STUDI KELAYAKAN PLTS TERAPUNG ( FLOTING
PHOTOVOLTAIC ) DI RUANG PUBLIK KREATIF
UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA
SKRIPSI
OLEH
IRFAN FAILUL AMRI
15.01.072.011
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TEKNOLOGI SUMBAWA
2020
BAB l
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanasan global saat ini semakin lama semakin besar dampak pengaruhnya
pada lingkungan dan mahluk hidup. Semua karena terjadinya menipisnya lapisan ozon
pada atmosfer bumi yang menyebabkan radiasi panas matahari yang mengakibatkan
berubahan suhu bumi semakin meningkat, penyebab terjadinya pemanasan global di
pengaruhi oleh aktifitas manusia salah satunya menggunakan energi listrik yang masih
menggunakan batu bara dan minyak bumi sebaai bahan bakarnya.
Di Indonesia suplay energi listrik yang di gunakan oleh PLN masih masih banya
yang menggunakan mengguakan minyak bumi dan batu bara sebagai bahan bakar utama,
mengapa pembangkit bahan bakar fosil sangat populer di gunakan. karena lebih mudah di
gunakan, murah, dan mampu memenuhi permintaan masyarakat yang semakin hari
semakin meningkat.
Energi terbarukan adalah solusi aternatif lain dari energi bahan bakar fosil salah
satunya yaitu pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) jenis pembangkit ini seperti
namanya yang menggunakn energi surya yang di konfersikan menjadi energi listrik yang
di simpan ke baterai atau di gunakan langsung ke beban. PLTS selain ramah lingkungan
juga aman sebagai investasi jangka panjang terlebih investasi energi yang akan selalu
dibutuhkan.
Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) memiliki fasilitas umum yang berada
disekitar area kampus salah satunya yaitu ruang publik kreatif (RPK), pada RPK masih
menggunakan sumber listrik dari PLN seperti yang diketahui bahwa menggunakan
pembangkit berbahan bakar fosil yang tidak ramah lingkungan, dengan menggunakan
PLTS sebagai back up daya listrik dari PLN akan meningkatkan evisiensi dan memenuhi
kebutuhan energi.
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) Floating photovoltaic merupakan betuk
inovasi pengembangan dari PLTS Komunal dari pemanfaatan disain tata ruang perairan
sebagai tempat instalasi yang menggunakan sistem pengisian ulang (recharge) baterai
dengan konfigurasi terpusat, dimana pada saat pengisian sampai penuh kemudian akan
digunakan untuk back-up dari sistem PLN yang sudah ada untuk memaksimalkan potensi
energi dan efisiensi energi. Oleh karena itu penelitian ini mengangkat judul Studi
Kelayakan PLTS Terapug (Floating Photovoltaic) di Ruang Publik Kreatif untuk di
jadikan sebagai analisis kelayakan penyuplai energi listrik listrik saat listrik dari PLN
padam.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
Bagaimana kelayakan pembangunanan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS
Terapung) berdasarkan aspek keuangan , dan aspek teknis dan teknologi
1.3 Batasan Masalah
Agar permasalahan tidak terlampau luas dan terperinci maka bahasan masalah dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Studi Kelayakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung (PLTS
Terapung) di Ruang Publik Kreatif, Universitas Teknologi Sumbawa.
2. Analisis kelayakan ini akan menjelaskan perhitungan rancangan agaran biaya (RAB)
yang di butuhkan dalam pembangunan dan pembangkitan PLTS Terapung
3.
1.4 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dalam penulisan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui studi kelayakan PLTS Terapung layak di pasang di Ruang Publik
Kreatif, Universitas Teknologi Sumbawa.
2. Untuk mengetahui seberapa besar potensi pemanfaatan energy terbarukan terhadap
lingkungan yang terbatas.
1.5 Manfaat Penelitian
manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Bagi Universitas Teknologi Sumbawa
Adapun manfaat penelitian ini bagi Universitas Teknologi Sumbawa adalah dapat
menjadi bahan pertimbangan dan acuan pengelolaan energi.
2. Bagi investor
Sebagai pertimbangan investasi jangka panjang dan keuntungan yang akan di terima.
3. Bagi Peneliti
Sebagai bentuk nyata dari ilmu yang di terima selama menempuh pendidikan di
Universitas Teknologi Sumbawa dan sekaligus menambah wawasan dari peneliti.
1.6 Sistematika Penulisan
Pembahasan tugas akhir ini memiliki susunan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang penguraian secara singkat latar belakang, rumusan masalah,
batasan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan serta matriks
penelitian.
BAB II : LANDASAN TEORI
Pada bab ini akan dijelaskan tentang teori penunjang yang digunakan dalam pembuatan
tugas akhir ini. Teori sistem tenaga listrik, analisis studi photovoltaic terapung dengan
memanfaatkan lahan air sebagai media pemasangan.
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini membahas tentang metode penelitan yang digunakan dan dilakukan dalam
tugas akhir ini.
BAB IV : PEMBAHASAN
Pada Bab ini akan dibahas gambaran umum tentang pembangkit tenaga listrik ( PLTS )
serta photovoltaic dengan di aplikasikanya secara terapung disaint dan rancanganya.
BAB V : PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan dari pembahasan permasalahan dan saran untuk
perbaikan dan penyempurnaan tugas akhir ini.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Pustaka
Penelitian di lakukan dari penelitian mahasiswa Universitas Teknologi Sumbawa
sebelumnya terkait Feasibility Study dan Detail Engineering Design Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS) dengan kapasitas pembangkit yaitu sebesar 308,4 kWp yang
bertujuan untuk menentukan kebutuhan harian dari 14 gedung dari Universitas Teknologi
Sumbawa. Penelitian ini melakukan pengkajian terkait studi kelayakan PLTS Terpusat
dengan aspek tingkat iradiasi matahari, kebutuhan daya yang dibutuhkan, dan jublah
kongkrit dari peralatan yang di butuhkan dengan meninjau langsung keadaan di lapangan.
Dari hasil penelitian menunjukan hasil verifikasi lapangan, studi berbagai aspek
penilaian kelayakan Universitas Teknologi Subawa , Desa Batu Alang, Kecamatan Moyo
Hulu, Kabupaten Sumbawa – Nusa Tenggara Barat sangat layak untuk dibangun PLTS
Terpusat. Dengan . kebutuhan energi harian diperkirakan sebesar 513836 Wh dan besar
kapasitas pembangkit yaitu sebesar 308,4 kWp untuk melayani 14 gedung dan fasilitas luar
gedung lain. Desain Feasibility Study dan Detail Engineering Design Pembangkit Listrik
Tenaga Surya (PLTS) dapat di uraikan dengan tabel berikut :
Tabel 2.1: Detail Engineering Design PLTS Universitas Teknologi sumbawa
No Komponen Kapasitas Jumlah (Unit)
1. Modul Surya 200 Wp 308,4 kWp 1450
2. inverter 5000 watt 62
3. Baterai Bank 1000 Ah 2000 Wh 189
4. Solar charge controller MPPT 60 – 128 V 308,4 kWp 8
2.2 Dasar Teori
2.2.1 Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Secara letak geografi indonesia memiliki intensitas cahaya 2,4 sampai 4,4 kWh/m² di
seluruh pulau di yang ada di Indonesia. Di bagian Indonesia timur khususnya nusa
tenggara barat memiliki iradiasi matahari 4,0 sampai 4,8 kWh/m² dalam seharinya
dan memiliki 1461 sampai 1753 kWh/m² dalam waktu setahun. Pada tahun 1975 –
1995 kabupaten Sumbawa tingkat iradiasi matahari mencapai 5,747 kWh/m².
Gambar 2.1 peta iradiasi matahari di Indonesia (Sumber : Global Solar Atlas
2019)
Gambar 2.2. Modul Surya (Sumber: TMLEnergy)
2.2.2 Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah sistem pembangkitan energi yang
memanfaatkan radiasi cahaya matahari yang di ubah menjadi energy listrik, kemudian
digunakan untuk mengisi baterai (DC) keudian diubah menjadi listrik arus bolak –
balik (AC) untuk di gunakan pada beban. PLTS juga memiliki fungsi sebagai
penghasil energi baru terbarukan dengan menggunakan beberapa komponen atau
peralatan yang berupa panel surya untuk mengkondisikan sinar matahari yang
kemudian akan diubah menjadi energi listrik dengan besaran hingga Mega Watt atau
sesuai dengan kebutuhan dari suatu daerah agar kebutuhan listrik didaerahnya
dapat terpenuhi (GDMEnergy, 2017).
Potovoltaik ( PV ) adalah modul sel surya yang mengubah energi matahari
menjadi energi listrik dngan melalui proses conversi energi. Pebangkitan energy
listrik pada sel surya terjadi berdasarkan efek fotolistrik atau di sebut dengan efek
fotovoltaik, yaitu efek yang terjadiakibat foton dengan panjang gelombang tertentu
yang jika energinya lebih besar dari pada energy ambang semi konduktor, maka akan
di serap oleh electron sehingga electron berpindah dari pita valensi ( N ) menuju pita
konduksi ( P ) dan meninggalkan hole pada pita valensi, serta dua buah muatan, yaitu
pasangan electron hole dibangkitkan. Aliran electron – hole yang terjadi apabila
dibubungkan ke beban listrik melalui penghantar akan menghasilkan arus listrik.
Dalam pemanfaatanya di Indonesia PLTS awalnya menggunakan hanya
bersekala rumahan, sistem yang tersambung dengan jaringan PLN (on-grid) atau
sistem PLTS yang berdiri sendiri (off-grid). Dibandingkan teknologi energi terbarukan
lainnya, seperti pembangkit listrik tenaga air atau hidro, sistem PLTS relatif baru di
Indonesia. Pemerintah pertama kali mengimplementasikan sistem PLTS tersebar untuk
listrik pedesaan pada tahun 1987. Seiring waktu, penerapan sistem PLTS off-grid di
Indonesia telah berkembang dari sistem tersebar ke sistem terpusat/komunal. Terlepas
dari kenyataan bahwa Indonesia telah menerapkan teknologi PLTS sejak tahun 1970-
an, keahlian tentang hal ini tetap masih dalam tahap awal. Hal ini disebabkan oleh
kurangnya ketersediaan tenaga ahli, teknisi terampil, dan perusahaan rekayasa yang
kompeten untuk merancang, membangun, dan memelihara sistem. Sementara itu,
rantai pasokan komponen cadangan sistem PLTS yang lebih baik sangat diperlukan
untuk menjamin keberlanjutan sistem tersebut di Indonesia (GDMEnergy, 2017).
1. Modul Surya / photovoltaic
Modul surya (photovoltaic) adalah susunan sel surya yang dirangkai secara seri atau
parallel yang bertujuan untuk meningkatkan tegangan dan arus dengan mengubah
radiasi sinar matahari yang menyinari bagian permukan sel surya menjadi energi
listrik statis (DC). Komponen utama dari modul surya adalah lembaran sel surya yang
berasal dari Kristal murni yang telah melalui proses sebelumnya (GDMEnergy,
2017).
Modul surya sendiri dikenal ada beberapa jenis dapat di lihat pada tabel berikut :
Gambar 2.3. Jenis – Jenis Modul Surya (Sumber: TMLEnergy)
Mudul surya yang biasanya yang di gunakan dalam pengunaan PLTS sendiri ada dua
jenis yang sering digunakan yaitu :
Monocrystalline silicon ( mono-Si ) Polycrystalline silicon ( poly-Si )
Gambar 2.4. Jenis – Jenis Modul Surya pabrikan yang sering digunakan
dalam PLTS (Sumber: TMLEnergy)
Dalam pemasangan Modul Surya penting untuk mengetahui berapa jarak
pemasangan antara satu modul dengan modul lainya, hal ini bertujuan agar tingkat
efisensi semakain baik,terutama ketika rangkaian berada pada kemiringan, ketinggian
yang tidak sama. Jarak yang tidak sesuai akan menyebabkan timbulnya bayangan pada
Modul Surya serta tidak maksimalnya lahan yang digunakan. untuk mengetahui itu
berikut adalah rumusan untuk menghitung jarak dari Modul Surya yaitu :
Jarak [m]
>2………………(2.1)
Tinggi dari permukaan modul surya [m]
2. Charger Control
Charger control bertugas sebagai pengonrol pada saat solar panel mendapatkan
energi dari radiasi cahaya matahari di siang hari, rangkaian charger control akan
otomatis bekerja dan mengisi battery dan menjaga tegangan battery agar tetap
setabil.
Gambar 2.5. Charger Control (Sumber: TMLEnergy)
3. Baterai (Battery)
Fungsi dari baterai adalah sebagai tempat untuk menyimpan daya ( power storage )
dengan spesifikasi pabikan.untuk baterai sendiri menggunakan baterai kering 12
volt. Battery jenis ini yang di rekomendasikan untuk digunakan pada applikasi
solar system, kelemahan dari battery jenis ini adalah harganya yang mahal di
pasaran.
Gambar 2.6. baterai (Sumber: TMLEnergy)
Dalam membandingkan rata-rata penggunaan energi harian beban dan kapasitas
baterai yang sesuai di gunakan dapat terlebih dahulu menghitung dengan rumus
yaitu :
Eᵅ
C 10
( 365 )N ᵈ X 1000[ Ah]
………………(2.2)
ηBatt x Pᵈ max
VBatt = 48 V Pᵈ = Ca . 50% η Batt = ca. 80 . 90% Nᵈ = 1-2 hari
Dengan :
C10 = kapasitas nominal baterai 10 jam (Ah)
Nᵈ = autonomi (hari)
VBatt = tegangan baterai ( V)
η Batt = rata – rataefisensi baterai
Pᵈ = DOD maksimum
Ea = rata – rata konsumsi energy (KWh/a)
4. inverter ( Optinal )
Inverter sebagai prangkat elektrik yang fungsinya sebagai konversi tegangan searah
( DC ) menjadi tegangan bolak balik ( AC ). Perangkat ini biasanya tidak di
peruntukan hanya membutuhkan tegangan searah saja ( DC )
Gambar 2.7. inverter ( Optinal )(Sumber: TMLEnergy)
Untuk mengetauhi jumblah inverter yang di butuhkan untuk mensuplai baterai dapat
dinyaakan dalam rumus sebagai berikut :
Pbebanmax
NBI= ……………….(2.3)
PnominalBI
Dengan :
NBI = jublah inverter yang di butuhkan
Pbeban max = total beban maksimal (A)
PbebanIBI = total beban nominal (A)
5. Penentuan Arus Nominal
Untuk menentukan arus rating nominal pengaman pada PLTS yang akan di
gunakan dapat di jabarkan sebagai berikut : ( Fatwa Wijaya Ibrahim.2017 )
ρ
Beban satu fasa : Ia= ……………..( 2.4)
VL−N . cos ∅
Dengan :
Ia = Arus nominal ( A).
VL – N = Tegangan fasa – netral ( V )
P = Daya keluaran beban ( W )
Cos ᵩ = Faktor daya ( 0,8 )
6. Perhitungan Watt Hour perhari
Untuk menentukan jumblah kapasitas dari PLTS dan kemampuan perhari
sehingga dapat di simpulkan berapa jumblah fotovoltaik yang harus di siapkan
dari total beban pada lampu taman. Perhitungan dapat menggunakan rumus
perhitungan sebagai berikut : ( Fatwa Wijaya Ibrahim.2017 )
Wh = W x H…………………………………………( 2.5 )
Dengan :
Wh = Total jumblah fotovoltaik
W = Beban terpasang ( Watt )
H = Durasi peakaian ( jam )
7. Perhitungan Kapasitas Solar Charge Controller ( SCR )
Untuk menentukan jumblah dan kapasitas fotovoltaik mengisi baterai dalam
sehari sebagai berikut : ( Marrasang, 2016 )
SCR = Jumblah Sel Surya ( Pararel ) x ISC…………….( 2.6 )
Dengan :
ISC = Short Circuit Current ( 8, 19 A )
2.2.2 Feasibility Study (Studi Kelayakan)
Studi kelayakan dalam arti bahasa adalah suatu proyek penelitian tentang layaknya
investasi yang akan di bangun serta terstruktur dan detail secara aspek yang telah di tentukan.
Menurut beberapa jurnal, studi kelayakan juga berari bahan pertimbangan dalam mengambil
suatu keputusan. Yang akan di terima dari sebuah gagasan usaha ( investasi ) yang telah di
rencanakan Mayani dalam (Ibrahim, 1998:1). Layak tidaknya suatu studi ini dapat di nilai dari
kemungkinan dari gagasan yang telah di jelaskan keuntungan dalam bentuk financial benefit
maupun social benefit (mayani.2018).
Dalam melakukan studi kelayakan pembangunan PLTS Terapung mengadaptasi dari
pembangunan PLTS Komunal yang terdiri dari dua aspek yaitu aspek pasar dan aspek teknis
teknologis.
1. Aspek Pasar
Aspek pasar sendiri berkaitan dengan perhitungan besar daya listrik yang di
butuhkan bagi fasilitas umum yang ada di Ruang Publik Kreatif yang ada di Universitas
Teknologi Sumbawa. Sebagai data informasi dari pemakaian di suatu tempat (rumah) dapat
di lakukan dengan cara yaitu :
a. Wawancara dengan pengurus dan penangguang jawab rumah atau warga tentang
konsumsi energi
b. Melakukan pengukuran secara langsung konsumsi listrik dari setiap rumah
c. Mendapatkan data yang akurat dari desa yang sudah dialiri listrik
(TMLEnergy,2015)
2. Aspek Teknis dan Teknologis
a. Aspek Teknis
Aspek teknis merupakan aspek studi kelayakan yang mempertimbangkan
kondisi tempat pembangunan PLTS Terapung. Adapun aspek – aspek yang perlu
diperhatikan yaitu luas kolam, bentuk lokasi, topografi kontur tanah, serta
keadaan drainase kolam. Penentuan lokasi pembangkit listrik menentukan
efesiensi sistem ketika beroperasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika
menentukan lokasi pembangunan pembangkit yaitu sebagai berikut:
1) Luas Lahan
Pembangunan sistem pembangkit listrik tenaga surya dibutuhkan
wilayah yang cukup luas tergantung pada kapasitas dan jumlah modul
yang digunakan. Luas lahan yang dibutuhkan sebuah PLTS minimum 15
m2/kWp. Untuk pemilihat tempat di perairan di sesuaikan dan
memaksimalkan fungsi dari kolam sebagai lahan PLTS Terapung
2) Bayangan
Investigasi situasi bayangan yang disebabkan oleh pohon yang ada
dan yang akan tumbuh disekitar pohon perlu dilakukan sebab shadding
atau bayangan yang ada disekitar pembangkit dapat mempengruhi kinerja
modul surya dalam menghasilkan energi listrik.
3) Resiko banjir dan bencana alam lainnya
Penentuan titik lokasi pembangkit diutamakan memiliki tingkat
karataan yang cukup dan aman sehingga terhindar dari bencana seperti
longsor dan banjir. Apabila lokasi pembangkit memiliki kemiringinan
yang cukup tinggi maka sebelum dilakukannya peruses pembangunan
pembangkit perlu dilakukan proses pemerataan terlebih dahulu
(TMLEnergy, 2015).
b. Aspek Teknologis
Merupakan aspek studi kelayakan yang mempertimbangkan spesifikasi
komponen – komponen pembangunan PLTS Komunal.
1) Modul surya
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan ketika memilih modul surya
yaitu sebagai berikut:
a) Gunakan modul surya dengan efisiensi yang lebih besar dari 15%.
Menggunakan modul surya dengan efisiensi yang tinggi akan
meminimalkan penggunaan lahan.
b) Rangka modul surya harus tahan terhadap korosi, yaitu aluminium anodized.
c) Toleransi daya modul surya harus kurang dari 2,5% di bawah kondisi uji
standar (STC - standard test conditions). Informasi ini dapat ditemukan di
label kinerja modul surya di belakang setiap modul, misalnya: “Daya
puncak 100 W ± 2%” atau “Toleransi keluaran ± 2%”.
d) Tegangan sistem maksimum harus di bawah 1000 VDC. Menetapkan batas
maksimum untuk tegangan sistem mengikuti tegangan dari peralatan lain
yang terhubung ke modul surya yang sebagian besar nilainya kurang dari
1000 VDC. Dengan demikian, interkoneksi kabel dari modul surya harus
dirakit terlebih dahulu dengan stopkontak plug-in yang berukuran minimum
1000 VDC (TMLEnergy, 2015)