PERMASALAHAN LGBT DI BANJARMASIN
Yanuar Susilo Indarwanto1
Program Studi Pendidikan IPS1
E-Mail : indarwantoyanuar@gmail.com
Abstrak: Problematika LGBT sudah umum terjadi di kalangan remaja, khususnya
saat seseorang melalui masa pubertasnya. Tak jarang seorang LGBT memenuhi
kepuasannya dengan tujuan untuk mendapatkan relasi sosial yang senasib.
Kelainan orientasi seksual tersebut, menimbulkan berbagai permasalahan yang
kerap melibatkan banyak orang, dan cenderung merugikan. Terdapat berbagai
macam latar belakang seseorang yang menyebabkan dirinya menjadi bagian
dari LGBT, mulai dari lingkungan sosial, pengaruh teman sebaya, didikan orang
tua, permasalahan keluarga (anak broken home), kondisi biologis, trauma di
masa lalu, dan lain-lain. Permasalahan LGBT ramai terjadi di kota-kota besar di
Indonesia, termasuk Banjarmasin yang dikenal sebagai Kota Seribu Sungai.
Kepribadian masyarakat Banjarmasin yang ramah, tidak menutup kemungkinan
seseorang itu adalah LGBT. Dari permasalahan LGBT tersebut, akan timbul
dampak dan pemikiran yang kompleks berkaitan dengan cabang-cabang Filsafat
Ilmu.
Keywords: LGBT, LGBT di Banjarmasin, Dampak LGBT.
A. Pendahuluan
American Psychiatry Association menjelaskan tentang kepanjangan LGBT
yang berarti Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender. LGBT merujuk pada
kelainan orientasi seksual, yang berarti pola yang muncul. Baik berupa
emosi, romantis dan ketertarikan seksual antara laki-laki dengan perempuan
(hetero), antara perempuan dengan perempuan (lesbian) atau laki-laki
dengan laki-laki (homo), atau laki laki yang suka dengan perempuan dan
sesama jenisnya juga (biseks). Hal tersebut juga berhubungan pada
perasaan individu dan identitas sosialnya, berdasarkan keterkaitannya.
Karena terikat oleh perilaku dan keanggotaan, yang memiliki nasib yang
sama.
Abjad “T” dari kata LGBT artinya transgender atau non-conforming,
Artinya, mereka tidak mengikuti jenis kelamin yang sebenarnya seperti pada
umumnya, tetapi cenderung merubah jati dirinya. Misalnya melakukan
operasi kelamin, dan merubah bentuk tubuhnya. Munculnya komunitas LGBT
secara terang-terangan, menimbulkan dampak bagi orang di sekitarnya,
maupun masyarakat. Sejauh ini, LGBT tidak diberi perhatian, apalagi
kekerasan karena jati dirinya, selagi mereka bisa mematuhi fungsi sosial
yang telah ditetapkan oleh norma masyarakat, maka hal tersebut tidak
masalah. Tidak sedikit orang berpandangan, bahwa LGBT itu menjadi hal
yang privasi dan tidak semuanya memperdulikan. Karena mereka berpikir,
bahwa itu adalah hidupnya, masalahnya, jadi biarkan para LGBT mengurus
hidupnya. Tentu hal yang wajar jika tidak sampai merugikan masyarakat.
Namun, tidak sedikit pula yang membuat masalah ini menjadi hal yang
meresahkan dan selalu menjadikan bahan pembicaraan. Terlebih jika itu
dikaitkan dengan agama (kepercayaan).
Salah satu latar belakang LGBT juga bisa disebabkan oleh pengaruh
media massa yang rawan menimbulkan kemerosotoan moral, hal ini patut
dipertanyakan pula. Apakah kegagalan pendidikan itu yang menyebabkan
moral seseorang menurun, dan lunturnya nilai moral itu sudah sering terjadi
di kehidupan sekitar kita. Seperti yang kita tahu, pendidikan idealnya sebagai
sarana humanisasi bagi siswa. Pendidikan yang meliputi pendidikan karakter,
etika, moral itu sangat penting. Karena sebagai bentuk pondasi seseorang
dalam bertindak. LGBT itu sendiri merupakan kelainan orientasi seksual,
bukan berarti ia suatu penyakit. Melainkan kurangnya perhatian orang tua,
pendidikan etika, dan moral. Maka dari itu, perlu adanya penegakkan
moralitas, agar para pelaku LGBT tidak meresahkan masyarakat, dan
memberikan mereka edukasi akan dampak dari LGBT itu sendiri. Karena
tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa ketika anak sudah memasuki masa remaja,
maka akan banyak sekali pengaruh yang dapat memasuki dirinya. Sebagai
penulis artikel ini, saya akan mengaitkan LGBT pada perspektif Pendidikan
IPS. Pendidikan IPS itu sendiri merupakan peranan penting dalam
pengembangan individu, karena di dalam Pendidikan IPS, seseorang akan
diajarkan menjadi manusia yang memiliki interaksi yang baik, serta menjadi
warga negara yang baik. Pendidikan IPS tentu memberikan pengajaran moral
dan etika, guna membentuk karakter yang berakhlak dan mampu mengontrol
diri di masyarakat. Sebagai sumber belajar IPS, LGBT menjadi hal yang
menarik untuk dibahas. Sebab membuktikan bahwa adanya kehidupan
dinamis masyarakat, banyak perilaku, banyak tindakan yang pastinya
memerlukan perhatian dari sesama manusia berakal. LGBT berfokus pada
pola interaksi sosialnya, komunitas, hingga dampaknya, begitupun IPS yang
mengkaji tentang sosial-masyarakat. Kehadiran LGBT di kalangan
masyarakat, yang dominan pelakunya yakni remaja, menjadi perbincangan
hangat warga Banjarmasin. Karena tak sedikit orang juga yang tidak
termasuk bagian dari LGBT. Kajian IPS ini meliputi dampak sosial
terutamanya, dan menggambarkan seperti apa hubungan LGBT dengan ilmu
pengetahuannya.
Menurut Kennet Lewes (1988), Freud memiliki empat teori tentang
homoseksualitas:
1) Homoseksualitas timbul karena pemikiran anak yang menganggap
orang tuanya telah dikastrasi. Artinya, fungsi testis pada ayahnya telah
dihilangkan, begitu pula fungsi ovarium pada ibunya. Hal tersebut
menimbulkan kekhawatiran pada sang anak, karena tidak dapat
mengenali jati dirinya, apakah dia laki-laki atau perempuan.
2) Dalam essay milik Freud, ia mengembangkan teori bahwa anak laki-
laki yang sering dekat dengan ibunya, dan lebih banyak mendapat
kasih saying dari ibunya. Maka, ia cenderung akan lebih feminim,
karena kurangnya sosok figur ayah yang dapat menjadikannya
seorang lelaki sejati. Begitu pula sebaliknya, apabila anak perempuan
lebih banyak diurus oleh sang ayah, dan mendapat perhatian lebih
keras, maka anak perempuan itu akan menjadi seseorang yang
maskulin.
3) Kecemburuan terhadap saudara laki-laki dan ayah yang diubah secara
aman menjadi rasa cinta terhadap pria lain.
Menurut Freud, walaupun LGBT tidak memiliki keuntungan, tetapi tidak
usah malu, karena itu bukan suatu keburukan, bukan pula penyakit
turunan, LGBT bukan merupakan penyakit. LGBT hanya variasi fungsi
seksual, karena telah dihasilkan atas penekanan perkembangan seksual
tertentu.
B. Metode
Pada artikel ini, saya menggunakan metode interview kepada teman saya
sendiri, mengenai permasalahan LGBT di Banjarmasin. Jawaban dari para
responden, akan saya kelompokkan menjadi beberapa klasifikasi sebagai
statement yang melandasi materi.
C. Hasil
Dari hasil wawancara yang telah saya dapat, saya memberikan beberapa
pertanyaan kepada para responden sebagai berikut :
1) Apa yang kalian tahu tentang LGBT?
2) Mengapa seseorang bisa menjadi bagian dari LGBT? (sesuai opini
masing-masing).
3) Bagaimana pandangan kalian tentang adanya LGBT di Banjarmasin?
4) Bagaimana kalian menghadapi permasalahan LGBT yang muncul di
kehidupan kalian? (sesuai opini masing-masing)
5) Apakah menurut kalian LGBT itu dibenarkan? Baik itu secara keilmuan,
maupun agama.
6) Apakah ada kemungkinan bagi seseorang LGBT untuk kembali normal?
Jawaban yang telah saya peroleh dari responden, untuk poin pertama
mereka berpendapat bahwa LGBT itu adalah suatu kelainan orientasi
seksual, menyimpang tetapi bukan hal yang menjijikkan. Jawaban untuk poin
kedua, responden berpikir bahwa seseorang bisa saja terbawa oleh suasana
atau lingkungannya. Bisa juga karena masa lalu seseorang yang buruk
terhadap lawan jenis. Misalnya, karena dikhianati, tertekan, tidak dihargai
perjuangannya, dan lain-lain. Selain itu, seseorang bisa menjadi LGBT
karena bawaan sejak kecil. Jawaban untuk poin ketiga, responden
berpandangan bahwa LGBT itu hal yang biasa saja, selagi tidak merugikan
atau mengganggu masyarakat. Terlebih lagi, responden beranggapan untuk
saling toleransi satu sama lain. Jawaban lain masih serupa, tetapi responden
cenderung mengarah kepada pengabaian terhadap pelaku LGBT. Artinya,
mereka hanya sekedar mengetahui, tetapi tidak ikut berkecimpung untuk
permasalahan tersebut. Jawaban untuk poin 4, dalam menganggapi
permasalahan LGBT yang muncul di kehidupan mereka, mereka hanya perlu
saling toleransi dan tidak mengurusi hak pelaku LGBT. Karena orientasi
seksual itu merupakan suatu hal yang bersifat pribadi, dan tidak harus
dicampur-tangankan oleh pihak lain. Jawaban untuk poin 5, jelas tidak
dibenarkan apabila secara agama. Karena sudah ada hukumnya dan
tentunya agama itu menolak adanya LGBT. Namun, apabila secara keilmuan
terutama ilmu sosial, menurut responden ini adalah hal yang saling bertolak
belakang. Karena kembali ke insting masing-masing dan hak atas
kehidupannya. Jawaban untuk pertanyaan terakhir, responden berpendapat
bahwa seseorang isa saja kembali normal, tetapi perlu adanya niat dan
dukungan dari orang sekitar. Menurut responden, LGBT cenderung tertutup
dan hanya memiliki sebagian teman. Artinya, sebagian teman tersebut adalah
temannya yang bisa menerima keadaan sang pelaku sebagai LGBT atau
bisa saja temannya yang senasib dengan dirinya, tetapi untuk teman yang
lain, pelaku identik dengan privacy dan enggan untuk membeberkan jati
dirinya. Jadi, dapat saya katakan bahwa kemungkinan seseorang itu kembali
normal, karena adanya niat dan dukungan dari teman-temannya. Selain itu,
pelaku juga bisa lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya, dan mengurangi
bergaul dengan lingkungan atau komunitas LGBT. Terlebih lagi, ia perlu
membuka hati dan rasa kepada lawan jenisnya.
D. Pembahasan
1) Ramainya masalah LGBT kini kembali mencuat kepermukaan. Di mana
kaum ini dianggap kebanyakan orang ialah mereka yang telah menyalahi
aturan. LGBT di Banjarmasin cenderung tidak bertahan lama, tergantung
bagaimana pasangan itu menjalin hubungan. Apabila telah menjalani
hubungan bertahun-tahun, kemungkinan satu dari mereka akan berpisah
karena alasan menikah dengan lawan jenis. Hal ini sangat berbeda
dengan negara luar, yang mana melegalkan pernikahan sesama jenis.
Contohnya negara Australia, Amerika Serikat, Denmark, Colombia,
Norwegia, dan lain-lain. Maka dari itu, para pasangan LGBT di
Banjarmasin hanya bisa bersabar. LGBT di Banjarmasin marak terjadi di
kalangan remaja, terutama komunitas „belok‟ yang ramai diikuti. Hal
tersebut karena kurangnya edukasi anak dari orang tua, sehingga
membuat sang anak terjerumus ke komunitas LGBT. Menurut Ibnu Sina
(2018), LGBT ini memang belum ada rehabilitasi dan apabila itu dianggap
masalah keluarga, pemerintah punya tempat edukasi dan itu merupakan
program sosial. Selain itu sekarang orang tua jadi khawatir jangan sampai
anak lelakinya suka dengan laki-laki pula. Ia juga mengatakan saat ini
Aliansi Muslim Banua telah mendatangi masjid ke masjid untuk
melakukan penolakan terhadap LGBT. Selain itu ia juga mendukung
upaya untuk menghindari generasi muda terlibat dalam kegiatan atau
aktifitas yang bertentangan norma agama. Dari permasalahan tersebut,
dapat pula kita ambil poin lainnya, seperti modal sosial yang perlu
diberikan oleh pelaku LGBT di Banjarmasin. Kebanyakan dari mereka
tertutup akan komunikasi, dan lebih beranggapan bahwa LGBT sebagai
sebuah privasi. Memang benar adanya, tetapi yang ditekankan di sini
ialah kualitas hubungannya dalam masyarakat. Karena tidak mungkin juga
ia terus menutup dirinya dan tidak menerima masukkan dari orang lain.
Bisa itu nasihat, edukasi, pengawasan orang tua, dan juga kepedulian
masyarakat. Modal sosial bukanlah materi, melainkan yang ada di dalam
diri seseorang. Dari sini kita dapat melihat, seberapa besar potensi pelaku
LGBT dalam berkomunikasi antarindividu, maupun kelompoknya sendiri.
Dari modal sosial tersebut, menentukan juga bertahannya si pelaku dan
fungsinya di dalam masyarakat.
2) Penyebab seseorang itu menjadi LGBT sangat kompleks. Berdasarkan
hasil penelitian USAID (2014) , faktor penyebab seseorang menjadi LGBT
karena faktor sosial dan faktor biologis, namun penyebab yang paling
utama yakni faktor sosial. Peran keluarga juga memiliki peran penting
dalam merubah seseorang yang menjadi LGBT. Orang tua yang bercerai
dapat menyebabkan anak akan kehilangan kasih sayang dari orang
tuanya, sehingga membuat anak mencari sosok yang hilang tersebut
dalam dirinya. Didikan orang tua yang salah juga bisa menjurumuskan
anak menjadi LGBT. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga
kurang memperhatikan anak, kurang mengontrol cara anak bergaul, orang
tua terlalu membebaskan anak dan tidak memberikan pengajaran agama
yang cukup juga bisa membuat anak menjadi LGBT.
3) LGBT berdampak terhadap kesehatan, sosial, pendidikan dan keamanan.
Secara lebih rinci, dampak-dampak dari LGBT (El-Qudsy, 2015) sebagai
berikut:
a. Dampak Kesehatan
Dampak-dampak kesehatan dari LGBT diantaranya adalah penyakit
menular seperti HIV, herpes
b. Dampak Sosial
Dampak sosial yang ditimbulkan dari LGBT bisa menekan psikis
seseorang dan merasa tidak diterima oleh masyarakat. Kebanyakan
orang akan menjauhi dirinya, karena dianggap merugikan dan LGBT
yang identik meresahkan. Kurangnya interaksi sosial yang dialami
pelaku LGBT akan meyebabkan sulit memperoleh jaringan
pertemanan. Dampak sosial ini juga sangat berbahaya, karena bagi
pelaku LGBT hidup tanpa seorang teman itu sangat tidak mungkin.
Berbeda ketika teman yang dia miliki itu adalah yang senasib. Artinya,
hanya orang-orang tertentu saja yang mau menerimanya sebagai
LGBT. Contohnya, mau menerima keadaannya sebagai LGBT, tidak
membeda-bedakannya, memberikan toleransi, dan yang terpenting
teman tersebut memberikan edukasi kepada temannya (si LGBT),
agar bisa mengontrol dan memahami jati dirinya.
c. Dampak Pendidikan
Pada dampak pendidikan, banyak pelaku LGBT yang dikeluarkan dari
sekolahnya, karena sekolah tersebut tidak menerima kehadiran LGBT.
Misalnya sekolah islam, Madrasah, atau Pondok Pesantren, Yayasan,
dan lain-lain. Dampak tersebut akan menghambat proses belajar siswa
dan sulit untuk memperoleh pendidikan. Apalagi pendidikan itu sendiri
mengajarkan untuk tidak menjadi bagian dari LGBT, belum lagi ketika
ada seorang siswa yang membully pelaku LGBT dan merendahkan
martabatnya sebagai seorang manusia. Kasus tersebut juga dapat
memperparah keadaan psikis sang LGBT dan cenderung mengucilkan
dirinya sendiri.
d. Dampak Pekerjaan
Bagi seorang LGBT, tentu akan memikirkan 2x pekerjaan apa yang
akan ia ambil, dan bagaimana proses pelamarannya. Karena, identitas
seksualnya akan ditanyakan di wawancara ketika melamar pekerjaan.
Hal tersebut cukup sulit bagi kaum LGBT untuk mengakui persoalan
seksualnya, bisa jadi pihak perusahaan/kepala akan menolaknya.
Kurangnya kesempatan kerja tersebut juga akan menyulitkan LGBT,
sehingga tidak dapat memperoleh penghasilan.
e. Dampak Psikis
Dampak ini biasanya dikarenakan adanya penolakan yang luar biasa
dari masyarakat. Tekanan yang diterima oleh pelaku LGBT secara
terus-menerus, lambat laun akan merusak suasan hati. Biasanya si
LGBT akan terus merenungi, meratapi rasa sakit yang ia terima, belum
lagi ketika diperparah dengan situasi buruk yang tidak tahu kapan
akan terjadi. Semakin tertekan, semakin berisiko pula kondisi psikis
pelaku LGBT tersebut. Seperti yang kita tahu, bahwa LGBT bukan soal
penampilan kita, bagaimana dan gaya apa yang kita gunakan selama
di lingkungan sosial, tetapi ini tentang kelainan seksual yang
disebabkan oleh pola pergaulan, didikan orang tua, kondisi biologis,
dan lain-lain.
4) Pendidikan Karakter Bagi LGBT
Pendidikan karakter memiliki makna yang berarti menanamkan kebiasaan
tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Sehingga menimbulkan
kesadaran dan pemahaman yang tinggi terhadap pemahaman masalah.
Bagi pelaku LGBT, pendidikan karakter ini sangat penting untuk
memperoleh jati diri dan kesadarannya sebagai insan yang berakhlak.
Mampu mengenali jenis kelamin dan kodratnya. Pendidikan karakter
memberikan cara untuk merespon sesuatu itu dengan bijak. Artinya,
apakah LGBT itu baik, apakah LGBT itu mampu membawa kebahagiaan.
Pertanyaan tersebut mencoba agar manusia memahami arti hidup, karena
hidup adalah pilihan. Apabila ia memilih hal yang benar, maka dampaknya
pun akan baik. Begitu pula sebaliknya, jika ia emmilih yang buruk, maka
dampaknya pun juga akan buruk. Pendidikan karakter senantiasa
mengajarkan nilai kebaikan, dan bagi pelaku LGBT harus memahami
pendidikan karakter yang ditanam. Pendidikan karakter bisa diperoleh
melalui pendidikan, lingkungan, teman sebaya, yang terpenting yaitu dari
orang tua. Karena orang tua menjadi unit penting dalam mendidik anak,
sebelum anak mereka terjun di lingkup pergaulan. Pendidikan karakter
sangat penting diajarkan kepada anak usia dini. Karena pada usia
tersebut, sang anak mulai belajar mengenal lingkungan dan lawan
berbicaranya. Anak juga mulai belajar mengenali diri, sikap, dan peran
ketika berada di ruang pertemanannya,pendidikan karakter ini meliputi
kejujuran, kepedulian, moral, etika, dan sebagainya. Jadi, dapat saya
katakan bahwa pendidikan karakter menjadi pondasi bagi para LGBT agar
lebih mengenali jati diri, memahami dampak baik-buruknya LGBT,
pengaruh yang ditimbulkan bagi masyarakat, dan lebih mencoba untuk
berporses menjadi manusia yang mengikuti kodratnya. Pelaku LGBT itu
sendiri seharusnya telah mendapatkan pendidikan praksis di setiap
jenjangnya. Hal itu guna menghasilkan individu yang berakhlak, serta
insan yang berkepribadian baik. Kemampuan berkomunikasi yang baik,
dapat menjadikan seseorang berani dalam menindak permasalahan, ia
memiliki keberanian untuk mengungkapkan jati dirinya sebagai LGBT.
Ditambah lagi, pendidikan praksis ini berfungsi sebagai pembentukan
pemikiran jernih dan kritis. Selain itu juga, mempertimbangkan segi moral
dalam suatu permasalahan. Begitupun pendidikan bagi para non-LGBT,
yang artinya harus bisa toleransi antarmanusia. Walaupun berbeda jalan
hidup, tetapi sebagai makhluk sosial kita harus saling membantu dan
memberi edukasi satu sama lain.
5) LGBT dalam Perspektif Ontologi
Dalam LGBT kita harus memahami ilmu hakikatnya sehingga menjadi
sesuatu yang dipercaya masyarakat. Seperti halnya permasalahan LGBT
yang dipercayai oleh masyarakat dan dianggap sebagai permasalahan
serius. Hakikat LGBT pada dasarnya berkaitan erat dengan keadaan
seksual seseorang, seperti penyuka sesama jenis, bahkan merubah
kodratnya dengan melakukan operasi kelamin dan merubah bentuk
tubuhnya. LGBT yang timbul di masyarakat, menimbulkan berbagai
macam persepktif dan opini tentang LGBT. Banyak yang menganggap
LGBT sebagai permasalahan pribadi yang tidak perlu dicampuri, namun
tak sedikit pula yang beranggapan bahwa LGBT sebagai kelainan
orientasi seksual yang meresahkan masyarakat, karena berpotensi
menambah pelaku baru, bahkan merugikan kehidupan masyarakat
sekitar. Perbedaan dari perspektif tersebut, membuktikan kepercayaan
masyarakat terhadap hadirnya LGBT di Indonesia, khususnya
Banjarmasin.
6) LGBT dalam Perspektif Epistemologi
Perilaku LGBT di Banjarmasin membuat pengetahuan baru, bahwa di
lingkungan masyarakat terhadap perilaku yang dinamis. Sebagai manusia
yang berpikir, kita mencari pengetahuan yang menjadikan kita berpikir
ilmiah. Persoalan LGBT menjadi permasalahan sensitif di masyarakat.
Dengan pengetahuan yang dimiliki manusia, membuat dirinya lebih
leluasa untuk mencoba sesuatu baru, terutama bagi para pelaku LGBT.
7) LGBT dalam Perspektif Aksiologi
Dapat kita kaitkan bahwa LGBT timbul karena adanya perkembangan
manusia yang memiliki ilmu. Pemikiran yang terbuka membuat manusia
cenderung menerima hal baru. Sekalipun hal itu merupakan yang negatif,
namun semua juga bergantung pada kepribadian masing-masing.
E. Penutup
1) Simpulan
LGBT ramai terjadi di kalangan remaja yang telah memasuki masa
pubertas. Tak jarang seorang LGBT memenuhi kepuasannya dengan
tujuan untuk mendapatkan relasi sosial yang senasib. Kelainan orientasi
seksual tersebut, menimbulkan berbagai permasalahan yang kerap
melibatkan banyak orang, dan cenderung merugikan. Terdapat berbagai
macam latar belakang seseorang yang menyebabkan dirinya menjadi
bagian dari LGBT, mulai dari lingkungan sosial, pengaruh teman sebaya,
didikan orang tua, permasalahan keluarga (anak broken home), kondisi
biologis, trauma di masa lalu, dan lain-lain. LGBT di Banjarmasin terjadi
karena kurangnya edukasi anak dari orang tua, sehingga membuat sang
anak terjerumus ke komunitas LGBT. LGBT ini memang belum ada
rehabilitasi dan apabila itu dianggap masalah keluarga, pemerintah punya
tempat edukasi dan itu merupakan program sosial. Selain itu sekarang
orang tua jadi khawatir jangan sampai anak lelakinya suka dengan laki-
laki pula. Begitupun dengan LGBT yang membuat pengetahuan baru,
bahwa di lingkungan masyarakat terhadap perilaku yang dinamis. Sebagai
manusia yang berpikir, kita mencari pengetahuan yang menjadikan kita
berpikir ilmiah.
Daftar Pustaka
Abbas, E. W. (2019). Building Nation Character Through Education: Proceeding
International Seminar on Character Education.
Andina, E. (2019). Faktor Psikososial dalam Interaksi Masyarakat dengan
Gerakan LGBT di Indonesia. Aspirasi: Jurnal Masalah-masalah Sosial,
7(2), 173-185.
Bertens, K. 2016. Psikoanalisis Sigmund Freud. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama
Corey, L. & Holmes, K. (1980). Sexual Transmissions of Hepatitis A in
Homosexual Men. New England J. Med.
El-Qudsy, A.H. (2015). Kaum Luth Masa Kini. Jakarta: Yayasan Islah Bina Umat.
Mariati, M., Abbas, E. W., & Mutiani, M. (2021). The Social Science Contribution
Through Social Studies Learning. The Innovation of Social Studies
Journal, 2(2),110-120.
Mutiani, M. (2019). Internalisasi nilai pendidikan melalui aktivitas masyarakat
sebagai sumber belajar ilmu pengetahuan sosial. Khazanah: Jurnal Studi
Islam dan Humaniora, 17(1), 137-166.
Mutiani, M., Subiyakto, B., Jumriani, J., Aslamiah, A., & Afrina, A. (2019).
Laporan Penelitian: Relevansi Modal Sosial Dalam Pembelajaran IPS
(Studi Kasus Dalam Sistem Zonasi Di Smp Negeri Kota Banjarmasin).
Sina, Ibnu.2018. LGBT Makin Marak di Banjarmasin, Begini Kata Wali Kota Ibnu
Sina.Banjarmasin: TribunBanjarmasin.com
Sarbaini, S., ABBAS, E. W., Wahyu, W., & SOFYAN, A. (2020). PENDIDIKAN
KARAKTER.
Suriasumantri, J. S. (2007). Filsafat ilmu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
USAID. (2014). Hidup Sebagai LBGT di Asia: Laporan Nasional Indonesia.
Tinjauan dan Analisa Partisipasif tentang Lingkungan Hukum dan Sosial
bagi Orang dan Masyarakat Madani Lesbian, Gay, Biseksual, dan
Transgender (LBGT). Bali.
Wahyuni, D. (2019). Peran orang tua dalam pendidikan seks bagi anak untuk
mengantisipasi LGBT. Quantum: Jurnal Ilmiah Kesejahteraan Sosial,
14(1), 23-32.