0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
446 tayangan10 halaman

Makalah Korupsi

Makalah ini membahas tentang strategi dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia yang mencakup strategi represif melalui penyelidikan, penuntutan, dan pelaksanaan putusan pengadilan oleh lembaga seperti KPK, kepolisian, dan kejaksaan, strategi perbaikan sistem hukum dan birokrasi, serta strategi eukasi dan kampanye untuk membangun budaya anti korupsi di masyarakat.

Diunggah oleh

Dewi Mulyani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
446 tayangan10 halaman

Makalah Korupsi

Makalah ini membahas tentang strategi dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia yang mencakup strategi represif melalui penyelidikan, penuntutan, dan pelaksanaan putusan pengadilan oleh lembaga seperti KPK, kepolisian, dan kejaksaan, strategi perbaikan sistem hukum dan birokrasi, serta strategi eukasi dan kampanye untuk membangun budaya anti korupsi di masyarakat.

Diunggah oleh

Dewi Mulyani
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

STRATEGI DALAM UPAYA PEMBERANTASAN


KORUPSI
MATA KULIAH
PENDIDIKAN BUDAYA ANTI KORUPSI
DOSEN :
ADI SUPRIADI, M.Pd

DI SUSUN OLEH
DEWI MULYANI

PROGRAM STUDI
SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
POLITEKNIK KESEHATAN BHAKTI PERTIWI HUSADA
TAHUN 2023
KATA PENGANTAR

Pui syukur kehadirat Tuhan Yang Maha esa karena telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah pendidikan Budaya Anti Korupsi. Penulis juga berharap makalah ini dapat menambah
wawasan tentang strategi dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu proses
penyusunan makalah ini.penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun akan penulis terima.

Penulis

DAFTAR ISI
ii
1 KATA PENGANTAR ............................................................ ii
2 DAFTAR ISI ............................................................. iii
3 BAB I PENDAHULUAN ............................................................. 1
1) Latar belakang .............................................................. 1
2) Tujuan ............................................................. 1
3) Manfaat .............................................................. 1
4 BAB II PEMBAHASAN .............................................................. 2
1) Represif .............................................................. 2
2) Perbaikan Sistem .............................................................. 4
3) Eukasi dan Kampanye .............................................................. 4
4) Strategi Preventif ............................................................... 5
5) Strategi Detektif ............................................................... 5
5 BAB III KESIMPULAN ............................................................... 6
6 DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 7

BAB I
PENDAHULUAN

iii
1. Latar belakang
Korupsi masih menjadi masalah yang kompleks dibanyak negara,termasuk indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan indeks persepsi korupsi yang tinggi. Periode
2014 sampai sekarang,perkara korupsi yang ditangani KPK sebanyak 618 kasus.
Indonesia telah merilis indeks persepsi korupsi yang menunjukan posisi indonesia di
peringkat 96 dari 180 negara pada awal tahun 2022.
Korupsi di Indonesia  erat kaitannya dengan aspek suap, pengadaan barang dan jasa,
serta penyalahgunaan dana yang lazim dilakukan oleh pihak swasta dan pegawai
pemerintah. Oleh karena itu, upaya anti korupsi sangat penting. Pemberantasan
korupsi tidak cukup  hanya dengan satu komitmen. Komitmen ini harus diterjemahkan
ke dalam  strategi pengurangan korupsi yang komprehensif. Upaya pencegahan
korupsi dapat dilakukan secara preventif, terdeteksi dan jera.
Selain merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, korupsi juga
merusak  sistem perekonomian. Akibatnya, apa yang tersisa untuk membuat negara
kita kaya masih belum kita bisa mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Semua
potensi itu tampaknya tidak ada artinya.
2. Tujuan

1) Membangkitkan kesadaran masyarakat mengenai dampak korupsi


2) Mengajak masyarakat terlibat dalam gerakan pemberantasan korupsi
3) Membangun perilaku dan budaya anti korupsi

3. Manfaat

Menambah wawasan atau pengetahuan tentang strategi upaya pemberantasan korupsi

BAB II
iv
PEMBAHASAN

Korupsi masih menjadi masalah yang kompleks dibanyak negara,termasuk indonesia.


Indonesia merupakan negara dengan indeks persepsi korupsi yang tinggi. Periode
2014 sampai sekarang,perkara korupsi yang ditangani KPK sebanyak 618 kasus.
Indonesia telah merilis indeks persepsi korupsi yang menunjukan posisi indonesia di
peringkat 96 dari 180 negara pada awal tahun 2022.
Korupsi di Indonesia  erat kaitannya dengan aspek suap, Spengadaan barang dan jasa,
serta penyalahgunaan dana yang lazim dilakukan oleh pihak swasta dan pegawai
pemerintah. Oleh karena itu, upaya anti korupsi sangat penting. Pemberantasan
korupsi tidak cukup  hanya dengan satu komitmen. Komitmen ini harus diterjemahkan
ke dalam  strategi pengurangan korupsi yang komprehensif. Upaya pencegahan
korupsi dapat dilakukan secara preventif, terdeteksi dan jera.
Selain merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, korupsi juga
merusak  sistem perekonomian. Akibatnya, apa yang tersisa untuk membuat negara
kita kaya masih belum kita bisa mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Semua
potensi itu tampaknya tidak ada artinya
Pelayanan publik yang  buruk, tingkat kesehatan yang rendah, pendidikan yang tidak
memadai, tingkat kecemasan masyarakat, dan banyak  indikator negara sejahtera
lainnya belum mencapai. Dengan kata lain, harapan Indonesia, negara impian masih
jauh dari harapan.

Strategi Pemberantasan Korupsi

1. Represif

Melalui strategi represif, KPK menjerat koruptor ke meja hijau, membacakan


tuntutan, serta menghadirkan saksi-saksi dan alat bukti yang menguatkan. Inilah
tahapan yang dilakukan:

A. Penanganan pengaduan laporan masyarakat


Bagi KPK, pengaduan masyarakat merupakan salah satu sumber 
informasi terpenting. Sebagian besar kasus korupsi ditemukan melalui
pengaduan  masyarakat. Sebelum memutuskan apakah suatu pengaduan
dapat masuk ke tahap penyidikan, KPK melakukan proses verifikasi dan
review.

B. Penyelidikan
Kegiatan yang dilakukan KPK bertujuan untuk menemukan. Alat bukti
yang cukup. Bukti permulaan yang cukup dianggap ada jika ditemukan
sedikitnya 2 alat bukti. Jika  bukti  permulaan yang cukup tidak ditemukan,
penyidik akan menghentikan  penyelidikan.
Jika kasus tersebut diusut, KPK akan melakukan sendiri penyidikan  atau
dapat melimpahkan kasus kepada penyidik kepolisian atau kejaksaan. Jika
penyidikan dilimpahkan ke kepolisian atau kejaksaan, maka polisi atau

v
kejaksaan wajib mengoordinasikan dan melaporkan perkembangan
penyidikan kepada KPK.

C. Penyidikan
Tahap ini salah satunya ditandai dengan penetapan seseorang sebagai
tersangka. Jika ada dugaan  kuat bahwa ada bukti permulaan yang cukup,
penyidik dapat menyita izin ketua pengadilan negeri.
Pasal juga memungkinkan penyidik KPK untuk terlebih dahulu
memperoleh izin untuk memanggil tersangka atau menahan tersangka
yang pejabat publik yang menurut undang-undang, tindakan polisi
terhadap mereka harus diperoleh terlebih dahulu.
Untuk kepentingan penyidikan,  tersangka wajib memberikan keterangan
kepada penyidik tentang segala harta bendanya dan harta benda
pasangannya, anak-anaknya dan harta benda  orang lain atau perusahaan
yang diketahui atau dicurigai orang itu.
Terkait dengan perilaku koruptif tersangka. KPK tidak berwenang
mengeluarkan . perintah penghentian penyidikan dan penuntutan kasus
korupsi. Artinya, setelah KPK menetapkan orang sebagai tersangka,
prosesnya harus dilanjutkan hingga penuntutan.

D. Penuntutan
Penuntutan dilakukan oleh penuntut umum setelah penyidik menerima
berkas. Dalam waktu 1 hari kerja setelah menerima berkas, berkas 
tersebut harus diserahkan ke pengadilan negeri.
Dalam hal ini, Penuntut Umum KPK dapat melakukan penahanan terhadap
tersangka selama 20 hari dan dapat diperpanjang lagi dengan izin
pengadilan untuk paling lama 30 hari. Pelimpahan ke Pengadilan Tipikor
disertai berkas perkara dan surat dakwaan. Dengan dilimpahkannya ke
pengadilan, kewenangan penahanan secara yuridis beralih ke hakim yang
menangan

E. Pelaksanaan putusan pengadilan


Jaksa melakukan eksekusi dengan kekuatan hukum tetap. Untuk itu,
panitera mengirimkan salinan putusan kepada jaksa.
a) Saksi: Orang yang dapat memberikan keterangan untuk
kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan  suatu perkara
pidana yang pernah didengar, dilihat, dan dialaminya sendiri.
b) Tersangka: Seseorang yang berdasarkan perbuatan atau
keadaannya, berdasarkan bukti, permulaan, patut diduga telah
melakukan kejahatan.
c) Terdakwa: Seorang tersangka yang dituntut, ditanyai, dan diadili
oleh pengadilan.
d) Dihukum: Seseorang yang dihukum oleh pengadilan dengan
kekuatan hukum tetap.
e) Tindakan perbaikan: Kejaksaan atau terdakwa dapat mengambil
tindakan perbaikan jika mereka menganggap keputusan pengadilan
tingkat pertama di pengadilan distrik tidak memuaskan.
f) Kasasi: Upaya hukum  dapat dilakukan oleh Penuntut Umum atau
oleh termohon jika keputusan akhir dari pengadilan  selain
Mahkamah Agung ditemukan tidak cukup.

vi
g) Inkrah: Putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.
h) Saksikan: Tindakan Hukum Luar Biasa Terhadap Mahkamah
Agung setelah adanya putusan yang berkekuatan hukum tetap

2. Perbaikan Sistem

Tidak dapat disangkal bahwa banyak sistem di Indonesia yang justru menyisakan
celah bagi terjadinya praktik korupsi. Misalnya, prosedur kepegawaian menjadi lebih
rumit, sehingga menimbulkan suap, dll.
Tentu saja, ada banyak lagi. Tidak hanya terkait dengan utilitas, tetapi juga terkait
dengan perizinan, pembelian barang dan jasa, dll. Tentu saja, perbaikan diperlukan.
Karena sistem yang baik dapat meminimalisir terjadinya korupsi. Misalnya, melalui
layanan publik online, sistem pemantauan terintegrasi, dll.
KPK juga telah melakukan berbagai upaya untuk membenahi sistem tersebut.
Berdasarkan berbagai kajian yang dilakukan, KPK memberikan rekomendasi kepada
kementerian/lembaga terkait untuk melakukan tindakan perbaikan.
Selain itu, juga dengan penataan pelayanan publik melalui koordinasi dan pemantauan
preventif (korsupgah), serta dengan mendorong transparansi otoritas publik (PN).
Sedangkan untuk mendorong transparansi dari Penyelenggara Negara (PN), KPK
menerima laporan dan bonus dari LHKPN. Untuk LHKPN, setiap penyelenggara
negara wajib melaporkan harta kekayaannya kepada KPK. Untuk bonus, penerima
harus melapor ke KPK dalam waktu 30 hari setelah menerima bonus atau pejabat
terkait dianggap menerima suap.
Dalam melaksanakan tugas koordinasinya, KPK berhak meminta laporan dari instansi
yang berwenang tentang pencegahan  korupsi. Sedangkan dalam pelaksanaan fungsi
pengawasan, KPK berhak melakukan pengawasan, penyidikan, atau pemeriksaan
terhadap instansi yang menjalankan fungsi dan kewenangannya terkait dengan
pemberantasan korupsi dan Instansi pelaksanaan tugas.
Kegiatan Korsupgah yang dilakukan KPK meliputi perencanaan dan penganggaran
APBD, pengadaan barang dan jasa, utilitas rumah sakit, pelayanan uji kelayakan
kendaraan bermotor dan utilitas di PTSP.
Selain itu, KPK sedang menyusun rencana aksi pencegahan korupsi dan peningkatan
pelayanan publik yang  dilakukan oleh pemerintah daerah untuk mengurangi
kemungkinan kejahatan korupsi dan tingkat korupsi.

3. Edukasi dan Kampanye

Salah satu hal penting dalam pemberantasan korupsi, adalah kesamaan pemahaman
mengenai tindak pidana korupsi itu sendiri. Dengan adanya persepsi yang sama,
pemberantasan korupsi bias dilakukan secara tepat dan terarah. Sayangnya, tidak
semua masyarakat memiliki pemahaman seperti itu.
Contoh paling sederhana adalah ide ucapan terima kasih kepada PNS, yang dianggap
biasa saja. Contoh lainnya adalah tidak semua orang memiliki minat yang sama
terhadap korupsi.  Hanya karena mereka merasa “tidak mengenal” si pelaku, atau
karena mereka merasa “hanya orang biasa”, banyak orang merasa tidak memiliki
kewajiban moral untuk berpartisipasi.
Inilah sebabnya mengapa pendidikan dan kampanye sangat penting. Dalam rangka
pencegahan, pendidikan dan kampanye memiliki peran strategis dalam 
pemberantasan korupsi. Melalui edukasi dan advokasi, KPK meningkatkan kesadaran

vii
masyarakat akan dampak korupsi, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam
gerakan antikorupsi, serta membangun budaya dan perilaku  antikorupsi.
Tidak hanya untuk pelajar dan masyarakat umum, tetapi juga untuk kelompok usia
prasekolah, taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Dengan target usia yang luas ini,
KPK berharap negara pada akhirnya akan dipimpin oleh generasi antikorupsi.

4. Strategi Preventif

Upaya pencegahan atau preventif adalah upaya pencegahan korupsi untuk


mengurangi penyebab dan peluang seseorang melakukan perilaku korupsi. Upaya
penahanan dapat dipelopori dengan:

1) Penguatan Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR.


2) Memperkuat Mahkamah Agung dan tingkat peradilan di bawahnya.
3) Mengembangkan kode etik di sektor publik.
4) Mengembangkan kode etik di bidang partai politik, organisasi profesi dan
asosiasi bisnis.
5) Terus-menerus mencari penyebab korupsi.
6) Meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia atau personalia dan
meningkatkan kesejahteraan PNS.
7) Memerlukan penyusunan rencana strategis dan pelaporan tanggung jawab
kinerja kepada instansi pemerintah.
8) Meningkatkan kualitas penerapan system pengendalian manajemen.
9) Pengelolaan Barang Milik Negara atau BKMN Lengkap.
10) Meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.
11) Kampanye menciptakan nilai atau value dalam skala nasional.

5. Strategi Detektif

Upaya Pendeteksian adalah upaya untuk mendeteksi terjadinya kasus korupsi secara
cepat, tepat dan biaya rendah. Jadi bisa langsung dilacak. Berikut upaya detektif
dalam mencegah korupsi:

1) Memperbaiki sistem dan memantau pengaduan  masyarakat.


2) Pemberlakuan kewajiban pelaporan transaksi keuangan tertentu.
3) Pelaporan harta pribadi pemegang kekuasaan dan fungsi publik.
4) Partisipasi Indonesia pada gerakan anti korupsi dan anti pencucian uang di
kancah internasional.
5) Peningkatan kemampuan Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah atas
APFP dalam mendeteksi tindak pidana korupsi.

BAB III
KESIMPULAN

viii
Strategi upaya Pemberantasan Korupsi tidak akan berhasil jika hanya dilakukan oleh KPK.
Membutuhkan peran serta semua pihak untuk bisa mewujudkan negara yang bebas dari
korupsi, dari pemerintah hingga masyarakat.
Butuh komitmen dan political will dari pemerintah dan publik untuk menuntut standar etis
dan norma yang lebih tinggi, bahwa korupsi bukan hanya soal melawan hukum tapi juga
merusak sendi-sendi kebangsaan
Pihak swasta yang kerap juga terlibat dalam kasus korupsi harus juga berperan dalam
strategi ini. Karena itulah, Trisula Pemberantasan Korupsi juga diarahkan ke sektor swasta
secara proporsional.
Masyarakat sipil yang bersemangat antikorupsi dan media massa yang independen juga
menjadi salah satu kunci memberantas korupsi di tanah air. Sinergitas KPK dengan aparat
penegak hukum lainnya, kementerian atau lembaga, organisasi pemerintah dan non
pemerintah mesti ditingkatkan untuk mendeteksi dan menindak para pelaku korupsi.

DAFTAR PUSTAKA

ix
1. https://aclc.kpk.go.id/aksi-informasi/Eksplorasi/20220511-trisula-strategi-
pemberantasan-korupsi-kpk-untuk-visi-indonesia-bebas-dari-korupsi
2. https://www.gramedia.com/best-seller/strategi-cara-pemberantasan-korupsi/

Anda mungkin juga menyukai