Anda di halaman 1dari 14

Histologi Sistem Pernafasan

A. SISTEM PERNAFASAN

I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Bumi tempat kita hidup diselubungi oleh suatu lapisan udara yang terdiri dari
senyawa gas, antara lain nitrogen (N2), oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), dan
gas mulai.
Walaupun tidak menjadi gas yang paling banyak di udara, oksigen sangat penting
bagi makhluk hidup. Sel-sel tubuh kita memerlukan oksigen untuk melakukan
‘pembakaran’. Makanan ‘dibakar’ agar menghasilkan energi. Energi tersebut
diperlukan sel untuk menjalankan fungsinya. Karbon dioksida yang dihasilkan
pada proses pembakaran ini bila terakumulasi dapat membahayakan tubuh,
karenanya harus segera dikeluarkan dari tubuh. Proses dalam uraian di atas
disebut respirasi sel.
Sistem pernapasan bertugas mengambil oksigen dari udara. Setelah sampai di
paru-paru, oksigen dipindahkan ke darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Di
dalam pembuluh darah, oksigen ditukar dengan karbon dioksida. Karbon dioksida
sebagai hasil oksidasi respirasi sel ini kemudian dibawa ke paru-paru untuk
dikeluarkan dari tubuh. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara dengan tubuh
makhluk hidup disebut respirasi.
Sistem pernapasan dan sistem sirkulasi bekerjasama dalam suatu sistem tertutup.
Sistem sirkulasi terdiri dari dua sirkuit, yang satu bertugas mengedarkan darah ke
seluruh tubuh (sirkuit mayora), sementara yang lain mengalirkan darah dari
jantung ke paru-paru (sirkuit minor).
Organ pernapasan terdiri dari saluran yang dimulai dari hidung, lalu ke pharynx,
larynx, bronchus, dan kemudian berakhir di alveolus pulmonal. Dinding
gelembung alveolus yang elastis dan banyak mengandung kapiler darah
memungkinkan terjadinya pertukaran O2 dan CO2 dengan efisiensi maksimum.

I.2 Rumusan Masalah


Hal-hal yang menjadi rumusan masalah adalah sebagai berikut :
Apa yang dimaksud dengan sistem pernapasan?
Apa saja organ penyusun system pernapasan?
Bagaimana struktur histologi dari rongga hidung ,larings,trakea,bronkus, dan
paru-paru?
Bagaimana perbedaan struktur histologi dari organ penyusun sistem
pernapasan?

I.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan karya tulih ilmiah ini adalah untuk memberikan gambaran
mengenai system pernapasan ,organ pernapasan ,struktur histologi dari organ
pernapasan.
I.4 Metode Penulisan
Metode yang dilakukan dalam penulisan makalah ini adalah melalui metode
kepustakaan dan mengumpulkan data melalui internet.

II. PEMBAHASAN

SISTEM PENAPASAN
Sistem pernapasan merupakan tempat terjadinya pertukaran gas antara darah dan
udara. Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu : bagian konduksi
dan bagian respirasi. Bagian konduksi berperan sebagai pencuci, memanasi atau
mendinginkan dan membuat udara lebih lembab, sedangkan bagian respirasi
merupakan tabung yang menghubungkan dunia luar dan paru-paru.
Fungsi primer sistem pernapasan ialah menjamin terlaksananya pertukaran gas
(oksigen dan karbondioksida) antara organisme dengan lingkungannya. Penyalur
udara (rongga hidung, nasofarings, laringofarings, laring, trakea, bronkus, dan
bronkiolus) menjamin aliran udara pernapasan dari dan ke daerah pertukaran
udara dalam pau-paru.
1. RONGA HIDUNG
Vestibulum Hidung
Rongga hidung dibagi dalam unit kanan dan kiri, dibatasi oleh suatu sekat terdiri
dari tulang rawan atau tulang. Ke arah rostral langsung di belakang hidung
disebut vestibulum hidung (region vestibularis) dan yang ke arah kaudal adalah
rongga hidung sebenarnya.
Kulit apeks nasalis berlanjut dengan gradien jaringan selaput lendir dari rongga
hidung yang sebenarnya. Ke arah rostral, daerah kutan vestibulum hidung dibalut
oleh epitel pipih banyak lapis berpigmen dan bertanduk tebal. Di tengah daerah
vestibulum, epitel lebih tipis dan tidak bertanduk. Bagian kaudal vestibulum
hidung dan sepertiga bagian rostral dari rongga hidung sebenarnya merupakan
daerah transisi dengan epitel kubus sampai silinder banyak lapis tanpa silia. Sel-
sel epitel permukaan di daerah transisi tersebut mengandung inti multilobus
(multilobated nuclei), memiliki mikrovili pada permukaannya, dan sering
berbentuk bulat. Jaringan ikat pada dermis vestibulum hidung memiliki
interdigitasi berupa papil-papil dengan daerah basal epitel.
Pada hewan piaraan terdapat kekhususan dalam vestibulum hidung. Pada bangsa
babi, bagian rostral vestibulum hidung dibalut integumentum yang mengandung
bulu rongga hidung (vibrissae), kelenjar palit, dan kelenjar peluh. Lubang kedua
dari duklus nasolakrimalis sering tampak di permukaan kaudolateral pada konka
ventralis anjing dan babi. Stratum papilaris dai papil-papil dermis anjing memilki
banyak papil dan kapiler yang membentuk lup.
Rongga Hidung Sejati
Lumen hidung sejati dibagi oleh lamel-lamel konka ventral, dorsal dan etmoidal.
Epitel yang membalut bagian besar belahan kaudal dari rongga hidung sejati
adalah silinder banyak baris bersilia. Pembalut meatus nasalis medius lebih tipis
dan mengandung lebih sedikit silia dan sel mangkok. Selapu lendir olfaktori
terdapat pada daerah permukaan kaudal pada konka etmoidalis dan septum nasal.
Epitel bersilia di luar daerah olfaktori dalam rongga hidung mengandung sel-sel
tipe basal, bersilia, sekretori dan sel kuas (brush cell). Sel-sel basal berbentuk
silinder yang pekat electron, bertaut pada lamila basalis diperkuat oleh
hemidesmosomn. Tiap sel-sel bersilia memiliki 200 sampai 300 silia aktif, di
samping banyak mikrovili yang menjulur kje dalam lumen. Kerusakkan struktur
mikro pada silia menyebabkan gerakan silia mundur atau kurang efektif. Sindrom
silia pasif, merupakan kondisi di mana saluran pernapasan mengalami infeki,
berulang secara kuat sebagai akibat kelainan silia bawaan. Hewan dengan
sindrom ini sering mengalami pembalikkan ke kiri atau ke kanan pada posisi alat
jeron rongga dada dan organ perut (situs inversus totalis). Struktur sel-sel
sekretori, yang terjadi baik pada sel mangkokj (goblet cell) atau sel penghasil
lender, bervariasi menurut fase sekresi serta lokasi dalam rongga hidung. Sel
mangkok memiliki posisi inti yang terdesak kea rah basal. Pada permukaan sel
terdapat mikrovili pendek. Sekreta sel mangkok pada hewan umumnya
mengandung sulfated acid glycoprotein yang merupakan komponen lendir yang
utama (mucus). Sel kuas (brush cell) memiliki mikrovili panjang dan tebal, serta
mengandung berkas filamen mikro. Sel ini diduga bersifat reseptor sensori, karena
memiliki ujung saraf berasal dari nervus trigeminus.
Mukosa daerah kaudal rongga hidung yang bukan daerah olfaktori memiliki
pembuluh darah lebih banyak serta lebar daripada daerah vestibularis ,daerah
transisi atau daerah olfaktori. Lapis submukosa disebut stratum kavernum . Pada
anjing stratum kavernum ini lebih vascular dari hewan piaraan lain , mengandung
sekitar 35% pembuluh darah. Glandula nasalis berbentuk tubuloasinar bercabang ,
tersebar antara vena dan stratum kavernum . Pada mamalia domestik,kelenjar
tersebut mengeluarkan sekretanya melalui epitel pada semua daerah rongga
hidung .

Organ Olfaktori
Secara mikroskopik , mukosa olfaktorius dapat dikenali atau dibedakan dari
daerah bukan olfaktori disekitarnya, karena epitel lebih tebal , dan banyak
kelenjar terorientasi vertical, serta banyak berkas serabut saraf tanpa myelin
dalam lamina propria
Mukosa olfaktorius dibalut epitel slinder banyak baris bersilia yang terdiri dari sel
utama : sel basal, sel neurosensori (sel olfaktori ), dan sel penunjang . Struktur sel
basal mirip dengan sel pada epitel diluar daerah olfaktori.
Sel neurosensori olfaktori dewasa berbentuk neuron bipolar dengan perikarion
didaerah basal epitel dengan dendrit mencapai lumen,sedangkan akson keluar dari
epitel mencapai bulbus olfaktorius susunan saraf pusat .
Sel penunjang (sustentacular cel)memipih mulai dari basis sempit pada membrane
basal dan melebar kearah lumen . Intinya mengambil warna lebih cerah, terletak
agak superficial dari sel – sel neurosensori. Pada daerah apparatus golgi , rER
terdapat supranuklear , sER tersebar diseluruh sitoplasma . Mikrovili , sering
bercabang , tersebar pada permukaan bebas sel penunjang.

Organ Vomeronasal
Organ Vomeronasal terletak dalam mukosa bagian ventral septum nasi ,berbentuk
buluh dengan ujung buntu , bagian luar terdiri dari tulang rawan penunjang ,
lamina propria dibagian tengah yang bersifat vascular serta glandular , dan epitel
saluran dibagian dalam. Tulang rawan vomeronasal yang bersifat hyalin
berbentuk J, menutup hampir semua bagian , kecuali daerah dorsolateral oragan
tersebut. Epitel mengalami perubahan dari epitel kubus banyak lapis didaerah
rostral menjadi epitel silinder banyak baris bersilia didaerah kaudal duktus
vomeronasal . Bagian dendrit dari sel neurosensori vomeronasal, berbeda dengan
sel neurosensori daerah olfaktori, karena tidak memiliki dendritic bulb ,tetapi
memiliki mikrovili sebagai pengganti silia pada permukaan selnya. Banyak
mitokondria , benda basal,dan badan penumbuh silia (cilliary precursor bodies)
terdapat didaerah apeks sitoplasma.
Sel – sel neurosensori vomeronasal pada anjing memiliki silia yang tidak bergetar
pada permukaan epitel (streocillia).
Kelenjar vomeronasal menumpahkan sekretanya dalam lumen organ
vomeronasal,lazimnya melalui komisura antara dinding mukosa lateral dan
medial. Organ Vomeronasal berfungsi sebagai kemoreseptor senyawa cair dengan
daya uap rendah. Organ Vomeronasal berkaitan dengan sikap meringis [lip-curl
type of facial grimace (flehmen) action ] yang diperliahatkan beberapa mamalia
jantan, untuk mengenali substansi dalam urine hewan betina. Pada sejumlah
mamalia , kemampuan mendeteksi bau betina birahi menimbulkan peningkatan
kadar testosteron dalam plasma darah hewan jantan . Pada kuda, duktus insisivus
kearah ventral berujung buntu,berhubungan dengan rongga hidung , tetapi tidak
dengan rongga mulut .

Sinus paranasalis
Mukosa pembalut sinus paranasalis lebih tipis dari rongga hidung . Hanya sedikit
kelenjar subepitel atau pembuluh darah tersebar dalam selaput lendir pada
berbagai sinus. Epitelnya tampak rendah , bersilia , silinder banyak baris dan
mengandung sel mangkok . Getaran silia akan mengangkut lendir kearah lubang
yang menghubungkan sinus dengan rongga hidung .

2. FARING

Terdiri atas pars respiratoria (nasofaring) dan pars digestoria (orofaring). Dinding
dorsal palatum molle terdiri atas mukosa dan tulang, sedangkan dinding faring
dibentuk oleh mukosa, fasia pharingea interna, otot seran lintang fasia faringea
eksterna dan tunika adventitia yang bersifat longgar. Dinding faring banyak
mengandung pembuluh darah dan limfe. Pembuluh limfe ini berhubungan dengan
pembuluh limfe kavum nasi. Serabut saraf membentuk pleksus superfisial dan
profundal.
Nasofarings
Nasofarings adalah bagian farings bagian dorsal , terletak dorsal palatum molle
dan menjulur dari rongga hidung kearah laringofarings . Epitel pembalut
berbentuk silinder banyak baris bersilia dengan sel mangkok. Epitel daerah
kaudodorsal dari palatum molle , yang berhubungan dengan dinding dorsal
nasofarings selama proses menelan , atau dengan epiglotis,berbentuk pipih
banyak lapis . Nodulus limfatik tampak jelas pada bagian dorsal nasofarings,pada
garis tengah tempat berkumpul dengan membentuk tonsil farings .

3. LARINGS
Dibalut oleh mukosa dan ditunjang oleh tulang rawan . Tulang rawan Larings
berhubungan satu sama lain dengan trakea dan hyoid apparatus melalui ligamen.
Otot kerangka ekstrinsik menggerkan larings selama menelan
berlangsung,sedangkan otot kerangka intrinsic menggerakan tulang rawan larings
secara individu selama pernafasan dan bersuara. Mukosa epiglotis , vestibulum
larings dan plika vokalis dibalut oleh epitel pipih banyak lapis bertanduk . Epitel
tersebut membalut ventrikel larings kuda. Reseptor saraf pada epitel larings
memberikan respon terhadap cairan seperti air, susu, cairan lambung ,dan air liur .
Mengandung banyak serabut elastik , leukosit , sel plasma dan sel mast . Pada
babi dan ruminansia kecil, tonsila paraepiglotika terdapat pada basis epiglotis.
Tonsil ini sering terlihat pada kucing. Kelenjar tubuloasinar sederhana bercabang
terdapat dalam lamina propia dan submukosa; kelenjar ini tidak terdapat pada
vestibulum dan plika vokalis. Hampir seluruh tulang rawan larings betipe hyaline,
perikondriumnya bersatu dengan submukosa berbatasan . Epiglotis karnivora
sering terdiri dari dinding luar tulang rawan yang didalamnya berisi sel – sel
lemak , jalinan serabut membentuk tunika adventisia mengitari tulang rawann
larings dan otot kerangka.

4. TRAKEA
Trakea merupakan penyalur udara antara larings dan bronkus , berbentuk buluh
yang semifleksibel dan semikolaps, terdapat dibagian ventral leher , terbentang
mulai larings sampai rongga dada. Secara histologik , dinding trakea memiliki
empat lapis : mukosa ,otot, tulang rawan ,dan adventisia.
Mukosa trakea terdiri dari epitel silinder banyak baris bersilia dan lamina
proprianya. Pada epitel trakea dikenal tujuh macam sel : sel basal, sel mangkok,
sel bersilia , sel sikat (brush cell),sel serous ,sel clara dan sel neuroendokrin. Sel
basal ini dianggap sebagai sel bibit(progenitor) untuk sel – sel lain dalam epitel .
Sel mangkok ,sel bersilia , dan sel sikat pada trakea mirip dengan yang terdapat
pada sistem pernafasan bagaian atas. Inti sel serous terletak basal dan
pemukaannya memiliki mikrovili, mengandung banyak rER dan badan pekat
elektron didaerah apeks. Sel – sel neuro endokrin ,juga dikenal sebagai sel – sel
Kultschitzky (sel K) atau sel –sel amine precursor uptake decarboxylation
(APUD) ,berbentuk khas piramid dengan basis pada lamina basalis dan
mengandung butir argirofil pekat ,banyak ER,apparatus golgi ,ribosom dan
filamen. Kelenjar trakea merupakan penjuluran epitel permukaan ke dalam
jaringan ikat subepitel ,berbentuk kelenjar tubuloasinar yang bersifat seromukous
yang tetap berhubungan dengan lumen melalui alat penyalur ,beberapa di
antaranya memiliki silia .Ujung kelenjar sebagian besar terletak didaerah
submukosa,bagian proksimal berbentuk buluh (tubulus) yang bersifat mukous
,sedangkan bagian distal berbentuk asinus dengan epitel utamanya bersifat serous.
Sel – sel serous merupakan mayoritas ujung kelenjar pada sebagian besar
hewan ;sekretanya berbentuk glikoprotein netral yang kadang –kadang mengalami
sulfasi .Sel –sel serous yang mengahasilkan protein ,butir sekretanya kecil ,pekat ,
memiliki ciri tersendiri , dan terdapat dalam sitoplasma yang kaya akan rER.
Jumlah cincin tulang rawan trakea bervariasi ,tidak hanya antar jenis yang
berbeda ,juga antar individu dari satu spesies. Otot trakealis berbentuk pita otot
polos ,tersusun transversal antara ujung bebas bagian dorsal tulang rawan ,dan
terdapat sepanjang seluruh panjang trakea. Pada sebagian besar spesies kecuali
anjing dan kucing ,otot polos bertaut pada jaringan ikat pekat tidak teratur dari
perikondrium pada bagian dalam cincin, umumnya pada jarak tertentu dari ujung
tulang rawan . Pada karnivora pertautan ini justru diluar permukaan tulang rawan.
Pembuluh darah besar dan saraf sering terdapat disekitar pita otot polos tersebut.
5. PARU - PARU
Hampir seluruh rongga dada diisi oleh paru-paru kanan dan kiri. Secara umum,
paru-paru dibagi menjadi sistem penyalur udara intrapolmunar, parenkim atau
sistem respirasi, dan pleura. Sistem penyalur udara intrapumonar (bronkus dan
bronkiolus), mencagkup sekitar 6% dari paru-paru. Parenkim (sistem respirasi),
atau daerah pertukaran gas, teriri dari duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan
alveoli, yang mencakup kira-kira 85% dari seluruh paru-paru. Paru-paru dibalut
oleh, jaringan ikat dan sel-sel mesotel membentuk pleura viseralis. Bersama
dengan pleura, pembuluh darah, saraf dan bronkiolus mengisi sisananya yang 9%
sampai 10% dari paru-paru.

Bronkus
Percabangan bronkus terbentuk oleh bronkus primer, membentuk penyalur udara.
Penyalur udara intrapolmunar yang paling besar disebut bronkus lobus ( lobar
bronchi ), masing-masing merupakan cabang langsung bronkus primer yang
masuk lous paru-paru melalui hilus. Tiap bronkus lobus bercabang dua an
selanjutnya bercabang lagi. Percabangan berlangsung terus sampai mencapai
daerah pertukran udara. Sistem percabangan ini disebut percabanga udara
dikotomi semu ( pseudodichotomous branching ).
Secara histologi, bronkus mirip trakea, kecuali berbagai lapisannya yang lebih
tipis. Bronkus dibalut epitel silinder banyak baris, terutama terdiri dari sel-sel
yang mampu bersekresi, sel bersillia dan sel bassal. Bronkus, dibanding dengan
trakea secara proposional memiliki jumlah sel lebih sedikit. Kompososisi epitel ke
arah distal berubah untuk satu spesies. Bronkus proksimal memiliki lebih banyak
sel epitel dan sel basal untuk tiap unit daerah bagian distal. Pada satu spesies,
diamana sel-sel mukous dominan pada epitel permukaan, presentasi popilasi sel
mukous pada saluran ke arah distal mengecil, sedangkan untuk sel clara justru
membesar. Kelenjar submukosa lebih sedkit dan lebih kecil pada bronkus
proksimal dibandingkan dengan trakea. Pada karnivora, bronkus intrapulmonar
memiliki kelnjar, juga pada ruminansia (sapi, domba ), kuda dan babi. Struktur
submukosa pada bronkus bervariasi dari proksimal ke arah distal dan kelenjarnya
semakin bekurang ke arah distal.

Bronkeulus
Bagian distal salura udara intrapulmonar adalah bronkiolus secara histologi dapat
dibedakan dengan bronkus. Secara umum brokeolus terdiri dari epitel, dan sedikit
jaringan ikat, tanpa adanya kelnjer dan tulang rawan. Bronkiolus tanpa alveolus
yang terbuka langsung pada dindingnya, disebut tanpa alveolus. Beberapa anak
cabang bronkus tanpa alveolus terdapat pada kuda, sapi, dan domba, tetapi
umumnya hanya satu atau dua anak cabang bronkiolus tanpa alveolus terdapat
pada paru-paru anjing dan kucing. Pada anjing dan kucing, epitel bagian distal
bronkiolus tanpa alveolus mengandung sel-sel bersillia dan sel Clara dengan
perbandingan 1:19.
Ada dua kekecualian stuktur daerah distal bronkiolus tanpa alveolus. Pada
mamalia laut dan kera mamakus, tulang rawan masih terdapat pada bronkiolus
terminalis, disamping itu, epitel pembalut saluran udara berbentuk banyak lapis,
mengandung sel basal, sel bersilia, sel mukousa.

Pleura
Pleura adalah membrana serosa yang membungkus pulmo. Terdiri atas dua bagian
yakni : yang menempel pada pulmo disebut pleura viseralis, dan menempel pada
kavum thorakis disebut pleura parietalis. Pleura terdiri atas lapisan tipis, jaringan
kolagen yang kaya fibroblast dan makrofag. Disamping itu ditemukan pula berkas
serabut elastis yang berjalan tidak beraturan kearah permukaan, seperti
peritoneum permukaannya tertutup oleh mesothelium. Gambaran yang mencolok
pada pleura yakni ditemukannya kapiler darah dan vasa limfe yang banyak. Nervi
pada pleura parietalis berhubungan dengan nervus phrenikus dan nervus
interkostalis yang terdapat pada pleura viseralis merupakan cabang dari nervus
vagus dan nervus simphatikus yang menginervasi bronkhi.

B. SISTEM URINARIA

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia tidak akan pernah lepas dari sistem urinaria, yakni sistem dimana
terjdinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang
tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan
oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Mengingat pentingnya sistem urinari maka disini akan dicoba untuk dijelaskan
mengenai struktur histologi dari sistem urinari, mulai dari
pengertian,struktur,komponen pendukung dan lain sebagainya. Agar dapat
dimengerti juga bagaimana sistem urinari itu dapat berjalan dan organ apa saja
yang menyusun sistem urinari.
1.2 Rumusan Masalah
Apa yang dimaksud dengan sistem urinari tersebut?
 Apa saja organ penyusun sistem urinaria dan bagaimana struktur histologi dari
organ penyusun sistem urinaria?
Apa perbedaan struktur histologi masing-masing organ penyusun sistem
urinaria?
I.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulih ilmiah ini adalah untuk memberikan gambaran
mengenai system urinaria ,organ urinaria ,struktur histologi dari organ urinaria.
I.4 Metode Penulisan
Metode yang dilakukan dalam penulisan makalah ini adalah melalui metode
kepustakaan dan mengumpulkan data melalui internet.

II. PEMBAHASAN

SISTEM URINARIA
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjdinya proses penyaringan
darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh
dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh.
Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dlam air dan dikeluarkan
berupa urin (air kemih). Sistem perkencingan atau sistem urinaria meliputi :
Ginjal, Vesika urinaria dan beberapa salurannya.
1. GINJAL / REN
Bagian paling luar adalah kapsula, serabut halus keluar dari kapsula menyisip
parenkhim ginjal bersama pembuluh darah. Renal tubulus dianggap identik
dengan nefron pada mamalia. Terdiri atas :
a. Korpuskuli renalis dengan glomeruli relatif lebih kecil dari mamalia.
b. Tubuli kontorti proksimalis, memepunyai epithel kubis dengan brush border,
inti ditengah dan sitoplasma berbutir halus, diduga butiran urat.
c. Jerat henle memiliki epithel sama, namun tidak memiliki brush border, tetapi
pada sitoplasma terdapat vakuola.
d. Tubuli konturti distalis memiliki lumen lebih luas, epithelnya lebih pucat dan
berbentuk kubis.
e. Alat penyalur mulai dari duktuli koligentes dengan epithel kubis, terus ke
duktus Bellini dan akhirnya masuk ureter
Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri,
karena adanya lobus hepatis dexter yang besar. Pada umumnya jumlah ginjal
sepasang (dua buah) yang terdapat di dalam rongga perut dengan hilus renalis
yakni tempat masuknya pembuluh darah dan keluarnya ureter, mempunyai
permukaan yang rata, kecuali pada sapi ginjalnya berlobus. Selubung ginjal (Ren)
disebut kapsula ginjal, tersusun dari campuran jaringan ikat yakni serabut kolagen
dan beberapa serabut elastis.
Struktur histologi ginjal pada berbagai jenis hewan piara tidak sama, sehingga
bentuk ginjal dibedakan menjadi:
Unilober atau unipiramidal: pada kelinci dan kucing mempunyai strukturϖ
histologi sama, yakni tidak dijumpai adanya percabangan pada kalik renalis,
papila renalis turun ke dalam pelvis renalis, dan duktus papilaris bermuara pada
kalik. Pada kuda, domba, kambing, dan anjing terjadi peleburan dari beberapa
lobus, sehingga terbentuk papila renalis tunggal yang tersusun longitudinal.
Multilober atau multipiramidal : bentuk ini dijumpai pada babi, sapi,ϖ dan
kerbau. Lobus (piramid) dan papila renalis lebih dari satu jelas terlihat.
Fungsi ginjal :
1. Membuang sisa hasil metabolisme dengan cara menyaring dari darah berupa air
seni (urin)
2. Mengatur kadar air, elektrolit tertentu serta berbagai bahan lain dari darah
3. Membuang bahan yang berlebihan atau tidak lagi dibutuhkan tubuh
4. Sebagai kelenjar endokrin (sel juksta-glomeruli dan makula densa) yang
mengatur hemodinamika serta tekanan darah dengan menghasilhan zat renin.
5. Fungsi ginjal erat hubungannya dengan paru-paru dan kulit dalam
mempertahankan volume dan komposisi darah terhadap beberapa zat tertentu.
Pada darah zat tersebut mempunyai nilai ambang yang konstan, dan bila melebihi
nilai ambang, maka zat tersebut dibuang melalui ginjal, paru-paru, maupun kulit.
Sinus renalis
Disusun atas :
1. Pelvis renal, dibentuk oleh kalik mayor dan kalik minor. Pelvis ini merupakan
bagian atas ureter yang melebar.
2. Arteri, vena dan nervus.
3. Lemak dengan jumlah sedikit dan tidak dijumpai jaringan konektif.
Ginjal pada dasarnya dapat dibagi dua daerah, yaitu : Kortek (luar ) dan Medulla
(dalam). Kortek meliputi daerah antara dasar malfigi piramid yang juga disebut
piramid medula hingga ke daerah kapsula ginjal. Daerah kortek diantara piramid
tadi membentuk suatu kolum disebut Kolum Bertini Ginjal. Pada potongan ginjal
yang masih segar, daerah kortek terlihat bercak merah yang kecil (petikhie) yang
sebenarnya merupakan kumpulan vaskuler khusus yang terpotong, kumpulan ini
dinamakan renal korpuskle atau badan malphigi.
Kortek ginjal terdiri atas nefron pada bagian glomerulus, tubulus konvulatus
proksimalis, tubulus konvulatus distalis. Sedangkan pada daerah medula dijumpai
sebagian besar nefron pada bagian loop of Henle’s dan tubulus kolektivus. Setiap
ginjal mempunyai satu sampai empat juta filtrasi yang fungsional dengan panjang
antara 30-40 mm yang disebut nefron.

Renal Korpuskula
Renal korpuskula terdiri atas berkas kapiler glomeruli dan glomerulus yang
dikelilingi oleh kapsula berupa epithel yang berdinding ganda disebut : Kapsula
Bowman.
Dinding sebelah dalam disebut lapisan viseral sedangkan yang disebelah luar
disebut lapisan pariental, yakni menerima cairan yang akan difiltrasi melalui
dinding kapiler. Korpuskula renalis mempunyai katup vaskular dimana darah
masuk ke arteriole aferent dan keluar melalui arteriole aferent.
Tubulus Konvulatus Prokimalis
Struktur ini merupakan segmen berkelok-kelok, yang bagian awal dari tubulus ini
panjangnya dapat mencapai 14 mm dengan diameter 57-60. Tubulus konvulatus
proksimalis biasanya ditemukan pada potongan melintang kortek yang dibatasi
oleh epithel selapis kubis atau silindris rendah, dengan banyak dijumpai
mikrovilli yang panjangnya bisa mencapai 1,2 dengan jarak satu dengan yang
lainnya 0.03. Karakteristik dari tubulus ini ditemukan apa yang disebut Brush
Border, dengan lumen yang lebar dan sitoplasma epithel yang jernih.
Loop of Henle’s
Loop of Henle’s banyak dijumpai di daerah medula dengan diameter bisa
mencapai 15. Loop of henle’s berbentuk seperti huruf “U” yang mempunyai
segmen tebal dan diikuti oleh segmen tipis. Pada bagian desenden mempunyai
lumen yang kecil dengan diameter 12 panjang 1-2 mm, sedangkan bagian asenden
mempunyai lumen yang agak besar dengan panjang 9 mm dengan diameter 30.
Epithel dari Loop of Henle’s merupakan peralihan dari epithel silindris rendah /
kubus sampai squomus, biasanya pergantian ini terdapat di daerah sub kortikal
pada medula, tapi bisa juga terjadi di daerah atas dari Loop of Henle’s.
Tubulus Konvulatus Distalis
Perbedaan struktur histologi dengan Tubulus Konvulatus proksimalis antara lain :
Sel epithelnya besar, mempunyai brush border, lebih asidofil, potongan melintang
pada tempat yang sama mempunyai epithel lebih sedikit, Tubulus Konvulatus
distalis : Sel epithel lebih kecil dan rendah, tidak mempunyai brush border,
kurang asidofil, lebih banyak epithel pada potongan melintang
Sepanjang perjalanan pada kortek, tubulus ini mengadakan hubungan dengan
katup vaskuler badan ginjal dari nefronnya sendiri yakni dekat dengan anteriole
aferent dan eferent. Pada tempat hubungan ini, tubulus distalis mengadakan
modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan
modifikasi bersama dengan arteriola aferens. Segmen yang mengadakan
modifikasi ini pada mikroskop cahaya tampak lebih gelap ini disebabkan
dekatnya dengan inti disebut : Makula dense.
Fungsi Makula dense belum begitu jelas, tapi beberapa ahli mengatakan,
fungsinya adalah sebagai penghantar data osmolaritas cairan dalam tubulus distal
ke glomerulus. Pada makula dense yang dekat dengan arteriola aferent
mengandung sel juksta glomerulus yaitu sel yang mempunyai bentuk epitheloid
dan bukan sel otot polos dan ini mungkin merupakan modifikasi dari otot polos.
Sel ini yang nantinya menghasilkan enzim renin. Hormon ini mengubah
hipertensinogen menjadi hipertensin (angiotensin). Angiotensin mempengaruhi
tunika media dari arteriola untuk berkontraksi, yang mengakibatkan tekanan darah
menjadi naik.
Tubulus kolektivus
Tubulus kolektivus merupakan lanjutan dari nefron bagian tubulus konvulatus
distalis dan mengisi sebagian besar daerah medula. Tubulus kolektivus bagian
depan mempunyai lumen yang kecil berdiameter sekitar dengan panjang 20-22
mm. Lumennya dilapisi epithel kubis selapis,µ 40 sedangkan tubulus kolektivus
bagian belakangnya sudah berubah menjadi , panjangnya mencapai 30-38
mm.µ bentuk silindris dengan diameter 200
Sirkulasi Darah
Ginjal menerima darah dari arteria renalis yang masuk melalui hilus dan
bercabang membentuk arteria interlobularis yang terletak antara piramid
malpighi. Selanjutnya arteri ini bercabang lagi menjadi arteri arkuata dan
bercabang lagi menjadi arteria interlobularis. Arteria Interlobularis bercabang lagi
menjadi arteria aferent yang masuk ke glomerulus, selain itu ada juga arteri
interlobularis melanjutkan diri menuju kapsula ginjal yang disebut arteri stelata.
Setelah darah mengalami filtrasi, maka akan keluar melalui arteriola eferent
gromeruli. Cabang arteriol eferent akan memberikan makanan untuk tubulus dan
daerah distal untuk kortek ginjal. Cabang arteriola eferent bersatu membentuk
arteriola rekta, dari venula ini bersatu lagi menjadi vena interlobularis dan
selanjutnya menjadi vena interlobularis yang akhirnya keluar ginjal melalui vena
renalis. Pada manusia dengan berat badan ± 70 kg pada kedua buah ginjalnya
dialiri darah sebanyak 1200 cc setiap menit
Histofisiologi Ginjal
Ginjal mempunyai fungsi yang sangat komplek, yakni sebagai filtrasi, absorpsi
aktif maupun pasif, resorpsi dan sekresi. Total darah ke dua ginjal dapat mencapai
1200 cc/menit atau sebesar 1700 liter darah / hari. Semua ini akan difiltrasi oleh
glomeruli dimana setiap menit dihasilkan 125 cc filtrat glomeruli atau 170 liter
filtrat glomeruli setiap 24 jam pada ke dua ginjal. Dari jumlah ini beberapa bagian
di resorpsi lagi keluar dari tubulus.
Pada tubulus konvulatus proksimalis dan distalis terjadi proses resorpsi dan
ekskresi, dimana beberapa bahan seperti : glukosa dan sekitar 50 % natrium
klorida dan sejumlah air di resorpsi oleh sel tubulus melalui absorbsi aktif yang
memerlukan energi, sedangkan air berdifusi secara pasif. Selanjutnya filtrat
glomeruli yang tidak mengalami resorpsi diteruskan ke distal sampai tubulus
kolektivus. Pada daerah ini terjadi pemekatan urin atau pengenceran terakhir
tergantung dari keadaan cukup tidaknya anti-diuretik hormon (ADH). Hormon ini
berpengaruh terhadap permeabilitas tubulus kolektivus terhadap air.
Pelvis Renalis
Pada hilus renalis terdapat pelvis renalis yang menampung urin dari papila renalis.
Pada ginjal yang multi-piramid urin pertama ditampung oleh kaliks renalis
kemudian dari sini baru ke pelvis renalis.
Bangun histologinya adalah sebagai berikut : Mukosa memiliki epithel peralihan
dengan sel payung, mulai dari kaliks renalis, tebal epithel hanya 2 sampai 3 sel.
Dengan mikroskop cahaya tidak tampak adanya membran basal tetapi dengan EM
tampak membrana basalis yang sangat tipis. Propria mukosa terdiri atas jaringan
ikat longgar dan pada kuda terdapat kelenjar yang agak mukus.
Bentuk kelenjar adalah tubulo-alveolar. Tunika muskularis terdiri atas otot polos,
jelas pada kuda, babi dan sapi. Lapis dalam tersusun longitudinal dan lapis luar
sirkuler. Pada hewan lain otot relatif sedikit, pada kalises renalis otot relatif
sedikit, tetapi pada daerah permulaan ureter membentuk semacam sphinter.
Tunika adventitia terdiri dari jaringan ikat longgar dengan banyak sel lemak,
pembuluh darah, pembuluh limfe serta saraf.

2. URETER
Selaput lendir ureter membentuk lipatan memanjang (longitudinal) dengan epithel
banyak baris. Pada tunika propria sebagaimana pada bangsa burung banyak
ditemukan limfosit.
Tunika muskularis terdiri atas otot polos, lapis terluar adalah adventitia. Ureter
sebelum memasuki ginjal bercabang menuju lobus. Ureter sebenarnya pendek dan
lurus, bermuara kedalam uredeum medial dari duktus deferens pada hewan jantan,
dan medial dari oviduktus pada hewan betina.
Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju
vesika urinaria (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan memanjang dengan
epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri
atas jaringan ikat dimana pada kuda terdapat kelenjar tubulo-alveolar yang
bersifat mukous, dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal
dari pelvis renalis, terdiri dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar
sirkuler, sebagian lapis luar ada yang longitudinal khususnya bagian yang paling
luar. Dekat permukaan pada vesika urinaria hanya lapis longitudinal yang nampak
jelas.
Tunika adventisia terdiri atas jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf, ganglia sering terdapat didekatnya. Selama urine
melalui ureter komposisi pokok tidak berubah, hanya ditambah lendir saja.
Dinding ureter terdiri atas beberapa lapis, yakni:
1. Tunika mukosa : lapisan dari dalam ke luar sebagai berikut :
Epithelium transisional : pada kaliks dua sampai empat lapis, padaϖ ureter
empat sampai lima lapis, pada vesica urinaria 6-8 lapis.
Tunika submukosa tidak jelasϖ
Lamina propria beberapa lapisanϖ
Luar jaringan ikat padat tanpa papila, mengandung serabut elastis danϖ sedikit
noduli limfatiki kecil, dalam jaringan ikat longgar
Kedua-dua lapisan ini menyebabkan tunika mukosa ureter dan vesikaϖ urinaria
dalam keadaan kosong membentuk lipatan membujur.
2. Tunika muskularis : otot polos sangat longgar dan saling dipisahkan oleh
jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastis. Otot membentuk tiga lapisan :
stratum longitudinale internum, stratum sirkulare dan stratum longitudinale
eksternum
3. Tunika adventisia : jaringan ikat longgar

3. VESIKA URINARIA (KANTONG KEMIH)


Kantong air seni merupakan kantong penampung urine dari kedua belah ginjal
Urine ditampung kemudian dibuang secara periodik.
Struktur histologi :
1. Mukosa, memiliki epithel peralihan (transisional) yang terdiri atas lima sampai
sepuluh lapis sel pada yang kendor, apabila teregang (penuh urine) lapisan nya
menjadi tiga atau empat lapis sel.
2. Propria mukosa terdiri atas jaringan ikat, pembuluh darah, saraf dan jarang
terlihat limfonodulus atau kelenjar. Pada sapi tampak otot polos tersusun
longitudinal, mirip muskularis mukosa.
3. Sub mukosa terdapat dibawahnya, terdiri atas jaringan ikat yang lebih longgar.
4. Tunika muskularis cukup tebal, tersusun oleh lapisan otot longitudinal dan
sirkuler (luar), lapis paling luar sering tersusun secara memanjang, lapisan otot
tidak tampak adanya pemisah yang jelas, sehingga sering tampak saling menjalin.
Berkas otot polos di daerah trigonum vesike membentuk bangunan melingkar,
mengelilingi muara ostium urethrae intertinum. Lingkaran otot itu disebut
m.sphinter internus.
5. Lapisan paling luar atau tunika serosa, berupa jaringat ikat longgar (jaringan
areoler), sedikit pembuluh darah dan saraf

4. URETRA
Berupa saluran yang menyalurkan urine dari kantong seni keluar tubuh. Pada
hewan jantan akan mengikuti penis, sedangkan pada hewan betina mengikuti
vestibulum.
Sistem Urinaria pada Unggas
Beberapa perbedaan dengan mamalia tampak jelas antara lain :
1. Bentuk ginjal yang agak komplek, terdiri atas tiga sampai empat lobus
2. Tidak memiliki vesika urinaria dan urethra jadi urine dari ureter langsung
masuk kloaka (urodeum)
3. Urine yang dihasilkan agak kental, sedangkan pada mamalia bersifat lebih cair.
4. Pada ayam terdapat sepasang ginjal multilober yang erat hubungannya dengan
kilumna vertebralis dan ilia, terletak pada bagian kaudal dari paru-paru. Warnanya
kecoklatan dan konsistensinya lunak sehingga mudah rusak pada proses
pengeluaran dari tempatnya.
Komposisi air kemih, terdiri dari:
1. Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
2. Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan
kreatinin.
3. Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fospat dan sulfat.
4. Pagmen (bilirubin dan urobilin).
5. Toksin.
6. Hormon.
Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin.
Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
1. Kandung kemih terisi secara progresif hingga tegangan pada dindingnya
meningkat melampaui nilai ambang batas (Hal ini terjadi bila telah tertimbun 170-
230 ml urin), keadaan ini akan mencetuskan tahap ke 2.
2. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan
kandung kemih.
Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang) Sebagian
besar pengosongan di luar kendali tetapi pengontrolan dapat di pelajari “latih”.
Sistem saraf simpatis : impuls menghambat Vesika Urinaria dan gerak spinchter
interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf
parasimpatis: impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya
spinchter relaksasi terjadi MIKTURISI (normal: tidak nyeri).
Ciri-Ciri Urin Normal
1. Rata-rata dalam satu hari 1-2 liter, tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah
cairan yang masuk.
2. Warnanya bening oranye tanpa ada endapan.
3. Baunya tajam.
4. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6.

http://akitawindhu27.blogspot.com/2011/04/histologi-sistem-pernafasan.html