Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM SPPK

BREATHING APPARATUS

KELOMPOK :1
NAMA : Intan Maharani
NRP : 0515040116
KELAS : K3-4D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebakaran merupakan suatu peristiwa yang tidak diinginkan yang
menimbulkan harm yang mana disebabkan oleh api dalam jumlah besar yang
tak terkendali. Terdapat beberapa macam bahaya yang dapat ditimbulkan oleh
kebakaran seperti bahaya api dan bahaya asap. Asap yang dihasilkan dalam
kebakaran mungkin merupakan hasil reaksi kimia yang tidak sempurna seperti
CO maupun gas hasil pembakaran bahan bakar tertentu yang mana akan sangat
mempengaruhi pernapasan manusia jika terhirup kedalam sistem pernapasan.
Dalam dunia pemadaman api, khususnya para pemadam kebakaran.
Sangatlah penting untuk mengetahui cara menggunakan SCBA sebagai alat
bantu pernapasan dalam proses pemadaman api. Penggunaan SCBA sendiri
sangatlah berperan penting dalam mengurangi bahkan mencegah kadar
asap/gas hasil kebakaran untuk tidak terhirup. Karena hal itulah sangatlah
penting untuk melakukan praktikum ini, guna mengetahui cara memakai SCBA
serta cara pengoperasiannya.
1.2 Tujuan
TIU : Mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori penggunaan
breathing apparatus
TIK : Mahasiswa mampu memahami tentang prosedur pemakaian Breathing
Apparatus dan dapat memakai Breathing Apparatus
1.3 Manfaat
Dengan dilakukannya praktikum ini, mahasiswa dapat mengetahui cara
memakai SCBA dan tau cara mengoperasikannya dengan baik.
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Teori dan Anatomi Api


2.1.1 Teori Api
Nyala api adalah suatu fenomena yang dapat diamati gejalanya
yaitu adanya cahaya dan panas dari suatu bahan yang sedang
terbakar.Gejala lainnya yang dapat diamati adalah bila suatu bahan telah
terbakar maka akan mengalami perubahan baik bentuk fisiknya maupun
kimianya. Keadaan fisik bahan yang telah terbakar akan berubah pula
menjadi zat baru. Gejala perubahan tersebut menurut teori perubahan zat
dan energy adalah perubahan secara kimia.
2.1.2 Teori Segitiga Api (Triangel of Fire)
Untuk dapat berlangsungnya proses nyala api diperlukan adanya
tiga unsur pokok yaitu adanya unsur : bahan yang dapat terbakar (fuel),
oksigen (O2) yang cukup dari udara atau bahan oksidator dan panas yang
cukup. Apabila salah satu unsur tersebut tidak berada pada keseimbangan

yang cukup, maka api tidak akan muncul.


Gambar 2.1 Segitiga api
2.1.3 Bahan Bakar
Bahan bakar adalah semua jenis bahan yang mudah terbakar.
Dilihat dari wujudnya, bahan bakar dibedakan menjadi 3 yaitu:
1. Bahan bakar padat : kayu, kertas, karet, plastic, dan lain
sebagainya
2. Bahan bakar cair : bensin, spirtus, solar, oli, dan lain sebagainya
3. Bahan bakar gas : LPG dan lain sebagainya

2.1.4 Oksigen
Udara disekitar kita mengandung 21% oksigen. Dalam keadaan
normal, bahan bakar mudah bergabung dengan oksigen. Karena oksigen
adalah suatu gas pembakar, maka keberadaan oksigen aan sangat
menentukan keaktifan pembakaran. Suatu tempat dinyatakan masih
mempunyai keaktifan pembakaran, bila kadar oksigen lebih dari 15%.
Sedangkan pembakaran tidak akan terjadi bila kadar oksigen di udara
kurang dari 12%. Oleh karena itu salah satu teknik pemadaman api yaitu
dengan cara menurunkan kadar oksigen di sekitar daerah pembakaran
menjadi kurang dari 12%.
2.1.5 Panas
Panas berasal dari matahari, energi mekanik (benturan, gesekan),
kompresi, listrik dan reaksi kimia perpindahan panas dapat radiasi.

2.2 Kebakaran
2.2.1 Pengertian Kebakaran
Kebakaran adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan dan kadang
kala tidak dapat dikendalikan, sebagai hasil pembakaran suatu bahan
dalam udara dan mengeluarkan energy panas dan nyala (api). Proses
pembakaran adalah suatu reaksi eksotermis, yaitu suatu reaksi yang
mengeluarkan panas. Bila api yang terjadi sangat terbatas maka gejala
tersebut belum dinyatakan sebagai kebakaran, tetapi bila api mulai
memungkinkan terjadinya penjalaran maka gejala itu dapat dikatakan
kebakaran.
Kebakaran merupakan salah satu bencana yang sangat sering
terjadi khusunya di daerah perkotaan padat penduduk. Penanggulangan
bahaya kebakaran merupakan salah satu bagian dari Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3). Berikut beberapa contoh perundang undangan
mengenai pencegahaan dan penanggulangan bahaya kebakaran :
a. Perda Pemko Medan No. 16 Tahun 2002 pasal 8 tentang
Penanggulangan Bahaya Kebakaran dengan kewajiban pemasangan
Hidran.
b. Peraturan Menteri Pekerja Umum No.26/PRT/M/2008 tentang
Persyaratan Teknis Sistem Proteksi Kebakaran pada Bangunan
Gedung dan Lingkungan.
c. Keputusan Menteri Negara Pekerjaan Umum No.11/KPTS/2000
tentang KetentuanTeknis Manajemen Penanggulangan Kebakaran di
Perkotaan.
Kebakaran dapat disebabkan karena faktor teknis (instalasi listrik,
pemanas), atau karena manusia (kesengajaan, kecerobohan, dan lain-lain)
yang merupakan penyimpangan perilaku. Keamanan dan keselamatan
manusia maupun asset bangunan perlu dijaga dari bahaya yang
mengakibatkan kerusakan sampai kematian. Banyak fakta yang
membuktikan bahwa kebakaran merupakan resiko tinggi dan dapat
menyebabkan kerusakan bangunan, kematian, berhentinya proses
produksi maupun rusaknya lingkungan.

2.2.2 Penyebab Kebakaran

Kebakaran disebabkan oleh berbagai faktor, secara umum dikelompokkan


sebagai berikut :
a. Faktor Manusia
Manusia sebagai salah satu faktor penyebab kebakaran antara lain :
manusia yang kurang peduli terhadap keselamatan dan bahaya kebakaran,
menempatkan barang atau menyusun barang yang mungkin terbakar tanpa
menghiraukan norma norma pencegahan kebakaran, pemakaian tenaga
listrik melebihi kapasitas yang telah ditentukan, kurang memiliki rasa
tanggung jawab dan disiplin, dan adanya unsur unsur kesengajaan.
b. Faktor Teknis
Kebakaran juga dapat disebabkan oleh faktor teknis khususnya
kondisi tidak aman dan membahayakan yang meliputi :
Proses fisik/mekanis
Faktor penting yang menjadi peranan dalam proses ini adalah
timbulnya panas
akibat kenaikan suhu atau timbulnya bunga api, misalnya pekerjaan
perbaikan dengan menggunakan mesin las atau kondisi instalasi listrik
yang sudah tua atau tidak memenuhi standar.
Proses kimia
Kebakaran dapat terjadi ketika pengangkutan bahan - bahan kimia
berbahaya, penyimpanan dan penanganan tanpa memerhatikan petunjuk
- petunjuk yang ada.
Faktor Alam
Salah satu faktor penyebab adanya kebakaran dan peledakan akibat
faktor alam adalah petir dan gunung meletus yang dapat menyebabkan
kebakaran hutan yang luas dan juga perumahan perumahan yang
dilalui oleh lahar panas dan lain -lain (Sagala, 2008).

2.2.3 Klasifikasi Kebakaran Dan Pemadamanya


Klasifikasi kebakaran adalah penggolongan atau pembagian atas
kebakaran berdasarkan pada jenis benda-benda atau bahan-bahan yang
terbakar agar dapat ditentukan system pemadaman api yang tepat,
sehingga dapat dipilih alat-alat atau bahan-bahan pemadam yang cocok
untuk kelas kebakaran tersebut. Klasifikasi kebakaran di Indonesia
ditetapkan melalui peraturan menteri tenaga kerja dan transmigrasi
nomor 04/Men/1980 sebagai berikut
1. Kelas A
Bahan padat kecuali logam yang kebanyakan tidak dapat terbakar
dengan sendirinya. Kebakaran kelas A ini diakibatkan panas yang
dating dari luar, molekul-molekul benda padat berurai dan membentuk
gas lalu gas inilah yang terbakar. Sifat utama dari kebakaran benda
padat adalah bahan bakarnya tidak mengalir dan sanggup menyimpan
panas baik sekali. Bahan-bahan yang dimaksud seperti bahan yang
mengandung selulosa, karet, kertas, berbagai jenis plastic dan serat
alam. Prinsip pemadaman jenis ini adalah dengan cara menurunkan
suhu dengan cepat. Jenis media yang cocok adalah menggunakan air.
2. Kelas B
Kebakaran yang melibatkan cairan dan gas, dapat berupa soulvent,
pelumas, produk minyak bumi, pengencer cat, bensin dan cairan yang
mudah terbakar lainnya. Diatas cairan pada umumnya terdapat gas dan
gas ini yang dapat terbakar pada bahan bakar cair ini suatu bunga api
yang akan menimbulkan kebakaran. Sifat cairan ini adalah mudah
mengalir dan menyalakan api ke tempat lain. Prinsip pemadamanya
dengan cara menghilangkan oksigen dan menghalangi nyala api. Jenis
media pemadam yang cocok adalah dengan menggunakan busa.
3. Kelas C
Kebakaran listrik yang bertegangan, sebenarnya kebakaran kelas C
ini tidak lain dari kebakaran kelas A atau B atau kombinasi dimana ada
aliran listrik. Jika aliran listrik dipuuskan maka akan berubah menjadi
kebakaran kelas A atau B. kebakaran kelas C perlu diperhatikan dalam
memilih jenis mdia pemadam, yaitu yang tidak menghantarkan listrik
untuk melindungi orang yang memadamkan kebakran aliran listrik.
Biasanya menggunakan CO2 atau gas halon.
4. Kelas D
Kebakaran bahan logam seperti logam magnesium, titanium,
uranium, sodium, lithium dan potassium. Kebakaran logammemerlukan
pemanasan yang inggi dan akan menimbulkan temperature yang sangat
tinggi pula. Untuk memadamkan pada kebakaran logam ini perlu
dengan alat atau media khusus. Prinsipnya dengan cara melapisi
permukaan logam yang terbakar dan mengisolasinya dari oksigen.
2.2.4 Bahaya Kebakaran

Kebakaran mengandung berbagai potensi bahaya baik bagi manusia, harta


benda maupun lingkungan. Bahaya utama dari suatu kebakaran adalah
sebagai berikut (Ramli, 2010) :
a. Terbakar api secara langsung
Panas yang tinggi akan mengakibatkan luka bakar, bahkan korban
dapat hangus. Luka bakar akibat api biasanya dibedakan menurut derajat
lukanya sebagai berikut :
Derajat 1
Merupakan luka bakar ringan, efek merah dan kering pada kulit
seperti terkena matahari.
Derajat 2
Luka bakar dengan kedalaman lebih dari 0,1 mm menimbulkan
dampak epidermis atau lapisan luar kulit dan melepuh sehingga
menimbulkan semacam gelembung berair.
Derajat 3
Luka bakar dengan kedalaman lebih dari 2 mm, mengakibatkan
kulit mengering, hangus dan melepuh besar.
b. Terjebak karena asap
National Fire Protection Association (NFPA) mengindikasikan
bahwa kematian karena kebakaran paling banyak ditimbulkan karena
terhirup asap daripada terbakar api (Hammer, 1981). Kematian akibat
asap dapat disebabkan dua faktor yaitu karena kekurangan oksigen atau
terhirup gas beracun. Asap kebakaran mengandung berbagai jenis zat
berbahaya dan beracun tergantung jenis bahan yang terbakar, antara lain
Hidrogen Sianida dan Asam Sianida, Karbon Monoksida, Karbon
Dioksida, dan lainnya.
c. Bahaya ikutan akibat kebakaran
Salah satu bahaya ikutan yang sering terjadi adalah kejatuhan benda
akibat runtuhnya konstruksi. Bahaya ini banyak terjadi dan mengancam
keselamatan penghuni, bahkan juga petugas pemadam kebakaran yang
memasuki suatu bangunan yang sedang terbakar. Selain itu, ledakan gas
yang terkena paparan panas juga dapat terjadi.
d. Trauma akibat kebakaran
Bahaya ini juga banyak mengancam korban kebakaran yang
terperangkap, panik, kehilangan orientasi untuk mencari jalan keluar
yang sudah dipenuhi asap dan akhirnya dapat berakibat fatal.
2.2.5 Petugas Pemadam Kebakaran
Pemadam kebakaran adalah pekerjaan dengan risiko tinggi berupa
luka-luka dan penyakit akibat kerja yang dapat mengakibatkan cacat dan
kematian. Fakta bahwa lingkungan kerja selama keadaan darurat dan tak
terduga serta petugas pemadam kebakaran yang tidak siap untuk setiap
kemungkinan, membutuhkan pengalaman pelatihan dan pendidikan serta
pengembangan alat pelindung diri untuk melindungi petugas pemadam
kebakaran dari bahaya dan risiko pekerjaannya (ILO, 2000). Kewenangan
umum dinas pemadam kebakaran dalam memadamkan kebakaran tercantum
dalam The Fire Services Acts 1947yang mempersyaratkan petugas
pemadam kebakaran bekerja dengan efisien dan terorganisasi guna
memastikan pasokan air yang mencukupi untuk memadamkan kebakaran
dan memberikan hak kepada petugas pemadam kebakaran untuk memasuki
gedung gedung jika dicurigai sedang mengalami kebakaran (Ridley,
2008).
2.2.5.1 Bahaya Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran
Selama melakukan tugas operasionalnya, baik pemadaman
kebakaran maupun penyelamatan jiwa, seorang petugas pemadam
kebakaran dituntut untuk mampu mengenali jenis jenis bahaya
yang mungkin timbul pada situasi darurat (DEPDAGRI, 2005).
Bahaya yang dihadapi petugas pemadam kebakaran antara lain
(ILO, 2000) :
a.Bahaya Kecelakaan
Jatuh dari ketinggian selama bekerja dengan menggunakan
tangga. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu
dengan menggunakan gaitan tangga pada tangga ketika
bekerja.
Jatuh dari ketinggian karena runtuhnya bangunan. Petugas
pemadam kebakaran yang terjatuh atau terperosok
kemungkinan bisa mengalami patah tulang, cedera kepala,
cedera punggung, dan kekurangan oksigen ataupun terhirup
asap atau sebaran gas beracun. Maka tindakan pencegahan
yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat
pelindung diri yang lengkap dan sesuai untuk bekerja di
ketinggian.
Tertimpa benda atau rubuhan bangunan yang jatuh saat
melakukan pemadaman kebakaran dan penyelamatan korban
atau benda-benda. Tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri
yang lengkap termasuk alat pelindung pernapasan Self
Contained Breathing Apparatus (SCBA).
Menginjak, terkena kaca, logam atau benda tajam lainnya
yang dapat menimbulkan luka atau goresan, termasuk cedera
akibat ledakan.Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan
yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing
Apparatus (SCBA).
Terperangkap dalam bangunan yang roboh atau material yang
runtuh. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu
dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing
Apparatus(SCBA) serta menggunakan Personal Alert Safety
System (PASS) untuk memberitahukan petugas pemadam
kebakaran lain yang ada di sekitarnya.
Kelelahan dalam mengangkat selama pemadaman kebakaran
atau operasi penyelamatan.Tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu dengan mempertahankan tingkat kebugaran
serta memperhatikan aturan cara mengangkat dan membawa
yang tepat.
Kontak dengan permukaan yang panas atau gas yang sangat
panas. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu
dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing
Apparatus (SCBA)
Menghirup udara yang sangat panas dan atau hasil dari
pembakaran. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan
yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing
Apparatus (SCBA). Kontak dengan atau terpapar dengan
bahan kimia selama pemadaman kebakaran,operasi
penyelamatan atau penanganan bahan kimia berbahaya.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan
menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat
pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus
(SCBA). Gangguan pasokan udara selama operasi
pemadaman kebakaran.Tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu dengan melakukan rotasi kerja dan istirahat
selama aktif pada saat melakukan penyelamatan dari
kebakaran
Cedera akibat kecelakaan transportasi dalam merespon
keadaan darurat. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan
yaitu dengan menggunakan perangkat penahan yang tepat
seperti sabuk pengaman ketika berkendara. Tergelincir,
tersandung dan jatuh ke api. Tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat pelindung
diri yang lengkap.
b.Bahaya Fisik
Runtuhnya langit-langit, dinding atau lantai. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan
alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung
pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
serta menggunakan Personal Alert Safety System (PASS)
untuk memberitahukan pemadam kebakaran lain yang ada di
sekitarnya.
Munculnya flashover dan back draft. Flashover terjadi ketika
semua bahan yang mudah terbakar didalam suatu ruangan
telah dipanaskan hingga mencapai suatu titik yang akan
mengeluarkan uap-uap bahan bakar. Ketika uap-uap bahan
bakar ini mencapai titik penyalaannya, terjadilah nyala api.
Semua bahan yang mudah terbakar didalam ruangan tersebut
akan menyala secara serentak. Backdraft adalah suatu
ledakan yang terjadi pada saat unsur oksigen secara tiba-tiba
memperoleh akses ke api yang mulai mengecil akibat
berkurangnya kadar oksigen didalam ruangan yang terbakar
(Puslatkar Jakarta, 1998).
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan
menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat
pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus
(SCBA).
Terpapar panas yang dapat mengakibatkan kebakaran. Panas
dapat mengakibatkan cedera lokal dalam bentuk luka bakar.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan
menggunakan alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat
pelindung pernapasan Self Contained Breathing Apparatus
(SCBA).
Terpapar panas yang dapat mengakibatkan heat stress. Heat
Stress selama pemadaman kebakaran dapat berasal dari udara
panas, pancaran panas atau kontak dengan permukaan panas.
Keadaan ini diperparah dengan pakaian pelindung petugas
pemadam kebakaran oleh sifat pakaian itu sendiri serta
tenaga fisik petugas yang mengakibatkan produksi panas
dalam tubuh (Guidotti, 1998). Tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan sistem rotasi
kerja dan istirahat selama aktif pada saat melakukan
penyelamatan kebakaran.
Meledaknya benda di permukaan tanah/lantai. Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan
alat pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung
pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan
menggunakan Personal Alert Safety System(PASS) untuk
memberitahukan pemadam kebakaran lain yang ada di
sekitarnya.
c. Bahaya Kimia
Kurangnya oksigen di udara. Kekurangan oksigen dapat
menyebabkan hilangnya kinerja fisik, kebingungan, dan
ketidakmampuan untuk melarikan diri. Tindakan pencegahan
yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan alat
pelindung diri yang lengkap termasuk alat pelindung
pernapasan Self Contained Breathing Apparatus (SCBA).
Kehadiran gas karbon monoksida dan hasil pembakaran
lainnya di udara. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan
yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri yang lengkap
termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained Breathing
Apparatus (SCBA).
Terpapar bahan kimia selama keadaan darurat.Tindakan
pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan menggunakan
alat pelindung diri yang lengkap sesuai dengan bahaya yang
dihadapi termasuk alat pelindung pernapasan Self Contained
Breathing Apparatus (SCBA).

d.Bahaya Biologi
Petugas pemadam kebakaran dapat terpapar penyakit menular
saat mengevakuasi korban. Tindakan pencegahan yang dapat
dilakukan yaitu dengan mengurangi kontak dengan korban
secara langsung.
e. Bahaya Ergonomi dan Psikologi
Stress. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan yaitu
dengan menemui psikolog untuk melakukan konseling jika
diperlukan

2.2.6. SCBA (Self Contained Breathing Apparatus)


SCBA adalah suatu peralatan yang terdiri dari botol ( tabung )
bertekanan udara, penunjuk tekanan udara ( pressure gauge ), masker dan
peralatan-peralatan pembawa. SCBA diisi dengan udara bebas sebagai
peralatan bantu pernafasan. Sesuai fungsinya, SCBA terdiri dari 3
macam, yaitu :

a. SCBA Resque Unit


Jenis SCBA Rescue Unit adalah SCBA yang digunakan
sebagai alat bantu pernafasan pada waktu melakukan proses
pertolongan / penyelamatan atau digunakan pada waktu melakukan

pekerjaan di lingkungan yang terpapar gas berbahaya. SCBA ini


dapat digunakan secara optimal sekitar 30 menit.

Gambar 2.1 Self Contained Breathing Apparatus

b. SCBA Work Unit


Jenis SCBA ini pada prinsipnya hanya dapat digunakan selama
sekitar 10 menit, tetapi SCBA ini dilengkapi dengan peralatan
sambungan khusus ( quick coupling ) yang dapat disambungkan
dengan cadangan udara dalam botol-botol yang berkapasitas besar,
sehingga dapat membantu pernafasan sampai lebih dari 30 menit.
c. SCBA Escape Unit
Sesuai dengan jenisnya, maka SCBA ini berfungsi untuk
membantu pernafasan pada waktu meninggalkan lokasi paparan
menuju tempat aman dengan waktu penggunaan sekitar 10 menit.
SCBA ini dapat digunakan secara cepat, karena model maskernya
mudah digunakan. Pada prakteknya SCBA jenis ini juga digunakan
untuk membantu pernafasan pada korban paparan gas pada saat
evakuasi dan sebelum mendapat pertolongan medis, sehingga
SCBA ini juga disebut dengan ELSA (Emergency Life Support
Apparatus ).

Sedangkan berdasarkan Cara Kerjanya, SCBA dibagi menjadi 2 yaitu:

Rangkaian Terbuka (Open Circuit) : aliran pernapasan dibuang


keluar atau ke atmosfer
Rangkaian Tertutup (Closed Circuit) : aliran pernapasan disimpan
didalam respirator untuk selanjutnya ditangkap CO2dan moisture
yang ada kemudian direkondisi dengan oksigen segar

2.2.6.1 Bagian-bagian SCBA

SCBA terdiri atas beberapa bagian, yaitu :

1. Backpack plate, berfungsi untuk mengakomodasi tabung udara


(cylinder).
2. Reducer Valve, berfungsi untuk menurunkan tekanan dalam
tabung udara (cylinder) dari tekanan tinggi menjadi tekanan
rendah. Tekanan dalam tabung bervariasi berkisar 150 Bar /
200 Bar / 300 Bar menjadi tekanan rendah yaitu menjadi 8 Bar.
3. Lung Demand Valve (LDV), berfungsi sebagai bagian
penting mengatur komsumsi pemakaian udara dari tabung dan
dihirup melalui masker tertutup (Full face Mask).
4. Full Face Mask, sebagai penutup wajah dan hidung untuk
terhindar dari tekanan udara bebas yang terkontaminasii gas
beracun atau jumlah oksigen (O2) kurang dari ambang batas
minimal.
5. Pressure Gauge (Pengukur Tekanan), untuk mengetahui
tekanan dalam tabung udara.
6. Warning Whistle, pluit penanda sebagai peringatan bahwa
tekanan udara dalam tabung tinggal beberapa saat, untuk
memperingatkan pemakai segera meninggalkan tempat
berbahaya pada tempat yang lebih aman.
Warning visual, bisa berbentuk vibrasi (getaran) atau Sound
(bunyian) kisaran 110dB pada jarak 100 cm. Sehingga mudah
untuk didengar atau dirasakan oleh pemakai.
7. Cylinder (Tabung Udara), Tabung udara sesuai dengan
perkembangan teknologi, banyak variasi dengan besar dan
kecilnya volume udara dalam tabung. Dan terbuat dari
bermacam bahan mulai dari Alloy (Alumunium), Steel (Baja)
dan Fiber Comaposite.

Gambar 2.2 Bagian-bagian SCBA


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat

Self Contain Breathing Apparatus


Stop Watch

3.2 Diagram Alir

Mulai menggunakan SCBA

Menghubungkan selang udara yang ada pada

topeng dengan yang ada pada hamset

Menarik dan mengencangkan tali pundak

Menghubungkan dan mengencangkan

ikat pinggang hingga terasa nyaman

Memasang face mask dan pastikan

respirator melekat pada wajah

Membuka katup oksigen hingga terasa cukup nyaman untuk dihirup

Selesai
TUGAS PENDAHULUAN

Soal
Apa yang dimaksudkan dengan :
1. Repirator dan sebutkan macam-macamnya.

2. Self Contained Close Circuit dan bagaimana prinsip kerjanya.

3. Self Contained Open Circuit dan bagainama prinsip kerjanya.

4. Compressed Air ine Apparatus (CALA).

Jawab
1) Respirator
Respirator atau lebih popular dikenal dengan masker adalah alat yang
digunakan untuk perlindungan pernapasan terhadap udara yang terkontaminasi.
Sebenarnya istilah masker kurang tepat digunakan untuk respirator. Masker
umumnya digunakan untuk melindungi lingkungan dari kontaminan dari
pengguna masker, misalnya para pekerja di industri makanan menggunakan
masker untuk melindungi makanan dari kontaminasi air ludah pekerja, atau suster
di rumah sakit menggunakan masker untuk melindungi pasien dari kontaminasi
suster atau dokter. Karena masker tidak fit kewajah sehingga tidak bisa digunakan
untuk melindungi sipemakai. Sementara respirator harus fit kewajah sehingga bisa
melindungi sipengguna dari kontaminan lingkungan. Secara garis besar respirator
terbagi menjadi empat jenis , yaitu:
1. Nonpower Air Purifying Respirator (NAPR)
NAPR adalah pemurni udara dari kontaminan dan hanya dapat
digunakan pada atmosfer yang mengandung oksigen minimal 19.5%.
NAPR memurnikan udara yang terkontaminasi oleh partikel, aerosol,
uap dan gas sebelum udara tersebut masuk kedalam sistem pernapasan.
2. Powered Air-Purifying Respirator (PAPR)
PAPR adalah respirator pemurni udara dengan menggunakan
pompa udara untuk mendorong atau menarik udara menuju respirator
atau penyaring.
3. Supplied-Air Respirator (SAR)
SAR merupakan respirator dengan sistem pemberian udara segar
dari luar area yang terkontaminasi, supply udara menggunakan selang
dari tanki penyimpanan udara.
4. Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)
Self Contained Breathing Apparatus atau dikenal dengan SCBA
adalah alat bantu atau pernapasan untuk waktu tertentu sesuai dengan
jumlah oksigen yang tersedia pada alat tersebut.

Pengertian lain dari respirator adalah salah satu jenis APD yang berfungsi
untuk melindungi pekerja dari paparan gas/uap berbahaya yang bebas terpapar di
udara. Selain itu respirator juga berfungsi untuk alat bantu pernapasan bila kondisi
lingkungan kerja kekurangan supply O2. Jadi respirator adalah APD untuk
melindungi pernapan dari semua paparan gas-gas asing yang berbahaya bagi
kesehatan & untuk supply O2

1. Respirator pemurniChemical Respirator (Cartridge dan Conister)

- Mechanical Filter Respirator

- Kombinasi Chemical Respirator dan Mechanical Filter

2. Respirator penyedia udara (Breathing Apparatus)

- Airline Respirator

- Air Hose Respirator/Hose Mask

- Self Contained Breathing Apparatus (SCBA)

a. Open Circuit SCBA

b. Close Circuit SCBA

c. SCBA Rescue Unit

d. SCBA Work Unit

e. SCBA Escape Unit


2) Open Circuit SCBA
Aliran pernapasan dibuang keluar atau ke atmosfer. Suatu tipe breathing
apparatus yang berisi udara yang bertekanan. Aliran udara atau oksigen diatur
oleh pernafasan pemakai apabila ia menarik nafas, katup pengatur membuka dan
persediaan udara atau oksigen mengalir sesuai dengan kebutuhan.
Terdiri dari silinder udara oksigen bertekanan, pipa udara dan full piece. Breathing
Apparatus ini mensuplai udara bersih pada pemkaian selama 5-20 menit
tergantung ukuran silinder yang dipakai.. SCBA ini hanya diperuntukkan
emergency escape selama 5-15 menit. Pada tipe ini dipasang alat pengendali yang
dapat mencegah pemborosan udara apabila masker tidak diperlukan.

3) Close Circuit SCBA


Suatu tipe dari perlengkapan perlindungan pernafasan yang pemakainya
menghembuskan nafas melalui filter kimia karbon dioksida, kemudian
kemudian pemakai bernafas kembali dengan sisa oksigen yang ada. Aliran
pernapasan disimpan didalam respirator untuk selanjutnya ditangkap CO2 dan
moisture yang ada kemudian direkondisi dengan oksigen segar
Udara ekspirasi tidak dikeluarkan melalui udara atmosfer melainkan digunakan
kembali setelah CO2 dari udara pernapasan diadsorbsi oleh suatu zat kimia
(Granular Solid Adsorbent) yang terdapat di dalam Breathing Apparatus ini
mencapai 4 jam. Silinder udara/oksigen harus diisi kembali dan adsorbent perlu
diganti setelah setiap kali pemakaian.

4) Comperessed Air Line Appartus (CALA)


Adalah sebuah Breathing Apparatus yang digunakan untuk maskapi
penerbangan yang biasanya dipersiapkan saat genting udara (oksigen) dan tekanan
pada waktu pesawat di udara. Alat yang berfungsi mengisi botol SCBA dan
tabung air supply dengan prinsip kerja mengambil udara bebas, menyaring, dan
memampatkkannya sehingga menghasilkan udara tekanan kering (hingga 300
bar). Memiliki filter khusus untuk menyaring udara dan peralatan pemisah udara
dengan air.
BAB IV

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisa Data

Dari Praktikum yang telah dilakukan didapat hasil analisa pemakaian


SCBA hingga Melepaskan SCBA sebagai berikut:

1. Shoulder Strap terpasang dengan benar sehingga tangan pengguna dapat


menjangkau katup tabung oksigen pada bagian belakang.
2. Posisi Pressure Gauge tidak menggantung sehingga tidak menganggu saat
SCBA dipakai pada saat bekerja.
3. Masker wajah terpasang dengan tepat (kedap) sehingga udara kontaminan
dari luar tidak ikut terhirup.
4. Besar Oksigen yang dihirup telah diatur dengan menggunakan LDV
sehingga tidak keluar dalam jumlah berlebih dan dapat digunakan dengan
pernafasan yang nyaman.

4.2 Pembahasan

Adapun yang dapat dibahas setelah melakukan praktikum ini adalah cara
menggunakan serta melepas SCBA secara konvensional dan Upper Head:

1. Konvensional
Mengangkat Perangkat SCBA dengan tangan tumpu yang paling
kuat.
Mengencangkan Shoulder strap hingga tangan dapat mencapai
katup pada tabung oksigen.
Mengencangkan Belt
sehingga tumpuan beban
tidak mengakibatkan PAK
pada punggung.

Gambar 4.1. Cara konvensional


Mengalungkan Face Mask

Gambar 4.2 Cara Konvensional

Memasang regulator pada face mask

Gambar 4.3 Cara Konvensional


Memasang Face mask yang sudah terhubung dengan tabung
oksigen pada wajah.

Gambar 4.4. Cara Konvensional


Membuka Katup
Tabung Oksigen

Gambar 4.5. Cara Konvensional


Membuka LDV untuk mengatur jumlah konsumsi oksigen

Gambar 4.6. Cara Konvensional

Menghirup nafas secara normal. Apabila pemasangan SCBA


sudah benar maka akan nada suara yang keluar setiap bernafas.
Jika sudah selesai. Lepas face mask dari wajah
Melepaskan regulator dari face mask
Meletakkan face mask
Melepaskan belt
Lepas Shoulder strap dan letakkan SCBA secara perlahan.
2. Secara Upper Head
Memulai awalan dengan posisi kuda-kuda dengan kaki
tumpuan agak kedepan.
Mengangkat SCBA melewati atas kepala lalu langsung
memasukkan kedua tangan melewati kedua shoulder strap.
Mengencangkan shoulder strap agar tangan dapat menjangkau
katup tabung oksigen
Mengencangkan belt
Mengalungkan face mask
Memasang Regulator pada face mask
Pasang Face mask yang sudah terhubung dengan tabung
oksigen pada wajah. Pastikan agar kedap
Membuka katup tabung secara perlahan
Mengatur LDV untuk mengatur jumlah konsumsi oksigen
yang dihirup.
Menghirup nafas secara normal. Apabila pemasangan SCBA
sudah benar maka akan nada suara yang keluar setiap bernafas.
Jika sudah selesai. Lepas face mask dari wajah
Melepaskan regulator dari face mask
Meletakkan face mask
Melepaskan belt
Lepas Shoulder strap dan letakkan SCBA secara perlahan.
Cara pemasangan dan peelepasan SCBA harus dilakukan dengan berhati-
hati dan sesuai prosedur agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan.

Untuk mengetahui tentang cara pemakaian SCBA lebih lanjut dan secara
jelas dapat diakses pada link :

https://youtu.be/An2CPtbAP3c
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Komponen- komponen penting dari SCBA adalah body plate, tabung


udara (cylinder), manometer, facemask, demand valve, peluit.
2. Cara penggunaan SCBA ada dua yaitu upperhead dan body shape.
3. Cara pemakaian SCBA harus di perhatikan dengan benar agar tidak terjadi
kesalahan pemasangan serta kehabisan oksigen saat memakainya.

5.2 Saran

1. Pilihlah cara pemakaian SCBA overhead atau konvensional hal ini untuk
menunjang kenyamanan dari pemakai itu sendiri
2. Melakukan praktikum sesuai dengan prosedur yang benar dan tidak
mengabaikan pengawasan serta lakukan dengan sebaik-baiknya agar dapat
hasil yang optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2011.Alat Bantu Pernapasan Self Contain Breathing Apparatus.


http://tirtasafety.blogspot.co.id/2011/08/alat-bantu-pernapasan-self-
containt.html. Diakses pada 25 Maret 2017

Anonim.2015. Self Contain Breathing Apparatus.


http://docslide.net/documents/self-contain-breathing-apparatus.html.
Diakses pada 25 Maret 2017

Handoko, L.2009. Buku Petunjuk Praktek. Surabaya. PPNS

Shafwani,R.2013. Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di


Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan.Medan
Universitas Sumatera Utara.

Anda mungkin juga menyukai