Anda di halaman 1dari 13

BUKU JAWABAN UJIAN (BJU)

UAS TAKE HOME EXAM (THE)


SEMESTER 2020/21.2 (2021.1)

Nama Mahasiswa : Ikomang sutrisna satri putra

:Nomor Induk Mahasiswa/NIM :042288695

Tanggal Lahir :11 oktober 2002

Kode/Nama Mata Kuliah :ekma4159/ komunikasi bisnis

Kode/Nama Program Studi :054/manajemen

Kode/Nama UPBJJ : 77/denpasar

Hari/Tanggal UAS THE : rabu 14 juli 2021

Tanda Tangan Peserta Ujian

Petunjuk

1. Anda wajib mengisi secara lengkap dan benar identitas pada cover BJU pada halaman ini.
2. Anda wajib mengisi dan menandatangani surat pernyataan kejujuran akademik.
3. Jawaban bisa dikerjakan dengan diketik atau tulis tangan.
4. Jawaban diunggah disertai dengan cover BJU dan surat pernyataan kejujuran akademik.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA

Surat Pernyataan Mahasiswa


Kejujuran Akademik

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama Mahasiswa: :Ikomang sutrisna satria putra


NIM: 042288685
Kode/Nama Mata Kuliah : ekma4159
Fakultas : ekonomi
Program Studi :manajemen
UPBJJ-UT :77/denpasar

1. Saya tidak menerima naskah UAS THE dari siapapun selain mengunduh dari aplikasi THE pada laman
https://the.ut.ac.id.
2. Saya tidak memberikan naskah UAS THE kepada siapapun.
3. Saya tidak menerima dan atau memberikan bantuan dalam bentuk apapun dalam pengerjaan soal ujian
UAS THE.
4. Saya tidak melakukan plagiasi atas pekerjaan orang lain (menyalin dan mengakuinya sebagai pekerjaan
saya).
5. Saya memahami bahwa segala tindakan kecurangan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan aturan
akademik yang berlaku di Universitas Terbuka.
6. Saya bersedia menjunjung tinggi ketertiban, kedisiplinan, dan integritas akademik dengan tidak
melakukan kecurangan, joki, menyebarluaskan soal dan jawaban UAS THE melalui media apapun, serta
tindakan tidak terpuji lainnya yang bertentangan dengan peraturan akademik Universitas Terbuka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila di kemudian hari terdapat pelanggaran
atas pernyataan di atas, saya bersedia bertanggung jawab dan menanggung sanksi akademik yang ditetapkan oleh
Universitas Terbuka.
Negara,14 juli 2021

Yang Membuat Pernyataan

Ikomang sutrisna satria putra


1. Untuk bisa melaksanakan komunikasi lintasbudaya atau komunikasi
antarbudaya yang efektif, McNab (2006) memberikan beberapa saran sebagai
berikut:
2. mengembangkan pengertian yang mendasar tentang keragaman budaya;
3. keterbukaan terhadap perspektif yang berbeda
4. bisa menerima dan menyesuaikan dengan berbagai komunikasi
5. memiliki keterampilan menyimak dan bertanya yang efektif.

Sedangkan butir butir komunikasi lintas budaya dan antar budaya menurut McNab
pada tahun 2006 yaitu:

1. Membuka dan menutup percakapan. Ini penting diperhatikan karena budaya


yang berbeda memiliki adat kebiasaan yang berbeda tentang siapa yang berbicara
pada siapan, kapan dan bagaimana serta siapa yang dipandang berhak, atau
bahkan kewajiban, untuk memulai pembicaraan, dan apa yang tepat untuk
menyimpulkan percakapan.
2. Mengubah peran dalam percakapan. Pada beberapa kebudayaan, cara yang
paling baik mengubah peran dalam percakapan adalah dengan cara interaktif.
Artinya peran sebagai pembicara dan pendengar berganti-ganti karena kehendak
kedua belah pihak. Pada kebudayaan yang lain, justru dianggap sangat penting
lawan bicara menyelesaikan dulu semua yang hendak disampaikannya, baru
kemudian kita berbicara untuk memberi komentar atau sekedar memberi
tanggapan.
3. Memotong pembicaraan. Persoalan lain dalam komunikasi antarbudaya adalah
memotong atau menyela pembicaraan. Ada kebudayaan memandang memotong
pembicaraan dianggap sebagai bagian dari gaya percakapan. Hal seperti ini
biasanya terjadi pada budaya yang egaliter. Sedangkan pada kebudayaan yang
lain, memotong pembicaraan dianggap tidak sopan bahkan dipandang menantang.
4. Joda percakapan. Ada kalanya, saat kita bicara kita berdiam sejenak, barang
beberapa detik. Rupanya makna berdiam sejenak itu berbeda beda pada setiap
kebudayaan. Pada kebudayaan tertentu, berdiam sejenak dipandang sebagai
bentuk memikirkan semua apa yang dikatakan dengan penuh pertimbangan,
namun pada saat yang lain bisa saja ini dipandang sebagai sikap bermusuhan.
Bagi masyarakat Barat, berdiam selama 20 detik dalam sebuah pertemuan
dipandang sebagai tanda kekurangnyamanan, dan banyak orang akan merasa
tidak enak dengan suasana seperti itu. Namun pada masyarakat lain dipandang
sebaliknya.
5. Topik pencakapan yang tepat. Ada beberapa topik yang bila dibicarakan
dipandang tidak tepat. Berbicara mengenai uang atau harta kekayaan secara
terbuka, pada satu masyarakat dianggap sebagai bentuk kesombongan namun
pada masyarakat lain justru dianggap sebagai tanda keakraban atau kedekatan.
6. Humor sering kali dianggap sebagai bumbu percakapan yang berfungsi
mengakrabkan atau membangun kedekatan. Dalam kehidupan sehari hari, kita
biasa berusaha membangun kedekatan dengan humor. Namun hendaknya ini
tidak
kita pandang berlaku universal, atau berlaku untuk semua situasi. Pada orang
yang baru kita kenal dan sedang berdua, tidak sepatutnya kita berhumor.
7. Tahu seberapa banyak kita berbicara. Ini salah satu persoalan dalam
komunikasi lintasbudaya. Kita tidak memiliki ukuran atau takaran, seberapa
banyak seseorang dianggap patut dalam berbicara. Bagi satu kelompok budaya,
pembukaan yang sekedar basa-basi tidak begitu disukai, sehingga dipandang lebih
baik berbicara langsung pada pokok permasalahan. Pada masyarakat yang lain,
pembukaan yang panjang lebar bagian dari kesantunan dan menunjukkan diri
sebagai manusia yang beradab.
8. Menyusun tahapan untuk unsur-unsur percakapan. Bila kita berbicara isu yang
sensitif, permasalahan yang muncul biasanya pada saat mana kita dianggap tepat
untuk memulai berbicara tentang isu sensitif itu. Di sinilah kita perlu memiliki
kepekaan kapan saat yang tepat untuk mulai masuk ke dalam pokok bahasan yang
sensitif itu, dengan mempertimbangkan budaya.

2. Jebakan-jebakan" sikap yang perlu diperhatikan dalam komunikasi bisnis antar


budaya yaitu:
1. Etnosentrisme, yaitu orang yang memandang bahwa kelompok etniknya atau
budayanya yang paling baik di dunia ini. Pada sikap ini sesungguhnya tercermin
ketidakmampuan untuk menerima apa yang menjadi pandangan dunia orang lain.
2. Diskriminasi, yaitu memberikan perlakuan yang berbeda pada individu karena
statusnya sebagai minoritas.
3. Stereotip, yang sesungguhnya merupakan generalisasi pada individu, kelompok
dan etnik tertentu sehingga kita menyimpulkan orang yang berasal dari etnik
tertentu memiliki sifat dan watak tertentu. Stereotip yang paling sering kita
dengar, orang Padang pandai berdagang. Stereotip sesungguhnya mengabaikan
satu hal penting yaitu adanya perbedaan-perbedaan yang sifatnya individual.
4. Buta budaya, yaitu mengabaikan perbedaan-perbedaan budaya dan
memandang perbedaan itu sesungguhnya tidak ada. Semua dianggap sama saja
sehingga tidak perlu melakukan pertimbangan budaya dalam bertindak.
5. Pemaksaan budaya yaitu keyakinan yang menyatakan bahwa semua orang
hendaknya menyesuaikan diri dengan mayoritas. Orang diabaikan memiliki
perbedaan, bila pun memiliki perbedaan diharuskan untuk mengikuti
pada spa yang dianut oleh mayoritas.
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA
BUKU JAWABAN UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA