0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan18 halaman

Makalah Ppe

Makalah ini membahas tentang Personal Protective Equipment (PPE) yang merupakan alat pelindung diri yang wajib digunakan oleh pekerja untuk melindungi diri dari bahaya di tempat kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja."

Diunggah oleh

Wirna Yanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
1K tayangan18 halaman

Makalah Ppe

Makalah ini membahas tentang Personal Protective Equipment (PPE) yang merupakan alat pelindung diri yang wajib digunakan oleh pekerja untuk melindungi diri dari bahaya di tempat kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja."

Diunggah oleh

Wirna Yanti
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

STASE KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA


(K3)

PERSONAL PROTECTIVE EQUPMENT (PPE)

Oleh:
Fitriani Aswad
2010306016

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI FISIOTERAPI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS
‘AISYIYAH YOGYAKARTA
2020/2021
STASE KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)
PERSONAL PROTECTIVE EQUPMENT (PPE)

Disusun Oleh:
Fitriani Aswad
2010306016

Telah Memenuhi Persyaratan dan Disetujui Oleh Pembimbing Lahan Praktik


Guna Memenuhi Tugas Akhir Praktik Profesi Program Studi Fisioterapi Profesi
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Periode 8 Februari
Sampai dengan 20 Februari 2021

Pembimbing : Neny Ishak, [Link]


Tempat, Tanggal : Palopo, 15 Februari 2021

Tanda Tangan:

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
melimpahkan rahmat, karunia dan hidayat-Nya kepada kita. Shalawat dan salam
semoga senantiasa tercurahkan Nabi Muhammad SAW. Berkat limpahan rahmat-
Nya penulis mampu menyusun dan menyelesaikan makalah “Personal Protective
Equpment (PPE)” sebagai kelengkapan tugas Stase Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3)
Dalam proses penyusunan makalah ini tidak jarang penulis menemui
hambatan, namun berkat adanya dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak,
maka penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan ini
pula, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Fitriana Hasanah,
[Link]., Ftr sebagai Clinical Educator Stase Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
yang tanpa lelah untuk membimbing dan membagi ilmu kepada penulis sebelum,
selama, dan setelah stase berlangsung.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu saran dan kritik sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan
makalah ini. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada
kita semua.

Palopo, Februari 2020

Penyusun

iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................1
B. Rumusan Masalah............................................................................2
C. Tujuan Penelitian..............................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Personal Protective Equipment..........................................3
B Tujuan Pemakaian Personal Protective Equipment..........................3
C Dasar Hukum Pemakaian Personal Protective Equipment...............4
D Klasifikasi Personal Protective Equipment.......................................5
E. Syarat Personal Protective Equipment.............................................6
F Personal Protective Equipment..........................................................7
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan......................................................................................11
B. Saran.................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD)
merupakan alat yang
digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian
tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja
(Safety, 2008). Penggunaan APD menjadi bentuk pengendalian resiko
terakhir untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja.
Menerapkan kepatuhan menggunakan APD penting dilakukan sebagai
tanggung jawab perusahaan untuk melindungi tenaga kerja dari bahaya
keselamatan kerja dan kesehatan kerja.
Setiap pekerjaan selalu mengandung potensi resiko bahaya dalam
bentuk kecelakaan kerja. Besarnya potensi kecelakaan dan penyakit kerja
tersebut tergantung dari jenis produksi, teknologi yang dipakai, bahan yang
digunakan, tata ruang dan lingkungan bangunan serta kualitas manajemen dan
tenaga-tenaga pelaksana. Sebelum tahun 2014 ada peningkatan jumlah kasus
kecelakaan akibat kerja dari 9.891 menjadi 35.917 kasus kecelakaan kerja.
Berdasarkan data ILO dari Indonesia mulai November 2013 hingga
Februari 2015
angka pekerja selalu meningkat. Ini berarti sebagian besar dari jumlah
penduduk Indonesia adalah masyarakat pekerja, oleh karena itu perlu
peningkatan kesehatan dan keselamatan pada pekerja. Tenaga kerja sebagai
sumber daya manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka
mengembangkan dan memajukan industri. Oleh sebab itu pekerja
Personal Protective Equipment harus diberi perlindungan melalui
usaha-usaha peningkatan dan pencegahan. Tingginya resiko terhadap
gangguan kesehatan dari beberapa pekerja yang tertinggi angka terjadinya
kecelakaan atau penyakit akibat kerja adalah bidang industri salah satunya
pekerja di pabrik rokok, maka perlu dilakukan upaya-upaya pencegahan
terhadap kejadian penyakit atau traumatic akibat lingkungan kerja dan faktor
manusianya. Salah satu diantaranya adalah kepatuhan penggunaan APD.

1
Dimasa pandemi Covid-19, penggunaan APD oleh tenaga kesehatan
yang terlibat langsung dalam penanganan pasien terutama yang telah
terkonfirmasi Covid-19 merupakan hal yang sangat penting. APD yang
digunakan diharapkan adalah APD yang telah memenuhi standar sehingga
efektif untuk mencegah penyebaran virus atau tertular Covid-19.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana bentuk dan jenis Personal Protective Equipment yang memenuhi
standar untuk tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 ?

C. Tujuan
Untuk bentuk dan jenis Personal Protective Equipment yang memenuhi
standar untuk tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Peraonal Protective Equipment

Menurut Undang-Undang Keselama-tan dan kesehatan kerja (K3) tahun 1970

Personal Protective Equipment (Alat Pelindung Diri) adalah wajib dipakai oleh para

pekerja yang memiliki resiko bahaya dilingkugan pekerjaannya. Alat Pelindung Diri

adalah merupakan bagian penting dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

dalam laboratorium, kecelakaan kerja bisa terjadi jika tidak memperhatikan prinsip

"Unsave condition dan unsave action". Kecelakaan kerja dapat menyebabkan sakit,

cacat, kerusakan mesin, terhentinya proses produksi, kerusakan lingkungan, dan

pengeluaran-pengeluaran biaya kecelakaan kerja. Secara umum kecelakaan kerja

terjadi karena dua hal penyebab yaitu keadaaan lingkungan yang tidak aman dan

tindak perbuatan manusia yang tidak memenuhi keselamatan dan kesehatan kerja.

Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD) merupakan alat yang
digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian

tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja (Safety,

2008). Penggunaan APD menjadi bentuk pengendalian resiko terakhir untuk

melindungi tenaga kerja dari bahaya keselamatan kerja.

B. Tujuan Pemakaian Personal Protective Equipment

Tujuan K3 adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, sejahtera

sehingga akan tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman,

mencapai tenaga kerja yang sehat fisik, sosial, dan bebas kecelakaan, peningkatan

produktivitas dan efisien perusahaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat tenaga

kerja. Usaha-usaha K3 meliputi perlin-dungan terhadap tenaga kerja, perlindungan

terhadap bahan dan peralatan produksi agar selalu terjamin keamanannya dan efisien,

3
perlindungan terhadap orang lain yang berada di tempat kerja agar selamat dan sehat

(Suma’mur, 1989:3).

Dalam Undang-Undang keselamatan dan kesehatan kerja No. 1 tahun 1970 ini

memberikan perlindungan hukum kepada te-naga kerja yang bekerja agar tempat dan

peralatan produksi senantiasa berada dalam keadaan selamat dan aman bagi mereka.

Selain itu pasal 86, paragraf 5 keselamatan dan kesehatan kerja, bab X Undang-

Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenaga-kerjaan antara lain menyatakan

bahwa setiap pekerja mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas K3; untuk

melindungi ke-selamatan pekerja guna mewujudkan produktivitas kerja yang optimal

diselengga-rakan upaya K3, dan perlindungan sebagaimana dimaksud dilaksanakan

sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Penjelasan pasal 86, ayat 2

menyatakan upaya K3 dimaksudkan untuk memberikan jaminan keselamatan dan

meningkatkan derajat kesehatan para pekerja dengan cara pencegahan kecelakaan dan

penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi kesehatan,

pengobatan, dan rehabi-litasi (Suma’mur, 1989).

C. Dasar Hukum Pemakaian Personal Protective Equipment

Dasar hukum keselamatan dan kesehatan kerja, Undang-Undang Nomor 1

Tahun 1970 yaitu tentang keselamatan kerja meliputi:

1. Bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan-nya

dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan

produksi serta produktivitas nasional.

2. Bahwa setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula

keselamatannya.

3. Bahwa setiap produksi perlu dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien.

Hal ini bahwa segala aspek dapat menimbulkan resiko kecelakaan kerja harus

benar-benar diperhatikan, seperti tempat kerja harus menjamin keselamatannya

4
agar tidak terjadi suatu kecelakaan begitu juga dengan pengaman alat, mesin dan

bahan-bahan produksi.

D. Klasifikasi Personal Protective Equipment

Personal Protective Equpment merupa-kan peralatan pengaman pekerja yang

harus dipakai saat bekerja. Berikut ini adalah jenis-jenis APD menurut bagian tubuh

yang dilindungi (Suma’mur, 1989).

a. Kepala: topi, helm, penutup rambut

b. Mata: kacamata dari berbagai jenis kaca, googles

c. Muka: topeng (mask)

d. Telinga: sumbat telinga, tutup telinga

e. Alat pernafasan: masker khusus, respira-tor

f. Tangan dan jari: sarung tangan

g. Kaki: sepatu, boot

h. Tubuh: apron, overall

Berikut ini disajikan tabel penggunaan APD menurut keperluannya:

Tabel 1 Jenis Alat Pelindung Diri Menurut Kebutuhan

Faktor Bahaya Bagian Tubuh yang Perlu APD yang Digunakan


Perlindungan
Benda berat Kepala, betis, tungkai, Topi logam atau plastik,
Pergelangan kaki, kaki, dan lapisan pelindung dari kain
jari kaki kulit, logam
Sepatu steelbox toe (berujung
baja)
Benda tidak terlalu berat Kepala Safety helm, topi dari bahan
keras
Benda kecil berterbangan Kepala Topi
Mata Kacamata
Hidung Respirator, masker
Tubuh Overall
Tangan dan jari Sarung tangan
Kaki Sepatu, boot
Debu Mata Kacamata
Alat pernafasan Respirator atau masker
Terpeleset Kaki Sepatu anti slip (bersol karet)
Terpotong, tergosok Kepala Safety helm
5
Tangan dan jari Sarung tangan berlengan
Tubuh panjang
Kaki Overall,
Sepatu berujung baja, boot
Mesin-mesin Kepala Topi
Tangan dan jari Sarung tangan
Tubuh Overall
Kaki Sepatu
Listrik Kepala Topi dari bahan plastik atau
Tangan dan jari karet
Tubuh Sarung tangan karet
Kaki Overall bahan apron
Sepatu bahan karet
Bahan kimia Kepala Topi karet, plastik
Mata Googles, kacamata bahan
Muka khusus
Hidung Topeng
Tangan dan jari Respirator, masker
Tubuh Sarung tangan karet, plastik
Kaki Pakaian bahan khusus
Sepatu karet, boot

E. Syarat Personal Protective Equipment

Menurut ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Pelindung Diri adalah

sebagai berikut.

a. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang

spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja

b. Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan

rasa ketidaknyamanan yang berlebihan

c. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel

d. Bentuknya harus cukup menarik

e. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama

f. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang

dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam

menggunakannya

g. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada

6
h. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya. Suku

cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.

Tempat-tempat yang diharuskan adanya pemakaian Personal Protective

Equipment:

1. Lingkungan tempat bekerja menunjuk-kan atau akan menunjukkan keberadaan

potensi bahaya (hazard) yang dapat mengakibatkan cidera pada badan atau

anggota tubuh yang lain.

2. Proses kerja yang dilakukan menunjukkan atau akan menunjukkan keberadaan

potensi bahaya (hazard) yang dapat mengakibatkan cidera pada badan atau

anggota tubuh yang lain.

3. Selama bekerja, pekerja mempunyai kemungkinan terkena bahan kimia bahaya

(hazardous chemicals), fisika, radiasi maupun iritasi mekanik.

4. Potensi bahaya yang timbul tidak dapat dieliminasi dengan pengenda-lian

teknik dan pengendalian administrasi.

F. Personal Protective Equipment di Masa Pandemi Covid-19

a. Masker Bedah (Medical/Surgical Mask)

Kegunaan : Melindungi pengguna dari partikel yang dibawa

melalui udara (airborne particle), droplet, cairan, virus atau bakteri.

Material : Non woven spunbond meltblown spunbond (sms) dan

spunbond meltblown meltblown spunbond (smms).

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

Syarat Masker Bedah : Masker bedah tidak direkomendasikan untuk

penanganan langsung pasien terkonfirmasi Covid-19; Masker dapat menahan

dengan baik terhadap penetrasi cairan, darah dan droplet; Bagian dalam dan luar

masker harus dapat terindentifikasi dengan mudah dan jelas; Penempatan masker

7
pada wajah longgar (loose fit); Masker dirancang agar tidak rusak dengan mulut

(misalnya berbentuk mangkok atau duckbill); Memiliki Efisiensi Penyaringan

Bakteri (bacterial filtration efficiency) 98%; Dengan masker ini pengguna dapat

bernafas dengan baik saat memakainya (Differential Pressure/ΔP < 5.0 mmH2O/

cm2); Lulus uji Bacteria Filtration Efficiency in vitro (BFE), Particle Filtration

Efficiency, Breathing Resistance, Splash Resistance, Dan Flammability.

b. Respirator N95

Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga

kesehatan dengan menyaring atau menahan cairan, darah, aerosol (partikel padat

di udara), bakteri atau virus.

Material : Terbuat dari 4-5 lapisan (lapisan luar

polypropilen, lapisan tengah electrete (charged polypropylene).

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use)

Respirator yang dapat digunakan : N95 atau Filtering Face Piece (FFP2).

Syarat Pemakaian Respirator N95 : Penempatan pada wajah ketat

(tight fit); Masker dirancang untuk tidak dapat rusak dengan mulut (misalnya

berbentuk mangkok atau duckbill) dan memiliki bentuk yang tidak mudah rusak;

Memiliki efisiensi filtrasi yang baik dan mampu menyaring sedikitnya 95%

partikel kecil (0,3 micron); Kemampuan filtrasi lebih baik dari masker bedah;

Direkomendasikan dalam penanganan langsung pasien terkonfirmasi Covid-19;

Dengan masker ini pengguna dapat bernafas dengan baik saat memakainya

(Differential Pressure/ΔP < 5.0 mmH2O/cm2); Lulus uji Bacteria Filtration

Efficiency in vitro (BFE), Particle Filtration Efficiency, Breathing Resistance,

Splash Resistance, dan Flammability.

c. Pelindung Mata (Goggles)

8
Pelindung mata berperan dalam melindungi mata dan area di sekitar mata

pengguna atau tenaga medis dari percikan cairan atau darah atau droplet.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan

kembali setelah dilakukan desinfeksi/dekontaminasi.

Material : Plastik/Arcylic bening.

Syarat pemakaian Gogle : Goggle tahan terhadap air dan goresan; Frame goggle

bersifat fleksibel untuk menyesuaikan dengan kontur wajah tanpa tekanan yang

berlebihan; Ikatan goggle dapat disesuaikan dengan kuat sehingga tidak longgar

saat melakukan aktivitas klinis; Tersedia celah angin/udara yang berfungsi untuk

mengurangi uap air; Goggle tidak diperbolehkan untuk dipergunakan kembali

jika ada bagian yang rusak.

d. Pelindung Wajah (Face Shield)

Kegunaan : Melindungi mata dan wajah

pengguna/tenaga medis (termasuk bagian tepi wajah) dari percikan cairan atau

darah atau droplet.

Material : Plastik bening yang dapat memberikan

visibilitas yang baik bagi pemakainya maupun pasien.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat

dipergunakan kembali setelah dilakukan desinfeksi/dekontaminasi.

Persyaratan pemakaian Face shield : Face shield tahan terhadap uap air

(disarankan); Ikatan face shield dapat disesuaikan untuk melekat dengan kuat di

sekeliling kepala dan pas pada dahi; Face shield tidak diperbolehkan untuk

dipergunakan kembali jika ada bagian yang rusak.

e. Sarung tangan pemeriksaan (Examination Gloves)

Kegunaan : Melindungi tangan pengguna

atau tenaga medis dari penyebaran infeksi atau penyakit selama pelaksanaan

9
pemeriksaan atau prosedur medis.

Material : Nitrile, latex, isoprene.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

Syarat penggunaan Sarung Tangan : Non steril; Bebas dari tepung (powder

free); Memiliki cuff yang panjang melewati pergelangan tangan (minimum 230

mm, ukuran S, M, L); Desain bagian pergelangan tangan harus dapat menutup

rapat tanpa kerutan; Sarung tangan tidak boleh menggulung atau mengkerut

selama penggunaan. Sarung tangan tidak boleh mengiritasi kulit.

f. Sarung tangan bedah (Surgical Gloves)

Kegunaan : Melindungi tangan pengguna atau

tenaga kesehatan dari penyebaran infeksi atau penyakit dalam pelaksanaan

tindakan bedah.

Material : Nitrile, latex, isoprene.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

Syarat penggunaan Surgical gloves : Steril; Bebas dari tepung (powder free);

Memiliki cuff yang panjang, melewati pergelangan tangan, dengan ukuran antara

5-9; Desain bagian pergelangan tangan harus dapat menutup rapat tanpa kerutan;

Sarung tangan tidak boleh menggulung atau mengkerut selama penggunaan;

Sarung tangan tidak boleh mengiritasi kulit.

g. Gaun Sekali Pakai

Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan dari

penyebaran infeksi atau penyakit, hanya melindungi bagian depan, lengan dan

setengah kaki.

Material : Non woven, Serat Sintetik (Polypropilen, polyester,

polyetilen, dupont tyvex).

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

10
Syarat Gaun sekali pakai : Berwarna terang/cerah agar jika terdapat kontaminan

dapat terdeteksi dengan mudah; Tahan terhadap penetrasi cairan darah dan cairan

tubuh lainnya, virus; Tahan terhadap aerosol, airborne, partikel padat; Panjang

gaun setengah betis untuk menutupi bagian atas sepatu boots; Terdapat lingkaran

(cuff) yang elastis pada pergelangan tangan; Lulus uji fluid penetration resistant

atau blood borne pathogens penetration resistant dan partial body protection.

h. Coverall Medis

Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan dari

penyebaran infeksi atau penyakit secara menyeluruh dimana seluruh tubuh

termasuk kepala, punggung, dan tungkai bawah tertutup.

Material : Non woven, Serat Sintetik (Polypropilen, polyester,

polyetilen, dupont tyvex) dengan pori-pori 0.2-0.54 mikron (microphorous).

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

Syarat Coverall Medis : Berwarna terang/ cerah agar jika terdapat kontaminan

dapat terdeteksi/terlihat dengan mudah; Tahan terhadap penetrasi cairan, darah,

virus; Tahan terhadap aerosol, airborne, partikel padat.

i. Heavy Duty Apron

Kegunaan : Melindungi pengguna atau tenaga kesehatan terhadap

penyebaran infeksi atau penyakit.

Material : 100% polyester dengan lapisan PVC, atau 100% PVC,

atau 100% karet, atau bahan tahan air lainnya.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan

kembali setelah dilakukan desinfeksi atau dekontaminasi.

Syarat Apron : Apron lurus dengan kain penutup dada. Kain: tahan air,

dengan jahitan tali pengikat leher dan punggung; Berat minimal: 300g/m2;

Covering size: lebar 70-90 cm x tinggi 120-150 cm.

11
j. Sepatu boot anti air (Waterproof Boots)

Kegunaan : Melindungi kaki pengguna/tenaga kesehatan dari

percikan cairan atau darah.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use) atau dapat dipergunakan

kembali setelah dilakukan desinfeksi atau dekontaminasi.

Material : Latex dan PVC.

Syarat Sepatu Boot : Bersifat non-slip, dengan sol PVC yang tertutup

sempurna; Memiliki tinggi selutut supaya lebih tinggi daripada bagian bawah

gaun; Berwarna terang agar kontaminasi dapat terdeteksi dengan mudah; Sepatu

boot tidak boleh dipergunakan kembali jika ada bagian yang rusak.

k. Penutup sepatu (Shoe Cover)

Kegunaan : Melindungi sepatu pengguna/tenaga kesehatan dari

percikan cairan/darah.

Material : Non Woven Spun Bond.

Frekuensi penggunaan : Sekali pakai (Single Use).

Syarat Penutup Sepatu : Tidak boleh mudah bergerak saat telah terpasang;

Disarankan tahan air

12
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Alat pelindung diri (untuk selanjutnya disingkat dengan APD) merupakan

alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh tubuh atau sebagian

tubuh terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja. Tujuan K3

adalah mewujudkan lingkungan kerja yang aman, sehat, sejahtera sehingga akan

tercapai suasana lingkungan kerja yang aman, sehat dan nyaman, mencapai tenaga

kerja yang sehat fisik, sosial, dan bebas kecelakaan, peningkatan produktivitas dan

efisien perusahaan, peningkatan kesejahteraan masyarakat tena-ga kerja.

B. Saran

Alat Pelindung Diri (APD) digunakan untuk melindungi dari penularan virus

khususnya Covid-19. Untuk tenaga kesehatan yang melakukan tindakan pelayanan

kesehatan berisiko tinggi seperti tindakan bedah atau tindakan lain yang memiliki

risiko penularan tinggi harus menggunakan APD yang telah memenuhi standar mutu

dan keamanan.

13
DAFTAR PUSTAKA

ILO. 2003. Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja. Jakarta: ILO 2013.

Permenaker. 2010. Alat Pelindung Diri. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia.

Suma’mur. 1989. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: CV. Haji Mas
Agung

[Link]. (2020, 6 April). Rational use of personal protective equipment for coronavirus
disease (COVID-19) and considerations during severe shortages. Diakses pada 10
September 2020, dari [Link]
2019/technical-guidance.

[Link]. (2020, 29 Maret). Modes of transmission of virus causing COVID-19:


implications for IPC precaution recommendations. Diakses pada 10 September 2020,
dari [Link]
guidance.

14

Anda mungkin juga menyukai