0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
476 tayangan7 halaman

Kisah Penakluk Rajawali (Revisi 2)

Cerita rakyat tentang seorang putri bungsu raja di Sulawesi Selatan yang diculik oleh Rajawali raksasa untuk disantap. Seorang pemuda berhasil menyelamatkan sang putri dengan mengalahkan rajawali menggunakan senjata turun-temurun keluarganya.

Diunggah oleh

Ayik Ayunda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
476 tayangan7 halaman

Kisah Penakluk Rajawali (Revisi 2)

Cerita rakyat tentang seorang putri bungsu raja di Sulawesi Selatan yang diculik oleh Rajawali raksasa untuk disantap. Seorang pemuda berhasil menyelamatkan sang putri dengan mengalahkan rajawali menggunakan senjata turun-temurun keluarganya.

Diunggah oleh

Ayik Ayunda
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“Kisah Penakluk Rajawali Dari

Sulawesi Selatan”
Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja di Sulawesi Selatan yang memiliki tujuh orang
putri. Saat ini, Sang Permaisuri sedang mengandung putri mereka yang ke-8. Konon, jika
sang Raja memiliki lebih dari enam orang anak, salah satu anak tersebut harus
dipersembahkan kepada seekor Rajawali Raksasa, agar keluarga istana serta rakyat di daerah
tersebut bisa terhindar dari malapetaka.

Namun, sebagai seorang ayah, sang Raja sangat mencintai putri-putrinya dan ia pun belum
siap serta tidak rela kehilangan satupun dari mereka. Dengan segala cara, ia mencoba untuk
mencari solusi agar ketujuh putrinya dapat tetap hidup. Dikarenakan tak kunjung menemukan
solusi, sang Raja merasa cemas, bahkan sampai tidak makan dengan baik dan tidak dapat
tidur dengan nyenyak karena berbagai macam pikiran yang muncul dibenaknya. Sampai pada
suatu hari, tiba-tiba muncul ide di benaknya, ia pun memanggil Sompa. Salah satu penasihat
kerajaan yang telah dipercaya secara turun temurun.

Sompa yang mendapat panggilan dari Raja segera bergegas menemuinya. Dihadapan Raja,
Sompa sedikit membungkukkan badan sebagai tanda hormat kemudian mengutarakan
maksud kedatangannya.

Penasihat : (Menundukkan kepala lalu mengangkat wajahnya) “Wahai Yang Mulia, bukan
bermaksud hamba untuk lancang bertanya, tapi apa maksud dari surat yang Anda kirimkan?.
Sepertinya sangat penting, sampai-sampai Anda memerintahkan ku untuk segera datang.”

Raja : “Wahai Sompa, apakah kau tau mengenai legenda Rajawali Raksasa?.”

Penasihat : “Iya Yang Mulia, legenda itu sudah berjalan selama beribu-ribu tahun. Dan saya
yakin legenda itu benar adanya, sudah terbukti dari catatan-catatan pemimpin kerajaan
pendahulu Anda.”

Raja : “Ya, aku tau. Niatku memanggilmu karena aku memiliki satu ide, sekiranya ini bisa
membantu untuk menyelamatkan putri bungsu-ku dari segala macam bahaya”

Penasihat : (Mengerutkan kening dengan pandangan serius) “Hampir tidak mungkin ada jalan
keluar untuk menyelamatkan Sang Putri, Yang Mulia. Sang Rajawali hampir mustahil untuk
dikalahkan. Sebaiknya Anda tetap menyerahkan Sang Putri Bungsu demi keamanan rakyat
Pandang serta putri-putri anda yang lain. Mohon maaf jika terdapat kelancangan pada kata-
kata saya.”
Permaisuri yang saat itu sedang hamil tua, kebetulan lewat. Ia mencengkram gaunnya
menahan amarah.

Permaisuri : (Menunjukkan ekspresi marah, mukanya berwarna merah serta alis yang
berkerut dalam) “Apa maksud dari perkataan mu itu Sompa? Raja bahkan belum selesai
bicara tapi kau sudah mengatakan sesuatu yang lain. Kuharap perkataan mu itu tidak
membuatmu harus diberhentikan disini!”

Dari perkataannya, jelas Permaisuri sangat marah. Dengan sigap Raja menenangkannya.

Penasihat : (menundukkan kepala) “Maaf Yang Mulia, saya tidak bermaksud demikian,
pekerjaan saya adalah sebagai penasihat kerajaan, jelas saya akan memberikan nasihat terbaik
untuk kerajaan ini”

Raja : (Mengelus bahu ratu yang sedang marah) “Begini Sompa, aku ingin kau untuk
melangsungkan sayembara!. Katakan kepada Rakyat Pandang, siapa saja yang berhasil
menaklukkan Rajawali, jika ia laki-laki maka akan dinikahkan dengan salah satu putri-ku,
dan apabila ia adalah perempuan, maka akan diangkat menjadi anggota keluarga kerajaan”

Penasihat : (Menganggukkan kepala tanda mengerti) “Baik, Yang Mulia. Akan hamba
laksanakan”

Penasihat kemudian bergegas menuju kota Pandang dan memberi tahukan kabar penting ini
kepada seluruh rakyat.

***

Penasihat : “Wahai seluruh rakyat Pandang! Aku disini sebagai penasihat kerajaan, aku ingin
menyampaikan permintaan langsung Yang Mulia Raja. Raja memintaku untuk
mengumumkan, bahwa kami, dari pihak kerajaan, menyatakan, siapa saja yang berhasil
menaklukkan Rajawali yang ingin mengambil Putri bungsu kerajaan, jika ia laki-laki maka
akan dinikahkan dengan salah satu putri-ku, dan apabila ia adalah perempuan, maka akan
diangkat menjadi anggota keluarga kerajaan”

Mendengar sayembara tersembut, banyak warga yang berbondong-bondong untuk


merencanakan penyelamatan Putri Bungsu. Disaat yang bersamaan, Sang Rajawali terbang
mengitari istana mencari keberadaan Sang Putri. Seluruh rakyat Pandang merasa panik akan
kehadiran Rajawali. Mereka tidak memiliki sama sekali persiapan. Pengawal istana pun
sedang disibukkan karena sudah jam makan siang. Rajawali terbang menuju Sang Putri yang
sedang mengatur salah satu tanamannya. Para warga dan pihak istana mencoba berbagai cara
untuk menghadang Rajawali menuju Sang Putri. Namun, tidak ada satupun yang mampu
mengalahkan Rajawali Raksasa itu.

Akhirnya, Sang Putri bungsu dibawa oleh Sang Rajawali. Entah kemana ia membawanya
pergi. Seluruh putri-putri Raja menangis sambil memeluk ibu mereka, Permaisuri. Sedangkan
Raja, dengan pikiran yang kalut, segera masuk kedalam istana
P4 : (Menangis) Ibunda, bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan, aku sangat menyayangi
adik, tak rela jika ia harus diambil secepat ini oleh Sang Rajawali)

P1 : (Mengusap bahu P4) Tenanglah dik, Ayahanda kita pasti akan mencari jalan keluar”

P6 : “Semoga adik baik-baik saja”

(Para Putri menganggukkan kepala, sahut menyahut mengatakan Ya, Aamiin)

***

Di dalam istana, Raja membenamkan kepalanya diatas meja dalam keadaan kalut. Satu-
satunya harapan istana adalah minat rakyat terhadap sayembara yang akan dilaksanakan.
Sang Raja bisa saja memerintahkan seluruh pengawalnya untuk menyelamatkan Sang Putri,
tapi siapa yang akan menjaga istana? Siapa yang akan menjaga rakyat Pandang?. Bisa saja
kesempatan ini digunakan oleh kerajaan lain untuk menyerang karena kerajaan sudah sangat
lengah. Raja yang tertunduk kemudian mengangkat kepalanya begitu merasakan sebuah
tangan menepuk pundaknya. Itu Sang Permaisuri.

Permaisuri : (tersenyum tipis) “Tenanglah, aku yakin, pasti akan ada orang yang
menyelamatkannya. Perasaanku sebagai seorang ibu tidak akan pernah salah.”

Raja pun hanya mengangguk sebagai respon.

Kembali ke Rajawali, ia berhasil membawa Sang Putri Bungsu kedalam goa


persembunyiannya. Ia kemudian terkekeh melihat Sang Putri yang dirasa pas untuk
memuaskan rasa laparnya.

Rajawali : (terkekeh mengejek) “Sudah sangat lama aku tidak memakan daging bangsawan
secara langsung. Gara-gara kutukan sial itu, aku hanya bisa makan daging manusia yang
berdarah bangsawan”

Putri : (menangis) “TOLONG LEPASKAN AKU”

Rajawali : (mengikat Putri) “Tunggulah disini, aku akan mengambil kayu bakar. Sudah
sangat lama aku ingin makan daging manusia”

Rajawali itu kemudian terbang meninggalkan goanya, mencari kayu bakar untuk digunakan
memanggang Sang Putri. Putri Bungsu menangis tersedu-sedu, memikirkan bagaimana
nasibnya dikemudian hari. Apakah betul, ini adalah hari terakhirnya?, apakah betul tidak ada
satu pun orang yang akan menyelamatkannya?. Ditengah kebingungannya, tiba-tiba
dedaunan dihadapanya bergemerisik. Hal ini tentu saja membuatnya tambah ketakutan. Tak
disangka, seorang pemuda keluar dari balik dedaunan, Putri terperangah melihatnya.

Pemuda : “Apakah kau Putri yang baru saja diculik itu?”


Putri : “Bodoh, memangnya siapa lagi orang yang terikat disini selain aku?”

Pemuda : (terkekeh) “Aku akan membantu mu, tapi kita harus secepat mungkin. Dari
percakapan kalian tadi aku mendengar Rajawali itu hanya pergi sebentar mengambil kayu
bakar.”

Putri : “Oke baiklah, tolong lepaskan tali ini.”

Pemuda itu kemudian membantu sang Putri melepaskan tali yang melilitnya. Sayangnya, saat
ikatan tali terakhir dilepas, Sang Rajawali sudah berada di depan mulut goa. Ekspresinya
seakan menahan amarah melihat ikatan ditubuh sang Putri terlepas. Kayu-kayu yang ia
pegang langsug terjatuh.

Rajawali : (marah) “Siapa kau? Apa yang akan kau lakukan kepada santapan ku? Sebaiknya
kau segera pergi sebelum kubunuh!”

Pemuda : (memindahkan Putri untuk berdiri di belakangnya) “Aku akan menyelamatkan


Putri, apapun yang terjadi!”

Rajawali : (terkekeh) “Kau pikir siapa dirimu anak muda? Lawanlah dulu diriku sebelum kau
mengambil santapanku itu.”

Dengan sigap, Pemuda itu mengeluarkan sebuah tali yang kelihatannya tipis, dan sebuah
badik, senjata tradisional khas Sulawesi Selatan.

Rajawali : “Kau pikir kau bisa mengalahkan ku dengan bermodalkan senjata kecil dan seutas
tali? Lawak!”

Tanpa banyak bicara, pemuda itu dengan sigap melemparkan talinya, terkena sedikit tali saja
membuat Rajawali kesakitan. Melihat peluang itu, sang Pemuda yang merasa mendapatkan
kesempatan segera menikam Rajawali itu, tepat dibagian perut. Hal ini tentu saja
membuatnya sekarat.

Rajawali : (kesakitan) “A-apa yang kau lakukan? Tali macam apa itu kenapa aku—” (kalimat
terhenti)

Rajawali itu ambruk dihadapan mereka. Tidak berdaya. Sang Putri masih diam, terperangah
ditempatnya, sebelum akhirnya pingsan. Entah karena melihat darah yang keluar, atau
memang karena ia kelelahan.

***

Tak lama kemudian, Putri itu terbangun, entah dimana ia berada, tapi setidaknya ia sudah
tidak berada di tempat Rajawali itu berada.
Putri : (ekspresi wajah yang bingung) “Dimana aku berada?.”

Pemuda : (keluar membawa secangkir teh) “Kau berada di rumahku. Minumlah teh ini
terlebih dahulu, setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang.”

Putri : (melihat-lihat isi gelas) “Siapa kau sebenarnya? Mengapa kau mengetahui
keberadaanku, bahkan mengetahui cara membunuh Rajawali Raksasa itu.”

Pemuda : (terkekeh) “Tadi aku sedang menjual dedaunan herbal di daerah Pandang. Pada saat
aku lewat, Penasihat kerajaan terlihat sedang mengumumkan sesuatu. Dari situlah aku
mengetahui bahwa Anda akan diculik. Pada saat Rajawali Raksasa itu lewat dan mebawa
Anda, aku langsung mengejar dan akhirnya bisa sampai di Goa tersebut.”

Putri ; (mengangguk) “Lalu bagaimana dengan senjata mu itu? Darimana kau


mendapatkannya?.” (meminum tehnya)

Pemuda : “Ah ini, ini hanyalah senjata turun temurun keluargaku.” (berbicara sambil
mengusap badik yang ada di tangannya)

Putri : (bingung) “Tapi bagaimana kau—“

Pemuda : (memotong pembicaraan Putri) “Sebaiknya Putri tidak perlu tahu. Mari, saya akan
antarkan Putri kembali ke istana.” (Pemuda mengulurkan tangan yang kemudian disambut
sang Putri)

Mereka kemudian berjalan bersama, hingga tak terasa mereka tiba di depan gerbang kerajaan.
Pada saat yang bersamaan, P5 dan P3 yang pada saat itu berdiri di depan gerbang seketika
terperangah melihat keadaan adiknya, yang bisa dikatakan masih cukup sehat. Mereka berdua
kemudian segera memeluk adik bungsu mereka tersebut.

P3 : “Adik! Aku sangat merindukanmu! Mengapa kau bisa selamat? Aku sudah berfikir yang
tidak-tidak, tapi untunglah kau selamat!.”

Putri : “Aku akan menceritakan semuanya di dalam! Aku sudah sangat merindukan
Ayahanda dan Ibunda! (jeda) Tapi, apa yang kalian lakukan disini?.”

P5 : “Kami sedang menunggu beberapa pengawal kerajaan yang pergi mencari dedaunan
herbal. Ibunda terus-menerus merasa sedih dan tertekan saat kau diculik, hal ini membuat
kandungannya melemah, Ayahanda sangat khawatir.”

Putri : (terperangah) “Baiklah, ayo kita segera masuk.” (membalikkan kepala) “Hei, mari
bertemu Ayahanda ku—“
Saat berbalik, Pemuda yang tadi menolongnya sudah tidak ada. Ia.. menghilang entah
kemana.

Putri : “Kakak, apakah kalian melihat Pemuda yang mengantarku tadi? Aku ingin
mengenalkannya kepada Ayahanda. Dia berhak menerima hadiah sayembara.”

P5 : “Ya, kami melihatnya, tapi entah kemana ia pergi.”

P3 : “Sudahlah mari kita masuk terlebih dahulu, keberadaan mu pasti akan meningkatkan
suasana istana.”

Putri : (menunduk sedih) “Baiklah..” (berjalan tapi berbalik ke belakang dengan pandangan
sedih)

***

P2 : “Adikk!!” (memeluk Putri yang baru saja masuk ke dalam ruangan)

Mereka berdua berpelukan sebelum akhirnya Sang Putri Bungsu melepas pelukannya, ia
berjalan ke arah Ibunda Permaisuri. Dilihatnya Sang Ibu yang tertidur dengan tangan
memegang perut.

Putri : “Ibunda..” (ucapnya lirih)

Permaisuri : (membuka matanya dengan perlahan, kemudian tersentak duduk ketika melihat
Putri Bungsu) “ANAKKU!!.” (mereka kemudian berpelukan dengan derai airmata)

Permaisuri : “Bagaimana kau bisa selamat nak? Siapa yang menyelamatkanmu? Pertemukan
ia dengan Ayahanda, ia akan diberi hadiah sesuai dengan apa yang telah dikatakan pada
sayembara”

Putri : “Seorang Pemuda telah menyelamatkanku Ibunda. Sayangnya, saat aku ingin
mengajaknya bertemu dengan Ayahanda, ia tiba-tiba menghilang.” (tertunduk lesu)

Permaisuri : “Sudahlah, tidak apa. Kita pasti akan bertemu dengannya suatu hari nanti. Yang
penting kalian semua, anak-anakku, sudah lengkap.” (memeluk semua anak-anaknya)

***

Sang Permaisuri telah menceritakan semuanya secara detail kepada Raja. Hingga hari ini,
Putri, Raja, dan Penasihat berjalan bersama untuk mendatangi rumah Pemuda tersebut. Saat
mereka melewati pasar, tiba-tiba langkah Sang Putri Bungsu terhenti saat melihat sosok yang
sepertinya ia kenal.
Putri : (perasaan semangat) “Ayah, itu Pemuda yang menolongku!.” (menunjuk kearah
Pemuda yang sedang mengatur sayur-sayuran)

Mereka kemudian berjalan menghampiri Pemuda itu. Sang Raja pun menganggukkan
kepalanya. Ternyata, selain sakti dan pemberani, pemuda itu juga terlihat pekerja keras dan
berlaku adil terhadap apa yang ia kerjakan. Sang Raja sangat kagum kepada pemuda itu.
Setelah pemuda itu membereskan barangnya, Penasihat memanggilnya untuk bicara sebentar
kepada Raja. Pemuda itu kemudian menghampiri Sang Raja.

Raja : (bertanya dengan perasaan bingung) “Kenapa kamu tidak datang ke kerajaan, untuk
menagih janji atas keberhasilanmu menyelematkan putriku?.”

Pemuda : “Aku menyelematkan Sang Putri bukan karena hadiahnya, tapi aku tulus. Kalaupun
Baginda Raja ingin menikahkanku dengan Sang Putri, aku ingin semua itu berdasarkan
permintaan Sang Putri.”

Raja : (berbalik meminta persetujuan Sang Putri) “Bagaimana menurutmu?.”

Putri : (menunduk) “Ya, aku sudah menyukainya sejak dia menyelamatkanku. Aku setuju
saja untuk menikah dengannya.”

Mereka kemudian tersenyum sembari menatap satu sama lain. Pernikahan mereka
diselenggarakan dengan mewah dan dihadiri seluruh rakyat. Mereka kemudian hidup bahagia
selamanya.

THE END

Anda mungkin juga menyukai