0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan81 halaman

Analisis Daya Thin Solar Panel

Diunggah oleh

Indah Maimunah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan81 halaman

Analisis Daya Thin Solar Panel

Diunggah oleh

Indah Maimunah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PRODUKTIVITAS LISTRIK PADA

THIN SOLAR PANEL

TUGAS AKHIR
Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Institut
Teknologi Padang

Oleh:
ALFANDI RAMADHAN
2019310027

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO SARJANA

FAKULTAS TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
SEPTEMBER 2023
TUGAS AKHIR

ANALISIS PRODUKTIVITAS LISTRIK PADA


THIN SOLAR PANEL

Oleh:
ALFANDI RAMADHAN
2019310027

PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO SARJANA

FAKULTAS TEKNIK
INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
SEPTEMBER 2023

ii
ABSTRAK

ANALISIS PRODUKTIVITAS LISTRIK PADA


THIN SOLAR PANEL

ALFANDI RAMADHAN
2019310027

TEKNIK ELEKTRO

Kebutuhan energi listrik dipredisksi semakin meningkat sebesar 70% antara tahun 2000
hingga 2030, seiring bergantinya tahun membuat jumlah penduduk semakin naik,
tentunya membuat kebutuhan listrik semakin melonjak, agar tidak kekurangan energi
listrik kita dapat memanfaatkan salah satu sumber energi yang melimpah seperti energi
matahari yang mana energi matahari ini dapat diubah menjadi energi listrik. Energi
matahari ini memiliki banyak keuntungan seperti ramah lingkungan, bersih dan tidak
menimbulkan polusi udara serta bisa didapat secara gratis. Sebuah perangkat yang dapat
mengubah sinar matahari menjadi energi listrik disebut panel surya. Pada saat sekarang
panel surya yang banyak digunakan jenis polycristalline dan monocrystalline, namun
keduanya memiliki bobot yang berat. Kedepannya diharapkan thin solar panel dapat
berkembang, karena mempunyai bobot yang tipis tentunya bisa diaplikasikan pada
banyak barang elektronik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas
daya thin solar panel. Peneltian ini terdiri dari beberapa tahap yakni pengukuran,
pengolahan data, analisis data, dan pelaporan. Daya yang dihasilkan pada thin solar
panel yakni pada pengukuran kesatu rata-rata 5,648 Watt (0,0564%), pengukuran kedua
rata-rata 2,090Watt (0,0209%), pengukuran ketiga rata-rata 3,529 Watt (0,0352%),
pengukuran keempat rata-rata 2,817 Watt (0,0281%), pengukuran keenam rata-rata
4,125 Watt (0,0412%), pengukuran ketujuh rata-rata 2,332 Watt (0,0233%) dan
pengukuran kedelapan 6,885 Watt (0,0688%). Sehingga didapatkan hasil daya yang
paling tinggi pada pengukuran kedelapan, hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang cerah
mampu menyerap daya thin solar panel dengan optimal.

Kata kunci : Thin solar panel, Daya


iii
LEMBAR PENGESAHAN

ANALISIS PRODUKTIVITAS LISTRIK PADA


THIN SOLAR PANEL

Oleh:
ALFANDI RAMADHAN
2019310027
TEKNIK ELEKTRO SARJANA

Institut Teknologi Padang

Disahkan
Tanggal .................................

Pembimbing-1 Pembimbing-2

Andi M. Nur Putra, M.T. Arfita Yuana Dewi, M.T


NIDN. 1024017501
NIDN. 1028108801

Dekan Fakultas Teknik Ketua Prodi

Maidiawati, Dr. Eng. Andi M. Nur Putra, M.T.


NIDN. 1005057201
NIDN. 1028108801

iv
LEMBAR PERSETUJUAN PENGUJI

ANALISIS PRODUKTIVITAS LISTRIK PADA


THIN SOLAR PANEL

Oleh:
ALFANDI RAMADHAN
2019310027
TEKNIK ELEKTRO SARJANA

Institut Teknologi Padang

Telah dipertahankan di depan penguji


Pada tanggal .................................

Ketua

Arfita Yuana Dewi, M.T


NIDN. 1024017501

Penguji-1 Penguji-2 Penguji-3

Andi M. Nur Putra, M.T Dr.Sepannur Bandri,S.T., M.T Ir. Erhaneli, M.T
NIDN. 1028108801 NIDN. 1012097402 NIDN. 1020066301

v
PERNYATAAN KEASLIAN ISI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :


Nama : Alfandi Ramadhan
Nim : 2019310027
Program Studi : Teknik Elektro Sarjana
Judul TA : Analisis Produktivitas Listrik Pada Thin Solar Panel

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis merupakan hasil
karya saya sendiri dan bukan merupakan duplikasi serta tidak mengutip sebagian atau
seluruhnya karya orang lain kecuali yang telah saya sebutkan sumbernya.

Padang, 25 September 2023

Alfandi Ramadhan

vi
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan


rahmat dan karuniaNya serta kemudahan kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan Tugas Akhir dengan judul Analisis Produktivitas
Listrik Pada Thin Solar Panel ini dengan baik dan lancar sebagai salah satu
syarat untuk memenuhi kurikulum Strata 1 (S1), Program Studi Teknik Elektro,
Fakultas Teknik, Institut Teknologi Padang. Shalawat dan salam selalu
terlimpahkan untuk Rasulullah Muhammad SAW.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tugas Akhir ini tidak lepas dari
berbagai kesulitan. Tetapi berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak,
maka kesulitan ini dapat diatasi. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih kepada :

1. Kedua orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, semangat, doa
dan dukungan yang sangat besar hingga Tugas Akhir ini selesai.

2. Bapak Dr. Ir. H. Hendri Nofrianto, M.T., selaku Rektor Institut


Teknologi Padang
3. Ibu Maidiawati, Dr. Eng., selaku Dekan Fakultas Teknik Institut
Teknologi Padang
4. Bapak Andi M Nur Putra, M.T., selaku Ketua Program Studi Teknik
Elektro Institut Teknologi Padang dan juga selaku Pembimbing dua yang
telah membimbing dalam pembuatan Tugas Akhir ini
5. Ibu Arfita Yuana Dewi, S.T., M.T., selaku Pembimbing satu yang telah
membimbing dalam pembuatan Tugas Akhir ini
6. Bapak Dr.Sepannur Bandri, S.T., M.T selaku Dosen Penguji satu yang
telah memberikan banyak masukan dalam pembuatan Tugas Akhir.
7. Ibu Ir. Erhaneli, M.T selaku Dosen Penguji dua yang telah memberikan
banyak masukan dalam pembuatan Tugas Akhir.
8. Bapak Zuriman Anthony, S.T., M.T selaku Penasehat Akademik yang
telah memberikan dukungan pengarahan selama masa perkuliahan
vii
9. Bapak dan Ibu Dosen Pengajar Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi
Padang.
10.
11. Anggota penelitian yang telah meberikan bantuan dan motivasi dalam
pengerjaan penelitian
12. Rekan – rekan seperjuangan yang saling bahu membahu dalam suka dan
duka selama perkuliahan
Penulis menyadari penulisan tugas akhir ini belum sepenuhnya sempurna.
Untuk itu tanggapan, masukan dan saran sangat diperlukan demi kebenaran dan
kepentingan bersama.
Padang, 6 Oktober 2023

ALFANDI RAMADHAN

viii
DAFTAR ISI
RINGKASAN.................................................................................................................. ii

DAFTAR ISI ..................................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR...................................................................................................... iv

DAFTAR TABEL ...........................................................................................................


v

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................2

1.1 Latar Belakang.................................................................................................2


1.2 Rumusan Masalah............................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................2
1.4 Batasan Masalah..............................................................................................2
1.5 Manfaat Penelitian...........................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................2

2.1 Studi Literatur..................................................................................................2


2.2 Landasan Teori................................................................................................2
2.2.1 Sel Surya..................................................................................................2
2.2.2 Proses Konversi Listrik Pada Sel Surya...................................................2
2.2.3 Jenis-Jenis Sel Surya................................................................................2
2.2.4 Arus dan Tegangan..................................................................................2
2.2.6 Daya Output.............................................................................................2
2.2.7 Fill Faktor (FF)........................................................................................2
2.2.8 Efesiensi Sel Surya..................................................................................2
2.2.10 Faktor yang Mempengaruhi Daya Keluaran Panel Surya......................2
2.2.11 Radiasi Harian Matahari pada Permukaan Bumi...................................2
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................................2

3.1 Deksripsi Penelitian.........................................................................................2


3.2 Lokasi Penelitian.............................................................................................2
3.3 Tahapan Penelitian..........................................................................................2
3.4 Metode Pengukuran.........................................................................................2
3.5 Metode Analisis Data......................................................................................2
3.6 Jadwal Penelitian.............................................................................................2
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................2
ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses energi matahari menjadi energi listrik pada sel surya...............5
Gambar 2.2 Medan listrik di daerah pengosongan beralih dari kanan ke kiri..........6
Gambar 2.3 Sambungan P-N....................................................................................7
Gambar 2.4 Silikon monocristaline..........................................................................8
Gambar 2.5 Silikon Polycrystaline...........................................................................8
Gambar 2.6 Thin Film Solar Cell.............................................................................8
Gambar 2.7 Radiasi sorotan dan radiasi sebaran mengenai permukaan bumi.........13
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian........................................................................14
Gambar 3.2 Rangkaian Pengujian............................................................................15
Gambar 4.1 Alat Ukur Yang digunakan...................................................................18
Gambar 4.2 Rangkaian Panel yang digunakan ……………………………….…..18
Gambar 4.3 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel hari pertama…………………19
Gambar 4.4 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Pertama……………………20
Gambar 4.5 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedua……………...21
Gambar 4.6 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedua………………….....22
Gambar 4.7 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketiga…………….....23
Gambar 4.8 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketiga…………………….24
Gambar 4.9 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keempat………………..25
Gambar 4.10 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keempat…………………. 26
Gambar 4.11 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kelima...................................27
Gambar 4.12 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kelima.............................28
Gambar 4.13 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keenam………….29
Gambar 4.14 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keenam…………………30
Gambar 4.15 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketujuh……………………...31
Gambar 4.16 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketujuh............................32
Gambar 4.17 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedelapan...............................33
Gambar 4.18 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedelapan........................34

x
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Pengerjaan…………………………………………………….16


Tabel 4.1 Spesifikasi Panel Surya.........................................................................17
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Pertama................................18
Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedua..................................19
Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedua..................................20
Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedua............................................21
Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketiga........................................22
Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketiga……………………………….23
Tabel 4.8 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keempat.....................................24
Tabel 4.9 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keempat.........................................25
Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kelima.....................................26
Tabel 4.11 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kelima.........................................27
Tabel 4.12 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keenam…………………………28
Tabel 4.13 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keenam........................................29
Tabel 4.14 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketujuh…………………………30
Tabel 4.15 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketujuh…………………………….31
Tabel 4.16 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedelapan.................................32
Tabel 4.17 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedelapan..............................33

xi
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan energi listrik dipredisksi semakin meningkat sebesar 70% antara tahun 2000
hingga 2030, kebutuhan tersebut meningkat karena adanya beberapa faktor salah
satunya ialah adanya pertumbuhan jumlah penduduk dan kemajuan teknologi. Hampir
semua aktivitas masyarakat menggunakan energi listri, contohnya aktivitas rumah
tangga dan industri Sehingga kebutuhan energi listrik melonjak. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut dapat memanfaatkan salah satu energi yaitu energi matahari. Energi
matahari adalah energi yang dapat diperbaharui dan dapat diubah menjadi energi listrik
menggunakan panel surya. (Agne dkk, 2010). Dari beberapa energi terbarukan yang kita
ketahui energi matahari memiliki banyak keuntungan seperti ramah lingkungan, bersih
dan tidak menimbulkan polusi udara serta bisa didapat secara gratis (Ramadani, 2021).

Pada saat ini panel yang sering digunakan yakni jenis polycristalline dan
monocrystalline. Polycristalline memiliki efisiensi yang bagus 8,47% - 12,22% (Ady
Pratama dan Herlamba Siregar, 2018) dan monocrystalline memiliki efisiensi sebesar
15,32% - 20,87% (Budiyanto dan Setiawan, 2021) sedangkan pada jenis thin solar
panel memiliki efisiensi sebesar 5,78% - 6,13% (Tiun dkk 2019). Panel surya yang
banyak digunakan jenis polycristalline dan monocrystalline (Asrori Harahap, M.
Zusriansyah Fahrudin, 2022), kedua jenis ini memiliki efisiensi yang bagus, kemudian
ada jenis baru yang dikembangkan yakni thin solar panel, jensi thin solar panel
mempunyai kelebihan dengan bobot nya yang lebih tipis dan ringan dibandingakan
polycristalline dan monocrystalline bobot nya lebih tebal, namum thin solar panel
belum banyak digunakan, karena masih memiliki efisiensi yang rendah.

Berdasarkan uraian diatas, diharapkan kedepannya thin solar panel dapat berkembang,
karena dengan kelebihan yang dimiliki seperti bobot yang tipis tentunya bisa
diaplikasikan pada barang elektronik seperti televisi, kalkulator, lampu jalan dan lain
sebagainya. Selanjutnya efisiensi thin solar panel ini menjadi lebih tinggi sehingga
menjadi pilihan yang layak untuk digunakan dalam berbagai bidang.

Dilihat dari penjelasan tersebut, masalah efisiensi thin solar panel yang rendah
menyebabkan belum banyak digunakan oleh masyarakat, efisiensi yang rendah ini dapat
disebabkan oleh beberapa hal seperti material yang digunakan tidak sebagus
polycristalline dan monocrystalline, optimalisasi kontrol yang dipakai belum baik dan
biaya yang mahal.

Selanjutnya terdapat beberapa penelitian yang mendukung dalam tugas akhir ini,
dimana penelitian tersebut dijadikan acuan penelitian pada tugas akhir, Dalam
penelitian yang telah dilakukan produktivitas energi pada jenis monocrystalline adalah
20%, jenis polycristalline 12 %(Ady Pratama dan Herlamba Siregar, 2018). Dalam
penelitian (Yuliananda dkk 2015) efisiensi didukung oleh faktor temperatur sel yang
normal, radiasi matahari, keadaan cuaca, sudut orientasi panel, dan posisi letak panel
surya. Kemudian dijelaskan juga dalam penelitian (Suryana, 2016) faktor yang
mendukung efisiensi intensitas radiasi cahaya matahari dan suhu udara lingkungan Pada
penelitian Suryana dan Yuliananda dilakukan dengan situasi terbatas seperti kenaikan
temperatur dapat membuat tegangan listrik yang diproduksi oleh panel surya berkurang.
Intensitas juga mempengaruhi besar daya, bila intensitas cahaya rendah produktivitas
daya yang dihasilkan juga rendah. Lalu dalam penelitian (Setyaningrum, 2017)
diuraikan juga bahwa pengujian produktivitas energi dilakukan dengan menguji sifat
material penyusun dari panel, sehingga belum ada yang melakukan pengujian
produktivitas dari thin solar panel.

Oleh sebab itu, dari yang telah dipaparkan dan adanya permasalahan yang ditemukan
sehingga dalam penelitian ini akan dilakukan pengujian terhadap produktivitas energi
dengan metode eksperimen pada thin solar panel berkapasitas 100 Wp untuk
mengetahui energi maksimum, dan arus yang dihasilkan.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang masalah, maka identifikasi permasalahan dirumuskan

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana produktivitas listrik yang dihasilkan dari Thin Solar Panel


2. Bagaimana pengaruh peak sun hours terhadap produktivitas listrik yang dihasilkan.

1.3 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini yaitu
2
1. untuk menganalisis produktivitas listrik yang dihasilkan dari panel surya Thin Solar
Panel.
2. Untuk mengetahui pengaruh peak sun hours terhadap produktivitas listrik yang
dihasilkan

1.4 Batasan Masalah


1. Analisis menggunakan Thin Solar Panel
2. Analisis menguji produktivitas listrik yang dihasilkan Thin Solar Panel
3. Analisis produktivitas arus yang dihasilkan Thin Solar Panel
4. Analisis produktivitas daya yang dihasilkan Thin Solar Panel
5. Lokasi penelitian ini hanya di Institut Teknologi Padang

1.5 Manfaat Penelitian


Keuntungan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah mengetahui produktivitas listrik
yang dihasilkan dari Thin Solar Panel dan juga bisa dijadikan sebagai referensi untuk
penelitian selanjutnya.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Studi Literatur


Menurut (Purwoto dkk., 2018) Panel surya dapat menjadi alternatif pengganti
penggunaan generator atau genset sebagai sumber energi listrik. Dalam penelitian ini,
digunakan panel surya berkapasitas 100 WP. Energi yang dihasilkan oleh panel surya
disimpan dalam baterai berkapasitas 12 volt 70 AH. Meskipun panel surya
menghasilkan energi listrik dengan tegangan searah, kebanyakan peralatan listrik
menggunakan tegangan bolak-balik. Oleh karena itu, diperlukan inverter untuk
mengubah tegangan searah menjadi tegangan bolak-balik. Dalam penelitian ini,
diperoleh hasil berkapasitas 200 watt yang dapat mengubah tegangan DC 12 Volt
menjadi AC 220 Volt. Hasil ini dapat digunakan sebagai sumber energi listrik untuk
lampu.

Menurut (Usman, 2020) Teknologi yang mengubah sinar matahari menjadi listrik
disebut teknologi sel surya. Suatu penelitian dilakukan pada panel surya dengan daya
10Wp terhadap intensitas sinar matahari. Hasilnya menunjukkan bahwa pada intensitas
sinar matahari sebesar 6900 lux, panel surya menghasilkan tegangan 17,7 Volt dan arus
0,53 ampere. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi intensitas sinar
matahari yang diterima oleh panel surya, semakin tinggi pula arus dan tegangan yang
dihasilkan.

(Megantoro dkk., 2022) Melakukan analisis jam matahari puncak (PSH) untuk
menentukan potensi energi surya yang dapat diperoleh di Universitas Airlangga
sepanjang tahun. Faktor-faktor seperti orientasi dan kemiringan panel surya juga
dipertimbangkan serta memberikan metode untuk menghitung PSH dan membahas
pentingnya PSH dalam merancang sistem energi surya yang dapat diandalkan. Selain
itu, artikel ini juga membahas studi tentang konversi energi fotovoltaik surya,
pemantauan kinerja sistem PV.

Menurut (Suwarti, 2019) Perubahan waktu mempengaruhi intensitas matahari sehingga


intensitasnya bervariasi pada sudut 90 0 yang tetap dan suhu permukaan yang relatif
sama. Variasi suhu dengan sudut pengarah tetap pada intensitas yang relatif sama

4
digunakan untuk mendapatkan suhu permukaan. Sudut pengarah dapat diubah untuk
mendapatkan sudut pengarah dengan intensitas dan suhu yang relatif sama. Kinerja
panel surya dipengaruhi oleh intensitas matahari yang semakin besar akan
meningkatkan arus dan tegangan yang cenderung tetap. Suhu permukaan juga
mempengaruhi kinerja panel surya, semakin tinggi suhu permukaan maka tegangan
akan semakin kecil dan arusnya cenderung tetap. Sudut pengarah juga mempengaruhi
performa panel surya, semakin dekat dengan tegak lurus terhadap datangnya cahaya
matahari maka tegangan dan arusnya akan semakin besar.

Menurut (Hie Khwee, 2013) Umumnya, Panel Surya dibuat dari bahan yang mampu
menyerap energi foton dan radiasi yang dipancarkan oleh matahari dan mengubahnya
menjadi energi listrik. Radiasi tersebut menghasilkan energi panas yang diserap oleh
panel dan meningkatkan suhu sel-sel surya. Namun, peningkatan suhu dapat
mengurangi daya listrik yang dihasilkan oleh panel surya.

Menurut (Iswahyudi et al., no date) Setiap tahunnya Bumi menerima energi dari
matahari sebesar 2,2 x106 kWh. Energi tersebut 99,9 % atau lebih dari energi yang ada
di Bumi. Teknologi fotovoltaik memungkinkan mengubah energi radiasi menjadi
gerakan elektron di dalam bahan semikonduktor. Besarnya konversi energi fotovoltaik
ditentukan oleh efisiensi sel surya, intensitas radiasi dan panjang gelombang. Semakin
tinggi intensitas radiasi yang diterima oleh sel surya, semakin tinggi pula energi yang
dikonversikan.

2.2 Landasan Teori


Sumber energi yang paling menguntungkan dari semua sumber energi terbarukan yang
tersedia di seluruh dunia disebut energi matahari. Energi ini bersumber dari sinar
matahari yang tak pernah habis. Energi ini telah menjadi populer di seluruh dunia
dibandingkan dengan sumber energi terbarukan lainnya karena dapat dengan langsung
diubah menjadi energi listrik. Proses konversi energi matahari menjadi energi listrik
melibatkan penggunaan bahan fotovoltaik. (Yadav dkk.,2020). Permintaan energi
terbarukan semakin meningkat karena dianggap energi bersih dan tidak menghasilkan
polusi atau emisi gas beracun yang berdampak negatif terhadap lingkungan dan
kesehatan manusia juga membutuhkan sedikit pemeliharaan, dan tidak mengeluarkan
suara (Ali dkk., 2022). Sistem fotovoltaik menggunakan sel surya atau sekelompoknya
5
untuk mengubah sinar matahari langsung menjadi listrik (Abderrahim dkk.,2020). Daya
yang dihasilkan oleh sistem fotovoltaik bergantung pada penyinaran dan suhu
matahari(Hamrouni dkk., 2008).

2.2.1 Sel Surya


Sel surya adalah salah satu jenis teknologi rekayasa energi terbarukan yang dapat
mengubah foton yang berasal dari matahari untuk diubah menjadi energi listrik. Jumlah
energi yang dapat dikonversi oleh sel surya ditentukan oleh waktu insolasi efektif. Peak
sun hours (PSH) menjadi fokus penelitian ini. Analisis PSH ini bertujuan untuk
mengetahui potensi energi matahari yang diperoleh di lokasi geografis sepanjang tahun.
Pemasangan panel surya yang meliputi ketinggian, kemiringan, dan garis lintang
permukaan panel surya perlu diperhatikan untuk mendapatkan energi matahari yang
maksimal(Megantoro dkk., 2022).

Sel surya memanfaatkan energi matahari untuk direkayasa menjadi energi melalui efek
fotolistrik(Killam dkk.,2021). Material Besarnya energi yang dapat diubah menjadi
energi listrik tergantung pada lamanya penyinaran matahari dan besarnya daya panel
surya (Watt peak). Namun, lamanya waktu matahari bersinar tidak bisa dikatakan
sebagai waktu efektif. Konversi optimum energi matahari terjadi pada saat insolasi pada
rata-rata waktu iradiasi maksimum atau yang disebut dengan PSH. PSH adalah
parameter yang menyatakan perbandingan durasi maksimum penyinaran matahari
dalam jam per hari terhadap standar intensitas penyinaran matahari yaitu 1 kW/ m2.

Secara mendasar, radiasi matahari yang diterima oleh panel surya bersifat tidak stabil di
mana kekuatannya meningkat di pagi hari dan menurun di sore hari. Durasi efektif
paparan matahari pada panel surya memengaruhi jumlah daya listrik yang dihasilkan.

Secara sederhana sel surya terdiri dari persambungan bahan semikonduktor bertipe P
dan N P-N junction semiconductor yang jika terkena sinar matahari maka akan terjadi
aliran elektron, aliran elektron inilah yang disebut sebagai aliran arus listrik (Harahap,
2020). Proses pengubahan energi matahari menjadi energi listrik ditunjukan dalam
Gambar di bawah ini :

6
Gambar 2.1 Proses pengubahan energi matahari menjadi energi listrik pada sel surya
(Kaban dan Jafri, 2020)

Hole secara kontiniu meninggalkan tipe-p dan menyebabkan ion negatif akseptor
tertinggal di dekat sambungan. Begitupun dengan elektron yang meninggalkan tipe-n
akan menyebabkan beberapa ion positif donor tertinggal didekat sambungan. Sebagai
konsekuensinya, ruang muatan negatif terbentuk di daerah tipe-p dan ruang muatan
positip terbentuk di daerah tipe-n dekat sambungan, sampai tepat pada sambungan p-n
terjadi daerah tanpa muatan bebas yang disebut daerah pengosongan depletion region
(Shodiq, 2017).

Gambar 2.2 Medan listrik di daerah pengosongan beratah dari kanan ke kiri (Harahap,
2020)

Energi surya terjadi karena elektron dilepaskan akibat cahaya yang mengenai logam.
Logam-logam dari golongan 1 pada tabel periodik unsur seperti Lithium, Natrium,
Kalium, dan Cessium mempunyai kemampuan yang tinggi untuk melepaskan elektron
valensi mereka. Selain dari reaksi redoks, elektron valensi pada logam-logam tersebut
juga dapat dilepaskan oleh cahaya yang mengenai permukaan logam. Cessium adalah
logam yang paling mudah melepaskan elektronnya, sehingga sering digunakan sebagai
detektor foto.

Tegangan yang dihasilkan oleh sensor photovltaik adalah sebanding dengan frekuensi

7
gelombang cahaya. Semakin kearah warna cahaya biru, makin tinggi tegangan yang
dihasilkan. Tingginya intensitas listrik akan berpengaruh terhadap arus listrik. Bila foto
voltaik diberi beban maka arus listrik dapat dihasilkan adalah tergantung dari intensitas
cahaya yang mengenai permukaan semikonduktor.

2.2.2 Proses Konversi Listrik Pada Sel Surya

Gambar 2.3 Sambungan P-N (Setyaningrum, 2017b)


Ketika suatu Kristal silikon ditambahkan dengan unsur golongan kelima,misalnya arsen,
maka atom-atom arsen itu akan menempati ruang diantara atom-atom silicon yang
mengakibatkan munculnya electron bebas pada material campuran tersebut. Elektron
bebas tersebut berasal dari kelebihan elektron yang dimiliki oleh arsen terhadap
linkungan sekitarnya, dalam hal ini adalah silicon. Semikonduktor jenis ini kemudian
diberi nama semikonduktor tipe-n. Hal yang sebaliknya terjadi jika Kristal silicon
ditambahkan oleh insur golongan ketiga, misalnya boron, maka kurangnya electron
valensi boron dibandingkan dengan silicon mengakibatkan munculnya hole yang
bermuatan positif pada semikonduktor tersebut. Semikonduktor ini dinamakan
semikonduktor tipe-p. Adanya tambahan pembawa muatan tersebut mengakibatkan
semikonduktor ini akan lebih banyak menghasilkan pembawa muatan ketika diberikan
sejumlah energi tertentu, baik pada semikonduktor tipe-n maupun tipe-p.

2.2.3 Jenis-Jenis Sel Surya


Ada berbagai jenis bahan yang digunakan untuk membuat sel surya dengan efisiensi
8
yang bervariasi. Berikut adalah beberapa contoh bahan pembuat sel surya : (Safitri,
2019)
1. Monocrystalline
Tipe ini terbuat dari potongan kristal silikon murni yang diiris tipis. Dengan metode ini,
dihasilkan kepingan sel surya yang identik satu sama lain serta sangat efisien. Tipe ini
memiliki efisiensi lebih tinggi dibandingkan tipe sel surya lainnya, yakni sekitar 15% -
20%. Namun, kelemahannya adalah ketika disusun menjadi modul surya (panel surya),
tipe sel surya ini akan meninggalkan banyak ruang kosong karena umumnya berbentuk
segi enam atau bulat, tergantung pada bentuk potongan kristal silikon.

Gambar 2.4 Silikon monocristaline (Safitri, 2019)

2. Poly-crystalline
Tipe ini terdiri dari beberapa batang silikon kristal yang dilelehkan lalu dicetak ke
dalam cetakan berbentuk persegi. Kemurnian silikon kristalnya tidak setinggi pada sel
surya monocrystalline, sehingga sel surya yang dihasilkan tidak seragam dan
efisiensinya lebih rendah, yakni sekitar 13% - 16%.

Gambar 2.5 Silikon Polycrystaline (Safitri, 2019)

3. Thin Film Solar Cell (TFSC)


Sel fotovoltaik jenis ini dibuat dengan menambahkan satu atau beberapa lapisan bahan
tipis ke lapisan dasar. Karena sangat tipis, sel surya jenis ini sangat ringan dan fleksibel.

9
Jenis ini dikenal dengan nama TFPV (Thin Film Photovoltaic)

Gambar 2.6 Thin Film Solar Cell (Safitri, 2019)

Berdasarkan materialnya, sel surya thin film ini digolongkan menjadi:


a. Amorphous Silicon (a-Si) Solar Cells
Sel surya dengan bahan Amorphous Silicon ini, awalnya banyak diterapkan pada
kalkulator dan jam tangan.Namun seiring dengan perkembangan teknologi
pembuatannya penerapannya menjadi semakin luas. Dengan teknik produksi yang
disebut "stacking" (susun lapis), dimana beberapa lapis Amorphous Silicon ditumpuk
membentuk sel surya, akan memberikan efisiensi yang lebih baik antara 6% - 8%.

b. Cadmium Telluride (CdTe) Solar Cells


Sel surya jenis ini mengandung bahan Cadmium Telluride yang memiliki efisiensi lebih
tinggi dari sel surya Amorphous Silicon, yaitu sekitar: 9% - 11%.

c. Copper Indium Gallium Selenide (CIGS) Solar Cells


Dibandingkan kedua jenis sel surya thin film di atas, CIGS sel surya memiliki efisiensi
paling tinggi yaitu sekitar 10% - 12%.Selalin itu jenis ini tidak mengandung bahan
berbahaya Cadmium seperti pada sel surya CdTe.c `

2.2.4 Arus dan Tegangan


Atom adalah partikel terkecil penyusun materi, atom terdiri dari partikel-partikel sub-
atom yang tersusun atas elektron, proton, dan neutron dalam berbagai gabungan.
Elektron adalah muatan listrik negatif (-) yang paling mendasar. Elektron dalam
cangkang terluar suatu atom disebut elektron valensi. Apabila energi eksternal seperti
energi kalor, cahaya, atau listrik diberikan pada materi, elektron valensinya akan
memperoleh energi dan dapat berpindah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Jika energi
yang diberikan telah cukup, sebagian dari elektron-elektron valensi terluar tadi akan
meninggalkan atomnya dan statusnyapun berubah menjadi elektron bebas. Gerakan

10
elektron-elektron bebas inilah yang akan menjadi arus listrik dalam konduktor logam.
Gerak atau aliran elektron disebut arus ( I ), dengan satuan ampere (Yuliananda., 2015).

Sebagian atom kehilangan muatan elektron dan sebagian atom lainnya memperoleh
muatan elektron. Keadaan ini akan memungkinkan terjadinya perpindahan muatan
elektron dari satu objek ke objek lain. Apabila perpindahan ini terjadi, distribusi muatan
positif dan negatif dalam setiap objek tidak sama lagi. Objek dengan jumlah muatan
elektron yang berlebih akan memiliki polaritas listrik negatif (-). Objek yang
kekurangan muatan elektron akan memiliki polaritas listrik positif (+). Besaran muatan
listrik ditentukan oleh jumlah muatan elektron dibandingkan dengan jumlah muatan
proton dalam suatu objek. Simbol untuk besaran muatan elektron ialah Q dan satuannya
adalah coulomb. Besarnya muatan 1 C = 6,25 x 1018 muatan elektron.

Medan elektrostatik yang mengelilingi benda bermuatan memungkinkan kemampuan


muatan listrik untuk menghasilkan gaya. Gaya ini dapat menyebabkan muatan listrik
melakukan kerja, baik itu tarikan atau tolakan, yang dikenal sebagai potensial. Ketika
muatan listrik berbeda, maka akan ada beda potensial antara keduanya. Satuan dasar
beda potensial adalah volt (V), sehingga beda potensial sering disebut sebagai voltage
atau tegangan. (Yuliananda dkk., 2015).

Pada suatu rangkaian terdapat suatu resistansi atau hambatan (R) oleh karena itu
rangkaian tersebut akan muncul hukum ohm. Hukum ohm mendefinisikan hubungan
antara arus (I), tegangan (V), dan resitansi atau hambatan (R) (Reza pahlevi, Hasyim
Asy’ari, 2014).

Berikut merupakan rumusan persamaan dari ketiganya :

V
I= .......................................................................................................................(2.1)
R

Keterangan :
I = arus (ampere)
V = tegangan (Volt)
R = Hambatan (ohm)

2.2.5 Daya Input

11
Sebelum mengetahui berapa nilai daya yang dihasilkan harus mengetahui daya yang
diterima, dimana daya tersebut adalah perkalian antara intensitas radiasi matahari yang
diterima dengan luas area panel surya.

Pin=Ir∗A ..............................................................................................................(2.2)

Keterangan:
Pin = Daya input akibat irradiance
Ir = Intensitas radiasi matahari
A = Luas area permukaan photovoltaic module (m2 )

2.2.6 Daya Output


Sedangkan untuk besarnya daya pada sel surya (Pout) yaitu perkalian tegangan
rangkaian terbuka (Voc), arus hubung singkat (Isc), dan Fill Factor(FF) yang dihasilkan
oleh sel Photovoltaic dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut : (Ramansyah, 2021)

Pout =Voc∗Isc ........................................................................................................(2.3)

Keterangan :
Pout = Daya yang dibangkitkan oleh solar sel (watt)
Voc = Tegangan rangkaian terbuka pada solar sel (volt)
Isc = Arus hubung singkat pada solar sel (ampere)

2.2.7 Fill Faktor (FF)


Faktor pengisi merupakan nilai rasio tegangan dan arus pada keadaan daya maksimum
dan tegangan open circuit (Voc) dan arus short circuit (Isc) Persamaan fill factor
digunakan untuk mengukur bagaimana luas persegi pada karakteristik I-V suatu sel
surya. Harga fill factor dapat merupakan fungsi Voc. Secara empiris hubungan fill
factor dengan Voc adalah: (Ramansyah, 2021)

Voc−¿(Voc +0 , 72)
FF ..........................................................................................(2.4)
Voc +1

2.2.8 Efesiensi Sel Surya


Efisiensi yang terjadi pada sel surya adalah merupakan perbandingan daya yang dapat
dibandingan oleh sel surya dengan energi input yang diperoleh dari irradince matahari.
12
Efisiensi yang digunakan adalah efisiensi sesaat pada pengambilan data (Ramansyah,
2021)

output
n x 100 % .....................................................................................................(2.5)
input

2.2.9 Peak Sun Hour (PSH)


Untuk menghitung nilai PHS, proses untuk mendapatkan nilai Peak Sun Hour (PSH)
dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan daya puncak nominal, nilai PSH
dapat ditentukan dengan mensubstitusi nilai daya puncak ke dalam persamaan :
P total
P pv = ......................................................................................................(2.6)
PHS . ηsistem
Dimana :
P pv = Daya puncak nominal (W)
Ptotal = Daya total kebutuhan (W)
PHS = Jam puncak matahari (jam)
η sistem = Efisiensi sistem (%)
2.2.10 Faktor yang Mempengaruhi Daya Keluaran Panel Surya
Pada sistem panel surya ada beberapa faktor yang mempengaruhi daya keluaran panel
surya yang dihasilkan, diantaranya yaitu pengaruh radiasi matahari terhadap panel
surya. Besarnya intensitas radiasi matahari yang diterima sel surya sebanding dengan
besarnya daya output yang dihasilkan panel surya. Semakin besar intensitas radiasi
matahari yang diterima maka semakin besar daya yang dihasilkan panel surya.
Intensitas radiasi matahari yang diterima panel surya dipengaruhi oleh beberapa faktor
diantaranya cuaca, letak pemasangan panel surya, gerak semu harian dan bulanan
matahari (Berisha dkk, 2018).

Kemudian pengaruh suhu, besarnya suhu yang diterima panel surya berbanding terbalik
dengan besarnya daya keluaran yang dihasilkan panel surya. Semakin besar suhu yang
diterima sel surya maka daya yang dihasilkan panel surya semakin kecil (Asyadi dkk,
2021; Hamoodi dkk, 2022).

Selanjutnya kondisi parsial shading dapat menyebabkan kehilangan daya keluaran


modul surya. Modul surya yang dibayangi akan berhenti memproduksi listrik dan
13
bekerja pada reverse bias, sehingga modul surya menjadi panas atau terjadi hotspot dan
dapat menyebabkan kerusakan permanen pada komponen modul surya.

Selain beberapa faktor diatas, faktor yang mempengaruhi produktivitas panel surya
yakni efek lintang dan bujur, pengaruh intensitas cahaya matahari ditentukan oleh
wilayah dipermukaan bumi. Posisi mengacu pada koordinat astronomi lintang dan
bujur. Selanjutnya kemiringan, energi matahari dapat diubah secara maksimal menjadi
energi listrik jika permukaan panel surya tegak lurus dengan arah datangnya sinar
matahari (sumber). Orientasi pembangunan panel surya harus memperhatikan posisi
matahari, bujur dan lintang. Hal ini karena setiap daerah berdasarkan aspek geografis
dan astronomi memiliki posisi yang berbeda.

2.2.11 Radiasi Harian Matahari pada Permukaan Bumi


Konstanta radiasi matahari sebesar 1353 W/m2 mengalami penurunan intensitasnya
karena terhambat oleh penyerapan dan pemantulan di atmosfer sebelum mencapai
permukaan bumi. Radiasi ultraviolet dengan panjang gelombang pendek diserap oleh
ozon di atmosfer, sementara radiasi dengan panjang gelombang yang lebih panjang
seperti infra merah diserap oleh karbon dioksida dan uap air. Selain pengurangan
langsung dari radiasi matahari oleh penyerapan tersebut, masih ada radiasi yang
disebarkan oleh molekul-molekul gas, debu, dan uap air di atmosfer sebelum mencapai
bumi yang dikenal sebagai radiasi sebaran.

Gambar 2.7 Radiasi sorotan dan radiasi sebaran mengenai permukaan bumi (Kaban
dan Jafri, 2020)

14
15
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Deksripsi Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode eksperimen laboratorium
pada thin solar panel berkapasitas 100 wp untuk mengetahui energi maksimum, dan
arus yang dihasilkan. Dalam penelitian ini digunakan thin solar panel untuk di analisis
produktivitas listrik yang dihasilkan. Melalui pengukuran variabel tegangan-arus (V-I)
yang dihasilkan oleh panel surya. Dari variabel yang telah di ukur nantinya akan dilihat
produktivitas istrik yang dihasilkan oleh kedua jenis panel tersebut

Pengujian pada sebuah panel dengan tipe Thin solar panel, untuk mengetahui
produktivitas listrik yang di hasilkan dalam kondisi intensitas dan suhu lingkungan pada
saat pengukuran. Dalam pengujian dilakukan pengukuran pada rangkaian yang terdiri
dari satu Thin solar panel yang terhubung dengan alat ukur tegangan dan arus
menggunakan multimeter, juga di lakukan pengukuran terhadap intensitas
menggunakan lux meter serta pengukuran terhadap kelembapan menggunakan
Environment meter dan pengukuran suhu meggunakan alat ukur thermogun.

3.2 Lokasi Penelitian


Pada Penelitian ini dilakukan pengukuran untuk melengkapi data-data yang dibutuhkan
dalam analisis produktivitas listrik Thin solar panel , maka sebagai lokasi penelitian
untuk pengambilan variabel yang di butuhkan seperti pengukuran tegangan, arus, daya,
yang dihasilkan oleh panel surya tipe Thin Solar panel, serta intensitas dan suhu
lingkungan pada saat pengukuran dilakukan di lakukan di Laboratorium Teknik Elektro
Institut Teknologi Padang Jl. Gajah Mada Kandis Nanggalo Padang -
0.8994793239464365, 100.36419712180542

16
3.3 Tahapan Penelitian

Gambar 3.1 Diagram alir Penelitian


Dalam penyelesaian tugas akhir ini, dimulai dari mencari studi literatur sebagai
referensi. Kemudian melakukan perakitan rangkaian yang akan di uji dalam penelitian.
Selanjutnya melakukan pengukuran tegangan, arus, suhu dan intensitas dari Thin solar
panel untuk mengetahui produktivitas listrik yang dihasilkan
1. Pengukuran
Pengukuran yang di lakukan yaitu mengukur intesitas cahaya matahari, mengukur
suhu, peak sun hours dan output Thin Panel Surya (Arus dan Tegangan).
2. Pengolahan Data
Setelah melakukan pengukuran rangkaian dengan waktu dan kondisi yang berbeda,
maka hal selanjutnya yaitu melakukan pengolahan data yang akan di analisis.
3. Analisis Data
Setelah data di dapat dengan melakukan pengujian, makan selanjutnya melakukan
17
analisis data tersebut guna untuk mendapatkan berapa besar daya yang di hasilkan
berdasarkan kondisi saat pengukuran dan berapa efisien thin panel surya dapat
menghasilkan keluaran daya.
4. Pelaporan
Setelah pengukuran, pengolahan data dan analisis data di lakukan, selanjutnya
membuat pelaporan untuk hasil yang di dapatkan.

3.4 Metode Pengukuran


1. Rangkaian pengukuran

Gambar 3.2 Rangkaian Pengujian


Dalam penelitian ini di gunakan rangkaian pengujian yang di tunjukan pada gambar 3.2
yang merupakan rangkaian pengukuran yang terdiri dari thin solar panel dengan dua
alat ukur terpasang yaitu multimeter untuk pengukuran tegangan dan pengukuran arus,
pada pengujian dilakukan pengukuran intensitas dan suhu lingkungan untuk mengetahui
pengaruh yang di timbulkan dari variabel tersebut. sebuah rangkaian dibuat untuk
membantu proses pengambilan data tegangan dan arus, yang akan digunakan dalam
pengujian.
Rangkaian yang mengunakan jenis Thin Solar panel dengan spesifikasi tegangan
keluaran
19 Volt – 25 Volt. Pengukuran arus dan tegangan dilakukan dengan mengunakan
multimeter, juga di lakukan pengukuran terhadap intensitas menggunakan lux meter
serta pengukuran terhadap kelembapan menggunakan Environment meter dan
pengukuran suhu meggunakan alat ukur thermogun.
Standar internasional IEC 61215 menetapkan 𝜆ref dan Tref untuk pengukuran ISC dan
VOC, yang diukur pada kondisi radiasi 𝜆ref = 1000 W/m2 dan Tref = 25℃. Secara
18
teori, intensitas cahaya dalam lux dapat diubah menjadi W/m2. Berdasarkan hal ini,
1000 W/m2 sama dengan 120.000 lux, atau 1 W/m2 = 119,97 lux
2. Variabel pengukuran
Dalam penelitian ini terdapat variabel pengukuran arus, tegangan, daya, intensitas
cahaya temperatur dan peak sun hours.

3. Alat pengukuran
a. Mengukur intensitas matahari menggunakan Luxmeter
b. Mengukur suhu menggunakan Thermometer
c. Mengukur tegangan dan arus mengunakan Multimeter
d. Mengukur kelembapan menggunakan Environment Meter

4. Kondisi Cuaca
Dalam penelitian ini kondisi pengujian/pengukuran pada saat kondisi :
a. Peak Sun Hours (PSH)
PSH adalah waktu atau kondisi saat penyinaran matahari maksimum atau kondisi
sangat terang sesuai dengan standar umum yang digunakan dalam penentuan PSH
adalah 1000 W/m2 atau 1 kW/m2
3.5 Metode Analisis Data
Data hasil pengukuran tegangan-arus (V-I) akan dijadikan grafik pada penelitian ini
nantinya. Dari data yang telah diolah nantinya di jadikan grafik yang telah di dapatkan
untuk mengetahui produktivitas listrik yang dihasilkan oleh Thin Solar panel.

3.6 Jadwal Penelitian


Penelitian ini di rencanakan berlangsung dari bulan Mei – Agustus 2023. Dimulai dari
bulan mei melakukan diskusi masalah penelitian hingga bulan juni melakukan
penulisan proposal penelitian, dengan rencana melakukan pengukuran pada bulan juli
dan melakukan publikasi jurnal di bulan agustus dengan di akhiri sidang tugas akhir.
Tabel 3.1 Jadwal Tugas Akhir

Bulan
N
Kegiatan
o Mei Juni Juli Agustus September Oktober

1 Diskusi
masalah

19
penelitian
Penulisan
2 proposal
penelitian
3 Sidang seminar
proposal
Pembuatan
4 Rangkaian
Pengujian
5 Pengukuran
Rangkaian
6 Pengolahan
Data
7 Analisis Data
8 Penulisan
Laporan
9 Publikasi Jurnal
10 Sidang Tugas
Akhir

20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari penelitian ini merupakan besarnya tegangan, arus dan daya yang di hasilkan
oleh thin solar panel dan panel polycrystaline, dengan perbedaan intensitas dan
temperatur dari matahari. Dalam pengujian dilakukan pengukuran arus dan tegangan
yang dihasilkan oleh masing-masing panel, dengan tujuan untuk mengetahui
Produktivitas listrik dari Thin Solar panel dan panel Polycrystaline mencapai titik
maksimum arus dan daya yang dapat dihasilkan, berdasarkan intensitas.

4.1 Hasil Pengukuran


Pengukuran dilakukan dalam waktu delapan hari dengan Waktu pengambilan data
dimulai dari jam 08:00 sampai 16:00 Dengan posisi panel hanya menghadap lurus
vertikal ke atas, dengan spesifikasi panel sebagai berikut :

Tabel 4.1 Spesifikasi Panel Surya

Thin Solar Panel Polycrystaline

Pmax 100 W Pmax 100 W

Voc 23.05 V Voc 22.68 V

Isc 6.78 A Isc 5.60 A

Vmp 17.98 V Vmp 19.12 V

Imp 5.57 A Imp 5.23 A

Dimensi 920x678 Dimensi 1005x668x30

4.1.1 Pengukuran Thin Solar dan Polycrystaline


Pengukuran terhadap thin solar panel dan polycrystaline dilakukan setiap satu jam
sebanyak sembilan kali pengukuran, yang mana dalam pengambilan data penelitian ini,
dimulai dari pagi hingga sore pada jam 08:00 sampai 16 :00 WIB.

21
Gambar 4.1 Alat Ukur Yang digunakan saat pengukuran

Gambar 4.2 Rangkaian Panel yang digunakan

Dalam pengukuran terdapat tiga kondisi cuaca yang di temui, yaitu Cerah Berawan
Mendung dan Hujan, pada kondisi ini sangat mempengaruhi dari besar kecilnya
intensitas yang di dapat kan dan juga akan mempengaruhi suhu keadaan lingkungan.

22
Gambar 4.3 Tampilan contoh kondisi cuaca pada saat pengukuran

Berikut hasil pengukuran thin solar panel dan panel polycrystaline selama penelitian
delapan kali pengujian dengan kondisi cuaca yang berbeda-beda yaitu cuaca cerah,
mendung dan hujan.

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Pertama

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam
(V) (I) (W) W/m2 (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 24
0,043 1,032 251 37,9 71,4 Cerah

2 09:00
24 0,025 0,6 406 56,1 64 Cerah

3 10:00
25 0,55 13,75 543 50,9 58,1 Cerah

4 11:00
25,05 0,393 9,84465 616 55,1 52,9 Cerah

5 12:00
25 0,123 3,075 643 58,9 53,3 Cerah

6 13:00
25 0,123 3,075 661 61,5 53,7 Cerah

7 14:00
24 0,156 3,744 598 61,1 49,8 Cerah

8 15:00
25 0,451 11,275 510 47,6 42,3 Cerah

9 16:00
22 0,202 4,444 131 32,8 53,6 Cerah

Dapat dilihat pada tabel bahwa pengukuran pertama dilakukan pengukuran mulai dari
jam 08:00 sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,229 A dan daya
rata-rata 5,648 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 10.00
yakni dengan Voc 25,05 V, arus 0,393 A dan daya 9,84 Watt. Kemudian daya terendah
pada pukul 09.00 dengan daya 0,6 Watt. Rendahnya daya yang diperoleh ini karena arus
yang dihasilkan rendah dan suhu tinggi. Suhu yang tinggi ini dapat mempengaruhi
kinerja solar panel dan menurunkan daya.

23
Pada pengukuran pertama Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

Gambar 4.4 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel hari pertama

Pada gambar 4.4 dapat dilihat bahwa dari pukul 08.00 ke pukul 09.00 grafik turun
sedikit, lalu pada pukul 09.00 hingga pukul 10.00 grafik mengalami kenaikan yang
cukup signifikan dikarenakan cuaca yang mulai panas, kemudian grafik mulai turun lagi
hingga pukul 12.00 dan grafik naik lagi hingga pukul 15.00 karena kondisi cuaca yang
mulai panas kembali lalu turun hingga pukul 16.00 WIB. Pada pengukuran pertama ini
lakukan pada saat kondisi cerah, rata-rata arus yang dihasilkan 0,229 A, dan daya rata-
rata 5,648 Watt. Sehingga titik PSH pada pengukuran thin solar panel pada hari
pertama terjadi pada 10.00 WIB.

Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Polycrystaline hari Pertama

Intensita Kelembapa
Voc Isc Daya Suhu Kondisi
NO Jam s W/m2 n
(V) (I) (W) (°C) Cuaca
(%RH)
1 08:00 19
1,604 30,476 251 32,4 71,4 Cerah
2 09:00
18 3,084 55,512 406 46 64 Cerah
3 10:00
18 4,23 76,14 543 53,6 58,1 Cerah
4 11:00
19 5,01 95,19 616 44,1 52,9 Cerah
24
5 12:00
18 5,45 98,1 643 54,1 53,3 Cerah
6 13:00
18,05 5,44 98,192 661 47,8 53,7 Cerah
7 14:00
18 4,96 89,28 598 48,8 49,8 Cerah
8 15:00
19 4,12 78,28 510 41,5 42,3 Cerah
9 16:00
17 1,115 18,955 131 28 53,6 Cerah

Pada pengukuran pertama panel polycrystaline, rata-rata arus yang di hasilkan 3,890 A
dan daya rata-rata 71,125 Watt. Daya paling besar diperoleh panel polycrystaline pada
pukul 13.00 yakni dengan Voc 18,05, arus 5,44 A dan daya 98,192 Watt. Pengukuran
ini dilakukan pada saat kondisi cuaca cerah. Daya paling rendah didapat pada pukul
16.00 dengan daya 18,955 Watt hal ini dikarenakan intensitas cahaya yang dihasilkan
rendah sehingga daya yang dihasilkan pun juga rendah. Dan daya ini sebanding dengan
arus dan tegangannya. Jika arus dan tegangannya besar maka daya nya juga besar.

Pada pengukuran pertama panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut :

Gambar 4.5 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Pertama

Dari grafik 4.5 pada polycristaline dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 11.00
mengalami kenaikan yang sangat signifikan sehingga daya yang dihasilkan langsung
tinggi, lalu grafik naik lagi hingga pukul 13.00 dikarenakan kondisi cuaca yang semakin
25
panas dan penyerapan daya pada panel juga tinggi, kemudian pada pukul 14.00 grafik
mengalami penurunan hingga pukul 16.00 WIB, dikarenakan kondisi cuaca tidak terlalu
panas atau cerah dari sebelumnya. Pada cuaca cerah ini penyerapan daya pada panel
dilakukan dengan bagus. Titik PHS pada pengukuran pada panel polycristaline terjadi
pada pukul 13.00 WIB.

Tabel 4.3 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedua

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 25,97
0,223 5,79131 233 36,7 70,9 Cerah
2 09:00
24,61 0,08 1,9688 377 49,3 55,2 Cerah
3 10:00
25,66 0,02 0,5132 507 65,4 51,3 Cerah
4 11:00
24,47 0,017 0,41599 612 73,1 43,7 Cerah
5 12:00
0 0 0 0 0 0
6 13:00
0 0 0 0 0 0
7 14:00
24,84 0,06 1,4904 606 69,1 57,6 Cerah
8 15:00
26,93 0,332 8,94076 473 50,8 63,7 Cerah
9 16:00
25,52 0,27 6,8904 198 40,3 56,1 Cerah

Berdasarkan tabel Pada pengukuran kedua dilakukan pengukuran mulai dari jam 08:00
sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,111 A dan daya rata-rata
2,890 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 15.00 dengan
yakni dengan Voc 26,93 V, arus 0,332 A dan daya 8,94 Watt. Hal ini dikarenakan arus
yang besar maka daya yang dihasilkan juga besar, daya berbanding lurus dengan arus.
Daya terendahnya yaitu pada pukul 11.00 dengan daya 0,41599 Watt. Daya rendah
karena suhu yang tinggi. Suhu ini mempengaruhi kinerja solar panel sehingga
menurunkan daya.

26
Pada pengukuran kedua Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

Gambar 4.6 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedua

Dapat dilihat pada gambar 4.6 dimulai dari pukul 08.00 grafik langsung turun hingga
pukul 12.00 walaupun kondisi dalam keadaan cerah namun daya yang diserap oleh
panel tidak begitu optimal, lalu dikarenakan pengukuran dilakukan pada hari jum’at
maka pada pukul 12.00 – 13.00 daya nya tidak ada, kemudian dilanjutkan lagi pada
pukul 13.00 hingga pukul 15.00 sehingga grafik mengalami kenaikan dikarenakan
cuaca lebih cerah dibandingkan pada pagi hari, lalu kembali turun hingga pukul 16.00
WIB. Dalam pengukuran thin solar panel yang kedua titik PSH terjadi pada pukul 15.00
WIB.

Tabel 4.4 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedua

Intensita Suh Kelembapa


Voc Isc Daya Kondisi
NO Jam s W/m2 u n
(V) (I) (W) Cuaca
(°C) (%RH)
1 08:00 19,71 30,1760
1,531 1 233 32,3 70,9 Cerah
2 09:00 56,1302
19,51 2,877 7 377 47,1 55,2 Cerah
3 10:00
19,33 4,1 79,253 507 52 51,3 Cerah
4 11:00
19,2 4,97 95,424 612 58,4 43,7 Cerah
5 12:00
0 0 0 0 0 0
27
6 13:00
0 0 0 0 0 0
7 14:00
19,62 4,92 96,5304 606 54,8 57,6 Cerah
8 15:00 76,4759
19,42 3,938 6 473 50,1 63,7 Cerah
16:0
9
0 19,22 1,57 30,1754 198 36 56,1 Cerah

Dijelaskan Pada tabel pengukuran kedua panel polycrystaline, rata-rata arus yang di
hasilkan 2,656 A dan daya rata-rata 51,573 Watt. Daya paling besar diperoleh panel
polycrystaline pada pukul 14.00 yakni dengan Voc 19,62, arus 4,92 A dan daya 96,530
Watt. Pada pengukuran kedua ini dilaksanakan pada hari Jum’at sehingga tidak
dilakukan pengambilan pada pukul 12.00 – 13.00. Pengukuran ini dilakukan pada saat
kondisi cuaca cerah. Daya terendah dieroleh yaitu 30,1754 Watt. Tinggi rendahnya daya
yang dihasilkan ini disebabkan oleh intensitas . dimana semakin tinggi intensitas cahaya
maka semakin banyak energi yang diserap oleh solar panel dan semakin tinggi daya
yang dihasilkan begitu juga sebaliknya, jika intensitas cahaya rendah maka energi yang
diserap kurang optimal sehingga daya yang dihasilkan rendah.

Pada pengukuran kedua panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.7 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedua


28
Dapat dilihat pada gambar 4.7 mulai dari pukul 08.00 hingga 11.00 daya yang
dihasilkan langsung naik sehingga grafik mengalami kenaikan dikarekan cuaca cerah
atau panas, lalu dari pukul 11.00 – 12.00 grafik grafik mulai turun dan pada pukul 12.00
– 13.00 tidak dilakukan pengukuran karena sholat Jum’at, kemudian dilanjutkan
kembali dan daya yang dihasilkan bagus namun grafik mulai turun dari pukul 13.00
hingga pukul 16.00 WIB. Dalam pengukuran Polycrystaline pada hari kedua didapat
titik PSH nya pada pukul 14.00 WIB.

Tabel 4.5 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketiga

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 24,02
0,025 0,6005 203 38,6 77,8 Mendung

2 09:00
24,3 0,09 2,187 122 36,1 64,6 Mendung

3 10:00
24,64 0,008 0,19712 333 58,9 45 Mendung

4 11:00
25 0,021 0,525 559 66,5 52,2 Cerah

5 12:00
23,76 0,024 0,57024 630 71,3 34,4 Cerah

6 13:00
26,37 0,139 3,66543 644 53,1 67,7 Cerah

7 14:00
25,34 0,441 11,17494 189 42,5 68,4 Mendung

8 15:00
25,74 0,304 7,82496 298 50 52,3 Mendung

9 16:00
24,36 0,206 5,01816 111 36,3 57,1 Mendung

Selanjutnya Pada tabel pengukuran ketiga dilakukan pengukuran mulai dari jam 08:00
sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,139 A dan daya rata-rata
3,529 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 14.00 dengan
yakni dengan Voc 25,34 V, arus 0,441 A dan daya 11,174 Watt. Daya terendah pada
pukul 10.00 dengan daya 0,19712 Watt. Tinggi rendahnya daya yang diperoleh ini
dikarenakan arus . Hal ini bisa dilihat pada tabel bahwa daya besar itu terjadi karena

29
arusnya juga besar . Sedangkan untuk daya yang rendah ini karena arusnya juga rendah.
Disamping itu juga dipengaruhi oleh suhu dengan keadaan suhu yang tinggi ini
mempengaruhi kinerja dari solar panel dan menurunkan daya.

Pada pengukuran ketiga Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

Gambar 4.8 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketiga

Dilihat dari gambar 4.9 pada pukul 08.00 hingga pukul 09.00 mengalami kenaikan, lalu
turun lagi hingga pukul 10.00, dari pukul 10.00 grafik mengalami kenaikan dikarenakan
cuaca cerah hingga pukul 13.00, namun grafik tetap mengalami kenaikan hingga pukul
14.00 walaupun kondisi sudah mulai mendung dan pada saat ini juga daya tertinggi
dihasilkan, kemudian grafik mulai turun kembali hingga pukul 16.00 WIB. Pada
pengukuran mulai dari jam 08.00 sampai 16.00 Panel Thin dalam kondisi cerah dan
mendung, rata-rata arus yang di hasilkan 0,139 A dan daya rata-rata 3,529 Watt. Pada
pengukuran thin solar panel ketiga ini titik PSH terdapat pada pukul 14.00 WIB.

Tabel 4.6 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketiga

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 20,04
1,434 28,73736 203 32,2 77,8 Mendung

30
2 09:00
19,14 1,039 19,88646 122 30,5 64,6 Mendung

3 10:00
19,04 2,791 53,14064 333 51,9 45 Mendung

4 11:00
19,34 4,12 79,6808 559 54,4 52,2 Cerah

5 12:00
19,31 5,38 103,8878 630 57,4 34,4 Cerah

6 13:00
19,47 5,28 102,8016 644 58,1 67,7 Cerah

7 14:00
20,55 4,38 90,009 189 37,6 68.4 Mendung

8 15:00
19,61 2,695 52,84895 298 40,8 52,3 Mendung

9 16:00
19 0,946 17,974 111 32,4 57,1 Mendung

Pada tabel pengukuran ketiga panel polycrystaline, rata-rata arus yang di hasilkan
3,118A dan daya rata-rata 60,996 Watt. Daya paling besar diperoleh panel
polycrystaline pada pukul 14.00 yakni dengan Voc 20,55, arus 4,38 A dan daya 90,00
Watt. Daya paling rendah diperoleh panel polycrystaline pada pukul 16.00 yakni
dengan daya 17,974 Watt. Tinggi rendahnya daya dipengaruhi oleh tegangan, arus dan
intensitas cahaya. Dapat dilihat dari tabel tersebut bahwa daya besar karena tegangan,
arus dan intensitasnya besar, begitu juga untuk sebaliknya daya rendah atau kecil
dihasilkan karena arus, tegangan dan intensitasnya kecil. Pengukuran ini dilakukan pada
saat kondisi cuaca mendung dari pukul 08.00 – 10.00, lalu cerah pada pukul 11.00 –
13,00 dan kembali mendung pada pukul 14.00 – 16.00.kondisi cuaca tersebut juga
memepengaruhi daya yang dihasilan karena penyerapan pada solar panel tidak optimal.

31
Pada pengukuran ketiga panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.9 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketiga

Pada gambar 4.9 dimulai dari pukul 08.00 ke pukul 09.00 grafik turun sedikit, lalu dari
pukul 09.00 hingga pukul 12.00 grafik mengalami kenaikan grafik yang cukup tinggi
dikarenakan kondisi cuaca yang mendung dan agak sedikit cerah. Lalu grafik mulai
turun dari pukul 12.00 hingga pukul 16.00 WIB dikarenakan konsidi cuaca cerah namun
mendung kembali hingga sore sehingga hasil pengukuran daya tidak begitu optimal.
Pada pengukuran polycrystaline ketiga titik PSH terdapat pada pukul 12.00 WIB.

Tabel 4.7 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keempat

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 22,49
0,075 1,68675 49 30,9 73,9 Mendung

2 09:00
25,23 0,2 5,046 175 35,4 65,5 Mendung

3 10:00
25,17 0,162 4,07754 148 38 60,3 Mendung

4 11:00
25,15 0,188 4,7282 128 31 59,1 Mendung

32
5 12:00
25,13 0,174 4,37262 133 33,1 61,9 Mendung

6 13:00
23,6 0, 082 1,9352 88 39,8 69,9 Mendung

7 14:00
23,43 0,112 2,62416 64 33,9 73,7 Mendung

8 15:00
19,09 0,035 0,66815 15 21,3 82,9 Hujan

9 16:00
15,69 0,014 0,21966 8 24,5 88,1 Hujan

Dari tabel hasil pengukuran keempat dilakukan pengukuran mulai dari jam 08:00
sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,115 A dan daya rata-rata
2,817 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 11.00 dengan
yakni dengan Voc 25,15 V, arus 0,188 A dan daya 4,728 Watt. Daya paling rendah
diperoleh pada pukul 13.00 dengan daya 1,9352 Watt. Hal ini disebabkan oleh beberapa
factor yang empengaruhi tinggi rendahnya daya yang dihasilkan. terutama pada arus
yang digunakan semakin besar arus yang digunakan maka didapat daya yang besar juga
begitupun sebaliknya. Kemudian intensitas Cahaya yang tinggi akan menghasilkan daya
yang tinggi begitupun sebaliknya. Kondisi cuaca juga mempengaruhi karena saat
penelitian kondisi cuaca mendung lalu hujan. Sehingga penyerapan solar panel kurang
optimal.

Pada pengukuran keempat Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

33
Gambar 4.10 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keempat
Dari gambar 4.10 pada pukul 08.00 hingga pukul 09.00 grafik mengalami kenaikan
karna ini puncak daya didapatkan pada saat kondisi mendung dan hujan. Selanjutnya
pada pukul 09.00 hingga pukul 12.00 juga mengalami kenaikan, lalu turun pada pukul
13.00, naik lagi pada pukul 14.00, kemudian turun hingga pukul 16.00 WIB. Pada
kondisi mendung hingga hujan ini grafik sering mengalami naik turun, namun daya
yang dihasilkan juga lumayan bagus. Pada pengukuran yang dilakukan mulai dari jam
08.00 sampai 16.00 Panel Thin dalam kondisi mendung dan hujan, rata-rata arus yang
di hasilkan 0,115 A dan daya rata-rata 2,817 Watt. Pada pengukuran thin solar panel ini
didapatkan titik PSH pada pukul 09.00 WIB.

Pengukuran keempat panel dilakukan pada saat kondisi cuaca mendung dari pukul
08.00 – 14.00, lalu hujan pada pukul 15.00 – 16.00

Tabel 4.8 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keempat


Intensita Suh Kelembapa
Voc Isc Daya Kondisi
NO Jam s W/m2 u n
(V) (I) (W) Cuaca
(°C) (%RH)

1 08:00 18,48 Mendun


0,428 7,90944 49 29 73,9 g

2 09:00 29,2180 Mendun


19,57 1,493 1 175 32,1 65,5 g

3 10:00 36,9631 Mendun


19,83 1,864 2 148 35,2 60,3 g

34
4 11:00 21,6801 Mendun
19,34 1,121 4 128 32,5 59,1 g

5 12:00 Mendun
19,39 1,21 23,4619 133 33,8 61,9 g

6 13:00 13,9202 Mendun


18,61 0,748 8 88 39,3 69,9 g

7 14:00 Mendun
18,75 0,582 10,9125 64 34,1 73,7 g

8 15:00
17,33 0,169 2,92877 15 21,2 82,9 Hujan

9 16:00
15,65 0,06 0,939 8 24,7 88,1 Hujan

Lalu, diuraikan dari tabel bahwa hasil pengukuran keempat panel polycrystaline, rata-
rata arus yang di hasilkan 0,852 A dan daya rata-rata 16,437 Watt. Daya paling besar
diperoleh panel polycrystaline pada pukul 10.00 yakni dengan Voc 19,83 V, arus 1,86 A
dan daya 36,96 Watt. Daya terendah diperoleh yaitu pada pukul 14.00 dengan daya
10,9125 Watt. Pengukuran kedua panel dilakukan pada saat kondisi cuaca mendung
sehingga kurang optimal hasil yg didapatkan. Penelitian dimulai dari pukul 08.00 –
14.00, lalu hujan pada pukul 15.00 – 16.00 . selain cuaca yang mempengaruhi pada
penelitian faktor lain yang mempengaruhi ialah arus dan intensitas cahaya. Karena
cuaca mendung lalu hujan intensitas cahaya yang dihasilkan rendah, sehingga daya yang
dihasilkan pun rendah, seiring dengan arus yang kecil maka daya yang dihasilkan pun
kecil begitupun sebaliknya

Pada pengukuran keempat panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

35
Gambar 4.11 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keempat

Dilihat dari gambar 4.11 dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 10.00 grafik mengalami
kenaikan yang tidak terlalu tinggi karena kondisi cuaca diawali dengan mendung, lalu
grafik mulai turun dari pukul 10.00 hingga pukul 14.00, kemudian turun lagi hingga
pukul 16.00 dikarenakan kondisi hujan. Daya yang dihasilkan panel pada saat mendung
dan hujan cukup kecil dan kurang optimal sama hal nya dengan thin solar panel, namun
pada pengukuran Polycrystaline yang keempat didapat titik PSH pada pukul 10.00 WIB.

Tabel 4.9 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kelima


Intensita Suh Kelembapa
N Voc Isc Daya Kondisi
Jam s W/m2 u n
O (V) (I) (W) Cuaca
(°C) (%RH)
24,7 0,06 1,5091
1 08:00
4 1 4 118 29,2 82,6 Cerah

2 09:00 25,6 0,01 0,4355


2 7 4 303 44,6 58,9 Cerah

3 10:00 19,3 0,00 0,0193


3 1 3 608 62 13,6 Cerah

4 11:00 26,3 0,29 7,6649


4 1 4 660 42,5 23,9 Cerah

5 12:00 22,7 0,02 0,4785


9 1 9 670 51,2 38,8 Cerah

36
6 13:00 25,3 0,03 0,9364
1 7 7 653 48,3 59,1 Cerah

7 14:00 21,1 0,00 0,0635


9 3 7 659 51,4 51,8 Cerah

8 15:00 26,3 0,25 6,6564


1 3 3 275 39,3 52,4 Cerah

9 16:00 0,22
25,2 2 5,5944 258 41,5 52,5 Cerah

Berdasarkan tabel hasil penelitian dapat dilihat pengukuran kelima dilakukan


pengukuran mulai dari jam 08:00 sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di
hasilkan 0,100 A dan daya rata-rata 2,595 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar
panel pada pukul 11.00 dengan yakni dengan Voc 26,34 V, arus 0,291 A dan daya
7,664 Watt . Daya terendah didapatkan pada pukul 10.00 dengan daya 0,01933 Watt, ini
disebabkan oleh tegangan yang kecil, arus yang kecil serta intensitas cahaya yang
rendah sehingga daya yang dihasilkan rendah, karena daya berbanding luru dengan
tegangan dan arus.

Pada pengukuran kelima Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

37
Gambar 4.12 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kelima

Dari gambar 4.12 pada dilihat diawali dari pukul 08.00 hingga pukul 10.00 grafik turun,
lalu grafik mengalami kenaikan hingga pukul 11.00 namun turun lagi hingga pukul
12.00, kemudian grafik mengalami kenaikan dan turun pada pukul 12.00 – 14.00, dan
naik lagi hingga pukul 15.00 dan turun lagi pada pukul 15.00 – 16.00 WIB. Walaupun
pada saat pengambilan data dalam kondisi cuaca cerah namun grafik mengalami naik
turun dari awal pengukuram hingga sore. Pada pengukuran thin solar panel kelima titik
PSH terdapat pada pukul 11.00 WIB.

Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kelima


Intensita Suh Kelembapa
Voc Isc Daya Kondisi
NO Jam s W/m2 u n
(V) (I) (W) Cuaca
(°C) (%RH)

1 08:00 19,28
0,725 13,978 118 26,6 82,6 Cerah

2 09:00
19,9 1,844 36,6956 303 35,9 58,9 Cerah

3 10:00 102,642
19,33 5,31 3 608 49,1 13,6 Cerah

4 11:00 107,109
19,51 5,49 9 660 58,4 23,9 Cerah

5 12:00 107,310
19,69 5,45 5 670 46,8 38,8 Cerah

38
6 13:00
19,3 5,12 98,816 653 60 59,1 Cerah

7 14:00 109,971
20,29 5,42 8 659 38,7 51,8 Cerah

8 15:00 42,0295
19,76 2,127 2 275 32,4 52,4 Cerah

9 16:00 39,6710
19,61 2,023 3 258 36,8 52,5 Cerah

Pada pengukuran kelima panel polycrystaline, rata-rata arus yang di hasilkan 3,723 A
dan daya rata-rata 73,136 Watt. Daya paling besar diperoleh panel polycrystaline pada
pukul 14.00 yakni dengan Voc 20,29 V, arus 5,42 A dan daya 109,971 Watt.
Pengukuran kedua panel dilakukan pada kondisi cuaca cerah. Daya terendah didapat
pada penelitian pukul 13.00 dengan daya yaitu 98, 816 Watt. Daya yang rendah ini
didapatkan karena adanya pengaruh suhu yang tinggi sehingga mempengaruhi kinerja
solar panel dan menjadikan daya menurun, selajutnya arus dan teganganya pun kecil
maka daya yang dihasilkan juga kecil.

Pada pengukuran kelima panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.13 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kelima


Dilihat dari gambar 4.13 dimulai dari pukul 08.00 grafik langsung naik hingga pukul
12.00 dikarenakan kondisi cuaca yang cerah atau panas pada saat pengukuran, lalu
39
grafik turun sedikit hingga pukul 13.00 dan naik lagi hingga mencapai titik puncak pada
puncak 14.00, namun pada grafik turun dari pukul 14.00 hingga pukul 16.00 WIB. Pada
pengukuran polycrystaline kelima terjadi PSH pada pukul 12.00 WIB.

Tabel 4.11 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keenam

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 24,49
0,128 3,13472 134 32,6 72,9 Cerah

2 09:00
25,99 0,053 1,37747 323 41,8 56,5 Cerah

3 10:00
24,54 0,122 2,99388 183 40,1 45,3 Cerah

4 11:00
24,93 0,068 1,69524 496 63,8 61,6 Cerah

5 12:00
25,41 0,16 4,0656 389 60,6 56,6 Cerah

6 13:00
25,33 0,227 5,74991 263 47,9 50,7 Cerah

7 14:00
24,66 0,186 4,58676 144 42 67 Cerah

8 15:00
25,13 0,277 6,96101 245 42,2 71,5 Cerah

9 16:00
25,25 0,26 6,565 218 47,9 49,8 Cerah

Dapat dilihat pada tabel pengukuran keenam dilakukan pengukuran mulai dari
jam 08:00 sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,164 A dan daya
rata-rata 4,125 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 15.00
dengan yakni dengan Voc 25,13 V, arus 0,277 A dan daya 6,961 Watt. Daya terendah
terjadi pada pukul 09.00 dengan daya 1,37747 Watt, daya yang kecil disebabkan oleh
arus yang kecil.

Pada pengukuran keenam Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

40
Gambar 4.14 Grafik Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Keenam
Dapat dilihat pada gambar 4.14 diawali dari pukul 08.00 grafik turun, lalu naik lagi
pada pukul 09.00 hingga pukul 10.00, lalu turun lagi hingga pukul 11.00, kemudian
grafik naik cukup tinggi hingga pukul 13.00, dan turun lagi hingga pukul 14.00,
kemudian naik lagi hingga pukul 15.00 dan grafik turun sedikit pada pukul 16.00 WIB.
Walaupun grafik nya mengalami turun naik namun hasil daya cukup bagus, hal ini juga
didukung dengan kondisi cuaca yang cerah. Pada pengukuran thin solar panel keenam
ini dihasilkan titik PSH pada pukul 15.00 WIB.

Tabel 4.12 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keenam

Voc Isc Daya Intensitas Suhu Kelembapan Kondisi


NO Jam W/m2
(V) (I) (W) (°C) (%RH) Cuaca

1 08:00 19,57
0,948 18,55236 134 26,7 72,9 Cerah

2 09:00
20,07 2,547 51,11829 323 35,8 56,5 Cerah

3 10:00
19,41 1,518 29,46438 183 33,8 45,3 Cerah

4 11:00
19,52 4,8 93,696 496 56,6 61,6 Cerah

5 12:00
19,46 3,07 59,7422 389 48,7 56,6 Cerah
41
6 13:00
19,53 2,096 40,93488 263 37,3 50,7 Cerah

7 14:00
19,19 1,139 21,85741 144 37,9 67 Cerah

8 15:00
19,55 2 40,68355 245 39,6 71,5 Cerah

9 16:00
19,19 1,587 30,45453 218 43,8 49,8 Cerah

Selanjutnya didapatkan dari tabel pengukuran keenam panel polycrystaline dalam


kondisi cerah, rata-rata arus yang di hasilkan 2,198 A dan daya rata-rata 42,944 Watt.
Daya paling besar diperoleh panel polycrystaline pada pukul 11.00 yakni dengan Voc
19,52 V, arus 4,8 A dan daya 93,696 Watt. Pengukuran kedua panel dilakukan pada
kondisi cuaca cerah. Daya terendaah pada pukul 08.00 dengan daya 18,55236 Watt.
Tinggi rendahnya daya yang diperoleh pada pengukuran ini karena dipengaruhi oleh
arus dan intensitas. Daya besar didapatkan karena arus yang besar dan intensitas yang
besar sehingga mampu menyerap solar panel dan menghasilkan daya yang besar
begitupun sebaliknya untuk daya yang dihasilkan rendah.

Pada pengukuran keenam panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.15 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Keenam

42
Pada gambar 4.15 terdapat pengukuran Polycrystaline keenam dimulai dari pukul 08.00
grafik naik hingga pukul 09.00, lalu turun hingga pukul 10.00, kemudian grafik naik
cukup tinggi hingga pukul 11.00, lalu turun lagi hingga pukul 14.00 walaupun cuaca
pada saat pengambilan data masih dalam kondisi cerah, lalu grafik naik lagi hingga
pukul 15.00 dan turun hingga pukul 16.00. pada pengukuran ini terdapat titik PSH yang
terjadi pada pukul 11.00 WIB.

Tabel 4.13 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketujuh

Intensita Kelembapa
N Voc Isc Daya Suhu Kondisi
Jam s W/m2 n
O (V) (I) (W) (°C) Cuaca
(%RH)
1 08:00 25,76 3,0396
0,118 8 211 40,6 76,1 Cerah

2 09:00 4,7378
25,89 0,183 7 243 41,7 65,3 Cerah

3 10:00
25,25 0,06 1,515 322 60,4 55 Cerah

4 11:00 0,9287
24,44 0,038 2 604 68,3 68,1 Cerah

5 12:00
0 0 0 0 0 0

6 13:00
0 0 0 0 0 0

7 14:00 1,3850
22,34 0,062 8 593 61,5 67,7 Cerah

8 15:00 3,0590
24,87 0,123 1 510 48,5 52,2 Cerah

9 16:00 6,3295
25,42 0,249 8 372 53,8 63,9 Cerah

Lalu, pada tabel pengukuran ketujuh dilakukan pengukuran mulai dari jam 08:00
sampai 16:00 panel thin dalam kondisi cerah, rata-rata arus yang di hasilkan 0,092 A
dan daya rata-rata 2,332 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul
16.00 dengan yakni dengan Voc 25,42 V, arus 0,249 A dan daya 6,329 Watt. Daya
terendah diperoleh pada pukul 14.00 dengan daya yaitu 1,38508 Watt. Tinggi
rendahnya daya dipenagruhi oleh arus dan tegangan, karena hubungan daya, arus dan

43
tegangan itu berbanding lurus. Jika arus kecil, tegangan kecil maka daya yang
dihasilkan juga kecil begitupun sebaliknya.

Pada pengukuran ketujuh Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya sebagai
berikut :

Gambar 4.16 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Ketujuh


Pada gambar 4.16 dapat dilihat bahwa dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 09.00
grafik mengalami kenaikan, lalu turun hingga pukul 12.00, pada pukul 12.00 – 13.00
pengambilan data tidak dilakukan karna sholat Jum’at, kemudian dilanjutkan dari pukul
13.00 – 16.00 yang mana grafik nya naik. Pada pengukuran thin solar panel ketujuh in
dilakukan pada saat kondisi cuaca cerah dan didapat titik PSH pada pukul 16.00 WIB.

Pada pengukuran ketujuh Panel Polycrystaline, rata-rata arus yang di hasilkan 2,569 A
dan daya rata-rata 49,866Watt. Daya paling besar diperoleh panel polycrystaline pada
pukul 11.00 yakni dengan Voc 19,47 V, arus 4,91 A dan daya 95,597 Watt.
Pada pengukuran kedua ini dilaksanakan pada hari Jum’at sehingga tidak dilakukan
pengambilan data pada pukul 12.00 – 13.00. Pengukuran kedua panel dilakukan pada
kondisi cuaca cerah.

44
Tabel 4.14 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketujuh

Intensita Kelembapa
Voc Isc Daya Suhu Kondisi
NO Jam s W/m2 n
(V) (I) (W) (°C) Cuaca
(%RH)
1 08:00 20,01 33,3766
1,668 8 211 36,6 76,1 Cerah

2 09:00 29,8299
19,27 1,548 6 243 35,7 65,3 Cerah

3 10:00
19,15 3,276 62,7354 322 53,5 55 Cerah

4 11:00
19,47 4,91 95,5977 604 59,5 68,1 Cerah

5 12:00
0 0 0 0 0 0

6 13:00
0 0 0 0 0 0

7 14:00
19,31 4,83 93,2673 593 57 67,7 Cerah

8 15:00
19,42 4 80,3988 510 48,5 52,2 Cerah

9 16:00 53,5894
19,48 2,751 8 372 46,5 63,9 Cerah
Pada Pada pengukuran ketujuh Panel Polycrystaline, rata-rata arus yang di hasilkan
2,569 A dan daya rata-rata 49,866Watt. Daya paling besar diperoleh panel
polycrystaline pada pukul 11.00 yakni dengan Voc 19,47 V, arus 4,91 A dan daya
95,597 Watt.

Pada pengukuran ketujuh ini dilaksanakan pada hari Jum’at sehingga tidak dilakukan
pengambilan data pada pukul 12.00 – 13.00. Pengukuran kedua panel dilakukan pada
kondisi cuaca cerah. Daya terendah pada penelitian ini terjadi pada pukul 09.00 dengan
daya yaitu 29, 82996 Watt. Hal yang mempengaruhi adanya tinggi rendahnya dya yang
dihasilkan ialah arus,tegangan dan intensitas. Hal ini berbanding lurus, jika arus,
tegangan dan intensitas besar maka daya yang dihasilkan juga besar, begitupun
sebaliknya.

45
Pada pengukuran ketujuh panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.17 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Ketujuh


Dilihat dari gambar 4.17 dimulai dari pukul 09.00 grafik turun sedikit namun kembali
naik hingga pukul 11.00 dan turun lagi sampai pukul 12.00, pada pukul 12.00 – 13.00
tidak dilakukan pengambilan data karena sholat Jum’at dan dilanjutkan kembali dari
pukul 13.00 hingga pukul 14.00 yang mana grafik nya naik dikarenakan kondisi cuaca
yang cerah, kemudian turun lagi hingga pukul 16.00 WIB. Pada pengukuran
polycrystaline terdapat titik PSH yakni pada pukul 11.00 WIB.

Tabel 4.15 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedelapan


Intensita Suh Kelembapa
N Voc Isc Daya Kondisi
Jam s W/m2 u n
O (V) (I) (W) Cuaca
(°C) (%RH)
1 08:00 20,95
0,086 1,8017 74 28 80,3 Cerah

2 09:00
25,07 0,035 0,87745 357 49,3 70,5 Cerah

3 10:00
25,16 0,144 3,62304 503 40,9 72,6 Cerah

46
4 11:00
25,86 0,175 4,5255 591 61,6 77,7 Cerah

5 12:00
24,53 0,197 4,83241 655 71,9 68,7 Cerah

6 13:00 10,0353
24,84 0,404 6 647 66,6 61,6 Cerah

7 14:00
24,34 0,321 7,81314 538 71,3 55,6 Cerah

8 15:00
25,75 0,606 15,6045 481 56,3 58,6 Cerah

9 16:00 12,8563
25,11 0,512 2 353 51,4 58 Cerah
Berdasarkan tabel pengukuran kedelapan dilakukan pengukuran mulai dari jam 08:00
sampai 16:00 panel thin, rata-rata arus yang di hasilkan 0,275 A dan daya rata-rata
6,885 Watt. Daya paling besar diperoleh thin solar panel pada pukul 15.00 dengan
yakni dengan Voc 25,75 V, arus 0,606 A dan daya 15,604 Watt. Daya terendah
diperoleh pada pukul 09.00 dengan daya yaitu 0,87745 Watt. Adanya tinggi rendah
daya disebabkan oleh faktor yang mempengaruhinya seperti arus, dan tegangan. Karena
arus dan tegangan ini berbanding lurus dengan daya. Jika arus dan tegangan besar maka
daya yang dihasilkan juga besar, begitupu sebaliknya.

Pada pengukuran kedelapan Thin solar panel, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut :

Gambar 4.18 Hasil Pengukuran Thin Solar Panel Hari Kedelapan

47
Dapat dilihat pada gambar 4.18 pukul 08.00 ke pukul 09.00 grafik turun sedikit, lalu
pada pada pukul 09.00 hingga pukul 13.00 grafik mengalami kenaikan yang cukup
tinggi karena daya yang dihasilkan semakin meningkat, namun pada pukul 13.00 –
14.00 grafik mulai turun dan grafik naik kembali hingga pukul 15.00, dimana ini
merupakan puncak daya yang didapatkan pada saat kondisi cerah, lalu grafik turun lagi
pada pukul 16.00 WIB. Pada pengukuran yang dilakukan mulai dari jam 08:00 sampai
16:00 Panel Thin dalam kondisi cerah, rata-rata arus yang di hasilkan 0,275 A dan daya
rata-rata 6,885 Watt. Ada beberapa hal yang mempengaruhi naik turunya grafik yaitu
kondisi cuaca. Pada cuaca cerah ini maka penyerapan daya pada panel dapat dilakukan
dengan optimal.

Tabel 4.16 Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedelapan


Intensita Kelembapa
Voc Isc Daya Suhu Kondisi
NO Jam s W/m2 n
(V) (I) (W) (°C) Cuaca
(%RH)
1 08:00 18,69 10,6906
0,572 8 74 29,1 80,3 Cerah
2 09:00
19,76 2,875 56,81 357 42,5 70,5 Cerah
3 10:00
19,42 4,08 79,2336 503 48 72,6 Cerah
4 11:00
19,83 4,86 96,3738 591 47 77,7 Cerah
5 12:00 102,741
19,24 5,34 6 655 60 68,7 Cerah
6 13:00 102,890
19,45 5,29 5 647 51,7 61,6 Cerah
7 14:00
19,18 4,36 83,6248 538 58,5 55,6 Cerah
8 15:00
20,07 4,26 85,4982 481 44,3 58,6 Cerah
9 16:00 53,3815
19,64 2,718 2 353 45,4 58 Cerah

Dilihat dari tabel pengukuran kedelapan panel polycrystaline, rata-rata arus yang di
hasilkan 3,817 A dan daya rata-rata 74,582 Watt. Daya paling besar diperoleh panel
polycrystaline pada pukul 13.00 yakni dengan Voc 19,45 V, arus 5,29 A dan daya
102,890 Watt. Pengukuran kedua panel dilakukan pada kondisi cuaca cerah. Daya
48
terendah diperoleh pada pukul 10. 00 dengan daya yaitu 10,69068 Watt. Hal ini
dipengaruhi oleh besarnya arus, tegangan dan intensitas, jika hal yang mempengaruhi
itu berbanding lurus dengan daya maka, daya yang dihasilkan juga besar, begitupun
demikian untuk sebaliknya.

Pada pengukuran kedelapan panel polycrystaline, dapat dilihat hasil pengukuran daya
sebagai berikut:

Gambar 4.19 Grafik Hasil Pengukuran Polycrystaline Hari Kedelapan


Dapat dilihat dari gambar 4.19 bahwa pada pengukuran polycrystaline mendapatkan
daya yang tinggi dimana dari pukul 08.00 hingga pukul 13.00 grafik nya terus
mengalami kenaikan, lalu turun sedikit hingga pukul 14.00, kemudian naik sedikit
hingga pukul 15.00 dan turun hingga pukul 16.00 WIB. Hal ini dukung oleh kondisi
cuaca cerah atau panas mulai dari pagi hingga sore, dan pada pengukuran polycrystaline
kedelapan ini terdapat titik PSH pada pukul 13.00 WIB.

4.2 Produktivitas Listrik Thin Solar Panel


4.2.1 Produtivitas Listrik yang dihasilkan satu hari
Tabel 4.17 Hasil Pengukuran
Daya(W
NO Voc (V) Isc (I)
)
1 24 0,043 1,032
2 24 0,025 0,6
3 25 0,55 13,75
4 25,05 0,393 9,84465
5 25 0,123 3,075

49
6 25 0,123 3,075
7 24 0,156 3,744
8 25 0,451 11,275
9 22 0,202 4,444
Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menggunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 24 × 0,043

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 1,032𝑊

Pada pengukuran pertama, Produktivitas yang dihasilkan Thin Solar Panel sebesar
50,839 Watt selama 9 jam. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tegangan dan arus ini
harus sama besar untuk menghasilkan daya yang besar juga. Jika tegangan nya kecil dan
arusnya besar akan menghasilkan daya yang kecil, hal ini menunjukan bahwa tegangan,
arus dan daya berbanding lurus. Dapat dibandingkan dari hasil penelitian yang
didapatkan dari data nomor 1 dengan data nomor 2. Dimana pada data terlihat jelas
bahwa walaupun dengan tegangan yang sama besarnya, namun dengan arus yang
berbeda bahkan nilainya lebih kecil ini sangat mempengaruhi daya yang dihasilkan.
Tabel 4.18 Hasil Pengukuran
Daya(W
NO Voc (V) Isc (I)
)
1 25,97 0,223 5,79131
2 24,61 0,08 1,9688
3 25,66 0,02 0,5132
4 24,47 0,017 0,41599
5 0 0 0
6 0 0 0
7 24,84 0,06 1,4904
8 26,93 0,332 8,94076
9 25,52 0,27 6,8904

Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 25,97 × 0,223


50
𝑃𝑜𝑢𝑡 = 5,791𝑊

Berdasarkan tabel pengkuran kedua, Produktivitas yang dihasilkan Thin Solar Panel
sebesar 26,01086 Watt dalam kurun waktu 9 jam dalam satu hari. Dari tabel tersebut
dapat dijelaskan bahwa pada pengukuran pertama dengan tegangan yang lebih tinggi
dari pengukuran selanjutnya dengan nilai tegangan 25,97 V, dan pada pengukuran
kedua dan selanjutnya tegangannya tidak stabil, artinya tegnagannya naik turun. Hal ini
terjadi juga pada arus. Selanjutnya di pengukuran yang kelima dan keenam tidak
dilakukan pengambilan data. Lalu dari data yang didapatkan ini nilai tegangan nya besar
berarti arusnya juga besar sehingga daya yang dihasilkan pun nantinya juga besar. Hal
ini bisa dibuktikan dengan melihat tabel tersebut.
Tabel 4.19 Hasil Pengukuran
NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 24,02 0,025 0,6005
2 24,3 0,09 2,187
3 24,64 0,008 0,19712
4 25 0,021 0,525
5 23,76 0,024 0,57024
6 26,37 0,139 3,66543
7 25,34 0,441 11,17494
8 25,74 0,304 7,82496
9 24,36 0,206 5,01816

Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 24,02 × 0,600

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 1,032𝑊

Selanjutnya, dapat diuraikan dari tabel pengukuran ketiga , Produktivitas yang


dihasilkan Thin Solar Panel sebesar 31,76335 Watt selama satu hari. Pada tabel terlihat
jelas tegangan dan arus terjadi peningkatan dan penurunan. Hal ini terjadi karena pada

51
saat pengukuran ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Kemudian dari tabel juga dapat
ditarik kesimpulan bahwa tegangan, arus dan daya ini harus berbanding lurus. Apabila
tidak berbanding lurus maka akan mempengaruhi nilai dayanya. Dapat dilihat pada
pengukuran nomor 3 dan 8. Terlihat jelas perbedaannya untuk menghasilkan daya yang
besar.

Tabel 4.20 Hasil Pengukuran


NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 22,49 0,075 1,68675
2 25,23 0,2 5,046
3 25,17 0,162 4,07754
4 25,15 0,188 4,7282
5 25,13 0,174 4,37262
6 23,6 0,082 1,9352
7 23,43 0,112 2,62416
8 19,09 0,035 0,66815
9 15,69 0,014 0,21966

Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 22,49 × 0,075

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 1,686𝑊

Dari tabel diatas didapatkan hasil pengukuran keempat, Produktivitas yang dihasilkan
Thin Solar Panel sebesar 25,358 Watt selama 9 jam dalam satu hari. Pengukuran yang
dilakukan ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Sehingga dari data terlihat terjadi
peningkatan atau penurunan baik itu pada tegangan maupun arusnya. Hal itu
mengakibatkan daya yang dihasilkan pun naik turun, menyesuaikan antara tegangan dan
arusnya. Terlihat pada pengukuran nomor 1 dengan tegangan 22,49 V dan arus 0,075 I
dapat menghasilkan daya sebesar 1,68675 Watt. Kemudian pengukuran di nomor 4
dengan tegangan 25,15 V dan arus 0,188 I menghasilkan daya sebesar 4,7282 Watt.
Dari data tersebut ditarik kesimpulan bahwa nilai tegangan, arus dan daya ini
berbanding lurus.
52
Tabel 4.21 Hasil Pengukuran
NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 24,74 0,061 1,50914
2 25,62 0,017 0,43554
3 19,33 0,001 0,01933
4 26,34 0,291 7,66494
5 22,79 0,021 0,47859
6 25,31 0,037 0,93647
7 21,19 0,003 0,06357
8 26,31 0,253 6,65643
9 25,2 0,222 5,5944
Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 24,74 × 0,061

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 1,509𝑊

Dapat diuraikan dari tabel diatas pada pengukuran ke lima, Produktivitas yang
dihasilkan Thin Solar Panel sebesar 23,35841 Watt dalam kurun waktu 9 jam selama
sehari. Data yang diperoleh ini diolah kemudian didapat hasil nilai dayanya. Dari data
daya yang didapat nilai dayanya tidak konsisten. Maksudnya, data dari pengukuran
pertama hingga kesembilan dalam satu hari itu data nya bervariasi. Hal demikian terjadi
karena beberapa faktor yang mempengaruhinya seperti tegangan dan arus. Jika arusnya
besar maka tegangannya harus besar untuk menghasilkan daya yang besar. Namun jika
ada dari salah satunya yang nilainya kecil, baik itu antara tegangan dan arus maka daya
yang dihasilkan pun kecil, untuk membuktikaan kebenaran tersebut datanya dapat
dilihat pada tabel diatas.
Tabel 4.22 Hasil Pengukuran
NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 24,49 0,128 3,13472
2 25,99 0,053 1,37747
3 24,54 0,122 2,99388
4 24,93 0,068 1,69524
5 25,41 0,16 4,0656
6 25,33 0,227 5,74991

53
7 24,66 0,186 4,58676
8 25,13 0,277 6,96101
9 25,25 0,26 6,565
Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 2449 × 0,128

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 3,134𝑊

Mengacu pada tabel 4.22 pengukuran ke enam, Produktivitas yang dihasilkan Thin
Solar Panel sebesar 37,129 Watt selama 9 jam. Terlihat bahwa data yang diperoleh ini
saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainya. Antara tegangan dan arus yang
diperoleh harus memiliki nilai yang cukup untuk menunjang hasil daya nya. Dapat
dibandingkan hasil pengukuran tiap kali pengukurannya karena hasil yang diperoleh
sangat bervariasi. Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran didapatkan dari
nilai tegangan dan arus yang saling berbanding lurus. Artinya nilai tegangannya besar
maka nilai arusnya juga harus besar untuk menghasilkan daya yang besar.
Tabel 4.23 Hasil Pengukuran
NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 25,76 0,118 3,03968
2 25,89 0,183 4,73787
3 25,25 0,06 1,515
4 24,44 0,038 0,92872
5 0 0 0
6 0 0 0
7 22,34 0,062 1,38508
8 24,87 0,123 3,05901
9 25,42 0,249 6,32958
Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 25,76 × 0,118

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 3,039 𝑊

54
Dilihat dari tabel 4.23 pengukuran ke tujuh Produktivitas yang dihasilkan Thin Solar
Panel sebesar 20,994 Watt dalam satu hari. Selama penelitian dilakukan ternyata ada
beberapa hal yang mempengaruhi hasil yang didapatkan. Tertera dalam tabel diatas
bahwa selama pengukuran datanya berbeda-beda. Daya yang dihasilkan dalam setiap
pengukuran pun tidak stabil setiap jamnya. Dengan melihat tabel tersebut bahwa nilai
daya ini dipengaruhi oleh besarnya nilai tegangan dan arus yang mengalir. Apabila
tegangan dan arusnya besar maka nilai daya yang dihasilkan juga besar begitupun untuk
sebaliknya.
Tabel 4.24 Hasil Pengukuran
NO Voc (V) Isc (I) Daya(W)
1 20,95 0,086 1,8017
2 25,07 0,035 0,87745
3 25,16 0,144 3,62304
4 25,86 0,175 4,5255
5 24,53 0,197 4,83241
6 24,84 0,404 10,03536
7 24,34 0,321 7,81314
8 25,75 0,606 15,6045
9 25,11 0,512 12,85632
Daya yang dihasilkan dalam satu kali pengukuran dapat dihitung menngunakan
persamaan.

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 𝑉𝑜𝑢𝑡 × 𝐼𝑜𝑢𝑡

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 20,95 × 0,086

𝑃𝑜𝑢𝑡 = 1,8017 𝑊

Merujuk dari tabel hasil pengukuran ke delapan, Produktivitas yang dihasilkan Thin
Solar Panel dalam 1 hari sebesar 61,969 Watt dalam sehari. Terdapat perbedaan yang
cukup signifikan pada data yang diperoleh setiap kali pengukuran yang dilakukan dalam
penelitian ini. Kondisi cuaca menjadi faktor utamanya. Sehingga juga ikut
mempengaruhi nilai dari tegangan dan arus. Dengan demikian daya yang dihasilkan pun
juga terpengaruhi. Hal tersebut dapat dilihat jelas pada tabel.
4.2.2 Produktivitas Listrik Yang dihasilkan diwaktu Peak Sun Hours
Tabel 4.25 Hasil Pengukuran
NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
55
1 10 25 0,55 13,75
2 11 25,05 0,393 9,84465
3 12 25 0,123 3,075
4 13 25 0,123 3,075
5 14 24 0,156 3,744

Pada tabel 4.25 ini terlihat data PSH yang dimulai dari jam 10.00 – 14.00. terlihat dari
data yang dipaparkan bahwa nilai PSH selama satu hari ini terjadi pada pukul 11.00
dengan daya yang dihasilkan yaitu 9,84465 Watt. Daya yang dihasilkan ini dipengaruhi
oleh tegangan dan arus. Dimana nilai tegangannya yaitu 25,05 V sedangkan nilai
arusnya 0,393 I. kondisi cuaca juga mempengaruhi daya sehingga puncak dari
penyinaran matahari tiap jam itu berbeda-beda.

Tabel 4.26 Hasil Pengukuran


NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 25,66 0,02 0,5132
2 11 24,47 0,017 0,41599
3 12 0 0 0
4 13 0 0 0
5 14 24,84 0,06 1,4904

Berdasarkan tabel 4.26 tertera data hasil pengukuran dengan interval pengambilan data
dari jam 10.00 – 14.00. dari data tersebut dapat dilihat bahwa maksimum penyinaran
matahari terjadi di jam 14.00 dengan dayanya yakni 1,4904 Watt. Banyak hal yang
mempengaruhi hasil daya ini bisa karena suhu, arus dan tegangannya.
Tabel 4.27 Hasil Pengukuran
NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 24,64 0,008 0,19712
2 11 25 0,021 0,525
3 12 23,76 0,024 0,57024
4 13 26,37 0,139 3,66543
5 14 25,34 0,441 11,17494

Dari tabel 4.27 menunjukan bahwa hasil pengukuran dengan kondisi waktu terbaik
maksimum penyinaran matahari dimulai dari pukul 10.00 hingga pukul 14.00, terjadi
pada pukul 14. 00 dengan nilai daya nya 11,17494 Watt. Data setiap jamnya bervariasi

56
daya yang dihasilkan pun tiap jamnya terjadi peningkatan terus menerus. Tegangan dan
arus ikut mempengaruhi dari daya yang dihasilkan.
Tabel 4.28 Hasil Pengukuran
NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 25,17 0,162 4,07754
2 11 25,15 0,188 4,7282
3 12 25,13 0,174 4,37262
4 13 23,6 0,082 1,9352
5 14 23,43 0,112 2,62416

Dapat dilihat pada tabel 4.28 pengukuran ini dilakukan selama 1 hari dengan
mendapatkan hasil data yang berbeda-beda. Penelitian dimulai di jam 10.00 -14.00. dari
data tersebut terlihat bahwa terjadi peningkatan dan penurunan daya yang dihasilkan.
Dari jam 10.00 – 12.00 penyinaran matahari cukup stabil sehingga daya yang dihasilkan
tidak jauh berbeda. Namun di jam 13.00 terjadi penurunan yang lumayan signifikan
sehingga dayanya nya rendah. Lalu di jam 14.00 penyinaran matahari cukup membuat
daya yang dihasilkan meningkat kembali. Dari yang dipaparkan itu dapat ditarik
kesimpulan bahwa penyinaran sangat berpengaruh untuk menghasilkan daya yang
besar. Dan dari pengukuran ini didapat maksimum puncak penyinaran matahari yaitu
pada jam 11.00 dengan daya 4.7282 Watt.

Tabel 4.29 Hasil Pengukuran

NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya


1 10 19,33 0,001 0,01933
2 11 26,34 0,291 7,66494
3 12 22,79 0,021 0,47859
4 13 25,31 0,037 0,93647
5 14 21,19 0,003 0,06357

Mengacu pada tabel diatas bahwa kita dapat melihat nilai maksimum pada puncak
penyinaran matahari itu dimulai pada jam 10.00-14.00. data yang diperoleh yang
tertinggi terjadi pada pukul 11.00 dengan nilai dayanya 7,66494 Watt. Pada data terlihat
selain kondisi cuaca yang mempengaruhi penyinaran matahari, nilai tegangan dan arus
juga sangat mempengaruhi, dapat dibuktikan dengan melihat tabel diatas.

57
Tabel 4.30 Hasil Pengukuran
NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 24,54 0,122 2,99388
2 11 24,93 0,068 1,69524
3 12 25,41 0,16 4,0656
4 13 25,33 0,227 5,74991
5 14 24,66 0,186 4,58676

Merujuk dari hasil penelitian pada tabel 4.30 bahwa data yang diperoleh sesuai dengan
intensitas penyinaran matahari setiap jamnya yang berbeda-beda dalam rentang waktu
mulai dari pukul 10.00 hingga 14.00. nilai maksimum puncak penyinaran mataharinya
itu terjadi pada pukul 13.00 dengan tegangan 25,33 V , arus 0,277 I dan nilai daya yang
dihasilkan 5,74991 Watt.
Tabel 4.31 Hasil Pengukuran
NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 25,25 0,06 1,515
2 11 24,44 0,038 0,92872
3 12 0 0 0
4 13 0 0 0
5 14 22,34 0,062 1,38508

Berdasarkan tabel 4.31 hasil pengukuran yang telah dilakukan, untuk melihat nilai dari
maksimum puncak penyinaran matahari yaitu dalam rentang waktu yang di mulai pada
pukul 10.00 -14.00. puncak penyinarannya terjadi pada pukul 10.00 dengan daya yang
dihasilkan yaitu 1,515 Watt. Faktor yang mempengaruhi hasil daya ini terutama adalah
kondisi cuaca, tak lepas dari itu juga tegangan dan arus ikut andil didalamnya karena
adanya keterkaitan.

Tabel 4.32 Hasil Pengukuran


NO Jam Voc (V) Isc (I) Daya
1 10 25,16 0,144 3,62304
2 11 25,86 0,175 4,5255
3 12 24,53 0,197 4,83241
10,0353
4 13
24,84 0,404 6
5 14 24,34 0,321 7,81314

58
Tabel 4.32 ini menjelaskan hasil data yang diperoleh dari pengukuran. Namun pada
tabel ini dapat dilihat di jam berapa nilai maksimum dari puncak penyinaran matahari.
Standarnya dimulai dari pukul 10.00-14.00. dari data puncak penyinaranya terjadi di
pukul 13.00 dengan daya yang dihasilkan sebesar 10,03536 Watt. Hasil data tersebut di
dapat dengan beberapa faktor yang mempengaruhi seperti halnya kondisi cuaca.
Kemudian tegangan dan arus pun juga sangat mempengaruhi dari daya yang dihasilkan.
4.3 Pembahasan
Berdasarkan data yang didapatkan dari pengukuran yang dilakukan selama delapan hari
yang dimulai pada pukul 08.00 sampai 16.00 WIB. Pengukuran dilakukan delapan kali
pengujian dengan kondisi yang sama tapi cuaca, suhu dan temperatur yang berbeda
karena keadaan lingkungan. Cuaca yang ditemui yaitu cerah, berawan mendung dan
hujan.

Selanjutnya dalam penelitian adanya Analisis PSH yang bertujuan untuk mengetahui
potensi energi matahari yang diperoleh di lokasi geografis sepanjang tahun.
Pemasangan panel surya yang meliputi ketinggian, kemiringan, dan garis lintang
permukaan panel surya perlu diperhatikan untuk mendapatkan energi matahari yang
maksimal (Megantoro dkk., 2022). PSH adalah parameter yang menyatakan
perbandingan durasi maksimum penyinaran matahari dalam jam per hari terhadap
standar intensitas penyinaran matahari yaitu 1 kW/ m2. Secara mendasar, radiasi
matahari yang diterima oleh panel surya bersifat tidak stabil di mana kekuatannya
meningkat di pagi hari dan menurun di sore hari. Durasi efektif paparan matahari pada
panel surya memengaruhi jumlah daya listrik yang dihasilkan.

Pada pengukuran pertama, Thin Solar Panel memiliki rata-rata arus yang dihasilkan
0,229 A dan daya rata-rata yang dihasilkan 5,64 Watt dengan nilai efisiensi (0,0564%).
Hal ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang cerah sehingga mampu meningkatkan
intensitas yang dihasilkan. Dimana Pada cuaca cerah ini penyerapan daya pada panel
dapat dilakukan dengan optimal. Semakin tinggi intensitasnya maka semakin banyak
energi yang diserap oleh solar panel dan semakin tinggi daya yang dihasilkan. dan nilai
PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 11.00 yakni dengan daya 9,84
Watt. selanjutnya pada Panel Polycrystaline, didapat hasil arus dengan rata-rata 3,890
A dan daya rata-rata 71,125 Watt. Kondisi cuaca saat pengambilan data yakni cerah.
59
Kemudian intensitasnya sama dengan thin solar panel. Sehingga penyerapan daya pada
panel dapat dilakukan dengan optimal. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat
pada pukul 13.00 yakni dengan daya 98,192 Watt
Data kedua didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,111 A dan
daya rata-rata 2,090 Watt dengan nilai efisiensi (0,0209%). Pengambilan data dalam
kondisi cuaca cerah. Namun pada pukul 12.00 – 13.00 WIB tidak dilakukan
pengambilan data karena penelitian ini dilaksanakan pada hari jum’at. Dengan kondisi
cerah penyerapan daya pada panel dapat dilakukan dengan baik. dan nilai PSH dalam
kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 15.00 yakni dengan daya 8,94 Watt Lalu pada
Panel Polycrystaline, didapat hasil rata-rata arus 2,656 A dan daya rata-rata 51,573
Watt. Data pada penelitian ini diambil dengan kondisi cuaca cerah sehingga penyerapan
pada panel daapat dilakukan dengan optimal. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah
didapat pada pukul 14.00 yakni dengan daya 96, 530 Watt
Data Ketiga didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,139 A
dan daya rata-rata 3,529 Watt dengan nilai efisiensi (0,0352%). Pengambilan data
dalam kondisi cuaca mendung dan cerah. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel
kurang optimal. Sehingga dengan arus yang kecil maka daya yang dihasilkan pun juga
kecil. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah mendung didapat pada pukul 14.00
yakni dengan daya 11,174 Watt Selanjutnya pada Panel Polycrystaline,didapat hasil
rata-rata arus 3,118 A dan daya rata-rata 60,996 Watt. Pengambilan data dalam kondisi
cuaca mendung dan cerah. dan nilai PSH didapat pada pukul 14.00 yakni dengan daya
90,00 Watt
Data keempat didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,115 A
dan daya rata-rata 2,187 Watt dengan nilai efisiensi (0,0281%). Pengambilan data
dalam kondisi cuaca mendung dan hujan. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel
kurang optimal. Sehingga arus yang dihasilkan kecil maka daya yang dihasilkan pun
juga kecil. dan nilai PSH dalam kondisi ini didapat pada pukul 11.00 yakni dengan
daya 4, 728 Watt Selanjutnya pada Panel Polycrystaline,didapat hasil rata-rata arus
0,852 A dan daya rata-rata 16,437 Watt. Pengambilan data dalam kondisi cuaca
mendung dan hujan. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca ini didapat pada pukul 10.00
yakni dengan daya 36, 96 Watt
Data kelima didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,100 A dan
60
daya rata-rata 2,595 Watt dengan nilai efisiensi (0,02595%). Pengambilan data dalam
kondisi cuaca cerah. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel optimal. didapat hasil
pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,139 A dan daya rata-rata 3,529
Watt. Pengambilan data dalam kondisi cuaca mendung dan cerah. Dengan kondisi
seperti ini penyerapan panel kurang optimal. Namun didapat arus yang kecil maka daya
yang dihasilkan pun juga kecil. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca ini didapat pada
pukul 11.00 yakni dengan daya 7,644 Watt Selanjutnya pada Panel
Polycrystaline,didapat hasil rata-rata arus 3,723 A dan daya rata-rata 73, 136 Watt.
Pengambilan data dalam kondisi cuaca cerah. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca ini
didapat pada pukul 14.00 yakni dengan daya 109,971 Watt
Data keenam didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,164 A
dan daya rata-rata 4,125 Watt dengan nilai efisiensi (0, 0412%) . Pengambilan data
dalam kondisi cuaca cerah. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel optimal.
Kemudian didapat arus yang kecil dan daya yang dihasilkan pun lebih besar. dan nilai
PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 15.00 yakni dengan daya
6,961Watt Selanjutnya pada Panel Polycrystaline,didapat hasil rata-rata arus 2,198 A
dan daya rata-rata 42,944 Watti. Pengambilan data dalam kondisi cuaca cerah. Dan hasil
arus dan daya nya lebih besar pada panel ini dibandingkan thin solar panel. dan nilai
PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 11.00 yakni dengan daya 93,969
Watt
Data ketujuh didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0,092 A
dan daya rata-rata 2,332 Watt dengan nilai efisiensi (0,02332%). Pengambilan data
dalam kondisi cuaca cerah. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel optimal.
Kemudian suhu mempengaruhi kinerja solar panel dan menurunkan daya sehingga
dayanya menjadi rendah. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul
16.00 yakni dengan daya 6,329Watt . Selanjutnya pada Panel Polycrystaline,didapat
hasil rata-rata arus 2,569 A dan daya rata-rata 49,866 Watt. Pengambilan data dalam
kondisi cuaca cerah. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 11.00
yakni dengan daya 95,597 Watt.
Data kedelapan didapat hasil pengukuran thin solar panel dengan rata-rata arus 0, 275 A
dan daya rata-rata 6,885 Watt dengan nilai efisiensi (0,0688%) . Pengambilan data
dalam kondisi cuaca cerah. Dengan kondisi seperti ini penyerapan panel optimal. Pada
61
pengukuran ini didapatkan hasil daya tertinggi. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca
cerah didapat pada pukul 15.00 yakni dengan daya15, 604 Watt . Selanjutnya pada
Panel Polycrystaline,didapat hasil rata-rata arus 3,187 A dan daya rata-rata 74,582
Watt. Pengambilan data dalam kondisi cerah penyerapan pada panel menjadi lebih
optimal. dan nilai PSH dalam kondisi cuaca cerah didapat pada pukul 13.00 yakni
dengan daya 102,890 Watt.
Dari yang telah diuraikan delapan kali pengujian bisa dilihat bahwa penelitian ini
terdapat pada kondisi cuaca, yaitu cuaca cerah, mendung dan hujan. dimana jika cuaca
cerah maka penyerapan panel akan lebih optimal. Sehingga nantinya daya yag
dihasilkan semakin besar, hal ini juga seiring dengan intensitas dan baik digunakan.
Namun disini suhu juga mempengaruhi kinerja dari solar panel tersebut sehingga dapat
menyebabkan turunya daya. Hal ini sejalan dengan yang diungkapka oleh penelitian
(Yuliananda dkk 2015) efisiensi didukung oleh faktor temperatur sel yang normal,
radiasi matahari, keadaan cuaca, sudut orientasi panel, dan posisi letak panel surya.
Kemudian dijelaskan juga dalam penelitian (Suryana, 2016) faktor yang mendukung
efisiensi intensitas radiasi cahaya matahari dan suhu udara lingkungan Pada penelitian
Suryana dan Yuliananda dilakukan dengan situasi terbatas seperti kenaikan temperatur
dapat membuat tegangan listrik yang diproduksi oleh panel surya berkurang. Intensitas
juga mempengaruhi besar daya, bila intensitas cahaya rendah produktivitas daya yang
dihasilkan juga rendah.
Selanjutnya untuk thin solar panel energi yang dapat dihasilkan lebih optimal di cuaca
cerah. Untuk cuaca mendung dan hujan kurang optimal, karena dibutuhkannya matahari
untuk penyerapan ke panel. Sedangkan pada panel Polycrystaline lebih baik digunakan
karena memiliki efisiensi yang bagus 8,47% - 12,22% (Ady Pratama dan Herlamba
Siregar, 2018). Selanjutnya dari hasil analisis PSH yang didapatkan selama penelitian,
besar energi yang didapatkan setiap panel itu berbeda karena adanya perbedaan kondisi
cuaca. Durasi efektif paparan matahari panel surya memengaruhi jumlah daya listrik
yang dihasilkan. Selanjutnya energi yang dihasilkan oleh thin solar panel ini mampu
digunakan untuk daya yang kecil. Dan penggunaan thin solar panel sebagai pembangkit
listrik ini dapat digunakan namun pemakaiannya harus sesuai dengan kapasitas daya
barang yang akan dipakai. Karena semakin besar daya berarti semakin besar pula energi
yang dibutuhkan. Dan ternyata thin solar panel ini tidak jauh lebih baik dari panel
62
Polycrystaline.

63
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pengambilan data, pengolahan data, analisis data dan pembahasan yang telah
dilakukan pada penelitian Tugas Akhir ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan
diantaranya :
1. Daya yang dihasilkan pada thin solar panel yakni pada pengukuran kesatu rata-
rata 5,648 Watt, pengukuran kedua rata-rata 2,090 Watt, pengukuran ketiga rata-
rata 3,529 Watt, pengukuran keempat rata-rata 2,817 Watt, pengukuran keenam
rata-rata 4,125 Watt, pengukuran ketujuh rata-rata 2,332 Watt dan pengukuran
kedelapan 6,885 Watt. Sehingga didapatkan hasil daya yang paling tinggi pada
pengukuran kedelapan, hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang cerah mampu
menyerap daya thin solar panel dengan optimal.
Dari data yang telah diolah menjadi grafik, dapat disimpulkan bahwa Thin solar
panel akan menghasilkan Arus yg kecil, jika mendapat intensitas yang besar.
Sedangkan Panel Polycrystaline akan mengahsilkan Arus yang besar jika
mendapat intensitas yang besar. Dari data yang telah diolah menjadi grafik,
dapat disimpulkan bahwa Thin solar panel akan menghasilkan Arus yg kecil,
jika mendapat suhu yang besar. Sedangkan Panel Polycrystaline akan
mengahasilkan Arus yang besar jika mendapat suhu yang besar.
2. Pengaruh Peak sun hours terhadap produktivitas listrik yang dihasilkan yaitu
bersifat tidak stabil dimana radiasi matahari yang diterima oleh panel surya
memiliki kekuatan dimana di pagi hari meningkat dan turun di sore hari. Durasi
efektif paparan matahari panel surya memengaruhi jumlah daya listrik yang
dihasilkan. Sehingga hasil PSH ini sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, suhu
dan lingkungan. Selanjutnya energi yang dihasilkan oleh thin solar panel ini
mampu digunakan untuk daya yang kecil

5.2 Saran
Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, penulis menyarankan sebagai berikut :

1. Penelitian selanjunya disarankan untuk menganalisis produktivitas pada panel-


panel yang lain.

64
2. Penelitian selanjunya disarankan untuk menganalisis produktivitas pada panel
pada kondisi yang cerah dan jangka waktu lebih lama agar mendapatkan hasil
yang lebih baik.

65
DAFTAR PUSTAKA

Abderrahim, T., Abdelwahed, T. and Radouane, M. (2020) ‘Improved strategy of an


MPPT based on the sliding mode control for a PV system’, International Journal of
Electrical and Computer Engineering, 10(3), pp. 3074–3085.

Ady Pratama, D. and Herlamba Siregar, I. (2018) ‘Uji Kinerja Panel Surya Tipe
Polycrystalline 100Wp’, Jptm, 6(3), pp. 79–85.

Agne, E.B.P., Hastuti, R. and Khabibi (2010) ‘Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi’, Jurnal
Kimia Sains dan Aplikasi, 13(2), pp. 51–56.

Ali, M.H.M. et al. (2022) ‘Comparison between P&O and SSO techniques based MPPT
algorithm for photovoltaic systems’, International Journal of Electrical and Computer
Engineering, 12(1), pp. 32–40.

Asrori Harahap, M. Zusriansyah Fahrudin, A.H. (2022) ‘Perbandingan Performansi


Panel Surya Tipe Amorphous dan’, Jurnal Riset dan Konseptual, 7(November), pp.
1091–1103.

Asyadi, T.M., Sara, I.D. and Suriadi, S. (2021) ‘Metode Maximum Power Point
Tracking (MPPT) dan Boost Converter Menggunakan Fuzzy Logic Controller (FLC)
pada Modul Surya’, Jurnal Rekayasa Elektrika, 17(1), pp. 1–6.

Berisha, X., Zeqiri, A. and Meha, D. (2018) ‘Determining the optimum tilt angles to
maximize the incident solar radiation-case of study Pristina’, International Journal of
Renewable Energy Development, 7(2), pp. 123–130.

Budiyanto, B. and Setiawan, H. (2021) ‘Analisa Perbandingan Kinerja Panel Surya


Vertikal Dengan Panel Surya Fleksibel Pada Jenis Monocrystalline’, Resistor
(Elektronika Kendali Telekomunikasi Tenaga Listrik Komputer), 4(1), p. 77.

Hamoodi, S.A., Al-Karakchi, A.A.A. and Hamoodi, A.N. (2022) ‘Studying


performance evaluation of hybrid e-bike using solar photovoltaic system’, Bulletin of
Electrical Engineering and Informatics, 11(1), pp. 59–67.

Hamrouni, N., Jraidi, M. and Chérif, a (2008) ‘Solar radiation and ambient temperature
effects on the performances of a PV pumping system’, Revue des Energies
66
Renouvelables, 11(March 2008), pp. 1–95.

Harahap, P. (2020) ‘Pengaruh Temperatur Permukaan Panel Surya Terhadap Daya


Yang Dihasilkan Dari Berbagai Jenis Sel Surya’, pp. 73–80.

Hie Khwee, K. (2013) ‘Pengaruh Temperatur Terhadap Kapasitas Daya Panel Surya
(Studi Kasus: Pontianak)’, Jurnal ELKHA, 5(2), pp. 23–26.

Iswahyudi, S. et al. (no date) ‘Peningkatan Produktivitas Sel Surya Dengan


Memanfaatkan Parabola Sebagai Konsentrator’.

Kaban, S.A. and Jafri, M. (2020) ‘Optimalisasi Penerimaan Intensitas Cahaya Matahari
Pada Permukaan Panel Surya ( Solar Cell ) Menggunakan Cermin’, 5(2), pp. 108–117.

Killam, A.C. et al. (2021) ‘Monitoring of Photovoltaic System Performance Using


Outdoor Suns-VOC’, Joule, 5(1), pp. 210–227.

Megantoro, P. et al. (2022) ‘Effect of peak sun hour on energy productivity of solar
photovoltaic power system’, Bulletin of Electrical Engineering and Informatics, 11(5),
pp. 2442–2449.

Purwoto, B.H. et al. (2018) ‘Efisiensi Penggunaan Panel Surya sebagai Sumber Energi
Alternatif’, Emitor: Jurnal Teknik Elektro, 18(1), pp. 10–14.

Ramadani, K. (2021) ‘Pengaruh Lama Waktu Penyemprotan Sistem Pendingin Water


Spray Terhadap Kinerja Panel Surya’, pp. 1–53.

Ramansyah, G. (2021) ‘Perancangan Panel Surya Sebagai Sumber Energi Lampu’.

Reza pahlevi, Hasyim Asy’ari, A.B. (2014) ‘Pengujian Karakteristik Panel Surya
Berdasarkan Intensitas Tenaga Surya’.

Safitri, N. (2019) Buku Teknologi Photovoltaic. Edited by K.Y. Putri. YayasanPuga


Aceh Riset Redaksi:

Setyaningrum, Y. (2017a) ‘Pengukuran Efisiensi Panel Surya Tipe Monokristalin Dan


Karakterisasi Struktur Material Penyusunnya’, Its [Preprint].

Setyaningrum, Y. (2017b) ‘Pengukuran Efisiensi Panel Surya Tipe Monokristalin Dan


Karakterisasi Struktur Material Penyusunnya’, Institut Teknologi Sepuluh Nopember,
75.
67
Shodiq, J. (2017) ‘Simulasi Performa Photovoltaics Berbahan Nanokristalin SnO2’, pp.
1–60.

Suryana, D. (2016) ‘Pengaruh Temperatur/Suhu Terhadap Tegangan Yang Dihasilkan


Panel Surya Jenis Monokristalin (Studi Kasus: Baristand Industri Surabaya)’, Jurnal
Teknologi Proses dan Inovasi Industri, 1(2), pp. 5–8.

Suwarti, - (2019) ‘Analisis Pengaruh Intensitas Matahari, Suhu Permukaan & Sudut
Pengarah Terhadap Kinerja Panel Surya’, Eksergi, 14(3), p. 78.

Tiun, Y.K., Yusuf, I. and Hiendro, A. (2019) ‘Perbandingan Kinerja Sel Surya Jenis
Thin-Film Dan Polycrystalline (Studi Kasus: Pontianak)’, Jurnal Teknik Elektro
Universitas Tanjung Pura, 2(1), pp. 1–6.

Usman, M. (2020) ‘Analisis Intensitas Cahaya Terhadap Energi Listrik Yang


Dihasilkan Panel Surya’, Power Elektronik: Jurnal Orang Elektro, 9(2), pp. 52–57.

Yadav, I., Maurya, S.K. and Gupta, G.K. (2020) ‘A literature review on industrially
accepted MPPT techniques for solar PV system’, International Journal of Electrical
and Computer Engineering, 10(2), pp. 2117–2127.

Yuliananda, S. et al. (2015) ‘Pengaruh Perubahan Intensitas Matahari’, 01(02), pp. 193–
202.

68
LAMPIRAN

Lampiran 1. Pengukuran Arus dan Tegangan

Lampiran 2. Pengukuran Intensitas

69
Lampiran 3. Pengukuran suhu

70

Anda mungkin juga menyukai