Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika
Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika
DISUSUN OLEH
1. Novita Hanifah 20029072
2. Vonny Julia Fahrira 20029155
3. Yosa Setiawati 20029155
4. Zelly Putri Rahayu 20029097
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Model Pembelajaran
Berbasis Masalah. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Model pembelajaran yang diharapkan nantinya
dapat membantu dalam upaya menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan
dan situasi peserta didik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Hj Sri Elniati,serta Bapak
M.A.Ronal Rifandi, S.Pd, M.Sc selaku dosen Strategi Pembelajaran Matematika yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan
bidang studi yang penulis tekuni. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Penulis menyadari, makalah yang penulis tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan enulis nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.
Penulis
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan tantangan dan perubahan, dengan pendidikan diharapkan dapat
membentuk karakter penerus bangsa yang inovatif, terampil dan kreatif. Untuk
mengembangkan kreativitas siswa, dalam proses pembelajaran kemampuan berpikir
kritis merupakan salah satu hal yang penting, karena dengan berpikir kritis siswa akan
menggunakan potensi pikiran secara maksimal untuk memecahkan suatu
permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, berpikir
kritis juga penting untuk merefleksi diri siswa agar siswa terbiasa dilatih untuk
berpikir.
Kemampuan berpikir kritis akan muncul dalam diri siswa apabila selama
proses pembelajaran di dalam kelas, guru membangun pola interaksi dan komunikasi
yang lebih menekankan pada proses pembentukan pengetahuan secara aktif oleh
siswa. Semakin sering umpan balik yang dilakukan guru kepada siswa, maka akan
semakin berkembang kemampuan siswa dalam bertanya, berargumentasi, maupun
menjawab pertanyaan dari guru (Darmawan, 2010).
1
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini muncul
dari konsep bahwa siswa akan lebih mampu menggali kemampuan berpikir kritisnya
apabila dilibatkan secara aktif untuk memecahkan suatu permasalahan kaitannya
dengan mata pelajaran Biologi. Guru dapat membantu proses ini, dengan memberikan
umpan balik kepada siswa untuk bekerjasama menemukan atau menerapkan sendiri
ide-idenya dalam menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Penulis berharap, hendaknya tulisan ini dapat membantu pendidik dan calon
pendidik dalam dalam menyusun pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis
masalah, dan menambah pemahaman pada topik ini.
2
BAB II
PEMBAHASAN
Finkle and Torp (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) menyatakan bahwa Problem
Based Learning merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang
mengembangkan secara stimulan strategi pemecahan masalah dan dasardasar
3
pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran
aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.
Dua definisi diatas mengandung arti bahwa Problem Based Learning merupakan
suasana pembelajaran yang diarahkan oleh suatu permasalahan sehari-hari.
Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa Model Problem Based
Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan
siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode
ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan
dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memilki keterampilan
dalam memecahkan masalah.
Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat
digambarkan sebagai berikut.
4
Guru sebagai pelatih Peserta didik sebagai Masalah sebagai awal
problem solver tantangan dan
motivasi
o Peserta yang aktif o Menarik untuk
o Asking about thinking
o Terlibat langsung dipecahkan
(bertanya tentang
dalam pembelajaran o Menyediakan
pemikiran)
o Membangun kebutuhan yang ada
o Memonitor
pembelajaran hubungannya dengan
pembelajaran
pelajaran yang
o Probbing (menantang
dipelajari
peserta didik untuk
berfikir)
o Menjaga agar peserta
didik terlibat
o Mengatur dinamika
kelompok
o Menjaga
berlangsungnya proses
5
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan memahami
semua pengetahuan prasayaratnya sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri
melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
Sedangkan ciri dari model Problem Based Learning secara umum dapat dikenali
dengan adanya enam ciri yang dimilikinya, adapun keenam ciri tersebut adalah:
a. Kegiatan belajar mengajar dengan model Problem Based Learning dimulai dengan
pemberian sebuah masalah.
b. Masalah yang disajikan berkaitan dengan kehidupan nyata para siswa
c. Mengorganisasikan pembahasan seputar disiplin ilmu.
d. Siswa diberikan tanggungjawab yang maksimal dalam membentuk maupun
menjalankan proses belajar secara langsung.
e. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil.
f. Siswa dituntut untuk mendemonstrasikan produk atau kinerja yang telah mereka
pelajari.
6
C. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Setiap model pembelajaran mempunyai tujuan masing-masing. Tujuan ini menjadi
pedoman dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Adapun tujuan model
pembelajaran berbasis masalah adalah:
1. Mengembangkan keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan intelektual.
Keterampilan berpikir merupakan tuntutan utama dalam model
pembelajaran berbasis masalah. Berpikir sendiri adalah sebuah proses yang
melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi dan penalaran.
Dengan berpikir sesorang mampu menganalisis, mengkritik dan mencapai
kesimpulan berdasarkan inferensi yang baik. Berpikir yang dituntut dalam model
ini tidak hanya sekedar berpikir biasa akan tetapi berpikir tingkat tinggi. Berpikir
tingkat tinggi memuat struktur yang tidakberaturan, multi solusi dan kriteria, serta
multi interpretasi. Dengan demikian jelas sudah bahwa adanya model
pembelajaran berbasis masalah ini membuat peserta didik terlatih untuk berpikir
tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahn yang diberikan.
7
dewasa diharapkan peserta didik mampu mengenal dan mengobservasi peran-peran
tersebut untuk bersosialisasi dengan masyarakat di kehidupan nyata mereka.
3. Belajar Mandiri
Model pembelajaran berbasis masalah mengajarkan anak untuk belajar
mandiri. Guru tidak menjelaskan ide-ide atau pengetahuan kepada peserta didik,
akan tetapi lebih kepada meminta mereka untuk menyelesaikan masalah autentik
yang diberikan dengan menggunakan cara mereka sendiri. Hal ini diharapkan dapat
menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik untuk menghadapi secara
mandiri masalah-masalah nyata yang ada di kehidupan mereka.
8
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
Model Pembelajaran Berbasis masalah Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis
Masalah Model pembelajaran berbasis masalah memiliki lima sintaks atau langkah-
langkah pembelajaran. Langkah-langkah tersebut berisi panduan sistematis yang bisa
dgunakan oleh guru untuk mengajar. Dimulai dengan mengajak peserta didik untuk
orientasi pada masalah yang diberikan, kemudian dilanjutkan dengan bagaimana cara
guru mengorganisasikan peserta didik untuk belajar. Memfasilitasi peserta didik untuk
melakukan investigasi atau penyelidikan adalah hal yang harus dilakukan guru
sebagai seorang fasilitator. Kemudian dilanjutkan dengan memandu peserta didik
untuk memamerkan hasil karyanya serta mengevaluasi proses pemecahan
masalahnya. Kelima langkah tersebut dirangkum dalam tabel berikut :
Tahap Deskripsi
9
Tahap Deskripsi
10
Guru membantu siswa dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, siswa
diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis
informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk
menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah
yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang
benar. Guru mendorong pertukaran ide atau gagasan secara bebas dan menerima
sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalm tahap
penyelidikan dalam rangka pengajaran berbasis masalah. Selama dalam tahap
penyelidikan guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu
aktifitas siswa.
Tugas guru pada tahap akhir pengajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah
membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan
keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.
Lingkungan belajar
Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa guru memiliki seperangkat aturan yang
jelas supaya pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan, dapat menangani
perilaku siswa yang menyimpang secara tepat dan cepat, juga perlu memiliki panduan
mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.
Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru dalam pengelolaan pembelajaran yang
menggunakan model pengajaran berbasis masalah adalah bagaimana menangani siswa
baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal maupun
yang terlambat. Dengan kata lain kecepatan penyelesaian tugas tiap individu maupun
kelompok berbeda-beda. Pada model pembelajaran berbasis masalah siswa
dimungkingkan untuk mengerjakan tugas rangkap, dan waktu penyelesaian tugas-tugas
11
tersebut dapat berbeda-beda. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengelolahan dan
pemantauan kerja siswa yang rumit.
12
Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk
melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
Melalui pemecahan masalah (problem solving) bias memperlihatkan kepada siswa
bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada
dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa,
bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai
siswa.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa
untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk
secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
13
Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup
waktu untuk persiapan.
Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang
sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
14
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
PBL, perlu dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran, secara khusus
di konteks pendidikan Indonesia. PBL bisa menjadi kritik yang pas untuk proses
pembelajaran Indonesia yang selama ini lebih menekankan penumpukan dan
penghapalan pengetahuan, bukan bagaimana siswa dituntut menyampaikan pendapat
dan berpikir kritis serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
15
16
DAFTAR PUSTAKA
www.infoduniapendidikan.com/2015/06/pengertian-dan-langkah-modelpembelajaran-
problem-based-learning.html?m=1 pada tanggal 12 Juni 2016
https://www.academia.edu/9921865/Pendahuluan_i_SMP_MTs_MATEMATIKA_MATERI_P
ELATIHAN_GURU
http://digilib.uinsby.ac.id/20207/1/Strategi%20Pembelajaran%20Matematika.pdf
17