Essai individu dengan tema budaya masyarakat
Nama : Ririn Agustine Indah Permatasari
Tempat, Tanggal Lahir : Nganjuk, 14 Agustus 2000
Pendidikan : Mahasiswa Tadris Biologi Semester 5, IAIN
Tulungagung
Email : ririnagustine14@gmail.com
Tradisi Nyadran di Desa Patihan, Loceret, Nganjuk
Desa Patihan merupakan salah satu desa di Kecamatan Loceret, Kabupaten
Nganjuk, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Terbagi menjadi satu dusun, yaitu
dusun karanglo yang terletak di timur desa Patihan berdekatan dengan desa yang
sudah masuk kecamatan lain yaitu kecamatan Pace. Secara geografis desa Patihan
ini terletak di ujung timur dan selatan dari bagian kecamatan Loceret. Secara
administratif terbagi menjadi 18 RT dan 7 RW. Batas desa Patihan bagian barat
adalah desa Loceret, bagian utara adalah desa sekaran, bagian timur adalah desa
banaran yang sudah masuk di kecamatan Pace, dan bagian selatan berbatasan
dengan desa godean.
Desa Patihan tentu saja memiliki kebudayaan, yaitu setiap hari suro
melaksanakan nyadran atau bersih desa. Kegiatan nyadran merupakan serangkaian
upacara yang dilakukan oleh orang Jawa. Terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Nyadran salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Jawa.
Kegiatan tersebut peninggalan penganut Hindu yang dipadukan dengan ajaran
Islam di dalamnya. Dalam bahasa sanskerta, nyadran berasal dari kata sraddha
yang artinya keyakinan. Sedangkan, dalam bahasa Jawa, nyadran berasal dari kata
sadran yang artinya ruwah syakban. Kegiatan ini dilaksanakan setiap satu tahun
sekali pada Tahun Baru Islam, 1 Muharram juga selalu dibarengi dengan
peringatan malam 1 Sura atau Suro. Nyadran merupakan kegiatan membersihkan
makam dan desa setempat, tabur bunga, kenduri atau selamatan di berbagai
tempat yang dianggap penting bagi masyarakat desa Patihan yaitu Punden, Balai
desa, Makam.
Nyadran ini termasuk tradisi atau suatu adat kebiasaan yang dilaksanakan
secara turun-menurun dari nenek moyang sampai sekarang masih tetap
dilaksanakan oleh masyarakat. Tradisi nyadran ini membangun gotong royong
antar warga desa Patihan, biasanya dalam mencari perlengkapan yang digunakan
dalam prosesi upacara adat nyadran ini secara tidak langsung hubungan antar
masyarakat menjadi lebih akrab dan lebih mempererat hubungan silaturahmi
masyarakat. Setiap pihak laki-laki diwajibkan mengikuti acara membersihkan
makam dan selamatan. Setiap orang yang mengikuti acara tersebut biasanya
membawa berkat atau tumpeng.
Kegiatan nyadran di desa Patihan ini sebagai ungkapan wujud syukur kepada
Allah SWT, karena bumi desa Patihan di berikan kehidupan yang baik, tanah yang
subur, sehingga memberikan hasil pertanian masyarakat desa Patihan yang
melimpah. Serta adanya kegiatan ini dipercaya oleh masyarakat desa Patihan
untuk dijauhkan dari malapetaka, serta hidup aman, tentram, loh jinawi.
Perlengkapan nyadran untuk sesajen dan selamatan yaitu membeli atau
membuat tumpeng, ingkung ayam, pisang dan masakan-masakan lain. Selain itu
terdapat jajan pasar yaitu nogosari, apem, dan lain-lain juga sudah dipersiapkan
oleh warga. Terdapat makna dari setiap makanan yang ada di dalam tumpeng.
Sesaji berisi makanan lengkap dengan lauk pauk ukuran kecil, makna yang
diberikan oleh masyarakat adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur
karena telah babat desa atau menemukan cikal bakal desa. Nasi tumpeng
bentuknya sama seperti tumpeng pada umumnya yaitu berbentuk kerucut dan
ditaruh diatas, makna tumpeng menurut masyarakat desa Patihan sebagai tanda
bahwa setiap warga harus selalu ingat Tuhan Yang Maha Kuasa karena telah
memberikan kehidupan. Ingkung ayam sebagai lauk pauk memberikan arti kepada
masyarakat ketika melakukan pekerjaan semoga diberi kelancaran dan semakin
maju. Kulupan merupakan sayuran yang ditambah dengan parutan kelapa lalu
dicampur dengan bumbu. Masyarakat desa Patihan menyebutnya kulupan, makna
kulupan menurut masyarakat adalah harapan agar tanah yang ditempati
masyarakat selalu subur dan tanaman yang di panen selalu mendapatkan hasil
yang melimpah. Jajan pasar merupakan makanan dengan berbagai jenis mulai dari
yang kecil hingga besar mulai dari murah hingga mahal yang biasa dijual di
pasar-pasar. Makna dari jajan pasar diharapkan agar masyarakat desa Patihan
selalu hidup rukun. Bunga sekar setaman sebagai simbol keharuman, jenang
abang putih melambangkan sikap hormat kepada orang yang lebih tua, pisang raja
adalah hal yang penting yang sebagai simbol pemimpin atau seorang raja yang
bijaksana, adil, baik kepada seluruh rakyatnya, dan kita sebagai manusia
diharapkan dapat memiliki sifat seperti seorang raja yang adil dan bijaksana
kepada siapapun .
Akhir puncak acara nyadran di desa Patihan yaitu adanya pagelaran
wayang kulit yang dimainkan oleh seorang dalang. Biasanya wayang tersebut
berjudul lakon semar mbangun desa. Dalam kegiatan bersih desa ini selain gelar
doa bersama, kepala desa dan pemerintah desa Patihan juga menyediakan terop,
meja dan kursi untuk warga, serta memberikan makanan dan minuman kepada
semua masyarakat yang ikut menonton pagelaran wayang kulit. Pagelaran ini
dilaksanakan malam hari sekitar pukul 19.30 WIB hingga pukul 04.00 WIB atau
menjelang subuh. Rata-rata yang menyukai pagelaran ini adalah orang tua.
Sedangkan anak kecil dan anak muda biasanya bermain, membeli makanan, serta
membeli sesuatu yang ada di sekitar pagelaran tersebut. Dahulu kala saat saya
masih kecil banyak orang yang berjualan di depan rumah warga yang berdekatan
dengan pagelaran wayang kulit. Waktu saya kecil saya lebih memilih untuk
bermain dan melihat orang berjualan dengan teman-teman saya karena saya tidak
paham alur cerita wayang, sedangkan orang tua saya melihat pagelaran wayang
kulit tersebut.
Dahulu kala hingga sekarang ini jika tidak melaksanakan nyadran
dipercaya akan terjadi sesuatu hal yang kurang mengenakan di desa Patihan. Jadi
setiap ada masalah selalu dikaitkan dengan hal tersebut, tetapi semua itu juga
tergantung kepercayaan dan pengetahuan masyarakat. Pada tahun 2020 tepatnya
bulan Maret Indonesia terkena musibah yaitu adanya pandemi Corona Virus
Disease 2019 atau COVID-19, tetapi nyadran atau bersih desa pada tahun 2020
tetap dilakukan meskipun puncak acara yaitu pagelaran wayang kulit hanya
dilakukan selama 3 jam di sore hari mulai pukul 15.00 WIB, karena salah satu
penyebaran virus corona yaitu dengan berkerumun, melakukan kontak langsung
dengan orang lain. Jadi semua orang harus melakukan social distancing atau
menjaga jarak minimal 1 meter. Ketika masyarakat desa Patihan mengikuti acara
nyadran maka diwajibkan untuk menerapkan protokol kesehatan untuk selalu
memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.
Setiap daerah memiliki tradisi budaya masing-masing, sesuatu yang khas
dan unik. Begitulah tradisi budaya nyadran di desa Patihan. Kita sebagai generasi
muda harus ikut melestarikan budaya tradisi nyadran atau bersih desa, karena
budaya tersebut adalah warisan dari nenek moyang atau leluhur secara turun
menurun. Jika generasi muda tidak ada yang ikut serta dalam melestarikan budaya
nyadran atau bersih desa dengan sikap yang kurang peduli dan kurang
menghargai, maka tradisi tersebut lama-kelamaan akan hilang. Maka dari itu
generasi muda diharapkan mampu menghargai dan memupuk rasa bangga adanya
budaya yang telah dimiliki.
Pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) Dalam Menemukan Kebudayaan
Dan Kesenian
Nama : Sholikin
NIM : 12209183023
Dari kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) ini membuat pengalaman dalam
berbaur dengan masyarakat semakin bertambah. Dari kegiatan ini juga membawa
manfaat diantranya mengenal teman baru dari berbagai jurusan. Kegiatan ini
merupakan kegiatan wajib bagi perguruan tinggi yang harus dilakukan. Tujuan
kegiatan ini juga untuk membangun desa (BUMDES) untuk mandiri. Tempat
yang dijadikan KKN (Kuliah Kerja Nyata) Desa Kalangbret, Kec. Kauman, Kab.
Tulungagung.
Sehubungan pandemic Covid-19 ini semua dari kegiatan KKN ini hampir
semuanya dilaksanakan secara virtual. Tetapi, dari semua kegiatan ini ada
beberapa kegiatan yang dilakukan secara langsung. Kegiatan tersebut merupakan
kegiatan berbagi sembako (Bansos) yang dilakukan di Desa Kalangbret,
Tulungagung. Kegiatan seperti ini pastinya sangat membantu sekali bagi
masyarakat Desa Kalangbret yang terdampak pandemic Covid-19.
Kebudayaan merupakan suatu hasil karya manusia yang sudah dilakukan dari dulu
sampai sekarang. Kebudayaan masyarakat desa Kanigoro merupakan kebudayaan
peninggalan orang-orang terdahulu. Kebudayaan yang dimaksud adalah
kebudayaan gotong-royong atau kerja bakti dan juga kendiri (baritan) yang
dilaksanakan malam 1 sura, jaranan, tiban. Didesa Kanigoro masih banyak sekali
kebudayaan gotong-royong yang telah ada sejak dahulu. Kebudayaan seperti ini
masih sangat melekat di masyarakat sekitar Desa Kanigoro. Tetapi kebudayaan
seperti ini tidak dapat kita jumpai diperkotaan.
Didesa Kanigoro sebenarnya ada banyak sekali kebudayaan-kebudayaan
peninggalan orang terdahulu seperti contoh, kenduri, gotong-royong, ngblok padi
yang masih dilakukan secara tradisional. Karena masyarakat desa itu selalu
menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan dan saling membantu antara warga
yang lainnya. Sedangkan warga masyarakat hidupnya itu sudah masing-masing,
kalau kita tinggal di kota kita akan sangat kerepotan kalau kita ingin mengadakan
suatu acara tidak memiliki uang banyak karena warga masyarakat membantu itu
harus di bayar dengan uang, tetapi kalau warga masyarakat Kanigoro selalu saling
membantu tanpa sedikitpun mengharapkan imbalan.
Kebudayaan masyarakat desa Kanigoro berbanding terbalik dengan kebudayaan
masyarakat kota karena, masyarakat itu sifatnya lebih individualis. Hal inilah
yang membuat kebudayaan gotong-royong menghilang di masyarakat kota.
Masyarakat kota lebih mengejar karier daripada menjunjung tinggi nilai-nilai
kebudayaan leluhur yang sudah ada sejak dulu.
Kebudayaan di desa Kanigoro yang masih sering di jumpai yaitu seni jaranan
yang masyarakat kota menyebut dengan nama kuda lumping. Kesenian kuda
lumping ini juga sudah ada sejak dahulu pada saat kerajaan kuno jawa timur
berdiri. Kesenian jaranan/ tarian jaranan ini di kota Kediri sangat banyak di
jumpai karena, kesenian ini berasal dari Jawa Timur. Tarian jaranan ini dilakukan
oleh beberapa orang laki-laki dan juga bisa dilakukan oleh seorang wanita. Tarian
ini dilakukan dengan menaiki kuda lumping yang terbuat dari bambu. Kesenian
jaranan ini juga mempunyai nilai magis dan spiritual.
Maka dari itu masyarakat Kediri sangat melestarikan kesenian ini sebagai ciri
khas kota Kediri dan juga agar tidak hilang tergerus oleh zaman. Selain itu,
kesenian ini tidak hanya ada di Kediri saja, Ponorogo, Tulungagung, Nganjuk,
Malang dan bahkan sampai Banyuwangi mengenal kesenian ini. Beberapa
diantaranya memang mirip, namaun tentu saja hal itu ada beberapa yang
membedakanya. Kesenian ini di iringi oleh music gamelan. Di era sekarang
kesenian ini dilaksanakan ketika untuk merayakan acara seperti kitanan, acara
pernikahan bahkan hanya untuk sekedar tanggapan saja yang tujuannya untuk
menghibur masyarakat sekitar.
Seiring dengan berkembangnya zaman kesenian ini gerakan penari jaranan juga
semakin bervariasi. Dengan alunan music gamelan ditambah aksesoris pakaian
penari yang indah, ditambah dengan pecut yang sering dihentakkan dan
menimbulkan bunyi-bunyian. Dalam tarian jaranan ini juga ada seorang pawing
yang sering disebut warga masyarakat dengan istilah “Gambuh”. Peran seorang
gambuh adalah untuk melakukan ritual ataupun berkomunikasi dengan roh leluhur
dan menyembuhkan penari yang kesurupan.
Selain tarian jaranan ada juga kesenian peninggalan leluhur yaitu kesenian tiban
yang mengandung arti timbulnya sesuatu yang tidak diduga sebelumnya. Dalam
konteksnya kesenian tiban mengarah pada hujan yang jatuh dengan mendadak
dari langit. Tari tiban ini dilakukan oleh seorang laki-laki saja. Tarian tiban ini
dilakukan saling cambuk dan diawasi oleh wasit. Cambuk yang digunakan dari
lidi aren yang agak panjang dan besar daripada lidi dari pohon kelapa. Tarin atau
kesenian tiban ini adalah sebuah permintaan permohonan kepada yang maha
kuasa berharap untuk diturunkannya hujan.
Ada makna dalam dibalik kesenian tarian tiban ini yaitu sebuah harapan sebuah
pesan yang luhur demi lestarinya alam. Bukanlah hal kekerasan yang ditekankan
dalam nilai nilai tersebut akan tetapi nilai luhur atau sebuah pesan, sebuah
informasi untuk menjaga kedamaian dan keseimbangan alam sekitar. Tradisi ini
apabila ditinjau dari segi karya seni, dapat diketahui bahwa tiban ini merupakan
karya seni yang mengagumkan. Tiban ini bisa disebut bahwa dalam
pelaksanaannya menggunakan ilmu permainan (atraksi).
Namun ilmu pengetahuan ini tidak bisa kita gunakan di dalam konteks bertarung
atau berkelahi yang sebenarnya. Masyarakat sekitar, biasanya masih percaya
mengenai hal-hal yang dianggap memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka.
Segala sesuatu memiliki filosofi yang pada akhirnya membuat masyarakat itu
sendiri semakin kuat terhadap yang dipercayainya. meskipun begini seni
merupakan warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Dan
tentunya unik karena tidak dimiliki oleh negara-negara lainnya.
Sebagai generasi muda, sudah sepatutnya kita menjaga dan melestarikan
kebudayaan daerah dengan menggunakan ataupun memanfaatkan teknologi yang
sudah ada. Generasi muda saat ini tentunya sangat berperan terhadap
kelangsungan budaya yang sudah ada, mereka diharapkan mampu melestarikan
bahkan mengembangkan budaya yang sudah ada dengan memanfaatkan teknologi
yang sudah maju ini. Oleh karena itu penting bagi generasi muda untuk
mengetahui dampak buruk perkembangan teknologi.
Jika sudah mengetahui dampak buruknya teknologi sekarang ini, mereka dapat
meminimalisir terjadinya kerusakan dimasa yang akan datang. Dapat disimpulkan
bahwa kebudayaan ataupun seni ini merupakan warisan leluhur yang harus kita
lestarikan. Setiap desa pasti memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dan masih
banyak lagi kesenian. Karena kebudayaan itu sendiri memiliki fungsi bagi
masyarakat sekitar. Peran generasi muda menjaga dan melestarikaanya budaya di
daerah masing-masing.
Nama : Fitria Nur Islaminingsih
Nim : 12210183050
Tempat Tanggal Lahir : Nganjuk 07-Januari-2000
Pendidikan : Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Semester 5,
IAIN Tulungagung
Email : fitrianurislam@gmail.com
Kearifan Lokal Siraman Sedudo, Ritual Sakral dari Desa Ngliman yang
Menjadi Daya Pikat Wisatawan.
Oleh : Fitria Nur Islaminingsih
dalam tujuh unsur kebudayaan, salah satu hal yang menjadi ciri
khas, atau pembeda dari satu daerah dengan daerah yang lainnya adalah
unsur kesenian. Setiap daerah tentu memiliki ciri khas masing-masing
dalam bidang kesenian, misalkan tari tradisional, upacara adat, seni rupa,
seni musik/suara, Dsb. begitu pula kesenian yang terdapat pada kabupaten
Nganjuk, tentu saja memiliki kekhas an tersendiri, seperti ritual siraman
sedudo yang menjadi primadona atau penarik wisatawan domestik bahkan
mancanegara.
Siraman sedudo ini merupakan ritual sakral yang bersifat budaya dan
dilaksanakan dibawah air terjun sedudo. Ritual ini dilaksanakan pada
bulan muharram atau bulan suro, dimana masyarakat Kabupaten Nganjuk
khususnya masyarakat di sekitar lereng gunung wilis, secara langsung
berbondong-bondong melakukan ritual ini. Ritual ini dilaksanakan sebagai
bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap sang dudo yang dianggap
sebagai cikal bakal desa ngliman. Dan adanya kepercayaan masyarakat
desa ngliman jika air yang megalir dari bawah air terjun memiliki
kekuatan magis yang besar.
Pihak – pihak yang terlibat pada prosesi ritual siraman sedudo antara
lain : bupati nganjuk, panjak sebagai penabuh jedor, grub koor atau
penyanyi berjumlah 30 orang, penari putri 15 orang, 7 joko lelono, 1
manggolo ( yang ditunjuk penari untuk mengambil air ) .
Sebelum ritual ini dilakukan kepala daerah nganjuk diharuskan untuk
melakukan ziarah ke makam Eyang Ageng Ngaliman, yaitu pendiri dan
juga pengemuka di desa ngliman. Ziarah makan ini bertujuan agar ritual
ini dapat berjalan dengan lancar. Selain ziarah makam, hal lain yang
dilakukan ialah santunan anak yatim dan makan bersama nasi tumpeng,
yang dilakukan sebelum prosesi siraman dilaksanakan. Setelah semua hal
itu selesai dilaksanakan ritual sedudo pun dapat dimulai. Hal ang dilakuka
sebelum prosesi antara lain: galdi bersih, penyediaan jamuan
( memberikan jamuan seperti makanan tradisional / kue kue tradisional
kepada tamu dari luar desa Ngliman, menyiapkan sesajen.
Ritual siraman sedudo ini dipimpin oleh sesepuh desa, dan diirigi
musik gamelan jawa. prosesi ritual ini diawali oleh arak arakan gadis belia
yang dituntun untuk mengambil air secara langsung dari bawah guyuran
air terjun sedudo. Saat arak arakan tersebut berlangsung wewangian
menyan selalu ditebarkan agar menambah suasana sakral dalam ritual.
Ritual siraman sedudo ini berlangsung dengan sangat sakral. karena
adanya tari bedhayan amek tirta, yang ditarikan sepuluh penari perempuan
yang menari sebagai lambang wujud syukur kepada tuhan yang maha esa.
Tarian ini dilakukan sebagai ritual pengambilan air sedudo yang dilakukan
oleh para penari atau gadis gadis yang terpilih. Para penari akan turun ke
air terjun sedudo sambil memegang kendi untuk menampung air.
Berikutnya para penari ini akan masuk ke kolam air terjun sedudo untuk
menari dan bermain air, kemudian disusul kepala daerah setempat dengan
melemparkan bunga dan bermain air bersama.
Tari Bedaya Amektirta ini merupakan tarian khusus yang ditarikan
pada ritual siraman sedudo, bedhaya berasal dari bahasa sansekerta yang
artinya penari wanita, sedangkan amek tirta artinya mengambil air. Jalan
cerita dari tarian ini adalah 10 orang penari wanita terpilih mengambil air
dari air terjun sedudo dengan dibantu 5 orang joko bagus. Tarian ini sangat
sakral karena sepanjang tarian ini berlangsung aroma wangi menyan terus
disebarkan. Dan para bedhaya yang menarikannya juga diwajibkan
seorang gadis yang masih suci dan perawan. Selain tari bedhayan amek
tirta, pada ritual siraman sedudo ini terdapat tari nganjuk ngawiji atau
nganjuk bersatu. Yaitu tari kreasi yang dipadukan dengan tari tradisional.
Tujuan ritual ini dilaksanakan, yaitu sebagai bukti rasa syukur kepada
Tuhan yang Maha Esa. Selain itu diadakannya ritual tersebut juga
bertujuan untuk penambahan pendapatan masyarakat desa Ngliman,
memasyarakatkan atau memperkenalkan hasil kesenian daerah kabupaten
Nganjuk, seperti tari-tarian, makanan khas, dan yang paling penting adalah
memikat wisatawan agar hadir ke air terjun sedudo serta memperkenalkan
wisata alam sedudo. Ritual ini juga diyakini sebagai ritual sedekah bumi
dan juga pengambilan air suci di air terjun sedudo.
Sejarah ritual sedudo yang dilakukan masyarakat desa Ngliman tentu
saja tidak terlepas dari cerita rakyat yang berkembang, cerita rakyat adalah
suatu bentuk penjelasan cerita yang tersebar secara turun temurun. Konon
menurut cerita, asal usul sejarah siraman sedudo yang dijelaskan oleh pak
basuki dan oni, adalah pada zaman wali Ngliman ( Maulana Ishaq ) kira –
kira pada saat pertengahan abad 16, datanglah seorang muslim sholeh
bernama Maulana Ishaq. Kedatangannya di desa tersebut bertunjuan untuk
menyebarkan agama Islam. Setelah beliau meninggalkan kadipaten
Blambangan menuju ke Ampel Surabaya, beliau singga sejenak di desa
Ngliman untuk istirahat dan menyebarkan agama Islam.sehingga beliau
dan beberapa warga setempat mendirikan masjid di desa tersebut yang
berdekatan dengan gunung Wilis. Dari masjid inilah ajarannya tersebar
luas, sehingga banyak warga pergi ke desa Ngliman untuk menimba ilmu
agama islam. Kedatangan wali tersebut sendirian tanpa pengawalnya dan
tanpa istri sehingga orang – orang di desa tersebut menyebutnya sedudo .
artinya orang yang tidak mempunyai istri atau sengaja tidak kawin.
Selain itu sejak jaman Majapahit sesuai dengan sejarah yang
ditemukan pada candi ngetos, air terjun sedudo ini sudah dikenal dan
dipercaya memiliki nilai magis yang tinggi. Air terjun tersebut dianggap
suci dan dipergunakan untuk memandikan arca, dan dipercaya dapat
mewujudkan harapan, seperti berkah, keselamatan, pangkat, kewibawaan,
dan awet muda. Masyarakat percaya jika air yang berasal dari gunung
Wilis tersebut merupakan air yang suci karena berasal dai gunung wilis,
dan gunung dianggap suci karena berada pada tempat yang tinggi, yaitu
tempat para dewa. Karena air terjun tersebut dianggap suci, masyarakat
setempat mengadakan ritual dengan diadakannya siraman sedudo untuk
memperingati dan menghormati wali tersebut, memperkenalkan wisata
alam air terjun sedudo, memperoleh pendapatan daerah, dan memperoleh
berkah untuk satu tahun kedepannya.
Upacara siraman sedudo dimulai pada pukul 14 WIB dan diawali
dengan kesenian jawa, dan tari-tarian yang dilakukan dan diadakan oleh
masyarakat setempat untuk mendukung upacara atau prosesi ritual.
Kemudian dilakukanlah gladi bersih, sebelum dilaksanakannya proses
terlebih dahulu dilakukan santunan anak yatim oleh bupati wakil bupati
dan para pejabat setempat, dan dilanjutkan dengan makan amakan kuliner
atau kue kue tradisional untuk menyambut para tamu yang hadir.
Adapun susunan acara ritual siraman sedudo antara lain : sajian tari
sakral yang dibwakan 5 penari puteri yang masing – masing membawa
klenting, kemudian disusul oleh 15 gadis berambut panjang, yang
berbusana indah serta anggun seperti bidadari yang turun dari kayangan.
Berjalan secara perlahan di dekat bupati dengan memberi hormat. Setelah
memberi restu bupati memberikan klenting kepada 5 gadis yang duduk di
hadapannya , setelah mendapatkan klenting para gadispun pergi ke
sendang/kolam di bawah air terjun grojokan sedudo, dalam langkahnya
atau perjalannan menuju kolam diiringi lagu ilir-ilir yang dinyanyikan
koor.
Kemudian bersama sesepuh desa ke5 klenting tadi disimpan di makam
desa Ngliman. Kemudian gadis2 tersebut mengambil air suci di bawah
grojokan sedudo dan diserahkan pada juru kunci atau sesepuh desa.
Setelah juru kunci menerima air suci kemudian disimpan dan dibagikan
pada siapa saja yang membutuhkan.
Acara berikutnya adalah sambutan bupati, pembacaan doa, dan ditutup
dengan mandi bersama di bawah grojokan air terjun sedudo.
Adapun makna simbolik terhadap ritual siraman sedudo, khususnya
pengambilan air dari air terjun sedudo adalah, pengumpulan berkah selama
setahun kedepan. Agar masyarakat Kabupaten Nganjuk senantiasa diberi
keberkahan dalam setiap hal. Air terjun sedudo ini dipercaya masyarakat
dapat memberikan berkah, keselamatan, awet muda, dan juga kesembuhan
dari suatu penyakit. Pengambilan air ini dilakukan oleh gadis berambut
panjang dan para perjaka di grojokan air terjun sedudo. Menurut filosofi
jawa pengambilan air suci ini memiliki makna yang menggambarkan
kehidupan manusia, karena air merupakan simbol kehidupan.
Adapun makna simbolik terhadap setiap prosesi ritual siraman sedudo
antara lain : taburan bunga pada prosesi ritual air terjun sedudo yang
dilakukan oleh sesepuh desa dan bupati Nganjuk adalah sebagai bentuk
penghormatan terhadap alam, karena alam adalah tempat dimana manusia
tinggal dan beraktivitas, dan tempat untuk bertahan hidup. Tabur bunga ini
memiliki fungsi sebagai pengharum, maksudnya ialah manusia haruslah
menebarkan harumnya agar nama baiknya selalu dikenang. Dengan
berprilaku baik, tentunya dengan siapapun itu termasuk lingkungan sekitar.
Selain makna simbolik pengambilan air terjun sedudo dan tabur bunga
adapula filosofi dari tarian bedhaya amek tirta, yaitu sebagai wujud syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5 gadis yang membawa klenting ini bemakna sedudo atau satu orang
dudo, maksudnya simbol angka 5 di dalamnya menggambarkan angka
yang tidak dapat dibagi karena lebih satu angka, dan satu angka tersebutlah
yang disebut sedudo atau sendiri.tembang ilir – ilir yang dinyanyikan
untuk menggiring para wanita tersebut juga memiliki makna simbolis
antara lain kesuburan, mengingat akan kekuasaan Allah SWT.
Makna simbolis dari kendi pusaka yang digunakan untuk menampung
air terjun sedudo, berbentuk bulat seperti kehidupan yang senantiasa
berputar, sehingga kendi tersebut dipercaya masyarakat dapat membawa
berkah dan mendatangkan rizki jika meminum air atau sekedar memegang
kendi tersebut.
Dan yang terakhir filosofi dari mandi bersama atau bermain air
bersama di bawah grojokan air terjun Sedudo. Maknanya adalah
mengguyurkan atau menyiramkan air terjun sedudo yang suci keseluruh
anggota tubuh, agar segala keburukan yang ada dalam diri ikut hanyut
dengan air yang mengguyur. Selain itu air terjun sedudo dipercaya
masyarakat memiliki kekuatan magis, yang membawa berkah awet muda
pada siapapun yang mandi dibawah grojokan air terjun tersebut.