0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan7 halaman

Model Pengurangan Pencemaran Udara

Model matematika dibentuk untuk menganalisis polusi udara di Jalan Williem Iskandar yang disebabkan oleh angkutan kota. Model ini mempertimbangkan variabel konsentrasi oksigen, karbon dioksida, dan karbon monoksida serta jumlah kendaraan dan pohon. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat polusi udara dapat dikurangi dengan membatasi jumlah angkutan kota menjadi 62 unit setiap 30 menit.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
172 tayangan7 halaman

Model Pengurangan Pencemaran Udara

Model matematika dibentuk untuk menganalisis polusi udara di Jalan Williem Iskandar yang disebabkan oleh angkutan kota. Model ini mempertimbangkan variabel konsentrasi oksigen, karbon dioksida, dan karbon monoksida serta jumlah kendaraan dan pohon. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat polusi udara dapat dikurangi dengan membatasi jumlah angkutan kota menjadi 62 unit setiap 30 menit.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Analisis Polusi Udara di Jalan Williem Iskandar yang Disebabkan

Oleh Angkutan Kota (Angkot)

Dandi Rifa’i Tarigan1, Daniel Sianturi2, Desi Priyanti Situmorang3, Horas Tua
Nopriadi Tampubolon4, Natanael Panggabean5 dan Naomi Risti Pardede6
Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Medan

E-mail: danditarigan06@gmail.com[1] danielardasianturi2@gmail.com[2]


desipriyanti23@gmail.com[3] horastampubolon1811@gmail.com[4]
nathanaelpanggabean24@gmail.com[5] naomipardede0@gmail.com[6]

Abstract
Air pollution is a change in the composition of substances in the air from normal
conditions. An air is said to be polluted if a substance with a certain amount in the air
for a long time exceeds the safe limit. The substance that most influences the occurrence
of air pollution is carbon monoxide produced by vehicles. The purpose of this study is to
form a mathematical model, analyze the mathematical model that has been obtained,
and interpret the results of the analysis of the mathematical model. This research is a
basic research, which starts from making variables, parameters, and assumptions. The
results of the analysis show that the level of air pollution caused by carbon monoxide on
Jalan Willem Iskandar is caused by city transportation which is still not controlled by
the number of public transportation vehicles passing by. And for tackling air pollution,
this can be done by means of the number of city transportation that passes, which must
be 62 public transportation every 30 minutes.
Keywords: Mathematical Model, Air Pollution, Carbon Monoxide.

Abstrak
Polusi udara merupakan perubahan susunan zat di udara dari keadaan normal. Suatu
udara dikatakan tercemar apabila zat dengan jumlah tertentu yang berada diudara dalam
jangka waktu yang lama melebihi batas amannya. Zat yang paling mempengaruhi
terjadinya pencemaran udara adalah karbon monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan.
Tujuan dari penelitian ini adalah membentuk model matematika, menganalisis model
matematika yang telah diperoleh, dan menginterpretasikan hasil analisis model
matematika tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian dasar, yang dimulai dari
membuat variabel, parameter, dan asumsi. Hasil analisis diperoleh tingkat polusi udara
yang disebabkan karbon monoksida di jalan williem iskandar yang disebabkan oleh
angkutan kota masih tidak terkontrol dengan jumlah kendaraan angkot yang berlalu
lalang. Dan untuk penanggulangan polusi udara dapat dilakukan dengan cara jumlah
angkutan kota yang lewat haruslah 62 angkot setiap 30 menitnya.

Kata kunci: Model Matematika, Polusi Udara, Karbon Monoksida.

1
PENDAHULUAN
Polusi udara merupakan masalah lingkungan yang sangat serius di banyak kota
besar di seluruh dunia, termasuk di Kota Medan. Pada musim kemarau, polusi udara di
kota ini seringkali semakin parah akibat kurangnya hujan dan peningkatan aktivitas
manusia [1]. Polusi udara dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia dan
lingkungan serta dapat memicu berbagai masalah kesehatan seperti penyakit
pernapasan, iritasi mata, dan bahkan kematian.
Dalam rangka untuk mengatasi masalah polusi udara pada musim kemarau di
Kota Medan, perlu dilakukan penanggulangan yang efektif dan efisien. Salah satu
pendekatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model matematika [2].
Model matematika dapat membantu dalam mengidentifikasi sumber polusi dan
menentukan strategi yang tepat untuk mengurangi emisi polutan. Selain itu, model
matematika juga dapat membantu dalam memprediksi tingkat polusi udara pada waktu
yang akan datang.
Dalam artikel ini, akan dibahas mengenai penggunaan model matematika dalam
penanggulangan polusi udara pada musim kemarau di Kota Medan. Artikel ini akan
membahas beberapa model matematika yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi
sumber polusi, memprediksi tingkat polusi udara, dan merancang strategi
penanggulangan yang efektif.
Tujuan dari penelitian ini adalah membentuk model matematika penanggulangan
pencemaran udara, menganalisis model matematika yang telah dibentuk, dan
menginterpretasikan hasil analisis yang telah diperoleh dari model matematika.

METODE

Penelitian ini adalah penelitian teoritis dengan menggunakan metode deskriptif


dan berlandaskan pada studi kepustakaan. Fokus penelitian adalah pada masalah
penanggulangan pencemaran udara.
Langkah-langkah yang dilakukan meliputi :
1. Mengidentifikasi masalah sesungguhnya yang akan diangkatkan dalam penelitian
yaitu mengenai masalah penanggulangan pencemaran udara,
2. Mengumpulkan teori yang relevan
3. Menentukan metode menggunakan model matematika,
4. Membentuk model dengan asumsi, variabel, dan parameter,
5. Menganalisis model dengan menentukan titik kesetimbangan dan kestabilannya,
6. Menginterpretasi hasil analisis dari model yang diperoleh.

Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi dengan subjek kendaraannya hanya
angkot,tidak menghitung pengaruh karbon dioksida yang dihasilkan oleh kendaraan

2
angkot,dan tempat yang kami teliti hanya berjarak 950 meter yaitu dari Jalan Selamat
Ketaren hingga gerbang IV Unimed

HASIL DAN PEMBAHASAN

Model Matematika

Model matematika penanggulangan pencemaran udara di pengaruhi oleh jumlah


kendaraan dan pohon. Adapun variabel yang digunakan dalam model yaitu: X :
kosentrasi oksigen (ppm), Y : kosentrasi karbon dioksida (ppm), Z : kosentrasi karbon
monoksida (ppm), N : jumlah kendaraan (unit), P : jumlah pohon (batang). Dengan
parameter yaitu:a :penambahan oksigen dari proses fotosintesis (ppm/batang/tahun), b :
pengurangan karbon dioksida pada saat proses fotosintesis (ppm/pohon/tahun), c :
pengurangan karbon monoksida menjadi karbon dioksida pada saat proses oksidasi
hidroksil (ppm/tahun), d :penambahan karbon monoksida dari proses pembakaran oleh
kendaraan bermotor (ppm/unit/tahun), j :pengurangan oksigen pada saat pembakaran
oleh kendaraan bermotor (ppm/unit/tahun), f :pengurangan oksigen pada saat pernafasan
makhluk hidup (ppm/tahun), g :penambahan karbon dioksida dari proses pernafasan
makhluk hidup (ppm/tahun), h :penambahan karbon dioksida dari proses oksidasi
hidroksil (ppm/tahun), k :pengurangan oksigen pada saat oksidasi (ppm/tahun).
Penambahan oksigen terjadi karena proses fotosintesis pohon yang sebanding
dengan banyaknya pohon di daerah penelitian tersebut (aPy ),kosentrasi oksigen
berkurang dengan adanya pengikatan oksigen yang terjadi pada saat proses pembakaran
bahan bakar oleh kendaraan bermotor yang sebanding dengan banyaknya kendaraan
yang melintasi daerah penelitian( jN )berkurang karena adanya makhluk hidup yang
memerlukan oksigen untuk kelangsungan hidupnya yaitu bernafas (𝑓). kosentrasi
oksigen juga berkurang karena terjadinya oksidasi(k ).
Laju perubahan konsentrasi karbon dioksida bertambah karena karbon dioksida
yang dihasilkan oleh manusia pada saat proses pernafasan (g), konsentrasi karbon
dioksida bertambah juga disebabkan proses oksidasi gas karbon monoksida dengan gas
oksigen di udara(hxz ), serta berkurang karena pengikatan karbon dioksida oleh pohon
pada saat proses fotosintesis(bP). Sedangkan laju perubahan jumlah konsentrasi karbon
monoksida bertambah karena pembakaran kendaraan yang tidak sempurna (dNx ),
namun berkurang karena penguraian karbon monoksida saat proses oksidasi(cxz ).

Diperoleh model matematika penanggulangan pencemaran udara yaitu:


dx
=αPy− jN −f −kxz
dt
dy
=g+hxz−bP
dt

3
dz
=dNx−cxz
dt

Analisis Model Matematika Penanggulangan Pencemaran Udara

1) Titik Tetap Model.


Analisis titik tetap pada sistem persamaan sering digunakan untuk menentukan solusi
yang tidak berubah terhadap waktu. Titik tetap model dapat ditentukan ketika
dx dy dz
=0 , =0 dan =0.
dt dt dt

2) Uji Kestabilan Titik Tetap Model Matematika Penanggulangan Pencemaran


Udara.
Matriks Jacobi sistem persamaan model matematika penanggulangan pencemaran udara
yaitu:

( )
df1 df1 df1
dx dy dz
df2 df2 df2
J ( f ( x ) )=
dx dy dz
df3 df3 df3
dx dy dz
Sebelum mendapatkan matriks Jacobi, maka terlebih dahulu dicari entri-entri dari
matriks tersebut.
f 1=aPy− jN −f −kxz
f 2 ( x , y , z )=g+hxz −bP
f 3 ( x , y , z )=dNx−cxz
Selanjutnya akan di bentuk matriks Jacobi untuk sistem persamaan diferensial tersebut
dengan memisalkan:
dx
=f 1
dt
dy
=f 2
dt
dz
=f
dt 3
Sehingga diperoleh matriks jacobinya adalah:

( )
−kz ap −kx
J ( f ( x ) )= hz 0 hx
dN −cz 0 −cx

4
Untuk melihat kestabilan dari titik tetap sistem dapat ditentukan berdasarkan nilai-nilai
eigen dari metrics jacobinya.
Misalkan J (f ( x ) )=J ( A), sehingga diperoleh:

( )
−kz ap −kx
J ( A )= hz 0 hx
dN −cz 0 −cx
Untuk menentukan nilai eigen dari matriks jacobian dapat dilakukan dengan
menyelesaikan persamaan det det ( λI −J ( A) ) =0.

Interpretasi Model Matematika Penanggulangan Pencemaran Udara

Berdasarkan titik tetap yang telah diperoleh, dapat dilihat faktor-faktor yang
telah mempengaruhi pembersihan pencemaran udara yang disebabkan oleh karbon
bPc−gc ¿
monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan yaitu > x , Dari persamaan tersebut
hdN
¿ hdN + g
diperoleh p> x .
bc
¿c
Sehingga agar karbon monoksida berkurang maka N < z . Sehingga untuk
d
karbon monoksida di udara tersebut berkurang maka kita harus mengontrol 𝑁, yaitu
mengontrol jumlah kendaraan ada di suatu wilayah tersebut agas jumlahnya selalu lebih
kecil dari nilai karbon monoksida yang berada diudara yang akan terurai menjadi
karbon dioksida pada saat proses oksidasi hidroksil yang berbanding terbalik dengan
nilai karbon monoksida yang dihasilkan dari pembakaraan kendaraan. Dengan
mengontrol nilai 𝑁 tersebut maka udara tidak akan tercemar dan tidak akan banyak
bahaya yang akan ditimbulkan dari karbon monoksida yang dihasilkan oleh kendaraan
serta udara akan tetap bersih.
¿c
Agar karbon monoksida berkurang maka N < z .
d
Dengan :
 N = jumlah kendaraan
 Z : konsentrasi karbon monoksida (ppm)
 c :pengurangan karbon monoksida menjadi karbon dioksida pada saat proses
oksidasi hidroksil (ppm),
 d :penambahan karbon monoksida dari proses pembakaran oleh kendaraan
bermotor (ppm),

Sehingga dari data yang diperoleh yaitu :


 N = 128 kendaraan dalam 30 menit
 Tabel konsentrasi monoksida

5
Dari pengamatan langsung yang dilakukan diketahui suhu lokasi sebesar 30 ℃
maka Z = 0,92 ppm
 untuk kendaraan angkot termasuk euro 4 yang menetapkan aturan bahwa batas
emisi karbon monoksida (CO) 1 g/km

Sehingga dari lokasi pengamatan yang memiliki panjang jalur 950 meter, maka
diperoleh d=128× 0 , 95 ×1 g=121 , 6 g atau d = 0,1216 ppm
 Proses oksidasi hidroksil yaitu reaksi dimana elektron dipindahkan dari suatu
senyawa ke senyawa lainnya. Dengan proses alami di atmosfer, karbon
monoksida akan teroksidasi menjadi karbon dioksida, sehingga karbon dioksida
pada saat proses oksidasi hidroksil yang berbanding terbalik dengan nilai karbon
1
monoksida yang dihasilkan dari pembakaraan kendaraan yaitu c= =8 ,22
0,1216
ppm

6
¿ 8 ,22
Sehingga dengan melakukan subtitusi diperoleh 128>0 ,92 atau
0,1216
¿ c
128>62 , 19 atau N > z .
d

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan, tingkat polusi
udara yang dihasilkan karbon monoksida di jalan williem iskandar yang disebabkan
¿c
oleh angkutan kota masih tidak terkontrol karena N > z sehingga supaya karbon
d
monoksida di jalan williem iskandar yang disebabkan oleh angkutan kota terkontrol
maka jumlah angkutan kota yang lewat haruslah 62 angkot setiap 30 menitnya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] E. R. Putri and M. Subhan, “Model Matematika Penanggulangan Pencemaran
Udara,” UNP J. Math., vol. 3, no. 2, pp. 40–45, 2018.
[2] E. Wahyuni and M. Subhan, “Model Matematika Penanggulangan Pencemaran
Udara dengan Penanaman Pohon,” UNP J. Math., vol. 3, no. 1, pp. 13–18, 2018,
[Online]. Available:
http://ejournal.unp.ac.id/students/index.php/mat/article/view/4659

Anda mungkin juga menyukai