0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan16 halaman

Cairan Tubuh dan Terapi Intravena

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 60% air. Cairan tubuh terbagi menjadi intraselular dan ekstraselular. Cairan intravena terbagi menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid dapat bersifat isotonik, hipertonik, atau hipotonik tergantung kandungan elektrolitnya dibandingkan plasma. Koloid bermanfaat untuk resusitasi pada defisit cairan berat.

Diunggah oleh

Imam Bukhori
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
29 tayangan16 halaman

Cairan Tubuh dan Terapi Intravena

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 60% air. Cairan tubuh terbagi menjadi intraselular dan ekstraselular. Cairan intravena terbagi menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid dapat bersifat isotonik, hipertonik, atau hipotonik tergantung kandungan elektrolitnya dibandingkan plasma. Koloid bermanfaat untuk resusitasi pada defisit cairan berat.

Diunggah oleh

Imam Bukhori
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

CAIRAN DALAM TUBUH

Air merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia. Persentase cairan tubuh
tergantung pada usia, jenis kelamin, dan derajat status gizi seseorang. Seiring dengan
pertumbuhan seseorang, persentase jumlah cairan terhadap berat badan menurun. Fungsi
dari cairan antara lain :

1. Sarana untuk mengangkut zat-zat makanan ke sel-sel


2. Mengeluarkan buangan-buangan sel (metabolit)
3. Membantu dalam metabolisme sel
4. Sebagai pelarut untuk elektrolit dan non elektrolit
5. Membantu memelihara suhu tubuh
6. Membantu pencernaan
7. Mempermudah eliminasi
8. Mengangkut zat-zat seperti hormone, enzim, dll
Distribusi dan komposisi cairan dalam tubuh antara lain :

Distribusi Cairan Laki-Laki Dewasa Perempuan Dewasa Bayi


Total air tubuh (%) 60 50 75
Intraseluler 40 30 40
Ekstraseluler 20 20 35
- Plasma 5 5 5
- Interstisial 15 15 30

Seluruh cairan tubuh tersebut secara garis besar terbagi ke dalam 2 kompartemen, yaitu
1. Cairan intraselular
Pada orang dewasa, sekitar 2/3 dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular.
Sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan
intraselular.
2. Cairan ekstraselular
Jumlah relatif cairan ekstraselular menurun seiring dengan bertambahnya usia,
yaitu sampai sekitar sepertiga dari volume total pada dewasa. Cairan ekstraselular
terbagi menjadi :
- Cairan interstitial, yaitu cairan yang mengelilingi sel dan termasuk cairan yang
terkandung diantara rongga tubuh (transseluler) seperti serebrospinal,
perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan.
- Cairan intravascular, yaitu cairan yang terkandung dalam pembuluh darah,
dalam hal ini plasma darah.

Asupan air dan elektrolit berasal dari minuman dan makanan yang dikonsumsi sehari-
hari serta dari hasil oksidasi dalam tubuh. Air dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urin,
tinja, dan insensible water loss atau pengeluaran yang tidak dirasa, seperti keringat dan
pernapasan. Gangguan keseimbangan/homeostasis air dan elektrolit harus segera diterapi
untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit tersebut, dalam hal ini dilakukan
terapi cairan. Factor-faktor yang memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara
lain umur, suhu lingkungan, diet, stress, dan penyakit.

Secara garis besar, cairan intravena dibagi menjadi dua, yaitu :


1. Cairan Kristaloid
Kristaloid berisi elektrolit (contoh kalium, natrium, kalsium, klorida). Kristaloid
tidak mengandung partikel onkotik dan karena itu tidak terbatas dalam ruang
intravascular dengan waktu paruh kristaloid di intravascular adalah 20-30 menit.
Beberapa peneliti merekomendasikan untuk setiap 1 liter darah, diberikan 3 liter
kristaloid isotonik. Kristaloid murah, mudah dibuat, dan tidak menimbulkan reaksi
imun. Larutan kristaloid adalah larutan primer yang digunakan untuk terapi
intravena prehospital. Tonisitas kristaloid menggambarkan konsentrasi elektrolit
yang dilarutkan dalam air, dibandingkan dengan yang dari plasma tubuh.
(Butterworth JF, Mackey DC, 2013)
Ada 3 jenis tonisitas kritaloid, diantaranya:

Tonisitas Nama Cairan Komposisi Indikasi Catatan


Isotonis Normal saline Na+ = 154 Resusitasi cairan, Risiko
(NaCl 0,9%) Cl- = 154 diare, luka bakar, terjadinya
gagal ginjal akut, oedema paru
asidosis (dalam jumlah
diabetikum besar)
Ringer laktat Na+ = 130-140 Dehidrasi, syok Hanya di
K+ = 4-5 hipovolemik, metabolisme di
Ca2+ = 2-3 syok perdarahan, hepar. Dapat
Cl- =109-110 asidosis menyebabkan
BE = 28-30 metabolic, suplai hiperkloremia
Laktat = 28 ion bikarbonat dan asidosis
metabolic
akibat
akumulasi
laktat
Glucose 5% Glukosa = 50 Hidrasi selama Kontraindikasi
gr/L dan sesudah untuk
operasi, rumatan hiperglikemia
perioperative,
restriksi natrium
+
Ringerfundin Na = 145 Dehidrasi
K+ = 4 isotonis, DHF,
Ca2+ = 5 kasus
Mg2+ = 2 braintrauma, syok
Cl- = 109 hemoragik
Acetat = 24
Maleat = 5
Hipotonis Ringer Asetat Na+ = 130 Dehidrasi (syok Dapat
K+ = 4 hipovolemik dan memperburuk
Ca2+ = 2 asidosis) pada edema serebral
Cl- = 108 kondisi diare,
Acetat = 28 DHF, luka bakar,
syok hemoragik,
trauma
NaCl 0,45% Na+ = 77 Pasien dengan Rawan oedema
Cl- = 77 retraksi natrium anasarka
Hipertonis Glukosa 10% Glukosa = 100 Suplai air dan Risiko
gr/l karbohidrat hiperglikemia
secara parenteral
pada penderita
diabetic, kanker,
sepsis, dan
defisiensi protein
NaCl 3% Na+ = 513 Koreksi natrium
Cl- = 513
Mannitol 20% Glukosa = 200 Diuretic sistemik
gr/l pada kasus
serebral edema
(menurun TIK),
sindrom TURP,
menurunkan TIO
pada glaukoma

a) Isotonis
Ketika kristaloid berisi sama dengan jumlah elektrolit plasma, ia memiliki
konsentrasi yang sama dan disebut sebagai “isotonik” (iso, sama; tonik,
konsentrasi). Ketika memberikan kristaloid isotonis, tidak terjadi perpindahan
yang signifikan antara cairan di dalam intravascular dan sel. Dengan demikian,
hampir tidak ada atau minimal osmosis. Keuntungan dari cairan kristaloid
adalah murah, mudah didapat, mudah penyimpanannya, bebas reaksi, dapat
segera dipakai untuk mengatasi deficit volume sirkulasi, menurunkan
viskositas darah, dan dapat digunakan sebagai fluid challenge test. Efek
samping yang perlu diperhatikan adalah terjadinya edema perifer dan edema
paru pada jumlah pemberian yang besar. Contoh larutan kristaloid isotonis:
Ringer Laktat, Normal Saline (NaCl 0.9%), dan Dextrose 5% in ¼NS.
(Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, 2015)2)
b) Hipertonis
Jika kristaloid berisi lebih elektrolit dari plasma tubuh, itu lebih terkonsentrasi
dan disebut sebagai “hipertonik” (hiper, tinggi, tonik, konsentrasi).
Administrasi dari kristaloid hipertonik menyebabkan cairan tersebut akan
menarik cairan dari sel ke ruang intravascular. Efek larutan garam hipertonik
lain adalah meningkatkan curah jantung bukan hanya karena perbaikan
preload, tetapi peningkatan curah jantung tersebut mungkin sekunder karena
efek inotropik positif pada miokard dan penurunan afterload sekunder akibat
efek vasodilatasi kapiler viseral. Kedua keadaan ini dapat memperbaiki aliran
darah ke organ-organ vital. Efek samping dari pemberian larutan garam
hipertonik adalah hypernatremia dan hiperkloremia. Contoh larutan kristaloid
hipertonis: Dextrose 5% dalam ½ Normal Saline, Dextrose 5% dalam Normal
Saline, Saline 3%, Saline 5%, dan Dextrose 5% dalam RL.(Hans, 2012)
c) Hipotonis
Ketika kristaloid mengandung elektrolit lebih sedikit dari plasma dan kurang
terkonsentrasi, disebut sebagai “hipotonik” (hipo, rendah; tonik, konsentrasi).
Ketika cairan hipotonis diberikan, cairan dengan cepat akan berpindah dari
intravascular kesel. Contoh larutan kristaloid hipotonis: Dextrose 5% dalam
air, ½ Normal Saline. (Butterworth JF, Mackey DC, 2013)
2. Cairan Koloid
Cairan koloid mengandung zat-zat yang mempunyai berat molekul tinggi dengan
aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama
dalam ruang intravaskuler. Koloid digunakan untuk resusitasi cairan pada pasien
dengan defisit cairan berat seperti pada syok hipovolemik/hermorhagik sebelum
diberikan transfusi darah, pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan
kehilangan protein jumlah besar (misalnya pada luka bakar). Cairan koloid
merupakan turunan dari plasma protein dan sintetik yang dimana koloid memiliki
sifat yaitu plasma expander yang merupakan suatu sediaan larutan steril yang
digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat perdarahan, luka
bakar, operasi. Kerugian dari plasma expander’ ini yaitu harganya yang mahal dan
dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan
gangguan pada cross match. (Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, 2015)

B. SYOK HIPOVOLEMIK

DEFINISI

Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolic
dengan ditandai kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi dan oksigenasi
yang adekuat ke organ-organ vital tubuh akibat gangguan hemostatis tubuh yang serius
(Hardisman, 2014)

Hypovolemic shock atau syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat akibat hilangnya
darah atau cairan tubuh dalam jumlah besar, sehingga jantung tidak bisa memompa cukup
darah ke seluruh tubuh. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan hebat (hemoragik), trauma
yang menyebabkan perpindahan cairan (ekstravasasi) ke ruang tubuh non fungsional, dan
dehidrasi berat oleh berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat. Kasus-kasus syok
hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh perdarahan sehingga syok
hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. Perdarahan hebat dapat disebabkan oleh
berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh atau fraktur yang yang disertai dengan luka
ataupun luka langsung pada pembuluh arteri utama.

EPIDEMIOLOGI

Angka insidensi syok hipovolemik secara global termasuk tinggi sekitar 50.000 kasus
pertahun dengan syok hipovolemik akibat perdarahan merupakan jenis syok yang paling
banyak ditangani di Intensive care unit sekitar 10.000 kasus per tahun.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2018 di Indonesia angka
kematian penderita hypovolemic shock akibat Demam Berdarah dengan ranjatan (dengue
shock syndrome) yang disertai dengan perdarahan yaitu berkisar 56 sampai 66 jiwa.

Menurut WHO, penyebab syok hipovolemik tertinggi pada anak-anak di negara berkembang
adalah diare. Pada tahun 2018 angka diare pada balita di Indonesia mencapai 11%, jauh
meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak 2,4%.

ETIOLOGI

Syok hipovolemik merupakan syok yang terjadi akaibat berkurangnya volume plasma di
intravaskuler. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan hebat (hemoragik), trauma yang
menyebabkan perpindahan cairan (ekstravasasi) ke ruang tubuh non fungsional, dan dehidrasi
berat (non hemoragik) oleh berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat sehingga
menyebabkan pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel tidak adekuat.

Kasus-kasus syok hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh perdarahan
sehingga syok hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. Perdarahan hebat dapat
disebabkan oleh berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh atau fraktur yang yang
disertai dengan luka ataupun luka langsung pada pembuluh arteri utama.
Dehidrasi adalah keadaan tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi dapat disebabkan karena
kehilangan cairan akibat faktor patologis, seperti diare dan perdarahan. Dehidrasi juga dapat
terjadi karena peningkatan kebutuhan cairan tubuh, seperti demam, suhu lingkungan yang
tinggi, dan aktivitas ekstrim.

PATOFISIOLOGI

Secara klinis, syok hemoragik terjadi karena adanya perdarahan pada pembuluh darah besar
seperti perdarahan gastrointestinal, aneurisma aorta, atonia uteri, perdarahan pada telinga,
hidung, tenggorokan. Syok terjadi karena adanya penurunan secara drastis volume darah di
sirkulasi darah, kehilangan sel darah merah secara massif sehingga meningkatkan hipoksia
pada jaringan.

Syok hemoragik traumatic berbeda dengan syok hemoragik dikarenakan adanya tambahan
cedera pada jaringan lunak yang memperparah terjadinya syok. Syok ini biasanya terjadi
karena ada cedera seperti kecelakaan dan jatuh dari ketinggian. Perdarahan difus, hipotermia
(< 340C) dan asidosis merupakan tanda yang mengancam jiwa (Gänsslen et al., 2016).
Cedera pada jaringan lunak menyebabkan peradangan post akut, sehingga semakin
menguatkan proses dari terjadinya syok. Pada tingkat sirkulasi mikro, interaksi leukosit-
endotel dan penghancuran proteoglikan dan glikosaminoglycan yang terikat dengan
membrane endotel menyebabkan adanya disfungsi mikro vascular dan terjadi sindrom
kebocoran kapiler (Standl et al., 2018). Di intraseluler tingkat ketidakseimbangan metabolise
terjadi karena kerusakan mitokondria dan pengaruh negatif pada sistem vasomotor (Standl et
al., 2018).

Syok hypovolemia maupun syok hypovolemia traumatik menunjukan tanda terjadinya


kehilangan cairan tanpa adanya perdarahan. Syok hypovolemia dalam arti yang lebih sempit
muncul karena adanya kehilangan cairan baik dari internal maupun eksternal dengan
ketidakadekuatan intake cairan ke tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh hipertermi, muntah
atau diare persisten, masalah pada ginjal. Penyerapan sejumlah besar cairan ke dalam
abdomen dapat menjadi penyebab utama berkurangnya sirkulasi volume plasma. Secara
patologis peningkatan hematokrit, leukosit dan trombosit dapat merusak sifat reologi darah
dan dapat merusak organ secara persisten walaupun pasien telah mendapatkan terapi untuk
syok (Standl et al., 2018).
Syok hypovolemia traumatic terjadi karena luka bakar yang luas, luka bakar kimiawi, dan
luka pada kulit bagian dalam. Trauma yang terjadi juga mengaktivasi koagulasi dan sistem
imun, dan memungkinkan perburukan pada makro-mikro sirkulasi. Reaksi peradangan
menyebabkan kerusakan pada endothelium, meningkatkan sindrom kebocoran kapiler, dan
beberapa karena koagulopati (Standl et al., 2018).

FASE SYOK

Dalam sirkulasi darah terdapat

- Cardiac output (CO), yaitu volume darah yang dipompa jantung dalam 1 menit
- Stroke volume (SV), adalah volume darah yang dipompa jantung tiap 1 kali pompaan
- Heart rate (HR), yaitu denyut jantung per menit

CO = HR x SV
Contoh :

CO = HR x SV 5000 = 60 x 85

 Bila SV turun, maka HR harus ditingkatkan agar capaian CO yang didapatkan sama
(fase kompensasi)

CO = HR x SV 5000 = 100 x 50

 HR hanya mampu berkompensasi naik hingga 3x lipat. SV hanya bisa naik 20-30%
(fase progresif)
 Bila tidak ditangani dengan baik maka akan masuk ke fase irreversible ditandai dengan
kerusakan sel yang luas dan anoksia jaringan. Jika di jantung dapat mengakibatkan
cardiac arrest

KLASIFIKASI SYOK BERDASARKAN TINGKAT KEPARAHAN PERDARAHAN

DERAJAT
KLAS I KLAS II KLAS III KLAS IV
SYOK
Kehilangan < 750 750 - 1500 – > 2000
darah/cc 1500 2000
Darah < 15 15 - 30 30 - 40 > 40
hilang/%EBV
Nadi < 100 > 100 > 120 > 140
Tekanan darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi Normal; Menurun Menurun Menurun
meningkat
Respirasi 14 - 20 20 - 30 30 - 40 > 35
Produksi urine > 30 20 - 30 5 - 15 Tidak ada
(cc/jam)
Kesadaran Agak gelisah Gelisah Gelisah dan Bingng dan
bingung latergi
Cairan Kristaloid Kristaloid Kristaloid + Kristaloid +
pengganti darah darah
(Rumus 3 : 1)

a. Perdarahan derajat I (kehilangan darah 0-15% atau < 750 cc)


• Tidak ada komplikasi, hanya terjadi takikardi minimal.
• Biasanya tidak terjadi perubahan tekanan darah, tekanan nadi, dan frekuensi
pernapasan.
• Perlambatan pengisian kapiler lebih dari 3 detik sesuai untuk kehilangan darah
sekitar 10%
b. Perdarahan derajat II (kehilangan darah 15-30% atau 750-1500 cc)
• Gejala klinisnya, takikardi (frekuensi nadi>100 kali permenit), takipnea, penurunan
tekanan nadi, kulit teraba dingin, perlambatan pengisian kapiler, dan anxietas
ringan.
• Penurunan tekanan nadi adalah akibat peningkatan kadar katekolamin, yang
menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh darah perifer dan selanjutnya
meningkatkan tekanan darah diastolik.
c. Perdarahan derajat III (kehilangan darah 30-40% atau 1500-2000 cc)
• Pasien biasanya mengalami takipnea dan takikardi, penurunan tekanan darah
sistolik, oligouria, dan perubahan status mental yang signifikan, seperti
kebingungan atau agitasi.
• Pada pasien tanpa cedera yang lain atau kehilangan cairan, 30-40% adalah jumlah
kehilangan darah yang paling kecil yang menyebabkan penurunan tekanan darah
sistolik.
• Sebagian besar pasien ini membutuhkan transfusi darah, tetapi keputusan untuk
pemberian darah seharusnya berdasarkan pada respon awal terhadap cairan.
d. Perdarahan derajat IV (kehilangan darah >40% atau >2000 cc)
• Gejala-gejalanya berupa takikardi, penurunan tekanan darah sistolik, tekanan nadi
menyempit (atau tekanan diastolik tidak terukur), berkurangnya (tidak ada) urine
yang keluar, penurunan status mental (kehilangan kesadaran), dan kulit dingin dan
pucat.

KLASIFIKASI SYOK BERDASARKAN TINGKAT DEHIDRASI

Simptom Dehidrasi Ringan Dehidrasi Sedang Dehidrasi Berat


% kehilangan air 3-5 % dari BB 6-9 % dari BB >10 % dari BB
Kesadaran Baik Normal, lelah Apatis, letargi, tidak
sadar
Denyut jantung Normal Normal-meningkat Takikardi, bradikardi
pada kasus berat
Kekuatan nadi Normal Normal-melemah Lemah, kecil, tidak
teraba
Pernafasan Normal Normal-cepat Dalam
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Turgor kulit CRT < 2 detik CRT 2-4 detik CRT > 2 detik
Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Output urine Normal Berkurang Minimal
Ekstremitas Hangat Dingin Dingin, sianosis
IDENTIFIKASI LUAS LUKA BAKAR

KOMPLIKASI

a. Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)


b. Nekrosis tubuler akut
c. Koagulasi intravaskuler diseminata (DIC)
d. Hipoksia serebral
e. Kematian

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosis syok (Kowalak, 2011) yaitu:

a. Nilai hematokrit dapat menurun pada perdarahan atau meninggi pada jenis syok lain
yang disebabkan hypovolemia.
b. Pemeriksaan koagulasi dapat mendeteksi koagulopati akibat DIC (Diseminata
Intravascular Coagulation).
c. Pemeriksaan laboratorium dapat mengungkapkan kenaikan jumlah sel darah putih dan
laju endap darah yang disebabkan cedera dan inflamasi, kenaikan kadar ureum dan
kreatinin akibat penurunan perfusi renal, peningkatan serum laktat yang terjadi sekunder
karena metabolism anaerob, kenaikan kadar glukosa serum pada stadium dini syok
karena hati melepas cadangan glikogen sebagai respon terhadap stimulasi saraf simpatik.
d. Analisis gas darah arteri dapat mengungkapkan alkalosis respiratorik pada syok dalam
stadium dini yang berkaitan dengan takipnea, asidosis respiratorik pada stadium
selanjutnya yang berkaitan dengan depresi pernapasan, dan asidosis metabolik pada
stadium selanjutnya yang terjadi sekunder karena metabolism anaerob.

PENANGANAN BESERTA ALGORITMA

Penatalaksanaan syok hipovolemik tidak terlepas dari penerapan algoritma ABC, dimana
perawat gawat darurat berperan untuk menangani gangguan airway, breathing dan circulation
segera. Masalah paling mendasar pada syok hipovolemik adalah gangguan sirkulasi yang
akan menyebabkan kegagalan perfusi darah ke jaringan, sehingga metabolisme sel akan
terganggu. Dalam keadaan volume intravaskuler yang berkurang, tubuh berusaha untuk
mempertahankan perfusi organ-organ vital (jantung dan otak) dengan mengorbankan perfusi
organ lain seperti ginjal, hati, dan kulit.

Pemberian resusitasi cairan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan cepat diharapkan dapat
meningkatkan status sirkulasi. Dikarenakan terapi cairan dapat meningkatkan aliran
pembuluh darah dan meningkatkan cardiac output yang merupakan bagian terpenting dalam
penanganan syok.

Penatalaksanaan Syok Hipovolemik

a. Memastikan airway dan breathing clear, lalu lanjutkan ke pemeriksaan circulation


b. Melakukan posisi syok dengan memberi sanggahan pada kaki 45° atau setinggi 30 cm
dengan tujuan agar 300-500 cc darah dari kaki dapat pindah ke sirkulasi sentral. Saat
akan dipindahkan ke dalam ambulans usahakan posisi kaki tetap sama
c. Menghentikan perdarahan atau cairan yang keluar, bisa dengan cara melakukan bebat
tekan.
d. Pemasangan IV line/double IV line (IV cath no. 14-16) dengan infus/transfusion set serta
lakukan pengambilan sampel darah kurang lebih 5 cc untuk diujikan laboratorium
mengetahui hemoglobin klien. Pemasangan infus bisa di route IV/intra osseous di tibia.
Cairan kristaloid biasanya yang digunakan yaitu NaCl 0,9%, ringer laktat, ringer asetat.
e. Pemberian Terapi Cairan
Terapi cairan adalah salah satu terapi yang sangat menentukan keberhasilan
penanganan pasien kritis. Perhitungan pemberian cairan infus yaitu 20-40 cc/kgBB
dengan pemberian cepat pada orang dewasa. Pada orang dewasa, loading cairan selama
10-20 menit, sedangkan pada anak-anak selama 30-60 menit.
Penatalaksanaan terapi cairan karena perdarahan. Terdapat 2 versi penangan yaitu :
A) High Volume Fluid Resuscitation (3 : 1)
Maksud dari 3:1 yaitu 1 cc darah yang hilang sebanding dengan penggantian cairan
kristaloid 3 cc. Langkah-langkahnya :
1) Tentukan Estimated Blood Volume (EBV)
EBV = 70 ml x BB (kg)
2) Tentukan kelas syok berdasarkan tanda/gejala untuk mengetahui persentase
kehilangan darah
3) Tentukan Estimated Blood Loss (EBL)
EBL = Persentase x EBV
Resusitasi yang diberikan : 2-4 x EBL atau 3 x EBL
4) Lanjutkan pemberian maintenance yaitu 40 cc/BB
B) Terapi cairan pada perdarahan dengan permissive hypotensive
1) Lakukan pemberian cairan infus secara cepat jika nadi radialis tidak teraba.
Pemberian awal 500 – 1000 cc hingga nadi radialis teraba atau TDS > 80 mmHg
2) Lanjutkan pemberian cairan infus maintenance yaitu 40 cc/kgBB
Penatalaksanaan terapi cairan karena dehidrasi yaitu :
1) Nilai status rehidrasi, banyak cairan yang diberikan yaitu
D = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc
2) Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (pada dewasa 40 cc/kgBB/24 jam)
3) Pemberian cairan menurut Guillot :
 6 jam I = ½ D + ½ M
 18 jam II = ½ D + ½ M

Contoh kasus :

Pria usia 20 tahun dengan BB 50 kg mengalami GEA + VOMITING, pasien


mengeluh agak lemas, vital sign masih dalam batas normal (dehidrasi sedang).
Berapa cairan yang diperlukan ?

Jawab :
Defisit (D) = 8% x 50 x 1000 = 4000 ml

Maintenance (M) = 40 x 50 = 2000 ml

Sehingga untuk 6 jam I dilakukan pemberian cairan sebanyak 3000 ml, dilanjut 18
jam II diberikan cairan sebanyak 3000 ml.

Penatalaksanaan terapi cairan karena luka bakar yaitu :

Luas luka bakar x BB x 4

Rumus diatas dicetuskan oleh Baxter. Cairan diberikan setengah terlebih dahulu dalam 8
jam pertama, setelah itu dilanjutkan setengah cairan lagi pada 16 jam berikutnya.
Contoh kasus :
Pria usia 35 tahun dengan BB 50 kg terkena luka bakar di daerah lengan kiri depan dan
belakang, dada dan perut pada jam 03.00 WIB. Sampai di rumah sakit pada pukul 06.00
WIB. Bagaimana dan berapa cairan yang diberikan ?
Jawab :
Luas luka bakar = 4,5 + 4,5 + 9 + 9 = 27%
Jumlah cairan yang dibutuhkan : 27 x 50 x 4 = 5400 ml
Cara pemberian :
 8 jam pertama (03.00 – 11.00) diberikan cairan infus 2700 ml
 16 jam berikutnya diberikan cairan infus 2700 ml

f. Terdapat beberapa tambahan dalam pemberian cairan, yaitu :


1) Jangan memberikan minum kepada penderita yang tidak sadar, mual-mual, muntah,
atau kejang karena bahaya terjadinya aspirasi cairan ke dalam paru.
2) Penderita hanya boleh minum bila penderita sadar betul dan tidak ada indikasi
kontra. Pemberian minum harus dihentikan bila penderita menjadi mual atau
muntah.
3) Buat pasien merasa nyaman dan hangat, hal ini dilakulan agar mencegah hipotermia
pada pasien
4) Bila ditemukan adanya cedera pada kepala, leher atau punggung jangan
memindahkan posisinya
5) Apabila tampak adanya perdarahan eksternal maka segera lakukan penekanan pada
lokasi perdarahan dengan menggunakan kain atau handuk, hal ini dilakukan untuk
meminimalisir volume darah yang terbuang. Jika dirasa perlu kain atau handuk dapat
diikatkan
6) Jika ditemukan benda tajam masih menancap pada tubuh penderita jangan dicabut
hal ini ditakutkan akan menyebabkan perdarahan hebat
7) Jika adanya cedera pada kepala atau leher saat akana dinaikan menuju ambulan
berulah penyangga khusus terlebih dahulu.

RESPON RESUSITASI CAIRAN

Minimal or No
Rapid Response Transient Response
Response
Vital signs Return to normal Transient Remain abnormal
improvement,
recurrence of
decreased blood
pressure and
increased heart rate
Estimated blood Minimal (10-20%) Moderate and Secere (>40%)
loss ongoing (20-40%)
Need for more Low Low to moderate Moderate as a bridge
crystalloid to transfusion
Need for blood Low Moderate to high Immediate
Blood preparation Type and crossmatch Type-specific Emergency blood
release
Need for operative Possibly Likely Highly likely
intervention
Early presence of Yes Yes Yes
surgeon

DAFPUS :

https://repository.poltekkes-smg.ac.id//index.php?p=show_detail&id=18062
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/
05cb00122059443e6648bef1374d500f.pdf

http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/7693/3/BAB%20II%20Tinjauan%20pustaka.pdf

file:///C:/Users/intel/Downloads/downacademia.com_dehidrasi-dan-syok.pdf

https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/
4631b9b8c3f8152608a46238e4a719dc.pdf

Antara, I Wayan Susa. 2021. Analisa Asuhan Keperawatan dengan Terapi Posisi Passive Leg
Raising (PLR) dalam Meningkatkan Tekanan Darah pada Tn.S yang Mengalami Syok
Hipovolemik di Ruang IGD RSUD Sanjiwani Gianyar Tahun 2021. Diploma Thesis,
Poltekkes Kemenkes Denpasar.

Sari, Dina. 2019. Pengelolaan Pasien Syok Hipovolemik dengan Pemberian Resusitasi Cairan
di IGD RSUD Tugurejo Semarang. Skripsi. Program Studi Profesi Ners. Poltekkes Kemenkes
Semarang.
Ganesha, I, Ketut, I. 2016. Hypovolemic Shock. Faculty of Medicine. Udayana University.

Leksana, Ery. 2015. Dehidrasi dan Syok. CDK, 42 (5), 391-394.

Khrisna, I. 2017. Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Fakultas Kedokteran. Universitas


Udayana.

Anda mungkin juga menyukai