MAKALAH
STASE KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
(K3)
PERSONAL PROTECTIVE EQUPMENT (PPE)
Oleh:
Fitriani Aswad
2010306016
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FISIOTERAPI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2020/2021
STASE KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
PERSONAL PROTECTIVE EQUPMENT (PPE)
Disusun Oleh:
Fitriani Aswad
2010306016
Telah Memenuhi Persyaratan dan Disetujui Oleh Pembimbing Lahan Praktik
Guna Memenuhi Tugas Akhir Praktik Profesi Program Studi Fisioterapi Profesi
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Periode 8 Februari
Sampai dengan 20 Februari 2021
Pembimbing : Neny Ishak, [Link]
Tempat, Tanggal : Palopo, 15 Februari 2021
Tanda Tangan:
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat, karunia dan hidayat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan Nabi Muhammad SAW. Berkat limpahan rahmat-
Nya penulis mampu menyusun dan menyelesaikan makalah “Personal Protective
Equpment (PPE)” sebagai kelengkapan tugas Stase Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3)
Dalam proses penyusunan makalah ini tidak jarang penulis menemui
hambatan, namun berkat adanya dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak,
maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan ini
pula, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Fitriana Hasanah,
[Link]., Ftr sebagai Clinical Educator Stase Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yang tanpa lelah untuk membimbing dan membagi ilmu kepada penulis sebelum,
selama, dan setelah stase berlangsung.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan
makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada
kita semua.
Palopo, Februari 2020
Penyusun
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................2
C. Tujuan Penelitian..............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Personal Protective Equipment..........................................3
B Tujuan Pemakaian Personal Protective Equipment..........................3
C Dasar Hukum Pemakaian Personal Protective Equipment...............4
D Klasifikasi Personal Protective Equipment.......................................5
E. Syarat Personal Protective Equipment.............................................6
F Personal Protective Equipment..........................................................7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................11
B. Saran.................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD)
merupakan alat yang
digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian
tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja
(Safety, 2008). Penggunaan APD menjadi bentuk pengendalian resiko
terakhir untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja.
Menerapkan kepatuhan menggunakan APD penting dilakukan sebagai
tanggung jawab perusahaan untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya
keselamatan kerja dan kesehatan kerja.
Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi resiko bahaya dalam
bentuk kecelakaan kerja. Besarnya potensi kecelakaan dan penyakit kerja
tersebut tergantung dari jenis produksi, teknologi yang dipakai, bahan yang
digunakan, tata ruang dan lingkungan bangunan serta kualitas manajemen dan
tenaga-tenaga pelaksana. Sebelum tahun 2014 ada peningkatan jumlah kasus
kecelakaan akibat kerja dari 9.891 menjadi 35.917 kasus kecelakaan kerja.
Berdasarkan data ILO dari Indonesia mulai November 2013 hingga
Februari 2015
angka pekerja selalu meningkat. Ini berarti sebagian besar dari jumlah
penduduk Indonesia adalah masyarakat pekerja, oleh karena itu perlu
peningkatan kesehatan dan keselamatan pada pekerja. Tenaga kerja sebagai
sumber daya manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka
mengembangkan dan memajukan industri. Oleh sebab itu pekerja
Personal Protective Equipment harus diberi perlindungan melalui
usaha-usaha peningkatan dan pencegahan. Tingginya resiko terhadap
gangguan kesehatan dari beberapa pekerja yang tertinggi angka terjadinya
kecelakaan atau penyakit akibat kerja adalah bidang industri salah satunya
pekerja di pabrik rokok, maka perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan
terhadap kejadian penyakit atau traumatic akibat lingkungan kerja dan faktor
manusianya. Salah satu diantaranya adalah kepatuhan penggunaan APD.
1
Dimasa pandemi Covid-19, penggunaan APD oleh tenaga kesehatan
yang terlibat langsung dalam penanganan pasien terutama yang telah
terkonfirmasi Covid-19 merupakan hal yang sangat penting. APD yang
digunakan diharapkan adalah APD yang telah memenuhi standar sehingga
efektif untuk mencegah penyebaran virus atau tertular Covid-19.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk dan jenis Personal Protective Equipment yang memenuhi
standar untuk tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 ?
C. Tujuan
Untuk bentuk dan jenis Personal Protective Equipment yang memenuhi
standar untuk tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Peraonal Protective Equipment
Menurut Undang-Undang Keselama-tan dan kesehatan kerja (K3) tahun 1970
Personal Protective Equipment (Alat Pelindung Diri) adalah wajib dipakai oleh para
pekerja yang memiliki resiko bahaya dilingkugan pekerjaannya. Alat Pelindung Diri
adalah merupakan bagian penting dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
dalam laboratorium, kecelakaan kerja bisa terjadi jika tidak memperhatikan prinsip
"Unsave condition dan unsave action". Kecelakaan kerja dapat menyebabkan sakit,
cacat, kerusakan mesin, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan, dan
pengeluaran-pengeluaran biaya kecelakaan kerja. Secara umum kecelakaan kerja
terjadi karena dua hal penyebab yaitu keadaaan lingkungan yang tidak aman dan
tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan dan kesehatan kerja.
Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD) merupakan alat yang
digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian
tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja (Safety,
2008). Penggunaan APD menjadi bentuk pengendalian resiko terakhir untuk
melindungi tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja.
B. Tujuan Pemakaian Personal Protective Equipment
Tujuan K3 adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, sejahtera
sehingga akan tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman,
mencapai tenaga kerja yang sehat fisik, sosial, dan bebas kecelakaan, peningkatan
produktivitas dan efisien perusahaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat tenaga
kerja. Usaha-usaha K3 meliputi perlin-dungan terhadap tenaga kerja, perlindungan
terhadap bahan dan peralatan produksi agar selalu terjamin keamanannya dan efisien,
3
perlindungan terhadap orang lain yang berada di tempat kerja agar selamat dan sehat
(Suma’mur, 1989:3).
Dalam Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja No. 1 tahun 1970 ini
memberikan perlindungan hukum kepada te-naga kerja yang bekerja agar tempat dan
peralatan produksi senantiasa berada dalam keadaan selamat dan aman bagi mereka.
Selain itu pasal 86, paragraf 5 keselamatan dan kesehatan kerja, bab X Undang-
Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenaga-kerjaan antara lain menyatakan
bahwa setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas K3; untuk
melindungi ke-selamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal
diselengga-rakan upaya K3, dan perlindungan sebagaimana dimaksud dilaksanakan
sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Penjelasan pasal 86, ayat 2
menyatakan upaya K3 dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan
meningkatkan derajat kesehatan para pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan,
pengobatan, dan rehabi-litasi (Suma’mur, 1989).
C. Dasar Hukum Pemakaian Personal Protective Equipment
Dasar hukum keselamatan dan kesehatan kerja, Undang-Undang Nomor 1
Tahun 1970 yaitu tentang keselamatan kerja meliputi:
1. Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan-nya
dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan
produksi serta produktivitas nasional.
2. Bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula
keselamatannya.
3. Bahwa setiap produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien.
Hal ini bahwa segala aspek dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja harus
benar-benar diperhatikan, seperti tempat kerja harus menjamin keselamatannya
4
agar tidak terjadi suatu kecelakaan begitu juga dengan pengaman alat, mesin dan
bahan-bahan produksi.
D. Klasifikasi Personal Protective Equipment
Personal Protective Equpment merupa-kan peralatan pengaman pekerja yang
harus dipakai saat bekerja. Berikut ini adalah jenis-jenis APD menurut bagian tubuh
yang dilindungi (Suma’mur, 1989).
a. Kepala: topi, helm, penutup rambut
b. Mata: kacamata dari berbagai jenis kaca, googles
c. Muka: topeng (mask)
d. Telinga: sumbat telinga, tutup telinga
e. Alat pernafasan: masker khusus, respira-tor
f. Tangan dan jari: sarung tangan
g. Kaki: sepatu, boot
h. Tubuh: apron, overall
Berikut ini disajikan tabel penggunaan APD menurut keperluannya:
Tabel 1 Jenis Alat Pelindung Diri Menurut Kebutuhan
Faktor Bahaya Bagian Tubuh yang Perlu APD yang Digunakan
Perlindungan
Benda berat Kepala, betis, tungkai, Topi logam atau plastik,
Pergelangan kaki, kaki, dan lapisan pelindung dari kain
jari kaki kulit, logam
Sepatu steelbox toe (berujung
baja)
Benda tidak terlalu berat Kepala Safety helm, topi dari bahan
keras
Benda kecil berterbangan Kepala Topi
Mata Kacamata
Hidung Respirator, masker
Tubuh Overall
Tangan dan jari Sarung tangan
Kaki Sepatu, boot
Debu Mata Kacamata
Alat pernafasan Respirator atau masker
Terpeleset Kaki Sepatu anti slip (bersol karet)
Terpotong, tergosok Kepala Safety helm
5
Tangan dan jari Sarung tangan berlengan
Tubuh panjang
Kaki Overall,
Sepatu berujung baja, boot
Mesin-mesin Kepala Topi
Tangan dan jari Sarung tangan
Tubuh Overall
Kaki Sepatu
Listrik Kepala Topi dari bahan plastik atau
Tangan dan jari karet
Tubuh Sarung tangan karet
Kaki Overall bahan apron
Sepatu bahan karet
Bahan kimia Kepala Topi karet, plastik
Mata Googles, kacamata bahan
Muka khusus
Hidung Topeng
Tangan dan jari Respirator, masker
Tubuh Sarung tangan karet, plastik
Kaki Pakaian bahan khusus
Sepatu karet, boot
E. Syarat Personal Protective Equipment
Menurut ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Pelindung Diri adalah
sebagai berikut.
a. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang
spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja
b. Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan
rasa ketidaknyamanan yang berlebihan
c. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel
d. Bentuknya harus cukup menarik
e. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama
f. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang
dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam
menggunakannya
g. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada
6
h. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya. Suku
cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.
Tempat-tempat yang diharuskan adanya pemakaian Personal Protective
Equipment:
1. Lingkungan tempat bekerja menunjuk-kan atau akan menunjukkan keberadaan
potensi bahaya (hazard) yang dapat mengakibatkan cidera pada badan atau
anggota tubuh yang lain.
2. Proses kerja yang dilakukan menunjukkan atau akan menunjukkan keberadaan
potensi bahaya (hazard) yang dapat mengakibatkan cidera pada badan atau
anggota tubuh yang lain.
3. Selama bekerja, pekerja mempunyai kemungkinan terkena bahan kimia bahaya
(hazardous chemicals), fisika, radiasi maupun iritasi mekanik.
4. Potensi bahaya yang timbul tidak dapat dieliminasi dengan pengenda-lian
teknik dan pengendalian administrasi.
F. Personal Protective Equipment di Masa Pandemi Covid-19
a. Masker Bedah (Medical/Surgical Mask)
Kegunaan : Melindungi pengguna dari partikel yang dibawa
melalui udara (airborne particle), droplet, cairan, virus atau bakteri.
Material : Non woven spunbond meltblown spunbond (sms) dan
spunbond meltblown meltblown spunbond (smms).
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
Syarat Masker Bedah : Masker bedah tidak direkomendasikan untuk
penanganan langsung pasien terkonfirmasi Covid-19; Masker dapat menahan
dengan baik terhadap penetrasi cairan, darah dan droplet; Bagian dalam dan luar
masker harus dapat terindentifikasi dengan mudah dan jelas; Penempatan masker
7
pada wajah longgar (loose fit); Masker dirancang agar tidak rusak dengan mulut
(misalnya berbentuk mangkok atau duckbill); Memiliki Efisiensi Penyaringan
Bakteri (bacterial filtration efficiency) 98%; Dengan masker ini pengguna dapat
bernafas dengan baik saat memakainya (Differential Pressure/ΔP < 5.0 mmH2O/
cm2); Lulus uji Bacteria Filtration Efficiency in vitro (BFE), Particle Filtration
Efficiency, Breathing Resistance, Splash Resistance, Dan Flammability.
b. Respirator N95
Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga
kesehatan dengan menyaring atau menahan cairan, darah, aerosol (partikel padat
di udara), bakteri atau virus.
Material : Terbuat dari 4-5 lapisan (lapisan luar
polypropilen, lapisan tengah electrete (charged polypropylene).
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use)
Respirator yang dapat digunakan : N95 atau Filtering Face Piece (FFP2).
Syarat Pemakaian Respirator N95 : Penempatan pada wajah ketat
(tight fit); Masker dirancang untuk tidak dapat rusak dengan mulut (misalnya
berbentuk mangkok atau duckbill) dan memiliki bentuk yang tidak mudah rusak;
Memiliki efisiensi filtrasi yang baik dan mampu menyaring sedikitnya 95%
partikel kecil (0,3 micron); Kemampuan filtrasi lebih baik dari masker bedah;
Direkomendasikan dalam penanganan langsung pasien terkonfirmasi Covid-19;
Dengan masker ini pengguna dapat bernafas dengan baik saat memakainya
(Differential Pressure/ΔP < 5.0 mmH2O/cm2); Lulus uji Bacteria Filtration
Efficiency in vitro (BFE), Particle Filtration Efficiency, Breathing Resistance,
Splash Resistance, dan Flammability.
c. Pelindung Mata (Goggles)
8
Pelindung mata berperan dalam melindungi mata dan area di sekitar mata
pengguna atau tenaga medis dari percikan cairan atau darah atau droplet.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan
kembali setelah dilakukan desinfeksi/dekontaminasi.
Material : Plastik/Arcylic bening.
Syarat pemakaian Gogle : Goggle tahan terhadap air dan goresan; Frame goggle
bersifat fleksibel untuk menyesuaikan dengan kontur wajah tanpa tekanan yang
berlebihan; Ikatan goggle dapat disesuaikan dengan kuat sehingga tidak longgar
saat melakukan aktivitas klinis; Tersedia celah angin/udara yang berfungsi untuk
mengurangi uap air; Goggle tidak diperbolehkan untuk dipergunakan kembali
jika ada bagian yang rusak.
d. Pelindung Wajah (Face Shield)
Kegunaan : Melindungi mata dan wajah
pengguna/tenaga medis (termasuk bagian tepi wajah) dari percikan cairan atau
darah atau droplet.
Material : Plastik bening yang dapat memberikan
visibilitas yang baik bagi pemakainya maupun pasien.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat
dipergunakan kembali setelah dilakukan desinfeksi/dekontaminasi.
Persyaratan pemakaian Face shield : Face shield tahan terhadap uap air
(disarankan); Ikatan face shield dapat disesuaikan untuk melekat dengan kuat di
sekeliling kepala dan pas pada dahi; Face shield tidak diperbolehkan untuk
dipergunakan kembali jika ada bagian yang rusak.
e. Sarung tangan pemeriksaan (Examination Gloves)
Kegunaan : Melindungi tangan pengguna
atau tenaga medis dari penyebaran infeksi atau penyakit selama pelaksanaan
9
pemeriksaan atau prosedur medis.
Material : Nitrile, latex, isoprene.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
Syarat penggunaan Sarung Tangan : Non steril; Bebas dari tepung (powder
free); Memiliki cuff yang panjang melewati pergelangan tangan (minimum 230
mm, ukuran S, M, L); Desain bagian pergelangan tangan harus dapat menutup
rapat tanpa kerutan; Sarung tangan tidak boleh menggulung atau mengkerut
selama penggunaan. Sarung tangan tidak boleh mengiritasi kulit.
f. Sarung tangan bedah (Surgical Gloves)
Kegunaan : Melindungi tangan pengguna atau
tenaga kesehatan dari penyebaran infeksi atau penyakit dalam pelaksanaan
tindakan bedah.
Material : Nitrile, latex, isoprene.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
Syarat penggunaan Surgical gloves : Steril; Bebas dari tepung (powder free);
Memiliki cuff yang panjang, melewati pergelangan tangan, dengan ukuran antara
5-9; Desain bagian pergelangan tangan harus dapat menutup rapat tanpa kerutan;
Sarung tangan tidak boleh menggulung atau mengkerut selama penggunaan;
Sarung tangan tidak boleh mengiritasi kulit.
g. Gaun Sekali Pakai
Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan dari
penyebaran infeksi atau penyakit, hanya melindungi bagian depan, lengan dan
setengah kaki.
Material : Non woven, Serat Sintetik (Polypropilen, polyester,
polyetilen, dupont tyvex).
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
10
Syarat Gaun sekali pakai : Berwarna terang/cerah agar jika terdapat kontaminan
dapat terdeteksi dengan mudah; Tahan terhadap penetrasi cairan darah dan cairan
tubuh lainnya, virus; Tahan terhadap aerosol, airborne, partikel padat; Panjang
gaun setengah betis untuk menutupi bagian atas sepatu boots; Terdapat lingkaran
(cuff) yang elastis pada pergelangan tangan; Lulus uji fluid penetration resistant
atau blood borne pathogens penetration resistant dan partial body protection.
h. Coverall Medis
Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan dari
penyebaran infeksi atau penyakit secara menyeluruh dimana seluruh tubuh
termasuk kepala, punggung, dan tungkai bawah tertutup.
Material : Non woven, Serat Sintetik (Polypropilen, polyester,
polyetilen, dupont tyvex) dengan pori-pori 0.2-0.54 mikron (microphorous).
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
Syarat Coverall Medis : Berwarna terang/ cerah agar jika terdapat kontaminan
dapat terdeteksi/terlihat dengan mudah; Tahan terhadap penetrasi cairan, darah,
virus; Tahan terhadap aerosol, airborne, partikel padat.
i. Heavy Duty Apron
Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan terhadap
penyebaran infeksi atau penyakit.
Material : 100% polyester dengan lapisan PVC, atau 100% PVC,
atau 100% karet, atau bahan tahan air lainnya.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan
kembali setelah dilakukan desinfeksi atau dekontaminasi.
Syarat Apron : Apron lurus dengan kain penutup dada. Kain: tahan air,
dengan jahitan tali pengikat leher dan punggung; Berat minimal: 300g/m2;
Covering size: lebar 70-90 cm x tinggi 120-150 cm.
11
j. Sepatu boot anti air (Waterproof Boots)
Kegunaan : Melindungi kaki pengguna/tenaga kesehatan dari
percikan cairan atau darah.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan
kembali setelah dilakukan desinfeksi atau dekontaminasi.
Material : Latex dan PVC.
Syarat Sepatu Boot : Bersifat non-slip, dengan sol PVC yang tertutup
sempurna; Memiliki tinggi selutut supaya lebih tinggi daripada bagian bawah
gaun; Berwarna terang agar kontaminasi dapat terdeteksi dengan mudah; Sepatu
boot tidak boleh dipergunakan kembali jika ada bagian yang rusak.
k. Penutup sepatu (Shoe Cover)
Kegunaan : Melindungi sepatu pengguna/tenaga kesehatan dari
percikan cairan/darah.
Material : Non Woven Spun Bond.
Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).
Syarat Penutup Sepatu : Tidak boleh mudah bergerak saat telah terpasang;
Disarankan tahan air
12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD) merupakan
alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian
tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Tujuan K3
adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, sejahtera sehingga akan
tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman, mencapai tenaga
kerja yang sehat fisik, sosial, dan bebas kecelakaan, peningkatan produktivitas dan
efisien perusahaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat tena-ga kerja.
B. Saran
Alat Pelindung Diri (APD) digunakan untuk melindungi dari penularan virus
khususnya Covid-19. Untuk tenaga kesehatan yang melakukan tindakan pelayanan
kesehatan berisiko tinggi seperti tindakan bedah atau tindakan lain yang memiliki
risiko penularan tinggi harus menggunakan APD yang telah memenuhi standar mutu
dan keamanan.
13
DAFTAR PUSTAKA
ILO. 2003. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja. Jakarta: ILO 2013.
Permenaker. 2010. Alat Pelindung Diri. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia.
Suma’mur. 1989. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: CV. Haji Mas
Agung
[Link]. (2020, 6 April). Rational use of personal protective equipment for coronavirus
disease (COVID-19) and considerations during severe shortages. Diakses pada 10
September 2020, dari [Link]
2019/technical-guidance.
[Link]. (2020, 29 Maret). Modes of transmission of virus causing COVID-19:
implications for IPC precaution recommendations. Diakses pada 10 September 2020,
dari [Link]
guidance.
14