0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
444 tayangan20 halaman

Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika

Makalah ini membahas model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan menjelaskan definisi, karakteristik, tujuan, langkah-langkah, serta kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ini.

Diunggah oleh

Zelly Putri Rahayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
444 tayangan20 halaman

Model Pembelajaran Berbasis Masalah Matematika

Makalah ini membahas model pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) dengan menjelaskan definisi, karakteristik, tujuan, langkah-langkah, serta kelebihan dan kekurangan model pembelajaran ini.

Diunggah oleh

Zelly Putri Rahayu
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH


Strategi Pembelajaran Matematika

DISUSUN OLEH
1. Novita Hanifah 20029072
2. Vonny Julia Fahrira 20029155
3. Yosa Setiawati 20029155
4. Zelly Putri Rahayu 20029097

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga Penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Model Pembelajaran
Berbasis Masalah. Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas pada mata kuliah Strategi Pembelajaran Matematika. Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Model pembelajaran yang diharapkan nantinya
dapat membantu dalam upaya menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan keadaan
dan situasi peserta didik.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Hj Sri Elniati,serta Bapak
M.A.Ronal Rifandi, S.Pd, M.Sc selaku dosen Strategi Pembelajaran Matematika yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan
bidang studi yang penulis tekuni. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua
pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Penulis menyadari, makalah yang penulis tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan enulis nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Padang, 10 Oktober 2021

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i


DAFTAR ISI........................................................................................................................................... ii
BAB I ...................................................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN .................................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................................................... 2
C. Tujuan ......................................................................................................................................... 2
BAB II..................................................................................................................................................... 3
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 3
A. Definisi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)....................... 3
B. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) ............ 5
C. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah ................................................................................ 7
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah ............................................................ 9
E. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah ........................................... 12
BAB III ................................................................................................................................................. 15
PENUTUP ............................................................................................................................................ 15
A. KESIMPULAN ......................................................................................................................... 15
B. SARAN ..................................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dengan tantangan dan perubahan, dengan pendidikan diharapkan dapat
membentuk karakter penerus bangsa yang inovatif, terampil dan kreatif. Untuk
mengembangkan kreativitas siswa, dalam proses pembelajaran kemampuan berpikir
kritis merupakan salah satu hal yang penting, karena dengan berpikir kritis siswa akan
menggunakan potensi pikiran secara maksimal untuk memecahkan suatu
permasalahan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, berpikir
kritis juga penting untuk merefleksi diri siswa agar siswa terbiasa dilatih untuk
berpikir.

Kemampuan berpikir kritis akan muncul dalam diri siswa apabila selama
proses pembelajaran di dalam kelas, guru membangun pola interaksi dan komunikasi
yang lebih menekankan pada proses pembentukan pengetahuan secara aktif oleh
siswa. Semakin sering umpan balik yang dilakukan guru kepada siswa, maka akan
semakin berkembang kemampuan siswa dalam bertanya, berargumentasi, maupun
menjawab pertanyaan dari guru (Darmawan, 2010).

Berkaitan dengan konsep pembelajaran, kurikulum 2013 menghendaki


dilakukakannya perubahan mendasar dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Kesalahan yang selama ini terjadi dalam penyelenggaraan pembelajaran biologi tidak
boleh terulang lagi. Tugas guru sekarang ini bukanlah ”mengajar biologi”, tetapi
”membelajarkan siswa tentang biologi”. Itu berarti bahwa kegiatan pembelajaran
harus berpusat pada siswa, dan bukan pada guru. Guru tidak lagi harus mendominasi
kegiatan pembelajaran dengan metode ceramah, sementara siswa hanya duduk manis
mendengarkan sambil bengong atau bahkan sampai terkantuk-kantuk.

Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang dipusatkan pada siswa


melalui pemberian masalah dari dunia nyata di awal pembelajaran. Menurut Duch
dalam Suharia (2013) PBL adalah model pembelajaran yang mendorong siswa untuk
mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian
masalah dalam kehidupan.

1
Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini muncul
dari konsep bahwa siswa akan lebih mampu menggali kemampuan berpikir kritisnya
apabila dilibatkan secara aktif untuk memecahkan suatu permasalahan kaitannya
dengan mata pelajaran Biologi. Guru dapat membantu proses ini, dengan memberikan
umpan balik kepada siswa untuk bekerjasama menemukan atau menerapkan sendiri
ide-idenya dalam menganalisis dan memecahkan suatu permasalahan.

B. Rumusan Masalah

1) Definisi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


2) Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
3) Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
4) Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
5) Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah

C. Tujuan

Penulis berharap, hendaknya tulisan ini dapat membantu pendidik dan calon
pendidik dalam dalam menyusun pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis
masalah, dan menambah pemahaman pada topik ini.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


Kehidupaan identik dengan menghadapai masalah. Model pembelajaran ini
melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang
berorientasi pada masalah autentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang
kemampuan berfikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap harus dipelihara adalah
suasana kondusif, terbuka, negosiasi, dan demokratis.

Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah model pembelajaran yang


menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar.
Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja
dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world).

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang


menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara
berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Masalah yang
diberikan ini digunakan untuk mengikat peserta didik pada rasa ingin tahu pada
pembelajaran yang dimaksud. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum
peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang
harus dipecahkan.

Menurut Duch (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) mengemukakan bahwa


pengertian dari model Problem Based Learning adalah model pengajaran yang
bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik
belajar berfikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh
pengetahuan.

Finkle and Torp (1995) dalam Aris Shoimin (2014:130) menyatakan bahwa Problem
Based Learning merupakan pengembangan kurikulum dan sistem pengajaran yang
mengembangkan secara stimulan strategi pemecahan masalah dan dasardasar

3
pengetahuan dan keterampilan dengan menempatkan para peserta didik dalam peran
aktif sebagai pemecah permasalahan sehari-hari yang tidak terstruktur dengan baik.

Dua definisi diatas mengandung arti bahwa Problem Based Learning merupakan
suasana pembelajaran yang diarahkan oleh suatu permasalahan sehari-hari.
Sedangkan menurut Kamdi (2007:77) berpendapat bahwa Model Problem Based
Learning diartikan sebagai sebuah model pembelajaran yang didalamnya melibatkan
siswa untuk berusaha memecahkan masalah dengan melalui beberapa tahap metode
ilmiah sehingga siswa diharapkan mampu mempelajari pengetahuan yang berkaitan
dengan masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan akan memilki keterampilan
dalam memecahkan masalah.

Dari beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa model


pembelajaran Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan pembelajaran
yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata sebagai sebuah
konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana cara berfikir kritis dan
mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah, serta tak terlupakan untuk
mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang penting dari materi ajar yang
dibicarakan. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya
pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan
masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta
didik dalam pencapaian materi pembelajaran.

Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah


(PBL) yaitu:
a. Permasalahan sebagai kajian.
b. Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman
c. Permasalahan sebagai contoh
d. Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses
e. Permasalahan sebagai stimulus aktivitas autentik

Peran guru, peserta didik dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat
digambarkan sebagai berikut.

4
Guru sebagai pelatih Peserta didik sebagai Masalah sebagai awal
problem solver tantangan dan
motivasi
o Peserta yang aktif o Menarik untuk
o Asking about thinking
o Terlibat langsung dipecahkan
(bertanya tentang
dalam pembelajaran o Menyediakan
pemikiran)
o Membangun kebutuhan yang ada
o Memonitor
pembelajaran hubungannya dengan
pembelajaran
pelajaran yang
o Probbing (menantang
dipelajari
peserta didik untuk
berfikir)
o Menjaga agar peserta
didik terlibat
o Mengatur dinamika
kelompok
o Menjaga
berlangsungnya proses

B. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (2005) dalam Aris Shoimin
(2014:130) menjelaskan karakteristik dari PBM, yaitu:
a. Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada siswa sebagai orang
belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana siswa
didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.

b. Autenthic problems from the organizing focus for learning


Masalah yang disajikan kepada siswa adalah masalah yang autentik sehingga siswa
mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat menerapkannya dalam
kehidupan profesionalnya nanti.

c. New information is acquired through self-directed learning

5
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja belum mengetahui dan memahami
semua pengetahuan prasayaratnya sehingga siswa berusaha untuk mencari sendiri
melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.

d. Learning occurs in small group


Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha mengembangkan
pengetahuan secara kolaboratif, PBM dilaksanakan dalam kelompok kecil. Kelompok
yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penerapan tujuan yang jelas.

e. Teachers act as facilitators


ada pelaksanaan PBM, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Meskipun begitu guru
harus selalu memantau perkembangan aktivitas siswa dan mendorong mereke agar
mencapai target yang hendak dicapai.

Sedangkan ciri dari model Problem Based Learning secara umum dapat dikenali
dengan adanya enam ciri yang dimilikinya, adapun keenam ciri tersebut adalah:
a. Kegiatan belajar mengajar dengan model Problem Based Learning dimulai dengan
pemberian sebuah masalah.
b. Masalah yang disajikan berkaitan dengan kehidupan nyata para siswa
c. Mengorganisasikan pembahasan seputar disiplin ilmu.
d. Siswa diberikan tanggungjawab yang maksimal dalam membentuk maupun
menjalankan proses belajar secara langsung.
e. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil.
f. Siswa dituntut untuk mendemonstrasikan produk atau kinerja yang telah mereka
pelajari.

Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model Problem


Based Learning dimulai oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh
siswa ataupun guru, kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang
mereka telah ketahui dan dan apa yang perlu mereka ketahui untuk memecahkan masalah
tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga
mereka terdorong untuk berperan aktif dalam belajar

6
C. Tujuan Pembelajaran Berbasis Masalah
Setiap model pembelajaran mempunyai tujuan masing-masing. Tujuan ini menjadi
pedoman dalam melaksanakan pembelajaran berbasis masalah. Adapun tujuan model
pembelajaran berbasis masalah adalah:
1. Mengembangkan keterampilan berpikir, pemecahan masalah, dan intelektual.
Keterampilan berpikir merupakan tuntutan utama dalam model
pembelajaran berbasis masalah. Berpikir sendiri adalah sebuah proses yang
melibatkan operasi mental seperti induksi, deduksi, klasifikasi dan penalaran.
Dengan berpikir sesorang mampu menganalisis, mengkritik dan mencapai
kesimpulan berdasarkan inferensi yang baik. Berpikir yang dituntut dalam model
ini tidak hanya sekedar berpikir biasa akan tetapi berpikir tingkat tinggi. Berpikir
tingkat tinggi memuat struktur yang tidakberaturan, multi solusi dan kriteria, serta
multi interpretasi. Dengan demikian jelas sudah bahwa adanya model
pembelajaran berbasis masalah ini membuat peserta didik terlatih untuk berpikir
tingkat tinggi dalam menyelesaikan permasalahn yang diberikan.

2. Belajar peran-peran orang dewasa


Pembelajaran yang dilakukan di sekolah biasanya dilakukan secara
simbolis, lebih banyak mengkaji teori sedikit sekali mengkaitkan dengan dunia
nyata. Padahal di kehidupan nyata seorang anak mungkin saja sangat jauh berbeda
dengan yang di alami di sekolah. Peran-peran yang di alami anak di sekolah sangat
terbatas, lain halnya dengan peran mereka dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai contoh seoarang anak hanya terbiasa menulis, membaca, mengerjakan
soal-soal di sekolah sedangkan di kehidupan masyarakat ia tidak sekedar membaca
tetapi juga harus berani memutuskan suatu masalah. Di sekolah biasanya anak
cenderung bekerja secara individu, di kehidupan nyata anak mau tidak mau pasti
akan berinteraksi dengan orang lain. Melihat hal tersebut, pembelajaran berbasis
masalah berusaha menjembatani kesenjangan antara pembelajaran formal di
sekolah dengan kegiatan mental yang lebih berorientasi praktik yang terjadi di luar
sekolah. Pembelajaran berbasis masalah mendorong peserta didik untuk belajar
berkolaborasi dan bekerja sama dalam penyelesaian masalah dengan berbagi tugas.
Ketika menyelesaikan masalah autentik yang diberikan guru mungkin saja
seoarang anak berperan menjadi arsitektur, developer perumahan, seniman, dokter,
pengusaha dan profesi-profesi yang lain. Dengan memerankan profesi orang

7
dewasa diharapkan peserta didik mampu mengenal dan mengobservasi peran-peran
tersebut untuk bersosialisasi dengan masyarakat di kehidupan nyata mereka.

3. Belajar Mandiri
Model pembelajaran berbasis masalah mengajarkan anak untuk belajar
mandiri. Guru tidak menjelaskan ide-ide atau pengetahuan kepada peserta didik,
akan tetapi lebih kepada meminta mereka untuk menyelesaikan masalah autentik
yang diberikan dengan menggunakan cara mereka sendiri. Hal ini diharapkan dapat
menjadi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik untuk menghadapi secara
mandiri masalah-masalah nyata yang ada di kehidupan mereka.

Model PBL mengacu pada hal-hal sebagai berikut :


a. Kurikulum : PBL tidak seperti pada kurikulum tradisional, karena memerlukan
suatu strategi sasaran di mana proyek sebagai pusat.
b. Responsibility : PBL menekankan responsibility dan answerability para peserta
didik ke diri dan panutannya.
c. Realisme : kegiatan peserta didik difokuskan pada pekerjaan yang serupa dengan
situasi yang sebenarnya. Aktifitas ini mengintegrasikan tugas autentik dan
menghasilkan sikap profesional
d. Active-learning : menumbuhkan isu yang berujung pada pertanyaan dan keinginan
peserta didik untuk menemukan jawaban yang relevan, sehingga dengan demikian
telah terjadi proses pembelajaran yang mandiri.
e. Umpan Balik : diskusi, presentasi, dan evaluasi terhadap para peserta didik
menghasilkan umpan balik yang berharga. Ini mendorong kearah pembelajaran
berdasarkan pengalaman.
f. Keterampilan Umum : PBL dikembangkan tidak hanya pada ketrampilan pokok
dan pengetahuan saja, tetapi juga mempunyai pengaruh besar pada keterampilan
yang mendasar seperti pemecahan masalah, kerja kelompok, dan self-management.
g. Driving Questions : PBL difokuskan pada pertanyaan atau permasalahan yang
memicu peserta didik untuk berbuat menyelesaikan permasalahan dengan konsep,
prinsip dan ilmu pengetahuan yang sesuai.
h. Constructive Investigations : sebagai titik pusat, proyek harus disesuaikan dengan
pengetahuan para peserta didik.
i. Autonomy : proyek menjadikan aktifitas peserta didik sangat penting.

8
D. Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis Masalah
Model Pembelajaran Berbasis masalah Langkah-Langkah Pembelajaran Berbasis
Masalah Model pembelajaran berbasis masalah memiliki lima sintaks atau langkah-
langkah pembelajaran. Langkah-langkah tersebut berisi panduan sistematis yang bisa
dgunakan oleh guru untuk mengajar. Dimulai dengan mengajak peserta didik untuk
orientasi pada masalah yang diberikan, kemudian dilanjutkan dengan bagaimana cara
guru mengorganisasikan peserta didik untuk belajar. Memfasilitasi peserta didik untuk
melakukan investigasi atau penyelidikan adalah hal yang harus dilakukan guru
sebagai seorang fasilitator. Kemudian dilanjutkan dengan memandu peserta didik
untuk memamerkan hasil karyanya serta mengevaluasi proses pemecahan
masalahnya. Kelima langkah tersebut dirangkum dalam tabel berikut :
Tahap Deskripsi

Tahap 1 Guru menyajikan masalah nyata kepada peserta


didik.
Orientasi terhadap
masalah

Tahap 2 Guru memfasilitasi peserta didik untuk memahami


masalah nyata yang telah disajikan, yaitu
Organisasi belajar
mengidentifikasi apa yang mereka ketahui, apa yang
perlu mereka ketahui, dan apa yang perlu dilakukan
untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik berbagi
peran/tugas untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Tahap 3 Guru membimbing peserta didik melakukan


pengumpulan data/informasi (pengetahuan, konsep,
Penyelidikan individual
teori) melalui berbagai macam cara untuk
maupun kelompok
menemukan berbagai alternatif penyelesaian
masalah.

9
Tahap Deskripsi

Tahap 4 Guru membimbing peserta didik untuk menentukan


penyelesaian masalah yang paling tepat dari
Pengembangan dan
berbagai alternatif pemecahan masalah yang peserta
penyajian hasil
didik temukan. Peserta didik menyusun laporan
penyelesaian masalah
hasil penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk
gagasan, model, bagan, atau Power Point slides.

Tahap 5 Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan


refleksi atau evaluasi terhadap proses penyelesaian
Analisis dan evaluasi
masalah yang dilakukan.
proses penyelesaian
masalah

a. Orientasi Siswa pada Masalah


Siswa perlu memahami bahwa tujuan pengajaran berbasis masalah adalah tidak untuk
memperoleh informasi baru dalam jumlah besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan
terhadap masalah-masalah penting dan untuk menjadi pelajar yang mandiri. Cara yang
baik dalam menyajikan masalah untuk suatu materi pelajaran dalam pengajaran berbasis
masalah adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan dan menimbulkan
materi sehingga mambangkitkan minat dan keinginan untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi.

b. Mengorganisasikan Siswa Untuk Belajar

Pada model pengajaran berbasis masalah dibutuhkan pengembangan keterampilan kerja


sama diantara siswa dan saling membantu utnuk menyelidiki masalah secara bersama.
Berkenaan dengan hal tersebut siswa memerlukan bantuan guru untuk merencanakan
penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan. Bagaimana mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok belajar kooperatif berlaku juga dalam mengorganisasikan siswa kedalam
kelompok pengajaran berbasis masalah.

c. Membantu Penyelidikan Mandiri dan Kelompok

10
Guru membantu siswa dalam mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, siswa
diberi pertanyaan yang membuat mereka berpikir tentang suatu masalah dan jenis
informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa diajarkan untuk
menjadi penyelidik yang aktif dan dapat menggunakan metode yang sesuai untuk masalah
yang dihadapinya, siswa juga perlu diajarkan apa dan bagaimana etika penyelidikan yang
benar. Guru mendorong pertukaran ide atau gagasan secara bebas dan menerima
sepenuhnya gagasan-gagasan tersebut merupakan hal yang sangat penting dalm tahap
penyelidikan dalam rangka pengajaran berbasis masalah. Selama dalam tahap
penyelidikan guru memberikan bantuan yang dibutuhkan siswa tanpa mengganggu
aktifitas siswa.

d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Puncak proyek-proyek pengajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah penciptaan


dan peragaan artefak seperti laporan, poster, model-model fisik, dan video tape.

e. Analisis dan Evaluasi Proses Pemecahan Masalah

Tugas guru pada tahap akhir pengajaran berdasarkan pemecahan masalah adalah
membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan
keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.

Lingkungan belajar

Hal penting yang harus diketahui adalah bahwa guru memiliki seperangkat aturan yang
jelas supaya pembelajaran dapat berlangsung tertib tanpa gangguan, dapat menangani
perilaku siswa yang menyimpang secara tepat dan cepat, juga perlu memiliki panduan
mengenai bagaimana mengelola kerja kelompok.

Salah satu masalah yang cukup rumit bagi guru dalam pengelolaan pembelajaran yang
menggunakan model pengajaran berbasis masalah adalah bagaimana menangani siswa
baik individual maupun kelompok, yang dapat menyelesaikan tugas lebih awal maupun
yang terlambat. Dengan kata lain kecepatan penyelesaian tugas tiap individu maupun
kelompok berbeda-beda. Pada model pembelajaran berbasis masalah siswa
dimungkingkan untuk mengerjakan tugas rangkap, dan waktu penyelesaian tugas-tugas

11
tersebut dapat berbeda-beda. Hal tersebut mengakibatkan diperlukannya pengelolahan dan
pemantauan kerja siswa yang rumit.

Dalam model pembelajaran berbasis masalah, guru sering menggunakan sejumlah


bahan dan peralatan, dan hal ini biasanya dapat merepotkan guru dalam pengelolaannya.
Oleh karena itu, untuk efektifitas kerja guru harus memiliki aturan dan prosedur yang jelas
dalam pengelolaan, penyimpanan dan pendistribusian bahan. Selain itu tidak kalah
pentingnya, guru harus menyampaikan aturan, tata karena, dan sopan santun yang jelas
untuk mengendalikan tingkah laku siswa ketika mereka melakukan penyelidikan di luar
kelas termasuk di dalamnya ketika melakukan penyelidikan di masyarakat.

E. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah


Pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapa kelebihan
diantaranya adalah:
 Para siswa memperolah pengalaman praktis, baik di laboratorium maupun di
lapangan.
 Kegiatan belajar lebih menarik sebab tidak terikat di dalam kelas, tetapi juga di luar
kelas sehingga tidak membosankan.
 Bahan pengajaran lebih dihayati dan dipahami oleh para siswa, sebab teori disertai
praktik.
 Siswa dapat belajar dari berbagai sumber, baik tertulis maupun tidak tertulis sehingga
memperoleh pengalaman yang lebih kaya.
 Interaksi sosial antarsiswa lebih banyak dikembangkan sebab hampir setiap langkah
dalam model mengajar ini ada dalam situasi kelompok.
 Siswa belajar melakuakn analisis dan sintesis secara simultan, baik dalam rangka
memperoleh data maupun dalam menguji jawaban sementara berdasarkan data dan
informasi yang diperolehnya.
 Membiasakan siswa berpikir logis dan sistematis dalam pemecahan masalah.
 Pemecahan masalah (problem solving) merupakan teknik yang bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta
memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran
siswa.

12
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer
pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan. Di samping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk
melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
 Melalui pemecahan masalah (problem solving) bias memperlihatkan kepada siswa
bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada
dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa,
bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
 Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan disukai
siswa.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa
untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan pengetahuan baru.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa
untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
 Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk
secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

Selain mempunyai keuntungan, pembelajaran kooperatif juga


mempunyai beberapa kelemahan diantaranya adalah :
 Menuntut sumber-sumber dan sarana belajar yang cukup, termasuk waktu untuk
kegiatan belajar siswa.
 Jika kegiatan tidak dikontrol dan dikendalikan oleh guru, kegiatan belajar siswa bisa
membawa resiko yang merugikan. Misalnya keselamatan kerja di laboratorium,
keselamatan pada waktu pengumpulan data di lapangan, tau kegiatan belajar tidak
optimal disebabkan oleh sikap-sikap tak acuh para siswa.
 Apabila masalah tidak berbobot, maka usaha para siswa asal-asalan saja sehingga
cenderung untuk menerima jawaban atau dugaan sementara.
 Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa
masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan
untuk mencoba.

13
 Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup
waktu untuk persiapan.
 Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang
sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

14
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Model pembelajaran Problem Based Learning menjadi sebuah pendekatan


pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi dalam dunia nyata
sebagai sebuah konteks bagi para siswa dalam berlatih bagaimana cara berfikir kritis
dan mendapatkan keterampilan dalam pemecahan masalah, serta tak terlupakan untuk
mendapatkan pengetahuan sekaligus konsep yang penting dari materi ajar yang
dibicarakan. Model pembelajaran berbasis masalah dilakukan dengan adanya
pemberian rangsangan berupa masalah-masalah yang kemudian dilakukan pemecahan
masalah oleh peserta didik yang diharapkan dapat menambah keterampilan peserta
didik dalam pencapaian materi pembelajaran.

B. SARAN
PBL, perlu dikembangkan dan diterapkan dalam pembelajaran, secara khusus
di konteks pendidikan Indonesia. PBL bisa menjadi kritik yang pas untuk proses
pembelajaran Indonesia yang selama ini lebih menekankan penumpukan dan
penghapalan pengetahuan, bukan bagaimana siswa dituntut menyampaikan pendapat
dan berpikir kritis serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

15
16
DAFTAR PUSTAKA

www.infoduniapendidikan.com/2015/06/pengertian-dan-langkah-modelpembelajaran-
problem-based-learning.html?m=1 pada tanggal 12 Juni 2016

https://www.academia.edu/9921865/Pendahuluan_i_SMP_MTs_MATEMATIKA_MATERI_P
ELATIHAN_GURU

http://digilib.uinsby.ac.id/20207/1/Strategi%20Pembelajaran%20Matematika.pdf

17

Anda mungkin juga menyukai