Anda di halaman 1dari 42

Arya Wengker

Kisi-kisi cerita:

• ‘Perjanjian ponorogo 1742’ & keadaan setahun setelahnya.

• Pemberontakan Mas Said atas kesewenang-wenangan VOC, sebagian bangsawan &


kebanyakan petani berada di pihak Mas Said.

• Kumuda sebagai tokoh utama cerita memiliki kenangan pahit “pembantaian petani
Jagaraga” dan tewasnya sang ayah angkat 5 tahun setelahnya. Selanjutnya Kumuda
menjadi orang kepercayaan Mas Said (Pangeran Sambernyowo), serta mendapatkan gelar
kehormatan ‘Bekel Singayuda’, disebabkan keberhasilannya dalam misi gerilya di
Madiun & Ponorogo melawan pasukan Surakarta-VOC.

• Keberadaan tokoh pendekar misterius yang menyebut dirinya ‘Arya Wengker’, bergerak
seorang diri di malam hari. Melenyapkan nyawa para antek-kumpeni (VOC), seringkali
mensabotase loge-loge VOC. Juga tak segan-segan menghajar gerompolan perampok
yang memeras hasil bumi warga desa.
1

Perjanjian Ponorogo

Awal Desember 1742, Ponorogo

Di kediaman bupati Ponorogo, tampak seseorang dengan perawakan tinggi besar


berdiri termenung, di ruang khusus yang diperuntukkan baginya. Dia adalah Kanjeng
Susuhunan Pakubuwono II, raja Mataram itu merenungi keputusan yang akan diambilnya
besok. Tawaran bantuan VOC untuk mengembalikan tahtanya dan sekaligus menumpas
pemberontakan Sunan Kuning, yang didukung orang-orang Cina perantauan dan sebagian
bangsawan. Namun dirinya masih ragu menerima tawaran itu, apalagi VOC melalui
utusannya mensyaratkan penyerahan wilayah pesisir utara Jawa dan Madura Barat. Suatu
pertaruhan yang sangat besar dan terlalu berharga. Raja Mataram itu berada dalam posisi
yang sulit, menerima tawaran itu berarti kehilangan wilayah yang paling kaya dari
kerajaannya. Tetapi jika menolaknya, itu sama dengan membiarkan kerajaannya dikuasai
orang-orang Cina pendukung Mas Garendi, yang mereka gelari Amangkuar V. Tidak ada
jalan lain bagi Pakubuwono II, selain mengambil satu keputusan diantara dua keputusan
yang sulit.

Ke esokan Harinya, Desember 1742, Ponorogo

Pada hari itu di waktu dan tempat yang telah ditentukan, di bawah sebuah pohon
beringin yang besar dan tua ketika matahari sepenggalah. Pakubuwono II di iringi
beberapa pangeran senior dan selusin pengawal, bertemu dengan perwakilan VOC untuk
melakukan perundingan. Jumlah seluruh perwakilan VOC yang hadir, kurang lebih
sebanding dengan jumlah rombongan Pakubuwono. Perundingan antara kedua pihak pun
segera dimulai dan berlangsung alot, “Kami hanya mau membantu anda yang mulia
Susuhunan, asalkan seluruh pesisir utara di serahkan kepada kami.” Kata seorang
penerjemah VOC dalam bahasa daerah, menjelaskan kata-kata juru runding VOC.
Susuhunan pun menyahut, “Pesisir utara terlalu berharga bagi Mataram, apalagi aku
belum berunding dengan semua saudaraku pangeran-pangeran yang lain.” Meskipun
begitu juru runding VOC tak menyerah untuk mendesak sang raja. “Tapi cobalah yang
mulia pikirkan lagi, selain kami saat ini siapa yang mampu menyelamatkan kerajaan?”
Kembali kata-kata penerjemah terdengar. Rupanya kata-kata itu menggoyahkan hati
Sunan Pakubuwono II, sejenak ia menoleh ke ajudannya dan berbisik, “Bagaimana
menurutmu, Tumenggung Sarayuda?” Jawaban yang terdengar kemudian semakin
menggoyahkan hatinya, “Hamba terlalu bodoh untuk memikirkannya paduka, apapun
keputusan paduka kami menaatinya.” Pakubuwono II baru menyesali keadaannya
sekarang, kenapa selama ini ia mengelilingi dirinya dengan orang-orang yang tidak bisa
berpikir, justeru orang-orang visioner disingkirkannya dari pemerintahan. Sedangkan
beberapa pangeran senior yang menyertainya, tidak lebih dari para pemandu sorak dan
tukang angguk.

Akhirnya dengan berat hati, Susuhunan Pakubuwono II menandatangani


perjanjian itu. Isi dari perjanjian itu adalah, pertama penyerahan seluruh wilayah pesisir
utara jawa, daerah-daerah sebelah barat kali Citanduy dan Cilosari serta Madura Barat
(sedangkan bagian Timurnya, telah lebih dulu diserahkan seusai Perang Suksesi Jawa I)1
kepada VOC. Kedua, Mataram mendapatkan ganti rugi dari penyerahan itu sebesar 20
ribu ringgit per tahun. Ketiga, VOC mengakui Pakubuwono II sebagai raja Mataram yang
sah dan bersedia membantunya menumpas pemberontakan Mas Garendi.

1
Serangkaian perang perebutan tahta Mataram, perang Suksesi jawa I (1704-1708), antara Amangkuart III yang di
dukung Surapati Vs P. Puger/Pakubuwono I yang di dukung VOC. Perang suksesi Jawa II (1719-1723), antara
Amangkurat IV Vs saudara-saudaranya yang menuntut tahta, hanya dengan bantuan VOC tahta Amangkurat IV
berhasil di pertahankan. Perang Suksesi Jawa III (1746-1757) terbagi tiga tahap, antara Mataram-Surakarta yang di
dukung VOC Vs P. Mangkubumu & RM. Said (1745-1751), perang segitiga Surakarta-VOC Vs P. Mangkubumi Vs
RM. Said (1752-1755), Surakarta-Yogyakarta-VOC Vs RM. Said (1756-1757).
Musnahnya Sebuah Desa

Pertengahan Desember 1743 (setahun kemudian), Jogorogo (ngawi)

Sudah hampir setahun sejak penyerahan wilayah pasisiran dari Pakubuwono II ke


VOC. Keamanan di wilayah Mataram kembali pulih, terutama setelah berakhirnya
‘Perang Cina’2 (dalam babad Tanah Jawa dikenal sebagai, ‘Geger Pecinan’).
Pemberontakan Mas Garendi atau Sunan Kuning berakhir, dengan kalahnya pasukan
Cina oleh pasukan VOC di Tanjung Mandaliko. Mas Garendi yang menjadi pemimpin
pemberontakan ditangkap, dan oleh VOC di asingkan ke Sailan, tempat yang sama
dimana buyutnya Sunan Mas juga di asingkan. Pasca peristiwa itu berangsur-angsur
keamanan pulih kembali, satu-persatu bekas pengikut Mas Garendi menyerahkan diri.
Susuhunan Pakubuwono II pun cukup bermurah hati, dengan mengampuni mereka
semua.

Demikian juga keadaan di pagi hari itu di sebuah desa di wilayah Jogorogo
(Ngawi). Desa Liman yang cukup asri, dengan pemandangan alam persawahan serta
dikelilingi hutan yang cukup lebat. Seperti hari-hari yang biasa mereka lalui, pada hari ini
para penduduk desa sibuk menggarap sawahnya, sedangkan para wanitanya mengurusi
keperluan dapur dan rumah tangga. Tiba-tiba kedamaian desa itu terusik dengan suara
derap langkah kuda yang mungkin jumlahnya sekitar puluhan, penduduk desa sudah hafal
dengan suara ini. Suara derap langkah pasukan berkuda, hanya saja mereka tidak tahu
kali ini dari pihak siapa, Surakarta, pemberontak atau VOC? Tapi apapun yang terjadi,
penduduk desa sudah siap bersikap kooperatif. Sama seperti masa-masa sebelumya.
Derap langkah kaki kuda itu berhenti di lapangan desa, tidak lama kemudian terdengar
bunyi kentongan sebagai isyarat agar warga berkumpul di balai desa. Para penduduk desa
kebanyakan laki-laki, dalam waktu singkat berkumpul di balai desa. Pemandangan di
sepanjang jalan menuju desa membuat hati setiap orang bergidik, betapa tidak di sana
berdiam sekitar 40 orang pasukan berkuda VOC atau yang lebih di kenal sebagai
kumpeni. Meski tidak semuanya berkulit putih dan berambut jagung, namun kelengkapan
senjata setiap penunggang kuda yang menyandang senapan di punggung dan pedang
panjang di pinggang, pasti membuat nyali siapapun menjadi ciut. Setelah dirasa semua
memulai pembicaraan “Selamat pagi para sedulurku.. warga desa liman, hari ini kita
mendapat tamu istimewa dari ‘surodadu’3 pengawal Kanjeng Susuhunan. Yang mana kali
ini di pimpin Letnan Sekeber, di samping saya sekarang ajudan beliau, vandrig4 Abram.”
Ki lurah mengambil nafas sejenak, “Untuk lebih jelasnya, tuan Abram akan menjelaskan
2
Perang antara orang-orang Cina yang di dukung para bangsawan Mataram anti-VOC melawan VOC di seluruh
pesisir Jawa Tengah dan Jawa Timur 1741-43. Peristiwa ini dipicu oleh pembantaian Cina di Batavia tahun 1740,
atas perintah Gubernur Jenderal Adrians Valkeniers. Pada awalnya PB II dari Kartasura mendukung perlawanan
orang-orang Cina, tapi berbalik mendukung VOC setelah orang-orang Cina terdesak karena Cakraningrat IV dari
Madura Barat berada di pihak VOC.
3
Sebutan untuk serdadu.
4
Pembantu Letnan, jenjang kepangkatan militer dalam VOC.
maksud kedatangan mereka. Silakan tuan”. Setelah panjang lebar menjelaskan kondisi
yang ada, ki lurah pun mempersilakan Abram untuk menyampaikan maksudnya.

”Mungkin ke datangan kami kemari cukup mengejutkan kalian”. Abram memulai


pembicaraannya, “Perlu kalian ketahui hingga saat ini Mas Said beserta pengikutnya
belum kembali ke Surakarta, meskipun Sunan sudah menjanjikan pengampunan bagi
semua pihak yang terlibat dalam ‘Geger Pecinan’”. Suara vandrig Abram keras
mengguntur “Karena itu kanjeng sunan mengkhawatirkan pemberontakan timbul
kembali, maka kali ini kami sebagai kepanjangan tangan Kanjeng Sunan menanyakan
kepada kalian, siapakah yang merasa bertanggung jawab atas terbunuhnya salah seorang
teman kami?!” Penjelasan Abram cukup membuat semua orang di dalam balai desa itu
terhenyak, perkataan Abram yang seorang Ambon itu dapat mereka pahami dengan jelas.
Salah seorang dari penduduk desa angkat suara “Maaf tuan, kami sama sekali tidak tahu-
menahu perihal itu. Tidak seorangpun dari kami melihat ada serdadu kumpeni masuk
desa ini”.

“Bohong!” Bentakan serdadu kumpeni itu mengagetkan semua orang, betapa kasarnya
sikap seorang serdadu VOC walaupun pribumi. “Coba kalian lihat keluar, kalian pikir
keranda mayat siapa itu?” Abram menunjuk arah sambil memberikan isyarat, terlihat dua
anggota pasukan kumpeni mendekat sambil menyeret sebuah keranda berada di
belakangnya. Kami menemukan mayat teman kami, di tengah hutan desa ini dan terdapat
tanda-tanda penutupan jejak, sampai kami menemukan benda-benda ini”. Abram
memperlihatkan pada mereka sebuah selongsong peluru dan lencana/tanda pengenal
pengawal Kartasura. “Kami menduga sempat terjadi perkelahian antara teman kami
dengan seorang pengikut Mas Said. Dan orang itu mungkin saja berkeliaran di tempat
ini!” Kembali Abram memberikan isyarat dan pasukan VOC atau kumpeni yang berada
di luar segera bergerak menuju rumah-rumah warga. “Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?
Dan apa yang akan pasukan kumpeni lakukan pada desa kami?!” Ki lurah mulai
mengeluarkan protes, tapi cukup mengejutkan reaksi dari vandrig Abram. Dia langsung
menampar mulut Ki lurah di sertai bentakan “Tutup mulutmu orang dungu! Hanya
dengan menangkap wanita dan anak-anak, kami bisa membuat kalian mengaku”. Terlihat
seringai sinis di wajah vandrig kumpeni itu.

Tak berapa lama kemudian pasukan itu kembali ke alun-alun desa dengan
membawa ratusan wanita dan anak-anak. Terdengar jeritan para wanita dan tangisan
anak-anak kecil, terlihat pula seorang pemuda belasan tahun dengan kondisi babak-belur,
tetapi masih mencoba melawan. Dari kejauhan orang-orang melihat pemuda itu akhirnya
tersungkur, dengan sepatu lars kumpeni menginjak punggungnya. “Itu Kumuda, Ki
Wayah putramu juga mereka tangkap!” Sahut salah seorang warga. “Biadab kalian!”
Salah seorang warga yang naik pitam meloncat ke depan sambil mengayunkan sabitnya,
nampaknya dia ayah pemuda itu. Namun dengan tangkas Abram mengelak dan sekaligus
menyarangkan tendangan ke perut penyerangnya, Ki Wayah terhuyung-huyung sambil
memegangi perutnya, sabitnya terlempar ke samping. “Ki wayah, tahan amarahmu!”
Terdengar suara Ki Lurah mengingatkan, tapi suara itu justeru mendatangkan akibat fatal
baginya. Vandrig Abram langsung berbalik dan menembakkan pistolnya, kepala Ki
Lurah berlubang di jidatnya darah mengucur dari lubang itu. Beberapa detik kemudian
peristiwa yang terjadi sangat memilukan, para warga desa menjadi tak terkendali. Ki
wayah kembali menyerang Abram, kali ini dengan tendangannya berhasil menjatuhkan
pistol Vandrig itu. Sementara warga desa lainnya menjadi beringas, dua orang serdadu
kumpeni di dekat pintu masuk balai desa menjadi sasaran mereka. Dalam waktu singkat
dua orang serdadu kumpeni itu menjadi bulan-bulanan warga, apalagi keduanya tidak
sempat mengokang senapan atau mencabut pedangnya. Tidak berapa lama keduanya pun
roboh ke tanah bersimbah darah, sementara itu Letnan Sekeber memerintahkan sebagian
pasukannya membentuk formasi tempur, setelah melihat kondisi berubah menjadi tak
terkendali. Dua puluh orang di perintahkannya menjadi dua baris, dengan formasi bersaf.
Sepuluh orang di depan dalam posisi berdiri dan siap menembakkan senapan, sedangkan
sepuluh orang di belakangnya jongkok sambil mengisi peluru dan mengokang
senapannya. Kemudian drama pembantaian di mulai, warga desa yang tidak puas dengan
hanya menewaskan dua serdadu kumpeni, mereka merangsek ke depan dengan senjata
seadanya, cangkul, sabit, keris dan pentungan kayu atau apapun yang ada di sekitarnya.
Namun keberingasan mereka di redam oleh ‘keunggulan’ teknik persenjataan kumpeni,
berturut-turut sepuluh orang warga jatuh tersungkur sambil mengerang kesakitan, di ikuti
yang lainnya dengan jumlah yang sama. Para serdadu kumpeni tak henti-hentinya
menembak, seolah ini medan perang yang sesungguhnya. Wanita-wanita dan anak-anak
hanya bisa menjerit-jerit sekerasnya dan menangis tersedu-sedu, kematian suami-suami
dan ayah-ayah mereka di depan mata kepala mereka sendiri, sangat menyayat hati. Hanya
dalam waktu kurang dari setengah jam, desa Liman telah menjadi kuburan. Di pihak
warga 88 orang tewas termasuk kepala desa, puluhan orang terluka dan terpaksa
menyerah dalam keadaan terikat. Di pihak kumpeni hanya dua orang tewas, dan seorang
luka-luka, Abram sendiri nyaris tewas di ujung keris Ki Wayah. Jika saja orang paruh
baya itu tidak menyerah setelah melihat banyaknya warga yang tewas. Tiga puluh pria
dewasa sekarang dalam keadaan terikat, siap menerima hukuman dari regu tembak,
sedangkan lima belas orang lagi yang dalam keadaan luka parah langsung di bunuh di
tempat.

Para wanita dan anak-anak hanya bisa terisak-isak, suara mereka seolah-olah
habis. Di barisan anak-anak terlihat, seorang pemuda belasan tahun menyimpan bara di
matanya. Dia marah tapi tidak tahu harus berbuat apa, tangannya terikat dan
tenaganyapun sudah habis. Ke tiga puluh orang warga desa itu di eksekusi dalam tiga
tahap, setiap tahap eksekusi membuat seluruh warga desa tertunduk. Kini tahap terakhir
eksekusi, giliran Ki wayah dan Sembilan orang temannya. “Hai orang tua yang keras
kepala, apa permintaan terakhirmu?” Terdengar suara Letnan Sekeber, “Semua ini
kesalahanku, kalau bisa bebaskanlah wanita dan anak-anak. Kesembilan orang ini juga
tidak bersalah, mereka hanya terpancing sikapku, bebaskanlah juga!” Ki Wayah
mengucapkan kata-kata terakhirnya dengan lantang. “Tidak Ki Wayah, sebagaimana
dirimu kami juga siap mati!” Ke sembilan orang itu menyatakan sikapnya hampir
bersamaan. Merekapun tersenyum satu sama lain. “Permintaanmu akan
kupertimbangkan, Abram kau pimpin eksekusi mereka”. Dengan senang hati Vandrig
asal Ambon ini menerimanya, begitu ia memberikan aba-aba, suara senapan menyalak
dari setiap moncong senapan regu tembak. “Benar-benar akhir yang tragis, bukan begitu
anak muda?” Sekeber mengucapkan kata-kata itu sambil tersenyum sinis ke arah
Kumuda.

Ternyata kumpeni tidak benar-benar memenuhi permintaan Ki Wayah. Mereka


tetap mengambil wanita-wanita muda dan paruh baya sebagai tawanan, sedangkan anak-
anak mereka ikat di tiap batang pohon 4-5 anak sekaligus. Nasib wanita-wanita tua dan
orang-orang jompo lebih tragis, mereka di kumpulkan dalam beberapa rumah dan di
bakar mulai dari atap dan daun-daun pintunya. Terdengar teriakan-teriakan minta tolong
dari dalam rumah, sungguh menyayat hati. Sebelum meninggalkan desa itu vandrig
Abram menghampiri Kumuda yang terikat di pohon, lalu menancapkan sebilah keris
berluk tiga di hadapan anak muda itu “Hai, anak muda yang pemberani. Ingat-ingatlah
wajahku ini, jika kau masih bisa hidup carilah aku dan gunakan senjata bapakmu untuk
menuntut balas”. Setelah mengatakan hal itu Abram langsung melangkah pergi menuju
kudanya, kemudian bersana pasukannya meninggalkan desa Liman, yang telah menjadi
karang-abang.

Hingga tengah malam kondisi desa itu benar-benar sunyi dan mencekam, hanya
tercium bau anyir darah dan bau gosong dari puing-puing bangunan. Pasukan kumpeni
nyaris tidak menyisakan apapun, kecuali puing-puing dan anak-anak yang hamper mati
kehausan. Tidak hanya para wanita, kumpeni juga merampas seluruh hewan ternak dan
semua harta benda yang ada. Sementara itu suara lolongan anjing liar makin terdengar
bersahut-sahutan. Nasib dari ke 120-an anak yang berada dalam kondisi tangan dan kaki
terikat dengan setiap 4-5 anak anak di ikat melingkar di batang pohon, kebanyakan dari
mereka pingsan. Malah sebagian ada yang mati kehausan. Ada seorang dari mereka yang
masih terjaga , tetapi keadaannya seperti antara hidup dan mati. Berilah aku kesempatan
hidup ‘Gusti Pangeran’,5 yang memberi kehidupan. Akan kubalas kekejaman ini dengan
setimpal, mereka akan kuhabisi satu-persatu. Lama-kelamaan Kumuda semakin
melemah, meski tak henti-henti ia berdo’a dan mengutuk kekejaman pasukan kumpeni,
akhirnya iapun pingsan akibat lelah dan haus. Antara pingsan dan sadar ia mendengar
suara roda pedati dan hiruk-pikuk suara orang. “Apakah ‘Gusti Pangeran’ sudah berkenan
mengirimkan malaikat maut menjemputku?” Kemudian ia benar-benar tidak sadarkan
diri.

Keramaian di Surakarta

5
Tuhan
Surakarta, Grebeg Maulid, 1745

Pagi hari itu suasana kotaraja Surakarta sangat ramai, para pedagang makanan dan
cendera mata di berbagai sudut kota, semakin memeriahkan suasana. Sementara itu di
samping sebuah panggung, tampak seorang remaja kira-kira 18 tahunan sedang
termangu-mangu melihat ke arah kerumunan di jalanan, kelihatannya orang-orang itu
menunggu keluarnya ‘gunungan’.6 Tempat anak muda itu berdiri dan kerumunan orang-
orang itu, hanya 200 meter dari Gerbang Keraton Surakarta. Anak muda itu masih
termangu-mangu sampai sebuah suara lembut menyadarkannya.

“Kang Burhan, Bopo Sadat menunggu kakang di dalam tenda”. Seorang gadis berkebaya
coklat dengan jarit coklat dan kerudung merah, telah berdiri di sampingnya.

“Oh..eh ya, kamu mengagetkanku saja Arum. Sampaikan ke bopo aku akan segera ke
sana”. Sahut Burhan kemudian. “Hmm, kang Burhan ini masih saja suka melamun. Hati-
hati kang bisa kesambet nanti!” Sambil berkata begitu Arum langsung berlari-lari kecil
menghindari jeweran Burhan, terdengar cekikikan Arum yang tertahan. Melihat itu
Burhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, memang selama ini gadis manis itulah
yang selalu menghiburnya, terutama saat-saat ia mulai murung.

Tidak berapa lama kemudian Burhan sudah berada di dalam tenda, untuk menemui bopo
Sadat. Seorang pria tua yang ramah tapi tegas, usianya kira-kira mendekati 60 tahun. Pria
tua itu menyambut ke datangannya dengan ramah, dan mempersilakan anak muda itu
duduk di hamparan tikar.

“Bagaimana keadaanmu pagi hari ini ngger, Bagus Burhan?” Pria tua yang di panggil
bopo Sadat itu menanyakan keadaan anak angkatnya.

“Alhamdulilah sehat-sehat saja bopo, apakah ada hal penting sehingga bopo memanggil
saya?” Sahut Burhan kemudian.

“Sebenarnya ada dua hal yang ingin bopo bicarakan, pertama bagaimana persiapanmu
untuk pertunjukan kita nanti malam. Ingat, peran sebagai Ki Ageng Mangir Wonoboyo7
tidaklah gampang”. Bopo Sadat berhenti sejenak menunggu jawaban Burhan.

“Insyaallah saya sudah siap tampil sebaik mungkin, karena jauh-jauh hari sebelumnya
saya sudah banyak berlatih dan belajar dari yang lebih berpengalaman, seperti kang
Kasan dan kang Soleh”.

6
Replika gunung yang terbuat dari buah-buahan atau sayur-sayuran, biasanya dibagi dua sesi: gunungan putri
(lambang kesuburan) dan gunungan kakung (kejantanan).
7
Salah seorang tokoh perlawanan (pemimpin Tanah Perdikan Mangir) dalam era awal ekspansi Mataram, pada
mulanya adalah pendukung Senapati dalam peperangan dengan Sultan Pajang (1583), tetapi kemudian berbalik
memusuhi Senapati. Setelah penguasa Mataram itu mengangkat dirinya sebagai pewaris Sultan Pajang dan mendaku
seluruh wilayah kekuasaan pajang, termasuk Tanah Perdikan Mangir.
“Syukurlah kalau begitu, aku jadi semakin yakin kalau paguyuban Kethoprak ‘Wong
Mantingan’ akan moncer pamornya ke seluruh penjuru negeri, setelah malam ini”.
Sambil tertawa renyah, bopo Sadat menyatakan ke optimisannya. Burhan juga ikut
tertawa, “Lalu apa yang kedua, bopo?” Kali ini Burhan balik bertanya.

“Oh aku jadi lupa saking senangnya, kulihat beberapa bulan terakhir ini kamu semakin
akrab dengan Arum Sekar, putri kandung bopo satu-satunya”. Bopo Sadat menyebutkan
pertanyaannya yang kedua, “Bukan maksud bopo melarang kalian dekat-dekat, tapi ada
sedikit kekhawatiran di hatiku. Meskipun kau kuanggap anak sendiri, tapi bagaimanapun
kalian berdua bukan saudara kandung”.

“Jadi maksud bopo?” Burhan menjadi was-was.

“Katakan sejujurnya ngger, bagaimana perasaanmu kepada Arum Sekar?” Bopo Sadat
menegaskan maksudnya.

“Selama ini saya hanya menganggapnya sebagai adik saya sendiri, apalagi dia setahun
lebih muda. Dan dia selalu menghibur saya setiap kali teringat peristiwa kelam, dua tahun
yang lalu”. Sambil menjawab pertanyaan, Burhan yang bernama asli Kumuda kembali
mengingat saat-saat kumpeni meluluh-lantakkan desanya. Meskipun dia tidak bisa
mengelak, jika sebenarnya di dalam hatinya tersimpan rasa suka kepada adik angkatnya
itu.

“Aku minta maaf ngger, bukan maksud bopo menyakiti hatimu. Tapi sebagai orang yang
sudah mengecap ‘asam garam’ kehidupan, bopo bisa membaca arah dari hubungan
kalian”.

“Sepertinya saya memang tidak ahli berbohong, bopo. Saya lupa kalau ada yang lebih
ahli dalam hal asmara”. Kali ini dengan terpaksa Burhan membenarkan dugaan bopo
Sadat.

“Kalau kalian memang saling menyukai, bopo tidak bisa menghalangi, tapi saranku
tunggulah barang 2-3 tahun lagi. Kalian masih terlalu muda, tapi jangan katakan ini
kepada siapapun termasuk Arum”. Kali ini bopo Sadat, setengah berbisik memberikan
persetujuannya, “Tapi jangan tiru bopo, usia 44 tahun baru menikah. Meskipun dapat
jodoh 20 tahun lebih muda, bopo terlambat menikah”.

“Ja..jadi sebenarnya selama ini bopo mengetahui perasaan saya ke Arum dan bopo tidak
marah? Terima kasih bopo! Burhan langsung mencium punggung tangan bopo Sadat.

“Sst, jangankeras-keras nanti rencana ini ketahuan”, bopo Sadat kembali berbisik. Tanpa
sepengetahuan keduanya ada sesosok berkebaya dan berjarit coklat dengan berkerudung
merah dan berselempang kain sutra hijau, menguping di luar tenda. Tak salah lagi dia
Arum, dia mendengar semua pembicaraan ayahnya dengan Burhan dari luar tenda, dari
rona wajahnya terlihat dirinya agak tersipu-sipu. Memang selama ini keduanya saling
menyimpan rasa suka, hanya saja kurang berani mengungkapkannya.
Beberapa jam kemudian Gerbang Kraton terbuka, dan terlihat ‘gunungan’ yang di
arak keluar oleh para abdi dalem. Terlihat kerumunan orang menyongsongnya dan saling
berebutan, mengambil segala buah-buahan dan apa saja yang terdapat di gunungan itu.
Dari kejauhan Burhan hanya memicingkan mata. Dasar orang-orang payah aku tidak mau
jadi seperti mereka, katanya dalam hati. “Kakang tidak bergabung dengan mereka?
Kelihatannya mengasyikkan”. Tanpa dia sadari Arum sudah berdiri di samping kanannya.

“Buat apa? Aku malah muak dengan pemandangan ini. Keberadaan orang-orang seperti
mereka, yang memperebutkan gunungan, hanya akan mengekalkan kuasa pihak istana”.
Burhan menjelaskan alasan ketidaksetujuannya.

“Lalu, solusimu sendiri seperti apa?” Tiba-tiba seseorang menyela pembicaraan mereka.

“Oh, ternyata kang Kasan. Tertarik dengan arak-arakan gunungan mungkin, koq tiba-tiba
ikut nimbrung”. Sahut Burhan.

“Tidak juga, hanya saja aku terkesan gaya bicaramu yang seakan seperti pujangga
kenamaan”. Kasan yang baru dating menyinggung ucapan Burhan. “Apa yang kau
katakana mungkin ada benarnya, tapi kau melupakan satu hal. Arak-arakan gunungan
yang menjadi bagian perayaan Grebeg Maulid tidak bisa hanya di lihat dari segi politik
saja, seharusnya kau juga melihat dari segi budaya dan adat Jawa”.

“Adat dan budaya yang sengaja di ciptakan dinasti Mataram, untuk mengekalkan
kekuasaannya”. Burhan menimpali kata-kata Kasan, dia terlihat tidak suka dengan
penjelasan dan pendapat Kasan.

“Burhan, lama-lama aku jadi heran dengan sikapmu. Kenapa kau melihat segala hal,
secara hitam dan putih?” Kali ini Kasan kelihatan kesal, setelah kata-katanya di bantah
oleh Burhan.

“Faktanya memang seperti itu kan? Semua Raja-raja di Jawa selalu menciptakan mitos-
mitos dan dongeng-dongeng mengenai kehebatan dirinya dan di lanjutkan oleh para
keturunannya”. Burhan memulai lagi pendapatnya, “Majapahit dengan kitab Pararaton,
sedangkan Mataram Islam dengan Babad Tanah Jawa. Dan arak-arakan gunungan yang
kita lihat sekarang, adalah bagian dari mitos itu”.

“Ya mungkin saja itu benar, tapi coba lihatlah mereka semua gembira dengan perayaan
ini, tidak ada yang merasa dirugikan”. Kasan coba memberikan alasan logis.

“Itu karena mereka bodoh semua, apalagi di antara penduduk Mataram banyak yang
masih menganut ajaran kejawen yang sarat dengan kepercayaan Hindu-Buddha”. Kali ini
Burhan mengurai lebih dalam lagi, “Celakanya pihak keraton memanfaatkan kondisi ini,
dengan menciptakan konsep baru. Mereka menggabungkan sifat-sifat Raja-raja Jawa
dengan Khalifah dalam ajaran Islam. Sehingga setiap raja Mataram, sejak zaman Sultan
Agung mendapat tambahan gelar ‘Sayidin Panatagama Khalifah Tanah Jawa’. Padahal
keadaan raja Mataram Surakarta saat ini, bagaikan orang yang terikat di batang pohon
dan seseorang membidikkan senjata api ke arahnya. Pantaskah orang seperti itu mereka
puja dan hormati?!”

“Cukup Burhan…cukup, ngomongmu semakin melantur. Bisa-bisa kepalamu hilang


karenanya, ingatlah sekarang kau ada dimana?!” Kasan yang semakin kewalahan
meladeni perkataan Burhan, akhirnya memperingatkan Burhan. Karena memang pada
saat itu posisi seorang raja masih sakral, barang siapa menghinanya di ancam hukuman
mati atau penjara seumur hidup. Keduanya masih mendengus kesal, sampai terdengar
teriakan Arum memanggil mereka. “Kang Kasan, kang Burhan sarapan dulu, makanan
sudah siap!” Rupanya saat mereka berdua sibuk berdebat, Arum telah meninggalkan
mereka untuk menyiapkan makanan.

Tapi baru saja beberapa langkah menuju tenda, baik Kasan maupun Arum dan
para anggota tonil kethoprak ‘Wong Mantingan’, terkejut dengan tindakan Burhan. Dia
berlari ke arah kerumunan yang memperebutkan gunungan, menyibakkan orang-orang,
bahkan mendorong beberapa di antaranya. Setelah semua orang terpaku di depan tenda
hamper setengah jam, burhan kembali dengan membopong seorang ibu yang pingsan.
Kira-kira usianya separuh baya dengan seorang anak laki-laki kecil, usianya mungkin 6
atau 7 tahun. “Kakang, ada apa ini? Terus ibu ini kenapa?” Arum kebingungan dan terus
memburu Burhan dengan pertanyaan. “Nanti saja ku jelaskan, cepat siapkan tikar dan air
minum. Jangan lupa makanan kalau ada”. Burhan belum menjawab pertanyaan Arum,
tapi meminta tolong untuk keperluannya.

Beberapa jam kemudian. Wanita paruh baya itu yang kira-kira berusia 40-an
tahun, akhirnya siuman juga. “Burhan, ibu yang kau tolong tadi pagi sudah sadar!” Kasan
setengah berteriak memanggil Burhan. Arum menepuk pundak Kasan, sambil menegur,
“Gak perlu teriak-teriak kenapa sih kang? Temui saja langsung, tidak lihat ya Ibu ini baru
sadar”. Kasan hanya meringis dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Sementara di luar tenda Burhan sedang menghibur anak si Ibu, dengan


memperagakan wayang rumput buatannya. “Ayo Panji, kita temui ibumu?” Ajak Burhan
pada anak itu, setelah mendengar suara panggilan dari Kasan. “Ya, tunggu sebentar”.
Jawabnya, baru dia berdiri anak kecil tadi langsung berhambur ke dalam. Berlari-lari
kecil menemui ibunya, sambil berurai air mata “Ibu, maafkan aku ibu. Buah yang ibu
ambil dari gunungan tadi sudah di rebut orang”. Anak kecil itu masih terus terisak, sang
ibu dengan gerakan yang lemah mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih. “Panji,
sebaiknya kau minta Ibumu makan dulu. Kelihatannya kalian belum makan sedari pagi”.
Dengan kata-kata yang lembut Arum, meminta Ibu dan anak itu supaya mau makan.

“Walahhh…jadi lupa ini, bukankah kita tadi sebenarnya mau sarapan”. Kata-kata Kasan
yang sedikit kocak, di sambut tawa semua penghuni tenda itu. Mau tak mau Ibu dan anak
itu juga ikut tertawa, tapi kemudian ibu itu batuk-batuk dan anaknya segera meminumkan
segelas air segar pada ibunya.
Mereka semua segera menuju bilik khusus di tenda itu, yang cukup luas untuk
makan. Ibu itu dituntun anaknya dan Arum menuju tempat makan. Tenda ini cukup luas,
di dalamnya diberi sekat-sekat dari kain yang membaginya menjadi empat. Sebuah ruang
khusus untuk bopo Sadat, pemimpin rombongan. Sebuah bilik lagi khusus untuk para
lelaki dan, sebuah lagi untuk ruang pertemuan juga untuk makan. Setelah makan, semua
pandangan tertuju ke ibu dan anak itu. Si ibu makan sedikit saja, ia justeru lebih banyak
menyuapi sang anak lelaki. Sementara itu suara berdehem terdengar, bopo Sadat baru
keluar dari biliknya kelihatannya ia baru selesai sholat dhuhur. “Wah-wah, banyak sekali
makanannya, ayam bakar, saur bobor, trancam, bubur kacang ijo, kolak pisang, lepet. Eh,
sebentar ada tamu rupanya, maaf nyai berdua ini siapa?” Dengan ramah bopo Sadat
bertanya ke Ibu dan anak itu, belum sampai si Ibu menjawab sudah di dahului oleh
Burhan “Mereka berdua yang aku tolong tadi pagi bopo, Nyai Wignyo dan putranya Panji
Wicaksono. Jauh-jauh kesini untuk mengikuti prosesi gunungan, tapi mereka hampir
terinjak-injak orang”.

“Panji, kenapa kau menceritakan pada orang asing darimana kita berasal?” Tanya si Ibu
ke anaknya, sambil sedikit mendelik.

“Bu, kakak itu baik sekali memberikan mainan ini”. Sang anak seolah tidak tahu
kekhawatiran Ibunya, malah menunjukkan dua buah wayang rumput buatan Burhan.

“Maafkan aku nyi, aku hanya trenyuh melhat peristiwa tadi pagi. Entah apa yang tetjadi
kalau aku tidak cepat bertindak, sedangkan wayang rumput ini sengaja kuberikan biar
Panji senang dan mau menceritakan kondisi kalian”. Tapi mungkin Nyai sendiri sudi
menjelaskan, tentang keluarga Nyai dan maksud sebenarnya dating ke Surakarta”.

“Baiklah, terima kasih atas bantuanmu anak muda dan juga kalian semua. Semoga
mendapat balasan yang lebih baik”. Nyi Wignyo kemudian menjelaskan siapa dirinya.
Beberapa tahun yang lalu saat terjadi ‘Geger Pecinan’, putra sulung Ki Wignyo dan Nyai
Wignyo adalah prajurit Mataram yang berpihak ke Mas Garendi. Dalam pertempuran di
Mandaliko, pesisir utara Jawa putranya beserta sejumlah besar pengikut Mas Garendi dan
juga orang-orang cina di bantai oleh pasukan gabungan Pakubuwono II dan kumpeni
(VOC). Setahun kemudian musibah turut menimpa keluarganya, suaminya yang juga
Jagabaya di sebuah kademangan, Nangka Jajar di kadipaten Banyumas difitnah orang.
Sepasukan dari Surakarta menangkapnya dan juga teman-teman dekatnya, mereka
dituduh telibat dalam pemberontakan Mas Garendi. Bahkan beberapa teman suaminya
yang memberikan perlawanan, karena merasa tidak bersalah di tembak mati oleh
kumpeni, yang juga menjadi bagian dari pasukan Surakarta. Tidak hanya itu saja, tiga
orang anak gadisnya yang salah seorang dari mereka seumuran Arum juga ditangkap dan
dibawa ke Surakarta. Tanahnya dirampas paksa oleh orang-orang yang memfitnah
suaminya, yang tak lain adalah Ki Demang sendiri dan komplotannya. Lalu dia
bermaksud menemui Pakubuwono II, untuk minta keadilan. Untuk membiayai perjalanan
ke Kotaraja, Nyi Wignyo terpaksa menjual rumah milik suaminya. Sampai dirinya nekad
berebut di arak-arakan gunungan ini, adalah agar mendapat ‘berkah’ supaya
keinginannya menemui Sunan Pakubuwono II terkabul. Sebagian yang hadir di ruang itu
sampai menitikkan air mata, bahkan bopo Sadat juga ikut larut.

“Jangan khawatir Nyi akan kubantu keinginanmu bertemu Susuhunan, kalian semua
dalam pertunjukan nanti malam aku mohon kerjasamanya. Bopo Sadat, Arum dan kakang
Kasan, kalian bertiga berperan sebagai Juru Mertani, putri Pembayun dan Senapati
Ingalaga. Sekali lagi aku minta bantuannya. Hanya dengan tampil bagus di pertunjukan di
alun-alun Surakarta, kita bisa menemui Susuhunan Pakubuwono II!”

Dengan berapi-api Burhan menjelaskan rencananya. Dengan serentak para para


anggota kethoprak Wong Mantingan, berseru mendukungnya. “Bagus ngger, kau
memiliki ide yang cerdas. Bukankah nanti malam Susuhunan Pakubuwono II, juga
menonton langsung pertunjukan kita, lagipula beliau seorang pecinta seni”. Bopo Sadat
mendukung sekali tindakan Burhan. “Menurut kabar yang kudengar dari orang-orang di
pasar pagi tadi, beliau akan di dampingi Patih Pringgoloyo dan Pangeran Mangkubumi.
Kalau nasib kita baik mungkin saja pangeran itu, akan mengetahui maksud kita dan
menyampaikannya ke Susuhunan”. Seorang anggota yang selama ini jarang berbicara,
Mat Sholeh turut memberikan info yang penting. “Ada baiknya kita segera menyiapkan
diri, Arum ikut denganku sebentar”. Burhan kemudian mengajak Arum keluar, sepertinya
ada hal penting yang mau di bicarakan. Pandangan semua anggota kethoprak yang lain
mengiringi langkah mereka berdua.

***

Ba’da ‘isya’ waktu yang di tunggu-tunggu oleh seluruh warga kota Surakarta.
Pertunjukan kethoprak dengan lakon “KI Ageng Mangir Wonoboyo” baru dimulai, layar
diatas panggung terbuka dan Nampak adegan pertempuran sengit. Babak ini
menceritakan pertempuran antara pasukan Mataram dengan pasukan Tanah Perdikan
Mangir, yang dipimpin langsung oleh Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Terlihat dalam
bagian ini Ki Ageng Mangir, yang diperankan oleh Bagus Burhan alias Kumuda dengan
tangkas bertempur, tak terhitung sudah prajurit Mataram yang tewas di ujung tombak
Kyai Baru Klinting-nya. Applaus penonton menyambut penampilan Burhan sebagai
Mangir Wonoboyo. Cerita berlanjut ke adegan berikut, saat Panembahan Senapati
menerima saran patihnya, Ki Juru Mertani atau Ki Mandaraka. Bagian paling
mengharukan adalah ketika, Ki Ageng Mangir bertemu dengan Putri Pembayun yang
menyamar sebagai penari tayub keliling. Setiap adegan dari tiap babak, dirankan para
aktornya dengan penuh penjiwaan, sorak-sorai dan tepukan tangan penonton selalu
menyertai penampilan mereka. Tibalah sekarang adegan terakhir, yaitu saat Panembahan
Senapati membunuh menantunya sendiri Mangir Wonoboyo, dengan membenturkan
kepalanya ke pegangan dampar kencana. Tepuk tangan penonton kembali membahana di
seluruh alun-alun, Susuhunan Pakubuwono II terlihat puas. Tiba-tiba adegan yang
mengejutkan semua orang muncul, karena tokoh ini tidak ada sedari awal cerita. Muncul
seorang ibu separuh baya yang menuntun anak laki-lakinya, menghampiri Putri
Pembayun yang meratapi kematian tragis suaminya. “Hentikan tangisanmu tuan putri,
tidak akan merubah keadaan. Sebaiknya didiklah anakmu supaya menjadi ksatria yang
jujur dan berwibawa, untuk itu ikutlah bersamaku. Aku tinggal di lereng bukit di wilayah
Banyumas, sangat tepat untuk membesarkan anakmu”. Selanjutnya mengejutkan sekali
adegan diatas panggung, sang Putri tiba-tiba bangkit dan mengikuti langkah sang Ibu
misterius. Masih belum hilang keterkejutan penonton, wanita paruh baya itu berbalik kea
rah Panembahan Senapati, masih dalam keadaan menunduk “Wahai junjungan kami,
inikah yang menjadi keinginanmu? Melenyapkan nyawa setiap orang, baik itu lawanmu
ataupun pendukungmu sendiri? Hidup hanya sebentar yang mulia Panembahan, berlaku
adilah dan perhatikan kesejahteraan rakyatmu!” Selesai wanita itumengucapkan kata-
katanya, layar ditutup. Semua yang hadir disana terdiam, mengingat adegan terakhir tadi
secara tidak langsung telah menyinggung Sinuhun Pakubuwono II. Sampai akhirnya
Sinuhun Pakubuwono II bertepuk tangan, semua orang yang tadi terdiam akhirnya juga
ikut bertepuk tangan.

“Sinuhun, mereka telah lancang merusak pakem cerita dan secara tak langsung telah
menghina istana..”. Belum sempat Patih Pringgoloyo menyelesaikan kata-katanya,
Pangeran Mangkubumi memotongnya, “Kalau pendapat hamba pertunjukan tadi bagus
sekali, kakanda Susuhunan”. Kemudian lanjutnya “Sindiran atau satire dalam seni
kasusastran maupun drama adalah wajar, sebagaimana Reog Ponorogo diciptakan sebagai
sindiran terhadap Prabhu majapahit”. Mendengar kata-kata adiknya, Pakubuwono II pun
mengangguk-angguk “Aku sepakat dengan pendapatmu, dimas pangeran”. Terlihat raja
Mataram itu justeru menyukai pertunjukan tadi, “Sarayuda kemarilah”. Susuhunan
kemudian memanggil ajudannya, “Hamba yang mulia, apapun yang paduka perkenankan
hamba siap melaksanakan!” Dengan cepat dan sigap Tumenggung Sarayuda memenuhi
panggilan sang raja. “Pergilah ke tempat tonil yang tampil tadi, suruh mereka menghadap
besok pagi di paseban agung di pendopo. Jangan lupa bawakan beberapa lembar pakaian
dan kain batik buatan keraton, supaya pasowanan besok lebih terlihat meriah”. Dengan
rinci sang raja Mataram itu member perintah. “Sendika dawuh,8 kanjeng Susuhunan”.
Tak berapa lama kemudian, Tumenggung Sarayuda segera beranjak dari tempatnya untuk
melaksanakan perintah junjungannya.

***

Hari masih pagi, sebagian orang masih terlelap tidur. Kota Surakarta masih sepi,
meskipun mulai terlihat obor-obor berjalan dari para pedagang yang mulai membuka
dagangannya. Sayup-sayup terdengar suara adzan dari Masjid Agung, beberapa saat
kemudian beberapa barisan bermunculan dari segala penjuru menuju Masjid Agung,
beberapa orang juga keluar dari tenda tonil Kethoprak Wong Mantingan. Mereka adalah
Ki Sadat, Kasan, Sholeh dan Bagus Burhan. Keempatnya mulai berjalan menuju suara
adzan, “Sudah kau bangunkan yang lainnya untuk menjaga tempat ini, selagi kita sholat
subuh”. Ki Sadat bertanya kepada Kasan, “Sudah bopo, barusan Handoko dan Bramanti

8
Siap laksanakan!
kubangunkan, saat aku keluar mereka sedang cuci muka. Tapi aku sudah berpesan supaya
mereka menjaga tempat ini”. Sambil berkata, keempatnya terus berjalan.

Masjid Agung Surakarta berdiri hampir bersamaan, dengan dibangunnya keraton


Kasunanan. Ketika pembangunan keraton Kasunanan dan Masjid Agung rampung,
Susuhunan Pakubuwono II telah menunjuk Imam-khatib untuk Masjid Agung Surakarta.
Memang sejak era Sultan Agung Hanyokrokusumo, tepatnya sekitar 1630-an, pasca
penaklukan Giri kedaton, Sultan tidak hanya ‘merampas’ gelar Sunan tetapi juga
menunjuk ‘Yogosworo’ (penghulu/imam-khatib resmi dari keraton), di seluruh wilayah
Mataram. Penguasa manapun dari era apapun selalu membutuhkan kaum agamawan,
untuk mengokohkan legitimasinya. Sebenarnya ini adalah penyingkiran secara halus
terhadap kaum ulama, dari lingkaran kekuasaan. Demikian pula keadaan di dalam masjid
ketika jama’ah sholat subuh saat ini, hanya ada tiga shaf jama’ah yang meramaikan
masjid. Seolah menjadi pertanda bagi kemunduran Mataram, yang segaris lurus dengan
menurunnya rasa keagamaan masyarakatnya. Tidak terasa sholat jama’ah subuh yang
cukup khusyu’ itu selesai, bacaan ayat suci sang Imam sangat menghanyutkan jama’ah
dan mereka baru tersadar ketika Imam mengucapkan salam.

Satu persatu jama’ah segera meninggalkan masjid, seusai dzikir. Tapi Burhan
masih terlihat bersujud, meskipun ayah angkat dan saudara-saudara angkatnya telah
selesai duluan. Sampai akhirnya hanya tinggal dia dan sang Imam yang masih terus
berdzikir, sesekali sang Imam menengok, cukup heran dengan sujudnya penuda itu.
Kemudian diapun segera menyelesaikan dzikirnya dan menghampiri Burhan,
“Assalamu’alaikum, apa andika baru kali ini di Surakarta?”

“Wa’alaikum salam warahmatullah, benar Kyai”. Sambil menjawab salam, Burhan alias
Kumuda bangkit dari sujudnya. “Saya anggota tonil ‘Wong Mantingan’, yang tampil
sebagi tokoh utama di pertunjukan tadi malam di alun-alun”.

“Masya Allah jadi andika yang berperan sebagai Mangir Wonoboyo? Sayang sekali saya
hanya mendengar dari cerita warga, tadi malam di Masjid acaranya cukup padat”.
Kumuda hanya tersenyum mendengarnya.

“Sepertinya nakmas sedang dalam masalah?”

“Kurang lebih begitu Kyai, beberapa waktu lalu desa kami diserang perampok, mereka
menjarah semuanya dan hanya meninggalkan puing-puing dan anak-anak muda yang
menjadi yatim”. Dengan pelan tapi pasti, Kumuda alias Burhan menceritakan kisahnya.
“Sampai akhirnya saya menemukan keluarga baru di tonil ini”.

“Aku turut prihatin dengan keadaanmu, memang pada masa-masa kacau sekarang ini
setiap orang menjadi serigala bagi yang lain. Perampok dan begal di mana-mana, wibawa
pasukan kerajaan turun semenjak peristiwa ‘Geger Pecinan’”. Sejenak sang Imam
mengkaitkan kondisi terakhir Surakarta.
“Sebenarnya Susuhunan yang paling layak dipersalahkan, beliau menukar wilayah luas di
pesisir hanya demi sebuah tahta. Mungkin saat ini sultan Agung Hanyokrokusumo
meratapi nasib kerajaannya, dari alam sana”.

“Nampaknya nakmas, cukup ahli di bidang pemerintahan. Maaf nama nakmas siapa?
Saya Syeih Ngerum, saya berasal dari negeri Rum9 sebelah utara Damsyik dan sudah 10
tahun tinggal di tanah Jawa.”

“Seharusnya saya yang minta maaf Kyai, panggil saja Burhan. Bagus Burhan, tempat
tinggal saya berpindah-pindah, mengikuti tonil ini”. Kumuda memperkenalkan nama
barunya, yang menjadi identitasnya dua tahun terakhir. “Maaf Kyai saya mohon diri dulu.
Soalnya kami harus menuju Banyumas pagi ini, assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikum salam, hati-hati nakmas kalau lain kali ke Surakarta lagi tolong sempatkan
silaturrahim kesini!” Dia bisa menjadi tulang punggung perjuangan Mas Said dan
Pangeran Mangkubumi. Syaikh Ngerum berkata dalam hati.

Paseban Agung Keraton Surakarta

9
Nama kuno untuk Konya, salah satu kota di Anatolia (Turki sekarang).
Pagi hari itu ketika matahari naik sepenggalah, paseban agung keraton Surakarta
sudah penuh dengan orang. Karena pada hari ini selain acara sungkeman dari para
kerabat keraton, juga pemberian gelar dari kanjeng Susuhunan Pakubuwono II kepada
orang-orang yang di anggap berjasa. Dan juga pemberian gelar formal bagi para
kemenakan Susuhunan, yang sudah beranjak remaja. Semua orang hadir di tempat ini
dalam posisi duduk di lantai, hanya Susuhunan yang duduk di dampar kencana. Jumlah
orang yang berada di dalam paseban sekitar seratus orang, termasuk Susuhunan sendiri.
Tampak di barisan belakang empat orang anggota tonil Mantingan, Ki Sadat, Kasan,
Sholeh dan Bagus Burhan. Satu-persatu maju ke muka dan mencium lutut sang raja,
sampai akhirnya tiba giliran Bagus Burhan, sama seperti yang lain dia berjalan jongkok.
Namun dia berhenti, ketika berjarak tiga depa dari dampar kencana. “Ada apa anak muda,
kenapa tidak kau lanjutkan langkahmu?” Kanjeng Susuhunan cukup heran dengan
tindakan Burhan, demikian juga semua orang merasa heran.

“Beribu-ribu maaf kanjeng sinuhun, jika diperkenankan hamba yang hina ini memiliki
sebuah permintaan!”

“Lancang sekali, kau hanya seorang pemain tonil anak muda. Bisa bertemu dengan
kanjeng Sinuhun saja, kau seharusnya sudah bersyukur!” Terdengar suara mengguntur
Patih Dalem, Pringgoloyo. Menimpali perkataan Bagus Burhan.

“Mendekatlah anak muda, sebutkan apa keinginanmu?” Dengan berwibawa kanjeng


Susuhunan menjawab pertanyaan Burhan. Kemudian Bagus Burhan kembali berjalan
jongkok. Sementara terdengar bisik-bisik dari kerabat Keraton, bahwa sebelum berkata
tadi kanjeng Sinuhun mendapat saran dari Pangeran Mangkubumi. Perhatian mereka
kembali teralih ke Burhan.

“Permintaan hamba sudilah kiranya, kanjeng Sinuhun membebaskan seorang Jagabaya


dari Banyumas, Ki Wignyo yang ditangkap pasukan kerajaan beberapa bulan lalu”.
Burhan menyebutkan permintaannya, tepat pada jarak satu depa dari Susuhunan. Sang
raja berpikir sejenak, sambil mendengarkan saran dari adiknya, Pangeran Mangkubumi
dan Patih Dalem Pringgoloyo. Sesekali Pakubuwono II coba melihat wajah Bagus
Burhan, yang sepintas mirip dengannya ketika masih muda. “Coba sekarang angkat
wajahmu dan sebutkan bila ada permintaan lagi”. Kembali terdengar suara kanjeng
Susuhunan menggema di ruangan.

“Hamba juga mohon kebebasan tiga putri beliau, beserta warga desa lainnya. Selain itu
hamba mohon kasus di desa Nangka Jajar di periksa ulang”.

“Maaf anak muda, Ki Wignyo meninggal seminggu setelah di tahan. Dia menolak makan
dan minum, sehingga kondisinya melemah”. Kali ini Pringgoloyo yang angkat bicara
mewakili Sinuhun.
“Mengenai ketiga putrid Ki Wignyo, hari ini juga mereka bisa pulang. Selama ini mereka
menjadi pelayan di keraton, berkat jaminan dimas mangkubumi”. Kembali kanjeng
Susuhunan berbicara, warga desa yang lain juga akan di bebaskan, dan bila bersedia kau
kuangkat menjadi Demang sementara di desa itu. Berkenaan dengan hal itu aku
menyertakan Sarayuda bersamamu, dan menginaplah barang sehari di istana, sebab aku
juga akan menitipkan surat untuk Bupati Banyumas kepadamu. “Kata-kata kanjeng
Susuhunan membuat semua yang hadir terkejut, jarang sekali raja mereka bertindak
seperti ini.

Tak lama kemudian Susuhunan Pakubuwono II memerintahkan penjaga penjara,


melalui Sarayuda membebaskan watga desa dari banyumas. Pada hari itu juga, ketika hari
mulai siang tonil ‘Wong Mantingan’ bergerak dalam rombongan yang cukup besar,
meninggalkan Surakarta. Bersama mereka turut serta 20 orang warga desa Nangka Jajar,
Banyumas. Total 49 orang di dalam rombongan, tapi tidak terlihat Bagus Burhan, dia
masih di keraton Surakarta. Sebagai wujud penghargaan dari kanjeng Susuhunan,
disebabkan perannya yang memikat sebagi Mangir Wonoboyo dan keberaniannya dalam
berpendapat. Rombongan itu sudah meninggalkan perbatasan Kotaraja setelah senja hari,
lima buah pedati itu kini memasuki Monconegoro Kulon.10 Tiga buah pedati adalah
hadiah dari Pangeran Mangkubumi, lengkap dengan lembu penariknya.

Sementara malam hari itu di Surakarta. Di barak prajurit keraton tampak Bagus
Burhan mengamati gladi perang, dari luar bilik tempatnya menginap. Terlihat Sarayuda,
ajudan kanjeng Susuhunan menjadi salah satu instruktur prajurit, sesekali membenarkan
kuda-kuda para prajurit. Gladi perang itu terbagi dalam beberapa regu, Sarayuda menjadi
instruktur regu yang berlatih dasar-dasar beladiri tangan kosong. Sedangkan regu yang
lain berlatih tombak, pedang dan panah, sebuah regu yang lain berlatih menembakkan
bedil di damping seorang instruktur kumpeni. “Mereka tampak kokoh dan kuat secara
jasmaniah, tapi jiwa dan hatinya lemah”. Burhan berkata pada dirinya sendiri . “Burhan
kemarilah, akan ku ajarkan beberapa gerakan!” Teriak Sarayuda dari kejauhan. Burhan
pun mengikuti ajakannya. Kemudian dalam sesi singkat, Sarayuda mengajarkan langsung
beberapa teknik pukulan, tendangan, tangkisan, kuncian dan bantingan kepada Bagus
Burhan. Ternyata Burhan cepat beradaptasi, beberapa kali dia mampu menjatuhkan
Sarayuda dan prajurit lainnya dalam permainan bantingan, meskipun dia juga sempat
beberapa kali dijatuhkan. Setelah merasa lelah regu yang dilatih Sarayuda dan regu-regu
lainnya beristirahat, sambil santap malam.

“Burhan tubuhmu sempurna, sebenarnya kau lebih pantas menjadi prajurit daripada
pemain tonil kethoprak!” sahut Sarayuda memuji Burhan, sembari menyuapkan nasi
pecel lele ke mulutnya dengan tangan.

10
Salah satu wilayah dalam sistem administrasi Mataram, Monconegoro adalah wilayah luaran. Karena berada di
luar Kutagara (Ibukota) dan Negaragung (wilayah di sekitar kutagara dan tunduk langsung ke Sultan/Sunan),
Monconegoro dipimpin oleh seorang Bupati Wedana (mirip gubernur sekarang), yang menjadi koordinator para
bupati dan sekaligus penghubung mereka dengan Sultan/Sunan di Kutagara. Pada masa itu (1745-49) Monconegoro
dibagi dua; Kulon (Jawa Tengah) dan Wetan (Jawa Timur).
“Sampeyan terlalu memuji, saya tidak ada bakat untuk itu, lagipula menjadi pemain tonil
kethoprak sudah menjadi garis takdir saya”. Tukas Burhan.

“Jangan merendah begitu, yang tadi itu apa. Kau beradaptasi dengan cepat dalam teknik
dasar beladiri, apa kau pernah berlatih sebelumnya?”

“Tidak juga, kalau pun latihan aku hanya berlari mengelilingi desa tiap pagi. Sehari-hari
membantu bopo ku di sawah dan menimba air dari sumur untuk mengisi blandong”.

Jawab Burhan.

“Bagiku itu sama dengan latihan. Tepatnya secara fisik kau terasah dengan alami, tenaga
luarmu sudah terlatih secara langsung. Tinggal tenaga dalammu yang perlu di
bangkitkan”. Kini Sarayuda telah menyelesaikan makannya.

“Sayangnya aku tidak suka kekerasan, karena itu tidak terlalu tertarik beladiri. Sejak kecil
aku ingin menjadi dalang, bahkan aku sendiri membuat wayang dari rumput”, sambil
berkata demikian, Burhan menunjukkan wayang ciptaannya. Ada lima belas buah di
kotak simpanannya. Semua terlihat sama.

“Semuanya sama, bagaimana semisalnya membedakan antara Cakil dan Bambang. Atau
Srikandi dan Drupadi”. Sarayuda mengungkapkan keherananya.

“Begini caranya”, Burhan langsung memperagakan adegan Bambangan-Cakil dengan


singkat. Semua mata terlihat takjub dengan pertunjukan Burhan, puluhan tepuk tangan
terdengar. “Intinya tergantung pada imajinasi kita, ini bisa menjadi Cakil maupun
Bambang. Sebenarnya ayah kandungku yang lebih tahu hal ini”. Dengan bangga Burhan
menjelaskannya.

“Menarik sekali, mungkin lain kali aku bisa bertemu beliau?”

“Sayang sekali beliau meninggal dua tahun lalu, saat desa kami disatroni perampok”.
Burhan berusaha menyamarkan musibah yang pernah dialaminya, untuk menutup
identitas.

“Maafkan aku Burhan, aku sama sekali tidak mengetahui hal itu”. Kemudian untuk
mencairkan suasana kembali, Sarayuda memanggil salah seorang prajurit di bilik itu.

“Suwela, bawa kemari ubi talasnya! Beginilah tabiat kami prajurit penjaga kraton,
banyak berlatih dan banyak makan”. Suasana mencair kembali.

Malam itu suasana cukup akrab antara para prajurit Prawirataman, dengan Bagus
Burhan. Saat tengah malam Burhan tertidur, sebaliknya Sarayuda dan 40 orang
pasukannya berjaga di sekitar taman keputren. Keraton dijaga sekitar 320-an prajurit di
setiap sepertiga hari, secara total ada kurang lebih seribu prajurit, yang di pecah menjadi
tiga kelompok. Kelompok pertama berjaga dari tengah malam hingga terbit fajar,
kelompok kedua berjaga mulai dari terbit fajar hingga mendekati senja, kelompok ketiga
mulai berjaga dari senja hingga tengah malam. Itu belum termasuk para prajurit yang
tinggal di luar keraton, yang bermukim di kampung-kampung sekitar keraton. Bila
waktunya tiba ribuan orang siap berkumpul memenuhi tugas, dengan senjata lengkap.
Tapi hal ini tidak dapat menyamai kebesaran dan ketangguhan kota Karta (kota Gede
sekarang), di zaman Sultan Agung Hanyokrokusumo. Kemegahan Surakarta’ternodai’
oleh keberadaan benteng VOC di luar keraton, di setiap sisi benteng VOC itu dipasang
meriam dengan 200 serdadu eropa dan pribumi. Kerajaan ini benar-benar telah di awasi
dari luar dan dalam. Pengaruh asing setiap hari semakin bertambah kuat saja.

Mandat Dari Kanjeng Sunan Pakubuwono II


Pagi ini Burhan kembali menghadap kanjeng susuhunan pakubuwono II, dengan
di damping Tumenggung Sarayuda. Kanjeng Susuhunan duduk di dampar kencana,
sementara di samping kiri dan kanannya duduk, Patih Pringgoloyo dan Pangeran
Mangkubumi. Baik Sarayuda maupun Burhan masing-masing member salam ke kanjeng
Susuhunan, lalu baru duduk bersila setelah dipersilakan.

“Bagaimana keadaanmu Burhan? Jika ada yang kurang berkenan dari Sarayuda, kau bisa
menyampaikannya padaku sekarang”. Susuhunan Pakubuwono II mulai membuka
pembicaraan.

“Beribu-ribu terima kasih yang mulia, hamba tidak kurang suatu apa pun. Dari
Tumenggung Sarayuda saya telah belajar banyak hal, kemarin malam”. Jawab Burhan.

“Burhan, seperti yang kujanjikan padamu kemarin. Hari ini juga kau kuberi mandate
menjadi demang sementara di Banyumas Selatan, tepatnya di Desa Nangka Jajar. Untuk
tugas ini temuilah dulu bupati Banyumas dan berikan ini padanya”. Sambil menjelaskan
tugas yang diberikan, kanjeng Susuhunan memberikan sebuah nawala kepada Burhan.
Dan Burhan pun beringsut maju untuk menerimanya. “Dan kau Sarayuda, tugasmu
menjaga keselamatan bagus Burhan selama di perjalanan. Selanjutnya aku mengharapkan
kalian bisa bekerjasama”.

“Kami sanggup melaksanakan perintah anda yang mulia”. Jawab Sarayuda dan Burhan
hampir bersamaan. Meskipun mungkin alasan kepatuhan mereka, masing-masing tidak
sama.

***

Beberapa saat kemudian mereka sudah berada dalam perjalanan. Sesuai dengan
pesan kanjeng Susuhunan, maka Burhan dan tumenggung Sarayuda beserta 10 orang
prajuritnya, menyamar sebagai rombongan pedagang. Ini demi kelancaran tugas untuk
mencegah hal-hal yang tak di inginkan, karena jika berpakaian resmi dikhawatirkan
terlalu mencolok dan nantinya malah membocorkan rencana yang sudah tersusun rapi.
Sekilas penampilan mereka memang tak ubahnya seperti pedagang, hanya saja cirri khas
mereka dengan baju batik lengan panjang bercorak wulung dan kain lurik yang di ikatkan
di pinggang, memang mencirikan mereka dari Kotaraja Surakarta. Agar lebih mirip
seperti rombongan pedagang, Sarayuda dan enam orang prajurit lainnya mengendarai
kuda, sedangkan Bagus Burhan beserta empat orang prajurit sisanya berada di dalam
pedati yang seolah-olah berisi banyak barang. Kali ini Bagus Burhan berperan sebagai
ketua rombongan pedagang, empat orang prajurit di dalam pedati sebagai pembantunya,
sedangkan Sarayuda dan enam prajurit yang berkuda menjadi pengawal-pengawalnya.
Setelah satu hari perjalanan yang melelahkan, rombongan itu baru sampai di lereng
Gunung Merapi. “Maaf, kisanak apa di desa ini ada sebuah penginapan?” Sarayuda
mencoba bertanya dengan ramah ke salah satu penduduk.
“Sebaiknya kalian terus lanjutkan perjalanan, disini terlalu berbahaya bagi para pedagang
seperti kalian”. Tanpa banyak berkata orang itu langsung pergi.

“Aneh, biasanya orang-orang di pegunungan sangat bersahabat”. Sahut salah seorang


prajurit yang kini menyamar sebagai pengawal pedagang.

“Tapi nampaknya kita harus segera menemukan tempat menginap kakang, hari sudah
semakin larut dan hewan-hewan tunggangan sudah kelelahan, kita pun juga lelah”.
Sarayuda dan yang lain mengangguk-angguk. Kalaupun tidak ada penginapan, mereka
masih bisa mendirikan tenda. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan, setelah sekitar
seratus meter berjalan, sebuah suara menghentikan mereka. “Tunggu kisanak, jika tidak
keberatan menginaplah barang semalam, kalian sudah terlihat cukup kelelahan”. Seorang
pria paruh baya muncul di pelataran rumah yang cukup luas, malahan lebih mewah
dibandingkan rumah-rumah di sekitarnya. “Bagaimana den Bagus?” Sarayuda bertanya
ke Burhan, “Baiklah, kita menginap di sini”. Jawaban itu di ikuti dengan turunnya
Sarayuda dan enam orang temannya dari punggung kuda, lalu menuntun kuda masing-
masing ke pekarangan dan menambatnya di tempat yang di sediakan. Sedangkan pedati
tempat Burhan dan empat prajurit yang menyamar, masing-masing sebagai kusir, wakil
rombongan dan dua pelayan, juga memasuki pekarangan. Lalu berhenti di dekat kuda-
kuda yang di tambat. Seperti sudah disiapkan sebelumnya, jongos rumah itu langsung
mengisi wadah makan dan minum hewan kemudian memberikannya kepada kuda-kuda
yang di tambat. Tak ketinggalan, lembu penarik pedati juga mendapat jatah makan dan
minum.

“Silakan masuk ki sanak, jangan sungkan-sungkan anggap saja rumah sendiri”. Ujar pria
paruh baya itu dengan sikapnya yang ramah, atau bisa dikatakan terlalu ramah. Pria paruh
baya itu kemudian mempersilakn mereka ke ruang makan, setelah beramah-tamah di
kampong. Ki Dharmo nama yang diperkenalkan pria itu, seperti memiliki keramahan
yang di luar batas dan di sela-sela makan dia masih sempat melucu. “Begitulah akhir
cerita kancil, untuk kesekian kalinya dia lolos dari bahaya, dengan mengakali puluhan
buaya di bengawan…”. Di sambut gelak tawa orang-orang di ruangan itu. Tapi Sarayuda
terlihat kurang antusias, “Maaf ki, pakiwan di sebelah mana? Saya sudah menahan dari
tadi:. Dia beralasan ingin ke belakang, sebenarnya lebih bermaksud memeriksa keanehan
di sekitar rumah. “Parmin, tolong antarkan kisanak ini ke belakang”.

“Mari kisanak, saya antarkan”. Sahut orang yang di suruh.

“Saya ijin sebentar den mas”. Kata Sarayuda ke Burhan, sambil memberikan isyarat
mata. Ketika berjalan di belakang jongos itu, Sarayuda mengamati hal-hal di sekitarnya
yang mungkin mencurigakan. Di dalam pakiwan, tepatnya di dalam kamar mandi
Sarayuda pura-pura buamg air. Sementara dengan pendengaran tajam seorang prajurit
terlatih, apalagi pengalamannya bertahun-tahun mengawal raja Mataram, ia dengan jelas
mendengar bisik-bisik orang. “Sst..jangan keras-keras, katakan ke Jalak Seta kali ini yang
singgah ada 12 orang, 7 orang berkuda dan 5 orang di dalam pedati”. Sepertinya suara
jongos itu, “Baik akan ku sampaikan, aku akan kembali tengah malam nanti bersama
kakang Gagak Ireng, lebih baik kalau mereka tidur kekenyangan”. Lalu orang itu
langsung pergi dengan melompati dinding, bagai seekor kera. Sementara itu di dalam
kamar mandi Sarayuda berkata dalam hati, “Celaka, pemilik rumah ini berkomplot
dengan perampok, akan kuberitahu ke yang lain”. Di luar kamar mandi si jongos sudah
pergi, setelah menyampaikan pesan ke penghubung Jalak Seta.

Sejurus kemudian Sarayuda sudah kembali ke ruang makan. Tapi dia tidak
melihat Ki Dharmo disini, “Kemana perginya tuan rumah?” Dia bertanya kepada Burhan,
“Tadi dia ijin sebentar, katanya ada ‘garangan’11 yang berkeliaran di sekitar rumahnya”.
Yang lain hanya mengangguk-angguk, “Pantas, aku tadi melihat ada garangan besar
meloncati tembok belakang rumah ini”. Sambil mengucapkan itu, Sarayuda mengambil
sesuatu dari kantungnya di pinggang, kemudian meletakkannya di meja. Enam butir
benda hitam kecil bulat, lau dia mengambil pisau kecil yang terselip di pinggangnya dan
memotong masing-masing menjadi dua. “Masing-masing ambil satu dan langsung telan,
tidak apa-apa hanya untuk menetralisir yang barusan kita makan”. Tanpak kemudian
masing-masing melakukan perintahnya, kelihatannya mereka mulai waspada ada
kemungkinan makanan atau minuman yang dimakan mengandung racun. Meskipun
Burhan belum begitu paham maksud dari Sarayuda, tapi dia juga ikut menelan pil itu. Dia
percaya sepenuhnya kepada Sarayuda, seorang prajurit yang berpengalaman.

Beberapa saat kemudian muncul jongos, yang mengantarkan mereka ke ruang


istirahat. Tepatnya di bilik yang cukup luas dan hanya diterangi sebuah lentera yang
bercahaya remang-remang, sama luasnya dengan salah satu bilik di barak pasukan
Surakarta, mampu memuat sekitar 40 orang. Kebanyakan dari mereka segera merebahkan
diri, kecuali Sarayuda dan Burhan yang masih duduk dan merenung. “Belum ngantuk
kakang?” Kata Burhan ke Sarayuda, “Belum den mas, jika sudah mengantuk duluan saja
tidur. Keamanan tempat ini serahkan padaku”. Jawab Sarayuda. “Baiklah, aku duluan
tidur kakang”. Burhan kemudian merebahkan dirinya di atas tikar pandan, seperti sepuluh
orang lainnya. Tampaknya aku harus segera merebahkan diri dan pura-pura tidur, untuk
mengelabuhi orang yang mengawasiku. Sarayuda pun segera merebahkan diri dan pura-
pura tidur. Setelah kurang lebih dua jam berselang, jongos yang sedari tadi megawasi
mereka menggumam lirih, “Bagus sekali, mereka sudah tertidur kelelahan. Saatnya
kuberitahu yang lain”. Dia segera ke halaman rumah, lalu melepaskan panah sendaren12
ke arah langit.

Sementara itu di bukit kecil yang hanya berjarak 200 meter dari rumah itu,
tampak sekitar 20 orang berpakaian hitam dan bercadar. Berbagai macam senjata tajam di
tangan mereka, 2 diantaranya berada di atas punggung kuda. “Saatnya kita bergerak
sekarang, sudah ada tanda dari pelayan Ki Dharma!” Sahut yang lebih muda dari
keduanya. “Jangan dulu Gagak Ireng, sebaiknya perintahkan dulu Wanara dan enam

11
Sejenis musang, disini sebagai kata sandi.
12
Panah api, biasa dipakai sebagai isyarat penyerangan dari sebuah pasukan.
orang lainnya ke sana. Aku punya firasat buruk kali ini”. Jawab yang lebih tua. “Wanara,
ajak enam orang temanmu turun duluan. Kirimkan tanda bila sudah aman”. Tanpa banyak
bicara Gagak Ireng menjalankan saran dari Jalak Seta. Dan yang diperintahkan langsung
berloncatan turn ke bawah bukit kecil itu, di ikuti enam orang di belakangnya, sepintas
mereka seperti sekelompok kera di kegelapan malam.

Di dalam bilik tempat Burhan dan Sarayuda beserta 10 orang lainnya beristirahat,
tampak Sarayuda yang terjaga dari tadi dan hanya pura-pura tidur, setelah mendengar
bunyi sendaren ia langsung bangkit dan membangunkan yang lain. Ia menyanyikan lirih
kalimat sandi untuk membangunkan kesepuluh temannya, sedangkan untuk Burhan ia
menekan pergelangan tangannya. Setelah semua bangun ia berkata pada salah satu
temannya, “Suwela, ambilkan senjata kita di dalam pedati, hati-hati jangan sampai
ketahuan”. Suwela segera beringsut dari tempatnya. “Kalian dengarkan aku, sekarang
kita masing masing naik ke langit-langit, kau dan Burhan berdiri di samping kanan dan
kiri pintu”. Sarayuda menjelaskan rencananya, “Kalau ada yang masuk, pukul sekeras-
kerasnya dengan kayu ini”. Sambil menyerahkan sebuah gerendel pintu dan sebuah kayu
penumbuk lesung yang ia temukan, ke seorang temannya dan Burhan. Rencana sudah
dijalankan, tapi keadaan mulai tegang. Tiba-tiba pintu terbuka dengan dorongan keras, 2
orang masuk dan disambut pukulan kayu keras mengarah ke tengkuk, seorang terkena
telak dan tergeletak pingsan, tapi seorang lagi luput dan menyarangkan sebuah pukulan
pedang ke Burhan. Dia menangkisnya dengan kayu penumbuk yang dipegangnya, kayu
penumbuk itu patah menjadi dua oleh pukulan yang bertenaga itu.

Pada saat yang genting itu Suwela datang dan melemparkan sebilah pedang ke
Burhan, dengan sigap ia berhasil menangkapnya. Kini keadaan seimbang Burhan dan
lawannya sama-sama menggenggam sebilah pedang, dengan cepat pula Suwela
melemparkan pedang ke seorang temannya dan kembali ditangkap dengan sempurna.
Hanya beberapa detik kemudian lima orang berhamburan masuk ke dalam bilik itu,
Burhan dan seorang prajurit yang menyamar dan Suwela segera memasang kuda-kuda.
Sial baru kali ini aku memegang pedang sungguhan, umpat Burhan dalam hatinya. “Mana
yang lainnya?!” Bentak Wanara ke tiga orang itu, sambil memerintahkan kedua temannya
meringkus mereka. Tapi tanpa dia sadari, tiga orang temannya di belakang tiba-tiba
tergeletak tak berdaya, setelah mendapatkan pukulan keras pisau tangan di tengkuk
mereka dari tiga orang yang meluncur dari langit-langit. Wanara langsung terkesiap dan
menyerang ketiga orang itu, di saat yang bersamaan Suwela menendang keras karung
berisi pedang di dekatnya ke arah tiga orang temannya. Sambil menghindari serangan
Wanara ketiganya menjatuhkan diri lalu mengambil pedang dari dalam karung itu,
sekarang mereka balik menyerang Wanara dalam sebuah formasi yang mengurungnya.
“Bangsat, siapa sebenarnya kalian?!” Umpatnya, ketiga orang itu diam tak menjawab.
Enam orang lagi kembali menjatuhkan diri dari langit-langit, Wanara dan dua temannya
yang tersisa sekarang benar-benar terdesak.
Sebentar saja ruang itu sudah ramai dengan dentingan bunyi pedang yang saling
beradu. Ada enam orang yang mengepung Wanara dalam sebuah formasi serangan,
sedangkan dua orang teman Wanara masing-masing berhadapan dengan tiga orang.
Burhan tampak bersama-sama dua orang prajurit yang menyamar, menyerang seorang
perampok yang ternyata kemampuan silatnya cukup tinggi. Berkali-kali perampok itu
mampu menangkis serangan mereka, bahkan sempat mengancam mereka dengan
serangan pedangnya yang kadang menusuk dan menyambar. Sementara itu Wanara yang
cukup kewalahan meladeni serangan Sarayuda dan kelima temannya, masih sulit untuk
dijatuhkan meskipun ia juga kesulitan menembus formasi yang mengurungnya. Sabit
kembar di tangan salah satu orang kepercayaan Jalak Seta ini terus berkelebat, dari
warnanya yang kelam telah membuktikan jika senjata ini sudah berkali-kali merenggut
nyawa orang. Sesekali bunga api terpercik dari senjata-senjata yang beradu, sehingga
suasana di dalam bilik yang hanya diterangi cahaya remang-remang sebuah lentera kecil
ini bertambah mencekam. Sampai akhirnya nasib kedua orang perampok itu berakhir
setelah salah seorang memekik tertahan terkena tusukan pedang salah seorang prajurit,
dia menggelepar sesaat di atas lantai beralaskan tikar pandan kemudian diam untuk
selamanya. Sementara yang lain berhasil diringkus setelah pedangnya terlempar oleh
hantaman pedang seorang prajurit, lalu dia sendiri terdorong keras ke belakang oleh
sebuah tendangan terbang dari Burhan. “Kerja yang bagus, Burhan”. Puji seorang prajurit
padanya. Lalu dengan cekatan seorang prajurit mengalungkan pedang ke leher perampok
yang sudah tak berdaya itu.

Melihat posisinya terdesak, Wanara semakin membabi-buta menyerang ke enam


orang lawannya. Dengan sabit kembarnya ia mengerahkan segala kemampuan, dan
berhasil menjebol formasi yang mengepungnya. Dua orang lawannya terlempar, masing-
masing memegangi dadanya yang koyak, sedangkan Sarayuda justeru maju
menyerangnya. Tepat saat Wanara siap membabatkan sabitnya, Sarayuda tiba-tiba
menjatuhkan diri dan mengkaitkan kakinya ke kaki anak buah Jalak Seta itu. Wanara pun
limbung dan jatuh ke lantai beralaskan tikar pandan itu, dia mencoba bangkit dengan
menolakkan kedua telapak tangannya ke belakang dan berdiri di atas kedua kaki. Tapi
ketika dia sudah berdiri, sebuah tendangan terbang dari rekan Sarayuda mendorongnya
dengan keras ke belakang membentur tiang penyangga ruangan hingga dua sabitnya
terlempar, dia mengaduh perlahan dan pingsan.

“Awas ada yang kabur!” Mereka dikejutkan oleh lolosnya seorang perampok yang tadi di
ringkus. “Dia bagian kita”, kata salah seorang yang tadi mengepung Wanara. Mereka
segera berlari mengejarnya. Sesampai di halaman rumah , perampok yang barusan kabur
mengeluarkan siulan panjang terputus-putus, lalu dia langsung berbalik ke belakang
dengan keris yang dicabutnya dari pinggang. Dua orang yang mengejarnya juga sudah
siap dengan keris di tangan masing-masing, tapi mereka berdua terkejut dengan pekikan
tertahan perampok itu. Sebuah pedang menembus punggungnya tembus ke depan,
“Kalian terlalu lama mengatasi satu orang saja”. Tampak Suwela tersenyum bangga
dengan tangan kirinya mencengkeram kerah baju seorang pria paruh baya, Ki Dharmo.
“Sehabis membereskan seorang dari mereka, aku langsung keluar memeriksa keadaan.
Sebab waktu mengambil pedang tadi aku mendengar bisik-bisik mencurigakan orang tua
ini dengan jongosnya.”

“Karena itu Ki Dharmo kau tangkap, tapi dimana jongosnya? Kenapa tidak kau tangkap
sekalian”. Tanya salah seorang prajurit yang tadi mengejar keluar. “Sayangnya dia
keburu kabur begitu aku mendatangi mereka, ternyata mereka berdua komplotan Jalak
Seta”. Kata Suwela kemudian, “Jalak Seta, yang selama ini dibicarakan para pedagang
yang singgah di Kotaraja?” Sahut seorang prajurit lagi yang bertanya. “Tepat sekali, dan
dari orang tua ini akan kita korek keterangan lebih lengkap!” Ki dharmo terlihat
ketakutan dengan wajah tertelungkup. Dia tak mengira kalau rombongan pedagang yang
dijebaknya ternyata, adalah pasukan Surakarta yang menyamar.

Sementara itu di atas bukit Nampak Gagak Ireng dengan mengumpat-umpat


berkata kepada kakaknya, “Sialan, bangsat. Firasatmu benar kakang kita dijebak!”
Sambil memandangi pedangnya yang berlumuran darah, sambil sesekali melihat kea rah
jasad yang sudah tak bernyawa. Jongos itu menjadi kambing hitam kegagalan operasi
perampokan Jalak Seta, dan nyawanya berakhir di ujung senjata Gagak Ireng. “Kita ubah
rencana, sementara kita biarkan mereka merasa menang”. Sahut Jalak Seta kepada
seluruh anak buahnya yang tinggal 12 orang, “Menurut keterangan jongos ini sebelum
mampus, salah seorang dari mereka tak sengaja menyebut nama Tumenggung Sarayuda.
Jadi kemungkinan besar mereka pasukan khusus Surakarta, yang ditugaskan menumpas
kita”. Tukas Gagak Ireng lagi, “Bisa jadi, tapi kita harus tetap mengawasi rumah itu”.
Jawab Jalak Seta. Lamat-lamat ia seperti pernah mendengar nama Sarayuda, tak terasa ia
kembali mengingat masa-masa saat ‘Geger Pecinan’, dimana ia menjadi pendukung Mas
Garendi dan membelot dari kesatuan pasukan Kartasura. “Reuni pasukan khusus
Kartasura segera dimulai”. Kata Jalak Seta lirih, nyaris tak terdengar.

Kemunculan Arya Wengker


Sang mentari mulai muncul dari balik bukit, menyinari desa di lereng gunung
merapi ini. Kicauan burung yang seakan bernyanyi, semakin menambah keindahan pagi.
Para warga desa mulai menjalankan aktivitas hariannya, para lelaki berangkat ke sawah
atau ladang. Sementara ibu-ibu rumah tangga dibantu anak gadis masing-masing,
menyalakan tungku perapian untuk memasak sekaligus menyiapkan kiriman makan
untuk suami masing-masing, baik yang bekerja di sawah maupun di lading. Nafas
kehidupan mereka seolah sejalan dengan gemericik air sungai, yang mengalir dari mata
air di atas bukit.

Sementara itu di kediaman Ki Dharmo, Nampak di halaman rumah ada tujuh


orang dengan aktivitasnya masing-masing. Sarayuda dan empat orang temannya sedang
memandikan kuda mereka, dengan air yang ditimba dari sumur belakang rumah.
Demikian pula kusir pedati juga sedang memandikan lembunya, seorang lagi, Suwela
sibuk berlatih pedang sesekali ia memperagakan gerakan menebas lalu menusuk. Di
sertai gerakan melompat dan berguling-guling di tanah, sambil terus memainkan
pedangnya. Sarayuda dan lima orang temannya tersenyum melihat Suwela yang
bersemangat latihan, sesekali dengan iseng mereka melempar batu sekepalan tangan ke
arahnya, tapi dengan tangkas Suwela menangkisnya dengan pedang.

Di dalam rumah enam orang dalam keadaan terikat, Ki Dharmo, Wanara dan
empat orang temannya berada satu ruangan di njogan. Yang menjadi tempat perkelahian
semalam, tampak dua jenazah berbungkus kain putih di belakang mereka. Seorang
prajurit yang menyamar sedang menjaga mereka di dalam ruangan. “Kalian yang sabar
sedikit, sebentar lagi Burhan dan temanku akan kembali bersama Jogoboyo dan bebahu
kademangan ini untuk mengambil kalian”.

“Diam kau!” Wanara membentak dengan marah. Kalau saja aku tidak di ikat dan simpul
syarafku tidak ditotok, sudah kucekik kau dari tadi. Katanya dalam hati sambil
mendengus kesal. Ki Dharmo hanya tertunduk lesu.

***

Pada waktu yang sama di Kademangan, tampak di ruang pendopo Kademangan


empat orang berdiskusi a lot. Ki Demang Wukir Sari dan ki Jogoboyo, bersama Bagus
Burhan dan seorang anggota rombongan, ke empatnya duduk berhadapan di atas lantai
kayu jati. “percayalah Ki Demang, aku berjanji paling lambat esok hari Jalak Seta dan
komplotannya sudah tertangkap”. Burhan terus berupaya agar Ki Demang mau
bekerjasama, menangani gerombolan Jalak Seta dan lima anggotanya yang kini di tahan
di rumah Ki Dharmo. “Aku masih sulit memutuskan, bagaimanapun selama ini mereka
yang melindungi Kademangan ini dan menjaga mata air di atas bukit”. Dengan ragu-ragu
Ki Demang menjawab.
“Tapi Ki Demang, aku rasa ajakan mereka ada benarnya. Sampai kapan Kademangan ini
dikangkangi Jalak Seta dan gerombolannya? Setiap panen raya kita harus selalu
menyerahkan sepersepuluh hasil bumi, sebagai imbalan untuk perlindungan mereka!” Ki
Jogoboyo mulai menunjukkan sikap. “Jogoboyo, jaga bicaramu. Demang disini aku atau
kau?!” Nampaknya Ki Demang tersinggung dengan ucapan Ki Jogoboyo, apalagi ada
desas-desus mengatakan para pemuda mendukungnya menjadi Demang yang baru.

“Maaf Ki Demang, aku cukup sepakat dengan pendapat Ki Jogoboyo. Sekarang saatnya
mengembalikan wibawa desa ini”. Timpal anggota rombongan yang duduk di samping
Burhan.

“Mungkin bagi kalian aku sudah tidak memiliki wibawa lagi, sebagai demang di desa
berpenduduk 50 cacah13 ini”. Ki Demang kembali menjawab, “Tapi tidakkah kalian tahu
dan mengerti, keadaan di Surakarta tidak lebih baik dari desa ini, kekuasaan kanjeng
Sinuhun Pakubuwono II juga dikangkangi oleh kumpeni. Bangsa asing dari seberang
lautan itu dianggap manusia setengah dewa, yang sebenarnya sama saja dengan
gerombolan Jalak Seta”. Dengan berapi-api Ki Demang menjelaskan, alasan
kelemahannya selama ini. Sementara itu orang disamping Burhan tersulut emosinya,
hampir saja tangan kanannya mencabut keris dibalik punggungnya, jika saja Burhan tidak
meraba pergelangan tangannya. “Tahan kakang, ini bukan Surakarta”, bisik Burhan
menenangkannya.

“Hal itu memang tidak bisa kita bantah Ki Demang, tapi ada baiknya kita berusaha
dengan kemampuan kita. Tunjukkan kalau kita adalah rakyat Mataram!” Burhan
berusaha memompa semangat Ki Demang dan Ki Jogoboyo. “Kalau boleh tahu, berapa
banyak pengawal Kademangan ini?” Burhan menoleh ke arah Ki Jogoboyo.

“Saat ini ada 30 orang, mereka pemuda terbaik Kademangan ini, sebulan sekali aku
berembug dengan para orang tua mengenai perkembangan olah kanuragan putra-putra
mereka”. Jawab Ki Jogoboyo dengan mantap.

“Jadi selama ini diam-diam kau menyusun kekuatan untuk mendongkelku Jogoboyo?
Menurut laporan orang kepercayaanku, setiap pekan kau melatih puluhan pemuda
belasan tahun di halaman rumahmu”. Terlihat K Demang masih tidak suka dengan kata-
kata Ki Jogoboyo.

“Kau terlalu berprasangka Ki Demang, hal itu kulakukan juga demi Kademangan ini.
Kalau aku hanya berdiam diri buat apa menjadi Jogoboyo?” Kali ini Ki Jogoboyo
mengeluarkan kalimat dialektis, yang cukup menusuk hati Ki Demang.

“Ternyata selama ini aku berpikiran sempit, tak sadar aku telah menjual kemerdekaan
desa ini. Baiklah, nakmas Burhan hari ini juga tolong bawakan enam tawanan itu
kemari”. Kata-kata Ki Demang membuat semuanya menarik nafas lega, “Dan kau Ki
Jogoboyo, siapkan orang-orang terbaikmu untuk mengamankan Kademangan ini”.
13
Rumah tangga, cara penghitungan manual penduduk era Mataram. Sama dengan KK (kepala keluarga) untuk saat
ini.
“Baik Ki Demang, perintahmu aku laksanakan”. Ki Jogoboyo beringsut pergi dari
pendopo Kademangan, setelah menenggak tetes akhir wedang sereh dengan gula Jawa.
Burhan dan seorang anggota rombongan yang menemaninya juga berpamitan, setelah
lebih dulu menhabiskan minuman masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju rumah
Ki Dharmo, anggota rombongan yang menemani Burhan tak henti-hentinya memuji
kehandalan diplomasinya.

***

Hari mulai beranjak malam, suasana di Kademangan Wukir Sari berubah


mencekam. Setiap gardu ronda dijaga oleh tiga hingga lima orang, kediaman Ki Demang
sendiri dijaga oleh sekitar sepuluh orang, penjagaan di seluruh desa dibagi menjadi lima
belas titik. Semuanya mencakup 60 orang pemuda yang dikerahkan menjadi pengawal
desa. Sedangkan di rumah Ki Dharmo terlihat tujuh orang yang berjaga di halaman
rumah, mereka adalah Sarayuda, Suwela dan lima prajurit lainnya yang berpakaian ala
pedagang Surakarta. Dua orang lainnya masih terbaring di salah satu bilik di rumah itu,
akibat luka-luka yang mereka alami pada pertarungan di malam sebelumnya. Seorang
tabib kenamaan di desa itu yang sengaja di datangkan, masih merawat dan mengobati
mereka. Bagus Burhan terlihat duduk di kursi kayu, di samping ambin tempat kedua
orang itu terbaring. “Bagaimana keadaan mereka ki?” Tanya Burhan pada tabib, “Mereka
harus beristirahat paling tidak lima hari lagi, sampai benar-benar sembuh. Semua racun
dari senjata yang digunakan menyerang mereka, sudah berhasil dikeluarkan.” Jawab tabib
itu. “Kira-kira apa lagi yang diperlukan ki?” Kembali Burhan bertanya. “Kencur dan
kunir untuk menambah nafsu makan dan mengembalikan kondisi tubuh, aku kehabisan
tumbuhan itu. Mungkin besok pagi aku ke bukit kecil itu, banyak tanaman obat disana”.
Sahut tabib itu kemudian.

“Jangan khawatir ki, malam ini juga aku kesana”. Jawab Burhan tiba-tiba. “Jangan ngger,
terlalu berbahaya. Anak buah Jalak Seta bisa menyerang tiba-tiba”. Tabib itu
menungkapkan kekhawatirannya.

“Tidak usah khawatir ki, aku akan berhati-hati. Apalagi Ki Jogoboyo telah mengerahkan
hampir seluruh pemuda desa ini”. Dengan tenang Burhan menepis kekhawatiran Ki
Tabib, “Tolong ki, jangan beritahu yang lain kalo aku keluar mala mini”. Bisik Burhan
dengan hati-hati, takut membangunkan dua orang yang terbaring. Ki tabib hanya
mengangguk, meskipun hatinya masih was-was.

Dengan hati-hati Burhan keluar lewat pintu belakang, tanpa sepengetahuan yang
lainnya kecuali Ki tabib. Ia memanfaatkan kelengahan dua orang yang menjaga halaman
belakang rumah, setelah berhasil keluar dengan hati-hati ia melangkah tanpa suara.
Untunglah selama dua tahun berkelana bersama tonil bopo Sadat, aku juga berlatih
kanuragan dua kali sepekan seperti yang lainnya, tapi mungkin aku sedikit keterlaluan
mempelajari diam-diam kitab silat rahasia milik beliau. Setelah dirasa aman, Burhan
meloncat dengan ringan ke atas pohon yang rimbun tidak jauh dari rumah itu, lalu
membuka bungkusan yang ia ikatkan di punggung. Secepatnya ia menukar pakaiannya
dengan pakaian warok yang ia keluarkan dari peti ukuran tanggung, dari bungkusan itu,
lalu ia memakai topeng bujangganong14 dan ikat kepala warna wulung. Sebuah cemeti ia
ikatkan di pinggang, terakhir ia memakai alas kaki khusus yang dirancangnya sendiri.
Dengan pakaian yang aneh dan agak menyeramkan, Burhan meluncur ringan ke bawah
pohon tanpa menimbulkan suara. Saatnya beraksi, katanya dalam hati. Dengan
melangkah cepat sambil terus berlindung di balik setiap pohon, Burhan menempuh rute
yang ia dengar dari Ki Jogoboyo.

***

Di atas bukit tampak ke tiga belas orang termasuk Jalak Seta dan Gagak Ireng,
bersiap-siap menyerang Kademangan Wukirsari. “Kita harus memberi pelajaran ke
Tumenggung Sarayuda dan juga penduduk desa ini. Mereka telah berani menawan lima
orang kawan kita, dua orang kawan kita yang terbunuh harus ada tebusannya!” Dengan
berapi-api Jalak Seta membangkitkan semangat anak buahnya. “Mereka sebagai
gantinya, setiap seorang dari kita bernilai sepuluh orang warga desa ini!” Suara keras
Gagak Ireng menyambut kalimat Jalak Seta, langsung di ikuti teriakan-teriakan bernada
amarah dari anak buah mereka. Tiba-tiba teriakan mereka terhenti, saat tercium bau asap
dan kemudian mereka terkejut melihat api membakar pondok mereka. Belum hilang
keterkejutan mereka, gudang penyimpanan makanan mereka juga terbakar, tampak
sesosok hitam di atas atap pondok yang belum terbakar tertawa terbahak-bahak.
“Bangsat, setan macam apa kau aku tidak peduli, cepat turun. Kita bertarung secara
jantan!” Teriak Gagak Ireng dengan marah, sambil terus mengumpat. “Kata-katamu
membuatku ingin tertawa ki sanak”. Sambil menjawab kata-kata Gagak Ireng, sesosok
hitam itu meloncat turung dari atap pondok, dengan melayang ringan bagaikan kelelawar
dan mendarat tepat di kedua kakinya dalam posisi jongkok. Lalu ia berdiri sambil
berkacak pinggang, dan kembali tertawa terbahak-bahak, “Perkenalkan Ki sanak, namaku
Arya Wengker sisa dari sesuatu yang telah musnah dan terlupakan”. Dalam waktu
singkat sebelas orang mengepungnya dalam sebuah formasi, dengan berbagai senjata
setelah Gagak Ireng menggerakkan tangannya. Empat orang bersenjatakan pedang, dua
orang bersenjata golok dan lima orang lagi masing-masing bersenjata toya, tombak
panjang, nunchaku, pedang kembar tipis dan sepasang tombak pendek, “Rupanya seperti
ini cara kalian menyambut tamu yang baru datang”. Setelah berkata sosok berpakaian
hitam dengan topeng kayu itu, kembali tertawa terbahak-bahak. Kali ini lebih keras dari
sebelumnya, mengakibatkan tanah mereka berpijak serasa terguncang, tiga dari sebelas
orang yang mengepung itu mulai terpengaruh dan menjatuhkan senjatanya kemudian
menutup telinganya. Yang lainnya juga mulai terpengaruh, sampai Jalak Seta
melemparkan pisau kecil ke arah sosok hitam itu, seketika suara tawa itu terhenti.

Sosok hitam bertopeng itu pecah konsentrasinya setelah menangkap pisau kecil
Jalak Seta, dengan menjepitkan kedua jarinya. “Sekarang, serang!” Teriak Gagak Ireng,
14
Salah satu tokoh cerita dalam pertunjukan Reog Ponorogo. Juga menjadi salah satu tokoh penting, dalam legenda
kerajaan Bantarangin sebagai Patih (Perdana Mentri) Kerajaan yang sekaligus adik Raja Kelanasewandana.
lalu sebelas orang yang mulai sadar dari tekanan tadi, langsung bersiaga dan melancarkan
serangan saling bersusulan kea rah sosok hitam bertopeng kayu itu. Dengan tangkas
orang yang menamakan diri Arya Wengker itu berloncatan menghindar, meskipun agak
kewalahan meladeni serangan mereka, akhirnya ia memiliki kesempatan mengambil jarak
dengan sebuah lompatan panjang ke belakang dan menarik sebuah cemeti dari
pinggangnya. Terdengar kemudian suara meledak-ledak cemeti yang mengejutkan para
penyerangnya, keterkejutan mereka di manfaatkan Arya Wengker untuk memecah
formasi, sesaat kemudian dua buah pedang dan dua buah golok terlempar dan empat
orang yang kehilangan senjatanya mengaduh setelah dada masing-masing koyak dengan
luka melintang. Sabetan cemeti dari sosok hitam bertopeng kayu itu, cukup keras
bagaikan sabetan pedang yang mulai memakan korban. Kelihaiannya memainkan cemeti
diimbangi dengan ketangkasannya bergerak, sesekali berloncatan di udara dan terkadang
bergulingan di tanah sambil beberapa kali salto ke belakang, menjadikannya bagaikan
hantu malam bagi para penyerangnya.

“Kakang, lawan kita bukan orang sembarangan, entah dia ini suruhan warga desa ataupun
bagian dari pasukan yang mengejar kita. Dia betul-betul tidak bisa di remehkan”. Kata
Gagak Ireng kepada Jalak Seta. “Berhenti semua!” Jalak Seta tiba-tiba membuka suara, di
ikuti oleh ketujuh orang anak buahnya yang langsung menghentikan serangan. Meskipun
ketujuh orang itu belum tergeletak lemas seperti ke empat orang kawannya, tetapi tenaga
mereka benar-benar hampir terkuras. “Ki sanak, sebenarnya apa tujuanmu kemari? Jika
menginginkan harta jarahan kami, dengan senang hati kami akan membaginya. Asalkan
anda bersedia bergabung dengan kami”. Sambil berjalan perlahan, Jalak Seta mencoba
untuk melunakkan hati Arya Wengker, atau mungkin ingin membuatnya lengah, karena
tiba-tiba Jalak Seta menyerangnya dengan sebuah nunchaku berkepala tiga (triple stick).

Kembali duel terjadi kali ini antara Arya Wengker dengan Jalak Seta, keduanya
sama-sama tangkas dalam menyerang dan bertahan. Sesekali Arya Wengker dengan
sendal pancing menyabetkan cemetinya, dan kadang-kadang mengeluarkan tendangan
sambar kanan maupun kiri, meskipun Jalak Seta berkali-kali dapat menangkisnya tetapi
beberapa kali pergelangan tangan dan bahunya nyaris koyak oleh mata pisau yang selalu
menyembul tiba-tiba dari ujung alas kaki Arya Wengker. Berkali-kali pula sabetan cemeti
Arya Wengker dan sambaran nunchaku Jalak Seta saling berbenturan, sesekali tercipta
percikan bunga api, sepertinya ada besi di juntai cemeti itu sampai akhirnya sabetan
cemeti Arya Wengker mengenai dada Jalak Seta, tapi dia juga terdorong lima depa ke
belakang oleh tendangan terbang Jalak Seta. Arya Wengker masih bisa mendarat tepat di
atas kedua kakinya dengan posisi jongkok, kemudian ia berdiri sambil melihat bajunya
yang lumayan koyak di bahu kiri dan dada, beberapa bagian cemetinya juga terlihat
hangus seperti baru terkena bara api.

Jalak Seta masih berdiri tegak, di belakangnya tampak Gagak Ireng dan anak
buahnya yang lain bersorak-sorak. Tapi tanpa sadar ia memegang dadanya, terasa
olehnya tetesan darah bercampur keringat melalui luka yang membujur, mulai
membasahi bajunya yang juga koyak di bagian depan. Sesaat kemudian ia jatuh terduduk,
dengan tangan yang masih memegangi luka. “Kakang Jalak Seta!” Terdengar teriakan
Gagak Ireng yang langsung menghampiri pemimpinnya, di ikuti teman-temannya yang
lain. “Dia harus mati”. Bisik Gagak Ireng sambil meraba hulu pedangnya, tapi belum
sampai ia melangkah Jalak Seta menahannya dengan isyarat, kemudian terlihat semburan
berwarna merah dari mulut kepala perampok itu. “Sekarang sudah lebih baik, beberapa
simpul syaraf sudah aku totok, hanya perlu istirahat beberapa hari”. Lalu dibantu Gagak
Ireng dan yang lainnya ia bangkit, sambil memberikan isyarat ke Arya Wengker untuk
mendekat, dengan sedikit ragu-ragu ia mendekat sambil mengikatkan kembali cemetinya
ke pinggang.

“Anak muda, aku salut padamu sudah bisa mengalahkanku. Kurasa tanah Jawa ini masih
memiliki bibit-bibit pendekar tangguh, rasanya aku seperti kembali ke masa ‘Geger
Pecinan’”. Jalak Seta menyelesaikan kalimatnya sambil terbahak-bahak, tetesan darah
terlihat di telapak tangannya setelah menyeka mulutnya. Untuk sekilas Arya Wengker
terpaku, setiap kali ‘Geger Pecinan’ di sebut-sebut ia selalu teringat pembantaian di
desanya. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal, “Siapakah sebenarnya Ki Jalak Seta
ini?” Arya Wengker mulai bertanya sambil berusaha menyembunyikan ekspresinya.

“Mungkin selama ini bagi kebanyakan orang, aku hanyalah seorang perampok kejam
yang suka merampas harta setiap saudagar dan pedagang yang lewat dan juga panenan
warga”. Jalak Seta kembali berkata, “Sebenarnya aku adalah Tumenggung Nagayudha,
salah seorang perwira pasukan Kartasura yang memihak Mas Garendi dan
menghancurkan kraton Kartasura. Tapi kemudian aku menjadi buronan pihak kraton dan
VOC, setelah mereka memukul mundur kami dari Kartasura dan Mas Garendi
tertangkap”. Senyuman getir tersungging di bibir Jalak Seta, mengingat masa lalunya.

“Kehormatan bagi saya bisa bertarung dengan tokoh legendaris ‘Geger Pecinan’, seorang
kepercayaan Sunan Kuning. Tapi kenapa sekarang anda mengambil jalan tercela seperti
ini?” Tanya Arya Wengker lagi.

“Tutup mulutmu! Bagaimanapun bagi kami, kakang Jalak Seta adalah pahlawan”. Gagak
Ireng membentak Arya Wengker yang di anggapnya berkata keterlaluan.

“Sabarlah dimas, mungkin benar yang dia katakan jika kita sekarang hanyalah seonggok
manusia. Tapi meskipun keadaan kami seperti ini, di hati kami masih tersimpan
kebencian pada kumpeni, mereka merebut setiap jengkal tanah negeri ini dengan licik”.
Dengan bijak Jalak Seta mendinginkan suasana.

Kobaran api telah padam yang menyisakan bekas-bekas hangus terbakar, pondok
dan gudang itu tinggal separuh yang tersisa. Pertarungan Arya Wenger dan Jalak Seta
berakhir dengan mengharu biru, karena secara tak sengaja telah menguak jati diri Jalak
Seta, ternyata dia adalah desertiran pasukan Kartasura. Keduanya akhirnya membuat
kesepakatan, bahwa esok hari saat matahari di atas kepala, Jalak Seta akan berduel
dengan kawan lamanya Sarayudha di halaman Kademangan. Dari jalak Seta atau
Nagayudha, Arya Wengker memperoleh keterangan darinya, bahwa setelah pasukan Mas
Garendi di desak hingga ke utara dan dihancurkan di Mandaliko, Nagayudha seorang diri
berhasil selamat. Tapi dia terpisah dari teman-temannya yang lain, untuk menghindari
kejaran pasukan Pakubuwono dan VOC, dia menyamar sebagai pengemis hingga tiba di
tempatnya sekarang. Sambil mengumpulkan informasi dengan terus menyamar sebagai
pengemis dan terkadang menjadi penjudi sabung ayam di setiap desa yang disinggahi,
Nagayudha kemudian berhasil membentuk gerombolan perampok dari kumpulan
‘sampah’ masyarakat, mulai dari gelandangan, pengemis dan preman pasar. Sejak saat itu
ia merubah namanya menjadi JALAK SETA.

Meskipun menjadi pemimpin dari 20 orang perampok, Jalak Seta tidak


sepenuhnya kejam, dia hanya mencegat dan merampok pedagang yang terlihat kaya saja.
Sedangkan hasil bumi yang diserahkan warga desa Wukirsari setiap panenan, itu terpaksa
dilakukan karena ia harus menghidupi kelompoknya, apalagi dia juga telah melindungi
desa itu dari ancaman gerombolan perampok lain. Hanya saja Ki Dharmo yang menjadi
penghubung Jalak Seta dengan Kademangan, telah mengambil keuntungan dari kedua
pihak. Sebenarnya semua kejahatan dan kemerosotan moral yang terjadi saat ini hanyalah
akibat, dari kebobrokan pemerintahan Surakarta yang dikendalikan VOC. Burhan yang
masih berpakaian hitam dan bertopeng, merutuk di dalam hatinya. Tanpa terasa, ia sudah
berada di halaman Kademangan, kedatangannya yang tiba-tiba mengejutkan sepuluh
orang pemuda yang berjaga. “Berhenti, siapa kau?!” Bentak seorang pemuda yang
kelihatannya adalah pemimpin regu. “Aku kesini ingin menemui Ki Demang dan Ki
Jogoboyo, tolong sampaikan pada mereka ada pesan dari Jalak Seta”. Jawaban Burhan
yang masih dalam penyamaran itu, mengejutkan semua pemuda yang berjaga. Seketika
itu juga mereka langsung menghunuskan pedangnya, “Kalian tenanglah, aku tidak ada
urusan dengan kalian!” Teriak Burhan dengan menyamarkan suaranya, tapi tanpa
mempedulikan kata-katanya para pemuda itu mengerubutinya dan bersiap-siap
mengayunkan pedang. Dengan gerakan cepat dan tangkas ia menghindari setiap sabetan
pedang, sampai tiba kesempatan ia meloncat jauh dan berhenti tepat di beranda rumah Ki
Demang. “Cepat tangkap dia, jangan biarkan lolos!” Perintah pemuda pemimpin regu
kepada teman-temannya. Pada waktu bersamaan Ki Demang dan Ki Jogoboyo keluar dari
pintu depan, setelah mendengar suara ribut-ribut di luar.

“Berhenti, ada apa ini?!” Tanya Ki Demang.

“Maafkan aku, Ki Demang dan juga Ki Jogoboyo. Mungkin kedatanganku mengejutkan


kalian, perkenalkan namaku adalah Arya Wengker. Beberapa jam lalu aku mengalahkan
Jalak Seta dalam sebuah duel, kami membuat kesepakatan, gerombolannya tidak akan
mengganggu desa kalian tapi dengan satu syarat”. Jelasnya.

“Syarat?” Ki Demang dan Ki Jogoboyo berpandangan keheranan, demikian juga para


pemuda yang berada di halaman.
“Syarat apa yang dimintanya? Selama ini Jalak Seta membayangi kekuasaan Ki Demang,
bisakah kata-katanya dipercaya? Lagipula kami tidak mengenalmu, bisa saja kau
sebenarnya berkomplot dengannya dan berbohong untuk menjebak kami”. Ki Jogoboyo
masih sanksi dengan keterangan Arya Wengker.

“Ini jaminannya”, Arya Wengker menyerahkan sebuah nunchaku berkepala tiga ke


tangan Ki Jogoboyo, yang tadi ia sembunyikan di balik bajunya. “Syaratnya besok siang
saat matahari tepat di atas kepala, ia ingin berduel dengan kawan lamanya Ki Sarayudha,
ketua pengawal rombongan pedagang dari Surakarta yang singgah di desa kalian”. Tukas
Arya Wengker. Setelah menyelesaikan kalimatnya ia langsung melesat pergi dengan dua
loncatan, pertama melintas di atas kerumunan pemuda di halaman dan mendarat di pagar
Kademangan lalu meloncat lagi dan hilang ditelan kegelapan malam. Semua orang di
Kademangan masih terpaku keheranan, kejadian malam ini sangat tiba-tiba dan
mencengangkan.

***

Malam semakin larut dan mulai beranjak ke waktu fajar. Lima dari tujuh orang
yang berjaga di halaman rumah Ki Dharmo terlihat tertidur di bale bambu di beranda
rumah, hanya Sarayudha dan Suwela yang masih terjaga sambil keduanya mondar-
mandir di depan beranda. Tapi akhirnya mereka berdua tak bisa menahan kantuk dan
akhirnya bersandar di tiang beranda rumah, lalu tertidur. Sementara itu Burhan dengan
mengendap-endap membuka pintu belakang rumah dengan hati-hati, lalu menutupnya
kembali dilihatnya dua orang yang berjaga di halaman belakang sudah tertidur di atas
ambin. Sambil terus melangkah hati-hati ia pun memasuki rumah, di dalam bilik tempat
kedua orang anggota rombongan itu dirawat ia melihat Ki Tabib sedang terkantuk-
kantuk, antara sadar dan tidur. “Ki…ki, aku sudah mendapatkan barang yang dibutuhkan.
Bangunlah sebentar”. Dengan hati-hati ia membangunkan ki Tabib. “Oahemmm, rupanya
aku tertidur. Nakmas tidak apa-apa kan”. Tanya ki tabib yang baru bangun sambil
menerima tanaman obat yang dibawa Burhan, “Syukurlah ki, perjalananku aman-aman
saja semalam. Hanya saja aku sempat melihat nyala api di atas bukit dan suara hiruk-
pikuk mirip perkelahian, tempat aku mencari kunir dan kencur”. Burhan coba
menceritakan sebagian dari kejadian semalam, tanpa menjelaskan apa yang terjadi
sebenarnya. “Aneh sekali, apa mungkin ada serangan dari kelompok perampok lain. Tapi
setahuku gerombolan perampok Jalak Seta cukup disegani di wilayah ini. Meskipun baru
muncul dua tahun belakangan, tapi di setengah tahun awal mereka telah menundukkan
gerombolan perampok-perampok lain”. Tabib itu menceritakan sekilas sepak-terjang
gerombolan Jalak Seta. “Banaspati, Kalalodra dan Yaksasinga adalah kelompok-
kelompok perampok terkenal yang sudah dikalahkan. Termasuk kelompok Moto Sitok
yang menjadi penguasa bukit kecil itu sebelumnya”. Kembali ki tabib melanjutkan
ceritanya, sambil tangannya dengan cekatan meracik obat.

Burhan hanya mengangguk-angguk, rasa bangga mulai bersemi di hatinya. Kini


aku bisa menjadi ‘ksatria kegelapan’ yang terus berkelana, menundukkan setiap durjana
dan langkah awal telah dilakukan. Tanpa sadar kesombongan telah mewarnai hatinya,
tapi kemudian ia tersentak setelah seseorang menggamitnya dari belakang. Tabib itu
memintanya istirahat sebentar karena ia belum tidur semalaman, “Baik ki, sekalian nanti
setelah aku selesai sembahyang subuh”. Ki tabib hanya tersenyum mendengarnya, “Di
sebelah timur Kademangan ada surau kecil, selama ini jarang digunakan kecuali waktu
jum’atan dan hari-hari besar. Nakmas bisa sembahyang di sana dan jadi imamnya kalau
bisa”. Kemudian tabib itu mulai membangunkan kedua orang yang terbaring itu untuk
meminumkan ramuannya, “Terima kasih ki, bisa sholat sendiri saja sudah cukup. Ilmuku
belum nyampai untuk jadi imam”. Kemudian Burhan melangkah keluar bilik menuju
pintu depan, ia masih mendengar suara ki tabib. Di desa ini selain dicekam ketakutan
selama dua tahun terakhir oleh gerombolan Jalak Seta, juga sangat sedikit yang bisa
menulis kawi15 maupun pegon,16 kecuali Ki Demang dan Ki Jogoboyo serta beberapa
keluarga terpandang yang memang memiliki trah bangsawan. Berarti kemungkinan kecil
di desa ini yang bisa membaca Al-Qur’an apalagi memahaminya, ia pun sadar beberapa
hari ini juga jarang membaca kitab sucinya itu sholat pun selalu ia jamak, karena selalu
dalam perjalanan. Muslim macam apa aku ini, katanya dalam hati.

Untuk pertama kalinya setelah terakhir kali adzan di desa Liman dua tahun lalu,
Burhan kembali mengumandangkan adzan di surau sebelah timur Kademangan. Alunan
suara adzan yang ia kumandangkan mengalir bagaikan tembang merdu, beberapa
penduduk yang sempat bangun dan mendengarnya pun keheranan dengan suara itu.
Jarang sekali adzan berkumandang di desa itu. Sarayudha dan Suwela pun juga terbangun
setelah mendengar suara adzan itu, “Seperti suara Burhan kakang”. Kata Suwela kepada
Sarayudha, Sarayudha hanya mengangguk. Pagi itu tidak seperti biasanya surau kecil di
timur Kademangan digunakan sholat subuh, Burhan menjadi imamnya setelah para
jama’ah yang terdiri dari Ki Demang, Ki Jogoboyo dan beberapa pemuda yang menjaga
rumah Ki Demang termasuk Sarayudha dan Suwela memaksanya. Nampaknya Ki
Demang dan Ki Jogoboyo serta beberapa pemuda desa, menganggap sholat mereka kali
ini adalah rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Seusai sembahnyang mereka masih di
surau sebentar, Ki Demang menceritakan kejadian aneh dan mengejutkan tadi malam.
Suwela dan Sarayudha tampak terkejut, demikian juga Burhan.

Perjumpaan Dua Sahabat Lama

Siang itu di kediaman Ki Demang Wukirsari tampak sudah ramai seperti hari
pasaran, ratusan orang berkumpul di sana, nampak Ki Demang ditemani Ki Jogoboyo
15
Huruf jawa.
16
Huruf arab tapi berbahasa jawa atau melayu.
berdiri di beranda rumah. Sementara itu Sarayudha yang akan bertanding dengan Jalak
Seta, bersama Suwela dan Burhan serta empat orang anggota rombongan yang lain
sedang duduk di pendopo, tempat itu memang dikhususkan untuk mereka. Sarayudha
terlihat duduk tenang sambil mengatur nafas, kelihatannya ia sedang bermeditasi. Lima
orang lainnya tidak terlihat, sengaja disuruh tetap berada rumah mereka menginap. “Ki
Sarayudha bersiaplah, Jalak Seta dan anak buahnya sudah datang!” Teriak Ki Jogoboyo
memanggil Sarayudha. “Sudah datang rupanya”. Sambil membuka matanya Sarayudha
kemudian berdiri di ikuti teman-temannya yan lain, ia melihat ke arah kerumunan orang-
orang yang menyibakkan diri dan mengosongkan bagian tengah halaman rumah Ki
Demang. Terlihat dua ekor kuda memasuki gerbang rumah Ki Demang, tampak dua
orang diatasnya yang sama-sama gagah dan kekar dengan jambang lebat di wajah
masing-masing, menampakkan kesan sangar dan menakutkan. Apalagi di belakang
mereka berjalan sebelas orang dengan ciri yang hampir sama, mereka memakai pakaian
bercorak hitam kelam dengan ikat pinggang bergambar kepala burung berwarna putih di
ujungnya, meskipun empat orang di antaranya dibalut kain penutup luka di beberapa
bagian tubuhnya. Hal itu tidak mengurangi kesan sangar di wajah mereka, pita merah
yang di kenakan di lengan kiri masing-masing menunjukkan bahwa mereka siap mati.

“Jalak Seta menyembunyikan lukanya tadi malam”. Burhan menggumam lirih, setelah
melihat Jalak Seta berpakaian cukup rapi dan menampakkan kesan yang biasa.

“Kau berkata sesuatu Burhan?” Suwela bertanya padanya.

“Oh, tidak kakang hanya kelihatannya duel siang ini sangat banyak yang menonton”.
Sahutnya kemudian, berbohong untuk menghindari kecurigaan.

“Kalian semua doakan aku”. Kata Sarayudha kepada teman-temannya, termasuk Burhan.
“Hati-hati kakang”. Tukas Burhan.

Kemudian Sarayudha memasuki arena di tengah halaman dengan menenteng


sebuah pedang besar dan panjang, dengan rantai di hulu pedang yang ia ikatkan di jari
tengahnya. Jalak Seta pun turun dari punggung kudanya, seorang anak buahnya lalu
memegangkan kendali kudanya. Kedua belas anak buah Jalak Seta berdiri di sisi pinggir
arena. Ia kemudian menggerakkan tangan kirinya keatas sambil memandang kearah Ki
Jogoboyo, langsung sebuah benda berkilauan terkena cahaya matahari melayang di udara
di lemparkan Ki Jogoboyo kearahnya, dengan sigap mantan perwira pasukan Mas
Garendi itu menangkapnya sempurna. Lalu terlihat sebuah nunchaku berkepala tiga
berputaran bergantian di tangan Jalak Seta, senjata itu terus berpindah dari tangan kiri ke
kanan dan sebaliknya, kemudian ia berhenti senjata itu ia jepit ujungnya di ketiak.
“Giliranmu sekarang, teman”. Katanya ke arah Sarayudha. Langsung saja ajudan Sunan
Surakarta itu unjuk kebolehan memainkan pedang besar panjang miliknya. Berbagai
jurus ia peragakan termasuk keliahaiannya berdiri terbalik dengan kaki diatas kepala
dibawah, dengan hanya bertumpu dengan jari tengahnya di hulu pedang yang
ditancapkan ditanah. Tepuk tangan warga yang menonton membahana diseluruh arena.
“Pertunjukan yang bagus Sarayudha, tapi ingat pertarungan antara hidup dan mati
bukanlah sirkus”. Sambil mengatakan itu, Jalak Seta sempat bertepuk tangan.

Kemudian keduanya saling mendekat ke tengah arena. Saling membungkuk


memberi hormat, lalu segera menjaga jarak dan memasang kuda-kuda serang. “Lama
tidak bertemu, Tumenggung Nagayudha. Atau Jalak Seta”. Kata-kata Sarayudha nyaris
tak terdengar karena riuh-rendah sorak-sorai warga yang menonton, sambil ia
mengeluarkan sebuah serangan ke Jalak Seta. Sebuah sambaran pedang yang ia padukan
dengan tendangan memutar, lalu di ikuti sebuah tendangan sambar ke arah pinggang.
Jalak Seta dengan tangkas menangkis sambaran pedang itu dengan putaran nunchakunya
dan sedikit miringkan badan menghindari tendangan itu, selanjutnya mencondongkan
badannya ke kanan sambil menangkis tendangan dengan tangan kiri. “Terserah kau
panggil aku apa, tapi aku tidak pernah melupakan pertemanan kita dulu. Termasuk
sikapmu yang terus membela raja pengecut itu!” Sekarang Jalak Seta balas menyerang
dengan sepenuhnya mengandalkan perputaran nunchaku berekepala tiga itu, sambil
sesekali merangkainya dengan gerakan berloncatan di udara dan bergulingan di tanah,
mengitari Sarayudha untuk membuatnya bingung. Beberapa kali senjata mereka
berbenturan, menimbulkan suara berdentingan dan percikan bunga api yang membuat
ngeri orang awam yang menonton. Terlihat beberapa penonton khususnya yang
perempuan, menutup matanya dengan kedua tangannga, beberapa lagi berpegangan pada
suaminya.

“Jaga bicaramu Nagayudha, kau pikir siapa yang melantikmu menjadi Tumenggung dan
menggajimu selama berada di Kartasura. Kau mengkhianati orang yang
mempercayaimu!” Sambil mengatakan itu Sarayudha kembali melancarkan serangannya
ke Jalak Seta atau Nagayudha, kembali terdengar dentingan senjata beradu dan bunyi
udara yang terkena sambaran pedang maupun nunchaku.

Sebuah tendangan menyerupai patukan kobra mengenai dada Sarayudha,


membuatnya jatuh berguling-guling di tanah. Tapi ia masih bisa berdiri dengan
menolakkan kedua tangannya ke belakang. Kemudian ia menarik rantai yang mengikat
pedangnya, dengan sigap berhasil dipengangnya kembali pedang besar panjang itu.
“Kemampuanmu sudah menurun kawan. Tidak seperti Sarayudha yang aku kenal,
padahal dulu aku hampir mati oleh sambaran pedangmu di dadaku ini”. Kata Jalak Seta
sambil memegang dadanya. Nunchaku berkepala tiga miliknya masih berputaran seperti
perisai yang melindunginya, sehingga berkali-kali pedang besar panjang Sarayudha
bagaikan membentur perisai baja setiap kali berusha menerobos putaran nunchaku itu.
Orang-orang di kedua belah pihak saling mendukung keduanya, sampai akhirnya putaran
nunchaku Nagayudha melemah, entah dia sengaja atau sudah kehabisan tenaga. Tiba-tiba
Sarayudha memanfaatkan celah yang ada dari melemahnya putaran nunchaku itu, sebuah
tusukan mengarah ke leher ia lancarkan tapi Jalak Seta masih bisa menghindar meskipun
bahu kirinya tergores. Masih belum cukup dengan itu sebuah pukulan tepak tangan
Sarayudha mengenai dada Jalak Seta yang mengaduh perlahan, tapi ia juga berhasil
mengayunkan ujung nunchaku miliknya nyaris mengenai dahi Sarayudha. Ia
menangkisnya dengan ayunan pedang, terdengar bunyi keras mirip ledakan disertai
percikan bunga api yang cukup besar.

Akhirnya benturan terakhir terjadi, dengan sisa tenaga yang di milikinya Jalak
Seta mengayunkan nunchaku berkepala tiganya kearah kepala Sarayudha. Ajudan Sunan
Surakarta itu menangkisnya dengan melontarkan pedangnya dengan jari tengahnya
terikat pada rantai, jarinya serasa putus dan pedang patah menjadi tiga bagian. Tapi
bagian pedang itu yang masih tersisa di hulunya, menancap di dada Jalak Seta yang
terlihat tersenyum ke arah Sarayudha. Bagai tercekat Sarayudha melihat kondisi kawan
lamanya itu, perlahan ia mendekatinya dan menjatuhkan dirinya dengan kedua siku kaki
di tanah, “Keparat kau Nagayudha, kenapa kau memilih mati dengan cara seperti ini?”
Terdengar umpatan Sarayudha, terlihat ekspresi marahnya bercampur sedih. “Lebih baik
bagiku mati sebagai ksatria, daripada hidup dengan menyaksikan negeri ini hancur
perlahan-lahan. Pesanku padamu tolong jaga bumi mataram dan tanah Jawa tempat kita
tinggal..” Belum selesai ia berkata batuk darah Jalak Seta terdengar parah, lalu ia
melanjutkan kalimatnya. “..dari keserakahan orang-orang kumpeni yang licik. Mereka
memanfaatkan kebodohan para bangsawan yang gila harta dan tahta. Terakhir
bebaskanlah semua orangku, termasuk yang kalian tahan, sedangkan Ki Dharmo terserah
penduduk Desa. Selamat tinggal Sarayudha, salamku untuk kanjeng Susuhunan
Pakubuwono II”. Setelah mengatakan hal itu, Jalak Seta atau Nagayudha diam untuk
selamanya. Dengan perlahan Sarayuda mengusap kedua mata sahabat lamanya agar
terpejam, kemudian ia memejamkan matanya sebentar. Mengingat kenangan lama ketika
masih di Kartasura, mereka bersama-sama meniti karir. Lalu ia bangkit sambil
membopong mayat kawan lamanya itu dan berjalan ke arah anak buah Jalak Seta,
semuanya menundukkan wajah berkabung. “Rawat baik-baik jasad pemimpin kalian,
seperti pesannya tinggalkanlah desa ini carilah tempat lain dan kehidupan baru, mulailah
berbuat hal-hal yang baik”. Kata Sarayudha kepada Gagak Ireng yang masih
menundukkan wajahnya, kemudian wajahnya terangkat dan mengangguk perlahan
menerima jasad pemimpinnya dibantu yang lain menaikkannya ke punggung kuda.

***

Pada hari itu juga gerombolan Jalak Seta yang telah kehilangan pemimpinnya,
dalam duel hidup-mati dengan Tumenggung Sarayudha, meninggalkan Kademangan
Wukirsari untuk selamanya. Tiada yang tahu kemana tujuan mereka, hanya saja sesuai
syarat yang di minta almarhum Jalak Seta alias Nagayudha lima anggota mereka yang
sempat di tahan, akhirnya dibebaskan dan turut pergi bersama ketujuh belas anggota
Jalak Seta yang lain. Pada waktu yang hampir bersamaan Burhan bersama Sarayudha dan
Suwela beserta rombongannya, juga berpamitan ke warga desa meninggalkan
Kademangan Wukirsari. Mereka masih bisa menjaga kerahasiaan identitasnya dengan
menyamar sebagai rombongan pedagang dari Surakarta. “Lain kali mampirlah nakmas
Burhan, orang dengan kemampuan merencanakan sesuatu dan juga alim seperti jenengan
sangat dibutuhkan Kademangan ini”. Kata Ki Demang kepada Burhan. “Terima kasih Ki,
insyaallah bila ada waktu aku mampir. Masih banyak yang harus kuselesaikan, barang-
barang yang kami bawa harus segera sampai ke Banyumas, sudah dua hari perjalanan ini
tertunda”. Sahut Burhan menjawab kata-kata Ki Demang. “Baiklah terserah nakmas saja,
hati-hati di jalan”. Kata terakhir Ki Demang mengiringi kepergian mereka, roda pedati
yang memuat Burhan dan empat orang anggota rombongan termasuk dua orang yang
masih belum sembuh benar mulai bergerak, perlahan namun pasti mereka semakin jauh
meninggalkan Kademangan Wukirsari.

Sedangkan Ki Dharmo dikarenakan berbagai kesusahan yang di akibatkan


ulahnya selama ini, mendapatkan hukuman sanksi sosial. Seluruh hartanya disita untuk
kepentingan warga, selain itu ia harus merawat mushola atau surau kecil di sebelah timur
Kademangan dan mengerjakan semua kepentingan warga tanpa upah. Tapi masih ada
satu rahasia yang belum terungkap, yaitu mengenai siapa sebenarnya Arya Wengker yang
telah menundukkan gerombolan Jalak Seta dan memaksa mereka membuat kesepakatan
mengenai nasib desa.

***

Sementara itu di kota Banyumas seorang gadis berkerudung merah muda, dengan
kebaya warna coklat dan kain jarit yang berwarna coklat tua, tampak duduk termenung di
belakang pedati. Arum Sekar sangat merindukan kehadiran saudara angkatnya, atau lebih
tepatnya kekasih hatinya, Bagus Burhan. Kakang kenapa kau lama sekali, aku sudah
hampir selalu menunggu kedatanganmu tiga hari ini. Gadis manis berkulit kuning langsat
itu menggerutu dalam hatinya, sambil mengamat-amati dan mengayun-ayunkan sebuah
wayang kecil dari rumput. Tidak jauh darinya tampak seorang pemuda terlihat kesal,
“Pasti dia sedang memikirkan kekasihnya, si Burhan itu. Apa istimewanya dia? Hanya
seorang pemuda banyak bicara dan sok pintar, hanya saja dia beruntung mendapatkan
anugerah besar yang tak terduga dari kanjeng Sunan Surakarta”. Gerutunya dengan lirih.
Sampai sebuah suara mengejutkannya.

“Ada masalah, ngger Kasan”. Tanya Ki Sadat yang tiba-tiba muncul dari dalam tenda
yang mereka dirikan tidak jauh dari pasar Kota Banyumas.

“Mboten bopo, tidak ada apa-apa. Hanya bosan saja harus menunggu kedatangan Burhan,
padahal sudah tiga hari kita menunggu kedatangannya tapi belum datang juga”. Kasan
berusaha menutupi kegusarannya yang sebenarnya.

“Kita semua sebenarnya juga berpikiran sama, Kasan. Tapi kita harus tetap menunggu
Burhan sebagai syarat kita bertemu dengan kanjeng Bupati Banyumas, nasib Nyi Wignyo
dan putranya beserta warga desa Nangka Jajar ada bersama nawala yang sekarang dibawa
Burhan. Camkan itu”. Dengan sareh dan sabar Ki Sadat berusaha menjelaskan kepada
salah satu anak angkatnya ini, kenapa mereka harus tetap menunggu Burhan.
“Maafkan saya bopo, mungkin terlalu memikirkan diri sendiri. Saya mohon ijin ke pasar
kota sebentar bopo ada yang harus saya beli”. Sahut Kasan kemudian sambil pamit
keluar. “Ya, tapi jangan lama-lama ya? Siapa tahu entah sore ini atau tengah malam nanti
Burhan dan rombongannya datang”. Tukas Ki Sadat yang dijawab dengan anggukan
Kasan.

“Bibit-bibit kecemburuan diantara mereka bertiga mulai terjadi, yaah semoga saja tidak
membawa hal-hal buruk!” Gumam Ki Sadat perlahan. “Handoko, roda pedati yang
satunya sudah selesai kau perbaiki?!” Teriaknya pada seorang pemuda yang terlihat
memeriksa roda pedati, “Sudah bopo, tinggal yang satu ini!” Jawab yang ditanya.

Waktu sore di Banyumas mulai beranjak ke petang, suasana semakin ramai.


Terutama di sekitar pasar kota, dengan beragam keramaian dan berbagai barang
dagangan yang ditawarkan oleh para pedagang, tak henti-hentinya mereka merayu setiap
orang yang lewat. Di salah satu sudut pasar tepatnya di sebuah warung bercahaya
remang-remang, tampak Kasan meminun sesuatu dari dalam wadah bamboo “Lama
sekali aku tidak meminumnya, tuak asli buatan orang Tuban. Peraturan dari bopo Sadat
sangat ketat, menjadikanku kurang bebas”. Selagi ia asik meminum tuak, di sudut lain
warung itu tampak seorang pria berwajah indo dengan tajam mengawasinya. Nampaknya
aku punya sasaran baru untuk dijadikan bidak, kelihatannya perawakannya memenuhi
syarat untuk menjadi orang bayaranku. Kata pria berwajah indo itu, yang kira-kira
berusia sekitar 30-an tahun dan tingginya hampir dua meter, itu setelah ia berdiri dan
berjalan menghampiri Kasan.

“Apa kabar kawan, mau kutraktir minum-minum?” Tanyanya seramah mungkin kepada
Kasan. Lalu duduk di kursi sebelahnya.

“Boleh juga, tapi ngomong-ngomong anda ini siapa? Saya rasa kita belum pernah kenal
sebelumnya.

“Perkenalkan, namaku John Osvald Van Romany. Romany adalah nama keluargaku,
tepatnya keluarga kakek dari ayah yang bangsawan Rusia, meskipun begitu ibuku adalah
orang melayu”.

“Siapa namamu tadi, John…o. Oh ya Jono, anda dari bangsa apa rase, rasi..waduhh sulit
aku mengucapkannya, biasa lidahku jawa tulen tidak seperti orang Eropa”. Dengan agak
mabuk Kasan menanggapi perkataan John Osvald.

“Terserah kau memanggilku apapun, tapi yang penting aku memiliki tawaran menarik”.
Sambil mengatakan hal itu John Osvald mendekatkan wajahnya ke Kasan, lalu
membisikkan sesuatu. “Bunuhlah seseorang untukku, kau akan minum sepuasnya setelah
melakukannya”.

“Siapa yang harus ku bunuh”. Tanya Kasan hampir setengah mabuk. “Seorang pejabat
penting VOC yang sebentar lagi kesini, Baron Van Imhoff”. Jawab John Osvald, reaksi
tak terduga muncul dari Kasan seketika itu juga ia menyemburkan tuak yang ia minum ke
muka pria indo itu.

“Apa, mungkin aku memang mabuk tidak segila itu. Dasar bule sinting, aku harus pergi
dari sini secepatnya, teman-temanku menunggu!” langsung begitu saja Kasan
meninggalkan pria itu, sambil terus menyerocos.

“Rileks, rileks..aku belum selesai bicara, baiklah tapi lain kali aku akan menemuimu di
manapun kau berada”. Setelah ia lihat Kasan sudah pergi jauh, namun ia masih sempat
member isyarat kepada seseorang untuk membuntuti Kasan.

Ekstra (sekilas penggambaran Bab 8 ‘Arya Wengker’, Rahasia yang Terungkap),


beberapa tokoh yang ada di bab 8;

John Osvald van Romany, seorang pedagang senjata bermuka dua menutupi
aktivitasnya sebagai penjual barang-barang antik. Dengan licik menjual senjata kedua
belah pihak yang bertempur. Anak haram dari putra bangsawan Wangsa Romanov Rusia,
yang menjadi saudagar kaya di Malaka. Ibunya seorang melayu yang menjadi wanita
simpanan. John kurang mahir dalam duel tangan kosong, tapi ia seorang jago pedang dan
penembak jitu. Bakat itu ia warisi dari ayahnya, vladimir Osvald Romanov. Agar lebih
dikenal akrab dikalangan pembesar VOC, John menyogok mereka dan mendapatkan
status terpandang, ia juga mengubah namanya yang semula hanya John, menjadi John
Osvald van Romany. Selain negoisator ulung ia juga kolektor pedang, ia memiliki koleksi
pedang dari setiap negara/kerajaan yang dikunjunginya. Kata-katanya yang sering
diucapkan, “Tak peduli kawan atau lawan, aku menghargai penawaran tertinggi”. (baru
muncul di bab 7)

Ma Chang Tan; sering dijuluki Tuan Ma, terkadang orang salah mengenalnya sebagai
encik Macan (julukan Tan Pan Cian), pemimpin pasukan Cina yang tewas dalam ‘Geger
Pecinan’. Karena memang ketangguhan dan keberaniannya dalam setiap kali bertarung,
tak peduli siapapun lawan yang dihadapi, menyamai kegarangan seekor macan jantan.
Bersenjatakan nunchaku berkepala tiga ganda, yang kemana-mana selalu dia kalungkan
dilehernya. Ia selalu memakai pakaian biru dengan dengan jubah hitam. Awalnya dia
pendukung sunan Kuning, setelah pemimpinnya ditangkap dan dibuang ke Ceylon, ia
berpihak ke VOC. Dia dijanjikan kebebasan kawan-kawannya yang dipenjarakan dan
dijanjikan jabatan kapitan Cina, disalah satu kota pesisir utara jawa oleh VOC. Syaratnya
ia menangkap hidup atau mati Mas Said dan orang-orang yang mendukungnya, sempat
berkeinginan bertarung rahasia dengan Sarayuda, setelah mendengar kematian
Nagayudha ditangan perwira pasukan Surakarta itu. Tapi begitu mendengar Arya
Wengker mengalahkan Nagayudha sehari sebelumnya, ia beralih memburu pendekar
bertopeng itu, apalagi VOC juga memasang harga tinggi untuk kepalanya setelah mereka
kehilangan seorang kapten Eropa dan seorang letnan pribumi. Kata-kata yang sering dia
ucapkan, “Setiap kota adalah tempat harimau mendekam dan naga bersarang”. Posturnya
tinggi besar. Tinggi 197 cm dan berat 90 kg. (baru muncul di bab 8)

Waginah, Rara dan Suci; ketiganya putri Nyi Wignyo, usia ketiganya masing-masing
terpaut satu dan dua tahun. Masing-masing gadis itu menaruh hati pada Sarayuda, Suwela
dan Bagus Burhan, untuk selanjutnya terjadi persaingan antara Suci dan Arum
memperebutkan simpat dari Burhan. (baru muncul di bab 8)

Raden Mas Said; keponakan pakubuwono II yang sangat membenci VOC sejak kecil.
Salah seorang pendukung utama Mas Garendi (Sunan Kuning) dalam “Geger Pecinan”,
tetap melancarkan gerilya meskipun Mas garendi tertangkap. Cukup pendek, tetapi
posturnya kekar meskipun bertubuh murni. Dia jarang sekali muncul, kecuali bila
keadaan sudah benar-benar memaksanya. (baru muncul di bab 9)