0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan23 halaman

Teknologi Pengomposan Sampah Organik

Bab I pendahuluan membahas latar belakang tentang pentingnya pengolahan sampah organik menjadi kompos, tujuan umum dan khusus membuat kompos, serta manfaat dari pembuatan kompos. Bab II tinjauan pustaka menjelaskan definisi kompos dan proses pengomposan, manfaat pengomposan, prinsip-prinsip proses biologi yang terjadi selama pengomposan.

Diunggah oleh

DinaRahmaYeni
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
133 tayangan23 halaman

Teknologi Pengomposan Sampah Organik

Bab I pendahuluan membahas latar belakang tentang pentingnya pengolahan sampah organik menjadi kompos, tujuan umum dan khusus membuat kompos, serta manfaat dari pembuatan kompos. Bab II tinjauan pustaka menjelaskan definisi kompos dan proses pengomposan, manfaat pengomposan, prinsip-prinsip proses biologi yang terjadi selama pengomposan.

Diunggah oleh

DinaRahmaYeni
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sampah merupakan sisa-sisa aktivitas makhluk hidup yang indentik dengan bahan buangan
yang tidak memiliki nilai, kotor, kumuh, dan bau. Sampah organik seperti dedaunan yang berasal
dari taman, jerami, rerumputan, dan sisasisa sayur, buah, yang berasal dari aktivitas rumah
tangga (sampah domestik) memang sering menimbulkan berbagai masalah. Baik itu masalah
keindahan dan kenyamanan maupun masalah kesehatan manusia, baik dalam lingkup individu,
keluarga, maupun masyarakat. Masalah-masalah seperti timbulnya bau tak sedap maupun
berbagai penyakit tentu membawa kerugian bagi manusia maupun lingkungan disekitarnya, baik
meteri maupun psikis. Melihat fakta tersebut, tentu perlu adanya suatu tindakan guna
meminimalkan dampak negatif yang timbul dan berupaya meningkatkan semaksimalmungkin
dampak positifnya.
Pengomposan merupakan proses dimana bahan-bahan organic mengalami penguraian
secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang dapat memanfaatkan bahan organic
sebagai sumber energy. Menurut J.H.Crawford (2003), kompos adalah hasil penguraian tidak
lengkap dan dapat dipercepat secara artificial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam
kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau an aerobic (Nyoman P.
Aryantha.dkk,2010).
Secara alami bahan bahan organic yang berada di alam akan mengalami proses penguraian
(dekomposisi) dengan bantuan mikroba maupun biota yang ada didalam tanah.
Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk
mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi
pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang dan teknologi tinggi
(canggih).
Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan ini meniru berdasarkan pada
proses penguraian yang terjadi secara alami. Hanya saja pada saat
proses penguraianya dioptimalkan dengan sedemikian rupa sehingga proses penggomposan
dapat berjalan dengan lebih cepat dan efesien.

1
Teknologi pengomposan pada saat ini menjadi sangat penting terutama dalam mengatasi
permasalahan limbah organic, seperti sampah dikota-kota besar, limbah organik industry, serta
limbah pertanian dan perkebunan.
Pemanfaatan pupuk organik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kelangkaan dan
kenaikan harga pupuk anorganik yang terus melambung. Disamping itu pemakaian pupuk kimia
yang terus menerus membuat tanah menjadi keras dan tandus, sehingga keseimbangan Ekosistem
mikroorganisme dan cacing tanah terganggu bahkan akan menyebabkan mati (punah).
Penggunakan pupuk organik (berupa kompos) mendapat perhatian dari semua kalangan karena
bahan baku pembuatan kompos ini selalu tersedia secara berlimpah di alam. Selain itu pupuk
kompos mampu memperbaiki sifat fisik, kimiawi, dan biologi tanah.
Pembuatan kompos bertujuan untuk mengurangi banyaknya jumlah sampah yang akan
menimbulkan masalah jika tidak ditangani dengan baik. Sampah-sampah organik yang
sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan dengan melakukan pembuatan kompos ini maka sampah-
sampah tersebut dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui cara pengolahan sampah Organik rumput-rumputan dan serbuk gergaji
menjadi kompos
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui alat dan dan bahan pembuatan komposter, inokulan dan kompos
2. Untuk mengetahui prosedur kerja pembuatan komposter, inokulan dan kompos
3. Untuk mengetahui hasil pengamatan kompos

1.3 Manfaat
Agar dapat mengetahui proses pembuatan kompos sehingga menghasilkan kompos yang
berkualitas dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kompos dan Pengomposan


Kompos adalah hasil akhir suatu proses dekomposisi tumpukan sampah/serasah tanaman
dan bahan organik lainnya. Keberlangsungan proses dekomposisi ditandai dengan nisbah C/N
bahan yang menurun sejalan dengan waktu. Bahan mentah yang biasa digunakan seperti : daun,
sampah dapur, sampah kota dan lain-lain dan pada umumnya mempunyai nisbah C/N yang
melebihi 30 (Sutedjo, 2002).
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik
yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi dari J.H. Crawford,
2003).
Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis,
khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.

2.2 Manfaat Pengomposan


Pengomposan memiliki banyak manfaat, diantaranya:
1. Manfaat ekonomi
 Meningkatkan efisiensi biaya pengangkutan sampah disebabkan sampah yang diangkut
ke TPA (   Tempat Pembuangan Akhir) semakin berkurang. Selain itu dapat
memperpanjang TPA karena  semakin  sedikit sampah yang dikelola.
 Menghasilkan produk berupa kompos yang memiliki nilai tambah karena produk tersebut
memilik  nilai jual.

2. Manfaat terhadap lingkungan


a. Meningkatkan kapasitas jerap air tanah
b. Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
c. Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
d. Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
e. Menekan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman

3
f. Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara di dalam tanah
 Pengomposan berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan, karena jumlah
sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai menjadi berkurang. Selain itu aplikasi
kompos pada lahan pertanian berarti mencegah pencemaran karena berkurangnya
kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.
 Membantu melestarikan sumber daya alam karena pemakaian kompos pada
perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan kebun dalam menahan sebagai
media tanaman dapat digantikan oleh kompos, sehingga eksploatasi humus hutan
dapat dicegah.
3. Manfaat kesehatan
           Dengan pengomposan, panas yang dihasilkan mencapai 60°C, sehingga dapat membunuh
organisme pathogen penyebab penyakit yang terdapat dalam sampah.
4. Manfaat dari segi sosial kemasyarakatan
           Pengomposan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah.

2.3 Prinsip Pengomposan


Pada dasarnya proses pengomposan adalah suatu proses biologis. Hal ini berarti bahwa peran
mikroorganisme pengurai sangat besar. (Tchobanoglous et al.1993).
      Prinsip-prinsip proses biologis yang terjadi pada proses pengomposan meliputi:
 Kebutuhan Nutrisi
           Untuk perkembangbiakan dan pertumbuhannya, mikroorganisme memerlukan sumber
energi, yaitu karbon untuk proses sintesa jaringan baru dan elemen-elemen anorganik seperti
nitrogen, fosfor, kapur, belerang dan magnesium sebagai bahan makanan untuk membentuk sel-
sel tubuhnya. Selain itu, untukmemacu pertumbuhannya, mikroorganisme juga memerlukan
nutrien organik yang tidak dapat disintesa dari sumber-sumber karbon lain. Nutrien organik
tersebut antara lain asam amino, purin/pirimidin, dan vitamin.
 Mikroorganisme
           Mikroorganisme pengurai dapat dibedakan antara lain berdasarkan kepada struktur dan
fungsi sel, yaitu:
a. Eucaryotes, termasuk dalam dekomposer adalah eucaryotes bersel tunggal, antara
lain: ganggang, jamur, protozoa.

4
b. Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran inti, contoh: bakteri.
Beberapa hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) seperti cacing tanah, kutu
juga berperan dalam pengurai sampah. Sesuai dengan peranannya dalam rantai
makanan, mikroorganisme pengurai dapat dibagi menjadi 3 (tiga)kelompok,
yaitu :
1) Kelompok I (Konsumen tingkat I) yang mengkonsumsi langsung bahan
organik dalam sampah, yaitu : jamur, bakteri, actinomycetes.
2) Kelompok II (Konsumen tingkat II) mengkonsumsi jasad kelompok I, dan;
3) Kelompok III (Konsumen tingkat III), akan mengkonsumsi jasad
kelompok I dan Kelompok I. Kondisi Lingkungan Ideal Efektivitas proses
pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai.
Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan
berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup :
a. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).
      Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon
dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga
menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber
makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam
kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan. Besarnya perbandingan antara unsur karbon
dengan nitrogen tergantung pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang
ideal dalam proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 : 1 sampai dengan 40 : 1,
dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.
b. Derajat Keasaman (pH)
      Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada
pH netral (6 – 8,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah
mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat
keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat
secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan
asam-asam organik yang terbentuk tersebut.
      Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu
dapat terjadi apabila :

5
 pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk
akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar
yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.
 pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian
jasad renik.
c.       Suhu (Temperatur)
      Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi
mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme
aman digunakan. Pola perubahan temperature dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan
tipe dan jenis mikroorganisme.
·         Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu antara 25 – 45 C akan terjadi dan
segera diikuti oleh temperatur termofilik antara 50 - 65 C. Temperatur termofilik dapat berfungsi
untuk : a) mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vector penyakit seperti
lalat;
·         mematikan bibit gulma. dan menunjukkan suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk
mematikan beberapa organisme patogen dan parasit. Kondisi termofilik, kemudian berangsur-
angsur akan menurun mendekati tingkat ambien.
d.      Ukuran Partikel Sampah
      Ukuran partikel sampah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos harus
sekecil mungkin untuk mencapai efisiensi aerasi dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan
oleh mikroorganisme. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna sehingga
pengurai dapat berlangsung dengan cepat.
e.       Kelembaban Udara
      Kandungan kelembaban udara optimum sangat diperlukan dalam proses pengomposan.
Kisaran kelembaban yang ideal adalah 40 – 60 % dengan nilai yang paling baik adalah 50 %.
Kelembaban yang optimum harus terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang
maksimal sehingga prosespengomposan dapat berjalan dengan cepat. Apabila kondisi tumpukan
terlalu lembab, tentu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air akan
mengisi rongga udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan menimbulkan bau. Bila
tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%), dapat mengakibatkan berkurangnya
populasi mikroorganisme pengurai karena terbatasnya habitat yang ada.

6
f.       Homogenitas Campuran Sampah
      Komponen sampah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos perlu dicampur menjadi
homogen atau seragam jenisnya, sehingga diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh
karena itu kecepatan pengurai di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.

2.4 Jenis dan Cara Membuat Kompos


Kompos dari Sampah Organik Pasar atau Domestik Sampah organik pasar atau domestik
dapat diolah menjadi kompos dengan beberapa  metode, diantaranya :
1)      Metode Konvensional
           Metode ini tidak menggunakan komposter. Biasanya adonan kompos ditimbun dan
ditutup dengan kain terpal. Selain kain terpal dapat digunakan pula karung goni atau sabut kelapa
yang dimasukkan dalam kantung dari jaring plastik. Salah satu contohnya adalah seperti yang
tercantum di bawah ini :
a)      Alat-alat yang dibutuhkan  Peralatan antara lain: parang/sabit, ember/bak plastik
untuk menampung air, ember untuk menyiram, plastik penutup, tali, sekop garpu/cangkul, dan
cetakan kompos (jika diperlukan). Plastik penutup dapat menggunakan plastik mulsa yang
berwarna hitam. Belah plastik tersebut sehingga lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik
disesuaikan dengan banyaknya bahan yang akan dikomposkan. Cetakan kompos dapat dibuat
dari bambu atau kayu. Cetakan ini terdiri dari 4 bagian terpisah, dua bagian berukuran kurang
lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1 x 1 m.
b)      Bahan
 Sampah organik domestik : Sampah ini dapat berupa sampah rumah tangga dan sampah
taman. Sampah tersebut harus dipisahkan dari sampah plastik, logam, kaca, dll.
Sebaiknya sampah organik tersebut adalah campuran antara sampah yang memiliki
kandungan C dengan kandungan N.
 Aktivator Pengomposan : Aktivator yang digunakan adalah PROMI. Jika aktivator
pengomposan sulit diperoleh dapat menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk
mempercepat proses pengomposan.
 Air 

7
c)      Lokasi Pengomposan
        Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di
dekat sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Pemilihan lokasi ini akan menghemat biaya
transportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. Karena apabila
jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan.
d)     Tahapan Pengomposan
 Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan
menggunakan parang atau dengan mesin pencacah.
 Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke
dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
 Pemasangan cetakan.  d. Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis.
Tinggi lapisan kurang lebih seperlima dari tinggi cetakan. Injak-injak bahan tersebut agar
memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
 Dalam setiap lapisan siramkan aktivator pengomposan.   Setelah cetakan penuh, buka
cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik.

2)      Metode komposter
           Metode komposter dengan penambahan bakteri (aktivator) Sampah merupakan material
sisa yang tidak diinginkan. 60%- 70% sampah yang dihasilkan adalah sampah organik/sampah
basah (sampah rumah tangga, sampah dapur, sampah kebun, sampah restoran/sisa makanan,
sampah pasar dll). Salah satu solusi yang cukup tapat untuk menangani masalah sampah organik
adalah dengan menjadikannya kompos melalui suatu alat yang disebut komposter. Pengomposan
dengan teknologi komposter adalah proses penguraian sampah organik secara aerob dengan
mengunakan Sy-Dec mikroba pengurai dan Organik Agent (bahan mineral organik). Cara
penggunaan komposter :
 sampah organik yang telah terpilah dipotong/dirajang kecil- kecil (1-2 cm)
 campur sampah organik dengan Organik Agent (bahan mineral organik :serbuk gergaji,
dedak, abu dll)
 Siram/cipratkan larutan Sy-Dec mikroba pengurai pada bahan sampah organik sampai
membasahi semua bahan dan menjadi lembab.

8
 Bahan sampah yang telah diproses 1 sd 3 dimasukkan ke dalam komposter Proses
komposting yang baik temperatur 40-50 derajat celcius dapat dicapai dalam 2-3 hari.
 Proses pembusukan sampah organik dalam komposter selama 7-10 hari(tergantung dari
bahan baku sampah organik). Bolak-balik/tusuk-tusuk media kompos setiap hari agar
proses aerasi berjalan dengan baik.
 keluarkan sampah organik yang telah menjadi kompos melalui pintu yang ada dibagian
bawah komposter. Simpan ditempat teduh agar kena angin,kompos akan menjadi kering
dan gembur
 Kompos siap digunakan

Metode pembuatan kompos dengan Reaktor Kompos (Komposter) sederhana Sebenarnya


reaktor ini bisa dibuat dari apa saja. Salah satu contohnya adalah terbuat dari drum PVC. Hal
yang paling penting untuk diperhatikan adalah, reaktor ini harus memiliki sistem ventilasi yang
bagus. Reaksi pengkomposan adalah memang jenis reaksi yang memerlukan udara. Jika reaktor
ini tidak memiliki sistem ventilasi yang baik, proses pembusukan yang terjadi juga akan
menghasilkan bau busuk akibat dari pembentukan amoniak dan H2S.

2.5 Inokulan
Inokulan/pemacu yang mengandung berbagai mikroba aktif yang digunakan untuk
mempercepat proses pengomposan. Berikut ini jenis-jenis inokulan terdiri dari.
A. Inokulan Cair
1. Inokulan cair berbahan EM
Inokulan ini menggunakan larutan EM aktif dengan campuran larutan gula yang
membantu proses pengomposan yang menghasilkan kompos cair. Dapat digunakan
setelah didiamkan ± 2 hari dan digunakan dengan cara disemprotkan menggunakan
botol semprot
2. Inokulan cair berbahan ragi tempe
Inokulan ini mengandung mikroorganisme pengurai yang dikembangkan Rhyzopus
spp. Menggunakan campuran bahan ragi tempe dengan campuran larutan gula.
Inokulan ini dapat digunakan setelah 5 – 7 hari didiamkan.

9
3. Inokulan Cair berbahan nanas
Inokulan ini menggunakan mikroorganisme pengurai yang dikembangkan
Lactobacillus anona. Menggunakan campuran bahan nanas dengan larutan gula.
Inokulan ini dapat digunakan setelah 5-7 hari didiamkan.
4. Inokulan nasi berbahan dasar nasi basi
Inokulan ini menggunakan mikroorganisme pengurai yang dikembangkan Basillus
cereus. Inokulan ini menggunakan campuran bahan nasi basi dengan larutan gula.
Dapat digunakan setelah 5-7 hari didiamkan

B. Inokulan Padat
Inokulan padat menggunakan bahan sekam, bekatul, tanah subur, gula, ragi tempe, dan
air. Semua bahan dicampurkan dan diaduk dengan rata lalu ditutup dengan keset dan dilakukan
pemeraman selama 7 hari. Inokulan siap digunakan.

10
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


Hari/ Tanggal : Jumat/ 25 Maret 2019
Pukul : 09.00 – 12.30 WIB
Lokasi : Workshop Poltekkes Kemenkes Padang
Materi : Pembuatan Kompos Metode Komposter
Kelompok : III

3.2 Pembuatan Komposter


3.2.1 Alat
1. Ember
2. Batang besi
3. Kawat besi
4. Pipa PVC
3.2.2 Prosedur kerja
1. Persiapkan alat
2. Kemudian beri lubang di bagian bawah ember sekita 20 x 20 cm kemudian
pasangkan batang besi dengan bentuk menyilang
3. Lalu pasangkan kawat besi diatas batang besi (sesuaikan dengan bentuk ember)
4. Pada bagian atas kawat besi dilapisi dengan kain
5. Lalu pasangkan pipa paralon pada bagian atas tutup ember
6. Komposter siap digunakan.

3.3 Pembuatan inokulan


3.3.1 Alat
1. Wadah
2. Sendok
3. Jerigen/botol

11
3.3.2 Bahan
1. Nasi basi : + 1 mangkok
2. Air tanpa chlor : 1 liter
3. Gula pasir : 5 sdm
3.3.3 Prosedur kerja
1. Ambil nasi sisa yang memang sudah basi kurang lebih satu mangkok atau
secukupnya
2. Letakkan di suatu wadah hingga muncul jamur berwarna orange
3. Campurkan nasi dengan larutan gula, yang mana gula sebanayak 5 sendok makan
dilarutkan dalam 1 liter air tanpa clor
4. Larutan gula di aduk dengan nasi tadi , dengan cara meremasnya hingga halus
dengan menggunakan sarung tangan
5. Masukkan kedalam jerigen
6. Diamkan selama kurang lebih seminggu sampai bau tempe .

3.4 Pembuatan kompos


3.4.1 Alat
1. Pisau/parang
2. Timbangan
3. Wadah komposter
4. Sekop
5. Kawat kasa
6. Termometer
7. Higrometer
8. Plastic packing
3.4.2 Bahan
1. Rumput-rumputan
2. Serbuk gergaji
3. Inokulan cair
4. Kompos jadi

12
Perhitungan C:N Ratio Bahan Kompos
Ketetapan Ratio
Rumput 20 : 1
Serbuk Gergaji 325 : 1
C:N 30 : 1
Diketahui : 1 karung rumput
Ditanya : dalam 1 karung rumput, berapa karung serbuk gergaji yang dibutuhkan?
Jawab : 1 (20) + a(325) = 30
16
20 + 325a = 480
325a = 480 - 20
a = 460 : 325
a = 1,41
Jadi bahan organik yang dibutuhkan adalah sebanyak 1 karung rumput dan 1,4 karung
serbuk gergaji.
3.4.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan tong besar yang dirancang untuk pembuatan kompos padat
2. Siapkan rumput dan serbuk gergaji dengan perbandingan 1 : 1,4 karung
3. Cacah sampah organik rumput-rumputan hingga halus ±2 – 4 mm
4. Lalu timbang kompos jadi sebanyak 3 kg, Dengan perbandingan 1:3 dengan bahan
organik
5. Campurkan bahan organik dengan kompos jadi dan tambahkan inokulan cair lalu
aduk hingga rata
6. Setelah semuanya tercampur Masukkan ke dalam wadah komposter yang telah
dialas dengan kawat kasa
7. Tutup wadah komposter.
8. Lakukan pengecekan suhu, kelembaban, dan pemberian inokulan nasi setiap hari
selama ±1 bulan
9. Setelah ±1 bulan sampah organik telah menjadi kompos, lakukan pengayakan dan
hasil pengayakan akan dikemas/dipacking dan diberi label.

13
3.5 Pengemasan Kompos
3.5.1 Alat
1. Ayakan
2. Wadah
3.5.2 Bahan
1. Plastik 5 kg
2. Kertas Label
3.5.3 Prosedur Kerja
1. Ayak kompos menggunakan ayakan
2. Lalu masukan tanah yang sudah diayak ke dalam plastik
3. Plastik diberi double
4. Beri label pada kompos, yang diletakkan diantara plastik 1 dan plastik 2
5. Staples bagian pinggir atas plastic.

14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Salah satu bentuk pengelolaan sampah organik adalah dengan mengolah sampah menjadi
kompos. Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara
biologis oleh mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Proses
pengomposan terjadi secara aerobik pada kondisi lingkungan tertentu yang disebut dengan
dekomposisi bahan organik.
Proses pengomposan yang telah dilakukan selama 35 hari menggunakan bahan organik
rumput-rumputan dan serbuk gergaji dengan tambahan kompos jadi dan inokulan cair yang
dimasukkan kedalam wadah komposter yang diberi alas kawat kasa.

Tabel 1.1 Hasil Pemeriksaan Kompos Minggu I


No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Senin, 25 - Proses pembuatan Kompos dibuat satu wadah


maret 2019 kompos, penambahan penuh kemudian ditutup
inokulan cair dan di simpan, kompos
lembab karna sudah diberi
inokulan nasi basi.
2. Selasa, 26 Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 40 oC
maret 2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 45 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : hijau kecoklatan
3. Rabu, 27 Nadya Putri A. Pengukuran suhu dan Suhu : 41 oC
maret 2019 Putri Nirmala S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 45 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : hijau kecoklatan
4. Kamis, 28 Alfin Handika Pengukuran suhu dan Suhu : 35 oC
maret 2019 Jefri Edravolta kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 47 %
Yolanda Afrilia serta mengamati warna Tekstur : kasar

15
dan tekstur. Warna : hijau kecoklatan
5. Jum’at, 29 Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 35 oC
maret 2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 48 %
penambahan inokulan nasi Tekstur : kasar
basi serta mengamati Warna : hijau kecoklatan
warna dan tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu pertama dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari
memiliki tekstur kasar dan dan bewarna hijau kecoklatan. Rata- rata suhu dan kelembaban
selama 4 hari pengukuran adalah 38 oC dan 46 %. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 41 oC
dan 48%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban,
tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.

Tabel 1.2 Hasil Pemeriksaan Kompos Minggu II


No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Senin, 1 april Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 32 oC


2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 50 %
penambahan inokulan nasi Tekstur : kasar
basi serta mengamati Warna : kecoklatan
warna dan tekstur.
2. Selasa, 2 april Nadya Putri A. Pengukuran suhu dan Suhu : 38 oC
2019 Putri Nirmala S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 57 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : kecoklatan
3. Rabu, 3 april - Tidak melakukan -
2019 pemeriksaan

4. Kamis, 4 april Alfin Handika Pengukuran suhu dan Suhu : 35 oC


2019 Jefri Edravolta kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 35 %
Yolanda Afrilia serta mengamati warna Tekstur : kasar, agak kering
dan tekstur. hangat
Warna : kecoklatan
5. Jum’at, 5 april Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 34 oC

16
2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 36 %
penambahan inokulan nasi Tekstur : kasar, agak kering
basi serta mengamati Warna : kecoklatan
warna dan tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu kedua dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari memiliki
tekstur kasar dan dan warna kompos mulai kecoklatan. Rata- rata suhu dan kelembaban selama 4
hari pengukuran adalah 35oC dan 44,5%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 38oC dan
57%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban, tekstur
& warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.

Tabel 1.3 Hasil Pemeriksaan Kompos Minggu III


No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Senin, 8 april Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 33 oC


2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 50 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : coklat kehitaman
2. Selasa, 9 april Nadya Putri A. Pengukuran suhu dan Suhu : 33 oC
2019 Putri Nirmala S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 49 %
penambahan inokulan Tekstur : kasar
serta mengamati warna Warna : coklat kehitaman
dan tekstur.
3. Rabu, 10 april Alfin Handika Pengukuran suhu dan Suhu : 32 oC
2019 Jefri Edravolta kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 48 %
Yolanda Afrilia serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : coklat kehitaman
4. Kamis, 11 Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 30 oC
april 2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 41 %
pemberian inokulan serta Tekstur : kasar
mengamati warna dan Warna : coklat kehitaman
tekstur.
5. Jum’at, 12 Hamdila Putri P. Melakukan pengukuran Suhu : 34 oC

17
april 2019 Winda Regina suhu dan kelembaban, Kelembaban : 36 %
pengadukan, serta Tekstur : kasar, agak kering
mengamati warna dan Warna : coklat kehitaman
tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu ketiga dapat dilihat bahwa kompos selama 5 hari memiliki
tekstur kasar dan warna kompos coklat kehitaman. Rata- rata suhu dan kelembaban selama 5 hari
pengukuran adalah 32oC dan 45%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 36 oC dan 50%.
Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban, tekstur &
warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.

Tabel 1.4 Hasil Pemeriksaan Kompos Minggu IV


No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Senin, 15 april Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 36 oC


2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 41 %
pemberian inokulan nasi Tekstur : kasar
basi serta mengamati Warna : coklat kehitaman
warna dan tekstur.
2. Selasa, 16 april Nadya Putri A. Pengukuran suhu dan Suhu : 34 oC
2019 Putri Nirmala S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 44 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : kehitaman

3. Rabu, 17 april Alfin Handika Pengukuran suhu dan Suhu : 34 oC


2019 Jefri Edravolta kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 43 %
Yolanda Afrilia pemberian inokulan nasi Tekstur : kasar
basi serta mengamati Warna : kehitaman
warna dan tekstur.
4. Kamis, 18 Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 32 oC
april 2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 47 %
serta mengamati warna Tekstur : kasar
dan tekstur. Warna : kehitaman
5. Jum’at, 19 - Tidak melakukan -

18
april 2019 pemeriksaan.
Dari tabel diatas pada minggu keempat dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari
memiliki tekstur masih kasar dan warna kompos sudah mulai kehitaman. Rata- rata suhu dan
kelembaban selama 4 hari pengukuran adalah 34oC dan 44%. Serta suhu dan kelembaban tertingi
yaitu 36oC dan 47%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan
kelembaban, tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.

Tabel 1.5 Hasil Pemeriksaan Kompos Minggu V


No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Senin, 22 april Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 33 oC


2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 45 %
basi serta mengamati Tekstur : sedikit kasar
warna dan tekstur. Warna : coklat kehitaman
2. Selasa, 23 april Nadya Putri A. Pengukuran suhu dan Suhu : 30 oC
2019 Putri Nirmala S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 48 %
pemberian inokulan nasi, Tekstur : sedikit kasar
serta mengamati warna Warna : kehitaman
dan tekstur.
3. Rabu, 24 april Alfin Handika Pengukuran suhu dan Suhu : 30 oC
2019 Jefri Edravolta kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 46 %
Yolanda Afrilia serta mengamati warna Tekstur : mulai halus
dan tekstur. Warna : kehitaman
4. Kamis, 25 Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 32 oC
april 2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 34 %
serta mengamati warna Tekstur : mulai halus
dan tekstur. Warna : kehitaman
5. Jum’at 26 april Hamdila Putri P. Pengukuran suhu dan Suhu : 32 oC
2019 Winda Regina kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 47 %
pemberian inokulan nasi, Tekstur : mulai halus
serta mengamati warna Warna : kehitaman
dan tekstur.

19
Dari tabel diatas pada minggu kelima dapat dilihat bahwa kompos selama 5 hari memiliki
tekstur masih kasar dan warna kompos sudah mulai kehitaman. Rata- rata suhu dan kelembaban
selama 5 hari pengukuran adalah 31,4oC dan 45%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu
33oC dan 48%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan
kelembaban, tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.

Pengemasan:
No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa

1. Selasa, 30 april Klp 3 Setelah kompos jadi


2019 dilakukan pengemasan
dengan cara
mengeluarkan kompos
lalu diayak kemudian
dikemas dalam plastik 5kg

4.2 Pembahasan
Proses pembuatan kompos yang dilakukan di workshop kesehatan lingkungan
berlangsung selama 35 hari. Pengomposan mulai dilakukan pada hari Senin tanggal 25 Maret
2019. Pada minggu pertama didapatkan suhu tertinggi yaitu 41oC dan kelembaban tertinggi 48%.
Tekstur kompos kasar dan berwarna hijau kecoklatan berjamur serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan pada kompos.
Pada minggu kedua didapatkan suhu tertinggi yaitu 38 oC dan kelembaban tertinggi 57%.
Tekstur kompos kasar dan berwarna kecoklatan serta dilakukan pengadukan dan pemberian
inokulan pada kompos.
Pada minggu ketiga didapatkan suhu tertinggi yaitu 35 oC dan kelembaban tertinggi 50%.
Tekstur kompos masih kasar dan sudah mulai berwarna hitam kecoklatan serta dilakukan
pengadukan dan pemberian inokulan pada kompos.

20
Pada minggu keempat didapatkan suhu tertinggi yaitu 36oC dan kelembaban tertinggi
47%. Tekstur kompos masih kasar dan berwarna kehitaman serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan pada kompos.
Pada minggu kelima didapatkan suhu tertinggi yaitu 34 oC dan kelembaban tertinggi 48%.
Tekstur kompos sudah mulai halus dan berwarna kehitaman serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan. Setelah kompos jadi lalu keluarkan dari komposter dan dilakukan
pengayakan kompos lalu dikemas dengan plast 5kg dan diberi label.
Suhu dan kelembaban ideal bagi pengomposan adalah antara 50 – 70 oC dan kelembaban
50%. Pematangan kompos ditandai dengan kompos yang sudah berwarna coklat tua kehitaman
serta telah lapuknya tumbuhan. Dapat dilihat suhu tertinggi pada minggu pertama yaitu 41oC dan
kelembaban 48% dan pada minggu kelima suhu tertinggi yaitu 34oC dan kelembaban 48%. Suhu
yang didapatkan pada proses pengomposan ini berada dibawah suhu ideal sehingga panas yang
dihasilkan belum maksimal karena suhu tertinggi yang didapat selama 35 hari antara 34 – 41 oC
dan kelembaban tertinggi yang didapat antara 47 – 57% sehingga dapat dikatakan
kelembabannya stabil.
Bentuk dan warna merupakan salah satu kriteria kematangan kompos. Ciri-ciri kompos
yang sudah matang yaitu bentuknya hancur dan warnanya coklat tua kehitaman. Warna yang
dihasilkan pada praktikum kali ini adalah warna hitam dan tekstur berbentuk tanah serta tidak
berbau.
Inokulan/pemacu yang mengandung mikroba aktif juga berperan untuk memepercepat
pengomposan. Jadi pada pembuatan inokulan harus yang menggunakan bahan yang mengandung
mikroba aktif sehingga dapat memepercepat proses pengomposan.
Inokulan yang kami gunakan pada pengomposan adalah inokulan cair berbahan nasi basi
dengan campuran larutan gula yang mengandung mikroba Basillus cereus yang dapat
mempercepat proses pengomposan.
Kendala yang kami temukan dalam pengomposan ini adalah kurang halusnya pencacahan
pada sampah organik sehingga memperlambat proses hancurnya sampah organik tersebut. Proses
pengadukan yang kurang juga dapat menjadi kendala dalam pengomposan karena jika pada
pengadukan tidak dilakukan merata maka proses hancurnya bahan organik juga tidak merata
serta pemberian inokulan yang tidak tepat juga menjadi kendala, jika kita memberi inokulan
yang sedikit pada kompos kering maka akan memperlama proses pengomposan tersebut dan

21
sebaliknya jika kompos dalam keadaan lembab kita harus mengurangi banyaknya pemberian
inokulan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Alat yang digunakan pada saat membuat kompos yaitu : pisau/parang, timbangan, wadah
komposter, sekop, kawat kasa, termometer, higrometer, plastic packing dan bahan yang
digunakan yaitu : rumput-rumputan, serbuk gergaji, inokulan cair, kompos jadi . Pada pembuatan
inokulan cair digunakan alat seperti: botol, wadah, sendok, serta bahan yang digunakan yaitu :
nasi basi, air tanpa chlor, dan gula pasir.

Pada proses pembentukan kompos sangat membutuhkan peran mikroba. Dimana


mikroba itulah yang memakan sampah dan hasil pencernaannya adalah kompos, semakin banyak
mikroba maka semakin baik proses komposting. Pada wadah / keranjang yang digunakan harus
diberi lubang udara karena proses komposting tersebut bersifat aerob (membutuhkan udara).

22
Aliran udara yang kurang baik dapat menyebabkan mikroba jenis lain (yang tidak baik untuk
komposting) yang lebih banyak hidup, sehingga timbul bau menyengat dan pembentukan
kompos tidak terjadi.

Pada awal proses pengomposan akan terjadi kenaikan suhu sehingga dalam proses
pengomposan perlu adanya pembalikan kompos untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi.
Setelah proses pengomposan selesai maka kompos mencapai tingkat kematangan sehingga suhu
kompos akan menurun.

Pada minggu pertama suhu tertingi yaitu 41oC dan kelembaban 48%, tekstur kasar dan
warna hijau kecoklatan . Pada minggu kedua suhu tertingi yaitu 38oC dan kelembaban 57%,
tekstur kasar dan warna kecoklatan. Pada minggu ketiga suhu tertingi yaitu 36 oC dan
kelembaban 50%, tekstur masih kasar dan warna sudah mulai coklat kehitaman. Pada minggu
keempat suhu tertingi yaitu 36oC dan kelembaban 47%, tekstur masih sedikit kasar dan warna
mulai kehitaman. Pada minggu terakhir atau kelima didapatkan suhu tertingi yaitu 33 oC dan
kelembaban 48%, dengan tekstur tanah sudah mulai halus dan warna kehitaman.

Bentuk dan warna kompos salah satu kriteria kematangan kompos. Ciri-ciri kompos yang
sudah matang yaitu bentuknya hancur dan warnanya coklat tua hingga hitam. Dari hasil
pengamatan dan pengukuran yang didapat sudah memenuhi kriteria kompos yang baik.

5.2 Saran
Bagi mahasiswa agar dapat melakukan praktikum secara baik dan benar mulai dari
membuat perhitungan ratio penggunaan bahan organik yang tepat, membuat rancangan
praktikum mulai dari komposter, inokulan, pembuatan kompos, hingga melakukan pembuatan
kompos yang telaah dirancang sebaik mungkin karna jika tidak dilakukan sesuai prosedur maka
haisl yang didapatkan tidak akan sesuai dengan yang diinginkan. Dari praktikum ini diharapkan
mahasiswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

23

Anda mungkin juga menyukai