Makalah Keperawatan Medikal Bedah Ii

Anda mungkin juga menyukai

Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

TENTANG OSTEOPOROSIS

Disusun oleh :

DALILAH PUTERI DEWI (1140970120048)


NORHASANAH (1140970120068)
RINY RIANTI SAFITRI (1140970120075)
NAHDHEA KAHIRUNISA (1140970120064)
ANDRI GERDA PERMATA (1140970120043)
DIMAS SAPUTRA (1140970120051)
LILIK SURYANTO (1140970120058)
MUHAMMAD HUSEIN ABDILAH (1140970120062)
SUBEHAN YAMIN (11409718070)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN AKADEMI


KEPERAWATAN KESDAM VI/TANJUNGPURA
BANJARMASIN
2021/2022

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat Nyakami


dapat menyusun makalah yang berisi tentang “MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL
BEDAH II TENTANG OSTEOPOROSIS”. Dalam proses penyusunan makalah ini tentunya
kami kelompok2 mengalami berbagai masalah. 
Namun berkat arahan dan dukungan dari berbagai  pihak akhirnya makalah ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini, kami kelompok 2 mengucapkan terima kasih kepada dosen mata
perkuliahan, yaitu Ibu Ernawati, S.Kep., Ns., M.Kep yang telah membimbing kami dalam proses
penyusunan makalah ini.
Kami sebagai penyusun menyadari makalah ini masih belum sempurna, baik dari isi
maupun penjelasan dari makalah ini, maka dari itu kami kelompok 2 meminta maaf jika
makalah kami masih banyak kekurangannya apabila ada kritik dan saran yang membangun
demi kesempurnaan makalah ini kami mengucapkan terima kasih.
Demikian semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya mata
kuliah Keperawatan medikal bedah II nantinya.

2
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini masih
merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di
Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita
post-menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Masyarakat atau
populasi osteoporosis yang rentan terhadap fraktur adalah populasi lanjut usia yang
terdapat pada kelompok di atas usia 85 tahun, terutama terdapat pada kelompok lansia
tanpa suatu tindakan pencegahan terhadap osteoporosis. Proses terjadinya osteoporosis
sudah di mulai sejak usia 40 tahun dan pada wanita proses ini akan semakin cepat pada
masa menopause.
Sekitar 80% penderita penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda
yang mengalami penghentian siklus menstruasi. Hilangnya hormon estrogen setelah
menopause meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Penyakit osteoporosis yang kerap
disebut penyakit keropos tulang ini ternyata menyerang wanita sejak masih muda. Tidak
dapat dipungkiri penyakit osteoporosis pada wanita ini dipengaruhi oleh hormon
estrogen. Namun, karena gejala baru muncul setelah usia 50 tahun, penyakit osteoporosis
tidak mudah dideteksi secara dini.
Meskipun penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki
risiko terkena penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis
pada pria juga dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause,
sehingga osteoporosis datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan
akan naik 414 persen dalam kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause
yang tahun 2000 diperhitungkan 15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015.
Dapat dibayangkan betapa besar jumlah penduduk yang dapat terancam penyakit
osteoporosis.

B. Rumusan Masalah
3
1. Pengertian Osteoporosis?
2. Etiologi Osteoporosis?
3. Patofisiologi Osteoporosis?
4. Pathway?

5. Macam-macam Osteoporosis ?
6. Manifestasi Klinis?
7. Pemeriksaan Diagnostik?
8. Pengobatan Osteoporosis?
9. Proses Keperawatan Osteoporosis ?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian osteoporosis.
2. Mengetahui etiologi osteoporosis.
3. Mengetahui patofisiologi osteoporosis.
4. Mengetahui pathway steoporosis.
5. Mengetahui macam-macam osteoporosis.
6. Mengetahui manifestasi osteoporosis.
7. Mengetahui diagnostik osteoporosis.
8. Mengetahui pengobatan osteoporosis.
9. Mengetahui proses keperawatan osteoporosis.

4
BAB II PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Osteoporosis berasal dari kata osteo dan porous, osteo artinya tulang, dan porous berarti
berlubang-lubang atau keropos. Jadi, osteoporosis adalah tulang yang keropos, yaitu
penyakit yang mempunyai sifat khas berupa massa tulangnya rendah atau berkurang,
disertai gangguan mikro-arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang
dapat menimbulkan kerapuhan tulang (Tandra, 2009). Kondisi penurunan kepadatan
tulang ini mengakibatkan tulang menjadi rapuh. Osteoporosis akan membuat tulang
berlubang-lubang seperti spons. Kelainan tulang ini akan meningkatkan risiko patah
tulang. Orang lanjut usia merupakan sasaran paling rentan untuk terkena osteoporosis.
Ketika wanita mencapai usia 80 tahun, ia memiliki risiko 40 persen mengalami satu atau
lebih patah tulang belakang. (Mamat, 2009). Osteoporosis merupakan masalah kesehatan
terbesar setelah penyakit kardiovaskuler. Angka pravelansi osteoporosis dari penelitian
yang dilakukan oleh Djoko Roeshadi dengan mengukur massa tulang (Bone Mineral
Density=BMD) adalah 26%.

B. ETIOLOGI
Beberapa penyebab osteoporosis, yaitu:
1. Osteoporosis pascamenopause terjadi karena kurangnya hormon estrogen (hormon utama
pada wanita), yang membantu mengatur pengangkutan kalsium kedalam tulang. Biasanya
gejala timbul pada perempuan yang berusia antara 51-75 tahun, tetapi dapat muncul lebih
cepat atau lebih lambat. Hormon estrogen produksinya mulai menurun 2-3 tahun sebelum
menopause dan terus berlangsung 3-4 tahun setelah menopause. Hal ini berakibat
menurunnya massa tulang sebanyak 1-3% dalam waktu 5-7 tahun pertama setelah
menopause.
2. Osteoporosis senilis kemungkinan merupakan akibat dari kekurangan kalsium yang
berhubungan dengan usia dan ketidakseimbangan antara kecepatan hancurnya tulang
(osteoklas) dan pembentukan tulang baru (osteoblas). Senilis berarti bahwa keadaan ini
hanya terjadi pada usia lanjut. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang-orang berusia
diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Wanita sering kali menderita
5
osteoporosis senilis dan pasca menopause.
3. Kurang dari 5% penderita osteoporosis juga mengalami osteoporosis sekunder yang
disebabkan oleh keadaan medis lain atau obat-obatan. Penyakit ini bisa disebabkan oleh
gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid, dan adrenal) serta
obat-obatan (misalnya kortikosteroid, barbiturat, antikejang, dan hormon tiroid yang
berlebihan). Pemakaian alkohol yang berlebihan dan merokok dapat memperburuk
keadaan ini.
4. Osteoporosis juvenil idiopatik merupakan jenis osteoporosis yang penyebabnya tidak
diketahui. Hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang memiliki kadar dan
fungsi hormon yang normal, kadar vitamin yang normal, dan tidak memiliki penyebab
yang jelas dari rapuhnya tulang ( Junaidi, 2007).
C. PATOFISIOLOGI
Terjadinya osteoporosis secara seluler disebabkan oleh karena jumlah dan aktivitas sel
osteoklas melebihi (sel pembentuk dari jumlah dan aktivitas sel osteoblas (sel tulang).
Keadaan ini mengakikatkan penurunan massa tulang. Sel yang bertanggung jawab untuk
pembentukan tulang disebut osteoblas (osteoblast), sedangkan osteoklas (osteoclast)
bertanggung jawab untuk penyerapan tulang. Pembentukan tulang terutama terjadi pada
masa pertumbuhan. Pembentukan dan penyerapan tulang berada dalam keseimbangan
pada individu berusia sekitar 30 – 40 tahun. Keseimbangan ini mulai terganggu dan lebih
berat ke arah penyerapan tulang ketika wanita mencapai menopause dan pria mencapai
usia 60 tahun. Pada osteoporosis akan terjadi abnormalitas bone turn- over, yaitu
terjadinya proses penyerapan tulang (bone resorption) lebih banyak dari pada proses
pembentukan tulang ( bone formation). Terjadinya osteoporosis secara seluler
disebabkan oleh karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi (sel pembentuk dari
jumlah dan aktivitas sel osteoblas (sel tulang). Keadaan ini mengakikatkan penurunan
massa tulang.

Normal

Genetik,gaya hidup,alcohol,
penurunan prod.hormon

Penurunan masa tulang

Osteoporosis (gangguan muskuloskeletal)

6
Kiposis/Gibbus
Pengaruh pada fisik Pengaruh pada psikososial

Keterbatasan gerak Konsep diri


Fungsi tubuh
-pembatasan grk & lat. -Gmbaran body image
menurun
-nyeri pinggang -kemampuan memenuhi ADL -Isolasi sosial
-TB & BB menurun -Inefektif koping individu

Reseptor nyeri nafsu makan


menurun

Gang.rs nyaman (nyeri)

Lemas,letih

Disfungsi skelet Adaptasi lingkungan berkurang

Perubahan mobilitas fisik


Resiko injuri

F. MACAM-MACAM OSTEOPOROSIS
1. Osteoporosis Primer
Terjadi pada wanita pascamenopause dan pada wanita usia lanjut. Pada wanita biasanya
disebabkan oleh pengaruh hormonal yang tidak seefektif biasanya. Hormon estrogen
yang berfungsi melindungi tulang dalam tubuh malah berkurang jumlahnya. Osteoporosis
primer pada wanita biasanya disebut sebagai osteoporosis postmenopausal. Sementara
itu, pada pria osteoporosis primer yang ter- jadi adalah osteoporosis senilis. Osteoporo-
sis ini terjadi karena berkurangnya kalsium akibat penuaan usia. Osteoporosis senilis juga
bisa terjadi pada wanita. Jadi, wanita yang sudah lanjut usia bisa terkena osteoporosis
senilis dan postmenopausal. Pada kenyataannya, jumlah penderita osteoporosis wanita
lebih banyak daripada jumlah penderita pria.

7
2. Osteoporosis Sekunder
Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit tertentu, gangguan hormonal, dan juga
kesalahan pada gaya hidup seperti konsumsi alkohol secara berlebihan, rokok, kafein, dan
kurangnya aktivitas fisik berbeda dengan osteoporosis primer yang terjadi karena faktor
usia, osteoporosis sekunder bisa saja terjadi pada orang yang masih berusia muda.

G. TANDA DAN GEJALA

Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai puluhan tahun
tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps
atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk tulang. Jadi, seseorang dengan
osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gejala sebagai berikut:
1. Tinggi badan berkurang
2. Bungkuk atau bentuk tubuh berubah
3. Patah tulang
4. Nyeri bila ada patah tulang (Tandra, 2009).

H. MANIFESTASI KLINIK

Nyeri dengan atau tanpa fraktur yang nyata. Ciri-ciri khas nyeri akibat fraktur kompressi
adalah:
1. Nyeri timbul mendadak

2. Sakit hebat dan terlokalisasi pada vertebra yg terserang

3. Nyeri berkurang pada saat istirahat di t4 tidur

4. Nyeri ringan pada saat bangun tidur dan dan akan bertambah oleh

5. karena melakukan aktivitas


6. Deformitas vertebra thorakalis _ Penurunan tinggi badan

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Pemeriksaan non-invasif yaitu ;


b. Pemeriksaan analisis aktivasi neutron yang bertujuan untuk memeriksa

8
c. kalsium total dan massa tulang.
d. Pemeriksaan absorpsiometri
e. Pemeriksaan komputer tomografi (CT)
f. Pemeriksaan biopsi yaitu bersifat invasif dan berguna untuk memberikan
g. informasi mengenai keadaan osteoklas, osteoblas, ketebalan trabekula
h. dan kualitas meneralisasi tulang. Biopsi dilakukan pada tulang sternum
i. atau krista iliaka.
j. Pemeriksaan laboratorium yaitu pemeriksaan kimia darah dan kimia
k. urine biasanya dalam batas normal.sehingga pemeriksaan ini tidak
l. banyak membantu kecuali pada pemeriksaan biomakers osteocalein(GIA protein).

J. PROSES KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Promosi kesehatan, identifikasi individu dengan risiko mengalami osteoporosis dan
penemuan masalah yang berhubungan dengan osteoporosis membentuk dasar bagi
pengkajian keperawatan.
b. Wawancara meliputi pertanyaan mengenai terjadinya osteoporosis dalam keluarga,
fraktur sebelumnya, konsumsi kalsium diet harian, pola latihan, awitan menopause dan
penggunaan kortikoseteoroid selain asupan alkohol, rokok dan kafein. Setiap sengaja
yang dialami pasien, seperti nyeri pingang, konstipasi atau ganggua citra diri harus digali.
c. Pemeriksaan fisik kadang menemukan adanya patah tulang kifosis vertebrata torakalis
atau pemendekan tinggi badan. Masalah mobilitas dan pernapasan dapat terjadi akibat
perubahan postur dan kelemahan otot. Konstipasi dapat terjadi akibat inaktivitas.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Kurang pengetahuan mengenai proses osteoporosis dan program terapi
b. Nyeri yang berhubungan dengan fraktur dan spasme otot
c. Konstipasi yang berhubungan dengan imobilitasi atau terjadinya ileus (obstruksi usus)
d. Risiko terhadap cedera : fraktur, yang berhubungan dengan tulang osteoporotik
3. INTERVENSI KEPERAWATAN

a. Memahami Osteoporosis dan Program Tindakan


 Ajarkan pada klien tentang faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya osteoporosis.
9
 Anjurkan diet atau suplemen kalsium yang memadai.
 Timbang Berat badan secara teratur dan modifikasi gaya hidup seperti
 Pengurangan kafein, sigaret dan alkohol, hal ini dapat membantu mempertahankan
massa tulang.

 Lakukan aktivitas pembebanan berat badan Sebaiknya dilakukan di luar rumah di bawah
sinar matahari, karena sangat diperlukan untuk memperbaiki kemampuan tubuh
menghasilkan vitamin D.

10
BAB III
KESIMPULAN

Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang total.


Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan resorpsi tulang
lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang, pengakibatkan penurunan masa tulang
total. Tulang secara progresif menjadi porus, rapuh dan mudah patah; tulang menjadi
mudah fraktur dengan stres yang tidak akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal

11
DAFTAR PUSTAKA

Ii, B. A. B., & Pustaka, T. (2009). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian

Osteoporosis Osteoporosis berasal dari kata.

Sain, B. I., & Kp, S. (n.d.). ASKEP pada Klien dengan gangguan Metabolisme Tulang :
OSTEOPOROSIS, 42–52.
T, I. K. S. K. (n.d.). iOSTEOPOROSIS PATOGENESIS DIAGNOSIS DAN PENANGANAN
TERKINI.

12
13
14
15
16

Anda mungkin juga menyukai