Teknologi Pengomposan Sampah Organik
Teknologi Pengomposan Sampah Organik
PENDAHULUAN
1
Teknologi pengomposan pada saat ini menjadi sangat penting terutama dalam mengatasi
permasalahan limbah organic, seperti sampah dikota-kota besar, limbah organik industry, serta
limbah pertanian dan perkebunan.
Pemanfaatan pupuk organik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kelangkaan dan
kenaikan harga pupuk anorganik yang terus melambung. Disamping itu pemakaian pupuk kimia
yang terus menerus membuat tanah menjadi keras dan tandus, sehingga keseimbangan Ekosistem
mikroorganisme dan cacing tanah terganggu bahkan akan menyebabkan mati (punah).
Penggunakan pupuk organik (berupa kompos) mendapat perhatian dari semua kalangan karena
bahan baku pembuatan kompos ini selalu tersedia secara berlimpah di alam. Selain itu pupuk
kompos mampu memperbaiki sifat fisik, kimiawi, dan biologi tanah.
Pembuatan kompos bertujuan untuk mengurangi banyaknya jumlah sampah yang akan
menimbulkan masalah jika tidak ditangani dengan baik. Sampah-sampah organik yang
sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan dengan melakukan pembuatan kompos ini maka sampah-
sampah tersebut dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai jual.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui cara pengolahan sampah Organik rumput-rumputan dan serbuk gergaji
menjadi kompos
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui alat dan dan bahan pembuatan komposter, inokulan dan kompos
2. Untuk mengetahui prosedur kerja pembuatan komposter, inokulan dan kompos
3. Untuk mengetahui hasil pengamatan kompos
1.3 Manfaat
Agar dapat mengetahui proses pembuatan kompos sehingga menghasilkan kompos yang
berkualitas dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3
f. Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara di dalam tanah
Pengomposan berpotensi mengurangi pencemaran lingkungan, karena jumlah
sampah yang dibakar atau dibuang ke sungai menjadi berkurang. Selain itu aplikasi
kompos pada lahan pertanian berarti mencegah pencemaran karena berkurangnya
kebutuhan pemakaian pupuk buatan dan obat-obatan yang berlebihan.
Membantu melestarikan sumber daya alam karena pemakaian kompos pada
perkebunan akan meningkatkan kemampuan lahan kebun dalam menahan sebagai
media tanaman dapat digantikan oleh kompos, sehingga eksploatasi humus hutan
dapat dicegah.
3. Manfaat kesehatan
Dengan pengomposan, panas yang dihasilkan mencapai 60°C, sehingga dapat membunuh
organisme pathogen penyebab penyakit yang terdapat dalam sampah.
4. Manfaat dari segi sosial kemasyarakatan
Pengomposan dapat meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah.
4
b. Eubacteria, bersel tunggal dan tidak mempunyai membran inti, contoh: bakteri.
Beberapa hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) seperti cacing tanah, kutu
juga berperan dalam pengurai sampah. Sesuai dengan peranannya dalam rantai
makanan, mikroorganisme pengurai dapat dibagi menjadi 3 (tiga)kelompok,
yaitu :
1) Kelompok I (Konsumen tingkat I) yang mengkonsumsi langsung bahan
organik dalam sampah, yaitu : jamur, bakteri, actinomycetes.
2) Kelompok II (Konsumen tingkat II) mengkonsumsi jasad kelompok I, dan;
3) Kelompok III (Konsumen tingkat III), akan mengkonsumsi jasad
kelompok I dan Kelompok I. Kondisi Lingkungan Ideal Efektivitas proses
pembuatan kompos sangat tergantung kepada mikroorganisme pengurai.
Apabila mereka hidup dalam lingkungan yang ideal, maka mereka akan tumbuh dan
berkembang dengan baik pula. Kondisi lingkungan yang ideal mencakup :
a. Keseimbangan Nutrien (Rasio C/N).
Parameter nutrien yang paling penting dalam proses pembuatan kompos adalah unsur karbon
dan nitrogen. Dalam proses pengurai terjadi reaksi antara karbon dan oksigen sehingga
menimbulkan panas (CO2). Nitrogen akan ditangkap oleh mikroorganisme sebagai sumber
makanan. Apabila mikroorganisme tersebut mati, maka nitrogen akan tetap tinggal dalam
kompos sebagai sumber nutrisi bagi makanan. Besarnya perbandingan antara unsur karbon
dengan nitrogen tergantung pada jenis sampah sebagai bahan baku. Perbandingan C dan N yang
ideal dalam proses pengomposan yang optimum berkisar antara 20 : 1 sampai dengan 40 : 1,
dengan rasio terbaik adalah 30 : 1.
b. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) ideal dalam proses pembuatan kompos secara aerobik berkisar pada
pH netral (6 – 8,5), sesuai dengan pH yang dibutuhkan tanaman. Pada proses awal, sejumlah
mikroorganisme akan mengubah sampah organik menjadi asam-asam organik, sehingga derajat
keasaman akan selalu menurun. Pada proses selanjutnya derajat keasaman akan meningkat
secara bertahap yaitu pada masa pematangan, karena beberapa jenis mikroorganisme memakan
asam-asam organik yang terbentuk tersebut.
Derajat keasaman dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembuatan kompos, yaitu
dapat terjadi apabila :
5
pH terlalu tinggi (di atas 8) , unsur N akan menguap menjadi NH3. NH3 yang terbentuk
akan sangat mengganggu proses karena bau yang menyengat. Senyawa ini dalam kadar
yang berlebihan dapat memusnahkan mikroorganisme.
pH terlalu rendah (di bawah 6), kondisi menjadi asam dan dapat menyebabkan kematian
jasad renik.
c. Suhu (Temperatur)
Proses biokimia dalam proses pengomposan menghasilkan panas yang sangat penting bagi
mengoptimumkan laju penguraian dan dalam menghasilkan produk yang secara mikroorganisme
aman digunakan. Pola perubahan temperature dalam tumpukan sampah bervariasi sesuai dengan
tipe dan jenis mikroorganisme.
· Pada awal pengomposan, temperatur mesofilik, yaitu antara 25 – 45 C akan terjadi dan
segera diikuti oleh temperatur termofilik antara 50 - 65 C. Temperatur termofilik dapat berfungsi
untuk : a) mematikan bakteri/bibit penyakit baik patogen maupun bibit vector penyakit seperti
lalat;
· mematikan bibit gulma. dan menunjukkan suhu dan waktu yang dibutuhkan untuk
mematikan beberapa organisme patogen dan parasit. Kondisi termofilik, kemudian berangsur-
angsur akan menurun mendekati tingkat ambien.
d. Ukuran Partikel Sampah
Ukuran partikel sampah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kompos harus
sekecil mungkin untuk mencapai efisiensi aerasi dan supaya lebih mudah dicerna atau diuraikan
oleh mikroorganisme. Semakin kecil partikel, semakin luas permukaan yang dicerna sehingga
pengurai dapat berlangsung dengan cepat.
e. Kelembaban Udara
Kandungan kelembaban udara optimum sangat diperlukan dalam proses pengomposan.
Kisaran kelembaban yang ideal adalah 40 – 60 % dengan nilai yang paling baik adalah 50 %.
Kelembaban yang optimum harus terus dijaga untuk memperoleh jumlah mikroorganisme yang
maksimal sehingga prosespengomposan dapat berjalan dengan cepat. Apabila kondisi tumpukan
terlalu lembab, tentu dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme karena molekul air akan
mengisi rongga udara sehingga terjadi kondisi anaerobik yang akan menimbulkan bau. Bila
tumpukan terlalu kering (kelembaban kurang dari 40%), dapat mengakibatkan berkurangnya
populasi mikroorganisme pengurai karena terbatasnya habitat yang ada.
6
f. Homogenitas Campuran Sampah
Komponen sampah organik sebagai bahan baku pembuatan kompos perlu dicampur menjadi
homogen atau seragam jenisnya, sehingga diperoleh pemerataan oksigen dan kelembaban. Oleh
karena itu kecepatan pengurai di setiap tumpukan akan berlangsung secara seragam.
7
c) Lokasi Pengomposan
Pengomposan sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di
dekat sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Pemilihan lokasi ini akan menghemat biaya
transportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan sumber air. Karena apabila
jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses pengomposan.
d) Tahapan Pengomposan
Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan dengan
menggunakan parang atau dengan mesin pencacah.
Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi) dilarutkan ke
dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
Pemasangan cetakan. d. Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis.
Tinggi lapisan kurang lebih seperlima dari tinggi cetakan. Injak-injak bahan tersebut agar
memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
Dalam setiap lapisan siramkan aktivator pengomposan. Setelah cetakan penuh, buka
cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik.
2) Metode komposter
Metode komposter dengan penambahan bakteri (aktivator) Sampah merupakan material
sisa yang tidak diinginkan. 60%- 70% sampah yang dihasilkan adalah sampah organik/sampah
basah (sampah rumah tangga, sampah dapur, sampah kebun, sampah restoran/sisa makanan,
sampah pasar dll). Salah satu solusi yang cukup tapat untuk menangani masalah sampah organik
adalah dengan menjadikannya kompos melalui suatu alat yang disebut komposter. Pengomposan
dengan teknologi komposter adalah proses penguraian sampah organik secara aerob dengan
mengunakan Sy-Dec mikroba pengurai dan Organik Agent (bahan mineral organik). Cara
penggunaan komposter :
sampah organik yang telah terpilah dipotong/dirajang kecil- kecil (1-2 cm)
campur sampah organik dengan Organik Agent (bahan mineral organik :serbuk gergaji,
dedak, abu dll)
Siram/cipratkan larutan Sy-Dec mikroba pengurai pada bahan sampah organik sampai
membasahi semua bahan dan menjadi lembab.
8
Bahan sampah yang telah diproses 1 sd 3 dimasukkan ke dalam komposter Proses
komposting yang baik temperatur 40-50 derajat celcius dapat dicapai dalam 2-3 hari.
Proses pembusukan sampah organik dalam komposter selama 7-10 hari(tergantung dari
bahan baku sampah organik). Bolak-balik/tusuk-tusuk media kompos setiap hari agar
proses aerasi berjalan dengan baik.
keluarkan sampah organik yang telah menjadi kompos melalui pintu yang ada dibagian
bawah komposter. Simpan ditempat teduh agar kena angin,kompos akan menjadi kering
dan gembur
Kompos siap digunakan
2.5 Inokulan
Inokulan/pemacu yang mengandung berbagai mikroba aktif yang digunakan untuk
mempercepat proses pengomposan. Berikut ini jenis-jenis inokulan terdiri dari.
A. Inokulan Cair
1. Inokulan cair berbahan EM
Inokulan ini menggunakan larutan EM aktif dengan campuran larutan gula yang
membantu proses pengomposan yang menghasilkan kompos cair. Dapat digunakan
setelah didiamkan ± 2 hari dan digunakan dengan cara disemprotkan menggunakan
botol semprot
2. Inokulan cair berbahan ragi tempe
Inokulan ini mengandung mikroorganisme pengurai yang dikembangkan Rhyzopus
spp. Menggunakan campuran bahan ragi tempe dengan campuran larutan gula.
Inokulan ini dapat digunakan setelah 5 – 7 hari didiamkan.
9
3. Inokulan Cair berbahan nanas
Inokulan ini menggunakan mikroorganisme pengurai yang dikembangkan
Lactobacillus anona. Menggunakan campuran bahan nanas dengan larutan gula.
Inokulan ini dapat digunakan setelah 5-7 hari didiamkan.
4. Inokulan nasi berbahan dasar nasi basi
Inokulan ini menggunakan mikroorganisme pengurai yang dikembangkan Basillus
cereus. Inokulan ini menggunakan campuran bahan nasi basi dengan larutan gula.
Dapat digunakan setelah 5-7 hari didiamkan
B. Inokulan Padat
Inokulan padat menggunakan bahan sekam, bekatul, tanah subur, gula, ragi tempe, dan
air. Semua bahan dicampurkan dan diaduk dengan rata lalu ditutup dengan keset dan dilakukan
pemeraman selama 7 hari. Inokulan siap digunakan.
10
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
11
3.3.2 Bahan
1. Nasi basi : + 1 mangkok
2. Air tanpa chlor : 1 liter
3. Gula pasir : 5 sdm
3.3.3 Prosedur kerja
1. Ambil nasi sisa yang memang sudah basi kurang lebih satu mangkok atau
secukupnya
2. Letakkan di suatu wadah hingga muncul jamur berwarna orange
3. Campurkan nasi dengan larutan gula, yang mana gula sebanayak 5 sendok makan
dilarutkan dalam 1 liter air tanpa clor
4. Larutan gula di aduk dengan nasi tadi , dengan cara meremasnya hingga halus
dengan menggunakan sarung tangan
5. Masukkan kedalam jerigen
6. Diamkan selama kurang lebih seminggu sampai bau tempe .
12
Perhitungan C:N Ratio Bahan Kompos
Ketetapan Ratio
Rumput 20 : 1
Serbuk Gergaji 325 : 1
C:N 30 : 1
Diketahui : 1 karung rumput
Ditanya : dalam 1 karung rumput, berapa karung serbuk gergaji yang dibutuhkan?
Jawab : 1 (20) + a(325) = 30
16
20 + 325a = 480
325a = 480 - 20
a = 460 : 325
a = 1,41
Jadi bahan organik yang dibutuhkan adalah sebanyak 1 karung rumput dan 1,4 karung
serbuk gergaji.
3.4.3 Prosedur Kerja
1. Siapkan tong besar yang dirancang untuk pembuatan kompos padat
2. Siapkan rumput dan serbuk gergaji dengan perbandingan 1 : 1,4 karung
3. Cacah sampah organik rumput-rumputan hingga halus ±2 – 4 mm
4. Lalu timbang kompos jadi sebanyak 3 kg, Dengan perbandingan 1:3 dengan bahan
organik
5. Campurkan bahan organik dengan kompos jadi dan tambahkan inokulan cair lalu
aduk hingga rata
6. Setelah semuanya tercampur Masukkan ke dalam wadah komposter yang telah
dialas dengan kawat kasa
7. Tutup wadah komposter.
8. Lakukan pengecekan suhu, kelembaban, dan pemberian inokulan nasi setiap hari
selama ±1 bulan
9. Setelah ±1 bulan sampah organik telah menjadi kompos, lakukan pengayakan dan
hasil pengayakan akan dikemas/dipacking dan diberi label.
13
3.5 Pengemasan Kompos
3.5.1 Alat
1. Ayakan
2. Wadah
3.5.2 Bahan
1. Plastik 5 kg
2. Kertas Label
3.5.3 Prosedur Kerja
1. Ayak kompos menggunakan ayakan
2. Lalu masukan tanah yang sudah diayak ke dalam plastik
3. Plastik diberi double
4. Beri label pada kompos, yang diletakkan diantara plastik 1 dan plastik 2
5. Staples bagian pinggir atas plastic.
14
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Salah satu bentuk pengelolaan sampah organik adalah dengan mengolah sampah menjadi
kompos. Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara
biologis oleh mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Proses
pengomposan terjadi secara aerobik pada kondisi lingkungan tertentu yang disebut dengan
dekomposisi bahan organik.
Proses pengomposan yang telah dilakukan selama 35 hari menggunakan bahan organik
rumput-rumputan dan serbuk gergaji dengan tambahan kompos jadi dan inokulan cair yang
dimasukkan kedalam wadah komposter yang diberi alas kawat kasa.
15
dan tekstur. Warna : hijau kecoklatan
5. Jum’at, 29 Dina Rahmayeni Pengukuran suhu dan Suhu : 35 oC
maret 2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 48 %
penambahan inokulan nasi Tekstur : kasar
basi serta mengamati Warna : hijau kecoklatan
warna dan tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu pertama dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari
memiliki tekstur kasar dan dan bewarna hijau kecoklatan. Rata- rata suhu dan kelembaban
selama 4 hari pengukuran adalah 38 oC dan 46 %. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 41 oC
dan 48%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban,
tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.
16
2019 Zara Albira S. kelembaban, pengadukan, Kelembaban : 36 %
penambahan inokulan nasi Tekstur : kasar, agak kering
basi serta mengamati Warna : kecoklatan
warna dan tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu kedua dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari memiliki
tekstur kasar dan dan warna kompos mulai kecoklatan. Rata- rata suhu dan kelembaban selama 4
hari pengukuran adalah 35oC dan 44,5%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 38oC dan
57%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban, tekstur
& warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.
17
april 2019 Winda Regina suhu dan kelembaban, Kelembaban : 36 %
pengadukan, serta Tekstur : kasar, agak kering
mengamati warna dan Warna : coklat kehitaman
tekstur.
Dari tabel diatas pada minggu ketiga dapat dilihat bahwa kompos selama 5 hari memiliki
tekstur kasar dan warna kompos coklat kehitaman. Rata- rata suhu dan kelembaban selama 5 hari
pengukuran adalah 32oC dan 45%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu 36 oC dan 50%.
Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan kelembaban, tekstur &
warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.
18
april 2019 pemeriksaan.
Dari tabel diatas pada minggu keempat dapat dilihat bahwa kompos selama 4 hari
memiliki tekstur masih kasar dan warna kompos sudah mulai kehitaman. Rata- rata suhu dan
kelembaban selama 4 hari pengukuran adalah 34oC dan 44%. Serta suhu dan kelembaban tertingi
yaitu 36oC dan 47%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan
kelembaban, tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.
19
Dari tabel diatas pada minggu kelima dapat dilihat bahwa kompos selama 5 hari memiliki
tekstur masih kasar dan warna kompos sudah mulai kehitaman. Rata- rata suhu dan kelembaban
selama 5 hari pengukuran adalah 31,4oC dan 45%. Serta suhu dan kelembaban tertingi yaitu
33oC dan 48%. Dilakukan kontrol kompos setiap hari mulai dari pengukuran suhu dan
kelembaban, tekstur & warna, serta penambahan inokulan bila diperlukan.
Pengemasan:
No Hari/Tanggal Nama Kegiatan Hasil
Pemeriksa
4.2 Pembahasan
Proses pembuatan kompos yang dilakukan di workshop kesehatan lingkungan
berlangsung selama 35 hari. Pengomposan mulai dilakukan pada hari Senin tanggal 25 Maret
2019. Pada minggu pertama didapatkan suhu tertinggi yaitu 41oC dan kelembaban tertinggi 48%.
Tekstur kompos kasar dan berwarna hijau kecoklatan berjamur serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan pada kompos.
Pada minggu kedua didapatkan suhu tertinggi yaitu 38 oC dan kelembaban tertinggi 57%.
Tekstur kompos kasar dan berwarna kecoklatan serta dilakukan pengadukan dan pemberian
inokulan pada kompos.
Pada minggu ketiga didapatkan suhu tertinggi yaitu 35 oC dan kelembaban tertinggi 50%.
Tekstur kompos masih kasar dan sudah mulai berwarna hitam kecoklatan serta dilakukan
pengadukan dan pemberian inokulan pada kompos.
20
Pada minggu keempat didapatkan suhu tertinggi yaitu 36oC dan kelembaban tertinggi
47%. Tekstur kompos masih kasar dan berwarna kehitaman serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan pada kompos.
Pada minggu kelima didapatkan suhu tertinggi yaitu 34 oC dan kelembaban tertinggi 48%.
Tekstur kompos sudah mulai halus dan berwarna kehitaman serta dilakukan pengadukan dan
pemberian inokulan. Setelah kompos jadi lalu keluarkan dari komposter dan dilakukan
pengayakan kompos lalu dikemas dengan plast 5kg dan diberi label.
Suhu dan kelembaban ideal bagi pengomposan adalah antara 50 – 70 oC dan kelembaban
50%. Pematangan kompos ditandai dengan kompos yang sudah berwarna coklat tua kehitaman
serta telah lapuknya tumbuhan. Dapat dilihat suhu tertinggi pada minggu pertama yaitu 41oC dan
kelembaban 48% dan pada minggu kelima suhu tertinggi yaitu 34oC dan kelembaban 48%. Suhu
yang didapatkan pada proses pengomposan ini berada dibawah suhu ideal sehingga panas yang
dihasilkan belum maksimal karena suhu tertinggi yang didapat selama 35 hari antara 34 – 41 oC
dan kelembaban tertinggi yang didapat antara 47 – 57% sehingga dapat dikatakan
kelembabannya stabil.
Bentuk dan warna merupakan salah satu kriteria kematangan kompos. Ciri-ciri kompos
yang sudah matang yaitu bentuknya hancur dan warnanya coklat tua kehitaman. Warna yang
dihasilkan pada praktikum kali ini adalah warna hitam dan tekstur berbentuk tanah serta tidak
berbau.
Inokulan/pemacu yang mengandung mikroba aktif juga berperan untuk memepercepat
pengomposan. Jadi pada pembuatan inokulan harus yang menggunakan bahan yang mengandung
mikroba aktif sehingga dapat memepercepat proses pengomposan.
Inokulan yang kami gunakan pada pengomposan adalah inokulan cair berbahan nasi basi
dengan campuran larutan gula yang mengandung mikroba Basillus cereus yang dapat
mempercepat proses pengomposan.
Kendala yang kami temukan dalam pengomposan ini adalah kurang halusnya pencacahan
pada sampah organik sehingga memperlambat proses hancurnya sampah organik tersebut. Proses
pengadukan yang kurang juga dapat menjadi kendala dalam pengomposan karena jika pada
pengadukan tidak dilakukan merata maka proses hancurnya bahan organik juga tidak merata
serta pemberian inokulan yang tidak tepat juga menjadi kendala, jika kita memberi inokulan
yang sedikit pada kompos kering maka akan memperlama proses pengomposan tersebut dan
21
sebaliknya jika kompos dalam keadaan lembab kita harus mengurangi banyaknya pemberian
inokulan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Alat yang digunakan pada saat membuat kompos yaitu : pisau/parang, timbangan, wadah
komposter, sekop, kawat kasa, termometer, higrometer, plastic packing dan bahan yang
digunakan yaitu : rumput-rumputan, serbuk gergaji, inokulan cair, kompos jadi . Pada pembuatan
inokulan cair digunakan alat seperti: botol, wadah, sendok, serta bahan yang digunakan yaitu :
nasi basi, air tanpa chlor, dan gula pasir.
22
Aliran udara yang kurang baik dapat menyebabkan mikroba jenis lain (yang tidak baik untuk
komposting) yang lebih banyak hidup, sehingga timbul bau menyengat dan pembentukan
kompos tidak terjadi.
Pada awal proses pengomposan akan terjadi kenaikan suhu sehingga dalam proses
pengomposan perlu adanya pembalikan kompos untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi.
Setelah proses pengomposan selesai maka kompos mencapai tingkat kematangan sehingga suhu
kompos akan menurun.
Pada minggu pertama suhu tertingi yaitu 41oC dan kelembaban 48%, tekstur kasar dan
warna hijau kecoklatan . Pada minggu kedua suhu tertingi yaitu 38oC dan kelembaban 57%,
tekstur kasar dan warna kecoklatan. Pada minggu ketiga suhu tertingi yaitu 36 oC dan
kelembaban 50%, tekstur masih kasar dan warna sudah mulai coklat kehitaman. Pada minggu
keempat suhu tertingi yaitu 36oC dan kelembaban 47%, tekstur masih sedikit kasar dan warna
mulai kehitaman. Pada minggu terakhir atau kelima didapatkan suhu tertingi yaitu 33 oC dan
kelembaban 48%, dengan tekstur tanah sudah mulai halus dan warna kehitaman.
Bentuk dan warna kompos salah satu kriteria kematangan kompos. Ciri-ciri kompos yang
sudah matang yaitu bentuknya hancur dan warnanya coklat tua hingga hitam. Dari hasil
pengamatan dan pengukuran yang didapat sudah memenuhi kriteria kompos yang baik.
5.2 Saran
Bagi mahasiswa agar dapat melakukan praktikum secara baik dan benar mulai dari
membuat perhitungan ratio penggunaan bahan organik yang tepat, membuat rancangan
praktikum mulai dari komposter, inokulan, pembuatan kompos, hingga melakukan pembuatan
kompos yang telaah dirancang sebaik mungkin karna jika tidak dilakukan sesuai prosedur maka
haisl yang didapatkan tidak akan sesuai dengan yang diinginkan. Dari praktikum ini diharapkan
mahasiswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
23