0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan36 halaman

Kontrak Perkuliahan Kimia Dasar I

Kontrak perkuliahan ini membahas mata kuliah Kimia Dasar I yang terdiri dari 3 SKS. Mata kuliah ini wajib diambil oleh mahasiswa program studi Kimia dan akan membahas materi seperti struktur atom, sistem periodik unsur, ikatan kimia, dan lainnya. Pengajarannya akan menggunakan metode ceramah dan diskusi serta diselingi evaluasi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
123 tayangan36 halaman

Kontrak Perkuliahan Kimia Dasar I

Kontrak perkuliahan ini membahas mata kuliah Kimia Dasar I yang terdiri dari 3 SKS. Mata kuliah ini wajib diambil oleh mahasiswa program studi Kimia dan akan membahas materi seperti struktur atom, sistem periodik unsur, ikatan kimia, dan lainnya. Pengajarannya akan menggunakan metode ceramah dan diskusi serta diselingi evaluasi.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KONTRAK PERKULIAHAN

Mata Kuliah : Kimia Dasar I


SKS : 3 SKS
Program Studi : Kimia
Semester : I
Pengajar : Nurhasni, M.Si
Ahmad Fathoni, M.Si
I. DESKRIPSI MATA KULIAH
 Mata kuliah Kimia Dasar I adalah mata kuliah wajib yang harus diambil
oleh mahasiswa pada Program Studi Kimia. Materi yg akan dibahas pd
kuliah ini adalah : Materi dan Perubahannya, Struktur Atom, Sistem
Periodik Unsur, Ikatan Kimia, Stoikiometri, Larutan, Kesetimbangan Kimia,
Asam-Basa, Redoks.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL


Pada akhir perkuliahan mata kuliah Kimia Dasar ini, Mahasiswa
diharapkan mampu untuk menguasai hal-hal sebagai berikut :

 Materi dan Perubahannya


 Struktur Atom
 Sistem Periodik Unsur
 Ikatan Kimia
 Stoikiometri
 Larutan
 Kesetimbangan Kimia
 Asam Basa
 Redoks
III. STRATEGI PERKULIAHAN
 Strategi perkuliahan Kimia Dasar I yang dilakukan adalah menggunakan
metode ceramah dan diskusi dgn memberikan contoh soal disertai
pembahasan secara bersama-sama, juga diberikan tugas2 dan soal latihan.
Sebelum dan sesudah pembahasan satu pokok bahasan akan diadakan
evaluasi. Mata kuliah Kimia Dasar juga diberikan dalam bentuk praktikum.

IV. BUKU SUMBER/ REFERENSI

1. Atkins, P.W. and Beran, J.A. 1992. General Chemistry, Scientific American
Book, USA.
2. Brady, J.E. 1998. General Chemistry: Principles and Structure. John Wiley
and Sons, New York.
3. Burns, R.A. 1992. Fundamentals of Chemistry, Prentice Hall, New Jersey.
4. Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti. Edisi 3. Erlangga.
Jakarta.
5. Keenan, C.W., D.C. Kleinfelter, dan J.H. Wood. 1996. Ilmu Kimia Untuk
Universitas, Erlangga, Jakarta.
6. Petrucci, R.H. 1993. General Chemistry, Principles and Modern Application.
McMillan Pub. Co. New York.
7. Oxtoby, D.W., H.P. Gillis, dan Norman H.N. 2003. Prinsip-prinsip Kimia
Modern. Edisi 4. Erlangga, Jakarta.
V. TUGAS

Tugas-tugas yang harus diselesaikan adalah sebagai berikut :


 Materi perkuliahan harus sudah dibaca sebelum mengikuti perkuliahan.
 Mahasiswa diwajibkan menyelesaikan dan menyerahkan jawaban soal-soal
latihan yang ditugaskan.
 Sebelum dan sesudah pembahasan materi perkuliahan, mahasiswa
mengikuti pre-test dan post-test.
 Ujian tengah semester dan ujian akhir semester menggunakan soal essay.

VI. PENILAIAN
Bobot Penilaian
Kriteria Penilaian
Nilai Angka Nilai Huruf Nilai Bobot
Form UTS UAS
80-100 A 4
10 30 60
70-79 B 3
20 30 50
60-69 C 2
30 30 40
50-59 D 1
< 50 E 0
VII. TATA TERTIP PERKULIAHAN
 Mahasiswa mengenakan pakaian yang sopan dan rapi.
 Mahasiswa yang terlambat lebih dari 15 menit tidak diperbolehkan
mengikuti perkuliahan.
 Mahasiswa yang menyontek pada saat ujian dianggap tidak mengikuti
ujian.
 Selama perkuliahan berlangsung, HP dalam posisi off atau silent.
 Jika tidak hadir dalam perkuliahan tatap muka wajib memberi
keterangan/ surat pemberitahuan.
MATERI

ZAT MURNI CAMPURAN

UNSUR SENYAWA HETEROGEN HOMOGEN

KOLOID SUSPENSI
MATERI DAN PERUBAHANNYA

Kimia ilmu yang mempelajari materi dan segala sesuatu tentang


materi, seperti struktur, sifat2, susunan, perubahan, serta
energi yg menyertai perubahannya.

Materi segala sesuatu yang menempati ruang dan mempunyai massa.

Klasifikasi Materi:
1. Bentuk Fisik/ Wujud
 Padat
 Cair
 Gas
2. Penyusunnya/ komposisi
 Unsur
 Senyawa
 Campuran
1. Bentuk Fisik:
 Padat
• Molekul tersusun sangat rapat
• Bentuk dan volume tertentu
 Cair
• Volume tertentu, bentuk sesuai wadah
• Molekul tersusun lebih rapat dibandingkan keadaan gas
• Molekul bergerak cukup cepat
 Gas
• Bentuk dan volume sesuai wadahnya
• Gas ditekan maka volumenya akan mengecil
• Jarak antar molekulnya berjauhan
• Molekul bergerak cepat
• Tumbukan antar molekul gas dan dengan dinding wadahnya
Tiga Wujud dari Materi

gas

cairan padatan
Penyusun/ Komposisi:
I. Unsur  zat tunggal yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat baru
yang lebih sederhana, terdiri dari :
1. Unsur Logam (metal)
 Padat pada suhu kamar (kecuali Hg)
 Konduktor listrik
 Mengkilap jika digosok
 Dapat ditempa / direnggangkan
Contoh : Al, Fe, Ni,…
2. Unsur Nonlogam (Nonmetal)
 Padat, cair, gas pada suhu kamar
 Padat umumnya rapuh
 Isolator
 Tidak mengkilap jika digosok
Contoh : C, N, P,…
3. Metaloid (Semimetal)
 Semi konduktor
 Mempunyai sifat antara logam dan non logam
Contoh: B, Si, Ge,…
II. Senyawa : zat yang tersusun oleh 2 atau lebih unsur dan dapat diuraikan
secara kimia menjadi 2 zat atau lebih, atau gabungan dua atau
lebih unsur dengan perbandingan tertentu, terdiri dari :

1. Senyawa organik
Cth : CH4, C2H6, dll
2. Senyawa anorganik
Cth : KOH, CaCO3 , dll

III. Campuran : merupakan senyawa atau zat yang terbentuk dari dua atau
lebih zat yang masih mempunyai sifat zat asalnya, terdiri dari :

1. Campuran homogen/ larutan


Larutan : campuran yang memiliki komposisi dan sifat2 yang sama/
campuran homogen terdiri atas zat terlarut dan pelarut
dengan ukuran partikel kecil dari 1 nm.
Cth : larutan garam
2. Campuran heterogen : campuran yang memiliki komposisi dan sifat2
yang bervariasi, terdiri dari :

 Suspensi; campuran heterogen dengan ukuran partikel > 100 nm


cth : campuran tanah dengan air

 Koloid; campuran heterogen dengan ukuran partikel 1-100 nm


cth : emulsi

Setiap campuran, apakah homogen atau heterogen, dapat dibuat dan


kemudian dipisahkan dgn cara fisika menjadi komponen2 murninya tanpa
mengubah identitas dari setiap komponen.
Pemisahan campuran :

 Filtrasi
Pemisahan zat padat dari suatu suspensi dengan cara penyaringan

 Sublimasi
Memisahkan atau memurnikan zat-zat yang dapat menyublim

 Kristalisasi
Pemisahan zat padat dari pelarutnya dengan cara menguapkan pelarut

 Kromatografi
Pemisahan senyawa berdasarkan perbedaan daya serap zat

 Distilasi
Pemisahan senyawa berdasarkan titik didih
Filtrasi

a) Campuran padat Cu(NO3)2.6H2O biru & CdS kuning dimasukkan dalam air.
b) Cu(NO3)2. 6H2O larut dan bergerak melewati penyaring, sebagian besar
CdS tertahan di atas penyaring.
c) Penguapan larutan menyisakan kristal Cu(NO3)2.6H2O yang nyaris murni.
Sublimasi

Sublimasi campuran iodin dan pasir


Kristalisasi
Kromatografi kertas
Kromatografi Kolom Destilasi
Sifat-sifat Materi
1. Sifat fisika : sifat yang tidak berhubungan dengan
pembentukan zat baru (tanpa merubah identitas &
komposisi zat)
cth : wujud, warna, bau, dll

2. Sifat kimia : sifat yang berhubungan dengan pembentukan zat


baru (materi mengalami perubahan komposisi)
cth : etil alkohol mudah terbakar, besi mudah berkarat, dll

Semua sifat materi yg dapat diukur dibagi dalam 2 gol:

1. Sifat intensif : sifat yang tidak tergantung pada jumlah zat


cth : rasa, berat jenis, titik didih, dll

2. Sifat ekstensif : sifat yang tergantung pada jumlah zat


cth : volume, massa, panjang, dll
Perubahan materi:
1. Perubahan fisika
Perubahan zat yang tidak menghasilkan zat baru. Perubahan
fisika hanya merupakan perubahan wujud semata.
cth : es mencair, lilin meleleh, lampu pijar menyala, dll

2. Perubahan kimia
Perubahan zat yang menghasilkan zat baru (terjadi reaksi
kimia)
Cth : besi berkarat, fotosintesis, pembusukan, dll
Berlangsungnya reaksi kimia ditandai oleh suatu perubahan yang dapat
diamati, seperti:
1. Terbentuknya gas
Fe (s) + HCl (aq) FeCl2 (aq) + H2 (g)

2. Terbentuknya endapan
AgNO3 (aq) + NaCl (aq) NaNO3 (aq) + AgCl (s)

3. Perubahan warna
Perubahan KMnO4 menjadi bening jika ditetesi dengan larutan H2SO4 dan
asam oksalat/ H2O2/ H2S/ SO2.
2MnO4- + 5(COO)22- + 16H+ 10CO2 ↑ + 2Mn2+ + 8H2O
2MnO4- + 5H2O2 + 6H+ 5O2 ↑ + 2Mn2+ + 8H2O
2MnO4- + 5H2S + 6H+ 5S ↓ + 2Mn2+ + 8H2O

4. Perubahan suhu
Reaksi antara kapur dengan air akan menaikkan suhu (eksotermis)
CaCO3 + H2O Ca(OH)2 + CO2 ↑

Reaksi antara Ba(OH)2 dg NH4Cl akan menurunkan suhu (endotermis)


Ba(OH)2 + 2NH4Cl BaCl2 + 2NH4OH
SATUAN SI

 Satuan Dasar SI

Besaran Dasar Nama Satuan Lambang


Panjang meter m
Massa kilogram kg
Waktu detik S
Arus listrik ampere A
Suhu kelvin K
Jumlah zat mol mol
Intensitas cahaya candela cd
Massa dan Berat
 Massa : suatu ukuran yg menunjukkan kuantitas materi di dalam suatu
benda.
 Berat : gaya yang diberikan oleh gravitasi pada suatu benda

Awalan yg digunakan dgn Satuan SI

Awalan Lambang Arti Contoh


Tera- T 1012 1 Tm = 1 x 1012 m
Giga- G 109 1 Gm = 1 x 109 m
Mega- M 106 1 Mm = 1 x 106 m
Kilo- k 103 1 km = 1 x 103 m
Desi- d 10-1 1 dm = 0,1 m
Senti- c 10-2 1 cm = 0,01 m
Mili- m 10-3 1 mm = 0,001 m
Mikro- µ 10-6 1 µ m = 1 x 10-6 m
Nano- n 10-9 1 nm = 1 x 10-9 m
Piko- p 10-12 1 pm = 1 x 10-12 m
Volume
Volume : panjang (m) pangkat tiga,  meter kubik (m3)

1 cm3 = (1 x 10-2 m)3 = 1 x 10-6 m3


1 dm3 = (1 x 10-1 m)3 = 1 x 10-3 m3

Satuan volume bukan SI yg umum adalah liter (L)


Liter : volume yg ditempati oleh satu desimeter kubik
1 L = 1000 mL
= 1000 cm3
= 1 dm3
1 mL = 1 cm3

Kerapatan
Kerapatan : massa suatu benda di bagi volumenya
kerapatan (d) = massa = m = kg/m3
volume V

1 g/cm3 = 1 g/mL = 1000 kg/m3


1 g/L = 0,001 g/mL
Suhu

K = 0C + 273,15

273 K = 0 0C
373 K = 100 0C

0C
5
= (oF-32oF) x
9

0F
9
= x 0C + 32
5

32 0F = 0 0C
212 0F = 100 0C
HUKUM2 DASAR ILMU KIMIA
Hukum Lavoiser
Antonie Laurent Lavoisier (1743-1794)
Jk reaksi kimia berlangsung dlm sistem tertutup, mk total bobot
sistem tdk berubah
 Reaksi dekomposisi merkuri oksida: HgO  Hg + 1/2 O2
 Reaksi pembakaran batubara: C + O2  CO2
 Respirasi: O2 (konsumsi)  CO2

Definisi Pemikiran:
Definisi Kerja Robert Boyle dlm The Sceptical Chemist (1661)
 Unsur : zat yg tdk dpt dipecah lbh sederhana lg
 Senyawa : 2 atau lebih unsur yg bergabung membentuk zat
yg kompleks

BAPAK ILMU KIMIA (Elementary Treatise on Chemistry)


Hukum Kekekalan Massa
“Materi tdk dibentuk atau dirusak selama perubahan kimia”
Tdk dpt menciptakan dr sesuatu yg tdk ada, bhn baru dpt
dibuat dgn cara penggabungan atom-atom
Hukum Proust
Joseph Louis Proust (1799)
Hukum Perbandingan Tetap:
“Suatu bhn tdr dr unsur-unsur dgn perbandingan tertentu &
perbandingan tsb tetap”

Percobaan Proust:
CuCO3  Cu + C + O2
Hukum Perbandingan Tetap

4 atom Pb 4 atom S 4 molekul PbS

+ +

4 atom Pb 6 atom S 4 molekul PbS 2 atom S

+ +

8 atom Pb 4 atom S 4 molekul PbS 4 atom Pb


Hukum Perbandingan Berganda
"Bila dua buah unsur dapat membentuk dua atau lebih senyawa untuk massa
salah satu unsur yang sama banyaknya maka perbandingan massa unsur
kedua akan berbanding sebagai bilangan bulat dan sederhana".

Rasio atom O
& 2 atom N
Nitrit oksida 1
Nitrat oksida 2

Nitrogen dioksida 4

Atom Nitrogen Atom Oksigen

Hukum Kekekalan Massa


+
1 atom C 2 atom O 1 molekul CO2
ANGKA SIGNIFIKAN (SIGNIFICANT FIGURE)
Angka Signifikan : banyaknya digit yg diperhitungkan di dalam suatu kuantitas
yg diukur atau dihitung.
Ketika angka signifikan digunakan, digit terakhir dianggap tidak pasti.
Cth: mengukur volume cairan
 Tabung volumetrik dgn skala ketidakpatian 1 mL dalam pengukuran.
Jika volume 6 mL,  volume sebenarnya berada dlm rentang 5-7 mL, (6
± 1) mL  1 angka signifikan (digit 6), dgn ketidakpastian ± 1 mL
 Tabung volumetrik skala lebih kecil (ketidakpastian 0,1 mL)
Jika volume 6 mL  5,9 mL dan 6,1 mL, (6 ± 0,1) mL
Aturan Penggunaan Angka Signifikan
Untuk dapat menentukan angka signifikan dari hasil jumlah maupun
perkalian, yaitu dengan mengikuti aturan berikut:
1. Setiap digit yang tidak nol adalah signifikan
cth: 845 cm = memiliki 3 angka signifikan
1,234 kg = 4 angka signifikan

2. Nol di antara digit tidak nol adalah signifikan


cth: 506 m = 3 angka signifikan
40,502 kg = 5 angka signifikan
3. Nol di kiri dari digit tidak nol pertama tidak signifikan.
cth: 0,08 L = 1 angka signifikan
0,0000349 g = 3 angka signifikan

4. Jika suatu bilangan lebih besar dari 1, mk semua nol yg ditulis di sebelah
kanan koma desimal diperhitungkan sebagai angka signifikan.
cth: 2,0 mg = 2 angka signifikan
40,063 mL = 5 angka signifikan

5. Jika suatu bilangan lebih kecil dari 1, maka hanya nol yg berada di akhir
bilangan tsb dan nol yg berada di antara digit tidak nol yg dianggap
signifikan.
cth: 0,090 kg = 2 angka signifikan
0,2005 L = 4 angka signifikan
0,30040 menit = 5 angka signifikan

6. Untuk bilangan yg tdk mengandung koma desimal, nol-nol dibelakang


(yaitu nol-nol setelah digit tdk nol terakhir) mungkin signifikan mungkin
juga tidak.
cth: 400 cm = bisa memiliki 1 angka signifikan (angka 4)  4 x 102
2 (40)  4,0 x 102
3 (400)  4,00 x 102
Cara menentukan angka signifikan dalam perhitungan
1. Dalam penambahan dan pengurangan, jawaban tidak boleh memiliki jumlah
digit di kanan koma desimal yg lebih banyak daripada bilangan2 yg
ditambahkan/ dikurangkan.
cth: 89,332 + 1,1 = 90,432  dibulatkan 90,4
2,097 – 0,12= 1,977  1,98

2. Dalam perkalian dan pembagian, jumlah angka signifikan dari hasil kali atau
hasil baginya ditentukan oleh bilangan awal yg memiliki jumlah angka
signifikan yg paling sedikit.
cth: 2,8 x 4,5039 = 12,61092  13
6,85 : 112,04 = 0,0611388789  0,0611

3. Ingatlah bahwa bilangan eksak yg diperoleh dari definisi atau penghitungan


banyaknya benda dapat dianggap memiliki jumlah angka signifikan yg tak
berhingga.
cth: jika suatu benda massanya 0,2786 g, maka massa delapan benda tsb
adalah : 0,2786 x 8 = 2,229 g
nilai rata-rata dari dua panjang yg diukur yaitu 6,64 cm dan 6,68 cm,
maka ditulis (6,64 + 6,68)/2 = 6,66 cm
KETEPATAN DAN KETELITIAN
Dalam membahas pengukuran dan angka signifikan, perlu dibedakan
antara ketepatan dengan ketelitian.

 Ketepatan (accuracy)  menunjukkan seberapa dekat hasil pengukuran


dengan nilai sesungguhnya dan kuantitas yg diukur.
 Ketelitian (precision)  menyatakan seberapa dekat dua atau lebih
hasil pengukuran dari kuantitas yg sama sesuai satu dengan yg lain.

Cth: tiga mahasiswa menentukan massa sepotong kawat tembaga (massa


sebenarnya 2,000 g). Hasil dua kali penimbangan oleh setiap
mahasiswa adalah:
Mahasiswa A Mahasiswa B Mahasiswa C
1,964 g 1,972 g 2,000 g
1,978 g 1,968 g 2,002 g
1,971 g 1,970 g 2,001 g (rata-rata)

Hasil mhsw B lebih teliti daripada mhsw A  keduanya tdk terlalu tepat.
Hasil mhsw C teliti dan juga paling tepat, karena nilai rata-ratanya paling
dekat dgn nilai sesungguhnya.
ketepatan dan ketepatan buruk ketepatan dan
ketelitian baik dan ketelitian baik ketelitian buruk

Anda mungkin juga menyukai