkan alat partus set.

4. Memberitahu ibu sudah diperbolehkan mengeran bila terasa mulas.

Ibu mengerti

5. Mengajari ibu cara mengeran seperti letakkan tangan dibawah

paha, tarik hingga keperut. Angkat kepala dan dagu nempel didada,

membuka mata dan melihat kearah perut lalu mengeran seperti

BAB keras. Ibu mengerti dan dapat melakukannya.

6. Memimpin ibu meneran ketika ada his dan mengajarkan teknik

relaksasi.

7. Memantau DJJ di sela-sela HIS.


8. Melakukan pertolongan persalinan sesuai asuhan persalinan

normal.

9. Melakukan sangga susur, bayi lahir spontan pukul 05.53 WIB,

langsung menangis, kulit kemerahan dan tonus otot baik dan jenis

kelamin perempuan.

Kala III : Tanggal 25 November 2017, jam 05.54 WIB

Data Subjektif

Ibu senang atas kelahiran bayinya dan ibu masih merasa mulas

Data Objektif

Keadaan Umum: baik, TFU sepusat, kontraksi baik, tidak ada janin

kedua, kandung kemih tidak teraba (kosong), Uterus tampak globuler

tampak tali pusat menjulur didepan vulva, terdapat semburan darah.

Perdarahan total ± 200 cc

Analisa

P3A0 partus kala III

Penatalaksanaan

1. Memfasilitasi ibu untuk melalukan IMD. IMD berhasil,bayi dapat

menemukan puting susu ibu.

2. Memeriksa adanya janin kedua. Tidak ada janin kedua


3. Menjelaskan pada ibu bahwa bayi sudah lahir, sekarang plasenta

akan dilahirkan. Ibu senang dan lega atas kelahiran bayinya.

4. Melakukan manajemen aktif kala III:

a) Memberi suntikkan oksitosin. Oksitosin 10 IU secara IM di

paha sebelah kanan sudah diberikan

b) Melakukan PTT saat uterus berkontraksi. Dalam 15 menit

plasenta belum lahir

c) Menyuntikkan oksitosin 10 IU kedua secara IM di paha

sebelah kiri. Sudah diberikan

d) Melakukan PTT kembali. Pukul 06.00 WIB plasenta lahir

spontan,lengkap

e) Melakukan masase uterus selama 15 detik. Uterus teraba

keras

Kala IV : Tanggal 23 Oktober 2018 jam 06.01 WIB

Data Subjektif

Ibu masih terasa mulas serta merasa senang atas kelahiran bayinya. Ibu

meminta untuk dilakukan pemasangan KB IUD

Data Objektif

KU baik. TD 100/70 mmHg, nadi 82 x/mnt, suhu 36,4° C, pernafasan 20

x/mnt. TFU 2 jari bawah pusat, uterus teraba keras, kandung kemih tidak

teraba (kosong), terdapat laserasi grade II.


Analisa

P3A0 partus kala IV

Penatalaksanaan

1. Memeriksa kelengkapan plasenta. Panjang tali pusat 45 cm, insersi

talipusat sentralis, diameter 17 cm, tebal plasenta 2,5 cm, kotiledon

20 buah ,selaput amnion utuh ,selaput korion utuh.

2. Memeriksa perdarahan dan robekan jalan lahir. Perdarahan normal

dan terjadi robekan jalan lahir dari kulit perineum sampai ke otot

perineum

3. Melakukan informed consent untuk pemasangan IUD.

4. Melakukan pemasangan IUD pasca plasenta. Telah dilakukan

pada pukul 06.05 wib

5. Melakukan penyuntikan lidocain 2 ml yang dioplos dengan 2 ml

aquabides. Sudah disuntikkan

6. Melakukan penjahitan robekan jalan lahir secara jelujur dan

subkutis. Sudah dilakukan

7. Merapihkan dan mengganti pakain ibu. Sudah dilakukan

8. Memberitahu ibu untuk mobilisasi dini dengan miring kiri dan

kanan.

9. Melakukan observasi kala IV selama 15 menit untuk jam pertama

dan 30 menit untuk jam kedua. Sudah dilakukan dan hasil

observasi terlampir dipatograf.


10. Mendeteksi tanda-tanda bahaya nifas seperti pandangan kabur,

keluar darah banyak melalui vagina, pusing dan demam. Ibu

mengerti dan dapat mengulang kembali

11. Memberitahu ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi.

Ibu mau makan dan minum

12. Memberitahu ibu cara massase uterus bila uterusnya lembek. Ibu

mengerti

13. Memberikan terapi obat sesuai konsultasi dokter seperti Vit A

200.000 IU 1x1 kapsul, amoxicillin 500 mg 3x1 tablet, mefenamic

acid 500 mg 3x1tablet, penambah darah 1x1 tablet fe, Vit C 2x1

dengan air putih. Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali

penjelasan yang sudah diberikan

14. Memberitahu ibu untuk tidak menahan BAK dan BAB. Ibu

mengerti

15. Menganjurkan ibu untuk menjaga personal hygiene.

16. Melakukan dokumentasi alat. Sudah dilakukan

17. Merencanakan untuk memindahkan ibu ke ruang perawatan

dengan bayinya.

18. Melakukan pendokumtasian. Sudah dilakukan


ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tanggal 23 Oktober 2018, jam 06.55 WIB

Data Subjektif

Bayi sudah menghisap puting susu ibu. Ibu dan keluarga sangat senang

atas kelahiran bayinya

Data Objektif

Keadaan umum baik, jenis kelamin perempuan, langsung menangis,

warna kulit kemerahan, tonus otot baik dan aktif, meko (+) miksi (-)

Antropometri : Suhu 36,5°C, denyut jantung 136 x/mnt, pernafasan 46

x/mnt. Kulit kemerahan, bergerak aktif. BB 2835 gram, PB 46 cm,

lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 34 cm, A/S 9/10.

Pemeriksaan head toe toe

Kepala tidak ada caput sucsedanium dan tidak ada cephal hematom.

Hidung terdapat septum tidak ada pengeluaran secret. Mulut tidak ada

labioskizis dan labiopalatoskizis. Leher tidak ada pembengkakan. Dada

tidak ada tarikan dada kedalam. Abdomen tidak ada kelainan. Ekstermitas

atas gerak aktif tidak ada fraktur, tidak ada polidaktili dan sindaktili.

Ekstermitas bawah gerak aktif, tidak ada fraktur, tidak ada sindaktili dan

polidaktili. Punggung tidak ada kelainan. Genitalia testis sudah turun.

Anus positif, ada pengeluaran mekonium. Badan Bayi kotor karena belum

dimandikan. Bayi telah diberikan ASI.


Pemeriksaan reflek-reflek

Reflek moro ada, reflek rooting ada, reflek walking ada, reflek plantar

ada, reflek sucking ada, reflek tonick neck ada

Analisa

NCB - SMK Umur 1 jam

Penatalaksanaan

1. Menjelaskan pada ibu bahwa bayi dalam keadaan baik dan tidak

ada kelainan atau cacat bawaan. Ibu mengerti dan senang.

2. Menjaga kehangatan tubuh bayi dengan membungkus kain bersih

dan hangat. Bayi sudah di bungkus dengan kain besih dan hangat

3. Melakukan perawatan tali pusat. Tali pusat di bungkus dengan kain

kasa

4. Memberikan tanda pengenal bayi. Sudah dilakukan

5. Memberikan salep mata chloramphenicol 1% untuk mencegah

infeksi pada mata bayi. Salep mata sudah di berikan.

6. Memberikan Neo K 0,5 mg secara IM. Vit K sudah diberikan di

paha kiri bayi

7. Memberikan ibu semangat dan dukungan untuk menyusui bayinya

sesering mungkin atau tiap 1-2 jam sekali. Ibu mengatakan akan

menyusui bayinya sesering mungkin.


8. Memberikan pendkes pada ibu tentang cara menyusui yang baik

dan benar. Serta menyakinkan ibu bahwa ibu dapat menyusui

bayinya dengan baik dan benar. Ibu mengerti dan dapat

menjelaskan kembali tentang cara menyusui yang baik dan benar

dan dapat melakukannya.

9. Memberikan pendkes pada ibu tentang cara menyendawakan bayi

setelah sehabis menyusu agar tidak terjadi gomuh pada bayi

sehingga tidak membuat ibu menjadi panik dan stres. Ibu mengerti

dan dapat melakukannya dengan baik.

10. Merencanakan pemberian Hb 0 satu jam kemudian (jam 06.55).

Bayi sudah di imunisasi Hb0 di paha kanan bayi secara IM.

Tanggal 23 Oktober 2018, jam 12.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan air susu sudah keluar dan bayinya menyusu kuat. Sudah

BAB dan BAK

Data Objektif

keadaan umum baik, tanda-tanda vital ; detak jantung : 138 kali/ menit,

pernapasan 48 kali/menit, suhu : 36,5 ˚C. Berat badan : 2835 gram,

BAB/BAK : +/+, ikterus (-).


Analisa

NCB – SMK Umur 6 jam

Penatalaksanaan

1. Menjelaskan pada ibu bahwa saat ini bayinya dalam keadaan baik.

Ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan bayi baik. Ibu

mengerti

3. Memberitahu ibu untuk sering menyusui bayinya minimal 2 jam

sekali. Ibu mengerti dan akan melakukannya

4. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi. Ibu

mengerti

5. Mengingatkan ibu untuk selalu menjaga personal hygiene bayi,

setiap hari di mandikan 2 kali/hari, bila BAK atau BAB segera

membersihkan dengan bersih, dan mengganti popok atau bajunya

dengan yang bersih dan kering. Ibu akan melaksanakannya.

6. Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda bahay bayi

baru lahir seperti demam tinggi, tali pusat berbau, kulit kebiruan

dan muntah berlebihan. Ibu mengerti dan dapat mengulang

kembali penjelasan yang sudah diberikan

7. Memberitahu ibu untuk sering-sering menyusui bayinya dan saat

dirumah untuk menjemur bayinya dimatahari pagi pada pukul

07.00-08.00 WIB agar bayinya tidak kuning. Ibu mengerti


8. Memberitahu ibu untuk tidak memberikan makanan atau minumam

apapun selain ASI sebelum usia bayi 6 bulan. Ibu mengerti.

9. Menjelaskan pada ibu tanda-tanda bahaya pada bayi seperti bayi

malas menyusui, demam, bayi tidak kuning dan meminta ibu untuk

tidak panik dan datang ke fasilitas kesehatan bila terjadi tanda-

tanda tersebut. Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali

penjelasan yang sudah diberikan

C. ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

Tanggal 23 Oktober 2018, jam 12.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengeluh nyeri pada luka jahitan ketika batuk dan bergerak

Data Objektif

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional

stabil, Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 110/80 mmHg, suhu tubuh

36,8˚C, nadi 85 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit. Mata tidak oedema,

sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat. Payudara tidak bengkak,

puting susu menonjol, pengeluaran ASI +. Tinggi Fundus Uteri 2 jari

dibawh pusat, pengeluaran lochea rubra. Pengeluaran pervaginam ±30 cc.

Kaki tidak oedem dan tidak varices.


Analisa

P3A0 Postpartum 6 jam

Penatalaksanaan

1. Memberitahukan ibu bahwa ibu sampai saat ini dalam keadaan

baik. Ibu mengerti dengan penjelasan yang di berikan.

2. Menganjurkan ibu untuk makan makanan tinggi protein seperti

telur, ikan, daging untuk mempercepat proses penyembuhan luka

jahitan. Ibu mengerti dan akan melakukannya.

3. Memberi pendidikan kesehatan tentang ASI Eksklusif yaitu

memberi ASI saja selama 6 bulan tanpa makanan tambahan dan

memberitahu ibu bahwa kolostrum (ASI basi) merupakan ASI

pertama bagi bayi yang didalamnya banyak mengandung antibodi

yang bagus untuk menjaga sistem kekebalan tubuh bagi bayi. Ibu

mengerti dan akan ASI Eksklusif dan memberikan Kolostrum

kepada bayinya.

4. Mengajarkan ibu posisi menyusui yang benar yaitu perut bayi

bertemu dengan perut ibu, bagian hitam payudara ibu (areola)

harus masuk semua ke mulut bayi. Ibu mengerti dan dapat

mengulang kembali penjelasan yang sudah diberikan dan akan

mempraktekannya.
5. Menganjurkan ibu sebelum dan sesudah menyusui oleskan susu ibu

di sekitar puting susu agar tidak lecet. Ibu mengerti dan akan

mempraktekannya.

6. Memberitahukan ibu untuk selalu menjaga personal hygiene,

terutama pada bagian genetalia. Ibu mengerti dengan penjelasan

yang diberikan.

7. Menganjurkan ibu untuk ambulasi dengan menggerakkan kaki,

memiringkan tubuh ke arah kiri dan juga ke arah kanan, duduk,

hingga bangun dari tempat tidur agar bisa mengurangi rasa nyeri.

Ibu mengerti dan mau melakukannya.

8. Menganjurkan ibu untuk kompres dingin pada daerah luka jahitan

yang nyeri. Ibu mengerti dengan penjelasan yang sudah diberikan

dan mau melakukannya.

9. Memberitahu ibu agar menyusui bayinya sesering mungkin serta

menyusui dengan baik. Ibu mengerti dengan penjelasan yang

diberikan.

10. Memberi ibu terapi obat Amoxicilin 1x1, PCT 2x1, SF 1x1, Vit C

2x1, Vit A 1x1. Ibu mengerti dan akan minum teratur.


ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tanggal 30 Oktober 2018, jam 15.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan tali pusatnya sudah puput dua hari yang lalu dan ibu

mengeluh berat badan bayi mengalami penurunan

Data Objektif

Keadaan umum baik, TTV : Suhu 36,5°C, denyut jantung 136 x/mnt,

pernafasan 46 x/mnt, BB 2655 gram, PB 46 cm,

Pemeriksaan head toe toe :

Kepala : tidak ada benjolan dan kepala bersih

Wajah : kulit kekuningan

Mata : konjungtiva tidak pucat dan sclera tidak ikhterik

Telinga : tidak ada kelainan dan tidak ada secret.

Mulut : tidak ada kelainan, tidak ada secret, reflek rooting (+),

reflek sucking (+), dan reflek swallowing (+).

Hidung : tidak ada secret dan tidak ada pernafasan cuping hidung.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening.

Dada : tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada kelainan,tali pusat sudah puput dan tidak berbau.

Genetalia : tidak ada kelainan

Punggung dan anus : tidak ada kelainan

Ekstremitas : tidak ada kelainan


Analisa

NCB - SMK Umur 6 hari

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan bayi baik. Ibu

mengerti

2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang personal hygiene. Ibu

mengerti dan akan melakukannya

3. Mengingatkan ibu tentang tanda-tanda bahaya bayi baru lahir

seperti demam, muntah berlebihan dan kulit kebiruan. Ibu mengerti

4. Memberitahu ibu tentang cara menyusui yang benar. Ibu mengerti

5. Memberitahu ibu untuk sering menyusui bayinya minimal 2 jam,

agar berat badan bayi bertambah. Ibu mengerti dan akan

melakukannya

6. Memberitahu ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan

tanpa tambahan apapun. Ibu mengerti dan akan melakukannya

7. Memberitahu ibu untuk menjemur bayinya pada pukul 07.00-08.00

WIB selama 15 menit bagian depan badan bayi dan 15 menit pada

bagian belakang bayi. Ibu mengerti.

8. Memberitahu ibu untuk tidak memberikan apapun pada tali pusat

bayi. Ibu mengerti

9. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayi. Ibu

mengerti
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

Tanggal 30 Oktober 2018, jam 15.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan nyeri pada bagian luka jahitan sudah berkurang dan obat

yang diberikan sudah habis

Data Objektif

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional

stabil, Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 120/70 mmHg, suhu tubuh

36,4˚C, nadi 82 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit. Mata tidak oedema,

sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat. Payudara tidak bengkak,

puting susu menonjol, pengeluaran ASI +. Tinggi Fundus Uteri tidak

teraba. Genetalia : vulva tidak ada kelainan, lochea sanguinolenta, jahitan

sudah mulai kering, benang tidak ada yang copot, tidak berbau,tidak ada

pembengkakan dan tidak ada varices.

Analisa

P3A0 Postpartum 6 hari

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa saat ini kondisi ibu

dalam keadaan baik. Ibu mengerti


2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda bahaya ibu

nifas seperti keluar darah banyak melalui vagina, pusing dan sakit

kepala berlebihan, pandangan kabur, luka jahitan bengkak dan bau

serta demam dll. Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali

penjelasan yang sudah diberikan

3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang personal hygiene. Ibu

mengerti dan akan melakukannya

4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pemenuhan nutrisi dan

hidrasi seperti ikan, telur, ayam, daging, sayuran dan buah-buahan

serta susu dan air putih. Ibu mengerti dan akan mengkonsumsinya

5. Menganjurkan ibu untuk tetap kompres dingin pada daerah luka

jahitan yang masih terasa nyeri. Ibu mengerti dengan penjelasan

yang sudah diberikan dan mau melakukannya.

6. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya tiap 2 jam dan

memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Ibu mengerti dan akan

melakukannya

7. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu mengerti


ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tanggal 8 November 2018, jam 17.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan berat badan bayinya sudah bertambah

Data Objektif

Keadaan umum baik, TTV : Suhu 36,9°C, denyut jantung 127 x/mnt,

pernafasan

47 x/mnt, BB 2800 gram, PB 47 cm,

Pemeriksaan head toe toe :

Kepala : tidak ada benjolan dan kepala bersih

Mata : konjungtiva tidak pucat dan sclera tidak ikhterik

Telinga : tidak ada kelainan dan tidak ada secret.

Mulut : tidak ada kelainan, tidak ada secret, reflek rooting (+),

reflek sucking (+), dan reflek swallowing (+).

Hidung : tidak ada secret dan tidak ada pernafasan cuping hidung.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening.

Dada : tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada kelainan,tali pusat sudah puput dan tidak berbau.

Genetalia : tidak ada kelainan

Punggung dan anus : tidak ada kelainan

Ekstremitas : tidak ada kelainan


Analisa

NCB - SMK Usia 14 hari

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan bayi baik. Ibu

mengerti

2. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya minimal 2 jam. Ibu

mengerti

3. Memberitahu ibu untuk tidak memberikan tambahan makanan dan

minuman apapun selain ASI selama 6 bulan. Ibu mengerti

4. Memberitahu ibu untuk menjemur bayinya pada pukul 07.00-08.00

WIB selama 15 menit dibagian depan badan bayi dan 15 menit

dibagian belakang tubuh bayi. Ibu mengerti

5. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya. Ibu

mengerti

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

Tanggal 8 November 2018, jam 17.00 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan sudah tidak merasakan nyeri dan darah yang keluar

sudah sedikit
Data Objektif

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional

stabil, Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 110/60 mmHg, suhu tubuh

37,1˚C, nadi 80 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit. Mata tidak oedema,

sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat. Payudara tidak bengkak,

puting susu menonjol, pengeluaran ASI +. Tinggi Fundus Uteri tidak

teraba. Genetalia : vulva tidak ada kelainan, lochea serosa, jahitan sudah

mulai kering, benang tidak ada yang copot, tidak berbau,tidak ada

pembengkakan dan tidak ada varices.

Analisa

P3A0 Postpartum 14 hari

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa saat ini kondisi ibu

dalam keadaan baik. Ibu mengerti

2. Memberikan pendidikan kesehatan tentang tanda-tanda bahaya ibu

nifas seperti keluar darah banyak melalui vagina, pusing dan sakit

kepala berlebihan, pandangan kabur, luka jahitan bengkak dan bau

serta demam dll. Ibu mengerti dan akan datang bila menemukan

tanda tersebut.

3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang personal hygiene. Ibu

mengerti dan akan melakukannya


4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pemenuhan nutrisi dan

hidrasi seperti ikan, telur, ayam, daging, sayuran dan buah-buahan

serta susu dan air putih. Ibu mengerti dan akan mengkonsumsinya

5. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya tiap 2 jam dan

memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Ibu mengerti dan akan

melakukannya

6. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu mengerti

ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR

Tanggal 16 November 2018, jam 16.30 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada bayinya dan berat badan bayi

sudah bertambah

Data Objektif

Keadaan umum baik, TTV : Suhu 36,5°C, denyut jantung 133 x/mnt,

pernafasan

44 x/mnt, BB 3150 gram, PB 48 cm,

Pemeriksaan head toe toe :

Kepala : tidak ada benjolan dan kepala bersih

Mata : konjungtiva tidak pucat dan sclera tidak ikhterik

Telinga : tidak ada kelainan dan tidak ada secret.


Mulut : tidak ada kelainan, tidak ada secret, reflek rooting (+),

reflek sucking (+), dan reflek swallowing (+).

Hidung : tidak ada secret dan tidak ada pernafasan cuping hidung.

Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan getah bening.

Dada : tidak ada retraksi dinding dada

Abdomen : tidak ada kelainan,tali pusat sudah puput dan tidak berbau.

Genetalia : tidak ada kelainan

Punggung dan anus : tidak ada kelainan

Ekstremitas : tidak ada kelainan

Analisa

NCB - SMK Usia 42 hari

Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa keadaan bayi baik. Ibu

mengerti

2. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya minimal 2 jam. Ibu

menegrti

3. Memberitahu ibu untuk tidak memberikan tambahan makanan dan

minuman apapun selain ASI selama 6 bulan. Ibu mengerti

4. Memberitahu ibu untuk menjemur bayinya pada pukul 07.00-08.00

WIB selama 15 menit dibagian depan badan bayi dan 15 menit

dibagian belakang tubuh bayi. Ibu mengerti


5. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga kehangatan bayinya. Ibu

mengerti

6. Memberitahu ibu bahwa saat bayinya berusia 1 bulan maka akan

dilakukan penyuntikan imunisasi dasar yaitu BCG dilengan kanan.

Ibu mengerti akan segera dating

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS

Tanggal 16 November 2018, jam 16.30 WIB

Data Subjektif

Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan asinya masih keluar banyak

Data Objektif

Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional

stabil, Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 110/60 mmHg, suhu tubuh

36,8˚C, nadi 80 kali/menit, pernapasan 20 kali/menit. Mata tidak oedema,

sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak pucat. Payudara tidak bengkak,

puting susu menonjol, pengeluaran ASI +. Tinggi Fundus Uteri tidak

teraba. Genetalia : vulva tidak ada kelainan, lochea alba, jahitan sudah

kering, tidak berbau,tidak ada pembengkakan dan tidak ada varices.

Analisa

P3A0 Postpartum 42 hari


Penatalaksanaan

1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa saat ini kondisi ibu

dalam keadaan baik. Ibu mengerti

2. Mengingatkan ibu untuk kontrol IUD jika mengalami keluhan

seperti, rasa nyeri atau kram di area perut, terjadi pendarahan,

padahal belum harus waktunya menstruasi, terjadi keputihan yang

berlebihan, muncul tanda-tanda atau gejala kehamilan. Ibu

mengerti dengan penjelasan yang diberikan dan akan dating ke

pusekesmas jika mengalami hal tersebut.

3. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga personal hygiene. Ibu

mengerti dan akan melakukannya

4. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pemenuhan nutrisi dan

hidrasi seperti ikan, telur, ayam, daging, sayuran dan buah-buahan

serta susu dan air putih. Ibu mengerti dan akan mengkonsumsinya

5. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya tiap 2 jam dan

memberikan ASI eksklusif 6 bulan. Ibu mengerti dan akan

melakukannya

6. Memberitahu ibu untuk istirahat yang cukup. Ibu mengerti


BAB IV

PEMBAHASAN KASUS

1.1 Ante Natal Care

Pada kasus Ny. S G3P2A0 kehamilannya berlangsung selama 39

minggu 5 hari. Berdasarkan pendapat (Manuaba, 2007). Kehamilan matur

(cukup bulan) adalah kehamilan yang berlangsung kira-kira 40 minggu

(280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari) serta menghasilkan

bayi yang aterm. Hal ini berarti kehamilan Ny. S merupakan kehamilan

aterm dan dapat terjadi persalinan normal.

Selama kehamilannya Ny. S melakukan pemeriksaan antenatal

sebanyak 13 kali, 2 kali pada trimester I, 4 kali pada trimester II, dan 7

kali pada trimester III. Trimester I pada umur kehamilan 9 minggu, 12

minggu. Trimester II pada umur kehamilan 16 minggu, 20 minggu, 24

minggu, dan 28 minggu. Trimester III pada umur kehamilan 30 minggu,

33 minggu, 34 minggu, dan 36 minggu, 37 minggu, 38 minggu, 39

minggu. Kebijakan program dalam kunjungan antenatal sebaiknya

dilakukan sedikitnya 4 kali, satu kali pada trimester pertama, satu kali

pada trimester ke dua, dan dua kali pada trimester ke tiga (Saifuddin,

2006). Ini berarti Ny. S selalu memeriksakan kehamilannya di petugas

kesehatan Puskesmas Kecamatan Grogol sesuai dengan jadwal.

Pemeriksaan antenatal sangat penting dalam hal mengkaji kesehatan dan

kesejahteraan bayi serta kesempatan untuk memperoleh informasi dan


memberi informasi bagi ibu dan petugas kesehatan. Untuk itu bidan

maupun tenaga kesehatan yang lainnya perlu melakukan Asuhan

kebidanan secara komprehensif agar kehamilan dan bayi yang dilahirkan

normal dan tidak terdapat tanda-tanda patologis.

Pada Ny. S dilakukan sekali pemeriksaan Pengukuran Lingkar

Lengan Atas (LILA) dengan hasil pengukuran 27 cm di Puskesmas

Kecamatan Grogol Pengukuran Lingkar Lengan Atas merupakan salah

satu pemeriksaaan rutin lainnya terhadap ibu hamil. Pemeriksaan ini

dilakukan satu kali sebagai kebutuhan screening terhadap resiko tinggi

melahirkan BBLR. Dari hasil yang telah didapat berarti ibu tidak

menderita KEK dan tidak beresiko melahirkan BBLR. Ibu hamil

diketahui menderita Kurang Energi Kronis (KEK) juga dilihat dari

pengukuran LILA, indikator KEK menggunakan standar LILA < 23,5 cm

(Midwifery Update, 2016).

Selama kehamilan, tekanan darah Ny. S berkisar antara 90/60 mmHg

sampai 120/80 mmHg dalam hasil pemeriksaan tekanan darah Ny. S

masih dalam batas normal karena pernyataan tersebut didukung oleh teori

dari Kamariyah (2014) tekanan darah normal pada ibu hamil trimester III

adalah 90/60 – 120/80mmHg. Menurut Baety (2012), bahwa tekanan

darah harus diukur setiap kali pemeriksaan kehamilan. Adanya kenaikan

sistolik melebihi 30mmHg dan kenaikan diastole 15 mmHg atau tekanan

darah melebihi 140/90 mmHg harus diwaspadai sebab keadaan itu


merupakan salah satu gejala pre eklamsi. Pada kunjungan trimester III ini

di dapat hasil tekanan ibu normal.

Tinggi fundus uteri dipantau setiap pemeriksaan kehamilan, hal

ini dilakukan untuk melihat kesesuaian antara tinggi fundus uteri dengan

usia kehamilan. Pada kasus Ny. S tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan

usia kehamilan. Tinggi fundus uteri (TFU) pada Ny. S selama kehamilan,

yaitu pada umur kehamilan minggu ke-39 > 1 hari (29 cm). Berdasarkan

rumus Mc Donald TFUx2/7 untuk usia bulan, sedangkan TFU x8/7 untuk

usia minggu hal tersebut menunjukan TFU Ny. S 29x8/7=33 minggu. Hal

ini diperkuat dengan teori menurut Saifudin (2010) tinggi fundus uteri

berdasarkan usia kehamilan yaitu ± 2 cm yang berarti TFU ibu sesuai

dengan usia kehamilannya. Namun, pada usia kehamilan 39 minggu

tinggi fundus uteri 35 cm, pada usia kehamilan 40 minggu tinggi fundus

uteri 35 cm dan usia kehamilan 41 minggu 34 cm. Hal tersebut terjadi

karena kepala bayi telah masuk ke pintu atas panggul sehingga

menyebabkan penurunan tinggi fundus uteri. Dari data tersebut

menunjukan TFU Ny. S tidak sesuai kehamilan. Tetapi, saat persalinan

berlangsung By. Ny. S lahir dengan berat 2835 gr. Menurut Berdasarkan

rumus Johnson Toshack untuk menghitung tafsiran berat janin (TBJ)

yaitu = [TFU (dalam cm) – N] x 155. Pada Ny. N yang memiliki TFU 30

cm didapati hasil TBJ = (30-11) x 155= 2945 gr.

Berdasarkan anamnesa yang dilakukan kepada Ny. S, ibu sudah

mendapatkan suntik waktu SD (TT1), sebelum menikah (TT2) dan saat


kehamilan pertamanya (TT3). Saat pemeriksaan kehamilan ini, ibu

mendapatkan imunisasi TT sebanyak 1 kali yaitu TT4 pada usia

kehamilan 30 minggu karena status ibu TT3. Menurut (buku panduan

praktis kebidanan tahun 2013) dosis booster mungkin diperlukan pada ibu

yang sudah pernah diimunisasi. Pemberian dosis booster 0,5 ml IM

disesuaikan dengan jumlah vaksinasi yang pernah diterima sebelumnya

seperti pada table : pernah 3 kali suntik maka TT4, 1 tahun setelah TT3

dengan durasi perlindungan 10 tahun. Hal sersebut sesuai dengan teori

karena penyuntikan TT3 Ny. S pada kehamilan keduanya pada tahun

2010. Menurut (Depkes, 2008) tujuan diberikannya imunisasi tetanus

toksoid yaitu melindungi bayi baru lahir dari tetanus neonatorum,

melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka. Pemberian

TT pada Ny. S sudah masuk dalam TT4. Hal ini menunjukan bahwa Ny.

S sudah memiliki durasi perlindungan dari tetanus selama 10 tahun dan

penyuntikan TT5 dilakukan 1 tahun setelah TT4 atau jika Ny. S hamil

kembali. Menurut (kalbe farma, 2012) pemberian TT5 dilakukan minimal

1 tahun setelah TT4 atau kehamilan berikutnya, yang memiliki durasi

perlindungan 25 tahun/ seumur hidup.

Pemeriksaan laboratorium darah pada Ny. S dilakukan 3 kali, pada

kunjungan pertama ibu di Puskesmas Kecamatan Grogol pada tanggal 5

Maret 2018 (trimester I) kadar Hb 13,1 gr %, tanggal 24 Juli 2018

(trimester II) Kadar Hb 10,1 %, dan tanggal 17 Oktober 2018 (trimester

III) kadar Hb 10,9 %. Hal ini sesuai dengan teori (Manuaba, 2009) yang
menyatakan bahwa pemeriksaan darah dilakukan minimal 2 kali selama

kehamilan yaitu pada trimester I dan trimester III, dengan pertimbangan

bahwa sebagian besar ibu hamil mengalami anemia. Dalam hal ini Hb ibu

termasuk dalam kategori anemia ringan dimana menurut WHO,

klasifikasi anemia dalam buku Anggrita Sari,dkk (2015), antara lain:

 Anemia ringan, kadar Hb 10-11 gr %

 Anemia sedang, kadar Hb 7-10 gr %

 Anemia berat, kadar Hb < 7 gr %

Pada kasus Ny. S yang menjadi penyebab menurunnya kadar Hb adalah

karena kebiasaan Ny. S mengonsumsi teh setiap makan. Dalam teori

dijelaskan bahwa teh mengandung zat tannin yang dapat menghambat

penyerapan zat besi sampai 79-94% (Setiyarno,2012)

Mengenai pendidikan kesehatan Ny. S telah diberikan pendidikan

kesehatan mengenai tanda dan persiapan persalinan, Tanda persalinan

yang disampaikan diantaranya adanya mules yang teratur, adanya

pengeluaran darah lendir pervaginam dan keluar air-air pervaginam.

Tanda bahaya kehamilan yaitu sakit kepala yang hebat, penglihatan yang

berkunang-kunang, bengkak pada muka dan tangan, nyeri perut yang

hebat, gerakan janin berkurang, dan perdarahan pervaginam (JPNK,

2008). Setelah melakukan pemeriksaan, Ny. S selalu bertanya tentang

kondisinya dan selalu memperhatikan dan mengikuti saran yang

diberikan oleh tenaga kesehatan untuk kepentingan dan kesehatan dirinya

dan anak-anaknya. Tujuan konseling adalah untuk membantu ibu hamil


memahami kehamilannya dan sebagai upaya preventif terhadap hal-hal

yang tidak diinginkan. Selain itu untuk membantu ibu hamil menemukan

kebutuhan asuhan kehamilan, penolong persalinan yang bersih dan aman

atau tindakan klinik yang mungkin diperlukan.

4.2. Intra Natal Care

Berdasarkan hasil pemeriksaan Ny. S telah memasuki masa inpartu

partus kala 1 fase laten. Tanda dan gejala inpartu termasuk diantaranya,

penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus yang mengakibatkan

perubahan serviks (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit), cairan

lendir bercampur darah melalui vagina (JNPK, 2008). Hal ini

menunjukan bahwa Ny. S sebentar lagi akan melalui proses persalinan.

Asuhan yang di berikan kepada Ny. S selama kala I antara lain:

Mengobservasi His dan DJJ tiap 1 jam dan melakukan pemeriksaan

dalam tiap 4 jam atau jika ada indikasi. Hal ini kurang sesuai dengan

pendapat Sarwono (2010) yang mengatakan bahwa penting untuk

menghadirkan pendamping bagi ibu saat akan melakukan persalinan

untuk menambah semangat ibu, baik suami maupun kelurga yang lainnya.

Pada Kala II Ny. S mengeluh ingin meneran dan kesakitan didaerah

perut bagian bawah. Kala II Ny. S berlangsung 25 menit. Menurut

Lailiyana dkk.(2011) pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat

kira-kira 2-3 menit sekali. Karena biasanya dalam kala ini kepala janin

sudah masuk diruang panggul, maka saat his maka tekanan pada otot-otot
dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ingin mengejan. Kala

II pada primi berlangsung 1 sampai 2 jam sedangkan pada multi

berlangsung ½ sampai 1 jam. Kala II pada primigravida membutuhkan

waktu maksimal 2 jam sedangkan pada multigravida membutuhkan

waktu maksimal 1 jam (JNPK, 2008). Maka dapat disimpulkan bahawa

proses yang dialami Ny. S tidak ada kesenjangan antar teori dan proses

yang dialami ibu.

Kala III pada Ny. S berlangsung sekitar 10 menit. Setelah di pastikan

tidak ada janin kedua Ny. S disuntik oksitosin 10 IU/IM. Di depan vulva

tampak semburan darah, tali pusat memanjang, uterus berbentuk globular

yang merupakan tanda pelepasan plasenta. Setelah ada tanda-tanda

pelepasan plasenta dilakukan peregangan tali pusat terkendali untuk

melahirkan plasenta. Plasenta lahir spontan pukul 06.00 WIB, selaput dan

kotiledon lengkap. Langsung dilakukan massase uterus pada Ny. S

selama 15 detik searah jarum jam. Hal ini telah sesuai dengan anjuran

(JNPK, 2008) untuk menghindari komplikasi pada persalinan kala III di

anjurkan bagi penolong persalinan untuk melakukan manajemen aktif

kala III (MAK III) yaitu: pemberian oksitosin 10 IU/IM, peregangan tali

pusat terkendali, massase uterus selama 15 detik. Teori ini di perkuat oleh

(Saifuddin, 2006) bahwa pemijatan uterus segera setelah lahir dapat

menimbulkan kontraksi sehingga dapat mengurangi pengeluaran darah

dan mencegah perdarahan pasca persalinan.


Kala IV pada Ny. S berlangsung secara fisiologis di mulai saat

lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum (JNPK, 2008).

Selama kala IV penulis mengobservasi keadaan umum, tekanan darah,

denyut nadi, suhu tubuh, tinggi fundus uteri, kontraksi uterus, kandung

kemih dan perdarahan setiap 15 menit pada 1 jam pertama dan 30 menit

pada 1 jam kedua. Hal ini sesuai dengan teori: petugas harus memantau

ibu selama 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta, dan

setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak

stabil, maka ibu harus di pantau lebih sering (Saifuddin, 2006).

4.3. Post Natal Care

Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah partus selesai, dan

berakhir setelah kira-kira 6 minggu. Istilah puerperium (berasal dari kata

puer artinya anak, parlele artinya melahirkan) menunjukkan periode 6

minggu yang berlangsung antara berakhirnya periode persalinan dan

kembalinya organ-organ reproduksi wanita ke kondisi normal seperti

sebelum hamil.

Segera setelah bersalin ibu di berikan Vitamin A (200.000 IU).

Hal ini sesuai dengan pendapat (Saifuddin, 2009) bahwa ibu pasca

persalinan harus mendapat Vitamin A agar ibu dapat memberikan

Vitamin A pada bayinya melalui ASI. Selain itu, ibu diberi terapi tablet

Asam Mefenamat 3x1 (15 tablet) amoxilin 3x1 (10 tablet), Sufrabion 1x1

(10 tablet) yang diberikan oleh petugas kesehatan bagi ibu yang baru

melahirkan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mengurangi rasa nyeri


pada Ny. S pasca bersalin. Pada ibu menyusui pil zat besi harus di minum

untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin.

Vitamin A perlu diberikan dan penting bagi ibu selama dalam masa nifas

sangat penting. Selain bermanfaat bagi ibu, kapsul vitamin A juga

bermanfaat bagi bayi karena pada masa nifas ibu menyusui bayinya

sehingga secara tidak langsung bayinya pun memperolehnya (Aroni,

2012). Menurut (Siraid, 2009) pemberian amoxicillin penggunaannya

terhadap pasien pasca melahirkan dengan dosis secara oral sebagai

profilaksis 75 mg(setara dengan 250 mg amoxicillin) sampai 625 mg

(500 mg amoxicillin) tiga kali sehari. Untuk melawan bakteri yang

resistensi terhadap amoxicillin. Menurut (Buku saku dokter, ) asam

mefenamat adalah untuk menghilangkan nyeri akut dan kronik, ringan

sampai sedang sehubungan dengan sakit kepala, sakit gigi, dismenore

primer, termasuk nyeri pada trauma, nyeri sendi, nyeri otot, nyeri sehabis

oprasi dan nyeri pasca persalinan.

Dilakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, suhu, pengeluaran

ASI, lochea, dan tanda – tanda infeksi. Asuhan yang diberikan sesuai

dengan yang dikatakan oleh (Suherni, 2009). yaitu dilakukan rawat

gabung, ibu juga dianjurkan untuk langsung menyusui bayinya. Secara

fisiologis ini dapat merangsang ibu dan bayi untuk kenal satu sama lain.

Pada nifas hari pertama, 6 jam postpartum didapati TFU 2 jari

bawah pusat, Lochea pada hari pertama terdapat lochea rubra, payudara

tidak ada benjolan dan puting menonjol, Pengeluaran Kolostrum,


Kontraksi : Baik, Pada hal ini wajar karena rasa mules itu disebabkan

oleh kontraksi rahim dan biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan.

Dan ibu mengeluh merasakan nyeri pada luka jahitan pada saat ibu batuk

ataupun berjalan, Menurut jurnal Rahmawati (2011) setiap ibu yang telah

menjalani proses persalinan dengan mendapatkan luka perineum akan

merasakan nyeri, nyeri yang dirasakan pada setiap ibu dengan luka

perineum menimbulkan dampak yang tidak menyenangkan seperti

kesakitan dan rasa takut untuk bergerak. Penulis menganjurkan Ny. S

untuk lebih memperhatikan lagi untuk perawatan lukanya dan kebersihan

diri terutama pada daerah vagina, karena berdasarkan penelitian

sebelumnya yang diteliti oleh, Trisnawati (2015) menyatakan bahwa cara

perawatan perineum merupakan faktor yang paling dominan berhubungan

dengan penyembuhan luka jahitan perineum. Penelitian lain yang

dilakukan oleh Nurdahiliana (2013) dari faktor – faktor yang

mempengaruhi kesembuhan luka perineum didapatkan hasil ibu nifas

yang mengalami luka perineum dengan kebersihan baik mempunyai

peluang sembuh lukanya 27,741 kali lebih baik, bila dibandingkan

dengan ibu nifas yang kebersihan kurang baik, sehingga kebersihan

merupakan faktor utama dalam kesembuhan luka perineum. Hasil

penelitian lainnya menunjukan, penelitian ini sejalan dengan penelitian

yang dilakukan oleh Haris. & Harjanti, (2011) bahwa perawatan

perineum yang tidak benar menyebabkan infeksi dan memperlambat

penyembuhan. Personal hygiene (kebersihan diri) yang kurang dapat


memperlambat penyembuhan, hal ini dapat menyebabkan adanya benda

asing seperti debu dan kuman. Selain perawatan luka perineum, faktor

gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses

penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat

membutuhkan protein. Menurut asumsi peneliti, penelitian ini sesuai

dengan teori, yang mengemukakan bahwa perawatan perineum yang baik

berpengaruh terhadap kesembuhan luka perineum. Tingkat kesembuhan

pada ibu nifas disebabkan tingginya tingkat pendidikan ibu nifas,

sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki ibu nifas

mengenai perawatan luka perineum (Morison, 2007). Asumsi peneliti

diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Muhith (2015) dan

penelitian Haris & Harjanti, (2011) dengan hasil uji Chi-square dengan

nilai p = 0,002 yang sama menunjukkan nilai positif (+) berarti semakin

baik perawatan perineum, semakin cepat kesembuhan luka perineum.

Selain itu, penulis juga menganjurkan kepada Ny. S untuk kompres air

dingin pada luka yang nyeri, karena berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh Putri (2016) kompres dingin selama 15 menit pada daerah

luka perineum lebih efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah

luka. Kompres dingin memberi efek fisiologis dengan cara menurunkan

respon inflamasi, menurunkan aliran darah dan mengurangi edema,

mengurangi rasa nyeri lokal.

Penulis menganjurkan Ny. S untuk banyak istirahat. Kurang

istirahat dapat mengurangi jumlah ASI yang di produksi, memperlambat


proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, dan menyebabkan

depresi dan ketidak mampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.

Penulis juga memberikan pendidikan kesehatan tentang personal hygiene

sesuai anjuran (Saifuddin, 2006 ).

Pada kunjungan kedua dilakukan di rumah klien. Berdasarkan

anamnesa dan pemeriksaan fisik, Ny. S mengatakan masih keluar darah

lendir berwarna merah agak kekuningan. Hal ini sesuai dengan teori

lochea sanguilenta yang berisi darah lendir berwarna merah kekuningan

akan berlangsung sampai 3-7 hari masa nifas (Rukiyah, dkk 2010).

Penulis menganjurkan Ny. S untuk memberikan ASI, memberitahu ibu

tanda-tanda bahaya ibu nifas, memberitahu ibu untuk pemenuhan

nutrisi,memberikan pendidikan kesehatan tentang asuhan pada bayi dan

cara menyusui yang baik. (Eni Ambarwati, 2008)

Pada kunjungan ketiga dilakukan dirumah klien, berdasarkan

anamnesa dan pemeriksaan fisik Ny. S mengatakan keluar darah

berwarna kecoklatan dan sedikit. Hal ini sesuai dengan teori lochea serosa

yang muncul pada hari 7-14 pascapersalinan, berwarna kecoklatan

mengandung lebih banyak serum, lebih sedikit darah dan banyak serum.(

Rukiyah, dkk 2010). Penulis menganjurkan Ny. S untuk memberikan

ASI, memberitahu ibu tanda-tanda bahaya ibu nifas, memberitahu ibu

untuk pemenuhan nutrisi,memberikan pendidikan kesehatan tentang

asuhan pada bayi, cara menyusui yang baik dan konseling KB. (Eni

Ambarwati, 2008)
4.4. Bayi Baru Lahir

Menurut teori Dewi (2010) ciri bayi lahir normal adalah gerak

aktif, bayi menangis kuat, rek rooting sudah terbentuk dengan baik, reflek

sucking sudah terbentuk dengan baik, reflek moro sudah terbentuk

dengan baik dan reflek grasping sudah baik. Menurut Sondakh (2013)

Suhu ukuran normal 36,5 sampai 37,5 ˚C. Menurut Wafi (2010) Denyut

jantung baru lahir normal antara 100-160x/menit dan pernapasan BBL

normal 30-60x/menit, tanpa retraksi dada dan tanpa suara merintih.

Keadaan bayi Ny. S dalam keadaan baik, sehat dan tidak ada kesenjangan

antara keadaan kesehatan bayi Ny. S dengan teori yang dipaparkan.

Setelah itu, dan dilakukan IMD selama 1 jam setelah lahir. IMD bertujuan

untuk menghindari terjadinya hipotermi pada bayi baru lahir,

mempercepat detak jantung dan pernafasan agar lebih stabil, bayi lebih

cepat memperoleh kolostrum sebagai antibody (Saifuddin, 2006) pada

saat dilakukan IMD hendaknya bidan tidak melakukan intervensi apapun

pada bayi, biarkan bayi mencari putting ibu sendiri. Menurut teori (buku

panduan praktis kebidanan tahun 2013) yang melakukan asuhan pada

bayi baru lahir adalah pemeriksaan fisik, timbang berat, dan periksa suhu.

Dari pemeriksaan tersebut didapatkan hasil bahwa bayi dalam keadaan

baik.

Satu jam setelah bayi lahir di lakukan tindakan pemberian suntik

Vit. K, pemberian salep mata dan pemeriksaan fisik. Semua bayi baru
lahir harus diberikan vit. K injeksi 1 mg intramuskuler dipaha kiri

sesegera mungkin untuk mencegah perdarahan bayi baru lahir akibat

defisiensi Vit. K yang dapat dialami oleh sebagian bayi baru lahir.

Memberikan salep mata serta identifikasi bayi baru lahir (Saifuddin,

2006). Tindakan yang dilakukan pada bayi baru lahir ini merupakan

penanganan pencegahan yang dapat menyebabkan kelainan-kelainan

cacat seumur hidup bahkan kematian. Pemberian salep mata segera

setelah lahir untuk mencegah penyakit menular seksual karena

kemungkinan terjadi infeksi pada neonatus selama melewati jalan lahir

seorang ibu dengan gonorhoe atau klamidia (Saifuddin, 2006).

Pada bayi Ny. S di berikan imunisasi Hb 0 pada saat 2 jam bayi baru

lahir. Hal ini sesuai dengan (JNPK, 2008 ) bahwa bayi usia 0 (segera

setelah lahir) di berikan imunisai hepatitis 0. Bayi Ny. S di berikan

imunisasi Hb 0 pada usia 1 hari. Hal ini sesuia dengan (IDAI, 2006)

bahwa seharusnya bayi usia 0-7 hari sudah diberikan imunisasi hepatitis

0. Menurut buku (Depkes APN, 2007) pemberian Hepatitis B bermanfaat

untuk mencegah infeksi hepatitis B pada bayi. Untuk itu pemberian

Hepatitis 0 perlu diperhatikan oleh para bidan maupun tenaga kesehatan

untuk meningkatkan derajat kesehatan anak.

Kunjungan pertama pada pola eliminasi bayi Ny. S sudah BAK warna

kuning jernih dan BAB warna hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat

Sondakh (2013) Pengeluaran defekasi dan urin terjadi 24 jam pertama


setelah lahir, konsistensinya agak lembek, berwarna hitam kehijauan,

selain itu diperiksa juga urin yang normalnya berwarna kuning. Hal diatas

fisiologis pada bayi Ny. S tidak ada kelainan kongenital, bayi sudah BAB

dan BAK

Pada kunjungan kedua dilakukan dirumah klien yaitu melakukan

pemeriksaan fisik, periksaan suhu dan tanda vital serta pemberian ASI

serta melakukan pemeriksaan tanda bahaya. Hal tersebut sesuai dengan

teori (buku panduan praktis kebidanan tahun 2013) bahwa

penatalaksanaan bayi baru lahir adalah melakukan pemeriksaan fisik,

timbang berat, ukur suhu, dan kebiasaan makan bayi serta tanda bahaya

pada bayi baru lahir. Memberitahu Ny. S untuk sering menyusui bayinya

minimal 2 jam, memberitahu Ny. S untuk menjemur bayinya pada

matahari pagi sekitar 7-8 pagi selama 15-30 menit. Menurut (varney,

2007) mengenal gejala dini mencegah meningkatnya ikhterik dengan

menjemur pada matahari pagi sekitar 7-8 pagi selama 15-30 menit. dan

menurut (sunar, 2009) yaitu salah satu manfaat pemberian ASI bagi bayi

adalah menjadikan bayi yang diberi ASI lebih mampu menghadapi efek

penyakit kuning.

Pada kunjungan ketiga dilakukan dirumah klien yaitu melakukan

pemeriksaan fisik, periksaan suhu dan tanda vital serta pemberian ASI

serta melakukan pemeriksaan tanda bahaya. Hal tersebut sesuai dengan

teori (buku panduan praktis kebidanan tahun 2013). Dan di dapatkan

seluruh hasil pemeriksaan dalam batas normal.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dalam melaksanakan studi kasus ini penulis telah memberikan

asuhan kebidanan secara komprehenshif pada klien sejak masa

kehamilan, persalinan nifas dan bayi baru lahir. Asuhan yang telah

diberikan kepada klien dapat disimpulkan, sebagaimana berikut:

1. Asuhan kebidanan pada masa kehamilan Ny. S sudah diberikan

dengan baik dengan standar 10T di Puskesmas Kecamatan

Grogol. Pada pemeriksaan labolaturium, Ny. S didapatkan hasil

yang baik namun saat pemeriksaan Hb pada usia kehamilan 39

minggu mengalami penurunan sehingga Hb ibu rendah.

2. Asuhan kebidanan pada ibu bersalin telah dilaksanakan, Ny. S

melahirkan secara pervaginam dengan Anemia ringan dalam

Kehamilan dan sudah dilakukan asuhan sesuai dengan yang

diaanjurkan dokter, dan ibu mengalami robekan jalan lahir grade

II dan dilakukan penjahitan dengan anestesi.

3. Asuhan kebidanan pada masa nifas Ny. S berjalan dengan baik,

luka jahitan tidak ditemukan tanda-tanda infeksi dan tidak

ditemukan tanda-tanda bahaya pada masa nifas lainnya. Namun

pada nifas 6 jam dan 6 hari ibu merasakan nyeri pada luka

jahitan, dan dianjurkan untuk kompres dingin serta

menganjurkan ibu untuk lebih meningkatkan perawatan luka


jahitan yang nyeri. Ibu mau melaksanakan anjuran yang

diberikan untuk kesehatan ibu pada masa nifas. Dan pada masa

nifas hari ke 14 dan 42 hari ibu sudah tidak merasakan nyeri.

4. Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir spontan tanggal 23-10-

2018 pukul 05.53 WIB segera melakukan penilaian awal pada

bayi baru lahir secara cepat dan tepat dengan menilai bayi

langsung menangis, tonus otot baik.

5. Seluruh asuhan kebidanan yang telah di berikan selama

kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, dan nifas telah

didokumentasikan dalam metode SOAP.

B. Saran

Mengingat pentingnya asuhan yang dilakukan secara

berkesinambungan pada masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru

lahir maka saran yang dapat diberikan adalah:

1. Bagi klien dan keluarga

Diharapkan klien mendapatkan informasi dan edukasi yang jelas

tentang kehamilan, persalinan, nifas dan asuhan bayi baru lahir

sehingga asuhan-asuhan yang sudah penulis berikan dapat di

implementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Keluarga

diharapkan membantu klien dalam mengambil keputusan yang

berhubungan dengan kesehatannya, serta memberikan dukungan

yang optimal kepada klien dalam melewati masa-masa kehamilan,


persalinan dan nifas, sehingga proses yang dijalani dapat berjalan

secara fisiologis.

2. Bagi Institusi Pendidikan

a. Dapat meningkatkan kualitas dalam menambah referensi atau

buku-buku tentang kebidanan terutama tentang fisiologi dan

patologinya.

b. Diharapkan akdemik memberikan bimbingan kepada

mahasiswa dalam pembuatan makalah ataupun dalam praktek

di lahan.

3. Lahan Praktik

Diharapkan pihak lahan dapat menerapkan 14T segera agar

penatalaksaan ANC dapat berjalan lebih baik. Serta

mengimlementasikan asuhan berdasarkan evidence based.

4. Bagi Mahasiswa

a. Diharapkan mahasiswa yang memperoleh ilmu di lahan

praktek dapat mengaplikasikannya dengan baik dan benar.

b. Diharapkan mahasiswa dapat menggali ilmu pengetahuan

lebih dalam dan meningkatkan mutu pelayanan agar lebih

terampil lagi.
c. Diharapkan mahasiswa dapat menjalin kerjasama yang baik

dengan petugas kesehatan yang lain sehingga timbul suatu tim

yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba I.B.G. 2006. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC

Prawiroharjo,S.2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo.

Saifudin, Abdul Bari. 2006. Buku acuan: Asuhan Persalinan Normal. Jakarta:
EGC.

Prawiroharjo,S.2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo.

Rukiyah,dkk.2013. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Trans Info
Media

Sulistyawati, Ari. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba


Medika : 2010

Winkjosastro, Hanifa, dkk. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Gramedia. 2007.

Saiffudin, Abdu Bari.2009. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Materal


dan Neonatal. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Saleha, Siti. 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba
Medika

Dempi Triyanti. 2017. Volume 5 nomor 1 Juni 2017 tentang Faktor - Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Ruptur Perineum pada Ibu Bersalin di Bpm
Fauziah Hatta Palembang Tahun 2017. Diakses dari

http://journalstikesmp.ac.id/filebae/Dempi%20(152-159).pdf

Manuaba,IBG,dkk.2010.Ilmu kebidanan Penyakit Kandungan Dan


KB.Jakarta:EGC
Indonesia, Departement Kesehatan.2010.Asuhan Persalinan Normal.JNPK-KR,
Depkes RI. Jakarta

Kementrian Kesehatan RI.2013.Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu dan


Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan: Pedoman Bagi Tenaga
Kesehatan.Jakarta: Kementrian Kesehatan

Elida Fitri. 2013. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lamanya Penyembuhan


Luka Perineum Pada Ibu Nifas. Diakses Dari

http://simtakp.uui.ac.id/dockti/ELIDA_FITRI-skrispi_elida_fitri.pdf

Suherni, H. W. (2009). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

Wafi, M. N. (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.

Walyani, E. (2015). Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir.


Yogyakarta: PT. Pustaka Baru

Sondakh, J. (2013). Asuhan Kebidanan Persalinan & Bayi Baru Lahir. Malang:
Erlangga.

Vivian Nanny Lia D, T. s. (2014). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta:
Salemba Medika