0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
399 tayangan17 halaman

Peran Keluarga dalam Karakter Anak

Peran keluarga sangat besar dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini, dimana keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Pendidikan karakter yang diberikan keluarga melalui ikatan emosi orang tua-anak dan pola pengasuhan yang mendidik sikap dan perilaku, dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak yang berperan besar dalam keberhasilan hidup.

Diunggah oleh

ridholina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
399 tayangan17 halaman

Peran Keluarga dalam Karakter Anak

Peran keluarga sangat besar dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini, dimana keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama bagi anak. Pendidikan karakter yang diberikan keluarga melalui ikatan emosi orang tua-anak dan pola pengasuhan yang mendidik sikap dan perilaku, dapat mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi anak yang berperan besar dalam keberhasilan hidup.

Diunggah oleh

ridholina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER

Dewasa ini, pendidikan karakter merupakan sebuah harapan untuk meminimalisir efek buruk bagi
kemajuan bangsa. Dimana pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh suatu bangsa, termasuk bangsa Indonesia adalah munculnya
berbagai macam krisis, diantaranya krisis ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan
dan moral. Namun diantara banyaknya krisis tersebut, yang menjadi masalah utama adalah krisis
moral. Dengan adanya krisis moral akan memunculkan berbagai macam krisis lainnya.

Banyak bukti yang menjelaskan terjadinya kerusakan moral di masyarakat. Pada tingkat elit,
rusaknya moral bangsa ditandai dengan maraknya praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Sementara, pada tingkat bawah (rakyat), ditunjukkan dengan merajalelanya berbagai tindakan
kejahatan ditengah-tengah masyarakat, seperti penipuan, pencurian, penjambretan, permpokan,
perkosaan maupun pembunuhan. Sedangkan di kalangan pelajar ditandai dengan maraknya seks
bebas, penyalahgunaan narkoba, penyebaran foto dan video porno, serta tawuran.

Ketika zaman telah bertransformasi menjadi sebuah era komunikasi dan informasi yang begitu bebas
dan terbuka, maka diperlukan sebuah tatanan nilai yang baik. Salah satunya dengan menerapkan
pendidikan pancasila dan pendidikan karakter yang diterapkan dalam lingkungan keluarga. Pancasila
sebagai ideologi bangsa ini seharusnya akan menjiwai setiap tingkah laku warganya. Namun hal
sebaliknya cenderung terjadi, seperti ketika kita berselancar di media sosial, seolah terjadi
ambivalensi antara gambaran masyarakat tentang orang indonesia dan kenyataan di dunia maya.
Hal ini dapat dilihat dari begitu banyaknya ujaran kebencinya (hate speech) yang begitu mudah
ditulis oleh pengguna media sosial.

Fenomena tersebut menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter
akan berjalan efektif dan utuh jika melibatkan tiga institusi, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.
Pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan baik jika mengabaikan salah satu institusi, terutama
keluarga. Pendidikan informal dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam proses
pembentukan karakter seseorang. Hal itu disebabkan, keluarga merupakan lingkungan tumbuh dan
berkembangnya anak sejak usia dini hingga menjadi dewasa. Melalui pendidikan dalam keluargalah
karakter seorang anak terbentuk.

Karakter juga dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan
bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Karakter dapat
dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan,
perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya adat
istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam
bersikap maupun bertindak.

Karakter yang baik menurut Lickona (2013 : 82), terdiri dari mengetahui yang baik (moral knowing),
menginginkan yang baik (moral feeling), dan melakukan hal yang baik (moral action), yang dalam
penjelasannya disebutkan sebagai pembiasaan dalam cara berfikir, kebiasaan dalam hati, dan
kebiasaan dalam tindakan.

Orang tua masa kini menaruh perhatian yang sangat besar kepada sekolah yag bagus dan bergengsi
untuk membentuk anak-anaknya menjadi anak yang pandai, cerdas dan berkarakter. Akan tetapi
dalam kenyataannya, harapan orang tua masih jauh dari realisasinya.

Karakter kita terdiri dari kebiasaan-kebiasaan kita. Kebiasaan yang terbentuk semasa kanak-kanak
dan remaja kerap bertahan hingga dewasa. Orang tua dapat mempengaruhi pembentukan
kebiasaan anak mereka, dalam hal yang baik maupun yang buruk.

Untuk menanamkan karakter pada diri anak ada beberapa metode yang bisa digunakan, antara lain :

Internalisasi

Internalisasi adalah upaya memasukkan pengetahuan (knowing) dan keterampilan melaksanakan


pengetahuan (doing) ke dalam diri seseorang hingga pengetahuan itu menjadi kepribadiannya
(being) dalam kehidupan sehari-hari.

Keteladanan

“Anak adalah peniru yag baik.” Ungkapan tersebut seharusnya disadari oleh orang tua, sehingga
mereka bisa lebih menjaga sikap dan tindakannya ketika berada atau bergaul dengan anak-anaknya.
Berbagi keteladanan dalam mendidik anak menjadi sesuatu yang sangat penting.

Pembiasaan

Inti dari pembiasaan adalah pengulangan. Jika orang tua setiap masuk rumah mengucapkan salam,
itu telah diartikan sebagai usaha membiasakan. Bila anak masuk rumah tidak mengucapkan salam,
maka orang tua mengingatkan untuk mengucapkan salam.

Bermain

Masa anak-anak merupakan masa puncak kreativitasnya, dan kreativitas mereka perlu dijaga dengan
menciptakan lingkungan yang menghargai kreativitas, yaitu melalui bermain.
Cerita

Sebuah cerita mempunyai daya tarik yang menyentuh anak, dengan bercerita orang tua dapat
menanamkan nilai pada anaknya, sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Nasihat

Nasihat merupakan kata – kata yang mampu menyentuh hati disertai dengan keteladanan. Nasihat
memadukan antara metode ceramah dan keteladanan, namun lebih diarahkan pada bahasa hati.

Penghargaan dan Hukuman

Memberi penghargaan kepada anak penting untuk dilakukan, karena pada dasarnya setiap orang
membutuhkan penghargaan dan ingin dihargai. Selain penghargaan, hukuman juga bisa diterapkan
untuk membentuk karakter anak. Penghargaan harus didahulukan, dibandingkan hukuman.

Dalam mensosialisasikan pendidikan karakter, orang tua mempunyai beberapa kendala,


diantaranya :

Perubahan zaman dan gaya hidup

Pengaruh televisi pada gaya komunikasi anak

Perbedaan watak dan jenis kelamin anak

Perbedaan tipe kecerdasan anak

Dari berbagai kendala tersebut, orang tua harus senantiasa meningkatkan pengetahuan dan
usahanya, serta harus lebih mengenal anak – anak agar penanaman karakter pada anak dapat
berhasil.

Pendidikan karakter ini tidak akan berhasil dengan baik dan tidak akan berarti apa – apa, apabila
keluarga melepaskan tanggung jawab pembentukan karakter hanya kepada sekolah. Peran keluarga
dalam pendidikan anak teramat besar, keluarga merupakan unsur terkecil dalam masyarakat, dari
keluarga pulalah anak belajar berperilaku dan bersikap sebagai anggota masyarakat yang
bermartabat. Peran keluarga memiliki peranan yang penting, agar proses dalam setiap jenjang, jalur,
dan jenis pendidikan serta berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan bertanggung jawab.

Sumber :
https://www.industry.co.id/read/10674/peran-keluarga-dalam-pendidikan-karakter, ditulis oleh
Rahmad, M.Pd.

Muchlas Samani dan Hariyanto, Pendidikan Karakter, Bandung: Remaja Rosdakarya, cetakan ketiga,
2013, 43

Thomas Lickona, Educating for Character, Mendidik untuk Membentuk Karakter, terjemahan Juma
Abdu Wamaungo, Jakarta: Bumi Aksara, 2013, 82

Amirulloh Syarbini, Model pendidikan karakter dalam keluarga, Jakarta: gramedia, 2014, 69 – 73

Enni k. Hairuddin, Membentuk Karakter Anak dari Rumah, Jakarta: Gramedia, 2014, 33-47

****

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan
utama bagi seorang anak. Peranan keluarga memiliki potensi yang sangat besar bagi tumbuh
kembang anak sejak usia dini, dimana anak diibaratkan bagai kertas putih yang polos, dan bersih,
belum memiliki bentuk jiwa yang tetap, sehingga faktor keluargalah sebagai faktor pengaruh yang
pertama yang akan turut membentuk karakter seorang anak.

Pendidikan anak usia dini harus dilakukan secara holistik (menyeluruh), dimana stimulasi dini yang
diberikan keluarga terhadap anak dapat mempercepat perkembangannya.

keluarga, family

Pengembangan dan pendidikan anak sejak usia dini merupakan investasi yang strategis dalam
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Keluarga berpotensi untuk mengembangkan karakter anak melalui ikatan emosi yang kuat antara
orang tua dan anak. Pola pengasuhan dan prinsip-prinsip pengasuhan orang tua terhadap anak,
seperti prinsip keteladanan diri, kebersamaan merealisasikan nilai-nilai moral, sikap demokratis dan
terbuka, dan kemampuan menghayati kehidupan, menentukan apresiasi anak terhadap nilai-nilai
disiplin diri yang ditanamkan.

Nilai-nilai disiplin ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi yang merupakan bagian dari
pembentukan karakter anak yang utuh menyeluruh (whole person) cakap dalam menghadapi dunia
yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual,
bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole).
Berdasarkan penelitian, kecerdasan emosi (EQ/Emotional Quotient), berperan sekitar 80 persen
terhadap keberhasilan seseorang hidup di masyarakat, dan hanya 20 persen bagian lainnya
ditentukan oleh faktor lain, termasuk faktor kecerdasan (IQ/Intellegence Quotient).

Pendidikan anak pada usia dini, memiliki potensi yang cukup besar. Anak pada usia dibawah 7 tahun,
mengalami perkembangan otak sebesar 90 persen. Dimana pada tiga tahun pertama, terbangun
fondasi struktur otak yang berdampak permanen.

Jika terjadi pendidikan yang salah pada masa perkembangan ini, dapat menurunkan kreativitas anak
hingga turun 90 persen, dan kelak pada usia 40 tahun, kreativitasnya bisa hanya tinggal 2 persen.

Pendidikan karakter anak pada usia dini, sejatinya dilakukan oleh lingkungan keluarga, yang
mengacu pada 9 pilar karakter, yaitu :

Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya

Kemandirian, disiplin, dan tanggungjawab,

Kejujuran/amanah dan diplomatis,

Hormat dan santun,

Dermawan, suka menolong dan kerjasama,

Percaya diri, kreatif dan pantang menyerah,

Keadilan dan kepemimpinan,

Baik dan rendah hati

Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Upaya pembentukan karakter yang kuat tersebut, tentulah tidak dapat dilakukan secara instan,
namun memerlukan usaha yang terus menerus berkesinambungan, dan pihak keluargalah yang
memiliki potensi besar dalam pembentukan karakter-karakter tersebut, karena pihak sekolah
memiliki keterbatasan ruang dan waktu dalam pembentukan karakter-karakter di atas.

Terkadang karena berbagai faktor yang menjadi alasan, orang tua menyerahkan pendidikan anak-
anaknya pada beberapa lembaga sekolah berlabel plus dengan harapan si anak mendapatkan
tambahan ‘plus’ dari sekolah tersebut.

Hanya saja terkadang karena kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak, serta antara orang
tua dan pihak sekolah, terjadi kontra pendidikan antara rumah dan sekolah, sehingga nilai ‘plus’
yang diharapkan tersebut tidak diperoleh di rumah, namun justru tertinggal di sekolah. Oleh karena
itu, dalam tujuan membentuk karakter anak yang holistik, sangat perlu diperhatikan perilaku
pola/prinsip pengasuhan orang tua/lingkungan keluarga terhadap anak.

Jika menerapkan pendidikan yang salah, itu sama saja dengan membunuh karakter anak tersebut.

Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu
anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya.

Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka,
begitu pula orang tua sejatinya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif
dari sekolah. Saling mengisi, bukan saling meniadakan.

Komunikasi antara orang tua dan anak serta komunikasi anatara orang tua dan pihak sekolah
menjadi hal penting untuk dilakukan. Karena, ketika terjadi “sesuatu” pada anak, kita tidak dapat
semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai penyebabnya. Bisa saja persoalan memang terjadi di
sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap
sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya, dan pola asuhlah yang paling
mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya.

Jadi, perlu disadari betul bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama bagi pendidikan dan
perkembangan karakter anak. Sekolah pada dasarnya hanya mengarahkan, memberikan bimbingan
dan kerangka bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang. Keluargalah pusat dari segala
pusat pembelajaran

KELUARGA

Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan orang tua adalah pendidik yang utama.
Tetapi dalam kenyataannya, sebagian besar orang tua merupakan pendidik yang paling tak
tersiapkan. Artinya, orang tua atau calon orang tua belum memiliki pendidikan yang cukup untuk
menjadi orang tua yang memadai dalam mendidik anak-anaknya. Setiap orang tua siap atau tidak
siap berkewajiban mendidik anak-anaknya sejak dalam kandungan, hingga anak menyelesaikan
pendidikannya di sekolah.

Peran orang tua sebagai pendidik utama di keluarga menjadi sangat penting. Walaupun orang tua
tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan khusus untuk menjadi orang tua sebagaimana
mempersiapkan calon pendidik atau calon guru. Sementara keberhasilan pendidikan anak
bergantung kepada keterlibatan orang tua.
Keterlibatan orang tua di sekolah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan anak.
Antara lain, bagi peserta didik mendukung prestasi akademik, meningkatkan kehadiran, kesadaran
terhadap kehidupan yang sehat, dan meningkatkan perilaku positif; bagi orang tua memperbaiki
pandangan terhadap sekolah, meningkatkan kepuasan terhadap guru, dan mempererat hubungan
dengan anak; serta bagi sekolah memperbaiki iklim sekolah, meningkatkan kualitas sekolah, dan
mengurangi masalah kedisiplinan.

Pelibatan keluarga/orang tua pada penyelenggara pendidikan dalam membangun ekosistem


pendidikan, sejalan dengan visi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Yaitu terbentuknya insan
serta ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang berkarakter dengan berlandaskan gotong-royong.
Untuk itu, diharapkan pelibatan keluarga/orang tua pada penyelenggaraan pendidikan dapat
dilaksanakan dengan baik dan bermakna.

Bentuk pelibatan keluarga/orang tua di sekolah/penyelenggara pendidikan, antara lain, menghadiri


pertemuan yang diselenggarakan satuan pendidikan: mengikuti kelas orang tua/wali, menjadi
narasumber dalam kegiatan di satuan pendidikan: berperan aktif dalam kegiatan pentas kelas akhir
tahun pembelajaran; berpartisipasi dalam kegiatan kokurikuler, ekstrakurikuler, dan kegiatan lain
untuk pengembangan diri anak; bersedia menjadi aggota komite sekolah; berperan aktif dalam
kegiatan yang diselenggarakan oleh komite sekolah; menjadi anggota tim pencegahan kekerasan di
satuan pendidikan; berperan aktif dalam kegiatan pencegahan pornografi, pornoaksi, dan
penyalahgunaan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lain (napza); dan memfasilitasi dan/atau
berperan dalam kegiatan penguatan pendidikan karakter anak di satuan pendidikan.

Berkomunikasi dengan orang tua merupakan salah satu tanggung jawab sekolah. Demikian juga
dengan orang tua, perlu menjalin komunikasi dengan sekolah. Komunikasi timbal balik ini, akan
sangat efektif untuk memberikan layanan yang berkualitas kepada anak.

Orang tua dan pendidik saling berbagi informasi, baik mengenai program sekolah maupun tentang
individu anak. Orang tua dapat mengetahui program-program yang akan dan sedang dilaksanakan di
sekolah. Di samping itu, juga dapat memberi saran serta kritikan tentang pelaksanaan program-
program dan saling kerja sama demi kemajuan sekolah.

Sekolah dapat menginformasikan dan berdiskusi tentang perkembangan anak selama mengikuti
kegiatan di sekolah. Sekolah juga dapat menggali informasi dari orang tua tentang berbagai hal
mengenai anak tersebut. Kegiatan berkomunikasi tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara
baik secara formal maupun informal, baik tertulis maupun secara lisan. (*)
PERAN MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN
KARAKTER
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa dan masyarakat merupakan hal yang sangat
penting.Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang harus selalu ditingkatkan dan dijaga
mutunya. Jika mutu pendidikan rendah, maka akan berdampak pada ketidaktepatan investasi
pendidikan, bahkan dapat menimulkan pula masalah social baru ke depannya.(Furqon,2007)

Pendidikan dikatakan sebuah investasi jangka panjang karena dapat menghasilkan insan-insan
terdididk yang akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Hal ini senada dengan pendapat
Alfian,(2008) bahwa pendidikan adalah lahan untuk mencetak insan-insan terdidik yang akan
membawa perubahan bagi kehidupan manusia(dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya,
tentunya). Dengan pendidika, manusia dapat memahami hakikat diri dan akhirnya mmpu
melaksanakan tugas di dunia sebagai khalifah atau pengelola sumber daya di dunia ini.

Untuk menngkatkan mutu dan kualitas pendidikan selain dengan meningkatkan kualitas pengajar
melalui sertifikasi guru, juga dapat dilakukan melalui penilaian hasil belajar siswa. Adapun cara
penilaian hasil belajar, dapat berupa penilaian kelas, kenaikan kelas, dan ujian akhir satuan
pendidikan.

Hasil belajar siswa data dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya factor internal, yaitu faktor-
faktor yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri dan factor eksternal, yaitu faktor-faktor yang
bersumber dari luar diri siswa, misalnya factor lingkungan, baik lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaiman pengembangan pendidikan di Indonesia?

2. Apa bentuk aktualisasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan?

3. Bagaimana peran masyarakat dalam pendidikan?

BAB I I

PEMBAHASAN

1. Pengembangan Pendidikan di Indonesia

Secara singkat pendidikan merupakan produk dari masyarakat. Pendidikan tidak lain merupakan
proses tranmisi pengetahuan , sikap, kepercayaan, ketrampilan dan aspekperilaku-perilaku lainnya
kepada generasi kegenerasi. Dengan pengertian tersebut,sebenarnya upaya diatas sudah dilakukan
sepenuhnya oleh kekuatan-kekuatan masyarakat. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari adalah
hasil dari hubungan kita dengan orang lain,baik dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan dan
lainnya. Dengan kata laindimanapun kita berada kita pasti akan belajar dan mendapatkan ilmu
pengetahuan. Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan mampu berfungsi menunjang
kelangsungan kemajuan hidupnya, agar masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya,maka
diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, ketrampilan dan bentuk tata perilaku lainnya bagi generasi
muda. Tiap masyarakat selalu berupaya meneruskan kebudayaannya dengan proses adaptasi
tertentu sesuai coraknya masing-masing periode zamannya kepada generasi muda melalui
pendidikan atau secara khusu melalui interaksi social. Dengan demikian fungsi pendidikan tidak lain
adalah sebagai proses sosialisai {Nasution : 1999}.

Dalam pengertian sosialisasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa aktifitas pendidikan sebenarnya
sudah dimulai sejak ia dilahirkan kedunia yaitu keluarga. Didalam keluargalah anak pertama
menerima pendidikan dan pendidikan yang diperoleh dalam keluarga ini merupakan pendidikan
utama atau terpenting terhadap perkembangan pribadi anak.Pada didalam kehidupan keluarga
memberi corak pola kepribadian anak yang hidup di dalam keluarga. Alam keluarga adalah pusat
pendidikan yang pertama sejak timbulnya adapt kemanusiaan hingga sekarang, hidup keluarga itu
selalu mempengaruhi bertumbuhnya budi pekerti dari tiap-tiap manusia { Dewantara dalam
Suwarno, 1972 : 72}.

Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pula ternyata masyarakat dunia secara global telah ikut
mempengaruhi iklim pendidikan. Pengaruh modernisasi di berbagai sektor kehidupan
telahmelahirkan karakter pendidikan yang hampir sama di seluruh dunia, memiliki mempunyai ciri
khas tertentu di tiap- tiap Negara. Dalam masyarakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian
dilaksanakan dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah danpendidikan dalam lembaga
tersebut merupakan suatu kegiatan yang lebih teratur dan terdeferensiasi.Inilah pendidikan formal
yang biasa dikenal oleh masyarakatsebagai’’Schooling ‘’{ Tilaar : 2003 }. Perkembangan teknologi dan
informasi menyebabkan peranan sekolah sebagai lembagapendidikan akan mulai tergeser. Sekolah
tidak lagi menjadi satu-satunya pusatpembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh
ruang dan waktu. Peran gurutidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber
belajar daninformasi yang mampu memfasilitasi orang untuk belajar. Oleh karena itu
aktualisasipartisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan sangat diperlukan.

2. Aktualisasi Masyarakat Dalam Pengembangan Pendidikan

Bentuk aktualisasi dan pernyataan penyadaran diri masyarakat secara kolektif dapat berupa
partisipasinya dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan dirinya
dan kelompoknya dalam komunitas yang melingkupinya. Cara-cara kolektif berpartisipasi dalam
bermasyarakat bisa teraktualisasikan dalam bentuk musyawarah dan juga terbentuknya institusi
lokal oleh masyarakat itu sendiri.

Musyawarah adalah sebuah pendekatan kultural khas Indonesia yang dapat dimasukkan dalam
proses ekplorasi kebutuhan dan identifikasi masalah. Musyawarah juga merupakanbentuk sarana
untuk meningkatkan rasa partisipasi dan rasa memiliki atas keputusan danrencana pembangunan.
Musyawarah dapat merupakan cara analisis kebutuhan dan tidak sekedar keinginan yang bersifat
superfisial demi pemenuhan kebutuhan sesaat. Oleh karena itu pemilihan orang-orang yang
mewakili sebagai peserta musyawarah untuk suatu keperluan seperti merumuskan kebutuhan
masyarakat haruslah benar-benar yang mampu menyalurkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.

Langkah lain dalam proses partisipasi masyarakat itu adalah pembentukan kelompok. Melalui
kelompok akan dibina solidaritas kerjasama, musyawarah, rasa aman dan percaya kepada diri sendiri
{ Karsidi : 2001 }. Salah satu cara yang efektif untuk membentuk kelompok adalah melalui
pendekatan kepentingan yang sama secara primordial. Dalam kelompok primordial itu, para anggota
kelompok akan memperoleh referensi yang sama, Dengan bertolakbelakang dari kelompok
primordial, maka para anggota akan merasakan adanya hal-hal baru jika mereka bersedia
membandingkannya dengan situasi lama. Ini akan menimbulkan keasyikan dan motivasi sendiri.
Melalui kelompok, para anggota akanmenyusun program, bekerja secara sistematis serta bisa
merasakan adanya perkemabangan dan kemajuan sebagai hasil kegiatan mereka.

Pada dasarnya, partisipasi masyarakat telah terjadi di sekolah dalam praktik penyelenggaraan
musyawarah maupun pembentukan institusi lokal.2 jenis kebijakan pemerintah tentang MBS
disekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah serta Majelis Wali Amanah di perguruan tinggi BHMN
adalah contoh dari bentuk perwujudan mekanisme dan struktur kelembagaan untuk menyalurkan
partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.

Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan
kondisi masing-masing wilayah atau tempat komunitas masyarakat dan lembaga pendidikan itu
berada. Kondisi ini menuntut kesiapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk
mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi
masyarakat.Sebaliknya dari pihak masyarakat juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki
kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan.

Sebagai contoh adalah tanggungjawab dunia usaha/ industri. Mereka tidak bisa tinggal diam
menunggu dari suatu lembaga pendidikan/ sekolah sampai dapat meluluskan alumninya, lalu
menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya jika terdapat output yang
tidak baik. Partisipasi dunia usaha/ industri terhadap lembaga pendidikan harus ikut
bertanggungjawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama.
Demukian juga kelompok masyarakat lain, termasuk orangtua siswa. Dengan cara demikian, maka
mutu pendidikan dalam suatu lembaga pendidikan menjadi tanggungjawab bersama antara lembaga
pendidikan dan komponen-komponen lainnya dimasyarakat.

Tanggungjawab Negara terhadap pengembangan pendidikan bukan bermaksud untuk mengurangi


tanggungjawab pemerintah sebagai penyelenggara Negara dalam bidang pendidikan. Sebagaimana
diamanatkan oleh UU Sisdiknas 2003 bahwa pemerintah dan pemerintah daerah juga berhak
mengarahkan, membimbing, membantu dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan serta
berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi
setiap warga Negara tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerinmtahan daerah juga wajib
menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setaip warga Negara dari usia 7-
15 tahun. Lebih dari itu, sebenarnya peluang bagi orang tua / warga dan kelompok masyarakat
masih sangatlah luas.

Untuk itu , maka dalam kondisi kualitas layanan dan output pendidikan sedang banyak
dipertanyakan mutu dan relevansinya, maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang luas
bagi partisipasi masyarakat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Suryadi Prawirosentono { 2002 :
12 } bahwa ada 6 hal yang bisa mempengaruhi produk dan salah satunya adalah SDM. SDM kita
ibaratkan sebagai kelompok masyarakat, yang mana bisa membawa pengaruh pendidikan yang ada
dalam sebuah Negara.Lebih dari itu, pemerintah perlu menyusun mekanisme sehingga orang tua
dan kelompok-kelompok masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal dalam pengembangan
pendidikan di Indonesia.

3. Peran Masyarakat dalam Pendidikan

Di Negara yang menjunjung tinggi demokrasi, diyakini bahwa pemerintah dibuat dari, oleh, dan
untuk rakyat.Kebijaksanaan-kebijaksanaan negaranya, termasuk kebijaksanaan pendidikannya,
sebagai bagian dari perangkat untuk menjalankan pemerintahan di Negara tersebut, juga berasal
dari, oleh, dan untuk rakyat.Selain alasan demokrasi, kebijaksanaan pendidikan tersebut secara
konkrit dimaksudkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh rakyat dibidang
pendidikan. Rakyat lebih banyak tahu mengenai masalah mereka sendiri, dan bahkan juga banyak
mengetahui bagaimana cara memecahkannya. Maka, keterlibatan dan partisipasi masyarakat dalam
pelaksanaan kebijaksanaan tersebut, justru memperkukuh pelaksanaan kebijaksanaan yang
dilakukan oleh pelaksana formal.

Pembangunan yang dilakukan oleh Negara termasuk salah satu wujud dari implementasi
kebijaksanaan yang diformulasikan.Bentuk pembangunan tersebut tidak hanya masalah fisik dan
mental, melainkan juga sekaligus pembangunan partisipasi masyarakat.Partisipasi masyarakat,
dengan demikian termasuk bagian atau objek dari pembangunan itu sendiri. Masyarakat juga
dipandang sebaai modal dasar pembangunan, yang jika digalakkan akan besar sumbangannya
terhadap pembangunan. Keterlibatan mereka dalam melaksanakan kebijaksanaan – kebijaksanaan
Negara, termasuk kebijaksanaan pendidikannya, adalah manifestasi dari pemanfaatan dan
pendayagunaan modal dasar pembangunan.Keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaan
kebijaksanaan, tidak saja sekadar dipandang sebagai loyalitas rakyat atas pemerintahnya, melainkan
yang juga tak kalah penting adalah sebagai miliknya. Dengan adanya perasaan memiliki terhadap
kebijaksanaan-kebijaksanaan, masyarakat akansemakin banyak sumbangannya dalam pelaksanaan-
pelaksanaan kebijaksanaan, termasuk kebijaksanaan pendidikan.

Masyarakat selaku pengguna jasa lembaga pendidikan memiliki kewajiban untuk mengembangkan
serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan, sebagaimana diamanatkan
oleh Undang – Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV yang didalamnya
memuat bahwasannya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah,
masyarakat dan keluarga. Peran serta masyarakat / partisipasi masyarakat dalam pendidikan
meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha dan
organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu pelayanan
pendidikan .selain itu masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana dan pengguna
hasil.

Dalam Peraturan Pemerintah No. 39 Tahun 1992 BAB III pasal 4 peran serta / partisipasi maysarakat
dapat berbentuk:

a) Pendirian dan penyelenggaraan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur
pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan, dan pada
semua jenjang pendidikan di jalur pendidikan sekolah.

b) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga kependidikan untuk melaksanakan atau membantu
melaksanakan pengajaran, pembimbingan dan/atau pelatihan peserta didik.
c) Pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli untuk membantu pelaksanaan kegiatan belajar-
mengajar dan/atau penelitian dan pengembangan.

d) Pengadaan dan/atau penyelenggaraan program pendidikan yang belum diadakan dan/atau


diselenggarakan oleh Pemerintah untuk menunjang pendidikan nasional.

e) Pengadaan dana dan pemberian bantuan yang dapat berupa wakaf, hibah, sumbangan, pinjaman,
beasiswa, dan bentuk lain yang sejenis.

f) Pengadaan dan pemberian bantuan ruangan, gedung, dan tanah untuk melaksanakan kegiatan
belajar-mengajar.

g) Pengadaan dan pemberian bantuan buku pelajaran dan peralatan pendidikan untuk
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.

h) Pemberian kesempatan untuk magang dan/atau latihan kerja.

i) Pemberian bantuan manajemen bagi penyelenggaraan satuan pendidikan dan pengembangan


pendidikan nasional.

j) Pemberian pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan penentuan kebijaksanaan dan/atau


penyelenggaraan pengembangan pendidikan.

k) Pemberian bantuan dan kerjasama dalam kegiatan penelitian dan pengembangan, dan

l) Keikutsertaan dalam program pendidikan dan/atau penelitian yang diselenggarakan oleh


Pemerintah di dalam dan/atau di luar negeri.

Partisipasi merupakan prasyarat penting bagi peningkatan mutu. Partisipasi merupakanproses


eksternalisasi individu, sebagaimana dijelaskan oleh Berger, bahwa eksternalisasiadalah suatu
pencurahan kehadiran manusia secara terus menerus kedalam dunia, baikdalam aktifitas fisik
maupun mental. Pada proses eksternalisasi menurut Berger, adalahsuatu keharusan karena manusia
pada praktiknya tidak bisa berhenti dari prosespencurahan diri kedalam dunia yang ditempatinya.
Manusia akan bergerak keluarmengekspresikan diri dalam dunia sekelilingnya. Partisipasi sebagai
proses interaksi socialditentukan oleh objektifitas yang ditentukan oleh individu dalam dunia
intersubjektif yangdapat dibedakan oleh kondisi sosiokultural sekolah.

Bagi sekolah partisipasi masyarakat dalam pembangunan pendidikan adalah kenyataanobjektif yang
dalam pemahamannya ditentukan oleh kondisi subjektif orang tua siswa.Dengan demikian,
partisipasi menuntut adanya pemahaman yang sama atau objektivasi dari sekolah dan orang tua
dalam tujuan sekolah. Artinya, tidak cukup dipahami oleh sekolah bahwa partisipasi sebagai bagian
yang penting bagi keberhasilan sekolah dalam meningkatkan mutu, karena tujuan mutu menjadi
sulit diperoleh jika pemahaman dalam dunia intersubjektif (siswa, orang tua, dan guru) menunjukkan
kesenjangann pengetahuan tentang mutu.Tujuan partisipasi juga meberi peluang secara luas peran
masyarakat dalam bidang pendidikan ini sekaligus menunjukkan bahwa Negara bukan satu-satunya
penyelenggara pendidikan.

4. Bentuk-bentuk Peran Masyarakat dalam Pendidikan.

Desentralisasi pendidikan memerlukan partisipasi masyarakat.Dalam hal ini tujuan partisipasi


sebagai upaya peningkatan mutu pada satuan pendidikan cukup variatif.Bentuk partisipatif yaitu
dalam Manajemen Berbasis Sekolah, partisipasi orang tua dalam programmutu, komite sekolah,
pembiayaan sekolah, mengatasi problem anak, partisipasi dalamdisiplin sekolah, partisipasi edukatif
dalam perspektif siswa dan partisipasi guru dalamresiliensi sekolah. Bentuk-bentuk partisipasi yang
terjadi pada satuan pendidikan danmasalah yang dihadapi oleh sekolah yang secara umum
dideskripsikan sebagai berikut:

a. Bentuk Partisipasi Masyarakat

b. Bentuk Aktivitas Masalah

c. Partisipasi dalam MBS

1. Pihak masyarakat bermusyawarah dengan sekolah.

2. Pemerintah menyediakan sarana-prasarana sekolah.

3. Komite sekolah berpartisipasi aktif.

4. Pemanfaatan potensi yang ada

5. Masyarakat memiliki gotong royong

Berdasarkan tangga partisipasi belum semua sekolah mampu menggerakkan partisipasi masyarakat
pada tangga yang tertinggi

Partisipasi masyarakat dalam pendidikan

1. Kesiapan SDM secara profesional.

2. Stakeholder mendukung program sekolah.

3. Menghadiri pertemuan sekolah untuk mengetahui perkembangan siswa.

4. Membantu murid belajar

5. Mencari sumber-sumber lain/pendukung untuk memecahkan masalah pendidikan Belum semua


masyarakat, khususnya orang tua pada sekolah menyadari bahwa untuk terlibat secara aktif dalam
pembangunan pendidikan.

5. Hambatan Dalam Mengiktsertakan Masyarakat Dalam Pendidikan.

Deskripsi diatas memberikan gambaran yang lebih empirik bahwa masyarakat pada dasarnya
cenderung berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan, tetapi disisi lain tidak mudah untuk
mengajak masyarakat berpartisipasi. Hambatan yang dialami oleh sekolah untuk mengajak
partisipasi masyarakat dalam perbaikan mutu pendidikan membuktikan, belum sepenuhnya disadari
sebagai tanggung jawab bersama.Realitas tersebut menguatkan asumsi sepenuhnya bahwa
partisipasi tidak mudah diwujudkan, karena ada hambatan yang bersumber dari pemerintah dan
masyarakat.

Dari pihak pemerintah, kendala yang muncul dapat berupa:

1. Lemahnya komitmen politik para pengambil keputusan didaerah untuk secara sungguh-sungguh
melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut pelayanan public.
2. Lemahnya dukungan SDM yang dapat diandalkan untuk mengimplementasikan strategi
peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelayanan public.

3. Rendahnya kemampuan lembaga legislative dalam mengaktualisasikan kepentingan masyarakat.

4. Lemahnya dukunngan angggaran, karena kegiatan partisipasi public sering kali hanya dilihat
sebagai proyek, maka pemerintah tidak menjalankan dana secara berkelanjutan

Sedangkan pihak masyarakat, kendala partisipasi muncul karena beberapa hal, antara lain:

1. Budaya paternalism yang dianut oleh masyarakat menyulitkan untuk melakukan diskusi cara
terbuka.

2. Apatisme karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam pembuatan keputusan oleh
pemerintah daerah.

3. Tidak adanya trust masyarakat kepada pemerintah.

 Upaya Meningkatkan Masyarakat Dalam Kebijakan Pendidikan.

Pembuatan dan pelasksanaan kebijaksanaan haruslah senantiasa berusaha agar kebijaksanaan yang
digulirkan melibatkan sebangay mungkin partisipasi masyarakat, terutama dalam hal
pelaksanaannya.Inilah perlunya upaya dan rekayasa.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Menawarkan sanksi atas masyarakat yang tidak mau berpartisipasi. Sanksi demikian dapat berupa
hukuman, denda, dan karugian-kerugian yang harus diderita oleh si pelanggar.

2 .Menawarkan hadiah kepada mereka yang mau berpartisipasi. Hadiah yang demikian berdasarkan
kuantitas dan tingkatan atau derajat partisipasinya.

3. Melakukan persuasi kepada masyarakat dalam kebijaksanaan yang dilalaksanakan, justru akan
menguntungkan masyarakat sendiri, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

4. Menghimbau masyarakat untun turut berpartisipasi melalui serangkaian kegiatan.

5. Mengaitkan partisipasi masyarakat dengan layanan birokrasi yang lebih baik.

6. Menggunakan tokoh-tokoh kunci masyarakat yang mempunyai khalayak banyak untuk ikut serta
dalam kebijaksanaan, agar masyarakat kebanyakan yang menjadi pengikutnya juga sekaligus ikut
serta dalam kebijaksanaan yang diimplementasika.

7. Mengaitkan keikutsertaan masyarakat dalam implementasi kebijaksanaan dengan kepentingan


mereka. Masyarakat memang perlu diyakini, bahwa ada banyak kepentingan mereka yang terlayani
dengan baik, jika mereka berpartisipasidalam kebijaksanaan.

8. Menyadari masyarakat untuk ikut berpartisipasi terhadap kebijaksanaan yang telah ditetapkan
secara sah tersebut, adalah salah satu dari wujud pelaksanaan dan perwujudan aspirasi masyarakat.
6. Peranan Masyarakat Dalam Pendidikan

Peran serta Masyarakat (PSM) dalam pendidikan memang sangat erat sekali berkait dengan
pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan .ini tentu saja bukan hal yang ,mudah
untuk dilakukan. Akan tetapi apabila tidak dimulai dan dilakukan dari sekarang, kapan rasa memiliki,
kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimaldapat
diperolah dunia pendidikan.

1. Norma –norma Sosial Budaya

Masyarakat sebagai pusat paendidikan ketiga sesudah keluarga dan sekolah, mempunyai sifat dan
fungsi yang berbeda dengan ruang lingkup dengan batasan yang tidak jelas dan keanekaragaman
bentuk kehidupan sosial serta berjenis-jenis budayanya.

Masalah pendidikan di keluarga dan Sekolah tidak bisa lepas dari nilai-nilai sosial budaya yang
dijunjung tinggi oleh semua lapisan masyarakat. Setiap masyarakat, dimanapun berada pasti punya
karakteristik sendiri sebagai norma khas di bidang sosial budaya yang berbeda dengan masyarakat
yang lain.

Di Masyarakat terdapat norma-norma yang harus diikuti oleh warganya dan norma-norma itu
berpengaruh dalam pembentukan kepribadian warganya dalam bertindak dan bersikap.Dan norma-
norma tersebut merupakan aturan-aturan yang ditularkan oleh generasi tua kepada generasi
berikutnya. Penularan-penularan itu dilakukan dengan sadar dan bertujuan, hal ini merupakan
proses dan peran pendidikan dalam masyarakat.

2. Jenis jenis peran serta masyarakat dalam pendidikan

Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. Yang
biasa diklasifikasikan dalam, dimulai dari tingkat terendah ke tingkat lebih tinggi,yaitu;

• Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis ini adalah jenis tingkatan
yang paling umum, pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk
pendidikan anak.

• Peran serta secara fasif. Artinya, menyetujui dan menerima apa yang diputuskan lembaga
pendidikan lain , kemudian menerima keputusan lembaga tersebut dan mematuhinya.

• Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada jenis ini, masyarakat
berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sarana dan prasaranan pendidikan dengan
menyumbangkan dana, barang atau tenaga

• Peran serta dalam pelayanan. Masyarakat terlibat dalam kegiatan belajar mengajar, misalnya
membantu sekolah dalam bidang studi tertentu.

• Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. Misalnya, sekolah


meminta masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, dll.

• Peran serta dalam pengambilan keputusan. Masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah
pendidikan anak , baik akademis maupun non akademis. Dan ikut dalam proses pengambilan
keputusan dalam rencana pengembangan pendidikan.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulannya bahwa masyarakat mempunyai peran yang penting dalam terjadinya proses
pendidikan. Hampir segala sesuatu yang kita pelajari adalah hasil dari hubungan kita dengan orang
lain, baik dirumah, sekolah, tempat bermain, pekerjaan dan lainnya. Dengan kata lain dimanapun
kita berada kita pasti akan belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Bagi suatu masyarakat,
hakikat pendidikan diharapkan mampu berfungsi menunjang kelangsungan kemajuan hidupnya, agar
masyarakat itu dapat melanjutkan eksistensinya,maka diteruskan nilai-nilai, pengetahuan,
ketrampilan dan bentuk tata perilaku lainnya bagi generasi muda.

B. Saran

Dalam pengumpulan materi pembahasan di atas, tentunya ada banyak kekurangan dan kesalahan.
Oleh karena itu hendaknya pembaca memberikan tanggapan dan tambahan terhadap makalah kami.
Atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Imron, Ali. Kebijaksanaan Pendidikan Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara, 2002.

Sam M. Chan dan TutiT. Sam. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2005.

Hery Noer Aly dan Munzier Suparta, 2003.Pendidikan Islam Kini Dan Mendatang. Jakarta: CV.
Triasco., Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: Balai Pustaka.

Prawirosentono, Suryadi, 2002. Filosofi Baru Tentang Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.

Suwarno, 1992 . Pengantar Umum Pendidikan. Surabaya.: IKIP. Undang-Undang Sisdiknas Republik
Indonesia. 2003. No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : CV Triasco

PAK GEMBLUUUUNGGG
Sebuah surat undangan untuk wali murid diterima Pak Gemblung dari anaknya. Setelah dibaca,
ternyata isinya undangan sosialisasi program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Berbasis
Masyarakat yang akan diadakan sekolah.

Sebenarnya, Pak Gemblung malas untuk menghadiri undangan tersebut. Pertama, karena dia harus
bekerja. Kedua, karena sekolah anaknya selalu molor kalau mengadakan acara. Biasanya acara
mundur satu sampai dua jam dari waktu yang tertulis di undangan.
api kali ini dia akan datang. Sepenuhnya dia sadar betapa pentingnya PPK bagi anak. Di samping itu
dia merasa telah menjadi bagian dari masyarakat yang secara yuridis memang harus berperan dalam
PPK.

PPK adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat
karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan
pelibatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat (Pasal 1 Peraturan
Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Pendidikan Penguatan Karakter)

Dari penjelasan di atas jelas bahwa masyarakat harus berperan dalam PPK di sekolah. Peran tersebut
diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 20 Tahun 2018
tentang Penguatan Pendidikan Karakter Pada Satuan Pendidikan Formal.

Pada Pasal 5 Ayat 1 Permendikbud di atas dijelaskan bahwa PPK pada Satuan Pendidikan Formal
diselenggarakan dengan mengoptimalkan fungsi kemitraan tripusat pendidikan yang meliputi: a)
sekolah, b) keluarga dan c) masyarakat.

Khusus untuk pengoptimalan penyelenggaraan PPK oleh masyarakat dilaksanakan melalui pelibatan
perorangan, kelompok masyarakat, dan atau lembaga. Pada Pasal 6 Permendikbud ini juga
dijelaskan bahwa pendekatan berbasis masyarakat dilakukan dengan tiga cara.

Pertama, memperkuat peranan orang tua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan dan
Komite Sekolah sebagai lembaga partisipasi masyarakat yang menjunjung tinggi prinsip gotong
royong.

Kedua, melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan sebagai sumber belajar seperti
keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, alumni, dunia usaha, dan
dunia industri.

Ketiga, mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup
akademisi, pegiat pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga informasi.

Untuk penguatan peranan orangtua sekolah dapat berpedoman pada Permendikbud Nomor 30
Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga dalam Penyelenggaraan Pendidikan. Dalam Pasal 6
Permendikbud tersebut ada sepuluh bentuk pelibatan keluarga pada satuan pendidikan yang dapat
dilakukan orangtua.

Anda mungkin juga menyukai