Cairan Tubuh dan Terapi Intravena
Cairan Tubuh dan Terapi Intravena
Air merupakan komponen terbesar dari tubuh manusia. Persentase cairan tubuh
tergantung pada usia, jenis kelamin, dan derajat status gizi seseorang. Seiring dengan
pertumbuhan seseorang, persentase jumlah cairan terhadap berat badan menurun. Fungsi
dari cairan antara lain :
Seluruh cairan tubuh tersebut secara garis besar terbagi ke dalam 2 kompartemen, yaitu
1. Cairan intraselular
Pada orang dewasa, sekitar 2/3 dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular.
Sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan
intraselular.
2. Cairan ekstraselular
Jumlah relatif cairan ekstraselular menurun seiring dengan bertambahnya usia,
yaitu sampai sekitar sepertiga dari volume total pada dewasa. Cairan ekstraselular
terbagi menjadi :
- Cairan interstitial, yaitu cairan yang mengelilingi sel dan termasuk cairan yang
terkandung diantara rongga tubuh (transseluler) seperti serebrospinal,
perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan.
- Cairan intravascular, yaitu cairan yang terkandung dalam pembuluh darah,
dalam hal ini plasma darah.
Asupan air dan elektrolit berasal dari minuman dan makanan yang dikonsumsi sehari-
hari serta dari hasil oksidasi dalam tubuh. Air dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk urin,
tinja, dan insensible water loss atau pengeluaran yang tidak dirasa, seperti keringat dan
pernapasan. Gangguan keseimbangan/homeostasis air dan elektrolit harus segera diterapi
untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit tersebut, dalam hal ini dilakukan
terapi cairan. Factor-faktor yang memengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit antara
lain umur, suhu lingkungan, diet, stress, dan penyakit.
a) Isotonis
Ketika kristaloid berisi sama dengan jumlah elektrolit plasma, ia memiliki
konsentrasi yang sama dan disebut sebagai “isotonik” (iso, sama; tonik,
konsentrasi). Ketika memberikan kristaloid isotonis, tidak terjadi perpindahan
yang signifikan antara cairan di dalam intravascular dan sel. Dengan demikian,
hampir tidak ada atau minimal osmosis. Keuntungan dari cairan kristaloid
adalah murah, mudah didapat, mudah penyimpanannya, bebas reaksi, dapat
segera dipakai untuk mengatasi deficit volume sirkulasi, menurunkan
viskositas darah, dan dapat digunakan sebagai fluid challenge test. Efek
samping yang perlu diperhatikan adalah terjadinya edema perifer dan edema
paru pada jumlah pemberian yang besar. Contoh larutan kristaloid isotonis:
Ringer Laktat, Normal Saline (NaCl 0.9%), dan Dextrose 5% in ¼NS.
(Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, 2015)2)
b) Hipertonis
Jika kristaloid berisi lebih elektrolit dari plasma tubuh, itu lebih terkonsentrasi
dan disebut sebagai “hipertonik” (hiper, tinggi, tonik, konsentrasi).
Administrasi dari kristaloid hipertonik menyebabkan cairan tersebut akan
menarik cairan dari sel ke ruang intravascular. Efek larutan garam hipertonik
lain adalah meningkatkan curah jantung bukan hanya karena perbaikan
preload, tetapi peningkatan curah jantung tersebut mungkin sekunder karena
efek inotropik positif pada miokard dan penurunan afterload sekunder akibat
efek vasodilatasi kapiler viseral. Kedua keadaan ini dapat memperbaiki aliran
darah ke organ-organ vital. Efek samping dari pemberian larutan garam
hipertonik adalah hypernatremia dan hiperkloremia. Contoh larutan kristaloid
hipertonis: Dextrose 5% dalam ½ Normal Saline, Dextrose 5% dalam Normal
Saline, Saline 3%, Saline 5%, dan Dextrose 5% dalam RL.(Hans, 2012)
c) Hipotonis
Ketika kristaloid mengandung elektrolit lebih sedikit dari plasma dan kurang
terkonsentrasi, disebut sebagai “hipotonik” (hipo, rendah; tonik, konsentrasi).
Ketika cairan hipotonis diberikan, cairan dengan cepat akan berpindah dari
intravascular kesel. Contoh larutan kristaloid hipotonis: Dextrose 5% dalam
air, ½ Normal Saline. (Butterworth JF, Mackey DC, 2013)
2. Cairan Koloid
Cairan koloid mengandung zat-zat yang mempunyai berat molekul tinggi dengan
aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama
dalam ruang intravaskuler. Koloid digunakan untuk resusitasi cairan pada pasien
dengan defisit cairan berat seperti pada syok hipovolemik/hermorhagik sebelum
diberikan transfusi darah, pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan
kehilangan protein jumlah besar (misalnya pada luka bakar). Cairan koloid
merupakan turunan dari plasma protein dan sintetik yang dimana koloid memiliki
sifat yaitu plasma expander yang merupakan suatu sediaan larutan steril yang
digunakan untuk menggantikan plasma darah yang hilang akibat perdarahan, luka
bakar, operasi. Kerugian dari plasma expander’ ini yaitu harganya yang mahal dan
dapat menimbulkan reaksi anafilaktik (walau jarang) dan dapat menyebabkan
gangguan pada cross match. (Stoelting RK, Rathmell JP, Flood P, 2015)
B. SYOK HIPOVOLEMIK
DEFINISI
Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolic
dengan ditandai kegagalan system sirkulasi untuk mempertahankan perfusi dan oksigenasi
yang adekuat ke organ-organ vital tubuh akibat gangguan hemostatis tubuh yang serius
(Hardisman, 2014)
Hypovolemic shock atau syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat akibat hilangnya
darah atau cairan tubuh dalam jumlah besar, sehingga jantung tidak bisa memompa cukup
darah ke seluruh tubuh. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan hebat (hemoragik), trauma
yang menyebabkan perpindahan cairan (ekstravasasi) ke ruang tubuh non fungsional, dan
dehidrasi berat oleh berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat. Kasus-kasus syok
hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh perdarahan sehingga syok
hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. Perdarahan hebat dapat disebabkan oleh
berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh atau fraktur yang yang disertai dengan luka
ataupun luka langsung pada pembuluh arteri utama.
EPIDEMIOLOGI
Angka insidensi syok hipovolemik secara global termasuk tinggi sekitar 50.000 kasus
pertahun dengan syok hipovolemik akibat perdarahan merupakan jenis syok yang paling
banyak ditangani di Intensive care unit sekitar 10.000 kasus per tahun.
Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional tahun 2018 di Indonesia angka
kematian penderita hypovolemic shock akibat Demam Berdarah dengan ranjatan (dengue
shock syndrome) yang disertai dengan perdarahan yaitu berkisar 56 sampai 66 jiwa.
Menurut WHO, penyebab syok hipovolemik tertinggi pada anak-anak di negara berkembang
adalah diare. Pada tahun 2018 angka diare pada balita di Indonesia mencapai 11%, jauh
meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebanyak 2,4%.
ETIOLOGI
Syok hipovolemik merupakan syok yang terjadi akaibat berkurangnya volume plasma di
intravaskuler. Syok ini dapat terjadi akibat perdarahan hebat (hemoragik), trauma yang
menyebabkan perpindahan cairan (ekstravasasi) ke ruang tubuh non fungsional, dan dehidrasi
berat (non hemoragik) oleh berbagai sebab seperti luka bakar dan diare berat sehingga
menyebabkan pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel tidak adekuat.
Kasus-kasus syok hipovolemik yang paling sering ditemukan disebabkan oleh perdarahan
sehingga syok hipovolemik dikenal juga dengan syok hemoragik. Perdarahan hebat dapat
disebabkan oleh berbagai trauma hebat pada organ-organ tubuh atau fraktur yang yang
disertai dengan luka ataupun luka langsung pada pembuluh arteri utama.
Dehidrasi adalah keadaan tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi dapat disebabkan karena
kehilangan cairan akibat faktor patologis, seperti diare dan perdarahan. Dehidrasi juga dapat
terjadi karena peningkatan kebutuhan cairan tubuh, seperti demam, suhu lingkungan yang
tinggi, dan aktivitas ekstrim.
PATOFISIOLOGI
Secara klinis, syok hemoragik terjadi karena adanya perdarahan pada pembuluh darah besar
seperti perdarahan gastrointestinal, aneurisma aorta, atonia uteri, perdarahan pada telinga,
hidung, tenggorokan. Syok terjadi karena adanya penurunan secara drastis volume darah di
sirkulasi darah, kehilangan sel darah merah secara massif sehingga meningkatkan hipoksia
pada jaringan.
Syok hemoragik traumatic berbeda dengan syok hemoragik dikarenakan adanya tambahan
cedera pada jaringan lunak yang memperparah terjadinya syok. Syok ini biasanya terjadi
karena ada cedera seperti kecelakaan dan jatuh dari ketinggian. Perdarahan difus, hipotermia
(< 340C) dan asidosis merupakan tanda yang mengancam jiwa (Gänsslen et al., 2016).
Cedera pada jaringan lunak menyebabkan peradangan post akut, sehingga semakin
menguatkan proses dari terjadinya syok. Pada tingkat sirkulasi mikro, interaksi leukosit-
endotel dan penghancuran proteoglikan dan glikosaminoglycan yang terikat dengan
membrane endotel menyebabkan adanya disfungsi mikro vascular dan terjadi sindrom
kebocoran kapiler (Standl et al., 2018). Di intraseluler tingkat ketidakseimbangan metabolise
terjadi karena kerusakan mitokondria dan pengaruh negatif pada sistem vasomotor (Standl et
al., 2018).
FASE SYOK
- Cardiac output (CO), yaitu volume darah yang dipompa jantung dalam 1 menit
- Stroke volume (SV), adalah volume darah yang dipompa jantung tiap 1 kali pompaan
- Heart rate (HR), yaitu denyut jantung per menit
CO = HR x SV
Contoh :
CO = HR x SV 5000 = 60 x 85
Bila SV turun, maka HR harus ditingkatkan agar capaian CO yang didapatkan sama
(fase kompensasi)
CO = HR x SV 5000 = 100 x 50
HR hanya mampu berkompensasi naik hingga 3x lipat. SV hanya bisa naik 20-30%
(fase progresif)
Bila tidak ditangani dengan baik maka akan masuk ke fase irreversible ditandai dengan
kerusakan sel yang luas dan anoksia jaringan. Jika di jantung dapat mengakibatkan
cardiac arrest
DERAJAT
KLAS I KLAS II KLAS III KLAS IV
SYOK
Kehilangan < 750 750 - 1500 – > 2000
darah/cc 1500 2000
Darah < 15 15 - 30 30 - 40 > 40
hilang/%EBV
Nadi < 100 > 100 > 120 > 140
Tekanan darah Normal Normal Menurun Menurun
Tekanan nadi Normal; Menurun Menurun Menurun
meningkat
Respirasi 14 - 20 20 - 30 30 - 40 > 35
Produksi urine > 30 20 - 30 5 - 15 Tidak ada
(cc/jam)
Kesadaran Agak gelisah Gelisah Gelisah dan Bingng dan
bingung latergi
Cairan Kristaloid Kristaloid Kristaloid + Kristaloid +
pengganti darah darah
(Rumus 3 : 1)
KOMPLIKASI
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan yang dapat membantu menegakkan diagnosis syok (Kowalak, 2011) yaitu:
a. Nilai hematokrit dapat menurun pada perdarahan atau meninggi pada jenis syok lain
yang disebabkan hypovolemia.
b. Pemeriksaan koagulasi dapat mendeteksi koagulopati akibat DIC (Diseminata
Intravascular Coagulation).
c. Pemeriksaan laboratorium dapat mengungkapkan kenaikan jumlah sel darah putih dan
laju endap darah yang disebabkan cedera dan inflamasi, kenaikan kadar ureum dan
kreatinin akibat penurunan perfusi renal, peningkatan serum laktat yang terjadi sekunder
karena metabolism anaerob, kenaikan kadar glukosa serum pada stadium dini syok
karena hati melepas cadangan glikogen sebagai respon terhadap stimulasi saraf simpatik.
d. Analisis gas darah arteri dapat mengungkapkan alkalosis respiratorik pada syok dalam
stadium dini yang berkaitan dengan takipnea, asidosis respiratorik pada stadium
selanjutnya yang berkaitan dengan depresi pernapasan, dan asidosis metabolik pada
stadium selanjutnya yang terjadi sekunder karena metabolism anaerob.
Penatalaksanaan syok hipovolemik tidak terlepas dari penerapan algoritma ABC, dimana
perawat gawat darurat berperan untuk menangani gangguan airway, breathing dan circulation
segera. Masalah paling mendasar pada syok hipovolemik adalah gangguan sirkulasi yang
akan menyebabkan kegagalan perfusi darah ke jaringan, sehingga metabolisme sel akan
terganggu. Dalam keadaan volume intravaskuler yang berkurang, tubuh berusaha untuk
mempertahankan perfusi organ-organ vital (jantung dan otak) dengan mengorbankan perfusi
organ lain seperti ginjal, hati, dan kulit.
Pemberian resusitasi cairan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan cepat diharapkan dapat
meningkatkan status sirkulasi. Dikarenakan terapi cairan dapat meningkatkan aliran
pembuluh darah dan meningkatkan cardiac output yang merupakan bagian terpenting dalam
penanganan syok.
Contoh kasus :
Jawab :
Defisit (D) = 8% x 50 x 1000 = 4000 ml
Sehingga untuk 6 jam I dilakukan pemberian cairan sebanyak 3000 ml, dilanjut 18
jam II diberikan cairan sebanyak 3000 ml.
Rumus diatas dicetuskan oleh Baxter. Cairan diberikan setengah terlebih dahulu dalam 8
jam pertama, setelah itu dilanjutkan setengah cairan lagi pada 16 jam berikutnya.
Contoh kasus :
Pria usia 35 tahun dengan BB 50 kg terkena luka bakar di daerah lengan kiri depan dan
belakang, dada dan perut pada jam 03.00 WIB. Sampai di rumah sakit pada pukul 06.00
WIB. Bagaimana dan berapa cairan yang diberikan ?
Jawab :
Luas luka bakar = 4,5 + 4,5 + 9 + 9 = 27%
Jumlah cairan yang dibutuhkan : 27 x 50 x 4 = 5400 ml
Cara pemberian :
8 jam pertama (03.00 – 11.00) diberikan cairan infus 2700 ml
16 jam berikutnya diberikan cairan infus 2700 ml
Minimal or No
Rapid Response Transient Response
Response
Vital signs Return to normal Transient Remain abnormal
improvement,
recurrence of
decreased blood
pressure and
increased heart rate
Estimated blood Minimal (10-20%) Moderate and Secere (>40%)
loss ongoing (20-40%)
Need for more Low Low to moderate Moderate as a bridge
crystalloid to transfusion
Need for blood Low Moderate to high Immediate
Blood preparation Type and crossmatch Type-specific Emergency blood
release
Need for operative Possibly Likely Highly likely
intervention
Early presence of Yes Yes Yes
surgeon
DAFPUS :
https://repository.poltekkes-smg.ac.id//index.php?p=show_detail&id=18062
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/
05cb00122059443e6648bef1374d500f.pdf
http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/7693/3/BAB%20II%20Tinjauan%20pustaka.pdf
file:///C:/Users/intel/Downloads/downacademia.com_dehidrasi-dan-syok.pdf
https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/
4631b9b8c3f8152608a46238e4a719dc.pdf
Antara, I Wayan Susa. 2021. Analisa Asuhan Keperawatan dengan Terapi Posisi Passive Leg
Raising (PLR) dalam Meningkatkan Tekanan Darah pada Tn.S yang Mengalami Syok
Hipovolemik di Ruang IGD RSUD Sanjiwani Gianyar Tahun 2021. Diploma Thesis,
Poltekkes Kemenkes Denpasar.
Sari, Dina. 2019. Pengelolaan Pasien Syok Hipovolemik dengan Pemberian Resusitasi Cairan
di IGD RSUD Tugurejo Semarang. Skripsi. Program Studi Profesi Ners. Poltekkes Kemenkes
Semarang.
Ganesha, I, Ketut, I. 2016. Hypovolemic Shock. Faculty of Medicine. Udayana University.