Anda di halaman 1dari 23

Q

Laboratorium Teknik Industri


Program Teknik Industri
Universitas Mercu Buana

LAPORAN PRAKTIKUM
STATISTIKA INDUSTRI

Disusun Oleh

1. Teguh Jatmiko (41617120075)


2. Yoyok Muji Raharjo (41617120046)
3. Rena Melani Nur C. P (41617120022)

LABORATORIUM STATISTIKA INDUSTRI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2021

Telah Diperiksa dan Dinilai oleh:

ASLAB 1
ASLAB 2
MODUL II
DISTRIBUSI BINOMIAL DAN HIPERGEOMETRI

1.1. Latar Belakang

Dalam teori probabilitas dan statistika , distribusi binomial adalah distribusi


probabilitas diskrit jumlah keberhasilan dalam n percobaan ya / tidak (berhasil/gagal)
yang saling bebas, dimana setiap hasil percobaan memiliki probabilitas p. Eksperimen
berhasil/gagal juga disebut percobaan bernouli. Ketika n = 1, distribusi binomial adalah
distribusi bernouli. Distribusi binomial merupakan dasar dari uji binomial dalam uji
signifikansi statistic.
Distribusi ini seringkali digunakan untuk memodelkan jumlah keberhasilan pada
jumlah sampel n dari jumlah populasi n. Apabila sampel tidak saling bebas (yakni
pengambilan sampel tanpa pengembalian), distribusi yang dihasilkan adalah distribusi
hipergeometrik, bukan binomial. Semakin besar n daripada n, distribusi binomial
merupakan pendekatan yang baik dan banyak digunakan.
Setiap percobaan statistik keluaran yang telah dihasilkan obyeknya selalu
dikembalikan, sehingga probabilitas setiap percobaan peluang seluruh obyek memiliki
probabilitas yang sama. Dalam pengujian kualitas suatu produksi, maka obyek yang diuji
tidak akan diikutkan lagi dalam pengujian selanjutnya, dapat dikatakan obyek tersebut
tidak dikembalikan. Probabilitas kejadian suatu obyek dengan tanpa dikembalikan
disebut sebagai distribusi hipergeometrik. 
1.2. Tujuan Praktikum
1. Praktikan diharapkan mampu membedakan karakteristik distribusi binomial
dan hipergeometris.
2. Praktikan diharapkan mengetahui asumsi/karakteristik dasar percobaan
binomial dan hipergeometris.
3. Praktikan diharapkan mampu melakukan pendekatan distribusi
hipergeometris dan pendekatan distribusi normal terhadap binomial
4. Praktikan diharapkan mampu membuktikan kebenaran teori-teori dasar pada
butir 13 melalui media percobaan.
1.3. Tinjauan Pustaka

1.3.1 Definisi Distribusi Binomial


Distribusi Binomial ditemukan oleh seorang ahli matematika
berkebangsaan Swiss bernama Jacob Bernauli. Oleh karena itu distribusi
binomial ini dikenal juga sebagai distribusi bernauli. Distribusi binomial berasal
dari percobaan binomial yaitu suatu proses Bernoulli yang diulang sebanyak n kali
dan saling bebas. Suatu distribusi Bernoulli dibentuk oleh suatu percobaan
Bernoulli (Bernoulli trial). Sebuah percobaan Bernoulli harus memenuhi syarat:
Keluaran (outcome) yang mungkin hanya salah satudari “sukses” atau “gagal”, Jika
probabilitas sukses p, maka probabilitasgagal q = 1 – p.
Distribusi binomial adalah distribusi probabilitas diskrit jumlah
keberhasilan dalam n percobaan ya/tidak (berhasil/gagal) yang saling bebas, dimana
setiap hasil percobaan memiliki probabilitas p. Eksperimen berhasil/gagal juga
disebut percobaan bernoulli. Ketika n = 1, distribusi binomial adalah distribusi
bernoulli. Distribusi binomial merupakan dasar dari uji binomial dalam uji
signifikansi statistik.
Distribusi Binomial digunakan untuk data diskrit (bukan datakontinu)
yang dihasilkan dari eksperimen Bernouli, mengacu kepada matematikawan
Jacob Bernouli. Peristiwa pelemparan mata uang (koin) yang dilakukan beberapa kali
adalah contoh dari proses bernouli, dan hasil (outcomes) dari tiap-tiap
pengocokan dapat dinyatakan sebagai distribusi probabilitas binomial. Kejadian
sukses atau gagal calon pegawai dalam psikotest merupakan contoh lain dari proses
Bernouli. Sebaliknya distribusi frekuensi hidupnya lampu neon di pabrik anda harus
diukur dengan skala kontinu dan bukan dianggap sebagai distribusi binomial.
Secara formal, suatu eksperimen dapat dikatakan eksperimen binomial jika
memenuhi empat persyaratan :
a. Banyaknya eksperimen merupakan bilangan tetap (fixed number of trial)
b. Setiap ekperimen selalu mempunyai dua hasil ”Sukses” dan ”Gagal”. Tidak
ada daerah abu-abu . Dalam praktiknya, sukses dan gagal harus‟ ‟didefinisikan
sesuai keperluan, Misal:
1. Lulus (sukses), tidak lulus (gagal)
2. Setuju (sukses), tidak setuju (gagal)
3. Barang bagus (sukses), barang sortiran (gagal)
4. Puas (sukses), tidak puas (gagal)
c. Probabilitas sukses harus sama pada setiap eksperimen.
d. Eksperimen tersebut harus bebas satu sama lain, artinya satu eksperimentidak boleh
berpengaruh pada hasil eksperimen lainnya. Untuk membentuk suatu distribusi binomial
diperlukan dua hal:
a. Banyaknya/jumlah percobaan/kegiatan
b. Probabilitas suatu kejadian baik sukses maupun gagal.

Distribusi probabilitas binomial dapat dinyatakan sebagai berikut:


Dalam sebuah percobaan Bernoulli, dimana p adalah probabilitas “sukses” dan q = 1 – p
adalah probabilitas gagal, dan jika X adalah variabel acak yang menyatakan
sukses.

1.3.2 Dasar-dasar Teori Peluang

1.3.2.1 Ruang Sampel


Jika dilakukan pelemparan 1 buah dadu, angka-angka yang
mungkin muncul adalah 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 atau ada 6 titik sampel. Sebuah
keluarga yang baru menikah merencanakan kelahiran 3 orang anak
Anggaplah peluang lahirnya anak laki-laki (L) dan anak perempuan (P)
adalah sama. Maka susunan anak (Laki-laki=L atau Perempuan=P) yang
mungkin adalah LLL, LLP, LPL, LPP, PLL, PLP, PPL atau PPP, ada 8
titik sampel. Semua hasil yang mungkin dari sebuah eksperimen, seperti
yang baru dicontohkan, dalam teori peluang disebut sebagai ruang
sampel atau ruang hasil. Jumlah titik yang dianggap sebagai representasi
setiap peristiwa dalam ruang sampel ini dinotasikan dengan N, sedangkan
jumlah peristiwa yang sedang diamati dinotasikan dengan huruf n. Secara
formal ruang sampel ini dinyatakan dengan huruf S. Untuk
kemudahan bentuk penulisan ruang sampel ini mengunakan teori
himpunan seperti contoh berikut.
Contoh :
S = { LLL, LLP, LPL, LPP, PLL, PLP, PPL, PPP}  N = 8
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6}  N = 6
Menetapkan ruang sampel adalah langkah awal yang perlu
dilakukan sebagai dasar untuk menghitung peluang suatu peristiwa yang
ada dalam ruang sampel ini. Peluang terjadinya S adalah sama dengan
satu. Ini merupakan konsekuensi logis, karena jumlah titik S adalah
jumlah semua peristiwa yang mungkin demikian pula dengan
peluangnya. Dalam diagram Venn notasi S ditempatkan pada ujung kanan
atas persegi panjang.

1.3.2.2 Kejadian atau Peristiwa


Istilah peristiwa yang kita kenal sehari-hari seringkali
agak berbeda makna jika kita berbicara tentang teori peluang.
Biasanya orang berpikir bahwa peristiwa adalah suatu kejadian
layaknya peristiwa sejarah, gejala-gejala fisik, pesta dan lain
sebagainya. Dalam statistika, pengertian ini diperluas dengan
memasukkan unsur-unsur kesempatan atau peluang atas
terjadinya suatu peristiwa yang didasarkan pada hasil sebuah
percobaan atau eksperimen yang dilakukan secara berulang-
ulang. Sebagai contoh peristiwa terambilnya kartu As dari
setumpuk kartu bridge, jumlah cairan yang disaring dari mesin
pengisi, jumlah kendaraan niaga yang melalui jalan protokol,
jumlah barang yang cacat dalam satu lot, dan karakteristik lainnya
yang secara umum tidak dapat disebutkan sebagai peristiwa.
Kejadian adalah himpunan bagian dari ruang sampel
atau bagian dari hasil percobaan yang diinginkan. Tiap kejadian
berkaitan dengan sekelompok titik sampel yang membentuk
himpunan bagian ruang sampel. Himpunan bagian ini mewakili
semua unsur yang membuat kejadian tersebut dapat muncul.
Kejadian yang hanya mengandung satu unsur ruang sampel
disebut kejadian sederhana. Gabungan beberapa kejadian
sederhana disebut kejadian majemuk. Kejadian “Kartu Wajik”
secara definisi adalah kejadian sederhana karena hanya ada satu
jenis kartu wajik dalam setumpuk kartu bridge. Akan tetapi, “As
Wajik” dapat dianggap sebagai kejadian majemuk karena
kartunya haruslah berisikan keduanya, yaitu kartu As dan kartu
Wajik.
1.3.2.3 Permutasi
Permutasi adalah susunan yang dibentuk oleh seluruh
atau sebagian dari sekumpulan objek.
Permutasi adalah urutan yang mungkin dari sejumlah
unsur yang berbeda tanpa adanya pengulangan. Permutasi
dinotasikan dengan P, dirumuskan sebagai berikut:
n!
Prn=
( n−r ) !

Dengan syarat n ≤ r

Keterangan:

n = banyaknya ruang sampel

r = banyaknya sampel yang diambil

1.3.2.4 Kombinasi
Kombinasi 𝑟 unsur dari 𝑛 unsur ialah himpunan bagian

𝑟 unsur yang dapat diambil dari 𝑛 unsur yang berlainan dengan


urutan penyusunan unsur yang tidak diperhatikan. Suatu
kombinasi 𝑟 unsur yang dapat diambil dari 𝑛 unsur yang tersedia
adalah suatu pilihan untuk 𝑟 unsur tanpa memperhatikan
urutannya dengan 0 ≤ 𝑟 ≤ 𝑛.

Banyaknya kombinasi 𝑟 unsur dari 𝑛 unsur dilambangkan


dengan C, dapat ditulis sebagai berikut:

n!
C rn=
r ! ( n−r ) !

Dengan syarat 𝑛 ≤ 𝑟
Keterangan:
𝑛 = banyaknya ruang sampel

𝑟 = banyaknya sampel yang diambil


1.3.3 Jenis-jenis Peluang

1.3.3.1 Jenis-jenis Peluang Sederhana


Untuk kejadian peluang sederhana, peluang dapat
diturunkan baik secara logis melalui pengamatan empiris
maupun secara subjektif. Ketiga bentuk peluang ini mempunyai
implikasi yang penting bagi para manajer khususnya dalam
proses pengambilan keputusan.

1.3.3.1.1 Peluang Logis


Semua proses yang bisa diprediksi dan
didefinisikan secara lengkap memungkinkan peneliti
secara deduktif menentukan peluang dari hasil yang
terjadi. Sayangnya banyak orang yang tidak masuk
dalam kategori ini. Sebenarnya penurunan peluang logis
adalah sesuatu yang berharga untuk dikaji, karena
kemampuan memprediksi proses sederhana kerapkali
bisa memberikan petunjuk bagi para manajer atau
pimpinan organisasi untuk memperbaiki tindakan-
tindakan dalam menghadapi situasi yang kompleks atau
tidak dapat diprediksi. Peluang logis didasarnya pada
pertimbangan logika, bukan berdasarkan hasil
percobaan. Tetapi hasil ini bisa diuji melalui suatu
percobaan.

Secara notasi dapat dituliskan:

Frekuensi relatif munculnya kejadian A

𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑗𝑎𝑑𝑖𝑎𝑛 𝐴 𝑦𝑎𝑛𝑔 muncul


=

𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛


1.3.3.1.2 Peluang Empiris

Peluang empiris atau ada pula yang


menyebutnya sebagai peluang objektif, hanya bisa
diperoleh melalui percobaan atau eksperimen yang
dilakukan secara berulang-ulang, dalam kondisi yang
sama dan diharapkan dalam jumlah yang besar. Dari
eksperimen ini akan dihasilkan informasi berupa
frekuensi relatif yang sangat berguna, khususnya untuk
keperluan perbaikan sebuah sistem. Misalnya dalam
proses pengemasan susu, ingin diketahui berapa persen
kemasan yang berisikan lebih dari 150 ml. Dari proses
pengisian yang cukup lama, maka bisa dibuat distribusi
frekuensi volume susu yang terisi ke dalam kotak atau
susu yang tercecer pada setiap pengisian. Dari sini
maka akan akan diperoleh informasi yang sangat
berguna untuk melakukan penyesuaian terhadap sistem
kerja mesin pengisi susu tersebut. Meski konsep
peluang ini sama seperti peluang logis, akan tetapi
peluang empiris lebih mudah dimengerti dan dipahami.

Berdasarkan ilustrasi contoh di atas, dapat


disimpulkan bahwa definisi peluang empiris (atau
peluang objektif) adalah jika sebuah eksperimen
dilakukan sebanyak N kali dan sebuah peritiwa A
terjadi sebanyak n(A) kali dari N pengulangan ini,
maka peluang terjadinya peristiwa A dinyatakan
sebagai proporsi terjadinya peristiwa A ini.

Secara matematik, peluang empiris dapat ditulis:

𝑛(𝐴)
P(A) =
𝑛(𝑆)
1.3.3.1.3 Peluang Subjektif
Peluang subjektif dapat didefinisikan adalah
sebuah bilangan antara 0 dan 1 yang digunakan
seseorang untuk menyatakan perasaan ketidakpastian
tentang terjadinya peristiwa tertentu. Peluang 0
berarti seseorang merasa bahwa peristiwa tersebut
tidak mungkin terjadi, sedangkan peluang 1 berarti
bahwa seseorang yakin bahwa peristiwa tersebut pasti
terjadi. Definisi ini jelas merupakan pandangan
subjektif atau pribadi tentang peluang.
Meski peluang subjektif tidak didasarkan pada
suatu eksperimen ilmiah, namun penggunaannya tetap
bisa dipertanggungjawabkan. Dalam menentukan nilai
peluang ini, seorang pengambil keputusan tetap
menggunakan prinsip-prinsip logis yang didasarkan
pada pengalaman yang diperolehnya. Seorang
pengambil keputusan sudah mengetahui secara nyata apa
faktor-faktor yang mempengaruhi keputusannya
sehingga dia bisa memprediksi apa kira-kira yang akan
terjadi dari keputusan yang diambilnya.
Seorang pengambil keputusan sudah
mengetahui secara nyata, apa faktorfaktor yang
mempengaruhi keputusannya, sehingga dia bisa
memprediksi apa kira-kira yang bakal terjadi dari
keputusan yang diambilnya.
Hal yang masih menjadi pertanyaan adalah
apakah peluang subjektif dapat digunakan untuk
keperluan analisis statistika selanjutnya? Kelompok
statistika objektif menolak penggunaan peluang
subjektif ini.
Bab ini tudak bertujuan untuk membahas
perdebatan ini, kecuali bahwa penggunaan peluang
subjektif tampak sesuai dalam pengambilan,
khususnya keputusan bisnis. Berbeda halnya dengan
penelitian kimia, pertanian, farmasi, kedokteran atau
ilmu eksakta lainnya yang memang harus
menggunakan peluang objektif sebagai dasar
analisisnya. Sampai saat ini pengambilan keputusan
berdasarkan peluang subjektif masih dibilang sebagai
salah satu tehnik manajerial yang baik.

1.3.3.2 Jenis-jenis Peluang pada Peristiwa Majemuk

Dalam peristiwa peluang majemuk ada empat jenis


peristiwa yaitu, saling eksklusif, inklusif, bersyarat, dan bebas.

1.3.3.2.1 Saling Eksklusif


Peristiwa A dan B dikatakan saling eksklusif jika
kedua peristiwa ini tidak memiliki titik sampel yang
sama atau tidak ada irisan antara kedua peristiwa.

A B

Gambar 2. Peristiwa Saling Ekslusif


Peristiwa saling eksklusif menggunakan kaidah
penjumlahan untuk perhitungan peluangnya dan
menggunakan istilah atau untuk menggabungkan
keduanya. Untuk itu berlaku aturaan bahwa peluang
terjadinya dua peristiwa A atau B ( secara notasi
himpunan A ∪ B ) adalah jumlah dari peluang tiap
peristiwa tersebut. Secara metematis aturan ini
dituliskan sebagai berikut:

P (A atau B) = P(A ∪ B) = P(A) + P(B)

1.3.3.2.2 Saling Inklusif


Jika dua peristiwa memiliki titik yang sama atau
terdapat irisan antara kedua peristiwa, maka hubungan
kedua peristiwa ini disebut saling inkusif.

A B

Gambar 3. Peristiwa Saling Inklusif

Dimana A ∩ B menunjukan irisan antara


peristiwa A dan B. Irisan ini berisikan titik yang sama
yang ada dalam peristiwa A dan B. Sedangkan nilai
peluangnya yaitu, P(A ∩ B) selain bisa dilihat dari ruang
sampelnya juga bisa diperoleh dari perkalian antara tiap
peluang.

Secara matematis hubungan ini dirumuskan


sebagai berikut:

P (A atau B atau keduanya) =


P(A ∪ B) = P(A) + P(B) - P(A ∩ B)

1.3.3.2.3 Peluang Bersyarat

Pada suatu percobaan akan menghasilkan dua


atau lebih kemungkinan peristiwa yang akan terjadi.
Peluang akan terjadinya peristiwa B dengan syarat
peristiwa A telah terjadi terlebih dahulu adalah:

𝑃 ( A ∩ B)
P (B | A) =

𝑃 (𝐴)

Dimana:
P (B | A) = peluang peristiwa B terjadi dengan syarat
peristiwa A terjadi lebih dahulu

P (A | B) = peluang peristiwa A dan B terjadi secara


bersamaan

P (A) = peluang terjadinya peristiwa A

1.3.3.2.4 Peluang Bebas atau Tidak Bersyarat


Peristiwa A dikatakan bebas dari peristiwa B jika
salah satu peristiwa tidak dipengaruhi oleh peristiwa
lain. Dua peristiwa yang saling bebas dinyatakan dalam
hubungan A dan B atau secara notasi himpunan A ∩ B
adalah perkalian antara kedua peluang tersebut, secara
notasi dituliskan sebagai berikut:

P (A dan B) = P (A ∩ B) = P(A) x P(B)


1.4. Pengumpulan dan Pengolahan Data
Percobaan 1: Peluang 1 Keping Uang Logam

No
. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1 A G A G A A G A A A
2 G A G A G G G G G A
3 G A G A A G A G A A
4 A A A A G A G G G G
5 A G G G G G G A A A
6 A G A A G A A A G G
7 A G A A A A G A A A
8 G A A G G G A G G A
9 A G G G G A G G G A
10 G A G A A A G A A A

Tabel 1. Percobaan 1 Keping Uang Logam

Pada 1 keping uang logam terdapat dua permukaan yaitu, angka dan
gambar. Sehingga ruang sampel yang dimiliki oleh 1 keping uang logam adalah
angka dan gambar. Karna pada percobaan 1 dilakukan 100 kali pelemparan uang
logam, maka peluang dari masing- masing ruang sampel:

47
1. P (Gambar) = =0,47
100

53
2. P (Angka) = =0,53
100
Percobaan 2: Peluang 2 Keping Uang Logam

N
o. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
A G A G A A G A G A
1 G A G G A G A G G G
A A A A G G A A A G
2 G G G A A G G G A A
G A G G A G G A G A
3 G G G A G G A G A A
G A A G A G G G A G
4 G G G G G A G G G A
A A G G A G G G G G
5 A G A A G A A A G G
G A A A A G A G A G
6 A G A G G A G A G A
G A A G A G G A A A
7 G G G A G A G A G A
A A G A G A G G A G
8 G G A A A G G A G G
G G A G G A G A A G
9 A A G G A G A G G G
A A A G A G A A G A
10 G G G A A G G G G A

Tabel 2. Percobaan 2 Keping Uang Logam

Pada 2 keping uang logam terdapat empat permukaan, sehingga ruang


sampel yang dimiliki oleh 2 keping uang logam adalah AA(angka,angka), AG
(angka,gambar atau gambar angka) dan GG (gambar,gambar). Karna pada
percobaan 2 dilakukan 100 kali pelemparan uang logam, maka peluang dari
masing- masing ruang sampel:
11
1. P (AA) = =0,11
100

41
2. P (AG) = =0,41
100
28
2. P (GA) = =0,28
100

20
3. P (GG) = = 0,2
100
Percobaan 3: Peluang 3 Keping Uang Logam

No
. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
AG GG GA AG AA AG GA AG GG AG
1 G A G G G A G G G A
AG GA GA GA GA GG AG AG AA GA
2 A G G G A A G A A G
GG AG GA AG AG GG GA AG GG AA
3 A G A G A G A G A G
GG AG AG AG AG GA GG GG AA GA
4 A A G A A A A G G G
AG GA GA GA AG GA GG GG GG GG
5 A G A G A A A A G A
GA GA GA AG AG GA AG GA AG GA
6 A G G A G G G G G G
AG GA AG GG AG GG GG AA GG AG
7 G A A A G A G G A A
AG GA GG AA GA AG GG GA AG GA
8 A A G G G G A G G G
AG AG AG GG GA AG GA AG GA GA
9 G A A A G A G A G G
AG AG AG GA AG GG AG GG GA AA
10 G G G G A G G A G G

Tabel 3. Percobaan 3 Keping Uang Logam

Pada 3 keping uang logam terdapat enam permukaan, sehingga ruang


sampel yang dimiliki oleh 3 keping uang logam adalah AAA (angka, angka, angka)
, GGG (gambar, gambar, gambar), AAG (angka, angka, gambar), dan GGA
(gambar, gambar, angka). Karna pada percobaan 3 dilakukan 100 kali pelemparan
uang logam, maka peluang dari masing- masing ruang sampel:

13
1. P (AAA) = =0,13
100

7
2. P (GGG) = =0,07
100
31
3. P (AAG) = = 0,31
100

58
4. P (GGA) = =0,58
100
Percobaan 4: Peluang Pengambilan 1 Kartu Remi

No
. 1 2 3 4 5 6 7
1 M H M M H M M
2 M H M M M H H
3 H H M H M H M
4 M H H M H H M
5 H M H H M M H
6 H M H M H M H
7 M M H M H H M

Table 4. Percobaan 4 Pengambilan 1 Kartu Remi

Pada kartu remi terdapat dua kemungkinan jumlah warna yang muncul
yaitu Merah dan Hitam. Sehingga ruang sampel yang dimiliki oleh 1 kartu remi
adalah Merah dan Hitam. Karna pada percobaan 4 dilakukan 49 kali pengambilan
1 kartu remi , maka peluang dari masing-masing ruang sampel:

25
1. P (Merah) = = 0,51
49

24
2. P (Hitam) = = 0,49
49

Percobaan 5: Peluang Pengambilan 2 Kartu Remi


No
. 1 2 3 4 5 6 7
H M H M
1 M H HH M HH M HH
M M M M M M
2 H H M H H HH H
M M M M M H
3 H HH M H H H M
M H M M H M
4 HH M M M M M H
M H H H M M
5 M M M M HH M M
M M H H H
6 H H M M HH M HH
M M H M M M M
7 H H M M H H H

Tabel 5. Percobaan 5 Pengambilan 2 Kartu Remi

Pada 2 kartu remi terdapat empat kemungkinan, sehingga ruang sampel


yang dimiliki oleh 2 kartu remi adalah MM (Merah,Merah), MH (Merah,Hitam
atau Hitam,Merah) dan HH (Hitam,Hitam). Karna pada percobaan 5 dilakukan 49
kali pengambilan kartu remi, maka peluang dari masing- masing ruang sampel:

10
1. P (MM) = 0,20
49

30
2. P (MH) = =0,61
49

9
3. P (HH) = = 0,18
49
1.5. Kesimpulan dan Saran

1.5.1 Kesimpulan

Berdasarkan praktikum tentang teori “Peluang Sederhana” dan


data hasil percobaan, maka dapat disimpulkan:
1. Peluang terjadinya sebuah peristiwa adalah bernilai 1 (pasti
terjadi) dan berkisar pada angka 0 (tidak mungkin terjadi) hingga
angka 1. Dimana masing-masing sampel yang ada pada ruang
sampel memiliki peluang yang berbeda antara yang satu dengan
yang lain.
2. Perbedaan antara peluang sederhana dan peluang majemuk. Peluang
sederhana yaitu, peluang yang hanya mengandung satu kejadian atau
satu unsur ruang sampel. Sedangkan peluang majemuk yaitu
gabungan dari beberapa kejadian sederhana.
3. Pada percobaan satu keping uang logam, terdapat dua
permukaan yaitu, angka dan gambar. Sehingga ruang sampel yang
dimiliki oleh 1 keping uang logam adalah angka dan gambar.
4. Berdasarkan percobaan 1, peluang muncul angka dan gambar dari
pelemparan satu keping uang logam sebanyak 100 kali berturut-
turut adalah 0,47 dan 0,53.
5. Pada 2 keping uang logam terdapat empat permukaan, sehingga
ruang sampel yang dimiliki oleh 2 keping uang logam adalah
AA(angka,angka), AG(angka,gambar atau gambar angka) dan
GG(gambar,gambar).
6. Berdasarkan teori, peluang muncul angka angka, angka gambar,
gambar angka, gambar gambar dari pelemparan dua uang logam
adalah 0,25 sedangkan berdasarkan percobaan 2, peluang muncul
angka angka, angka gambar, gambar angka dan gambar gambar
dari pelemparan dua uang logam sebanyak 100 kali berturut-turut
adalah 0,11; 0,41; 0,28 dan 0,2.
7. Pada 3 keping uang logam terdapat enam permukaan, sehingga
ruang sampel yang dimiliki oleh 3 keping uang logam adalah
AAA (angka,angka,angka), GGG (gambar,gambar,gambar), AAG
(angka,angka,gambar), dan GGA (gambar,gambar,angka).
8. Berdasarkan percobaan 3, peluang muncul AAA
(angka,angka,angka), GGG (gambar,gambar,gambar), AAG
(angka,angka,gambar), dan GGA (gambar,gambar,angka) dari
pelemparan tiga uang logam sebanyak 100 kali berturut-turut
adalah 0,13; 0,07; 0,31 dan 0,58.
9. Berdasarkan teori, peluang terambilnya satu buah kartu merah
dan hitam adalah 0,25 sedangkan berdasarkan percobaan 4,
peluang terambilnya satu buah kartu bridge merah sebanyak 49
kali percobaan adalah 0,51 dan satu buah kartu bridge hitam
adalah 0,49.
10. Berdasarkan percobaan 5, dua buah kartu bridge peluang
terambilnya warna MM (Merah, Merah), MH (Merah, Hitam atau
Hitam, Merah) dan HH (Hitam, Hitam) sebanyak 49 kali
percobaan secara berturut-turut adalah 0,20; 0,61 dan 0,18.

1.5.2 Saran
Dalam melakukan percobaan pelemparan uang logam, pelemparan dadu
dan  pengambilan kartu bridge hendaknya dilakukan dengan lebih cermat.
Ketika melakukan perhitungan peluang secara manual dibutuhkan kesabaran
dan ketelitian.

Anda mungkin juga menyukai