Anda di halaman 1dari 7

ETIKA DAN

PROFESIONALISME TSI

UU – ITE 2008 & UU TELEKOMUNIKASI


NO. 36 THN 1999

Nama Anggota Kelompok:


1.Andi Kurnia (10107167)
2.Mohammad Zaenuri (11107119)
3.Rieki Risapratama (11107447)
4.Yudhi Noviyandi A (11107812)

Kelas : 4 KA 04

Universitas Gunadarma
2011
CONTOH KASUS UU ITE TAHUN 2008
1. Pembobolan ATM

Terhadap pelaku yang diduga telah melakukan pembobolan ATM, UU ITE


menyebutkan, bahwa minimal dapat dijerat dengan Pasal 30 ayat (1) yang
menyebutkan, bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau
melawan hukum mengakses komputer dan/atau sistem elektronik milik orang
lain dengan cara apa pun. dan ayat (3) yang menyebutkan, bahwa setiap orang
dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer
dan/atau sistem elektronik dengan cara apa pun dengan melanggar,
menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan.

Di samping itu, juga dapat dijerat dengan Pasal 32 ayat (2) yang
menyebutkan, bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau
melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer
informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik
orang lain yang tidak berhak . Dan ketentuan berikutnya yang juga dapat
digunakan adalah Pasal 36, yang menyebutkan, bahwa setiap orang dengan
sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 34 yang
mengakibatkan kerugian bagi orang lain.

Ketentuan-ketentuan yang bisa dikenakan pada orang yang diduga telah


melakukan pembobolan nasabah melalui ATM bank adalah karena salah satu
tujuan pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik
sebagaimana diatur pada Pasal 4 huruf (e) UU ITE adalah untuk memberikan
rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara
teknologi informasi. Sedangkan kepada pihak bank yang melakukan layanan
ATM dan terhadap ATM tersebut telah terjadi pembobolan rekening
nasabah, maka diminta kehati-hatiannya, karena bank dalam hal ini dapat
dianggap sebagai penyelenggara sistem elektronik karena menyelenggarakan
sistem transaksi dalam layanan perbankan melalui ATM.

Yang diperlukan kehati-hatian oleh pihak bank adalah terkait Pasal 1 UU


ITE, khususnya pada point (6) menyebutkan, bahwa penyelenggaraan sistem
elektronik adalah pemanfaatan sistem elektronik oleh penyelenggara negara,
orang, badan usaha, dan/atau masyarakat. Dalam implementasinya, pihak
suatu bank yang menyelenggarakan layanan ATM dan telah terjadi
pembobolan harus memperhatikan Pasal 15 ayat (1) yang menyebutkan, bahwa
setiap penyelenggara sistem elektronik harus menyelenggarakan sistem
elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap
beroperasinya sistem elektronik sebagaimana mestinya . Selain itu disebut
pula pada Pasal 15 ayat (2) yang menyatakan, bahwa penyelenggara sistem
elektronik bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan sistem
elektroniknya. Akan tetapi, ada juga ketentuan yang dapat melindungi pihak
bank , sebagaimana disebut pada Pasal 15 ayat (3) yang menyebutkan, bahwa
ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat
dibuktikan terjadinya keadaan memaksa, kesalahan, dan/atau kelalaian pihak
pengguna sistem elektronik

2 Indoleaks Numpang Popularitas Wikileaks

Meskipun bisa dikategorikan membahayakan, situs Indoleaks belum bisa


dijerat UU ITE. Karena sebagaimana yang dituliskan dalam UU ITE Pasal 32
ayat (3), "Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
mengakibatkan terbukanya suatu Informasi elektronik dan/atau dokumen
elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan
keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya". Dengan artian bahwa
barangsiapa yang menyebarkan informasi yang bersifat rahasia dengan
seutuhnya maka tidak termasuk melanggar peraturan UU ITE, sehingga celah
tersebut lah yang dimanfaatkan Indoleaks

3 Blogger Terancam Undang-Undang Wikileaks

Akhir-akhir ini, pengguna blog ekstra waspada. Pasalnya, jika materi blog
dianggap menghina seseorang, pemilik blog tersebut bisa diancam pidana
penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Adalah Pasal 27 ayat (3) Undang-
Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)
yang menyebutkan ancaman itu. Secara lengkap, ayat itu berbunyi "Setiap
orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau
pencemaran nama baik." Selanjutnya, tercantum di Pasal 45 UU ITE, sanksi
pidana bagi pelanggar pasal 27 ayat (3) yaitu penjara enam tahun dan denda
maksimal Rp 1 miliar. Kehadiran pasal itu membuat geram para blogger,
lembaga swadaya masyarakat pemilik situs, dan para pengelola situs berita
online. Mereka merasa terancam haknya menyiarkan tulisan, berita, dan
bertukar informasi melalui dunia maya. Pasal itu dianggap ancaman terhadap
demokrasi. Kini, mereka ramai-ramai mengajukan permohonan pengujian Pasal
27 ayat (3) UU ITE kepada Mahkamah Konstitusi karena bertentangan
dengan Pasal 28F UUD 1945.

4. ICW Dukung Putusan MK Hapus Pasal Penyadapan

Indonesian Corruption Watch (ICW) mendukung langkah Mahkamah


Konstitusi (MK) menghapus pasal aturan tentang tata cara penyadapan.
Karena, jika pasal ini tidak dihapuskan akan menghambat upaya Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memberantas korupsi. Menurut Wakil
Koordinator ICW, Emerson Yuntho, dalam melakukan tugasnya, biasanya KPK
menyadap nomor telepon kalangan eksekutif. Jika pasal tentang penyadapan
ini diberlakukan, maka pada ujungnya Kementerian Komunikasi dan Informasi
(Kominfo) selaku eksekutif yang mengendalikan aturan penyadapan ini.
Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan pasal 31 ayat 4 UU/11/ 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Pasal tersebut mengatur
tentang tata cara penyadapan

CONTOH KASUS UU TELEKOMUNIKASI NOMOR 36 TAHUN 1999


1. Bocornya Data Pelanggan Telekomunikasi

jika dugaan kebocoran benar, hal itu pelanggaran terhadap Undang-


Undang (UU), itu pelanggaran terhadap Undang-Undang karena menurut UU
Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, data pelanggan
telekomunikasi harus dirahasiakan. pihak-pihak yang mungkin membocorkan
adalah perusahaan telekomunikasi atau bank. Perusahaan-perusahaan
telekomunikasi tentu saja memiliki data-data para pelanggan mereka.
Sedangkan bank-bank biasanya memiliki klausul agar para nasabah mereka
menyetujui jika bank-bank ingin memberi tahu pihak ketiga tentang data-
data para pelanggan dalam rangka promosi dan lain-lain

2 SMS Sampah

menurut Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, SMS sampah seperti


itu termasuk dilarang sebagaimana yang dimaksudkan dalam UU Nomor 36
Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Dalam Pasal 21 UU itu disebutkan,
penyelenggara jasa telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan dinilai
bertentangan dengan kepentingan umum, kesusilaan, keamanan atau
ketertiban umum. Jika dikaitkan dengan ketentuan UU Nomor 36 Tahun 1999
tentang Telekomunikasi, masyarakat dapat menuntut operator telepon selular
karena tidak mengindahkan kenyamanan mereka selaku konsumen
telekomunikasi.