0 penilaian0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara) 321 tayangan37 halamanSketsa Pembelajaran IPS-Ebook
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda,
ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
SE
Menuju Pembelajaran
Abad 21
PENERRIT ADAESKETSA PEMBELAJARAN IPS:
Menuju Pembelajaran Abad 21
Indramayu © 2023, Penerbit Adab
Penulis: Dr. Sudrajat, M. Pd., Prof. Dr. Saliman, M. Pd., dan Dr. Supardi, M. Pd.
Editor: Nia Duniawati
Desain Cover: Nurul Musyafak
Layouter: Fitri Yanti
Diterbitkan oleh Penerbit Adab
CV. Adanu Abimata
Anggota IKAPI: 354/JBA/2020
JI. Kristal Blok H2 Pabean Udik Indramayu Jawa Barat
Kode Pos 45219 Telp: 081221151025
Sure: penerbitadab@gmail.com
Web: https://Penerbitadab id
Referensi | Non Fiksi | R/D
vi + 190 him, 15,5 x 23cm
No. ISBN: 978-623-162-023-1
Cetakan Pertama, September 2023
PENTRRIT ADAE
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak sebagian atau selurun isi buku ini dalam bentuk
apapun, secara elektronis maupun mekanis termasuk fotokopi, mereka,
atau dengen tekrik perekaman lainya tanpa izin tertuls dari penertit.
All right reservedA. Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan proses aktif seseorang untuk memperoleh
ilmu, pengetahuan, serta apa saja yang ingin diketahui. Kegiatan
belajar merupakan sebuah aktifitas aktif manusia untuk memuaskan
hasrat ingin tahunya tentang misteri yang menyelimuti eksistensi
manusia di muka bumi. Rasa gelisah manusia tentang bagaimanakah
asal usul manusia, bagaimana terbentuknya alam semesta merupakan
hal-hal yang mendorong manusia untuk selalu belajar dari alam.
Alam semestalah yang memaksa manusia untuk memahami dirinya,
alamnya, dan eksistensinya. Dengan memahami alam manusia dapat
menggunakan apa yang disediakan oleh alam untuk kehidupannya.
Dalam pepatah Minangkabau, alam takambang menjadi guru
merupakan adagium yang memerintahkan bangsa Minang untuk
belajar dari alam sehingga dapat memahami, memelihara, merawat,
dan melestarikannya sebagai bagian dari ekosistem.
Belajar merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas hidup
dan kehidupan manusia menjadi lebih baik. Sebagai proses yang
evolusioner belajar mengubah manusia menjadi makhluk modern
dengan segala capaiannya. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar
dapat ditunjukkan dalam bentuk seperti berubah pengetahuan,
pemahaman, sikap atau tingkah laku, keterampilan, kecakapan,
dan kebiasaan. Dalam pandangan Reber (Hermawan, 2014) belajar
meliputi learning as the process of acquiring knowledge, sebuah proses
guna mencari dan memperoleh ilmu pengetahuan. Learning as a
relative permanent change in respons potentiality which occurs because
of reonfeced practice. Belajar sebagai suatu perubahan kemampuan
bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.
Hal ini membuat individu memiliki ilmu dan pengetahuan baru,
sehingga dari ilmu dan pengetahuan tersebut ia mampu bereaksi
dan memberikan respon sebagai hasil dari pengalaman belajarnya di
masa lalu. Reaksi yang diberikan individu relatif konsisten berdasarkan‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 2
penguasaannya terhadap latihan dan penguatan yang telah diterima
pada masa sebelumnya.
Penguasaan atas latihan dan penguatan yang individu terima
secara terus-menerus, lambat laun akan mengkonstruksi mental
individu. Winkle (Hermawan, 2014: 93) memberikan definisi belajar
sebagai suatu proses mental yang mengarah pada suatu penguasaan
pengetahuan, kecakapan, kebiasaan atau sikap yang semuanya
diperoleh, disimpan dan dilaksanakan sehingga menimbulkan tingkah
laku yang progresif dan adaptif. Definisi tersebut menekankan
pengertian belajar pada aspek kognitif daripada aspek tingkah laku,
yakni belajar sebagai upaya memperoleh ilmu pengetahuan, pema-
haman, kecakapan, kebiasaan dan sikap yang disimpan dan dilak-
sanakan sehingga melahirkan perubahan pengetahuan dan tingkah
laku (Hermawan, 2014: 93). Pemahaman dan kecakapan individu yang
diperoleh atas penguasaannya terhadap ilmu pengetahuan mampu
memperkaya kognitif individu bersangkutan dan pada akhirnya akan
mempengaruhi individu dalam bertindak atau bertingkah laku.
Tingkah laku individu berubah seiring dengan bertambahnya
ilmu dan pengetahuan yang ia terima dan ia kuasai. Perubahan yang
diakibatkan oleh perilaku belajar tersebut ditandai dengan ciri-ciri
sebagai berikut: 1) Belajar menyebabkan perubahan yang disadari
dan disengaja; 2) Perubahan yang berkesinambungan; 3) Belajar
hanya terjadi dari pengalaman yang bersifat individual atau meng-
hasilkan perubahan yang fungsional; 4) Belajar merupakan kegiatan
yang bertujuan ke arah yang ingin dicapai atau perubahan yang
bersifat positif; 5) Belajar menghasilkan perubahan yang bersifat
aktif; 6) Belajar menghasilkan perubahan yang menyeluruh; 7)
Belajar menghasilkan perubahan yang bersifat permanen; 8) Belajar
menghasilkan perubahan yang bertujuan dan terarah; 9) Belajar
adalah proses interaksi dan belajar berlangsung dari yang paling
sederhana sampai pada yang kompleks (Arfani, 2016: 86). Dengan
demikian, perubahan yang dihasilkan dari proses belajar merupakan
perubahan yang sengaja diupayakan oleh individu dalam rangkamencapai tujuan tertentu kearah yang lebih baik secara berkelanjutan.
Perubahan yang muncul sebagai hasil dari proses belajar juga terjadi
secara sadar, kontinyu dan fungsional, bersifat positif dan aktif, dan
mencakup seluruh tingkah laku (Hanafy, 2014). Arti belajar juga
berkaitan dengan suatu proses perubahan kepribadian seseorang
dimana perubahaan tersebut dalam bentuk peningkatan kualitas
perilaku, seperti peningkatan pengetahuan, keterampilan, daya pikir,
pemahaman, sikap, dan berbagai kemampuan lainnya.
Keterampilan yang dimiliki setiap individu adalah melalui proses
belajar. Penanaman konsep membutuhkan keterampilan, baik itu
keterampilan jasmani maupun rohani. Dalam hal ini, keterampilan
jasmani adalah kemampuan individu dalam penampilan dan gerakan
yang dapat diamati. Keterampilan ini berhubungan dengan hal
teknis atau pengulangan. Sedangkan keterampilan rohani cenderung
lebih kompleks, karena bersifat abstrak. Keterampilan ini berhu-
bungan dengan penghayatan, cara berpikir, dan kreativitas dalam
menyelesaikan masalah atau membuat suatu konsep.
Menurut Arfani (2016), belajar akan terjadi dan akan diikuti
dengan keadaan memuaskan, apabila diperkuat dengan: 1) Spread
of effect, yaitu emosional yang mengiringi kepuasan tidak terbatas
kepada sumber utama pemberi kepuasan tetapi kepuasan mendapat
pengetahuan baru; 2) Law of exercice, yaitu hubungan antara pemberi
stimulus dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan; serta
3) Law of primacy, yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan
pertama akan sulit digoyahkan. Latihan dan penguasaan yang dida-
patkan dari proses belajar akan memberikan kepuasan emosional
pada diri individu, sehingga reaksi dalam wujud tingkah laku sebagai
perubahan atas apa yang ia kuasai akan mengakar kuat dan sulit
digoyahkan.
Belajar sebagai aktivitas psiko-fisik yang menghasilkan perubahan
atas pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relatif konstan selalu
menunjukkan kepada suatu proses perubahan perilaku seseorang
berdasarkan praktek atau pengelaman tertentu (Hanavy, 2014: 77).
4‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
Praktek maupun pengalaman yang dapat mewadahi siswa untuk
mendapatkan ilmu pengetahuan dan mengubah perilaku dapat
dikemas dalam suatu proses pembelajaran. Menurut Darsono (dalam
Arfani, 2016: 87), secara umum istilah belajar dimaknai sebagai suatu
kegiatan yang mengakibatkan terjadinya perubahan tingkah laku.
Dengan pengertian demikian, maka pembelajaran dapat dimaknai
sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa,
sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Hal ini
menandakan bahwa terdapat hubungan dialogis antara guru dengan
siswa dalam upaya mengubah perilaku siswa ke arah yang lebih baik.
Pengubahan perilaku siswa ke arah yang lebih baik atau kegiatan
yang dimaknai sebagai proses belajar membutuhkan hubungan
yang berlangsung dua arah, yakni antara guru dengan siswa. Miarso
(Pribadi: 2009) memaknai istilah pembelajaran sebagai aktivitas atau
kegiatan yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pembelajar
(learner centered). Dalam konteks tersebut, maka arah komunikasi
mestinya beroreintasi pada pembelajar atau siswa, berbeda dengan
teacher centered dalam kegatan pengajaran, yakni dimana aktivitas
berfokus pada guru. Oleh karenanya, kegiatan pengajaran perlu
dibedakan dari kegiatan pembelajaran. Menurut Miarso, pengajaran
diartikan sebagai penyajian bahan ajaran yang dilakukan oleh
seorang pengajar. Istilah pembelajaran telah digunakan secara luas
bahkan telah dikuatkan dalam perundang-undangan, yaitu dalam
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun
2003. Sejalan dengan pandangan di atas, Gagne dkk dalam Pribadi
(2009) mengemukakan perbedaan pengajaran dengan pembelajaran
diantaranya: 1) Pembelajaran mengandung makna yang lebih luas
dari pada istilah pengajaran. Pengajaran hanya merupakan upaya
transfer of knowledge semata dari guru kepada siswa, sedangkan
pembelajaran memiliki makna yang lebih luas, yaitu kegiatan yang
dimulai dari mendesain, mengembangkan, mengimplementasikan,
dan mengevaluasi kegiatan yang dapat menciptakan terjadinya
proses belajar; 2) Pembelajaran adalah proses yang sengaja dirancanguntuk menciptakan terjadinya aktivitas belajar dalam diri individu
Dengan kata lain, pembelajaran merupakan sesuatu hal yang bersifat
eksternal dan sengaja dirancang untuk mendukung terjadinya
proses belajar internal dalam diri individu. Untuk mengubah perilaku
siswa kearah yang lebih baik, maka guru diharapkan mampu
menciptakan suasana dan kegiatan yang berorientasi kepada siswa.
Dalam pandangan Kimble (Olson & Hergenhanh, 2015: 1) bahwa
pembelajaran berkaitan dengan perubahan pada tingkah laku pada
individu. Dalam pandangan tersebut perubahan yang ditunjukkan
oleh individu sifatnya relatif permanen, tidak terjadi secara tiba-
tiba. Dalam pendapatnya Kimble (Olson & Hergenhanh, 2015: 1)
pembelajaran berkaitan dengan empat hal yaitu:
First, learning is indexed by a change in behavior; in other words,
the results of learning must always be translated into measurable
behavior. After learning, learners do something that they did
not do before learning took place. Note that the behavior can
be overt (correcting a golf swing or pronunciation of a Spanish
word) or covert (increased blood pressure or heart rate). Second,
this behavioral change is relatively permanent that is, itis neither
transitory nor fixed. Third, the change in behavior need not occur
immediately following the learning experience. Although there
may be a potential to act differently, this potential to act may not
be translated into behavior until a later time. Fourth, the change
in behavior (or behavior potentiality) results from experience or
practice. Fifth, the experience, or practice, must be reinforced;
that is, only those responses that lead to reinforcement will be
learned.
Dalam pandangan Corey (Afandi, Chamalah, Wardani: 2013),
pembelajaran merupakan proses pengelolaan lingkungan seseorang
secara sengaja, dimana lingkungan tersebut dikelola untuk me-
mungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dan dalam
kondisi-kondisi khusus guna menghasilkan respon terhadap situasi‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
tertentu. Oleh karenanya, lingkungan belajar hendaknya dikelola
dengan baik karena pembelajaran memiliki peranan penting dalam
pendidikan. Pendapat tersebut sejalan dengan pemikiran Sagala
(Afandi, Chamalah & Wardani, 2013) yang menyatakan bahwa pe-
nentu utama keberhasilan pendidikan yakni membelajarkan siswa
menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar. Pengelolaan
lingkungan belajar oleh guru dapat mestinya didasarkan teori belajar
yang relevan. Pajangan gambar, artefak, portofolio atau foto-foto
karya peserta didik merupakan rangsangan yang signifikan untuk
mengubah perilaku menuju pembelajar yang produktif. Di dalam
kelas juga dipajang foto pahlawan bangsa, lambang negara berupa
bendera, foto kepala negara dan lain-lain juga memberikan rang-
sangan untuk menumbuhkan semangat kebangsaan atau nasio-
nalisme. Kegiatan belajar yang kontekstual dan menyenangkan
merupakan salah satu lingkungan belajar terpenting yang perlu men-
dapat perhatian dari guru karena memiliki nurturance effect terhadap
keberhasilan dan keberlangsungan siswa.
Teori belajar merupakan hasil penelitian yang dapat menjelaskan
bagaimana cara seseorang belajar dan dapat digunakan guru sebagai
landasan dalam mengembangkan pembelajaran. Pembelajaran
merupakan “a set of events embedded in purposeful activities
that facilitate learning” yang artinya, pembelajaran merupakan
seperangkat peristiwa yang tertanam dalam kegiatan yang bertujuan
untuk memfasilitasi kegiatan belajar (Pribadi, 2009: 9). Pembelajaran
adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan
maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar. Kegiatan
belajar mestinya dirancang agar dapat menumbuhkan rasa ingin
tahu atau kekaguman sehingga mendorong siswa untuk mencari
tahu serta memecahkan misteri yang menggelitik pikirannya. Dalam
konteks tersebut, maka conditions atau situasi yang diciptakan oleh
guru merupakan dirancang sesuai model pembelajaran yang telah
ditentukan. Kultur kelas perlu dirancang sedemikian rupa sehingga
mendorong terjadinya proses kognitif, afektif, dan psikomotor siswa.Sesuai dengan hakikatnya, fungsi-fungsi pembelajaran menurut
Arfani (2016) meliputi: 1) Pembelajaran sebagai suatu sistem, dimana
pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir, yakni
tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode
pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian
kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran;
2) Pembelajaran sebagai suatu proses, dimana pembelajaran
diartikan sebagai rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka
membuat siswa belajar, mulai dari: a) Persiapan, yakni merencanakan
program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan
mengajar (lesson plan) dan penyiapan perangkat kelengkapannya
antara lain alat peraga, alat evaluasi, buku atau media cetak
lainnya; b) Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mengacu
pada persiapan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya; c)
Menindaklanjuti pembelajaran yang telah dikelolanya dalam bentuk
pengayaan maupun remidial.
Belajar merupakan aspek yang paling penting dari kehidupan
manusia, karena dengan belajar manusia tumbuh dan berkembang
dengan sempurna untuk mengolah dan memelihara alamnya. Melalui
proses belajar, manusia secara terus-menerus mengembangkan per-
adabannya baik dalam bidang teknologi, kesenian, olahraga, Bahasa,
dan seluruh aspek kehidupan manusia. Peradaban manusia menjadi
lebih maju, kedudukan manusia juga menjadi lebih terhormat diban-
dingkan dengan makhluk hidup lainnya berkat kegiatan belajarnya.
B. Teori Belajar
Teori belajar merupakan hasil pemikiran maupun hasil penelitian
yang menjelaskan bagaimana proses belajar berlangsung pada diri
seseorang serta dapat menjadi landasan dalam mengembangkan
pembelajaran (Mukminan dkk, 1998: 48). Terdapat beragam teori yang
mampu menjelaskan bagaimana siswa mengalami proses belajar,
serta guru dapat mengembangkan teori tersebut ke dalam suatu
program pembelajaran. Teori-teori tersebut diantaranya:
8‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
Teori Belajar Behavioristik
Teori belajar mampu memifasilitasi guru dalam mempelajari
perilaku siswa menggunakan berbagai pendekatan tertentu
Menurut Desmita (dalam Nahar, 2016) teori belajar behavioristik
merupakan teori belajar yang menggunakan pendekatan objektif,
mekanistik, dan materialistik dalam memahami tingkah laku
manusia, sehingga perubahan tingkah laku pada diri seseorang
dapat dilakukan melalui upaya pengkondisian. Dalam teori ini,
upaya mempelajari tingkah laku seseorang dilakukan melalui
pengujian dan pengamatan atas tingkah laku yang terlihat,
bukan dengan mengamati kegiatan bagian-bagian dalam tubuh.
Oleh sebab itu, seseorang dianggap telah belajar apabila dapat
menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut paradigma teori
behavioristik, input yang berupa stimulus dan output yang berupa
respons merupakan sesuatu yang amat penting dalam belajar
daripada proses yang terjadi di dalamnya, sebab proses tersebut
tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati
adalah 1) stimulus, yakni apa yang diberikan oleh guru; serta 2)
respons, yakni apa yang diterima oleh siswa; sehingga keduanya
harus dapat diamati dan diukur (Putrayasa dalam Nahar, 2016:
66). Perubahan perilaku merupakan objek yang amat penting
dalam teori ini, sebab perubahan perilaku dianggap sebagai
respons atas stimulus yang diberikan oleh guru. Perubahan ting-
kah laku tersebut harus dapat diukur dan diamati untuk melihat
keberhasilan dari proses belajar siswa.
Proses belajar pada teori behavioristik dapat diamati melalui
beberapa pendekatan, yaitu classical conditioning dari Ivan
Petrovich Pavlov, connectionism dari Edward Lee Thorndike, serta
operant conditioning dari Burrhus Frederick Skinner (Fatimah &
Yaumi, 2017). Teori classical conditioning atau teori pembiasaan
dikembangkan berdasar hasil eksperimen yang dilakukan oleh
Ivan Petrivich Pavlov tentang prosedir penciptaan refleks baru
dengan cara mendatangkan stimulus sebelum terjadinya reflek
910
tersebut (Terrace, 1973). Pengkondisian klasik ini merupakan tipe
pembelajaran dimana seorang individu belajar untuk mengaitkan
atau mengasosiasikan stimulus. Dalam konteks ini, stimulus netral
(seperti melihat seseorang) diasosiasikan dengan stimulus yang
bermakna (seperti makanan) dan menimbulkan kapasitas untuk
mengeluarkan kapasitas yang sama (Santrock, 2008: 268). Melalui
teori pembiasaan yang dikembangkannya Paviov meletakkan
dasar-dasar bagi penelitian behavioristik, sekaligus meletakkan
dasar bagi penelitian tentang proses belajar dan pengembangan
teori belajar.
Penerapan teori classical conditioning diwujudkan dalam
prosedur penciptaan reflek baru dengan cara mendatangkan
stimulus sebelum terjadinya reflek. Misalnya adalah dalam prak-
tik pemberian reward dalam pembelajaran. Dengan adanya
stimulus berupa hadiah (reward) yang diberikan pada siswa,
maka akantimbul motivasi belajar siswa. Siswa akan memberikan
perhatian lebih pada guru, memberikan perhatian lebih pada
pembahasan yang sedang dipelajari, dan muncul antusiasme.
Prinsip-prinsip classical conditioning menurut Pavlov adalah:
1) belajar adalah pembentukan kebiasaan dengan cara meng-
hubungkan atau mempertautkan antara perangsang (stimulus)
yang lebih kurang dengan perangsang yang lebih lemah; 2)
proses belajar terjadi apabila ada interaksi antara organisme
dengan lingkungan, 3) belajar adalag membuat perubahan-
perubahan pada organisme atau individu; 4) setiap perangsang
akan menimbulkan aktivitas otak; dan 5) semua aktivitas
susunan saraf pusat diatur oleh eksitasi dan inhibitasi (Sujarwo,
W, 2006:64). Pada penerapannya, Woolflok (dalam Baharuddin
&Wahyuni, 2007: 63-64) menyarankan pembiasaan klasikal
dilakukan dengan: 1) memberikan suasana yang menyenangkan
Ketika memberikan tugas belajar; 2) membantu siswa mengatasi
secara bebas dan sukses situasi-situasi yang mencemaskan atau
mencekam; 3) dan membantu siswa untuk mengenal perbedaan‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
dan persamaan terjadap situasi-situasi sehingga mereka dapat
membedakan dan membuat generalisasi secara tepat.
Teori connectionism atau koneksionisme pertama kalo
dicetuskan oleh Edward Lee Thorndike. Menurut Thorndike,
belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi
antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus dan respon.
Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang
menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau
berbuat sedanglan respon adalah apapun tingkah laku yang
dimunculkan karena adanya perangsang. Pada teori konektivisme
ini, terdapat dua hukum, yaitu: 1) hukum kesiapan, ketika sese-
orang doipersiapkan untuk bertindak, maka melakukan tindakan
merupakan imbalan, sementara tidak melakukannya adalah
hukuman (Schunk, 2012). Semakin siap individu terhadap sebuah
tondakan maka perilaku yang mendukungnya akan meng-
hasilkan imbalan, sehingga kegiatan belajar akan lebih berhasil
bila individu yang melakukannya memiliki kesiapan belajar; 2)
hukum latihan, merupakan koneksi antara kondisi dan tindakan
akan menjadi kuat karena latihan dan akan menjadi lemah
karena kurang latihan. Hal ini menyiratkan dalam belajar perlu
ada pengulangan, semakin sering suatu bahasan dipelajari,
maka penguasaan akan semakin baik; 3) hukum akibat, yaitu
ketika kegiatan belajar menghasilkanefek hasil belajar yang
menyenangkan maka akan diulangi, sedangkan ketika kegiatan
belajar memberikan hasil tidak menyenangkan maka akan
dihentikan (reward and punishment); 4) hukum perpindahan
asosiasi, adalah proses peralihan dari siatuasi yang dikenal ke
situasi yang belum dikenal secara bertahap.
Teori operant conditioning (pengkondisian operan) dari
Burrhus Frederick Skinner menganggap setiap mahluk selalu
dalam proses melakukan sesuatu, sehingga selalu dalam kon-
disi mererima stimulan-stimulan tertentu. Stimulant inilah yang
kemudian berdampak pada meningkatnya proses belajar, atau
1112
stimulant dianggap sebagai penggugah. Stimulan dalam tapana
inilah yang masuk dalam konsep pengkondisian operan mill
Skinner. Prinsip pengkondisian klasik milik Pavlov hanya meng-
gambarkan sedikit saja perilaku yang bisa dipelajarai. Banyak
perilaku manusia yang lebih mengarah pada operan, bukan
pada responden. Teori pengkondisian klasik janya menjelaskan
bagaimana perilaku yang ada dipasangkan dengan rangsangan/
stimulus baru, tetapi tidak menjelaskan bagaimana perilaku
operan baru dimulai (Baharudian dan Wahyuni, 2007: 67).
Pada teori pengkondisian operan, hal yang paling dipen-
tingkan adalah respon (31) Selanjutnya dijelaskan bila ada dua
prinsip umum dalam kondisi ini, yaitu: pertama, setiap respon
yang diikuti oleh stimulus yang memperkuat imbalan (reward)
akan cenderung diulangi. Kedua, stimulus yang memperkuat
imbalan akan meningkatkan kecepatan terjadinya respon operan.
Dengan kata lain, imbalan akan mengakibtakan diulanginya suatu
respon (Suwarno, 2006: 65). Prinsip-prinsip dalam teori operant
conditioning adalah: 1) penguatan (reinforcemet) dimana dalam
proses belajar untuk meningkatkan kemungkinan munculnya
suatu respon/perilaku maka akan diberikan rangsangan.
Penguatasn bisa bersifat postitif dan negatif. Penguatan positif
adalah rangsangan yang diberikan untuk memperkuat munculnya
perilaku yang baik sehingga respon meningkat berkat stimulus
yang mendukung, Penguatan negatif adalah peningnatan
frekuensi suatu perilaku positif karena hilangnya rangsangan
yang merugikan (Haslinda, 2019: 87-99).
Dalam kesimpulan eksperimennya, Skinner kemudian
menyimpulkan bila pada awalnya dalam jangka pendek, hukuman
dan imbalan dapat memiliki efek menaikkan tingkah laku yang
dikehendaki. Namun dalam jangka Panjang, imbalan tetap
memiliki efek menaikkan tingkah laku, tetapi hukuman justru
tidak berfungsi. Artinya, antara imbalan dan hukuman menjadi
tidak simetris (Haryanto, 2020: 32).‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
Keberhasilan siswa dalam proses belajar dapat dilihat dari
berbagaiaspek, salah satunya yakni hasil belajar. Menurut Nahar,
teori belajar behavioristik adalah teori belajar yang menekankan
pada tingkah laku manusia sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon serta terbentuknya perilaku yang tampak
sebagai hasil belajar. Hasil belajar yang diperoleh selain dapat
diukur, juga merupakan cerminan dari apa yang siswa alami
melalui proses belajar. Teori ini mendudukkan siswa yang belajar
sebagai individu yang pasif serta respons atau perilaku tertentu
terbentuk melalui metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Menurut teori behavioristik tingkah laku manusia dikendalikan
oleh ganjaran atau penguatan dari lingkungan. Hal ini diperkuat
oleh Rusli & Kholik yang menyatakan bahwa munculnya perilaku
akan semakin kuat apabila diberikan penguatan dan akan meng-
hilang bila dikenai hukuman (2016: 66). Dengan demikian, teori
ini menempatkan siswa sebagai objek penerima stimulus pada
suatu pembiasaan tertentu tanpa melibatkan keaktifan siswa
secara mendalam, dimana perilaku sebagai hasil belajar bersifat
tidak langgeng bergantung atas pengendalian dari lingkungan.
Teori ini memandang bahwa peristiwa belajar semata-mata
dilakukan dengan melatih refleks-refleks sedemikian rupa
sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Para ahli
behaviorisme berpendapat bahwa belajar adalah perubahan
tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman, sehingga menurut
Zulhammi seseorang dianggap telah belajar apabila dapat
menunjukkan perubahan perilaku. Aliran psikologi Behaviorisme
memandang individu lebih kepada sisi fenomena jasmaniah dan
mengabaikan aspek-aspek mental seperti kecerdasan, bakat,
minat, dan perasaan individu dalam kegiatan belajar. Pernyataan
tersebut diperkuat dengan Sujant yang menyatakan bahwa dalam
teori belajar behaviorisme objek ilmu jiwa harus terlihat, dapat
di indera, dan dapat diobservasi. Metode yang dipakai, yaitu
mengamati serta menyimpulkan (Nahar, 2016: 67).
1314
Teori belajar behavioristik mempunyai ciri-ciri yang berupa
1) Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesa-
darannya, melainkan mengamati perbuatan dan tingkah laku
yang berdasarkan kenyataan. Pengalamanpen-galaman batin
di kesampingkan serta gerak-gerak pada badan yang dipelajari;
2) Segala perbuatan dikembalikan kepada refleks. Refleks
adalah reaksi yang tidak disadari terhadap suatu pengarang.
Manusia dianggap sebagai sesuatu yang kompleks refleks atau
suatu mesin; 3) Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu
dilahirkan semua orang adalah sama, dimana pendidikan adalah
maha kuasa, manusia hanya makhluk yang berkembang karena
kebiasaan-kebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi
refleks keinginan hati (Ahmadi dalam Nahar, 2016: 67). Pandngan
behavioristik menekankan bila perilaku harus dijelaskan melalui
pengalaman yang dapat diamati, bukan dengan proses mental.
Proses mental adalah pikiran, perasaan, dan motif yang dialami
seseorang namun sifatnya tidak bisa dilihat oleh orang lain
(Santroock, 2011). Oleh karenanya, teori ini memandang manusia
dari aspek jasmaniahnya saja, yakni segala aspek yang dapat
diobservasi melalui indera tanpa melibatkan kondisi mental
pembelajar.
Hasil belajar dalam teori ini adalah segala sesuatu yang dapat
diukur dan diamati seperti perubahan tingkah laku sebagai suatu
respons pembelajar terhadap stimulus yang telah diberikan oleh
guru. Siswa dikatakan telah belajar, apabila telah mengalami
perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku didapatkan
oleh siswa melalui pendidikan yang berupa pembiasaan-pem-
biasaan, karena dalam teori ini manusia adalah sama pada mula
keberadaannya di dunia. Teori ini memandang siswa adalah
objek, sehingga pembelajaran dalam paradigma teori ini adalah
pembelajaran yang berpusat pada guru sebagai pemberi stimulus
untuk mengamati perubahan perilaku pada siswa.‘Sketsa Pembelajaran IPS: Menuju Pembelajaran Abad 21 Se
b. Teori belajar Humanistik
Berlainan dengan teori behavioristik, teori belajar ini menem-
patkan siswa sebagai manusia seutuhnya yang memiliki kendali
atas diri dan kehidupannya. Kemuncuan Teori pendidikan
humanistik bertolak dari tiga teori filsafat, yaitu: pragmatisme,
progresivisme dan eksistensisalisme. 1) Menurut Dewey (dalam
Qodir, 2017), terpeliharanya keberlangsungan pengetahuan
dengan aktivitas yang dengan sengaja ditujukan untuk meng-
ubah lingkungan merupakan ide utama pragmatisme dalam
pendidikan; 2) Progresivisme menekankan pada kebebasan
aktualisasi diri agar tercipta kondisi kreatif sehingga menuntut
lingkungan belajar yang demokratis dalam menentukan kebi-
jakannya. Progresivisme menekankan pada terpenuhi ke-
butuhan dan kepentingan anak yang dibangun secara aktif oleh
dirinya sendiri, dimana belajar tidak hanya dari buku dan guru,
tetapi juga dari pengalaman kehidupan; 3) Eksistensialisme
berpilar utama invidualisme dan menekankan pada kebebasan
manusia juga memberikan pengaruh terhadap teori belajar
ini. Kaum eksistensialis memandang sistem pendidikan yang
tidak mengembangkan individualitas dan kreativitas anak
adalah sistem pendidikan yang membahayakan. Menurut
Noddings (dalam Qodir, 2017) sistem pendidikan tersebut hanya
mengantarkan anak untuk bersikap konsumeristik, menjadi
penggerak mesin produksi dan birokrat modern. Pemikiran
pendidikan berdasarkan filsafat eksistensialisme mengantarkan
pandangan bahwa anak adalah individu yang memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi sehingga muncul keinginan belajar. Keinginan
belajar merupakan modal utama seorang anak atau siswa untuk
mendapatkan pengalaman belajar sebagai pilihan sadar yang
diputuskan olehnya, yakni sebagai manusia yang bebas dan
berhak untuk mengaktualisasikan diri. Dengan demikian, teori
belajar humanistik apabila dikembangkan kedalam pembelajaran
akan membentuk suatu pembelajaran yang berpusat pada siswa.
15
Anda mungkin juga menyukai