Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol.06, No.
02, Juli 2018
Analisis Termal-hidrolik Reaktor Cepat Berpendingin Gas
(Gas Cooled Fast Reactor) Menggunakan Metode Runge Kutta
Adeliya Ayu A(1)*, Yanti Yulianti(1), dan Posman Manurung(1)
(1)
Jurusan Fisika FMIPA Universitas Lampung
Jl.Prof. Dr. Soemantri Brojonegoro No.1 Gedung Meneng Bandar Lampung 35145
*E-mail:adeliyaanggraini@gmail.com
Diterima (31 Desember 2018), direvisi (8 Januari 2019)
Abstract. The Research of Gas Cooled Fast Reactor (GCFR) thermal-hydraulics analysis has been done.
This reseacrh aim to solve fuel rod heat conduction equation by Runge Kutta method and to get thermal-
hydraulics parameters such as coolant axial temperature distribution, pressure drops, convection heat
transfer coefficient, and fuel rod radial temperature distribution. Heat transfer of the reactors was assumted
steady state (time independent) then obtained coolant inlet tempertaure about 450 oC, outlet temperature
about 474,752 oC and convection heat transfer coefficient ℎ𝑠 about 2,5903 W/cm2 oC. Pressure drop by
friction was 0,16968 bar, pressure drop by form was 0,31292 bar, pressure drop by gravity was 0,20580 bar
and total pressure drop was 0,68838 bar. While centerline fuel obtained the maximum temperature of fuel
rod about 2720,33812 oC and the lowest fuel rod temperature at cladding surface about 488,8205 oC.
Keywords: Thermal-hydraulics, Runge Kutta Decomposition, GCFR
Abstrak. Penelitian ini bertujuan menyelesaikan persamaan konduksi panas untuk batang bahan
menggunakan metode Runge Kutta dan memperoleh nilai parameter termal-hidrolik seperti distribusi
temperatur aksial pendingin, penurunan tekanan, koefisien transfer panas dan distribusi temperatur radial
bahan bakar. Asumsi dari perpindahan panas reaktor pada kondisi tunak (tidak bergantung waktu), maka
diperoleh temperatur pendingin inlet adalah 450 oC, outlet adalah 474,752 oC serta koefisien transfer panas
konveksi hs sebesar 2,5093 W/cm2 oC. Penurunan tekanan akibat friksi diperoleh sebesar 0,16968 bar,
penurunan tekanan akibat bentuk (form) sebesar 0,31292 bar, penurunan tekanan akibat gravitasi sebesar
0,2058 bar dan penurunan tekanan total, yaitu 0,68838 bar. Sementara temperatur pada batang bahan bakar
diperoleh nilai maksimum pada garis-tengah bahan bakar yaitu 2720,33812 oC dan temperatur terendah
batang bahan bakar pada permukaan kelongsong, yaitu 488,8205 oC.
Kata kunci: Termal-hidrolik, Runge Kutta, GCFR
PENDAHULUAN metode Runge Kutta dan sebuah software
pemrograman Visual Basic 6.0.
Aspek yang penting dalam analisis Metode Runge Kutta merupakan
reaktor, yaitu termal-hidrolik reaktor. alternatif dari metode deret Taylor yang
Analisis termal-hidrolik tersebut meliputi tidak membutuhkan perhitungan turunan.
distribusi temperatur aksial kanal Metode Euler dianggap kurang efisien
pendingin, transfer panas (heat transfer), karena ketelitiannya yang rendah serta
penurunan tekanan (pressure drop), dan error nya yang besar, buruknya error ini
ditribusi temperatur radial. Untuk dapat diperbaiki dengan menggunakan
mempermudah menyelesaikan perhitungan metode Heun, namun metode Heun hanya
termal-hidrolik, pada penelitian ini dapat menghitung sebatas orde 2 saja
digunakan sebuah metode numerik yaitu sehingga ketelitiannyapun masih kurang.
141
Adelia dkk: Analisis Termal-hidrolik Reaktor Cepat Berpendingin Gas
(Gas Cooled Fast Reactor) Menggunakan Metode Runge Kutta
Metode deret Taylor adalah metode yang panjang kanal ditambah dengan jarak
umum untuk menurunkan rumus-rumus ekstrapolasi [cm], 𝑐𝑝 adalah kapasitas panas
solusi differesial namun metode deret fluida [W/cmoC], 𝑤 adalah kecepatan aliran
Taylor tidak praktis karena metode tersebut massa [g/cm], 𝑧 adalah posisi titik partisi,
membutuhkan perhitungan turunan f(x, y). dan 𝐻 adalah panjang kanal [cm].
Lagipula, tidak semua fungsi mudah Koefisien transfer panas konveksi ℎ𝑠 dan
dihitung turunannya, terutama bagi fungsi penurunan tekanan pendingin ∆𝑝 dihitung
yang bentuknya rumit. Semakin tinggi orde dengan menggunakan persamaan berikut.
metode deret Taylor, semakin tinggi
turunan fungsi yang harus dihitung. Metode ℎ𝑠 = (𝑘/𝐷ℎ )𝑁𝑢 (2)
Runge-Kutta berusaha mendapatkan derajat ∆𝑝𝑓𝑟𝑖𝑐𝑡𝑖𝑜𝑛 = 2(𝐿⁄𝐷ℎ )𝜌𝑢̅𝑧2 𝑓 (3)
ketelitian yang lebih tinggi, dan sekaligus 𝑢̅2
menghindarkan keperluan mencari turunan ∆𝑝𝑓𝑜𝑟𝑚 = ∑ 𝐾𝑖 𝜌 (4)
yang lebih tinggi dengan jalan 2
𝑖
mengevaluasi fungsi f(x, y) pada titik ∆𝑝𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 = 𝜌𝑔𝐻 (5)
terpilih dalam setiap selang langkah [1].
Isnaini melakukan analisis desain dengan 𝑘 adalah konduktivitas panas fluida
termal-hidrolik subkanal elemen bahan [W/cmoC], 𝐷ℎ adalah diameter ekuivalen
bakar untuk reaktor jenis GCFR yang kanal [cm], dan 𝑁𝑢 adalah bilangan
dikembangkan oleh Korea, yaitu Korean Nusselt untuk menghitung ℎ𝑠 . Oleh sebab
Standard Nuclear Plant (GCFR-KSNP). itu untuk ∆𝑝 diperlukan yaitu 𝐿 sama
Pada penelitiannya digunakan konfigurasi dengan 𝐻 adalah panjang kanal [cm], 𝜌
matrik elemen bahan bakar 2x2 dengan adalah densitas fluida [gram/cm3], 𝑢̅𝑧
program COBRA IV-I [2]. Khoiri adalah rata-rata laju aliran fluida [gram/cm
membuat kode komputer untuk s2], 𝑓 adalah faktor friksi fanning, 𝐾𝑖
menganalisis termal-hidrolik subkanal adalah faktor friksi bentuk, dan 𝑔 adalah
untuk pendingin reaktor jenis Light Water gravitasi.
Reactor (LWR) menggunakan program Skema numerik untuk mencari solusi
Borland Delphi 7 [3]. persamaan diferensial untuk mengetahui
distribusi temperatur radial bahan bakar
METODE PENELITIAN yang dibutuhkan adalah
Penelitian ini menggunakan laptop 𝑘₁ + 2𝑘₂ + 2𝑘₃ + 𝑘₄ (8)
𝑇𝑓𝑢𝑒𝑙 (𝑧) = 𝑇𝐺𝑎𝑝 + ( )
dengan sistem operasi windows 10 dan 6
program Visual Basic 6.0. Termal-hidrolik
diawali dengan menghitung distribusi dengan
temperatur pendingin pada kanal pendingin, −𝑞 ′′′ 𝑟ᵢ
𝑘₁ = ℎ( )
nilai koefisien transfer panas konveksi ℎ𝑠 , 𝑘𝐹
1
dan penurunan tekanan pendingin. −𝑞 ′′′ (𝑟ᵢ + 2 ℎ)
Persamaan (1) digunakan untuk 𝑘₂ = ℎ( )
menghitung distibusi temperatur aksial 𝑘𝐹
1
pendingin 𝑇𝑓𝑙 . −𝑞 ′′′ (𝑟ᵢ + 2 ℎ)
𝑘₃ = ℎ( )
𝑞′ 𝐻̃ 𝜋𝑧 𝜋𝐻 𝑘𝐹
𝑇𝑓𝑙 (𝑧) = 𝑇𝑖𝑛𝑙𝑒𝑡 + 0 [sin ( ) + sin ( )] (1)
𝜋𝑐𝑝 𝑤 ̃ ̃ −𝑞 ′′′ (𝑟ᵢ + ℎ)
𝐻 2𝐻 𝑘₄ = ℎ( )
𝑘𝐹 (9)
dengan 𝑇𝑖𝑛𝑙𝑒𝑡 adalah temperatur pendingin
yang masuk kanal, 𝑞′0 adalah rata-rata Akhirnya dapat diperoleh nilai distribusi
kerapatan daya linier [W/cm], 𝐻 ̃ adalah distribusi temperatur radial pada bahan
142
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol.06, No.02, Juli 2018
bakar. Skema numerik untuk mencari solusi
persamaan diferensial untuk mengetahui
distribusi temperatur radial gap yang
dibutuhkan adalah
k1 + 2k2 + 2k3 + k4
Tgap = Tkelongsong+ ( 6
)
𝜎𝑟
𝑘₁ =
𝑘𝐺
ℎ
𝜎 (𝑟 + 2) 𝜎ℎ
𝑘₂ = = 𝑘₁ +
𝑘𝐺 2𝑘𝐺
𝑘₃ = 𝑘₂
𝜎(𝑟+ℎ) 𝜎ℎ
𝑘₄ = 𝑘𝐺
= 𝑘₁ + 𝑘𝐺 (10)
Akhirnya dapat diperoleh nilai distribusi
distribusi temperatur radial pada gap.
Selanjutnya menghitung nilai distribusi
temperatur radial pada kelongsong dengan Gambar 1. Diagram alir penelitian
menggunakan metode Runge Kutta, seperti
pada Persamaan 11.
HASIL DAN PEMBAHASAN
k1 + 2k2 + 2k3 + k4
Tkelongsong =Ts +( 6
)
Transfer Panas Konveksi
𝜎𝑟
k1=
𝑘𝑐 Aliran pendingin memiliki dua
𝜎ℎ karakteristik yaitu aliran laminar yang
k2 = k1 + 2𝑘𝑐 memiliki nilai Re<2.100 dan turbulen yang
memiliki nilai 2.100<Re<105 [4]. Bilangan
𝜎ℎ
k3 = k1 + 2𝑘𝑐 Reynold hanya digunakan untuk pipa
dengan penampang melintang bulat dan
𝜎ℎ untuk penampang melintang tidak bulat
k4 = 𝑘𝑐 (11)
untuk aliran kanal antara batang bahan
bakar. Dapat diperoleh besar diameter
ekuivalen, yaitu 1,1458 cm. Kemudian
perhitungan Re dilakukan dan diperoleh
nilai sebesar 373936,2005. Nilai tersebut
menunjukkan bahwa aliran pendingin
merupakan turbulen [5]. Selanjutnya
menentukan nilai Pr dan diperoleh nilai Pr
sebesar 1,23. Dengan nilai Pr tersebut,
kemudian Nu diperoleh nilai Nu yaitu
742,04. Koefisien transfer panas konveksi
diperoleh nilai sebesar 2,59 W/cm2 oC.
143
Adelia dkk: Analisis Termal-hidrolik Reaktor Cepat Berpendingin Gas
(Gas Cooled Fast Reactor) Menggunakan Metode Runge Kutta
Temperatur (oC) 3000 Distribusi Temparatur Aksial Pendingin
Bahan
2500 Bakar Ga
2000 Kelongso 480
Temperatur pendingin
475
1500 470
1000 465
(oC)
460
500
455
0 450
0 0,2 0,4 0,6 445
Panjang radial (cm) 0 100 200 300 400
Gambar 2. Distribusi temperatur terhadap jarak
radial pada batang bahan bakar. Panjang aksial (cm)
Gambar 3. Distribusi temperatur terhadap jarak
Temperatur permukaan kelongsong aksial kanal pendingin.
yang langsung terhubung dengan pendingin
dapat dihitung menggunakan Persamaan 3. Adapun nilai rapat daya linier yang
Transfer panas dari pendingin ke digunakan sebesar 200 W/cm, temperatur
permukaan kelongsong dengan koefisien masukan air (T inlet) yaitu 450 oC dan
difusi pendingin sebesar 1,43 W/cm2 oC, panjang kanal aksial yaitu, 300 cm. Selain
rata-rata fluks panas 68,5 W/cm2, dan itu, teras reaktor diberi tekanan sebesar 115
temperatur pendingin pada panjang aksial bar. Kemudian diperoleh distribusi
150 cm, yaitu 462,38 oC menghasilkan temperatur seperti pada Gambar 3.
temperatur permukaan kelongsong sebesar Gambar 3 menunjukkan temperatur
488,82 oC. Nilai temperatur ini digunakan minimum pendingin berada pada bagian
sebagai syarat masukan dalam perhitungan masuk (inlet), yaitu sebesar 450 oC dan
untuk mengetahui distribusi temperatur temperatur tertinggi berada pada bagian
pada batang bahan bakar. atas (outlet) sebesar 474,75 oC. Nilai ini
masih dalam batas referensi nilai
Distribusi Temperatur Radial temperatur outlet pada reaktor GCFR yang
memiliki nilai outlet sampai dengan 480 oC.
Nilai temperatur kelongsong yang telah Pada Gambar 3 juga dapat dilihat grafik
diperoleh melalui perhitungan transfer yang meningkat sepanjang kanal sehingga
panas sebelumnya, yaitu 488,82 oC. dapat dinyatakan bahwa semakin ke atas
Distribusi temperatur radial pada batang maka temperatur pendingin pada kanal
bahan bakar dihitung mulai dari permukaan semakin meningkat [7].
kelongsong bahan bakar sampai dengan
garis-tengah (centerline) batang bahan Penurunan Tekanan (Pressure Drop)
bakar [6]. Distribusi temperatur yang
diperoleh seperti ditunjukkan pada Gravitasi berpengaruh karena
Gambar 2. Gambar 2 menunjukkan nilai pendingin mengalir dari bawah menuju ke
distribusi temperatur radial yang semakin atas sehingga terjadi penurunan tekanan
menurun beriring dengan bertambahnya pada pendingin. Pertama adalah penurunan
jarak, yaitu dimulai dari yang mendekati tekanan friksi, yaitu penurunan tekanan
titik didih sebesar 2720,33 oC, dan 488,82 yang dipengaruhi permukaan dinding
o
C. Hal ini disebabkan karena energi panas kelongsong yang ditunjukkan oleh sebuah
hanya dihasilkan oleh reaksi fisi pada bahan faktor f disebut juga faktor gesekan
bakar sedangkan pada gap dan kelongsong Fanning. Faktor fannning yaitu faktor yang
hanya mendapat hantaran panas secara diakibatkan oleh aliran turbulen pendingin
konduksi dari bahan bakar. pada kanal. Dengan bilangan Reynold yang
144
Jurnal Teori dan Aplikasi Fisika Vol.06, No.02, Juli 2018
telah dihitung pada perhitungan ℎ𝑠 ∆𝑝𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 = 𝜌𝑔𝐻 (14)
sebelumnya Re, yaitu 32.083,726. Dengan
nilai Re yang berada dalam rentang
2.100<Re<105 menunjukkan bahwa aliran Diperoleh nilai kerapatan pendingin
pendingin merupakan aliran turbulen, sebesar 0,7 gram/cm3, gravitasi sebesar 980
sehingga untuk nilai f dapat diperoleh cm/s2 dan H, yaitu 300 cm, diperoleh nilai
dengan menggunakan persamaan berikut. penurunan tekanan akibat gravitasi sebesar
0,21 bar. Oleh karena itu, total penurunan
tekanan yaitu, 0,69 bar. Pada nilai GCFR
𝑓 = 0.0791𝑅𝑒 −25 (12) penurunan tekanan bernilai negatif, hal ini
dikarenakan pendingin membuat tekanan
Pada perhitungan diperoleh nilai f , semakin turun.
yaitu 0,0791. Setelah mendapatkan nilai f,
nilai penurunan tekanan friksi pun KESIMPULAN
diperoleh Sama seperti sebelumnya. Nilai
penurunan tekanan friksi yang diperoleh Persamaan distribusi temperatur
adalah sebesar 0,17 bar. Penurunan tekanan terhadap panjang radial dapat diselesaikan
ini masih belum termasuk dengan menggunakan metode runge kutta sehingga
penurunan yang diakibatkan bentuk grid diperoleh temperatur maksimum pada
penjarak [8]. garis-tengah bahan bakar, yaitu 2720,33 oC
Grid penjarak merupakan suatu dan temperatur permukaan kelongsong,
perangkat bantuan untuk menjaga batang yaitu 488,82 oC. Parameter termal-hidrolik
bahan bakar tetap berada pada posisinya lainnya yang diperoleh, yaitu Bilangan
selain itu juga pendingin yang mengalir Reynold Re sebesar 373936,2005, bilangan
melewati ini akan mengalami perputaran Prandlt Pr yaitu 1,23, bilangan Nusselt Nu,
sehingga dapat membantu dalam yaitu 742,04, sehingga diperoleh nilai
menghilangkan panas dari pendingin. koefisien difusi pendingin ℎ𝑠 sebesar 2,59
Namun selain itu, grid penjarak dapat W/cm2oC. Penurunan temperatur friksi
menjadi hambatan untuk pendingin dapat ∆𝑃𝑓𝑟𝑖𝑘𝑠𝑖 sebesar 0,17 bar, penurunan
mengalir sehingga terjadi penurunan tekanan akibat bentuk ∆𝑃𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 sebesar
terkanan pendingin [9]. Sama seperti 0,31 bar, penurunan tekanan akibat
sebelumnya, penurunan tekanan ini gravitasi ∆𝑃𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑎𝑠𝑖 sebesar 0,21 bar, dan
dipengaruhi oleh sebuah faktor yaitu K. penurunan tekanan total ∆𝑃𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 sebesar
Nilai ini berbeda untuk setiap bentuknya. 0,69 bar. Distribusi temperatur aksial
Pada penelitian ini digunakan nilai K, yaitu pendingin terhadap panjang kanal, yaitu
1,25 [10], 0,78 dan 1 yang mana masing- temperatur inlet sebesar 450 oC dan outlet
masing adalah nilai untuk grid penjarak, sebesar 474,75 oC.
bentuk masuk kanal dan keluar kanal.
̅2
𝑢
∆𝑝𝑓𝑜𝑟𝑚 = ∑𝑖 𝐾𝑖 𝜌 (13) DAFTAR PUSTAKA
2
[1] S. C. Chapra and R. P. Canale,
Pada Persamaan 13 diperoleh nilai
“Numerical Methods for Engineers
penurunan tekanan bentuk sebesar 0,31 bar.
for Engineers.” McGraw-Hill, New
Kemudian penurunan tekanan yang
York, p. 968, 2010.
dipengaruhi oleh gravitasi akibat dari aliran
pendingin yang menuju ke atas yang
[2] M. D. Isnaini, “Analisis Disain
kemudian dituliskan dalam Persamaan 14.
Termohidrolika Sub Kanal Elemen
145
Adelia dkk: Analisis Termal-hidrolik Reaktor Cepat Berpendingin Gas
(Gas Cooled Fast Reactor) Menggunakan Metode Runge Kutta
Bakar Pwr-Ksnp,” in Prosiding PPI- Annals of Nuclear Energy. Vol. 102.
PDIPTN Pusat Akselerator dan Pp 309-316. 2017.
Proses Bahan, 2007, p. 9.
[7] Suroso, & S. Dibyo. "Pemodelan
[3] M. Khoiri, T. W. Tjiptono, and A. Termohidrolika Sub-Kanal Elemen
Prihastomo, “Pembuatan Kode Bakar Ap-1000 Menggunakan
Komputer Untuk Analisis Awal Relap5". Uraina. Vol 16. No 4. Pp
Termohidrolik Subkanal Pendingin 194–205. 2010.
Reaktor Lwr,” in SDM Teknologi
Nuklir VII, 2011. [8] A., Pirouzmand, and A., Nabavi,
"Simulation Reactor Dynamics
[4] A. G., Abdullah, dan Z. Su’ud, Equation Using Reconfigurable
"Analisis Kecelakaan Reaktor Akibat Computing". Progress in Nuclear
Kegagalan Sistem Pembuang Panas Energy. Vol 89. Pp 197-203. 2016.
pada Reaktor Nuklir Generasi IV".
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia. [9] M., Skrzypek, & R. Laskowski.
Vol. 8. Pp 106-114. 2012. Thermal-"Hydraulic Calculations for a
Fuel Assembly in a European
[5] S. Dibyo, "Kajian dalam Penentuan Pressurized Reactor Using The Relap5
Faktor Friksi Aliran Pendingin". In Code". Nukleonika. Vol. 60. No. 3. Pp.
Seminar Hasil Penelitian P2TRR. Pp 537–544. 2015.
203–210. 2002.
[10] H.A, Seung, & D. J. Gyoo. "Effect of
[6] P.,Sun, H.,Zhao, L.,Liao, J., Zhang, Spacer Grids on CHF at PWR
G., Su, "Control System Design and Operating Conditions". Journal Of The
Validation Platform Development for Korean Nuclear Society. Vol 33. No 3.
Small Pressurized Water Reactors P283–297. 2001.
(SGCFR) By Coupling an Engineering
Simulation and MATLAB Simulink".
146